[Oneshot] Shitsuji-san, Daisuki!

Title: Shitsuji-san, Daisuki!
Author: Shiina Hikari
Cast: Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Shirayuki Airi (OC)
Rating: PG-15
Genre: Romance
Nyoba share ff 3 tahun lalu. Masih gak jelas banget ceritanya. FF ketiga yg dibuat. Tapi, kl ada waktu silahkan dibaca dan tinggalkan komentar. (*^^*)

Musim Semi…

“Hari ini kita kedatangan murid baru.”

“Watashi no namae wa Shirayuki Airi desu.”

“Nah, kamu boleh duduk dibangku sebelah sana.”

Namaku adalah Shirayuki Airi. Aku sudah 15 kali pindah sekolah semenjak aku masuk SMA. Aku tidak pernah punya orang yang aku anggap sebagai teman. Temanku hanyalah sebuah boneka anjing yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi. Aku termasuk anak yang jenius. Aku sering disuruh membuat benda-benda yang tidak aku inginkan. Karena aku seorang anak yang jenius, aku diperbolehkan melakukan apa saja yang aku mau disekolah.

Misalnya tidak mengikuti semua pelajaran secara efektif. Pelajaran yang diajarkan di setiap sekolah sangatlah mudah untukku. Semua yang dipelajari di SMA ini sudah bisa aku kuasai saat aku berumur 8 tahun. Aku menyelesaikan kuliahku di jurusan teknologi saat aku berumur 8 tahun. Sekarang aku berumur 15 tahun. Dan biasanya pada umur 15 tahun, manusia memasuki masa remaja. Aku ingin tahu lebih banyak tentang apa yang biasanya anak normal lakukan saat mereka berusia 15 tahun.

Aku punya seorang pelayan yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Namanya Yamada Ryosuke. Ryosuke sekarang berumur 19 tahun. Dia sudah melayaniku sejak aku kecil. Dulu aku menganggapnya dia hanyalah seorang anak kecil yang bodoh. Tapi sejak dia berumur 12 tahun, dia menjadi anak yang sangat pintar. Dia menyelesaikan kuliahnya saat dia berumur 18 tahun. Bisa dibilang dia juga anak yang jenius. Tapi tentu saja aku yang lebih jenius daripada dia.

“Saatnya waktu istirahat.” ucap sensei sambil pergi meninggalkan kelas.

Seperti biasa, saat istirahat semua anak mengelilingiku karena merasa takjub bisa bertemu dengan anak sejenius aku di sekolah mereka. Di sekolah lamaku dulu juga seperti ini. Jadi aku sudah terbiasa.

“Maaf, ya? Tapi sekarang Shirayuki-sama ingin pergi makan siang, jadi Shirayuki-sama harus pergi.”

Ryosuke selalu mengatakan hal itu saat jam istirahat. Ryosuke itu tampan dan juga kata-katanya sangat lembut saat berbicara. Dia tidak pernah sekalipun berkata kasar kepada siapapun. Setiap aku pindah sekolah, pasti banyak perempuan yang suka dengan Ryosuke karena kata-kata manisnya itu. Setiap jam istirahat, aku dan Ryosuke selalu pergi ke atap sekolah. Aku makan di atap sekolah karena aku benci keramaian.

“Ryosuke-kun, berikan keitaiku.”

Ryosuke selalu berbicara dengan lembut, sedangkan aku sebaliknya. Aku selalu berbicara kasar kepada setiap orang. Termasuk kepada Ryosuke. Anehnya Ryosuke tidak pernah merasa sakit hati setiap aku berbicara kasar dengannya. Padahal setiap orang yang mendengar aku berbicara kasar, pasti merasa sakit hati. Karena hal itulah aku tidak pernah berbicara apapun dengan teman sekelasku.

“Lain kali, ucapkan tolong dan terima kasih. Padahal Airi-sama memiliki wajah yang cantik. Sayang sekali jika semua orang tahu kalau Airi-sama selalu berbicara kasar.” ucapnya sambil mengusap kepalaku.

Belakangan ini aku tidak pernah membantah perkataan Ryosuke. Setiap kali dia menyentuhku, aku selalu merasakan reaksi aneh yang tidak aku mengerti. Aku mencoba untuk menelpon Oniisan. Oniisan adalah seorang bassis dari band Furai. Belakangan ini Oniisan selalu mengadakan konser diluar Shinjuku, aku jadi jarang bertemu dengannya.

