[Multichapter] TWISTED (#8)

1500683758191

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, I NEED YOUR COMMENT \(^o^)/

Yua menyusuri lorong lantai dua. Meskipun masih merupakan bagian rumahnya, tapi Yua jarang sekali berkeliaran ke daerah sini dikarenakan lantai dua adalah area kamar anak laki-laki. Tapi entah kenapa, hari ini lantai dua terasa sangat sepi. Atau memang biasanya begini?

“Masa’ sih mereka masih belum bangun semua?” pikir Yua. Dia mulai ragu-ragu untuk melanjutkan langkah. “Bagaimana kalau Taiga dan Chika juga masih …”

Ya. Yua sedang menyusuri lantai dua, menuju kamar Taiga, untuk mengecek apakah Chika sedang bersama pemuda itu? Saat membuka mata tadi, Yua sudah tidak mendapati sahabatnya itu di sampingnya. Bahkan setelah mencari ke seluruh penjuru rumah, Yua tetap tidak bisa menemukannya. Hal terakhir yang terlintas dalam benak Yua hanyalah, Chika menghilang karena sedang bersama Taiga. Karena Chika tidak pernah pulang atau sekedar meninggalkan rumah tanpa memberitahunya lebih dulu.

“Ah, kayaknya aku balik saja deh!” Yua berbalik tiba-tiba, tanpa sadar menabrak seseorang yang entah sejak kapan berada di belakangnya. Yua mendongak dan tersenyum lega saat mengetahui orang yang dia tabrak tidak lain adalah kakaknya. “Nii-chan, ngapain di sini? Ngagetin saja!” seru Yua seraya mengelus-elus dadanya.

“Harusnya aku yang tanya, kamu sedang apa di sini, Yua? Di depan kamar Taiga? Jangan-jangan kamu …”

“Aku mencari Chika!” sahut Yua secepatnya, memotong kata-kata Kouchi, tidak ingin kakaknya berpikiran macam-macam tentangnya dan Taiga. Kouchi tersenyum geli melihat reaksi Yua lalu mengelus manja kepala adiknya itu. “Nii-chan sendiri sedang apa?” tanya Yua.

“Kamu ini ya, kakaknya baru datang, bukannya kasih sambutan selamat datang malah ditanyain sedang apa?! Kamu tahu, bagaimana perasaanku saat masuk ke kamarmu tapi tidak bisa menemukanmu di sana? Aku mencari ke dapur, ke taman, tapi kamu tetap tidak ada. Aku pikir sudah terjadi apa-apa lagi denganmu, Yua.” Yugo menarik Yua ke dalam pelukan, merengkuhnya dengan posesif. “Syukurlah kamu baik-baik saja,” Kouchi menghela napas lega.

“Ngomong-ngomong, kenapa rumah sepi sekali? Di mana yang lainnya?” tanya Kouchi yang ternyata berpikiran sama dengan Yua. Yua mendongak memandang kakaknya, “Mungkin mereka masih tidur?” ucapnya. Kouchi mengangkat bahu, tidak yakin dengan tebakan Yua.

“Tunggu sebentar,” ucap Kouchi seraya melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kamar Hokuto. Kouchi membuka pintunya, tapi tidak melihat seorang pun di dalamnya. Lalu menuju kamar Juri, dan sama tidak ada orang juga di sana. “Sepertinya kita harus mengecek kamar Taiga,” tambahnya sambil menatap Yua. Yua mengangguk lalu mengikuti langkah kakaknya menuju kamar Taiga.

Kouchi dan Yua tidak melihat siapapun juga di sana. Tidak ada Taiga, tidak juga Chika. Kemana perginya semua orang?

Nii-chan, lihat itu!” Yua menunjuk ke arah sebuah kertas yang sepertinya sengaja di tempel Taiga, atau Chika, atau siapa saja lah, di rak dekat tangga. Yua telat menyadarinya karena tidak menyangka kalau kertas itu berpotensi menjadi pesan yang akan disampaikan oleh orang lain untuknya. Yua mengambil kertas itu lalu membacanya bersama Kouchi.

“Jadi mereka pergi joging dan meninggalkanku sendiri?” komentar Yua kesal setelah membaca pesan yang ditinggalkan teman-temannya, merasa ditinggalkan. “Bahkan Sora-nee juga pergi pagi sekali. Padahal ini akhir pekan,” tambahnya.

