[Multichapter] Blue Moon (#1)

Blue Moon

Blue Moon
By. Veve, Hanazuki, Dinchan
Multichapter (Chapter 1)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : NC-17
Starring: Yasui Kentaro, Abe Aran (Love-Tune); Matsumura Hokuto, Kyomoto Taiga (SixTONES); Iwahashi Genki, Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Hideyoshi Sora, Hakushima Makoto, Kirie Hazuki (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Johnny’s Jr members are under Johnny’s & Associates;
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us.. ^^

Seperti malam-malam biasanya, Yasui duduk di sebuah sofa panjang, mulutnya sibuk mengepulkan asap rokoknya ke udara, sementara tangannya sibuk dengan ponselnya.

“Ohayou gozaimasu, senpai!” pandangan Yasui langsung beralih ke arah pintu masuk, seorang pemuda dengan rambut hitam masuk ke dalam.

“Hey! Ohayou, Hokuto! Baru balik?” tanya Yasui, dan si pemuda yang dipanggil Hokuto itu mengangguk, “Souka, aku baru mau berangkat, sorry tolong Aran di kamar mandi ya, dia kayaknya kebanyakan minum deh,” ucap Yasui.

“Wakatta senpai!”

Yasui mematikan abu rokoknya, membereskan jasnya lalu beranjak dari sana.

Blue Moon.

Tulisan itu terpampang jelas di sudut ruangan yang tak begitu besar ini. Yasui tidak pernah malu mengakui bahwa dirinya bekerja di tempat ini, toh dia mendapatkan bayaran besar, hidupnya mencukupi bahkan berlebihan.

Blue Moon sendiri sebenarnya sebuah bar yang berada diantara pertokoan Kabukicho (disebut sebagai ‘red district’ di Jepang karena adanya banyak bar, brothel, dsb), tapi seperti bar lain di daerah ini mereka menyediakan layanan servis lebih pada pengunjung, tentu saja termasuk layanan di ranjang.

Di bar ini Yasui bisa dibilang paling terkenal. Untuk mendapatkan layanan plus plus darinya sampai harus mengantri dan menawarkan bayaran lebih mahal, salah satu pemasukan terbanyak dari dirinya dan beberapa host plus plus lain.

“Iya, aku menuju ke sana,” ucap Yasui lalu keluar dari bar, melihat orang yang menjemputnya sudah ada di depan.

Seperti biasa Yasui lebih memilih di luar bar, atau di hotel tepatnya. Karena melayani di kamar bar kadang tidak membuatnya nyaman.

“Nyonya sudah menunggu di kamar, Yasui-san,” ucap seorang pria tegap yang membukakan pintu mobil untuknya.

“Okay, arigatou Hagiya-kun,” Yasui turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel.

Will be a long night, tak masalah asal bayarannya oke, ucap Yasui dalam hati.

***

“Hazuki, setelah aku lulus dan bekerja maukah kau tetap ada untukku dan kita menikah?” Ucap Hokuto sambil membelai rambut Hazuki di sebelahnya. Si pemilik nama tersenyum malu dan kembali menaikkan selimutnya hingga menutup semua wajahnya. Hokuto mengikuti dan memeluk tubuh polos Hazuki yang ada disebelahnya, “Suki desu,” bisiknya sungguh-sungguh.

“Jadi kau sudah tidur dengan pacarmu? Sugeeeee!!

“Jangan berisik Jess!” Hokuto menumpuk kepala Jesse dencan buku di mejanya.

“Okee karna aku kalah taruhan jadi akan ku tepati janjiku ke kamu sore ini ayo kita makan eskrim enaaak!”

Hokuto dan Jesse Lewis teman dekatnya saling tertawa. Bukan rahasia lagi bagi seisi sekolah bagaimana Jesse yang terkenal menaklukkan hati wanita itu.

