Tag Archives: Nakayama Yuma

[Oneshot] Niji

Tokyo ketika itu di guyur hujan sehari penuh. Dan baru saja berhenti, walau langit masih berwarna kelabu pekat yang menandakan akan hujan kembali. Karena bosan berada di rumah selama sehari itu, aku pun berniat untuk jalan-jalan sekaligus bekerja part-time di sebuah café. Aku langsung saja menyambar jaket serta payung dan keluar rumah. Udara diluar benar-benar  dingin, dengan berbekal sebuah jaket, aku menelusuri trotoar. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, menghilangkan rasa sepi.

“Ah, gomenasai.” permintaan maaf itu meluncur dari bibir kecil seorang gadis yang tidak sengaja menabrakku. Ya, aku dan gadis itu terjatuh. Dia tampaknya sangat buru-buru. Setelah meminta maaf, gadis itu langsung berlari meninggalkanku yang masih dalam posisi terjatuh. Naas, aku terjatuh di jalanan yang basah mengakibatkan celanaku basah karenanya. Untung saja, tempatku bekerja hanya beberapa meter lagi. Aku langsung berlari menuju tempat kerjaku.


 Niji

A Jhonny’s Entertaiment fanfiction

Nakayama Yuma

Sakurada Yuuki (OC)

Sexy Zone Nakajima Kento

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Genre: Romance (maybe)

By: Shield Via Yoichi

(JUMPing…)

Advertisements

[Multichapter] Love Shuffle (chap 06)

Title : Love Shuffle
Type : Multichapter
Chapter : Six
Author : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre : Romance
Ratting : PG-13
Fandom : JE, HSJ
Starring : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

 

LOVE SHUFFLE
~Chapter 6~

Continue reading

[Multichapter] Love Shuffle (chapter 05)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Five
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE

Chapter 5  Continue reading

[Multichapter] Love Shuffle (chap 04)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Four
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
LOVE SHUFFLE
~Chapter 04~

Continue reading

[Multichapter] Love Shuffle (chap 03)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Three
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 03~

Continue reading

[Multichapter] Love Shuffle (chap 02)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Two
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 02~

[Multichapter] Love Shuffle (chap 01)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : One
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 01~

Continue reading

[Oneshot] Kitto Wasurenai

Title                  : Kitto Wasurenai
Type                 : Oneshoot
Author               : Uci Pradipta
Genre               : Romance, Friendship
Ratting              : Kira kira berapa?:P
Fandom             : Johnny’s Junior & Johnny’s Entertainment
Starring             : Hokuto Matsumura, Yuma Nakayama, Keito Okamoto, Ichiko Yaotome (OC), Lisa Morimoto (OC)

 
Kitto Wasurenai

Continue reading

[Multichapter] A Day In Our Life (Chapter 6)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Enam
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC),  dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
 ~ Chapter 6 ~

Opi terduduk di atas tempat tidurnya. Nafasnya tidak beraturan seperti habis berlari di lapangan luas. Sedikit keringat mengalir dari keningnya dan tubuhnya terasa panas.

“Mimpi itu lagi..” gumamnya.

Gadis itu melirik sebentar ke arah jam weker nya. Pukul 08.00 pagi.

“Aku terlambat memasak. Tapi biarlah,” ucapnya lagi pelan.

Ia sibakkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian membuka gorden yang menutup jendelanya. Sinar matahari yang berlomba masuk ke kamarnya, membuat mata Opi sedikit menyipit. Sangat silau.

Setelah meregangkan sedikit otot-ototnya, gadis itu lalu keluar kamarnya. Tenggorokannya terasa kering dan ia membutuhkan segelas air minum.

“Sudah bangun? Tidak kuliah?” tanya Opi saat ia melihat sosok Din sedang tidur-tiduran di sofa.

“Bangun? Aku baru saja akan tidur,” ralat Din dengan mata terpejam. “Tugasku semakin merajalela sampai-sampai mengorbankan waktu tidurku.”

“Makanya dikerjakan. Bukan dilihat saja,” timpal Opi sambil berjalan ke arah dapur.

“Hah? Lalu selama ini aku ngapain sampai-sampai tidak tidur? Mengerjakan semuanya, Opi..” Din membela. “Oia, tumben sekali bangun siang?”

“Aku kecapean,” jawab Opi asal. “Siapa yang tadi membuatkan mereka sarapan?” Opi bertanya tentang sarapan Riisa dan Saifu yang memang biasa ia kerjakan.

“Tentu saja aku yang membuatkan.” Din menjawab.

Opi memutar kepala lalu menatap Din tajam. “Kau yang membuat? Apa yang kau buat? Makanan kan?”

Din membuka mata lalu mendelik ke arah Opi. “Tentu saja makanan. Kau pikir aku membuat racun. Kalau hanya sekedar membuat roti bakar, aku juga bisa.”

“Aku kan hanya bertanya.”

Meledek Din adalah hiburan Opi di pagi hari. Tidak ada satupun orang yang tahu tentang kenyataan itu.

“Kau tidak kuliah?” tanya Opi lagi.

“Sebentar lagi. Aku ingin tidur 1 jam,” ucap Din. “Dan jangan menggangguku.”

Opi mengangkat bahu lalu melengos ke kamar mandi.

—————–

“Ohayou…”

Din menoleh ke arah panggilan itu setelah ia menguap karena masih mengantuk.

“Ternyata sensei..aku pikir siapa,” ucap Din cuek saat melihat yang memanggilnya itu adalah Tegoshi Yuya.

“Kau tidak tidur? Menguapmu itu besar sekali. Sepertinya burung pun bisa masuk,” ledek Yuya.

Din mengerucutkan bibirnya. “Itu tidak lucu sensei.”

“Ini..” Yuya lalu menyerahkan sekaleng kopi pada Din. “Jangan tidur saat kuliahku.” Dan Yuya pergi begitu saja meninggalkan Din.

Gadis berambut panjang itu mengerutkan keningnya. Ada yang salah dengan dosennya itu. Rasanya tidak mungkin dia sebaik itu padanya.

“Aku tidak peduli. Yang penting aku diberi kopi. Gratis pula,” gumam Din senang. “Beruntungnya aku…”

Jadwal kuliah Din sebenarnya tidak begitu padat. Hanya saja ia masih mempunyai tugas yang harus segera ia kerjakan. Dan harus cepat ia selesaikan karena nanti sore ia ada kerja sambilan.

“Aku mengerjakan ini saja dulu,” ucap Din pelan. Sekarang ia sedang menyendiri di perpustakaan. Dengan suasana yang hening, ia dapat lebih mudah berkonsentrasi.

1 jam….

Din tertunduk mengetik tugasnya dengan serius.

2 jam….

Din makin tidak bisa diganggu.

2 jam 30 menit….

Din tidak dapat mendengar apapun karena terlalu serius mengerjakan tugasnya.

3 jam….

“Aku capek,” keluh Din sambil memutar kepalanya yang pegal. “Dan lapar..” ia merasakan perutnya mulai berbunyi.

Saat Din akan membereskan barang-barangnya yang berserakan di meja, ia menemukan sebungkus roti dan sekaleng minuman di belakang notebooknya. Din tidak tahu itu milik siapa. Tapi saat melihat makanan di hadapannya membuat bunyi perutnya menjadi-jadi.

“Seandainya itu punyaku..”

Sesaat Din melihat ada secarik kertas di samping makanan itu. Lalu ia membacanya.

To : Din
Jangan lupa makan…

“He? Untukku? Dari siapa?”

Tidak ada tulisan apapun yang tertera untuk menunjukkan pengirimnya.

“Hina-san, kau tahu siapa yang meletakkan ini?” Din bertanya pada penjaga perpustakaan yang sangat ia kenal.

“Hmm…sepertinya Matsumoto-sensei,” jawab Hina-san.

“Matsumoto-sensei?” Din merasa hatinya berbunga-bunga saat mendengarnya.

“Tadi saat aku baru kembali dari membeli makanan, aku melihat Matsumoto-sensei ada di dekat tempat kau duduk itu sambil meletakkan makanan,” jelas Hina-san.

“Arigatou, Hina-san…”

Tidak dapat digambarkan bagaimana perasaan Din saat ini. Seperti berada di taman bunga dan dikelilingi kupu-kupu yang indah lalu terjadi hujan uang dengan tiba-tiba. Rasanya bahagia sekali.