“Hari ini Hikaru-sama sedang pergi konser ke Sapporo. Hikaru-sama bilang selama 5 bulan bandnya akan mengadakan konser diluar Shinjuku. Jadi Hikaru-sama tidak bisa pulang.”

Aku melemparkan keitaiku kepada Ryosuke. Aku selalu melakukan itu saat aku selesai memakai keitaiku. Dan hebatnya lagi, Ryosuke selalu bisa menangkap keitaiku saat aku melemparnya. Aku memang jenius dan cantik. Tapi dibalik semua itu, aku mempunyai kepribadian yang buruk.

“Ryosuke-kun, aku ingin pulang ke rumah.”

“Baiklah Airi-sama.”

Aku memang selalu seperti ini. Setiap aku merasa bosan sekolah, aku selalu meminta pulang lebih cepat.

“Ryosuke-kun, aku ingin pergi ke kamar mandi. Dan jangan ikuti aku.”

“Tentu Airi-sama.”

Dalam perjalanan ke toilet, tanpa sengaja aku melihat sepasang kekasih sedang berpacaran di halaman sekolah. Aku memperhatikan mereka dengan seksama. Pertama, mereka berdua berpegangan tangan. Lalu sang pria mencium pipi sang wanita. Setelah sang pria mencium pipi sang wanita, mereka berdua berciuman. Lalu sang pria menciumi leher sang wanita. Lalu…. Semuanya menjadi gelap.

“Apa yang Airi-sama lihat? Airi-sama belum pantas untuk melihat semua itu.”

Aku melepaskan tangan Ryosuke dari wajahku.

“Ada apa denganmu?!? Kenapa kamu selalu mengatakan hal itu kepadaku kalau aku melihat hal seperti itu. Aku ini sudah dewasa. Jadi aku sudah pantas melihat hal seperti itu. Aku yakin Ryosuke-kun pun sudah pernah melakukan hal itu.”

Ryosuke hanya tersenyum. Mendengar perkataanku.

“Aku tidak pernah melakukan semua hal yang Airi-sama lihat. Aku tidak sempat memikirkan semua hal itu karena aku terlalu sibuk untuk mengurus Airi-sama. Ayo kita pulang.”

Aku tidak mengerti seperti apa jalan pikiran pria ini. Padahal aku sudah berkata kasar kepadanya. Tapi dia sama sekali tidak merasa sakit hati. Benar-benar pria yang aneh.

***

Di rumahku hanya ada aku, Ryosuke dan Inoo Kei. Kei juga pelayan pribadiku. Tapi aku lebih sering menyuruhnya untuk tinggal untuk menjaga rumah. Sebenarnya ada pelayan lain. Tapi mereka semua pulang saat aku pulang ke rumah. Kedua orang tuaku adalah direktur dari perusahaan yang berbeda. Aku akan mewarisi perusahaan okaasan. Sementara Oniisan mewarisi perusahaan otousan.

Aku tidak pernah mendapatkah kasih sayang dari kedua orang tuaku. Aku hanya mendapatkan kasih sayang dari Oniisan. Karena sekarang Oniisan jarang di rumah, sekarang tidak ada lagi yang memberikan aku kasih sayang.

Tok…. Tok…. Tok….

“Airi-sama saatnya makan malam.”

“Aku tidak ingin makan.”

“Bolehkah saya masuk?”

“Tentu saja.”

Ryosuke segera masuk dan duduk dipinggir tempat tidurku. Aku pun berbaring dipangkuan Ryosuke. Ryosuke selalu mengusap kepalaku saat aku berbaring dipangkuannya. Aku tidak tahu alasan kenapa dia melakukan hal itu kepadaku. Tapi aku menyukainya saat dia melakukan hal itu. Seperti inilah kebiasaanku saat malam hari. Menonton anime kesukaanku ditemani Ryosuke.

Ting… Tong…

Lagi-lagi tim peneliti itu datang untuk menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak berguna. Terkadang tim peneliti dari Tokyo datang kemari untuk menyuruhku membantu mereka mengerjakan penelitian bodoh mereka. Aku berusaha melakukan yang terbaik, bukan karena aku suka dengan penelitian yang mereka lakukan. Tapi karena aku ingin pekerjaan ini cepat selesai dan aku bisa kembali menonton anime kesukaanku.

Hari ini aku menyelesaikan penelitian mereka selama 15 menit. 5 menit lebih cepat daripada minggu lalu. Setelah selesai mengerjakan penelitian itu, aku kembali ke kamarku untuk menonton.

