[Multichapter] Flavor Of Love (#8)

Flavor Of Love

FOL2

By. Dinchan
Multichapter (Chapter 8)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Juri yakin ia tidak salah lihat. Tadi itu Taiga kan? Dengan Chika? Sejak kapan mereka kenal? Ia mencoba menghubungi Chika tapi gadis itu tidak mengangkatnya. Belum sempat ia menelepon Chika lagi, sebuah kaleng tersodor dihadapannya, “Tegang amat, kau baik-baik saja?”

“Kou-chan,” Juri mengambil kaleng kopi itu dan ikut duduk di sofa dekat mesin penjual otomatis.

“Rumi-chan sudah baikan?”

Juri mengangguk, “Paling besok juga sudah bisa pulang,” jawabnya, menyesap kopi dinginnya, “Kau tau dimana Chika?”

Kouchi menggeleng, “Harusnya sudah pulang, dia tidak shift malam kan hari ini,”

“Eh, kau juga kan tidak?” seakan Juri baru sadar kalau Kouchi seharusnya tidak disitu.

“Ada sesuatu yang harus kulakukan, beberapa hal sih, tau-tau sudah jam segini,” Kouchi meregangkan tangannya ke atas, “Laporan.”

Souka,”

“Kalau begitu aku pulang dulu deh, selamat bertugas Tanaka-sensei!” Kouchi beranjak, dan meninggalkan Juri.

“Kou!” karena panggilan Juri, Kouchi berhenti dan menengok ke arah Juri sambil bergumam, “Kali ini jawab Chika dengan benar!”

Seakan tertangkap basah, Kouchi bungkam dan hanya menatap Juri dengan bingung, “Jawab perasaan Chika atau tinggalkan dia,” Juri berdiri, menatap Kouchi dengan serius, “Aku serius dengan perasaanku kepada Chika, tapi dia tidak akan bisa move on kalau kau terus membayanginya, membuatnya bingung!”

“Bagaimana dengan Rumi-chan? Bukannya kalian pacaran?”

Juri tidak menjawab dan berlalu dari tempat Kouchi, dia mengintip kamar Rumi, mengetuk pelan karena ruangan itu masih terlihat terang berarti Rumi belum tidur.

“Sudah malam, lebih baik kau tidur,” kata Juri, Rumi masih membaca sebuah buku, tidak beranjak matanya dari buku itu sedari tadi, bahkan ketika Juri masuk gadis itu menolak menatap Juri, “Hey!” Juri menarik buku yang Rumi pegang dan si gadis langsung mengerang protes, memelototi Juri, “Sebagai doktermu aku memintamu untuk istirahat,” Juri menekankan kata-katanya dengan tegas, “Sekarang!”

Rumi menghela napasnya, percuma berdebat dengan Juri sekarang karena dirinya pasti kalah. Sejak kemarin Rumi memang menolak berbicara dengan Juri, malas menanggapi, hatinya sedang benar-benar tidak karuan. Teman satu komunitasnya memberikan laporan soal Jesse dan Chise yang terlihat bersama semalam. Lingkungan pertemanan Rumi dan Jesse tentu saja tidak begitu jauh mengingat keduanya sama-sama tumbuh di kalangan berada dan satu komunitas.

“Sekarang tidur ya,” kata Juri, melembutkan sedikit suaranya agar Rumi tidak lagi ngambek.

Rumi akhirnya berbaring membelakangi Juri. Pria itu membenarkan letak selimut Rumi, menepuk pelan kepala Rumi, “Ne, Juri…” Juri baru saja akan mematikan lampu kamar itu ketika Rumi memanggilnya, gerakannya terhenti, “Kalau… Konno-san menolakmu, apa Juri mau bersamaku?” Juri terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia katakan sekarang.

***

Tinggal di dekapan Reina adalah hal yang paling menyenangkan untuknya saat ini. Berlama-lama menyesap wangi tubuh Reina, bergelung dengan tubuh Reina memeluknya dengan cara posesif adalah hobi barunya. Seperti malam ini saat dia menunggu makanan yang mereka beli di toko 24 jam selesai dipanaskan.

“Shin-chan,” panggil Reina.

Shintaro tidak menjawab dan hanya terus mengelus rambut Reina dengan lembut. Bergumam untuk memberi sinyal pada Reina untuk melanjutkan ucapannya.

“Kau boleh pindah kesini kalau kau mau, maksudku, itu apartemen milik Ruiko-san, kan? Dan memikirkan kau akan ditemui olehnya, membuatku sedikit cemburu,” ucap Reina lirih, dan Reina juga perlu berada dekat dengan Shintaro, entah kenapa sejak tempo hari ia bertemu dengan istri Yuma, ia selalu takut Yuma benar-benar akan mendatanginya walaupun jelas-jelas dia sudah menolak tawaran konyol istrinya itu.