Crepes eskrim ini enak yaa,” Jesse tak hentinya menjilati eskrim yang ada dicrepesnya. “Hokuto… Matsumura Hokuto?” Sadar tak ada jawaban Jesse menoleh dan mendapati Hokuto tak ada di sebelahnya.

Hazuki? Itu Hazuki aku tak salah lihat. Dengan siapa dia? Ngapain masuk ke… love hotel? Dengan wanita cantik? Hazuki dijual? Tidak mungkin! Meski hanya ada ibunya tapi Hazuki tak mungkin menjual dirinya seperti itu.

Pikiran Hokuto berlarian tak jelas. Bagaimana bisa Hazuki nya berbuat seperti itu?

Tak ada jawaban, Hazuki tak mengangkat telponnya.

“Hokuto kau baik-baik saja?” Jesse menepuk pundaknya.

“Hokutoo…”

“Hokuto….”

Tepukan dari Genki membangunkannya. Sudah jam 4 pagi dan Hokuto yang terlalu banyak minum dengan tamu semalam rupanya mabuk dan tak kuat pulang sehingga menghabiskan malam di salah satu ruang Blue Moon ini.

Number 2, Bintang dari Utara, begitu sebutannya. Hanya selisih beberapa poin dari Yasui Kentaro membuatnya cukup populer di berbagai kalangan.

“Hoku senpai baik-baik saja? Mau kuantar pulang?” Genki menyerahkan segelas air putih untuk Hokuto.

Hokuto menggeleng dan meneguk cepat air mineral yang disodorkan Genki tadi.

“Kau belum pulang Iwachan?”

Genki menggeng sambil tersenyum, “Miyachika-san ngobrol semalaman sambil sedikit mabuk jadi ya aku temani,” tambahnya.

“Hanya mabuk? Ah aku tak percaya Iwachan hanya sebatas itu,” Hokuto beranjak dan merapikan peralatannya sebelum pulang sedini ini.

***

“Minggirlah! Aku duluan!”

“Kenapa begitu? Aku yang lebih dulu disini.”

“Aku kan anak majikan, kau anak supir. Kalau kau melawan, aku akan menyuruh ayahku memecat ayahmu.”

Makoto membuka matanya, dia menghela napas dan menatap keluar jendela bis. Entah kenapa Makoto merasa perjalanannya lama sekali, padahal mereka hanya pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Makoto menoleh, dia menghela napas melihat dua temannya, Hiroko dan Sanae terkikik-kikik sendiri. “Kalian itu kenapa sih?” gumam Makoto.

Sanae menoleh, dia menunjukkan sebuah majalah kepada Makoto dan berkata, “Aku ingin mencoba kemari. Kudengar host disini tampan dan menggoda sekali.”

Makoto menunduk, dia melihat sebuah halaman majalah yang menampilkan iklan sebuah host club dengan model seorang pria mengenakan topeng ala-ala film Amerika. “Ayo, kau mencoba juga,” ajak Sanae, “ada empat host utama disana, aku mau mencoba number one!”

“Terimakasih, tapi aku masih harus membayar uang kuliahku,” jawab Makoto singkat. Sialan, jadi mereka kemari hanya untuk mencoba host? Kalau tahu begitu, Makoto memilih di apartment saja.

*Blue Moon*

Aran merapikan pakaiannya, dia menghela napas dan tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Aran berjalan menuju bar, dia duduk dan merengkuh seorang gadis kedalam pelukannya. “Maaf membuatmu lama menunggu, sayangku,” bisik Aran, “aku harus mempersiapkan diri untuk membuatmu terkesan.”

“Abe-kun, kau sangat menggoda,” ucap gadis itu, dia mendongak mengecup bibir Aran. Aran tersenyum, dia balas mengecup bibir gadis itu dengan penuh nafsu. Tak butuh waktu lama untuk menguarkan desahan di ruangan itu. Aran cukup pandai memilih ruangan yang sepi dan nyaman, jadi dia bisa menyenangkan pelanggannya.

