[Multichapter] Blue Moon (#2)

Blue Moon

Blue Moon

By. Veve, Hanazuki, Dinchan
Multichapter (Chapter 2)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : NC-17
Starring : Yasui Kentaro, Abe Aran (Love-Tune); Matsumura Hokuto, Kyomoto Taiga (SixTONES); Iwahashi Genki, Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Hideyoshi Sora, Hakushima Makoto, Kirie Hazuki (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Johnny’s Jr members are under Johnny’s & Associates;
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us.. ^^

“Aran-Sama~”

Aran tersenyum dan memeluk seorang gadis berpakaian mewah dan mencium pipinya. “Aku sudah lama menunggumu,” ucap Aran. Gadis itu memekik kegirangan, sudah jelas dia sangat senang dengan ucapan Aran. Sebagai number 4 di bar, Aran harus lebih ramah agar peringkatnya naik. Aran menuntun gadis itu, dia menoleh kala melihat seorang gadis berdiri tak jauh darinya. Pakaiannya sangat biasa, dandanannya juga sangat standar. Rambut dikuncir seadanya, tidak memakai make up, celana jeans belel, kaos, jaket dan sepatu keds.

Eh.

“Ah, ano…. Dia temanku,” gadis di pelukan Aran bersuara pelan, “aku memintanya untuk berdandan tapi dia tidak mau dengar.”

Aran menatap gadis itu. Aran ingat, gadis itu yang tanpa sengaja menabraknya siang itu. Gadis itu mendekat, dia dengan wajah datar berucap, “Makoto desu.”

Deg.

Aran sedikit terkejut mendengar nama gadis itu. Makoto? Aran mengerjapkan matanya, dia tersenyum dan berucap, “Kecantikanmu begitu alami. Mari, kita bersenang-senang.” Aran mengulurkan tangannya, namun Makoto menampik tangan Aran dan berucap, “Aku kemari untuk minum wine.”

Aran terkejut, pasalnya baru kali ini ada seorang gadis menolak sentuhannya. Aran jadi sedikit kaku, dia tersenyum gugup dan berjalan masuk bar bersama gadis yang membayarnya. ‘Bukan,’ batin Aran, ‘dia bukan orang itu.’

Makoto diam berjalan mengikuti Aran dan Nanami, kawannya. Matanya terus menatap Aran, entah bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Yang jelas, Makoto merasa perasaannya campur aduk sekarang.

Makoto duduk di depan meja bar, dia memesan wine. Beberapa kali Makoto menoleh kearah Aran dan Nanami yang kini berciuman mesra, Makoto bergidik ngeri dan kembali minum wine.

“Dia number 4. Abe-kun.”

Makoto menoleh, dia menatap seorang pria jangkung berdiri di dekatnya. “Dia sangat mudah beradaptasi,” ucap pria itu, “Abe-kun datang kemari beberapa tahun lalu, dia kemari untuk membantu orangtuanya melunasi hutang. Lalu dia kemari dan tinggal disini setelah kedua orangtuanya meninggal.”

Makoto tersedak minumannya, dia menoleh kaget kearah Aran. Hutang? Makoto terus menatap Aran, dia tidak mempercayai pendengarannya.

Masa orang kaya seperti dia punya hutang?

***

Matahari sudah tinggi ketika Yasui membuka matanya. Semalam dia minum cukup banyak sehingga kini kepalanya cukup sakit karena hangover.

“Keenn!! Keeennn!!” Yasui mendengar suara Sora dari arah balkon, ia segera bangkit dari kasurnya, membuka pintu geser yang menuju ke balkonnya. Sinar matahari langsung menyambutnya membuat matanya menyipit.

“Hey. Ohayou,” sapa Yasui.

“Ini sudah siang,” balas Sora dan Yasui hanya terkekeh, “Mau bir?” tanya Sora dan Yasui menggeleng.

“Yang benar saja. Aku semalam sudah mabuk!” keluh Yasui disambut gelak tawa dari Sora, “Minta kopi deh,” tawarnya, “Aku kesana ya!”

“Oke!” jawab Sora dan Yasui pun menuju ke kamar Sora sementara si gadis menyiapkan kopi panas untuk Yasui, tak lama Yasui mengetuk pintu yang langsung dibukakan oleh Sora.

