[Multichapter] I Have Gotten Ready To Bid Farewell (#4)

I HAVE GOTTEN READY TO BID FAREWELL

CYMERA_20170824_204121
#4
By aiibaka
Cast : Hirano Sho (Mr. KING, Johnnys Jr); Kogure Kie (OC)
Genre : romance
Disclaimer : Hirano belongs to himself and JE, author owns the plot and OC
Note : Judulnya diambil dari lagu Crude Play – I have gotten ready to bid farewell.
FF ini terinpirasi dari kegalauan author beberapa hari yang lalu XD
Hope you like it.
Comments are love ^^


Eri mengajakku ke kantin. Kami berdua keluar kelas bersamaan. Sho masih duduk di bangkunya. Kami tidak berbicara sejak tadi pagi. Aku diam, dia juga diam. Sebenarnya aku malu jika memikirkan percakapan kami kemarin malam, saat dia menyatakan cintanya padaku. Dan karena aku sudah bilang bahwa besok, yaitu hari ini, aku akan memberinya jawaban, maka akan kulakukan hari ini. Namun sebelum itu, aku ingin bicara berdua dengan Eri.

“Eri,” aku meringis pelan saat Eri duduk di depanku setelah membeli melonpan dan susu coklat. “Jadi aku harus bagaimana?”

Eri diam menatapku. Mengenai perasaan Sho, sudah kuberitahukan semuanya pada gadis berkacamata itu kemarin malam, beberapa saat setelah Sho menelepon. Waktu itu aku butuh teman untuk diajak bicara, jadi aku menghubungi Eri karena hanya dia satu-satunya yang bisa mengerti aku.

“Eri? Beri aku saran.” Kataku dengan nada memaksa. Aku ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutnya.

“Kau sudah menemukan jawabannya, kan?” itu tidak terdengar seperti pertanyaan, alih-alih sebuah isyarat agar aku segera memberikan jawabanku.

Kemarin malam, pada Eri, setelah bercerita panjang lebar, setelah mempertimbangkan semua kondisi dan keadaan yang ada, aku akhirnya menemukan jawaban yang akan kuberikan pada Sho. Ya, aku akan menjawab ‘ya’. Aku akan menerima perasaan Sho, dan… menjadi pacarnya.

Tapi, rasanya aku ragu dengan pilihanku. Karena itulah aku meminta saran dari Eri lagi.

“Kie, dengarkan aku,” ujar Eri. Kali ini suaranya serius. Seketika kutatap matanya tanpa berkedip. “Hirano bukan orang jahat, dia tulus padamu dan mengatakannya dengan terus terang. Jadi kurasa, pilihanmu tidak akan salah.”

Aku masih tetap ragu. Sedikit.

“Apa ini tidak terlalu cepat?” tanyaku.

“Tidak ada waktu yang terlalu cepat untuk suatu hal yang sudah tepat,” jawab Eri dengan tatapan serius padaku.

Eri sudah menjelaskan padaku bahwa hubungannya dengan Sho tidak lebih dari teman, bukan sesuatu yang spesial seperti yang kupikirkan sebelumnya. Dia bahkan sangat setuju jika aku dan Sho pacaran. Karena alasan itu, dan berbagai pertimbangan lain, akhirnya aku menemukan jawaban itu. Jawabannya sudah kupikirkan sebaik mungkin, tapi entah mengapa, pagi ini aku meragukannya.

“Tapi…,” kataku masih saja ragu.

“Kalau kau tidak berani, aku saja yang bilang.”

Serta-merta Eri berdiri dan akan langsung menemui Sho jika saja aku tidak mencegahnya.

Masa’ kau yang bilang?” ujarku.

Eri duduk kembali. “Kalau tidak berani, aku bersedia kok membantu.”

“Aku berani,” sahutku. “Hanya saja aku masih ragu.”

“Aku tanya, memangnya kau meragukan apa?” Eri bertanya padaku dengan nada mendesak, seakan-akan tidak sabar ingin melihatku menemui Sho dan mengatakan semuanya.

