[Multichapter] TWISTED (#9)

1500683758191

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Hokuto mengetuk pintu kamar Kouchi, menunggu jawaban. “Mereka sedang apa sih? Kok tidak ada respon sama sekali?” gumam Hokuto.

Hokuto mengetuk lagi, masih juga tidak ada jawaban. “Kouchi, Yua, kalian di dalam?” tanya Hokuto mulai khawatir. Hokuto sudah mengabari Kouchi kalau dia akan kembali dan membawa mereka pergi, tapi tuannya itu tidak merespon sama sekali. Hokuto tahu, Kouchi mungkin kecapean dan tertidur, tapi masa’ Yua tidur lagi?

“Yua? Apa kamu di dalam?” tanya Hokuto lagi, masih tidak ada jawaban. Tanpa menunggu lagi, Hokuto membuka pintu kamar Kouchi. Tapi tidak ada siapa-siapa di dalamnya.

“Hah? Mereka di mana?” Hokuto beranjak menuju kamar Yua, tapi keduanya tidak juga ditemukan di sana. Kamar Sora, kamar Taiga, kamar Juri, kamarnya sendiri, taman belakang, gudang, hampir ke seluruh bagian rumah sudah Hokuto cari, tapi Kouchi dan Yua tidak juga terlihat batang hidungnya.

“Kouchi! Yua! Kalian di mana?” teriak Hokuto mencari keduanya, mulai frustasi. “Sial! Aku lalai tidak memberitahu Kouchi-sama sebelum pergi tadi kalau keadaan sudah di luar prediksi!” sesal Hokuto, mulai marah kepada dirinya sendiri. Hokuto mengambil ponselnya dan sekali lagi mencoba menghubungi Kouchi, tapi tetap saja Kouchi tidak menjawabnya.

“Oh, tunggu dulu! Ada satu tempat yang belum ku cari. Meskipun mustahil Kouchi-sama membawa Yua ke sana, tapi tidak ada salahnya memeriksa, bukan?”

Hokuto berbalik dan kembali menuju kamar Kouchi. Ada sebuah ruangan rahasia di dalamnya, di mana biasanya Kouchi memberinya misi rahasia atau kalau keduanya ada hal penting yang ingin dibicarakan berdua saja. Ruangan yang dulunya menjadi kamar para klan Matsumura. Ruangan itu memang kedap suara, sehingga mungkin Hokuto tidak bisa mendengar suara apapun dari sana, tidak juga mereka menyadari kalau Hokuto memanggil mencari mereka.

Hokuto menuju pintu rahasia dan mulai membukanya saat samar-samar dia mulai bisa mendengar isak tangis Yua. “Yua? Yua? Apa kamu di dalam, Yua?” tanya Hokuto memastikan suara tangis yang didengarnya benar milik Yua. Karena kondisi ruangan yang gelap, Hokuto tidak bisa melihat apa-apa atau siapa yang di sana.

“Hoku? Apa kamu Hokuto?” tanya suara itu, yang kini membuat Hokuto yakin kalau itu memang Yua. “Iya, ini aku Hokuto,” sahutnya.

“Apa kamu benar-benar Hokuto? Nii-chan menyuruhku menanyaimu ini tempat apa untuk membuktikan kalau kamu memang Hokuto yang sebenarnya. Jawab pertanyaanku, ini tempat apa?” tanya Yua lagi, terdengar ketakutan sekali.

“Ini adalah kamar para klan Matsumura yang mengabdi untuk keluarga Kouchi. Tempat ini adalah kamarku yang sebenarnya, Yua.” Hokuto tidak ingin menebak-nebak apa yang terjadi dan menjawab pertanyaan Yua agar gadis itu mempercayainya.

Mendengar jawaban Hokuto, Yua langsung menghambur memeluknya. Meskipun gelap, Yua tidak sulit menemukan posisi pemuda itu, karena entah mengapa, Yua tidak masalah melihat dalam kegelapan. Seperti ada sensor di penglihatanya untuk mengidentifikasi apapun di depannya.

Hokuto kaget karena tiba-tiba Yua memeluknya, tapi tidak ada pilihan lain selain membalas pelukan gadis itu. Hokuto menunggu sampai Yua berhasil menenangkan dirinya, karena Hokuto bisa merasakan degup jantung Yua berdetak sangat kencang sekali. Hokuto meraba sakelar di sisi pintu di dekatnya, sehingga dia bisa memastikan bagaimana keadaanm Yua yang sebenarnya.

Yua baik-baik saja. Ya, setidaknya secara fisik tidak terjadi apa-apa padanya. Tapi secara mental, pasti sudah terjadi sesuatu yang membuatnya trauma. Dan semua itu terjadi saat dia tidak ada! Hokuto mulai kembali kesal dengan dirinya.

