[Oneshot] Seishun Love

oneshot

Author : Mari-chan
Type : Oneshot
Genre : Romance
Casts : Chinen Yuri, Matsumoto Jun, Nakajima Yuto, Kawashima Umika, Megu (OC)

Disclaimer : I do not own the casts except the OC. The poster is made by myself. Semoga ceritanya dapat menghibur dan semoga semua suka xD

 

 Jatuh cinta adalah hal yang misterius dan mengasyikan. Kita tidak bisa memprediksi kapan datangnya cinta tersebut. Bisa saja di saat yang tepat, bisa juga disaat yang tidak tepat. Cinta datang tiba-tiba seperti cintaku yang datang muncul secara aneh melalui pertemuan pertama.

 

Pagi hari ini sangat cerah. Tidak disangka waktu berjalan begitu cepat. Kini aku sudah berumur 16 tahun. Hari ini adalah hari pertamaku di SMA.aku selalu bertekad untuk menikmati masa-masa SMA-ku ini. Seseorang berkata kepadaku bahwa masa SMA adalah masa paling indah. Masa-masa dimana kita akan menemukan jati diri kita, dan mungkin saja cinta sejati kita. Hmm mungkin aku terlalu banyak membaca manga? Tapi tidak apa, yang jelas aku akan berusaha menikmati masa-masa ini. Sekolah SMA-ku ini adalah incaranku dari dulu, aku belajar mati-matian supaya dapat masuk ke sekolah ini dan aku berhasil. Banyak yang berkata bahwa ini adalah sebuah keajaiban.

 

Aku berjalan menyusuri taman belakang sekolahku. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat ikatan rambutku terlepas ke tanah. Saat aku hendak mengambilnya, tanpa sengaja aku melihat seorang anak laki-laki dan anak perempuan sedang berduaan. Bukannya aku berniat menguping, tetapi aku dapat mendengar suara mereka. Sepertinya perempuan itu sedang memutuskan hubungan diantara mereka karena dia meminta maaf dan menunduk lalu pergi. Sementara laki-laki itu…… Ah! Dia melihatku. Aku harus cepat-cepat pergi. Tanpa banyak omong, aku lari pergi menjauh dari taman itu.

 

“Huft.. untung saja” pikirku sambil menghela napas.

 

“Umi-chan, ohayou!” sapa Megu, sahabatku dari SD.

 

“Megu ohayou! Tumben hari ini kau tidak terlambat hahaha” candaku.

 

“Yang ada aku yang harusnya bilang begitu.. Ngomong-ngomong kamu lari ke sekolah? Dan tumben sekali rambutmu terurai begitu” katanya.

 

“Ah! Iya…hehe tadi pagi aku baru saja keramas jadi kurasa akan kubiarkan rambutku bernapas sejenak. Aku lupa bawa ikat rambut.”

 

Sebenarnya bukannya aku lupa bawa…tetapi aku lupa mengambilnya karena panik tadi. Sepertinya aku harus membeli ikat rambut lagi. Aku berjalan bersama sahabatku menuju aula untuk melihat daftar kelas.

 

“Umi-chan! Kita berada di kelas yang sama” katanya heboh.

 

“Ah betul. Senangnya.. aku tidak mengenal siapa-siapa disini selain kamu. Bagaimana denganmu? Aku yakin kamu ada mengenal satu atau dua anak di kelas kita kan? Kamu kan anak dari SMP ini juga.”

 

“Hmm.. sejujurnya tidak terlalu. Teman-temanku kebanyakan di kelas lain. Tapi ada satu anak yang aku kenal, Nakajima Yuto. Dia adalah anak yang sangat baik dan pintar, kamu pasti suka dengannya hahaha” godanya.

 

Aku hanya tertawa malu mendengar ejekannya. Megu tau persis apa yang kuinginkan saat masuk SMA. Dia tau aku ingin memiliki masa-masa yang paling indah dan dia tau persis aku ingin sekali memiliki cowok idaman yang mungkin ga mungkin menjadi kekasih hatiku. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong koridor. Selagi kami berjalan, kami berpapasan dengan seseorang. Saat aku melewatinya, aku merasa aku mengenalnya. Aku berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Anak laki-laki itu terus berjalan tanpa menoleh sehingga aku hanya dapat melihat punggungnya. ‘Sepertinya aku pernah melihatnya’ gumamku dan kembali berjalan bersama Megu. Saat kami masuk ke dalam ruang kelas, seorang anak laki-laki menyadarinya dan raut wajahnya terkejut. Matanya terus mengarah ke Megu.

 

“Megu, kau mengenal anak itu?” tanyaku.

 

“Dia yang kubilang tadi,  Nakajima Yuto.”

 

Melihat mereka berdua terus bertukar kontak mata, aku merasa tidak perlu menganggunya.

 

“Ohayou! Sudah lama kita tidak bertemu” sapa anak itu.

 

“Yuto sudah bertambah tinggi ya” balas Megu sambil tersenyum.

 

“Anoo.. Megu aku pergi dulu ya, aku lupa mau ke toilet. Jya~” bisikku pelan. Aku pun meninggalkan mereka. Enaknya baru hari pertama sudah bertemu dengan anak laki-laki yang ia kenal, pikirku. Aku menghela napas dan bersandar ke tembok dekat tangga. Karna aku merasa langkah seseorang berjalan ke arah ini, aku membenarkan posisiku dan berniat untuk pergi.

 

Namun tiba-tiba seseorang meraih tanganku dan menarikku ke tangga. Aku terkejut dan hampir jatuh tetapi dia menangkapku. Sekarang kami berada di posisi yang sangat canggung. Wajah kami berada sangat dekat. Aku ingin pergi meninggalkannya tetapi dia menahan badanku. “Anoo.. bolehkah aku pergi?” tanyaku.

 

“Mengapa kau tidak menatapku saat berbicara?”

 

“Eh?” aku terkejut saat ia bertanya begitu. Aku dapat merasakan seluruh mukaku memerah dan mungkin hampir saja meledak. Siapa sebenarnya orang ini.. maunya apa.. aku ingin tahu semuanya. Akhirnya ia melepaskan tanganku dan mengambil langkah mundur.

 

“Maaf, kau ketakutan ya?” tanyanya prihatin.

 

Aku mengangguk dan tidak berani melihatnya. Mukaku masih sangat merah dan jantungku berdegup kencang. Apa yang terjadi sebenarnya… aku tidak dapat mengendalikan perasaanku saat ini. Sebaliknya dia malah tertawa dan tersenyum.

 

“Sepertinya kau orang yang menarik” gumamnya sambil mengelus kepalaku dan pergi.

 

Eh!? Apa yang telah terjadi? Siapa dia? Mengapa ia pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa? Aku terus bertanya-tanya dan tidak tau harus bagaimana. Lututku lemas dan aku terduduk di tangga. Kukira aku akan terus berada seperti itu di tangga, tetapi aku mendengar langkah seseorang kemari.

 

“Kawashima-san?” tanyanya.

 

“Nakajima-kun?”

 

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir.

 

“Aku baik-baik saja kok.. aku hanya sedikit capek haha” jawabku.

 

“Mau kuantar ke UKS?”

 

“Tidak usah, aku tidak apa-apa kok. Lebih baik kita ke kelas saja.”

 

Akhirnya Nakajima mengantarku ke kelas. Selama kami berjalan, aku melihat cowok tadi. Mata kami  bertemu namun aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Aku merasa sangat malu sekarang. Megu bertanya apa yang terjadi tetapi aku hanya dapat menggeleng dan tersenyum. Sekarang pikiranku semua dipenuhi oleh senyumannya. Aku tidak dapat menghilangkan senyuman itu dari kepalaku. Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya? Tidak, tidak mungkin.. aku tidak boleh terbohongi oleh perasaan ini.

 

***

 

“Umi-chan sepertinya sejak tadi kau terus melamun. Ada apa sebenarnya? Ceritakan saja kepadaku” tanya Megu.

 

Aku tidak pernah berbohong kepadanya dan dia selalu dapat menyadari jika aku berbohong atau ada masalah. Tetapi untuk kali ini, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana. Aku sendiri pusing memikirkan semuanya. Baru saja aku ingin bercerita kepadanya, tiba-tiba ada seorang anak dari kelas lain masuk dan menghampiri kami.

 

“Kau” kata anak itu sambil menunjukku.

 

“Ya?” tanyaku kebingungan.

 

“Ikut denganku, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu” jawabnya sambil berjalan keluar ruangan. Aku tidak mengerti apa yang terjadi tetapi aku tetap mengikutinya.

 

“Hmm memang kau sedikit lucu… Tapi aku tetap tidak mengerti apa yang ia lihat darimu tetapi dia ingin sekali berbicara denganmu” gumamnya sambil melihatku.

 

“Hmm di..a? dia itu siapa maksudmu?”