“Hirano itu…,” aku menjawab dengan penuh pertimbangan. “Sepertinya dia anak geng motor.”

“Aku tahu!”

“Eh?!” aku terkesiap.

“Dia juga suka berkelahi dengan orang lain.”

Aku terdiam. Rupanya Eri sudah mengetahui tentang Sho di luar perihal sekolah.

“Apa salahnya pacaran dengan anak geng motor? Malah jadi keren!”

“Eri?!”

Eri cekikikan. “Kalau aku jadi kau, jika dari kemarin malam sudah kutemukan jawabannya, aku tidak akan ragu lagi dengan mengungkit kembali pertimbangan-pertimbangan yang tidak jelas itu. Sekarang kutanya, kau suka Hirano atau tidak?”

“…suka…” jawabku pelan.

“Jadi tunggu apalagi? Mau menunggu sampai ada perempuan lain yang disukai olehnya?”

Aku menghela napas. “Sejak tadi aku memikirkan itu. Tapi rasanya aku egois karena tidak ingin Hirano menyukai perempuan lain.”

Eri kembali menatapku lekat. “Sejak kapan kau posesif seperti itu padanya?”

“…entahlah. Sejak dia bilang suka, aku pun langsung menyukainya. Apakah tidak apa-apa secepat itu?”

“Tidak ada waktu yang terlalu cepat untuk suatu hal yang sudah tepat.” Eri mengulang statement-nya.

Aku diam. Yang terdengar hanya desahan napasku yang tertekan. Haruskah kujawab sekarang?

Eri memiringkan kepalanya menatapku, seolah dia tahu apa yang baru saja aku pikirkan. Bersamaan dengan itu, dering suara bel menggema di sekeliling kami. Jam istirahat sudah habis. Sekarang saatnya kembali ke kelas. Aku dan Eri berjalan di antara murid-murid yang juga ingin kembali ke kelas masing-masing.

“Katakan padanya sebelum pulang.” bisik Eri ketika kami sampai di depan kelas. Dia masuk lebih dulu, sementara aku berdiri terdiam di depan pintu.

Tepat di depanku, kulihat Sho sedang membaca buku di bangkunya. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku.

“Hirano, kau sedang baca buku apa?” tanyaku sembari duduk di bangku.

Sho berdiri tanpa menjawab pertanyaanku. Dia berjalan ke depan, ke bangku seorang murid laki-laki bernama Ishida dan berbicara tentang sesuatu. Entah apa. Aku melihat Ishida memberikan pulpen pada Sho. Sho kelihatannya berterimakasih lalu duduk kembali ke bangkunya. Dua menit dia di sana, tapi tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

Ada apa?

“Hirano, bisa ki-,”

Ddrrrtttt…

Kalimatku disela oleh suara dering ponselnya. Dia langsung mengangkatnya tanpa mempedulikanku. Aku menatap lurus ke depan sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang di seberang sana. Siapa dia, aku juga tidak ingin tahu.

Guru pelajaran jam ketiga masuk. Pelajaran kimia, dan aku sama sekali tidak tertarik. Tadinya aku ingin tidur, tapi pikiranku yang kalut dipenuhi dengan pertanyaan tentang kenapa sikap Sho tiba-tiba aneh padaku. Dengan memikirkannya, aku jadi semakin malu bertemu Sho. Dan dalam pikiranku yang licik, aku merasa Sho baru saja mempermainkan perasaanku. Apa yang dia katakan kemarin malam itu hanya gombalan. Dasar laki-laki brengsek!

Sampai jam pulang sekolah Sho tidak pernah mengajakku bicara.

***

“Kie, roti itu tempatnya bukan di situ,” Ami-san menegurku, lalu menunjuk ke sebuah etalase lain. “Letakkan di sana.”

Aku menuruti perintah setelah sebelumnya meminta maaf atas kekeliruanku.

“Ada apa?” dia bertanya.