Shintaro terkekeh pelan, “Oh ya? Reina cemburu pada Ruiko, oh… aku merasa seperti don juan,” katanya lalu tertawa, namun tawanya tertahan dengan cubitan Reina di pipi Shintaro, “Aduh, aduh… iya iya…”

“Iya?” Reina otomatis duduk dan menarik Shintaro untuk duduk juga, “Iya? Benarkah?”

Shintaro mengangguk, “Tapi harus tunggu sampai aku benar-benar lepas dari Ruiko, ya? Kau tidak tau bagaimana sulitnya lepas dari dia,”

Reina mengangguk, “Shin-chan, dua hari lagi natal, kau mau ikut ke Yokohama?”

“Ada apa di sana?” tanya Shintaro yang kini duduk bersila di hadapan Reina, meraih tangan wanita itu.

“Ada kejutan. Bagaimana?”

Shintaro mengangguk, “Oke. Tapi sekarang, bagaimana kalau kita makan dulu?”

“OKEE!!” Reina beranjak dari ranjang dan mempersiapkan makan malam mereka.

Sementara Shintaro menatap layar ponselnya yang berkedip-kedip. Ruiko sudah mencoba meneleponnya hingga lebih dari sepuluh kali hari ini. Dia pun memutuskan untuk mengangkatnya sekarang, karena Ruiko tidak akan menyerah hingga Shintaro mengangkatnya.

“Ruiko?” angkat Shintaro cepat.

“Jadi begini, kau hilang dari apartemen, dan kau tidak meninggalkan pesan apapun, bahkan tidak mengangkat teleponku!!” suara gusar terdengar dari sebrang. Pasti Ruiko marah besar.

“Gomen Ruiko, aku bisa menjelaskannya,”

“Menjelaskan apa lagi?! Kau dengan wanita murahan itu, kan? Siapa namanya?” suara Ruiko makin meninggi.

“RUIKO! Kita ketemu nanti, aku pulang sebentar lagi!”

Shintaro menutup teleponnya dan ketika dia menoleh, Reina berdiri di pintu kamar, mengamati apa yang terjadi. Lalu tiba-tiba Reina menghampiri Shintaro dan memeluk pemuda itu, “Jangan tinggalkan aku,” ucapnya lirih.

“Aku hanya akan membereskan masalahku dengan Ruiko, oke?”

Reina mengangguk pelan. Shintaro membiarkan Reina memeluknya lebih lama, “Ayo makan dulu.”

***

“Kenapa kita naik pesawat sih? Kenapa tidak naik kereta saja?” Hokuto kini di atas pesawat bersama dengan Jesse.

“Kau tau aku tidak suka kereta, tidak praktis,”

Hokuto mendesah, “Hey! Yang aku maksud kereta itu shinkansen bukan kereta listrik,”

“Aku tau. Aku tetap benci kereta,” jawab Jesse lagi. Selanjutnya dia sudah minum wine sambil menatap pemandangan di luar.

Hokuto menghiraukan Jesse dan mulai mencari film yang bisa dia nikmati untuk perjalanan singkat ini. Sebagai catatan, seorang Lewis Jesse jarang naik pesawat komersial kecuali sangat terpaksa. Dan seperti sekarang, mereka naik pesawat pribadi milik Lewis Corp.

“Kenapa kita tidak naik helikopter?” tanya Hokuto lagi.

“Hoku, just enjoy the ride!” Jesse mengambil penutup matanya dan mulai tidur.

Mereka akan studi kelayakan untuk lokasi baru hotel. Jesse berencana membuka Acolhedor di Sendai, Hokuto mengenal baik daerahnya dan menurut Jesse bisa saja jadi hotel mereka selanjutnya di sana. Ngomong-ngomong soal nama hotelnya, Acolhedor berarti nyaman atau sambutan dalam bahasa Portugis. Jesse menemukan nama itu setelah berdiskusi dengan Chise, tentu saja. Jika dilihat di namanya, Acolhedor – The Royals group – , tentu saja nama belakangnya adalah syarat mutlak dari Ayahnya. Walaupun Jesse bersikeras untuk tidak ikut-ikutan memakai The Royals dibelakang nama hotelnya, namun Ayahnya tidak bisa membiarkan itu karena Acolhedor, walaupun sepenuhnya dibangun dengan ide cemerlang Jesse, tapi tetap saja milik Lewis Corp.

Saat pesawat mendarat, keduanya segera dijemput dan diantarkan ke daerah yang menurut Hokuto cukup strategis. Daerah Sendai ini adalah bisa dibilang pusat budaya untuk daerah Tohoku.