“Aku harap tugas akhirmu dapat seindah perasaanmu sore ini, Din. Sampai kau senyum-senyum sendiri seperti itu.”

Suara Yuya menyadarkan Din dari imajinasinya di taman bunga itu. Sosok yang sebenarnya tampan tapi menyebalkan itu sedikit menurunkan semangatnya.

“Tegoshi-sensei merusak mimpiku saja,” Din melengos ke arah berlawanan dengan jalan yang diambil Yuya.

“Kau mau kemana?” tanya Yuya.

Din berbalik. “Kerja sambilan. Sensei pikir aku orang yang punya waktu luang banyak. Matta ne.”

“Din…” Yuya memanggil Din lagi.

“Ada apa sih?” Din mulai merasa kesal karena dipanggil terus menerus. Menghambat kepergiannya untuk pergi bekerja.
Untuknya uang lebih berharga dari apapun sekarang.

“Ayo kuantar.”

“He?”

“Aku tahu tempatmu bekerja dan aku melewati tempat itu. Jadi tidak ada salahnya untuk pergi bersama kan?” Yuya menjawab tanpa ditanya.

“Tapi…..” Din bingung sendiri jika melihat dosennya menjadi baik seperti ini.

“Kau juga bisa menghemat uang naik bis kan?”

Seolah mendapat pencerahan, Din langsung mengangguk. Itu bisa menjadi bagian dari penghematan.

“Oke. Kalau sensei memaksa,” Din menyengir lalu jalan terlebih dahulu menuju tempat mobil Yuya parkir.

Yuya hanya tersenyum melihat tingkah mahasiswinya itu. Tidak ada yang paling membahagiakan untuknya dapat membantu kesulitan gadis itu.

“Matsumoto-sensei…”

Din berlari kecil ke arah seorang pria yang tengah berdiri sambil bersender di mobilnya.

“Hai Din..Yuya-sensei..” Jun menyapa Din dan Yuya.

“Sensei, untuk makanannya, arigatou…” ucap Din.

“Hmm?”

“Makanan yang sensei letakkan di meja perpustakaan. Kenapa tidak menyapaku tadi?”

Jun tersenyum. “Tadi kau serius sekali mengerjakan tugasnya. Jadi aku tidak berani menganggu.”

“Oh begitu…Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu.”

Din melambaikan tangan pada Jun yang kemudian dibalas oleh pria itu.

“Jadi ada yang ditraktir oleh laki-laki yang disukai,” Yuya menebak saat mereka di perjalanan menuju tempat kerja Din.

“Itu….” Pipi Din terasa panas saat Yuya menebak hal yang benar. “Aku hanya senang Matsumoto-sensei memberi perhatian padaku.”

“Pantas saja kau senyum-senyum tadi.”

Din tidak memperdulikan ucapan Yuya. Ia terlalu sibuk dengan perasaan senangnya. Sedangkan Yuya lalu diam dan membiarkan Din dengan khayalannya yang mulai bermuculan di pikiran gadis itu.

——————–

“Ne..”

“Hmm?” Riisa mengangkat kepalanya saat Mika, gadis dihadapannya memanggil.

“Ayo ajak Yuma ke acara kita nanti.”

Ucapan temannya itu nyaris membuat Riisa tersedak.

“Hah? Yuma? Nakayama Yuma maksudmu?” Riisa memperjelas ucapan Mika.

“Tentu saja dia. Siapa lagi?”

Riisa memiringkan kepalanya. Temannya ini memang tahu jika dirinya bekerja di toko milik Yuma.  “Kenapa dia harus ikut dengan kita?”

Nanti malam teman-teman Riisa berencana untuk mengadakan acara bersama dengan mahasiswa dari jurusan sastra. Kebetulan salah satu teman Riisa mengenal laki-laki dari jurusan tersebut.

“Karena akan seru jika Yuma ikut,” jawab Mika berasalan.

“Sepertinya kau mengenal Yuma…”

Mika menggebrak meja pelan. “Kau tidak tahu saat masa SMA dia terkenal sebagai pemain teater?”

Riisa menggeleng. Bagaimana ia tahu? Ia kan tidak bersekolah di Tokyo.

“Dulu aku mengikuti klub teater di sekolah. Makanya aku tahu. Saat itu tidak ada yang tidak mengenal Nakayama Yuma,” Mika bercerita.

“Saat itu? Memangnya sekarang tidak?”

Mika menggeleng. “Aku tahu bakatnya sangat luar biasa. Tapi tiba-tiba dia tidak melanjutkan aktingnya. Malah aku pikir dia akan masuk ke panggung yang lebih besar. Tidak mungkin jika dia tidak ditawari oleh orang-orang agar bergabung di teater mereka.”

Riisa mengangguk. Ini pertama kalinya ia mendengar hal ini. Ternyata ia memang tidak mengenal Yuma dengan baik.
“Kau tahu alasannya?”

“Tidak. Tidak ada orang yang tahu alasannya.”

Riisa semakin penasaran. Sebenarnya ada apa dengan Yuma?

“Jadi….kau mau mengajaknya?” Mika masih tidak menyerah.

“Aku tidak mau,” tolak Riisa. “Aku tidak mengenalnya dengan baik.” Apalagi setiap bertemu, kami pasti bertengkar, lanjut Riisa dalam hati.

Mika jelas kecewa. Tapi ia juga tidak bisa memaksa Riisa. “Baiklah. Mungkin lain kali aku akan mengajaknya langsung.”
Riisa menunduk kembali untuk fokus pada tugasnya. Tapi Mika tahu, sebenarnya ia masih memikirkan tentang Yuma.

——————

“Membosankan,” desah Saifu di atas atap.

Kehidupannya terasa monoton. Tidak ada yang menarik. Pergi sekolah, belajar, saat istirahat sendirian, pulang sekolah langsung ke rumah. Tidak ada yang menarik.

Dan seperti biasa, saat bel pulang berbunyi, tanpa melakukan apapun lagi, Saifu segera membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

“Aku ingin cepat-cepat lulus dan segera menyusul Mama ke Amerika,” gumam Saifu sambil menendang kaleng yang ada di hadapannya.

“Aww…”

Saifu mendengar ada suara kesakitan tak jauh dari posisinya berdiri.

“Siapa itu?”

Saifu mengedarkan pandangannya mencari orang yang mengeluh tadi.

“Daiki?” Saifu tidak menyangka, kaleng yang tadi ia tendang mendarat tepat di lutut Daiki.

“Itu sakit, Fu-chan…” keluh Daiki yang merasakan linu di lututnya.

“Gomen..” ucap Saifu pelan. Tapi setelah itu, dengan wajah tanpa penyesalan, dia pergi meninggalkan Daiki sendiri.

“Chotto….” Daiki menarik tangan Saifu. “Begitukah caramu meminta maaf?”

Saifu mengerutkan kening. “Tadi kan aku sudah meminta maaf.”

“Kau pikir aku sudah memaafkanmu?”

“Hah?” seru Saifu tidak mengerti. “aku tidak peduli kau memaafkanku atau tidak.”

Daiki mulai menunjukkan wajah ingin menangis. “Fu-chan jahat. Kau tidak merasakan kakiku yang sedang kesakitan.”

“Kau berlebihan. Aku tidak menendangnya dengan keras,” Saifu membela diri karena ia tidak suka disalahkan seperti itu.

“Tapi kenyataannya kakiku sakit,” Daiki tidak mau kalah.

Melihat wajah menyebalkan Daiki yang merengek-rengek, Saifu kehilangan akal. Sekarang ia sedang tidak ingin berbelit-belit.

“Jadi maumu apa?” ucap Saifu akhirnya.

“Pertama-tama, bantu aku berdiri.”

Saifu baru menyadari Daiki masih terduduk di tanah. Dengan segera ia menarik tangan Daiki hingga pemuda itu berdiri.

“Lalu sekarang apa?” tanya Saifu.

Tanda diduga oleh gadis itu, Daiki menarik tangannya dan membawanya pergi entah kemana.

——————-

“Kau ikut, Riisa?” tanya Mika pada Riisa begitu kuliah terakhir selesai.

“Kemana?”

Mika menatap Riisa datar lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Riisa. “Kau tidak lupa kan hari ini kita ada kencan bersama dengan mahasiswa dari jurusan sastra?”

