[Ficlet] Confession

Confession

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Chinen Yuri

By: YamAriena, NadiaMiki, ShieldViaYoichi

1491710796484

Menatapnya dari belakang bangku tempat ia duduk adalah kebiasaanku, melihatnya belajar, menulis, dan mengobrol dengan teman di bangku sebelahnya itu adalah kesenangan sendiri bagiku.

Saat jam istirahat, aku mengikutinya dari belakang. Ehm, sebenarnya aku dan dia sudah kenal sejak lama namun aku selalu menyimpan perasaan ku terhadapnya, terhadap Chinen Yuri.

Pemuda mungil bergigi kelinci ini sudah membuatku jatuh hati sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Kalian pasti pernah merasakan jatuh cinta? Ya, itulah yang aku rasakan meskipun orang-orang menganggap perasaan ku ini aneh. Karena, ya aku menyukai sesama pria.

Tidak ada yang tahu tentang perasaan ini, termasuk dia sendiri. Aku takut, takut untuk bercerita pada orang-orang dan mereka menyuruhku untuk segera melupakan perasaan ini. Dan juga, takut ditolak olehnya. Tapi, akhir-akhir ini aku tidak tahan lagi. Rasanya ingin segera berteriak, menyatakan cinta di depan semua orang, mendekapnya, dan mencium bibirnya. Oke, ini terlalu liar mengingat wajahku yang cukup polos.

Setiap dia memanggil namaku, seperti ada sentruman kecil di dalam dadaku. Dan aku selalu berpikir, ‘Ah, ya. Dia manis hari ini’. Padahal dia selalu manis setiap hari. Saat dia tersenyum, mataku tidak pernah lepas memandang keindahan itu sedetik pun. Benar-benar membuat hari-hariku menjadi sangat indah.

“Ryo-chan? Nanti pulang sekolah langsung ke perpustakaan saja ya, lebih cepat tugasnya kita kerjakan lebih baik.” Aku sedikit kaget saat dia menghampiri mejaku.

Namun aku segera mengangguk, meski mataku sama sekali tidak bisa lepas dari wajah imutnya.

“Baiklah, sampai nanti ya!” dan seorang Chinen Yuri pun memberikan senyuman lebarnya padaku.

Sial! Chinen terlalu imut! Ini bahaya, bagaimana kalau yang lain tau betapa imutnya dia dan mendadak banyak yang ingin mendekatinya?! Tidak! Chinen harus jadi milikku. Aku tidak peduli dunia akan memandangku bagaimana nantinya, yang penting aku bahagia bersama Chinen!

Terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri tanpa sadar bel pulang berbunyi. Buru-buru kurapikan buku-buku di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Aku langsung bergegas melangkah menuju perpustakaan.

Aku berjalan dengan cepat untuk menuju perpustakaan itu. Rasanya tak sabar untuk bisa berdua dengannya di perpustakaan.

Dan mungkin aku akan menyatakan perasaanku terhadapnya.

Tapi tunggu, saat aku sampai disana, ternyata bukan hanya ada Yuri yang duduk didalam perpustakaan tapi ada teman sekelas yang lain juga. Cih, kalau seperti ini bagaimana aku menyatakan cintaku?

“Ryo!” teriakan riang dari bibir Yuri langsung menyadarkanku dari lamunan, ah suaranya memang bagaikan alarm, bel atau apalah itu yang sejenis buat ku.

Aku membalasnya dengan senyuman dan langsung melangkah masuk bergabung bersama mereka. Ya, walau tidak berdua yang penting aku ada didekatnya itu tidak masalah.

Setelah semuanya selesai dan berpamitan, aku mengikuti langkah Yuri yang akan menuju rumah.

Arah rumahku dan rumahnya memang berlawanan, tapi hari ini rasanya aku tidak ingin berpisah dengan pria mungil ini.

“Ryosuke? Kenapa kau tidak pulang?” tanya Yuri memasang kerutan di dahinya. Hahaha… Lucu sekali, ingin rasanya aku mencium keningnya itu.

