[Oneshot] Fake Love

Fake Love
by. Shiina Hikari
Cast: Yamada Ryosuke (HSJ), Chinen Yuri (HSJ), Yaotome Hikaru (HSJ), Yabu Kota (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Fuyumi Yuki (OC), Yukimura Yurina (OC), Inoo Hikari (OC)
Genre: Friendship, romance
Rating: PG-16
Setelah lama vakum dari nulis ff karena kesibukan kuliah dan kendala laptop yang rusak, akhirnya ff yg ditulis dari bulan September ini selesai juga. (T^T)
Semoga kalian suka. ^^

Musim semi telah datang. Bunga bermekaran, sinar matahari yang menghangat menjadi pemandangan yang sangat menenangkan. Aku berjalan menyusuri jalan setapak sambil menikmati aroma khas bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan. Sepanjang jalan menuju sekolahku tertanam banyak pohon sakura. Seragam baru yang tidak terlalu tebal dengan syal yang masih melingkari leher menjadi pelengkap seragam sekolah yang aku kenakan.

“Yo Hikari!”

Aku melihat kearah seorang pria berambut pirang kecoklatan dengan senyuman khas di wajahnya. Senyuman yang menenangkan dan hangat. Aku membalas sapaan pria itu sambil tersenyum manis, Pria itu menghampiriku dan membalas senyumanku sembari mengusap kepalaku pelan. Saat-saat yang menyenangkan karena dia adalah teman baikku.

“Nani yo? Jangan menatapku seperti itu. Kamu mengerikan.” ucapnya sambil tertawa renyah.

Pria itu mendorongku sampai aku hampir terjatuh. Untungnya aku cukup sigap dan membalasnya dengan satu pukulan yang lumayan kuat di lengannya.

“Ittaii, ittaii…” rintihnya.

“Ohayou…”

Perhatianku teralih dari Hikaru dan melihat kearah dua gadis cantik nan manis berjalan kearah kami. Kedua gadis itu sangat populer di kalangan pria.

“Ohayou Yuri, Yuki.” Ucapku sambil tersenyum manis.

Yukimura Yurina. Gadis berkacamata dengan rambut sebahu yang terkesan sangat elegan dan manis. Dia adalah sahabat baikku sekaligus teman pertamaku. Sedangkan Fuyumi Yuki adalah gadis cantik dengan paras cantik dan rambut sepunggung juga sahabat baikku. Yuki terkenal sangat populer di kalangan pria sebagai gadis tercantik, sedangkan Yuri terkenal sebagai gadis yang kalem dan sopan.

“Aku merasa sangat bangga dengan kedua sahabatku.” Ucapku sambil tersenyum.

“Kamu ini bicara apa? Kamu juga punya kelebihan kok.” Ucap Hikaru sambil menjitak kepalaku.

Dan Yaotome Hikaru. Pria kharismatik dengan gigi gingsul yang menghiasi senyumnya merupakan pemuda tampan yang memiliki senyuman maut yang selalu diidolakan para gadis. Sedangkan aku Hikari, hanya gadis biasa dengan rambut panjang melebihi pungggung. Aku tidak cocok memiliki pony, jadi terkadang teman sekelas memanggilku sadako jika ponyku aku ke depankan. Karena rambutku terlalu panjang, aku terbiasa mengepang rambutku. Gaya berpakaianku juga terkesan biasa dan lebih terlihat norak.

“Kalian pagi-pagi sudah bertengkar. Jangan lakukan itu di tengah jalan.” omel Yuki.

Aku hanya tersenyum mendengar omelan Yuki sambil melihat wajahnya yang memerah karena kedinginan. Aku memang termasuk anak yang tomboy. Aku tidak takut dengan laki-laki dan suka membela orang yang tertindas.

“Gomen Yuki-chan… Aku tidak sengaja.” Ucap Hikaru sambil tersenyum jahil.

Aku menatap kearah wajah Hikaru. Memerah lagi. Wajahnya memerah bukan karena dia kedinginan tapi karena dia menyukai Yuki.

“Yuri-chan!!”

