[Oneshot] Watashi

Title              : Watashi

Genre                   : Romance

Ratting                  : PG

Author                  : Lisa Wulan Novianti

Cast                       : Nakayama Yuma(NYC) , Kouchi Yugo (Jjr)

Warning : Fanfiction ini spesial untuk ultahnya Yugo, maaf kalo fail abis, soalnya lagi buntu ide juga, jadi maaf banget kalo bener-bener fail. BTW, please comment after read this fanfiction, sebab Fanfiction ini jauh dari kata sempurna, dimohon untuk comment dan memberikan saran *kebanyakan omongnya*


Watashi


Aku menghela darah yang keluar dari hidungku. Sering kali akan seperti ini saat aku merasa diriku benar-benar lemah. Ku mengelapnya dengan beberapa lembar tissue yang tak pernah jauh dari pengelihatanku. Beginilah hidupku, berteman dengan sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan untukku. Darinya aku belajar banyak tentang kehidupan, aku juga seringkali merasa kalau aku menjadi anak yang paling beruntung karena ternyata Tuhan sangat  memperhatikanku sehingga aku diberi kehidupan seperti ini.

Aku sekolah di suatu SMU ternama di Tokyo. Hmm, mungkin sangat ternama di Tokyo atau mungkin sangat ternama di Jepang dan terkenal disekulurh dunia, Horikoshi gakuen. Satu-satunya alasan aku bersekolah disana adalah agar aku bisa dekat dengan para ikemen yang tersebar di Johnnys Ent. Aku sangat menyukai mereka, bisa dibilang aku ini fanatic pada mereka. Banyak diantara mereka yang bersekolah disana, dan masuk dikelas khusus artis atau biasa ditempatkan dikelas D. begitu juga denganku, aku masuk di kelas D walau aku bukan artis tapi Otousan mempunyai cukup uang untuk membayar bayaran sekolah yang mahal itu.

“Ohayougozaimasu” Aku menyapa teman-teman baruku yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruang kelas. Kami baru saja melaksanakan upacara penerimaan murid baru. Teman sekelasku cukup banyak yang artis, dua diantaranya adalah ichibanku, Nakayama Yuma dan Kouchi Yugo.

Hari ini hari pertama masuk sekolah, aku merasa tenang walau Okaasan atau Otoosan sama sekali tidak menemaniku, aku seringkali melihat acara mereka, sepertinya mereka baik. Jadi aku merasa tidak kahawatir.

“Ohayou” Jawab seorang gadis dari posisi yang tak jauh dari tempatku. Aku menghadap kearahnya dan tersenyum.

“Sakura desu. Yoroshiku” Tanya gadis itu, Namanya Sakura. Dia sangat manis menurutku.

“Yanagi Riisa desu. Yoroshiku mo” Jawabku. Kami duduk bersebelahan. Rasanya menyenangkan sekali.

“Yanagi-san, daijoubu ka? Kau terlihat pucat” Ucap Sakura, dia terlihat panik. Sebenarnya aku merasa kalau keadaanku sedang buruk, tapi aku tak mau dia tau yang sebenarnya.

“Daijobu. Aa. Gomen. Aku mau melanjutkan bacaanku, kita lanjut nanti ya Sakura-san. Anou, arigatou na” aku mengalihkan pembicaraan dan langsung menyambar komik yang ku bawa dari rumah, sengaja untuk bacaan ku kalau-kalau aku tak mendapatkan teman disekolah.

Aku melihat sekeliling kelas, beberapa orang sedang berbincang-bincang dengan asik. Termasuk Yuma dan Yugo. Mereka sedang asik berdua dibangku belakang ujung, tanpa sadar aku terus memperhatikan mereka.

“Hidungmu berdarah” Yuma mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya padaku. Aku sama sekali tidak sadar kalau dia itu sudah berada tepat dihadapanku.

Aku mengelap hidungku yang berdarah, lagi. Aku benci hal ini. Kenapa harus disekolah.

“Arigatou, Nakayama-kun” ucapku dan memberikan kembali saputangannya.

“eh? Simpan saja, anou. Kau tau namaku?” Tanyanya dengan lembut dan senyum yang benar terlihat tulus.

