[Multichapter] I Have Gotten Ready To Bid Farewell (#3)

CYMERA_20170824_204121

I HAVE GOTTEN READY TO BID FAREWELL
#3
By aiibaka
Cast : Hirano Sho (Mr. KING, Johnnys Jr); Kogure Kie (OC)
Genre : romance
Disclaimer : Hirano belongs to himself and JE, author owns the plot and OC
Note : Judulnya diambil dari lagu Crude Play – I have gotten ready to bid farewell.
FF ini terinpirasi dari kegalauan author beberapa hari yang lalu XD
Hope you like it.
Comments are love ^^


Aku dan Eri datang bersamaan ke sekolah. Kebetulan sekali. Setelah saling menyapa ‘selamat pagi’, kami berdua masuk ke gedung sekolah, lalu membuka loker masing-masing dan mengganti sepatu dengan uwabaki.

Kulihat Eri menatap lekat buku tebal yang kubawa di tanganku.

“Apa itu?” tanyanya.

“Kamus ilmiah untuk Hirano. Mau dipinjam katanya.” Jawabku.

Ya, aku dan Sho sudah berteman sekarang. Tidak seperti kemarin, kali ini pandanganku tentang Sho sudah berubah. Tapi, kalau pun dia memang sama seperti yang kupikirkan sebelumnya, itu haknya. Apa urusanku mengurusi hidup orang lain? Baik atau buruk, itu urusannya.

Beberapa minggu berlalu sejak aku dan Sho makan puding bersama. Kurasa itu salah satu kenangan hidup yang tidak akan bisa kulupakan. Karena dengan itu mataku mulai terbuka. Tanpa Sho sadari, sebenarnya dia sudah memberiku pelajaran yang berharga.

Arigatou, Hirano-kun!

Dan hari ini, aku membawa kamus ilmiah-ku untuk dia pinjam. Entah mau digunakan untuk apa. Padahal sedang tidak ada tugas yang membutuhkan kamus itu. Terserah dia lah.

“Kau sering ngobrol dengan dia?” tanya Eri ketika kami telah menaiki tangga menaiki lantai 2. Kelas kami berada di lantai 2 itu.

“Dia siapa?” kutanya balik. Aku benar-benar tidak tahu.

“Hirano. Aku lihat kau cukup akrab dengannya.”

Aku ingin berpikir bahwa Eri mengatakan itu sebagai bentuk kecemburuan, tapi yang kudapati malah sebaliknya, dia santai saja, seakan tidak ada beban dari kata-katanya.

“Semua orang akrab dengannya, kan?”

Aku tidak ingin membuat kesan seolah-olah hanya aku yang akrab dengan Sho. Meskipun pada kenyataannya bisa dibilang seperti itu. Sebelum belajar, setelah belajar, di  kantin, di jam olahraga, waktu pulang, Sho selalu yang lebih dulu mengajakku bicara. Terkadang dia bahkan harus berteriak dan berlari menghampiriku untuk mengatakan sesuatu.

Tapi, tidak selalu ada hal penting yang dia katakan. Terkadang hanya ingin mengatakan terimakasih, maaf, selamat pagi, mau kemana? Makan dimana? Dan berbagai pertanyaan yang tidak penting. Kalau bisa kusimpulkan, itu hanya cara Sho melakukan pendekatan padaku, maksudku, karena di awal aku seolah membuat jarak padanya, sehingga dia harus bersusah payah untuk akrab denganku.

Kurasa, dia berhasil sekarang.

“Dia juga sering bicara denganmu, kan?” kataku pada Rin.

Rin tersenyum. “Hirano memang enak diajak bicara. Dia sering nyambung.”

Aku hanya mengangguk. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah Eri sudah menemukan sisi menjengkelkan seorang Hirano Sho?

Sekali lagi kukatakan, Sho memang menjengkelkan! Dia selalu mengambil keputusan sepihak dan akan memaksa untuk melakukannya. Beberapa kali aku sudah menjadi korbannya. Dan meskipun sudah menolak, dia tetap berhasil membuatku mau melakukan apa yang dia mau. Itu menjengkelkan, kan?