Seorang pria pendek dengan pipi agak chubby datang lalu menggandeng tangan Yuri.

“Yuri-kun!” sapa Yuri sambil tersenyum.

Chinen Yuri. Pria pendek yang merupakan pelari tercepat di sekolah dengan senyuman malaikat kecil yang bisa melumpuhkan semua gadis dengan sekali senyuman. Dia adalah pacar Yuri. Satu hal yang teringat olehku saat melihat kedua pasangan ini. Pantai. Tempat paling romantis yang paling disukai para gadis. Chinen menembak Yuri saat kami sedang berlibur ke pulau keluarganya. Sunset, sebuah cincin, dan pangeran yang berlutut dihadapanmu. Siapa gadis yang tidak akan meleleh jika diperlakukan seindah itu? Mereka pun mulai berpacaran sejak saat itu.

“Yuki-chan!!!”

Tiba-tiba datang seorang pria yang memeluk Yuki dari belakang.

“Ryo-kun…” ucap Yuki sambil tersenyum manis.

Yamada Ryosuke. Pemuda yang tidak terlalu tinggi dengan rambut hitam kecoklatan, dia adalah pacar Yuki. Mereka sudah berpacaran selama 1 tahun. Yamada menembaknya di halaman sekolah dengan membawa buket bunga kesukaan Yuki dengan sangat romantis. Siapapun tidak bisa melupakan kejadian paling romantis di sekolah kami dan sejak saat itu mereka mulai berpacaran.

“Omae da… Jangan bermesraan dihadapan seorang single sepertiku.” Ucap Hikaru sambil mengusap kepala Yamada dan Chinen.

Hikaru tertawa lepas dengan kedua temannya itu. Tapi tidak akan ada yang menyadari tatapan Hikaru yang sebenanya. Tatapan sedih Hikaru saat melihat kearah Yuki dan Yamada bersama. Dengan senyuman yang selalu terpancar dari wajah manisnya, siapapun pasti tidak akan menyadari kalau Hikaru juga bisa bersedih dibalik senyuman yang sekarang menghiasi wajahnya. Lebih tepatnya dia cemburu.

Ya…
Seorang Yaotome Hikaru mempunyai perasaan terdalam kepada Fuyumi Yuki yang selalu ia sembunyikan. Perasaan yang tidak pernah ia katakan. Perasaan yang tidak pernah dia ekspresikan atau ia beritahukan kepada teman-temannya. Sebagai sahabat baiknya, aku selalu tahu apa yang dia rasakan melalui tatapan matanya. Memang terdengar aneh, tapi seperti itulah aku bisa mengetahui perasaan Hikaru yang bersembunyi dibalik wajah cerianya.

“Hora! Jangan mengganggu mereka! Sebaiknya kita cepat, kalau tidak, kita akan terlambat.” Ucapku sambil menarik telinga Hikaru.

“Ittaii… ittaii…” rintihnya.

“Hikaru! Ayo berlomba denganku kalau aku sampai ke kelas duluan, kamu akan mentraktirku 5 gelas parfait!” ucapku sambil menunjuk kearah Hikaru.

“Yosh!! Aku tidak akan kalah!” ucap Hikaru sambil bersemangat.

“Mulai!” ucapku sambil berlari mendahului Hikaru.

“Hoy!! Kamu curang!!” ucap Hikaru sambil berlari mengejarku.

Kedua pasangan itu hanya tertawa melihat tingkah konyol kami. Itu hanya salah satu caraku untuk menghibur Hikaru. Aku tidak ingin melihatnya tersenyum dengan wajah sedih seperti itu. Aku hanya ingin melihat Hikaru tersenyum tulus. Hanya itu…

***

Aku berjalan keluar kelas bersama Yuki dan Yuri.

“Kemarin aku lihat rok yang manis.” Ucap Yuki.

“Benarkah? Mungkin kita harus pergi membelinya.” Jawab Yuri dengan senang.

Aku hanya menyimak pembicaraan mereka sambil tersenyum. Sesekali aku membaca buku yang aku pinjam di perpustakaan.

