[Oneshot] Akai Ito

Tittle :[ONESHOOT] あかい いと
Type: Oneshoot
Author: Fukuzawa Saya
Rating : PG-15
Genre : Romance, Freindship
Fandom :JE, HSJ
Straring: Suzuki Saifu (OC), Sato Miharu(OC), Daiki Arioka (HSJ) segelintir peran pembantu =))
Discalimer:  I just own the plot and Saifu.. Daiki belongs to himself and JE. Miharu belongs to Silvia Renta . Just aa Fiction, enjoy the fiction.dedicated to Arioka Daiki!! HAPPY BASSUDAI

AKAI ITO
“Daichan… Ini pita merahnya, ikat di lenganmu saja “, Chinen Yurii memberikan Daiki sebuah pita merah yang adalah properti pemotretan mereka hari ini.
 
Member Hey! Say! JUMP , hari ini berkumpul di sebuah studio untuk pemotretan majalah yang biasa mereka lakukan untuk majalah remaja bulanan. Hey ! Say! JUMP , boyband yang sekarang sangat terkenal didalam maupun diluar jepang, beranggotakan 10pria tampan yang juga bersuara indah.
 
“Arigatou..”, Daiki menerimanya sambil menatap pita merah di tangannya.
 
“Dousite?”, Chinen menatap Daiki heran, karena pemuda manis
 
“Eh?nandemonai …”, Daiki tersenyum.
 
“Chinen kesini sebentar…”, Yamada Ryousuke memanggil .
 
“Aku kesana dulu..”, pamit Chinen meninggalkan Daiki yang masih duduk menunggu gilirannya untuk dipotret.
 
“Benang…..merah….”, Daiki menatap jari kelingking-nya, seketika pikirannya melayang mengingat mimpinya. Mimpi yang selalu sama, sejak dia berumur enam tahun, ah– malah lebih muda dari itu. Yaa, saat Daiki berumur empat tahun.Pemuda itu sudah bermimpi tentang seorang gadis yang Daiki tak ingat betul wajahnya.
 
‘Siapa?’, Daiki bergumam dalam hati. Setiap beberapa kali dalam setahun dia pasti memimpikan gadis itu. Gadis kecil dalam mimpinya, yang tersenyum manis kepadanya itu. Daiki ingat betul apa yang selalu diucapkan gadis itu.
 
‘Tunggu aku …’, lalu gadis itu tersenyum dengan manisnya,’Jika sudah waktunya…kita akan bertemu..’
 
Daiki memandang jari kelingkingnya lagi ,”Siapa…kau?”
 
“Sedang apa kau?”
 
“HUWAAA—-“, Daiki melompat kaget saat tiba-tiba Takaki Yuya menatapnya dari jarak yang bisa dibilang dekat. “YUYA!! Jangan mengangetkanku dong! ”
 
“Gomen– gomen..salahmu sendiri kenapa melamun. Inoo sudah menunggu, giliran kalian tuh”,Yuya lalu duduk dan mengambil minuman.
 
Tanpa bicara lagi Daiki menghampiri Inoo, karena memang hari ini Inoo yang jadi partner satu frame pemotretannya.
 
“Otsukaresama deshita…”, para staff membungkuk pada para member JUMP yang juga membungkuk sambil mengucapkan ‘Otsukaresama..’
 
“Daichan..kau langsung pulang?”, tanya Yamada.
 
“Maa~ …kayaknya aku lapar..”, kata Daiki sambil memegang perutnya.
 
“Kita makan bersama-sama saja… Nee? Yang lain juga pasti mau ikut”, kata Yamada sambil menatap teman-temannya yang lain , yang sedang bersiap pulang.
 
“Terserah kau saja Yamachan..”
 
“Baiklah kalau begitu…”,putus Yamada,”Minna hari ini kita makan malam bersama~ “
 
“YAMACHANN MAU TRAKTIR KITA?!!”, seru Hikaru heboh.
 
“E-ehhh??Aku yang traktir??”
 
“Sudahlah ayo ayooo~!! Aku lapar…!”,Hikaru merangkul Yamada yang bersunggut-sunggut keluar dari ruangan duluan , diikuti yang lain dibelakang.
 
“Kalian mau pesan apa?”, tanya Yabu sambil melihat-lihat menu.
 
“Aku yang biasa saja…”, putus Yuto.
 
“Oke~…yang lain?”, Yabu menatap menu-menunya lagi.
 
“Aku juga yang biasa saja…”, ucap Daiki sambil menopang dagu.
 
“Kau kenapa Daichan? Sejak tadi aneh sekali…”, Chinen menatap Daiki yang menggeleng.
 
“Daijobu…”
 
“Daichan,kalau kau tidak enak badan jangan diam saja … “, seru Yabu sambil menatap Daiki. Diikuti pandangan cemas anggota JUMP yang lain.
 
“Daijobu.. Daijobu. Aku hanya, agak…lelah. Aku ke toilet dulu..”, Daiki bangkit dari bangkunya dan menuju toilet.
 
Daiki masuk kedalam kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. Lalu menaruh tangannya di kaca .
 