Setelah dirasa Yua cukup tenang, Hokuto mendudukkan gadis itu di sofa dan mengambilkannya minum. Hokuto menunggu sampai gadis itu menatapnya, lalu bertanya, “Apa yang terjadi?”

Yua menggeleng mendengar pertanyaan Hokuto. “Aku tidak tahu,” jawabnya. Yua menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kejadiannya cepat sekali, aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya nii-chan menggendongku ke kamar karena dia bilang ingin tidur, jadi aku menurutinya. Tiba-tiba saat kami sudah di kamar, kami mendengar ada ribut-ribut di luar dan tanpa buang waktu nii-chan membuka ruangan ini. Untuk beberapa saat kami sembunyi, yang aku tidak tahu dari apa, sampai nii-chan memutuskan untuk keluar. Katanya dia ingin mengalihkan perhatian, karena kalau tidak, tinggal menunggu waktu saja sampai mereka menyadari tentang ruangan ini. Nii-chan memintaku menunggu di sini dan mengatakan kalau kamu akan menjemputku tapi harus memastikan kalau itu benar-benar kamu dengan menanyaimu seperti tadi,” jelas Yua.

“Tapi kamu lama sekali! Aku ketakutan di dalam sini. Aku khawatir terjadi apa-apa dengan nii-chan. Dia melarangku untuk ikut dengannya karena takut kalau pergi berdua malah akan membuat kami berdua tertangkap, makanya aku menurutiya. Sekarang nii-chan di mana? Bukannya dia yang menyuruhmu ke sini?” tanya Yua kepada Hokuto, tidak sadar kalau pemuda itu tadi menanyainya karena tidak tahu keberadaan tuannya.

“Ah, kamu ke sini karena menebak aku ada di sini? Bukan karena nii-chan menyuruhmu?” Yua mulai sadar karena Hokuto hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya tadi. Hokuto mengangguk.

“Kita harus mencari nii-chan Hoku!! Mungkin dia sedang dalam bahaya!” ajak Yua mulai panik. Hokuto berusaha keras untuk menenangkannya.

“Tenanglah Yua! Pertama-tama kita harus memberitahu Chika, karena dia sedang bersama Juri, Shintaro dan Taiga. Mereka yang akan pergi mencari Kouchi. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mencari persembunyian yang lebih aman dari ini. Sebab tidak menutup kemungkinan kalau orang-orang itu bakal datang lagi ke rumah ini,” terang Hokuto memberi solusi. Yua menatap Hokuto ragu-ragu, tapi menurut juga akhirnya. Karena tahu, pasti hal itu juga yang diinginkan kakaknya dibandingkan melibatkan dirinya ke dalam bahaya.

“Yosh. Ayo kita pergi dari sini!” ajak Hokuto menarik tangan Yua untuk pergi dengannya, lalu keduanya lari bersama.

**

Setelah memberitahu Jesse secara singkat apa yang terjadi, Chika menutup teleponnya. Sebenarnya dia merasa sedikit tidak enak karena sudah mencoba mengembalikan ingatan Jesse yang seharusnya dia lupakan. Karena kalau sampai Jesse teringat jika dia datang dari dimensi berbeda, dia akan menyadari kalau ayahnya di dimensi ini tidak pernah menikah. Mungkin saja Jesse akan pergi mencari wanita yang seharusnya menjadi ibunya dan mengacaukan semuanya. Tapi Chika tidak ada pilihan. Karena Jesse harus mengetahui semuanya dan mulai menyusun rencana.

Chika terus berjalan sambil menggandeng tangan Taiki. Meskipun anak itu terus meronta, Chika tidak berniat melepasnya. Sebenarnya itu adalah caranya untuk mengalihkan perhatian dari tatapan Shintaro yang seperti ingin menerkamnya kapan saja. Dia tahu kalau Shintaro pasti sudah ingin bertanya banyak hal kepadanya, tapi terpaksa menahannya karena keadaan.

“Kita sampai! Yang itu rum … Kouchi-senpai? Kenapa ada di sini? Yua mana?” tanya Chika, terkejut saat melihat Kouchi sudah berdiri di depannya.

“Chika! Kalian …” Kouchi menggantung pertanyaannya, lalu celingukan seolah memastikan tidak ada yang sedang mengejarnya. “Kamu mau ke rumah Jesse juga?” tanya Kouchi buru-buru. Chika mengangguk sebagai jawaban yang efisien.