Siapa tahu saja dengan begini dia menjadi number one di Blue Moon.

***

“Iwachan… habiskan jusnya.. ”

“Iwachan coba coklat manis ini..”

“Iwachan kue greentea ini enak looh”

Suara 3 gadis itu bergantian menjejali Iwahashi Genki dengan berbagai makanan manis. Selain memang wajahnya yang manis, Genki yang biasa dipanggil Iwachan tak kalah saing. Pria wajah cantik ini banyak memikat gadis muda yang baru memiliki uang ataupun pria hidung belang yang kadang mengiranya sebagai wanita

“Iwachan… boleh aku peluk yaa?”Jurina tiba tiba memeluk pria mungil disebelahnya itu

“Hei hei curang… Lisa juga mau peluk Iwachan,” gadis berkuncir dua bernama Lisa tak mau kalah dan tiba tiba

Cuuup

“Aku yang menang hehe,” ucap gadis terakhir

“Haha sudah sudah jangan berantem gitu, nanti kecantikanku yang luntur looh,” Genki menengahi dan mengecup pipi gadis-gadis itu bergantian, “Sudah yaaaa gak boleh berantem lagiii!” seru Genki.

“Hoi hoi awas..waktu kalian habis sekarang sudah waktuku dengan dia,” seorang Pria berbadan cukupberisi muncul.

“Kishi kun, masih 10 menit lagi. Tunggulahsebentar yaa,” Genki melempar senyum dan kedipan dari salah satu matanya.

“Aaah..Kishi kun kita bertemu lagi, mau main dulu sambil menunggu Iwachan?” ucap Lisa

“Nggak..aku duduk aja liat kalian sebelum Iwachan kubersihkan dari debu kalian,” Kishi menyilangkan tangannya di depan dada, menegak orange jus asal yang ada di meja.

“Yak hap hap hap waktu kalian habis gadis gadis cantik. Sampai jumpa lain waktu..” Genki berdiri merapikan rambut dan atasan 3 gadis di depannya itu.

Kishi tersenyum puas, menarik Genki yang bahkan belum selesai berpamitan ke ruangan pesanannya.

***

Sora menguap entah berapa kali pagi ini, dia mengacak rambutnya, mencoba fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.

“Tidur di apartemen sana!”

Duk.

Sebungkus roti coklat jatuh dihadapannya, pandangan Sora langsung beralih pada sumber suara, “galak amat sih, pantesan gak laku!” seru pria itu ketika melihat bagaimana Sora menatapnya, Sora tak menggubrisnya.

Toko 24 jam memang sering menjadi tempat Sora makan pagi setelah pekerjaan yg cukup melelahkan semalam. Sebagai hostess Sora harus selalu minum minuman beralkohol dan terjaga semalaman sampai bar tutup sekitar pukul lima, lalu Sora segera pulang ke apartemen tapi terkadang ia mampir untuk makan pagi di Toko 24 jam.

“Banyak pelanggan lagi semalam?” tanya Yasui yang kini duduk disebelahnya sedang menunggu ramen cup nya matang, sama seperti dirinya.

“Lumayan, tip semalam bisa buat makan seminggu,” jawab Sora.

“Hoooo, sugoi! laku juga ternyata,” dan sebagai tambahan Yasui tertawa, membuat Sora gusar.

“Eh aku itu cuma hostess! beda sama kamu, Ken!” bohong sih, tapi Sora enggan mengakui kalau dia juga bisa dipanggil untuk layanan ranjang.