“Kau… Dimana?”, Daiki memejamkan matanya. Sebentar lagi ulang tahunnya yang ke-22 , dan biasanya mimpi itu akan datang lagi di hari ulang tahunnya ataupun sebelum ulang tahunnya. Daiki bertekad setidaknya di dalam mimpinya dia harus tahu nama gadis itu.
 
“Saifu?? Saifu??Dimana kau?!! “, seorang gadis dengan wajah kesal masuk kedalam kamar mandi.
 
“E-ehh…”, Daiki menatap gadis itu bingung ,”i-ini…toilet…”
 
“Eh?”, gadis itu nampak tersadar,”maaf aku..salah masuk toilet…”,wajah gadis itu bersemu merah lalu dengan segera pergi dari toilet itu.
 
“Aku harus segera kembali…”, Daiki mencuci tangannya sambil menunduk menatap tangannya , lagi-lagi matanya tertuju ke jari kelingkingnya, lalu dia tersenyum.
 
“Aku pasti akan menemukanmu…”, Daiki berniat bercermin saat dilihatnya pantulan diri seorang gadis yang mengendap-endap dibelakangnya hendak keluar dari kamar mandi.
 
“Saifu-san?”, Daiki ingat nama itu dari gadis yang tadi masuk kedalam kamar mandi dengan wajah kesal. ‘Apa gadis ini yang tadi dia cari?’, pikirnya.
 
Tubuh gadis itu menegang, lalu sambil tersenyum khawatir dia menatap Daiki. “Ma-maaf…”
 
“E-eh?”, Daiki menatap gadis itu, “Ka-kau….”
 
“SAIFU!! DISINI KAU RUPANYA~!!”
 
“Hyaaaa~ Miharu!!!”, gadis bernama Saifu itu terkejut karena Miharu tiba-tiba menemukannya yang memang berdiri di ambang pintu toilet.
 
“Ngapain kau masuk-masuk toilet laki-laki??”, Miharu menjewer telinga gadis itu.
 
“Huaaaa~ gomennn…”
 
“Tunggu!Saifu-san…”, Daiki menghampiri Miharu dan Saifu yang menatapnya bingung .
 
“Kau kenal dengannya?”, tanya Miharu sambil menatap Saifu yang menggeleng.
 
“A-ah..Aku tadi memang ada di dalam toilet, tapi sungguh aku tak mengintipmu . Gomenasai!!”, Saifu menunduk dihadapan Daiki.
 
Di dalam otak Daiki, bagai banyak kata-kata yang ingin diucapkan pemuda itu tapi tidak ada satupun kata yang bisa dia keluarkan. Terlalu bingung apa yang harus dikatakannya pada gadis itu. Tak mungkin dia bertanya pada gadis itu tentang mimpinya. Lagipula, kenapa juga dirinya?
 
 Dia takenal gadis yang kini ada dihadapannya itu, tak juga kenal gadis yang ada di mimpinya. Tapi, kenapa saat pertama kali dia melihat wajah gadis ini perasaannya bisa begitu hangat? Jantungnya terasa sesak , matanya hanya ingin menatap gadis ini dan tangannya kenapa begitu ingin menyentuh gadis yang kini menatapnya itu.
 
“Saifu.. Kita harus pergi sekarang.”, Miharu menatap jam tangannya .”Ayo…”
 
“Tapi ,Miharu…”, Saifu menatap cemas Daiki yang nampak ingin menangis.”Kau baik-baik saja?, aku harus pergi sekarang. Maaf yaa untuk yang tadi..”,Saifu tersenyum.
 
 
“Daichan??Kau ngapain?”, Yamada muncul dibelakang Daiki. “Eh?Kenapa kau menangis?”. Yamada menatap heran Daiki yang mengusap air matanya.
 
“Aku baik-baik saja…”. Tepat setelah Daiki menyelesaikan kalimatnya, pandangan pemuda itu mengabur dan semuanya menjadi gelap. Hal terakhir yang di dengarnya, hanya suara gadis itu lagi , juga senyum gadis yang selalu ada di mimpinya itu.
 
‘Kau bilang apa?’,gumam Daiki dalam hati.
 
———–
 
“Saifu jangan melamun terus …kau kenapa sih? Memikirkan cowok tadi?”,tanya Miharu yang duduk disamping Saifu di dalam taxi .
 
“E-eh? Iie…aku hanya…”
 
“Hanya apa?kau naksir cowok tadi? Tampan sih…tapi,kayaknya aku pernah liat wajah-nya ” , Miharu mencoba mengingat-ingat.
 
“Sudahlah …”, Saifu menatap jalanan kota jepang yang sudah lima belas tahun dia tinggalkan. Gadis itu tersenyum senang karena sudah kembali ke negara kelahirannya tersebut. Sejak berumur empat tahun, dirinya sudah tinggal di Korea bersama orang tua dan sepupunya , Sato Miharu.
 
“Paman dan Bibi ,menyusul bulan depan kesini kan?”
 
“Iya …”,jawab Saifu singkat.
 
“Ughhh~ aku capek. Makanan di restoran tadi enak sekali…”,Miharu mengulat,”lalu… Tadi kau ngapain pake ngumpet di dalam toilet??”
 
