[Oneshot] Double

DOUBLE
Author : NadiaMiki
Genre : Romance, Psyco
Rated : 17+
Type : Oneshot
Cast :
Chiinen Yuri (HSJ), Kanagawa Miki (OC), Yamada Ryosuke (HSJ)


Hidup memang kadang tidak adil, orang kaya dan mempunyai kekuasaan akan selalu menjadi panutan semua orang dan dibangga-banggakan, namun orang yang kekurangan akan direndahkan, bahkan dibully, terlebih kepada seseorang yang cacat, entah itu dari mental ataupun fisik namun yang pasti tidak akan di hormati.

Begitu pula yang dialami oleh gadis remaja SMA yang memiliki kekurangan, katakan saja ia mempunyai dua kepribadian dan terkadang dianggap gila oleh teman-temannya, bahkan sang guru. Semua temannya takut kepada gadis itu ketika ia sedang marah dan diluar kendali, mungkin bisa saja ia membunuh orang meskipun sampai saat ini sang gadis belum membunuh siapapun, ia hanya menyiksanya hingga orang yang menyakiti hatinya akan merasakan kesakitan.

Kanagawa Miki, gadis cantik berpipi tembam yang akan sangat imut kelihatannya ketika ia sedang senang dan baik, namun seketika akan jadi menakutkan ketika ia kehilangan kendali dalam amarahnya yang amat besar, hingga saat ini ia tak mempunyai teman satu pun hingga ia memasuki pendidikan SMA.

Pada awalnya ia memang banyak memiliki teman dan merasa sangat senang, namun saat kepribadian Miki berubah, semua orang langsung menjauhinya karena merasa takut, dan saat gadis itu kembali sadar dan menjadi baik, Miki bingung dengan sikap temannya yang menjauh dan secara perlahan meninggalkan Miki. Karena hal itu membuatnya tidak senang, kini kepribadian jahat Miki menetap didalam tubuhnya dan kepriabdian baiknya seperti hilang entah kemana karena kalah oleh kepribadian jahat itu.

Kini gadis itupun dinilai sebagai gadis yang nakal disekolah dan diketahui ia sering membully siapapun yang menganggunya.

.

.

Bel sekolah berbunyi menunjukan kalau saat ini mereka harus beristirahat. Semua murid siap untuk keluar kelas dan menuju kantin untuk makan siang disana, atau sekedar keluar untuk bertemu dengan teman mereka yang berbeda kelas, namun tidak dengan Miki karena gadis itu memutuskan untuk diam dikelas dan memakan bekalnya disana.

“Kau tidak makan di kantin?” seseorang bertanya ketika Miki hendak menyuapkan makanannya kedalam mulut, namun tidak jadi karena ia refleks mendongak kearah pemilik suara, melihat siapa yang berani mengajaknya bicara.

“Oh kau bawa bekal ternyata” komentar orang itu melihat kotak bekal Miki diatas meja.

Tidak peduli, Miki-pun menyuapkan makanannya dan makan dengan santai.

“Hati-hati Chinen-san, nanti kau dibully olehnya kalau dia kesal” ucap seseorang memperingati pemuda yang sedaritadi mengajak Miki bicara walau tidak di gubris sama sekali.

Miki mendelik menatap pemuda barusan yang segera keluar karena takut oleh tatapan Miki, lalu melirik Chinen yang masih setia duduk disampingnya, tanpa rasa takut sedikitpun.

“Keluarlah, benar kata dia aku bisa saja menyakiti mu” kemudian Miki kembali menyuapkan makanannya kedalam mulut.

Seperti tuli, pria bernama Chinen Yuri tetap setia disamping Miki hingga gadis itu selesai makan. Gadis itu mendesah saat ia baru sadar kalau teman sekelasnya itu masih berada disana tanpa merubah posisi sedikitpun.

“Kau menantangku?” tanya Miki sedikit berteriak karena sikap Chinen itu membuatnya risih, namun respon dari Chinen malah membuatnya terkejut karena pria itu tersenyum kepadanya.

“Tidak, aku hanya ingin Miki yang dulu kembali” ucap Chinen tanpa melepaskan senyum dari wajahnya.

Mata gadis itu membulat, ia bingung. Dirinya yang dulu? Bahkan gadis itu hanya ingat kalau ia sering menyakiti teman-temannya tanpa ampun.