Pertemuannya dengan Yasui Kentaro ini berlangsung lima bulan lalu ketika ia pindah ke apartemen baru. Awalnya mereka sekedar berkenalan, tapi di siang hari ketika keduanya sudah sadar dari tidur mereka, terkadang Yasui dan Sora mengobrol hal-hal remeh di balkon apartemen mereka yang bersebelahan itu. Sora juga sering bertemu Yasui di pagi buta begini di Toko 24 jam dekat apartemen mereka. Yasui berbeda dengan dirinya, ia bahkan menceritakan dengan bangga kalau dia dibayar untuk menemani orang di ranjang dan mendapatkan bayaran yang cukup fantastis setiap malamnya. Mungkin karena itu juga Sora enggan mengaku kalau dirinya punya profesi yang hampir sama dengan Yasui.

“Adikmu baik-baik saja? katanya kemarin sakit?” tanya Yasui, membawa Sora kembali dari lamunannya.

“Sudah baikan, jadi katanya aku tidak perlu khawatir,” jawab Sora.

Souka,” Yasui membuka cup ramennya dan mulai makan, “Oishiii!!

“Uangmu banyak kenapa makan mie cup?” Sora juga sudah mulai makan mie cup nya.

“Ini kebahagiaan sederhanaku jika bisa makan ramen di pagi buta begini,” jelas Yasui.

Sora terkekeh, ada ada saja kelakuan Yasui ini, padahal wajah Yasui tidak terlihat seperti seorang host, setelah mengenal Yasui menurutnya banyak sisi kekanakan Yasui dan ini membuat Sora penasaran kenapa Yasui bisa terjun ke dunia seperti ini?

“Jangan liatin aku terus nanti naksir loh!” kata Yasui membuat Sora sadar kalau sejak tadi dia sedang memerhatikan Yasui dengan seksama.

Sora mengalihkan pandangannya, memutar bola matanya dengan kesal, “Host terkenal kayak kamu tapi kok baka banget ya… aku lagi mikir gitu!” balas Sora.

Yasui tertawa, “Kalau mau aku layani juga bilang aja, tapi bayar sesuai tarif ya!” sukses membuat Sora memukul keras kepala Yasui yang malah terkekeh keras melihat ekspresi Sora yang kesal.

***

Aran diam menatap pantulan wajahnya di cermin. Berbeda dengan semalam yang penuh tawa, kali ini Aran memasang ekspresi wajah serius. Tidak ada senyum atau tatapan menggoda, hanya wajah yang menunjukkan bahwa sekarang dia sedang serius. Aran memejamkan mata, dia terdiam cukup lama. Napasnya teratur, seakan dia sedang bermeditasi.

“Abe!”

Aran tersentak kaget, dia menoleh panik kearah pintu kamarnya. Aran menghela napas panjang, dia memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap cermin dengan sendu. “Aku tidak melakukan apapun,” gumamnya, “bukan aku.”

“Abe.”

Aran kembali menoleh, dia menghela napas melihat Myuto,manajer bar berdiri di dekat pintu kamarnya. “Melamun lagi,” ucap Myuto, dia berjalan pelan dan menepuk kepala Aran yang terdiam, “apa ada yang mengganggumu?”

Aran menggeleng pelan, dia beranjak dan berkata, “Aku akan membersihkan bar,” Aran tersenyum, dia segera berjalan meninggalkan Myuto yang terdiam menatapnya.

Aran berjalan menuju bar, dia berhenti kala melihat fotonya begitu besar terpampang di hall utama. Aran memang termasuk dalam Top 4 di bar Blue Moon, peringkat keempat. Peringkat pertama diduduki Yasui, disusul Hokuto, Genki, dan dirinya. Namun, diantara semuanya, hanya Aran yang tinggal di bar. Penghasilannya cukup banyak, tapi dia tidak menyewa flat sendiri. Dia memilih tinggal di bar, baginya bar adalah rumah untuknya. Aran berjalan keluar sambil menenteng kantung sampah, dia berjalan ke samping bar dan membuang sampah.

Bruk!

“Aduh!”

Aran terkejut, dia menoleh dan melihat seorang gadis di dekatnya. “Maaf, aku tidak sengaja,” ucap gadis itu, dia membungkuk dan buru-buru menyingkir. Aran diam menatap gadis itu, dia mengendikkan bahunya dan berjalan kembali ke dalam bar.