Aku menggeleng. Tidak mungkin aku jujur padanya bahwa saat ini perasaanku sedang kalut karena baru saja dipermainkan oleh anak laki-laki tampan berlabel Hirano Sho. Kalau Ami tahu, mungkin dia akan menertawaiku, menertawai kepolosanku yang mudah saja termakan gombalan murahan anak itu.

“Masalah cinta?” tanya Ami.

Aku terkesiap. Kurasa dia hanya sembarang menebak.

“…bukan, kok.” Kataku pelan.

“Aku pernah berada di usia yang sama sepertimu,” Ami menghampiriku. “Semua bisa terbaca dari wajahmu.”

Seketika itu aku memalingkan wajah agar dia tidak melihatnya.

Ami tertawa pelan. “Jadi benar, kan?”

Aku merasa terjebak.

“Aku tidak ingin memikirkannya,” kataku pada akhirnya. “Aku tahu sekarang kalau dia hanya ingin main-main. Aku tidak ada waktu meladeninya.”

Ami terdiam, lalu kurasakan tangannya menepuk bahuku. “Jangan terlalu dipikirkan. Laki-laki memang suka bermain-main.”

Ya, kurasa itu benar. Sho hanya bermain-main. Dia telah mempermainkan perasaanku. Tapi setidaknya aku harus bersyukur karena belum sempat memberikan jawabanku padanya. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin ini alasan kenapa aku sudah ragu sejak tadi pagi. Terimakasih, Tuhan!

“Tapi kalau mereka serius,” Ami menambahkan seketika hingga membuatku kaget. “Dia akan melakukan apapun untuk membuat perempuannya bahagia.”

Aku melihat Ami tersenyum bahagia saat mengatakannya. Aku ingin bertanya apakah dia mengalami hal seperti itu, tapi kuhentikan perasaan ingin tahuku. Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman. Lagipula sejak kapan aku ingin tahu urusan orang lain?

Jam menunjuk pukul 10 malam ketika aku selesai beres-beres di toko. Aku dan Ami keluar toko setelah mematikan semua sambungan listrik. Saat Ami mengunci rolling door, seorang pria menaiki motor besar menghampiri kami. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi, sepertinya Ami kenal karena dia langsung tersenyum.

“Aku duluan ya, Kie.” Ucap Ami sambil duduk di atas motor.

Aku mengangguk. Pikiranku dengan bebas membuat kesimpulan sendiri bahwa yang menjemput Ami tadi adalah pacarnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup helm.

Kemudian, aku menggeleng cepat ketika di kepalaku muncul bayangan Sho dengan motornya. Aku meringis. Kenapa malah memikirkan playboy itu? Aku sudah harus melupakannya. Toh dia sudah tidak mau bicara denganku lagi.

Malam semakin larut. Udara penghujung musim semi tidak terlalu dingin, tapi aku tetap mengenakan jaket karena tidak terlalu kuat dengan suhu dingin. Karena tidak punya rencana lagi dan capek hari ini, aku memutuskan untuk pulang. Ayah pasti sudah ada di rumah saat ini.

Kunyalakan playlist di ponsel untuk menemaniku berjalan. Earphone­-nya terpasang di telinga. Pemutar lagunya sudah kuatur untuk memutarkan lagu Aimer saja. Akhir-akhir ini aku suka mendengarkan lagunya. Semua berawal karena aku menonton drama Ubai, Ai Fuyu musim dingin tahun lalu dimana Aimer menyanyikan lagu pembukanya.

Playlist sedang memutar lagu ‘kataomoi’. Aku suka lagunya. Liriknya pun dalam. Tapi bukan berarti saat ini aku sedang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Apa? Kataomoi pada Sho? Tidak mungkin!