“Cih, dasar aneh” desir Miki, menutupi detak jantugnnya yang mulai tidak karuan, ia kembali menatap Chinen “kembali ke tempat duduk mu sana, istirahat sudah selesai” perintah Miki kepada Chinen.

.

.

Semua ketakutan saat Miki berjalan keluar dari kelas dan menjauhi gadis itu, semenjak Miki sering membully murid yang bermasalah dengannya, semua orang takut untuk mendekati gadis itu bahkan kepala sekolah-pun tidak berani mengambil resiko dan membiarkan Miki tetap sekolah disini.

Walau Miki tidak lagi membully karena tidak ada yang berani membuat masalah dengannya namun tetap saja semua orang ketakutan. Seperti ada aura mengerikan disekitar Miki saat ia lewat dihadapan mereka.

Namun tidak untuk Chinen ia malah terus mendekati Miki dan berjalan bersebelahan dengannya, hal ini sudah biasa Miki hadapi karena Chinen sejak awal memang selalu menamaninya, bahkan saat Miki menyiksa murid sekolah Chinen-lah yang menghentikan Miki.

Meskipun begitu, tetap saja Miki merasa risih.

“Berhenti mengikuti ku” perintah Miki, namun Chinen kembali seperti orang tuli yang tidak mendengar apapun disekitarnya.

“Chinen Yuri-kun~” panggil Miki berusaha melembut pada pria disampingnya itu.

Tuli Chinen seketika sembuh dan ia dapat mendengar panggilan Miki dengan jelas “ya?”

“Berhenti mengikuti ku” gadis itu masih berusaha sabar menghadapi pria manis itu yang berada disampingnya.

“Rumah ku searah dan tidak salahkan kalau aku pulang dengan mu?” langkah Miki tiba-tiba berhenti dalam posisi membelakangi Chinen.

“Tapi aku bisa saja membunuh mu”

“Aku tidak perduli”

“Aku bisa saja menyakiti mu”

“Masa bodo~”

“Aku bisa saja..”

“Dengar ya Miki-chan… Miki yang aku kenal dulu itu orangnya sangat ceria dan juga periang, cerewet dan saaaangat baik, kau tahu? Semua murid disini sangat senang berada didekat mu” Chinen memotong ucapan Miki dan berbicara kepada gadis itu sambil memegang bahu dan menatap matanya.

Miki terkesiap, ia mengerutkan dahinya bingung karena ia sama sekali tak mengingat semua yang telah Chinen katakan.

“Dan..sebenarnya kita itu..”

“Bagus sekali cerita karangan mu itu Chinen-san” Miki menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap Chinen dengan tatapan meremehkan.

“Semua yang kau katakan itu sama sekali tidak pernah terjadi, aku bukanlah gadis yang seperti itu, permisi dan jangan ikuti aku lagi” tangannya menghempaskan tangan Chinen yang masih mengenggam bahunya lalu pergi begitu saja meninggalkan Chinen yang masih terdiam ditempatnya. Kemudian berbalik melihat tubuh Miki yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari penglihatan Chinen.

“Kenapa kau berubah drastis Miki-chan?” bisik Chinen bertanya seakan gadis itu masih berada dihadapannya.

***

Miki menatap wajahnya dari cermin westafel kamar mandinya lalu membasuh wajahnya dengan air, kepala Miki merasa berdenyut saat kata-kata Chinen terus mengulang dikepalanya, rasa pusing menghinggapi gadis itu, kejadian demi kejadian yang Chinen katakan saat pulang tadi entah kenapa ada diotaknya, seakan memang pernah Miki alami namun sulit untuk mengingat itu semua.

“Argh! Apa-apaan ini? Aku tidak percaya dengan pria bergigi kelinci itu?!” bentak Miki pada dirinya sendiri, merasa kesal karena pria itu membuatnya kesakitan sekarang.

“Itu benar Miki” gadis itu mendongakan kepalanya, mendengar suaranya sendiri dari pantulan kaca. Memang benar itu dia, namun kali ini berbeda. Didalam kaca itu seperti ada orang lain yang menyerupai dirinya.

“Siapa kau?!” seru Miki bingung, namun bayangan dirinya hanya tersenyum.