 

“Lihat saja nanti. Dia menunggumu di lapangan, lebih baik kau segera ke sana” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

 

Aku berjalan perlahan ke lapangan sambil memikirkan siapa kira-kira orang yang dimaksud. Siapa yang ingin bertemu denganku dan ingin berbicara denganku. Sesampainya di tengah  lapangan, tidak ada orang sama sekali. Aku duduk dan terus menunggu. Waktu istirahat sudah hampir habis tapi orang itu masih belum muncul. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan saat aku berbalik, betapa terkejutnya aku. Orang itu adalah cowok yang tadi menahanku di tangga. Aku terkejut dan berdiri.

 

“Kau…?” tanyaku pelan.

 

“Mengapa kau masih ada disini? Bukankah waktu istirahat sudah hampir habis?” tanyanya tanpa membalas pertanyaanku tadi.

 

Aku menggeleng dan menjawab, “Aku masih harus bertemu dengan seseorang, yang entah siapa. Tapi katanya ia ingin berbicara padaku, makanya aku masih disini”.

 

Dia tertawa dan menyentil jidatku. “Kau mudah sekali percaya dengan orang.”

 

Aku mengangguk dan wajahku tertunduk malu. Namun kemudian ia mengelus pipiku. Aku terkejut dan saat aku melihatnya, lagi-lagi ia sedang tersenyum. Kurasa wajahku akan kembali merah.

 

“Kau sangat menarik. Maukah kau menjadi pacarku?” tanyanya.

 

“Eh!? Apa??! Apa aku tidak salah dengar?!” jawabku panik.

 

Dia kembali tertawa dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Ini ikat rambutmu kan? Kau tadi terburu-buru sampai lupa mengambilnya.”

 

Aku hanya mengangguk dan berterimakasih. Kami berdua hanya diam dan dia terus melihat ke arahku. Aku tidak tahu harus membalas apa karena ini sangat mengejutkan. Siapa yang dapat menyangka bahwa aku akan mendapat pernyataan cinta di hari pertama sekolah? Bel istirahat telah berbunyi, waktunya untuk masuk ke kelas.

 

Aku pun membungkuk dan berkata, “Maaf, sepertinya ini semua terlalu cepat. Sampai nanti”. Akhirnya aku pergi meninggalkan dia. Raut wajahnya terlihat shock akibat balasanku tadi. ‘Apakah jawabanku tadi salah?’ pikirku.

 

 

Chinen’s POV

 

Aku tidak menyangka ia akan menolakku. Tidak mungkin, ini mustahil. Semua cewek yang kutembak pasti akan langsung menjawab iya tanpa pikir panjang. Tapi dia…..menjawab tidak dan sepertinya jawaban itu benar-benar ia pikirkan. Apa yang kurang dariku sehingga ia menolakku? Hmm.. tapi sepertinya cewek itu menarik, aku jadi penasaran dengannya. Bagaimana juga, aku akan mendapatkan hatinya. Cepat atau lambat, itu pasti.

 

***

 

Kringgg..

Bunyi bel yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya berdering, menandakan jam pelajaran terakhir sudah habis. Sekarang saatnya kami untuk pulang. Hari pertama sekolah sudah cukup melelahkan bagiku, ditambah lagi semua kejadian aneh yang terjadi hari ini. Aku benar-benar tidak mau mengingatnya. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali untuk melupakan semuanya dan kembali membereskan barang-barangku. Tanpa sengaja Nakajima yang duduk di belakangku tertawa.

 

“Maaf, maaf.. aku tertawa karna melihatmu menggelengkan kepala berkali-kali. Ada apa sebenarnya?” tanyanya masih sambil tertawa kecil.

 

“Ah tidak apa-apa kok. Aku hanya….merasa lelah hahah” jawabku.

 

“Umi-chan, ayo kita harus cepat pulang. Kita harus mampir ke toko untuk membeli volume terbaru manga kesukaan kita kan” kata Megu sambil menepuk pundakku.

 

“Ah iya maaf Megu, ayo kita berangkat” jawabku.

 

Aku, Megu, dan Nakajima pulang bersama. Kami mampir dulu di sebuah toko dekat rumahku. Hari ini volume terbaru manga kesukaanku dan Megu terbit, jadi kami memang sudah berencana untuk membelinya hari ini. Aku bahkan sampai menabung khusus untuk manga itu. Mumpung sedang berada di toko itu, aku memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat barang yang lain. Aku berjalan menyusuri rak buku-buku tulis yang sangat lucu.

 

‘Ah ini lucu sekaliii’ jeritku pelan sambil mengambil salah satu buku kecil.

 

“Hmm memang itu lucu” bisik seseorang dari belakangku.

 

Aku menoleh dan terkejut. “Kauuu!?”

 

“Sstt.. jangan berteriak,  tidak sopan tau. Satu hal lagi, aku punya nama jadi bisakah kau jangan memanggilku begitu?” jawabnya.

 

“Maaf… siapa namamu?”

 

Ia menggeleng dan menyentil jidatku lagi. Aku malu dan akhirnya memutuskan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. “Aku Kawashima Umika, dan kau?” kataku sambil menjulurkan tangan.

 

“Panggil saja aku Yuri” jawabnya singkat.

 

“Senang berkenalan denganmu, Yuri” kataku.

 

“Jadi bagaimana jawabanmu? Tadi kau hanya pergi tanpa memberiku jawaban apa-apa.”

 

Aku terkejut mendengar ia menanyakan hal tadi. Jadi aku memang tidak mimpi… Anak ini memang menembakku. Jantungku berdegup kencang setiap aku memikirkan hal itu.

 

“Yuri-kun….bagaimana kalau besok saja aku jawabnya?”

 

“Malam ini. Ini nomorku, simpan baik-baik” katanya sambil menaruh sepotong kertas kecil di tanganku. “Sampai nanti~” katanya lalu pergi.

 

Eh?! Apa ini benar-benar bukan mimpi? Apakah sebentar lagi aku akan punya pacar? Walaupun kami belum kenal sama sekali? Aku memasukkan kertas itu ke dalam saku dan memastikan kertas itu tidak akan terjatuh di jalan. Aku berjalan menuju kasir sambil memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan nanti.

 

“Kawashima-san? Tadi kau bertemu dengan temanmu?” tanya Nakajima.

 

“Oh..bukan siapa-siapa…kok” jawabku gemetar.

 

Hari ini dia aneh sekali.. apa memang dia orangnya begitu? pikir Nakajima.

 

“Megu, apa kau mengenal anak kelas lain yang namanya Yuri?” bisikku kepada Megu yang sedang membayar belanjaannya.

 

“Hm? Yuri? Tidak, memangnya kenapa?”

 

“Oh tidak apa-apa..” Aku terus memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan. Kalau dipikir-pikir, wajahnya ganteng juga ya.. apa aku terima saja? Eh tapi dia kan baru saja putus… Tapi aku tidak tau pasti sih dia tadi pagi itu putus dengan pacarnya atau bukan. Atau jangan-jangan dia menolak cewek itu saja. Hmm aku jadi bingung sendiri.

 

“Kawashima-san? Kau lagi-lagi bergumam sendiri. Ada apa sebenarnya?” tanya Nakajima sambil tertawa kecil.

 

Aku hanya menggeleng dan tersenyum.

 

“Jya~ Sampai jumpa, Nakajima, Megu. Nakajima, tolong jaga Megu ya. Rumahku di sini” kataku sambil melambaikan tangan. Mereka berdua melambai balik dan kembali berjalan.

 

‘Mereka sepertinya cocok hihi’, pikirku.

 

 

***

 

“Sepertinya ada yang berbeda darimu, Yuto” kata Megu.

 

“Maksudmu apa?” tanya Yuto.

 

“Sudah jujur saja, kau suka kan dengan Umika?”

 

Yuto tidak membalas apa-apa dan hanya diam.

 

“Tidak usah khawatir denganku. Aku sudah biasa dengan cinta bertepuk sebelah tangan ini hahaha”

 

“Megu..”

 

“Aku tau benar tentangmu, Yuto. Kita sudah berteman sejak kecil jadi jelas aku tau kau orang yang sangat peduli terhadap orang lain. Hanya satu yang aku tidak pernah tau tentangmu, perasaanmu yang sebenarnya.”

 

Megu berhenti di depan Yuto dan kembali mengajukan pertanyaan yang sama, “Jadi? Apakah kau suka dengan Umika? Atau kau suka denganku?”.

 

Lagi-lagi Yuto tidak menjawab. Melihat raut wajah Yuto yang sedang serius berpikir,  Megu tersenyum dan tiba-tiba dia mulai menangis. Air matanya tiba-tiba saja mengalir di wajahnya. Sadar akan hal tersebut, Megu membalikkan badan agar Yuto tidak melihatnya menangis. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil, jauh sebelum Megu mengenal Umika. Selain bersahabat, rumah mereka juga bersebelahan dan orang tua mereka sangat akrab. Sempat terdengar berita bahwa orang tua mereka berniat menjodohkan mereka.

 

“Yuto, aku hanya akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya. Jika kau tidak mau membalas, aku akan menganggap bahwa memang kau tidak ada perasaan apa-apa denganku. Kau tidak perlu memikirkan tentang perjodohan yang orang tua kita pikirkan, jawab aku dengan jujur. Apakah kau suka dengan Umika?” tanya Megu untuk terakhir kalinya.