“Hey! terlalu banyak minum semalam?” tanya Sora, Yasui mengangguk, menerima kopi yang disodorkan oleh Sora, dia pun duduk di sofa bed yang ada di tengah ruangan. Sora menyusul setelahnya dengan secangkir kopi juga.

“Haaaa kafein penyelamat hidupku!” ucap Yasui seketika setelah menyesap kopinya, “Ngomong-ngomong semalam itu….” Yasui menatap Sora dan gadis itu terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan Yasui.

“Maaf ya Ken.. aku bohong sebenarnya.”

“Bohong? Soal apa?”

“Profesiku,” ada jeda hingga Sora duduk menghadap ke Yasui, “Yaaahhh bisa dibilang aku sama lah denganmu. hahaha tapi aku tidak seelit dirimu,” aku Sora.

“Apanya yang elit dari pekerjaanku? Bodoh!”

“Ahahaha.. sebenarnya aku memang hostess, tapi karena aku butuh uang lebih untuk biaya sekolah adikku dan biaya Rumah Sakit Ibu, aku menemani pria pria yang datang ke cabaret club di ranjang, mereka biasanya meneleponku,” jelas Sora.

Yasui mengangguk paham, “Sou ne…”

Sora mengangguk, “Baru baru ini sih, ketika Ibu benar-benar sudah tidak bisa bekerja.”

“Tapi kau tidak terlihat bahagia, apa tidak apa-apa menjalaninya seperti ini?”

Sora menerawang, “Entahlah. Aku juga tidak punya pilihan pekerjaan lain, Ken. Aku hanya lulusan SMA, tidak punya keahlian apapun, kan? Sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini,” ucap Sora lagi.

Tangan Yasui terangkat lalu menepuk pelan kepala Sora. Entah sejak kapan Yasui memang merasa ingin melindungi Sora, setidaknya gadis ini terasa seperti adiknya sendiri apalagi setelah Yasui mendengar bagaimana sulitnya hidup Sora yang menjadi tulang punggung keluarganya sejak SMA.

“Kalau semuanya sudah terasa terlalu sulit, kamu harus bilang padaku, ya?” dan saat mengatakannya Yasui tiba-tiba ingin memeluk Sora, tapi kenapa? mereka kan sekedar teman saja.

***

Genki berjalan pelan ke kedai udon kecil yang terkenal di tengah gang sempit di ujung jalan Blue Moon. Baru ini selama sejarah Genki menjadi host dia merasa dirinya sendiri tak bisa memuaskan pelanggannya. Hari ini tamunya wanita semua. Dari wanita dewasa kantoran yang feminim dan ditutup dengan wanita tomboy yang kabarnya salah satu pemain klub bola terkenal diJepang. Entah karena Genki merasa kalah maskulin dengannya atau memang pikirannya sedang kacau dia sendiri juga tak bisa menikmati gadis gadis yang datang.

“Nagatsuma san… beef curry udon dan beer seperti biasa yaa…” Genki meletakkan pantatnya di kursi yang tepat menghadap Nagatsuma san meracik udonnya.

Meski tempat makan ini hanya berukuran 5×3 meter, namun anehnya selalu rane tanpa celah. Nagatsuma Reo, chef dibalik udon lezat yang tersaji setiap hari itu dulunya juga mantan host di Blue moon yang mulai berhenti karena hobinya makan udon selalu ditertawakan pelanggan bar dan teman-temannya. Genki nyaris memuncratkan bir yang ada di mulutnya saat ia menyadari sosok disebelahnya.

“Kau mengikuti ku ya! Dasar penguntit,” Genki menyodorkan sumpit ke arah orang disebelahnya

“Hei! Enak aja. Ngapain juga aku nguntit cowok cantik yang memukul wajah tampanku ini”, balas pria itu

“Kau mau dipukul lagi?”

Bruuuk

Nagatsuma san menaruh semangkok besar udon pesanan Genki dengan sedikit leras untuk menghentikan perselisihan itu.

“Ehem Jinguji san, Iwachan, kalau kalian ingin bertengkar silahkan ke hotel sebelah saja daripada pelangganku pada kabur karna kalian.