“E-eh? Aku juga gatau…tau-tau saja aku masuk kedalam toilet hahahahahaha”
 
“Baka~ , sudahlah aku mau tidur . Kalau sudah sampai apartemen bangunkan aku ..”,pinta Miharu.
 
“Hmm~…”. Di dalam hati, Saifu  sebenarnya terus memikikan pemuda tadi. ‘Siapa dia?’,pikirnya bingung.Lalu kenapa…kenapa rasanya dia begitu mengenal pemuda itu? Sejak kecil dia sudah di Korea, jadi dia tak ingat betul saat-saat kecilnya di Jepang.
 
Gadis itu lalu teringat mimpi yang kadang suka datang padanya, seorang anak laki-laki kecil dengan benang merah yang saling terkait ke jari kelingking mereka berdua.
 
“Unmei….nohito? “, Saifu menatap jari kelingkingnya,lalu mencium jarinya,”Shinjiteru…”
 
 
Daiki Arioka mengerjapkan matanya perlahan, samar-samar dia bisa melihat kepala sembilan orang yang menatapnya cemas.
 
Kalian….”
 
“Daichan! Baka! Jangan tau-tau saja pingsan dan mengangetkanku dong!! Aku kaget setengah mati tau!”, omel Yamada.
 
“Sudah kukatakan juga untuk bilang padaku atau yang lainnya jika kau gaenak badan. Lihat sekarang? Kau sakit begini ..”, omel Yabu.
 
“Gomen…”, lirih Daiki dengan suara pelan.
 
“Minna…sudahlah, toh Daichan sudah sadar. Lebih baik kita pulang, sudah malam dan kayaknya dia harus istirahat”, kata Ryutarou
 
“Kau benar ,Ryuu ..baiklah Daichan ,kami pulang dulu. Kau istirahatlah …”,putus Yabu.
 
“Yamachan…bisa kau menginap disini?”, tanya Daiki sambil menatap Yamada penuh harap.
 
“Eh?Aku…”, Yamada menatap teman-temannya yang mengangguk,”Baiklah… Oyasumi minna.Biar kuantar kalian sampai depan..”, kata Yamada lalu berjalan keluar kamar Daiki dan mengantar yang lainnya kedepan.
 
Tidak sampai lima menit, Yamada kembali ke kamar Daiki dan menemukan pemuda yang melamun itu menatap keluar jendela.
 
“Doustano?”,tanya Yamada sambil duduk disamping Daiki yang nampak melihat bulan.
 
“Kau percaya…benang merah?”,tanya Daiki sambil menatap jari kelingkingnya.
 
“Hahh?”
 
“Iya, benang merah. Benang merah yang mengaitkan kita …”, Daiki menyentuh jari kelingkingnya,”dengan orang diluar sana..entah dimana..”, Daiki menatap Yamada yang masih nampak bingung.
 
“Daichan..kau mabuk yaa?”
 
Daiki menghela nafas,”Kau bodoh yah ?”
 
“Cih..bukannya begitu. Tau-tau saja kau mengatakan tentang benang merah, bagaimana aku bisa mengerti?Ceritakan yang benar “
 
“Dengarkan okey…mungkin akan terdengar agak bodoh dan aneh. Tapi, itu yang benar-benar aku alami …”
 
“Baiklah…cepat cerita.Kau membuatku penasaran…”
 
Daiki tersenyum dan memandang bulan yang malam ini bagai tersenyum padanya. Apakah bulanpun tau?Kalau sebenarnya dia sudah bertemu dengan gadis benang merahnya?
 
——-
 
“Saifu , tutup jendelanya…dingin sekali “, omel Miharu sambil menaruh dua cangkir kopi susu hangat di atas meja ruang tamu.
 
“Biarkan saja Miharu..bulannya bagus sekali malam ini..”
 
“Merajut lagi? Saifu?”, Miharu duduk disamping Saifu yang sudah selesai merajut sebuah sarung tangan berwarna merah.
 
“Semuanya berwarna merah…benang merah. Kau masih percaya dengan mimpimu itu?Lupakan saja …kau bisa-bisa terus tak punya pacar kalau percaya pada mimpimu itu”, Miharu menyesap kopi hangatnya itu.
 
“Miharu…sudahlah..aku malas membahasnya, kau tak mengerti”
 
“Mengerti apa? Aku hanya tak mau menjadi orang bodoh yang merajut semua hal berwarna merah,memimpikan pria benang merah atau apalah itu. Lupakan saja Saifu..”
 
Saifu berdiri , melipat tangan didepan dada sambil menatap Miharu ,”Berhenti Miharu! Itu urusanku!”,Saifu membawa keranjang benang wol,juga sarung tangan yang baru saja selesai dirajutnya.
 
“Kau gadis semibilan belas tahun terbodoh yang pernah kutemui~ “, ucap Miharu .
 
“Kau gadis, sembilan belas tahun paling cerewet yang pernah kutemui … Oyasumi, baka!!”, seru Saifu lalu masuk ke kamarnya.
 
“Aku hanya mengkhawatirkanmu Saifu…”,gumam Miharu,”benang…merah ..yah?”, Miharu menatap jari kelingkingnya lalu terkekeh,”baka..”
 
