[Oneshot] Hotarubi no Yozora e

| PG-15 | Historical | Romace | Drama | Angst | Tragedy |

.
Takaki Yuya and Yaotome Hikaru are members of Johnny’s Entertainment’s Hey! Say! Jump.
Hideyoshi Sora, an OC belongs to Dinchan Tegoshi.
.

Hotarubi no Yozora e
a fanfiction by Nu Niimura

.o.

Di tengah carut marut negara yang membuat setiap orang sulit membuat keputusan. Mereka menemukan tujuan dalam diri satu sama lain.

Bakufu. Ketika kaisar hanya dijadikan simbol dan formalitas sementara kekuasaan yang sebenarnya dipegang oleh shougun. Bakufu Tokugawa. Ketika awalnya Jepang berada dalam keadaan aman, sebelum akhirnya dibawa jatuh akibat ketidaksanggupan menghadapi invasi asing.

Kyoto, Bulan 6 Tahun Genji 1[1].

Takaki Yuya selalu menyukai langit, selain menjadi petunjuk waktu, gradasinya menyimpan melankoli tersendiri. Kala itu musim panas. Ketika malam diterangi sinar bulan dan dimeriahkan nyanyian jangkrik. Di tepi sungai, Takaki Yuya bertemu dengan seorang yang tiba-tiba membuat isi kepalanya dipenuhi berbait haiku[2].

“Hey, apa yang kau lakukan malam-malam begini di tepi sungai? Jangan bilang kalau kau akan…”

Si hakama kelabu menoleh, menyipitkan mata ketika menatap Yuya, “Apa urusanmu, Bung?“

“Ah, tidak ada…“ Balas Yuya hati-hati.

“Memangnya aku terlihat seperti akan bunuh diri? Huh!“ Jawabnya ketus “Kau sendiri, apa yang kau lakukan tengah malam begini?“

“Tidak ada yang benar-benar kulakukan. Hanya menghabiskan saat-saat melankolis.”

Dari pakaiannya, jelas ia seorang pria. Tapi siapapun pasti akan berpendapat bahwa wajahnya manis seperti gadis belia. Rambutnya diikat ke belakang kepala, panjang dan sedikit bergelombang –bukan tipikal penduduk Kyoto pada umumnya. Meskipun dengan cahaya seadanya, Yuya bisa melihat rona kemerahan alami di wajahnya.

“Hanya mengenang masa bahagia. Aku lahir dan dibesarkan di kota ini.” Lanjut Yuya tanpa ditanya “Tapi beberapa waktu lalu ada yang membuat aku mengikuti ayah angkatku pergi meninggalkan Kyoto[3]. Kota ini punya begitu banyak hal untuk dirindukan. Termasuk sinar bulan yang terlihat bagus dari sudut ini.”

“Memangnya aku ingin tahu.”

“Namaku Takaki Yuya…”

“Aku Sora, kalau kau ingin tahu.”

“Sora…“

“Ya. Panggil saja begitu.“

Ada sesuatu yang tak pernah bisa diungkapkan puisi.
Kala aku berharap jadi kunang-kunang dan kau adalah langit malam.
Biarkan aku berlama-lama memandangmu, langitku.

Ketika shougun tidak lagi dianggap mampu mengatasi invasi asing, timbul perpecahan pendapat dan ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan politikus. Para anggota kelas bushi[4] yang umumnya berasal dari Satsuma dan Chousuu menginginkan kekuasaan dikembalikan pada kaisar secara penuh. Dan saat itu, berkumandang semboyan ‘Sonnou-Joui! [5]’

Sunyi malam meneduhkan sayap-sayap lelah, sedang aku cuma punya secercah nyala sebagai balasnya.
Biarkan aku memelukmu, langitku.

Harusnya Takaki Yuya tidak memberi tahu nama aslinya. Ia tak sepenuhnya sedang menikmati waktu jalan-jalan malam, tapi juga untuk mencari informasi tentang Kyoto, membawa pulang rahasia-rahasia, menjadi mata-mata yang tak sepenuhnya kasat mata. Sesuatu dalam dirinya memberitahu bahwa tidak ada yang harus ditutupi pada Sora, tapi instingnya mengatakan bahwa pemuda manis itu juga menyimpan banyak rahasia.

Berumur dua puluh tiga tahun. Berbadan tegap dengan rambut kecoklatan sebahu yang diikat ke belakang. Tanpa sebilah pedang di pinggangnya, Takaki Yuya terlihat seperti seorang pria Kyoto biasa, seperti saat semuanya bermula. Dimana ia hanya bocah lelaki yang biasa berlarian di jalanan Masuya, melewati toko kembang gula dan sebagainya. Sebelum orang tuanya dipenggal dengan tragis oleh orang-orang yang mengaku rounin[6] dari Mibu –Miburou[7], ketika itu usianya belum genap dua belas. Yuya kecil tak mengerti keterlibatam kedua orang tuanya dan kenapa mereka harus dibunuh, yang ia tahu pasti bahwa ia kini sebatang kara.