“Heeee gomen Nagatsuma san. Aku tak bisa hidup tanpa udon lezat buatanmu ini huhu,” goda pria yang disebut Jinguji itu

“Cih lebay…” Genki pelan sambil menyeruput udonnya

“Dih cantik cantik galak banget,” Jinguji meneguk ocha hangat pesanannya

“Kau benar-benar memintaku memukulmu lagi yaaa,” Genki kembali mengarahkan sumpitnya ke Jinguji .

Tuk tuk tuk

Sekali lagi kalian bertengkar, ku tarik kalian ke kamar atas dan kukunci sampai kalian dingin!” Nagatsuma san yang kesal memukul pelan kepala dua pelanggannya itu dengan pengaduk kuah udon.

Keduanya melanjutkan menyantap udon sambil saling diam.

***

Dua hari kemudian….

Aran terbangun, dia mengerang pelan dan meregangkan tubuhnya. Sinar matahari muncul melalui celah tirai jendela, tanda hari sudah beranjak siang. Bangun siang sudah sangat biasa untuk Aran. Siklus kehidupannya memang berubah, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Siang digunakan untuk istirahat, dan malam untuk melayani pelanggan.

Aran turun ke bar. Hanya ada Myuto dan Juri, bartender bar disana. Juri juga tinggal di bar sepertinya, bedanya Juri disana karena dia memang ingin menabung untuk membeli rumah. “Sepertinya kau kelelahan semalam,” ucap Myuto kala dia melihat Aran, “sepertinya gadis bernama Nanami itu senang sekali bersamamu.”

Aran tersenyum saja. “Dia memang cantik, dan dia bersedia membayar mahal hanya untuk bersamaku. Dan satu lagi, dia tidak banyak melawan.” Aran menegak segelas wine, dia menghela napas dan menunduk. Ingatan Aran terbawa pada gadis yang selalu bersama Nanami. Makoto, anak itu tampak tidak tertarik kepadanya meskipun dia selalu memperhatikan Aran.

Tipe tsundere. Aran suka itu.

“Abe, ada telepon.”

Aran menoleh, dia meraih telepon dari tangan Juri. “Kau sangat laris sekarang,” ucap Myuto terkekeh, “kurasa sebentar lagi kau akan menjadi number three mengalahkan Genki-Chan.”

Aran terkekeh, dia menempelkan telepon di telinganya. “Ya halo,” ucap Aran.

‘Kau Aran?’ sebuah suara perempuan terdengar.

“Iya. Ah apa kau mau memesan tempat bersamaku? Aku bisa memberikan harga yang pantas unt….”

‘Ini aku, Shima.’

.

.

.

.

.

“Eh?”

Aran tercengang, dia tidak mempercayai pendengarannya. Aran seakan terhempas ke jurang, menyedotnya dan membawanya kepada semua kenangan yang sudah terkubur di benaknya. “Sh…. Shima….” Aran tercekat, “bagaimana…. kau….”

‘Kau sekarang menjadi host, hm? Kenapa hidupmu menjadi menyedihkan seperti ini?’

“BUKAN URUSANMU!” Aran memutus panggilan, dia frustrasi sekarang. Bagaimana Shima bisa tahu dia ada disini dan menjadi host?

***

“Ohayou,” Yasui merasa dirinya hampir jantungan ketika melihat Sora menyapanya di depan pintu apartemen. Dia baru kembali dari supermarket, dan sepertinya Sora juga baru pulang, entah dari mana.

“Gak usah kayak liat hantu juga kali!” ujar Sora sambil terkekeh melihat ekspresi wajah Yasui yang terlihat horror.

“Ngagetin sih!” hardik Yasui, padahal hatinya sedang tidak tenang setiap mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu. Saat dirinya tiba-tiba ingin memeluk Sora. seorang Yasui yang biasa tebar pesona pada wanita mendadak gagu di depan Sora?

Sora memperlihatkan sesuatu di tangannya, “Mau cake? aku beli tadi,”

“Boleh,” jawab Yasui, “Sebagai gantinya aku sediakan kopi,” katanya sambil membuka pintu apartemennya.