“Miharu baka…”,umpat Saifu pelan sambil menaruh sarung tangan tadi di tumpukan, sweter, syal, topi rajutan berwarna merah yang dibuatnya. Sesaat, gadis itu tertegun menatap semua yang sudah dirajutnya itu.
 
Biasanya, setiap gadis akan merajut untuk pacarnya. Dan setidaknya akan memberikannya untuk hadiah ulang tahun,valentine, atau hanya sekedar memberikan. Tapi, selama ini dia hanya bisa merajut tanpa bisa memberikan.
 
君はどこ …? ” , Saifu menatap jendelanya,lalu berjalan menuju jendelanya. Menyibak tirai, dan membuka jendelanya hingga kini dia bisa menatap bulan itu lagi.
 
私は ..ここだ …”, Saifu tersenyum sambil meletakkan tangannya di dada.
 
 
  ..ここだ …’
 
“Ehh??”, Daiki tiba-tiba tercekat. Dadanya rasanya berdenyut , kupingnya dengan jelas mendengar suara itu.
 
君はどこ ?”
 
“Daichan?Kau kenapa?Jangan membuatku takut ..”, Yamada menatap Daiki.
 
“A-aku…mendengar suara gadis itu lagi…”
 
“Ehh? Hntou? Dia bilang apa??”,tanya Yamada penasaran.
 
“Dia bilang…’Aku disini.’ Tapi, dimana?”, gumam Daiki bingung.
 
“Daichan..kau yakin gadis itu? Gadis bernama Saifu itu …. Gadis benang merahmu?”
 
“Eh?”, Daiki menatap Yamada,lalu mengangguk,”aku memang tak pernah bertemu dengannya. Seperti yang kuceritakan padamu tadi, aku hanya bertemu dengannya di mimpi. Dan baru bertemu gadis bernama Saifu itu, siang tadi. Tapi…”
 
“Tapi ,kau yakin gadis itu …gadis benang merahmu, だろう ?” ,potong Yamada sambil menatap Daiki yang mengangguk.
 
“Begini , Daichan…yang bisa kukatakan, sebaiknya kau temui gadis bernama Saifu untuk meyakinkanmu .Tapi,jangan sampai ketahuan yang lain atau pihak agency ,kau bisa dapat masalah kau tau?”
 
“Un…wakatta “
 
Yamada mengangguk,”Sudah malam dan besok kita ada pekerjaan…sebaiknya kita tidur, aku tak mau melihatmu tumbang lagi ”
 
“Un…aku tutup jendela dulu..”, Daiki bangkit dan menuju jendela kamarnya yang terbuka. Sesaat,pemuda itu menatap bulan lalu tersenyum simpul.
 
君のこと… 会いたいです ..”, lalu Daiki menutup jendelanya ,hingga dia tak bisa melihat bulan itu lagi.
 
Aa week after …
 
Member JUMP ,menyelesaikan latihan mereka dengan sempurna hari ini.Wajah-wajah lelah penuh keringat ,duduk di lantai sambil meneguk minuman mereka dan menyeka keringat mereka dengan handuk yang tersampir di leher mereka.
 
“Aku ingin ke Disney Land!”, seru Nakajima Yuto tiba-tiba, diikuti pandangan teman-temannya yang seakan mengatakan ‘Haaah?’
 
“Kenapa tiba-tiba sih?”, keluh Yamada.
 
“Memangnya kenapa? Kita selesai latihan siang kan? Jadi gamasalah…lagipula, ini kan bukan hari libur sekolah jadi pasti tidak begitu ramai “, kata Yuto .
 
“Yang lain memangnya mau?”, tanya Yuya .
 
“Onegaiiiiiiiiiiiiii~!!!! “, seru Yuto merajuk.
 
“Sudahlah ikuti saja kemauannya..”, putus Daiki,”Aku ganti baju dulu…”, pemuda itu bangkit dan berjalan menuju ruang ganti diikuti Chinen,Ryutarou,dan yang lain dibelakangnya.
 
 
“Ini soda-mu….”
 
“Arigatou, Miharu…”, Saifu mengambil minuman sodanya dan menyesapnya. Gadis itu tersenyum menatap kesekeliling Disney Land yang tidak terlalu ramai itu.
 
“Kenapa tiba-tiba mau ke DisneyLand sih?aneh sekali…”,Miharu menatap kesekeliling sambil bertopang dagu.
 
“Entah…aku hanya ingin kemari ,hehe…gapapa kan?Lagipula kita baru kembali ke jepang, kuliah kita juga baru mau dimulai minggu depan . Gamasalah kan? ” , Saifu berkata santai.
 
“Yagamasalah sih…yang jadi masalah, dari tadi kenapa kita tidak naik satupun wahana?”,tanya Miharu.
 
“Eh? Aku malas…”
 
“Saifu!!Kalau begitu ngapain kita disini??”
 
“Miharu, sudahlah jangan marah-marah terus … Aku ke toilet dulu yah?”, Saifu tersenyum dan meninggalkan Miharu yang geleng-geleng tak mengerti .
 
Saifu berjalan terburu-buru menuju toilet, dia sudah tak tahan untuk buang air kecil ditambah lagi udara terasa dingin hari ini.
 