Mereka bilang, orang-orang berubah dengan cepat. Kini Yuya adalah seorang bushi, menjadi bagian dari idealisme kembalikan-kekuasan-kaisar ayah angkatnya –seorang petinggi yang sepuluh tahun lalu ‘mengasuh’ dan melatih nya. Sebelum matahari terbit nanti, ia harus segera pulang membawa pulang informasi-informasi, ke Chousuu.

Jika kedua tangan ini bebas, aku ingin mendekapmu.
Jika raga ini hanya milikku, aku ingin diterbangkan angin menuju luasmu.
Biarkan kuresapi teduhmu, langitku.

Hideyoshi Sora menenteng geta di tangan, berjalan mengendap sepanjang koridor menuju kamarnya.

“Selamat…“ Sora menghembuskan napas lega, seraya menjatuhkan diri di futon dan melonggarkan bebat ketat yang sejak tadi melingkari dadanya.

Harusnya Hideyoshi Sora tidur pulas sejak enam atau lima jam lalu, ia dijadwalkan berlatih ikebana pagi nanti. Tapi ia justru menyamar jadi laki-laki, diam-diam keluar dari rumah dan berkeluyuran di kota. Ia ingin sedikit menikmati kebebasan. Menjadi putri seorang bangsawan membuatnya merasakan hidup yang bagai berada dalam sangkar besi.

Sora. Nama yang lumrah disandang perempuan maupun laki-laki. Sang ayah merupakan bangsawan pro-bakufu, menginginkan seorang putra yang kelak akan menjadi bushi tangguh yang bisa melindungi ibu kota bahkan negara, hidup dengan penuh wibawa dan mati sebagai kesatria. Hingga saat ia tahu sang ibu tak bisa melahirkan anak kedua, tak ada satu dojo-pun yang mau menerima anak perempuan seperti dirinya.

Harusnya Sora tidur. Harusnya. Jika saja senyuman pemuda bernama Takaki Yuya yang ditemuinya di tepi sungai tadi tidak membayangi setiap kali ia mencoba pejamkan mata. Jika saja suara yang dalam dan cara bicaranya yang ‘aneh’ itu tidak menggema di kepala setiap kali Sora membayangkan lompatan satu ekor domba.

Setelah upaya ekstrem dalam gerakan anti orang asing dalam peristiwa Bunkyuu Sannen Hachigatsu Juuhachinichi no Seihen pada tanggal 18 bulan 8 tahun Bunkyuu 3[8], gerbang istana kekaisaran Koumei yang asalnya didominasi orang-orang Choshuu direbut oleh pasukan gabungan Satsuma dan Aizu. Sejumlah besar pasukan, para ekstrimis dan bangsawan Choushuu terusir dari ibu kota.

Dari langit malam, aku belajar sesuatu.
Menemukan cinta yang hanya sejengkal jauh dari kelam kesedihan.
Redamlah piluku, langitku.

“Jadi apa yang kau lakukan ketika tidak keluar untuk jalan-jalan malam, Yuya?”

“Begitulah. Hal-hal biasa seperti menuang sake untuk ayahku…”

“Sou…” Balas Sora singkat.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan? Ceritakan tentang dirimu.“

“Tidak ada yang menarik.“

“Benarkah? Hmm, apakah kau pernah berpikir untuk menikahi seorang gadis, Sora? Menjadi suami dan membesarkan anak-anak…“

“Aku tak pernah memikirkannya.“

“Aku selalu memikirkannya, Sora.

Jika jarak kita tak ada sehasta, harusnya aku bisa memelukmu.
Jika lidah ini bisa mengucap selain dusta, harusnya bisa kusampaikan perasaanku.
Cintai aku, langitku.

Takaki Yuya tak menyadari sejak kapan ia punya jadwal tak resmi, menemui Sora ketika selesai menjalankan misi. Bibir cemberutnya seakan lengkapi hari.

“Hey, Yuya. Kenapa kita harus bertemu malam-malam begini? Apa kau terlalu sibuk saat siang hari?” Pertanyaan bodoh dari Sora yang kala itu sedang berbaring diatas rumput hijau dengan Yuya di sebelahnya.

“Kau dan siang hari adalah dua hal yang tak ingin kuletakkan dalam satu konteks bersama…“

“Huh?“

“Aku tidak suka siang hari, terlebih lagi langit yang berwarna biru, aku benci warna biru.“

“Kalau kau benci siang hari dan tidak mau menempatkanku pada konteks yang sama, apa itu berarti kau menyukaiku? Hahaha, kalimatmu sering terdengar menggelikan, Yuya!“

Yuya tak menjawab, hanya menolehkan kepala kearah Sora. Dan ketika jemari pemuda itu menarik dagu Sora, mata mereka bertatapan. Yuya berharap menemukan kobar api, tapi ia hanya melihat bara yang dipaksa padam. Yuya menyukai mata Sora yang segelap langit malam. Ia menyukai warna gelap. Seperti langit malam ketika ia mengantongi rahasia-rahasia yang akan menghasilkan sungging senyuman ayahnya. Seperti saat ia bertemu Sora. Dan Sora itu sendiri. Ia membenci warna biru. Seperti langit siang ketika orang tuanya dibawa pergi dan berakhir dengan eksekusi. Terlebih, warna biru mengingatkannya pada haori kebanggaan para serigala Mibu yang dikutuknya hingga ke jurang neraka.

