Tag Archives: Nakajima Kento

[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 8)

Title: Lelaki yang Mencicit
Author: Darya Ivanova
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Cast: Nakajima Yuto, Nakajima Kento, Fujii Ryusei, Yamazaki Kento, OC
Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)
Disclaimer: All casts are not mine

Continue reading

Advertisements

[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 7)

Title: Lelaki yang Mencicit
Author: Darya Ivanova
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Cast: Nakajima Yuto, Nakajima Kento, Fujii Ryusei, Yamazaki Kento
Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)
Disclaimer: All casts are not mine

A/N: Akhirnya update (j)uga setelah hampir sebulan nggak kemari. Selamat membaca, dan comments are love! Maafkan juga kalau ceritanya agak kurang jelas karena masih mencari ide.

“Mengapa Kami Tidak?” Continue reading

[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 3)

Title: Lelaki yang Mencicit

Author: Darya Ivanova

Genre: Fantasy, Comedy, Romance

Cast: Nakajima Yuto, Inoo Kei, Fujii Ryusei, Nakajima Kento (extra), Hashimoto Ryosuke (extra), Yamazaki Kento (extra), Arai Yuko (OC)

Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)

Disclaimer: Seluruh cast bukan milik saya, termasuk OC-nya. (Dua ekor, eh orang) Nakajima, Fujii, Hashimoto, dan Yamazaki adalah milik Tuhan, keluarga masing-masing, serta Johnny’s Jimusho (Duo Nakajima, Fujii, dan Hashimoto) dan Stardust Promotion (Yamazaki). Nah, detail tentang kenapa aku nggak mau mengklaim si OC akan dijelaskan di A/N

Selamat membaca~~ Semoga terhibur dan jangan lupa komentarnya yaaa ^^

Continue reading

[Oneshot] Niji

Tokyo ketika itu di guyur hujan sehari penuh. Dan baru saja berhenti, walau langit masih berwarna kelabu pekat yang menandakan akan hujan kembali. Karena bosan berada di rumah selama sehari itu, aku pun berniat untuk jalan-jalan sekaligus bekerja part-time di sebuah café. Aku langsung saja menyambar jaket serta payung dan keluar rumah. Udara diluar benar-benar  dingin, dengan berbekal sebuah jaket, aku menelusuri trotoar. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, menghilangkan rasa sepi.

“Ah, gomenasai.” permintaan maaf itu meluncur dari bibir kecil seorang gadis yang tidak sengaja menabrakku. Ya, aku dan gadis itu terjatuh. Dia tampaknya sangat buru-buru. Setelah meminta maaf, gadis itu langsung berlari meninggalkanku yang masih dalam posisi terjatuh. Naas, aku terjatuh di jalanan yang basah mengakibatkan celanaku basah karenanya. Untung saja, tempatku bekerja hanya beberapa meter lagi. Aku langsung berlari menuju tempat kerjaku.


 Niji

A Jhonny’s Entertaiment fanfiction

Nakayama Yuma

Sakurada Yuuki (OC)

Sexy Zone Nakajima Kento

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Genre: Romance (maybe)

By: Shield Via Yoichi

(JUMPing…)

[Oneshot] 10 for 1 and 1 for 10

Title : 10 for 1 and 1 for 10
Author: Hikari
Genre: Friendship
Ratting: PG 13
Cast: All HSJ members.
Disclaimer: I just own the idea, the rest aren’t mine!
 
10 for 1 and 1 for 10
10 lagu, 10 cerita, 10 orang; Hey! Say! JUMP. 記念日おめでとう!
#AUTHOR’s notes#
Normal: Main timeline/ normal story
Italic: Flashback
Italic plus Bold: Lirik lagu
Mohon maaf atas keabsurd-an ceritanya dan ke-OOC-an anak-anak HSJ..

[Oneshot] Usakuma Mari-chan?!

Title : Usakuma Mari-chan?!
Type : Oneshoot
Author : Arisanya
Genre : Fantasy
Rating : 13+
Cast : All member Sexy Zone (Nakajima Kento, Kikuchi Fuma, Sato shori, Matsushima So & Marius Yo), Haniuda Amu (Sexy Boyz), Kuramoto Kaoru (Sexy Boyz), Mizutani Haruna (OC), Mizutani Asako (OC)
Usakuma Mari-chan?!