“Arigatou. Siapa yang tak kenal dengan artis sepertimu Nakayama-kun” Aku tak dapat membayangkan sebelumnya, kalau akan ada percakapan yang benar-benar membuatku seperti emlayang ke langit ke-7.

“Eh? Kau ini bisa saja. Hmm, yasudah aku tinggal ya. Jaga dirimu” Yuma pergi berjalan menuju bangkunya. Dan tak lama sensei datang untuk memberikan kami pengarahan.

====================================================================================

Kemarin benar-benar berjalan dengan sangat menyenangkan. Kehidupan sekolahku lebih baik dari pada di SMP dulu, semua teman-temanku sangat baik walau sesekali mereka terlihat sibuk sendiri dengan banyak telepon disaat istirahat. Teman sekolahku memang banyak yang artis. Seperti yang ku lihat dibanyak acara di tv kalau mereka memang baik. Dan aku tau Yuma juga akan baik seperti di tv. Aku pasti akan menyukai hari-hariku bersekolah dHorikoshi.

“Eh, Rii-chan. Ini milikmu ya?” Kouchi Yugo, dia menghampiri ku dan memanggil nama ku seenaknya. Lalu menyerahkan notes kecil berwarna kuning dengan gambar anime Hai Miiko didepannya.

“Un. Ini milikku, Yugo-kun kenapa kau memanggil ku Rii-chan?” Tanyaku bingung.

“Ah. Nama mu itu terlalu panjang. Aku lebih suka dengan panggilan Rii-chan. Nande yo?” Dengan enteng dia berbicara seperti itu, tak seperti yang sering ku lihat di Tv, dia berbeda, Yugo terlihat lebih santai dan seenaknya.

“Shikasi…”

Aku tak melanjukan kata-kata ku karena dia sudah membalikan badan dan meninggalkan ku, biasanya saat aku melihat dia di sebuah acara dia terlihat sangat konyol dan juga baik. Seperti sosok yang sangat menyenangkan begitu, tapi kenapa Yugo yang kulihat sekarang seperti ini?

=====================================================================================

Aku duduk terdiam dibangku ku, lalu ku tatap langit dari sisi jendela, langit terlihat sangat indah dari bangku ku. sudah enam bulan aku bersekolah disini, dan perlahan semuanya berubah, banyak dari mereka jarang sekali masuk kelas. Mereka selalu banyak pekerjaan, dan itu semua selalu dimaklumi oleh pihak sekolah.

Hari ini ada pelajaran olahraga, sejak dua hari lalu aku tidak melihat Yuma masuk sekolah. Sepertinya dia banyak pekerjaan, tapi aku tidak tau ada pekerjaan apa. aku jadi sedikit menghawatirkan ichibanku itu.

Tak lama Akanishi sensei membunyikan peluit dan semua anak-anak kelas 1D berkumpul menghampiri lapangan, bersiap untuk olahraga.

Kami semua berkumpul dan membentuk barisan. Lalu melaksanakan perintah Akanishi sensei, kami melakukan lari estapet sepanjang lapangan sekolah. Menurutku ini sangat melelahkan karena harus berlari sangat jauh. Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.

“Yossshhh. Yatta” Aku melirik kearah Yugo yang sudah basah dengan peluh hampir diseluruh keningnya. Setelah lari estapet kami dapat waktu senggang sekitar 30 menit, tapi hal itu dimanfaatkan oleh beberapa anak untuk bermain sepak bola, begitu juga dengan Yugo. Dan yang ku tau juga Yugo memang menyukai sepak bola.

Kakkoi. Aku berdecak dalam hati. Ah, hampir saja aku lupa saat ini aku sedang menjadi teman sekelasnya, bukan menjadi fansnya. Walau sebenarnya aku ingin berteriak kalau aku menyukai Yugo sebagai idola ku.

Aku tersenyum sendiri melihatnya. Sampai aku merasakan kalau hidungku berdarah, sebenarnya aku bingung, apa mungkin penyakitku kambuh disaat seperti ini atau aku hanya sangat kagum pada Yugo hingga aku mimisan seperti ini.

“Sensei. Yanagi-san berdarah” Sakura menghampiriku. Aku hanya diam menatapnya. Perlahan tubuhku terasa lunglai. Dan pandanganku semakin kabur. Aku tak dapat merasakan apa-apa lagi.

