[Oneshot] Niji

Tokyo ketika itu di guyur hujan sehari penuh. Dan baru saja berhenti, walau langit masih berwarna kelabu pekat yang menandakan akan hujan kembali. Karena bosan berada di rumah selama sehari itu, aku pun berniat untuk jalan-jalan sekaligus bekerja part-time di sebuah café. Aku langsung saja menyambar jaket serta payung dan keluar rumah. Udara diluar benar-benar  dingin, dengan berbekal sebuah jaket, aku menelusuri trotoar. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, menghilangkan rasa sepi.

“Ah, gomenasai.” permintaan maaf itu meluncur dari bibir kecil seorang gadis yang tidak sengaja menabrakku. Ya, aku dan gadis itu terjatuh. Dia tampaknya sangat buru-buru. Setelah meminta maaf, gadis itu langsung berlari meninggalkanku yang masih dalam posisi terjatuh. Naas, aku terjatuh di jalanan yang basah mengakibatkan celanaku basah karenanya. Untung saja, tempatku bekerja hanya beberapa meter lagi. Aku langsung berlari menuju tempat kerjaku.


 Niji

A Jhonny’s Entertaiment fanfiction

Nakayama Yuma

Sakurada Yuuki (OC)

Sexy Zone Nakajima Kento

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Genre: Romance (maybe)

By: Shield Via Yoichi

“Wah, pelangi!” seru orang pemuda yang baru saja selesai membersihkan sebuah meja café, dia mendongakkan kepalanya ke sebuah kaca besar dengan meja tersebut. Dia tersenyum. Di dalam senyumnya terdapat rasa senang sekaligus kesedihan. Pelangi mengingatkannya dengan seseorang.

“Oi, Yuma-chan!” panggil pemuda lainnya, seorang pemuda gembul. Pemuda yang mendongak itu langsung melihat orang yang menyebut namanya. Lalu, kembali tersenyum.

“Ah, Yama-chan. Kau sudah datang rupanya.”

Konnichiwa!” sapa pemuda lainnya namun lebih mungil dibanding pemuda sebelumnya. Dia melambai sambil tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya.

“Yo, Chii-chan!” kata Yuma. Yuma langsung mendapatkan tatapan tajam dari pemuda yang di panggilnya dengan sebutan ‘Chii-chan’ tersebut.

“Sudah kubilang berapa kali, jangan memanggilku dengan sebutan itu!” marahnya, “Sebutan itu membuatku tampak seperti perempuan!”

Mendengar itu, dua pemuda itu tertawa, menertawakan temannya sendiri.

“Kamu memang tampak seperti perempuan kok, Chinen.” kata Yamada—pemuda gembul itu membuat Chinen semakin emosi. Wajah memerah menahan emosi yang siap untuk dikeluarkannya kapan saja. Sementara, Yuma dan Yamada tetap saja tertawa.

“Nakayama-san, Yamada-san, Chinen-san, mau sampai kapan kalian akan berada disana?” tegur seorang pria yang agak lebih tua dari mereka. Dia melipat tangannya di dada. Tiga pemuda itu menghentikan tawa dan melihat kearah pria itu, sambil menelan ludah.

“Kalian mau di pecat?” tanya pria itu yang membuat ketiganya membelalakkan mata.

Gomen, Yabu-san. Kami akan kembali bekerja.” kata Yamada yang diikuti anggukan dua temannya. Yabu menarik nafasnya.

“Cepat, layani tamu-tamu yang sudah banyak berdatangan itu.” Yuma, Yamada dan Chinen langsung meninggalkan tempat itu dan melayani pesanan dari para pengunjung yang banyak jumlahnya itu. Yabu memijit kepalanya yang agak pusing.

“Dasar, bocah-bocah zaman sekarang kerjanya selalu bermain.” Yabu menyentuh pelipisnya—agak dipijit, pusing melihat hampir semua karyawannya seperti itu. Tentu saja karyawannya yang masih bisa dibilang anak-anak seperti tiga pemuda tadi.

Yuma melihat langit yang sudah cerah lewat kaca besar café, bibirnya membentuk kerucut karena kecewa. Cahaya matahari senja mulai terlihat, keluar dari sarangnya yang sedari tadi tersembunyi dibalik langit yang kelabu.