“Kau lihat? Aku pikir karena dekat dengan beberapa destinasi liburan, hotel kita akan lebih populer,” ucap Hokuto.

Jesse membuka kaca mata hitamnya dan ia tenggerkan di kepalanya, “Betul juga sih, tempat ini berapa jauh dari Ichibancho (wilayah yang terbentang dari depan Gedung AER sampai Stasiun Sendai, beberapa blok hingga Jozenji-dori Avenue. Mal di sepanjang pedestrian ini berisikan toko-toko besar dan kecil)?”

Hokuto bergumam, “Sepertinya sekitar sepuluh menit,”

“Oke! Kalau begitu putuskan di sini saja,” Jesse menoleh ke arah Hokuto, “Ini tanggung jawabmu, oke?” Hokuto segera mengangguk, “Oke!” Jesse kembali memakai kacamata hitamnya, “Kita sekarang cari gyutan sambil membicarakan yang lainnya!!” Jesse berlalu sementara Hokuto masih shock dengan keputusan Jesse yang tiba-tiba.

“Kau benar-benar menyerahkan semuanya padaku?” Hokuto berlari mengejar Jesse yang sudah meninggalkan tempat itu.

Jesse mengangguk, “Ini kesempatanmu. Oke? Bawa semua prospek yang bisa kau lihat di sini dan laporkan padaku minggu depan, bagaimana?”

Hokuto mengangguk cepat, “Kau gila!”

“Kalau tidak gila, aku tidak bisa bertahan sebagai penerus Lewis corp., bisa kita makan sekarang? Aku lapar,”

Lewis Jesse memang berbeda dari anak-anak kaya lainnya. Alih-alih menolak permintaan Ayahnya, atau mungkin membelot dan menentang Ayahnya, Jesse sudah mempersiapkan dirinya sebagai penerus sejak masih SMA. Maka dari itu sejak SMA Jesse sudah bekerja di The Royals.

Tidak sulit menemukan tempat makan enak di Sendai, terutama karena Hokuto masih cukup ingat dengan keadaan tempatnya dulu tumbuh ini. Kini baik Jesse maupun Hokuto sudah membuka jas mereka, kemeja pun digulung hingga ke siku. Hokuto ingat restoran ini dulunya tempat Ayah dan Ibunya sering mengajaknya makan malam ketika ada sesuatu yang patut dirayakan.

Umaaaii!!” seru Jesse ketika gyutan sudah masuk mulutnya, “Saikouuu!!

Ne, Jesse,” panggil Hokuto, kemudian Jesse menatapnya, “Kau mau punya anak?”

Jesse menerawang, “Kurasa iya,” katanya, Jesse tau Hokuto ingin menceritakan soal Hikari dan kegalauannya soal anak, toh Jesse sudah mendengarnya langsung dari Hikari, tapi Jesse tidak ingin melanjutkannya, “Kenapa? Hikari masih terobsesi dengan bayi?”

“Kau tau, bagiku dan Hikari ada sedikit masalah soal bayi, kesehatan Hikari tidak bisa dijamin dengan percobaan punya bayi ini, dan aku….” Hokuto menghela napas, “khawatir.”

“Hikari sendiri?”

“Tentu saja baginya ini penting dan dia menginginkannya.”

“Kamu percaya kalau Hikari bisa mengatasi hal ini? Hmmm?”

“Maksudmu?”

“Kalau kau percaya padanya, kenapa tidak mencobanya dulu?” Jesse menatap Hokuto yang terlihat galau, “Kamu percaya pada Hikari, kan?”

“Tentu saja!” Hokuto menghela napas, “Tapi kalau resikonya terlalu besar, aku lebih takut untuk kehilangan dia.”

***

“Aduh Ibu lupa beli wine kesukaan Ayahmu,” Taiga yang sedang membereskan kado natal di bawah pohon cemara yang sudah cantik dengan hiasan natal itu menoleh ke sumber suara, “Taiga, beli dulu ya, nanti Ayahmu cerewet lagi deh, Ibu malas mendengar omelannya,” Taiga terkekeh lalu mengangguk dan mengambil mantel serta kunci mobil.

“Bu, aku pakai mobil Ayah, ya!”

“Okeeeyy! Hati-hati jalanan licin!” seru Ibunya sebelum Taiga keluar dari Rumahnya.

Setiap malam natal keluarga Taiga selalu merayakannya di rumah, biasanya mereka bahkan pergi ke Osaka, kampung halaman Ayahnya, tapi tahun ini justru neneknya yang ke Tokyo, minggu lalu spesial neneknya dijemput oleh Ayahnya ke Tokyo, katanya sekalian mencari suasana lain.