[Oneshot] Time Tells No Lies

Title : Time Tells No Lies

Type : Oneshoot
Author : Anisu-chan
Genre : Fantasy, Angst
Rating : PG-15
Casting : Tegoshi Miwako (OC), Tanaka Juuri (Johnny’s Junior), Yaotome Hikaru (HSJ), Tegoshi Yuya (NEWS), Arioka Daiki (HSJ), Takaki Yuya (HSJ), Kashiyuka (Perfume), Inoo Kei (HSJ), Nakajima Kento (Sexy Zone)
Disclaimer : The plot is fiction and the title ‘Time Tells No Lies’ is Giriko’s  (character in anime and manga Bleach) fullbring. This fic always use Miwako POV.
Time Tells No Lies
Penyesalan itu selalu datang belakangan, dan pada saat itulah keinginan untuk memutar waktu muncul dibalik rasa penyesalan. Dan pada saat itulah, aku mulai beraksi. Beraksi sebagai dewa waktu yang sering kali diabaikan, tetapi sangat diperlukan jika penyesalan itu muncul.
“Kau yakin ingin kuputar waktumu selama sehari?” tanyaku kepada seorang manusia yang baru saja memanggilku.
“Aku yakin, aku tidak tau jika aku menandatangani surat itu, maka harta warisan ayahku akan jatuh ketangan ibu tiriku.” jawabnya dengan mantap sekaligus curhatannya yang menurutku itu sudah terdengar cukup basi, karena hampir setiap konsumenku mempunyai alasan yang sama seperti itu.
“Apakah kau belum tau? Upah satu menit untukku?” tanyaku dengan angkuh.
Manusia itu menggeleng, “Beri tau! Aku akan memberikannya untukmu!”
“Jika kau ingin memintaku untuk memutar waktumu selama satu hari, kau harus memberikan waktumu selama 1440 tahun untukku.” aku menjawab pertanyaannya masih dengan sifatku yang angkuh.
“Dengarkan aku, Tanaka Juuri. Aku bisa saja memutar waktu untukmu, tapi tidak sampai satu hari. Mari kita hitung, umurmu sekarang kurang lebih 17 tahun, misalnya kau akan mati pada umur sekitar 40 tahun. Satu menit yang kau minta untuk diputar, bayarannya satu tahun umurmu akan berkurang. Jadi, mungkin aku bisa saja memutar waktu untukmu selama kurang lebih 15 menit.”
“Jika aku memintamu memutar waktu selama 15 menit, umurku akan berkurang selama 15 tahun. Jadi, aku mati lebih awal 15 tahun, begitu?” tanyanya dengan pandangan yang terlihat frustasi.
“Benar sekali. Satu lagi, satu kali kau melakukan percakapan denganku, umurmu juga akan berkurang satu tahun. Apakah kau masih mau memutar waktumu, Tanaka Juuri-san?”
“Putarkan waktuku selama 20 menit.” ujarnya dengan tegas, namun aku bisa melihatnya dengan jelas. Tubuhnya bergetar hebat.
“Kau yakin? Aku tidak suka main-main?” tanyaku untuk memastikan manusia yang merepotkan ini.
Tanaka Juuri mengangguk mantap.
“Baiklah, tapi aku tidak bertanggung jawab jika ternyata sisa umurmu hanya tinggal besok. Aku ingin kau meneteskan darahmu diatas kertas perjanjian ini.” keseriusanku mulai bertambah saat transaksi dilakukan.
Tanaka Juuri menusuk jari telunjuknya dengan jarum yang kuberikan, ia meneteskan darahnya diatas kertas perjanjian. Dan perjanjianpun mulai terlaksana, “Sebentar lagi kau akan kembali ke waktu 20 menit sebelumnya, aku harap kau bisa memanfaatkan waktu ini dengan baik, karena umurmu sudah berkurang selama 21 tahun.”
Aku melihat manusia itu mengangguk pasrah dengan keringat yang berkujur ditubuhnya, aku yakin ia takut dengan semua keputusan yang ia ambil. Dan sekarang, urusanku dengannya sudah selesai.
***
“Bersiaplah, besok kau akan mencabut nyawa manusia yang bernama Tanaka Juuri. Dicatatan, umurnya berkurang 21 tahun karena berurusan dengan Dewa Waktu, Tegoshi Miwako. Ia akan mati jam 16:59, karena kecelakaan lalu lintas…” Yaotome Hikaru masih mendengarkan perintah atasannya dengan seksama. Ia adalah seorang Dewa Kematian yang baru bergabung. Besok adalah tugas pertamanya, mencabut nyawa manusia yang sudah ditakdirkan.
“Tanaka Juuri itu adalah konsumenmu yang tadi kan, Miwako?” tanya Hikaru.
Aku mengangguk, “Besok adalah tugas pertamamu kan? Kau sudah siap untuk mencabut nyawa orang?” tanyaku.
“Tentu saja aku siap.” jawabnya dengan singkat dan pergi begitu saja.
“Miwako, kau belum berangkat?” tanya laki-laki yang profesinya sama denganku, Dewa Waktu.
“Aku baru saja pulang, Yuya-nii.”
“Ini tugas baru, bukan yang tadi.”
“Memangnya Dewa Waktu yang ada disini hanya aku saja?”
Tegoshi Yuya, kakak kandungku mengacuhkan pertanyaanku, “Aku harap kau langsung pergi begitu selesai membaca surat tugasmu.”