“Kalau begitu kita masuk saja dulu. Kita bicara di dalam dan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” ajak Kouchi. Tanpa buang-buang waktu lagi keempatnya menuju rumah Lewis-sensei.

Saat melihat Juri yang membukakan pintu, Kouchi menahan diri untuk tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai semuanya berada di dalam dan duduk saling berhadapan.

Tapi usahanya sia-sia saat tiba-tiba Taiki berteriak dan berlari menghambur ke pelukan Taiga begitu melihatnya. “Nii-chan! Syukurlah kamu menggagalkan misimu melenyapkan Yua!”

Tenggorokan Kouchi terasa tersumbat. Ternyata benar kecurigaan Jesse selama ini kalau Taiga lah pelakunya. Tapi kenapa? Kenapa sekarang pemuda itu malah di sini? “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kouchi sudah tidak sanggup menahan diri lagi.

Chika merasakan tatapan Juri dan Taiga yang menghujam ke arahnya seolah berkata kau-harus-jelaskan-semuanya-padanya! Chika bergidik, belum lagi tatapan Shintaro yang sedari tadi tidak beralih sedikit pun darinya.

Ano, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi tidak bisakah kita bicara selagi Lewis-sensei bersama kita? Dia akan mempermudah penjelasanku nanti,” ucap Chika meminta pengertian teman-temannya. Dan semuanya pun menyetujuinya.

Chika mengulang kembali cerita yang disampaikannya kepada Taiga semalam, tapi tentu saja tidak dengan bagian percintaan ala ala Taiga-Chika karangannya. Setelah menyelesaikan ceritanya, kali ini Chika lebih mudah meyakinkan Shintaro dan Kouchi karena ada Lewis-sensei yang merupakan sang pencipta ramuan di masa depan. Dengan mudah beliau memberikan bukti. Bahkan untuk Taiga yang tadi sedikit meragukan Chika, kini langsung percaya. Ditambah lagi penjelasan Taiki yang cocok dengan cerita Chika.

“Aku juga mendengar sendiri kalau Profesor Kyomoto memanggil Profesor Tenma sebagai Profesor Kouchi, nii-chan!” seru Taiki meyakinkan Taiga. “Setelah kutanyakan pada Ayahku, dia mengatakan kalau Profesor Kouchi memang masih hidup sebagai Profesor Tenma, tapi hal ini dirahasiakan oleh pihak atasan. Lembaga menginginkan Tuan Kouchi untuk melanjutkan penelitiannya, tapi dia memberi syarat untuk melenyapkan Yua, dengan dalih kalau Yua adalah senjata cipataannya yang gagal dan berbahaya. Padahal sebenarnya, mereka tahu kalau Tuan Kouchi hanya ingin memisahkan anaknya, Kouchi Yugo dari Yua. Begitu kata Ayah,” jelas Taiki menyampaikan apa yang disampaikan oleh ayahnya.

“Memisahkan Yua dariku? Kenapa? Bukankah Yua juga anaknya?” tanya Kouchi tidak habis pikir dengan pemikiran ayahnya. Taiki mengangkat bahu, karena yang disampaikan ayahnya hanya sebatas itu.

“Begitu tahu kalau itu hanya keinginan egois Profesor Kouchi, aku merasa kalau nii-chan pasti akan menyesal nantinya. Jadi aku kabur dari lembaga, dan ternyata tidak semudah yang kupikirkan. Makanya, aku baru sampai tadi pagi,” tambah Taiki mengabaikan pertanyaan Kouchi.

“Bagaimana dengan Profesor Konno, Taiki? Apa dia mengetahui kalau kamu kabur mencariku?” tanya Taiga mengkhawatirkan ayah Taiki. Taiki hanya menggeleng. “Aku tidak memberitahunya, tapi kurasa Ayah tahu. Dia tidak melarangku. Lagipula, sejak melihat nii-chan membawa Chika ke lembaga, Ayah selalu berniat mengungkap kebenarannya pada nii-chan, kalau bukan hari itu nii-chan keburu pergi karena tekanan.”

“Aku?” tanya Chika menginterupsi. “Kenapa Profesor Konno berubah pikiran setelah melihatku?”

“Karena Ayah tahu, nii-chan mencintaimu Chika! Ayah tidak ingin melihat nii-chan menderita karena harus terus berbohong padamu karena sudah membunuh orang yang penting bagimu. Ayah tidak ingin nii-chan merasakan pengalaman yang sama dengan yang dialaminya sendiri,” jelas Taiki, berhasil membuat Taiga dan Chika salah tingkah, meskipun sejujurnya Chika sangat bahagia karena Taiga tidak menyangkalnya.

