[Multichapter] Love Shuffle (chap 06)

Title : Love Shuffle
Type : Multichapter
Chapter : Six
Author : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre : Romance
Ratting : PG-13
Fandom : JE, HSJ
Starring : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

 

LOVE SHUFFLE
~Chapter 6~

Walaupun musim semi hampir datang namun cuaca malam itu terasa masih agak dingin, Inoo menggosok-gosokkan tangannya satu sama lain sambil menengok ke kanan dan kiri, ia menunggu seseorang. Tak lama sosok yang ia tunggu pun datang sambil melambaikan tangan.

“Maaf ya Inoo-kun, tadi kerja kelompoknya agak lama,” kata Sora, iba melihat Inoo menunggunya di dekat stasiun di cuaca sedingin ini.

Inoo menggeleng, “Tidak apa-apa, aku baru sampai kok,”

Inoo dan Sora janjian malam ini untuk mengambil gelas yang tempo hari mereka buat.
Inoo menawarkan diri untuk mengambilnya sendiri, namun Sora juga ingin mengambilnya bersama-sama. Jadi walaupun minggu ini sebenarnya mereka tidak berpasangan tapi memutuskan untuk jalan berdua malam ini.

“Lihat, punyamu aneh deh bentuknya,” kata Inoo menunjuk gelas Sora yang bentuknya tidak sempurna.

Sora manyun, “Iya nih..padahal sudah berusaha membuatnya, kok yang Inoo-kun bisa bagus sih?” Sora protes sambil mengamati gelas milik Inoo.

“Mau gantian?” tanya Inoo.

Sora menatap Inoo,”Tapi ini buat Opi-chan kan?” tanya gadis itu heran.
Inoo menggeleng, “Tidak, ini kan kenangan aku dengan Sora. Ya kan?”

Tiba-tiba saja Sora merasa canggung, ekspresi wajah Inoo pun berubah, ia terlihat salah tingkah.

“Sou ne. Jadi boleh nih kita tukeran?” Sora berusaha mengembalikan suasana menjadi biasa kembali.

“Tentu saja, ngomong-ngomong makan malam dulu ya sebelum pulang,” ajak Inoo.

Sora mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Inoo sampai ke sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemen Sora.

“Kenapa disini?” tanya Sora heran.

“Gak mau?” tanya Inoo bingung.

Sora terlihat berfikir sejenak, “Bagaimana kalau kita ke apartemenku saja, aku bisa masak untukmu,”

Lalu keduanya memutuskan untuk menyetujui ide Sora. Sebenarnya sore tadi Sora memang sudah berencana akan masak pasta untuk Yuya yang katanya akan datang malam ini, namun nyatanya sebelum Sora berangkat Yuya membatalkan janjinya tersebut.

Ketika Inoo masuk ke apartemen itu, pandangan pertamanya langsung tertumbuk pada banyaknya novel dan buku di tengah ruangan. Seingatnya Opi memang pernah cerita kalau Sora suka membaca novel.

“Maaf ya agak berantakan,” ucap Sora sambil mengambil beberapa novel sekaligus dan menyimpannya di meja agar sofa bisa agak sedikit terlihat lengang. Inoo hanya tersenyum dan membuka jaketnya sebelum akhirnya duduk.

“Cuma pasta, gak apa-apa ya?” Sora agak berteriak dari dapur, Inoo beranjak dan melihat Sora sedang bersiap-siap memakai apron dan mengambil beberapa bahan dari dalam lemari pendingin dengan cekatan.

“Biasa masak ya?” tanya Inoo, Sora terlihat kaget karena Inoo tiba-tiba berada di sampingnya.

“Oh, iya… iya… gak maksudku cuma masak yang gampang-gampang aja. Gak kayak Opichi,” jelasnya.

Inoo hanya mengangguk-angguk. Pada akhirnya Inoo malah membantu Sora memasak.

“Itadakimassuuu!!” Inoo hanya tersenyum menatap Sora yang makan dengan lahap sesaat setelah pasta itu masak. Keduanya setuju untuk tidak membaginya ke dua piring,
tapi memakannya langsung di satu piring.

