[Multichapter] Love Shuffle (chapter 05)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Five
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE

Chapter 5 

“Aku tidak mau bertanggung jawab kalau malam ini kau mabuk,” Yuma memperingatkan pada Opi saat gadis itu minum birnya.

Opi tersenyum. “Tenang saja. Aku tidak akan mabuk, Yuma.”

Jam pulang Yuma masih 3 jam lagi. Walaupun Yuma mengikuti permainan Love Shuffle, tapi pekerjaannya tetap harus diutamakan. Oleh karena itu, Opi yang datang cafe untuk menemui Yuma.

“Gomen ne. Pekerjaanku masih banyak..” kata Yuma sambil melakukan beberapa pekerjaan di balik meja bar.

Opi menggeleng cepat. “Kau tenang saja. Kita bisa berkencan dimana saja. Termasuk di sini,” balasnya.

“Arigatou..”

“Lalu..” Ucapan Opi menggantung sebentar sambil menengok ke sebelah kanan. “Sedang apa sensei di sini?”

Ikuta Toma dengan elegan meletakkan cangkir kopinya lalu menoleh pada Opi. “Tentu saja menunggu partnerku. Kau pikir aku datang untuk bertemu denganmu?”

“Hahaha…” Gadis itu tertawa sumbang. Tapi meskipun begitu, Opi tidak pernah melupakan kejadian yang ia alami bersama Toma di perpustakaan tempo hari. Berulang kali diingat, Opi tetap berusaha menganggap itu hanya sebuah lelucon saja.

“Lalu kalian?” lalu Opi menengok ke sebelah kirinya dan terdapat Yamada Ryosuke sedang makan cake strawberry. Di sebelah Yamada ada Takaki Yuya yang sedang meminum bir nya.

“Aku sedang bersantai sejenak sebelum tugas penting besok..” balas Yamada.

Opi mencibir. Dasar playboy kelas atas.

“Aku….” Yuya menyahut. “..aku ingin terbang…” dan kemudian dia tertidur.

Opi menyipitkan matanya. “Yappari…dia mabuk..”

“Opi-chan tidak mabuk, sekarang Yuya yang mabuk..” timpal Yuma menghela napas. Kenapa dia harus menghadapi orang-orang mabuk terus?

Tak berapa lama, Suzuki Saifu datang dengan gayanya yang khas dan menghampiri Toma.

“Sudah menunggu lama?” tanya Saifu begitu bertemu dengan Toma.

Toma menggeleng.

“Hai semuanya…” sapa Saifu. Opi membalas dengan senyuman singkat sedangkan Yuma membalas dengan senyum canggung dan tak berapa lama kepalanya menunduk. Sepertinya gugup bertemu dengan Saifu. Yamada hanya mengangkat tangannya dan Yuya…dia masih tertidur.

“Kalau begitu kami pergi dulu. Ja ne~” dan Toma yang diikuti Saifu dari belakang pun pergi.

“Aku juga..” Yamada bersiap pergi. “Aku harus mengantar pulang si bodoh ini,” Yamada menunjuk ke arah Yuya. ‘Ayo bangun Yuya…”

Opi menahan tawa melihat cara Yamada berusaha membangunkan Yuya yang masih mabuk. “Sejak kapan kalian akrab?”

Yamada mendengus. “Sejak aku menemukannya terlihat menyedihkan di kampus tadi sore.”

Dan Opi tertawa terbahak-bahak.

Dengan perginya Yuya dan Yamada, di meja bar itu hanya tinggal Opi dan Yuma saja.

“Aku senang Ikuta-sensei cepat pergi..” ucap Opi.

“Nande?” tanya Yuma.

“Membuatku gatal-gatal..” jawab Opi asal. “Oia..apa yang sudah terjadi antara kau dan Suzuki-san? Tadi aku lihat kau gugup sekali bertemu dengannya.”

“He?” Yuma tiba-tiba gelagapan. “Itu…ti-tidak ada apa-apa.”

Opi tersenyum jahil. Gadis itu yakin terjadi sesuatu diantara mereka.

“Ayo katakan padaku, Yuma-kun…” desak Opi sedikit memaksa.

“Hanya terjadi kesalahan. Tidak terjadi apa-apa…” kata Yuma lalu pergi ke dapur meninggalkan Opi yang penuh pertanyaan.

———————-

Jam menunjukkan pukul 11 siang saat Daiki sampai di klinik tempat Ikuta Toma bekerja. Pemuda itu langsung menemui resepsionis walaupun sebenarnya ia yakin dokter itu ada di ruangannya. Hanya saja mereka tidak membuat janji.

“Ano…bisa aku bertemu dengan Ikuta-sensei?” tanya Daiki pada seorang wanita yang berada di meja resepsionis.

“Ikuta-sensei sedang tidak ada di ruangannya. Sedang keluar sebentar,” jelas wanita itu.

Daiki sedikit kecewa. “Aku bisa menemuainya kapan?”

“Itu…..”

“Are? Daiki-san?” sahut Toma saat ia akan ke ruangannya.