 

Air mata Megu kembali mengalir deras membanjiri wajahnya. Yuto tidak bisa tinggal diam dan memeluknya sambil meminta maaf.

 

“Maaf, aku tidak tau apa yang sebenarnya kurasakan. Aku berjanji kalau aku sudah tau semuanya, aku akan menjawabmu lagi dengan benar” kata Yuto sambil masih memeluknya.

 

Megu hanya tersenyum dan melepaskan pelukan Yuto. “Sampai jumpa besok” katanya dan masuk ke rumah.

 

Sesampainya di rumah, Megu langsung berlari ke kamar. Air matanya masih mengalir. Ia menutup pintu kamarnya dan meraih bingkai foto yang berada di meja kecilnya. Ia terus menatap foto tersebut sambil menangis. Di foto itu terlihat dua anak berseragam SMP yang sedang tersenyum mengenakan seragam yang sama. Foto itu adalah foto Megu dan Yuto di hari pertama masuk SMP. Di hari itu juga Megu sadar akan perasaannya terhadap Yuto. Bunyi hp Megu memecahkan konsentrasinya saat menatapi foto itu.

 

Nakajima Yuto, nama yang tertera di layar hpnya.

 

“Mau apalagi dia” pikir Megu sambil membiarkan telfon dari sahabat kecilnya itu.

 

Walaupun telponnya terus diabaikan, Yuto tidak menyerah. Ia terus menelpon Megu, walaupun lagi-lagi telponnya diabaikan. Setelah beberapa saat, hpnya tidak lagi berbunyi. Namun ketika Megu hendak pergi ke kamar mandi, hpnya kembali berbunyi. Kali ini bukan dari Yuto tetapi dari Umika.

 

“Halo” kata Umika di sebrang telpon.

 

“Ada apa Umi-chan?” tanya Megu dengan suara bindengnya akibat terus menangis.

 

“Aku yang harusnya bertanya, ada apa Megu? Yuto menelponku mengatakan bahwa kau tidak membalas telponnya” katanya lagi.

 

Megu terdiam.

 

“Halo?? Megu??” tanya Umika panik.

 

“Jadi kalian sudah bertukar nomor telpon?” tanya Megu.

 

“Hm iyaa, saat dia mengantarku ke kelas tadi. Dia meminta nomor telponku” jawab Umika santai.

 

“Oh ahaha yasudah aku tidak apa-apa kok. Aku mau mandi sekarang, nanti kita sambung lagi ya” kata Megu menutup pembicaraan.

 

Megu menutup telponnya dan tersenyum sambil bergumam. Yuto, kau tidak perlu menyembunyikannya lagi.

 

 

***

 

Ada apa dengan Megu ya… gumamku sambil menutup telpon. Sudahlah aku tidak perlu ikut campur dengan urusannya dengan Yuto. Aku lebih baik menjauh, mereka berdua kelihatannya sangat akrab dan cocok. Aku harus mendukung hubungan mereka berdua. Aku terus tersenyum melihat foto yang dikirimkan Yuto. Foto mereka berdua saat SMP. Rambut Megu masih panjang saat itu dan ia terlihat sangat cantik, cocok dengan Yuto yang tinggi dan tampan. Mereka berdua terlihat seperti pasangan pintar. Keduanya terlihat pintar dan memang mereka pintar.

 

Saat melihat wajah Yuto, tiba-tiba aku teringat cowok tadi. Aku menggelengkan kepalaku agar wajah cowok itu hilang dari pikiranku. Tetapi sebanyak apapun aku melakukan itu, wajahnya tetap melekat di benakku. Aku yang sedang terduduk di meja belajarku meraih sepotong kertas yang kuletakkan di laci meja. ‘Apakah lebih baik jika aku menelponnya?’ tanyaku pada diri sendiri. Aku terus membayangkan apakah ia menantikan telpon dariku atau tidak.. Kalau iya berarti kasihan sekali dia. Dia tidak bisa menelponku tetapi aku tidak berusaha menghubunginya.

 

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menelpon. Aku menarik napas dan memasukkan nomor yang tertera di kertas itu dan menelponnya. Jantungku berdebar-debar mendengar bunyi telpon yang sedang tersambung. Tiba-tiba muncul suara seseorang dari seberang sana.

 

“Halo?” tanya orang tersebut.

 

Eh?! Kok suaranya perempuan.. Karena panik, aku buru-buru menutup telpon itu. Namun karena penasaran akhirnya aku menelpon kembali nomor tersebut. Aku mengecek nomor demi nomor yang kumasukkan agar tidak salah sambung. Telpon itu tersambung dan lagi-lagi disambut suara manis seorang perempuan. Aku menjadi tambah bingung. Sebelum ia hampir menutup telponnya, aku memberanikan diri bertanya.

 

“Apakah benar ini nomor Yuu…” tanyaku pelan. Seketika aku tidak dapat mengingat nama anak itu. Selagi aku mencoba mengingat namanya, perempuan itu tertawa kecil.

 

“Maaf, apakah maksudmu Yuri? Chinen Yuri?” katanya balik bertanya.

 

“Ah iya! Aku kurang yakin namanya Chinen atau bukan karena dia hanya berkata kepadaku untuk memanggilnya Yuri” jawabku malu.

 

“Ah sou.. Apakah kau gadis yang menelpon ke rumah semalam?”

 

“Hm? Bukan.. aku baru saja mendapatkan nomor telponnya..”

 

Aku kurang mengerti apa yang dikatakannya tetapi karena aku ingin berbicara dengan cowok itu, kurasa aku memang harus terus menjawab pertanyaan perempuan ini.

 

“Hahaha kalau begitu kau salah. Ini nomorku, Chinen Saya, kakak perempuannya. Yoroshiku ne~ siapa pun namamu, sepertinya kau gadis yang manis dan baik. Tolong jaga adikku yang playful ini ya” katanya sambil tertawa.

 

“Ah! Yoroshiku Chinen-san.. Aku Kawashima Umika, teman…nya adikmu. Ngomong-ngomong apa aku boleh meminta nomor telponnya yang sebenarnya?”

 

Lagi-lagi ia tertawa. Tetapi akhirnya ia memberikan nomor telpon cowok itu yang sebenarnya. Kami sama-sama menutup telpon dan aku menghela napas. Aku merasa lega sekali entah kenapa. Sekarang lagi-lagi aku menatap nomor telpon cowok itu yang sebenarnya. Aku meraih kembali hpku dan akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya.

 

 

Selamat malam, ini aku gadis yang tadi bertemu denganmu di toko buku. Tadi aku menelpon nomor yang kau berikan tetapi ternyata itu nomor kakakmu… Kalau boleh tau kenapa kau memberiku nomor yang salah?

 

Message Sent

 

 

Hatiku kembali dag dig dug setelah aku menekan tombol kirim. Pesan yang kukirim sudah sampai kepadanya. Tetapi sudah 10 menit masih belum ada balasan darinya. Aku berbaring sambil terus membayangkan kira-kira apa balasannya. Aku memejamkan mataku untuk sementara. Tidak lama kemudian hpku berbunyi. Aku buru-buru meraihnya dan kembali duduk di meja belajarku.

 

“Halo?” sapaku sedikit gemetar.

 

“Maaf kau pasti menunggu lama” jawabnya.

 

“Menunggu lama?”

 

“Iya, balasan dari pesan yg kau kirim. Aku tadi sedang berbicara dengan kakakku jadi aku baru bisa menelpon sekarang.”

 

Aku hanya terdiam dan mengangguk. Karena sadar ia tidak bisa melihatku mengangguk, aku akhirnya berteriak “Iya!”. Aku dapat mendengar ia tertawa kecil di seberang sana.

 

“Sepertinya kakakku tertarik denganmu” katanya lagi.

 

“Eh?”

 

“Iya, selama ini dia tidak pernah sepenasaran ini jika ada perempuan yang menelponnya untuk menanyakanku.”

 

“Ah… hahaha jadi kau banyak memeberikan nomor itu ke perempuan lain haha..” kataku sedikit kecewa.

 

Entah apa yang aku pikirkan.. Untuk sesaat kukira aku adalah orang yang spesial karna dapat menerima nomornya.. Tetapi sepertinya aku salah. Aku hanyalah satu diantara sekian banyaknya gadis yang ia dekati. Kekecewaanku bertambah ketika ia tidak membalas apa-apa.

 

“Hm? Apakah kau baru saja mengeluh? Aku dapat mendengarmu menghela napas panjang hahaha”

 

“Ah tidak.. tidak sama sekali kok haha” jawabku sambil memaksakan diriku tertawa.

 

“Iya. Memang aku banyak memberikan nomor itu ke gadis-gadis yang meminta nomorku. Tetapi sebagian besar tidak berhasil mendapatkan nomorku yang sebenarnya. Kau harus bangga karna berhasil mendapatkannya dari kakakku.”

 

“Hmm…begitu” kataku singkat.

 

“Jadi? Kau sudah mendapatkan jawabannya?”