“Ryosuke-kun, bolehkah aku menonton drama remaja?”

“Tentu saja Airi-sama. Tapi berjanjilah untuk tidak menanyakan segala hal yang Airi-sama lihat.”

“Un… Wakatta.”

Saat aku belum berumur 15 tahun, Ryosuke selalu melarangku untuk menonton drama remaja. Alasannya karena aku belum cukup umur. Dan setiap aku menonton, aku pasti menanyakan setiap kejadian yang tidak aku mengerti.

***

Setelah Menonton Drama…

“Ne, Ryosuke-kun, apa itu cinta?”

“Bukannya Airi-sama sudah berjanji tidak akan menanyakan apapun.”

“Aku ini majikanmu. Jadi, cepat jawab pertanyaanku!”

Aku tidak pernah menepati janji untuk tidak bertanya kepada Ryosuke setelah aku menonton drama. Aku melakukannya karena banyak hal yang belum aku mengerti. Aku memang pintar dalam pelajaran. Tapi aku tidak tahu apapun soal cinta.

“Cinta adalah perasaan suka dan sayang kepada lawan jenis.”

“Ryosuke-kun, apa rasanya saat berciuman?”

“Eeeto… Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya.”

Aku benar-benar merasa tidak puas dengan jawaban Ryosuke.

“Bagaimana kalau kita coba.”

Aku pun mendekatkan wajahku dengan wajah Ryosuke. Kali ini wajah Ryosuke terlihat panik. Mukanya juga memerah. Apakah dia demam. Tapi seingatku, mukanya tadi tidak semerah itu.

“Ano… Itu tidak bisa. Jika Airi-sama melakukannya dengan orang yang Airi-sama sukai, rasanya akan berbeda saat Airi-sama melakukannya dengan orang yang tidak Airi-sama sukai.”

Aku pun menjauhi Ryosuke. Aku pun kembali menonton drama itu. Sejujurnya aku merasa kecewa atas jawaban Ryosuke. Ini tidak adil. Kenapa saat melakukannya dengan orang yang aku sukai, rasanya menjadi lain? Itu artinya aku tidak bisa melakukannya dengan sembarang orang.

“Ryosuke-kun, bagaimana cara aku tahu kalau aku sedang jatuh cinta kepada seseorang?”

“Misalnya saat Airi-sama disentuh oleh laki-laki itu, Airi-sama merasa senang. Atau Airi-sama merasa senang dengan semua yang dilakukan untuk Airi-sama. Dan saat bersama dengan dia, Airi-sama merasa berdebar.”

Aku hanya terdiam mendengar jawaban Ryosuke. Tanpa sadar aku tertidur dipangkuan Ryosuke.

“Padahal dulu, lebih banyak tersenyum. Tapi sekarang tidak pernah tersenyum lagi. Oyasumi Hime-sama.”

***

Hari ini aku memutuskan untuk pergi bersekolah. Aku ingin tahu apakah aku bisa jatuh cinta kepada teman yang ada di sekolah baruku.

“Ohayou Shirayuki-san….” ucap teman sekelasku.

“Ohayou minna…”

Aku merasa agak canggung saat menjawab sapaan mereka. Saat aku sudah duduk di bangku milikku, anak perempuan yang ada dikelasku langsung mengerumuni Ryosuke. Ryosuke itu memang mudah populer karena mukanya yang tampan. Jadi bagiku ini bukanlah pemandangan yang baru lagi. Teman yang duduk di depan bangku milikku bernama Minami Yumi. Minami adalah orang pertama yang mengajakku berbicara saat aku baru pindah ke sekolah ini. Minami juga terlihat seperti anak pintar.

“Apakah Shirayuki-san nanti juga akan ikut ujian kenaikan kelas?”

“Tidak. Aku tidak diizinkan mengikuti ujian apapun. Jika aku ikut ujian, murid lain akan kehilangan semangat untuk belajar. Itu yang dikatakan oleh kepala sekolah. Tapi aku tetap akan naik kelas.”

“Souka. Shirayuki-san tidak merasa jatuh cinta kepada Yamada-san?”

“Eh? Tentu saja tidak. Aku tidak merasakan apapun saat aku bersama Ryosuke-kun.”

“Mungkin belum. Aku yakin suatu hari nanti.”

Aku bingung dengan perkataan Minami. Saat aku ingin bertanya lagi, sensei sudah memasuki kelas dan bersiap memulai pelajaran.

***

Bahkan saat aku sudah sampai di rumah, aku masih memikirkan maksud perkataan Minami.