“Arioka Daiki….” aku membacanya dengan serius. Penyebab konsumenku kali ini, memanggilku karena ia ingin memutar waktunya agar ia bisa kembali dengan kekasihnya. Rupanya ia baru saja putus, pikirku dengan senyum licik yang tersungging dibibirku.
“Hah~ ternyata hari ini banyak sekali orang-orang yang menyesal ya? Sebelum kita melakukan transaksi, aku ingin memperkenalkan diriku kepada konsumen keduaku pada hari ini, Tegoshi Miwako desu.” kataku santai begitu aku sampai didepan konsumenku.
“Kalau dipikir-pikir memanggil Dewa Waktu itu sangat mudah ya? Hanya karena muncul perasaan ingin memutar waktu, tak lama kemudian Dewa Waktu akan datang dihadapan orang-orang yang merasakan hal tersebut. Tapi resiko memanggil Dewa Waktu itu tentu saja sangat berat, karena satu kali percakapan dengan Dewa Waktu, sudah menyita satu tahun umurmu. Belum lagi, jika kau ingin memintanya untuk memutar waktumu. Satu menit waktu diputar, bayarannya itu satu tahun umurmu.” Aku sengaja berbicara panjang lebar, agar orang yang ada didepanku ini tau bahwa Dewa Waktu itu kejam. Singkatnya, aku bangga jika para manusia yang sudah pernah bertransaksi denganku menyebut diriku kejam. Meskipun mereka tidak pernah langsung mengatakan aku kejam, tapi aku bisa melihat jelas dimata mereka.
“Arioka Daiki-san, kau dengar apa yang aku bicarakan tadi?” tanyaku mulai emosi karena omonganku sepertinya sama sekali tidak didengarnya.
“Satu jam lagi ia akan mati, Miwako. Jadi ia tidak akan bisa mendengarkanmu apalagi melihatmu, ia sudah tidak punya waktu untuk melakukan transaksi dengan Dewa Waktu.” Takaki Yuya, seorang Dewa Kematian sama seperti Yaotome Hikaru menjelaskan keadaan konsumenku sekarang.
“Sial, kalau tau begini buat apa Yuya-nii tetap memberikan tugas ini padaku?!” umpatku kesal.
“Karena ia ingin memutar kembali waktunya. Walaupun hari ini ia akan mati, tapi ia tetap bisa memanggil Dewa Waktu walaupun ia tidak dapat meminta apapun dari Dewa Waktu ataupun melihatnya sekalipun.” Takaki menjelaskannya padaku dengan wajahnya yang dingin.
“Ini sama saja mengerjai Dewa Waktu, sial!”
***
“Wah, wah. Jarang sekali lho aku mendapatkan konsumen seorang wanita,” ujarku begitu melihat konsumenku dengan tampang menyesal, sama seperti konsumen-konsumenku sebelumnya.
“Sudah tiga hari ini aku tidak mendapatkan tugas, dan sekarang aku akan mendengarkan permintaanmu, Kashiyuka-san.” aku mulai mengeluarkan auraku yang bisa dibiang menakutkan bagi para manusia.
“A-aku, i-i-ingin me-mu-tar”
Aku tak suka jika waktuku tersita hanya karena mendengarkan ucapan yang tak jelas seperti itu, “Mau berapa lama waktu yang kuputar untukmu?” tanyaku sekaligus memotong ucapannya.
Ia membentangkan kelima jari kanannya, “5 menit? Baiklah. Umurmu akan berkurang selama 6 tahun setelah kau kembali 5 menit sebelumnya.”
Miwako, melihat catatan tentang konsumen yang ada dihadapannya ini. “Jadi kau ingin memutar waktumu agar kau tidak jadi membunuh kekasihmu?”
Kashiyuka mengangguk. Senyum licikku pun mulai tersungging, “Jangan bodoh Kashiyuka-san. Dewa Waktu memang bisa memutar waktu kembali, tapi Dewa Waktu tidak akan bisa memutar waktu hanya karena ingin mengembalikan nyawa seseorang. Ya, seperti kasusmu ini.”
“Aku mohon, kabulkan permohonanku!” Kashiyuka berlutut didepanku, tangisannya pun juga semakin keras.
“Untuk mengembalikan nyawa seseorang bukan urusanku, Kashiyuka-san.” jawabku.
“Aku mohon. Pasti bisa kan jika Dewa Waktu dan Dewa Kematian bekerja sama untuk mengabulkan permohonanku?” Kashiyuka masih tetap kekeh dengan pendiriannya.
“Waktu itu dibayar dengan waktu, jadi bisa saja waktu diulang jika masih mempunyai sisa waktu. Dan kematian itu dibayar dengan kematian, jika ingin meminta nyawa seseorang kembali kejasadnya bisa saja dengan bayaran kematian sang peminta pada saat itu juga. Memangnya kau punya nyawa berapa sehingga menginginkan Dewa Waktu dan Dewa Kematian bekerja sama untuk mengabulkan permohonanmu?” nada bicaraku mulai tinggi. Satu hal yang tidak bisa aku kendalikan sejak dulu adalah mengendalikan emosiku. Emosiku sangat mudah naik.
“Aku mohon kabulkan permohonanku, aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku didalam penajara.” lagi-lagi ia membuatku tambah muak.
Aku mengacuhkannya, disudut kamar tersebut aku melihat Hikaru yang berdiri santai sambil memandang kejadian tadi. “Oi, Hikaru-san. Bisakah kau mengabulkan permohonan gadis ini agar pacarnya bisa hidup lagi?” tanyaku.