=====================================================================================

“Kau kenapa sih?” Tanya Yugo tiba-tiba. Aku melihat dia saat mataku benar-benar terbuka.

Aku melihat sekeliling ruangan, sepertinya aku sedang ada diruang kesehatan sekolah. Ruangan ini bagus sekali terlihat seperti aku sedang ada dirumah sakit, keren sekali.

“Hey, kau mendengarku? Kau ini sebenarnya kenapa?” Tanyanya lagi.

Aku masih terdiam tak menjawabnya. Aku bingung harus menjawab seperti apa? kini aku berhadapan dengan salah satu ichibanku, dia juga sangat aku suka dideretan anak JE.

“Daijobu” Ucapku singkat. “Permisi, kau boleh membiarkan aku kembali kekelas?” Tanyaku.

Yugo tak menjawab dia hanya meninggalkanku. Aku tak memperdulikannya, dengan tenaga yang kumiliki, aku mencoba untuk kembali kekelas.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan, sepertinya Yugo membenciku. Aku tak mengerti apa yang ada dipikirannya.

“Yo. Riisa-san. Kau terlihat manis hari ini” Ucap Yuma yang aku juga tidak tau dari mana datangnya. Dia datang begitu tida-tiba. Sepertinya dia datang begitu selesai menyelesaikan tugasnya sebagai Idol.

“Eh? Wajah pucat seperti itu kau bilang manis?” Kau berbohong Yuma-chan” Ucap Yugo dengan enteng. Dia mengatakan itu dihadapanku.

“Hmm, iya sih. Kau memang sedikit pucat. Tapi kau tetap terlihat manis, deshou Yugo? Anou, daijoubu ka Riisa-san?”

Aku mengangguk dan menatap sinis pada Yugo. Entah mengapa aku menjadi sangat bingung. Aku semakin menyukai Yuma, dia benar-benar memiliki jiwa seorang idol. Terlebih dia baik dengan semua orang apa lagi denganku.

=====================================================================================

#YUGO POV#

Buuuuugggghhhtttt

Aku mendapatkan sebuah tinjuan dari tangannya, tangan seorang Nakayama Yuma. Bisa ku bilang dia adalah seorang yang ku anggap sahabatku, karena kami sangat dekat di JE.

“Nande yo?” Tanyaku santai. Aku tau pasti ada maksud dari semua ini. Sebelumnya Yuma tak pernah melakukan ini padaku. Dia sangat baik padaku.

“Kau menyukainya kan? Kenapa kau lakukan itu?” tanya Yuma.

Aku tak mengerti maksud pertanyaannya, aku benar-benar dibuat bingung olehnya.

“Menyukai apa? melakukan apa?”

Buuuggghhttttt

Lagi, kini dia meninju ku lagi. Aku tak ingin membalasnya. Dia meraih kerah bajuku dan menyudutkan ku ketembok.

“Riisa-san. Kau menyukainya kan? Kenapa kau tutupi perasaanmu hah?” Ucapnya dengan lantang.

Aku terdiam, mungkin waktu yang ku lewati bersamanya terlalu banyak, sampai dia dapat menebak semua isi hatiku.

“Kalau kau suka, katakan saja. Tidak dengan cara seperti itu” Lanjutnya lagi.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?” Aku menanyakan kenapa Yuma memukulku dan sepertinya dia sangat kesal karena aku selalu menutupi perasaanku pada Riisa.

Memang sejak lama aku menyukainya, gadis itu selalu terlihat polos dan apa adanya. Dia pendiam dan aku sering sekali melihat dia menyendiri. Aku sangat tertarik padanya. Tapi ada satu hal yang sebenarnya aku tau, saat membaca notes kecilnya aku melihat kalau aku membaca sebuah tulisan ‘Nakayama-kun, kimi ga suki’ aku tau dia menyukai Yuma.  Oleh sebab itu aku mencoba untuk membencinya. Tapi semakin aku mencoba untuk membencinya aku semakin menyukainya.

AKu tak pernah berpikir akan serumit ini, tapi ini kenyataan yang kuhadapi. Aku menyukai Riisa sekarang, bahkan sangat menyukainya.