“Yah, pelanginya sudah hilang. Padahal aku masih ingin melihatnya lagi.” Yuma menghela nafas, tak dapat menerima kenyataan. Yuma lupa akan pelangi itu karena banyaknya tugas yang harus segera diselesaikannya. Dan sekarang adalah jam istirahatnya bersama dua temannya tadi—Yamada dan Chinen.

“Memangnya apa yang menarik dari pelangi?” tanya Yamada yang mendengar keluhan Yuma. Dia pun duduk di samping Yuma. Yuma menunduk, menyembunyikan raut sedihnya. Sementara Yamada sibuk membuka bungkus makanan yang dipegangnya.

“Tidak ada yang khusus. Aku hanya suka melihatnya.”

“Tapi, kau tampak sedih saat melihatnya.” Chinen sudah duduk di samping Yuma, “Aku pernah melihatmu seperti itu saat melihat pelangi.”

Yuma mengangkat alisnya, “Benarkah? Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Mungkin saja.” kata Chinen menanggapi. Yuma hanya tersenyum hambar. Kau benar, Chinen. Aku memang senang melihat pelangi, namun aku juga merasa sedih. Yuma membatin.


Ne, Nakayama-san.” panggil seorang gadis. Si pemilik nama yang sibuk membaca buku, melihat ke arahnya. Lalu, mengulum senyum.

“Ya, ada apa, Sakurada-san?” tanyanya. Sang gadis itu tampak agak malu. Wajahnya terlihat bersemu merah.

“A—Aku ingin kau mengajariku pelajaran Fisika. Bi—bisakah kau mengajariku?” tanya gadis itu terbata-bata. Yuma masih memasang senyum terbaiknya.

“Tentu saja. Mengapa tidak?” Yuma menjawab.

Gadis itu terkejut, tak menyangka Yuma akan mengiyakannya, “A—arigatou, Nakayama-san.” Gadis itu tetap saja bertaba-bata. Gadis itu menyukai Yuma, tampak jelas dari tingkahnya sekarang. Namun, Yuma tidak dapat merasakan itu. Yuma mengira gadis itu begitu karena akan ada yang mengajari pelajaran yang kurang dia kuasai.

Yuma Nakayama, sang pemenang olimpiade Fisika sejak ia masih duduk di SMP. Berkali-kali Yuma mengikuti olimpiade, berkali-kali juga ia menang. Nama Yuma yang dulu tak begitu dikenal para siswa, mulai saat itu menjadi sangat terkenal dan dibicarakan. Ternyata, Yuma bukan hanya pandai, dia juga memiliki hati yang baik dan wajah yang tampan. Akibatnya, banyak siswi-siswi yang menyukainya. Terbukti ketika tanggal 14 Februari—hari Valentine, banyak yang memberinya cokelat atau bingkisan-bingkisan. Kini, hal itu terulang kembali saat ia SMA.

Gadis itu menjauhi Yuma hendak duduk ditempat duduknya. Namun, langkahnya terhenti dan kembali ke tempat Yuma berada. Seperti kelupaan sesuatu yang mengharuskannya kembali ke tempat yang ditinggalkannya beberapa waktu lalu.

“Ah, Nakayama-san. Bisakah hari ini kau mulai mengajariku?” pintanya.

Yuma mengeluarkan senyumnya, “Untuk membantu orang, kapan pun aku siap.” Gadis itu ingin sekali meloncat saking senangnya. Yuma memang dekat dengan semua orang dan dapat membuat orang senang karena kebaikannya itu.

Hari demi hari berganti, waktu demi waktu bergulir. Kini sudah sebulan gadis bernama lengkap Yuuki Sakurada itu belajar dibawah bimbingan Yuma. Yuuki memang tidak bisa mengerti hanya dengan sekali penjelasan. Namun anehnya, penjelasan Yuma dapat dimengertinya hanya dengan sekali dengar. Entah karena Yuma memang pintar menjelaskan atau karena Yuuki malas mendengar penjelasan guru. Nilai Yuuki yang semula dibawah standar kini mulai membaik. Karena keberhasilan Yuuki, Yuma ikut merasa senang.

