[Multichapter] Love Shuffle (chap 02)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Two
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 02~

Opi menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Make up, rambut dan pakaian terlihat sudah rapi. Sesaat gadis itu memikirkan sesuatu. Ini pertama kalinya ia berkencan dengan orang lain di saat dirinya sedang berhubungan dengan seorang laki-laki. Jika dipikir-pikir apa ini bisa disebut berselingkuh?

Opi menggelengkan kepalanya. Kei tahu ini hanya penelitian dosennya dan tidak akan berpengaruh di kehidupan mereka. Selain itu, Kei juga akan berpasangan dengan perempuan lain.

“Sudah mau berangkat?” tanya Kei tiba-tiba masuk ke kamarnya.

Opi mengangguk.

“Kalau begitu aku antar. Aku ada proyek yang lokasinya di dekat kampusmu.”

Opi memutar matanya. Dia bingung bagaimana cara menyampaikan apa yang ada di otaknya.

“Doushita?” Kei melihat gelagat aneh dari kekasihnya itu. Sudah menjadi kebiasaannya jika Opi menyembunyikan sesuatu, dia akan bersikap aneh.

“Umm..ano..hari ini aku dijemput Yamada-kun,” jelas Opi pelan.

Kei mengangkat alisnya. Rasanya nama itu terdengar asing di telinganya.

“Kau ingat kan laki-laki yang ada di pertemuan kemarin. Teman sekelasku yang ikut dalam penelitian Ikuta-sensei? Seminggu ini aku akan berpasangan dengannya,” jelas Opi lagi.

“Ah…” Kei mengingatnya.

Tepat setelah itu, ponsel Opi berbunyi tanda ada panggilan masuk.

“Hai? Ya..aku ke sana sekarang..” dan Opi lalu menutup ponselnya.

“Yamada-san?” Kei bertanya orang yang menelepon tadi.

Opi mengangguk. “Aku pergi dulu.”

Kei tidak menjawab. Ia hanya diam sampai Opi menghilang di balik pintu.

“Itterashai..” jawab Kei kemudian walaupun tidak ada yang mendengar.

—————–

Tidak butuh waktu yang lama untuk Yamada menunggu Opi menghampirinya. Hanya 5 menit sejak ia sampai di depan gedung apartemen mewah itu, Opi sudah ada di hadapannya.

“Sudah lama menunggu?” tanya gadis itu sambil tersenyum.

Yamada mengangkat alisnya. Selama ini dia tidak begitu dekat dengan Opi apalagi memperhatikannya. Tapi ternyata dia memiliki senyum yang manis.

“U-uumm,” Yamada menggeleng. “Kau lebih cepat dari yang kukira.”

Opi tersenyum lega.

Selama ia berkuliah dan satu kelas dengan Yamada, Opi tidak pernah mengenal pemuda itu. Apalagi memperhatikannya. Selain karena berbeda lingkungan, Opi sering mendengar berita yang tidak baik tentang laki-laki itu. Dimulai dari suka berganti-ganti pasangan, sifatnya yang buruk sampai sering terlihat bolak-balik di klub malam.

Opi tidak bisa sepenuhnya percaya berita tersebut atau menyangkalnya. Tapi selama hampir seharian bersamanya, ternyata Yamada orang yang baik. Selain itu dia adalah pendengar yang baik dan Opi merasa tidak bosan bersamanya. Tapi gadis itu tetap merasa harus berhati-hati karena dia belum benar-benar mengenal Yamada.

“Suzuki-san itu pacarmu?” tanya Opi saat ia berada di rumah Yamada untuk makan malam. Nilai plus untuk Yamada karena ternyata pemuda itu pandai memasak.

“Bukan. Dia bukan pacarku. Dia tunangan temanku,” jawab Yamada santai sambil mengoseng bumbu di atas wajan.

“He?” Opi menatap Yamada dengan cepat. “Tunangan temanmu?”

Yamada mengangguk.

“Lalu kenapa—???” Rasanya tidak rasional Yamada justru membawa tunangan orang lain untuk menjadi pasangannya di permainan love shuffle.

“Hmm..” Yamada memiringkan kepalanya. “Mungkin terdengar menyenangkan.”

Opi mengerutkan keningnya. Rasanya ia sudah mendapatkan partner pertama yang berbahaya.