Hikaru menangguk, “Dengan beberapa perjanjian. Dan seperti yang kau ucapkan tadi, kematian dibayar dengan kematian.”
“Kalau begitu, urus gadis ini. Urusanku dengannya sudah berakhir.” ujarku dan pergi dari tempat tersebut.
***
Hari ini adalah hari perpisahanku dengan teman terbaikku selama disini, Inoo Kei. Hari ini ia akan dihukum mati, mati untuk kedua kalinya. Ia melanggar peraturan yang sudah diberikan, yaitu mengabulkan permohonan konsumennya, permohonannya itu hampir sama seperti konsumenku seminggu yang lalu, Kashiyuka.
“Jangan takut, Kei. Kau sudah pernah merasakan bagaimana mati kan? Jadi kau tidak perlu khawatir.” aku mencoba menghiburnya sebelum ia diadili.
Kei hanya tersenyum, “Kau benar. Yang penting, konsumenku itu hidup bahagia sekarang.”
“Aku tau konsumenmu itu adalah adik kandungmu saat kau hidup sebagai manusia kan, Kei?”
Inoo Kei mengangguk, “Aku harus pergi sekarang, Miwako. Hukuman pancung akan segera tiba.” pamitnya.
Air mataku menetes begitu melihat kepala Kei menggelinding dari tempat pemancungan tersebut. Sekeras apapun hatiku sebagai Dewa Waktu, aku tetap saja tidak tahan melihat pemandangan tersebut. Inoo Kei, sahabat terbaikku selama aku menjadi Dewa Waktu, harus mengalami kematian untuk kedua kalinya yang begitu menyeramkan.
“Untuk apa kau menangisi pengkhianat seperti itu? Tidak ada gunanya.” kata Yuya-nii yang menasehatiku dengan nada bicaranya yang dingin.
Aku menatap wajah dingin kakakku, “Dewa Waktu tidak boleh cengeng seperti itu.”
“Aku tidak ingin kau seperti itu, Miwako. Aku ingin kita mati bersama lagi seperti kita mati saat menjadi manusia.” Pandangan Yuya-nii sepertinya mulai menerawang kejadian saat aku dan Yuya-nii mati bersama karena kecelakaan pesawat. Dan setelah itu, aku tidak tau mengapa aku bisa menjadi Dewa Waktu. Memoriku akan hal tersebut sepertinya sudah terhapus secara permanen didalam otakku, dan lagipula tidak ada gunanya aku mengingat hal tersebut.
***
“Hah? 76 tahun? Memangnya dia masih punya berapa banyak waktu buat minta waktu diputar kembali?”
“Hei, Hikaru. Jangan bilang orang ini akan mati sebentar lagi?” tanyaku. Aku tidak akan melaksanakan tugas ini jika konsumenku akan mati sebentar lagi. Itu percuma saja namanya.
“10 tahun lagi. Cepat laksanakan saja tugasmu.” usir Hikaru sambil mengibaskan tangannya kearahku.
“Hai, hai, Hikaru-sama.” ujarku dengan malas.
“Oyasuminasai, konsumenku yang tertua. Berapa waktu yang kau perlukan agar cucumu tidak jadi kecelakaan dan sedang tidak dalam keadaan kritis seperti saat ini?” tanyaku langsung pada topik pembicaraan.
“9 menit. Karena 9 menit yang lalu aku dan cucuku sedang berada didalam rumah.” Kata Kakek tersebut dengan wajah yang sangat khawatir. Sedikit perasaan tidak tega begitu mendengar perkataannya tadi, karena hanya beberapa hari lagi ia bisa menghabiskan waktunya bersama cucunya jika ia menyetujui perjanjiannya denganku.
“Baiklah, waktu 9 menit sebelumnya akan kuputar kembali. Jadi, umurmu berkurang 10 tahun. Dan bersiaplah untuk menemui kematian yang sebentar lagi akan menghampirimu. Bagaimana?” rasa tidak tega itu pun segera ku tepis begitu ku ingat statusku sekarang ini, Dewa Waktu.
Kakek tua itu mengangguk, “Aku sudah terlalu tua. Aku juga sudah siap untuk mati.”
“Kalau begitu mari kita mulai perjanjian kita,” senyuman licik pun tersungging lagi setiap aku memulai perjanjian dengan konsumenku.
***
“Biar aku saja yang menyelesaikan tugas ini, aku tak ingin Miwako melakukan kesalahan yang fatal saat melakukan tugas ini.” suara Yuya-nii terdengar samar-samar dibalik pintu, aku tak tau ada apa sebenarnya, tapi biar sajalah Yuya-nii yang melakukan tugas kali ini. Lagipula aku sedang ingin bersantai sejenak saja, karena belakangan ini sangat banyak manusia yang meminta waktu diulang kembali.
Aku memulai hari yang indah ini, hari tanpa tugas dengan tidur dikasurku yang empuk. Perlahan, mataku mulai menutup.
“Daisuki,” kataku dengan lantang didepan laki-laki yang kusukai.
Laki-laki itu membalasnya dengan senyuman manis, mungkinkah senyumannya itu menjadi awal hubungan yang baik antara aku dengannya. Pikiran itu terus berputar-putar dikepalaku sebelum ia menjawabnya.
“Boku mou,” ucapnya, ia memberikan jawaban yang sangat aku inginkan.
Aku pun mulai memejamkan mataku, siapa tau saja ia ingin menciumku. Bukankah itu hal yang biasa dilakukan kepada orang-orang yang baru memulai hubungan sebagai kekasih. Ya, seperti aku ini dan kekasihku yang baru.