Tanpa terasa, bulan terus berganti. Yuma dan Yuuki semakin dekat. Yuma merasa jika tidak ada Yuuki dalam satu hari, ada sesuatu yang kurang. Perasaan itulah yang dirasakannya jika hari Minggu. Entah apa maksud dari perasaan itu, ia sendiri tidak tahu. Terkadang, bayangan Yuuki terlintas di pikirannya. Membuatnya tersenyum atau pun tertawa. Terkadang juga, Yuma akan sedih jika teringat dengan Yuuki.

Yuma terus menjalani harinya sambil mencari tahu arti dari perasaan yang dirasakannya itu. Ingin tahu sedetail-detailnya perasaan yang baru dialaminya itu. Di sekolah, Yuma bertanya pada temannya, Kento Nakajima. Teman dekat Yuma semenjak SD.

Ne, Kento!” sapa Yuma. Kento yang sedang asyik mendengar lagu dari i-pod-nya, mem-pause lagu yang didengarnya dan melepas handsfree yang digunakannya. Kemudian, langsung melihat Yuma. Yuma mendekatkan bibirnya ke telinga Kento, membisikkan sesuatu. Kento menatap Yuma sejenak, lalu keluar kelas yang diikuti Yuma.

“Katakan apa yang ingin kau katakan. Apa sangat penting sampai harus ditempat sunyi?” tanya Kento setelah ditempat sunyi.

“Kento, katakan padaku apa maksud dari perasaanku ini.”

“Memangnya apa yang kau rasakan? Bukan firasat buruk kan?”

“Tentu saja tidak. Jantungku berdegup kencang jika dekat dengan seorang gadis.” Yuma menjelaskan, “Bukan hanya itu. Jika sehari tak melihatnya, aku merasa hampa. Selain itu, sering sekali bayangan dirinya terlintas di pikiranku. Dan itu membuatku merasa senang.”

Kento menyerngitkan alisnya, berpikir sejak kapan temannya yang kutu buku ini merasakan itu. Kenapa bisa dia merasakan itu. Semua pertanyaan bodoh terlintas di benaknya.

Ne, Kento! Jawab.” Yuma mulai tak sabar, “Kau tahu, aku merasa ganjil karena perasaan ini.”

“Baiklah, akan kujawab.” Kento mulai berpose, “Kau itu sedang jatuh cinta.” Yuma membelalakkan matanya.

Hontou?” Kento mengangguk. Lalu, memutari Yuma yang masih heran itu.

“Siapa gadis itu? Beritahu aku, mungkin saja aku bisa membantumu.” kata Kento. Padahal, dia sendiri belum bisa mendekati gadis yang ditaksirnya, malah ingin mendekatkan Yuma dengan gadis yang disukai Yuma. Yuma tetap diam, kemudian berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Kento.

“Oi! Yuma! Oi!” teriak Kento, “Kalau ditanya, dijawab kenapa sih?” Kento kesal, dia pun mengerjar Yuma yang sudah jauh.


Sejak pagi itu, Yuma diam membisu. Otaknya tidak lagi ke penjelasan guru, melainkan ke suara Kento yang direkam otaknya tadi. Apa benar yang dikatakan Kento? batin Yuma. Yuma memang tidak tahu apa itu jatuh cinta. Dia hanya pernah mendengar dari teman-temannya, belum pernah sama sekali dia merasakannya. Dan saat dia merasakannya, dia tahu memang benar apa kata teman-temannya kalau jatuh cinta itu indah. Membuatmu merasa senang jika dekat dengan orang yang disukai. Merasa bahagia ketika bayangnya muncul diotak.

“Apa yang harus kulakukan?” Yuma menggumam. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya. Yuma tersenyum sambil mengangguk-angguk sendiri, layaknya orang gila.

Yuma berjalan menuju suatu taman yang tak jauh dari sekolahnya. Sambil menenteng tas, dia berjalan dengan pasti. Melangkah dengan yakin. Diukirnya sebuah senyum diwajahnya. Berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Didalam hatinya, dia terus mengulangi kata-kata yang akan dilontarkannya sesaat nanti. Ketika jarak taman sudah tinggal sedikit lagi, jantungnya berdebar kencang, tak keruan. Dengan segera Yuma menarik napasnya agar dirinya agak tenang.

“Nakayama-san!” pangil seseorang. Yuma langsung tersenyum saat mengenali suara yang memanggilnya, “Gomen ne. Apa aku telat?”