“Kau tidak bertanya padaku alasan kenapa aku ikut permainan dari Ikuta-sensei?” Yamada seolah menantang.

“Rasanya tidak usah. Aku tahu sifatmu yang tidak suka terikat dengan wanita manapun. Jadi menurutku, kau ikut permainan ini hanya untuk mengisi waktu luang saja,” tebak Opi.

“Hmm~ hampir tepat…” sahut Yamada sambil tersenyum. “Dan biar kutebak, kau ikut permainan ini karena kau bosan dengan pacarmu.”

“Hah?”

“Rasanya aneh kau ikut di saat mempunyai pacar. Apalagi pacarmu tidak menolak. Apa kalian baru bertengkar?”

Opi terkekeh. “Jangan menebak jika kau tidak tahu apa-apa, Yamada Ryosuke,” balasnya. “Tapi mungkin benar tebakanmu tentang Suzuki-san. Mungkin ini akan menyenangkan.”

“Benarkah? Kudengar kau dan pacarmu itu, Inoo-san, sudah berpacaran lama. Tidak heran kalau kau merasa hubunganmu membosankan. Apa boleh buat.”

Opi melirik tajam pada Yamada. Ucapan Yamada tadi membuatnya kesal.

“Ayolah Opi-chan. Jangan terlalu polos. Tidak semua laki-laki baik dan dapat dipercaya. Mungkin saja pacarmu itu sebenarnya punya perempuan lain di luar sana…”

Belum sempat Yamada menyelesaikan ucapnnya, Opi sudah terlebih dahulu menamparnya lalu berkata, “Dan tidak semua laki-laki tidak berperasaan sepertimu,” kemudian Opi pergi dari rumah Yamada.

Yamada memegang pipinya yang terasa sakit. “Sial..kalau dia pergi, siapa yang akan menghabiskan makanan ini?” rutuknya.

——————————-

“Kita akan kemana, sensei?” Sora bertanya takut-takut sambil merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa tenang saat ini.

“Jangan panggil Sensei, kita sekarang pasangan, kan?” ucap Toma lalu tiba-tiba mendekati Sora, memasangkan sabuk pengaman yang lupa ia pakai.

Sora merasa jantungnya berdetak kencang karena merasa canggung dan malu, “Gomen sensei…”

Toma hanya terkekeh dan mengendarai mobilnya keluar dari parkiran kampus, diikuti beberapa pasang mata termasuk Yuya.

Yuya tahu ini hanya sebuah permainan, dirinya ingin sekali menolak saat itu, tapi mengingat nilainya akan terancam, ia hanya bisa mengiyakan permintaan dari dosennya itu.

“Sudah lama menunggu?” sebuah suara membuyarkan lamunan Yuya.

“Ah! Suzuki-san… tidak juga, ayo makan siang…” Yuya saat itu memang sedang menunggu Saifu di parkiran.

Saifu mengangguk canggung.

Yuya dan Saifu tiba di sebuah cafe dekat kampus. Yuya memang biasanya makan disitu sehabis kuliah. Selama beberapa menit setelah mereka pesan, tak ada kata yang terucap satu sama lain.

“Suzuki-san… apa kabar?” oke, pertanyaan bodoh.

Saifu tertawa pelan, “Seperti yang bisa kau lihat, aku baik-baik saja..”

Yuya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Baru kali ini aku berkencan dengan orang yang benar-benar tidak aku kenal, maaf ya…”

Saifu mengangguk, “Pertama-tama, panggil aku Saifu saja. Tidak enak didengar jika kita masih memanggil nama keluarga,”

“Mengerti… Sai—fu-chan?”

“Yuya-kun?”

Keduanya setuju sambil mengangguk-angguk puas dengan sebutan masing-masing. Setelahnya mereka menjadi cukup bisa berkomunikasi, mengobrol hal-hal ringan.

“Aku lihat kemarin kau sangat sayang pada pacarmu, siapa namanya…” Saifu mencoba mengingat.

“Sora…”

“Ah iya! Sora… kalian sudah lama berpacaran?” tanya Saifu.

“Baru delapan bulan, terlama yang pernah aku jalani, “ jelas Yuya sambil menyantap makanannya.

Saifu mengangguk-angguk.