Kala biru hanya menyirat haru, kutemukan syahdu di kelam matamu.
Tetaplah bersamaku, langitku.

“A, apa yang kau lakukan?“ Tanya Sora canggung.

Tak ada yang jadi jawaban selain dua pasang bibir yang bersentuhan. Terasa hangat ditengah dingin udara malam. Hanya ada desau angin dan nyanyian jangkrik penuh harmoni jadi iringan.

“Bodoh! Apa yang lakukan, Yuya?!“ Sora mendorong tubuh Yuya menjauh, gelagapan. Rona merah alami diwajahnya tampak lebih nyata.

“Aku hanya menjawab pertanyaanmu. Tadi kau bertanya apa aku menyukaimu, kan?“ Balas si pemuda, lebih terkesan retoris.

“Seharusnya tidak begini! Kau tidak boleh melakukannya karena…“

“Karena apa? Karena kau laki-laki? Aku bukan orang yang peduli pada hal-hal seperti itu, Sora.“

“Aku tak akan menemuimu lagi, Yuya!“

Hideyohi Sora ingin menetralkan semuanya dan kembali mencairkan suasana. Jika saja, jika saja setiap gestur tubuh dan tatapan mata Takaki Yuya tidak membuat jantungnya berdetak secepat kuda yang ditarik tali kekangnya, ia masih akan bertahan di sisi sungai itu lebih lama dan kembali bercakap dengan si pemuda. Tapi nyatanya, ia hanya bisa melarikan diri, melangkahkan kaki sejauh yang ia bisa.

Kata orang, jatuh cinta terindah adalah yang terjadi dengan alami dan tiba-tiba. Layaknya kunang-kunang pada gelap malam, tak pernah memilih lagi bertanya kenapa.

Demi kelam yang mampu melarutkan segala pilu, rela kuselam kolam air mata.
Sambutlah tangan ini, langitku.

Ibukota menyebutnya Ikeda-ya Jihen, tapi para kesatria Sonnou-Joui mengenang malam tanggal 5 bulan 6 tahun Genji 1[9] sebagai ratap tangis. Rencana mereka tercium oleh Shinsengumi, dan para anti-bakufu yang kebanyakan berasal dari Chousuu menjadi saksi dan korban tumpahnya darah kaum mereka diatas biru seragam para serigala Mibu. Tapi demi kekuasaan kaisar, sampai kapanpun, dengan cara apapun, pasukan Chousuu akan mengembalikan keberadaan mereka di ibu kota.

Malam itu untuk kesekian kalinya Sora berhasil keluar rumah sembunyi-sembunyi. Berjalan melalui deretan toko dan gang-gang sempit. Langkahnya terhenti ketika salah satu tali sandal yang dikenakannya putus.

“Menyebalkan!“ Keluh Sora. Sora mengkategorikan putus-tali-sandal sebagai suatu yang identik dengan seorang yang bernama Hikaru. Sahabat lekatnya sedari balita, putra teman baik ayahnya. Dulu mereka sering bermain bersama, bocah ceria itu selalu rela membungkuk untuk memperbaiki sandal Sora ketika gadis itu tak sengaja membuatnya putus. Tapi seiring waktu, Hikaru lebih sering menghabiskan waktu di dojo. Selalu bercerita tentang kebanggaan setengah mati terhadap aliran ilmu berpedangnya tiap kali bertemu.

“Hey! Jangan menghalangi jalan!“ Umpat seseorang ketika hampir menubruk Sora di jalan. Sora tak habis pikir, masih ada saja orang yang tampak sibuk di malam selarut ini.

Sora hanya memasang tampang cemberut dan menyeret kakinya menuju gang terdekat yang tak dilalui pejalan kaki. Berharap bisa memperbaiki sandal sebaik yang biasa dilakukan Hikaru.

“Demi apa Hikka, aku berharap kau ada disi…“ Gumaman Sora terhenti ketika mendengar percakapan beberapa orang dari belakang bangunan yang diingatnya sebagai toko kain.

“Aku tidak menyangka mereka mengirimkan mata-mata seperti dirimu, anak muda. Kupikir yang datang adalah wanita cantik menggoda. Tapi tak masalah, sesi interogasinya pasti tak akan kalah menyenangkan…“ Terdengar suara berat seorang pria yang diselingi dengungan suara pria-pria lainnya.

‘Percakapan macam apa itu? Mata-mata?‘ Sora berusaha sebisa mungkin menyembunyikan diri. Menghindari kemungkinan dari keterlibatan dengan percakapan yang sertamerta diterjemahkannya sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan… berbahaya.

“Oh, jadi kalian bilang kalau kalian dari Mibu…“ Balas suara itu dengan nada tenang.