“Jangan makan bagianku!” seru Inoo tak mau kalah, pria itu menahan tangan Sora yang sudah siap menyendok pasta, keduanya tertawa-tawa karena merasa seperti anak kecil yang berebutan makanan.

Sudah lama sekali Inoo tidak merasa selepas ini saat sedang tertawa, tapi kenapa Sora yang menemaninya malam ini, bukan Opi.

===================
“Ne..kau tahu?” Yuya berbicara ditengah pekerjaan Opi mengerjakan tugas di perpustakaan. Minggu ini adalah minggu yang sangat santai untuk Opi. Karena partnernya adalah Yuya yang sudah sangat ia kenal sejak lama. Daripada disebut kencan, lebih tepatnya disebut ‘bermain’ bersama.

“Nani?” tanya gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya pada bukunya.

Dengan antusias Yuya berpindah posisi di sebelah Opi yang tengah serius. Badannya ia condongkan dan wajahnya ia dekatkan sehingga nyaris menempel pada wajah bagian kiri gadis itu.

“Sepertinya ada sesuatu dengan mereka,” bisik Yuya.

“Dia? Siapa?”

“Itu…” Yuya menunjuk sesuatu di hadapan mereka dengan dagunya. Mau tak mau Opi menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. “Yuma dan Saifu.”

Opi mengerutkan keningnya. Interaksi Yuma dan Saifu memang terasa aneh tapi bukan itu yang ada dipikirannya.

“Sedang apa Saifu di sini? Dia kan bukan mahasiswa kampus kita.”

Yuya menggeleng lemas tapi tak berapa lama wajahnya terlihat kembali gembira.
“Jangan-jangan untuk bertemu dengan Yuma. Ternyata permainan bodoh ini menghasilkan juga.”

Mata Opi mendelik pada Yuya yang wajahnya masih mendekati wajahnya. “Kau ini senang sekali bergosip. Seperti perempuan saja.”

“Sudah selesai bergosipnya, Yuya-kun?”

Suara itu muncul bersamaan dengan mendaratnya sebuah buku di depan wajah Yuya. Seketika wajahnya terasa baru tertimpa beton.

“Itai!!!!!!!” keluh Yuya sambil merenggut. “Apa yang baru saja menempel di wajahku?”

“Ini..” Toma mengangkat sebuah buku yang tebalnya melebihi bantal yang dipakai orang China jaman dulu di film-film.

“Sensei keterlaluan..” Yuya makin mendengus kesal. Walaupun kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasakan hidupnya bisa berakhir hari ini jika dia melawan senseinya itu.

“Wajahmu tadi terlalu dekat,” ucap Toma pelan sampai Yuya pun tidak bisa mendengarnya.

“Hah? Apa sensei?”

“Sudah diam..” dan Opi selanjutnya memukul pelan kepala Yuya yang masih tidak mau diam.

“Kalian berdua ini senang sekali memukulku,” protes Yuya mengusap wajah dan kepalanya sekaligus karena terasa sakit.

“Sensei…jurnal yang kemarin…”

Toma lalu mendekati Opi yang mulai berdiskusi tentang tugas. Yuya menatap kedua orang itu bergantian. Rasanya ada yang aneh, pikir Yuya. Melihat Opi bercakap-cakap sesantai itu dengan Toma, padahal mereka membicarakan tugas rasanya ada yang ganjal.

Tiba-tiba Yuya tertawa. “Ahahaha..muri..muri. Aku mikir apa sih?”

“Yuya?”

“Hmm?”

Yuya menyadari ia sudah melakukan hal yang aneh. Buktinya Opi sudah memasang wajah yang khawatir dan Toma memandangnya dengan tatapan prihatin.

Opi mendekatkan posisi duduknya di hadapan Yuya lalu menepuk pundaknya pelan.
“Yuya, kalau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku. Aku cemas melihatmu tiba-tiba tertawa seperti itu.”

“Atau padaku juga bisa,” timpal Toma.

Kening Yuya berkerut. Maksud mereka…..

“Oi, aku tidak stress atau gila,” bentak Yuya kesal. Kenapa Opi menjadi semakin mirip senseinya itu yang selalu mem-bully-nya?