“Airi-sama sedang memikirkan apa?”

Aku benar-benar terkejut saat Ryosuke tiba-tiba datang. Bahkan aku hampir jatuh dari tempat tidurku. Untung saja denga sigap Ryosuke bisa menangkapku.

“Airi-sama, daijoubu desu ka?”

Wajahnya terlihat dekat sekali. Entah kenapa, aku merasakan kalau wajahku sekarang terasa memanas.

“Da-Daijoubu.”

Aku langsung bangun dan menjauh darinya. Apa-apaan tatapannya tadi. Dia menatapku seolah-olah aku ini barang berharga baginya.

“Ryosuke-kun, lain kali jangan lakukan hal itu lagi!!” ucapku dengan ketus.

“Tapi… Saya hanya berusaha menolong Airi-sama…”

“Lakukan saja apa yang aku perintahkan!!! Aku ini majikanmu!!! Kamu tidak berhak membantah ucapanku!!! Kei-kun!!!” teriak Airi.

Kei pun segera berlari memasuki kamarku.

“Doushite Airi-sama?”

“Aku ingin agar hari ini Ryosuke-kun dihukum. Dia tidak boleh masuk ke rumah dan jangan beri dia makanan atau minuman. Oh, ya… Hari ini suhu diluar masih sangat dingin. Jangan berikan dia selimut atau baju tebal apapun kecuali baju yang dia pakai sekarang!!!”

“Tapi Airi-sama, dia bisa mati beku diluar.”

“Lakukan saja perintahku!!! Dan jangan membantah!!!!”

“Wakarimashita Airi-sama….”

***

“Ne… Ryosuke-san… Apakah menurutmu apa yang dilakukan Airi-sama itu berlebihan?”

Ryosuke terdiam sejenak. Dan akhirnya menjawab.

“Menurutku yang dia lakukan adalah wajar.”

Ryosuke pun menceritakan cerita tentang masa lalu Airi. Sejak berumur 2 tahun Airi sudah menjadi anak yang jenius. Airi tidak boleh melakukan yang anak normal lakukan. Yang Airi lakukan hanyalah belajar sepanjang hari. Saat umur 5 tahun Airi sudah dipaksa oleh tim peneliti Tokyo untuk membuat barang-barang yang belum pernah diciptakan oleh siapapun. Bahkan Airi pernah menangis karena tidak boleh beristirahat sedikitpun. Saat makan pun harus Airi lakukan di laboratorium. Airi hanya diperbolehkan tidur 5 jam dalam sehari. Dan setiap kali Airi melihat Ryosuke dan kakaknya datang ke laboratorium, Airi selalu bilang, “Kalau aku sudah selesai mengerjakan semuanya, kita main sama-sama, ya?”.

Mereka hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kepadanya. Mereka tahu bahwa Airi tidak akan pernah bisa keluar dari laboratorium. Mereka melakukannya hanya agar Airi bisa berhenti menangis. Para peneliti pernah menjanjikan Airi jika Airi bisa lulus universitas pada umur 8 tahun, Airi akan dibebaskan melakukan apa yang dia mau. Tapi, saat Airi berusia 8 tahun dan lulus universitas, Airi tetap harus kembali ke laboratorium untuk melakukan penelitian. Para peneliti itu berbohong kepadanya agar mereka bisa mengetahui seberapa pintar Airi.

Airi menangis saat dia dipaksa untuk kembali ke laboratorium. Ryosuke dan kakak Airi pernah berusaha untuk menolong Airi agar Airi tidak kembali ke laboratorium. Saat itu Airi menangis sambil berkata, “Oniisan, Ryosuke-kun… Aku tidak mau kembali ke laboratorium itu. Disana gelap dan dingin… Aku tidak mau kembali kesana….”. Saat itu Ryosuke dan kakak Airi masih kecil dan mereka tidak berdaya melawan kekuatan para peneliti itu. Akhirnya Airi berhasil dibawa masuk ke laboratorium dan tidak pernah keluar lagi. Bahkan Airi melewatkan hari ulang tahunnya di dalam laboratorium. Tapi, pada jam 11 tepat 1 jam sebelum hari ulang tahunnya yang ke 11.

