[Minichapter] Aomori, Ringo to Kimi (Chapter 1)

Title: Aomori, Ringo to Kimi

Type: Minichapter

Chapter: One

Author: Suzuki Saifu x Shield Via Yoichi

Genre: Romance

Rating: PG-13

Fandom: JE, HSJ

Starring: Suzuki Saifu (OC),Yamada Ryousuke (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Sato Miharu (OC), Inoo Kei (HSJ), Ikuta Din (OC), Yuya Takaki (HSJ), dan beberapa anak JE yang akan lewat.

Disclaimer: Just own Suzuki Saifu OC, And other starring belongs to themselves. Please leave some comment, coz comments are LOVE~

 

 

 

CHAPTER ONE

 

 

Tsumaranai yo….” gumam seorang gadis yang kini tengah menopangkan kepalanya ke meja kerjanya, entah berapa lembar kertas yang kini berserakan dimeja kerjanya, juga cangkir cangkir kopi sisa semalam yang menemani gadis muda itu terjaga semalaman.

Pintu kamar sigadis terbuka,dan sebuah kepala milik teman satu apartemennya menyembul dari luar “Saifu, aku berangkat dulu ya”

“Eh? Mau kemana, Din??”

“Jalan-jalanlah sama pacarku, aku pulang dua hari lagi ya” Gadis bernama Ikuta Din itu tersenyum sumringah. “Fuchan boleh ikut kok kalo mau” kata Din sedikit menggoda Saifu.

“Mengejekku? Ngapain aku jadi kambing conge kau sama Takaki? Lagian kerjaanku belum beres” Saifu melepas kacamatanya, “Aku butuh liburan”

“Kau juga butuh pacar, nona Desainer Suzuki”

“Kayaknya untuk sekarang gaperlu. Aku masih sibuk, lagian aku malas kalau harus repot-repot ngasih perhatian ke pacar, kerjaanku saja sudah banyak menyita perhatianku” Saifu kini memandang ke luar jendela kamarnya, menatap orang orang yang lalu lalang dijalan lalu menguap.

“Kau bisa jadi perawan tua loh nanti”, kata Din sambil membalas email di handphone-nya.

Hai, hai, Ikuta cerewet-san

Jyaa, ittekimasu ne~”

Hai~” jawab Saifu malas. “Ngapain aku sekarang?” gumam Saifu lalu menatap layar PC nya, menatap pekerjaannya yang belum juga rampung padahal 3 hari lagi dia harus mempresentasikan desainnya pada pihak pemberi tender, ini tender besar dan Saifu tak ingin sampai gagal.

“Tralala~” Handphone Saifu berbunyi, gadis itu menatap layar handphone-nya dan tau kalau atasannya yang menelpon.

Hai, moshi moshi? Arioka-san?” Saifu diam sebentar mendengar lawan bicaranya berbicara disebrang telepon “EH?? BESOK?” wajah Saifu kini terlihat panik, “Baik Arioka-san, akan saya selesaikan segera, besok saya janji akan datang ke kantor tepat waktu. Hai, hai.. Arigatou

Saifu menutup telponnya dan menghela nafas, bosnya mengatakan jika Saifu harus menyelesaikan desainnya segera karena pihak pemberi tender meminta kemajuan hari untuk presentasi desain yang sudah diminta.

Shoganai na~” rutuk gadis itu sambil kembali mengerjakan desainnya yang masih 75 persen rampung.


“Suzuki-san, ohayou..”

Saifu yang baru saja memasuki ruang kantor bos nya itu tersenyum dengan wajah lelahnya, dia baru tidur dua jam karena menyelesaikan desainnya dan harus sampai kantor jam 9 pagi.

Ohayou gozaimasu, Arioka-san” Saifu duduk di hadapan Arioka Daiki yang kini tersenyum manis menatapnya.

“Wajahmu lelah sekali, Suzuki-san

“Ehehe..” jawab Saifu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal itu.

“Tenang saja setelah proyek ini kau boleh libur 3 minggu” Daiki tersenyum lalu menelpon OB untuk membawakan kopi untuknya dan untuk Saifu.

Hai..” jawab Saifu setengah mengantuk.