“Tidak, aku  baru saja datang.” jawab Yuma sambil menghampiri orang itu, Yuuki Sakurada. Gadis yang selalu terbayang di pikiran Yuma, gadis yang selalu membuat Yuma gelisah jika tak melihatnya selama sehari.

Ne, Nakayama-san. Apa yang ingin kau katakan? Kenapa tidak di sekolah saja?” tanya Yuuki agak heran dengan Yuma. Yuma hanya menjawab dengan senyum, memperlihatkan deretan giginya. Lalu, duduk di sebuah kursi panjang di pinggir taman itu.

“Ayo, duduk dulu.” Yuma mempersilakan. Yuuki pun menuruti perkataan Yuma. Lagi, jantung Yuma kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Gugup, namun Yuma juga tidak bisa menahan gejolak di lubuk hatinya.

Daisuki…” akhirnya Yuma mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi diulangnya dalam hatinya. Sementara Yuuki membelalakkan matanya, kemudian tersenyum.

“Atashi mo..” kata Yuuki yang bersemu merah.

Yuma terkaget, “Benarkah?” Yuuki mengangguk. Yuma berteriak kegirangan, Yuuki hanya tertawa melihat tingkah Yuma yang baru kali ini dilihatnya seperti itu. Hari itu, hari yang paling indah dan paling berkesan bagi mereka berdua.

Kini sudah tiga bulan mereka menjadi kekasih. Mereka selalu terlihat berdua. Baik itu di jalan, di kantin dan terkadang di kelas. Selain itu, acara ‘belajar di bawah bimbingan Yuma’ semakin berkembang. Yang dulunya hanya di kelas sepulang sekolah, sekarang bisa kapan saja, dimana saja, bermaksud sekalian berkencan.

Hari yang mendung  di Tokyo mengawali pagi dihari itu. Walau pun begitu, siswa-siswi tetap hadir di sekolah yang tentunya sambil membawa payung—bersiap-siap akan turunnya hujan. Begitu juga dengan Yuma dan Yuuki. Ternyata sampai mereka pulang sekolah, langit mendung itu tidak beranjak dari sana. Malah, hujan mengguyur kota tersebut.

Ne, Yuuki-chan.” Panggil Yuma pada kekasihnya yang sedang siap-siap untuk pulang.

“Ya, Yuma-kun?”

“Kau mau segera pulang?” tanya Yuma. Entah kenapa dia merasa agak gelisah. Yuuki hanya mengangguk. Yuma semakin resah, “Setidaknya kita tunggu hujan ini reda.”

Yuuki berpikir sebentar, “Baiklah.” Yuuki berjalan menuju jendela. Melihat air yang berjauhan dari langit. Dia tersenyum lembut melihat tetesan-tetesan air tersebut mulai mereda. Mengingatkannya pada sesuatu.

“Yuma-kun, apa kau suka pelangi?” tanyanya. Yuma memandang gadis itu sejenak, lalu mengangguk.

“Memangnya kenapa?” tanya Yuma penasaran.

“Aku ingin sekali melihat pelangi, terutama bersamamu. Aku tak tahu kenapa.” Yuma menghampiri gadis itu, mengacak-acak rambut Yuuki lembut.

“Nanti juga kita akan melihatnya.” Yuma tersenyum lembut.

“Un.” Yuuki membalas senyum Yuma.

Sepasang kekasih menelusuri jalanan yang basah sambil memakai payung—masih gerimis. Mereka saling berpegangan tangan, berusaha menghangatkan tangan lawan. Di jalan tersebut, sudah kembali ramai seperti biasa. Mobil-mobil yang berlalu lalang, segerombolan manusia di trotoar dan lain sebagainya.  Cahaya matahari mulai terlihat, menyebabkan datangnya pelangi.

“Yuma-kun, ada pelangi!” teriak Yuuki yang berlari untuk melihat pelangi lebih dekat, melepas genggamannya dengan Yuma. Yuma mengikuti Yuuki. Yuuki yang terlalu senang tidak sadar kalau dia menghentikan langkahnya. Dia terus saja melihat ke langit yang berlukis garis warna-warni itu. Yuma yang begitu jauh jaraknya dengan Yuuki langsung berteriak, memanggil-manggil nama gadis itu.

