[Oneshot] A Little Story

A Little Story
By : magentaclover
Genre : Romance, Fluffy
Rating : PG-15
Cast : Nakajima Yuto (HSJ) x Reader (1st POV)
***
Kau tahu, pangeran tak selalu berada dalam dongeng bukan?
Apa kau tahu aku bukanlah tuan putri?
Namun mengapa kau datang dan membuatku menjadi pendampingmu?

Aku mencintaimu, malam ini dan seterusnya. Aku selalu menatapmu, di sini dan dimanapun itu. Sosokmu yang selalu tersenyum padaku dan memotretku diam-diam tak dapat hilang walau hanya sesaat dari ingatanku. Namamu akan selalu memenuhi fikiranku, cintamu pun telah membanjiri hatiku sejak lama. Aku tak tahu kapan, namun semua berjalan begitu cepat dan lambat di saat-saat tertentu. Kini sosokmu berada di sampingku, bersandar pada bahuku yang tak sekuat milikmu. Helaian hitam itu dapat kurasakan aromanya dari jarak sedekat ini. Wanginya memang tak dapat kudefinisikan seperti apa, namun kuyakini segalanya membuat nyaman di sini.

Sesaat kusentuh helaian hitam itu, lembut rasanya membuatku ingin mengusapnya kemudian. Aku suka warna hitam itu karena kau nampak indah dengannya, namun bukan berarti aku tak menyukai yang lain. Aku menyukaimu, apapun itu, mencintaimu bagaimanapun itu walau terkadang sulit adanya. Aku di sini selalu ingin denganmu dan aku pun berharap kau melalukan hal yang sama. Aku ingin selalu dirimu yang ada, bukan sosok lain yang singgah sesaat saja. Satu yang kumau hanya dirimu di sini walau kau terdiam atau tertidur sekalipun. Aku dapat memandangimu di sini, tak apa jika kau memejamkan matamu.

Di sini aku menatapmu untuk kesekian kalinya, aku tersenyum walau kau tak menatapku di sini. Aku tahu kau tampan, namun mengapa setampan ini jika kau terlelap? Aku ingin menyentuh wajah itu sedikit saja, boleh ‘kan?

“—hmm?”

Seketika aku terkejut kala melihat kelopak matamu terbuka menatapku. Kau tersenyum di hadapanku, membuat wajahku merona seketika karena perbuatan yang nyatanya belum sempat kulakukan. Kenapa kau selalu saja menggangguku saat aku ingin menyentuhmu diam-diam? Apa kau mempunyai indra keenam untuk mendeteksinya?

Ohayou,” ucapmu seraya mengacak pelan rambutku. Tidak sadarkah kau jika fajar belum datang?

“Ini masih malam, lihatlah di luar gelap.” Kataku seraya menunjuk ke arah kaca bening yang kubiarkan terbuka malam ini.

“Ah, souka…” Sesaat kau mengubah posisimu sehingga kita saling berhadapan satu sama lain, “Konbanwa, apa aku tidur terlalu lama?”

Aku mengangguk sebagai jawaban dan aku tersenyum kepadamu, yang paling kucintai. “Bagaimana? Apa mimpimu kali ini, Yuto?”

“Aku selalu memimpikanmu,” lagi-lagi kau mengacak rambutku, membuatku selalu merasakan telapak tangan itu di atas kepalaku. “—bagaimana kau tersenyum dan memarahiku, aku memimpikannya.” Katamu seraya terkekeh di hadapanku.

Aku diam di tempatku dengan dirimu yang kembali bersandar di bahuku. Aku pun kembali menciumnya, aroma lembut dari helaian hitam itu. Anak kucingku tersayang, apa yang kau pakai untuk helaian hitam itu membuatku tak ingin jauh darimu. Aku terikat di sini oleh apapun itu yang kau lakukan, sekalipun kau hanya bersandar padaku sebelum dirimu memeluk tubuhku seperti hari-hari sebelumnya. Aku suka caramu melingkarkan tanganmu di tubuhku, perlahan-lahan yang lembut. Semuanya membuatku mabuk dan tak jarang terbius begitu saja.

“Tadi aku memimpikanmu yang memarahiku karena aku yang tak kunjung menelponmu,” katamu yang masih memeluk tubuhku di sini. “Aku juga melihat senyumanmu di sana kala aku tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.” Katamu lagi.