Jantung Sora mencelos. Aksen itu, dan karakter suaranya yang berat mengingatkan Sora pada seorang yang kini sudah tak lagi asing. “Tidak mungkin…“

Seperti angin malam yang menyayat ngilu, mungkin seperti itu cara untuk cinta kita dijatuhkan.
Berdamailah dengan lara iri, langitku.

“Katakan padaku, betapa kalian membenci ayunan pedang seperti ini…“ Lanjut suara itu.

Dari tempatnya mengintip, Sora bisa melihat bahwa pemuda yang tadi jadi objek keroyok pria-pria yang lebih tua itu dengan sekejap mengeluarkan dua pedang pendek dari balik haorinya. Secepat kilat. Membuat setiap tebasan yang dibuatnya terlihat seperti rangkaian tarian yang dipercepat. Dengan rona warna merah darah sebagai latar dan jerit meregang maut tentu saja. Serangan lawan-lawannya bagai tak berarti.

Pemuda itu menjadi satu-satunya yang berdiri tegap diantara tumpukan mayat. Dengan tanpa ekspresi ia menghabisi beberapa orang sekejap mata. Darah segar berlumuran di sekujur tubuhnya.

“Sial.” Pemuda itu menyeka darah di wajah dengan lengan haorinya.”Aku jadi tidak bisa pulang mengenakan pakaian ini. Padahal ayahku bilang aku tampak bagus dengan warna ini…” Ujarnya pada diri sendiri.

Takaki Yuya. Orang yang biasa menemani Sora mengobrol sambil menatap bulan. Yang biasa menabur tawa renyah tiap kali bercerita. Dengan sosoknya kini, dua pedang di kedua tangan, ia bagai bukan orang yang sama. Sora masih ingin meyakini, bahwa wajah itu adalah yang biasa menawarkan senyum persahabatan, bukannya ekspresi sinis setelah membantai beberapa orang tanpa beban. Saat itu, tak ada Yuya. Sora hanya bisa melihat iblis.

Kesedihan adalah ketika kau hanya diciptakan sebagai sesuatu yang tak pernah dapat kuraih.
Maafkan aku, langitku.

Tak berpikir lagi, Sora hanya berlari telanjang kaki. Telinga Yuya sudah terbiasa terlalu peka, tak mungkin langkah kaki serampangan itu tak didengarnya. Meski nafasnya kini sesak dan memburu, Sora ingin terus berlari menjauh. Tapi mual diperutnya kian tak tertahankan. Ingatan singkat tentang pemandangan yang baru disaksikan Sora, membuat ia memuntahkan makan malamnya.

Dan untuk Yuya, ia merasakan sesuatu yang buruk. Pagi ini ia tak akan pulang menghadap sang ayah dengan prestasi segemilang biasa. Dan lagi, ia malam ini tak bisa menemui Sora. Gadis yang berjalan-jalan dengan pakaian pria. Yuya tahu Sora merahasiakan identitasnya, tapi hanya butuh pandangan bagi sang pemuda untuk jatuh cinta.

Seperti hujan yang diturunkan langit, tak ada cinta yang jatuh sia-sia.
Dengarlah aku, langitku.

Tingginya perdu kadang bisa digunakan untuk sembunyikan pilu. Dengan membuang semua rasa peduli, Hideyoshi Sora sembunyi-sembunyi menenggak sake pertamanya. Terasa membakar tenggorokan, tapi cukup untuk menahan air mata.

“Jangan minum lagi, aku yakin kau tidak terbiasa minum sake.” Walau dengan kepalanya yang terasa pening luar biasa, Sora bisa mendengar suara itu dengan jelas, bersama dengan sepasang tangan yang menahan kedua lengannya dari belakang tubuh Sora.

“Biarkan aku!“

“Tidak akan.“

“Lepaskan aku!“

“Dengar aku, Sora! Apa yang terjadi padamu?“

“Aku… aku… aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi.“

Hati Sora masih hancur mengingat keputusan ayahnya mengenai perjodohannya dengan putra salah satu petinggi bakufu. Peduli setan dengan kebebasan, sejak awal Sora memang tak pernah memilikinya, perasaannya hancur justru karena ia tak bisa lagi melihat Yuya. Padahal kemarin Sora masih merinding hanya dengan mengingat namanya, tapi entah kenapa perasaannya mendadak berubah egois untuk melihat Yuya sebagai seorang yang ditemuinya hampir setiap malam. Sora merindukan tawa renyah Yuya, merindukan aksen uniknya, merindukan senyumnya yang bersahabat, bahkan merindukan ciumannya yang lembut dan hangat.

“Biarkan aku bersikap semauku kali ini saja…“ gumam Sora ditengah isaknya, “Peluk aku, Yuya.“

“Tentu.“

Tak ada yang banyak terdengar kala itu, hanya suara jangkrik, desauan angin dan isakkan Hideyoshi Sora.Takaki Yuya terus memeluk tubuh rapuh itu tanpa sekalipun melonggarkannya. Beberapa saat lalu kedua tangannya masih memegang pedang berlumur darah, tapi kini ia mendekap tubuh Sora yang terlihat ringkih dan tak berdosa. Hatinya terasa sakit menyadari kenyataan itu.