“Yatta!!” Sora urung masuk ke apartemennya dan mengikuti Yasui ke kamarnya, “Berantakan amat sih!” keluhnya sambil mengambil setumpuk majalah di atas sofa dan menyingkirkannya dari sana untuk memberikan ruang dirinya duduk di atasnya, “kursi buat duduk bukan tempat simpen majalah,” dan Sora kaget ketika Yasui sudah ada di hadapannya dengan segelas kopi dan piring kecil untuk cake yang ia bawa.

“Berisik Hideyoshi! Ini kamarku jangan banyak protes!” balas Yasui membuat Sora seketika manyun dan kini sibuk mengeluarkan cake dari kotaknya.

Untuk beberapa saat mereka larut dalam percakapan remeh temeh soal kehidupan sambil makan cake coklat dan menyesap kopi instan yang tidak mewah itu, tapi cukup membuat mereka nyaman.

“Ken.. aku mau tanya sesuatu,” kata Sora, dan Yasui tidak menjawab hanya memandangi Sora untuk menunggu apa yang ingin ditanyakan gadis itu, “Apa yang membuatmu terjun ke dunia itu?”

“Dunia malam maksudmu?” dan Sora mengangguk, Yasui nampak berpikir, “Awalnya aku hanya pelayan sih disana. Aku cari uang setelah Ayah mengusirku karena aku tidak mau lanjut kuliah, lalu begitulah dari pelayan aku mulai diajari caranya jadi host, dan karena bar kami menyediakan layanan lain, aku juga belajar melayani pelanggan di ranjang. Itu saja, tidak ada alasan khusus, aku sudah terjebak dan nyaman dengan kehidupan sekarang.”

“Sou ne…”

“Kenapa sih?” tanya Yasui heran dengan pertanyaan tiba2 itu, “Ada yang mengganggu pikiranmu ya?”

“Maa ne.. kau terlihat menikmati pekerjaanmu dan tanpa beban, bahkan bisa dengan santainya mengakui hal itu,”

Yasui tiba-tiba tertawa keras, Sora menatapnya dengan bingung, “Banyak sekali kekhawatiranku tapi aku tidak mau terlarut dalam masalahku. Sampai aku menemukan passionku mungkin aku akan tetap ada di dunia seperti ini,” Sora masih menatapnya sampai beberapa menit kemudian seakan ada banyak sekali yang gadis itu pikirkan, “Jangan bengong! Nanti naksir aku berabe loh.. aku mahal!” seru Yasui dan sukses membuat gadis itu memalingkan mukanya, “Ahahaha aku bercanda!”

“Berisik Yasui!” balas Sora kesal dan membuat Yasui makin gemas pada gadis itu.

“Hey!” panggil Yasui dan Sora masih menolak untuk menoleh padanya, “Sora…” Yasui menarik bahu Sora dan detik berikutnya hasrat Yasui mengalahkan logikanya. Bibir mereka bertemu beberapa detik kemudian Sora mendorong Yasui menjauh.

“Apaan sih?!” walaupun nada suaranya marah tapi Sora tidak bisa menutupi mukanya yang merona merah padam.

Tanpa mengatakan apapun Yasui kembali menarik belakang kepala Sora, mempertemukan bibirnya dengan bibir Sora, tak ingin membalas tapi nyatanya pagutan bibir Yasui di bibirnya membuatnya hilang akal dan membalas ciuman itu tak kalah bersemangat. Sora tau kenapa Yasui bisa sepopuler itu sekarang, he’s a good kisser! jeritnya dalam hati. Matanya terpejam merasakan sensasi tarian bibir Yasui di bibirnya, tak lama tubuhnya terdorong dan punggungnya mendarat dengan mulus di atas sofa sementara Yasui ada di atasnya, ciuman berhenti sementara manik mata Sora terbuka menatap Yasui dengan bingung.

Suki da yo.. Sora-chan,” dan seakan tak mau menunggu lagi Yasui kembali mencium bibir Sora. Apapun yang terjadi, terjadilah, Pikir Sora. Yasui juga harus tau dia menyukai pria itu.

