[Multichapter] Accidentally In Love (chapter 12)

Title : Accidentaly In Love
Chapter : Twelve
Author : TegoMura
Genre : Romance
Rating : PG – 13
Starring : all HSB member (Takaki Yuya, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Inoo Kei), Takahashi Nu (OC), Ikuta Din (OC), Yamashita Opi (OC), Yoshitaka Py (OC), Misaki Miyuy (OC), Akanishi Jin as Takaki Jin, and other character… ^^
Fandom : Johhny’s Entertainment, Desperate Housewives
Disclaimer : Py, Miyuy, Din, Opi and Nu belong to theirselves, Hey! Say! BEST and Akanishi Jin are belongs to JE. we don’t own them…Comments are LOVE minna~ maap lamaaaaaaa~ XP

ACCIDENTALLY IN LOVE

CHAPTER 12

Tak bisa lagi berkata, hanya menitikan air mata ketika katun biru prusia tak lagi membalut tubuhnya.

Daiki seakan kesetanan, menjelajahi tubuh Nu dengan paksa, kaos Daiki pun sudah tidak lagi dikenakan, sementara si gadis sendiri sudah sulit untuk menolak karena tentu saja walaupun Daiki berwajah manis, kekuatannya tetap kekuatan seorang pria. Apalagi Daiki sedang dipenuhi oleh nafsunya.

“Dai..ja..ngan..” suara ringkih Nu seakan menampar Daiki karena tiba-tiba saja si pemuda berhenti dan melompat dari tubuh Nu.

“Aku…”

Nu hanya terdiam, meringkuk dan menutupi tubuhnya dengan tangannya.

“Nuchan… aku…”

Tangis Nu pun akhirnya membuat Daiki tak kuasa mendekati, perlahan seakan kaki nya tak bertulang Daiki yang kini bersandar di tembok, terduduk dan menunduk, menyesali perbuatannya malam ini.

Jujur saja ada perasaan kesal karena Nu selama ini selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Bukan orang dewasa, bukan orang yang benar-benar jatuh cinta kepadanya. Walaupun malam-malam telah dihabiskannya berdua dengan Nu, bahkan kasur milik Nu adalah tempatnya beristirahat sementara Nu memeluknya ketika sudah jauh malam. Hanya sebatas itu. Seperti sebuah boneka yang memang harus ada kalau tidak si pemilik tidak bisa tidur.

Entah sudah berapa Daiki menunduk, sepertinya ia tertidur, namun ketika bangun ia sudah berselimut. Suara gaduh terdengar di dapur, otomatis Daiki ingin bangkit, namun tengkuknya terasa mati rasa karena semalaman menunduk dan tertidur.

“Nu…”

“Sarapan dulu, sebentar lagi bel…”

Daiki menengadah, mendapati Takahashi Nu menarik lengannya. Karena Daikitak juga bergerak, Nu kembali menarik tangan Daiki,

“Ayolah! Nanti kita terlambat!!”

“Nuchan…” Daiki menyentuh tangan Nu yang menarik lengannya, “Aku…”

Tanpa membalas tatapan Daiki Nu kembali menarik lengan Daiki, “Kau benar-benar mau aku seret ke kamar mandi?!”

Daiki akhirnya bergerak, namun entah kenapa rasanya ia limbung dan tanpa aba-aba Daiki yang hampir jatuh memeluk Nu dari belakang. Si gadis kaget tapi tak menolak.

“Gomen,”

Simple.

Tak lebih dari satu kata, tapi Nu bisa merasakan penyesalan yang Daiki utarakan dengan satu kata maaf itu.

=================
Aneh. Ganjil. Tak biasa. Itulah yang dirasakan Din pada perubahan sikap Yuya yang cukup tiba-tiba. Bibir yang biasanya mencela, kini lebih sering melempar senyum seteduh langit di penghujung bulan lima.

Setiap kalimat yang diucapkan guru sejarahnya kali itu, bagi Din hanya bagaikan angin lalu, pikirannya berputar pada penyebab perubahan sikap Yuya, kemungkinan ketidakberesan di kepalanya dan… hatinya mencelos ketika sampai pada kenyataan bahwa Jin akan pergi jauh dalam beberapa hari.

“Kau menjatuhkan pensilmu.“ Bisikan Yuya membuyarkan lamunan Din. Terasa aneh, karena bila hal seperti itu terjadi, biasanya

Yuya justru akan menendang lebih jauh pensilnya yang terjatuh.

“Sa, sankyu…“ Din merasa canggung karena tak terbiasa berterimakasih pada Yuya.

Yuya masih sama. Masih memasang tampang-sok-berandalannya. Masih duduk di bangku sebelah Din. Masih menikmati waktu istirahat siang dengan dikelilingi siswi-siswi dari kelasnya dan dilirik siswi-siswi dari kelas lainnya. Ia masih seperti yang biasa. Tapi yang bisa Din amati, bahwa Yuya tampak lebih menikmati saat-saat bersama para penggemarnya.