“Kau sendiri dengan Yamada?”

“Aku bukan pacarnya, kami hanya….” Saifu mencoba mendeskripsikan status hubungan mereka, “Teman dekat…” jawab Saifu akhirnya.

Sementara itu di mobil milik Toma, Sora mendadak salah tingkah dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Berkali-kali melirik ke ponselnya atau jam tangannya.

“Waktunya tidak akan berkurang atau bertambah, Sora-chan…” ucap Toma terkekeh melihat kelakuan Sora yang serba kikuk.

Sora menjadi tambah salah tingkah, dan hanya bisa tersenyum simpul menanggapi ucapan Toma yang menurutnya terlalu tiba-tiba membuatnya kaget saja.

“Kau akan tahu sebentar lagi…”

Mobil itu berhenti di sebuah pelataran cafe, atau bar. Entahlah Sora hanya turun mengikuti dosennya tersebut, berjalan masuk ke cafe yang masih terlihat sepi itu.

“Ini tempat langgananku..” jelas Toma.

Sora hanya mengangguk mengerti, “Tapi sepertinya masih sepi ya?” ucap gadis itu sedikit heran.

Toma tidak menjawab hanya menyisakan sebuah senyum pada Sora, lalu membukakan pintu Cafe tersebut, Sora masuk dan mengaggumi interior khas western yang mendominasi ruangan tersebut.

“Silahkan duduk nona…” Toma menunjuk kursi di bar, Sora hanya menuruti apa yang Toma mau.

Ruangan itu kosong, kursinya saja masih tersusun rapi diatas meja-meja kayunya. Seorang bartender berdiri di belakang meja bar.

“Toma! Bawa gadis mana lagi?” tanya si bartender, membuat Sora menoleh menatap kedua pria itu berbicara.

Toma hanya terkekeh tak menanggapi apa yang dikatakan si bartender.

“Ya ampun Aiba-chan… ini hanya kencan,”

“Dapur kosong kok, mereka akan datang…”

“Sejam lagi, kan?” potong Toma yang sudah hapal jadwal cafe tersebut.

Aiba hanya tersenyum mengangguk-angguk.

“Ayo Sora-chan!” Toma mengajak Sora ke belakang ruangan, sebuah dapur lengkap di dalamnya.

“Cool!” seru Sora spontan sata melihat dapur itu.

“Duduklah… aku akan memasakkan sesuatu…” ucap Toma mempersilahkan Sora duduk di sebuah kursi di pantry itu.

“Masak? Sensei bisa masak?” tanya Sora heran.

Toma tak menjawab dan hanya melanjutkan apa yang sedang ia siapkan. Selama menit-menit berikutnya Toma tidak berkata apapun, Sora hanya memperhatikan dosennya itu memasak di pantry.

“Ini… maaf hanya masakan sederhana…” ucapnya sambil menyimpan sepiring spagetti di hadapan Sora, lalu duduk di hadapan gadis itu dengan piring lainnya.

“Sensei…” panggil Sora membuat Toma menoleh menata Sora.

“Ya?”

“Kenapa sensei membawaku kesini?” tanya Sora takut-takut.

Toma berfikir sejenak, “Tidak ada yang istimewa… aku sedang malas muncul dihadapan banyak orang…” jawabnya cuek, “Lagipula kencan disini lebih murah, kan?” katanya lalu terkekeh pelan.

Sora hanya bisa tertawa setelahnya.

——————————–

“Kau mau kemana?” tanya Yuma hanya bisa mengikuti gadis di depannya, Nu Takahashi.

Nu tidak menjawab. Kaki nya terus melangkah tanpa Yuma ketahui tujuan nya.

Yuma merasa bingung dari awal mereka bertemu hari ini. Tanpa bicara apapun, gadis rambut panjang itu hanya berjalan tanpa arah. Pemuda itu sudah bertanya berulang kali tapi Nu tetap tidak menjawab.

“Hei…..” Yuma akhirnya menarik tangan Nu yang secara otomatis dia berhenti berjalan. “Aku bertanya kita mau kemana?”.

Nu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia hanya menunjuk ke arah kanan dengan telunjuknya.

“Ada apa di sana?” tanya Yuma bingung.

“Okaa-chan..” gumam Nu hampir tidak terdengar.