Malam itu Yuya datang dengan rencana yang akan dikatakannya pada Sora, tapi betapa ia tak menyangka akan menemukan Sora dalam keadaan mabuk dan banjir air mata, kini ia hanya bisa menunggu Sora menjadi tenang dalam pelukannya.

“Etoo…“ Yuya mulai buka suara.

“Kau sudah akan pergi, Yuya? Jangan menyesal, mungkin setelah ini aku tak akan menemuimu lagi.”

“Larilah bersamaku, Osora[10].“

Rasa sakit akan kehilanganmu, lebih kelam dan dingin daripada pekat malam.
Hingga aku tak lagi takut mati.
Resapi kepedihan ini, langitku.

Kepala Sora memang masih terasa berdenyut pening, tapi ia bisa dengan jelas mencerna apa yang dikatakan Yuya.
Pertama, pemuda itu mengajaknya melarikan diri bersama.

Kedua, Yuya memanggilnya ‘Osora‘. Dengan kata lain, penyamarannya sudah ketahuan.

“Yu, Yuya… kau… tahu aku…?”

“Tentu saja, Osora. Mana mungkin aku percaya bahwa makhluk secantik ini adalah lelaki yang berjalan-jalan tanpa tujuan di malam hari.“

“Ke, kenapa kau tidak mengata…“

“Aku sudah menyadarinya sejak pertama kali kita bertemu, ada sesuatu yang berbeda dari caramu menatapku. Itu bukan tatapan seorang lelaki pada lelaki lainnya, tapi tatapan seorang gadis yang minta kutarik kedalam pelukan.“

Sora tak bisa memutuskan harus tersipu atau marah akan kalimat Yuya yang terkesan seperti rayuan, ia hanya membalikan tubuh dan memeluk pemuda itu, berharap pagi tak akan pernah datang. “Baka!“

“Aku serius untuk mengajakmu lari bersamaku. Besok malam kelompokku akan melakukan penyerangan, kami akan mengembalikan keberadaan kami di Kyoto. Jika aku bisa membawa kemenangan bagi kelompokku, maka ayahku akan melepaskanku. Dan aku akan membawamu ke tempat yang jauh dari Kyoto. Kita tak akan lagi mengenal peperangan, pedang atau pertumpahan darah. Hanya ada kau dan aku.“

“A, apa maksudmu…?“

“Pagi hari, tanggal 20 bulan 7 tahun Genji 1. Nantikan aku, kenakan shiromuku[11] ini dan aku akan membawamu pergi, sebagai istriku.”

Tak bisa menjawab, Sora hanya memandang benda yang diberikan Yuya dengan tatapan tak percaya. Ia bahkan tak mengkonfirmasi kalimat Yuya, tentang yang ia sebut dengan ‘kami’ atau ‘kelompokku’.

“Sora, maukah kau menjadi istriku?”

“Y, ya…”

“Menghabiskan waktu bersamaku sampai hari terakhir kita.”

“Ya, ya. Tentu saja.“

Di balik dekapan ini, ada kesedihan. Bagai malam dingin tanpa janji akan datangnya fajar.
Nantikan aku, langitku.

Efek sari sake dan kata-kata Yuya benar-benar isi membuat kepala Sora berantakan. Matanya masih sembab karena kantuk dan air mata. Tapi pandangannya mendadak jernih ketika ia menemukan sang ayah dan sahabat sedari kecilnya, Yaotome Hikaru menyambutnya ketika mengendap-endap memasuki rumah seperti biasa.

“A, ayah? Hikka?“

“Kerja bagus, putraku. Ah, maksudku, putriku yang menyamar. Aku tidak menyangka selama ini kau mengisi tempat tidurmu dengan bantal karena ingin pergi ke luar memata-matai musuh ayahmu.“ Ucap sang ayah dengan nada bangga.

“A, apa maksud ayah?” Tanya Sora berusaha tidak terdengar gemetar, seerat mungkin menyembunyikan shiromuku yang dilipat di balik hakama.

“Pemuda Choushuu itu. Rencana penyerangan sebelum tanggal 20 bulan 7 tahun Genji 1. Karena jasamu kita tahu rencana mereka, pihak kita akan mengulang kemenangan Ikeda-ya Jihen. Demi shogun, demi bakufu, tak akan kami biarkan mereka kembali menginjakkan kaki ke Kyoto.”

Saat itu pandangan Sora gelap dan ia seakan tak punya energi untuk sekedar berdiri. Kenyataan itu tentu tidak bisa dengan mudah diterima. Pemuda yang menawarkan kata cinta dan hidup bahagia adalah musuh yang akan mengobarkan perang bagi pihak ayahnya.

“Sora!” Hikaru dengan cekatan menangkap tubuh lemas Sora sebelum gadis itu membentur lantai kayu.

“Bawa dia ke kamarnya, Hikaru. Mulai hari ini Sora tidak diijinkan keluar dari rumah karena dia akan menjalani latihan untuk jadi seorang istri.”

Hikaru mengiyakan, kemudian memapah Sora ke kamarnya seperti yang diperintahkan.