Ohayou!”

Sho menyapa duluan saat aku dan Eri datang. Aku hanya tersenyum dan Eri langsung menghampiri Sho dan bertanya sesuatu.

“Kenapa kau meminjam kamus dari Kie? Aku kan juga punya.”

“Eh? Ada ya? Maaf, aku tidak tahu. Kupikir hanya Kogure yang punya.” Jawab Sho dengan ekspresi wajah tidak enak.

Aku lebih merasa tidak enak.

“Aku bisa bawa pulang kembali kamusnya. Kau bisa meminjamnya pada Eri.” Kataku pada Sho.

Eri menoleh padaku dengan cemberut. “Aku tidak bilang begitu.”

“Tidak apa-apa, kok!” seruku cepat.

“Mana kamusnya?” Sho bertanya padaku.

Aku ragu memberikan kamus di tanganku pada Sho. Aku tidak enak pada Eri. Tanpa kuizinkan, Sho merebutnya sendiri dari tanganku.

“Eh?” aku terkesiap.

“Hari ini aku pinjam kamus Kogure. Kapan-kapan aku pinjam kamus-mu ya, Kawaguchi.”

Kupikir Eri akan kesal, alih-alih malah berkata, “Tidak apa-apa. Kamus Kie lebih bagus.” Kemudian dia berjalan menuju bangkunya. Kami duduk bersamaan.

“Kapan bisa kukembalikan?” tanya Sho padaku sembari membuka-buka isi kamus itu.

“Terserah padamu.” Jawabku.

Kukeluarkan buku tulis dan buku pelajaran untuk hari itu dan menyimpannya di laci meja. Saat kuraba laci mejaku, aku menemukan sebuah kertas. Rasanya aku tidak pernah meninggalkan kertas di sana. Karena penasaran, kuambil kertas itu.

Ternyata puisi.

Dari Sho.

Tapi tidak ditulis untuk siapa. Dan aku, tidak perlu bertanya pada Sho untuk siapa puisi itu. Sudah jelas jawabannya untuk Eri. Jadi, aku menepuk bahu Eri setelah itu.

Eri menoleh. “Apa?”

“Ada hadiah untukmu.” Jawabku.

“Apa itu?” Eri penasaran.

Aku membawa kertas puisi itu ke hadapannya. “Puisi.”

Eri mengambil kertas itu dari tanganku dan membacanya sebentar. Puisinya tidak panjang. Hanya beberapa baris.

“Hirano?” tiba-tiba Rin menoleh pada Sho.

Sho yang sedang membaca kamus-ku mengangkat kepalanya, “Ya?”

“Puisimu bagus.”

Sho tersenyum. “Kau juga membacanya, ya?”

Sepertinya kata ‘juga’ lebih tepat ditujukan kepadaku karena aku juga membacanya sementara puisi itu ditujukan untuk Eri.

Eri tidak bertanya lagi. Sho juga kembali ke aktifitasnya sendiri. Aku kembali ke bangku tanpa perasaan apa-apa. Hanya saja, aku lapar. Tadi di rumah tidak sempat sarapan karena Ayah pergi pagi-pagi sekali dan tidak sempat memasak.

“Kogure~”

A                ku menoleh karena Sho memanggilku.

“Roti ini untukmu.” Dia menyodorkan sebungkus karepan padaku.

Keningku berkerut.

“Kau lapar, kan?”

Ya Tuhan! Tahu darimana dia kalau aku lapar?!

***

“Kogure!”

Entah sudah yang keberapa kali-nya Sho memanggilku hari ini. Tidak di kelas, tidak di luar kelas. Seperti saat ini, saat aku ingin ke kantin menyusul Eri yang sudah lebih dulu di sana.

“Apa?!” tanyaku sedikit kesal karena dia meneriakkan namaku terlalu keras sampai-sampai semua orang melihat ke arahku setelah itu.