“Kore. Kau harus membacanya” Yuma menyodorkan sebuah berkas. Berkas penerimaan murid baru. Dengan nama file ‘Yanagi Riisa’

Aku membacanya pelahan. “Kanker Darah?” Aku terbelalak melihat tulisan yang diwarnai dengan tinta merah itu, terdengar begitu menyeramkan bagiku.

“Sekarang kau mengerti? Aku melakukan ini karena aku tidak ingin membuatnya kecewa. Dan kau tau, dia itu sangat membutuhkan seseorang yang bisa dia anggap sebagai teman yang sebenarnya. Kalau kau menyukainya cepat katakan”.

Aku tersenyum simpul padanya. Yuma tak mengerti yang sebenarnya. Yang sebenarnya hanyalah sebuah perhatian darimu Yuma, bukan dariku. Apalah arinya diriku jika yang diinginkannya adalah kau?

Aku mendorong Yuma sehingga dia sedikit menjauh dariku. Lalu aku berjalan santai kembali menuju kelas.

“Kanker Darah?” Aku membatin dan mencoba mencari tau soal itu dari internet.

Kanker darah bisa dihentikan dengan cara transplatasi darah dengan sejenis. Transplasai bisa dilakukan saat seseorang penderitanya sudah sangat siap untuk menerima darah baru dari sang pentransfer. Biasanaya dokter melakukannya saat sang penderita mengalami gangguan yang sudah sangat parah.

Aku tak banyak paham tentang penyakit itu, tapi yang jelas sekarang aku tau kenapa Riisa selalu terlihat pucat, tapi dia selalu menutupinya. Dia selalu berkata kalau dirinya baik-baik saja.

Yuma tersenyum kearah Riisa, dan sesaat setelah itu Yuma sudah ada dibangku dekat Riisa duduk. Aku melihat mereka tertawa bersama. Dan saat itu juga hatiku menjadi sangat panas. Aku tak tau kenapa ini terjadi, tapi aku rasa aku cemburu.

=====================================================================================

#RIISA POV#

“Tanaka Sensei. Kau tidak mengatakan yang sebenarnya kan? Uso da ne?” Aku tersenyum kesal pada Dokter pribadiku, Tanaka Sensei. Dia yang sedari dulu merawatku.

“Gomen nasai Riisa-san. Kita memang harus melakukan itu. Kalau tidak kau akan…” Tanaka Sensei mengantungkan kalimatnya.

“Chigau. Daijoubu desu. Kau juga tau kan kalau keluarga ku itu”

“Wakarimasu Riisa-san. Aku akan berusaha untuk mendapatkan pendonor sesegera mungkin”

Aku meletakan berkas yang ku pegang, diberkas itu aku melihat beberapa kertas yang menyatakan kalau dalam kurung waktu dekat aku harus melakukan transplatasi darah. Aku tak tau harus mendapatkan darah dari mana. Golongan darahku itu jarang dimiliki oleh orang lain. Hanya Otousan yang cocok. Dan tentunya Otousan tidak mungkin bisa memberikanku hal itu. Dia sedang jauh bekerja. Lagi pula sepertinya dia tidak akan memperdulikanku. Otousan itu sangat-sangat-sangat sibuk sekali.

Pagi ini aku harus kembali masuk sekolah setelah kemarin seharian aku berada dirumah sakit untuk melakukan beberpa tes yang membuatku sangat kesal. Tanaka sensei bilang padaku kalau aku tak boleh banyak berpikir keras. Okaasan menyuruhku untuk terus tenang, tapi tetap saja aku tak bisa tenang dalam keadaan seperti ini.

“Kore. Kau terlihat haus” Yugo menghampiriku dan memberiku sebotol jus jeruk.

“Eh? Aku tak haus kok” jawabku.

“Yasudah, minum saja. Aku melihatmu kok gelisah seperti itu ya? Coba kau minum sedikit jus, pasti kau  lebih tenang” Ucapnya dengan lembut.

Kali ini aku bisa tersenyum melihatnya. Walau dimataku Yugo itu menyebalkan, tapi kali ini aku menerima pemberiannya. Aku meneguk jus dingin itu.