Kouchi sebenarnya tahu Sora pergi ke mana, karena gadis itu sudah menghubunginya tadi pagi. Tapi tidak biasanya Hokuto pergi tanpa memberitahunya lebih dulu. Apa benar tidak terjadi apa-apa? Apalagi Juri dan Chika sedang bersamanya. Kouchi selalu merasa kalau mereka bertiga mempunyai hubungan yang sangat rahasia, bahkan membuat Hokuto tidak membicarakan apa-apa kepada Kouchi, selaku tuannya. Bagaimana dengan Taiga? Apa dia juga bersama mereka? tanya Kouchi dalam hati karena Chika tidak menyebutkan nama Taiga di dalam surat yang ditinggalkannya.

“Yosh! Nii-chan mau sarapan apa? Aku akan membuatkannya.” Pertanyaan Yua berhasil membuyarkan lamunan Kouchi dan kembali menatap adiknya.

“Aku capek sekali. Aku pengen tidur dulu kayaknya. Ayo kita tidur lagi!” ucap Kouchi seraya menggendong tubuh mungil adiknya menuju ke kamarnya. Kouchi tidak mengindahkan protes Yua yang mengatakan kalau dirinya sangat lapar, malah mengunci bibir Yua dengan sebuah kecupan.

“Jangan protes dulu! Nanti bangun tidur kita beli makan di luar. Kamu boleh minta apa saja,” ucapnya. Yua menatap kakaknya dengan mata berbinar. “Janji ya, apa saja?” tanya Yua memastikan lagi kalau kakaknya akan benar-benar berjanji menuruti semua permintaannya. Kouchi mengangguk cepat untuk menyenangkan Yua. Sebenarnya dia hanya ingin pergi ke kamar secepatnya.

Tanpa mereka sadari, sesuatu telah terjadi di luar sana, tanpa sepengetahuan mereka.

*****

Taiga memandangi Chika, Juri dan Hokuto bergantian. Dia tahu kalau Hokuto mengetahui kebenaran tentang Chika, karena di masa depan dia adalah ayahnya. Tapi kenapa Juri juga?

“Karena untuk mencegah Juri kembali ke lembaga, aku harus mengatakan yang sebenarnya untuk meyakinkannya dan mau tinggal di rumah Kouchi,” jelas Chika.

“Jadi, dari awal kalian bertiga sudah tahu kalau saya berencana melenyapkan Yua?” Juri mengangguk, tapi Hokuto menggeleng, secara bersamaan.

“Chika memang mengatakan kalau dia datang dari masa depan dan menjelaskan kalau dia anakku. Dia juga mengatakan kalau sedang menjalankan misi untuk melindungi Yua sebagai klan Matsumura. Jadi aku hanya mengatakan kalau dia bisa meminta bantuanku kapan saja tanpa bertanya lebih jauh, karena begitulah cara kerja kami,” jelas Hokuto.

Taiga mulai mengerti, mengapa selama ini Juri da Hokuto sangat terikat dengan Chika meskipun sebenranya yang harus mereka lindungi adalah Yua. Tiba-tiba Taiga teringat tentang hubungan Hokuto dan Sora yang seharusnya, dan sekarang kenapa harus ada Juri di antara mereka?

“Berarti tentang Sora-san, harusnya Tanaka-san …” Taiga sengaja menggantung pertanyaannya. Sebenarnya dia tidak bermaksud menanyakan hal itu saat ini. Tapi saat melihat Hokuto dan Juri jalan bersama, mau tidak mau tadi jadi memikirkannya. Sebab kalau Juri tahu semuanya, harusnya dia tahu perasaan Hokuto dan tidak akan berani merebut Sora darinya. Bagimanapun, mereka cukup dekat, bukan?

Stop. Jangan bahas itu dulu, Taiga! Karena sampai sekarang aku juga belum bisa memaafkannya.” Chika menatap Juri galak. “Tapi sekarang, kita semua di sini untuk membahas tentang langkah selanjutnya yang akan kita ambil. Setelah kamu gagal menjalankan misi, kamu tidak berpikir kalau pemerintah akan diam saja, bukan? Karena itu, mulai hari ini kamu sudah tidak bisa tinggal lagi di rumah keluarga Kouchi,” jelas Chika mengalihkan topik pembicaraan Taiga.

“Tentu saja saya paham akan hal itu. Bahkan sampai detik ini saya masih sedikit meragukan keputusan saya,” gerutu Taiga. “Tapi, bukannya kamu berniat untuk menunjukkan kalau Profesor Kouchi masih hidup, Chika-san?” tambahnya, mengingatkan Chika akan kesepakan yang mereka buat.