“Oia,” Yuya teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong stress dan gila, aku jadi teringat dengan Nu.”

“Yuya-kun, Nu itu tidak gila,” ralat Toma.

“Baiklah. Dia tidak gila. Tapi aku ingin tahu hal yang menyebabkan dia seperti itu.
Menjadi tertutup maksudku,” tak lupa Yuya menekankan bagian terakhirnya.

Toma mengangkat tangannya setinggi dada. “Maaf. Itu rahasia pasien.”

“Haaahh? Ayolah sensei…” Yuya menarik-narik tangan Toma. Opi yang melihat kelakuan Yuya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Yuya terlihat seperti sedang merayu ayahnya untuk dibelikan balon.

Toma berdeham lalu bercerita. “Ibunya Nu meninggal 1 tahun yang lalu. Karena pertengkaran kecil, Nu pergi meninggalkan rumah. Ibunya mengejar Nu tapi dia tidak memperdulikannya. Saat di penyebrangan ibunya terus mengejar sampai tidak sadar ada mobil melintas dan ibunya tertabrak. Nu melihatnya dengan jelas dan sebenarnya dia akan berbalik untuk menyelamatkan ibunya. Tapi sudah terlambat.”

Opi dan Yuya tidak bereaksi sedikitpun. Sekarang mereka mengerti kenapa Nu bersikap seperti itu.

“Nu ikut bersimbah darah karena dia terus menerus memeluk dan berusaha menyadarkan ibunya. Kemudian mereka dibawa ke rumah sakit dengan taksi.
Pandangan Nu saat itu sangat kosong. Dia terus menerus mengatakan kalau itu salahnya. Sampai sekarang dia tidak mau menaiki taksi karena mengingatkan pada ibunya,” lanjut Toma.

Yuya tiba-tiba teringat saat ia menyarankan untuk naik taksi tapi Nu menolak. Jadi ada penyebabnya.

Setelah Toma selesai bercerita, semuanya diam. Opi melirik ke arah Yuya yang tatapannya menjadi tidak fokus. Entah apa yang dipikirkan tapi yang jelas wajahnya terlihat sedih.

“Yap..” Opi dan Yuya terkesiap dengan seruan Toma. “Kalian jangan menceritakannya pada siapapun, oke? Aku harus pergi sekarang karena ada urusan dengan Saifu.”

“Ada urusan apa?” tanya Opi spontan. Dia bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dia ucapkan.

Yuya tertawa. “Kau ini mau tahu saja urusan sensei.”

Kata-kata Yuya membuatnya akhirnya menyadari sesuatu. “Eh?” Opi menatap Toma cepat dengan mimik wajah seolah berkata, “bukan itu maksudku”.

Toma membalas dengan tersenyum lalu berkata, “Dia hanya mengembalikan buku yang kupinjamkan beberapa hari yang lalu. Hanya itu.”

Are? Perasaannya sajakah Toma seolah berucap untuk menjelaskan bahwa antara dia dan Saifu tidak ada hubungan apa-apa?

“Ternyata Saifu kemari itu untuk bertemu dengan sensei..” ucapan Yuya terasa sedikit kecewa.

Opi tidak menanggapi ucapan Yuya. “Kau lapar tidak?”

Yuya melirik jam tangannya. “Pantas saja sudah pukul 2. Ayo!”

“Kau yang traktir?”

Yuya menoleh Opi cepat lalu mendengus. “Mana ada seperti itu. Bayar sendiri-sendiri.”
Opi cemberut. “Kau ini pelit sekali. Aku kan partnermu minggu ini. Bersikaplah seperti yang sedang berkencan.”

Yuya menunduk menyerah. “Baiklah..baiklah. Tapi jangan yang mahal-mahal,” Yuya memperingatkan.

Opi tersenyum sumringah karena berhasil menyelamatkan uang makan siangnya.
——————————
“Hideyoshi-san, maaf ya kita harus kencan disini,” lagi-lagi Yuma yang harus bekerja paruh waktu di cafe terpaksa berkencan dengan pasangannya minggu ini, Sora, di tempat kerjanya.