 

“Jawaban?”

 

“Iya. Kan aku sudah bilang kau harus memberikan jawaban malam ini.. Terlebih lagi kau sudah menelponku bahkan mengirim pesan begitu. Berarti kau sudah punya jawabannya kan?”

 

“Ah…iya benar”

 

“Jadi..?”

 

“Tapi sebelum aku menjawab, kau harus menjawab pertanyaanku juga.”

 

“Pertanyaan apa memang?”

 

“Siapa gadis yang kau temui tadi pagi? Aku hanya sedikit penasaran..”

 

“Hmm… Baiklah kalau kau memang ingin tau. Dia adalah mantan pacarku. Tadi pagi seperti yang kau lihat, ia menemuiku untuk memutuskan hubungan kami. Sekarang kami sudah tidak ada urusan satu sama lain dan ia juga sudah bahagia dengan orang lain mungkin hahah”

 

Aku terdiam saat mendengar jawabannya. Jadi memang benar gadis itu memutuskan hubungan dengannya. Entah kenapa aku merasa ia tidak sakit hati sama sekali. Itu yang membuatku kaget dan bingung. Sehingga aku akhirnya memutuskan untuk memberikan jawabanku kepadanya saat itu juga.

 

“Jawabanku adalah…” kata-kataku terhenti ketika mendengarnya kembali mengatakan sesuatu.

 

“Kurasa semua perempuan sama saja. Mereka datang seolah-olah akan singgah selamanya tetapi pada akhirnya mereka akan pergi juga. Tapi aku merasa kau berbeda. Kau seperti gadis yang baik, berbeda dari yang lain” katanya.

 

Mendengar kata-katanya hatiku jadi tersentuh. Apa yang baru saja ia katakan membuatku ragu dengan jawabanku. Aku jadi merasa serba salah dengan apa yang akan aku katakan.

 

“Jadi? Apa jawabanmu tadi?” tanyanya dengan nada ceria.

 

“Memang sepertinya aku tidak dapat menerimamu…”

 

“Sudah kuduga jika aku menjelaskan semuanya pasti kau akan berkata begitu..” balasnya kecewa.

 

“Tetapi…”

 

“Tetapi?”

 

“Tetapi aku akan berusaha membuatmu menjadi pacarku yang sebenarnya” kataku lagi.

 

“Hm? Maksudmu?”

 

“Aku tidak dapat menerimamu menjadi pacarku karena kau baru saja putus dan aku merasa aneh jika kau tiba-tiba ingin aku jadi pacarmu. Tetapi…aku akan menerima jika kau memintaku menjadi pacar sementaramu, anggap saja ini trial.”

 

“Haah? Hahahaha apa kau sedang mabuk? Jadi kau ingin aku menjadikanmu pacar sementaraku?”

 

“I…ya! Sementara kita menjalankan trial ini, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikanmu pacarku yang sebenarnya. Kedengarannya seru bukan?”

 

“Kau tidak sedang bercanda kan..?” tanyanya ragu.

 

“Tidakk, aku 100% serius kok” jawabku meyakinkan.

 

“Hmm? Baiklah kalau begitu.. Tetapi mengapa?”

 

“Aku akan membiarkanmu menemukan jawabannya sendiri seiring berjalannya trial ini.”

 

“Hahaha kau memang aneh tetapi aku jadi penasaran dan tambah tertarik.”

 

“Baiklah kalau begitu.. Yoroshiku ne Yuuri-kun” kataku sebelum menutup telepon.

 

Kini aku sudah menutup telpon tersebut. Jantungku berdebar begitu kencang hingga rasanya mau copot. Apa yang telah kukatakan barusan.. bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang kukatakan kepadanya. Rasanya besok aku tidak berani datang ke sekolah karna ini. ‘Aaaa! Aku malu sekali’ jeritku malu sambil melemparkan tubuhku ke kasur. Aku dapat merasakan pipiku berubah menjadi merah setiap kali aku sadar dengan apa yang kukatakan.

 

 

Chinen’s POV

 

Aku terkejut ketika kakakku mengangkat telpon dari seorang gadis yang mencariku. Biasanya kalau dia mengangkat telpon dan ternyata itu adalah gadis yang mencariku, pasti langsung ia matikan atau ia berpura-pura menjadi pacarku atau apa lah. Tapi malam ini berbeda. Bahkan ia tidak segan-segan memberikan nomor telponku yang asli. Setelah ia memberikan nomorku ke gadis itu, ia langsung bertanya-tanya tentang gadis itu. Ia kelihatan sangat penasaran dengan gadis itu.

 

“Yuriii, siapa gadis yang menelponmu tadi? Bukankah kau baru saja putus dari gadis itu?” tanyanya penasaran.

 

“Bukan siapa-siapa. Aku hanya bertemu dengannya di jalan” jawabku singkat tidak tertarik.

 

“Hmm? Memang sih kau itu idola semua gadis sehingga tidak heran jika kau tebar pesona ke mereka. Tetapi satu hal yang menarik perhatianku.”

 

“Apa?” tanyaku cuek.

 

“Mengapa kau memberikan nomorku? Biasanya kalo hanya gadis biasa pasti kau akan memberikan nomor rumah atau nomor asal saja kan? Aku tidak pernah salah soal ini karena aku tidak banyak menerima telpon dari teman gadismu. Hanya Mirai-chan dan…gadis itu barusan.”

 

Aku terdiam saat ia menyebut nama Mirai. Shida Mirai, ia adalah mantan pacarku yang baru saja memutuskan hubungannya denganku. Memang benar aku tidak pernah memberikan nomor telpon kakakku secara khusus. Walau kakakku yang selalu menjawab telpon dari gadis-gadis yang tidak ku kenal, tetapi telpon itu semua berasal dari telpon rumah dan bukan telpon kakakku. Aku tidak sempat menjawab dan mencoba melarikan diri saat aku sadar ada pesan dari gadis itu.

 

“Aku ke kamar dulu” jawabku pendek sambil berjalan menuju kamar.

 

“Yuri.. Jangan lupa ceritakan lebih kepadaku ya” katanya sambil tersenyum.

 

Aku masuk ke kamar dan menelpon gadis itu. Aku begitu terkejut saat mendengar jawaban darinya. Trial? Pacar pura-pura? Percobaan? Hahaha gadis itu sangat aneh. Aku tidak mengerti apa tujuan ia mengatakan semua itu. Tetapi walau tau ini kedengaran bodoh, aku tetap ikut dalam permainannya. Aku berbaring dan tersenyum menatap langit-langit kamarku. Tanpa disadari kakakku sudah berada di kamarku.

 

“Sejak kapan kau disana Saya-nee” tanyaku terkejut.

 

“Hmm.. Sudah cukup lama melihatmu tersenyum begitu” jawabnya sambil tersenyum. “Sepertinya ada sesuatu yang baik baru terjadi? Coba ceritakan padaku, jangan diam diam saja.”

 

“Tidak ada.”

 

“Bohong.”

 

“Benar.”

 

“Baiklah aku menyerah.. Aku tidak mengerti dengan perasaanmu tetapi kuharap kau bisa lebih menjaga gadis itu ya. Sepertinya dia akan menjadi orang yang penting bagimu, jangan sampai kau menyesal seperti dengan Mirai-chan.”

 

“Sudah sudah aku mau tidur. Lagi pula aku tidak mengerti apa maksudmu.”

 

“Nanti juga kau mengerti” katanya meledek.

 

Entah apa maksud Saya-nee.. Lagipula gadis itu hanya sembarang gadis yang akan mengisi kebosananku.

 

***

 

Sudah lebih dari seminggu aku dan Yuri menjalani trial ini. Semua berjalan mulus atau bisa dibilang tidak banyak yang berubah? Aku tidak banyak bertemu dengannya karena kami tidak sekelas. Dia aktif dengan aktivitas klubnya yaitu sepak bola. Sedangkan aku sibuk dengan kegiatanku sehari-hari. Bisa dibilang kalau tidak ada progress apa-apa diantara kami. Aku merasa semua rasa deg-degan yang selama ini kurasakan sia-sia. Kukira setelah aku berkata seperti itu di telpon, ia akan berperilaku manis dan sebagainya. Ternyata aku salah.

 

“Hufft” aku menghela napas panjang selagi menyapu kelas.

 

“Ada apa Kawashima-san?” tanya Yuto yang sedang merapikan meja-meja.

 

“Ah tidak apa-apa..” jawabku panik.

 

Oh iya aku baru sadar sepertinya ada yang aneh antara Megu dan Nakajima. Mereka seperti jaga jarak.. Atau lebih tepatnya Megu yang menjaga jarak. Nakajima tidak dapat berbuat apa-apa jadi ia hanya mengikuti apa yang Megu inginkan.. Kalau dugaanku benar, apakah aku perlu bertanya kepada Nakajima atau Megu? Aku jadi bingung..

 

“Em.. Nakajima-kun” kataku pelan.

 

“Ada apa?”