Makoto berhenti, dia berbalik menatap seorang pemuda yang berjalan masuk bar. Makoto mendongak, membaca nama bar itu.

“Dewa, ada berapa banyak orang bernama Abe Aran di dunia ini?”

***

Pintu bar terbuka, dengan cepat pelayan bar berjejer menyambut kedatangan pria jangkung bertubuh putih pucat itu.Sosoknya yang anggun keluar dari mobil dan membuat pengunjung bar tak habisnya terpana, para wanita sejenak berpaling dari host tampan yang sedang menemani mereka. pengunjung pria tak mau kalah, mereka juga terpana pada keindahan aura yang dipancarkan pria tersebut.

“Selamat malam Taiga-sama, selamat datang kembali di Blue Moon”, ucap salah satu pegawai sambil menundukkan badannya. Kyomoto Taiga, anak tunggal dari pemilik bar, baru saja menyelesaikan proyek drama panggung musikal yang mana menuntutnya keliling dunia selama 3 bulan.

Taiga yang mulai mendengar kerumunan orang membicarakan dirinya tersenyum, menjentikkan jemarinya, “Panggilkan big 4 sekarang juga,” Taiga tersenyum.

“Tapi Taiga-sama, mereka sedang ada pelanggan masing-masing,” ucap pelayan tadi. Taiga mendekatt,tersenyum, menyilakkan debu yang ada di pundak pelayan tadi.

“Hirano Sho. Terimakasih atas kerja kerasmu di Blue Moon selama ini, dan mulai besok kau sudah tidak perlu bekerja disini”, sambil melepas pin nama yang terpampang pada pelayan tadi. Seketika tubuh pelayan itu lemas dan jatuh ke tanah.

“Taiga sama, selamat malam. Kudengar anda memanggil big 4, jadi kubawakan mereka,” ucap Myuto, sambil menunduk ke arah Taiga yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Taiga.

Keempatnya datang dan membungkukkan badan sekilas kepada Taiga lalu keempatnya duduk di sofa panjang yang berada di hadapan Taiga.

“Yasui san, lain kali resletingnya dirapikan dulu yaa..awas peringkatmu bisa turun kalau ketahuan pelanggan lain kau memamerkan bagian tubuhmu itu,” Taiga menepuk pundak Yasui yang memerah wajahnya.

“Maafkan saya Taiga-sama,” ucap Yasui kemudian.

“Aran makin tampan yaa? sayang sekali ketampananmu belum bisa mengalahkan Yasui”, Aran nyengir mendengar pernyataan menohok Taiga itu.

“Iwachaan…” Taiga menyentuhkan jarinya di bibir Genki, memasukkannya lagi ke mulutnya. “emmm strawberry…merk lipbalm ternama dari Italia,” Genki tersenyum mendengar ucapan Taiga.

“Matsumura Hokuto…” Taiga mencari sesuatu dari kantong celannya, melemparkan pada Hokuto, “pakai ini lalu ikut aku,” tambahnya.

“Myuto kun, ku bawa Hokuto malam ini dan jangan tangan kapan akan kembali,” Myuto mengangguk diikuti pegawai lainnya.

Taiga keluar bar, diikuti Hokuto dibelakangnya memasuki mobil sedan hitam membelah malam hari yang mulai dingin itu.

***

Genki kembali ke tempatnya, dia duduk di sebelah Kishi yang langsung merangkulnya dan menciumi rambut halusnya, “Taiga-Sama selalu saja memilih Hokkun untuk diajak jalan-jalan,” gerutu Genki, bibirnya mengerucut menggoda siapapun untuk menciumnya. Kishi terkekeh, dia mencium pipi Genki dan berucap, “Aku bisa mengajakmu jalan-jalan.”