“Oy! Baka onna! Apa aku harus mentraktirmu parfait hari ini juga??” tanya Hikaru sambil menarik rambut panjangku yang aku kepang.

Yuri langsung melepaskan tangan Hikaru dan mengomelinya.

“Hey! Rambut itu mahkota perempuan! Sopanlah sedikit! Neechan kan juga perempuan. Jangan memperlakukannya seenaknya.” omel Yuri.

“Sudah Yuri… Aku tidak apa-apa.” Ucapku sambil tersenyum manis.

Yamada dan Chinen pun juga datang untuk meredam amarah Yuri. Kami pun kembali berjalan meninggalkan koridor sekolah. Begitu kami sampai di lantai bawah dan mengganti sepatu kami, hujan turun dengan derasnya.

“Bagaimana ini? Aku tidak bawa payung.” Ucap Yuri dengan panik.

“Aku bawa kok.” Ucap Chinen sambil tersenyum.

“Aku lupa bawa payung.” Ucap Yuki.

“Gomen Yuki-chan… Aku juga tidak bawa.” Ucap Yamada.

Tiba-tiba Hikaru mengulurkan payungnya kepada mereka berdua.

“Pakai saja.” Ucap Hikaru sambil tersenyum.

Kedua pasangan itu pun berpamitan dengan kami dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Kami melambaikan tangan sambil menunggu hujan reda.

“Hikaru pakai saja. Aku akan meminjam payung di ruang guru.” Ucapku sambil mengulurkan payungku.

“Apa benar tidak apa-apa?” tanya Hikaru dengan ragu-ragu.

Aku mengangguk mantap dan menyuruhnya pulang duluan. Saat Hikaru sudah pergi, aku berjalan kearah loker bukuku. Aku menyimpan semua bukuku di loker dan kembali ke pintu depan sekolah. Aku menghela nafas sejenak. Aku menatap hujan yang terus turun dengan deras. Tanpa aku sadari, air mataku jatuh satu per satu. Tanganku bergerak dengan sendirinya dan menyentuh pipiku yang mulai dibasahi oleh air mataku.

“Namida?”

***

Aku menghidupkan lampu rumah sambil melihat ke sekeliling rumah. Aku berjalan menuju kamarku dan mengganti seragamku. Aku berjalan kearah dapur dan membuat segelas teh hangat. Aku menyalakan televisi dan menonton drama kesukaanku sambil menyesap tehku. Setiap aku menonton drama, aku selalu terpikir satu hal. “Kenapa mereka bisa jatuh cinta?”

Kata-kata itu selalu berputar-putar di dalam otakku. Padahal mereka sudah tahu seberapa menyakitkan cinta itu, tapi mereka tetap jatuh cinta. Itu terdengar seperti pertanyaan yang konyol, tapi aku ingin tahu apa alasannya. Keitaku pun berbunyi membuyarkan lamunanku. Aku melihat ada sebuah email dari Hikaru.

To: Hikari
From: Yaotome Hikaru
Subject: Khawatir

“Hikari-chan daijoubu??? Aku dengar dari Yabu kalau kamu berlari ke rumah tanpa menggunakan payung. (((( ;°Д°))))”

Aku berdecak kesal saat membaca email itu. Yabu Kota. Dia tetangga sebelah rumahku dan juga dia teman dekat Hikaru. Rumah kami bersebelahan dan juga setiap pulang atau pergi ke sekolah, aku pasti lewat di depan rumahnya.

“Dasar menyebalkan.” Rutukku.

To: Yaotome Hikaru
From: Hikari
Subject: Daijoubu

“Daijoubu… Aku hanya tidak menemukan payung di ruang guru, tidak perlu khawatir.”

Aku mematikan keitaku dan berbaring di sofa. Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan membosankan itu. Aku tinggal di Tokyo sendirian. Ibu dan ayahku ada di Okita sedangkan kakakku kuliah di salah satu universitas ternama di Jepang. Dia tinggal di apartemen di dekat universitasnya dan jarang menemuiku karena terlalu sibuk. Aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi dan terlihat bayangan kakakku.

