[Multichapter] Love Shuffle (chap 03)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Three
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 03~

“Bir satu…” pinta Opi pada Yuma yang kebetulan sedang menglap gelas di belakang meja bar.

Yuma menatap Opi dengan seksama. “Sudah cukup. Kau sudah minum 3 gelas Opi-chan..” tolak Yuma tidak menggubis permintaan Opi.

Opi mengerucutkan bibirnya tanda kesal karena laki-laki itu tidak menuruti permintaannya.

“Pokoknya aku mau bir..aku mau bir..aku mau…”

Rengekan Opi terhenti saat tiba-tiba bibirnya tertutup oleh sebuah tangan dari belakang.

“Hmmmpphhh..” gadis itu mencoba berontak tapi tenaga tangan yang menutup mulutnya jauh lebih besar.

“Hai…Opi-chan..” sapa si pemilik tangan itu yang ternyata adalah Yamada.

“Buaaaahhhh…” Opi menarik napas cepat-cepat. “Yamada? Kau mau membunuhku?”

Yamada tidak menjawab. Ia hanya memperlihatkan cengiran khasnya.

“Aku pesan yang biasa yah..” ucap Yamada pada Yuma.

Yuma mengangguk.

Entah sejak kapan Yamada dan Opi menjadi sering minum di cafe itu. Jika ada waktu, setiap malam mereka selalu datang dengan ditemani oleh Yuma yang memang bekerja di cafe tersebut. Tapi selain mereka, sebenarnya ada satu orang lagi yang memang ‘hantu’- nya cafe itu. Siapa lagi kalau bukan Ikuta Toma, dosen mereka sekaligus pencetus permainan konyol Love Shuffle yang mereka jalani sekarang.

“Hai…” sapa Toma yang baru saja datang. Kemudian laki-laki itu duduk di sebelah Opi. “Ada apa?” tanyanya saat melihat wajah kusut Opi.

Opi tidak menjawab. Gadis itu memilih meletakkan kepalanya di atas meja bar lalu matanya terpejam.

“Seperti biasa. Mabuk. Dan dia minta minuman lagi. Tapi aku tidak memberinya bir,” jelas Yuma sembari menyiapkan minuman untuk Yamada dan minuman kopi favorit Toma.

“Akan sangat repot sekali saat kita berkencan nanti, Opi-chan..” sahut Toma lalu melihat wajah polos Opi yang matanya masih terpejam.

“Ah..partner sensei minggu ini Opi-chan kan?” tanya Yamada.

Toma mengangguk. “Kau? Sora-chan?”

“Ya..” jawab Yamada singkat karena kemudian ia menyesap minumannya.

“Tenang saja. Sora-chan itu manis sekali…” ujar Toma lalu menyesap kopinya.

Yamada terkekeh. “Lalu kau?” tanyanya pada Yuma.

“Suzuki-san…”

“Hooowwww…” Yamada terlihat senang. “Kau harus hati-hati dengannya. Mungkin saja dia akan melakukan sesuatu..”

Yuma kaget. Ia merasa akan terjadi sesuatu yang mengerikan di depan sana.
“Heeee???”

“Uso..uso..” Yamada mengibaskan tangannya.

Yuma mengelus dadanya tanda lega. “Jangan menakutiku..” ujarnya kesal.

“Kau jangan macam-macam pada Sora…” tiba-tiba Opi bersuara dengan kepala masih tergeletak di atas meja bar. Lalu pelan-pelan mengangkat kepalanya dengan lemas.

“Kukira kau tidur..” sahut Toma.

Gadis itu mendengus. “Bagaimana aku bisa tidur kalau kalian ribut..”

“Aku tidak akan macam-macam. Kecuali dia yang memulai,” ucap Yamada santai. “Tapi Sora-chan itu memang manis sekali.”

“He? Minggu kemarin kau bilang aku yang paling manis..” protes Opi.
Yamada menoleh pada Opi sambil tersenyum. “Itu minggu lalu.”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Dasar playboy.”

“Kau tidak usah cemas..setiap hari aku akan menyebutmu manis..” timpal Toma sambil tersenyum manis.

Opi meringgis. Rasanya aneh mendengar laki-laki itu mengucapkan hal yang membuatnya merinding.