Yuma tidak mengerti dengan kata-kata Nu. Dan dia semakin tidak mengerti saat ia dibawa ke kompleks pemakaman. Lalu Nu berhenti di depan suatu batu nisan.

“Ini siapa?” tanya Yuma.

Nu tersenyum kecil. “Okaa-chan..”

“He?”

Nu berjongkok di depan batu nisan itu. Cukup lama sampai membuat kaki Yuma pegal dan tak terasa langit sudah mulai gelap.

“Nu-chan, ayo kita pulang..” ajak Yuma. Ia berpikir Nu akan menolak. Tapi ternyata gadis itu menurut.

Yuma mengulurkan tangan untuk membantu Nu berdiri dan tak sengaja ia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. Pergelangan tangan Nu yang penuh dengan bekas sayatan.

Alih-alih panik, Nu hanya menarik tangannya dari genggaman Yuma dengan tenang lalu pergi mendahului pemuda itu.

Bersama Nu seharian, membuatnya timbul banyak pertanyaan. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Apa dia pernah mencoba untuk bunuh diri? Apa yang membuatnya berbuat seperti itu?

“Kita sudah sampai..” ucap Yuma saat ia mengantar Nu ke rumah gadis itu.

Tanpa mengucapkan apapun, Nu lalu masuk melewati pagar dan menutupnya.

“Ano…”

Nu berhenti melangkah lalu berputar menghadap Yuma.

“Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku,” ucap Yuma setengah berteriak. “Kapanpun.”

Nu mengangguk kemudian ia berbalik dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Yuma yang masih di depan pagar.

“Aku seperti orang bodoh,” gumam Yuma sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Sementara itu, saat Nu masuk ke dalam rumah, ada seorang pria setengah baya sedang membaca buku di ruang tengah. Pria itu menatap Nu saat dia melewati ruangan.

“Dari mana saja?” tanya pria itu.

Nu tidak menjawab. Dia hanya berdiri kaku di tempatnya. Tangannya terasa dingin dan gemetar. Wajahnya seketika mulai panik dan matanya berputar.

“Nu-chan..” tiba-tiba ada suara dari arah tangga. “Kau sudah pulang?”

Entah kekuatan dari mana, Nu berlari menuju arah sumber suara itu lalu memeluk si pemilik suara tadi.

“Daiki…” suara lirih Nu terdengar seperti ketakutan. “Ayo ke kamar.”

Daiki mengerti maksud Nu. Pelan-pelan, Daiki memapah Nu menuju kamarnya. Dan sebelum ia menginjak tangga, Daiki melihat sekilas pamannya yang masih membaca buku tanpa mendapat tatapan balasan.

——————–

“Huwaaa…” Opi meletakkan gelasnya dengan kasar setelah ia meneguk habis bir-nya. Ucapan Yamada tadi benar-benar membuatnya kesal. Tidak hanya itu, karena ucapan laki-laki itu, ia jadi tidak yakin dengan perasaannya. Apa benar dia sudah bosan dengan Inoo? Padahal ia sangat yakin, hanya Inoo satu-satunya laki-laki yang sangat ia cintai saat ini.

“Aku yakin, ini hanya akal-akalan Yamada sialan itu..” ucap Opi kesal.

Saat Opi akan menegak lagi minumannya, tiba-tiba ada yang menarik gelas miliknya sehingga ia tidak jadi meminumnya.

“Tidak baik perempuan minum-minum sampai mabuk sendirian..” ucap seorang laki-laki yang tadi merebut gelas Opi.

“Sensei?” Opi terlonjak kaget saat melihat orang di sampingnya itu adalah dosennya, Ikuta Toma. “Kenapa–?”

“Ini tempat langgananku,” jawab Toma seakan tahu apa yang ingin ditanyakan Opi.

“Oooohhhh….”

“Are? Nakayama-kun?” Toma kaget saat ia menoleh, ia melihat muridnya yang lain. Nakayama Yuma.

“Sensei?” Yuma pun terlihat kaget.

“Yo~~ Nakayama-kun…” tak lupa Opi menyapa Yuma walaupun dalam keadaan setengah mabuk.

“Yamashita-san juga?” Yuma terlihat kaget dua kali lipat.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Toma.

“Aku bekerja di sini. Hanya baito..” jawab Yuma.