“Tapi Yuyaaan, Kana masih ingin bersama Yuyan, setidaknya sampai hari kelulusan…“ Ucap seorang gadis dengan nada manja, merangkul lengan kanan Yuya. Tampaknya ia dari kelas lain, tipe siswi yang menurut Din selalu bangun lebih pagi, karena harus memoles make-up dan menata rambut sedemikian rupa hingga siap pergi ke sekolah.

“Iya, kenapa harus pergi sebegitu mendadak, sih…?“ Tanya seorang lagi, merangkul mesra pinggang Yuya.

Tak mungkin jika Din berpura-pura mengacuhkan mereka ketika berpapasan dilorong sekolah. Tapi pemandangan itu mau atau tak mau diakui, membuatnya terganggu.

“Hey, Dinchan! Mau ikut makan bekal di atap bersama kami?“ Tanya Yuya santai.

“Tidak. Terima kasih. Aku sudah janji makan di kantin dengan teman-teman.” Jawabnya sebiasa mungkin.

“Oke. Kalau begitu, sampai jumpa…”

Terus berjalan. Semakin menjauh. Din masih bisa mendengar suara Yuya dan cekikikan gadis-gadis yang sok manis itu. Mereka memang dijodohkan atas dasar relasi kedua keluarga, tapi Din masih belum mengerti motif apa yang digunakan pangeran-Yuya-yang-populer hingga mendeklarasikannya sebagai pacar padahal keduanya lebih sering bertengkar. Sebagian dari dirinya ingin berteriak tepat di depan wajah Yuya karena terang-terangan bermesraan dengan gadis lain, sebagian lagi merasa itu tak adil karena ia sendiri membiarkan Jin memeluk dan menciumnya.

“Yuyan tidak benar-benar pacaran dengan Ikuta, kan? Itu cuma gosip, kan? Ya, kan? Katakan itu tidak benar, Yuyan…”

“Hmm, bagaimana ya, dia punya orang lain yang disukainya, sih. Aku mengenal orang itu.”

“Aah, lupakan dia. Yuyan sudah punya kami. Aku tak ingin sainganku bertambah banyak…”

“Hey, hey. Kana-chan, aku ini milik semua orang. Ingat itu?”

Din benar-benar ingin berteriak. Perasaannya campur aduk antara bingung, kesal dan bersalah. Dan lagi, kata-kata tentang kepergian itu. Apa lagi ini?

====================
Siang terik itu menjadi teman bagi seorang Yoshitaka Py. Mengulum sebuah chupa rasa cola, tangannya lincah diatas sebuah buku sketsa yang semakin lama semakin penuh isinya.

Atap, chupa dan buku sketsa. Semuanya mengingatkan dirinya pada satu sosok yang sama.

Sudah sebulan lamanya, ia sama sekali tak mendengar kabar dari Hikaru. Bass milik si pemuda gingsul itu tersimpan rapi kini di kamarnya. Selalu mengingatkan Py soal mimpi dan cita-citanya yang kini tak ingin ia lepas lagi.

Py menengadah menatap langit yang kini sangat cerah. Langit selalu mengingatkan dirinya pada Hikaru. Pembicaraan soal langit sore itu menjadi awal kedekatannya dengan Hikaru.

“Py suka hujan atau cuaca cerah?” tanya Hikaru penuh semangat.

“Cerah…rasanya energi kita tersedot jika mendung begini…” jelas Py.

Hanya pembicaraan simple, namun selalu berkesan baginya.

“Eh…” Py merasakan cairan hangat sudah membasahi pipinya, ia segera mengusapnya dan bertanya pada langit yang masih saja cerah, tidak sesuai dengan suasana hatinya, “Kau baik-baik saja, kan?” bisiknya pada langit.

Bukankah dimanapun kita berada, kita selalu dibawah langit yang sama? Pasti Hikaru juga memandangi langit yang sama di Sendai.

“Py-chan?” sebuah suara membuyarkan lamunan Py.

Py segera menutup buku sketsanya, menoleh ke sumber suara, “Din-chan?” ucapnya sedikit kaget.

“Kok belum pulang? Udah lewat jam pulang, loh…” ucap Din menghampiri Py.

Py hanya tersenyum, “Masih betah… Din-chan sendiri? Kenapa belum pulang?” tanya Py.

Wajah Din berubah sedikit murung, “Terlalu sesak dan banyak yang dipikirkan…”

Din duduk di sebelah Py dan ikut memandang langit, “cuaca hari ini cerah sekali,” gumamnya disambut anggukan kecil dari Py.

“Sudah memikirkan tawaran Yuya?” tanya Din pada Py.

Beberapa hari yang lalu memang Yuya menawarkan Py ide gila. Pergi ke Sendai untuk menemui Hikaru. Ide yang bahkan sulit diterima akal sehat seorang Yoshitaka Py yang selama hidupnya tak pernah senekat itu.

Pergi ke luar kota yang dekat saja untuknya berarti pergi bersama Ayah dan Ibu, tidak mungkin ia kabur begitu saja ke Sendai. Yang jaraknya beratus-ratus kilometer.