“Kau boleh berbaring dulu kok di sofa sebelum kau presentasi” Daiki menatap jam tangannya, “Masih ada satu jam lagi sebelum mereka datang”

Jyaa.. Kalau begitu, maaf merepotkan” kata Saifu yang tak mau menolak tawaran bosnya itu, lalu berbaring di sofa ruang bos nya itu. Daiki hanya tersenyum lalu melihat lihat hasil desain Saifu.

Daiki lalu terkekeh, baru lima menit dan Saifu sudah mulai mendengkur. Pria berwajah manis itu hanya menggeleng tak habis fikir lalu melanjutkan pekerjaannya.

Tapi entah kenapa, konsentrasinya terganggu, bukan karena suara dengkuran Saifu. Tapi, karena keberadaan gadis itu diruangannya.

Daiki terdiam lalu menatap gadis berusia 25 tahun yang masih terlelap di sofa merah marun di ruangannya itu, tanpa sadar Daiki mendekat, berlutut sambil menatap wajah gadis yang kini tengah terlelap dihadapannya.

Entah dorongan apa yang membuat wajahnya tiba-tiba mendekat dan bibirnya kini menempel di bibir gadis itu. Daiki melepas ciumannya lalu mencium dahi Saifu yang masih terlelap. Entah kenapa wajahnya terasa panas dan dia butuh keluar dulu dari ruangannya untuk menenangkan hatinya.

Suka kah dia pada Saifu?


Yokattaaaaa~~” wajah Saifu terlihat sumringah, desainnya sudah diterima dan sekarang dia bias libur setidaknya untuk tiga minggu ke depan sebelum dia harus kembali bekerja dan mengontrol desainnya yang sedang dikerjakan agar tak terjadi kesalahan.

“Suzuki-san, yokatta ne, hari ini pun kau berhasil menang tender” Daiki yang tiba tiba muncul dari mana mengagetkan Saifu yang kini bersiap untuk pulang ke apartemennya.

“Ah , hai. Arigatou, Arioka-san

“Kau mau pulang? Mau bareng denganku?” tawar Daiki yang sudah akan ke parkiran untuk mengambil mobilnya.

Saifu tampak menimbang-nimbang, “Sudahlah, ayo.. Aku memaksamu” ajak Daiki yang kini sudah menggandeng tangan Saifu karena tak sabar.

“Libur tiga minggumu mau kau pakai kemana?” tanya Daiki yang duduk dibelakang kemudi mobilnya.

Maa~… Mungkin aku akan ke tempat yang alamnya terbuka. Mungkin Hokkaido, atau Chiba, AAHH~ atau Aomori, sudah lama aku ingin kesana, perkebunan Apel nya terkenal di seluruh Jepang” kata Saifu sumringah mengingat apel adalah buah kesukaannya.

“Kalau begitu kabari aku, mungkin kalau pekerjaanku selesai aku akan menyusul Suzuki-san

Wajah Saifu terlihat bingung.

“A-ah maksudku aku juga ingin berlibur. Dan Aomori terdengar bagus. Kalau pergi sendiri kurang menyenangkan, makanya mungkin aku akan menyusul Suzuki-san kalau kau tak keberatan” jawab Daiki gelegapan.

“O-oh begitu ya. Aku tak masalah sih, nanti aku akan hubungin Arioka-san kalau aku ke Aomori” Saifu melepaskan seatbelt-nya, “Arigatou ne, sudah mengantarku” Saifu bersiap turun dari mobil Daiki.

Chotto-” Daiki menarik lengan Saifu tanpa sadar dan mendaratkan ciumannya di pipi Saifu, “Oyasumi..”

Saifu mematung sejenak sampai akhirnya dia tersadar dan buru-buru keluar dari mobil Daiki “Arigatou, Arioka-san” jawab Saifu salah tingkah sambil membungkuk lalu cepat-cepat berbalik pergi.

Dia malu sekali dengan serangan tiba-tiba Daiki dadanya berdetak cepat dan dia tak tau mengapa wajahnya terasa panas, “UWAAAA” gumamnya dalam hati. Kenapa juga bos nya itu menciumnya? pikir gadis itu.


Ohayou, Dinchan..” sapa Saifu yang tengah sarapan di meja makan.