“Mau kemana?” dia malah balik bertanya.

“Ke kantin.” Jawabku masih kesal.

Kurasa Sho tahu aku sedang kesal karena dia langsung menghadangku dengan badannya. “Kau kenapa?”

“Aku tidak suka caramu memanggilku.” Jawabku datar. Kutatap matanya tanpa berkedip. “Kenapa kau suka sekali memanggilku? Memangnya ada hal penting?”

“Sebenarnya tidak ada,” Sho tersenyum. “Aku hanya suka menyebutnya.”

Aku tidak mengerti dan tidak ingin mengerti.

“Ya sudah, sekarang minggir, aku mau ke kantin.”

“Aku ikut,” Ujar Sho yang langsung mengikutiku saat aku kembali melangkah. “Kogure?”

Kenapa memanggilku lagi?!

“Menurutmu, apa puisiku tadi bagus?” dia bertanya.

Pikiranku langsung teringat puisi yang kutemukan tadi pagi di laci mejaku. Puisinya pendek jadi aku masih bisa mengingatnya. Tadinya puisi itu sudah kuberikan pada Eri, tapi dia malah mengembalikannya padaku. Simpan untukmu saja, katanya.

“Bagus.” Jawabku datar. Aku tidak terlalu paham tentang makna sebuah puisi. Asalkan kata-katanya jelas dan tidak berantakan, itu sudah bagus menurutku.

“…hanya itu?”

“Seharusnya jangan tanya padaku. Tanyakan itu ke Eri.”

“Aku mau dengar pendapatmu dulu.”

“Aku kan bilang bagus puisinya.”

“Hanya itu?”

“Memangnya aku harus bilang apa? Aku tidak paham tentang puisi.”

Sho tidak lagi menyahut. Bersamaan dengan itu kami sampai di kantin. Eri melambaikan tangan padaku saat melihat kami masuk. Eri duduk sendiri. Tadi dia ke kantin lebih dulu karena aku ada urusan sedikit di ruang guru.

Aku membeli puding coklat dan air minum dulu sebelum duduk bersama Eri. Sho juga melakukan hal sama sepertiku.

“Kawaguchi, mau puding?” tanya Sho pada Eri. “Aku yang belikan.”

Eri berpikir beberapa detik. “Hm… boleh deh.”

“Tunggu sebentar.”

Sho pergi lagi lalu kembali beberapa saat kemudian dengan se-­cup puding di tangannya.

“Sebenarnya aku tidak terlalu suka puding,” ujar Eri. “Kie yang suka. Tapi karena ini dibelikan, aku terima saja. Terimakasih, ya.”

Sho duduk bersebelahan dengan Eri, sementara aku duduk sendiri di sisi lain.

“Aku tahu. Kemarin kan kita makan puding berdua. Iya, kan, Kogure?”

Aku menahan napas. Seharusnya Sho tahu tidak boleh mengatakan itu pada Eri. Kutatap Eri takut-takut.

“Apa benar?” Eri bertanya  padaku.

Butuh waktu lama untukku bisa menjawabnya. Aku harus berhati-hati agar dia tidak cemburu. “I-iya.”

Eri menyeringai.

“Maafkan aku, Eri. Seharusnya kami mengajakmu.” Kataku cepat.

“Tidak diajak pun tidak apa-apa. Aku tidak mau mengganggu kalian.”

“Tidak mengganggu kok!”

“Kata Hirano aku mengganggu.”

“Eh?” aku bingung.

Sho, yang sedang memakan pudingnya berkata, “Aku tidak pernah bilang begitu.”

Eri mendelik. “Memang tidak bilang, tapi kau menulisnya di pesan. Aku bisa baca kok.”

“Tapi kau bilang ‘kata Hirano’”

“Kan kau yang tulis. Lalu siapa lagi? Itu artinya sama saja.”