“Muri da yo~” ucap Py lirih.

Din tertawa kecil, “Da yo ne… ide gila yang harusnya tidak ia tawarkan padamu…” ucap Din lagi.

Py hanya tertawa kecil, walaupun sebenarnya ia memikirkan kemungkinan ia bisa pergi ke Sendai, bertemu dengan Hikaru. Mungkin untuk mebawanya pulang ke Tokyo, atau hanya sekedar meyakinkan dirinya sendiri bahwa Hikaru baik-baik saja.
Din tiba-tiba merebahkan diri menatap langit, matanya terlihat berkaca-kaca ketika Py menengok melihat salah satu sahabatnya itu.

“Din-chan daijoubu?” tanya Py sedikit khawatir karena sepertinya Din terlihat sedang tidak baik juga.

Gadis itu hanya menggeleng, masih memandangi langit dengan seksama.

“Py-chan ingin jadi langit tidak?”

Py menatap Din dengan heran, “Maksudnya?”

“Yaaa.. jika kita jadi langit, maka kita akan bisa menjaga orang yang kita cintai selamanya kan? Tanpa harus berusaha kita bisa melihat mereka…” ucap Din.

Kini Py ikut berbaring menatap langit, ia ingin jadi langit, pergi ke Sendai dan melihat Hikaru sekarang juga. Tiba-tiba saja Py merasa air matanya kembali meleleh, kenapa rasanya sakit sekali tidak bisa melihat orang yang ia cintai?

====================
“Entah apa yang kau rasakan… tapi buatku kau tak pernah hanya jadi sekedar teman…”

Opi menatap dirinya di cermin, suara Inoo seakan terngiang-ngiang di benaknya, membuatnya sedikit sakit perut ketika menyadari Inoo kini ada di bawah, bersama adiknya, mungkin sedang latihan piano seperti biasa.

“Yo!”

Seakan tersambar petir, Opi melompat dari depan kaca sambil menatap pemuda yang kini berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan jumawa di hadapannya.

“Ya ampun Kei-chan…” seru Opi dengan muka masih kaget.

Inoo terkekeh, “Segitu kagetnya kah?” tanya Inoo lalu masuk ke kamar Opi dan duduk di kursi meja belajar milik gadis itu.

“Kenapa kau malah ada disini? Tidak mengajar Yuuri?” tanya Opi setelah kesadarannya telah pulih.

“Yuuri-chan sedang menonton boyband kesukaannya, apa namanya itu…” Inoo mencoba mengingat namanya.

“Arashi?”

Inoo pun mengangguk, “Kemarin kita sudah latihan lebih lama, jadi kubiarkan dia nonton saja hari ini…” ucapnya santai.

Inoo melihat beberapa brosur di atas meja, Opi memang sudah kelas tiga dan brosur-brosur itu sudah jelas dari beberapa universitas ternama. Salah satunya Universitas Meiji, tempat Inoo berkuliah.

“Kau sudah menentukan pilihan?” tanya Inoo sambil membaca beberapa brosur.

Opi terlihat ragu, lalu menggeleng, “Aku… ingin kuliah di Meiji…”

“Ada jurusan yang bagus dan kau inginkan disana?” tanya Inoo masih dengan suara cuek, seperti biasa.

Aduh! Inoo-kun bodoh! Rutuk Opi dalam hati. Tentu saja maksudnya agar mereka bisa kuliah sama-sama. Kan manis kalau mereka bisa pergi kuliah bersama, lalu pulang dan kencan setelah kelas selesai.

“Opi-chan… kok melamun?”

Tak menjawab, Opi hanya berdehem dan urung menjawab pertanyaan dari Inoo.

“Ehm.. mau kubuatkan teh? Hari ini Okaa-san pergi ke reuni SMA katanya…” ujar Opi sambil beranjak keluar kamar diikuti oleh Inoo.

“Kei-chan… kenapa gak nunggu di ruang TV saja… nanti tehnya aku bawa kesana,” kata Opi yang sedang sibuk membuatkan teh untuk si pemuda yang sedari tadi pandangannya tidak lepas dari Opi.

Inoo menggeleng dan tetap duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerak-gerik si gadis, membuat Opi risih.

“Nee-chan! Aku mau teh juga dong!” terdengar langkah kaki Yuuri yang mendekat ke arah dapur, “Eyyy.. kalian malah pacaran disini…” seru Yuuri lalu kembali berbalik setelah melihat Inoo.

Inoo tertawa lalu mengikuti Yuuri ke ruang TV, beberapa saat kemudian Opi menyusul dengan tiga gelas teh dan beberapa camilan.

“Yuuri-chan… kau mau seperti mereka?” tanya Inoo pada Yuuri yang masih konsentrasi menonton, tepat saat Opi meletakkan panganan dan tiga gelas teh itu.

Yuuri menatap Inoo sekilas, “Kalau bisa, kenapa tidak?”

Inoo manggut-manggut.

“Kenapa Kei-chan tidak masuk Johnnys juga?” tanya Opi lalu terkekeh, bermaksud menggoda si pemuda.

Inoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Berarti aku tidak akan bertemu denganmu dong!” ujarnya sambil menjawil pipi Opi yang sukses membuat Opi dan Yuuri sama-sama melemparkan bantal kursi tamu padanya.

===================
“Bukannya ini begini ya?” Daiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matematika itu pelajaran apa sih? Kenapa harus ada matematika di dunia ini?

Nu menunduk di hadapan Daiki, mencoret-coret dengan cueknya, “Begini saja. Gampang kan?”
Kenapa di hari minggu yang super cerah ini ia harus belajar matematika? Bukankah harusnya sekarang mereka berkencan? Main ke taman bermain misalnya?

“Nuchan, udahan yuk belajarnya?”

“Yang ada ujian senin besok siapa? Aku atau kau?”

Karena nilai ulangan Daiki hancur lebur, besok ia harus mengikuti ujian ulangan.

Daiki manyun. Nu kembali mengeluarkan sebuah buku tebal, mencari soal mana yang cocok untuk dikerjakan oleh Daiki. Sementara

Daiki kembali meneguk lemon tea nya entah yang berapa gelas.

“Kalau kau malas-malasan, mana bisa lulus?!”

Si pemuda yang diberi petuah malah memejamkan mata, “Ugh! Nuchan jahat,”

Tidak menjawab, Nu kembali menunjukkan sebuah soal, “Kerjakan ini!”

“Kalau begitu beri aku hadiah kalau aku bisa lulus ujian matematika!” Daiki merasa ini adalah ide yang sangat cemerlang.

“Baiklah apa yang kau mau?” Nu sudah malas berargumen.

“Ciuman! Satu kali saja?!”

Nu mendesah pelan, bahkan meminta ciuman saja wajah Daiki sumringah seperti anak kecil meminta permen, “Oke. Deal!”

==================

Hari minggu yang cukup cerah, Miyuy berdiri di depan rumah Yabu, menatapnya takzim, seolah ini saatnya ia membuktikan semuanya.

Ayame bilang hari ini dia dan Yabu akan kencan. Miyuy sudah mempersiapkan peralatan “pengintaian” yang mungkin dibutuhkan saat menguntit Yabu. Gadis itu jadi lebih curiga apalagi Yabu hanya mengirimkan ucapan selamat pagi, tidak mengajaknya pergi seperti yang bisa ia lakukan hari minggu.

Miyuy masih menunggu hingga beberapa saat sampai Yabu keluar dari rumah, kali ini Yabu benar-benar pergi sendirian, pukul 10, seperti yang biasa mereka lakukan ketika akan berkencan. Yabu akan berjanji bertemu pukul 10.30, ia akan keluar rumah pukul 10.

Miyuy sedikit berlari kecil ketika Yabu berjalan cukup cepat menuju halte bis dekat rumahnya. Beberapa menit kemudian bis pun datang dan Miyuy menunggu Yabu pergi dengan bisnya sementara ia naik taksi agar tidak ketahuan.

Beberapa kali Miyuy merapikan rambutnya, hari ini menurut situs Tobenaitori ia harus mengikat rambutnya ke pinggir, membawa keberuntungan buatnya katanya. Miyuy ikuti saja toh perintahnya tidak susah susah amat.

Seperempat jam kemudian Miyuy melihat Yabu turun, Miyuy ikut berhenti dan menguntit lagi Yabu yang berjalan cepat ke daerah pertokoan yang cukup padat, ia lalu masuk ke sebuah restoran siap saji, namun ketika Miyuy masuk, ia malah tidak melihat Yabu. Beberapa menit kemudian Yabu keluar dari dapur, sudah berseragam sebagai pelayan restoran, membuatnya kaget.

Gadis itu segera keluar dari restoran siap saji itu, berlari ke kedai kopi yang tepat berseberangan. Miyuy tak ingat Yabu pernah mengatakan bahwa pemuda itu kini kerja sampingan, lagipula untuk apa Yabu kerja sampingan? Selain sekolah sebenarnya tidak mengizinkan, Yabu juga sepertinya berkecukupan saja.

Miyuy terus memperhatikan gerak gerik Yabu, ia melihat jam yang melingkar di tangannya, dan menyadari bahwa sudah tiga jam ia menunggu Yabu, sudah tiga gelas kopi yang ia minum, dan Yabu belum ada tanda-tanda akan keluar dari restoran itu.

Namun beberapa menit setelah Miyuy bosan menunggu, akhirnya Yabu keluar dari restoran itu, telah berganti dengan pakaian yang sebelumnya Yabu pakai saat pergi. Miyuy segera membayar kopinya dan keluar dari kedai, kembali menguntit kekasihnya yang kini terlihat semakin mencurigakan.

“Dia mau kemana sih?” bisik Miyuy heran, dan pertanyaannya terjawab ketika ia melihat Yabu masuk ke sebuah kafe, dilihatnya ada Ayame di dalam.

Selera Miyuy untuk menguntit hilang sudah. Tobenaitori benar-benar bohong soal dirinya yang mendapat keberuntungan hari ini. Sepanjang perjalanan pulang, Miyuy pun menangis sendirian.