Ohayou..” sapa Din yang kini duduk di meja depan Saifu sambil menguap. Gadis itu menatap koper Saifu, “Mau kemana kau? Minggat?”

“Enak aja, aku cuma mau liburan kok” jawab Saifu acuh

“Hah?? Kemana? Ikuttttttt, Fu~” rengek Din.

“Eh~, kau kan harus ngajar kursus minggu ini. Kasian anak didikmu, Dinchan” Saifu melahap potongan rotinya, “Lagian ini balasan kau kemarin liburan gak ngajak aku. Sudah yaa aku mau ke bandara, jaga rumah baik baik, bweeee” Saifu menjulurkan lidahnya pada Din disusul suara tertawanya yang membuat slipper Din hampir terlempar kearah gadis itu.


Saifu mengembungkan pipinya kesal sambil mendumal kesal. Baru saja dia turun dari bus yang membawanya dari airport, sekarang dia malah terjebak hujan disebuah halte bus di Aomori. Padahal rencananya setibanya nanti dia di hotel tempatnya menginap di Aomori, dia akan santai dulu di hotel karena masih lelah berjam-jam duduk dipesawat, salahnya juga yang malah memilih naik bus ketimbang naik taxi dari bandara.

“Apa tidak ada taxi yang lewat?” gumam Saifu. Pemandangan didepannya sebenarnya tak buruk juga, malah lebih bagus ketimbang Tokyo. Pohon-pohon dan banyak tempat yang terlihat hijau, juga udara yang terasa sejuk. “Hoooammzz…” Saifu mulai mengantuk dan menyenderkan kepalanya di tiang bangku halte.

“Nona..?”

Ehmm….dare? Saifu menyipitkan mata menatap seorang pemuda didepannya, dia tertidur di halte entah untuk berapa lama.

“Bahaya sekali gadis sepertimu tertidur sendirian di halte. Butuh tumpangan?” tawar pemuda berambut coklat tua dan ehm…baunya seperti apel?

“Nona?”

Saifu mengusap mata, diluar masih hujan dan nampaknya dia tak punya pilihan lain selain menerima tawaran pemuda yang entah siapa itu. Tapi naluri Saifu mengatakan pemuda ini tak jahat.

“Kau mau kemana, Nona?” tanya pemuda itu lagi.

“Penginapan Yamadashi, kau tau?” Saifu menatap pria yang tersenyum secerah sinar matahari di musim panas itu dengan agak takut.

“Oh~ tau sekali. Mari saya antar. Nama saya Yamada Ryousuke” kata pemuda bernama Yamada sambil menyodorkan tangannya di hadapan Saifu.

“Suzuki Saifu” tangan Saifu yang agak dingin itu menjabat tangan pemuda yang entah mengapa terasa sangat hangat dan nyaman. Untuk sekejap Saifu menatap wajah pemuda itu, terpana.

“Mari saya bawakan tasnya” Yamada mengambil alih koper Saifu dan memasukannya ke bagasi mobilnya,” Kau pasti dari Tokyo.”

“Eh..? Tau dari mana?”

“Hanya menebak saja. Untuk apa ke Aomori? Liburan?” tanya Yamada lagi sambil melirik Saifu yang melihat jalan diluar dengan antusias, suasananya membuat Saifu terlena, seakan segala beban beratnya selama di Tokyo lenyap untuk sesaat.

“Un. Aku ingin sekali ke perkebunan apel di Aomori karena perkebunan apel disini paling terkenal di Jepang!” seru Saifu antusias

“Kau suka apel?”

“Makanan favoritku” jawab Saifu yang tanpa sadar tersenyum. Yamada berani bersumpah kalau gadis ini memiliki senyum termanis yang pernah dia lihat.


Arigatou..” seru Saifu saat dia sudah tiba ke penginapan yang dia tuju. “AAhhhh—biar kubawa sendiri.” seru Saifu sambil buru-buru mengambil alih kopernya yang dipegang Yamada.

“Maaf sudah merepotkan. Sekali lagi terima kasih, ne? ah bagaimana kalau sebagai ucapan terima kasih kutraktir makan malam. Kudengar makanan di penginapan ini yang paling enak” seru Saifu.