“Jadi, Yua bukan manusia? Lalu Chika datang dari masa depan? Dan lagi Taiga adalah pembunuh yang ditugaskan untuk melenyapkan Yua?” tanya Shintaro berturut-turut mencoba mencerna semuanya. “Dan yang terparah, kamu sebenarnya anak Matsumura-senpai dan Hideyoshi-senpai? Sulit dipercaya!!!”

“Ah, itu. Pantas saja Hokuto ngotot untuk membiarkanmu di sisi Yua. Itu karena kamu klan Matsumura ya, Chika?” tanya Kouchi mengabaikan Shintaro. Chika membungkuk sopan sebagai jawaban, karena sekarang Kouchi sudah tahu sebagai apa statusnya yang sebenarnya. “Iya, tuan.”

Kouchi mengangkat bahu Chika agar tidak membungkuk padanya, “Bagiku kamu adalah sahabat Yua, Chika. Jadi, jangan tiba-tiba berubah. Yua pasti juga tidak menyukainya,” terang Kouchi memperingatkan Chika lalu keduanya tertawa.

“Apa kamu tidak ingin memberitahu Sora, Chika? Mungkin kenyataan ini tidak akan membuatnya tiba-tiba baikan dengan Hokuto, tapi setidaknya, apa kamu tidak ingin ibumu mengenalimu, Chika?” Chika hanya menggeleng mendengar pertanyaan Kouchi.

“Belum sekarang, senpai. Setidaknya sampai semua masalah ini selesai, aku belum tahu harus bagaimana setelahnya. Senpai tahu kan kalau aku bukan dari dimensi ini? Kalau Ayah dan Ibuku di dimensi ini menikah lagi dan mempunyai anak, maka akan ada dua Chika, hal itu tidak bisa terjadi atau dimensi ini akan kehilangan keseimbangannya. Aku tidak tahu Matsumura-senpai sudah menyadarinya atau belum, tapi aku yakin kalau Hideyoshi-senpai akan langsung menyadarinya dan mereka akan semakin menjauh. Aku tidak mau itu terjadi. Bagaimanapun, aku kembali di dimensi ini karena ingin Ayahku bahagia karena Ibu yang selalu di sisinya,” jelas Chika.

Mendengar penjelasan Chika, Shintaro dan Taiga langsung berjalan ke arahnya, berebut untuk memeluknya. “Kamu tidak boleh pergi, Chika! Kalau kamu pergi, kamu harus membawaku juga!” teriak Shintaro sambil memeluk posesif Chika, tidak mengijinkan Taiga merebut adiknya.

“Tolong bawa saya juga, kemanapun kamu pergi, Chika-san,” pinta Taiga yang hanya kebagian menggenggam tangan Chika. Chika hanya terkekeh melihat tingkah kedua pemuda yang amat dicintainya itu, yang pasti tidak melebihi dari cintanya kepada sang Ayah.

“Aku juga tidak ingin berpisah dari kalian, tapi sebaiknya itu kita pikirkan nanti. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari cara untuk mengakhiri semua ini,” tegas Chika agar teman-temannya kembali fokus terhadap masalah yang mereka hadapi.

Taiga bisa merasakan genggaman Chika menguat, hampir meremas tangannya, seolah tidak ingin melepasnya. Cukup lama hingga membuat Taiga sadar kalau dirinya sekarang sudah tidak lagi denial terhadap perasaannya sendiri. Dengan lembut Taiga membalas remasan tangan Chika seolah berkata, Aku tidak akan pernah melepaskanmu.

“Sepertinya kita harus mengakhiri obrolan ini, teman-teman!” ucap Juri tiba-tiba, berhasil mengingatkan semua orang kalau dia juga ada di sana sedari tadi bersama mereka.

“Astaga, Juri! Ada apa?” seru Chika, antara merasa bersalah sudah mengabaikan Juri dan penasaran dengan apa yang dilihatnya.

“Pengejar Kouchi sepertinya berhasil menemukan jejak ke mana dia pergi. Sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya!” Juri menunjukkan rekaman CCTV milik Lewis-sensei yang menunjukkan sejumlah pria berjas hitam sedang berjalan memasuki gerbang kediaman Lewis-sensei.

“Lewat sini!” tunjuk Lewis-sensei mengarahkan Chika dan yang lainnya. “Ikuti saja lorong ini. Pilih kanan setiap ada persimpangan. Kalian akan tiba di jalan dekat perpustakaan. Jesse sedang di sana, bukan? Chika buatlah Jesse mengingat semuanya! Dia pasti bisa berpikir lebih baik saat mengingat semuanya. Tenang saja, aku tidak akan membiarkannya mengacaukan semuanya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri di masa depan. Lagipula, aku sudah mempunyai Jesse di sini. Meskipun aku masih terlalu muda untuk mempunyai anak sebesar Jesse,” terang Lewis-sensei sambil terkekeh sebelum menutup lorong rahasia rumahnya.