=================
“Inoo-kun, sudah malam loh…” ucap Opi mengingatkan.

Pemuda itu seharian berada di rumahnya, bahkan sampai makan malam bersama keluarganya. Lama-lama Inoo bisa benar-benar tinggal di rumahnya.

“Aku tau kok…” ucapnya cuek lalu menyomot sebuah biskuit di meja ruang TV, sementara Yuuri ikut-ikutan selonjoran di sebelah Inoo.

“Nanti pulangnya kemalaman, terus gak ada kereta lagi, gimana?” tanya Opi lagi, ia benar-benar khawatir jika Inoo kemalaman.

“Ya nginap disini aja,”

Opi kehabisan kata-kata untuk melawan, sementara Yuuri malah terlihat senang saja dengan keputusan Inoo yang bisa dibilang sepihak itu.

“Inoo-kun…”

Inoo tiba-tiba berdiri dan tersenyum pada Opi, “Wakatta yo… tak usah cemberut gitu…”

“Aku gak mau tiduuurrr!!” tiba-tiba terdengar suara gaduh dan detik berikutnya Inoo hampir terjungkal karena Yuuri menabraknya dan membuat isi tas yang Inoo bawa jatuh berhamburan.

Mama masih sibuk menyeret Yuuri yang beralasan besok tidak ada sekolah dan ngotot ingin nonton TV lagi.

“Gomen ne…” Opi membantu Inoo membereskan barang-barangnya, beberapa saat kemudian tangannya membeku saat melihat sebuah brosur, “Study Abroad to England”.

Dengan cepat Inoo menyambar kertas itu, tampak salah tingkah dan menghindar dari tatapan Opi. Setelah semuanya beres, ia beranjak dan menarik tangan Opi yang tampak masih shock dengan kejadian barusan.

“Tadi itu…” kalimat Opi menggantung, meminta penjelasan dari Inoo.

“Aku dapat beasiswa untuk melanjutkan dan sekalian S2 disana… ini fast track,” jelas Inoo.

“Fast… apa?” sebagian otak Opi sepertinya tiba-tiba melambat dan tidak bisa menerima informasi terlalu cepat.

“Iya.. fast track. Aku bisa menyelesaikan S1 dan S2 ku hanya dalam waktu 5 tahun, itu berarti 3 tahun dari sekarang aku sudah dapat gelar master…”

“Kapan?”

“Semester depan…”

Serta merta Opi merasa ingin menangis. Semester depan artinya tinggal beberapa bulan lagi. Semester depan yang selalu ia impikan untuk bisa bersama Inoo di kampus yang sama.

“Gomen…” detik berikutnya Opi sudah berada di pelukan Inoo.

==================
Hari minggu. Py menatap mesin penjual tiket dengan dahi mengerenyit. Ia tak tahu harus beli yang mana. Ini pertama kalinya ia pergi sendirian, biasanya ia selalu pergi dengan orang tuanya atau kakak-kakaknya.

Py membaca semua instruksi dengan teliti, namun ia masih sedikit bingung.

“Ada yang bisa saya bantu?” terdengar sebuah suara di samping Py.

Py menjelaskan daerah tujuannya, si petugas pun membantu Py membeli tiket untuk ke Sendai.

Py berdiri menunggu shinkansen datang. Kereta tercepat ini akan membawanya ke Sendai. Py akhirnya benar-benar pergi, tidak dengan siapapun, ia memutuskan pergi sendiri setelah mencari informasi lewat internet bagaimana caranya ke Sendai. Ia pun sengaja tidak memberi tahu siapapun, ia harus bertemu dengan Hikaru, bagaimanapun caranya, walaupun harus berbohong pada Okaa-san. Py hanya bilang mungkin malam ini akan menginap di rumah Din. Berjaga-jaga jika ia tak bisa pulang sore ini.

Kereta cepat itu pun datang, Py agak kerepotan karena membawa Bass milik Hikaru, tapi tak membuat langkahnya berat, ia sudah menetapkan hatinya, ia harus bertemu dan mengembalikan Bass itu.

Shinkansen membawa Py ke Sendai setelah dua jam perjalanan yang tak begitu terasa. Walaupun harga tiketnya setara dengan pesawat, namun naik kereta memang lebih nyaman menurut informasi yang di dapat oleh gadis itu.

Setelah turun Py menatap kertas yang diberikan oleh Yabu kemarin. Berisikan alamat Hikaru di Sendai. Akhirnya Py memutuskan untuk naik taksi agar lebih mudah mencari alamat yang ia tuju.

“Disini tempatnya, nona…” Py menoleh menatap supir itu lalu setelah menatap keluar beberapa saat, akhirnya Py memutuskan untuk turun.

Sebuah toko sederhana menjual peralatan sehari-hari dan makanan itu menyambut Py. Beberapa orang keluar masuk dari toko itu. Walaupun sederhana, sepertinya pengunjung toko itu lumayan ramai.