 

“Erm…” aku belum sempat bertanya dan aku merasakan ada sesuatu masuk ke mataku sehingga aku menjerit kesakitan karena perih. Aku terus mengusap mataku tapi tetap perih.

 

“Kau baik-baik saja Kawashima-san?”

 

“Aw.. Maaf tapi boleh tolong tiupkan mataku? Perih sekali.. aku sudah berusaha tapi tetap perih.”

 

“Baiklah, akan kubantu.”

 

Nakajima berjalan mendekat dan muka kami sangat dekat. Aku harap tidak ada anak yang lewat dan menyangka yang tidak-tidak. Baru saja aku berharap begitu tiba-tiba pintu kelas terbuka keras seperti sengaja dibanting. Kemudian seseorang berjalan mendekati kami tapi aku masih kurang jelas karna mataku hanya terbuka satu.

 

“Kemari kau” katanya marah dan menarik tanganku kemudian kami pergi meninggalkan Nakajima.

 

Aku masih mengusap mataku dan saat aku dapat melihat siapa orangnya, aku terkejut.

 

“Yuri-kun?”

 

“Apa kau ada masalah?” tanyanya masih marah.

 

Sekarang kami berdua berada di tangga tempat pertama kali kami bertemu. Ia melepaskan tanganku dan ia sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku mencoba melihat wajahnya tetapi tetap tidak bisa. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya ada apa sebenarnya.

 

“Bukankah kau bilang kita pacaran?” tanyanya.

 

“Eh?”

 

“Ohh jadi kau sudah lupa?!” nadanya emosi tetapi suaranya berbisik. Kemudian ia berkata lagi, “sudah lupakan” dan berjalan pergi.

 

“Aku tidak lupa.”

 

Ia memberhentikan langkahnya.

 

“Aku ingat semuanya, dan itu masih berlaku sampai sekarang. Sampai kau benar-benar bisa jatuh cinta padaku” kataku.

 

Ia tidak membalas apa-apa dan tetap berdiri membelakangiku. Aku tidak mengerti apa yang kupikirkan tapi aku berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang. “Apakah….kau cemburu tadi?” bisikku pelan.

 

Ia tertawa kecil dan balik badan dan melihat ke arahku. “Bodoh” katanya sambil tersenyum dan menjitak kepalaku. Kemudian ia berjalan menuruni tangga. Aku menarik tangannya dan memberhentikan langkahnya lagi.

 

“Bolehkah kita pulang bersama?” tanyaku gemetar.

 

Ia tidak langsung menjawab dan aku merasa sangat malu. Aku melepaskan tangannya dan berniat kembali ke kelas tetapi kemudian ia menjawab pertanyaanku.

 

“Boleh saja. Kutunggu kau di gerbang 5 menit lagi” kemudian ia pergi.

 

Mendengar jawabannya, aku tidak dapat mengontrol perasaan senangku. Aku terus tersenyum selama berjalan ke kelas. Apakah mungkin aku sudah jatuh cinta kepadanya? Aku tidak mengerti tapi ini bukan perasaan yang buruk jadi biar saja lah. Saat aku mau masuk ke kelas, Nakajima keluar kelas sambil membawa tasku.

 

“Ah! Maaf Nakajima-kun” kataku.

 

“Tidak apa” jawabnya sambil tersenyum. “Tadi…siapa?”

 

“Ah tidak tidak bukan siapa-siapa kok” jawabku panik.

 

Ia melihatku dan tersenyum kemudian ia mengajakku pulang bareng tapi karena aku sudah ada janji, aku menolaknya. Aku tidak ingin ia tau aku pulang bareng Yuri sehingga aku buru-buru pergi lebih dulu darinya. Aku belum siap memberi tau siapa-siapa tentang hubunganku dengan Yuri.. karena aku sangat malu untuk mengatakan bahwa ini semua ideku. Ide yang bodoh dan tiba-tiba saja muncul di benakku malam itu. Akhirnya aku pun pulang bersama Yuri untuk pertama kalinya.

 

“Umika..? Siapa laki-laki yang berdiri di sebelahnya?” gumam seseorang dari kejauhan.

 

Aku masih tidak menyangka bahwa aku dapat berjalan di sebelah Yuri. Semua ini masih terasa asing dan terlihat seperti mimpi. Memang aku orang yang mudah suka jika diperlakukan baik oleh orang lain. Tetapi kali ini berbeda, aku bahkan belum mengenalnya dengan baik.. Ditambah lagi sejauh ini dia hanya memperlakukanku biasa saja, tidak ada yang spesial sama sekali. Tetapi entah kenapa aku jatuh cinta kepadanya. Tapi ini masih terlalu cepat jika dikatakan jatuh cinta. Entah apa perasaan ini, yang jelas hati kecilku tidak ingin membiarkannya begitu saja. Aku merasa aku harus selalu berada di sisinya. Aku menengok ke arahnya, tersenyum dan kembali berjalan.

 

“Ada apa?” tanyanya yang kelihatannya sadar saat aku tersenyum ke arahnya.

 

“Hm? Tidak ada apa-apa” jawabku sambil tersenyum.

 

“Ngomong-ngomong apa kau tadi sadar? Saat kita menyebrang jalan sepertinya ada seseorang yang terus melihat ke arahmu.”

 

“Ohya? Hmm aku tidak merasakan hal itu.”

 

“Dasar cewek tidak peka” bisiknya.

 

“Apa? Aku tidak dapat mendengarmu.”

 

“Tidak, tidak lupakan saja. Ngomong-ngomong kita sudah sampai di rumahku” katanya sambil menunjuk ke arah rumahnya.

 

“Ah.. Yasudah kalau begitu sekarang aku pulang dulu” pamitku.

 

“Kau…”

 

“Ya?”

 

“Kau…mau mampir?” lanjutnya.

 

Saat ia bertanya seperti itu rasanya hati ini ingin segera meledak. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol detak jantungku yang begitu cepat. Saking groginya aku tidak bisa menjawab apa-apa.

 

“Tidak mau? Ya sudah” katanya kemudian masuk ke dalam.

 

Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Kemudian tanpa disadari aku berteriak, “Mauuu!” hingga akhirnya ia tertawa dan menyuruhku masuk. Aku sangat malu karena aku menjawab ajakannya dengan sangat bersemangat. Ditambah lagi ternyata kakaknya ada di rumah. Kami bertiga mengobrol sambil melihat album foto Yuri semasa kecilnya. Tidak lama kemudian Yuri masuk ke kamarnya untuk ganti baju.

 

“Umi-chan” kata Saya-nee.

 

“Iya?”

 

“Aku akan mengatakan ini dengan jujur. Yuri adalah tipe cowok popular yang banyak digemari perempuan dan tentunya ia sering sekali tebar pesona kesana kemari. Tetapi selama ini aku belum pernah melihat gadis yang ia bawa ke rumah. Makanya aku terkejut mendengar suaramu tadi. bukan hanya karna kau berteriak mau tetapi karena ini adalah hal langka bagiku. Melihat Yuri membawa gadis ke rumah. Aku tidak ingin memberimu harapan apa-apa, hanya menurutku kau orang yang cukup ia percaya.”

 

Mendengar hal tersebut aku terkejut tetapi aku cukup senang mendengarnya. Walaupun ia mengatakan bahwa aku hanyalah orang yang cukup ia percaya, aku sudah merasa sangat puas.

 

“Saya-nee…apakah Yuri memiliki masa lalu yang…buruk atau hal semacam itu..?” tanyaku memberanikan diri.

 

“Hahahaha kalau soal itu aku tidak dapat menjawab apa-apa. Tetapi kuharap kau tidak akan mengecewakannya ya. Dia orang yang cukup sensitif dan…cemburu loh hahaha.”

 

“Apa yang kalian bicarakan selama aku tidak ada?” kata Yuri yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia menatap sinis kakaknya. Melihat hal tersebut aku pun tertawa karena aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Mereka berdua sibuk berbicara hal yang aku tidak mengerti. Tidak lama kemudian hpku berbunyi. Ada pesan masuk, aku pun membukanya.

 

 

Umika! Kau tidak akan percaya dengan kabar yang akan kuberitahukan..

Senpaiii! Matsumoto-senpai sedang berada di sini!!

Tadi aku berpapasan dengannya di jalan dan ia menyapaku.

Kelihatannya dia masih ingat kalau aku adalah teman SD mu.. Apa ia memberitahumu?

Aku memberitahumu karna kurasa kau ingin sekali bertemu dengannya.

 

                                                                                                                                Megu

 

 

Aku tidak dapat mempercayai apa yang baru saja kubaca. Senpai sedang berada disini? Aku harus menemuinya sekarang. Jika bukan sekarang, aku tidak akan tau kapan lagi akan bertemu dengannya.

 

“Umi-chan? Ada apa? Mukamu tegang sekali.. Kau dapat sms dari siapa?” tanya Saya-nee.

 

“Ah..dari Megu.. Anoo.. sepertinya aku harus pulang sekarang. Tidak apa-apa kan?” kataku terbata-bata.

 

“Hm? Boleh saja.. Yuri apa kau keberatan?” tanya Saya-nee meledek.