“Datang sendiri?” tanya Toma saat mereka sudah masuk ke ruangannya.

Daiki mengangguk. “Ada yang ingin kutanyakan.”

“Silahkan duduk,” ucap Toma pada Daiki yang sedari tadi hanya berdiri. “Ingin menanyakan apa?”

“Ini tentang Nu,” tanpa basa basi Daiki berbicara pada tujuannya ia datang menemui Toma.

Toma sedikit bingung. “Baiklah. Ada apa dengan Nu?”

“Apa yang kaulakukan pada Nu?” tanya Daiki langsung. Wajahnya terlihat sangat serius. Tentu saja ia akan sangat serius pada orang yang penting untuknya.

“Apa….yang….kulakukan?” Toma balik bertanya pada Daiki.

“Mungkin sensei tidak tahu, tapi aku mengenal Saifu Suzuki. Dia temanku,” Daiki mulai menjelaskan. “Dan saat aku bertemu dengannya, dia bercerita sensei membuat permainan aneh dan melibatkan Nu. Apa maksud sensei? Apa sensei lupa kalau dia tidak seperti yang lain?”

Mendapat berbagai pertanyaan dari Daiki, Toma hanya tersenyum. Ia memperkirakan hari ini akan datang.

“Kenapa sensei hanya tersenyum? Aku bertanya sensei…” Daiki terlihat kesal dan marah karena Toma yang hanya diam dan tidak memberinya penjelasan.

“Daiki-san, tenang dulu. Aku melibatkan Nu karena aku mempunyai alasan,” sahut Toma tenang.

“Kuharap penjelasanmu masuk akal,” sindir Daiki masih kesal.

Toma berdeham. “Masalah utama Nu adalah keinginan dia untuk membunuh dirinya sendiri yang sangat besar. Dan alasannya adalah karena ingin bertemu ibunya. Benar kan?”

Daiki mengangguk.

“Aku ingin membuatnya mempunyai alasan…..untuk hidup,” lanjut Toma.

“Hah?” Daiki terlihat tidak mengerti.

Toma melanjutkan. “Nu akan memiliki alasan untuk hidup, jika dia jatuh cinta pada seorang laki-laki. Aku menganggap ini terapi untuknya. Jika dia bisa mencintai salah satu dari mereka dan memiliki keinginan untuk hidup, bukankah terapinya berhasil?”

Daiki berpikir. Ucapan Toma ada benarnya. Mungkin ini bisa menjadi terapi yang baik untuk Nu dan dapat menghentikan keinginan gadis itu untuk bunuh diri. Tapi di dalam hati Daiki, entah kenapa ia tidak menyukai gagasan itu.

“Kalau gagal?” tanya Daiki.

Toma tersenyum. “Aku punya seribu cara untuk menyembuhkan Nu. Tapi kurasa cara ini akan berhasil,” sahut Toma yakin.

Daiki dapat merasakan ucapan penuh percaya diri dari Toma. Tapi tetap saja, ia mencemaskan sesuatu. Mencemaskan sesuatu tentang dirinya dan Nu.

“Dan kuharap Daiki-san tidak ikut campur, ne?” lanjut Toma sambil tersenyum.

Tubuh Daiki seketika merinding karena melihat senyum Toma yang tidak seperti biasanya. Terlihat mengerikan.

——————————-

“Konnichiwa…” sapa Yuya saat ia bertemu dengan Nu di depan rumah gadis itu. Dan ternyata Nu tidak sendiri. Dia ditemani oleh seorang laki-laki.

“Anata dare?” tanya laki-laki itu tanpa basa basi.

Yuya menunduk pelan dan gugup. “Takaki Yuya desu. Hajimemashite..”

“Yamete Dai-chan. Kau masuk saja,” ucap Nu dengan nada datar. Sedatar ekspresi wajahnya.

“Kau harus hati-hati. Kalau ada apa-apa……”

“Ittekimasu..” Nu tidak mendengar kata-kata Daiki hingga akhir. Gadis itu pergi mendahului Yuya.

“Ano…itu siapa?” tanya Yuya ketika mereka meninggalkan rumah Nu dan langkah mereka sudah sejajar.

Mulut Nu tertutup. Gadis itu hanya berjalan tanpa memperdulikan pertanyaan Yuya.

“Baiklah…hari ini kita kemana? Mungkin lebih baik makan siang dulu. Kau lapar Nu? Aku sudah kelaparan sejak tadi. Ada tempat yang kau suka?”

“Ada..”

“Aku tahu pasti tidak ada….eh?” Yuya menoleh cepat ke arah Nu dengan terkejut. “Kau bilang apa?”

“Ada tempat yang ingin kudatangi.”

Yuya tersenyum. Memang sulit menghadapi Nu, tapi akan sangat senang sekali jika bisa membuatnya bicara. Itu yang dirasakan Yuya sekarang.

“Kalau begitu kita naik taksi saja. Biar cepat.”