“Sampaikan kabar ini pada Shinsengumi, juga pasukan Satsuma dan Aizu!“ Sora bisa mendengar titah lantang yang keluar dari mulut sang ayah, dan ia paham betul apa artinya.

Sebelum pintu digeser tertutup, Hikaru membisikkan sesuatu di telinga Sora, dengan nada yang lembut dan perih disaat bersamaan.

“Maafkan aku, Sora. Aku tak bisa mengatakan pada ayahmu tentang shiromuku dan rencanamu kawin lari dengan orang Choushuu itu. Tapi bersyukurlah karena tidak setiap gadis bisa membawa kemenangan untuk kelompoknya. Kau adalah pahlawan dari kemenangan bakufu kali ini, Sora. Terima kasih.“

Srakk-

Pintu ditutup, memisahkan tatapan putus asa Sora dari sorot mata Hikaru yang dulu jenaka kini berubah haus darah. Seorang sahabat, telah memata-matainya.
Bunyi itu terdengar lebih menyakitkan daripada eksekusi.

Hamaguri Gomon atau Kimmon no Jihen. Tanggal 19 bulan 7 tahun Genji 1[12], pasukan Choushuu menyerang masuk ke Kyoto[13] dan berkobar perang besar melawan pasukan gabungan Satsuma, Aizu dan Kuwana –dibantu Shinsengumi. Kebakaran besar merusak hingga 30.000 bangunan. Ratusan nyawa melayang. Kyoto menangis. Pemimpin penyerangan dari Chousuu tertangkap dan mati melakukan seppuku[14].

Gelap. Dingin. Ironis, Takaki Yuya merasakan itu di tengah kobaran api. Seperti inikah rasanya mati?
Rusuknya telah tertusuk tombak dan darah segar sudah tidak bisa dihentikan mengucur keluar dari nadi lehernya, tapi yang membuatnya merasa sakit adalah, di tengah jerit pilu dan sengal nafasnya sendiri, ia merasa mendengar tangisan Sora.
Dingin. Dingin. Dan semakin dingin. Yuya melihat Sora menghapus air mata, berlari ke dalam pelukannya, dengan shiromuku putih yang menjadi janji mereka. Di pagi berrembun pertengahan bulan tujuh.

Jika ini hidup, aku ingin pulang, kepadamu.
Jika ini mati, aku hanya tak ingin melihat wajahmu yang dibasahi air mata.
Jangan tangisi aku, langitku.

Pandangan matanya semakin buram. Nafas yang terdengar satu-satu. Seakan ada ribuan tangan dingin yang menarik menuju lubang hitam pekat dibawah sana.
Seiring dengan sisa-sisa embusan napasnya, Sora mengucapkan selamat tinggal pada harapan untuk merasakan pelukan Yuya -dan masa depan. Putih shiromuku digenangi merah yang sama seperti yang ditumpahkan di medan perang. Seppuku adalah cara mati yang memakan waktu lama, karnanya Hideyoshi Sora memilih menebas sendiri lehernya.

Kesedihan adalah ketika kau hanya diciptakan sebagai sesuatu yang tak pernah dapat kuraih.
Kenanglah aku, langitku.

TAMAT

Tahun 1867 masehi. Pemerintahan Tokugawa jatuh. Restorasi Meiji bergulir. Sistem pemerintahan bakufu dihapuskan untuk selamanya.
.
Omake:

Era Heisei, tahun 2014 masehi.

“Sexy, free and single.” Takaki Yuya menatap lekat lembar majalah yang tengah dibacanya, “Hideyoshi Sora lebih senang dikenal sebagai penjelajah alam daripada sosialita. Mengaku bukan orang yang selalu tampil fashionable tapi justru gayanya dijadikan icon casual style wanita eksekutif yang dibalik segala kesibukan masih mencintai nilai-nilai kebebasan.”

Takaki Yuya bukannya kurang kerjaan, melihat-lihat majalah dengan gambar sampul gadis cantik usia pertengahan duapuluhan. Dia sedang melakukan penyelidikan. Ya, objeknya adalah Nona Hideyoshi Sora, suksesor yang merupakan putri satu-satunya dari direktur utama Hideyoshi group yang sejak lama bergerak di bisnis multi bidang. Tapi kali ini sang Nona Besar akan memfokuskan perhatiaannya pada hotel mereka yang di seantero negeri jumlahnya mungkin sudah puluhan, The Crown.

Bila bertanya pada anak-anak remaja, yang sudah sedikit dewasa ataupun sudah benar dewasa, tak akan ada dari mereka dari tidak mengenal Takaki Yuya. Wajahnya selalu menghiasi majalah selebriti hingga iklan komersial produk di televisi. Karirnya kini cemerlang sebagai bagian dari grup vokal dari label yang terkenal telah menelurkan banyak artis terkenal sejak dulu sekali.

Untung saja sang ayah memberi keringanan, selama tidak mengganggu pendidikannya, Yuya boleh melakukan apapun yang diinginkan. Termasuk menjadi seorang bintang. Syaratnya, sebelum usia tiga puluh ia harus sudah menjadi pengelola yang piawai dan meneruskan sukses bisnis hotel milik keluarganya, The Royal Tokyo. Tapi apa salahnya jika ia mulai secara pelan-pelan dari sekarang.