“Yugo-kun. Arigatou” Ucapku sambil tersenyum menatapnya. “Aku merasa lebih tenang”

“Yokatta ne. Kau tak masuk ya kemarin? Aku juga sih. Ada pemberitahuan untuk latihan konser HSJ nanti. Kau mau datang melihatku saat penutupan konser tidak? akan ada Yuma juga loh. Mereka tampil bersama NYC. Aku akan belikan karcis VIP untukmu deh” Yugo tersenyum. Memberikanku penawaran. Sebenarnya aku sangat-sangat ingin menerimanya. Tapi waktunya sangat tidak tepat dengan kenyataan yang ada.

“Gomen. Tidak bisa” aku langsung menolaknya. Aku tau biasanya HSJ konser pada tanggal berapa saja, tapi sayang tanggalnya bertepatan dengan transplatasi ku. itu benar-benar tidak mengasyikan.

Yugo tersenyum dan menepuk pundaku dengan lembut. “Daijoubu. Jaga dirimu ya” Ucapnya singkat.

Aku menatap terus punggungnya yang perlahan menjauh dari pandanganku. Entah mengapa air mataku terjatuh saat itu.

“Kore. Gadis manis tak boleh menangis” Seseorang memberikan ku sapu tangan, sapu tangan yang mirip dengan yang ku punya yang diberikan oleh Yuma.

“Yuma-kun. Kau disini?” Tanya ku sambil mengambil sapu tangannya.

“Jangan menangis lagi. Aku tak suka gadis yang memangis. Itu akan menghapus kecantikannya. Waratte ne. waratte”

Dia selalu berusaha membuatku untuk tertawa, sikapnya manis sekali. Aku benar-benar menyukainya sekarang. Bukan sebagai seorang Idol, tapi sebagai seorang Yuma. Aku menyukainya, bahkan aku berharap menjadi pacarnya. Ah, tapi ku rasa itu sesuatu yang tak mungkin.

=====================================================================================

#AUTHOR POV#

Wanita itu segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“Moshi-moshi. Tanaka sensei, bagaimana? Apa Riisa kerumah sakit setiap hari?” Tanyanya dengan panik. Wanita itu baru saja pulang dari pekerjaannya, wanita ini adalah Ibunya Riisa, tapi karena pekerjaan yang menuntut dia jarang sekali memperhatikan Riisa.

“Dia kesini setiap hari, tapi dia tak akan lama bertahan. Aku belum mengatakan padanya. Karena ku rasa itu akan membuat dia tertekan. Sebaiknya segera bawa dia kerumah sakit. Dia harus dirawat dirumah sakit demi kelancaran segalanya.” Ucap Tanaka Sensei dari tempat yang jauh disana.

Wanita itu menutup flip ponselnya dan menuju kamar anak satu-satunya itu. “Riisa” batinya.

Knock Knock Knock.

Wanita itu mengetuk pintu kamar Riisa. “Masuk” Suara Riisa terdengar dari dalam kamar.

“Kau belum tidur Rii-chan?” Tanya wanita itu. Lalu dia duduk ditepi kasur Riisa.

“belum, aku masih mendengarkan musik. Tumben Okaasan sudah pulang?”

“Hanya ada satu rapat dikantor tadi. Jadi aku bisa cepat pulang. Oiya, bagaimana dengan sekolahmu?”

“Baik. Teman-temanku baik” Jawab Riisa singkat.

“anou, Rii-chan. Kore” Wanita itu memberikan sebuha kalung berbandul huruf ‘Y’

“Heh? Y?” Tanya Riisa bingung saat wanita itu memakaikan kalung tersebut dileher Riisa. Dia merasa ibunya sepertinya tahu kalau dia menyukai ‘Yuma’ atau mungkin juga itu ‘Yugo’

“Iya. Y untuk Yanagi. Nama keluarga kita” ucapnya sambil tersenyum.

“A, souka. Arigatougozaimasu” Riisa membaringkan tubuhnya dikasur miliknya itu.

Lalu wanita itu mematikan lampu kamar Riisa dan meninggalkannya.

“Bagaimana pun dia harus selamat, dialah harta yang paling berharga yang ku punya”Wanita itu mengetik pesan yang akan dikirimkan pada Tanaka Sensei.