“Miki, sebenarnya kau itu baik, masukan aku kembali kedalam tubuh mu”

“Tidak, kau pasti berbohong. Aku memang seperti ini, jangan sok tahu dasar makhluk halus!”

“Aku jiwa mu yang asli Miki, berhentilah mempunyai dendam keseseorang, itu tidak baik..” bayangan Miki yang berada dikaca itu kini berbicara dengan nada memelas, begitu juga dengan ekspresi wajahnya.

Namun seolah tidak memiliki perasaan sama sekali, Miki menggeleng.

“Berhenti menganggu hidupku!”

“Kau yang seharusnya berhenti bersarang didalam tubuh Miki dan keluarlah, kau membuatnya menjadi jahat!!”

“Aku tak peduli!!”

PRAAANG!!

Kaca westafel Miki pecah dan juga mengalir dari segar dari sana, darah dari tangan Miki yang memecahkan kacanya, gadis itu mengatur napasnya yang tidak beraturan, lalu memegang kepalanya. Rasa sakit itu semakin menjadi.

Tak ada yang datang menghampiri Miki untuk menanyakan keadaannya, tentu saja. Karena ia tinggal sendiri.

Orang tuanya berada di kampung halaman karena harus bekerja, sedangkan Miki disini mencari ilmu bermodalkan otaknya. Ya, Miki menerima beasiswa dari salah satu Sekolah Negeri di Tokyo, tentu kesempatan itu tak Miki sia-siakan.

Dan selama dua tahun ini ia pun terbiasa untuk sendiri.

Maka dari itu Miki tak pernah mendapat peringatan dari orangtuanya untuk tidak berbuat jahat karena gadis itu tak pernah memberitahu siapapun, bahkan guru-pun tak berani untuk memberitahu sikap Miki selama disekolah karena nyawa mereka taruhannya. Dan lagipula, Miki masih mengikuti pelajaran dengan baik dan nilainya tak pernah mengecewakan, maka sayang sekali jika murid sepintar dirinya dikeluarkan dari sekolah.

Yang perlu ditindak sekarang ini adalah mengembalikan diri Miki menjadi sebelumnya, saat gadis itu baru masuk sekolah.

“Sebenarnya aku ini kenapa?” tanya Miki pada dirinya sendiri.

.

.

Kegiatan klasik, datang kesekolah lalu masuk kelas dan duduk dengan tenang menunggu guru untuk masuk keruangan kelas dan kemudian ia akan mengajari muridnya. Begitu yang kini Miki lakukan, merasa bosan dengan hidupnya yang monoton.

“Miki-chan! Are, tangan mu kenapa?” tanpa permisi Chinen mengambil tangan Miki yang berbalut perban untuk melihatnya, namun cepat-cepat Miki tarik kembali dan menyembunyikan tangannya itu dibalik blazer seragam sekolah.

“Kau… membully anak-anak lagi?”

“Chigau! Jangan banyak tanya bukan urusan mu” bentak Miki tidak suka, membuang wajahnya dari tatapan Chinen yang menyelidik.

Chinen mendesah dan mengambil tempat duduk disamping Miki “ada apa? Apa mereka menganggu mu? Hm?”

“Kubilang bukan begitu!!”

“Lalu?”

“Bukan urusan mu!” masih dalam posisi yang sama Miki menjawab perkataan Chinen. Ia malas sekali melihat lelaki itu, selalu ikut campur segala urusannya.

Tanpa mereka sadari, dari balik kaca pintu kelas, seseorang memperhatikan mereka berdua, terlebih kepada Miki. Ia menatap Miki dengan tatapan penuh dendam dan kebencian. Kemudian pergi dari sana saat sang guru mulai masuk kedalam kelas.

Jam istirahat datang, seperti biasa Miki hanya didalam kelas dan memakan bekalnya dengan damai dan Chinen setia memperhatikannya, entah apa yang ada didalam otak pria itu, Miki hanya menatapnya sebagai orang gila.

Hanya keheningan yang membalut mereka, didalam kelas itu.

Namun tiba-tiba keheningan itu pecah karena seseorang masuk kedalam kelas. Seorang pria yang Miki dan Chinen tahu kalau ia tak sekelas dengan mereka berdua.

“Ah, Ryosuke!” Chinen berdiri menyambut pria yang dipanggil Ryosuke itu, teman akrab SMP Chinen.