***

Hari sabtu selalu menjadi hari padat di Blue moon. Banyak gadis yang berlarian kemari untuk menghindari statment single dimata teman sebayanya. Yaa setidaknya kau akan punya gandengan tampan nan romantis di tempat ini. Dengan srgelas wine dan beberapa camilan manis lainnya. Teebih lagi kau bisa menyewa partner minummu untuk bercinta satu malam.

Nasib berkata lain bagi seorang Matsumura Hokuto. Sudah hampir jam 9 malam dan dia baru mendapatkan 1 pelanggan.

“Hokuto kun… meja nomor 9 untuk Hokuto kun,” teriak Souya, karyawan baru di Blue Moon

Hokuto merapikan dasi kupu-kupunya. Berjalan sedikit cepat sambil membawakan gelas mojito pesanan tamu nomor 9 itu, “Selamat malam, saya Hokuto akan menemani anda malam ini. Putri cantik, bolehkan saya tau namamu?,” Hokuto menunduk bak pangeran mendatangi putri cantik di pesta dansa.

“Yamanaka Keiko. Panggil saja aku Keiko”, ucap gadis itu.

Wajah yang bagi Hokuto sebenarnya tak asing. Tapi Hokuto tak begitu yakin karena selama ini sudah nelayani begitu banyak wanita. Keduanya bercakap banyak hal, dari sekedar candaan hingga perbincangan serius tentang gadis bernama Keiko ini.

“Nee Hokuto, kau masih ingat Hazuki chan?” Hokuto sejenak berhenti kaget dengan nama yang keluar itu.

“Hazuki….”

“Yah.. Kirie Hazuki. Kebohongan kalau kau sampai melupakannya,” tambah Keiko

Otak Hokuto terasa membeku mendengar nama itu setelah sekian tahun menghilang. Jangan jangan gadis di depannya ini.

“Hazuki-chan… dia sekarang di Rumah Sakit dan kritis. Kami berdua liburan dan dia terpeleset jatuh dari gunung,” jelas Keiko lanjut

Hokuto masih tak berkutik, usahanya lari dari hari itu kini seolah sia-sia.

“Aku tahu Hazuki berbohong dan mengaku kalau dia straight dan memacarimu saat posisi kami sudah lama berkencan. Tapi… yaa kau tahu aku sengaja ke sini mencarimu. Dokter bilang umurnya tak lama lagi. Saraf tulang belakangnya perlahan msti gara-gara kecelakaan itu dan sampai sekarang ia tak sadarkan diri,” Keiko merunduk.

“Kenapa kamu mencariku lagi?” nada suara Hokuto lebih sinis dari biasanya, padahal ini juga pelanggannya.

“Aku ingin Hazuki bertemu denganmu lagi, banyak hal yang harus kalian bicarakan,” ucap Keiko, tampak sedih.

Bagaimana ini? Hokuto sendiri dilanda kebingungan saat ini. Apa yang akan dia lakukan bila bertemu Hazuki? Hokuto masih diam dan meratapi lantai tempatnya berpijak.

Keiko berdiri, meninggalkan kertas coretan di meja, “Ini tempat Hazuki dirawat. Mungkin dia akan memarahiku kalau tahu aku mencarimu.”

Keiko meninggalkan uang pembayaran dan tips untuk Hokuto. Meninggalkan Hokuto yang masih menunduk, “Kau mau pergi?” ucap sura yang tiba-tiba muncul dan seenaknya duduk di sebelah Hokuto.

“Tapi Taiga-sama….” Hokuto memandang Taiga dengan tatapan kosong. Taiga tau benar masa lalu yang menyeret Hokuto ke tempat ini. Taiga tahu tak mungkin memiliki raga Hokuto kalau jiwa dan pikirannya masih tertinggal di Hokkaido. Toh kalau dilihat tak ada bedanya antara Taiga dan Hazuki dalam mencintai seseorang.

“Pergilah, dan jangan lupa kembali kemari setelah kau cukup puas menemuinya,” Taiga beranjak, menepuk pundak Hokuto dan meninggalkan pria itu

“Myuto panggilkan Yasui untuk menemuiku…” Taiga berlalu

***

Genki menghela napas, untuk kesekian kalinya dia menoleh dan menatap datar Jinguji yang berjalan di belakangnya. “Kau kenapa mengikutiku hah?” sahut Genki. Jinguji menoleh, dia menjawab santai, “Rumahku kan juga lewat sini.”