“Souka…kau baru bekerja di sini? Aku hampir setiap hari ke sini tapi baru hari ini melihatmu,” tebak Toma.

Yuma mengangguk sambil tersenyum malu. “Begitulah..”

Tak berapa lama, datang seorang laki-laki yang terlihat masuk ke dalam cafe dengan tergesa-gesa. Mau tak mau itu menarik perhatian Toma maupun Yuma. Opi yang tadi setengah mabuk, sekarang sudah benar-benar mabuk dan tertidur lelap dengan kepala di atas meja bar.

“Yo~ Yamada-kun…” sapa Toma saat melihat laki-laki itu mencari-cari sesuatu.

Laki-laki yang ternyata Yamada Ryosuke itu menyadari panggilan itu. “Sensei?”

“Kau mencari siapa?” tanya Toma.

“Opi…maksudku Yamashita..”

Toma menatap perempuan yang tertidur di sampingnya. Secara refleks, Yamada mengikuti arah tatapan Toma dan melihat Opi sedang tertidur.

“Dia mabuk..” jelas Toma tanpa Yamada tanya.

“Harusnya aku tidak membiarkan kau pergi. Opi-chan, ayo bangun…” Yamada menusuk-nusuk pipi Opi agar gadis itu bangun.

“Dia partnermu minggu ini?” tanya Toma.

Yamada mengangguk.

Toma lalu merangkul bahu Yamada dan membisikkan sesuatu. “Kau tidak melakukan sesuatu yang aneh sampai-sampai Yamashita-kun mabuk di sini kan? Tadi aku melihat dia agak depresi,” ucap Toma sedikit berbohong.

“Aku tidak melakukan apa-apa,” sangkal Yamada. “Kami tadi hanya memasak bersama. Lalu aku membicarakan sesuatu yang membuatnya marah. Dan dia pergi begitu saja. Aku harusnya mencegah dia pergi karena sekarang makanan di rumahku terbuang sia-sia. Aku tidak mungkin menghabiskan 2 porsi makanan,” jelasnya melanjutkan.

Toma tertawa keras. “Hahaha…aku hanya bercanda. Saat aku datang, dia sudah seperti ini.”

“Sensei…” Yamada sedikit kesal karena dipermainkan oleh dosennya.

“Ya sudah. Kau bawa dia pulang,” perintah Toma.

“He?”

“Kau tidak berpikir aku yang akan membawanya pulang kan?” Toma menatap tajam Yamada.

Yamada dengan malas mengangguk lalu berkata, “Baiklah..”

———————————–

From : Inoo Kei
Subject : (no subject)
Aku di depan… mau pergi sekarang?

Riisa kembali mengecheck e-mail itu lalu membereskan dirinya setelah seharian berkutat dengan sebuah pudding yang tidak juga ia temukan takaran pasnya. Ia keluar dari sekolah itu dengan wajah kusut, tapi berusaha tersenyum pada pemuda kurus dihadapannya.

“Maaf… lama ya?” tanya Riisa berusaha tersenyum.

Inoo menggeleng, “Tidak juga… ayo!” Inoo membukakan pintu mobil, Riisa pun masuk kedalamnya.

Alih-alih menyalakan mesin mobil, Inoo terdiam sesaat setelah duduk di kursi kemudi, “Namamu… Yanagi Riisa kan?”

Riisa mengangguk.

“Kuberitahukan satu hal dulu, kita disini karena memang kita harus melakukannya, tapi… aku punya Opi dan aku tidak punya rencana untuk menyakitinya, jadi… kita teman. Jelas?” ucap Inoo seperti memberikan tembok tinggi yang ia bangun sesaat setelah mereka bertemu.

Namun Riisa juga setuju, baginya hanya ada Yuma dan itu membuatnya lebih mudah dalam menjalani kencan mereka seminggu ini.

Riisa mengangguk, “Kalian sudah lama berpacaran ya?” tanyanya setelah mobil melaju.

“Tiga tahun…” Inoo menerawang, “Cukup lama kan?”

Riisa tersenyum simpul, baginya dengan Yuma sudah hampir seumur hidupnya bersama, tapi Riisa lah yang memutuskan bahwa mereka hanya akan menjadi teman.