“Yuri apa kabar?” tanya Ryosuke lalu duduk disamping Chinen. Senyum menawannya ia pancarkan, namun Miki hanya menatapnya datar.

“Baik tentu saja, sudah lama tidak ketemu nih padahal satu sekolah haha” Chinen tertawa lepas dengan Ryosuke.

“Oh iya, bisa keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan” ajak Ryosuke, sesaat Chinen menatap Miki yang sedang menutup kotak bekalnya.

“Miki-chan, aku keluar sebentar ya” pamit Chinen.

Miki hanya meliriknya sebentar lalu pura-pura tidak tahu dan tak peduli. Tahu betul dengan sikap Miki yang sekarang Chinen-pun memutuskan untuk pergi keluar kelas bersama Ryosuke.

Pelajaran kembali berlangsung, semua murid memperhatikan guru dengan khidmat, namun tidak untuk Miki ia sangat gelisah bahkan baru kali ini tidak tahu apa yang sedang guru terangkan didepan sana. Matanya sibuk melihat kebangku Chinen, setiap detik, bergantian melihat pintu kelas, lalu bangku Chinen. Begitu saja terus hingga jam pelajaran berakhir.

Pasalnya, sampai saat ini Chinen belum juga kembali kekelas sejak dirinya pergi bersama Ryosuke saat jam istirahat tadi.

Meskipun Chinen selalu membuatnya risih, namun tanpa pria itu Miki seperti kehilangan sesuatu.

Miki berjalan dilorong sekolah sambil memegangi tasnya, tatapan takut dari murid-murid tentu saja ia rasakan, setiap hari, dan Miki tak memusingkan hal itu, namun yang kini membuatnya kalut adalah, kemana Chinen? Kemana pemuda bernama Ryosuke itu membawanya?

Tas milik Chinen digenggam oleh Miki dengan erat, bahkan memeluknya. Merasakan wangi dari perfume pria yang hampir setiap hari ada disampingnya.

BUG!

Tiba-tiba Miki mendongakan kepala, terdengar suara dentuman dari lantai atas sana, dari ruang kesenian melukis.

Miki beramsumsi bahwa didalam sana adalah Chinen, entah kenapa gadis itu sangat yakin saat ini dan ia-pun berlari menuju tangga dan menghampiri ruangan itu, beberapa murid yang belum pulang melihat Miki berlarian sontak terkejut dan refleks mengikuti langkah Miki.

Miki dengan sembrono membuka pintu itu namun tidak bisa karena terkunci. Berkali-kali Miki memutar kenop pintu namun tetap tidak bisa.

“Hey! Buka!!” Miki menggedor pintu itu lalu melihat keadaan didalam melalui jendela pintu.

Dan alangkah terkejutnya dia saat mendapati Chinen sedang terduduk lemas dan wajahnya yang babak belur, tubuhnya diikat menggunakan tali. Membuat Miki semakin brutal menggedor pintu itu dan terus berusaha membuka pintu.

“Siapapun kau!! Aku bersumpah akan menghabisi mu!!” teriak Miki murkah.

Tak lama, pintu terbuka dan Miki masuk dengan cara tidak sopan.

“Chinen..” baru saja kaki Miki melangkah, namun seseorang menahannya. Gadis itu menoleh dan menatapnya tidak suka.

“Ryosuke…san?” ucap Miki hampir berbisik, ia terkejut tidak menyangka Ryosuke yang gadis itu anggap teman akrab Chinen tapi malah menyiksanya sekejam ini.

“Dalam keadaan marah-pun kau tetap cantik ya, Miki” Ryosuke menyentuh dagu Miki namun cepat gadis itu menepisnya.

“Lepaskan Chinen atau aku bunuh kau!!” ancam Miki.

Ryosuke menatapnya dengan tatapan menantang “siapa yang takut” kemudian tertawa lepas, meremehkan gadis itu.

Nampaknya pria dihadapannya ini adalah mangsa baru Miki.

Sedangkan murid diluar sana hanya bisa menonton dan ada yang langsung beranjak pulang, tidak sanggup menengahi mereka ataupun menghentikan perkelahian itu.

“Miki-chan… jangan!” dari sudut sana Chinen mencegah Miki, namun tidak digubris sama sekali “Miki-chan… dia berbahaya” tambah Chinen.