 

“Pulang ya pulang saja. Ini juga kan bukan rumahnya” jawab Yuri ketus.

 

“Baiklah aku pamit dulu ya.”

 

“Iya hati-hati ya” kata Saya-nee sambil membukakan gerbang.

 

“Jangan sampai pingsan di tengah jalan ya” kata Yuri.

 

“Apa kau tidak mau mengantarnya?” bisik Saya-nee ke Yuri.

 

“Sudah biarkan saja” jawabnya pendek.

 

Aku bergegas kembali ke rumah dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Matsumoto-senpai berada di depan rumahku. Apa yang ia lakukan disana… apakah ia menungguku? Tetapi mengapa ia tidak menghubungiku? Apakah jangan-jangan ia sudah menghapus nomorku..

 

“Senpaii” kataku sambil berjalan ke arahnya.

 

“Hisashiburi Michan” sapanya sambil tersenyum.

 

Michan.. Iya, senpai selalu memanggilku dengan nama itu. Nama panggilan yang sangat kusukai karna itu berasal darinya.

 

“Senpaii! Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Mengunjungimu tentu saja.. ini masih rumahmu kan? Hahaha”

 

“Eeh.. maksudku mengapa senpai tidak menghubungiku kalau ingin kemari?”

 

“Aku hanya ingin memberikan surprise kepadamu. Aku ingin kau menjadi orang yang pertama tau kalau aku sedang disini. Tetapi aku sudah bertemu dengan temanmu Megu.”

 

“Ah iya.. kukira senpai sudah menghapus nomorku hahah”

 

“Tentu saja tidak.. Michan adalah orang yang penting bagiku, tidak mungkin aku dengan mudah menghapus nomormu. Lagipula tadi aku melihatmu sedang berjalan dengan seorang cowok. Aku tidak enak kalau menganggu.”

 

“EHHH!?” aku terkejut karena ternyata senpai melihatku. Jangan-jangan orang yang tadi Yuri bicarakan adalah…senpai.

 

“Hahaha kau tidak perlu kaget begitu. Kau kan manis, tidak heran jika ada cowok yang mengejarmu” pujinya sambil tersenyum.

 

“Hahaha.. Bukan begitu kok ceritanya..” jawabku tidak semangat.

 

“Eh?”

 

“Sudah, sudah cukup tentangku. Senpai sedang ada keperluan apa disini? Ngomong-ngomong ayo kita masuk ke dalam. Lebih enak jika kita berbicara di dalam.”

 

“Ada lah keperluan rahasia, kau juga nanti tau sendiri hahah ayo kita masuk, aku jg membawa oleh-oleh buatmu dan keluarga.”

 

“Ah senangnya! Senpai memang yang terbaik” kataku sambil merangkul tangannya masuk ke dalam.

 

“Michan jangan panggil aku senpai lagi dong” katanya sambil duduk di ruang tamu.

 

“Ehh mengapa!? Itu kan panggilanku untuk senpai. Kalau senpai memanggilku Michan, aku memanggilmu senpai. Lagi pula kita kan beda 2 tahun!”

 

“Hahahaha tapi aku ingin kau memberikan nama panggilan lain yang lebih spesial.”

 

“Hmm…Matsunii? Hahaha kedengarannya aneh! Jun-nii?”

 

“Huft ya sudahlah Matsunii saja. Dulu ada juniorku yang menyebalkan memanggilku Jun-nii padahal sudah kubilang aku tidak mau.”

 

“Wahh sasuga senpai pasti sangat terkenal di sekolah yang baru. Bagaimana keadaan disana senpai?”

 

“Biasa saja, masih sama-sama di Jepang jadi tidak jauh berbeda.”

 

Tidak terasa kami terus berbincang sampai akhirnya malam pun tiba dan senpai memutuskan untuk pulang. Sepulangnya senpai, aku segera mandi dan merapikan buku. Aku baru sadar kalau aku belum membalas sms Megu tadi siang. Akhirnya aku membuka hpku dan mendapati pesan baru yang begitu banyak. Kali ini bukan dari Megu tetapi dari Yuri. Kelihatannya ia khawatir karena aku pulang tiba-tiba dan aku tidak membalas pesannya sama sekali. Akhirnya aku menelponnya dan memberitahunya kalau aku baik-baik saja. Setelah itu ia tidak lama menutup telponnya.

 

Aku benar-benar masih tidak menyangka bahwa Jun senpai ada disini. Aku memberitahu Megu tentang kejadian hari ini dan dia tertawa mendengar ceritaku. Katanya aku kedengaran begitu senang. Ia bahkan bertanya apakah aku masih ada perasaan dengan senpai. Matsumoto Jun, iya memang benar ia adalah kakak kelasku. Tetapi selain itu ia juga mantan pacarku waktu SMP. Kami berpacaran kurang lebih hampir 1 tahun saat aku kelas 2 SMP. Saat itu aku lah yang pertama kali menyatakan perasaanku. Awalnya kukira perasaanku hanya main-main sampai akhirnya ia memutuskan hubungan kami.

 

Waktu itu ia adalah murid kelas 1 SMA dan ia bersekolah di SMA ini. Namun kemudian tidak lama setelah kami putus, ia harus pindah karena ikut kedua orangtuanya. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku memilih masuk ke SMA ini. Aku ingin merasakan masa-masa saat senpai berada disini. Pertemuan pertama kali dapat dikatakan biasa. Kami bertemu saat festival sekolah. Waktu itu senpai datang ke festival sekolahku bersama teman-temannya dan disitulah pertama kami bertemu. Ia tidak begitu menyadari keberadaanku sampai akhirnya saat aku pergi ke SMAnya. Awalnya aku hanya menemani Megu untuk melihat-lihat festival di SMA ini. Tetapi siapa sangka aku bertemu lagi dengan senpai. Disanalah semuanya berawal.

 

 

-Flashback-

 

“Umikaa aku lapar nih. Ayo kita beli takoyaki disana. Sepertinya ada kakak-kakak ganteng juga hihi” bisik Megu jahil.

 

Aku pun mengiyakan dan Megu menarikku ke dekat lapangan. ‘Takoyaki’ bisikku. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian waktu itu. Aku tidak sengaja menumpahkan takoyaki ke baju seseorang di festival sekolah kami. Kali ini aku tidak boleh menumpahkan takoyaki lagi.

 

“Selamat datang” sapa beberapa orang yang menjaga stand takoyaki ini.

 

“Eh? Kauu” kata seseorang diantaranya sambil menunjukku.

 

“Hai?” tanyaku binggung.

 

“Woah! Jun! Jun!” ia memanggil temannya dan tertawa terbahak-bahak.

 

“Apa?” tanya seseorang yang baru saja datang.

 

“Dia! Ini anak yang menumpahkan takoyaki dibajumu waktu itu kan?” katanya masih tertawa.

 

“EEEH!?” teriakku kaget. Aku berjalan mundur menjauhi orang itu.

 

“Ah!” kata orang yang bernama Jun itu.

 

Ia terus mendekat dan aku pun terus mundur sampai akhirnya aku tidak dapat mundur lagi. Jalan buntu. Aku ketakutan dan juga degdegan. Ia adalah cowok yang tinggi dan juga tampan. Aku merasa grogi semakin ia mendekat. Kemudian kata-katanya memecahkan ketakutan dan kecanggunganku.

 

“Sepertinya pertemuan kita selalu diawali dengan takoyaki huh?” katanya sambil memasang muka bingung.

 

Mendengar pertanyaannya dan melihat ekspresinya membuatku tak dapat menahan tawa. Aku pun tertawa dan mengangguk. Saat itu juga aku merasa aku suka dengannya.

 

“Kali ini jangan tumpahkan takoyaki lagi ya. Takoyaki yang kubuat sangatlah spesial” katanya sambil tersenyum.

 

Melihat senyumannya membuat jantungku mau copot rasanya. Ia pun berjalan kembali menuju teman-temannya. Kemudian aku dengan tiba-tiba memanggilnya dan mengatakan suatu hal yang bodoh.

 

“Anoo!” teriakku. Ia membalikkan badan.

 

“Maukah kau menjadi pacarku?” tanyaku pelan.

 

Aku merasa sangat malu karna ia tidak menjawab apa-apa. Tetapi kemudian ia tertawa dan menjawab, “Boleh saja” sambil tersenyum.

 

 

-ends of flashback-

 

***

 

 

Sekarang sudah resmi sebulan kami menjalani ‘trial relationship’ ini. Lagi-lagi belum ada perubahan yang signifikan. Hubungan kami memang masih jauh dari gaya pacaran orang yang sebenarnya. Tetapi kami saling mengabari dan semua berjalan baik. Namun seminggu ini aku merasa ia terus menjauhiku dan seperti ada yang aneh. Aku terus berusaha berpikir positif sehingga aku tidak menanyakan hal yang aneh-aneh. Lagi pula ini kan hanya trial pikirku..

 

“Boo!” teriak Megu mengagetkanku. Ia menepuk pundakku dan tertawa. “Ada apa? Dari tadi kau terus melihat ke arah kelas Chinen.”