“Itu konyol, aku tidak pernah memarahimu untuk hal-hal seperti itu bukan?”

“Ya, karena kau hanya menganggapku tak ada setelah kejadian itu.”

Aku terkekeh mendengar jawabanmu karena yang kau katakan semuanya adalah benar. Untuk apa memarahi seorang Nakajima Yuto, lebih baik kuanggap tak ada saja saat kau melakukan hal-hal seperti itu. Aku bukanlah orang yang akan meluapkan kemarahanku dengan cara seperti itu karena energiku akan terbuang sia-sia nantinya. Lebih baik kusimpan energiku ini untuk mencintaimu lagi dan lagi. Aku lebih menyukai hal itu, bagaimana denganmu? Apa kau menyadarinya?

“Apa kau juga tak akan tersenyum ketika aku datang tiba-tiba seperti itu?”

“Aku malah kesal akan hal itu,” ucapku seraya mengacak helaian hitam milikmu. “Sayangnya kau selalu melakukannya berulang-ulang kali. Apa aku salah?”

“Tidak sih,”

Entah mengapa kau malah tersenyum padaku, jemari itu pun telah menjelajahi wajahku sejak tadi. Mengapa kau selalu melakukannya? Bukankah kau dapat melihat sendiri wajahku yang tak seindah gadis-gadis yang menyukaimu? Aku tak sebanding dengan mereka, membayangkannya saja membuatku mundur berkali-kali jika saja kau tak menarikku ke dalam dekapanmu.

“Aku tahu dirimu yang menyebalkan kala memarahiku atau menganggapku tak ada,” kau semakin erat memelukku di sini, rasanya begitu nyaman. “Namun kau terlalu manis di saat itu, membuatku bingung dengan apa yang harus kulakukan.”

Diam-diam aku tersenyum tanpa kau sadari, kau pun memang tak harus tahu jikalau aku tengah tersenyum saat ini. Bagaimanapun aku tahu kau mencintaiku, walau tak pernah kubayangkan sebelumnya. Di sini aku akan selalu mengimbangi perasaan itu dengan diriku yang selalu saja apa adanya. Terkadang aku pun iri dengan gadis-gadis lain yang menyukaimu, namun kubiarkan hal itu berlalu begitu saja ketika kau mengecup lembut bibirku. Bagaimanapun rupaku tak kau hiraukan nyatanya, memang sih aku tak terlalu buruk. Mungkin gadis-gadis itu saja yang terlalu cantik. Atau aku yang memang hobi menjelek-jelekan diriku?

Arigatou,” kau berucap setelah kecupan singkat itu. Aku pun tak menjawab dan lebih memilih diam memandangimu yang juga menatapku. Ini adalah cinta tanpa kata, dimana dirinya ada saat kau dan aku tak tahu lagi bagaimana mengungkapkannya satu sama lain. Jujur saja, aku suka saat-saat seperti ini. Manis.

“Apa kau tahu sudah berapa kali kau mengucapkan terima kasih padaku?” tanyaku seraya terkekeh kecil menatapnya.

“Tidak tahu, aku lelah jika menghitungnya.”

“Aku pun lelah mendengarnya.”

Kau menghela nafas panjang setelahnya, mungkin kecewa dengan kata-kataku tadi. Apa benar begitu? Namun kurasa tidak ketika aku melihat lagi senyuman menyebalkan itu di wajahmu. Kau menggodaku ‘kan? Aku tahu.

“Kalau kau lelah mendengar kata-kata itu mungkin kau sudah meninggalkanku sejak dulu, benar ‘kan?”

“Kau terlalu percaya diri, Nakajima Yuto.” Aku terkekeh lagi di hadapanmu dan kau pun melakukan hal yang sama denganku. Tidak salah sih kata-katamu, namun aku pun tak mau mengakuinya begitu saja.

“Kenapa kau selalu tak jujur dengan perasaanmu?” tanyamu dan aku hanya menatapmu yang nyatanya malah menatap yang lain.

“Mungkin karena aku senang menggodamu dan membuatmu kesal,” kataku santai seraya ikut menatap apa yang kau lihat saat ini.