“Yuma-chan..aku mau…”

“Tidak ada bir lagi untukmu hari ini..” potong Yuma tidak peduli pada temannya itu sekaligus pelanggannya.

Opi kembali mengerucutkan bibirnya.

“Ayo pulang, Opi-chan. Aku akan mengantarmu..” ucap Toma seraya beranjak dari tempat duduknya.

“He? Nande?” tanya Opi.

Tiba-tiba Toma sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Opi. Secara otomatis, gadis itu menjauhkan wajahnya walaupun wajah mereka tetap dekat.

“Mulai hari ini, aku adalah partnermu,” jelas dosen muda itu lalu tersenyum.

Setelah berpamitan pada Yamada dan Yuma yang masih tetap tinggal di cafe, Toma dan Opi berjalan menuju mobil milik Toma.

“Sensei..” panggil Opi yang hanya berdiri di depan pintu mobil.

“Hmm?”

“Aku..belum ingin pulang..” ucap Opi pelan.

Kening Toma berkerut. “Kau bukan sedang memberikan kode padaku untuk ingin ke tempatku kan?”

Opi melebarkan matanya. “Jangan bermimpi.”

“Kalau begitu masuklah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat..” Toma lalu masuk ke dalam mobil yang kemudian diikuti oleh Opi.

Selama perjalanan, gadis itu hanya diam. Walaupun ia tahu Toma adalah orang lain untuknya, tapi bagaimanapun laki-laki itu adalah seorang pengajar. Ia percaya Toma tidak akan macam-macam padanya atau mengajaknya ke tempat yang aneh. Tapi tetap saja Opi penasaran dengan arah tujuan mereka.

“Kita sudah sampai,” ucap Toma setelah mobil berhenti tepat di depan pantai.

“Gelap. Dingin. Tidak terlihat apa-apa,” komentar Opi sambil memeluk tubuhnya.

Toma mendelik. “Tentu saja gelap. Sekarang kan malam. Masih pukul…..” Toma melihat sebentar ke jam tangannya. “…1 malam.”

Gadis itu mendengus. Ia tahu sekarang sudah sangat malam.

“Pakai ini..” Toma memakaikan jas coklatnya ke tubuh Opi. “kau kedinginan kan?”

“Ha-hai..” Entah kenapa Opi menjadi salah tingkah mendapat perlakuan seperti itu dari dosennya.

Setelah mereka berjalan cukup jauh dari mobil dan hampir mendekati pantai, mereka duduk berdampingan. Jarak mereka tidak begitu jauh. Hal ini menjaga agar tubuh mereka tetap hangat.

“Sensei sering ke sini?” tanya Opi memecah keheningan. Yang terdengar sejak tadi hanya suara ombak.

Toma mengangguk. “Dulu. Saat aku masih dengan pacarku.”

“Pacar sensei kemana sekarang?” tanya Opi penasaran.

“Sudah menikah dengan orang lain..” jawab Toma.

“Souka..”

Lalu mereka berdua diam. Berbagai pikiran tiba-tiba muncul di kepala mereka.

“Kudengar kau tinggal bersama pacarmu. Inoo-san?” kini giliran Toma yang bertanya.

Opi mengangguk tanpa menjawab.

“Pasti kalian sudah sangat dekat..” gumam Toma.

Opi menggeleng. “Itu kelihatannya. Nyatanya kami menjadi jarang bersama. Makan tetap sendiri. Menonton tv tetap sendiri. Tidak ada yang berubah dari saat aku masih tinggal sendiri.”

Toma hanya diam sambil menatap ombak di kegelapan. Ia membiarkan Opi berbicara.

“Kei sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kadang dia tidak pulang karena harus di studio sampai gambar nya selesai. Sekalipun dia pulang, hanya untuk mengambil baju ganti kemudian pergi lagi. Jika hari libur, dia akan tetap di rumah sambil mengurus pekerjaannya. Aku sampai bosan melihatnya..”

Opi berhenti sejenak untuk mengatur napas yang tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dan tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir.

“Opi..” Toma menatap Opi dan terkejut gadis itu menangis.

“Ah gomen..kalau aku di pantai, perasaanku jadi sedikit sensitif..” ucap Opi seraya menghapus sisa air mata di mata dan pipinya.