Untuk beberapa saat aku terdiam, membiarkan kedua orang di depanku ini berdebat. Saat ini aku bisa menyimpulkan bahwa hubungan keduanya semakin dekat karena mereka sudah saling berbalas pesan. Cara mereka bertengkar pun terlihat seperti sepasang kekasih yang beradu pendapat. Aku ingin tahu apa mereka sudah jadian atau belum.

“Hahaha…” aku tertawa.

Eri dan Sho terdiam. Kebingungan.

“Kenapa tertawa?” tanya Eri ingin tahu.

“Tidak apa-apa.” Jawabku yang berusaha menahan diri untuk tidak tertawa lagi.

Sho menatapku tanpa berkedip.

***

Aku tidak ingin mencampuri terlalu banyak urusan antara Eri dan Sho. Apa yang aku lihat di kantin tadi sudah cukup untuk memastikan bahwa hubungan di antara mereka sudah terjalin dengan baik.

Oleh karena itu, saat Sho mengajak Eri pulang bersama, aku memilih tidak ikut dengan mereka.

“Aku bisa pulang sendiri.” Kataku.

Eri sedang memasukkan buku ke dalam tasnya. “Tidak apa-apa pulang sendiri?” Tanyanya.

Aku mengangguk. Kulihat Sho sepertinya sudah siap pulang bersama Eri. Aku keluar kelas lebih dulu.

“Sampai ketemu besok.” Ucapku.

Sambil berjalan di koridor sekolah, aku terus berpikir, jika benar Eri dan Sho sudah resmi berpacaran, itu menjadi berita bagus untukku. Eri, yang sudah bersamaku selama 3 tahun pernah sangat patah hati ketika putus dengan pacarnya. Dia benar-benar sangat terluka saat itu. Dan sekarang, jika dia sudah bisa tersenyum dan sangat bahagia dengan sSho, itu artinya Sho berhasil mengobati luka di hati Eri.

Kemudian aku membayangkan diriku sendiri. Setelah putus dua tahun lalu dengan seseorang yang tidak ingin kuingat lagi, aku tidak pernah punya hubungan dekat lagi dengan siapapun. Kurasa aku cukup menjaga jarak dengan laki-laki karena mulai tidak tertarik dengan hal itu. Tapi, sebulan lalu, saat aku mengenal Sho, aku mulai melihat sisi lain dari seorang laki-laki. Maksudku, di dunia ini, ada banyak hal yang tidak bisa kita lihat hanya dari satu sudut pandang. Perspektifnya akan berbeda juga.

“Kogure!”

Aku sudah memasang kembali sepatu sekolah-ku dan bersiap keluar ketika tiba-tiba di belakangku, Sho memanggil. Aku mengernyit. Mau apa dia?

“Kenapa? Mana Eri?” tanyaku melirik-lirik ke belakang.

“Masih di kelas,” jawabnya. Lalu tangannya mengangsurkan sebuah buku padaku. Kamusku. “Ini, kukembalikan.”

“Sudah selesai?” tanyaku heran. Kupikir akan dikembalikan lama. Padahal baru tadi pagi dia meminjamnya.

Sho menarik tanganku dan menyerahkan kamusku dengan pelan. Dia memajukan sedikit kepalanya ke arahku lalu berbisik di telingaku, “Daisuki.”

Aku bisa merasakan desiran darahku saat Sho membisikkan itu di telingaku. Aku, yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia bisa mengatakan itu, mendelik ke arahnya. Dia hanya tersenyum, mengedipkan matanya lalu pergi, keluar dari sekolah.

“Kogure~” dia memanggil lagi.

Aku berbalik cepat.

“Aku tidak pacaran dengan Kawaguchi.”

Hah?!

Belum sempat satu katapun kuucapkan, Sho benar-benar sudah pergi.

Sore ini, aku tidak mengerti apa yang sedang Sho lakukan padaku, tapi itu cukup membuat jantungku berdegup tidak beraturan.