 

“Hm? Tidak ada apa-apa” jawabku tersenyum.

 

“Masih belum baikan?” tanyanya lagi.

 

“Aku tidak berantem kokk” jelasku. Megu sudah tau tentang hubunganku dan Yuri. Sebenarnya saat aku bertemu senpai waktu itu, selain aku memberitahunya tentang senpai mengunjungi rumahku, akhirnya aku juga bercerita tentang hubunganku dengan Yuri. Seperti yang kutebak, ia kaget bahwa aku mengidekan hal seperti itu. Sebenarnya ia khawatir kalau nantinya aku yang akan tersakiti lagi. Tetapi ia menghargai keputusanku dan mendukung. Selain itu aku juga akhirnya bercerita kepada Nakajima.

 

“Mungkin karena batas waktunya sudah habis?” tanya Nakajima yang tiba-tiba gabung dengan kami.

 

“Batas waktu?” tanyaku.

 

“Iya, yang namanya trial kan sementara. Mungkin menurutnya kau sudah gagal dan batas waktunya habis. Sehingga ia terus menjauh. Jangan bilang kau tidak sadar kalau semua ini akan berakhir?” jelas Nakajima.

 

Aku terdiam mendengar penjelasannya.

 

“Oi Yuto!” bentak Megu.

 

“Tapi memang benar kan? Ia tidak boleh terus berharap kalau cowok itu akan benar-benar jatuh cinta dengannya. Bagaimana pun juga cowok itu playboy.”

 

“Sudah, sudah. Yuto memang benar kok” kataku sambil terpaksa tersenyum. Entah kenapa hatiku terasa sakit mendengar hal tersebut. Apa benar yang dikatakan Yuto. Mengapa aku tidak pernah memikirkan batas waktu trial kami.. aku merasa air mataku akan segera jatuh sehingga aku cepat-cepat mencari alasan untuk kabur. Akhirnya aku pergi meninggalkan mereka berdua.

 

“Baka!” kata Megu. “Memang dapat kutebak, kau benar-benar suka dengannya kan? Tapi kau tidak perlu berkata seperti itu! Seharusnya jika kau benar sayang kepadanya, kau harus rela melihatnya bahagia meski dengan orang lain.”

 

Yuto tidak menjawab apa-apa. Kemudian terdengar suara yang tidak asing.

 

“Hmmm begitu.. Jadi Yuto-kun ada perasaan dengan Umi-chan.”

 

“Chinen!” teriak Megu kaget.

 

“Tidak perlu kaget begitu. Aku bukan hantu.”

 

Tiba-tiba Yuto meraih kerah Chinen dan berkata, “Kalau kau tidak menjaganya baik-baik, aku akan merebutnya. Ingat itu”.

 

“Eeeh~ Begitu ya? Silahkan saja” kata Chinen sambil melepaskan tangan Yuto dari kerahnya. “Tapi apa kau yakin ia akan memilihmu? Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan sebelumnya. Tetapi melihat reaksi Megu bahkan memanggilmu baka membuatku cukup yakin kau juga tidak layak memiliki Umika.”

 

“Apa maksudmu!?” balas Yuto.

 

“Maksudku? Iya, aku yakin kau juga tidak layak memilikinya. Jelas dari perkataan Megu tadi bahwa kau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Umika kan? Aku juga tau benar kalau kau bukan orang yang ia sukai.”

 

Yuto hanya terdiam mendengar itu. Chinen pun tersenyum dan menepuk pundaknya sambil pergi meninggalkan mereka. Tidak lama terdengar suara kerumunan gadis-gadis. ‘Wah! Ada senpai yang sangat gantengg. Tapi apa yang ia lakukan ke gadis itu ya..’ bisik-bisik mereka. Mendengar hal tersebut, Megu tiba-tiba berlari menuju tempat tersebut. Yuto pun mengikuti Megu dan Chinen jadi ikut penasaran.

 

“Umika!” teriak Megu saat melihat seseorang memeluk Umika.

 

“Hisashiburi, Megu!” kata laki-laki itu memperlihatkan wajahnya.

 

Lelaki yang memeluk temannya adalah Matsumoto Jun, mantan pacar Umika. Melihat hal tersebut, Yuto dan Chinen tidak kalah kaget.

 

“Ups.. sepertinya ada seseorang yang seharusnya tidak melihat ini” bisik Jun sambil melepaskan pelukannya dari Umika.

 

Mendengar senpai berbisik begitu, aku langsung berpikir bahwa orang itu adalah Yuri. Benar saja dugaanku, bukan hanya Yuri tetapi ada Megu dan Nakajima. Aku berjalan kea rah mereka namun kemudian Yuri langsung pergi dari tempat tersebut. Langkahku terhenti melihatnya pergi begitu saja. Bahkan ia tersenyum. Saat itu juga aku merasakan trial kami sepertinya memang sudah habis. Sudah tidak mungkin bagiku membuat Yuri benar-benar jatuh cinta kepadaku.

 

“Eh? Kemana laki-laki itu pergi?” tanya Jun.

 

Aku hanya menggeleng dan menunduk. Sebenarnya aku menutupi mukaku yang sedang menangis ini. Megu dan senpai sepertinya ngeh kalau aku menangis. Senpai menarikku dan berlari kencang. Sekarang hanya tinggal kami berdua. Aku menangis dan senpai mengusap-usap kepalaku.

 

“Aku tidak tau apa yang terjadi tetapi aku tidak akan memaafkan siapa pun yang telah membuatmu menangis” katanya.

 

Aku hanya dapat tersenyum mendengar hal tersebut. Untuk sesaat, aku berharap Jun senpai adalah Yuri. Aku berharap orang yang mengatakan itu semua adalah Yuri. Namun tentu itu tidak mungkin. Sejak saat itu aku semakin sering ngobrol dengan senpai. Ditambah lagi ternyata ia kembali bersekolah disini. Setiap hari ia mengajakku berangkat bareng bahkan ia rela menungguku saat pulang sekolah. Dengan keadaan seperti itu, beberapa murid mulai menyebarkan gossip. Ditambah lagi beberapa orang tau kalau aku dulunya pacar senpai.

 

“Kau tidak apa-apa dengan gossip ini semua?” tanya Jun.

 

“Hm? Tidak apa-apa” jawabku pendek.

 

“Bagaimana dengan pacarmu?”

 

“Hahaha entah ia pacarku atau bukan. Tetapi sejak hari pertama senpai datang ke sekolah, ia tidak pernah mengabariku sama sekali. Bahkan jika kami berpapasan ia tidak pernah menyapaku.”

 

“Kalau begitu bukannya seharusnya kau menjelaskan semuanya?”

 

“Entahlah.. aku merasa capek dengan semuanya. Aku merasa aku sudah berada di limitku.”

 

Jun tiba-tiba memelukku dan berbisik, “Kalau begitu bagaimana jika Sabtu besok kita kencan berdua?”.

 

Aku terkejut dan melepaskan pelukannya.

 

“Kalau kau tidak mau… aku tidak apa-apa kok. Tetapi tentunya aku akan menunggu jawabanmu.”

 

Aku menggeleng dan menjawab, “Aku akan datang”. Aku tidak mengerti mengapa aku berkata seperti itu. Tentu aku belum bisa melupakan Yuri sepenuhnya. Tetapi aku merasa nyaman dengan senpai dan aku merasa mungkin aku bisa memperbaiki hubunganku dengan senpai.

 

***

 

Tibalah Sabtu, hari dimana aku akan kencan dengan senpai. Aku merasa deg-degan. Sebelum bertemu dengan senpai aku berniat untuk menyelesaikan semuanya dengan Yuri. Namun, berkali-kali aku menelponnya ia tidak akan mengangkat. Sehingga aku memutuskan untuk menulis surat dan menitipkannya ke Saya-nee. Sesampainya di rumah Yuri, aku segera menitipkan surat itu ke Saya-nee dan pamit. Hatiku seakan tidak bisa tenang. Entah karna aku akan pergi kencan atau karna aku masih belum berbicara dengan Yuri.

 

“Michan” sapa senpai saat melihatku berjalan menjumpainya.

 

“Matsunii” aku menyapa balik sambil tersenyum.

 

“Wah! Hari ini Michan-ku imut sekali” pujinya sambil mengelus kepalaku.

 

Mukaku memerah mendengar pujiannya. Untuk menghilangkan rasa maluku, aku mengajaknya untuk cepat-cepat pergi nonton. Hari ini aku dan senpai akan menonton suatu film yang sangat kutunggu. Film ini adalah adaptasi dari sebuah manga yaitu. Waktu terasa begitu cepat jika dilewati dengan menonton. Setelah menonton, kami pergi ke suatu café untuk makan kue. Aku memesan strawberry cheesecake dan senpai memesan hot chocolate. Kami berbincang-bincang dan tiba-tiba aku mendapat pesan dari seseorang. Aku membukanya dan terkejut melihat pengirim pesan tersebut.

 

 

Kau ada dimana!? Baka. Jika kau ingin meninggalkanku, ucapkan dengan benar. Ternyata semua perempuan sama saja. Pada akhirnya semua meninggalkanku. Kukira kau berbeda.