“Kita mau kemana?” tanya Riisa tanpa menjawab pertanyaan Inoo.

“Entahlah… makan malam?” ujarnya sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh, “Punya rekomendasi?”

“Ada sebuah restauran yang ingin aku datangi..bagaimana?” Riisa menunjukkan arahnya, Inoo hanya menurut karena tak tahu juga akan kemana.

Ternyata sebuah restauran keluarga yang sederhana, namun Riisa bilang nasi kari nya terkenal dan ia sudah lama ingin kesini.

“Uhm… enak…” ucap Inoo setelah mencoba nasi kari yang katanya terkenal itu, “Kau tahu saja dimana makanan enak..”

“Aku belajar masak, dan semua teman-temanku juga suka masak, tentu saja aku tahu dimana makanan enak berada…” jawab Riisa terkekeh.

Inoo mengangguk-angguk mengerti, beberapa saat kemudian pandangannya teralihkan, Opi terlihat diluar dengan Yamada dan gadis itu terlihat mabuk.

“Opi!” Inoo berdiri, menatap Opi dipapah oleh Yamada.

Riisa ikut-ikutan menoleh, tepat saat Inoo akan mengejar Opi, Riisa menarik tangan Inoo, “Hari ini kau bukan pacarnya, ia punya pasangan sendiri Inoo-san…” ucap Riisa menyadarkan Inoo.

“Tapi…”

Riisa masih mencengkram lengan Inoo sampai si gadis masuk ke mobil dengan Yamada dan menghilang dari pandangan mereka.

———————————-

“Yo..” sapa Yamada saat Opi dan Sora baru saja datang dan akan masuk ke kelas.

Opi membuang muka dengan malas. “Ayo kita masuk saja,” ajaknya pada Sora.

Tapi sebelum Opi dan Sora melewati Yamada, laki-laki itu menarik tangan Opi lalu berkata pada Sora, “Aku pinjam dulu temanmu.”

“Ada apa sih?” tanya Opi dengan nada kesal setelah Yamada membawanya ke tempat yang agak sepi.

Yamada menggaruk-garuk kepala. “Aku hanya ingin minta maaf. Kemarin kata-kataku keterlaluan,” ucap Yamada.

Opi mengerutkan kening. Ia tidak percaya dengan kata-kata laki-laki itu.

“Aku tidak bohong. Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh,” Yamada meyakinkan Opi.

Opi tersenyum. “Baiklah. Aku juga sudah menamparmu. Anggap saja kita impas.”

“Tapi ini sakit…” Yamada mengelus pipinya yang kemarin malam ditampar Opi.

Opi mencibir. “Sudahlah. Rasa sakit, pergilah~,” serunya sambir mengelus-elus pipi Yamada.

Yamada tertawa sambil mengacak-acak rambut Opi dengan lembut. “Ayo ke kelas.”

Opi mengangguk lalu memeluk tangan Yamada.

“Kenapa?” tanya Opi saat Yamada menatapnya penuh tanya.

“Ini pertama kalinya kau mau memegangku.”

Opi tersenyum. “Aku kan pasanganmu seminggu ini.”

Yamada ikut tersenyum dan mereka berjalan berdampingan menuju kelas.

——————————

Yuma sekali-sekali melirik ke arah gadis yang duduk cukup jauh dari kedainya. Gadis itu memakan kroket yang baru saja ia goreng dengan pelan. Dan sepertinya ia menyukai kroket itu karena gadis itu terus melahapnya hingga habis.

“Mau lagi, Nu-chan?” tanya Yuma pada Nu.

Nu mengangguk.

Seperti singa yang tidak diberi makana 1 minggu, Nu langsung menangkap bungkusan kroket itu dan melahapnya lagi.

“Kroketnya enak?” tanya Yuma lagi seraya duduk di samping Nu.

Nu mengangguk. “Enak…”

Yuma terkejut. “Mudah sekali membuatmu senang.”

Nu tidak memperdulikan Yuma dan tetap memakan kroketnya.

“Hari ini kita pergi ke kemana?” tanya Yuma. “Shift-ku sudah habis.”

Nu tidak menjawab. Ia masih tetap memakan kroketnya.

Yuma menunggu Nu menjawab tapi gadis itu tetap diam.

“Mungkin kita diam saja di sini—“

“Taman…” potong Nu.