***
“Hari ini aku ingin pergi ke Jerman bersama Yuya-nii, kami ingin mengunjungi orangtua kami.” kataku.
Wajah kekasihku tampak gelisah, “Mengapa harus kalian yang mengunjungi orangtua kalian?”
Aku hanya membalas kalimat kegelisahannya dengan senyum manisku, “Aku tau, kita baru memulai hubungan sekitar satu bulan. Jadi maunya nempel terus begini. Hahaha.”
Ia menarik tanganku, menciumku dengan lembut dan hangat, “Aku tidak mau kehilanganmu, Miwako.”
Satu kalimat yang diucapkannya itu, mengapa membuatku menjadi sesak seperti ini?
“Miwako, Miwako! Bangun, Miwako.”
Ah, ternyata mimpi. Mimpi yang dulunya adalah kejadian nyata semasa aku hidup sebagai manusia.
“Miwako, daijobu ka?” tanya Yuya-nii, wajahnya tampak sedikit mengkhawatirkanku.
Aku mengangguk, dan memberikan senyuman untuk Yuya-nii.
“Yokatta, aku khawatir jika sesuatu terjadi padamu.” Ini adalah pertama kalinya Yuya-nii mengkhawatirkanku selama aku dan dia menjadi Dewa Waktu. Ada apa dengan Yuya-nii ya? Pikirku.
“Gomen, aku mengganggu waktu istirahatmu. Tapi, ini ada tugas yang harus kau kerjakan. Sebenarnya aku sudah meminta izin kepada Yamada-san untuk menggantikanmu melakukan tugas ini. Tapi ia melarangnya.”
“Ah, baiklah. Mana catatan tentang konsumen yang baru itu?”
Ada suatu hal yang mengganjal, tak biasanya catatan tentang konsumen yang akan kutemui dalam keadaan robek seperti ini, “Tadi aku tidak sengaja menariknya, jadi robek seperti ini. Tapi tenang saja alamatnya masih tertulis jelas.” kata Yuya-nii yang sepertinya tau apa yang aku pikirkan.
“Kau harus berhati-hati dalam melakukan tugas ini, Miwako. Jangan pernah melakukan kesalahan fatal seperti temanmu dulu.” Yuya-nii memperingatiku dengan wajah yang sangat serius.
“Hai, aku pergi dulu,” jawabku sekenanya.
***
“Tempat ini sepertinya tak asing bagiku,” kataku lebih pada diri sendiri.
Dari kejauhan, aku melihat seorang laki-laki yang masih terus menangis didepan pemakaman yang cukup lama. Aku langsung menghampirinya, lagipula ia sedang sendiri disana.
“Katakan, berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu?” tanyaku tanpa basa-basi.
Laki-laki itu langsung mengadahkan wajahnya kearahku, wajah yang sangat aku kenal. Nakajima Kento, pacarku saat aku masih sebagai manusia.
“Apakah kau Dewa Waktu?” tanyanya, matanya tampak merah karena menangis.
Aku mengangguk, aku pun masih tidak percaya siapa konsumen yang ada didepanku ini. Mungkinkah Yuya-nii sengaja merobek catatan tadi agar aku tidak kaget begitu tau siapa konsumenku?
“Benarkah? Mengapa wajahmu sangat mirip Miwako? Apakah kau Miwako?” tanyanya yang justru membuatku ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya. Tapi aku tidak bisa, seorang Dewa Waktu tidak bisa pergi saat melaksanakan tugas.
“Aku ini Dewa Waktu, cepat katakan berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu?” aku mengulang lagi pertanyaanku.
Laki-laki itu melihat batu nisan yang ada dihadapannya, “Aku ingin kembali diwaktu lima tahun yang lalu.” jawabnya tanpa ragu.
“Aku tidak bisa memutarnya selama itu, karena upahku untuk memutar waktu satu menit adalah satu tahun umurmu. Dan umurmu tidak akan mungkin mencapai ribuan tahun,” nada bicaraku terdengar menyesal, pertama kalinya aku menghadapi konsumen dengan selembek ini. Jika Yuya-nii tau mungkin ia akan marah padaku.
Laki-laki itu menangis lagi, “Aku ingin Miwako kembali padaku! Sudah lima tahun aku tak bertemu dengannya, ku kira ia menetap diJerman bersama kedua orangtuanya tanpa memberikan kabar kepadaku. Tapi ternyata ia sudah meninggal.”
Aku memperhatikan nama di batu nisan tersebut, ‘Tegoshi Miwako’. Ini kuburanku?
“Aku sangat mencintainya, tolonglah aku, wahai Dewa Waktu.” Nakajima Kento mulai berlutut dihadapanku, airmatanya pun semakin deras.
“Andai aku bisa memutar waktu selama itu, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu. Karena aku juga ingin hidup sebagai manusia bersamamu, Kento.” air mataku mulai mengalir.
“Miwako?”
Aku mengangguk, “Katakan berapa lama waktu yang ingin kuputar untukmu? Tolonglah sebutkan, agar aku bisa menyelesaikan tugas ini.”
“Empat puluh lima menit,”
“Maafkan aku, umurmu hanya tersisa tiga puluh tahun saja.”
“Kalau begitu tiga puluh menit,”
***
OWARI
Yay, tamat walaupun endingnya gantung hehehe ^^V