“Yuuki-chan!! Cepat kembali kesini! Yuuki-chan!!” teriaknya, namun gadis itu tidak mendengar sama sekali. Yuma menambah kecepatan lari. Baru saja dia menglangkahkan satu kakinya, tiba-tiba terjadi sebuah tabrakan. Korbannya adalah Yuuki.

Darah kental mengalir ke jalan raya dari sebuah tubuh milik seorang gadis berseragam SMA yang tergeletak di jalan itu. Seorang pemuda menghampirinya, menyentuhnya perlahan, kemudian memeluknya. Wajah pemuda itu sudah dibanjiri airmata. Dia sudah tidak peduli dengan perkataan jika seorang laki-laki tidak boleh menangis. Dia juga manusia, bukan?

Jalanan yang awalnya ramai, semakin ramai dengan kejadian itu. Banyak yang hanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi, ingin melihat siapa korbannya dan banyak yang hanya mengikut orang. Ada juga beberapa yang berteriak agar seseorang memanggil ambulans serta polisi.

“Yuma-kun…” panggil Yuuki lemah. Yuma melonggarkan pelukannya, menatap gadis yang bersimbah darah itu.

“Jangan menangis…” lanjutnya. Tangan Yuuki bergerak menuju wajah Yuma dan menghapus airmata dari sana.

“Yuuki-chan, bertahanlah. Sebentar lagi ambulans akan datang. Bersabarlah. Kumohon, jangan tinggalkan aku.” Yuma kembali menangis.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku selalu ada disini. Dihatimu.” Yuuki tersenyum. Bibirnya mulai memucat.

“Bertahanlah, Yuuki-chan. Kumohon…” pinta Yuma lirih.

“Terima kasih sudah menemaniku selama ini. Terima kasih sudah menjadi kekasihku selama ini. Dan terima kasih sudah menemaniku melihat pelangi. Lihatlah pelangi yang disana. Indah, bukan?” Dengan susah payah Yuuki mengucapkan semua kata-kata itu. Yuma semakin menangis.

“Yuma-kun…” gadis itu meraih leher Yuma, menariknya dan mencium Yuma. Entah apa yang ada di pikiran Yuuki sekarang. Menempelkan bibirnya yang mulai mendingin di bibir hangat Yuma, sesaat kemudian, Yuuki melepaskan ciuman itu.

“Yuma-kun, tersenyumlah terutama saat pelangi datang.” Yuuki mulai merasa semakin sesak, “ Yuma-kun, arigatou…” Yuuki menutup matanya sambil mengulum senyum, rasa sakit yang sedari tadi diderita berangsur-angsur menghilang. Pelangi juga berangsur-angsur menghilang sama seperti rasa sakit itu. Yuma mengguncang badan Yuuki.

“Yuuki-chan? Yuuki-chan, bangun.. SAKURADA YUUKI………..” teriak Yuma akhirnya. Sang kekasih kini sudah tiada. Meninggalkan raga tanpa jiwa. Yuma menangis sejadi-jadinya.  Menangisi kepergian Yuuki untuk selama-lamanya.


Tanpa sadar, airmata Yuma jatuh dari pelupuknya.

“Oi, Yuma-chan. Kau menangis?” Yamada menaikkan satu alisnya melihat temannya menangis.

“Tidak.” Yuma berusaha mengelak.

“Kau berbohong, kan?” tanya Chinen, “Matamu itu memerah.”

“Tidak, aku tidak menangis kok..” bantah Yuma.

“Ternyata Yuma-chan cengeng ya?” Yamada semakin jahil lalu dia tertawa. Chinen pun begitu. Yuma tersenyum dan terus membantah.

Yuuki-chan, bagaimana kabarmu disana? Apakah melihatku? Disini aku selalu tersenyum bersama dua teman yang sedang bersamaku sekarang. Bukankah kau yang menyuruhku untuk tersenyum? Yuuki-chan, semoga disana kau juga tersenyum melihatku disini. Aku tahu, saat pelangi datang, kau juga ada disana. Akku berharap, pelangi terus datang dalam hari-hariku. Agar kau selalu datang dan aku selalu melihatmu. Ini salam dariku untukmu, Yuma Nakayama.

the end

untuk kesekian kalinya udah pernah di post di fb XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s