Even if you ended up

Forgetting about me

It’s a bit hurt, but…

I don’t mind at all

But i’ll never let you

To take on a distant journey

Ahead of me…

Aku ikut menyanyikan lagu itu. Lalu, tiba-tiba aku terkejut karena sebuah motor besar tiba-tiba menghadangku. Napasku tertahan. Aku menerka-nerka tentang siapa pengendara motor yang sedang menghadangku ini. Bisa jadi dia orang jahat!

Napasku masih kutahan ketika orang itu melepaskan helmnya.

“Hirano?!” aku terkejut sekaligus tidak menyangka Sho akan menghadangku di jalan selarut ini setelah apa yang dia lakukan padaku tadi di sekolah.

“Kuantar kau pulang.” Katanya to the point.

Aku, yang sedang kesal padanya, tentu saja menolak.

“Aku tidak mau!” sahutku sambil berjalan melewati motornya. Kudengar langkah kaki menyusulku.

“Tapi ini sudah malam.” Katanya sambil berusaha mencegahku.

Aku berhenti dan menatapnya. “Apa di wajahku ada tulisan ‘hanya boleh diajak bicara di waktu malam’?”

Dia balas menatapku beberapa detik sebelum tertawa. “Jadi kau marah?”

Aku tidak menyahut.

“Ikutlah denganku.”

Maaf ya, aku sudah tidak mau melihatmu!

Alih-alih mengatakan apa yang ingin kukatakan, aku kembali melangkah. Sho berhasil lagi mencegahku.

“Apa kau tidak ingat preman yang menakutimu waktu itu?”

Aku sudah melupakan kejadian itu jika dia tidak mengungkitnya. Sekarang mengingatnya membuatku takut lagi. Kupandangi keadaan di sekitar kami. Benar-benar sudah sunyi. Tidak ada siapapun. Aku bahkan bisa mendengar suara napasku sendiri.

Melihatku bergeming, Sho mendekati motornya dan menyalakan mesin. Setelah itu dia menghampiriku lagi. Dengan senyum penuh percaya diri dia berkata, “Aku tahu kau pasti akan naik motorku.”

Aku tidak bilang mau!

Tapi, kalau membayangkan hal yang tidak-tidak, daripada aku dalam bahaya, sepertinya lebih baik aku ikut dia. Setidaknya aku tidak jalan sendirian yang bisa mengundang orang jahat.

Sho terus memandangku, seakan menunggu agar aku menuruti perintahnya. Aku sudah bilang kalau dia tukang paksa yang menjengkelkan!

Setelah penuh ba-bi-bu, aku pun menaiki motor besar itu. Aku terkesiap saat Sho tiba-tiba saja menarik tanganku ke depan hingga aku nyaris memeluknya. Cepat-cepat kulepaskan tanganku.

“Pegangan biar tidak jatuh.” Katanya.

Aku terdiam. Sho mulai memacu motornya tanpa bicara lagi. Sepanjang jalan kami berdua terus terdiam. Sho yang biasanya banyak bicara padaku kini berbeda. Yang bisa kudengar hanya suara motor yang berpacu dengan angin di jalan raya Matsumoto yang sepi.

Akhirnya kami sampai di tikungan depan tanjakan menuju rumah. Ini kedua kalinya Sho mengantarku, tapi tidak pernah sampai depan rumah. Setelah turun dari motor, tanpa mengucapkan apapun padanya, aku segera berjalan menaiki tanjakan. Sho pun sepertinya tidak berniat apapun kecuali mengantarku pulang. Kudengar dia menyalakan lagi mesin motornya. Dia pasti mau pulang.

“Kita lihat siapa yang lebih dulu sampai rumah.” Katanya sambil tancap gas melewatiku.

Hah?!

Aku yang terkejut segera berlari untuk cepat sampai ke rumah. Sebelumnya aku tidak pernah memberitahu rumahku pada Sho. Tapi saat ini, secara mengejutkan dia sudah berdiri di depan rumahku. Motornya sudah diparkir di samping pagar.

“Aku yang menang!” ucapnya bangga seolah-olah kami baru saja berkompetisi.

Kekesalanku padanya semakin bertambah. “Darimana kau tahu rumahku?!”