Tanpa disuruh, sebenarnya Chika sudah melakukannya tadi. Sehingga kemungkinannya, Jesse di sana sudah mulai mengingat semuanya kalau pancingan Chika berhasil. Chika mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jesse lagi, “Iya, Chika?” terdengar suara Jesse.

Senpai, jangan ke sini! Carilah tempat aman, kita akan mengatur pertemuan nanti. Jaga diri kalian!” ucap Chika cepat lalu kembali mematikan ponselnya dan fokus menyusuri lorong bersama yang lainnya.

*****

Jesse memandangi gudang kosong di depannya. Letaknya tidak cukup strategis sebagai tempat persembunyian. Tapi setidaknya lebih baik daripada mereka harus di jalanan terbuka.

“Jesse-kun, lewat sini!” seru Chise, memanggil Jesse dan Sora untuk mengikutinya. Mereka memilih jalan belakang, agar tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang lewat dan melihat mereka sedang berusaha membobol gudang kosong.

“Oh, lihatlah!” pekik Sora tertahan saat melihat seseorang tertidur di emperan gudang belakang. Orang itu terlihat sudah tua sekali. Bahkan satu kakinya tampak cacat yang membuatnya tidak bisa berjalan. Mereka juga melihat tongkat kayu di samping Pak Tua itu, yang mereka yakini sebagai alat bantu beliau berjalan. “Apa yang harus kita lakukan?”

Jesse mendekat dan mengecek apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Setelah bisa merasakan hembusan napas, meski pelan sekali, Jesse menghela lega. “Masih hidup,” katanya. Chise dan Sora ikut bernapas lega.

“Mungkin sebaiknya untuk sementara kita biarkan dulu, sampai yang lainnya datang dan kita bicarakan dengan mereka. Kalau sampai malam mereka belum juga datang, kita bawa Pak Tua ini ke dalam,” usul Jesse. Sora dan Chise tidak sanggup menginterupsi karena mereka memang tidak diberi pilihan. Jesse mengatakannya sebagai sebuah keputusan.

Ketiganya sudah masuk gudang dan mulai membersihkan beberapa bagian gudang agar sedikit lebih layak dihuni. Jesse mengirimkan peta lokasi ke ponsel Chika, lalu selagi menunggu kedatangan mereka, Jesse memilih untuk tiduran sejenak. Kepalanya masih terasa sakit sekali. Kenangan sebanyak itu tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya hanya karena Chika mengatakan kalau Taiga lah yang mengirim mereka. “Astaga, kenapa aku bisa melupakan semuanya selama ini?” gerutu Jesse sambil memijat-mijat kepalanya yang sedikit berdenyut.

Chise duduk di dekat Jesse dan memperhatikan wajah kekasihnya itu. Jesse yang sekarang dilihatnya terlihat beda sekali dengan Jesse yang tadi masih dengan receh menggombalinya dan mengajaknya pergi makan karena peresmian status hubungan. Jesse yang sekarang, terlihat menanggung banyak beban. Ekspresi yang sama, seperti yang biasa Chise lihat di wajah Chika, meski gadis itu selalu berusaha menutupinya.

Saat bergelung, Jesse kaget mendapati Chise terduduk di sampingnya, sedang mengawasinya dengan ekspresi yang khawatir. “Hei, beb. Maukah kamu duduk di sini? Aku ingin merasakan tidur di pangkuanmu nih!” ucap Jesse manja, mencoba mencairkan suasana.

Chise berpindah sesuai yang diminta Jesse, dan membiarkan kepala pemuda itu bersandar di pahanya. Chise benar-benar terganggu dengan keadaan Jesse yang seperti ini. “Jesse-kun, aku tidak berharap kamu cerita semuanya. Tapi kalau ada sedikit saja yang bisa kubantu, katakanlah. Bukannya kita sekarang sudah resmi jadi sepasang kekasih?” tanya Chise mulai sedikit ketularan recehnya Jesse.

Jesse terdiam mendengar pertanyaan Chise. Melebihi masalah yang ingin diceritakannya pada Chise, Jesse lebih takut berpisah dengan kekasihnya itu. “Aku tidak ingin berpisah denganmu,” ucap Jesse tiba-tiba, sukses membuat wajah Chise memerah.