Yamada sedikit berfikir, “Malam ini aku tidak bisa, mungkin besok siang,bagaimana? Kuberikan alamat email dan nomorku”

“Baiklah” mereka bedua bertukar nomor dan alamat email. “Kalau begitu aku pergi dulu ya” seru Yamada, “Semoga liburanmu menyenangkan Nona.” Yamada masuk kedalam mobilnya.

Hai, arigatou. Sampai ketemu..” Saifu melambaikan tangannya kearah Yamada yang berlalu pergi.

Yosh~ ” Saifu menarik kopernya kedalam penginapan dan bersiap istirahat untuk besok.


“Ryou-chan dari mana saja?” gadis berambut coklat sebahu itu menatap Yamada Ryousuke kesal, “Bukannya bantu-bantu kami mengepak apel”

“Apa sih, Miharu~ Aku sibuk tau. Lagian kan ada kau dan pekerja lain. Aku lebih suka ke perkebunan ketimbang packing barang.” jawab Yamada yang kemudian sudah ngeloyor pergi. Menghindari pertengkaran dengan Miharu adalah jalan paling tepat baginya karena Miharu akan terus mengoceh selama kita terus menjawab gadis itu.

“Heh, mau kemana kau?” Sato Miharu kesal sambil membuka apronnya, “Otsukaresama deshita..” seru Miharu sambil berlari mengejar Yamada, para pekerja yang sedang packing apel hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bos dan teman dari kecilnya itu.

“Aku mau makan ramen.”

“Di kedai si Inoo itu?” tanya Miharu dengan muka kesal, “Kedai ramen kan bukan punya si Inoo itu doang, Ryou-chan!!”

“Tapi aku sudah makan ramen disana dari aku masih SD, kalau gamau ya gausah ikut” jawab Yamada santai.

Miharu mendengus kesal, Yamada bukannya tidak tau kalau Miharu temannya sejak kecil ini suka padanya. Tapi, dia hanya menganggap Miharu sebagai teman masa kecilnya. Tak lebih dan tak akan lebih dari itu. Miharu pernah sekali menyatakan perasaannya pada Yamada dan pemuda itu menolaknya dengan halus. Namun Miharu terus saja menempel padanya sampai detik ini. Walau dia sudah bosan diikuti seperti ini, dia tidak bisa melarang Miharu untuk berhenti.

“Memangnya kenapa sih kau tidak suka ke kedai Inoo?” tanya Yamada yang tau kalau gadis itu terus mengikutinya.

“Tidak suka aja, melihatnya membuatku kesal!! Dia juga suka marah padaku!”

Yamada tidak menanggapi, dia terus berjalan tanpa peduli dengan Miharu yang masih mendumel sepanjang perjalanan mereka.

Irrashamase~ Ah! Yama-chan” pemuda berwajah cantik bernama Inoo Kei itu menyambut tamu tetapnya sekaligus temannya itu dengan sumringah, “Ngapain kau bawa cewek kasar ini kemari?”

Entah hanya Yamada atau yang lain dapat melihatnya juga, Inoo dan Miharu saling tatap seolah ada aliran listrik yang beradu dari kedua mata mereka.

“Bisa ga kau tidak memanggilku cewek kasar?” Masih saling tatap bahkan lebih sinis daripada sebelumnya.

“Tapi memang benar kan kau itu kasar?” balas Inoo yang juga ikut membuat tatapannya semakin sinis. Sementara Yamada yang berdiri di antara mereka hanya bisa melihat mereka berdua secara bergantian lalu menghela napas sambil menggeleng.

“Sudahlah kalian berdua.” ucap Yamada. Baik Miharu maupun Inoo saling membuang pandangan ke lain arah. Yamada melirik mereka, dia bisa melihat mata Inoo yang curi-curi pandang pada Miharu dan Miharu sendiri yang sudah masam wajahnya masih melihat ke luar kedai, “Inoo-chan, aku seperti biasa yah. Kau, Miharu?”

“Tidak usah, aku pulang saja. Seleraku sudah hilang karena dia” belum sempat Yamada menjawab gadis itu sudah keburu menghilang dibalik pintu.