Belum sempat Yuya memanggil taksi, Nu tiba-tiba menggenggam tangannya. Untuk kedua kalinya Yuya dikejutkan oleh gadis itu.

“Jangan taksi,” tegas Nu.

Yuya yang masih belum sembuh dari keterkejutannya, hanya mengangguk dan akhirnya ia memilih untuk naik bus.

———————–

“Bagaimana hubunganmu dengan Inoo-san?”

Pertanyaan Yuma membuat Opi berhenti minum. “Bisakah tidak membicarakannya saat kita sedang berkencan?” protesnya.

“Aku hanya bertanya. Gomenasai..”

Opi menghela nafas. Yuma meminta maaf padanya membuat ia merasa bersalah.

“Seperti biasa,” timpal Opi acuh. “Pagi-pagi kami berangkat. Saat aku pulang, Kei masih belum pulang. Saat aku tidur pulas, Kei baru pulang. Dan kami akan bertemu lagi di pagi hari. Begitu setiap hari.”

Tiba-tiba suasana menjadi tegang. Yuma merasa tidak enak karena sudah menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. Sedangkan Opi, ia menjadi teringat lagi tentang kekesalannya pada Kei yang selalu sibuk.

“Aku mengaguminya. Inoo-san maksudku,” ucap Yuma. “Dia masih muda. Tapi karier nya sudah bagus. Dia sangat bekerja keras. Apapun ia kerjakan. Kadang aku mengobrol dengan Inoo-san.”

“Oia? Apa yang kalian bicarakan?” tanya Opi. Sepertinya pembicaraannya sudah semakin menarik karena Opi mulai penasaran.

Yuma tersenyum. “Aku sering bertanya kenapa Inoo-san harus bekerja sekeras itu? Lalu Inoo-san menjawab ‘Aku ingin cepat menjadi sukses. Aku ingin mempunyai perusahaan sendiri dan dengan begitu Opi tidak akan kekurangan apapun’.”

Opi terdiam. Benarkan Kei berkata seperti itu?

“Uso…” gumam Opi tak percaya.

Yuma tersenyum lagi. “Kan sudah kubilang, aku sangat mengagumi Inoo-san. Karena kata-kata itu aku menjadi ikut termotivasi.”

Jadi itu yang dia pikirkan? Dia sudah berpikir sejauh itu. Sedangkan Opi? Dia hanya bisa kesal karena Kei tidak ada waktu untuknya. Tiba-tiba ia menjadi merasa bodoh.

“Opi-chan? Kenapa diam saja? Ayo dimakan mie ramennya. Nanti cepat dingin.”

Yuma menyadarkan lamunannya. Opi hanya membalas dengan anggukan.

“Yuma..”

“Hmm?”

“Kata-katamu tadi benar kan?”

Yuma tertawa. “Tentu saja. Kau pikir aku berbohong?”

Opi ikut tersenyum. “Kalau kau berbohong, aku pukul kamu,” ancamnya.

“Tapi kalau aku benar, kau harus mentraktirku ke restoran mahal,” Yuma mengancam balik dan kemudian mereka tertawa.

—————-

“Tempat apa ini?” gumam Yuya.

“Ini danau,” jawab Nu datar.

Yuya menghela nafas. “Aku tahu. Maksudku, kenapa kita kemari?”

Nu menunjuk ke arah belakang Yuya. Saat Yuya memutar kepalanya, ia melihat ada perahu yang memang ditujukan untuk disewakan.

“Kau ingin naik perahu?” tanya Yuya yang kemudian dibalas dengan anggukan Nu.

“Baiklah..”

Sementara Nu menunggu di pinggir danau sambil bermain air, Yuya pergi menyewa sebuah perahu. Danau ini memang lumayan terkenal. Ada pasangan atau keluarga yang biasa berekreasi kemari. Dan tentu saja yang paling terkenal itu adalah perahunya yang biasa dinaiki pasangan yang pacaran atau yang sudah menikah. Suasana di sekitar danau memang sangat romantis.

Tapi Yuya, seolah hatinya dipukul oleh palu besar, malah ke danau seindah ini bukan dengan kekasihnya.

“Harusnya aku kesini bersama Sora,” gumam Yuya sedih sambil tertunduk sedangkan tangannya sibuk mengayuh dayung.

Saat Yuya mengangkat kepalanya, dia melihat Nu sedang menutup matanya.

“Kau sedang apa?” tanya Yuya.

“Dulu..ibuku sering mengajakku ke sini,” jawab Nu.

“Ah..Sou..” timpal Yuya.

Yuya mengerti. Jika Nu sering ke sini bersama ibunya, bisa diperkirakan Nu sedang mengumpulkan kembali memori tentang ibunya. Lama kelamaan Yuya merasa kasihan pada Nu. Dia harus kehilangan ibunya semuda ini. Di saat seorang anak gadis memang sedang membutuhkan sosok ibu. Tanpa sadar Yuya ikut menutup matanya. Tapi berbeda dengan Nu, dia sedang merasakan udara segar di sekitar danau.