Continue reading

[Oneshot] I’m Glad to See You (Forbidden Love side story ~)

Title: I’m Glad to see You

Author: Fukuzawa Saya
Type: oneeshoot
Genre: Romance ,Angst.hahahaha
Fandom : JE
Starring : Nakajima Kento(sexy zone), Arioka Saifu (OC), Kikuchi Din (OC) dan selentingan orang lewt lewat*copas kata kata bunda hahahha
Disclaimer: ini adalah side diantara sidenya side*bikin bingung…hahahaha, maafkan saya yang bikin ini cerita makin banya side.hahahaha
~I`m Glad to See You ~
 
 

Saifu Pov
Pesta pernikahan Din nee chan berlangsung meriah dan tak ada masalah apapun.
Aku menatap Din nee dan Fuma-san sambil tersenyum dengan Kento disebalahku yang terus menggenggam tanganku erat, tangan yang dulu selalu digenggam dengan Daiki sama eratnya seperti sekarang, seperti saat Kento menggenggam tanganku.
Dimana Daiki sekarang?
Baik-baikkah dia?
Selama 3 tahun tak ada kabar apapun dari Daiki selain surat yang dia berikan padaku saat dia pergi meninggalkanku.
Kami tahu hubungan kami memang sangat salah,tapi semuanya sudah terjadi dan kami juga tak pernah menyangka akan begini jadinya.
Aku hanya selalu berdoa, dimanapun Daiki berada sekarang , aku berharap dia selalu sehat.
“Fu-chan…dousta?”,Tanya Kento sambil menatapku, membuyarkanku dari lamunanku.
Aku menggeleng,”daijobu…”
“memikirkan Daiki?”, tebak Kento dan aku tak akan pernah bisa berbohong dengan Kento, dia sealu bisa menebak apa yang aku pikirkan.
“aku hanya bertanya-tanya dimana dia sekarang dan apa dia sehat..”, gumamku pelan .
Kento menggengam tanganku makin erat ,”sou ne..percayalah dia akan baik-baik saja..”, kata Kento sambil tersenyum.
“Fuchan..ayo kuantar pulang..”,kata Kento saat acara pernikahan Din nee sudah selesai, dan para tamu sudah mulai pulang.
Aku mengangguk ,lalu mengikuti Kento menuju mobilnya yang diparkir di parkiran hotel .
3 tahun lewat, aku memang berpcaran dengan Kento . Tapi bohong jika aku bilang perasaanku sudah sepenuhnya hilang untuk Daiki, aku masih sering menangis setiap malam karena merindukan Daiki.
Aku hanya bisa menatap fotonya yang ada di dompet dan kamarku ,kadang aku hanya diam dikamar Daiki yang masih sama seperti dulu , saat kami keluar dari rumah.
“Fu-chan…sudah sampai..”,kata Kento
Aku mengangguk,lalu turun dari mobil diikuti Kento yang mengantarku sampai depan pagar rumahku.
“oyasumi…”, kata Kento lembut,
Aku menatapnya,lalu mencium pipi Kento lembut,”oyasumi…”
Kento masih didepan pagar rumahku sampai ahirnya aku masuk ke dalam rumah ,
“tadaimaa…..”, seruku pelan.
Suara isak tangis, begitu jelas.
Suara Mama?
Hatiku jadi gelisah, aku berlari keruang keluarga mendapati Otou-san tengah terdiam sambil memegang handphone yang masih digenggamnya erat.ekspresi wajahnya kaget campur tak percaya.
Sedangkan Mama terus menangis.
“Otou-san…,Mama..”,panggilku takut-takut, aku semakin takut mendengar apa yang akan mereka katakan.
Semoga bukan berita yang tak pernah ingin aku dengar, hal terburuk yang mungkin saja terjadi.
“Saifu..”, lirih Mama sambil memelukku erat,menangis sambil memelukku.
“Daiki…”lirih Mama.
“eh??ada apa dengan Dai-chan??”,tanyaku kalut.
“dia tertembak…”, kata Otou-san pelan,”dia meninggal….”kata Otou-san lagi,lalu langsung menutup matanya dengan sebelah tangannya, meneyembunyikan air mata nya.
“gak mungkin…”aku menggelengkan kepala melepaskan pelukan Mama,”KALIAN BOHONG!!”, teriakku kalut.
“Gak mungkin!!gak mungkin!!!!”, seruku berteriak
Hatiku seperti tersayat, bagaimana mungkin Daiki benar-benar meninggalkanku seperti ini??sebegitu inginkah dia pergi meninggalkanku??
Author Pov
 2 hari kemudian,jenazah Daiki sampai di jepang . Jenazhnya langsung dibawa kerumahnya, Mama pingsan setelah melihat jenazah Daiki, sedangkan Otou-san terus menangis, menangisi anak laki-lakinya yang sudah pergi untuk selamanya.Din juga tak henti-hentinya menangis, masih tak percaya Daiki meninggal.
Apalagi begitu dia tahu Daiki meninggal tak lama setelah dia menelponnya,dan itu menjadi perbincangan terakhir Din dan Daiki.
Saifu sendiri sudah terlalu lelah menangis, wajahnya sudah semabab. Dia terus menangis sampai tadi pagi jenazah Daiki tiba dirumah, Kento disamping Saifu hanya menggenggam tangan Saifu erat, Kento mengerti sesedih apa hati Saifu sekarang.
Kento terus menghibur Saifu sejak kemarin,namun respon Saifu hanya terus menangis. Tak ada yang bisa Kento lakukan lagi selain terus berada disamping Saifu.