“Apa kamu pikir akan mudah pergi ke lembaga dan menemuinya seperti tidak terjadi apa-apa?” tanya Chika. Taiga terkesiap mendengar pertanyaan Chika. “Lembaga?” tanya Taiga, mengulangi pernyataan Chika. Meskipun dia yakin tidak salah mendengarnya, tapi Taiga ragu kalau Profesor Kouchi ada di sana. Karena selama ini, Taiga selalu berada di lembaga dan belum pernah sekalipun bertemu dengannya.

Chika mengangguk. Dia tahu kalau Taiga tidak akan mudah mempercayainya, tapi bagaimanapun dia harus menjelaskannya. “Apa kamu ingat ceritaku kalau kamu di masa depan mendengar ayahmu berbicara dengan Profesor Kouchi di lembaga? Taiga tidak menjelaskan Profesor Kouchi yang ditemui seperti apa, karena dia pergi setelah mendengarkan percakapan mereka secara diam-diam. Tapi berbeda denganku, aku melihatnya, tidak cuma mendengarnya,” Chika menatap tajam Taiga.

“Pria berbalut perban yang tinggal di lembaga, dialah Profesor Kouchi,” jelas Chika, berhasil membuat Taiga membelalakkan mata. “Kamu pasti bercanda!” seru Taiga tidak percaya.

“Dia itu Profesor Tenma! Dia mengalami kecelakaan di lab saat mencoba menyelamatkan ayah saya. Makanya, saya berhutang budi padanya.”

“Dan makanya, kamu menurut begitu saja saat dia menyuruhmu untuk melenyapkan Yua?” potong Chika lagi, berhasil membuat Taiga diam seketika.

“Apa kamu pernah bertemu dengan Profesor Tenma sebelum kecelakaan? Atau kamu baru mengenalnya setelah dia dibalut perban?” Chika menoleh ke arah Juri. “Tanyalah pada Juri, di mana sekarang Profesor Tenma!” pinta Chika kepada Taiga.

Tanpa diminta pun, Juri menjelaskan dengan suka rela, karena akhirnya dia mendapatkan peran untuk bicara. Masa’ daritadi disebut mulu tapi tidak dapat dialog? Haha

“Profesor Tenma ikut serta dalam kecelakaan yang menewaskan Profesor Kouchi dan istrinya bersama ayahku, tapi tidak ada yang mengetahuinya. Jasad yang diidentifikasi sebagai Profesor Kouchi sebenarnya adalah Profesor Tenma. Ayahku yang mengetahui semua itu difitnah telah melakukan pembunuhan berencana sehingga membuat pemerintah menjebloskannya ke penjara. Semua itu tertulis di agenda ayahku yang dia berikan pada ibuku. Aku menemukannya saat mengecek barang-barang berharga yang disimpan ibuku, setelah kematiannya,” jelas Juri.

Taiga menatap Juri. Tidak ada kebohongan di matanya, bahkan pemuda itu cukup sedih saat mengatakannya. Bagaimana tidak? Dia harus menceritakan tentang nasib buruk yang dialami keluarganya. Mau tidak mau, Taiga akhirnya percaya. “Lalu apa selanjutnya rencana kita?”

“Untuk sementara, kami harus menyembunyikanmu. Kami sudah menghubungi Lewis-sensei dan dia bersedia menampungmu. Sedangkan urusan Profesor Kouchi, biar Jesse yang mengurusnya. Dia juga sudah mengetahui tentang hal ini dengan kemampuannya sendiri,” jelas Hokuto ganti mengambil alih.

“Ngomong-ngomong soal Jesse-san. Bukannya dia datang bersamamu dari masa depan, Chika-san? Tapi mengapa dia seperti tidak tahu apa-apa bahkan mencurigai saya di kejadian yang dulu? Ya, meskipun itu wajar sih, karena memang saya pelakunya.”

“Jesse-senpai tidak tahu apa-apa. Bahkan dia tidak mengenal Taiga. Tujuannya pergi ke dunia ini hanya untuk mendampingiku dan bersahabat dengan Kouchi-senpai. Itu saja. Tapi aku yakin, dengan kemampuannya, sebenarnya dia sudah bisa menebak semua. Karena itu dia terus mengawasimu, karena takut kalau aku akan gagal menjalankan misiku,” jelas Chika kepada Taiga.

“Sekarang, Juri akan mengantarmu ke tempat Lewis-sensei. Aku dan Chika harus kembali ke rumah, karena kami harus melindungi Yua dan Kouchi. Setelah mendengar kabar dari Jesse, kami akan segera menemuimu lagi,” tegas Hokuto kepada Taiga. Setelah melihat Hokuto dan Chika berjalan pergi, Taiga mengikuti Juri pergi ke tempat Lewis-sensei sebagai tempat persembunyiannya sementara.