Toko wine langganan Ayahnya sebenarnya cukup jauh dari Rumah tapi begitulah, Ayahnya tidak mau beli di tempat lain, selalu harus merk dan tempat yang sama untuk membelinya. Taiga menyetir sambil mendengarkan musik, jalanan Tokyo terlihat lebih teduh di musim dingin dan salju yang menggunung di sisi jalan membuatnya terlihat indah dan Taiga senang menyetir di waktu seperti ini. Hampir empat puluh lima menit kemudian akhirnya Taiga sampai, ia turun setelah memarkirkan mobilnya.

Menurut cerita Ayahnya, toko wine ini sudah berdiri berpuluh-puluh tahun lamanya. Pertama kali Taiga ke sini adalah saat ia menemani Ayahnya membeli wine untuk pesta di rumah ketika ia masih kecil seperti hari ini, walaupun ia baru bisa meminumnya ketika sudah genap dua puluh tahun, dan Taiga akui memang rasanya enak. Taiga berkeliling dari satu rak ke rak lain, sepertinya toko ini tidak banyak berubah walaupun ia sudah tinggalkan hampir dua tahun lamanya, hanya ada beberapa lukisan yang Taiga lihat diganti.

“Uhmmm… ini apa ini ya…?”

“Nagisawa-san?” yang dipanggil otomatis menoleh.

“Eh? Kyomoto-san!”

Chise ternyata ke toko ini juga untuk membeli wine tapi dia kebingungan membeli yang mana, “Jesse bilang pokonya yang enak saja, aku bingung, memangnya yang enak yang mana sih? Hmm…”

“Tidak Jesse saja yang beli?” tanya Taiga, mengambil wine yang biasa Ayahnya beli sebanyak dua botol.

Chise menatap ponselnya, seperti sedang menunggu sesuatu, “Biasanya sih, tapi dia kemarin ke Sendai lalu aku yang disuruh beli, hufft,” pipi Chise menggembung membuat Taiga gemas, Taiga ini pacar temanmu! Hardik Taiga pada dirinya sendiri.

Souka,” Taiga menatap beberapa botol wine yang ada dihadapan Chise, “Ini lumayan nih, atau mau yang sama seperti ini?” Taiga memperlihatkan botol wine yang sedang ia pegang.

“Ini enak?”

Taiga mengangguk, “Ini favorit Ayahku dan keluargaku.”

Chise tampak menimbang-nimbang, “Baiklah itu saja!” putusnya lalu mengambil satu botol, keduanya pun berjalan ke kasir, menyerahkan botol-botol wine yang mereka beli, “Untuk merayakan natal?” tanya Chise melihat dua botol wine di meja kasir, Taiga mengangguk sebagai jawaban, “Ii ne, setiap tahun perayaan natalku tidak pernah saat hari H, pasti sehari atau dua hari setelahnya,” ucap Chise.

“Eh? Kenapa?”

“Ayah bekerja saat malam natal, jadi otomatis aku pasti sendirian, lalu acara di rumah Jesse selalu berlangsung dua hari atau sehari setelah natal,” jelas Chise, “tahun-tahun lalu hari bareng Jesse sih, tapi beberapa tahun ini Jesse selalu sibuk di hari natal, jadi… ya gitu deh,” Chise terkekeh.

Setelah selesai membayar keduanya keluar dari toko, “Pulang naik apa?” tanya Taiga.

“Bus atau taksi kayaknya,” jawab Chise.

“Aku antar aja yuk, atau… mau ikut makan malam di rumahku?” entah kenapa Taiga tiba-tiba mengusulkan hal itu, toh tambah satu orang tidak akan menyakiti siapapun pasti ibunya juga senang.

“Eh?” mata Chise membulat tak percaya, “Nanti ganggu ah!”

“Daripada malam ini sendirian?”

Chise menatap Taiga dengan bimbang, “Uhmm.. beneran gak apa-apa nih?”

Taiga mengangguk, dan begitulah Chise kini berada dikediaman Kyomoto, ikut mempersiapkan makan malam natal di rumah keluarga Kyomoto. Random sekali sih, tapi toh Jesse juga sedang ada tugas ke Sendai dan belum pulang sampai malam natal ini, kata Jesse ada beberapa hal yang perlu ia kerjakan dengan Hokuto di sana, Chise juga tidak bisa protes.

“Nagisawa-chan, ini bawakan ke sana ya,” Ibu Taiga memberikan nampan berisikan ayam kalkun yang wanginya saja membuatnya tiba-tiba lapar.

Wakarimashita,” jawab Chise sambil membawa nampan itu ke meja makan, dimana Taiga dan Ayahnya sedang membereskan meja makan, “Kalkunnya dataaanngg~” seru Chise.