“Ah….” Riisa memutar-mutar bola matanya. Ia tidak ingin menatap mata Mika karena ia akan tahu jika dirinya lupa.
Padahal baru tadi siang mereka membicarakannya.

“Ayo…” Mika sudah menarik tangan Riisa.

“Mika…gomennasai,” Riisa menarik lagi tangannya. “Aku tidak bisa ikut. Aku ada kerja sambilan sore ini.”

Mika diam sebentar. “Memangnya kau tidak libur?”

“Liburku hanya hari Kamis. Gomen ne..” Riisa memohon pada Mika. Ia juga tidak bisa membuat gadis itu kecewa.

“Tapi kalau kau tidak ikut, kita kekurangan orang,” Mika masih bersikeras.

Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba ada yang memanggil.

“Mika…ada yang mencarimu..” salah satu teman mereka berteriak pada Mika.

Mika yang diikuti Riisa yang akan pulang, berjalan menuju pintu kelas.

“Ryosuke?”

Orang yang ingin menemui Mika ternyata Yamada Ryosuke. Di angkatan mereka, tidak ada yang tidak mengenal pemuda itu. Termasuk Riisa.

“Ada apa?” tanya Mika.

“Sepertinya kita kekurangan 1 orang. Yuma tidak berhasil kuajak,” ucap Yamada. “Bagaimana ini?”

“Itu bagus..” timpal Riisa lalu tersenyum pada Mika. “Dengan ini tidak ada masalah untuk aku tidak ikut.”

Mika lalu menarik Riisa untuk menjauhi Yamada dan berbisik. “Ini bukan akal-akalmu agar bisa berduaan dengan Yuma kan?”

Riisa sontak kaget. Itu adalah pertanyaan yang paling konyol yang pernah ia dengar. “Jika boleh memilih, aku ingin dia pergi selama aku bekerja agar aku tenang.”

Mika melihat Riisa bersungguh-sungguh mengucapkannya.

“Baiklah…” Mika melepaskan Riisa. “Kau bisa lolos hari ini. Tapi tidak lain hari.”

“Kau pikir aku buronan,” sungut Riisa.

Ada sedikit penyesalan saat ia menolak untuk tidak ikut dengan Mika dan teman-temannya. Tapi itu bukan saat yang pas sekarang. Riisa masih mempunyai hal yang diprioritaskan. Kalau hari ini ia tidak bekerja, itu artinya gajinya akan dipotong dan itu berarti adalah masalah.

“Haaaa~” Riisa sedikit mendesah sambil menerawang ke depan.

“Doushita no, Rii-chan?” tanya Nakayama-san melihat Riisa tidak bersemangat hari ini.

Riisa lalu menoleh dengan cepat. “Nani mo nai. Daijoubu. Hanya memikirkan tugas-tugas kuliahku.” Lalu ia tersenyum.

“Baiklah. Kalau ada apa-apa, kau bisa menceritakannya padaku,” lanjut Nakayama-san.

Riisa mengangguk lalu kembali meneruskan kegiatannya yaitu mengelap meja.

Sudah beberapa minggu Riisa bekerja di toko itu dan ia merasa betah. Nakayama-san adalah orang yang baik. Riisa selalu merasa bahwa ibunya ada di dekatnya setiap wanita itu memberikannya perhatian. Itu yang membuat Riisa merasa nyaman dan tidak ingin mengecewakan.

“Rii-chan, tolong buang sampah yang itu sebentar,” kata Nakayama-san.

“Haaaiiii~.”

Kebetulan malam ini tidak terlalu ramai sehingga pekerjaan Riisa tidak begitu banyak.

Saat akan mengambil sampah yang akan dibuang, Riisa sedikit memperhatikan Yuma yang sedang membuat beberapa roti dan kue. Terlihat serius dan sangat tenang. Berbeda sekali jika mereka sudah bertemu dan bertengkar. Riisa lebih menyukai wajah Yuma yang seperti ini.

“Sedang apa, Rii-chan? Ayo cepat. Nanti ada pembeli yang datang,” kata Nakayama-san mengingat.

“Ah…ha-haii,” Riisa lalu segera menuju pintu belakang.

Banyak yang tidak Riisa ketahui tentang Yuma. Kenapa dia berhenti bermain teater, tapi memilih berkutat dengan tepung dan berbagai bahan di dapur? Memikirkan hal itu membuatnya gatal karena ia merasa penasaran.

“Riisa..”

Riisa menoleh pada orang yang memanggilnya, dan ternyata itu Yuma.

“Ya?”

“Itu…” Yuma terlihat gugup dan bingung. Seperti bukan Yuma saja. “Aku ingin berterima kasih.”

“Untuk apa?”

“Tempo hari. Di taman bermain.”

Riisa mengingatnya. “Oh…gadis itu…”

“Gomen ne. Sudah merepotkanmu dengan mengatakan kalau kau pacarku,” ucap Yuma.

“Tidak apa-apa. Lalu kau sudah menyelesaikannya?”

Yuma mengangguk.

“Souka…”

Tiba-tiba Yuma diam. Riisa tidak berani bertanya untuk menyembuhkan penasarannya. Menurutnya itu tidak sopan walaupun pada orang yang selalu bertengkar dengannya.

“Haruna…dulu aku berpacaran dengannya.” Yuma memulai bercerita. “Tapi aku tidak mencintainya. Aku hanya dimintai tolong oleh ayahnya yang kebetulan adalah sahabat ayahku, agar aku lebih memperhatikannya.”
Riisa tidak bereaksi apapun. Ia hanya mendengarkan cerita Yuma.

“Dia sedang menjalani pengobatan. Depresi karena kekasihnya meninggal 2 tahun yang lalu. Tapi kesehatannya lalu membaik saat ia terus bersamaku. Dokter yang menanganinya bilang kalau dia harus selalu ditemani dan ada yang memperhatikannya. Tapi……semakin lama aku merasa sudah melakukan hal yang percuma. Karena itu hanya akan memberikannya kebohongan dan dia akan terus bergantung padaku. Tidak akan baik untuk Haruna sendiri.”

“Lalu? Apa yang terjadi?” Riisa mulai terhanyut dengan cerita Yuma.

“Empat bulan yang lalu aku memutuskan untuk menjauhinya dengan persetujuan ayahnya. Tapi Haruna tetap tidak menerimanya dan dia terus mencariku walaupun aku sudah memberikannya berbagai alasan,” jelas Yuma.

“Tapi sepertinya alasan aku berpacaran denganmu, membuat Haruna sadar,” lanjut Yuma lalu tersenyum tanpa menatap Riisa.

Riisa mengalihkan pandangan karena ia merasa senyuman itu sangat berbahaya untuk jantungnya.

“Aku kembali ke dapur dulu,” Yuma beranjak dari duduknya. “Arigatou..sudah mendengar ceritaku. Aku berhutang padamu.”

Riisa tidak menanggapi dan hanya melihat punggung pemuda itu yang berjalan menuju dapur untuk meneruskan pekerjaannya. Ia menyadari, Yuma tidak seburuk yang ia bayangkan.

————————–

Jika tugas sudah menumpuk, tempat yang akan Opi tuju dipastikan adalah bar milik ayahnya. Di sana memang tempat yang salah untuk mengerjakan tugas, tapi sangat pas untuknya karena ia memiliki tempat khusus agar dirinya tidak diganggu siapapun.

“Irrashaimasen….are? Opi?”

Gin, yang merupakan bartender di bar itu sedikit kaget melihat anak bosnya datang.

“Aku mau minuman yang biasa,” kata Opi sambil terus berjalan tanpa menoleh pada laki-laki itu.

“Haaaaiii~.”

Gin memandang Opi dengan heran. Gadis itu sudah beberapa hari ini tidak muncul di bar. Laki-laki itu melihat Opi datang hanya untuk mengerjakan tugasnya. Bar adalah tempat yang tidak berisik sehingga nyaman untuk mengerjakan tugas, itu yang dikatakan oleh Opi padanya saat ia bertanya. Tapi menurutnya, gadis itu ke tempat itu hanya saat perasaannya sedang tidak enak, atau ia mengalami masalah yang menyulitkannya.

“Hari ini ada kejadian apa?” tanya Gin sambil meletakkan segelas minuman di meja.

“Hmm? Nani mo nai,” jawab Opi tapi matanya tetap fokus di depan notebook-nya.