“He?”

“Aku ingin ke taman..” ucap Nu pelan.

Yuma tersenyum senang. Hari ini Nu ada kemajuan. Dibandingkan hari-hari yang lalu, hari ini gadis itu terlihat lebih mudah berbicara.

“Aku orang yang tidak banyak bicara,” Yuma mulai bercerita saat mereka duduk di bangku taman. “Aku tidak pernah bisa menolak dan tidak bisa mengungkapkan keinginanku.”

Yuma lalu terkekeh. “Banyak orang yang bilang aku terlalu baik. Saat orang-orang menggangguku, aku hanya bisa diam saja. Padahal aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah.”

“Mungkin karena itu juga, aku tidak bisa berkata jujur tentang perasaanku pada Riisa. Karena aku tidak ingin menyakitinya, aku setuju saja saat dia memutuskan untuk mengembalikan hubungan kami sebagai sahabat.”

Yuma menatap Nu yang hanya diam saja.

“Kuharap kau bisa mengatakan apa yang kauinginkan sebelum kau menyesalinya,” Yuma lalu tersenyum kecil pada Nu.

Nu tiba-tiba mengelus-elus kepala Yuma pelan seolah itu caranya untuk menghibur laki-laki itu. Dan Yuma hanya menatap Nu senang lalu berkata, “Arigatou..”

Yuma mengetahui satu hal lagi tentang Nu, gadis ini sebenarnya juga ingin berkomunikasi dengannya, selanjutnya Yuma hanya tersenyum.

————————————-

From : Yuyan~
Subject: dimana?

Sora…kau dimana sih?
;~; angkat teleponku!!

Sora menatap e-mail itu, ia ingin sekali membalasnya namun sebagian hatinya juga kesal dengan apa yang ia lihat kemarin sore. Beberap menit kemudian ponselnya kembali berdering, Sora pun secara otomatis mematikan ponselnya.

“Hufft~ aku sedang kesal denganmu!” umpat Sora pada wallpaper ponselnya, foto dirinya bersama Yuya.

Yuya sendiri bingung apa yang terjadi dengan kekasinhya itu. Seingat dirinya, ia tidak melakukan kesalahan apapun. Yuya mengurutkan hal apa saja yang Sora tidak suka, “Aku mengiriminya e-mail, aku menanyakan keadaannya,” gumamnya sambil melipat jari-jarinya, “Aku tidak mabuk, aku juga tidak merokok, hmmm…” dahi Yuya kembali berkerut, “Aku makan dengan teratur, aku tidak salah pakai baju, aku tidak pakai sendal ke kampus,” ucapnya lagi masih melipat jari-jarinya yang hampir habis dipakai berhitung hal-hal yang tidak disukai Sora.

“Ah!” Seakan terkena sambaran petir, “Sebentar…itu kan bukan salahku… ini salah Ikuta sensei,” Yuya merengut mengingat kejadian kemarin.

Selesai kuliah hari itu Yuya memang sudah janjian dengan Saifu lalu dengan cueknya Yuya pergi bertemu dengan gadis itu. Bukan karena Yuya lupa akan Sora, namun seingat Yuya, Sora pun ada janji dengan Toma. Dan kejadian itu pun terjadi, Saifu mencium pipinya, sesaat setelah mereka bertemu. Menurut Saifu itu hanya masalah kebiasaannya saat bertemu orang yang menurutnya spesial, dan saat ini Yuya adalah orang spesial baginya. Sementara itu saat Yuya berbalik ia mendapati kekasihnya sedang menatapnya dengan marah. Yuya tak sempat mengejar Sora karena beberapa detik kemudian Sora naik ke mobil Toma dan pergi dari tempat itu.

“Arrrgghhh~” Yuya mengacak rambutnya dengan kesal tiba-tiba ia lemas dan tak tahu berbuat apa.

Entah untuk keberapa kalinya Saifu mencoba menghubungi nomor yang sama, jawabannya tetap sama.

“Moshi-moshi?” angkat suara diseberang.

“Ryu-kun…” suara kedua ini sudah pasti dari Saifu.

“Aku sibuk, telepon lain kali ya…” klik. Dengan ironisnya telepon tersebut berganti dengan suara khas telepon jika ditutup.