“Hmmm…” Yuya menarik nafas dalam-dalam. “Udara di sini enak sekali. Pantas saja kau suka tempat ini. Ya kan Nu?”

Betapa kagetnya Yuya saat ia membuka matanya, Nu tidak ada di hadapannya. Rasa panik langsung terasa d pikirannya.

“Nu? Nu? Kau di mana?” teriak Yuya panik. Tak jauh dari perahu yang mereka naiki, terlihat sosok Nu mengambang di atas air. Seketika kepanikan Yuya bertambah.

“Kenapa dia bisa di sana?” rutuknya. Tanpa pikir panjang lagi, Yuya membuka kaosnya lalu terjun ke danau untuk membawa Nu kembali ke perahu secepat mungkin.

“Nu…jangan mati, Nu!!” mohon Yuya dalam hati.

—————-

“Bagaimana keadaan Nu?” kata Yuya pada seorang petugas kesehatan. Mungkin juga itu dokter.

“Dia tidak apa-apa. Sepertinya dia pingsan sesaat sebelum jatuh ke dalam air. Tapi keadaannya sudah lebih baik. Tidak terluka sedikitpun. Dia sekarang sedang tertidur,” jelas dokter yang seketika membuat Yuya lega. Syukurlah Nu tidak apa-apa, batin Yuya.

“Boleh aku melihatnya?”

“Tentu saja.”

Yuya berjalan pelan menuju tempat Nu terbaring. Kalau sedang tertidur seperti itu, wajah Nu terlihat damai. Rasanya Yuya gemas melihatnya.

“Hmm…” Nu sadar. Cepat-cepat Yuya menghampiri Nu.

“Bagaimana perasaanmu? Baik? Ada yang sakit?” tanya Yuya beruntun.

“Dimana?” tanya Nu tentang keberadaannya seraya mencoba duduk dengan dibantu oleh Yuya.

“Di ruang kesehatan. Tadi kau terjatuh ke danau. Kau tahu bagaimana paniknya aku saat melihat kau jatuh dari perahu. Kupikir kau sudah tidak bernyawa. Tapi dokter bilang kau tidak apa-apa. Apa ada yang……-Ano, Nu?”

Yuya menjadi salah tingkah karena tiba-tiba Nu melingkarkan tangannya di pinggangnya.

“Gomenasai…Gomenasai…Gomenasai..” Nu terus mengulang kata itu. Wajahnya terlihat ketakutan seperti dikejar-kejar hantu.

Yuya yakin ada yang salah dengan Nu tadi ketika di atas perahu. Karena sebelumnya gadis itu masih sangat tenang.

“Anak baik..” Yuya mengelus lembut kepala Nu. Terus dia lakukan hingga Nu benar-benar tenang. Setelah Nu lebih tenang, Yuya menatap wajah Nu sambil tersenyum lalu berkata, “Ayo pulang.” dan disambut dengan anggukan Nu.

———————-

“Neee~ Ikuta-sensei…” panggil Saifu dengan manja, ia sedang ingin menggoda dokter itu.

“Hmmm?” Toma masih sibuk dengan pekerjaannya sehingga membiarkan Saifu diam di dalam kantornya.

“Kenapa kau membuat penelitian seperti ini? Memangnya tidak ada hal yang lebih menarik?” tanya Saifu lalu mendekat ke arah meja Toma yang tidak menoleh sama sekali dari layar laptopnya.

Toma melirik sekilas ketika tangan Saifu berada di bahunya, menatap ke layar laptop. Toma tidak takut Saifu bertanya macam-macam soal apa yang ada di layar itu karena penuh dengan istilah kedokteran, yang mungkin tidak Saifu ketahui.

“Maa na… manusia itu menarik. Cinta itu abstrak dan tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Gabungan manusia yang menarik dan cinta yang abstrak, bukankah itu sangat mengagumkan?” jawab Toma.

Saifu tampak berfikir, “Sou da ne? Aku gak ngerti sih… tapi memangnya cinta itu ada?”

Toma tersenyum sekilas, “Jadi Saifu-chan tidak percaya cinta? Lalu bagaimana dengan orang yang katanya akan kau nikahi itu, siapa namanya?”

“Ryutaro… Morimoto…” menyebut namanya saja membuat Saifu sakit perut, ia malas membahasnya.

“Kau tidak mencintainya?” tanya Toma sambil masih mengetik di laptopnya.

Saifu terdiam sesaat.

Memangnya dia mencintai Ryutaro?

Dulu memang ia selalu ingin bertemu Ryutaro.

Setiap hari.

Melihat wajahnya saja Saifu sudah merasa bahagia.

Mendapat pesan singkat darinya saja bisa membuat hari itu lebih indah.

Tapi sejak Ryutaro sibuk, tidak ada lagi pesan singkat. Ketika menelepon pun Ryutaro hanya mengabarkan bahwa ia tidak bisa datang, atau sedang meeting atau pergi dengan klien. Lalu apa sekarang Saifu masih cinta padanya?