Hai~ douzou” Inoo menyajikan semangkuk ramen yang memang menjadi favorite Yamada.

“Musim gugur memang bawaannya lapar terus ya, Yama-chan?” Inoo duduk disamping Yamada sambil menyeruput ocha hangatnya.

“Kayaknya sih gitu” Yamada menyuapkan ramen itu dengan sumpitnya, “Aku heran dengan kalian.”

“Kalian? Siapa?”

Yamada melirik Inoo, “Kau dengan Miharu. Tidak pernah ada akurnya.”

“Yah..” Inoo meneguk lagi ocha-nya, “Dia sih yang mulai.”

“Seharusnya kau diam aja, mungkin aja sikapnya bisa melunak padamu. Kalau dia sudah melunak denganmu, dia jadi dekat denganmu dan mungkin bisa berhenti mengikutiku juga” Yamada memainkan sumpit di mangkoknya, “Kalau begini terus, mau sampai kapan Miharu mengekoriku dan bertengkar denganmu? Dan sampai kapan dia terus menanyaiku kemana dan kemana setiap aku pergi? Aku sudah bosan.”

Inoo menyerit heran, “Tumben kau ngomongin Miharu. Ada sesuatu ya?”

“Hm? Tidak ada apa-apa..” katanya. Tapi Inoo tidak percaya kalau dia baik-baik saja tapi dia tidak ambil pusing tentang itu walau dia cukup penasaran.

Drrrttt —-

“Ada email tuh,” Inoo melirik display handphone Yamada. “Siapa tuh Suzuki Saifu?” goda Inoo, karena setahunya dia tak pernah tau ada gadis bernama seperti itu dikotanya.

“Berisik kau..” entah mengapa Yamada salah tingkah dan entah mengapa pemuda itu terbayang wajah Saifu yang tersenyum padanya.


Hai.. moshi-moshi. Ah.. Arioka-san, aku sudah sampai sejak tadi siang.” Saifu diam sejenak mendengarkan atasannya itu berbicara disebrang telfon.

”Ah, gomen. Handphone ku low battery sejak sampai di airport. Maa~ menyenangkan kok disini, udaranya juga baik. Arioka-san harus kemari” Saifu kembali mendengarkan Daiki berbicara disebrang.

”Ah, hai hai, kabari saja jika Arioka-san sudah akan kemari aku akan jemput di airport, nanti kujemput juga. Hai, oyasumi

KLIK-. Sambungan telfon berakhir dan Saifu kini merebahkan tubuhnya yang terasa nyaman setelah berendam di onsen, gadis itu agak kaget juga bos nya meneponnya malam malam hanya untuk menanyakan keadaanya.

DRrrrrrttt—

Saifu membuka email yang masuk ke keitai-nya.

 

From : Yamada Ryousuke-san

Subject : (no subject)

 

Besok kebetulan aku ada urusan di tempat kau menginap.

Jadi sekalian saja kita pergi. Jam 1 siang, dou?

 

Tanpa sadar Saifu tersenyum sambil menatap email dari pemuda yang baru dikenalnya itu.

 

From : Suzuki Saifu-chan

Subject : (re: no subject)

 

Oke desu~

Jam 1 siang besok. Matta ne~

J

 

“Wah, Yama-chan aneh banget senyum-senyum sendiri” gumam Inoo yang sedang menonton TV dikamar Yamada.

Urusee~”

“Heeee.. ngapain si Inoo Kei ada disini??” Miharu yang baru saja masuk ke kamar Yamada menatap Inoo tak suka.

“Yang ada juga kau ngapain ke kamar cowok malam-malam begini?” balas Inoo.

“Bukan urusanmu!!” dengus Miharu, “Aku mau kembalikan ini” Miharu meletakkan komik dimeja Yamada, “Aku duluan” kata Miharu malas lalu berlalu pergi. Inoo terus melihat gadis itu sampai menghilang dibalik pintu.

“Kalian ini udah kayak anjing sama kucing tau.” cibir Yamada yang matanya masih saja fokus menatap keitai-nya.