Masih tak berubah, Daiki tak berubah sama sekali. Bedanya Daiki hanya bisa terpejam sekarang, didalam peti mati. Tak ada senyum hangat darinya untuk Saifu, tak ada suhu tubuh Daiki yang selama ini biasa Saifu rasakan.
Hanya sebuah tubuh yang terus terbaring dengan wajah tenang .
Saifu mendekati peti mati Daiki, tangan Saifu terulur menggenggam tangan Daiki yang tak balas menggenggam tangannya.
“Dai-chan…kenapa…”, Saifu kembali terisak kuat.
Namun tak ada jawaban apapun dari tubuh Daiki.
“Dai-channnn!!!!”Saifu berteriak Frustasi sambil menjambak rambutnya, Kento meraih tubuh Saifu memeluknya erat.
Hatinya ikut sakit melihat Saifu seperti ini, tak lama Kento merasa tubuh Saifu melemah ,Saifu pingsan masih sambil menangis.
Saifu membuka matanya, hari ini sudah malam.
“Daiki!!”,seru Saifu tiba –tiba sambil terduduk dikasurnya, Kento yang tertidur dipinggiran kasurnya terbangun ,menatap Saifu .
Saifu yang memeluk lututunya sambil menangis terisak.
Kento kembali memeluk Saifu,”tenanglah….aku disini,walaupun kau tak menginginkan aku. Aku ada disni bersamamu”, kata Kento.
Ucapan yang sama saat pertama kali Kento dekat dengan Saifu yang waktu itu baru saja ditinggalkan Daiki, Daiki yang memutuskan mengakhiri hubungannya yang salah dengan Saifu.
Kento masih ingat, saat itu dia menemukan Saifu yang tengah menangis dengan Din disampingnya yang terus menengkan Saifu.Saifu menangis sambil terus menggenggam surat dari Daiki
Surat perpisahan dari Daiki.
“Din nee…kenapa dia meninggalkanku?”,lirih Saifu sambil menangis.
Din memeluk Saifu, berusaha membuat Saifu lebih tenang,”mungkin ini semua untuk kebaikan kalian berdua….percayalah, Daiki pasti juga tak pernah ingin meninggalkanmu. .Dia terpaksa melakukan ini Fu-chan…”
“Tapi Din nee..aku ..aku mencintainya…kenapa semuanya harus seperti ini??kenapa kami adalah saudara??Tuhan kejam sekali padaku …”,Saifu terus terisak.
Satu hal yang dipikirkan Kento tentang Saifu, dia merasa iba dengan Saifu . Kento tak merasa jijik dengan hubungan Daiki dan Saifu karena setelah mendengar cerita Saifu tentang dirinya dan Daiki , mereka tak sepenuhnya salah juga karena mereka toh tak saling tahu merea kakak-beradik saat pertama kali bertemu.
Sejak saat itu, Kento terus mendekati Saifu, berusaha membuat gadis itu tak menangis lagi.
Selalu mendengarkan apapun yang Saifu ceritakan, tentang dia yang merindukan Daiki apapun.
Saifu memang hanya 1 tahun tinggal di share house setelah itu dia kembali kerumah orang tuanya yang tak pernah mengungkit tentang hubungannya dengan Daiki,namun juga ta pernah member itahu  keberadaan Daiki walaupun Saifu terus bertanya.Walau sudah tak tinggal di share house Saifu dan Kento masih tetap sering bertemu, menghabiskan waktu mereka bersama.
Kento yang terbiasa dengan Saifu, dan terbisa dengan gadis itu. Dengan senyumnya, dengan wajah sedihnya dengan harum tubuh gadis itu.
Kento tak bisa mengelak, dia menyukai Saifu .
Gadis yang selalu berada disampingnya itu membuatnya jatuh cinta.
Dan satu setngah tahun yang lalu, dengan keberanian Kento meminta Saifu menjadi pacarnya.
Saifu awalnya menolak, namun Kento memohon dan terus berjanji akan membuat Saifu bahagia.
Saifu yang tak tega akhirnya mengiyakan permintaan Kento walau dia mengatakan pada Kento dia ta janji akan mencintai Kento karena hatinya masih untuk Daiki.
Namun Saifu akhirnya luluh juga, kini dia mencintai Kento walau perasaan Saifu untuk Daiki masih tersimpan rapi didalam hatinya.
“Kento-kun…kenapa Dai-chan benar-benar pergi meninggalkanku?”, Tanya Saifu lirih,menyadakan Kento dari lamunannya.
Kento membelai wajah Saifu lembut ,mengusap air mata Saifu ,” ini suah takdirnya Fu-chan…..Daiki-san tak akan senang jika kau terus menangisinya…”,kata Kento sambil kembali memeluk tubuh Saifu.
“aku hanya masih belum siap dengan semuanya…Dia pergi terlalu cepat…”, lirih Saifu,”ini pertemuan kami setelah 3 tahun kami tak bertemu, tapi kenapa …kenapa kami bertemu dengan keadaan seperti ini?”, lirih Saifu lagi.
“Fu-chan…”,Kento mengusap usap kepala Saifu lembut,”sudah…relakan dia ya? Biarkan dia tenang..”, kata Kento
Tak ada jawaban dari mulut Saifu hanya isak tangis pelan yang masih keluar dari mulut gadis itu .Semua memori tentang dirinya dan Daiki terus terputar di otaknnya, senyum Daiki, ciuman lembut Daiki …Semua yang pernah dia lakukan bersama Daiki.
Tapi kini semuanya hanya bisa dia ingat, dia tak bisa lagi merasakan hangatnya tubuh Daiki.