Sora hanya mengangguk-angguk sambil mengaduk orange juice yang ada di hadapannya.

“Mau minum yang lain?” tanya Yuma pada Sora, ia sadar bahwa partnernya itu pasti merasa bosan. Sora menggeleng dan tersenyum pada Yuma.

Pintu Cafe terbuka. Yuma menoleh ke pintu untuk menyambut tamu, ketika disadarinya yang datang adalah Toma dengan Riisa. Selama beberapa detik Yuma hanya terpaku kepada Riisa sampai ia menyadari bahwa pasangan itu sudah ada di hadapannya.

“Yuma-kun… kubilang aku ingin cake coklat,” seru Toma.

Yuma mengangguk dan segera menyiapkan pesanan untuk keduanya.

“Halo Ikuta-sensei,” Sora menunduk sekilas sambil menghadiahkan sebuah senyuman,
Toma mengacak pelan rambut Sora.

Sora hanya diam merebahkan kepalanyadi meja bar karena mulai mengantuk.

“Yuma… jangan ajak semua wanita kencan disini dong, kasian tuh dia ngantuk,” kata Toma pada Yuma.

“Aku pulang aja deh, ketemu besok ya Yuma-kun,” Sora beranjak.

Yuma keluar dari balik meja bar, “Sebentar lagi deh, nanti aku antar pulangnya,”

Sora menggeleng, “Gak usah. Besok aja ketemu lagi ya,” Sora tersenyum dan pamit sambil melambaikan tangan pada semua orang.

Riisa sendiri hanya bisa menatap Yuma dengan salah tingkah. Kenapa juga Toma mengajaknya kencan di cafe ini? Memangnya tidak ada tempat lain untuk berkencan?
Dari sekian banyak tempat kencan yang ada di Tokyo malam ini Toma malah memutuskan untuk kesini.

“Aku ke belakang sebentar,” kata Toma yang tiba-tiba saja beranjak ke belakang dapur, meninggalkan Riisa dan Yuma berdua saja.

Walaupun suasana cafe itu tidak sepi, tapi Yuma rasanya tidak bisa menghindari bertatapan dengan Riisa dan merasa lebih canggung daripada biasanya. Setelah pertemuan terakhir mereka saat Yamada sedang bersama Riisa.

“Apa kabar?” tanya Yuma sambil menyerahkan pesanan pinya Riisa, berupa cake coklat.

Riisa menatap Yuma tak kalah canggung, “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
Yuma hanya menjawabnya dengan tersenyum, “Sejauh ini, paling menyenangkan kencan dengan siapa?”

Rasanya tengggorokan Riisa tersumbat tiba-tiba, ia cegukan dan langsung minum karena kaget, “Kenapa menanyakan hal itu?”

Tentu saja Yamada, jawab Yuma dalam hati. Entah kenapa ia merasa ada perubahan dari diri Riisa setelah bertemu dengan Yamada tempo hari. Ia tidak rela jika itu benar terjadi. Tujuan Yuma mengikutsertakan dirinya dan Riisa adalah agar Riisa menyadari perasaanya tidak main-main, dan Riisa menyadari bahwa tidak ada yang bisa mencintainya daripada Yuma.

Sayangnya, manusia memang kadang hanya bisa berencana.

============
“Seperti inilah…”

Yamada menoleh pada temannya, Daiki. Kemudian matanya beralih pada seorang gadis yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Hari ini hari Minggu yang cerah dan harusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk dihabiskan di luar rumah. Kebun binatang contohnya. Tapi semuanya hancur karena Nu yang tidak mau keluar rumah hari ini.

“Ayah Nu-chan…” Yamada memutar kepala mencari sosok pria paruh baya.

“Sedang keluar kota selama 2 minggu. Baru saja pergi kemarin,” jawab Daiki.

Yamada mengangguk mengerti.
“Aku cemas dia belum makan sejak pagi. Sekarang harusnya dia sudah makan siang,” sahut Daiki dengan wajah khawatir.