Gin menghela nafas. “Aku sudah mengenalmu sejak kecil, Opi. Jadi aku tahu kebiasaanmu.”

Opi seketika berhenti mengetik. Pandangannya menerawang sambil memikirkan sesuatu.

“Aku bermimpi ‘itu’ lagi,” ucap Opi pelan. “Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi ‘itu’.”

“Mungkin kau terlalu capek. Sehingga bermimpi buruk,” timpal Gin.

“Itu bukan mimpi, Gin-san…” wajah sendu lalu muncul di wajah Opi, seolah mengingat sesuatu di masa lalu. “Itu
kenyataan yang buruk, tepatnya.”

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Gin. Terlalu rumit.

“Gomen, sudah mengganggu belajarmu. Aku kembali bekerja,” Gin berbalik tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “ah…aku lupa memberitahumu. Kemarin, kakakmu datang kemari.”

“Onii-chan? Ada urusan apa?”

“Hanya minum dan mengobrol denganku,” jawab Gin lalu ia pergi untuk kembali bekerja.

Opi memejamkan matanya. Tanpa ia sadari , ia mengepalkan tangannya. Hanya mengetahui keberadaan kakaknya saja, hatinya sudah merasa kesal. Apalagi mengingat apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.

“Lagi-lagi mengerjakan tugas di tempat seperti ini.”

Suara seorang laki-laki membuyarkan lamunan. Saat menoleh, ia mendapati sosok Sho Sakurai di hadapannya.
“Sho-san…”

“Boleh duduk di sini?” Sho bertanya.

Opi mengangguk. “Douzo..” jawabnya. “Sendirian?”

Kini Sho yang bergantian mengangguk. “Aoi sibuk bekerja. Pekerjaannya sebagai aktris terkenal memang seperti ini.”

Opi melihat Sho tersenyum. Tapi ia tahu, senyum itu senyum kesepian.

“Sho-san, sering datang ke sini?”

“Hmm…lumayan. Minggu ini aku sudah 6 kali datang ke sini setiap malam,” jawab Sho.

Opi tertawa pelan. “Itu artinya memang sering kan?”

“Are?” Sho mendekatkan wajahnya. “Tertawamu manis juga. Aku tidak pernah melihat sebelumnya.”

Opi segera memalingkan wajahnya. Ia tidak pernah menunjukkannya pada siapapun kecuali Jun.

“Tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Saat kau mengobrol dengan Jun.”

Opi kembali menghadap wajahnya ke depan. “Memang hanya dengan Jun, aku bisa menunjukkannya.”

“Berarti aku yang kedua? Ii ne…” Sho tersenyum senang.

Opi berkerut. Kenapa harus sesenang itu?

“Aku dengar kau dan Jun itu saudara sepupu,” kata Sho.

“Hai..”

“Tapi hubungan kalian sangat dekat sekali. Membuatku iri,” ucap Sho.

“He?”

Sho tiba-tiba tertawa. “Aku dekat dengan adik-adikku. Tapi tidak sedekat kalian. Apalagi kalian hanya saudara sepupu.”

“Karena…..” Opi diam sejenak. “Hanya Jun yang bisa aku percaya sekarang.”

Sho mengetahui sesuatu sekarang. Hubungan Opi dan Jun ternyata lebih istimewa dari sekedar saudara. Dan hubungan itu terasa sulit untuk dimengerti oleh orang-orang. Termasuk dirinya.

————–

“Jadi kau menipuku?”

Saifu terduduk tanpa ekspresi saat ia dan Daiki sedang menikmati es krim mereka.

“Siapa yang menipumu? Kau sendiri yang bertanya, apa yang harus kau lakukan. Ya…inilah yang harus kita lakukan,” jawab Daiki riang. Ia tidak peduli bagaimana kesalnya Saifu saat ini.

“Aku pulang saja.”

Saifu baru saja akan melangkah untuk pulang, sampai Daiki mencegahnya.

“Kau tidak boleh pulang. Sampai aku mengijinkanmu pulang.”

Saifu berkerut. “Aku tidak perlu izinmu. Pokoknya aku ingin pulang.”

“Setidaknya habiskan dulu es krimmu,” lanjut Daiki lalu tersenyum pada Saifu.

Saifu tertegun saat melihat senyum Daiki yang manis. Gadis itu lalu duduk kembali dan mencoba menghabiskan es krimnya.

“Oishii ne~”

Saifu diam. Tidak ada kata untuk menanggapi ucapan Daiki.

“Kalau dulu, saat kita makan es krim seperti ini, pasti membutuhkan banyak waktu karena kau yang selalu bercerita panjang,” kenang Daiki. “Tentang sekolah, tenang klub, tenang Ryu…”

Saifu memotong begitu mendengar nama Ryutaro. “Jangan membawa masa lalu.”

“Kita bisa menghabiskan waktu hingga sore hari hanya untuk makan es krim. Sampai-sampai kita tertawa-tawa dan lupa waktu. Saat itu sangat menyenangkan,” lanjut Daiki.

“Sudah kubilang jangan membawa masa lalu. Aku sudah melupakannya,” tegur Saifu.

“Hontou ni? Apa benar-benar sudah melupakan semuanya?”

Saifu terdiam. Ia tidak benar-benar melupakannya. Jika ia sudah melupakannya, ia tdak akan merasakan sakit di hatinya hingga sekarang.

“Kenapa kau tidak menjauhiku seperti yang lain? Bukankah gara-gara aku juga kau putus dengan Emi?” tanya Saifu.

“Seharusnya kau membenciku juga.”

Daiki sedikit kaget sampai ia berhenti memakan es krimnya sejenak.

“Aku tidak bisa membencimu,” ucap Daiki. “Aku tidak bisa membencimu dengan alasan apapun.”

“He?”

“Aku tidak pernah menganggap kejadian itu adalah salahmu. Daripada menyalahkanmu, aku jadi menyadari sesuatu…”

Saifu menoleh pada Daiki dengan wajah bingung.

“Ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan.”

“Nani?”

Daiki menatap Saifu sambil tersenyum. “Mengembalikan senyummu yang sudah hilang.”

“Hah?”

“Tidak peduli kau menolakku. Tidak peduli kau membenciku. Aku hanya ingin melihat senyummu yang dulu,” lanjut Daiki.
“Aku merindukanmu yang dulu.”

Saifu membuang mukanya agar ia tidak melihat wajah Daiki. Karena saat ini, entah kenapa, hanya dengan melihat wajah itu, dadanya berdebar kencang dan membuat perasaannya sangat tidak nyaman.

—————

“Tadaima…”

Opi tidak mendengar jawaban saat ia baru saja pulang. Ia heran, kenapa rumah sebesar ini tapi tidak ada penghuninya.

Sebelum ke kamarnya, Opi berjalan ke dapur sebentar untuk menyimpan beberapa bahan makanan yang habis. Sekilas ia melihat ada sosok perempuan di kursi goyang tempat biasa ia bermalas-malasan.

“Dare?” gumam Opi.

Saat di dekati, ternyata itu adalah Din yang tertidur dengan gelas wine masih ia pegang di tangan kanannya.

“Din…bangun,” Opi mengguncangkan tubuh Din pelan. “Kau bisa masuk angin kalau tidur di sini.”

Perlahan Din membuka matanya. “Ah..Opi-chan..sudah pulang? Okaeri…”

Opi menyipitkan matanya. “Kau mabuk?”

Din mengibaskan tangannya. “Tidak. Siapa yang mabuk? Aku kembali ke kamar saja. Jya~.”

Baru beberapa langkah, Din sudah kehilangan keseimbangannya. Beruntung Opi langsung menangkap tubuh Din walaupun dengan bersusah payah.

“Sudah kubilang kau mabuk,” gerutu Opi.

Mau tidak mau, Opi membawa Din ke kamarnya. Sangat kesulitan karena kamar Din ada di lantai 2.

“Huwa….” Opi melempar tubuh Din ke atas tempat tidurnya. “Berat sekali..” keluhnya.

“Matsumoto-sensei….”

Opi menoleh ke arah Din saat gadis itu menyebutkan nama sepupunya.

“daisuki…”

Lalu Opi kening berkerut. Jadi selama ini…..

“Pantas saja…”

Opi menyadari saat tempo hari Din menanyakan tentang Jun. Jadi ini maksudnya. Ternyata Din menyukai sepupunya.