*****

“Hei, sudah sampai. Ini rumahnya,” ucap Shintaro kepada seorang anak laki-laki yang tadi tidak sengaja ditemuinya di jalan. Anak itu membawa secarik kertas yang menunjukkan alamat rumah Yua. Karena kebetulan dia juga mau ke sana, jadi sekalian saja anak itu dia bawa.

Tapi bukannya menjawab, anak itu malah celingukan, seperti bingung dengan apa yang harus dia lakukan. “Sebenarnya siapa sih yang kamu cari? Apa kamu kerabat keluarga Kouchi? Atau mungkin kamu kerabat Hideyoshi-senpai, Juri atau Taiga?” Mendengar pertanyaan Shintaro, anak itu membelalakkan mata, seolah Shintaro telah mengatakan hal yang tidak sesuai harapannya.

“Chika. Bukannya Chika tinggal di sini juga?” tanya anak itu, untuk pertama kalinya berbicara. Shintaro tertegun, tidak menyangka kalau anak itu akan mencari Chika. Apa sebenarnya hubungan mereka?

Eh, bukannya dulu pertama Chika muncul juga di depan rumah Yua, sebelum akhirnya dia sampai ke rumahku? Jangan-jangan, anak ini sama sepertinya, berasal dari tempat yang sama? Pikir Shintaro mulai berspekulasi. “Apa hubunganmu dengan Chika?”

Lagi-lagi anak itu kembali diam setelah tahu kalau dia tidak bisa bertemu Chika. Saat anak itu hendak beranjak pergi, Shintaro dengan cepat menarik tangannya. “Kalau kamu mau bertemu Chika, tunggu saja. Semalam dia memang menginap di sini. Tapi dia tinggal bersamaku. Bahkan aku datang ke sini sekarang, dengan tujuan menjemputnya pulang,” jelas Shintaro untuk menahannya pergi.

Usaha Shintaro berhasil menghentikan anak itu, yang kini berbalik menatapnya. “Chika tinggal denganmu? Harusnya aku tahu kalau dia bukan perempuan baik-baik. Menyesal aku memperca …” sebuah tonjokan (hanya pelan kok) mampir ke wajah anak itu, bahkan sebelum dia menyelesaikan kata-katanya. Shintaro melepas genggaman tangannya yang menahan anak itu untuk pergi.

“Pergilah! Memang sebaiknya kamu tidak perlu bertemu Chika. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya dengan kata-katamu,” ucap Shintaro mengusir anak itu pergi dari hadapannya. Tapi terlambat. Karena Chika dan Hokuto sudah datang dan sedang berjalan ke arah mereka berdua.

“Taiki? Sedang apa kamu di sini?” tanya Chika penuh curiga saat melihat Taiki sedang berdiri di depan rumah Yua bersama Shintaro, bukannya di lembaga. Taiki memandang Chika dengan tatapan tidak suka, terlebih saat melihat pria lain lagi yang sedang berjalan dengannya. Taiki membuang muka. Lah? Kenapa dia?

“Kalau kamu mencari Taiga, kamu tidak akan bisa menemukannya. Dia sudah pergi. Sebaiknya kamu juga pergilah sebelum usahamu sia-sia,” usir Chika tanpa basa-basi. Jujur saja, Chika curiga kalau Taiki dikirim oleh pihak lembaga untuk menjemput Taiga agar mereka bisa melenyapkannya karena Taiga gagal menjalankan misinya.

Nii-chan pergi? Ke mana? Bagaimana dengan misinya?” tanya Taiki heboh sendiri. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang Taiga yang batal membunuh Yua. Mungkin dia datang karena kemauannya sendiri? Tapi aku tidak bisa mempercayainya begitu saja. Bisa saja ini hanya triknya untuk memancingku mengatakan di mana Taiga berada.

Chika menoleh ke arah Hokuto lalu beralih ke arah Shintaro seolah memberi kode Hokuto untuk mengajak Shintaro meninggalkan mereka berdua. “Shin …”

“Kamu harus membatalkan misi itu, Chika! Nii-chan tidak boleh melakukannya atau dia akan menyesal selamanya!” teriak Taiki sebelum sempat Hokuto mengajak Shintaro pergi. Ketiganya terperanjat, bahkan bagi Chika yang tahu betul tentang apa yang sedang dibicarakan Taiki. “Tai …”

“Profesor Kouchi menjebaknya! Dia masih hidup! Dia bersembunyi di balik perban sebagai Profesor Tenma. Dia …” Chika buru-buru mendekati Taiki dan membekap mulutnya, mencegahnya untuk bicara lebih banyak lagi. Tidak di tempat umum seperti ini. “Diamlah Taiki! Aku sudah tahu dan aku sudah berhasil menggagalkan misinya. Sekarang kamu tenanglah dulu,” bisik Chika tepat di telinga Taiki, berharap Shintaro tidak bisa mendengarnya.