Baru hari ini Yamada benar-benar melihat Daiki begitu memperhatikan Nu. Padahal mereka sudah berteman lama, tapi ini pertama kalinya ia mengetahui Daiki dan Nu ada hubungan saudara. Dulu Daiki memang sering menceritakan sepupunya, tapi ia tidak tahu ternyata sepupu yang dia ceritakan adalah Nu.

“Aku ada ide agar Nu mau makan,” seru Yamada dengan bersemangat lalu menghampiri Nu yang masih terkapar di ranjangnya.

Yamada menusuk pelan tubuh Nu dengan jari telunjuknya. “Ne..kau mau ikut denganku? Ke dapur. Kita akan memasak bersama hari ini.”

Dan tubuh Nu bergeming. Tidak ada sedikitpun pergerakan dari tubuh Nu.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan masak sendiri saja. Ah..Daiki, kau mau membantuku?”

Daiki yang tidak tahu harus menjawab apa bingung sambil menatap Yamada. Lalu pemuda itu mengisyaratkan agar Daiki mengikuti permintaanya.

“Baiklah. Kalau kau memaksa,” Daiki mengikuti Yamada dari belakang sekaligus memberitahu letak dapur dan bahan-bahan makanan.

“Kudengar Saifu juga ikut permainan ini,” ujar Daiki sambil mengiris bawang yang efek pedihnya mulai terasa di mata.

Yamada mengangguk. “Aku yang mengajaknya.”

Daiki berhenti mengiris. “Hah? Kau gila? Dia kan sudah bertunangan dengan Ryu.”

“Apa gunanya bertunangan kalau dia tidak diperhatikan oleh Ryu? Hitung-hitung hiburan agar dia tidak bosan,” bela Yamada yang mulai berkutat dengan daging sapi dan beberapa seafood.

Brak…

Yamada kaget setengah mati karena Daiki menggebrak meja. Wajahnya terlihat sangat kesal.

“Doushita no? Kau bikin kaget saj—“

“Kau keterlaluan. Sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan Saifu,” potong Daiki kesal, hampir membentak.

Yamada mendengus. Ia tidak peduli dengan bentakan Daiki. “Kau yang keterlaluan. Mau sampai kapan menyembunyikan kalau kau suka Saifu?’

Daiki diam kemudian menoleh pada Yamada dengan wajah kaget. Tidak ada satu orang pun yang tahu perasaan sebenarnya terhadap Saifu yang sudah ia rasakan sejak lama. Makanya ia kaget dengan pernyataan Yamada.

“Kenapa? Kaget karena aku tahu? Kalau begitu saja aku tidak tahu, untuk apa aku dijuluki playboy?” Yamada lalu mengeluarkan cengiran jahil. Daiki mau tidak mau tersenyum. Walapun temannya itu dicap memiliki kepribadian buruk oleh wanita, tapi dia adalah teman yang baik untuknya.

“Aku tidak akan mengatakannya.”

“Hmm?” Yamada menoleh pada Daiki.

“Aku tidak akan mengatakannya pada Saifu. Kau tahu kan, aku, kau, Saifu dan Ryu sudah berteman sejak lama. Aku tidak akan merusak pertemanan kita. Apalagi Saifu dan Ryu…” Daiki teringat dengan masalah pertunangan kedua temannya itu.

“Ne? kau sendiri tahu bagaimana hubungan mereka sekarang,” Yamada melanjutkan dengan perasaan menang.

Belum sempat dijawab, Daiki melihat Nu sudah berdiri di pintu dapur.

“Kau lapar?” Daiki bertanya sambil menghampiri Nu yang kemudian mengangguk pelan.

“Kau ingin makan apa, ojou-sama?” timpal Yamada bak seorang pelayan.

Nu menengadahkan tangannya lalu berkata, “pisau.”

Heeeee?

Daiki panik. Untuk apa dia meminta pisau? Jangan-jangan dia…

“Aku mau membantu,” lanjut Nu memperjelas diikuti dengan desahan lega dari Daiki. Ia berpikir Nu akan mencoba bunuh diri lagi.

Yamada mengeluarkan cengiran khasnya lalu menyerahkan pisau yang ada di genggaman tangannya.

“Kochi…kau potong saja sayuran ini,” Yamada menunjuk beberapa jenis sayuran pada Nu. “Ingat yah. Yang dipotong sayurnya saja. Tanganmu jangan ikut dipotong juga.”