“A… a.k…” Jesse tidak perlu jawaban apapun dari Chise. Karena sejak awal memang Jesse lah yang memaksa gadis itu untuk menjadi kekasihnya. Jesse bangun dari tidurnya dan membungkam bibir Chise dengan sebuah kecupan, kecupan yang selama ini sangat dia dambakan.

“Maafkan aku, Papa. Aku tidak mau berpisah dengan gadisku, sehingga aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Mama. Maaf mungkin aku egois, tapi aku hanya ingin bahagia,” ucap Jesse di dalam hati. Dia sama sekali tidak menyesal karena yakin papanya akan dengan mudah memaafkannya.

Hello, kids. Ada aku di sini! Jangan dianggap obat nyamuk ya?” ledek Sora karena bukan keinginannya untuk melihat adegan yang iya-iya antara Jesse dan Chise. Buru-buru Chise mendorong Jesse pelan, tapi pemuda itu tidak bergeming dari posisinya. Untuk beberapa kali Jesse mengecup bibir Chise lalu mencibir ke arah Sora.

“Bukannya kamu sudah melakukannya? Sudah tidak perlu iri, kenapa?!” seloroh Jesse, membuat Sora melemparinya dengan kardus yang digenggamnya.

“Jesse, apa Chika sudah merespon pesanmu?” tanya Sora. Jesse buru-buru mengeluarkan ponselnya, karena sejujurnya dia lupa mengecek karena kesibukan mereka bersih-bersih dan tiduran di pangkuan Chise membuatnya terlena sesaat. “Mereka sudah di dekat sini. Aku akan mengecek di luar.”

Jesse beranjak dari posisinya dan menyempatkan sekali lagi mengecup bibir Chise sebelum akhirnya pergi keluar. “Astaga kau ya!” seru Sora geram, tapi malah dibalas juluran lidah oleh Jesse. Chise hanya tertawa melihat tingkah keduanya. Meski mereka lebih tua, tapi tingkahnya tidak ada beda dengannya kalau sedang bersama Yua, Shintaro dan Chika.

Yua, apa kamu baik-baik saja? tanya Chise dalam hati, mulai kepikiran tentang sahabatnya itu. Sejujurnya, Chise belum tahu apa-apa, bahkan Sora pun belum jadi cerita. Tapi satu hal yang Chise tahu, kalau dia sudah terseret dalam sesuatu yang berbahaya.

*****

“Hoku, kita mau ke mana?” tanya Yua. Sudah hampir setengah hari mereka terus berjalan masuk ke dalam hutan dan semakin dalam, tapi Hokuto tidak juga memberitahu Yua mereka mau ke mana. Berulang kali Yua mencoba mnegecek sinyal ponselnya, tapi tidak ada sama sekali. Kalau begini, bagaimana Yua mengabari yang lainnya? Kakaknya pasti sudah sangat mengkhawatirkannya.

“Apa kamu capek, Yua? Aku bisa menggendongmu. Perjalanan kita masih lumayan jauh,” jelas Hokuto. Tapi Yua masih menggeleng juga. “Kenapa kita tidak istirahat saja? Sebenarnya kita mau ke mana?”

“Kita tidak bisa beristirahat sebelum mencapai tebing, Yua. Karena kalau malam, di dalam hutan ini sangat berbahaya. Kita akan pergi ke tempat klan Matsumura seharusnya berada. Tenang saja, Chika pasti akan bisa menemukan kita,” terang Hokuto menenangkan Yua. Dia tadi sudah bercerita singkat tentang siapa klan Matsumura sebenarnya kepada Yua, tentang hubungan keluarganya sebagai pelindung keluarga Kouchi. Meskipun agak sulit, tapi Yua mempercayainya juga.

“Bagaimana Chika bisa menemukan kita? Bukannya yang mengetahui tempat itu hanya klan Matsumura?” tanya Yua mulai gelisah, tidak yakin dengan penjelasan Hokuto. “Karena dia juga klan Matsumura, Yua.” Akhirnya Hokuto mengatakannya, karena tidak ada gunanya lagi menutupi semua itu sekarang.

“Hah? Bagaimana bisa? Bukannya kamu klan Matsumura terakhir yang tersisa?” Yua menghentikan langkah, hampir membuat Hokuto menabraknya. Yua menoleh dan menatap Hokuto penuh selidik, bagaimana bisa Chika menjadi klan Matsumura?

Hokuto hanya tersenyum, belum berniat memberikan jawaban untuk Yua. “Nanti akan ku jelaskan begitu kita sampai sana. Sebaiknya kita bergegas, Yua. Hari sudah hampir gelap. Kugendong saja, ya?” tawar Hokuto lagi.