“Aku kesepian…”

***

Aku berjalan melangkahkan kakiku ke sekolah. Hari ini aku mengubah gaya rambutku. Aku mengikat satu rambutku yang panjang dengan gaya ponytail. Aku berjalan dengan santai menuju sekolah sambil menikmati udara yang cukup sejuk.

“Hikari!”

Aku mengalihkan pandanganku dan berbalik melihat seseorang yang memanggilku.

“Ohayou Hikaru.” Ucapku sambil tersenyum manis.

Hikaru hanya terdiam tanpa membalas sapaanku. Aku menatap Hikaru dengan bingung. Aku mendekati Hikaru dan melambaikan tanganku di depan wajahnya.

“Hey Hikaru… Kamu baik-baik saja?”

Tiba-tiba Hikaru tersadar dan langsung menjauhiku.

“A..Aku baik-baik saja.” Ucapnya sambil tersenyum kikuk.

Aku menatap wajah Hikaru lekat-lekat. Wajah Hikaru memerah dan juga dia tidak mau menatapku.

“Hikari!!” panggil Yuki sambil melambaikan tangan.

“Ohayou Yuki.” Ucapku sambil tersenyum.

Yuri, Yamada dan Chinen berjalan di belakang menyusul Yuki yang sudah berlari kearahku.

“Uwaa… Ini baru yang namanya angsa yang menjadi putri cantik.” puji Yamada sambil melihat kearahku.

Tiba-tiba Hikaru menarik tanganku dan mengajakku pergi meninggalkan mereka.

“Ayo cepat! Kita bisa terlambat. ”

***

Bel istirahat pun berbunyi. Sensei yang mengajar pun segera mengakhiri pelajaran dan meninggalkan kelas kami. Suara ricuh kelas pun terdengar saat sensei sudah meninggalkan kelas. Beberapa murid mulai berjalan keluar kelas, sebagiannya lagi menghabiskan waktu di kelas untuk bercerita dan memakan bekal dengan teman-temannya.

“Nee Hikari, bagaimana kalau kita membeli roti coklat yang baru dijual di kantin?”

Perkataan Yuki itu membuyarkan lamunanku sejenak.

“E..Eh?? U-Un… Ayo kita kesana.” Ucapku sambil tersenyum canggung.

Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan keluar kelas mengikuti Yuri dan Yuki. Yuri dan Yuki terus sibuk dengan pembahasan mereka tentang fashion sedangkan aku sibuk dengan lamunanku sendiri. Sebuah langkah kaki seseorang yang berlari di lorong membuyarkan lamunanku. Suara teriakan ricuh dari para siswi di sekolahku mengiringi langkah kaki orang tersebut. Orang itu berhenti berlari dan berdiri sambil tersenyum di depanku.

“Hikari!! Hisashiburi da na…” ucap orang tersebut sambil memelukku dengan erat.

Aku tersenyum dalam pelukannya. Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Rasa pelukan ini tidak berubah. Pelukan yang selalu aku rindukan.

“Okaerinasai oniisama.”

***

“Yurina-chan… Hisashiburi da na…” ucapnya sambil mengacak-acak rambut Yuri.

Inoo Kei. Pria kurus, berparas cantik dengan rambut yang sedikit panjang hingga menutupi lehernya yang selalu menjadi idola di sekolah kami ini adalah kakakku. Umur kami hanya berjarak satu tahun, tetapi dengan kecerdasan yang tinggi, Kei bisa lulus dari sekolah kami satu tahun lebih cepat.

“Yo Hikaru! Bagaimana dengan kabarmu? Apa kamu berusaha merayu adikku selama aku tidak ada?” tanya Kei dengan jahil.

“Kono baka!!! Aku tidak melakukannya!!!” Hikaru langsung menjitak kepala Kei dengan keras.

Aku mengalihkan pandanganku kepada Yuri. Yuri menatap kakakku dengan tatapan yang sama seperti 1 tahun lalu. Tatapan itu selalu mengingatkanku dengan kejadian saat aku bertengkar dengan Kei hanya karena Kei menolak Yuri. Selama berminggu-minggu aku tidak mau pulang ke rumah hanya karena merasa bersalah kepada Yuri. Kakakku yang bodoh itu menolak sahabat terbaikku. Itulah yang aku pikirkan sebelum Kei menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Yuri-chan, daijoubu ka?” tanyaku sambil menyentuh pundak Yuri dengan pelan.