Nu menoleh tanpa ekspresi menunggu penjelasan maksud dari kata-kata Yamada. Sedangkan Daiki, perasaannya sudah ketar ketik karena Yamada sudah membahas hal yang mutlak tidak perlu dikatakan di depan Nu. Dia bersumpah akan melemparkan Yamada di tebing tertinggi jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nu.

“Koko..ko-ko..” Yamada menunjuk jari Nu. “Jangan sampai ikut teriris. Karena kau akan berdarah. Oke?”

Nu mengangguk mengerti. Di samping itu, Daiki menunduk karena merasa lelah. Sudah dua kali jantung nya dipermainkan oleh Yamada dan Nu karena kecemasannya yang berlebihan. Sebagai tanda dia kesal, Daiki melemparkan tatapan membunuh pada Yamada yang ditanggapi dengan cengiran.

“Ini tidak lucu, Yamada.” Dan Yamada hanya tertawa puas.

———————
“Hanya ada bir?”

Opi mendelik pada Yuya setelah melihat isi lemari es milik laki-laki itu yang hanya berisi bir. Padahal gadis itu berharap ada bahan-bahan makanan untuk ia masak karena sekarang dia sangat lapar.

“Kalau hanya ada bir di lemari es, sepertinya kau tidak membutuhkan lemari es di apartemenmu,” sindir Opi.

“Apa boleh buat. Namanya juga apartemen laki-laki,” bela Yuya.

“Kalau begitu kita belanja sekarang,” putus Opi. Ternyata berpartner dengan Yuya sangat melelahkan. Kei, pacarnya, sangat ahli dalam hal mengurusi urusan rumah dan dapur. Sehingga dapat dikatakan ia tidak begitu memikirkan hal-hal seperti bahan makanan yang habis. Sekarang Opi merasa sangat salut pada Sora yang dapat mengurus Yuya.

“Aku ganti baju dulu,” lanjutnya lalu meluncur ke kamarnya.

Selagi menunggu Yuya, Opi melihat-lihat isi apartemen Yuya. Dapat dikatakan ia sangat jarang masuk ke apartemen laki-laki itu. Apalagi sendiri seperti sekarang.
Sejauh pandangannya, kebanyakan foto-foto Yuya dan Sora dengan berbagai gaya bertengger di setiap sudut. Opi lalu melengos karena dengan hanya melihat foto saja itu sama sekali tidak menarik.

Opi lalu berpindah ke meja makan. Menurut gadis itu, meja makan di apartemen Yuya terlalu rapi untuk disebut sebagai meja makan. Tidak ada makanan apapun di atasnya. Ia menebak meja itu tidak pernah dipakai untuk makan. Lalu dimana dia makan?

Tidak ada makanan memang benar, tapi perhatiannya tertarik pada sebuah kotak di atas meja makan. Opi ingin sekali membukanya dan terjadilah perang batin antara membukanya atau tidak karena tentu saja tidak sopan membuka barang milik orang lain tanpa izin.

“Hanya sedikit kok…Sedikit saja,” gumamnya pada diri sendiri.

Ketika kotak itu mulai terbuka sedikit, Opi tertegun saat melihat isinya. Sebuah mug.

“Itu punya Sora.”

Opi terkesiap mengetahui Yuya sudah ada di belakangnya. Rasanya ia seperti pencuri yang tertangkap basah.

“Jangan mengagetkanku, “ protes Opi cemberut yang dibalas cengiran jahil dari Yuya.

“Rasanya aku pernah melihat mug seperti ini. Yang sama persis,” Opi mengingat-ingat kembali.

“Waktu itu Sora bercerita dia membuatnya di tempat keramik.”

Opi ingat. Mug itu sama dengan mug yang dibawa Kei beberapa hari yang lalu. Dia mengira mug itu untuknya, tapi Kei belum memberikannya secara langsung hingga sekarang.

“Ada apa?” suara Yuya membuat Opi kembali tersadar. Sebagai balasan gadis itu hanya menggeleng.