“Toire~ toire…”,gumamnya pelan. Saifu terlalu buru-buru hingga dia tak sengaja tersandung sesuatu, hampir saja dia terdorong kedepan dan jatuh kalau saja sebuah tangan tak menarik tangannya.
 
“Eh..gomenasai..”, Saifu menatap orang yang menolongnya itu.
 
“Kau…”, ucap mereka berdua bersamaan.
 
“Daichan..disini kau rupanya, cepat kembali yang lain….”,Yamada menghentikan kalimatnya saat dia sadar ada seorang gadis yang kini saling tatap dengan Daiki.”Daichan….”
 
Daiki menoleh dan mengangguk kearah Yamada yang nampak terkejut,lalu menatap gadis itu dan tersenyum,”Kalau begitu biar kukatan pada yang lain kau pulang…jyaa , Daichan…Saifu-san..”
 
“Dia…tau..namaku?”, gumam Saifu pelan. Tapi Daiki bisa mendengar suara gadis itu.
 
“Eh..maaf itu…”,Daiki bingung harus berkata apa.
 
Saifu mengigit bibirnya gugup, dia pun tak tahu harus berkata apa pada pemuda di depannya itu. Sejak tadi dadanya sudah berdetak sangat cepat. ‘Kenapa sih aku?,pikirnya bingung.
 
“Ah..anou..mau temani aku bermain disini?”,tanya Daiki.
 
“E-eh…”
 
“Ka-kalau tak mau …”
 
“Un..aku mau..”, Saifu tersenyum,”tapi sebelumnya…”
 
“Sebelumnya?”
 
“Aku mau ke toilet dulu…”, Saifu menunjuk toilet yang ada beberapa meter dibelakang Daiki.
 
“A-ah!wakatta… “, Daiki mengangguk gugup sambil menatap Saifu yang berlari pelan menuju toilet, rambut ikal panjang gadis itu tertiup-tiup angin.
 
Daiki tersenyum, dia ingin sekali berteriak karena senang tapi coba ditahannya karena dia tak mau dirinya jadi pusat perhatian dan fans nya tau kalau dia ada di Disney Land ini bersama seorang gadis.
 
“Omatase …”, Saifu kembali dari toilet lalu tersenyum pada Daiki.
 
“Ayo…”, Daiki sebenarnya ingin sekali menggandeng tangan gadis yang berjalan disebelahnya itu, tapi diurungkannya. “Ah..aku , Arioka Daiki , kau?”
 
“Suzuki Saifu desu… “
 
“A-ah.. Suzuki-san…”
 
“Saifu saja… Daiki-san “, Saifu tersenyum ramah.
 
“Daiki saja ..”,Daiki tersenyum,”kau suka naik wahana apa?”,tanya Daiki sambil melihat lihat wahana, dirinya merapatkan topi dan syal dilehernya hingga setengah wajahnya kini tertutup syal.
 
“Kau kedinginan ?”,tanya Saifu heran.
 
“A-ah…iya..”, dalam hati Daiki berfikir,’tidak taukah gadis ini, siapa aku ini?’
 
“Sou…”
 
“Nee, Saifu-chan. Apa kau tak pernah ketaman bermain?”,tanya Daiki.
 
“Aku pernah kok, tapi di Korea. Sejak kecil aku tinggal di Korea dan baru kembali ke Jepang beberapa minggu lalu”,jelas Saifu,”Aku agak kesulitan membaca kanjii , tapi aku mengerti bahasa jepang dengan baik kok ”
 
‘Pantas saja dia tidak tahu aku..’,gumam Daiki dalam hati,”Ah..kau mau naik roller coaster?”
 
Etto–……”, Saifu tak bisa bilang kalau sebenarnya dia takut ketinggian, “ba-baiklah…”
 
“Kalau begitu …ayo..”, Daiki tersenyum lalu tanpa sadar menarik tangan gadis itu .
 
“Hei!kau lihat? Tadi member JUMP ada disini!!”, suara ribut gadis gadis muda yang bergerombol diantrian. Daiki berdiri cemas di samping Saifu, dia makin merapatkan syal yang dipakainya.
 
“Benar-benar…tapi kenapa hanya Daichan yang tak ada yaa?Aneh sekali..”, sahutt gadis yang satunya lagi,”padahal aku ingin lihat dia..”
 
“Sudahlah ,Ami..kita bisa lihat sembilan member JUMP ditaman bermain saja sudah untung.Yang lebih penting Yamachannnn kakkoi banget!!Kau lihat tadi?”, gadis yang satunya mengiyakan.
 
“Sa-saifu… Kita ke wahana lain saja..”, Daiki menggenggam tangan Saifu sambil berjalan menunduk melewati gadis-gadis yang mengantri dibelkangnya,’jangan sampai ketahuan…’, gumamnya dalam hati.
 
“Kau benar ..baik-baik saja?”, tanya Saifu saat mereka sudah duduk dibangku panjang.
 
“Ha-hai…aku hanya…”
 
“Kedinginan?”,tebak Saifu.
 
Daiki menggeleng,”Bukan…aku…”
 
“Yamachan…sayang sekali, Daichan pulang duluan yah…tapi,dia baik-baik saja kan?”
 