“E..Eh? Apanya? Aku baik-baik saja.”

Aku melihat senyuman Yuri dengan sedih. Senyuman itu terlihat sekali seperti sebuah senyuman yang dipaksakan. Aku membalas senyuman Yuri dengan hangat.

“Nee, bagaimana kalau kita suruh Kei-chan yang mentraktir kita??” ucap seorang laki-laki dengan nada penuh semangat.

Laki-laki yang aku maksudkan itu adalah Yabu Kota. Pria jangkung yang suka makan itu adalah teman baik Kei dan Hikaru. Yabu juga sangat populer di sekolah kami sebagai murid yang selalu memenangkan olimpiade matematika se Tokyo.

“Hey! Kalian bertiga tidak mengajak kami??” ucap Yamada sambil berkacak pinggang di depan kelas kami bersama Chinen Yuri yang berdiri disebelahnya.

Kei yang melihat duo chibi itu di depan kelas kami, langsung berlari menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan hangat. Ketiga pria itu kelihatan sangat senang. Pandanganku teralihkan kepada Yuri yang duduk disebelahku. Ekspresi wajahnya itu terlihat penuh dengan kebimbangan. Dia bimbang tentang siapa yang ia cintai. Kei memang pria yang Yuri cintai setulus hati, tapi Yuri juga tidak bisa kembali mengejar Kei karena sudah ada Chinen disisinya. Ya… Itu benar. Tidak ada yang tau tentang kejadian Kei yang menolak Yuri. Hanya aku, Hikaru, Yuki dan Yabu yang mengetahuinya. Bahkan Yamada dan Chinen pun tidak mengetahuinya.

***

Aku segera keluar dari kamar mandi dan melihat Kei yang sedang menonton televisi sambil memakan camilannya. Aku menghampiri kakakku itu dengan rambut yang masih basah dan sehelai handuk yang masih aku letakkan diatas kepalaku itu.

“Oniisama, hari ini nii-sama ingin makan apa?” tanyaku dengan wajah polos.

Kei yang tadinya fokus menonton drama pun langsung mengalihkan pandangannya kearahku dan tersenyum hangat kepadaku. Tanpa aba-aba, kakakku yang cantik itu langsung menarik tanganku dan menyuruhnya duduk dipangkuannya. Kei mengusap kepalaku dengan handuk yang aku letakkan diatas kepalaku dan mulai mengeringkan rambutku.

“Makan apa ya..? Bagaimana kalau malam ini, Hikari saja yang jadi makananku?” tanyanya dengan nada jahil.

Aku tertawa mendengar perkataannya dan memukul pelan pundak kakakku itu.

“Hey… Aku mana mau menjadi makanan orang sepertimu. Bahkan beruang pun tidak rela menjadi makananmu.”

“Bagaimana dengan Yurina? Apa dia sudah bisa melupakanku?”

Nada suara Kei tiba-tiba berubah menjadi berat ketika membicarakan soal Yuri. Di wajah Kei terlihat dengan jelas betapa Kei sangat menyayangi Yuri. Saat itu Kei menolak Yuri bukan karena Kei tidak mencintai Yuri, tapi karena Chinen. Kei tau seberapa besar cinta Chinen kepada Yuri.

“Hmm… Seperti dugaan oniisama. Mereka berdua berpacaran, tapi aku masih melihat Yuri menatap nii-sama dengan tatapan yang sama seperti dulu.” ucapku sambil menyesap teh yang aku pegang.

“Souka… Perasaan seperti itu memang tidak bisa diubah. Bahkan aku pun belum menemukan penggantinya.” jawab Kei sambil memejamkan matanya.

“Karena itu oniisama harus cepat kembali ke Chiyoda. Selama oniisama tidak ada disini, dia akan baik-baik saja.”