“Jadi mau belanja? Atau kau mau makan angin saja?” canda Yuya yang menurut Opi sama sekali tidak lucu.

“Kau saja yang makan angin.” Dan Opi melengos mendahului Yuya.

———————–
“Tadaima..”

Opi masuk rumah dengan letih. Belajar bersama Yuya sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kalau belajar di cafe. Dirinya belajar dan Yuya yang menghabiskan semua makanan.

Gadis itu melepas sepatunya dengan asal kemudian melemparkannya dengan posisi yang berantakan. Dia tidak menyadari ada sepatu laki-laki yang sudah tersimpan rapi di depan sepatunya yang berantakan.

“Okaeri.”

Opi terkesiap. Dia pasti mengira itu adalah pencuri yang sangat sopan –mana ada pencuri membalas salam tuan rumahnya- jika dia tidak memfokuskan penglihatan. Opi memicingkan matanya dan yang dia lihat adalah Kei yang sedang menonton tv dengan santai.

“Kau sudah pulang? Tidak biasanya,” tanya Opi yang langsung menuju dapur untuk mengambil segelas air. Kei yang biasanya pulang hampir pagi, sekarang pukul 8 malam sudah santai-santai di rumah merupakan fenomena yang sangat jarang dilihat.

“Pulang dengan siapa?” tanya Kei.

“Yuya. Tadi kami mengerjakan tugas dulu di cafe dekat kampus. Dan hasilnya gagal total. Dia lebih banyak mengobrol dan makan dibandingkan mengerjakan tugasnya,” jelas Opi kemudian meneguk air seperti seorang musafir di gurun pasir selama berbulan-bulan.

“Partnermu Yuya?”

Opi mengangguk karena mulutnya masih belum lepas dari gelas. Karena terlalu sibuk dengan rasa hausnya, dia tidak menyadari jika Kei sudah ada di sampingnya dengan wajah yang serius.

“Opi…”

“Uhuk..uhuk..” Opi merasa air yang dia minum salah jalan sehingga membuatnya tersedak. Tapi bukan itu yang membuatnya tersedak. Selain karena dia mendengar panggilan Kei dengan suara manja, kekasihnya itu sudah memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Siapapun yang mengalaminya saat minum, pasti akan tersedak juga karena kaget.

“Kei..uhuk..kau kenapa?” Opi merasa salah tingkah. Sudah lama Kei tidak bersikap manja seperti itu.

“Ayo kita berhenti.”

“Hah?”

“Ayo kita berhenti melakukan Love Shuffle.”

Berhenti? Oh tidak. Kenapa Opi merasa tidak suka dengan gagasan itu?

“Kenapa? Apa mereka membuatmu tidak nyaman?” Mereka yang dimaksud adalah partner-partner Kei. Setahunya tidak ada gadis yang bermasalah di antara mereka.

Kei memutar tubuh gadis itu dan menatapnya tajam. “Kau yang membuatku tidak nyaman.”

“Hah?”

“Melihatmu bersama laki-laki lain, membuatku tidak tenang. Kau tahu?”

Opi tertegun. Maksudnya…Kei cemburu?

“Ini hanya permainan Kei…”

“Aku tahu..” potong Kei cepat. “Aku menyesal sudah terlalu sibuk dan tidak memperhatikanmu. Tapi aku mau berubah.”

“Kei..” antara terharu dan bingung. Dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya sekarang.

Di sela-sela kebingungannya, tangan Kei sudah mendekap tubuh Opi lagi. Terasa begitu hangat dan nyaman. Ia mengerti dengan keinginan Kei yang berusaha akan berubah. Lalu bagaimana dengan perasaannya sekarang?

————————————-
“Maaf aku terlambat,” kata Inoo sambil membawa beberapa berkas di tangannya.

Saifu menatap Inoo dari atas ke bawah, seperti sedang menilai pria itu, “Apa selalu seperti ini dengan partnermu yang lain?” tanya Saifu dengan wajah kesal. Ia tidak pernah menunggu selama ini, sudah satu jam dan Inoo baru muncul.