=====================================================================================

#RIISA POV#

Aku membuka mataku, tak terasa hawa hari ini menjadi lebih dingin dari biasanya. “Eh? Aku dirumah sakit?” Tanyaku bingung ketika mendapati aku sudah berada dirumah sakit, tanganku juga sudah terhubung dengan impusan.

“Ohayou Riisa-san” Seorang suster menyapa ku.

“Ohayougozaimasu. Kenapa aku bisa ada disini?” Tanya ku bingung.

“Seseorang membawamu kesini. Karena kau itu semalam sangat lemah, keadaanmu sangat buruk semalam, jadi Okaasanmku memutuskan untuk membawamu kemari”

Tidak, aku merasa biasa saja semalam, tidak mungkin sesuatu terjadi padaku. Aku tak merasakan apapaun, begitu aku tertidur dan setelah bangun dipagi hari aku sudah ada dirumah sakit.

Hari-hari dirumah sakit sangat tidak menyenangkan, sudah hampir satu minggu aku ada dirumah sakit, dan tidak satu orangpun menjenguk kecuali Okaasan yang hanya setiap malam datang beberapa menit dan kembali lagi.

“Riisa-san, ada yang mau bertemu denganmu” Aku memalingkan pandanganku.

“Terserahlah” ucapku pada suster itu, paling juga hanya pembantuku yang datang. Sama sekali tidak ada yang spesial.

“Riisa-san” panggil seseorang. Aku pun melihat kearahnya. Yuma.

“Yuma-kun. Kau bisa tau aku disini? Tau dari mana?” Ucapku menanyakan sesuatu. Ternyata ada juga seseorang yang memperdulikanku. Memang benar. Yuma itu sangat baik.

“Aku tau dari Akanishi sensei. Aku juga mengajak Sakura, Kento, dan Taiga” Mereka semua masuk bersamaan.

“Sakura-chan” Teriakku, aku merindukan sosok Sakura yang selalu ceria.

“Riisa-chan. Ganbate ne” Ucapnya menyemangatiku. Dia tersenyum sambil mengenggam lenganku.

Hari ini untuk pertama kalinya aku merasa senang karena ada teman-teman yang datang menjengkukku. Walau tidak terlalu lama. Tapi aku sangat senang dengan hal itu.

=====================================================================================

Aku merasa keadaan ku benar-benar buruk hari ini, sampai-sampai aku tak dapat melakukan apapun, untuk duduk saja aku tak mampu. Ku tekan bel pasien dengan cepat.

“Riisa-san kau dapat mendengarku?” Aku mendengar suara Tanaka Sensei. Ku anggukan kepalaku dengan lemah.

“Yokatta” Perlahan kepalaku terasa sangat berat. Dan ku tutup mataku perlahan.

=====================================================================================

#AUTHOR POV#

“Dia tak sadarkan diri sensei” Ucap seorang suster yang menemani Tanaka Sensei.

“Kita harus segera sesegera mungkin melakukannya. Dia tak bisa menunggu terlalu lama” Ucap Tanaka sensei.

Sebuha suntikan mendarat dikulit Riisa. Dia sama sekali tak merasakannya, dia sudah tidak sadar terlebih dahulu. Keadaan gadis itu semakin memburuk, sel-sel darahnya sudah tak mampu melawan penyakitnya.

“Tanaka sensei, apa kita sudah mendapatkan pendonor?” Okaasan menanyakan hal itu pada Tanaka sensei. Dan jawabannya selalu sama. ‘tidak’

Sudah kebeberapa rumah sakit okaasannya mencari golongan darah yang harusnya cocok dengan darah Riisa, dia memang mempunyai golongan darah langka.

“Ku mohon, Tanaka sensei. Apapun yang terjadi ku mohon selamatkan Riisa. Onegaishimasu” Okaasan membungkuk dalam dihadapan Tanaka Sensei. Dia benar-benar memohon agar anak satu-satunya itu diselamatkan.

“kami akan berusaha sebaik mungkin” Balas Tanaka sensei dengan pasrah.

=====================================================================================

“Sumimasen, sensei. Bisa bicara sebentar?” Seseorang memanggil Tanaka sensei.

Tanaka senseipun menghampiri orang itu. Mereka berbicara berdua didalam ruangan pribadi milik Tanaka sensei.

“Arigatou na” Ucap Tanaka sensei pada orang yang baru saja dia temui.