“Jadi maksudmu, kamu mengusirku??” Tanya Kei sambil mencubit kedua pipiku.

“Maa… Lupakan saja. Lalu bagaimana dengan hubunganmu dan Hikaru?” lanjutnya.

Aku mulai membaca buku yang ada disebelahku. Sejujurnya aku tidak tertarik dengan pembicaraan soal cinta seperti ini.

“Dia itu temanku. Aku tidak punya perasaan kepadanya seperti yang oniisama pikirkan.”

***

Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah dengan berat. Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat. Tiba-tiba hujan turun dengan deras sejak pagi hari. Angin dingin berhembus menerpa rambutku yang terikat. Menurutku cuacanya tidak seburuk itu. Di sela-sela hujan aku bisa melihat beberapa kelopak bunga sakura yang berjatuhan karena tertiup angin. Cinta? Sebelumnya hal itu tak pernah terpikirkan olehku dan apa gunanya? Lagipula aku tidak tertarik. Aku terus melangkahkan kakiku ke sekolah. Aku berjalan memasuki sekolah dan melihat koridor sekolah yang masih sangat sepi. Hanya ada dua atau tiga murid yang sudah datang di tiap kelasnya. Hari ini karena cuacanya yang tak bersahabat, banyak murid yang datang sedikit terlambat.

Aku memasuki kelasku dan duduk di bangku yang biasanya menjadi tempatku belajar. Posisi tempat duduk terbaik yang pernah aku dapatkan. Begitulah pikirku. Aku duduk di bangku dan menopang wajahku dengan sebelah tanganku dan melihat kearah halaman sekolah. Meskipun hujan hari ini turun dengan deras, tapi aku bisa melihat tetesan hujan yang jatuh satu per satu. Aku pun mengambil earphoneku dan menyetel lagu kesukaanku. Keadaan kelas yang kosong disertai udara yang sejuk menjadi suasana yang cocok untuk berpikir.

BRAKKK!!!

Tiba-tiba terdengar suara pintu kelas yang di buka dengan kasar. Perhatianku langsung teralih kepada seseorang yang membanting pintu kelasku.

“Huwaa… Samui…” ucap orang itu sambil mengacak-acak rambutnya yang basah.

“Hikaru-kun? Kenapa kamu bisa ada disini? Kelasmu kan ada di lantai 3?” tanyaku dengan bingung.

“Kelasku kebanjiran, sepertinya atapnya bermasalah.”

Hikaru berjalan menuju bangku yang terletak tepat di depan bangku yang aku tempati. Hikaru berkali-kali merutuki dirinya.

“Ini.” ucapku sambil memberikan handuk yang aku bawa.

Terlihat senyum manis Hikaru saat ia mengucapkan terima kasih kepadaku. Deg! Reaksi macam apa ini? Aku pun langsung memalingkan wajahku dan menatap kearah halaman sekolah. Hujan turun semakin deras, bahkan sesekali terdengar suara petir yang menyambar. Aku menghela nafasku sejenak dan kembali melihat keadaan kelasku.

“Kyaaa!!! Hikaru-kun!!! Apa yang kamu lakukan???”

Refleks aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku tidak mendengar suara apapun saat menutup wajahku. Terlalu sunyi. Tiba-tiba tanganku ditarik dan aku pun berdiri dihadapan Hikaru yang belum memakai baju seragamnya. Hikaru menatapku dalam diam. Tangannya bergerak perlahan dan mendekapku ke dalam pelukannya.

“Aku kedinginan.” ucapnya dengan lembut.

Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang mendekapku dengan erat. Begitu hangatnya sampai aku ingin menyandarkan kepalaku di tubuhnya itu. Aku bisa mendengarkan suara jantungnya yang berdetak dengan cepat seperti jantungku.

“OHA!!” ucap Yuki sambil membuka pintu kelasku.

Refleks aku dan Hikaru pun saling berjauhan. Yuki berjalan perlahan mendekati kami berdua.

“Hee… Ada apa ini..? Ada aura aneh di kelas ini…” goda Yuki.