Hideyoshi Sora hanya dilihat Yuya dari cetak foto di lembar majalah, tapi bagi Yuya perasaan itu terasa amat nyata. Ada ngilu yang mengiris hatinya kala menatap mata berwarna kelam itu, ada perasaan tak terdefinisi kala menyusuri liuk-liuk bergelombang rambut panjang itu. Perasaan yang sama ketika ia tiba-tiba berurai air mata ditengah kelas sejarah. Serupa dengan ketidaksukaannya yang berlebihan pada warna biru muda. Saat itupun tanpa disasari air matanya hampir jatuh, tapi Yuya segera menutup lembaran majalah dan memasukkan sendokan terakhir dari piring makan siang ke mulutnya.

“Yosh! Bring it on!”

Takaki Yuya paham betul, gadis itu sekarang adalah saingan utama bisnisnya, mereka berada di kubu yang berbeda. Hari ini ia memulai langkah pertama, menyelidiki The Crown dimulai dari restoran hotelnya sembari mencari info tentang suksesor bisnis mereka.

 

Sender: Yuuri Chinen
Subject: Dimana?
Yuyan, lupa ya setengah jam lagi kita ada pemotretan untuk clothing brand?

Tampil pesan itu di layar Yuya.

Memukul kening sendiri, Yuya segera mengeluarkan beberapa lembar 10.000 yen, meletakkannya di meja dan bergegas meninggalkan restoran, “Maaf, aku buru-buru,” ujarnya entah pada siapa. Terimakasih pada pengunjung restoran The Crown yang sibuk dengan urusan-urusan sendiri, dengan hanya berbekal kacamata hitam ia bisa melenggang santai tanpa dikejar penggemar atau dikuntit paparazi.

Speak of the devil.

Dengan langkah yang sama terburu-buru, Yuya bertabrakan dengan seseorang di lobi hotel. Tak lain adalah Hideyoshi Sora. Yang meski barang-barang yang dibawanya berantakan, tapi badannya seakan kaku dan kedua matanya terpaku menatap Takaki Yuya yang juga lekat menatapnya.

“Apa kita pernah bertemu?” Gumam Sora, lebih terdengar seperti bisikan.

“Sepertinya.“

Aku telah belajar dari kehilangan.
Untuk tidak lagi melepas genggam tanganmu.
Kembalilah padaku, langitku.

Saat itu waktu bagaikan beku untuk mereka. Hanya saling menatap. Tanpa kata. Tapi ada sejuta perasaan didalamnya. Dalam tatap mata mereka ada kerinduan, kesedihan, sepi dan sesuatu yang tak pernah utuh.
Dalam kepala Yuya muncul kepingan-kepingan puzle yang tak pernah terselesaikan. Jalanan kota Kyoto, langit malam, pembantaian, biru milik serigala Mibu yang diwarnai merah darah kaumnya, gadis yang menunggunya dengan shiromuku –dan kematian.

“Tolong jangan menangis.” Ucap Sora.

“Kamu yang jangan menangis.” Balas Yuya, mengusap air mata di pipi putih Sora.

Sesuatu dalam diri Sora membuatnya tidak menepis tangan orang yang notabenenya adalah orang asing itu.

“Saya tidak mengerti kenapa saya bisa tiba-tiba meneteskan air mata, ini aneh sekali. Dan sepertinya Anda juga begitu…”

“Aku suka matamu, warnanya mengingatkanku pada gelap malam.”

Harusnya bagi orang yang baru pertama kali bertemu, kalimat itu bisa saja digolongkan sebagai pelecehan. Tapi bagi Sora,kata-kata itu justru membuatnya ingin mendekap laki-laki di hadapannya itu. Begitu erat, bagaikan mereka telah terpisah ratusan tahun lamanya.

“Terimakasih.”

“Terimakasih karena telah dilahirkan.” Ucap Yuya lembut.

“Dari mana Anda tahu kalau hari ini ulang tahun saya?“ Balas Sora, sedikit terkejut.

“Eh?” Kalimat tadi bahkan diucapkan Yuya tanpa sadar. Ditengah momen melankoli pertemuan pertama yang tidak benar-benar pertama mereka. Di pojok kiri atas artikel yang beberapa saat lalu dibacanya memang tercantum data tanggal lahir, zodiak dan golongan darah, tapi sumpah demi boss agensinya, ia tidak sampai membaca apalagi mengingat-ingat bagian itu. “Anoo, aku mengucapkannya dalam arti literal, kok.”

“Saya tidak mengerti.”

“Sudahlah. Karena hari ulang tahunmu dan sebagai permintaan maaf dariku karna sudah menabrak, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan malam? Restoran hotel The Royal Tokyo, 20.00.”

“Eto, chotto…” cara berbahasa Sora sudah lebih luwes dari sebelumnya, ia mengecek sesuatu di ponsel tipis miliknya. “Okay, malam ini jam segitu aku free.”