Tanaka sensei membawa sebuha kantong berisi sample darah. “Ini. Ini cocok dengan darah Riisa. Mari kita lakukan sekarang”

Riisa masih belum tersadar. Tanaka sensei mentrasplatasi darah pendonor tadi kedalam tubuh Riisa dengan cepat dan sangat hati-hati.

“Semoga bisa bekerja dengan baik” Ucapnya, setelah mentransplatasi darah tersebut.

“Aku harus kembali bekerja. Tanaka sensei. Jaga dia. Onegaishimasu” Okaasan mengambil tasnya dan segera meninggalkan Riisa.

“Okaasan. Matte” Suara Riisa terdengar lemah memanggil ibunya.

Okaasan pun berhenti, dan menghampiri Riisa. “ne? Doushita?” Tanya Okaasannya sambil menggenggam tangan Riisa.

“Sudah selesai ya? Siapa pendonornya?” Tanya Riisa singkat.

Okaasannya tersenyum dan mengusap lembut rambut Riisa,”Tanaka sesnsei tau. Kau bisa menanyakan padanya. Okaasan harus kembali kekantor. Tidak apa-apa kan?”

Riisa menatap Tanaka sensei, dan mengagguk pada Ibunya. “Sensei, dare ka?” Tanyanya to the point.

“Eh? Apa harus aku katakan?” Tanya Tanaka sensei sambil tersenyum pada Riisa.

“Un. Kau harus mengatakan padaku”

“berjanjilah untuk mampu melawan penyakitmu”

“Un. Aku janji. Lalu siapa?” Tanya Riisa lagi.

“Teman sekelasmu” Ucap Tanaka sensei lalu meninggalkan Riisa sendiri.

=====================================================================================

2 Minggu kemudian

“Anou, Yuma-kun” Riisa berlari menghampiri Yuma yang sedang duduk disisi lapangan melihat anak-anak kelad D bermain sepak bola.

“Hey. Riisa-san. Kau sudah sehat ya?” Tanya Yuma dengan senyum yang manis.

“Yuma-kun. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Atashi… Yuma-kun ga suki” Ucap Riisa dalam tunduknya.

“Ahh, Gomen na Riisa-san. Aku tak bisa” Yuma tersenyum dan memeluk Riisa.

Yuma tak menerimanya, karena Yuma tau kalau ada seseorang yang lebih pantas mendapatkan Riisa dibanding dirinya, seseorang yang tak pernah disadari oleh Riisa.

“Un. Demo.. Arigatou. Kau telah memberiku kesempatan untuk hidup.doomo arigatou na” Ucap Riisa sambil tersenyum.

Wajah Yuma terlihat bingung. “Un. Doita ne” Ucapnya lalu tersenyum.

===================================================================================

#RIISA POV#

Ditolak oleh seorang ichiban, yang pertama. Aku pertama kali mengatakan suka pada seorang laki-laki dan untuk pertama kalinya juga aku ditolak. Ini sangat menyakitkan.

Aku tak dapat menahan air mataku. Air mata itu mengalir begitu saja. Untunglah aku sedang sendiri, sepertinya murid horikoshi jarang sekali ada yang menggunakan atap sekolah. Padahal kalau di komik atau dorama aku selalu melihat anak-anak menggunakan atap sekolah untuk bermain.

“Kau akan menangis sampai kapan?” Tiba-tiba Yugo datang dan berdiri tepat disampingku.

“Bukan urusanmu tau. Kau sendiri sedang apa disini?” Tanya ku kesal.

“itu urusan ku juga karena aku menyukaimu, jadi itu urusanku juga. Aku disini untuk bilang kalau aku menyukai mu” Ucap Yugo sambil menatap kearah luar sekolah. Dia sama sekali tak menatapku.

Aku terdiam dan lalu ku tinggalkan dia, apa benar yang dikatakannya, aku sama sekali tak pernah merasa kalau Yugo menyukai ku. yang ku tau dia selalu membuatku kesal.

Meski sebenarnya aku juga sedikit menyukainya, karena aku sudah menyukainya sejak dia masih menjadi Idol, tapi perasaanku sekarang bukan terhadap aku dan Idolku, tapi antara aku dan seseorang yang ku cinta.