Aku mengalihkan pandanganku dan melihat kearah Hikaru. Mukanya memerah. Hikaru berusaha menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Apa itu karena Yuki atau karena udaranya yang terlalu dingin?

***

Aku mengambil termometer yang aku simpan di laci meja belajarku. Tanpa rasa ragu lagi, aku langsung mengecek suhu tubuhku. Tanpa sengaja aku mengingat kejadian yang terjadi tadi pagi. Tiba-tiba aku merasakan suhu tubuhku naik. Wajahku juga terasa sangat panas. Aku mengambil termometer yang sudah aku gunakan itu dan melihat angka yang tertera di termometer itu.

“Ternyata aku memang demam.” ucapku dengan mantap.

“Hee… Kamu benar-benar demam ya…?”

Aku mengalihkan pandanganku kearah pintu kamar. Aku melihat Kei yang sedang berdiri di depan pintu sambil bersandar di dekat pintu kamarku. Aku menatap kakakku itu dengan pandangan tidak peduli.

“Sedang apa oniisama disana?”

“Sedang apa ya…?” jawabnya dengan tidak jelas.

Aku pun mengalihkan perhatianku kepada termometer yang masih aku pegang. Aku kembali menaruh termometer itu di dalam laci mejaku tanpa mempedulikan Kei. Tiba-tiba Kei memberikanku sebuah pelukan hangat tanpa peringatan.

“Kamu jatuh cinta dengan Hikaru ya?” tanyanya dengan suara yang lembut seraya berbisik di telingaku.

Aku mulai bersikap tenang dan menggeleng mantap kearah Kei. Kei menarikku keatas tempat tidurku dan membaringkanku dengan lembut.

“Kamu tahu kan kalau sejak kecil aku mencintaimu?” ucapnya seraya mengelus lembut pipiku.

Memang seperti inilah hubungan kami. Kami memang saudara, tapi kami bukan saudara kandung. Aku adalah sepupu Kei yang diangkat menjadi anak keluarga mereka karena orang tuaku meninggal.

“Oniisama, bukankah kita sudah membahas ini berkali-kali?” ucapku seraya menyingkirkan tangannya dengan lembut.

Kei menatapku dengan sedih. Hubungan kami itu hubungan terlarang. Meskipun kami saling mencintai pun, ini bukanlah hubungan yang mudah. Apalagi menyangkut soal persetujuan keluarga. Tentu saja semua orang akan menentang kami. Dua tahun yang lalu, aku juga memutuskan untuk berhenti menyukainya.

“Aku tau, tapi kenapa kita tidak bisa seperti pasangan lain? Apa salahnya? Kita kan bukan saudara kandung.”

Kei mencium pipiku dengan lembut sementara tangan kirinya terus mengelus pipiku dengan lembut. Aku hanya terdiam menerima perlakuannya. Kei menatapku dengan dalam-dalam.

“Aku tau kalau kamu menyukainya. Jangan menahan diri Hikari. Aku tau jika kamu masih mencintaiku.” ucapnya seraya menyentuh telingaku dengan lembut.

Wajahku terasa panas, jantungku juga berdetak dengan kencang, aku yakin sekarang wajahku sudah terlihat sangat merah. Aku memalingkan wajahku dan mendorongnya menjauh.

“Oniisama, aku tidak Mau melanjutkannya lagi.” ucapku seraya berjalan keluar kamar.

Tiba-tiba tanganku dipegang dan aku ditarik ke dalam pelukannya. Aku hanya terdiam dalam pelukannya.

“Kembalilah bersamaku Hikari…”

Aku pun mendorongnya menjauh dan menyentil dahinya dengan keras.

“Kita ini saudara baka! Jadi jangan melakukan hal seperti itu.”

***

Aku melangkahkan kakiku menuju atap sekolah dengan ringan. Hari ini aku merasa senang sekali karena baru saja membaca buku cerita yang menyenangkan. Hari ini aku sengaja untuk tidak makan bersama dengan yang lain karena aku mau membaca buku baru yang aku pinjam. Aku melangkahkan kakiku menaiki tangga-tangga yang tidak terlalu tinggi jaraknya. Ketika sampai diatas, aku melihat pintu menuju atap sekolah terbuka.