========

Tsuzuku…^^

lebih panjang dari biasanya ahahaha…dan aneh seperti biasa…
tapi tetep komen yah kawan…
^^

Continue reading

[Oneshot] Watashi

Title              : Watashi

Genre                   : Romance

Ratting                  : PG

Author                  : Lisa Wulan Novianti

Cast                       : Nakayama Yuma(NYC) , Kouchi Yugo (Jjr)

Warning : Fanfiction ini spesial untuk ultahnya Yugo, maaf kalo fail abis, soalnya lagi buntu ide juga, jadi maaf banget kalo bener-bener fail. BTW, please comment after read this fanfiction, sebab Fanfiction ini jauh dari kata sempurna, dimohon untuk comment dan memberikan saran *kebanyakan omongnya*


Watashi


Aku menghela darah yang keluar dari hidungku. Sering kali akan seperti ini saat aku merasa diriku benar-benar lemah. Ku mengelapnya dengan beberapa lembar tissue yang tak pernah jauh dari pengelihatanku. Beginilah hidupku, berteman dengan sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan untukku. Darinya aku belajar banyak tentang kehidupan, aku juga seringkali merasa kalau aku menjadi anak yang paling beruntung karena ternyata Tuhan sangat  memperhatikanku sehingga aku diberi kehidupan seperti ini.

Aku sekolah di suatu SMU ternama di Tokyo. Hmm, mungkin sangat ternama di Tokyo atau mungkin sangat ternama di Jepang dan terkenal disekulurh dunia, Horikoshi gakuen. Satu-satunya alasan aku bersekolah disana adalah agar aku bisa dekat dengan para ikemen yang tersebar di Johnnys Ent. Aku sangat menyukai mereka, bisa dibilang aku ini fanatic pada mereka. Banyak diantara mereka yang bersekolah disana, dan masuk dikelas khusus artis atau biasa ditempatkan dikelas D. begitu juga denganku, aku masuk di kelas D walau aku bukan artis tapi Otousan mempunyai cukup uang untuk membayar bayaran sekolah yang mahal itu.

“Ohayougozaimasu” Aku menyapa teman-teman baruku yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruang kelas. Kami baru saja melaksanakan upacara penerimaan murid baru. Teman sekelasku cukup banyak yang artis, dua diantaranya adalah ichibanku, Nakayama Yuma dan Kouchi Yugo.

Hari ini hari pertama masuk sekolah, aku merasa tenang walau Okaasan atau Otoosan sama sekali tidak menemaniku, aku seringkali melihat acara mereka, sepertinya mereka baik. Jadi aku merasa tidak kahawatir.

“Ohayou” Jawab seorang gadis dari posisi yang tak jauh dari tempatku. Aku menghadap kearahnya dan tersenyum.

“Sakura desu. Yoroshiku” Tanya gadis itu, Namanya Sakura. Dia sangat manis menurutku.

“Yanagi Riisa desu. Yoroshiku mo” Jawabku. Kami duduk bersebelahan. Rasanya menyenangkan sekali.

“Yanagi-san, daijoubu ka? Kau terlihat pucat” Ucap Sakura, dia terlihat panik. Sebenarnya aku merasa kalau keadaanku sedang buruk, tapi aku tak mau dia tau yang sebenarnya.

“Daijobu. Aa. Gomen. Aku mau melanjutkan bacaanku, kita lanjut nanti ya Sakura-san. Anou, arigatou na” aku mengalihkan pembicaraan dan langsung menyambar komik yang ku bawa dari rumah, sengaja untuk bacaan ku kalau-kalau aku tak mendapatkan teman disekolah.

Aku melihat sekeliling kelas, beberapa orang sedang berbincang-bincang dengan asik. Termasuk Yuma dan Yugo. Mereka sedang asik berdua dibangku belakang ujung, tanpa sadar aku terus memperhatikan mereka.

“Hidungmu berdarah” Yuma mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya padaku. Aku sama sekali tidak sadar kalau dia itu sudah berada tepat dihadapanku.

Aku mengelap hidungku yang berdarah, lagi. Aku benci hal ini. Kenapa harus disekolah.

“Arigatou, Nakayama-kun” ucapku dan memberikan kembali saputangannya.

“eh? Simpan saja, anou. Kau tau namaku?” Tanyanya dengan lembut dan senyum yang benar terlihat tulus.

“Arigatou. Siapa yang tak kenal dengan artis sepertimu Nakayama-kun” Aku tak dapat membayangkan sebelumnya, kalau akan ada percakapan yang benar-benar membuatku seperti emlayang ke langit ke-7.

“Eh? Kau ini bisa saja. Hmm, yasudah aku tinggal ya. Jaga dirimu” Yuma pergi berjalan menuju bangkunya. Dan tak lama sensei datang untuk memberikan kami pengarahan.

====================================================================================

Kemarin benar-benar berjalan dengan sangat menyenangkan. Kehidupan sekolahku lebih baik dari pada di SMP dulu, semua teman-temanku sangat baik walau sesekali mereka terlihat sibuk sendiri dengan banyak telepon disaat istirahat. Teman sekolahku memang banyak yang artis. Seperti yang ku lihat dibanyak acara di tv kalau mereka memang baik. Dan aku tau Yuma juga akan baik seperti di tv. Aku pasti akan menyukai hari-hariku bersekolah dHorikoshi.

“Eh, Rii-chan. Ini milikmu ya?” Kouchi Yugo, dia menghampiri ku dan memanggil nama ku seenaknya. Lalu menyerahkan notes kecil berwarna kuning dengan gambar anime Hai Miiko didepannya.

“Un. Ini milikku, Yugo-kun kenapa kau memanggil ku Rii-chan?” Tanyaku bingung.

“Ah. Nama mu itu terlalu panjang. Aku lebih suka dengan panggilan Rii-chan. Nande yo?” Dengan enteng dia berbicara seperti itu, tak seperti yang sering ku lihat di Tv, dia berbeda, Yugo terlihat lebih santai dan seenaknya.

“Shikasi…”

Aku tak melanjukan kata-kata ku karena dia sudah membalikan badan dan meninggalkan ku, biasanya saat aku melihat dia di sebuah acara dia terlihat sangat konyol dan juga baik. Seperti sosok yang sangat menyenangkan begitu, tapi kenapa Yugo yang kulihat sekarang seperti ini?

=====================================================================================

Aku duduk terdiam dibangku ku, lalu ku tatap langit dari sisi jendela, langit terlihat sangat indah dari bangku ku. sudah enam bulan aku bersekolah disini, dan perlahan semuanya berubah, banyak dari mereka jarang sekali masuk kelas. Mereka selalu banyak pekerjaan, dan itu semua selalu dimaklumi oleh pihak sekolah.

Hari ini ada pelajaran olahraga, sejak dua hari lalu aku tidak melihat Yuma masuk sekolah. Sepertinya dia banyak pekerjaan, tapi aku tidak tau ada pekerjaan apa. aku jadi sedikit menghawatirkan ichibanku itu.

Tak lama Akanishi sensei membunyikan peluit dan semua anak-anak kelas 1D berkumpul menghampiri lapangan, bersiap untuk olahraga.

Kami semua berkumpul dan membentuk barisan. Lalu melaksanakan perintah Akanishi sensei, kami melakukan lari estapet sepanjang lapangan sekolah. Menurutku ini sangat melelahkan karena harus berlari sangat jauh. Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.

“Yossshhh. Yatta” Aku melirik kearah Yugo yang sudah basah dengan peluh hampir diseluruh keningnya. Setelah lari estapet kami dapat waktu senggang sekitar 30 menit, tapi hal itu dimanfaatkan oleh beberapa anak untuk bermain sepak bola, begitu juga dengan Yugo. Dan yang ku tau juga Yugo memang menyukai sepak bola.

Kakkoi. Aku berdecak dalam hati. Ah, hampir saja aku lupa saat ini aku sedang menjadi teman sekelasnya, bukan menjadi fansnya. Walau sebenarnya aku ingin berteriak kalau aku menyukai Yugo sebagai idola ku.

Aku tersenyum sendiri melihatnya. Sampai aku merasakan kalau hidungku berdarah, sebenarnya aku bingung, apa mungkin penyakitku kambuh disaat seperti ini atau aku hanya sangat kagum pada Yugo hingga aku mimisan seperti ini.