=====================================================================================

“Nani? Nande yo?” Aku memanyunkan bibirku dihadapan Okaasan dan Otousan.

Mereka memintaku untuk melanjutkan sekolah diluar negri, aku jelas-jelas menentangnya. Aku tak mau meninggalkan surga seperti Horikoshi. Walau baru sesaat sekolah disana aku sudah menemukan kehidupan yang seru bersama teman-temanku.

“Kau akan mendapatkan pelajaran yang lebih layak disana. Sudahlah. Kepindahanmu sudah ku urus, mulai kelas 2 nanti kau harus meninggalkan Jepang” Ucap Otousan, dan pergi meninggalkanku.

Aku tak pernah menyukai sifatnya yang seperti itu, kami semua harus mengikuti apapun yang dikatakannya. Kalau dia berkata A, maka kami harus mengikuti kemauannya, dia sama sekali tidak memikirkan perasaan orang lain, sifatnya sangat keras.

Aku tak dapat berkata-kata lagi, ini keputusan yang sudah dia bat, dan mau tidak mau aku harus mengikutinya.

From : Sakura

Sub : re : kabar buruk

Kau akan pindah? Sayang sekali. Riisa-chan, kau jangan pernah lupa padaku ya

Aku tersenyum, dan tak terasa air mata ku terjatuh, seorang sakura berkata seperti itu, persahabatan kami memang belum terlalu banyak petualangan, tapi Sakura benar-benar mengerti perasaanku. Walau dia juga sebenarnya sering sekali sibuk dengan les –les yang akan menunjang pelajarannya.

====================================================================================

Hari ini pengumuman ujian kenaikan kelas, aku tersenyum disamping sakura yang terlihat sangat senang kalau ternyata kami bisa naik dengan nilai yang cukup baik.

“Omedetou. Shikasi…” Sakura menggantungkan kalimatnya. Lalu dia memelukku dengan erat.

“Riisa-chan. Kita jangan lostcontact ya. Kita harus sering-sering mengirim email ya” Ucapnya, lalu dia melepaskan pelukannya.

Aku menatap wajah sakura, terlihat jelas matanya yang berkaca-kaca dihadapanku. Kini aku memeluk tubuhnya.

“Un. Janji ya” Ucapku menenangkannya.

“Anou, Rii-chan ku dengar kau akan pindah” Seseorang menepuk pundakku.

“Yugo-chan. Un. Doushite?” Tanyaku.

“Tidak bisakah kau menunggu?” tanyanya. Aku memiringkan kepalaku, aku tak mengerti dengan pertanyaannya.

“Tidak bisakah kau menunggu sampai kau mengatakan suka padaku?” Tanyanya lagi.

Aku tersenyum dihadapannya. “Baaakkkaa. Aku belum bisa menyukaimu saat ini. Mungkin nanti. Kau harus menyimpanku ya” Ucapku sambil tersenyum. “kore. Anata no kokoro no naka” Ucapku sambil menunjuk bagian dadanya.

Yugo terlihat sedikit kaget, namun raut wajahnya terlihat bersedih.

“Good Job Yugo, Ganbate ne. kau pasti bisa buat Riisa-chan menyukai mu” Yuma berteriak dari kejauhan memberi semangat pada Yugo.

“Baakkaa Nakayama. Hazukashii na”

Kami semua tertawa. sesaat aku melihat peluang untuk Yugo yang sangat besar. Walau untuk saat ini aku masih belum bisa menerimanya.

=====================================================================================

2 BULAN KEMUDIAN

From     : Kou-Ichi

Sub        : Baakka

Kau membuatku khawatir baaakkkaa. Kau dimana? Kenapa tak membalas emailku? Aku khawatir

Aku tersenyum geli melihatnya. Semenjak kejadian terakhir diHorikoshi, komunikasiku lancar dengan Yugo. Dia selalu memberiku semangat, walau caranya tetap sama seperti dulu, dia sering sekali mengataiku dengan kata ‘baka’ menyebalkan. Tapi mungkin itu cara Yugo untuk membuatku menyukainya.

To           : Kou-Ichi

Sub        : re : Baakka

Hei Mr.baka. kan aku sudah sering bilang kalau aku ada didalam hatimu. “高地優号 の 心 の 中”

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s