Shintaro tampak kebingungan dengan apa yang dibicarakan Taiki. Dia menatap Hokuto dan Chika secara bergantian. “Profesor Kouchi? Ayah Yua masih hidup? Bagaimana bisa?” tanya Shintaro kepada keduanya.

Hokuto berdeham pelan, lalu berkata, “Ceritanya sangat panjang Shintaro. Maaf karena selama ini kami merahasiakannya darimu, karena kami merasa akan sulit bagimu mempercayainya. Tapi sepertinya memang seharusnya kamu tahu semuanya, karena bagaimana pun kamu orang penting bagi Chika dan Yua,” ucap Hokuto mulai menjelaskan. “Jadi sebenarnya Chi …”

“Tunggu dulu, senpai!” Chika mencegah Hokuto melanjutkan penjelasannya. Dia menarik tudung jaket Taiki dan menemukan sebuah penyadap di sana. Chika mengambil benda itu lalu membantingnya ke tanah dan menghancurkannya. “Sial!”

Chika menoleh ke arah Taiki dan menatapnya tajam, “Taiki, katakan padaku, kamu datang ke sini untuk Taiga atau untuk lembaga?”

“Apa maksud pertanyaanmu, Chika? Tentu saja untuk nii-chan,” jawabnya. Chika tahu, Taiki yang dia kenal memangh akan melakukan apa saja untuk Taiga. Tapi Chika tidak terlalu mengenal Taiki yang sekarang ada di depannya. Bisa saja, karena kehadiran Chika, Taiki di dimensi ini menjadi berbeda, kan? Tapi Chika membuang jauh-jauh pikirannya, karena tahu Taiga akan membencinya kalau sampai tahu dia tidak mempercayai adiknya. Baiklah, tidak ada pilihan lain.

Chika menoleh ke arah Hokuto. “Senpai, tidak butuh waktu lama untuk pihak lembaga mengirimkan pasukannya ke sini. Sebaiknya kalian memindahkan Yua dan Kouchi-senpai secepatnya. Aku akan membawa Taiki ke tempat Taiga.”

“Shintaro, pergilah dengan Chika. Lindungilah dia,” ucap Hokuto mengabaikan perintah Chika. “Tapi senpai …”

“Aku dan Kouchi cukup kuat untuk melindungi Yua. Pergilah, kita akan bertemu lagi di sana,” ucap Hokuto tegas, berhasil membuat Chika tidak lagi membantahnya. Hokuto menoleh ke arah Shintaro sekali lagi, “Sekali lagi aku minta maaf padamu, Shintaro. Kamu pasti masih bingung dengan apa yang terjadi. Chika akan menjelaskan semua setibanya di tempat aman nanti.”

“Dan kamu Chika, jangan lupa kabari Jesse tentang kejadian ini. Sampai ketemu nanti.” Hokuto berjalan pergi, masuk ke rumah untuk menemui Kouchi dan Yua.

Chika mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi, dia mengajak Shintaro dan Taiki pergi. Semua akan baik-baik saja, ucapnya dalam hati.

*****

Chise membolak-balik buku yang tadi dambilnya dengan sembarangan. Chise pikir, karena buku itu dia ambil di bagian science fiction, isinya akan lebih keren, tentang time leap misalnya. Eh, ternyata tidak jauh dari cinta-cintaan juga. Banyak drama pula!

“Bukunya kok cuma dibolak-balik aja?” tanya seseorang yang membuat Chise mendongakkan kepala. “Sorry telat. Tadi sedikit lupa jalan soalnya,” jelasnya meminta maaf.

Chise memandangi pemuda yang sedang berdiri di depannya. Meski penuh keringat, tapi malah menambah kegantengannya. Duh Chise, ngapain sih kamu lama-lama ngegantungin dia?!!!

“Minum dulu, Jesse-kun. Ini tadi aku bawa orange juice dari rumah,” ucap Chise seraya mengulurkan tumblr miliknya kepada Jesse dan menyuruh pemuda itu untuk duduk dulu karena terlihat sangat kelelahan. Jesse menerimanya dengan suka cita.