‘Su-suara Yuto…’,gumam Daiki dalam hati ,lalu pemuda itu menatap kesekeliling dan melihat Yuto dan Yamada yang duduk dibelakangnya , untung diantara bangku itu ada tanaman penghias ,jadi Yuto dan Yamada tak melihatnya.
 
“Kayaknya dia sakit lagi…jadi biar saja dia pulang”, ucap Yamada berbohong,lagian kan gamungkin dia bilang kalau Daiki sekarang sedang bersama gadis yang ditemuinya dimimpinya.
 
Yamada yang tengah menatap kebelakang tanpa sengaja kini saling tatap dengan Daiki yang menatapnya sekan mengatakan’Cepat..pergi…dari…sini!!’
 
Gelagapan Yamada menarik Yuto yang nampak bingung karena temannya itu tiba-tiba menariknya pergi.
 
“Untung saja…”, Daiki menghela nafas dan mengusap-usap dadanya. Saifu disampingnya terkekeh menatap sikap pemuda yang baru dikenalnya itu.
 
“E-eh..”, Daiki tersadar,”Maaf aku…..”
 
“Apa kau lari dari teman-temanmu? “,tebak Saifu.
 
“E-eh….”, Daiki menggaruk kepalanya ,”aku hanya tak ingin mereka menggodaku nanti karena melihatku bersama seorang gadis …”
 
“Memangnya berapa usiamu?masih takut digoda teman hanya karena jalan bersama seorang gadis ..”
 
“Dua puluh satu tahun… Sebenarnya sebentar lagi akan menjadi dua puluh dua”,jawab Daiki,”usiamu?”
 
“Lebih muda dari-mu …aku sembilan belas “, Saifu tersenyum manis.
 
“Sou …”, Daiki mengangguk-angguk.
 
“Ahh..kau mau permen?”, Saifu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan dua buah permen dari kantungnya.
 
“Ada yang terjatuh…”,kata Daiki sambil memungut sebuah benang merah yang lumayan panjang yang terjatuh dari kantung Saifu,”Benang…wol… “
 
“Arigatou..”, Saifu mengambil benang wol merah tersebut.
 
“Kau percaya …benang merah? Takdir …”, Saifu tersenyum sambil mengikatkan benar merah itu di jari kelingkingnya dan menatap jemarinya itu.
 
Daiki tercekat, mulutnya tak bisa lagi mengatakan apapun, matanya hanya bisa menatap gadis itu.
 
“Sejak kecil…aku bermimpi, tentang seorang bocah laki-laki yang saling terkait benang merahnya denganku..tapi, siapa dia? Dimana? Aku tak tau…”, Saifu tersenyum dan menatap Daiki,”Aku selalu percaya dia akan datang…tapi,kalaupun tidak… “
 
Saifu menggantung kalimatnya ,karena kini dia menangis,” Aku ingin sekali bertemu dengannya….”
 
Daiki mengambil ujung benang merah itu,lalu mengaitkannya di jari kelingkingnya. Saifu menatap pemuda dihadapannya itu tak mengerti.
 
“Ka-kau….”
 
“DAIKI!!”
 
Saifu dan Daiki menoleh kaget menatap, Yabu Kouta dan Yuya Takaki berlari terengah-engah,”ngapain kau disini?? Bukannya kau pulang? Keadaan gawat, para fans mengejar kita..kita harus segera pergi, ayo..!!”, Yabu menarik tangan Daiki.
 
“Yabu!! Tapi….”, Daiki menatap Saifu yang masih bingung dengan apa yang terjadi, benang merah yang terkait di jari kelingking Daiki terlepas , pemuda itu hanya bisa menatap Saifu yang tersenyum menatapnya.
 
“AKU AKAN MENEMUIMU LAGI, SAIFU!!”, seru Daiki yang berlari menjauh bersama kedua temannya.
 
“Mattemasu…”,gumam Saifu sambil tersenyum, tak lama dia melihat segerombolan gadis yang berteriak heboh mengejar Daiki dan kedua temannya itu.
 
“Saifu!! Yaampun ngapain kau disini?!! Aku menunggumu ditempat tadi, dan kau malah duduk merenung disini. Eh?kau? Menangis??”, Miharu menatap Saifu khawatir tapi gadis itu malah tersenyum sambil mengusap air matanya.
 
“Aku menemukannya…”,gumam Saifu pelan.
 
“Eh?”
 
“Pemuda benang merahku…”
 
“Saifu? Kepalamu terbentur dimana? Ayo pulang…”,Miharu menarik lengan Saifu, dan membawa gadis itu pergi.
 
“Yamaaachhhhaaaannnnnn!!!!”, Daiki masuk kedalam mobil van yang menjemput mereka di DisneyLand, gerombolan gadis sudah memadati kesekeliling mobil mereka.
 
“Daichan???bukannya kau pulang? “,yang lain menatap bingung pada Daiki yang terlihat sangat bahagia itu.
 
“Daiki kuperingatkan…kau melakukan hal yang sangat berbahaya tadi”, Yabu menatap Daiki,”Jalan bersama seorang gadis , ditaman bermain!! Kau fikir kita tak punya aturan tentang itu?? Kuharap kau tak mengulanginya lagi..”,peringat Yabu.
 