Dengan sedikit ragu Py melangkahkan kaki masuk ke Toko itu.

Suara lonceng mengisyaratkan seorang masuk ke Toko, Py tidak bisa mundur lagi.

“Irrashaimase!!” teriak seorang pegawai perempuan di depan pintu.

Py mengangguk sekilas, lalu berjalan perlahan ke arah kasir, tepat pada saat itu Hikaru yang berada di belakang meja kasir menoleh, menatap Py dan tidak ada kata-kata yang terucap dari keduanya.

Kelu, Py seakan mendadak bisu.

==================
Enam missed call, puluhan Mail yang sama sekali tak tersentuh oleh Miyuy. Ia kalut dan tak ingin melihat nama itu sama sekali, Yabu Kota. Pria itu harusnya memang masih kekasihnya, tapi Miyuy sudah tak ingin lagi beranggapan seperti itu.

“Miyuy!! Dibawah ada temanmu!!”

Miyuy segera menghapus air matanya, turun untuk melihat siapa yang ibunya maksud, “teman”.

“Yabu-kun…” bisik Miyuy lirih, ternyata alasan ibunya tak memberi tahukan nama temannya karena yang datang adalah Yabu.

“Aku sudah tidak mau lagi bicara denganmu!” bentak Miyuy dan berniat segera kembali ke atas, Yabu menarik tangan Miyuy, hampir saja gadis itu hilang keseimbangan.

“Lima menit…” ucap Yabu buru-buru, “Cuma 5 menit aku janji!!”

Miyuy mengikuti Yabu keluar rumah, di halaman rumah Miyuy, keduanya tampak canggung.

“Kau nangis? Ehm.. ada apa?”

Miyuy tak mau menjawab, dan hanya menggeleng malas.

Yabu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sendiri bingung kenapa Miyuy secara tiba-tiba mengacuhkannya dan tidak mau menerima teleponnya sama sekali.

“Aku… salah apa?”

Miyuy mendengus kesal, sudah cuek beberapa hari, kemarin malah bertemu Ayame, dan sekarang ia malah bertanya salahnya apa?

“Menurut ramalan bintang, kita tidak cocok… jadi aku mau putus dengan Yabu-kun!” Setelah berkata begitu Miyuy berbalik dan masuk kembali ke rumah.

Yabu melongo, ia berkedip dan mencoba mencerna apa yang baru saja Miyuy katakan padanya. Memang selama ini Miyuy selalu suka ramalan bintang, terutama dari situs TobenaiTori yang beberapa kali Miyuy perlihatkan padanya. Dan menurut ramalan bintang sialan itu mereka tidak cocok? Yabu menatap kotak yang ia bawa dengan hampa.

Apa begini saja?

Miyuy memutuskannya hanya karena ramalan bintang? Yabu melangkah keluar pagar, tanpa menoleh lagi. Sementara Miyuy menatap punggung Yabu menjauh, sambil terisak hebat.

==================
“Apa kabar?” tanya Hikaru tanpa sanggup memandang wajah Py yang masih memeluk Bass yang dari Tokyo ia bawa.

Keduanya kini duduk di dekat dermaga kecil, tak jauh dari rumah Hikaru.

“Genki… Hika-kun wa?”

“Seperti yang bisa kau lihat, aku masih hidup dan baik-baik saja…” jawab Hikaru mencoba membuat suasana lebih ceria.

Py terdiam, segala yang sudah ia persiapkan sejak tadi malam mendadak menghilang semua dari otaknya. Ia tak tahu harus berkata apa pada Hikaru, namun ia merasa sangat senang bisa menatap Hikatu dari jarak sedekat ini lagi. Sepertinya sudah lama sekali ia tak melakukannya, dan ia meridukannya, ia merindukan semua hal tentang Hikaru.

“Kau sudah baca suratku?”

Py mengangguk, bahkan surat Hikaru selalu ada dalam dompetnya.

“Bagaimana sekolahmu?” tanya Py sedikit khawatir.

Hikaru tersenyum, “Aku masih sekolah kok, tapi ambil kelas malam.. jadi tidak mengganggu pekerjaanku…”

“Sou da ne…”

Keduanya kembali hening.

“Gomen na… Py-chan… aku tidak bermaksud meninggalkanmu tanpa pesan. Tapi ini memang mendadak, dan….” Hikaru mengerling sekilas pada Py yang terus menatap wajahnya, “Aku tak mau mengucapkan selamat tinggal secara langsung… aku takut menangis…”

Ternyata sekarang malah Py yang berurai air mata, ia terisak pelan, “Daijoubu da yo.. aku hanya kaget.. hiks..”

Hikaru kedua pipi Py dengan kedua tangannya, mengusap pelan air mata Py dengan ibu jarinya, “Gomen ne..” Sedetik kemudian Hikaru bergerak pelan mendekati Py, dan menariknya ke dalam pelukannya.

Selama beberapa menit yang terasa singkat itu Py hanya terus terisak di dekapan Hikaru sementara si pemuda hanya bisa membelai pelan rambut Py, ia tak punya kata-kata untuk menghibur karena Hikaru sendiri sebenarnya ingin menangis.