Toma menggenggam tangan Opi dengan tiba-tiba lalu berkata, “daijoubu.”

Menurut Yuma, hampir setiap hari Opi berada di cafe hingga larut malam. Minum sendiri hingga mabuk. Sekarang Toma mengerti kenapa gadis itu melakukannya. Itu hanya bentuk cara gadis itu menghilangkan kesepiannya.

————————-
Yamada mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, “Sora-chan manis sekali loh,”

Harusnya ia senang mendengar komentar itu, bukankah gadis manis itu mudah ditaklukan olehnya? Tapi ia kadang bisa merasakan bahwa gadis seperti Sora justru merepotkan untuknya.

“Aku datang~” Yamada membuka pintu apartemen itu ketika dilihatnya Saifu sedang duduk di sofa, menatap televisi, namun tampak melamun.

“Yo!” sapa Saifu akhirnya.

Yamada menghampiri Saifu dan duduk di sebelahnya, menarik bahu Saifu hingga gadis itu merebahkan kepalanya di bahu Yamada, “Ryuu tidak menjawab teleponmu?” tanya Yamada, disambut gelengan oleh Saifu, “Tidak juga membalas e-mailmu?” Saifu hanya diam dan Yamada tahu itu jawabannya.

“Bersabarlah… ia sibuk…”

Saifu tak menjawab, membiarkan dirinya tenggelam di pelukan Yamada.

“Aku dengar partnermu minggu ini Yuma-chan?” ucap Yamada berusaha mengalihkan perhatian si gadis dari kesedihannya.

Saifu mengangguk, “kenapa memangnya? Kau cemburu?” goda Saifu.

Yamada tak menjawab dan hanya terkekeh pelan.
————————–
Matahari sudah cukup tinggi saat Opi bangun dengan malas. Sinar matahari yang melewati sela-sela jendela kamarnya sangat mengganggu matanya sehingga mau tidak mau gadis itu membuka matanya dengan sempurna.

“Ohayou..”

Opi menoleh pada sumber suara yang ternyata ada Kei Inoo. Sepertinya pemuda itu sedang marah karena menatap Opi dengan melihat tangan di dadanya.

“Ohayou Kei..” balas Opi sambil menggeliat merenggangkan sendi-sendinya.

“Tadi malam siapa yang mengantarku?” tanya Opi saat mereka berdua ada di meja makan untuk sarapan. Kei yang membuat sarapannya.

“Ikuta-san..” jawab Kei singkat sambil melahap sarapannya.

Opi mengetuk-ngetuk dagunya dengan sendok. “Souka..sensei ya..”

“Apa yang kau lakukan dengan Ikuta-san tadi malam?” tiba-tiba Kei bertanya.

“Hmmm….” Opi berpikir. “Tidak ada. Hanya di pantai sambil mengobrol.”

“Kalau hanya begitu saja, tidak mungkin kau pulang sampai digendong olehnya..” timpal Kei. Dari nada bicaranya terdengar pemuda itu sangat kesal.

“Heee? Digendong?” Opi kaget lalu teringat sesuatu. “Mungkin karena sebelumnya aku mabuk.”

“Mabuk lagi? Kau….” Kei lalu diam dan beranjak dari kursinya.

“Mau kemana?” tanya Opi sambil menatap Kei.

“Studio…” jawab Kei singkat lalu berjalan ke arah pintu tanpa memperdulikan Opi.
—————————–

Kei menatap menerawang ke arah gelasnya. Pikirannya kacau karena hubungannya dengan Opi yang tidak kunjung membaik sejak kejadian Ikuta Toma mengantar kekasihnya itu pulang.

-flashback-

Ting Tong…
Bel apartemennya berbunyi saat Kei sedang membuat kopi karena matanya harus tetap terbuka sementara pekerjaannya belum selesai. Pemuda itu dengan cepat berlari menuju pintu dan berharap itu adalah Opi karena kekasihnya itu belum pulang.

“Yo…”

Kei memang melihat Opi tapi dia berada di atas punggung seorang laki-laki yang tak lain adalah Ikuta Toma.

“Ko-konbanwa..ano…Opi…” Kei bingung dengan situasi yang sedang dialaminya sekarang.