Miki menoleh kearahnya kemudian tersenyum manis, seakan mengisyaratkan Chinen bahwa ia akan baik-baik saja.

Chinen tertegun melihatnya, selama satu tahun belakangan, baru kali ini Chinen melihat Miki tersenyum kembali, walau hanya sekilas.

Hanyut dalam keadaan itu, hingga Miki tidak sadar bahwa dibelakangnya sudah ada Ryosuke yang membawa kayu balok, siap untuk memukul kepala gadis itu.

“Miki awas!” teriak Chinen.

Direspon dengan cepat, Miki memutar badannya dan menerjang tubuh Ryosuke hingga pria itu tersungkur, kayu balok yang Ryosuke bawa tadi terpental cukup jauh dari mereka, gadis itu melihatnya dan hendak untuk mengambil namun kaki gadis itu ditarik oleh Ryosuke hingga ia ikut tersungkur dilantai, Miki memberontak ia kembali bangkit dan menginjak tangan Ryosuke dengan kuat.

“ARGGH!!” teriak Ryosuke memekakan telinga. Tidak sampai disitu, memanfaatkan Ryosuke yang sedang kesakitan dengan jarinya Miki menarik kuat baju Ryosuke dan melemparnya seperti barang ke tembok, membuat Ryosuke mengaduh karena tubuhnya bertumburan dengan keras ketembok itu.

“Sepertinya aku tak perlu balok itu” ucap Miki dingin sembari melangkah mendekati Ryosuke dan melepas blazer seragam sekolah menyisakan baju kemeja putih “aku bisa menghajar mu dengan tangan kosong ku”

“Haha..” terdengar tawa meremehkan dari bibir Ryosuke “kau melakukan ini hanya untuk membebaskan Chinen?” nada meremehkan Ryosuke membuat Miki terdiam, menghentikan langkahnya.

“Padahal sudah satu tahun ini kau mengacuhkannya meski dia ada disamping mu” Ryosuke mengangkat kepala yang sebelumnya ia tundukan, senyuman lebar menghiasi wajah Ryosuke.

Tidak, itu bukan senyum untuk kebahagiaan, namun senyum menjijikan dimata Miki.

“Kau ingat? Kau pernah menyiksa seorang perempuan sebelum akhirnya sikap mu jadi berubah drastis?” mata Miki membulat, ingatan-ingatan dikepalanya kembali datang dan menyerang kepalanya, rasa sakit itu kembali membuat Miki kesulitan. Gadis itu memegangi kepalanya menahan sakit.

“Kau menyakiti perempuan itu karena ia dekat dengan Chinen dan kau merasa cemburu”

“Argh..”

“Dan.. apa kau tahu?” Ryosuke menggantungkan kata-katanya, membuat Miki kembali menatapnya, begitu juga Chinen yang ternyata penasaran dengan kata-kata Ryosuke, karena saat itu ia tidak merasa ingin mendekati gadis itu, malah gadis itulah yang terus mendekati Chinen.

“…akulah yang menyuruh gadis itu mendekati Chinen, aku yang membayarnya” tangan Miki mengepal menahan emosi “karena aku ingin mengambil mu dari Chinen”

“DIAM KAU DASAR BAJINGAN!!!” Miki berlari ke arah Ryosuke untuk memukul wajah pria itu, namun terlambat Ryosuke sudah menghindar duluan sehigga tembok itulah yang Miki pukul hingga retak.

Tangan Miki yang bebas Ryosuke tarik sampai mendekati tubuhnya dan sebelah tangannya menjabak rambut panjang Miki.

Kepala Miki mendongak “suki dakara…” bisik Ryosuke dengan suara rendahnya, tepat ditelinga Miki lalu menjilat leher jenjang Miki.

Mendapat tidakan seperti itu Miki akhirnya pasrah karena sentuhan Ryosuke.

Pemuda itu mengunci pergerakan Miki lalu menghadap kearah Chinen, ia sengaja memperihatkan kegiatannya kepada Chinen.

“Mite? Nampaknya gadis mu ini menikmati sentuhan ku, Yuri-kun?” tangan Ryosuke meraba tubuh Miki yang masih berbalut kemeja sekolah dan berakhir diatas gundukan gadis itu lalu meremasnya.