“Gomennasai. Tadi aku benar-benar lupa akan kencan ini,”

“Dalam seminggu ini kita hanya punya waktu dua hari karena kau sibuk, tapi bahkan sehari saja kau sudah telat,” kata Saifu lagi.

“Gomen..”

“Sudahlah, tidak apa-apa,” alasan Saifu kesal karena Inoo mengingatkannya pada tunangannya yang selalu sibuk dan sering lupa akan kencan mereka.

“Kalau begitu kau harus menemaniku mabuk malam ini,” kata Saifu sambil menambah minumannya.

Inoo berusaha menahan diri ketika terus menerus dilihatnya Saifu minum bir dan minuman keras lainnya. Lebih buruk jika dua-duanya mabuk, dan Inoo tidak bisa mengantar saifu pulang.

“Kau tahu…. pacarku itu.. bukan… tunangan…” Saifu lalu tertawa terkekeh-kekeh, “Kurang ajar… dia persis sepertimu… pekerja keras, tampan, tapi tidak pernah di rumah,” kini Saifu terlihat frustasi, “Apa gunanya dia memberiku uang? Lalu sekarang dia selingkuh?! Bakaaaaaa…”

Inoo memapah badan Saifu yang sudah sempoyongan dan terus menerus akan terjatuh ketika berjalan.

“Aku mau nyetir… aku bawa mobil..” omel Saifu ketika dilihatnya Inoo sedang memberhentikan sebuah taksi.

Inoo tidak menggubris perkataan Saifu dan membawa gadis itu ke alamat yang Inoo lihat di kartu SIM nya.

“Jangan tinggalkan aku…” Saifu mulai terisak-isak saat Inoo akan pergi setelah berhasil membuat Saifu berbaring di kasurnya.

Melihat keadaan Saifu yang tidak stabil begitu akhirnya Inoo memutuskan untuk menunggu hingga Saifu tenang, ia segera memberi tahukan pada Opi bahwa malam ini dia tidak akan pulang. Sambil menunggu Inoo berencana membereskan pekerjaannya yang tertunda saat ia merasa kantuk menyerangnya, dan membuatnya tertidur di sofa.

“Ohayou,” sapaan itu terdengar bersamaan dengan wangi kopi, membuat Inoo yang sejak semalam tertidur di sofa, menggeliat dan membuka matanya.

“Terima kasih ya tadi malam,” kata Saifu yang terlihat lebih manusiawi setelah tidak mabuk.

“Tidak masalah… aku pulang dulu ya…” Inoo beranjak dari sofa. Ia harus ganti baju sebelum kembali ke kantor.

“Kau sadar tidak semalam kau mengigau apa?” kata Saifu tiba-tiba, saat menatap Inoo memakai kembali jasnya.

Gerakan Inoo terhenti, ia kemudian menatap Saifu, “Maksudmu?” Inoo memang bermimpi tadi malam, tapi ia tidak tahu jika mimpi itu sampai membuatnya mengigau.

“Ahahaha… ketahuan deh,” ucap Saifu sambil tergelak.

Inoo tampak salah tingkah, “Kumohon, jangan bilang siapa-siapa…”

—————————–
From : Ikuta Toma
To : Yamada Ryosuke, Suzuki saifu, Takahashi Nu, Yamashita Opi, Inoo Kei, Takaki Yuya, Hideyoshi Sora, Nakayama Yuma, Yanagi Riisa
Subject : Minggu Ini
Hello peserta LOVE SHUFFLE!
Minggu ini kalian akan kembali dengan pasangan masing-masing. Inilah saatnya kalian menginteropeksi hubungan kalian setelah berkencan dengan orang lain. Kita akan tentukan langkah selanjutnya setelah minggu ini berakhir..

-Ikuta Toma-
——————————–
To Be Continued…
Akhirnya update juga… masih bersambung pula…
Doakan bisa lebih cepat…
Ini authornya males-malesan… ahahaha
COMMENTS ARE LOVE.. PLEASE DON’T BE A SILENT READER.. ^^)b

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Love Shuffle (chap 06)

  1. Cherry Arida

    Huwaa.. aku selalu nunggu Love Shuffle, akhirnya ada lagi. Seneng banget, aku suka sama ceritanya. Lanjutin…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s