“Oh,” jawab Genki, dia jadi malu sudah menuduh orang sembarangan. “Kau bekerja di host club Blue Moon ya?” tanya Jinguji, “aku sering melihatmu keluar masuk tempat itu.”

“Kalau iya kenapa?” balas Genki.

“Kenapa kau bekerja disana?”

“Bukan urusanmu.”

“Kenapa anak sejudes kau bisa laku ya?”

JLEB.

“BERISIK!” sentak Genki, dia berlari meninggalkan Jinguji. Genki bersumpah akan membunuh Jinguji andaikan dia bertemu lagi dengan anak itu.

Menyebalkan.

“Byee sampai ketemu lagi,” ucap Jinguji di pertigaan jalan

Apaan sih? Ogah banget ketemu lagi. Batin Genki tanpa mau membalik badan. Genki melanjutkan jalannya menuju apato tempatnya tinggal.

Menarik juga pria cantik itu. Pikir Jinguji sambil berjalan dan bersiul.

Genki merebahkan badannya ke kasur, sambil memikirkan kembali apa alasannya bekerja di Blue Moon dan ia tak bisa ingat apapun itu. Yang ia tahu ia bisa dapat uang banyak dari sana, toh selama ini dia juga masih sehat saja.

Kalau dia tidak bekerja disana, mungkinkah dia bisa jadi salary man biasa? Genki berfikir, beranjak dari kasurnya dan menatap bayangannya di cermin.

Memang selama ini banyak yang tertipu dengan kecantikan wajahnya. Kalau saja wajahnya tampan mungkin akan bisa menggeser posisi Yasui atau Hokuto diatasnya.

Genki mencuci wajah dan memakai masker wajah rasa strawberry kesukaannya. Rutinitas yang selalu dilakukan saat sampai apato.

Ting toong

“Haaaaiiiiik”

Genki berjalan ke arah pintu. Siapa yang datang pagi pagi begini? Pikirnya.

“Permisi, ada kiriman paket makanan dari….. WAAAAA KAU LAGIII ❤”

Genki menutup pintunya, sayang terlambat karna pria pengantar paket tadi berhasil menahan pintunya, “Kau benar benar membuntutiku yaaa!”

Kriiiing

“Hai Kishi?”

“Cantik, apa pengantar paket sudah datang? Jangan lupa makan banyak yaaa biar tetep cantik.. muach,” Genki menatap ponselnya tak percaya.

Tuuut tuuut tuuuut

Telpon dimatikan begitu saja. Kishi Yuta pria yag rela menghabiskan uangnya untuk sekedar jalan-jalan dengan Genki

“Tuh kaaan mana mungkin aku bohong. Aku lewat tempatku lerja di perjalanan pulang dan manager memintaku membantu mengirim paket ini karna teman kerjaku sedang tidan bisa. Kau tahu kan kita tadi pulang bersama hehee,” jelas Jinguji

“Oke thanks” genki menutup pintu yang lagi lagi ditahan Jinguji

“Gitu doang? Ga mau mempersilahkan masuk dulu? Minum teh kek atau kopi?” Goda jinguji

“Kau tidak lihat aku lagi maskeran dan maskerku bisa rusak haaah?” Genki ketus.

Jinguji hanya tertawa dan mengalah kali ini. Ia tersenyum dan berpamitan

“Sampai berjumpa lain kali cantiiik!” Lama-lama menggida Genki menjadi rutinitas yang ia sukai.

Genki rasanya ingin memukul pria itu. Benar benar mengesalkaaan

***

To Be Continue~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Blue Moon (#2)

  1. Winna

    update juga… 😣😣😣 terimakasih ya kak author-san 🤣🤣 itu si jingu lama2 nyebelin juga ya tapo tetep 💙💗 😳,
    hakuto kasian yaaa, semangat ya nak, kayaknya kamu dari kemaren galau terus

    semangat ya kak author-san buat bikin lanjutan nya, ditunggu 😘😘

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s