“Tapi kalau bersama Taiga-Sama, pasti akan diajak makan enak dan pergi ke tempat mewaaaaah,” Genki merengek. Kishi benar-benar gemas dengan Genki, meskipun di satu sisi Genki sangat menggoda dan liar, kalau seperti ini dia sangat anak-anak.

“Baiklah, baiklah,” ucap Kishi merayu, “bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Ayo, kuajak kau jalan-jalan.”

Genki diam sejenak sambil melirik Kishi, dia tersenyum dan lantas mendorong Kishi sembari mengecup bibir pemuda itu. “Kalau kau tidak membuatku terkesan, aku akan membuatmu menyesal,” bisik Genki.

Kishi tersenyum, dia meraih Genki dan menghirup aroma leher pemuda itu dan lantas berbisik pula, “Aku akan membuatmu sangat terkesan.”

Genki terkekeh, dia dan Kishi segera keluar bar. Tak perlu berpamitan dengan Myuto, toh dia pasti tidak akan mempermasalahkan. Genki dan Kishi berjalan-jalan, mereka memasuki butik dan beberapa toko yang ditunjuk Genki. Dan tentu saja mereka keluar dengan membawa belanjaan.

“Aku haus, ayo kita mampir ke swalayan,” ucap Genki.

Kishi menurut saja. Untung dia punya banyak uang, jadi melayani Genki bukan masalah besar untuknya. Keduanya masuk ke sebuah swalayan. Genki mengambil dua buah limun, dia meletakkannya di meja kasir. “Selamat sore,” sapa petugas kasir ramah.

Genki mengangguk singkat, matanya sekilas memperhatikan penampilan pemuda itu. Jangkung, wajahnya cukup tampan, mungkin kalau dia bekerja di bar dia akan menjadi populer. Petugas kasir itu menatap Genki, dia tersenyum dan berkata, “Aku tahu aku tampan, Nona. Kau juga sangat cantik.”

Eh.

Genki refleks meninju wajah pemuda itu kesal. “Aku laki-laki, dasar idiot!” sentak Genki, dia cepat-cepat membayar minumannya dan berjalan keluar, “KISHI, AKU TIDAK MAU KEMARI LAGI!” teriak Genki.

“Kenapa? Bukannya kau memang cantik seperti perempuan?”

“KISHI!”

Jinguji mengerang pelan, masih terasa nyeri akibat pukulan orang itu. Dia menatap keluar swalayan, senyuman tergambar di wajahnya melihat orang itu sibuk mengomel.

“Seperti anak perempuan saja.”

***

Sudah sejak lama Yasui tau kalau Taiga menaruh perhatian lebih pada Hokuto. Sejak Hokuto masuk ke Blue Moon, posisi Yasui yang biasanya menemani Taiga disaat waktu luangnya tergantikan oleh sosok Hokuto. Yasui sih tidak merasa keberatan, toh dia masih tetap nomor satu di tempat ini dan bayaran dari pelanggannya yang lain juga lebih fantastis nominalnya.

“Yasui-san, sekretaris Yamamoto-san menelepon lagi, katanya dia mengganti tempat pertemuannya,” Myuto mendekatinya sambil memberikan secarik kertas kepada Yasui, “Supirnya dan sekretarisnya akan segera menjemput anda,” tambahnya.

Wakatta, arigatou Myuto!” Yasui beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari bar, “Heh ngapain bengong depan kaca?” seru Yasui ketika melihat Aran berdiri di depan kaca, seperti ada yang dipikirkan.

“Yasui-senpai,” Aran terlihat berpikir lalu berbalik menatap Yasui, “Apakah Yasui senpai pernah berpikir untuk keluar dari bisnis ini?”