“Wakannai… aku gak ngerti cinta itu apa…” jawab Saifu kini menjauh dari Toma dan duduk kembali di sofa.

Toma berhenti mengetik dan membawa dua cangkir teh. Ia duduk di sebelah Saifu dan memberikan secangkir teh pada gadis itu.

“Tapi Saifu-chan… tidak selamanya kita harus mengerti, kan?” lalu Toma tak lupa menghadiahkan sebuah senyuman pada Saifu.

———————————

“Gomen… aku telat! Tadi ada meeting,” ucap Inoo menatap jam tangannya yang menunjukkan ia sudah telat lima belas menit.

Sora yang hanya menatap Inoo tanpa berkedip sambil menyeruput es tehnya, “Tidak apa-apa, Inoo-kun,”

Inoo tampak repot dengan beberapa kertas dan map di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya membawa tas kantor dan laptop. Sora mengambil sebagian kertas yang ada di tangan Inoo, “Waaa.. sugoi!”

“Emangnya ngerti?” tanya Inoo lalu duduk di hadapan Sora, ia lalu memesan secangkir kopi hitam.

Sora menggeleng, “Sama sekali tak mengerti… hehehe,”

Inoo ikut nyengir, “Baka da na..”

“Ngomong-ngomong Inoo-kun selalu pulang larut malam ya? Gitu sih kata Opi-chan…” ungkap Sora.

“Maa… tuntutan pekerjaan, kan?”

Sora mengangguk, “Mungkin. Aku mana tahu, lulus kuliah saja belum,” tambahnya.

“Mana yang lebih kau pilih, Sora-chan, punya pacar yang sibuk tapi bisa membelikanmu apa saja atau yang selalu ada di sampingmu walaupun kalian tidak bisa beli apa-apa,” Inoo asal saja bertanya, tak lama kemudian pesanan kopinya datang. Sora belum juga menjawab.

“Uhmmm… gak bisa pilih dia selalu ada tapi bisa dibeliin macam-macam juga?”

Inoo tertawa, “Tapi aku gak ngasih pilihan gitu!”

Sora kembali berpikir, “Jya… lebih baik hidup sederhana tapi bisa selalu bersama kan? Maksudku, kalaupun punya banyak uang, lalu tidak bisa dinikmati bersama, rasanya sayang sekali, bukan?”

Inoo mengangguk-angguk, “Sou da ne…”

“Kenapa? Opi-chan mengeluh kau jarang pulang? Hehe..”

“Betsu ni. Aku juga tidak sesibuk itu sih sebenarnya, hanya akhir-akhir ini saja proyek semakin banyak dan aku harus lebih sering tinggal di kantor untuk membuat rancangan,”

Sora mengangguk-angguk mengerti, “Lalu Opi-chan tidak protes?”

Inoo melipat tangannya di dada, tampak berfikir, “Ia tidak mengatakannya. Namun sepertinya dia sedikit kecewa,”

“Jya, Inoo-kun beli hadiah untuknya dong!”

Inoo tertawa, “Bagaimana dengan Yuya? Sepertinya Yuya sedikit khawatir kau dengan pria lain? Yamada nantoka itu ya?”

“Ryo-kun? Uhmm… dia hanya… teman,” namun Sora tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya saat membicarakan soal Yamada.

“Maa, ngomong-ngomong ini kencan kita tapi kenapa kita malah membicarakan orang lain? Sora-chan kan partnerku minggu ini,”

Sora mengangguk, “Bagaimana kalau besok kita ke tempat membuat keramik!”

“Eh? Kau suka hal seperti itu juga?”

“Ingin nyoba sih, katanya mengasyikan…”

“Ayo deh, besok sepulang aku kerja, kan?”

Sora mengangguk, “Eh.. aku lapar! Pesan sesuatu yuk!”

———————————————-

“Waaa~ sugoi!!! Kelihatannya enak!!” ucap Yamada sambil menatap kue yang baru saja dibuat oleh Riisa.

“Tapi Yamada-san,”

“Hmm?” Yamada menatap Riisa, “Kenapa kau keliatan panik, gitu?”

“Kenapa kamu harus datang ke tempat aku belajar, sih? Sekarang kita jadi pusat perhatian!!” seru Riisa sambil menarik-narik lengan baju Yamada.

Yamada menatap sekeliling sekolah memasak itu, dan mendapati hampir semua mata gadis di situ tertuju padanya, “Tidak buruk kan kau jadi pusat perhatian?” tanya Yamada lalu menarik Riisa lebih dekat dengannya, “Ne?”

“’Ne’ jyanai yo! Aku tidak suka jadi pusat perhatian!! Pulang sana!!” usir Riisa kesal.

Pemuda itu lalu menekuk mukanya, pura-pura kesal, “Rii-chan jangan dingin gitu dong, kita kan pasangan sekarang,”

Riisa mencibir, “Gak mempan! Sana pulang!! Nanti saja bertemunya setelah aku selesai sekolah!” bisik Riisa lagi.