Miki memejamkan mata dan menggigit bibirnya agar tak ada satu suarapun yang keluar dari bibir Miki.

Sedangkan dihadapan Miki dan Ryosuke , Chinen sedang memberontak untuk melepaskan ikatan yang menjerat tubuhnya.

Puas dengan dada gadis itu, tangan Ryosuke pindah kebawah, mengelus paha putih Miki dan terus naik hingga hampir masuk kedalam roknya.

“Sst..” Chinen memanggil Miki dengan bisikan, refleks Miki membuka matanya. Memanfaatkan kesempatan ketika Ryosuke sedang mencium lehernya dan mengelus bagian bawahnya.

Chinen memberi kode kepada Miki melalui gerakan mata, “ah..” satu desahan lolos karena ia merasa benda asing masuk kemiliknya, membuat Miki sedikit hilang konsentrasi untuk mengerti maksud dari Chinen.

Kembali, gadis itu menjerit karena didalam sana ada yang bergerak membuat Miki refleks menendang selangkangan Ryosuke yang sedang memeluknya dari belakang, dan itu berhasil.

“Ya! Itu maksud ku!” seru Chinen geram.

“Dasar lelaki mesum!” berkali-kali Miki menendang dan menginjak-injak selangkangan Ryosuke, membuat pria itu tidak bisa berkutik sedikitpun, bahkan bediri saja tidak sanggup.

Mengingat akan balok tadi, Miki cepat-cepat mengambilnya lalu memukuli kembali alat vital pria itu menggunakan balok kayu.

“Aaaarrghhhh!!!” rasa sakit yang begitu menyilukan membuat Ryosuke tumbang dan berkali-kali memohon ampun kepada Miki.

“Ampun maaf… aarrrgh” ternyata pukulan itu belum berakhir juga. Kemarahannya belum surut sampai pria itu tidak sadarkan diri lagi dimatanya.

Dan tak lama, Ryosuke melemah dan memejamkan mata, entah ia pingsan atau apa Miki tak peduli yang penting dihapannya pria itu sudah tidak lagi sadarkan diri.

Balok yang ada digenggamannya Miki lempar lalu ia berjalan kearah Chinen, melepaskan ikatan pria itu dan mengambil blazer sekolah besertas tas mereka berdua.

“Ternyata kau perhatian juga ya… tas ku kau bawakan” goda Chinen saat Miki menyerahkan tasnya.

Risih dengan kata-kata itu, Miki lalu melemparkan tas itu kearah Chinen.

“Berisik, kau tidak berguna”

“Kau saja yang tidak peka”

“Kau diam saja tuh, ya mana aku tahu”

“Kau yang tidak peka”

“Tidak berguna!”

“Baiklah, bagaimana kalau kita makan habis ini? Apa kau tidak lapar?”

“Tidak”

Dan perdebatan itu terus berlanjut hingga mereka keluar dari pagar sekolah, meski Miki sebelumnya bilang bahwa ia tidak lapar namun pada kenyataannya gadis itu yang paling lahap menyantap makannya saat Chinen bersikeras membawa Miki ketempat makan.

Beruntung blazer sekolah Miki masih bersih walau berdebu sedikit, namun itu bisa dibersihkan bukan? Dan itu berguna untuk menutupi kemeja putih Miki yang sudah kotor.

Sedangkan wajah Chinen? Sebelum mereka keluar dari sekolah Miki membawa Chinen ke UKS terlebih dahulu untuk mengobatinya.

“Jadi… aku itu… pacar mu?” setelah makan Chinen mengajak gadis itu duduk ditaman, menceritakan semuanya, yang Chinen amsumsikan bahwa gadis itu melupakan segala kenangan mereka, mulai dari saat mereka berpacaran dikelas 3 SMP hingga akhirnya Miki bersikap aneh satu tahun belakangan ini, Chinen tahu bahwa Miki adalah gadis yang emosional, namun ia tak menyangka jika Miki akan berubah sedrastis seperti sekarang.

Sebenarnya sudah beberapa kali Chinen menjelaskannya namun gadis itu selalu menganggap bahwa Chinen hanya berkata omong kosong dan semuanya Chinen karang.

Namun kini, ditempat yang tenang ditemani dengan sekotak susu coklat Miki mulai mempercayai semua perkataan Chinen. Sengaja, mungkin dengan cara seperti ini Miki bisa dengan tenang mendengarkannya dan ternyata dugaannya benar.