Dia sangat mencintai Daiki, bahkan hingga sekarang.
Saifu tak rela..tapi dia harus merelakan kepergian Daiki itu.
“Aku bersyukur bertemu denganmu…Daiki…”,lirih Saifu , Kento hanya diam masih sambil menatap Saifu yang menunduk dan kini menatap Kento sambil tersenyum berurai air mata,” Dan aku beryukur bertemu denganmu…Nakajima Kento…”, kata Saifu lembut.
“arigatou…”, kata Kento sambil memeluk Saifu, Kento ikut menangis merasakan perasaan hangat yang mengalir ke dadanya dari senyuman Saifu.
Mereka menangis,menumpahkan kesedihan,merelakan yang terlah pergi , dan berbagi tangis untuk terus mencintai satu sama lain.
5 month later…
Saifu PoV
“Kau terlihat sangat cantik..”,puji Kento saat dia melihatku yang sudah selesai berdandan, Hari ini hari pernikahan kami.
“kuharap Dai-chan datang..”, kataku pelan.
Kento tersenyum,”aku yakin dia akan datang…”,kata Kento sambil menempelkan keningnya di kening Saifu.
“hei kalian …omedetou ne!!”, seru Din nee yang tiba-tiba masuk bersama Fuma-san.
“arigatou…”,kata Kento sambil tersenyum.
“Din nee..kandunganmu sehat-sehat saja kan?”,tanyaku sambil menghampiri Din nee yang tengah hamil 2 bulan.
Din nee mengangguk,”baik-bai saja kok..hehe..”
“aku juga akan segera menyusul ..”, cibir Kento merasa tak mau kalah dengan kakaknya.
“dasar bocah..”, cibir Din.
“aku sudah bukan bocah ..”,kata Kento sambil menjulurkan lidahnya.
“tapi kelakuanmu tetap seperti bocah…”,kata Din.
“hei kalian…sudahlah,acara sudah mau dimulai..kalau begitu aku dan Din kedepan dulu..”,kata Fuma sambil menarik lengan Din ,”selamat untuk kalian berdua..”,kata Fuma sebelum akhirnya keuar dari ruangan itu.
Aku berjalan gugup menuju altar bersama Otou-san, para tamu dan Kento menatapku membuatku semakin gugup. Aku tak mau melakuan kesalahan apapun , aku berjalan lurus menatap Kento didepanku yang berdiri dengan sabar menungguku mengahampirinya.
Disalah satu bangku kosong, disamping  bangku Mama  yang memang kuusediakan untuk Daiki ,aku melihat seseorang berdiri .
Tersenyu sambil menatapku, apa ini? Apa mataku salah lihat?
Daiki memakai jasnya dengan rapi, tersenyum kearahku.Senyum hangatnya yang biasa.
Aku terus menatap sosok itu walaupun kini Kento sudah meraih tanganku.
“Fuchan..?”,panggil Kento membuatu menatapnya,lalu kembali menatap sosok Daiki yang tembus pandang itu.
“omedetou….”
Daiki memang tak bersuara namun dari gerakan bibirnya aku bisa tau dia tadi mengatakan `omedetou `padaku.
Aku tersenyum lalu mengangguk ,”arigatou ….Daiki…”, kataku tanpa bersuara.
Kento menatapku bingung,”ada apa Fu-chan?”,Tanya Kento.
“Daiki datang…”,bisikku pelan sambil menatap kearah Daiki yang masih disana samba tersenyum.
“eh?aku tak melihat apapun…”kata Kento pelan.
“sudahlah…aku senang bisa menjadi istrimu Nakajima Kento…”,kata Saifu .
“eits..kita belum resmi…,ayo kita ucapkan sumpah kita dan sampai kita memakaikkan cincin dijari kita, ita resmi jadi suami istri…dank au akan menjadi nyonya Nakajima…”
“un..wakatta…”, kata Saifu lembut.
Saifu dan Kento sudah resmi menadji suami istri, Saifu menatap lagi bangku Daiki. Dan Daiki masih ada disana walau sosoknya semakin memudar , Saifu tersenyum dengan tangan Kento yang masih mengeggam tanganya erat sambil tersenyum didepan para tamu udangan.
“Dai-chan..arigatou,kau sudah datang…aku mencintaimu dan aku bersyukur bertemu denganmu..”, kata Saifu tanpa suara.
Sosok Daiki itu mengangguk ,”aku mencintaimu juga….”,kata Daiki sambil tersenyum ,lalu sosoknya memudar dan hilang begitu saja.
Saifu tersenyum , ini memang adalah kesalahan pada awalnya.
Namun akhirnya Saifu bersyukur, walapun dia kehilangan Daiki, tapi setidaknya dia tahu
Daiki mencintainya.
Dan dia bersyukur bertemu dengan Daiki, walau pada ahirnya mereka berpisah.
Namun kini ada Kento, dan Saifu beryukur karena bertemu dengan Kento.
“Fu-chan apa yang kau lihat sih?apa Daiki-san masih disini?”,tany Kento
Saifu menggeleng, “dia baru saja pergi…aku bersyukur bisa bersamamu..”,kataku lembut,
“aku pun begitu…Nakajima Saifu..”,kata Kento sambil mencium bibir Saifu .
OWARIIII~
Sedih sendiri bacanya..ini gagal gak sih angst nya???hahahaha
Leave some commen minna….and doakan saya di Mid semester ini >,<)9
Ganbarimasuuuu~ ~~!! Ini karena saya yang terlalu sensitive atau gimana sih??kok rasanya nyesek banget ya pas bikin ini cerita apalagi pas bagian ada Daikinya …

Continue reading