“Aku menyukaimu Yuki. Berpacaranlah denganku.”

Deg! Suara itu.

“Bagaimana menurutmu Yabu-kun? Apa aku sudah mengucapkannya dengan baik?”

Badanku tidak bisa bergerak. Aku hanya terdiam di depan pintu sambil mendengarkan percakapan mereka.

“Tapi Hikaru, bukankah kamu menyukai Hikari?”

“Ah… Hikari… Hikari itu hanya teman.” jawab Hikaru sambil memalingkan wajahnya.

“Tapi kalian cukup dekat. Aku pikir kamu suka dengannya. Tapi mana ada ya yang akan suka dengan gadis culun dan kutu buku seperti dia.” ucap Yabu sambil tertawa.

“Kamu itu berlebihan. Dia tidak seperti itu tau. Tapi dia itu teman yang baik.”

***

“Yuki-chan, apa kamu ada waktu sebentar?” tegur Hikaru.

Yuki yang tadinya fokus membereskan barang-barangnya langsung mengalihkan pandangannya kearah pemuda gingsul itu.

“Tentu saja.”

Wajah Hikaru kelihatan sangat bersemangat melihat ajakannya yang diterima. Hikaru pun langsung berjalan keluar kelas diikuti dengan langkah Yuki.

***

“Suki desu! Daisuki desu!”

Hanya kata-kata itu yang terdengar di atap sekolahku. Aku yang tadinya mau mengambil buku yang aku tinggalkan di atap sekolah kembali mengurungkan niatku untuk membuka pintu atap sekolah itu. Aku melihat Yuki menatap Hikaru dengan lembut.

“Hikaru, kenapa kamu mengatakannya kepadaku? Tidakkah kamu merasa ada yang salah?”

“Eh?” ucap Hikari sembari mengangkat kepalanya.

“Kamu tau jika bukan aku yang kamu cintai. Lalu kenapa kamu mengatakannya?”

Hikaru tertegun mendengar perkataan Yuki.

“Kamu tau kan siapa orang yang benar-benar kamu cintai?” lanjut Yuki.

Tiba-tiba perhatian Hikaru teralih kearahku. Aku yang kaget langsung berlari menuruni tangga sekolah dan berjalan pulang dengan tergesa-gesa.

***

Hari Sabtu pagi. Aku meringkuk di dalam selimutku sambil melihat-lihat email di keitaiku sementara Kei sudah pergi jogging bersama Yabu sejak pagi. Suara bel dari pintu mengusik ketenanganku. Aku berusaha keras untuk mengabaikannya, tapi bel itu terus berbunyi. Aku pun berjalan keluar kamarku dan membuka pintunya sambil mengerutu.

“APA???” teriakku kepada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.

Orang itu memelukku dengan lembut.

“Hikaru?”

Hikaru memelukku dengan erat tanpa menjawab perkataanku.

“Aku tau kalau yang aku suka itu adalah kamu, tapi aku malah berpura-pura menyukai Yuki.”

Aku terdiam sambil menunduk. Aku bingung harus mengatakan apa. Hikaru melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh.

“Orang yang aku cintai adalah teman yang selalu ada untukku. Teman yang selalu membantuku, teman yang selalu menghiburku saat aku sedih dan teman yang selalu memendam perasaannya kepadaku karena ia tau aku menyukai orang lain.” ucapnya sambil tersenyum.

***

OMAKE

“Yuki-chan… Cepatlah. Kita tidak boleh terlambat.”

“Sebentar lagi Ryo… Rambutku belum rapi.”

“Kamu sudah berdandan selama 2 jam. Yurina dan Chinen sudah menunggu tuh.”

“Iya aku datang.” ucap Yuki sambil berlari keluar kamarnya.

Mereka berempat masuk ke mobil Yamada sambil berbincang-bincang ringan.

“Hikaru itu memang keras kepala dan tidak mau jujur , tapi aku senang karena dia akhirnya menikah dengan Hikari.” ucap Yuki sambil tersenyum.

Owari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s