“Ah arigatou Chise-chan!” seru Ayahnya Taiga, mengambil alih nampan itu dari tangan Chise, dan meletakkannya di atas meja, “Ah iya winenya!” Ayah Taiga segera keluar dari ruangan sehingga tinggal dirinya dan Taiga di sana. Taiga sedang mengatur piring dan serbet.

“Sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti ini,” ungkap Chise, tanpa menjawab Taiga menatap Chise yang kini tersenyum, “suasana keluarga yang hangat, di malam natal. Pesta di keluarga Jesse tidak pernah sederhana walaupun judulnya sederhana,” jelas Chise menjawab pertanyaan yang bahkan tidak dilontarkan oleh Taiga, seakan gadis itu bisa membaca pikiran Taiga, “Makasih ya Kyomoto-san.”

Kalau saja kau memang bisa terus merayakan hari-hari penting di sini, batin Taiga.

***

Malam natal.

Yang dirayakan hampir separuh dunia dan Kouchi Yugo terjebak di Rumah Sakit, dengan shift yang tidak bisa dikompromikan. Beruntung juga sih besok saat natal dia bisa liburan, bahkan Chika sudah merencanakan kepergian mereka ke Yokohama besok siang.

Kouchi masih menuliskan laporan pasien hari ini ketika mendengar ponselnya berbunyi, “Moshi-moshi, okaa-san,” Ibunya menelepon, anak bungsunya tidak pulang di malam natal.

“Masih kerja, ya?” tanya Ibu di seberang sana.

“Iya bu. Begitulah, tapi malam ini sepertinya tidak ada kasus berarti,” ucapnya menghentikan kegiatannya, betapa rindu dengan suara ibunya.

“Begitulah. Ayahmu dulu juga begitu, kalau tidak ada kasus berarti dia sering ngomel-ngomel karena tidak bisa meningkatkan skillnya. Ahahaha,” Kouchi tau seberapa workholic Ayahnya. Tidak jarang Kouchi harus puas dengan kedatangan ibunya saja saat dia tampil di acara-acara sekolah, karena Ayahnya sedang operasi atau apapun juga. Sekarang untunglah pekerjaannya sudah sedikit dikurangi karena kakak laki-lakinya sudah mulai membantu Rumah Sakit Ayahnya.

“Pulanglah kalau sempat, ya?”

“Iya bu. Jaga kesehatan ya, Ayah juga,” begitulah setiap hari Ibunya akan meneleponnya walaupun hanya untuk satu atau dua menit saja. Memastikan anaknya baik-baik saja. Kebiasaan ini bahkan tidak berhenti ketika Kakaknya sudah menikah.

Kouchi kembali menatap layar laptopnya, laporannya sudah setengah jalan dan malam ini cukup hening untuk ukuran Emergency Room. Hanya satu orang sakit perut karena salah makan, dan beberapa pasien biasa saja. Entah harus senang atau tidak. Kouchi memutuskan untuk mengambil segelas kopi yang mungkin bisa menemaninya berjaga.

Ketika bermaksud berjalan ke pantry Kouchi melihat Seika berjalan dari ruangan Ayahnya.

“Sei-chan!!” Kouchi spontan memanggilnya.

Seika tersenyum ke arah Kouchi, “Hey, Ayah masih belum menyerah soal operasinya ya? Aku bahkan tidak bisa membujuknya,” keluh Seika, “Padahal awalnya Ayah yang menolak operasi, sekarang malah ngotot ingin operasi,” Seika menghela napasnya.

“Kalau begitu biar aku yang membujuknya,” kata Kouchi lalu menuju ke mesin penjual otomatis, membeli dua kaleng kopi, “Untukmu, coffe milk kan?”

“Masih ingat?” Seika mengambilnya dan tersenyum, “Terima kasih, sensei,”

“Tentu saja masih, ngomong-ngomong, mau kemana kau? Ini sudah malam sekali, Sei-chan.”

Seika membuka kaleng kopinya dan menyesapnya sebelum menjawab Kouchi, “Aku harus pulang ke apartemen tentu saja, Yukari-chan menungguku tadi aku menitipkannya pada salah seorang tetanggaku karena harus lembur sampai malam sekali,” Kouchi menatap Seika seakan bertanya, “Ah iya aku mulai bekerja di hotel Acolhedor,” jelas Seika.

“Hotelnya Jesse?” tanya Kouchi.

Seika mengangguk, “Butuh sedikit tambahan uang, dan fee nya lumayan, jadi aku kerja di sana sambil menunggu Ayah pulih dan bisa kembali ke Sendai.”