“Aku mengantarnya pulang. Bolehkah aku masuk?” tanya Toma.
Kei mengangguk cepat. “Douzo…”

“Oia…” Toma berbalik kembali menghadap Kei. “Kamarnya…”

“Di sebelah sana…” Kei kemudian berjalan di depan Toma untuk menunjukkan kamar.

“Aku sudah membangunkannya tapi dia tidak kunjung bangun..” ucap Toma setelah membuat Opi terbaring di tempat tidur dan dirinya duduk sejenak di ruang tengah.

“Douzo…” Kei menyodorkan segelas kopi pada Toma yang dibalas ‘arigatou’ olehnya.

“Kau sengaja belum tidur untuk menunggu Opi pulang?” tebak Toma yang terlihat dari wajah Kei kalau pemuda itu memang tidak tidur.

“Itu….”

“Atau pekerjaan?” tebak Toma lagi.

“Begitulah..” jawab Kei singkat.

“Souka..”

Tak berapa lama, Toma berpamitan pada Kei untuk pulang.

“Arigatou..sudah mengantar Opi..” ucap Kei sebelum Toma pergi.

Toma membalas dengan tersenyum. “Oia..apa akhir-akhir ini Opi selalu pulang sangat larut malam?”

Kei mengangguk. “Kenapa….”

“Ternyata benar. Sepertinya dia terlalu banyak waktu dan terlalu bebas untuk pergi sendiri. Atau mungkin dia kesepian?”

Kei tertegun dengan ucapan Toma.

“Sepertinya aku harus cepat pulang. Ja matta…”

Kei tidak segera masuk ke dalam saat Toma sudah pergi menjauhi apartemen. Dia memikirkan apa yang diucapkan oleh Toma. Benarkah?

-flashback end-
———————————————
To : Sora~
Subject : Miss You
Sora-chan~ jangan marah terus..
;~;

Yuya mengirimkan pesan tersebut karena sejak kejadian Saifu mencium pipinya, Sora sama sekali mengacuhkan dirinya. Malam itu pun ia pulang bersama Opi, tidak ingin diantar oleh Yuya.

“Sudah lama?” tanya sebuah suara membuyarkan lamunan Yuya.

“Riisa-san… tidak kok… aku baru sampai…” jawab Yuya pada Riisa.

Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah teater yang terilhat sedikit kumuh dari luar, mereka akan menonton sebuah pertunjukkan teater yang kebetulan dibintangi oleh teman Yuya.

‘Padahal aku ingin mengajak Sora,’ keluh Yuya dalam hati.

“Sepertinya sejak tadi Yuya-san melamun terus, sedang ada masalah?” tanya Riisa memperhatikan ekspresi Yuya yang terlihat kesal dan sedih.

Yuya hanya menggeleng lemah, ia tidak tahu harus bercerita dari mana, “Hanya tidak enak badan..haha..”

Keduanya duduk di ruang tunggu sebelum teater tersebut dibuka, Riisa tiba-tiba membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah tempat bekal, “Mau sushi?” tanya Riisa sambil menyerahkannya pada Yuya.

“Waw! Hahaha” Yuya mencicipi salah satu sushi itu, “Waaa! Umai!” seru Yuya tiba-tiba kegirangan dan melahap hampir seluruh sushi itu.

Masakan Sora sebenarnya tidak buruk, namun sering kali tidak begitu indah dilihat atau rasanya mungkin berbeda dari masakan biasa. Sora sendiri telah mencoba belajar memasak, namun sering kali menyerah setelah gagal.

Riisa hanya terkekeh melihat Yuya, “Nanti aku buatkan lagi…”

Yuya tiba-tiba berhenti, “Gomen… aku malah memakan semuanya..”

“Tidak apa-apa kok…” jawab Riisa sambil tersenyum.

“Senyummu bagus…” ucap Yuya sambil masih melahap sushi yang ada di kotak bekal itu, tanpa sadar membuat pipi Riisa merona merah.
—————————–

Sora menatap pesan dari Yuya dan tak berniat membalasnya. Alasannya ia masih marah dan tidak ingin berbicara dengan Yuya saat emosinya masih meluap-luap. Karena hasilnya tidak akan baik.

Suara ponselnya membuat Sora sedikit kaget, “Yamada Ryosuke” muncul di layar ponselnya.