 

Yuri

 

 

Aku segera membalas pesan tersebut dan tiba-tiba aku menyadari semuanya. Aku mulai berpikir apa jangan-jangan Yuri juga memiliki perasaan yang sama denganku.

 

“Michan? Kau kenapa? Mukamu pucat.”

 

“Matsunii.. Tidak apa-apa kok” jawabku tersenyum.

 

“Setelah ini lebih baik kita pulang saja ya? Aku akan mengantarmu.”

 

“Maaf ya..”

 

“Tidak, kau adalah yang paling penting bagiku. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa jadi aku tidak akan memaksakan lebih dari ini. Sama seperti perasaanmu.”

 

“Eh?” aku terkejut saat senpai tiba-tiba berkata soal perasaanku.

 

“Michan, sejujurnya aku sangat menyesal meninggalkanmu waktu itu. Selama ini aku tidak pernah melupakanmu sedetikpun. Aku sengaja kembali kesini saat aku tau kalau kau masuk SMA ini. Aku memohon kepada orang tuaku agar aku dapat kembali. Setidaknya aku ingin tau apakah aku masih ada peluang dihatimu? Mungkin kedengarannya bodoh tetapi aku benar-benar jatuh cinta denganmu dari pertama kita bertemu. Ketika kau tidak sengaja menumpahkan takoyaki itu, aku sudah jatuh cinta. Makanya aku memutuskan untuk pergi kencan denganmu hari ini. Aku ingin melihat bagaimana perasaanmu yang sebenarnya.”

 

“Matsunii…”

 

“Apakah kau mau menjadi pacarku? Atau tidak? Beri aku jawaban.”

 

Aku benar-benar terkejut. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Matsunii akan berkata seperti itu. Perasaanku bercampur aduk. Aku pun memutuskan untuk memberikan jawaban saat itu juga. Jawaban yang mungkin akan mengubah semuanya.

 

 

Chinen’s POV

 

Aku baru saja selesai mandi tiba-tiba kakakku masuk ke kamar dan memberikan sepucuk surat. Ia mengatakan bahwa surat itu dari Umika. Tadinya aku berniat mengabaikan surat itu. Namun ternyata aku tidak sampai hati untuk melakukan itu. Aku pun meraih surat itu dan membacanya. Didalamnya tertulis begini:

 

Dear, Yuri

 

Yuri-kun…

 

Aku sebenarnya ingin sekali untuk berbicara langsung denganmu.. Tetapi begitu sulit bagiku untuk mengatakan ini semua. Aku tersadar akan sesuatu yang dikatakan Nakajima-kun. Setiap trial tentunya ada batas waktunya. Ketika kau berhenti menghubungiku, aku merasa bahwa aku sudah gagal dan tidak ada harapan lagi. Saat itu juga kau melihatku berada dipelukan Jun senpai.

 

Aku belum pernah berbicara soal ini tetapi ia adalah mantan pacarku. Lucunya akulah orang yang menembaknya. Sama bodohnya dengan caraku menembakmu kan? Hahaha Kami tidak pernah berhubungan sama sekali sampai akhirnya ternyata ia kembali kesini. Maafkan aku yang tidak menjelaskan ini semua. Saat itu aku ingin menjelaskannya tetapi kau pergi begitu saja. Melihatmu pergi begitu saja membuatku bertambah yakin kalau aku sudah gagal.

 

Terimakasih atas semuanya. Aku sangat senang dengan waktu yang singkat ini. Aku harap kau akan menemukan gadis yang baik dan yang bisa mengerti perasanmu yang sejujurnya. Selama ini aku telah gagal membuatmu benar-benar jatuh cinta denganku dan gagal memahami perasaanmu.

 

Untuk itu dengan ini aku memutuskan hubungan percobaan kita. Aku harap walaupun hanya sebentar, aku dapat membuatmu senang dan membuatmu degdegan walau hanya sedikit. Oh ya mungkin saat kau membaca ini, aku sedang kencan dengan Jun senpai. Maafkan aku untuk hal ini.

 

Sayonara.

 

Love,

Umika

 

 

Bodoh. Gadis bodoh. Mengapa ia bisa berpikir seperti itu. Mengapa ia harus memutuskan semuanya sendirian. Aku tidak pernah berpikir tentang batas waktu atau apalah itu. Jadi ini yang dibicarakan Yuto dan temannya. Mengapa gadis itu tidak peka dengan semua kodeku. Aku tidak mungkin memberikan nomor telponku jika aku tidak tertarik dengannya. Memang awalnya aku hanya ingin main-main saja. Tetapi ketika ia berkata soal trial untuk membuatku benar-benar jatuh cinta dengannya….hatiku sudah tersentuh. Ditambah lagi ia berhubungan baik dengan kakakku. Mengapa ia tidak dapat menyadari semuanya… dan ketika ia dipeluk laki-laki lain, aku pergi karna aku cemburu. Aku jelas-jelas memberikannya senyuman sinis. Kenapa dia masih gak sadar sih.. ditambah lagi ia kencan dengan orang lain dan memberitahunya kepadaku….

 

Setelah membaca surat itu, aku buru-buru menelpon temannya yaitu Megu. Aku menanyakan tempat kencan Umika dengan senpai itu. Setelah tau dimana tempatnya, aku segera menuju kesana. Aku pamit dengan kakakku dan ia berpesan sesuatu.

 

“Sepertinya kau sudah sadar apa maksudku waktu itu ya?” godanya. “Semoga kau tidak terlambat untuk mendapatkannya kembali.”

 

 

***

 

 

Akhirnya setelah memberikan jawabanku, kami berdua meninggalkan café tersebut. Saat kami berniat pergi, tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakkan namaku. Aku membalikan badanku dan menemukan seseorang berlari sekuat tenaga mengejarku.

 

“Yuri..” kataku pelan. Jun senpai sepertinya mendengarnya dan ikut menoleh melihatnya.

 

Sekarang Yuri berada di hadapanku dan senpai. Kami bertiga hanya diam dan tidak ada yang mau mulai berbicara.

 

“Baka” kata Yuri memarahiku.

 

“Eh?” tanyaku.

 

“Apa aku perlu menjelaskan panjang lebar kepadamu agar kau mengerti!?” omelnya lagi.

 

“Yuri…aku masih tidak mengerti maksudmu” jawabku pelan.

 

“Daisuki dayo.”

 

Aku tidak salah dengar kan? Dia baru saja mengucapkan kalimat yang bisa membuat jantung semua perempuan copot. Tetapi mengapa ia mengatakan itu kepadaku? Aku sama sekali tidak dapat berkata apa-apa. Aku hanya dapat bengong di hadapannya.

 

“Melihatmu tidak bereaksi begitu…sepertinya aku sudah terlambat ya” katanya sedih.

 

“Hahahah kenapa kalian berdua lucu sekali” kata Jun sambil tertawa. “Kau tidak terlambat, gadis ini baru saja menolakku.”

 

 

-Flashback-

 

“Matsunii… maaf, aku tidak bisa. Ternyata aku sadar siapa yang ada di hatiku. Aku sadar aku tidak dapat melupakannya dengan cepat. Aku meminta maaf karna kepindahanmu akan hanya sia-sia.”

 

“Jadi begitu ya.. tadinya aku sudah cukup pede kau akan menerimaku kembali. Sampai akhirnya kau membaca pesan di hpmu. Jadi pesan itu dari anak itu? Hmm..”

 

“Maaf…”

 

“Sudah jangan memintaa maaf lagi. Aku tidak ingin kau bersedih. Sudah kubilang kan, aku tidak akan memaafkan siapa pun yang membuatmu menangis. Aku rela melihatmu bahagia dengan orang lain daripada kau menerimaku tetapi hanya setengah hati.”

 

“Terimakasih senpai! Memang dari awal seharusnya aku sadar mengapa aku mau menjalani hubungan ini dengan Yuri. Jelas aku ingin membuatnya merasakan indahnya jatuh cinta dan membuatnya bahagia. Betapa bodohnya aku baru menyadari ini semua.”

 

“Bukan kau yang bodoh, anak itu juga bodoh jika ia tidak mau menerimamu.”

 

-ends of flashback-

 

 

“Benarkah itu Umika?” tanya Chinen bersemangat.

 

Aku hanya mengangguk malu dan tersenyum. Tiba-tiba Chinen menarikku ke sebelahnya.

 

“Maafkan aku senpai, tapi aku akan mengambilnya kembali. Kali ini aku akan memastikan tidak ada orang yang akan mengambilnya” ejeknya sambil merangkulku.

 

Sejak hari itu juga, aku dan Chinen resmi pacaran. Kali ini kami benar-benar pacaran dan bukan sekedar trial sehingga tidak ada yang namanya batasan waktu. Aku benar-benar senang dapat membuatnya benar-benar jatuh cinta kepadaku meski aku tidak sadar sejak kapan itu. Well, cinta datang memang secara tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi XD

 

 

-END-

Save

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshot] Seishun Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s