Saifu tahu akan seperti ini jadinya. Walaupun ia sengaja menelepon ke ruang kerja Ryutaro agar setidaknya Saifu bisa mendengar suara tunangannya itu. Suara yang selama ini selalu ia rindukan. Sudah hampir tiga bulan ia tak bertemu dengan Ryutaro. Alasannya ia sibuk kuliah dan kerja pada saat bersamaan.

Saifu menghela nafas berat, “Jika saja aku tidak punya perasaan apapun padamu, semuanya akan lebih mudah.” Keluhnya lalu duduk di sofa kamarnya dan menyalakan televisi dengan suara kencang.

Seakan teringat sesuatu, Saifu menghubungi sebuah nomor, mengajak si empunya nomor tersebut untuk bertemu di suatu bar. Beberapa menit kemudian ia pun bersiap untuk pergi ke bar, menemui si pria yang tadi ia hubungi.

“Maaf menunggu lama ya?” sapa seseorang ketika Saifu baru saja duduk di bar itu sekitar sepuluh menit.

Saifu menggeleng, lalu meminta minuman untuk si pria.

“Hmmm… ada apa ya?”

Langsung kepada poinnya, menandakan si pria tidak begitu antusias untuk bertemu dengannya. Tapi peduli soal mau tak mau, minggu ini adalah tugas si pria untuk menemaninya.

“Aku hanya ingin bertemu Yuya saja, salah?” tanya Saifu lalu memberikan minuman yang diberikan si bartender kepada Yuya.

Yuya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Oh… baiklah…” ucapnya canggung.

Menit-menit berganti jam dan minuman keras yang diteguk oleh Saifu pun semakin banyak jumlahnya.

“Ayo Yuya tambah lagi?” jelas sekali gadis itu sudah mabuk berat.

Yuya sendiri walaupun ada masalah dengan Sora, ia sedang tidka ingin mabuk maka ia menggeleng pada gadis itu dan hanya mendengar ocehan putus asa seorang Suzuki Saifu yang semakin lama semakin terdengar menydihkan.

“Kurasa kau sudah terlalu mabuk, Saifu-chan…” Yuya menarik gelas yang hendak Saifu minum lalu menjauhkannya, dan menarik tubuh gadis itu dari meja bar.

Saifu linglung dan hanya mengikuti Yuya sambil mengumpat marah pada si pemuda, namun tubuhnya terlalu lemas untuk melawan.

“Yuya chan…” panggil Saifu ketika mereka sudah ada di depan bar, Yuya mencarikan taksi untuk gadis mabuk ini.

“Ya?” tepat saat Yuya menoleh, bibir gadis itu sudah menempel pada bibirnya.
————————————–

“Konbanwaaa~” Toma masuk ke Bar malam itu. Seharusnya malam ini adalah minggu kedua kartu akan diacak untuk menentukan pasangan minggu berikutnya.

“Semuanya sudah datang ya?” seru Toma sumringah.

Yang lainnya hanya mengangguk, auranya tak begitu menyenangkan hari itu. Namun seperti biasanya Toma mencoba mencairkan suasana diantara mereka.

“Bagaimana minggu pertama kalian? Menyenangkan?”

Tidak ada yang menjawab, hanya anggukan atau bahkan tidak ada jawaban sama sekali.

“Baiklah… sepertinya kalian tidak sabar lagi….” Toma memegang lima kartu untuk pria dan lima kartu untuk wanita. Satu persatu semuanya mengambil kartu secara acak.

“Aku duluan!” kata Toma lalu menunjukkan kartu King, disambut oleh Opi yang membuka kartu yang sama dengan Toma.

Yuya membuka kartunya dan menunjukkan kartu bergambar As hati, sesaat kemudian Riisa membuka kartu yang sama.

“Punyaku Queen…” ucap Saifu, Yuma membuka kartunya dan memperlihatkan bahwa ia punya kartu Queen juga.

Sora membuka kartu J hati, disambut oleh Yamada. Berarti Inoo otomatis berpasangan dengan Nu.

Minggu keduapun dimulai.

—————————————-

TBC~ To Be Continued

Maaf lama sodara-sodara…
Silahkan dicela, dihina, dikasih masukan…dipuji lebih seneng.. lol
COMMENTS ARE ALWAYS LOVE
😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s