Airi keluar dari laboratorium. Saat Ryosuke dan kakak Airi melihat ke dalam laboratorium, mereka terkejut melihat para peneliti yang selalu mengawasi Airi menghilang. Airi berkata kalau diam-diam dia menciptakan alat agar para peneliti itu bisa lenyap. Dan hal itu berhasil. Akhirnya tepat pada jam 12.01 menit, untuk pertama kalinya Airi merayakan ulang tahunnya di luar laboratorium. Setelah kejadian itu, para peneliti tidak berani mengurung Airi. Sebagai gantinya, para peneliti harus datang ke rumah Airi jika mereka membutuhkannya dan para peneliti jarang menyuruh Airi untuk melakukan penelitian.

“Souka… Hidupnya sungguh berat. Aku masuk dulu. Airi-sama sudah memanggilku. Kalau ingin masuk, masuk saja. Pintunya tidak aku kunci.”

“Arigatou.”

***

“Kei-kun lama sekali.”

“Hontouni sumimasen, Airi-sama.”

“Kei-kun… Saatnya tidur. Dan berikan kunci kamarmu padaku.”

“Ini Airi-sama.”

“Sekarang ayo kita ke kamarmu.”
Setelah kami sampai di kamar Kei, aku mendorong Kei masuk dan mengunci pintu kamarnya. Aku tidak ingin Kei mengganggu apa yang ingin kulakukan. Setelah dari kamar Kei, aku pun segera kembali ke kamarku dan mengambil selimut. Aku membawa banyak selimut menuju pintu depan rumahku.

Aku pun membuka pintu depan rumahku yang dikunci oleh Kei. Aku melihat Ryosuke sedang tidur sedang tidur sambil bersandar di dinding. Dia bisa mati beku jika tidur tanpa memakai apapun di cuaca sedingin ini. Aku pun memakaikannya selimut yang aku bawa. Saat aku berpikir untuk masuk kembali ke dalam, aku menghentikan langkahku dan kembali menuju Ryosuke. Aku melepaskan selimut yang tadi aku pasangkan kepadanya dan mulai memeluknya lalu memasang kembali selimut itu.

***

Paginya, aku terbangun di tempat tidurku. Dan aku sudah tidak menggunakan pakaian semalam. Aku pun segera pergi mandi dan setelah selesai, aku pergi menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Ryosuke dan Kei yang menungguku.

“Kenapa Airi-sama melakukannya?” tanya Ryosuke.

“Entahlah. Kei-kun, bisakah kamu beri makan Riku sekarang?”

“Baiklah Airi-sama.”

Riku adalah anjing peliharaanku. Setelah aku menyuruhnya, Kei pun segera pergi meninggalkan kami.

“Airi-sama bisa mati kalau Airi-sama melakukan hal itu….”

“Buktinya aku tidak apa-apa.” ucapku dengan cuek.

“Kenapa Airi-sama melakukannya? Aku ini hanya seorang pelayan. Bahkan nyawaku tidak lebih penting daripada nyawa seekor hewan.” ucapnya sambil marah.

PLAAAAAAAAAK!!!!!

Aku menampar pipi Ryosuke dengan keras.

“Aku tidak keberatan kalau Ryosuke marah-marah denganku. Tapi aku keberatan jika Ryosuke mengatakan hal seperti itu. Mungkin bagimu, nyawamu itu tidak penting. Tapi bagiku, itu sangat penting.”

Aku mengambil tasku yang aku letakkan diatas meja makan.

“Hari ini tidak perlu mengantarku. Aku akan pergi bersama Kei.”

***

Sepulang sekolah, aku tidak melihat Ryosuke dimanapun. Dia menghilang.

“Kei-kun tahu dimana Ryosuke-kun?”

“Sumimasen Airi-sama. Tapi saya tidak tahu Ryosuke-san ada dimana.”

Aku langsung pergi meninggalkan Kei menuju kamarku. Sekarang aku sedang ingin makan es krim, tapi seingatku, persediaan es krimku sudah habis. Saat aku buka kulkas yang ada di kamarku, aku melihat ada banyak es krim disana. Dan diatas kulkas ada sebuah catatan. “Saya tahu kalau setelah pulang sekolah Airi-sama akan mencari es krim. Karena es krimnya sudah habis, maka saya sudah membelikannya yang baru.”

“Dia itu bodoh atau apa? Padahal jelas-jelas tadi pagi aku sudah menamparnya.” gumamku.

***

Sampai malam pun Ryosuke tidak pulang ke rumah.

Aku pun memutuskan untuk menunggunya di depan pintu rumah. Aku mengunci pintu kamar Kei agar Kei tidak menghalangiku. Ini sudah jam 12 malam, tapi Ryosuke belum pulang juga. Saat aku hampir tertidur, tiba-tiba aku merasa tubuhku sedang diangkat seseorang. Aku berusaha melihat siapa orang itu.