Kouchi memerhatikan cara Seika minum dari kaleng kopinya. Ia menghitung dalam hati, dan benar saja beberapa tetes turun ke dagu wanita itu membuat Kouchi tersenyum dan terkekeh ketika Seika berusaha mencegah tetesan itu jatuh ke bajunya.

“Kenapa tertawa?”

Dengan spontan Kouchi mengulurkan tangannya dan mengelap dagu Seika, “Kebiasaan burukmu, Seika,” tangan itu bertahan di dagu Seika dan membuat keduanya tiba-tiba saja merasa canggung, “Gomen,” duh! Kenapa dengan jantungnya? Kenapa masih saja berdebar-debar?! Kouchi mengutuk dirinya sendiri.

Tidak menjawab, Seika hanya menunduk dan akhirnya beranjak dari kursi, “Kalau begitu aku pulang dulu,” Seika menunduk sekilas, “Eh,sudah jam dua belas malam. Selamat natal, Kouchi-sensei!” Seika melambaikan tangannya dan meninggalkan Kouchi sendirian dengan imajinasi liarnya.

***

Chika kembali melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh pagi dan Kouchi belum juga menjemputnya. Ia kembali mencoba menghubungi ponsel Kouchi dan tidak juga diangkat. Setelah capek bulak-balik ke depan kulkas, mengambil cemilan, duduk di depan televisi, begitu seterusnya hingga ia bosan, Kouchi sudah telat hampir tiga jam dari janjinya. Nanti sore Chika sudah ada shift lagi makanya dia meminta mereka pergi pagi-pagi. Kebetulan tadi pagi Chika bermaksud menunggu Kouchi di apartemen pemuda itu, toh dia punya kuncinya.

Tadaima,”

Okaeri! Kou!! Kau terlambat!” seru Chika kesal, menatap Kouchi yang terlihat berantakan.

“Ah gomen, ada operasi mendadak semalam, gomen ne,” Chika masih cemberut, tak percaya hari natal yang seharusnya jadi momen kencannya dengan Kouchi bisa berantakan seperti ini, “Wakatta wakatta aku mandi dulu ya! Sebentar saja,” kata Kouchi sebelum beranjak sambil mengacak pelan rambut Chika.

Chika membiarkan Kouchi masuk ke kamar mandi, tidak sampai lima menit pria itu sudah keluar dari kamar mandi dan sudah selesai mandi, rambutnya basah sementara tubuhnya hanya tertutup oleh handuk dibagian bawahnya.

“KOU!! Sana pake bajuuu!!” seru Chika histeris, mukanya mendadak terasa panas saat melihat Kouchi tidak berpakaian seperti itu.

“Ahahaha, histeris amat sih!” Kouchi terkekeh, “Hey, bisa buatkan aku mie instan dulu gak? Laper banget nih, ntar aku pingsan di jalan loh,” katanya sebelum masuk ke dalam kamar.

Chika memasakkan mie instan yang diminta Kouchi walaupun sambil mengomel. Bisa-bisanya Kouchi pulang tanpa rasa bersalah sama sekali seperti hari ini, huh! Bikin kesal saja. Padahal harusnya Kouchi setidaknya minta maaf kan?

Arigatou,” Chika hampir terlonjak kaget karena suara itu berada dekat sekali dengan telinganya.

“Kaget tau!” seru Chika, “Kalau telat begini mana bisa ke Yokohama, Kou? Kita kencan di sini saja deh,” putusnya, kurang dari 4 jam lagi dia harus segera kembali ke Rumah Sakit, dan jalan-jalan keluar nanti malah menghabiskan waktunya.

Kouchi berdiri tidak jauh dari Chika, tangannya masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi tadi, “Uhmm.. kencan ke tempat lain aja gimana? Nonton? Mau?” ucap Kouchi sambil menatap Chika yang masih menekuk mukanya karena kesal.

“Gak deh. Jadinya malas, lagipula dingin banget kan diluar?” Chika mematikan kompor dan mengangkat mie instan itu untuk dimasukkan ke dalam mangkok, “Awas! Geser dikit nanti kena air panas!” protes Chika.

“Ne, Chika-chan,” panggil Kouchi, Chika tidak menjawab, masih sibuk mengaduk mie instan yang akhirnya jadi itu, “Kau bilang untuk menjawabmu dengan benar kali ini kan?” gerakan tangan Chika mendadak terhenti, ia tidak sanggup untuk menoleh ke arah Kouchi dan mematrikan pandangannya ke arah mie instan.

“Nanti saj…”

Belum selesai Chika menjawab, Kouchi sudah menyambar terlebih dahulu, “Aku mau menerima perasaanmu.”