Indirect kiss,” goda Jesse setelah meminum orange juice dari tumblr yang sama dengan Chise, berhasil membuat wajah Chise bersemu merah. Ih, apaan sih? Padahal receh banget, tapi aku bisa seneng banget dengernya! Chise hanya mengatakannya dalam hati, karena di realita, dia harus tetap jaga imej di depan Jesse, sehingga dia memilih pura-pura membaca buku dan mengabaikannya.

“Baca apa sih? Kok kayaknya kamu tidak suka?” tanya Jesse, yang jelas-jelas memberikan tanda kalau dia tahu Chise hanya pura-pura membaca. “Hmmm, fiksi. Awalnya aku tertarik karena ada di bagian science-fiction. Tapi begitu dibaca, ternyata banyak romance­-nya. Aku tidak terlalu suka baca genre ini, mungkin kalau Chika bakal bilang ini bagus,” jelas Chise. Jesse malah tertawa mendengar penjelasannya.

“Kamu itu, di luar saja terlihat tidak peduli sama Chika. Tapi aslinya perhatian juga ya,” komentar Jesse berhasil membuat Chise mengalihkan wajah untuk menatap pemuda itu dan membalas komentarnya. “Siapa juga yang peduli sama Chika? Dia itu ngeselin dan selalu ngerebut perhatian Yua dariku, aku benci dia!” sembur Chise dengan suara cukup keras membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.

“Sssst, kita lagi di perpustakaan Chise,” ujar Jesse mengingatkan Chise. “Maaf ya. Padahal kita sudah lama tidak bertemu, tapi sekalinya bertemu malah di perpustakaan. Dan lagi, di sela-sela janjiku dengan orang lain. Maafkan aku, Chise,” pinta Jesse dengan puppy eyes, yang semakin membuat hati Chise luluh.

Tidak masalah kok, Jesse-kun. Meski cuma sebentar, ketemu sama kamu sudah benar-benar menjadi pengobat rindu. Apalagi setelah yang dilakukan Juri-kun dengan Hideyoshi-senpai, aku benar-benar membutuhkanmu di sisiku, meski cuma sebentar. Sekali lagi, Chise hanya akan mengatakannya dalam hati, pada kenyataannya dia hanya menjawab, “Tidak apa-apa. Lagipula perpustakaan ini letaknya dekat dengan rumahku.”

Tentu saja Jesse tahu kalau Chise lagi-lagi berbohong. Karena bukan hanya sekali, Jesse pernah ke rumah Chise, dan tahu betul kalau rumahnya cukup jauh dari perpustakaan tempat mereka bertemu. “Chise, kamu manis sekali sih? Boleh tidak ku peluk?” pinta Jesse manja seraya mengulurkan kedua tangannya seolah mengundang Chise untuk datang padanya.

Chise berdecak. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia ingin pergi ke dalam rengkuhan pemuda di depannya. Tapi masalahnya, Chise kan belum memberikan jawaban pada pemuda itu, jadi gengsi lah. Dan yang kedua, tidak mungkin banget kan mereka peluk-pelukan di perpustakaan? Yang ada, mereka bakal diusir sebelum Jesse bertemu dengan orang yang harus ditemuinya.

“Ngomong-ngomong, Jesse-kun janjian sama siapa? Apa tidak apa-apa kalau aku ikut juga?” tanya Chise hati-hati, tidak mau terdengar seperti terlalu ingin tahu dengan siapa Jesse membuat janji.

“Tidak apa-apa, kok. Lagipula aku memang mau menunjukkan padanya kalau aku sudah punya pacar yang cantik bernama Nagisawa Chise,” kata Jesse, lagi-lagi menggoda Chise. Chise tidak berniat menanggapinya, sehingga kali ini pura-pura mengecek ponselnya.

“Eh? Jadi beneran nih kalo sekarang kita resmi pacaran?”

“Hah? Sejak kapan?” seru Chise kaget dengan ucapan Jesse. Yang ada senyum Jesse semakin lebar melihat reaksinya.

“Karena tadi kamu tidak mengelaknya, Chise sayang. Jadi mulai hari ini kita resmi pacaran, ya?” bujuk Jesse, berharap sang pujaan hati tidak lagi menolaknya.

“Terserah.”

Meskipun Chise belum mengatakan iya, tapi kata “terserah” cukup membuat Jesse melonjak dari kursinya. Dia tidak menyangka kalau Chise tidak lagi membuat alasan untuk menunda peresmian hubungan mereka.

“Makan dulu yuk? Aku traktir sebagai peringatan hari pertama kita kencan setelah jadian! Nanti kita bisa kembali lagi ke sini. Lagipula aku lapar sekali!” ajak Jesse menarik tangan Chise tanpa menunggu jawabannya. Jesse terlalu senang untuk peduli dengan janjinya. Chise hanya geleng-geleng melihat tingkah Jesse, tapi tidak menolak dan mengikutinya dengan perasaan berbunga-bunga juga.