“Itu tidak penting,” jawabnya sambil tersenyum penuh arti. “Aku memang seharusnya tahu rumahmu agar kau bisa kuantar-jemput.”

Aku tidak peduli apa yang diucapkannya. Aku hanya takut ayah mendengarkan kami berbicara di luar. Dia bisa marah.

“Aku mohon tinggalkan aku sekarang juga!” kataku.

“Aku ingin bertemu Ayahmu dulu.”

“Jangan! Tidak boleh!” seruku sambil tetap berusaha agar suaraku tidak terdengar berisik. Kubuka pagar dengan cepat dan segera menutupnya. “Kau bisa pulang sekarang.”

“Aku tidak akan pulang sebelum bertemu Ayahmu.”

“Ayah tidak mau bertemu denganmu!”

“Tapi ada yang ingin kukatakan padanya.”

“Katakan saja padaku. Biar nanti kusampaikan!”

“Benar tidak apa-apa?” tanyanya.

“Iya!” jawabku. Aku hanya ingin semua berlalu dengan cepat dan dia segera pulang.

“Katakan pada Ayahmu, bahwa aku minta maaf karena sudah menyueki anaknya seharian ini.” ujar Sho. Aku terdiam. “Aku melakukannya bukan karena aku benci, tapi karena aku merasa malu sudah mengakui perasaanku padanya. Katakan pada Ayahmu, aku merasa kurang pantas sudah menyukai anak perempuannya. Bagiku dia sempurna. Berbeda sekali denganku yang tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Katakan pada Ayahmu, tadinya sudah kucoba untuk menyerah saja, tapi saat melihatnya sendirian, aku merasa tidak tahan untuk menemaninya. Aku tidak ingin melihatnya seorang diri. Aku selalu berpikir untuk bersamanya. Karena itu, malam ini aku ingin katakan bahwa aku ingin menemaninya lagi. Aku tidak akan menyerah kali ini.”

Sho tersenyum saat melihatku masih terdiam. Aku sedang berusaha mencerna kata-katanya.

“Tolong katakan pada Ayahmu, ya.” katanya lagi sambil berjalan mundur menjauhi pagar. Dia baru saja membalikkan badan ketika tiba-tiba melihatku lagi. “Katakan juga pada Ayahmu, aku masih menunggu jawaban anaknya. Dia bilang akan menjawabnya hari ini.”

Aku membuka pagar kemudian berjalan mendekati Sho yang berdiri diam di tempatnya.

“Anak Ayahku bilang, dia sudah akan menjawabnya jika saja kau tidak menyuekinya hari ini. Dia merasa kau hanya mempermainkannya. Hari ini dia sudah berniat untuk melupakan semuanya jika saja kau tidak mengantarnya pulang malam ini.”

Sho menatapku tanpa berkedip. Malam ini kurasakan tatapannya sangat berbeda. Aku pun menatap ke dalam matanya dan bisa melihat bayanganku sendiri ada di sana.

“Aku masih menunggu.” Ucapnya dengan wajah serius.

Aku menghela napas panjang. Perasaanku yang tadinya kesal dan ingin marah padanya mendadak berubah menjadi lebih tenang dan bahagia. Aku senang mendengar penjelasannya tadi. Jawaban yang sudah kubuang tiba-tiba muncul kembali di benakku, menunggu untuk kuserahkan padanya.

Kurasakan ada jeda penuh ketegangan diantara kami. Kutatap Sho untuk melihat sejauh mana dia berusaha untuk menanti jawabanku. Dan ketika kulihat dia begitu sungguh-sungguh, akupun akhirnya menjawap pelan, “Iya, aku mau.”

Sho tersenyum di tempatnya. Akupun begitu. Saat ini, ingin rasanya aku berlari ke sana dan memeluknya. Tapi tidak kulakukan. Malam ini biarkan hanya mata kami yang saling memandang satu sama lain. Kurasa itu sudah lebih dari cukup.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s