“Sensei. Yanagi-san berdarah” Sakura menghampiriku. Aku hanya diam menatapnya. Perlahan tubuhku terasa lunglai. Dan pandanganku semakin kabur. Aku tak dapat merasakan apa-apa lagi.

=====================================================================================

“Kau kenapa sih?” Tanya Yugo tiba-tiba. Aku melihat dia saat mataku benar-benar terbuka.

Aku melihat sekeliling ruangan, sepertinya aku sedang ada diruang kesehatan sekolah. Ruangan ini bagus sekali terlihat seperti aku sedang ada dirumah sakit, keren sekali.

“Hey, kau mendengarku? Kau ini sebenarnya kenapa?” Tanyanya lagi.

Aku masih terdiam tak menjawabnya. Aku bingung harus menjawab seperti apa? kini aku berhadapan dengan salah satu ichibanku, dia juga sangat aku suka dideretan anak JE.

“Daijobu” Ucapku singkat. “Permisi, kau boleh membiarkan aku kembali kekelas?” Tanyaku.

Yugo tak menjawab dia hanya meninggalkanku. Aku tak memperdulikannya, dengan tenaga yang kumiliki, aku mencoba untuk kembali kekelas.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, sepertinya Yugo membenciku. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya.

“Yo. Riisa-san. Kau terlihat manis hari ini” Ucap Yuma yang aku juga tidak tau dari mana datangnya. Dia datang begitu tida-tiba. Sepertinya dia datang begitu selesai menyelesaikan tugasnya sebagai Idol.

“Eh? Wajah pucat seperti itu kau bilang manis?” Kau berbohong Yuma-chan” Ucap Yugo dengan enteng. Dia mengatakan itu dihadapanku.

“Hmm, iya sih. Kau memang sedikit pucat. Tapi kau tetap terlihat manis, deshou Yugo? Anou, daijoubu ka Riisa-san?”

Aku mengangguk dan menatap sinis pada Yugo. Entah mengapa aku menjadi sangat bingung. Aku semakin menyukai Yuma, dia benar-benar memiliki jiwa seorang idol. Terlebih dia baik dengan semua orang apa lagi denganku.

=====================================================================================

#YUGO POV#

Buuuuugggghhhtttt

Aku mendapatkan sebuah tinjuan dari tangannya, tangan seorang Nakayama Yuma. Bisa ku bilang dia adalah seorang yang ku anggap sahabatku, karena kami sangat dekat di JE.

“Nande yo?” Tanyaku santai. Aku tau pasti ada maksud dari semua ini. Sebelumnya Yuma tak pernah melakukan ini padaku. Dia sangat baik padaku.

“Kau menyukainya kan? Kenapa kau lakukan itu?” tanya Yuma.

Aku tak mengerti maksud pertanyaannya, aku benar-benar dibuat bingung olehnya.

“Menyukai apa? melakukan apa?”

Buuuggghhttttt

Lagi, kini dia meninju ku lagi. Aku tak ingin membalasnya. Dia meraih kerah bajuku dan menyudutkan ku ketembok.

“Riisa-san. Kau menyukainya kan? Kenapa kau tutupi perasaanmu hah?” Ucapnya dengan lantang.

Aku terdiam, mungkin waktu yang ku lewati bersamanya terlalu banyak, sampai dia dapat menebak semua isi hatiku.

“Kalau kau suka, katakan saja. Tidak dengan cara seperti itu” Lanjutnya lagi.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?” Aku menanyakan kenapa Yuma memukulku dan sepertinya dia sangat kesal karena aku selalu menutupi perasaanku pada Riisa.

Memang sejak lama aku menyukainya, gadis itu selalu terlihat polos dan apa adanya. Dia pendiam dan aku sering sekali melihat dia menyendiri. Aku sangat tertarik padanya. Tapi ada satu hal yang sebenarnya aku tau, saat membaca notes kecilnya aku melihat kalau aku membaca sebuah tulisan ‘Nakayama-kun, kimi ga suki’ aku tau dia menyukai Yuma.  Oleh sebab itu aku mencoba untuk membencinya. Tapi semakin aku mencoba untuk membencinya aku semakin menyukainya.

AKu tak pernah berpikir akan serumit ini, tapi ini kenyataan yang kuhadapi. Aku menyukai Riisa sekarang, bahkan sangat menyukainya.

“Kore. Kau harus membacanya” Yuma menyodorkan sebuah berkas. Berkas penerimaan murid baru. Dengan nama file ‘Yanagi Riisa’

Aku membacanya pelahan. “Kanker Darah?” Aku terbelalak melihat tulisan yang diwarnai dengan tinta merah itu, terdengar begitu menyeramkan bagiku.

“Sekarang kau mengerti? Aku melakukan ini karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Dan kau tau, dia itu sangat membutuhkan seseorang yang bisa dia anggap sebagai teman yang sebenarnya. Kalau kau menyukainya cepat katakan”.

Aku tersenyum simpul padanya. Yuma tak mengerti yang sebenarnya. Yang sebenarnya hanyalah sebuah perhatian darimu Yuma, bukan dariku. Apalah arinya diriku jika yang diinginkannya adalah kau?

Aku mendorong Yuma sehingga dia sedikit menjauh dariku. Lalu aku berjalan santai kembali menuju kelas.

“Kanker Darah?” Aku membatin dan mencoba mencari tau soal itu dari internet.

Kanker darah bisa dihentikan dengan cara transplatasi darah dengan sejenis. Transplasai bisa dilakukan saat seseorang penderitanya sudah sangat siap untuk menerima darah baru dari sang pentransfer. Biasanaya dokter melakukannya saat sang penderita mengalami gangguan yang sudah sangat parah.

Aku tak banyak paham tentang penyakit itu, tapi yang jelas sekarang aku tau kenapa Riisa selalu terlihat pucat, tapi dia selalu menutupinya. Dia selalu berkata kalau dirinya baik-baik saja.

Yuma tersenyum kearah Riisa, dan sesaat setelah itu Yuma sudah ada dibangku dekat Riisa duduk. Aku melihat mereka tertawa bersama. Dan saat itu juga hatiku menjadi sangat panas. Aku tak tau kenapa ini terjadi, tapi aku rasa aku cemburu.

=====================================================================================

#RIISA POV#

“Tanaka Sensei. Kau tidak mengatakan yang sebenarnya kan? Uso da ne?” Aku tersenyum kesal pada Dokter pribadiku, Tanaka Sensei. Dia yang sedari dulu merawatku.

“Gomen nasai Riisa-san. Kita memang harus melakukan itu. Kalau tidak kau akan…” Tanaka Sensei mengantungkan kalimatnya.

“Chigau. Daijoubu desu. Kau juga tau kan kalau keluarga ku itu”

“Wakarimasu Riisa-san. Aku akan berusaha untuk mendapatkan pendonor sesegera mungkin”

Aku meletakan berkas yang ku pegang, diberkas itu aku melihat beberapa kertas yang menyatakan kalau dalam kurung waktu dekat aku harus melakukan transplatasi darah. Aku tak tau harus mendapatkan darah dari mana. Golongan darahku itu jarang dimiliki oleh orang lain. Hanya Otousan yang cocok. Dan tentunya Otousan tidak mungkin bisa memberikanku hal itu. Dia sedang jauh bekerja. Lagi pula sepertinya dia tidak akan memperdulikanku. Otousan itu sangat-sangat-sangat sibuk sekali.

Pagi ini aku harus kembali masuk sekolah setelah kemarin seharian aku berada dirumah sakit untuk melakukan beberpa tes yang membuatku sangat kesal. Tanaka sensei bilang padaku kalau aku tak boleh banyak berpikir keras. Okaasan menyuruhku untuk terus tenang, tapi tetap saja aku tak bisa tenang dalam keadaan seperti ini.

“Kore. Kau terlihat haus” Yugo menghampiriku dan memberiku sebotol jus jeruk.

“Eh? Aku tak haus kok” jawabku.

“Yasudah, minum saja. Aku melihatmu kok gelisah seperti itu ya? Coba kau minum sedikit jus, pasti kau  lebih tenang” Ucapnya dengan lembut.

Kali ini aku bisa tersenyum melihatnya. Walau dimataku Yugo itu menyebalkan, tapi kali ini aku menerima pemberiannya. Aku meneguk jus dingin itu.