Ternyata itu Ryosuke. Dia membawaku sampai ke kamarku. Ryosuke tidak sadar kalau aku sekarang sudah terbangun.

“Baka.”

Apa katanya? Barusan dia mengatakan aku bodoh? Seumur hidupku dia orang pertama yang mengatakan gadis jenius seperti aku ini bodoh.

“Hontouni baka. Padahal Airi-sama sudah tahu kalau Airi-sama bisa mati jika menunggu diluar dengan cuaca sedingin ini.”

Aku terdiam mendengar ucapannya. Setelah berkata begitu, dia tidak mengatakan apapun lagi. Perlahan tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Lalu aku merasakan kalau dia mencium pipiku.

“Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana bisa suka kepada majikanku? Ukh… Aku seharusnya tahu kalau akhirnya akan jadi seperti ini!”

Setelah mengatakan hal itu, dia keluar kamarku sambil membanting pintu. Aku terkejut mendengar apa yang baru saja Ryosuke katakan. Aku merasakan pipiku terasa sangat panas dan jantungku juga berdebar keras. Jangan, jangan… Aku sedang…. Demam???? Ini aneh sekali. Aku pun memutuskan untuk tidur. Tujuannya… Tentu saja agar demamku sembuh.

***

Hari ini Kei ditugaskan untuk bekerja di perusahaan otousan. Itu artinya di rumah hanya ada aku dan Ryosuke.

“Ryosuke-kun, setelah ini, Airi ingin menonton tv di kamar Ryosuke-kun.”

“Wakarimashita, Airi-sama.”

***

Kamar Ryosuke…

Sebelumnya aku belum pernah masuk ke kamar Ryosuke. Ternyata kamarnya sama mewahnya dengan kamarku. Hanya saja kamarku sedikit lebih besar dari kamarnya. Seperti biasa, saat menonton tv, aku selalu berbaring dipangkuan Ryosuke.

“Ryosuke-kun, Airi ingin makan menonton anime.”

Ryosuke mengganti channel tvnya tanpa berkata apapun.

“Ada apa dengan Airi-sama?”

“Nande? Memangnya ada yang salah dengan Airi?”

“Ehm… Tidak juga… Hanya saja, Airi-sama… Terlihat lebih lembut daripada biasanya.”

“Eh? Benarkah?”

“Dan juga… Airi-sama kelihatan lebih kawaii.”

“Wah… Wajahnya jadi merah. Ternyata kalau diperhatikan, Ryosuke itu tampan dan manis. Selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikan wajahnya.” gumamku.

“Doushita Airi-sama? Kenapa Airi-sama melihatku seperti itu?”

“Memangnya tidak boleh? Airi kan majikan Ryosuke.”

Kami pun terdiam sejenak.

“Airi tahu kalau malam itu Ryosuke mencium pipi Airi.”

Muka Ryosuke terlihat sangat merah. Dan dia juga panik ketika mendengar aku berkata seperti itu.

“Hontouni gomennasai Airi-sama… Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Dan aku siap menjalani hukuman apapun atas perbuatanku.” sambil bersujud didepanku.

Padahal aku hanya berusaha menggodanya saja. Ternyata dia sampai seserius itu minta maaf padaku. Aku pun mengangkat wajahnya.

“Daijoubu… Airi tidak akan marah kok. Karena Airi juga suka dengan Ryosuke.” ucapku sambil tersenyum.

“Lagi-lagi pipiku terasa panas dan jantungku berdetak cepat. Jangan-jangan aku demam lagi.”

“Itu bukan demam Airi-sama. Tapi itu artinya Airi-sama sedang jatuh cinta. Atau harus aku panggil Ai-chan?” ucapnya sambil memelukku.

“Un… Ii yo, Ryo-kun.” ucapku sambil tersenyum.

“Kore kara wa watashitachi zutto issho ni ne?”

Setelah Ryosuke mengatakan hal itu, Ryosuke pun menciumku. Tentu saja bukan di pipiku. Tapi ciuman yang sebenarnya sebagai seorang kekasih.

Dan seperti itulah kisahku, si gadis jenius yang pada akhirnya menemukan cinta sejatinya. Cinta itu tidak bisa ditebak kapan akan datang. Mungkin saja cinta akan datang dari orang yang sangat dekat dari kita. Dan pelayankulah yang menjadi cinta sejatiku.

OWARI

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Shitsuji-san, Daisuki!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s