“Uhmmm…” Yasui berpikir sejenak, “Cepat atau lambat kita harus keluar kan. Maksudku kita tidak akan muda selamanya, tapi entahlah aku tidak mau memikirkannya terlalu jauh, bisa juga aku terjebak di dunia ini terus menerus,” ucapnya enteng, jujur saja Yasui sempat berpikir apa yang bisa ia lakukan ketika cap nomor satu itu tidak lagi melekat padanya, apakah ada tempat lain yang akan menerimanya? “Kenapa Aran? jangan banyak melamun!”

Aran hanya mengangguk dan tidak merespon ucapan Yasui.

“Yasui-san, anda sudah ditunggu di depan,” ucap Myuto mengingatkan.

“Jangan melamun terus!” Yasui terkekeh lalu meninggalkan Aran, ia melihat Hagiya di depan sedang menunggunya.

Yamamoto Yuka ini memang salah satu pelanggannya yang paling sering menggunakan jasanya. Sepertinya sudah hampir tiga tahun ia sering menemani wanita paruh baya itu. Yuka sendiri adalah seorang CEO sebuah perusahaan besar yang memilih untuk tidak menikah, setiap minggu bisa sekali atau dua kali Yasui menemaninya. Untuk Yuka ini ideal, dia tidak perlu terlibat secara emosional dengan Yasui dan mendapatkan teman untuk menemani malam-malamnya yang kesepian.

Tak sampai setengah jam mobil sedan hitam itu menepi di sebuah hotel. Yasui turun setelah Hagiya membukakan pintu untuknya, mengatakan kalau Yuka menunggunya di restoran hotel.

Matanya memindai ke sekeliling restoran ketika  ia sampai di sana, tidak terlihat Yuka di sana, tapi matanya malah menangkap sosok lain.

“Sora?”  Gadis itu terlihat menunggu seseorang dan wajahnya ditekuk, terlihat sedih malahan. Karena belum menemukan Yuka, Yasui pun mendekati Sora, “Hey!”

“Astaga! Ken!! kukira siapa!!” Sora memegangi dadanya, tampak kaget melihat Yasui di sana.

“Ngapain di sini?” dan sebelum Sora sempat menjawab gadis itu malah berdiri, pandangannya menuju ke arah belakang kepala Yasui, membuat pria itu ikut menoleh.

“Maaf aku tadi ada urusan sebentar,” ucap seorang pria paruh baya dengan jas kantoran, dan ketika Yasui menoleh Sora tersenyum ke arah pria itu, “Temanmu?” tanya pria itu.

“Iya Suzuki-san! Ini… temanku…”

“Yasui Kentaro desu,” seakan Yasui perlu mengenalkan dirinya.

“Suzuki Ryo desu.”

“Gomen Ken, aku harus pergi sekarang!” Sora lalu menarik tangan pria itu, “Kita ngobrol nanti!”

Yasui mengerenyitkan dahinya. Bukannya Sora harusnya sekarang sedang kerja? kenapa dia ada di hotel? belum sempat ia berpikir jauh, suara Yuka memanggilnya, Yasui segera menatap ke sumber suara.

“Yuka-sama,” ucapnya sambil tersenyum.

***

“Hei Hokke…” Taiga menyandarkan kepalanya pada pundak Hokuto menarik tangan Hokuto ke kepalanya sebagai kode agar Hokuto mengelus kepalanya seperti anak kecil.

“Kalau mantan pacar Hokke tiba tiba muncul dengan pacar wanitanya apa yang akan Hokke lakukan?”

Hokke, panggilan yang sengaja Taiga berikan pada Hokuto saat mereka sedang berduaan. Nama itu diberikan sejak Taiga ‘memungut’ dan membawa hokuto menjadi salah satu bagian Blue Moon beberapa tahun silam.

Hokuto yang lari dari Sapporo ke Tokyo hanya bermodal tas ransel kumuh dan beberapa pakaian di dalamnya mengaku mencari cara apapun agar bisa melupakan mantan pacarnya yang ternyata adalah lesbian.