“Yugo-kun. Arigatou” Ucapku sambil tersenyum menatapnya. “Aku merasa lebih tenang”

“Yokatta ne. Kau tak masuk ya kemarin? Aku juga sih. Ada pemberitahuan untuk latihan konser HSJ nanti. Kau mau datang melihatku saat penutupan konser tidak? akan ada Yuma juga loh. Mereka tampil bersama NYC. Aku akan belikan karcis VIP untukmu deh” Yugo tersenyum. Memberikanku penawaran. Sebenarnya aku sangat-sangat ingin menerimanya. Tapi waktunya sangat tidak tepat dengan kenyataan yang ada.

“Gomen. Tidak bisa” aku langsung menolaknya. Aku tau biasanya HSJ konser pada tanggal berapa saja, tapi sayang tanggalnya bertepatan dengan transplatasi ku. itu benar-benar tidak mengasyikan.

Yugo tersenyum dan menepuk pundaku dengan lembut. “Daijoubu. Jaga dirimu ya” Ucapnya singkat.

Aku menatap terus punggungnya yang perlahan menjauh dari pandanganku. Entah mengapa air mataku terjatuh saat itu.

“Kore. Gadis manis tak boleh menangis” Seseorang memberikan ku sapu tangan, sapu tangan yang mirip dengan yang ku punya yang diberikan oleh Yuma.

“Yuma-kun. Kau disini?” Tanya ku sambil mengambil sapu tangannya.

“Jangan menangis lagi. Aku tak suka gadis yang memangis. Itu akan menghapus kecantikannya. Waratte ne. waratte”

Dia selalu berusaha membuatku untuk tertawa, sikapnya manis sekali. Aku benar-benar menyukainya sekarang. Bukan sebagai seorang Idol, tapi sebagai seorang Yuma. Aku menyukainya, bahkan aku berharap menjadi pacarnya. Ah, tapi ku rasa itu sesuatu yang tak mungkin.

=====================================================================================

#AUTHOR POV#

Wanita itu segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Moshi-moshi. Tanaka sensei, bagaimana? Apa Riisa kerumah sakit setiap hari?” Tanyanya dengan panik. Wanita itu baru saja pulang dari pekerjaannya, wanita ini adalah Ibunya Riisa, tapi karena pekerjaan yang menuntut dia jarang sekali memperhatikan Riisa.

“Dia kesini setiap hari, tapi dia tak akan lama bertahan. Aku belum mengatakan padanya. Karena ku rasa itu akan membuat dia tertekan. Sebaiknya segera bawa dia kerumah sakit. Dia harus dirawat dirumah sakit demi kelancaran segalanya.” Ucap Tanaka Sensei dari tempat yang jauh disana.

Wanita itu menutup flip ponselnya dan menuju kamar anak satu-satunya itu. “Riisa” batinya.

Knock Knock Knock.

Wanita itu mengetuk pintu kamar Riisa. “Masuk” Suara Riisa terdengar dari dalam kamar.

“Kau belum tidur Rii-chan?” Tanya wanita itu. Lalu dia duduk ditepi kasur Riisa.

“belum, aku masih mendengarkan musik. Tumben Okaasan sudah pulang?”

“Hanya ada satu rapat dikantor tadi. Jadi aku bisa cepat pulang. Oiya, bagaimana dengan sekolahmu?”

“Baik. Teman-temanku baik” Jawab Riisa singkat.

“anou, Rii-chan. Kore” Wanita itu memberikan sebuha kalung berbandul huruf ‘Y’

“Heh? Y?” Tanya Riisa bingung saat wanita itu memakaikan kalung tersebut dileher Riisa. Dia merasa ibunya sepertinya tahu kalau dia menyukai ‘Yuma’ atau mungkin juga itu ‘Yugo’

“Iya. Y untuk Yanagi. Nama keluarga kita” ucapnya sambil tersenyum.

“A, souka. Arigatougozaimasu” Riisa membaringkan tubuhnya dikasur miliknya itu.

Lalu wanita itu mematikan lampu kamar Riisa dan meninggalkannya.

“Bagaimana pun dia harus selamat, dialah harta yang paling berharga yang ku punya”Wanita itu mengetik pesan yang akan dikirimkan pada Tanaka Sensei.

=====================================================================================

#RIISA POV#

Aku membuka mataku, tak terasa hawa hari ini menjadi lebih dingin dari biasanya. “Eh? Aku dirumah sakit?” Tanyaku bingung ketika mendapati aku sudah berada dirumah sakit, tanganku juga sudah terhubung dengan impusan.

“Ohayou Riisa-san” Seorang suster menyapa ku.

“Ohayougozaimasu. Kenapa aku bisa ada disini?” Tanya ku bingung.

“Seseorang membawamu kesini. Karena kau itu semalam sangat lemah, keadaanmu sangat buruk semalam, jadi Okaasanmku memutuskan untuk membawamu kemari”

Tidak, aku merasa biasa saja semalam, tidak mungkin sesuatu terjadi padaku. Aku tak merasakan apapaun, begitu aku tertidur dan setelah bangun dipagi hari aku sudah ada dirumah sakit.

Hari-hari dirumah sakit sangat tidak menyenangkan, sudah hampir satu minggu aku ada dirumah sakit, dan tidak satu orangpun menjenguk kecuali Okaasan yang hanya setiap malam datang beberapa menit dan kembali lagi.

“Riisa-san, ada yang mau bertemu denganmu” Aku memalingkan pandanganku.

“Terserahlah” ucapku pada suster itu, paling juga hanya pembantuku yang datang. Sama sekali tidak ada yang spesial.

“Riisa-san” panggil seseorang. Aku pun melihat kearahnya. Yuma.

“Yuma-kun. Kau bisa tau aku disini? Tau dari mana?” Ucapku menanyakan sesuatu. Ternyata ada juga seseorang yang memperdulikanku. Memang benar. Yuma itu sangat baik.

“Aku tau dari Akanishi sensei. Aku juga mengajak Sakura, Kento, dan Taiga” Mereka semua masuk bersamaan.

“Sakura-chan” Teriakku, aku merindukan sosok Sakura yang selalu ceria.

“Riisa-chan. Ganbate ne” Ucapnya menyemangatiku. Dia tersenyum sambil mengenggam lenganku.

Hari ini untuk pertama kalinya aku merasa senang karena ada teman-teman yang datang menjengkukku. Walau tidak terlalu lama. Tapi aku sangat senang dengan hal itu.

=====================================================================================

Aku merasa keadaan ku benar-benar buruk hari ini, sampai-sampai aku tak dapat melakukan apapun, untuk duduk saja aku tak mampu. Ku tekan bel pasien dengan cepat.

“Riisa-san kau dapat mendengarku?” Aku mendengar suara Tanaka Sensei. Ku anggukan kepalaku dengan lemah.

“Yokatta” Perlahan kepalaku terasa sangat berat. Dan ku tutup mataku perlahan.

=====================================================================================

#AUTHOR POV#

“Dia tak sadarkan diri sensei” Ucap seorang suster yang menemani Tanaka Sensei.

“Kita harus segera sesegera mungkin melakukannya. Dia tak bisa menunggu terlalu lama” Ucap Tanaka sensei.

Sebuha suntikan mendarat dikulit Riisa. Dia sama sekali tak merasakannya, dia sudah tidak sadar terlebih dahulu. Keadaan gadis itu semakin memburuk, sel-sel darahnya sudah tak mampu melawan penyakitnya.

“Tanaka sensei, apa kita sudah mendapatkan pendonor?” Okaasan menanyakan hal itu pada Tanaka sensei. Dan jawabannya selalu sama. ‘tidak’

Sudah kebeberapa rumah sakit okaasannya mencari golongan darah yang harusnya cocok dengan darah Riisa, dia memang mempunyai golongan darah langka.

“Ku mohon, Tanaka sensei. Apapun yang terjadi ku mohon selamatkan Riisa. Onegaishimasu” Okaasan membungkuk dalam dihadapan Tanaka Sensei. Dia benar-benar memohon agar anak satu-satunya itu diselamatkan.

“kami akan berusaha sebaik mungkin” Balas Tanaka sensei dengan pasrah.

=====================================================================================

“Sumimasen, sensei. Bisa bicara sebentar?” Seseorang memanggil Tanaka sensei.

Tanaka senseipun menghampiri orang itu. Mereka berbicara berdua didalam ruangan pribadi milik Tanaka sensei.

“Arigatou na” Ucap Tanaka sensei pada orang yang baru saja dia temui.