“Eh?” mata Chika kini benar-benar beralih pada Kouchi yang berdiri tepat disebelahnya.

Kouchi mendekat, tangannya merengkuh tubuh Chika ke dalam pelukannya, tanpa mengatakan apapun Kouchi menyentuhkan bibirnya dengan bibir Chika, sebentar saja ciuman mereka sudah terasa lebih intensif dan Chika merasa debaran jantungnya membuatnya sesak napas, ia masih tidak percaya Kouchi benar-benar menerimanya.

“Aku akan mencoba, membalas perasaanmu dengan benar,” bisik Kouchi setelah ciuman mereka berhenti.

Wakatta,” Chika menyembunyikan wajahnya yang kini merona di dada Kouchi, “wakatta,” bisiknya lagi.

***

Tentu saja Hokuto ingin percaya, kalau Hikari-nya akan baik-baik saja tapi ketakutan itu seakan menghantuinya belakangan ini. Bagaimana jika kanker Hikari kembali kambuh? Bagaimana kalau kehamilan Hikari akan merepotkan istrinya? Lebih parah jika nyawa Hikari yang terancam. Oh Hokuto tidak bisa membayangkannya.

Tadaima,” saat Hokuto masuk, tidak ada jawaban. Hokuto membuka sepatunya, memakai selop berwarna hitam dengan rajutan nama Hokkun di atasnya berwarna ungu, buatan tangan Hikari. Ia berjalan menyusuri lorong, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di sana, tapi nihil, “Hikari?” Hokuto menyimpan tasnya dan memutuskan untuk masuk ke kamar, ternyata istrinya itu sedang mandi karena terdengar suara shower dinyalakan, Hokuto mendekat ke pintu dan mengetuknya, “Hikari, aku pulang,” seru Hokuto, dia baru sampai dari Sendai pagi ini dan langsung pulang sebelum kembali ke hotel.

Terdengar suara shower dimatikan, “Eh? Chotto Matte ne! Hokkun minum dulu aja ya!” seru Hikari kaget. Memang Hokuto tidak mengabari jam berapa dirinya akan pulang.

“Iya!! Santai saja!” balas Hokuto lalu berjalan menjauhi kamar mandi, berniat untuk mengambil air mineral dari lemari es, dibuka jasnya dan sambil berjalan Hokuto menggulung lengan kemejanya.

Drrrtt drrrtt drrtt

Di atas meja makan ada ponsel milik Hikari bergetar, tanda telepon masuk. Tanpa pikir panjang Hokuto mengambilnya dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

Moshi moshi Hikari-chan,” Hokuto kaget ketika mendengar suara itu, ia segera menjauhkan ponsel itu, menatap layar LCD ‘Jesse-kun’, “Moshi-moshi? Hikari? Kau di sana? Hello? Hikari-chan??”

Hokuto secara refleks menekan tombol merah di ponsel itu, mengembalikannya ke atas meja dapur. Pikiran Hokuto tiba-tiba kalut, ada apa Jesse menelepon Hikari? Ada masalah soal Chise kah? Ia tidak ingin tau sebenarnya, tapi tangannya mengkhianatinya, sebelum layar terkunci Hokuto membuka histori panggilan milik Hikari dan benar saja nama Jesse memenuhi daftar panggilan masuk dan keluar. Se-gawat apa masalah Chise dan Jesse sehingga keduanya harus sering sekali bertukar kabar? Tunggu sebentar, bukannya kemarin Jesse bercerita bahwa dia sudah berbaikan dengan Chise? Uhmm.. jempol Hokuto menekan tombol kembali ketika sebuah pesan chat masuk.

Tadi aku dikabari pihak Rumah Sakit katanya kamu tidak mengangkat telepon jadi mereka meneleponku, hasil tes mu sudah keluar. Mau diambil kapan? Perlu kutemani?

EHHH?!

“Hokkun, gomen, kenapa tidak mengabari pulang cepat?” Hikari keluar dari kamar dengan masih mengeringkan rambutnya dengan handuk, seakan tertangkap basah Hokuto segera menyimpan ponsel Hikari tapi terlambat, Hikari melihatnya, “Eh?”

“Hasil tes apa? Kenapa Jesse meneleponmu?”

Muka Hikari yang tadinya tersenyum berubah seketika. Gelisah, ya, itu kata yang tepat untuk menggambarkan wajah Hikari sekarang, Hokuto menatap Hikari dengan wajah serius, jenis tatapan yang membuat Hikari rasanya sudah ingin menangis saja.

“Uhmmm.. itu….”

“Ada apa Jesse meneleponmu?” Hikari tertunduk, tidak menjawab, “Hikari! Jawab aku!” walaupun tidak berteriak tapi suara Hokuto terdengar sangat tegas, membuat nyali Hikari ciut, “Panggilan masuk dan keluarmu juga, Jesse semua, ada apa ini?”