“Tidak bisa kah Hika-kun kembali ke Tokyo?” suara Py terdengar putus asa.

Hikaru tak menjawab.

“Ne… Hika-kun…” Py melepaskan diri dari dekapan Hikaru, menatap mata Hikaru untuk mencari jawabannya.

“Py-chan… aku tak bisa, aku punya tanggung jawab…”

“Tapi… tapi…”

“Aku janji kita akan bisa berkomunikasi lagi, oke? Kemarin ponselku rusak dan aku belum sempat beli yang baru…”

Py tidak puas dengan jawaban itu, namun akhirnya pasrah juga.

“Ah.. ini Hika-kun.. aku tak bisa menyimpan Bass ini… biarlah Hika-kun yang simpan…”

Hikaru menggeleng, “Tidak bisa Py-chan… aku tidak mau bermimpi yang tidak-tidak lagi… sekarang masa depanku sudah ditentukan, dan aku harus menjalaninya,” lalu ia mengembalikan Bass itu ke tangan Py.

“Begini saja… Py-chan menggapai mimpimu, lalu aku juga menggapai mimpiku disini… kita akan bertemu lagi kalau itu sudah tercapai, oke?”

Ketika itu sore tiba, matahari tenggelam dan menyaksikan keduanya berjanji. Py mengangguk pelan, Hikaru kembali mendekapnya.
“Tapi janji kirim e-mail ya…” ungkap Py lagi mengingatkan, disambut suara tawa dari Hikaru.

=================
“Yuya, tunggu.” Din tiba-tiba menarik pergelangan tangan Yuya di tengah perjalanan pulangnya.

“Dinchan? Kenapa tak pulang bersama teman-temanmu?”

“Yuya, apa maksudnya dengan kau akan pergi?“

“Ah, itu, harusnya aku memberitahumu lebih awal. Aku akan pergi, Dinchan. Pindah ke Amerika. Ya, itu saja.“ Ujar Yuya santai.

“Setelah Jin, kau juga…“

“Tidak, tidak. Hanya aku yang akan pergi. Jin tetap tinggal.“

“Kenapa…“

“Aku juga penerus keluarga Takaki, kewajibanku dan Jin sama besar, tapi ia punya alasan untuk tinggal…“

“Alasan apa?!“

“Kau. Kau adalah alasannya untuk tidak pergi. Dia menyukaimu!“

Tak begitu mengejutkan mendengar alasan itu, karena Jin sendiri yang mengatakan itu sebelumnya.

“Tapi, Yuya…“

“Jangan merengek lagi, Ikuta Din! Dengar, Jin-lah yang sebenarnya dijodohkan denganmu. Kalian ditakdirkan bersama. Bukan aku!“

Pikiran Din buram seketika, seakan ada bola es raksasa menghantam kepalanya. Jin adalah putra keluarga Takaki yang ditakdirkan untuknya. Dan bukan Yuya yang selama ini berpura-pura dipacarinya.

Ketika butiran salju mulai berjatuhan, Yuya menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“Let’s just call it a simple breakup. Sekarang kau bisa berhenti pura-pura menyukaiku.” Yuya mengecupnya. Lembut. Din tak merasakan apa-apa.

Pelukan itu terasa menyakitkan. Bukan karena diberikan dengan terlalu erat, tetapi mengingat pelukan itu tak akan bisa dirasakan lagi.

“Saljunya mulai lebat. Aku akan mengantarmu pulang…”

Sepanjang perjalan pulang, baik Din maupun Yuya sama-sama diam. Saat di kereta, Din membiarkan Yuya sesekali merangkul bahunya. Terasa sama sekali berbeda, semuanya bagaikan dilakukan Yuya pada seorang sahabat atau semacamnya. Untuk Din, dalam keadaan itu seakan ada aura melankolis yang menghambat otaknya merangkai kata-kata.

“Besok teman-teman akan mengadakan pesta untukku.” Ucap Yuya akhirnya, ketika sampai di depan gerbang rumah Ikuta.

“Jadi… kau benar-benar akan pergi?”

“Tentu saja, bodoh. Kau pikir sejak tadi aku bercanda? Ayolah…”

Din menunduk, dan Yuya menaikkan dagu gadis itu dengan jarinya.

“Kau harus janji. Berbahagialah untukku, kakak ipar…” Mendengar panggilan itu membuat Din merasa hatinya ditusuk lebih dalam.

“Terimakasih untuk waktu selama ini. Meski kau kadang menyebalkan, tapi aku cukup menikmatinya.”

Yuya mengacak pelan rambut Din dan melempar senyumannya yang paling tulus. Harusnya senyuman itu terasa hangat, tapi dalam konteks perpisahan, berubah lebih dingin daripada salju yang tengah berjatuhan.

“Masuklah, buat secangkir coklat hangat dan duduk di bawah kotatsu.”

Berusaha tersenyum, Din melangkah memasuki pagar rumahnya. “Ka, kau harus balas e-mailku…“ Ucapnya susah payah untuk terdengar biasa.