“Kawaii… Rii-chan…” cup! Sebuah kecupan tiba-tiba mampir di pipi Riisa, dan sebelum Riisa sempat bereaksi, Yamada sudah melambaikan tangan pada Riisa, “Jya!! Aku tunggu di lobby bawah yaaa, Rii-chan!!”

Suara bising seperti lebah pun segera terdengar di ruangan itu, tentu saja membiacarakan kejadian yang baru saja terjadi.

“Ne ne… Itu pacar baru Yanagi-san?” tanya Naomi, teman Riisa yang selalu berada di meja sebelah Riisa.

“Itu.. bukan…” Riisa sulit menjelaskannya, dan tak mungkin juga menceritakan eksperimen aneh yang dilakukan oleh seorang psikolog padanya.

Beruntung sensei segera masuk ke kelas dan Riisa tidak perlu menjawab pertanyaan Naomi.

“Otsukaresama, Rii-chan!!” ternyata Yamada benar-benar menunggunya di lobby.

Riisa membuang nafas berat, “Baka! Ngapain masih disini?”

“Menunggu Rii-chan. Katanya bertemu setelah kelasmu selesai kan?”

“Tapi…memangnya kamu gak ada kerjaan lain?” seru Riisa kesal.

Yamada menggeleng, “Gak ada, hari ini aku gak ada kuliah!”

Riisa tak bisa menjawab dan melanjutkan jalannya keluar dari gedung sekolah, Yamada mengikutinya.

“Naik mobil saja yuk! Kan lebih praktis, terus bisa cepat nyampe!” seru Yamada menarik tangan Riisa ke arah mobilnya di parkir.

Riisa sudah malas bertengkar dan mengikuti apa yang Yamada inginkan. Ketika baru saja Riisa menggunakan sabuk pengaman, tiba-tiba terdengar suara dari perut Yamada. Keduanya saling bertatapan, Riisa tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.

“Kau lapar?” tanya Riisa berusaha menahan tawanya.

“Aku kan menunggumu selama dua jam, lapar tau!!”

“Ya sudah, kita ke rumahku saja ya, biar aku masak sesuatu untukmu,” ucap Riisa.

“Tentu saja harus begitu!” balas Yamada menahan malu.

Setelah perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah restoran yang tidak begitu besar, namun di dalamnya terlihat lalu lalang orang dan beberapa orang masuk dan keluar dari restoran itu.

“Ini adalah restoran keluargaku,” jelas Riisa.

Yamada ikut turun dan menatap setiap pelanggan di dalamnya yang terlihat berbincang-bincang satu sama lain. Yamada duduk di meja depan yang menhadap langsung ke tempat pelayan.

“Mama, tadaima!” seru Riisa.

“Riisa! Ayo cepat bantu, malam ini banyak sekali yang datang!” seru Mama yang tampak sibuk.

“Jya! Yamada Ryosuke desu! Izinkan saya ikut membantu, Yanagi-san!” Yamada tiba-tiba berdiri di hadapan Mama nya Riisa.

Mama menatap Riisa dengan pandangan bertanya.

“Ini… temanku, Mam!” jelas Riisa.

“Ah… kalau begitu, iya.. boleh…” ucap Mama masih sedikit bingung. Riisa pun menyerahkan apron pada Yamada.

———————————————-

“Otsukaresama, Yamada-san…” ucap Riisa lalu memberika segelas teh hangat di hadapan Yamada.

Restoran sudah tutup karena sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Tak lama kemudian sepiring nasi kare sudah terhidang di hadapannya.

“Arigatou Rii-chan,”

“Itu hanya rasa terima kasih karena kau telah membantu kami hari ini. Lagipula Yamada-san tidak mau dibayar, kan?”

Yamada menggeleng, “Ini saja sudah cukup,” pemuda itu lalu menyuapkan sesendok kare ke mulutnya, “Aahh.. makan setelah bekerja keras ternyata nikmat juga ya…” ucapnya riang, lalu makannya semakin lahap.

Riisa hanya tersenyum dan menatap Yamada, “Dasar orang aneh…” ungkapnya.

Yamada balas menatap Riisa, “Kau manis yah kalau tersenyum,”

Deg!

Riisa tiba-tiba merasa salah tingkah karena Yamada menatapnya seperti itu. Arti pandangan yang sangat sulit diartikan.

“Lain kali, kita kencan beneran ya. Jangan kencan di restoran terus,” kata Yamada, “Lain kali aku yang akan memasak untukmu..”

“Eh… i… iya…” jawab Riisa gugup.

Tiba-tiba pintu restoran terbuka, “Konban…”

Riisa refleks menoleh, “Yuma…”

“Ah! Gomen… aku pikir tidak ada Yamada-san..” Yuma salah tingkah karena melihat Yamada ada di dalam restoran Yanagi.

Yamada beranjak dari duduknya dan meneguk habis teh hangat yang diberikan Riisa tadi.

“Jya.. aku pulang dulu ya, Rii-chan,” tanpa segan Yamada menepuk pelan kepala Riisa. Yuma yang menyaksikannya hanya bisa berkedip dan tak bereaksi.