“Maaf…aku hanya….”,Daiki menggaruk kepalanya yang tak gatal, ” tak kebetulan bertemu dengan teman lamaku jadi…, maaf..”
 
“Sudahlah…”Potong Yamada,”yang penting semuanya aman, deshou?”,’kau harus ceritakan padaku apa yang terjadi’,bisik Yamada ditelinga Daiki yang mengacungkan jempolnya.
 
“Miharu!! Sebentar!!”, Saifu menyetopkan taxi yang mereka naiki dan berhenti disebuah toko buku,”Aku mau beli buku…”
 
“Baiklah..baiklah…”, Miharu membayar ongkos taxi dan mengikuti Saifu masuk kedalam toko buku.
 
“Mau beli buku apa…eh? Majalah?”
 
“Un..”, Saifu melihat-lihat tumpukan majalah yang dipajang ,”Ahh!!! Ini dia!!”, Saifu menunjuk seseorang yang menjadi cover majalah sebuah majalah.
 
“Kau suka boyband?”,tanya Miharu heran.
 
“Aku suka orangnya…”, jawab Saifu lalu berjalan kearah kasir, sambil memeluk majalah tersebut dan tersenyum.
 
‘Akhirnya..aku menemukanmu…’, gumam Saifu dalam hati.
 
—-
 
“Ehhh??? Benarkah ? Gadis itu juga bermimpi sama sepertimu?”,tanya Yamada tak percaya. Sekarang mereka ada di kamar Daiki.
 
“Iyah! Aku kaget sekali saat dia menceritakan tentang mimpinya…sayangnya, sebelum sempat aku mengatakan apapun, Yabu-kun dan Yuya datang..”
 
“Kau tau dimana gadis itu tinggal?”,tanya Yamada,”kau bilang,gadis itu baru pulang kejepang kan? Kemungkinan kecil dia tau kau …”
 
“Aku berharap bertemu dengannya di waktu dekat..”
 
“Semoga saja saat ulang tahunmu…manis sekali kan? Bertemu gadis benang merah di hari ulang tahunmu? Dua hari lagi kan?Kau tambah tua, Daichan..”
 
“Yah…aku berharap bertemu dengannya..,semoga saja ..”
 
“Kuharap begitu…sudah malam, ayo tidur”,seru Yamada.
 
“Un…”
 
15April
 
Saifu tersenyum puas saat cheese cake yang dibuatnya terpanggang dengan sempurna. Gadis itu menghias kuenya dengan strawberry segar yang dibelinya semalam di super market.
 
“Aku harus segera pergi….”,gumam Saifu,”jangan sampai Miharu bangun…”,Saifu keluar dari apartemennya dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara berisik.
 
Saifu hari ini berniat pergi kesebuah gedung agency, yang dia tau dari majalah yang dibelinya beberapa hari lalu. Tempat , Arioka Daiki berada. Setidaknya hanya tempat itu yang bisa gadis itu tuju ,karena kemungkinan besar pemuda itu ada disana.
 
Saifu baru saja turun dari taxi, saat dilihatnya banyak gerombolan gadis yang membawa uchiwa besar bergambar Daiki dan membawa banyak kado. Yaa, memang tepat hari ini Daiki Arioka berulang tahun. Dan sudah sewajarnya , artis seperti Daiki mempunyai banyak penggemar.
 
“Sasuga…. Ramai sekali…”,gumam Saifu .
 
“KYYYYYAAAA~ Mereka datang!!!”
 
Saifu mendengar jeritan para gadis itu,lalu menatap sebuah mobil van yang berhenti. Satu per satu pria yang ada di mobil itu turun dengan senyum dan lambaiaan tangan yang menyapa para penggemar.
 
“Daiki….”, Saifu bisa melihat sosok Daiki yang tersenyum ramah pada para fansnya.
 
“DAIKI!!”, Saifu mencoba memanggil Daiki, tapi suaranya tenggelam bersama suara ribut gadis-gadis itu .
 
Saifu menatap Daiki yang semakin menjauh dengan putus asa, seberapa kuatpun dia memanggail Daiki tak juga menoleh,”Ah–“, Saifu tersadar,”BENANG MERAH–!!”, teriak Saifu.
 
“Eh?”, Daiki menatap kesekeliling lalu menemukan Saifu yang terengah-engah tefsenyum menatapnya. “Saifu…”,gumamnya pelan.
 
Yamada mengkuti arah pandang Daiki, dan menemukan Saifu ,”Daichan kita harus masuk…”,bisik Yamada lalu menarik lengan Daiki masuk. Tak rela , Daiki mengikuti Yamada tapi matanya masih saling pandang dengan Saifu hingga kedua tak bisa saling melihat lagi.
 
“Bodohnya aku….”,gumam Saifu.
 
——
 
“Aku harus segera pergi , Yamachan!”, seru Daiki.
 
“Daichan..dengarkan aku, tidak bisa sekarang. Semuanya pasti akan bertanya , dan bagaimana aku harus menjawab??”
 
“Jawab apa saja, kalau dia pergi ..aku…”
 
“Sedang apa kalian?”, tanya Yuya yang menghampiri Daiki dan Yamada yang berbicara dipojok ruangan.
 