Aku tahu senyuman itu samar-samar terlihat lagi di wajah tampanmu, aku pun selalu senang kala melihatnya nyata. Telapak tangan itu tak lagi membelai lembut helaian rambutku di sini, namun sentuhannya jatuh kepada yang lain, yang ada di antara kami. Aku tak keberatan akan hal itu karena aku selalu senang saat melihatnya nyata di kedua bola mataku. Rasanya indah melihatnya, bahkan terlalu senang rasanya jika kubandingkan dengan hal-hal lain yang kau berikan padaku.

“Kekesalanmu itu nyatanya membuat dirinya ada bukan?” ucapmu yang masih membelai lembut sosok lain itu. Aku pun tersenyum dan mendekat ke arahmu serta sosok kecil yang terlelap di sampingmu.

“Kau juga membantuku untuk membuatnya ada bukan?”

“Tentu saja, memangnya kau mau orang lain yang membantumu?”

“Tidak masalah,” ucapku berbohong. Aku hanya menggodamu sedikit saja seperti yang biasa kau lakukan padaku.

Sesaat tadi kau menatapku kesal, mugkin tak suka dengan kata-kata yang tadi kuucapkan. Nyatanya kau terlalu sering melakukan candaan seperti itu, namun kau tak terima jika aku yang melakukannya. Kau curang dan menyebalkan jika seperti ini adanya, sadarkah dirimu?

“Ingat ya, kau tidak akan pernah membuat sosok semanis ini jika bukan bersamaku.” Kata-kata yang terlontar dari mulutmu itu rasanya memancing kembali tawaku. Mengapa seorang Nakajima Yuto terlalu percaya diri seperti ini?

“Bisa saja, mungkin bersama Chinen lebih baik.”

“Apa kau gila?”

“Sedikit,” gumamku pelan karena kau sudah berbicara cukup kencang tadi, “Aku gila karena seorang Nakajima Yuto.”

Kau pun tersenyum di sana, seolah merasa puas dengan kata-kataku tadi. Aku tidak sengaja mengatakannya, namun bukan berarti ingin kusembunyikan juga. Kenyataannya memang benar seperti yang kukatakan, kau pun tahu walau selalu saja pura-pura tak tahu. Aku tahu memang hanya dirimu dan kau pun sudah tahu tetapi masih sering meminta jawaban. Apa kau tidak yakin dengan perasaanku yang sudah terlalu lama ini?

“Gadis kecilku yang manis ini memang hanya bisa kudapat darimu,” kau bergumam di sana seraya membelai lembut wajah gadis kecilmu. Ah, bukan. Sosok itu adalah gadis kecil kami.

“Kau selalu saja begitu,” aku menatapmu sedikit kesal karena selalu saja kau melakukan hal yang sama untuk mengganggu waktu tidur gadis kecil itu. “Papanya begitu menyebalkan karena mengganggu mimpi indah gadis kecilnya.”

“Sayangnya kekesalan itu pasti akan pudar ketika mengingat papanya yang begitu tampan,”

“Kurasa kau adalah papa yang terlalu percaya diri.”

“Dan kau adalah mama yang selalu saja mencintai papa yang terlalu percaya diri ini.”

“Begitukah?”

“Oh, tentu!”

Aku pun mengacak lagi rambutmu karena selalu saja dibuat salah tingkah oleh sikapmu. Sesaat setelahnya aku merasakan hembusan nafas hangatmu yang mendekat. Lagi-lagi, di malam ini kau melakukan hal yang sama, mengecup singkat apa yang selalu menjadi tujuan utamamu tanpa memikirkan siapa yang ada di antara kita. Walaupun mata gadis kecil itu terpejam, pemandangan ini terlihat tidak baik ketika mama dan papanya melakukan hal ini untuk kesekian kalinya. Kurasa ini benar, iya ‘kan? Sayangnya papanya tak menganggap demikian. Papanya memang sedikit gila.

Aishiteru yo…”

.

.

.

-END-

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] A Little Story

  1. Darya Ivanova

    OMFG! AKU SUKA BANGET SAMA CERITAMU!!!! Bukan cuma plotnya yang bikin kyun-kyun, tapi diksinya secara keseluruhan juga oke. Terus berkarya ya! ^^ *menyemangati diri yang juga sedang kena writer’s block*

    Reply
    1. magentaclover

      Iseng-iseng mampir kesini dan ternyata ada jg yg baca ff ini hehe, makasih udah menyempatkan diri buat baca ^^ semangat juga nulisnya! Jangan mau kalah sama virus wb mu itu!!! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s