*****

Sora sudah mengecek ke setiap bagian perpustakaan, tapi dia belum melihat orang yang dicarinya. Sehingga dia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku pengunjung, karena dia sedang tidak ada jam kerja.

“Ini masih ada yang baca ya?” Sora celingukan mencari orang yang meninggalkan sebuah buku di meja, tapi tidak ada siapa-siapa. “Heran deh sama pengunjung jaman sekarang! Tinggal taruh di troli saja, apa susahnya sih? Toh mereka tidak di suruh mengembalikan ke tempat asal!” gerutu Sora. Dia selalu kesal kalau ada pengunjung yang seenaknya. Coba saja kalau dia yang jaga, Sora pasti akan menegurnya.

“Mmm, ngomong-ngomong buku apa sih ini? Sepertinya aku belum pernah baca.” Sora mulai membaca buku yang dipegangnya karena rasa penasaran. Jemarinya membuka setiap lembar dan menelusuri setiap tulisan dengan cermat.

Sora memang sedang membaca cerita fiksi, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mulai dia pahami. “Tunggu dulu, bagian ini …” Sora menilik sekali lagi bagian yang baru dia baca. Dengan cekatan Sora mengeluarkan buku catatan miliknya dan sebuah pena, lalu mulai menorehkan beberapa tulisan di sana.

“Keadaan ini cocok sekali. Padahal buku ini cuma fiksi,” gumam Sora. Dia terus membaca dan sesekali membuat catatan. Sampai akhirnya orang yang ditunggunya pun tiba. “Sora, maaf membuatmu menunggu lama.”

Sora mendongak sebentar, “Nanggung. Tinggal sedikit lagi,” sahutnya, lalu melanjutkan membaca.

“Lho, bukannya itu buku yang tadi kutinggalkan?” Sora mendongak sekali lagi, baru sadar kalau ada Chise juga di sebelah Jesse. “Kalian sudah membacanya?” tanya Sora. Jesse dan Chise menggeleng bersamaan.

“Aku baru membaca satu chapter, tapi sudah bosan. Jadi tidak ku lanjutkan membaca. Memang ada yang menarik ya, senpai?” tanya Chise. Chise tahu, Sora bukan tipe yang suka membaca fiksi, dia lebih suka membaca tentang ilmu-ilmu pemerintah dan hal-hal yang berbau ilmiah. Masa’ sih ada yang menarik dari fiksi science-fiksi berbau cinta-cintaan itu?

Pandangan Sora beralih pada Jesse, tapi pemuda itu juga menjawab kalau dia tidak membaca. “Mungkin kamu tidak akan percaya. Tapi semua yang ada di buku ini, kurang lebih sama dengan keadaan Yua,” jelas Sora. Berhasil membuat Jesse membelalakkan mata dan Chise hanya memandangi keduanya tidak mengerti. Dia pun bertanya, “Keadaan Yua?”

Jesse dan Sora tidak menjawab. Keduanya sama-sama dilema, apakah harus memberitahu Chise atau tidak? Tapi bukannya Chise juga sangat mengkhawatirkan Yua?

“Jangan bilang, kalian janjian bertemu di sini, sengaja untuk membahas tentang Yua? Kalau begitu beritahu aku juga! Aku akan membantu kalian sebisaku. Aku juga akan melakukan apapun untuk Yua!” seru Chise dengan suara tertahan. Dia sengaja mengecilkan suara, tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dan mengundang perhatian pengunjung yang lainnya.

“Baiklah, kami akan melibatkanmu juga dalam penelitan ini. Tapi kamu harus berjanji tidak akan pernah membocorkannya ke siapapun juga,” ujar Sora. Chise mengangguk mantap, tidak ada sedikit keraguan pun di dirinya. Karena hal ini menyangkut sahabat yang paling disayanginya, Chise juga ingin berguna untuknya.

“Aku tidak bisa menjelaskan dari awal, tapi cobalah dengarkan dulu. Kalau ada yang tidak kamu pahami, silahkan tanyakan. Jadi dalam buku ini …” belum sempat Sora menjelaskan, ponselnya dan ponsel Jesse bergetar di saat yang bersamaan.

Sora melihat nama Hokuto di layar ponselnya. Dia langsung meletakkan kembali ponselnya begitu saja. Sedangkan Jesse, Chika lah yang sedang mencoba menghubunginya. “Chika yang menelpon. Aku harus mengangkatnya. Siapa tahu penting, kan?” ucapnya, lalu menerima telepon dari Chika.