Yua memperhatikan sekeliling yang mulai berwarana keoranyean, menandakan hari mulai senja. Dia menimbang-nimbang lagi hingga akhirnya menyetujui tawaran Hokuto untuk menggendongnya. “Baiklah,” jawab Yua seraya naik ke punggung Hokuto. Lalu keduanya pun melesat cukup cepat dengan kemampuan Hokuto yang pertama kali Yua lihat dan membuatnya percaya apa yang sudah dikatakan Hokuto tadi.

Yua hanya melihat sebuah gua yang tidak layak huni. Tidak mungkin itu tempat tinggal klan Matsumura, kan? Seperti memahami arti tatapan Yua, Hokuto mengajak gadis itu menembus semak-semak yang menutup mulut gua. Begitu terkejutnya Yua saat melihat di dalamnya ada sebuah istana. Baiklah, mungkin berlebihan menyebutnya istana, tapi tempat itu bahkan lebih besar daripada rumahnya! Bagaimana ceritanya klan Matsumura menjadi pelindung keluarga Kouchi kalau mereka lebih kaya?

“Mungkin sekarang terlihat mewah karena hanya aku yang menempatinya. Tapi dulu, ada lebih dari 20 keluarga tinggal di sini, sebelum klan Matsumura hampir musnah,” jelas Hokuto seolah menyadari pertanyaan Yua yang tidak diucapkannya. Yua menatap Hokuto, merasa bersalah karena membuatnya kembali terkenang masa lalu yang kelam.

“Hoku, maafkan aku …” Hokuto menahan Yua agar tidak melanjutkan katanya-katanya. “Mandilah dulu. Di sini tempat pemandiannya alami, jadi santai saja kamu tidak perlu memanaskan air dulu. Setelah itu, pergilah ke kamar yang di sebelah sana. Ada banyak pakaian wanita di sana. Kamu tinggal pilih saja.” Hokuto menunjuk ini itu agar diikuti oleh Yua.

“Pakaian wanita? Punya Chika?” tanya Yua. Dia teringat kalau Hokuto berjanji untuk menjelaskan mengapa Chika bisa menjadi klan Matsumura sedangkan dalam cerita Hokuto sudah jelas-jelas menceritakan kalau hanya dia yang tersisa.

Hokuto menggeleng, “Mandilah dulu. Nanti pasti kuceritakan,” pinta Hokuto lagi-lagi menunda penjelasannya. Yua cemberut tapi menurut juga.

Saat Yua sedang mandi, Hokuto mencoba salah satu cara komunikasi klan Matsumura di masa lalu. Hokuto memang hanya pernah sekali melakukannya bersama sang Ayah, tapi dia yakin tidak melupakan caranya. Dia mengambil sebuah baki yang disimpan di ruang utama dan beberapa cairan dari lemari kamar ayahnya, setelah itu jarum dan bunga lily yang khusus tumbuh di danau klan Matsumura.

Yosh. Sudah siap semua. Pertama siapkan baki dan tuang kin klan Matsumura,” ucap Hokuto sambil menuang cairan yang disebut kin ke dalam baki. “Ambil serbuk sari lily api dan campurkan dengan kin.” Dengan hati-hati Hokuto mengambil serbuk sari bunga, sebanyak mungkin yang dia bisa karena banyaknya serbuk sari mempengaruhi panjangnya gelombang komunikasi. “Dan yang terakhir, darah dari klan Matsumura.” Hokuto menusuk ujung jarinya menggunakan jarum yang sudah disiapkannya.

Tidak membutuhkan waktu lama sampai Hokuto bisa melihat bayangan Chika di dalam baki hanya dengan memikirkannya. “Chika. Chika apa kamu mendengarku?” Hokuto mencoba memanggil Chika.

Chika di dalam baki terlihat kebingungan mencari sumber suara yang memanggilnya. “Carilah tempat yang tenang dan pejamkan matamu, kita akan bisa bicara berdua. Bukankah aku di masa depan sudah pernah mengajarkannya?” Chika tampak mengangguk dan mengikuti setiap intruksinya.

Senpai, apa kamu ada di rumah kita?” tanya Chika yang kini sudah terasa nyata berada di depannya. “Benar. Aku dan Yua sekarang ada di rumah kita. Bagaimana keadaan di sana?”

“Kami sudah berkumpul semua. Hanya senpai dan Yua yang tidak ada. Tapi karena kalian di rumah kita, ku rasa kami tidak perlu khawatir lagi dengan kalian. Tetaplah di sana untuk sementara waktu. Kami di sini akan mencoba menyelesaikan masalah ini secepatnya,” ucap Chika, menatap Hokuto tanpa keraguan sedikit pun.