“Iya… dan semenjak aku dekat dengan seorang wanita, kau jadi cemburu dan kau menghajar habis-habisan wanita itu sampai terluka parah dan dibawa ke rumah sakit, bahkan dia memutuskan pindah sekolah karena takut dengan mu” Chinen meraih tangan Miki yang bebas, ingin Miki tarik kembali namun urung karena merasakan kehangatan Chinen membuatnya nyaman.

“Aku… tak mengerti… aku juga sering melihat diri ku berbicara kepada ku dari pantulan kaca”  Miki mulai bersikap lebih tenang daripada biasanya “ia bilang kalau aku harus keluar dari tubuh ini dan dialah yang seharusnya masuk kedalam tubuh ini” dahi Chinen mengkerut “katanya aku tidak boleh memiliki dendam itu tidak baik, dan apa yang telah ku perbuat selama ini salah”

Seketika Chinen mengerti maksud Miki, namun ia tidak terlalu yakin “Miki-chan…” tangannya yang masih mengenggam tangan Miki perlahan ia elus tangan itu dengan sayang. Jika kata bayangan Miki ia harus menghapus dendam kepada seseorang, apa salahnya dicoba? Siapa tahu itu akan memberi efek kepada Miki dan kekasihnya bisa kembali lagi menjadi Miki yang ia kenal selama ini, bukan Miki yang ia kenal selama satu tahun ini.

“Coba kamu lepaskan dendam mu..”

“Tapi aku tak mengerti aku punya dendam ke siapa….” Miki menatap Chinen dengan bingung.

Pemuda itu menghelas napasnya “siapapun, walau kau tidak tahu benci dengan siapa tolong lepaskan dan hilangkan” bersamaan dengan kata-kata Chinen, kepala Miki kembali merasakan sakit. Bahkan lebih sakit dari yang biasanya.

Hingga susu kotak yang ada di genggaman Miki terjatuh, membuat Chinen terkejut akan reaksi yang gadis itu dapatkan.

“Miki-chan… kembalilah seperti dulu…” Miki semakin mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Aku tidak selingkuh dengan siapa-siapa… aku hanya menyukai mu Miki” dengan gerakan cepat Chinen memeluk Miki dan terus mengucapkan kata-kata yang sama sembari berdoa agar Miki tidak lagi merasakan kesakitan dan gadis itu kembali menjadi Miki nya yang dulu, namun selang beberapa saat kemudian Miki tidak menyadarkan diri, tubuhnya lemas Miki di pelukan Chinen.

“Miki?” pemuda itu mendongakan wajah Miki dan menepuknya pelan.

“Miki bangun, hey…” merasa panik akhirnya Chinen menggendong gadis itu dan membawanya ke rumah, nampaknya memanggil dokter Psikolog lebih berguna untuk saat ini, karena mental Miki yang sedang sakit bukan fisiknya.

Setelah diperiksa, dokter menjelaskan bahwa Miki memiliki kepribadian ganda, yang satu kepribadian aslinya yaitu baik, cerewet dan layaknya gadis pada umumnya. Dan yang satunya lagi adalah kepribadian yang sering menganggu Miki, dimana kalau gadis itu sedang kesal atau marah, ia akan menyiksa orang tersebut sampai jiwanya terpuaskan, dan masing-masing jiwa tersebut memiliki ingatan masing-masing yang artinya jika ia menjadi jahat, maka ingatan saat ia melakukan kejahatanlah yang terekam diotaknya, dan ketika Miki menjadi baik atau menjadi dirinya sendiri maka ingatan saat itulah yang terekam didalam otaknya, maka dari itu Miki tak ingat dan tak percaya jika Chinen mengatakan kalau mereka adalah sepasang kekasih.

Dan masalahnya disini adalah, Miki memiliki dendam dengan seorang wanita yaitu yang ia anggap adalah selingkuhan Chinen, dendam itu terus tertanam didirinya hingga kepribadian jahatnya tidak mau keluar dari tubuh Miki, ketika kepribadian asli Miki ingin masuk, sekelebat ingatan yang ada dikepribadian baik Miki otomatis akan masuk ke otaknya, namun itu memberi efek sakit dikepala.