Aku menggaruk leherku yang tidak gatal, “Uhm ya… Ano Yuri, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada mu,” kata ku dengan sedikit gugup.

Astaga, come on Ryosuke. Kenapa kau merasa gugup didepan dirinya?

Dari posisi yang tadi hanya kepalanya saja menghadap padaku, kini berubah menjadi seluruh tubuhnya yang beralih kepadaku.

Dia menatapku serius, “Kau ingin mengatakan apa?”

Bagaimana ini? Bagaimana ini?? Kenapa bibirku tidak mau terbuka? Kenapa lidahku keluh?

“Ryo?”

Dia kembali bertanya, kali ini sedikit lebih lembut dan menatapku heran.

Apa ini? Kenapa rasanya tidak ada udara di sekitarku?

“Hei, Ryo..”

Kali ini tangan mungilnya menggenggam lenganku. Jarak kami jadi semakin dekat, tatapan kami saling beradu.

Tanpa kuperintahkan, tanganku yang lain bergerak mendekapnya. Untuk beberapa detik kami berada di dalam posisi itu.

“Chinen Yuri,” ucapku lantang, mampu membuatnya sedikit kaget dengan perubahan sikapku.

“Ryosuke, kau tau ini di luar dan kau tidak perlu berteriak se~”

“Jadilah pacarku!” aku memotong perkataannya seketika.

Untuk beberapa detik dia tidak mengatakan apapun, hanya terdiam memandangku. Mungkinkah dia shock?! Tentu saja bodoh! Kau baru saja mengajaknya menjadi pacarmu dan melupakan status kalian yang sesama laki-laki!

“A.. ano..”

“Ryo-chan… kau… gay?” tanya Chinen dengan berhati-hati.

“Ha?” tanyaku tidak mengerti.

“Apa kau gay? Penyuka sesama pria?” Tetapi sepertinya dia tetap bersabar dan mengulang pertanyaannya.

Aku menggeleng, dan sebagai gantinya dia menyerit bingung.

Lihat itu, wajah bingungnya terlihat imut sekali.

“Jika kau bukan gay, lalu ada apa dengan pernyataanmu barusan?” tanyanya lagi.

Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak terasa gatal.

“Jika ditanya seperti itu… aku juga bingung menjawab seperti apa.” ujarku, “Selain padamu, aku tidak merasakan apapun saat melihat pria lain. Tapi kau berbeda, aku menyukaimu, semua hal di dirimu. Setiap melihatmu tersenyum, tertawa, atau hanya sekedar memanggil namaku, aku merasakan sesuatu menggelitik di dadaku dan napasku juga terkadang merasa sesak, tetapi aku menyukai sensasinya. menyenangkan. Tetapi tidak kurasakan saat melihat pria lainnya, jadi sepertinya aku bukan gay. Namun, karena aku merasakannya padamu dan kenyataannya bahwa kau juga seorang pria sepertiku, baiklah, aku menjadi gay hanya untukmu.” kataku.

Chinen terdiam di tempatnya. Aku tidak bisa membaca kira-kira apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Menunggu jawabannya entah kenapa membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat.

“Maafkan aku, aku hargai perasaanmu, Ryo-chan, tapi aku bukan seorang gay.” katanya sambil tersenyum tipis.

Aku menunduk. Sudah kuduga ini akan terjadi. Tapi mendengarnya langasung entah mengapa membuat dadaku menjadi sesak. Tapi bukan sesak yang menyenangkan seperti biasanya. Aku tidak suka ini.

“Tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu,” lanjutnya lagi.

Aku mengangkat kepalaku lagi dan memandangnya.

“Chi….nen..” lirihku.

“Bisa kau ajari aku caranya menyukaimu seperti kau menyukaiku?” tanyanya sambil tersenyum dengan lebar.

Senyuman yang seolah memberikan sengatan pada siapapun yang melihatnya ikut tersenyum. Sepertinya musim semiku masih belum berakhir.

 

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s