Tanaka sensei membawa sebuha kantong berisi sample darah. “Ini. Ini cocok dengan darah Riisa. Mari kita lakukan sekarang”

Riisa masih belum tersadar. Tanaka sensei mentrasplatasi darah pendonor tadi kedalam tubuh Riisa dengan cepat dan sangat hati-hati.

“Semoga bisa bekerja dengan baik” Ucapnya, setelah mentransplatasi darah tersebut.

“Aku harus kembali bekerja. Tanaka sensei. Jaga dia. Onegaishimasu” Okaasan mengambil tasnya dan segera meninggalkan Riisa.

“Okaasan. Matte” Suara Riisa terdengar lemah memanggil ibunya.

Okaasan pun berhenti, dan menghampiri Riisa. “ne? Doushita?” Tanya Okaasannya sambil menggenggam tangan Riisa.

“Sudah selesai ya? Siapa pendonornya?” Tanya Riisa singkat.

Okaasannya tersenyum dan mengusap lembut rambut Riisa,”Tanaka sesnsei tau. Kau bisa menanyakan padanya. Okaasan harus kembali kekantor. Tidak apa-apa kan?”

Riisa menatap Tanaka sensei, dan mengagguk pada Ibunya. “Sensei, dare ka?” Tanyanya to the point.

“Eh? Apa harus aku katakan?” Tanya Tanaka sensei sambil tersenyum pada Riisa.

“Un. Kau harus mengatakan padaku”

“berjanjilah untuk mampu melawan penyakitmu”

“Un. Aku janji. Lalu siapa?” Tanya Riisa lagi.

“Teman sekelasmu” Ucap Tanaka sensei lalu meninggalkan Riisa sendiri.

=====================================================================================

2 Minggu kemudian

“Anou, Yuma-kun” Riisa berlari menghampiri Yuma yang sedang duduk disisi lapangan melihat anak-anak kelad D bermain sepak bola.

“Hey. Riisa-san. Kau sudah sehat ya?” Tanya Yuma dengan senyum yang manis.

“Yuma-kun. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Atashi… Yuma-kun ga suki” Ucap Riisa dalam tunduknya.

“Ahh, Gomen na Riisa-san. Aku tak bisa” Yuma tersenyum dan memeluk Riisa.

Yuma tak menerimanya, karena Yuma tau kalau ada seseorang yang lebih pantas mendapatkan Riisa dibanding dirinya, seseorang yang tak pernah disadari oleh Riisa.

“Un. Demo.. Arigatou. Kau telah memberiku kesempatan untuk hidup.doomo arigatou na” Ucap Riisa sambil tersenyum.

Wajah Yuma terlihat bingung. “Un. Doita ne” Ucapnya lalu tersenyum.

===================================================================================

#RIISA POV#

Ditolak oleh seorang ichiban, yang pertama. Aku pertama kali mengatakan suka pada seorang laki-laki dan untuk pertama kalinya juga aku ditolak. Ini sangat menyakitkan.

Aku tak dapat menahan air mataku. Air mata itu mengalir begitu saja. Untunglah aku sedang sendiri, sepertinya murid horikoshi jarang sekali ada yang menggunakan atap sekolah. Padahal kalau di komik atau dorama aku selalu melihat anak-anak menggunakan atap sekolah untuk bermain.

“Kau akan menangis sampai kapan?” Tiba-tiba Yugo datang dan berdiri tepat disampingku.

“Bukan urusanmu tau. Kau sendiri sedang apa disini?” Tanya ku kesal.

“itu urusan ku juga karena aku menyukaimu, jadi itu urusanku juga. Aku disini untuk bilang kalau aku menyukai mu” Ucap Yugo sambil menatap kearah luar sekolah. Dia sama sekali tak menatapku.

Aku terdiam dan lalu ku tinggalkan dia, apa benar yang dikatakannya, aku sama sekali tak pernah merasa kalau Yugo menyukai ku. yang ku tau dia selalu membuatku kesal.

Meski sebenarnya aku juga sedikit menyukainya, karena aku sudah menyukainya sejak dia masih menjadi Idol, tapi perasaanku sekarang bukan terhadap aku dan Idolku, tapi antara aku dan seseorang yang ku cinta.

=====================================================================================

“Nani? Nande yo?” Aku memanyunkan bibirku dihadapan Okaasan dan Otousan.

Mereka memintaku untuk melanjutkan sekolah diluar negri, aku jelas-jelas menentangnya. Aku tak mau meninggalkan surga seperti Horikoshi. Walau baru sesaat sekolah disana aku sudah menemukan kehidupan yang seru bersama teman-temanku.

“Kau akan mendapatkan pelajaran yang lebih layak disana. Sudahlah. Kepindahanmu sudah ku urus, mulai kelas 2 nanti kau harus meninggalkan Jepang” Ucap Otousan, dan pergi meninggalkanku.

Aku tak pernah menyukai sifatnya yang seperti itu, kami semua harus mengikuti apapun yang dikatakannya. Kalau dia berkata A, maka kami harus mengikuti kemauannya, dia sama sekali tidak memikirkan perasaan orang lain, sifatnya sangat keras.

Aku tak dapat berkata-kata lagi, ini keputusan yang sudah dia bat, dan mau tidak mau aku harus mengikutinya.

From : Sakura

Sub : re : kabar buruk

Kau akan pindah? Sayang sekali. Riisa-chan, kau jangan pernah lupa padaku ya

Aku tersenyum, dan tak terasa air mata ku terjatuh, seorang sakura berkata seperti itu, persahabatan kami memang belum terlalu banyak petualangan, tapi Sakura benar-benar mengerti perasaanku. Walau dia juga sebenarnya sering sekali sibuk dengan les –les yang akan menunjang pelajarannya.

====================================================================================

Hari ini pengumuman ujian kenaikan kelas, aku tersenyum disamping sakura yang terlihat sangat senang kalau ternyata kami bisa naik dengan nilai yang cukup baik.

“Omedetou. Shikasi…” Sakura menggantungkan kalimatnya. Lalu dia memelukku dengan erat.

“Riisa-chan. Kita jangan lostcontact ya. Kita harus sering-sering mengirim email ya” Ucapnya, lalu dia melepaskan pelukannya.

Aku menatap wajah sakura, terlihat jelas matanya yang berkaca-kaca dihadapanku. Kini aku memeluk tubuhnya.

“Un. Janji ya” Ucapku menenangkannya.

“Anou, Rii-chan ku dengar kau akan pindah” Seseorang menepuk pundakku.

“Yugo-chan. Un. Doushite?” Tanyaku.

“Tidak bisakah kau menunggu?” tanyanya. Aku memiringkan kepalaku, aku tak mengerti dengan pertanyaannya.

“Tidak bisakah kau menunggu sampai kau mengatakan suka padaku?” Tanyanya lagi.

Aku tersenyum dihadapannya. “Baaakkkaa. Aku belum bisa menyukaimu saat ini. Mungkin nanti. Kau harus menyimpanku ya” Ucapku sambil tersenyum. “kore. Anata no kokoro no naka” Ucapku sambil menunjuk bagian dadanya.

Yugo terlihat sedikit kaget, namun raut wajahnya terlihat bersedih.

“Good Job Yugo, Ganbate ne. kau pasti bisa buat Riisa-chan menyukai mu” Yuma berteriak dari kejauhan memberi semangat pada Yugo.

“Baakkaa Nakayama. Hazukashii na”

Kami semua tertawa. sesaat aku melihat peluang untuk Yugo yang sangat besar. Walau untuk saat ini aku masih belum bisa menerimanya.

=====================================================================================

2 BULAN KEMUDIAN

From     : Kou-Ichi

Sub        : Baakka

Kau membuatku khawatir baaakkkaa. Kau dimana? Kenapa tak membalas emailku? Aku khawatir

Aku tersenyum geli melihatnya. Semenjak kejadian terakhir diHorikoshi, komunikasiku lancar dengan Yugo. Dia selalu memberiku semangat, walau caranya tetap sama seperti dulu, dia sering sekali mengataiku dengan kata ‘baka’ menyebalkan. Tapi mungkin itu cara Yugo untuk membuatku menyukainya.

To           : Kou-Ichi

Sub        : re : Baakka

Hei Mr.baka. kan aku sudah sering bilang kalau aku ada didalam hatimu. “高地優号 の 心 の 中”

END

Continue reading