Chinen mengangguk mengerti akan apa yang dokter itu katakan, semua yang dokter itu jelaskan ada semua didiri Miki dan Chinen kini paham kalau Miki saat ini sedang dalam mode berkepribadian yang jahat.

“Bagaimana caranya agar pribadi baik itu bisa masuk lagi ke tubuh Miki?” tanya Chinen dengan nada khawatir, bagaimana tidak? Saat ini bagi Chinen, gadisnya itu sedang dirasuki oleh roh jahat.

“Minta dia hapus dendam didalam hatinya, memang pribadi dia ada dua, namun hatinya hanya satu, kan? Walaupun dia tidak ingat namun hatinya pasti memiliki benci pada seseorang. Dan dengan begitu maka akan mudah mengembalikan pribadi Miki seperti semula” jelas sang dokter.

Chinen bernapas lega karena tindakannya yang ditaman tadi ternyata tidak salah “dan jangan kaget kalau Miki kesakitan di bagian kepala, kemudian pingsan karena itulah efeknya, pingsannya itu karena akibat dari pribadi jahatnya yang sudah sangat lama berdiam ditubuh Miki, saat pribadi yang baik ingin masuk ia merasa kesusahan dan akhirnya pingsan, tenang nanti juga Miki akan baik kembali.” Lanjut sang dokter. “sepertinya aku bisa tebak, kau melakukan itu makanya Miki jadi tak sadarkan diri saat ini” alis dokter Psikolog itu terangkat, dan dijawab cengiran oleh Chinen, tak perlu dijelaskanpun dokter itu sudah tahu jawabannya dari gerak-gerik Chinen.

“Lalu dok, bagaimana kalau pribadi jahatnya datang lagi?”

“Hanya satu intinya, jangan membuatnya marah atau membenci siapapun”

“Hmmm…” Chinen dan dokter itu menoleh kearah sumber suara, mendapati bahwa gadis itu sudah sadar.

Chinen menghampirinya, duduk ditepi ranjang tepat disamping Miki.

“Miki-chan…” panggil Chinen pelan sambil tersenyum.

“Yuri…” gadis itu langsung bangun lalu memeluk Chinen “Yuri… aku merindukan mu” isaknya kemudian, gadis itu mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya dibahu Chinen.

Merasa bingung, Chinen manatap dokter dengan tatapan bertanya dan dijawab dokter itu dengan senyuman.

“Okaeri, Miki-chan” bisiknya tepat ditelinga Miki.

“Eh okaeri?” Miki melepas pelukannya lalu menatap Chinen dengan bingung “memang aku dari mana?”

“Hah? Kau bilang kau merindukan ku? Makanya aku ucap okaeri karena biasanya kalau rindu itu pasti habis berpergian yang jauh”

“Chigau! Aku setiap hari kan merindukan mu” bantah Miki sambil memainkan kerah baju Chinen, pipinya bersemu merah.

Chinen tersenyum lega, sangat lega karena gadisnya sudah kembali.

Lalu, Miki baru sadar kalau diantara mereka ada orang lain. Miki menatapnya heran “dokter?”

“Ah perkenalkan, Nakamaru Yuichi desu, hanya dokter biasa. Pacar mu ini panik sekali saat kau pingsan ia menelpon ku untuk datang kesini dan ternyata saat diperiksa kau hanya mengalami flu dan kelelehan” jelas dokter Yuichi sekaligus memperkenalkan diri. Tentu saja semua penjelasan itu bohong.

“Oh… Kanagawa Miki desu, panggil saja Miki. Maafkan dia ya dok..” Miki menunjuk-nunjuk Chinen “dia memang panikan”

“Bukan begitu tadi kau pingsan dan..”

“Ssttt…” jari telunjuk Miki menutup bibir Chinen yang akan berceloteh “lebih baik ambilkan aku dan dokter Yuichi makan, aku lapar, dokter juga kan?” ia tertawa.

“Un.. “ jawab Yuichi sambil tersenyum.

“Baiklah tunggu ya..” Chinen beranjak dari duduknya, mengecup kepala gadis itu lalu berjalan menuju dapur, sayup-sayup Chinen mendengar Miki dan dokter sedang mengobrol. Hatinya sangat lega, akhirnya kekasihnya sudah kembali seperti dulu.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s