“Yuma.. jangan macam-macam sama pasanganku, ya… otsukaresama… sampai jumpa lagi!!” seru Yamada lalu keluar dari restoran.

Yuma dan Riisa bertatapan dengan wajah yang sama-sama canggung.

“Kau.. mau makan?” tanya Riisa sambil membawa piring kotor bekas Yamada makan.

Yuma mengangguk, “Hai. Onegaishimasu…”

——————————————

Sora berdiri di luar sebuah bangunan, berkali-kali menatap jam tangannya. Memang masih ada lima menit sebelum Inoo dipastikan akan telat. Ternyata walaupun akhir minggu seperti ini Inoo telat juga, pikir Sora.

“Sora-chan!!” Sora menoleh dan mendapati Inoo yang berlari ke arahnya.

Tidak seperti hari kerja Inoo selalu memakai setelan jas dan repot membawa banyak dokumen. Kali ini Sora baru memperhatikan Inoo yang memakai jeans dan kaos. Sepertinya ia mungkin pernah melihat Inoo seperti ini saat bertemu dengan Opi, namun tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

“Kenapa diam saja?” tanya Inoo. Ternyata ia sudah tepat berada di hadapan Sora.

“Ah! Iya.. ayo masuk!!” kata Sora lalu membuka pintu gedung itu.

Sebuah tempat membuat keramik yang cukup terkenal di Tokyo. Tempat ini biasanya adalah tempat les bagi yang berminat mempelajari seni keramik. Namun untuk pengunjung yang hanya ingin mencoba membuat keramik sederhana pun bisa saja.

Baru saja masuk, seorang petugas sudah menyambut keduanya. Memberikan apron pasangan dan menjelaskan berbagai macam peraturan yang ada di tempat ini. Sora dan Inoo hanya mengangguk-angguk. Ketika tiba di tempat membuat keramik keduanya diminta untuk membuat pola yang diinginkan.

“Haato ka na?” tanya Sora pada Inoo.

“Hati? Kenapa?”

Sora sedikit berbisik, “Kan untuk Opi.. yang aku buat untuk Yuya…”

Inoo mengangguk lalu membentuk hati dari tanah liat. Keduanya sepakat membuat sebuah mug. Beberapa saat kemudian keduanya sudah tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Beberapa kali mereka berbincang-bincang.

“Haha.. Sora-chan..” Inoo dengan usil mencoret muka Sora dengan tanah liat.

Sora menggembungkan pipinya, “Inoo-kun!!” gadis itu tentu saja tidak mau kalah dan ikut-ikutan mencoret muka Inoo.

“Hehehe.. satu sama..”

Inoo kini berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Sora untuk mencoret lagi muka gadis itu, namun Sora menghindar. Inoo menarik tangan Sora untuk mendekat namun ternyata tarikan itu terlalu kuat, tubuh Sora kemudian malah menempel pada Inoo, bisa dibilang sekarang mereka berpelukan.

“Uhm…” sesaat keduanya terdiam dan Sora menatap Inoo yang kini begitu dekat dengannya, “Inoo-kun…”

Inoo melepaskan Sora dengan canggung, “Ah. Gomen…”

“Inoo-kun mau menulis apa nanti di cangkir itu?” Sora mengalihkan pembicaraan, namun Inoo tidak langsung menjawab. Sepersekian detik saat mereka berpelukan, Inoo merasakan debaran jantungnya sangat kuat.

“Eh? Hmm.. apa ya? Kalau Sora-chan?” menyebutkan nama Sora tiba-tiba menjadi canggung buatnya.

“Belum terpikirkan… hehe,” jawab Sora sambil tertawa.

————————————–

“Jelaskan padaku kenapa kita ada disini?” tanya Toma dengan wajah merengut tak suka.

“Karena aku ingin kesini!! Ayo Sensei!!” Saifu menarik tangan Toma dengan bersemangat.

Tiba-tiba saja Saifu meneleponnya pagi ini dan tiba-tiba saja Saifu ingin ke taman bermain. Toma tidak pernah suka taman bermain. Terlalu bising dan semua orang tampak bergerombol.

“Ayolah…” Saifu menarik-narik tangan Toma masuk ke antrian jet coaster.

“Saifu-chan… bisa kita mulai dengan permainan yang biasa-biasa dulu aja?”

“Are? Sensei takut?” ujar Saifu sambil menahan tawanya.

“Chigau! Bukan gitu…” Toma tidak bisa menemukan alasan yang tepat dan saat itu juga giliran mereka naik.

Sepanjang hari itu Saifu menarik-narik Toma menaiki hampir semua permainan di taman bermain itu. Walaupun Toma menolak dengan kata-kata namun tidak pernah meninggalkan Saifu naik semua permainan itu sendirian.

“Hari ini tidak perlu pakai kartu ya, Toma-sensei?” tanya Saifu saat keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil makan es krim.

Toma mengangguk, “Kali ini semua pasangan sudah jelas kan akan dengan siapa…”

Saifu mengangguk-angguk, “Tapi akan ada pertemuan nanti malam?”