“Iya, Chika. Ada apa?”

Senpai, kami semua sekarang sedang ada di rumahmu. Matsumura-senpai sedang menjemput Kouchi-senpai dan Yua. Apa Hideyoshi-senpai ada bersamamu? Kalau iya, bawalah dia juga. Kita harus mulai menyusun rencana.” Jesse menaikkan sebelah alisnya, tidak terlalu mengerti dengan maksud Chika. Mengapa semua orang ada di rumahnya?

“Apa yang terjadi sebenarnya, Chika?” sekali lagi Jesse memperjelas pertanyaannya.

“Aku berhasil menggagalkan misi Taiga melenyapkan Yua. Sekarang pihak lembaga pasti berniat untuk memburu Taiga juga. Bukankah senpai sebenarnya sudah mengetahui detailnya tanpa harus kujelaskan lagi? Senpai ingat kan siapa yang sebenarnya mengirim kita ke dimensi ini? Ya, orang itu, Kyomoto Taiga. Untuk menyelamatkan Yua dan semua teman-temannya. Jadi, kita harus menyusun rencana berikutnya. Kami membutuhkanmu, senpai. Cepatlah datang!” Chika mengakhiri teleponnya, bahkan sebelum Jesse sempat mengungkapkan apa yang dipikirkannya. (Chika banget kan? Hahaha)

Kepala Jesse tiba-tiba sakit. Sebuah ingatan yang sudah lama tersimpan, mulai membanjiri pikirannya. Agh,

“Jesse-kun, kamu kenapa? Apa yang dikatakan Chika?” tanya Chise tampak khawatir. Baru pertama kali ini Chise melihat Jesse terlihat begitu kesakitan.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Jesse, mencoba tersenyum di sela rasa sakitnya agar membuat Chise tidak mengkhawatirkannya. Lalu dia berpaling kepada Sora, “Sora, sebaiknya kita pergi dulu sekarang. Apapun yang kamu ketahui, kita jelaskan di depan semua orang. Ayo!”

Jesse bersama kedua gadis itu meninggalkan perpustakaan. Tapi di perjalanan menuju parkiran, mereka melihat sekelompok orang sudah menunggu di dekat mobil Jesse. “Ouh, sial. Sepertinya kita harus memutar jalan.”

Saat ketiganya berbalik, di area depan perpustakaan juga sudah dipenuhi pria-pria berjas hitam. Jesse, Sora dan Chise tidak tahu apakah mereka juga pengejar, tapi pilihan terbaik adalah menghindar. “Masuk sini!” ajak Sora kepada kedua temannya untuk masuk ke ruang perawatan yang paling dekat dengan mereka.

“Sebaiknya kita ganti baju dulu, lalu masuk ke perpustakaan lagi. Aku tahu ada jalan pintas menuju belakang gedung di dekat tangga bagian filosofi.” Jesse dan Chise tidak mempunyai pilihan selain mengikuti instruksi Sora.

Dengan ide Sora, akhirnya mereka bisa sampai ke belakang gedung perpustakaan tanpa ketahuan. Lalu mereka hendak melanjutkan perjalanan saat ponsel Jesse kembali berbunyi. “Chika,” ucap Jesse kepada kedua temannya, lalu mengangkatnya.

“Iya, Chika?”

“Senpai, jangan ke sini! Carilah tempat aman, kita akan mengatur pertemuan nanti. Jaga diri kalian!” lagi-lagi Chika mengakhiri telepon tanpa Jesse sempat mengatakan apa-apa.

“Ada apa?” tanya Sora dan Chise kompakan. “Kita harus mencari tempat aman untuk bersembunyi. Apa kalian ada ide?” tanya Jesse. Chise mengusulkan rumahnya, tapi Jesse menolak. Dia tidak ingin melibatkan mama Chise ataupun adik-adik asuhnya, sehingga sebaiknya mereka tidak pergi ke sana.

“Ah, pamanku punya gudang yang sudah tak terpakai di daerah dekat sini. Mungkin kita bisa menjadikannya markas sementara?” tawar Chise, mengusulkan ide keduanya. “Tenang saja. Tidak akan ada yang datang ke sana. Keadaanya sudah rusak parah,” jelas Chise menambahi.

Jesse dan Sora saling berpandangan. Sepertinya mereka memang tidak punya pilihan lain selain pergi ke gudang milik paman Chise. “Baiklah, untuk sementara kita akan pergi ke sana.” lalu ketiganya pun pergi secepatnya.

 

to be continued …

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s