***

Mari kita singkirkan dulu kejadian tadi sore. Malam ini, aku harus fokus belajar karena besok ada ulangan matematika. Aku tidak ingin hal itu mengganggu konsentrasiku. Matematika adalah pelajaran paling sulit yang bisa aku terima. Butuh konsentrasi lebih untuk memahaminya. Malam ini, fokus utamaku adalah belajar, dan itu cukup membantuku menyingkirkan bayangan kejadian sore tadi.

Dua jam berlalu. Sejak tadi fokusku hanya tercurah pada buku pelajaran dan buku tugas. Setelah selesai, aku keluar kamar, turun ke bawah ingin mengambil minum. Kulihat keadaan di bawah sudah gelap gulita. Berarti ayah sudah pulang. Saking sibuknya berkonsentrasi, aku sampai tidak menyadari ayah sudah pulang. Setelah mengambil air, aku kembali ke kamar.

Aku kembali duduk di depan belajar, bermaksud ingin mengeluarkan buku pelajaran hari ini dan menggantinya dengan buku pelajaran esok hari. Lalu kemudian pandangan mataku bertumpu pada kamus yang dikembalikan Sho tadi. Aku berdiri untuk mengembalikan ke tempatnya, di lemari buku. Tapi, entah darimana, ada sesuatu yang membuatku penasaran ingin membuka kamus itu. Aku kembali duduk dan membuka kamus tersebut.

Ada secarik kertas yang diselipkan di tengahnya.

Kertas berwarna pink dengan ukuran seperempat lebar buku tulis yang sudah dibubuhi tulisan yang sengaja ditulis besar-besar.

DAISUKI’

Hanya tulisan itu yang ada di sana. Sama seperti yang dibisikkan Sho padaku.

Di ujung kertas di bagian bawah ada nama Sho dengan emoticon love di akhirnya.

Apa ini?!

Ddrrtttt…

Ponselku berdering seiring dengan pertanyaanku dalam hati yang tidak bisa kujawab.

Di layar ponsel terpampang nomor ponsel yang tidak kuketahui. Akupun mengangkatnya.

“Kogure?”

Sho? Ini suaranya Sho.

“Hm? Ada apa?” aku bersusah payah agar suaraku tidak terdengar gugup. Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa gugup. “Darimana kau tahu nomor ponselku?”

“Dari Kawaguchi. Apa kau sudah membacanya?”

Aku yakin yang dia maksud adalah kertas di kamus itu.

“Sudah.” Kataku datar. Sebisa mungkin bersikap datar.

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Yah, aku menyukaimu. Apa kau juga menyukaiku?”

“Aku tidak tahu.”

“Kapan kau tahu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kogure~”

“Hm?”

“Aku tidak pacaran dengan Kawaguchi.”

“Kau sudah mengatakannya tadi.”

Aku rasa Sho sedang berusaha untuk membuatku merasa lebih baik, karena aku pasti akan berat menerimanya jika tahu dia pacaran dengan Eri. Tunggu! Memangnya aku bilang mau menerima dia?

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Apa kau mau menerimaku?”

“Aku tidak tahu.”

“Tapi aku ingin tahu.”

“Besok.”

“Besok apa?”

“Kita lihat besok, apakah aku sudah tahu atau belum.”

“Baiklah, kutunggu sampai besok. Sudah dulu ya, Kogure. Selamat malam.”

Sho mematikan sambungan telepon.

Yang tadi itu apa?!

Aku menghembuskan napas dengan berat. Nyaris saja aku menahan napas selama bicara dengan Sho tadi. Aku tidak yakin apakah dia mendengar suaraku baik-baik saja. Dia pasti tahu aku sedang susah payah agar tidak gugup.

Besok?!

Aku sendiri tidak menyadari kenapa tiba-tiba berkata ‘besok’, seolah-olah aku akan memberikan jawabanku padanya besok. Padahal aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku padanya, atau, jika saat ini aku merasa sangat gugup dengan perasaan bercampur aduk, mungkin aku sendiri belum menyadari bahwa perasaanku padanya diam-diam sudah tumbuh.

Ah, aku tidak tahu! Kita lihat besok!

***
To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s