“Itu…” Hikari akhirnya memberanikan diri menatap Hokuto, menggigit bibir bawahnya dengan gugup, “Soal.. Chise-chan,” jawabnya dengan sedikit berbisik.

“Jesse kan sudah baikan dengan Chise,” ucapnya tajam, Hokuto masih berdiri ditempatnya, begitu pula dengan Hikari yang mematung beberapa meter dari Hokuto, “Lalu hasil tes apa di rumah Sakit? Sejak kapan Jesse menemanimu ke sana?”

“Tes?!” Hikari kaget, darimana Hokuto tau kalau dia ke Rumah Sakit dengan Jesse?

Hokuto memperlihatkan layar ponsel milik Hikari dan sadarlah dia kalau ada chat masuk dari Jesse di sana, Hokuto pasti melihatnya dan kemungkinan itu soal tes di Rumah Sakit tempo hari, “Jawab aku Hikari!”

Hikari masih diam seribu bahasa, Hokuto mengeluarkan ponselnya sendiri, “Biar aku tanya pada Jesse saja,” ucap Hokuto, nada suaranya sedingin es membuat Hikari tambah tercekat, jangankan berbicara, untuk bernapas saja rasanya sulit bagi Hikari sekarang.

Hokuto menempelkan ponselnya ke telinga, “Jesse?”

“Oyy!Kenapa? udah kangen aja? Kemaren kan kita baru jalan berdua,” seru Jesse, Hokuto tidak menggubrisnya.

“Sejak kapan kau tau penyakit Hikari?” ada keheningan di seberang sana, “Sejak kapan kau menemani istriku check up ke dokter?”

Tak lama Jesse menjawab, “Hikari-chan minta aku menemaninya karena…. kurasa kita perlu ketemu, Hoku, aku tidak bisa menjelaskannya di telepon,” ucap pria itu, Hokuto terdiam tidak tau harus mengatakan apa, “Hikari itu sudah seperti adikku sendiri,” tambahnya, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hokuto tadi.

Klik. Hokuto mematikan ponselnya, kembali menatap Hikari yang kini sudah berlinang air mata, “Kau mau menjelasakannya atau tidak?” tanya Hokuto, masih sedingin es, wajahnya terlihat marah.

“Hokkun tau kan aku dan Jesse sudah kenal lama sejak masih SMA, kebetulan Jesse tau penyakitku dan aku memintanya menemaniku check up terakhir dengan Kimura-sensei, itu saja,” kata Hikari masih terisak pelan.

Hokuto menghela napasnya, “Kamu punya aku, atau Chise, kenapa Jesse?”

Hikari tidak punya jawabannya. Karena jika ia mengeluarkan satu kalimat lagi saja, maka semuanya terbongkar sudah. Rahasia yang ia dan Jesse tutupi bertahun-tahun ini akan terungkap, maka Hikari tidak menjawab ia hanya bisa menangis.

“Beri tau kalau kau sudah punya jawabannya,” Hokuto mengambil jasnya dan kunci mobil lalu keluar dari mansionnya. Ia butuh sendirian sekarang, kepalanya mendadak sakit.

***

To Be Continue~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Flavor Of Love (#8)

  1. hanazuki00

    Kenapa juri-chika-rumi rasanya ribet banget ya namih author? Hahaha terus kouchi serius bales perasaan chika? Apa karna abis ketemu mantan orang tersayangnya dan ngga bisa naksain birahinya ke dia terus lari ke chika? Kouchi jangan jahat dong ya ah kalo blm bs move on dari seika ya jgn lari maksain perasaan ke orang lain dong. Gemash ihhhh

    chise. Aku masih ga suka chise jd tolong ga usah deket deket Iga yaaa 😂😂😂😂
    Biar Iga cari yg lain aja okeeee

    knapa part shintaro reina selalu paling dikit sih mamiii? Tambah ih gemes bgt sama shintaro anak kecil banget rasanya. Etapi Reina masih njadiin Shintaro tameng doang sih ya dari Yuma? Aduh awas jgn mainin dedek gori 😪

    HOKU CEMBURU SAMA JESS HOKU MAEAH SAMA JESS
    KYAAAAAAA HOKUJESS KYAAAAAAA *salah fokus*
    Lagian hikari goblok bgt harusnya tuh chat dihapus aja orz goblok kok dipelihara gatau apa Hokujess abis mesraan di Sendai haaaah! Terus skrg bikin mereka berdua berantem? Naunya apa sih Hikari tuuuuh 😭

    Lanjutan dong mamiii lanjutan 😭

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s