“Halo?” angkat Sora.

“Sepertinya aku sampai di depan rumahmu… keluarlah…” ucap si pemuda cepat.

Sora membatin dalam hati, suara Yamada adalah jenis suara seorang pria yang sangat percaya diri dan mungkin baik pada semua gadis. Di kampus Sora jarang melihat Yamada karena walaupun mereka satu jurusan, sepertinya Yamada lebih sering tidak masuk atau bolos, lagipula Sora lebih sering bersama Yuya atau Opi.

Sora melambai pada seseorang dengan kaca mata hitam dan berdiri di depan mobil sport warna merah yang bahkan Sora tak ingin memikirkan harganya.

“So~ra~chan!!” sapa Yamada ceria, lalu membuka kaca matanya.

‘Pakai kacamata tampan… tanpa kacamata… ia lebih tampan…’ batin Sora dalam hati sesaat setelah melihat Yamada tersenyum padanya.

“Kita akan kemana?” tanya Sora ketika mobil sudah menjauh dari pemukiman itu. Ini sudah malam, dan Yamada bahkan menyuruhnya membawa baju ganti. Sungguh aneh menurutnya.

“Suatu tempat… biasanya sih gadis-gadis suka diajak kesana…” ucap Yamada, menyampirkan kembali kacamata hitamnya.

‘Gadis-gadis? Dasar playboy!’ gerutu Sora. Tipe cowok paling tidak ia sukai di dunia ini.

Perjalanan itu terasa cukup melelahkan, namun Sora merasa Yamada memang mudah diajak berbicara, ia juga tidak membuat Sora merasa canggung walaupun ini pertama kali mereka jalan bersama.

Mereka tiba di sebuah hutan kecil yang membuat Sora bertanya-tanya. Apa yang akan mereka lakukan di hutan seperti itu.

“Kita mau kemana?” tanya Sora bingung. Pikirannya mulai kacau, menebak-nebak apa yang akan Yamada lakukan kepadanya.

“Gak usah takut gitu… aku gak gigit kok…” jawabnya sambil terkekeh, “Kecuali diminta… hahaha..”

Mata Sora seketika terbelalak, “Apa?”

“Aku hanya bercanda..” ucapnya lalu turun dari mobil, “Ayo turun…” ucapnya membukakan pintu mobil untuk Sora.

Sora akhirnya menurut dan turun bersama Yamada. Di hadapannya ada jalan setapak berundak yang tampaknya menuju ke suatu tempat. Namun terlalu gelap walaupun di sepanjang jalan itu di beri sedikit penerangan, berupa lampu-lampu kecil di pinggirnya.

“Jalannya licin… jadi hati-hati ya… pegang saja aku kalau kau takut jatuh…”

Sora mencibir dan tak menjawab, ia pun mengikuti langkah Yamada dari belakang, namun tiba-tiba Yamada meraih tangan Sora dan menggenggamnya. Secara refleks Sora melepasakan tangan Yamada.

“Jangan pegang-pegang!” seru Sora kesal. Namun beberapa menit kemudian Sora sendiri yang menyambar tangan Yamada karena hampir tergelincir.

“Katanya jangan pegang-pegang?” cibir Yamada, namun tetap memimpin langkah Sora di jalan setapak yang memang lumayan licin itu.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah tebing yang dihadapannya terbentang pemandangan indah kota di waktu malam. Lampu berkelap kelip seakan mereka di kelilingi beribu-ribu bintang.

“Kireeiii!!” seru Sora sumringah, ia tak menyangka ada tempat seindah ini di sekitaran Tokyo.

“Kireii da ne? Sudah kubilang kau pasti suka…” ucap Yamada yang berdiri di sebelahnya.

Sora menangguk-angguk, rasa kesalnya pada si emuda menguap begitu saja ketika melihat pemandangan yang begitu indah.

“Kalau suasana begini, enaknya…” Yamada menarik tubuh Sora hingga menatapnya, dengan cepat mencuri kesempatan untuk mencium bibir si gadis.

Satu sama. Pikir Sora seketika.
————————————
TBC~ 😀
lanjut yaaaa~ke chapter 4
hehehe Jangan lupa komennya yaaa 😀
COMMENTS ARE LOVE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s