“Sampai ketemu nanti malam.”

“Sampai ketemu juga, …“

“Namaku Takaki Yuya.“

“Aku Sora, kalau kau ingin tahu.” Ada seulas cengiran jahil dari bibir yang biasa menyunggingkan senyum penuh kebanggaan itu.

“Sora…“

“Ya. Panggil saja begitu.“
.o.

Dua orang itu belum genap dua bulan saking mengenal, tapi ada jarak ratusan tahun yang membuat mereka tak ingin melepas genggaman tangan barang sekejap. Dimulai dari makan malam penuh gelak tawa di restoran hotelnya, Takaki Yuya telah berhasil membawa (kembali) Hideyoshi Sora ke pelukannya, tapi kali ini tempat mereka adalah di salah satu suite room The Crown hotel, dengan view langit malam kota Tokyo yang paling sempurna. Diatas tempat tidur king size dengan kualitas nomor satu –dan yang terpenting, Hideyoshi Sora dalam dekapannya, tak akan bisa jadi lebih sempurna lagi. Gadis itu adalah saingan utamanya, lawan bisnisnya, mereka ada di kubu yang bersebrangan. Tapi kali ini Yuya ingin mencintai Sora sebagai seorang individu, seperti Yuya kepada Sora, tidak ada embel-embel lainnya.

“Hey, Yuya. Kalau bisa timeslip ke era Meiji, kau akan pilih jadi apa?“ Ucap Sora seketika.

Era Meiji. Takaki terdiam. Kerlip memukau menara Tokyo seketika meningatkannya pada kobar api, dan sakit hati yang penyebabnya tak pernah ia pahami “Um, aku akan jadi tukang kain saja. Ah, tidak! Mungkin penjual permen, apapun yang tidak membuatku terlibat dengan perselisihan antara Gerakan Restorasi dan pendukung bakufu.“

“Kalau begitu aku akan jadi istri penjual permen, karena aku juga alergi dengan peperangan.“ Ucap Sora, menarik selimut.

“Aku akan jadi apapun, selama aku bisa berada di pihakmu.“ Sebuah kecupan lembut dianugerahkan pada kening Sora, kemudian turun ke bibirnya sebagai pengantar tidur dan ucapan selamat malam.

“Glad to hear that.“

Aku ingin mencintaimu tanpa alasan, seperti kunang-kunang pada langit malam.
[1] Sekitar Juli 1864.
[2] Puisi pendek yang umumnya melankolis.
[3] Waktu itu Kyoto adalah ibu kota Jepang.
[4] Kesatria, samurai.
[5] Semboyan “Kembalikan kekuasaan kaisar, usir kaum barbar!”
[6] Bushi tak bertuan.
[7] Mibu rounin. Pasukan rounin pro-bakufu. Nama mereka juga sering diplesetkan jadi “Miburou” (serigala Mibu). Setelah pertistiwa Bunkyuu Sannen Hachigatsu Juuhachinichi no Seihen, nama mereka resmi menjadi Shinsengumi.
[8] 30 September 1863.
[9] 8 Juli 1864.
[10] Panggilan untuk perempuan. Misalnya Saya jadi Osaya, Akesato jadi Osato. Tapi saya gak tau perempuan seperti apa aja yang dipanggil pakai awalan ‘O-‘. Maaaaf orz.
[11] Baju pengantin perempuan.
[12] 20 Agustus 1864.
[13] Bohoooong. Orang-orang Choushuu minta ijin dulu koq. Setelah permintaannya ditolak petinggi-petinggi bakufu (beserta Satsuma dan Aizu), baru mereka menyerbu masuk ke Kyoto.
[14] Hukuman mati. Menebas perut sendiri lalu dipenggal kepalanya oleh asisten yang berwajib.

A/N:
Akhirnyaaaa, beres jugaaaa. Walaupun angstnya gagal dan gak berasa. Tadinya benda ini mau dijadiin hadiah ulang tahun Bunda, tapi gak beres-beres juga XP. Maaf kalo banyak yang bingung, atau menguak ingatan kelam readers yang sempet dibuat eneg sama mata kuliah Sejarah Jepang (seperti fic saya dulu yang membuka kenangan pahit seseorang tentang matkul Bioteknologi Molekular #nomention #plakk). Tadinya yang italic2 itu mau saya masukin haiku, tapi sumpah gak ngerti itu puisi aturannya gimana, jadilah bait-bait abal itu #tawaperih. Sebagian besar latar belakang sejarahnya beneran koq, tapi ada beberapa yang saya tandain boongan. Namanya juga romance~ #ngeles
Anyway, thanks a lot for reading. Jangan lupa komen, review sangat diharapkan XD
Daftar pustaka akan dicantumkan apabila diperlukan. LOL.

Love,
Nu :3

 

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Hotarubi no Yozora e

  1. Cherry Arida

    Aku suka sma ceritanya, berasa lagi baca novel 20-30an. Karena gaya bhasanya pakai perumpamaan. Menurutku baitnya bagus kok, bagian sejarahnya ada yg aku gk ngerti 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s