“Tentu. Setiap hari.“

Beberapa menit berlalu, Yuya telah melangkah menjauhi rumah Ikuta. Din berbalik dan memandangi punggung Yuya yang semakin menjauh. Lututnya lemas, dan ia jatuh terduduk di aspal beralas salju tebal. Airmatanya kini tumpah.

Jangan pergi, Takaki Yuya! Jangan pergi. Karena aku…

Din merutuki diri sendiri, kenapa di hadapan Yuya ia tak bisa menangis seperti ketika Jin mengucap perpisahan. Kenapa ia tak bisa berkata jangan pergi. Kenapa hatinya ribuan kali lebih sakit menyadari Yuya yang akan pergi. Kenapa perasaannya pada Yuya terlalu rumit untuk terdefinisi. Kenapa ia tak bisa memberikan alasan agar Yuya tidak pergi.

==============
Din tidak datang ke pesta Yuya. Dan di bandara pun hanya mengucapkan kata-kata secukupnya. Tak banyak teman yang mengantar, Yuya baru bersekolah sebentar dan tak punya banyak teman lelaki –mengingat sifatnya yang kadang menyebalkan dan kenyataan bahwa ia punya banyak penggemar perempuan. Kata Yuya, fangirl-fangirl-nya tidak mengantar kepergiannya ke bandara karena itu akan terlalu menyedihkan untuk mereka dan mereka telah melepas kepergian Yuya di pesta semalam.

Kepergian Yuya terasa bagaikan mimpi bagi Din. Seakan baru kemarin cowok-sok-keren itu menempati tempat duduk di sebelahnya. Dan kini ia pergi ke tempat yang terpisah hampir separuh dunia.

Jin bilang Din jadi berbeda. Teman-teman menyatakan hal yang tak jauh berbeda. Dari soal melamun hingga tak konsentrasi. Waktu itu Sabtu malam, Jin membawa Din ke bar langganannya, bukan tempat mabuk-mabukan seperti yang dipikirkan Din. Hanya tempat Jin biasa menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama teman-temannya di kursi yang menghadap counter minuman.

“Ini Dinchan, ia sedikit sedih karena adikku baru saja pergi ke Amerika…“

Tak banyak yang bisa diingat Din, terlepas dari sikap manis basa-basinya menghadapi teman-teman Jin. Dan demi apa, kenapa sejak tadi mereka terus memutar lagu blues. Suasana hatinya yang tengah mengharu biru semakin membuatnya merasa bahwa setiap bait lirik lagu yang diputar merupakan soundtrack pengiring kisah hidupnya saat ini. Dan ia membayangkan kisahnya yang penuh ironi dalam sebuah film bernuansa biru, putih salju sesekali buram abu-abu.

“Ayo bangun, Tuan Putri…“ Din mendengar kata-kata itu dibisikkan ke telinganya.

“…ngh.“

“Kalau kau tak mau bangun, aku juga akan kembali tidur…“ Jin meletakkan kepalanya pada bantal yang sama, mendekap Din dari balik punggung gadis itu.

Deg. Mata Din yang tadinya berat karena kantuk seketika terbelalak. Bagai deja vu, apa yang dilakukan Jin mengingatkannya pada yang tempo hari dilakukan Yuya. (lihat chapter 1 XD)

Tak perlu berpikir, Dinchan membalik badan dan membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. Aroma pakaian yang dikenakan Jin serupa dengan yang bisa dicium Din dari pakaian Yuya. Kini semua itu berbalik. Din merasa sangat jahat karena menggunakan Jin untuk memunguti kepingan-kepingan apa saja yang tersisa dari Yuya.

Jika bisa, Din ingin berteriak dan menangis sekerasnya, seperti anak kecil kehilangan ibunya. Tapi tak ada setetespun air mata seperti yang dilakukannya ketika menangisi punggung Yuya yang semakin menjauh dari pagar rumahnya. Semuanya jadi semakin menyesakkan ketika ia tak bisa mencurahkan perasaan dalam tangisan yang lepas.

Kenyataannya, Din menginginkan Yuya.
================

TBC lagi~
Setelah berapa tahun pending ini?
Hahahaha…
Bakalan beres kok.. yang udah lupa ceritanya
Silahkan track back aja…
COMMENTS ARE LOVE
PLEASE DON’T BE A SILENT READER ^^

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Accidentally In Love (chapter 12)

  1. Cherry Arida

    4 hari yg lalu q bc ulang fanfic nya dr awl smpe akhir, kaget waktu liat udh ada chap 12 X) skrg aku penasaran lagi~
    Dinchan lanjutin lg dong ‘LOVE CHAINS’ nya penasaran lanjutannya apa ^^

    Reply
  2. Cherry Arida

    Lanjutin lagi dong kak…. penasaran sama lanjutannya
    FF yg lain juga, aku selalu nunggin ada FF bru ato nggak…
    aku yang selalu nungguin Love Chains dan Love Shuffle, suka banget sma ceritanya… maap jadi curhat X)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s