“Kamu itu bodoh ya? Mana mungkin aku membiarkan kalian berjuang sendiri tanpaku!” bentak Hokuto, berhasil membuat Chika sedikit tersentak karena baru pertama kali dimarahi Ayahnya di dimensi ini. Melihat Hokuto yang seperti itu, membuat Chika semakin merindukan sosok Ayahnya sendiri.

“Kamu pernah cerita kalau kamu pernah memberikan tudung untuk melindungi Yua di dalam mimpinya, bukan? Dan kenyataannya, tudung itu benar nyata muncul di kamar Yua di saat bersamaan. Kurasa kamu mempunyai kelebihan dengan mimpi, Chika. Masing-masing klan Matsumura memang mempunyai satu kelebihan yang hanya bisa aktif di malam bulan purnama. Kebetulan malam ini bulan purnama, cobalah kekuatanmu untuk mengantarkan mereka satu per satu ke sini melalui mimpi, Chika. Aku yakin kamu bisa melakukannya,” tegas Hokuto tanpa memberikan kesempatan Chika mengeinterupsinya.

“Karena kita butuh cepat, aku juga akan menggunakan kekuatan teleportasiku untuk membantumu. Tandai lokasimu dengan sedikit darah, biar aku bisa menemukanmu. Aku akan membuat Yua terlelap dulu sehingga kamu bisa masuk ke dalam mimpinya dan memindahkan mereka ke sini. Sekarang istirahatlah dulu. Aku akan segera ke sana begitu Yua sudah tidur. Sampai ketemu nanti, Chika,” ucap Hokuto lalu mengakhiri komunikasi mereka.

“Hoku, kamu sedang bicara dengan siapa?” tanya Yua saat kembali dari mandinya. Dia sudah mengenakan pakaian yang dipilihnya dari kamar bekas milik ibu Hokuto. Hokuto menoleh dan tersenyum melihat pakain milik ibunya cocok juga dipakai Yua. “Syukurlah baju itu masih layak pakai,” ucap Hokuto.

“Tuh kan, lagi-lagi mengalihkan pembicaraan!  Padahal aku tanya kamu sedang bicara dengan siapa, jawabnya …”

“Chika,” potong Hokuto. “Aku menghubungi Chika dan menanyakan keadaannya. Semua orang sudah bersamanya, hanya kita berdua yang terpisah. Aku meminta Chika untuk membawa mereka semua ke sini dengan kekuatannya. Tapi kami memerlukan bantuanmu, Yua. Chika perlu masuk ke dalam mimpimu dan membawa mereka ke sini melalui mimpimu. Maukah kamu pergi tidur dulu dan membantu kami, Yua?” pinta Hokuto.

Yua tampak kebingungan dengan penjelasan Hokuto. Chika? Mimpi? Informasi yang diperolehnya hari ini terlalu banyak! Bahkan bagaimana Chika termasuk klan Matsumura saja, Yua belum mendapatkan jawabannya. “Aku akan pergi tidur, tapi kamu harus memberitahuku dulu tentang Chika,” tawar Yua akhirnya. Hokuto mengangguk.

“Aku tahu, kamu mungkin akan sulit mempercayainya, tapi Chika adalah anakku di masa depan.”

Yua membelalakkan mata. Melebihi dari bayangannya, kenyataan tentang siapa sebenarnya Chika bener-benar mengejutkan. “Anakmu? Bagaimana …”

“Aku hanya janji menjawab siapa Chika sebenarnya, Yua. Aku tidak bisa menjelaskan lebih detail bagaimana dan mengapa. Karena Chika sendiri lah yang harus mengatakannya padamu. Karena itu, kami memerlukan bantuanmu.” Yua menatap Hokuto ragu, tapi setuju juga dengan pernyataannya. Karena bagaimanapun Hokuto menjelaskan, mungkin Yua akan sulit percaya. Memang harus Chika sendiri yang menjelaskan padanya!

“Baiklah, aku akan tidur dan membantu kalian.” Yua mengitarkan pandangan, seolah bertanya aku-harus-tidur-dimana?

“Sebaiknya kita kembali ke kamar ibuku. Karena hanya tempat itu yang paling sering kubersihkan,” jelas Hokuto lalu keduanya kembali ke kamar di mana tadi Yua berganti pakaian.

Yua menggosok-gosok pelipisnya, berharap bisa sedikit meredakan sakit kepala yang menyerangnya. Mungkin terlalu banyak informasi yang harus dia coba pahami yang menyebabkan dia sakit kepala. Tapi dia harus sedikit bertahan untuk membantu teman-temannya dan kembali bertemu kakaknya.

 

to be continued …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s