“Tentu saja, seperti biasanya kan?”

Saifu kembali mengangguk, “Jya! Ayo kita naik ferris wheel sebelum kita ke pertemuan!!” hari memang sudah sore, kemudian Saifu menarik tangan Toma.

Antrian ferris wheel untung saja tidak begitu panjang. Setelah beberapa menit keduanya sudah ada di dalam kincir besar itu untuk melihat pemandangan Tokyo yang indah.

“Sebenarnya, Saifu-chan, kenapa kau mengajakku kesini?” tanya Toma yang duduk bersebrangan dengan Saifu.

“Hah?” Saifu yang sedang menatap ke luar jendela terperanjat dengan pertanyaan Toma.

“Sudahlah… jangan bohong lagi, kenapa kau tiba-tiba ingin ke taman bermain? Berusaha bahagia sepanjang hari walaupun sebenarnya kau sama sekali tidak menikmatinya?”

Saifu diam, menatap Toma yang ada di hadapannya, sesaat kemudian Saifu menutup mukanya, menangis sesenggukan.

“Ryuu… semalam datang, saat aku membereskan barang bawaannya ketika ia sedang mandi, aku menemukan fotonya bersama gadis lain,” ungkapnya ditengah-tengah tangis.

Toma beranjak dan duduk di sebelah Saifu, menarik kepala Saifu ke pundaknya, menepuk-nepuknya pelan, “Menangislah…”

—————————————–

Yuma sedang berada di belakang bar ketika Yamada datang bersama Riisa.

“Yang biasa dong, Yuma..” katanya.

Seperti biasa di akhir minggu mereka akan menentukan pasangan untuk minggu berikutnya.

“Belum ada yang datang?” tanya Yamada pada Yuma.

Belum dijawab, “Yo!” Opi keluar dari kamar mandi, melambaikan tangan pada Yamada dan Riisa.

“Nongkrong di sini terus?” cibir Yamada pada Opi.

“Cih… gak usah banyak komen!” serunya kesal.

Yamada terkekeh. Tepat saat itu Inoo membuka pintu dan menahan pintu itu hingga Sora masuk ke dalam cafe itu.

“Opi-chaaann!!” sapa Sora pada Opi, disambut anggukan kecil dari Opi.

“Sora-chan… seperti biasa ya, manis..” komentar Yamada melihat Sora dengan terusan pink selututnya.

Sora pura-pura tak mendengar sementara Inoo duduk di sebelah Opi, “Kau minum-minum lagi? Sudah yang keberapa kali minggu ini?” katanya sambil menarik gelas bir dihadapan Opi.

“Cerewet…” seru Opi menarik kembali gelas itu.

Inoo kembali menarik gelas itu lalu meneguknya sampai habis. Opi hanya bisa manyun dan tak berani minta tambah pada Yuma, karena Inoo pasti akan meminumnya sampai habis lagi.

Tak lama kemudian Yuya datang bersama Nu dan Toma datang dengan Saifu yang matanya terlihat sembab.

“Kau membuat seorang gadis menangis?” Opi menggeleng-geleng tak percaya.

Toma hanya terkekeh, “Saifu-chan hanya terlalu bahagia…”

Saifu tak menjawab dan langsung duduk di sebelah Yamada.

“Seperti biasa, Yuma-kun…” kata Saifu mengerling pada Yuma, pemuda itu pun menjadi salah tingkah dan segera membuat minuman untuk semua orang yang tiba-tiba menginvasi tempat itu. Keadaan cafe menjadi sangat ramai seketika.

Yuma kemudian menyerahkan segelas orange juice pada Riisa, “Ini…”

“Eh… iya… sankyu Yuma-kun…” jawab Riisa.

“Ngapain sih kita bikin pertemuan? Pasangannya kan sudah di tetapkan?” ucap Yamada lalu meneguk birnya.

“Betsu ni… aku ingin ngumpul aja,” ungkap Toma, “Jya… pasangan minggu ini… Aku dengan Yanagi-san, Sora-chan dengan Yuma-kun, Yuya-kun dengan Opi-chan, Yamada dengan Nu-chan, Inoo-san dengan Saifu-chan!” ucap Toma dengan riang.

“Chotto… kenapa cuma namaku yang dipanggil ‘Yamada’ saja?” protes Yamada.

“Kamu memang Yamada… hanya Yamada… hahaha…”

Yang lain bereaksi dengan tawa sedangkan Yamada beringsut-ingsut kesal.

—————————————–

TBC~

Ayo ayo komeeennn…

COMMENTS ARE LOVE…

PLEASE DON’T BE A SILENT READER!! ^^

YOUR COMMENTS MEANS A LOT TO US…

Thank youuuu~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Love Shuffle (chapter 05)

  1. Liana

    Apakah ini terinspirasi dari drama Jepang dengan judul yang sama?
    Saat membacanya aku langsung suka dengan fanfic ini, Lanjutannya aku tunggu ya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s