Taiga merasa iba, membawanya masuk ke dalam bar, memberi makan minum dan mengajaknya berkeliling, mengajarinya semua hal tentang blue moon hingga menjadikan Hokuto nomor 2 terbaik disana. Taiga sengaja membuat Hokuto hanya ada di nomor 2 karena dengan begitu ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan temuannya itu saat kembali ke Jepang.

“Kalau Hazuki tiba tiba muncul, aku akan menarik Taiga sama ke arahnya, mencium Taiga sama di depannya dan memaksanya melakukan hal yang sama dengan pacar perempuannya di depanku”, jawab Hokuto, tidak tau sebenarnya apakah dia akan benar-benar melakukannya jika Hazuki tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kau tau Hokke, aku cukup senang dengan jawabanmu, tapi sepertinya akan lebih menyenangkan kalau aku melihatmu tiba tiba menciumnya di depan kami, dan setelah itu aku akan menghukummu sampai kau tak bisa berteriak semalaman lagi,” Hokuto hanya tersenyum miris, dibalik wajah Kyomoto Taiga yang terlihat polos ini banyak yang tertipu.

“Apa saja akan ku lakukan bagi Taiga-sama,” ucap Hokuto masih mengelus rambut Taiga yang kini sedang kembali berwarna hitam.

Taiga tersenyum, menarik kalung hitam dengan motif lonceng yang tadi diberikan, menciumi bibir Hokuto dengan penuh nafsu, menggigit pelan bibir tebal Hokuto atas bawah. Hokuto selalu menikmati ciuman dari Taiga. Kasar dan seringkali meninggalkan bekas itu, “Kita akan mainkan permainan baru malam ini”, bisik Taiga disusul gigitan kecil di telinga Hokuto yang membuat pemiliknya menggeram pelan.

Hokuto mengikuti Taiga dibelakangnya. Rumah Taiga memang besar dan ia tinggal sendiri disana. Pelayan? Mungkin disetiap sidit ruang kau akan menemukan satu, kecuali di lantai 2 dimana itu area pribadi Taiga yang tak seorangpun boleh menyentuhnya.

“Hokke, kau harus mencoba mainan baru yang kubawa dari Belanda kemarin,” Taiga menarik tangan Hokuto agar jalan mereka lebih cepat.

Kamar kedua dari ujung. Hokuto belum pernah masuk sini sebelumnya karena biasanya ia hanya menemani Taiga sampai di kamar pribadinya. Hokuto sempat berhenti di depan pintu saat melihat ruangan di depannya. Gelap dan…sedikit menakutkan bagi Hokuto.

“Apa kau takut Hokke? Tenanglah ini tak akan sakit kok,” Taiga berayun manja ke tubuh Hokuto, menarik pelan kalung yang diikatkan ke lehernya. Tatapan matanya sudah menyaratkan siap menikmati tubuh dan sentuhan panas pria di hadapannya itu.

“Apa kau yakin Taiga-sama?”

“Berapa kali harus ku katakan cukup panggil  aku Taiga saat kita berdua,” Taiga marah. Menggigit kasar bibir Hokuto. Ada sentuhan rasa darah dihisapnya.

Taiga menarik Hokuto ke ranjang besar dengan balutan sprey berbulu warna pink muda. Menjatuhkan Hokuto dan menaikinya, “kita akan bersenang senang malam ini,” bisiknya.

Hokuto tak mau kalah, ia membalik tubuh majikannya itu hingga ada dibawahnya. Menjilati wajahnya uang lembut dengan penuh nafsu. Tapi Taiga tak mudah menyerah, memaksa Hokuto kembali pada posisi awal.

“Sudah kubilang aku yang akan memuaskanmu malam ini Hokke,” Taiga tersenyum, menarik tangan Hokuto satu persatu, mengikat pelan dengar borgol berbulu lembut yang sudah dipasangkan ke ujung kasur.

“Taiga sa…..”

“Panggil aku Taiga”

***

To Be Continue~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Blue Moon (#1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s