“Ti-tidak..hanya….”
 
“Hanya….. Apa?”, tanya Yuya.
 
“Daichann!! Ikut sebentar ….”, Chinen menghampiri dan menarik tangan Daiki , Yamada dan Yuya mengikuti dibelakang.
 
“OTANJOUBIOMEDETOU~ !!”, seru yang lain bersamaan , Yuto membawa cake ukuran sedang dengan lilin angka dua puluh dua .
 
“Minna…”, Daiki tersenyum.”Arigatou….”
 
“Selesai latihan nanti..kita rayakan yaa?”,Ryutarou menatap yang lainnya yang mengangguk mengiyakan.
 
“Daichan… Ayo, tiup lilinnya “, perintah Inoo.
 
“Tapi sebelumnya ucapkan dulu permohonanmu…”, sela Yabu.
 
Daiki tersenyum,”Hanya satu yang kuinginkan…”,Daiki memejamkan matanya, lalu berdoa dalam hati,”Aku pergi sekarang!”, tanpa mendengarkan apa kata yang lain Daiki berlari pergi sambil membawa mantel dan topinya.
 
“DAICHAN–!! Mau kemana?!!”, seru Yabu heran.
 
Yamada tersenyum simpul,”Biarkan saja..dia sedang membuat keinginannya jadi nyata”
 
Member JUMP yang lain menatap Yamada bingung , sedangkan pemuda itu dengan santainya melahap strawberry yang ada di cake ulang tahun Daiki,”Umai~..ayo kita makan kuenya”
 
“Jangan pergi…kumohon jangan pergi dulu…”, gumam Daiki dalam hati. Kakinya terus berlari, matanya menatap kesekeliling, gadis itu tetap tak bisa ditemukan.”Dimana dia?”,gumam Daiki pelan sambil terengah-engah.
 
“A-ahh!!!”, Daiki ingat suatu tempat, “TAXI!!”
 
 
Dingin…..”, Saifu merapatkan syal merahnya, mencoba membuat dirinya lebih hangat. Matanya menatap kantung kertas berisi kotak kue yang tadi pagi dibuatnya,”Otanjoubiomedetou….”
 
“KETEMU!! “
 
Saifu mendongak,menatap Arioka Daiki yang berlari dengan terengah-engah menhampirinya. “Sudah kukira…kau ada disini..”, Daiki duduk disamping Saifu, dibangku taman bermain tempat terakhir kali mereka bertemu.
 
“Ka-kau…kenapa disini?kalau ada yang lihat kita…”
 
“Kau..sudah,tau aku?”,tanya Daiki dengan nafas tersenggal senggal habis berlari.
 
“Un… Arioka Daiki member boyband paling terkenal se-Jepang, yakan? Pemain film dan bintang iklan.. Tidak seharusnya kau,bersamaku disini..”
 
“Dengar…”, Daiki menarik tubuh Saifu kedalam pelukan,”tak peduli siapa aku, siapa kau atau apapun itu…aku tak peduli lagi!! Aku sudah menemukanmu dan jangan harap aku mau melepasmu!!”
 
“Daiki….”
 
“Aku…menemukanmu….”, Daiki tersenyum sambil menatap Saifu.
 
Saifu hanya bisa terdiam, terlalu bahagia sampai -sampai tak tahu harus berkata apa. “Ta-tapi…. Kau belum boleh memiliki pacar kan?”
 
“Kalau tak ketahuan tidak apa-apa…”,jawab Daiki sambil menjulurkan lidahnya.
 
“A-ah! Anou…”, Saifu membuka kotak kuenya,”Otanjoubiomedetou…aku tak tahu ini enak atau tidak tapi…”
 
Daiki langsung memakan kue itu dengan tangannya,”Enak…”, Daiki tersenyum,”Arigatou…”
 
“Kau mau ?”, Daiki mencomot potongan kue dengan tangannya ,hendak menyuapi Saifu. Tapi, Daiki malah memakan kue itu sendiri.
 
“Daiki..”, Saifu manyun .
 
“Kau mau kuenya?”, Daiki menatap kesekeliling,lalu merengkuh wajah gadis itu, menempelkan bibirnya.
 
“Enak kan?”, Daiki tersenyum sambil menatap wajah Saifu yang bersemu merah.
 
“Ba-bagaimana kalau dilihat orang?”
 
“Kalau tak dilihat…tak masalah kan?”, Daiki kembali merengkuh wajah Saifu, keduanya saling memejamkan mata ,berbagi ciuman hangat.
 
“A-ahh…aku punya sesuatu…”,Saifu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan benang wol merah. Gadis itu mengikatkan ujang benang itu di kelingkingnya, sedangakn ujung yang satunya diikatkan dijari kelingkin Daiki.
 
“Tadaima … 私のうんめいの人…”,Daiki tersenyum sambil menatap Saifu yang tersenyum lembut.
 
“Okaeri…..私のうんめいの人..”
 
 
The End~ …
OTANOME~ WATASHII UNMEI NO HITO ARIOKA DAIKI~ !! Maaf gaje , but coment aree LOVE minna ~ !!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s