“Dia yang cari gara-gara duluan, Yama-chan

Hai~ hai~”


Daiki menatap keitai-nya, setelah menelpon Saifu perasaannya jadi lebih tenang. Dia sebenarnya ingin sekali menyusul Saifu ke Aomori tapi masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya dikantor.

“Ah~ tsumaranai” Daiki menatap lagi keitai-nya menatap nama Suzuki Saifu di display keitai-nya.

Baru dua hari Daiki tidak bertemu gadis itu rasanya dia sudah sebegitunya tersiksa, dan lagi gadis itu pergi jalan-jalan sendiri. Memang sih Daiki itu hanya bos Saifu tak lebih dari itu, tapi merasa khawatir boleh saja kan?

Daiki kembali membuka keitai-nya lalu mengetik sesuatu untuk dikirimkannya ke Saifu. Dan klik-, email terkirim.

 

From : Arioka Daiki

Subject : (no subject)

 

Sudah tidur?

Aku hanya ingin bilang, kalau ada apa apa jangan ragu untuk menghubungiku.

Ne ? kalau begitu selamat tidur. J

 

 

Tak lama email balasan dari Saifu masuk dan Daiki buru-buru membukanya.

 

From : Suzuki Saifu

Subject : re (no subject)

 

Hai , shinpai shinaide ne

Arigatou ne J

Oyasuminasai

 

Daiki tersenyum simpul membaca balasan email Saifu. Lalu menatap jalanan kota dari dinding kaca ruang kerjanya.


“Yamada-san?” Saifu menatap Yamada yang datang dengan mobil pick-up berisi berkardus-kardus apel siap kirim.

“Yo~ konnichiwa” Yamada menghentikan mobilnya lalu turun.

“Kau tak bilang kalau kau bekerja di tempat yang berhubungan dengan apel~”

“Kau kan gak bertanya, terus ngapain aku kasih tau?” Yamada kemudian tersenyum menatap salah satu pekerja hotel yang menghampirinya,” Sebentar ya Suzuki-san” Yamada kemudian berbicara pada pihak hotel yang memesan beberapa kardus apel darinya dan menunggu pekerja hotel mengambil alih kardus kardus apelnya.

“Jadi kau kerja di perkebunan apel?” tanya Saifu yang kini duduk disebelah Yamada yang sedang mengemudi, mereka menuju perkebunan apel tempat Yamada bekerja.

“Un. Aku juga lulusan bidang pertanian gitu sih”

Sugoiiii~”

“Suzuki-san sendiri ?” Yamada sedikit melirik Saifu yang menatap jalanan di sekelilingnya dengan berseri-seri.

“Ah aku lulusan Desain Interior. Aku kerja di Tokyo dan karena kemarin aku baru saja menang tender besar, bos ku memberiku libur 3 minggu”

Sugoiii, nona Desainer. Tiga minggu liburmu dihabiskan di Aomori?”

Maa~ Mungkin ya? Aku belum tau juga sih akan selama itu atau tidak” Saifu menatap ladang apel yang dibatasi pagar yang ada di hadapannya “Sugoiiiiii~ Sudah musim panen ya?”

“Iya, kau datang disaat yang tepat. Apel-apel siap panen, kau boleh memetiknya langsung dan memakannya.” terang Yamada, “Orang disini ramah-ramah kok nanti kukenalkan”

“Un, Arigatou!!”

Untuk sesaat lagi Yamada terpana menatap senyum gadis itu. Berani sumpah selama 28 tahun hidupnya, dia tidak pernah merasa seperti ini hanya karena seorang gadis tersenyum padanya.

“Yamada-san, kau melamun?” Saifu kini menatap Yamada yang kini malah salah tingkah karena ditatap langsung.

“Ahhh.. tidak. Ayo masuk” Yamada berjalan disamping Saifu yang mengikutinya.

“Ryou-chan!!! Kemana saja kau??” Miharu yang entah muncul dari mana, tiba-tiba saja muncul di hadapan Yamada dan Saifu yang terlihat kaget menatap gadis dengan apron putih yang kini menatap Yamada dengan kesal.

“Habis antar barang kok” Yamada melirik Saifu “Suzuki-san, ini temanku Miharu Sato.”

Hajimemashite Suzuki Saifu desu” Saifu tersenyum simpul sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.

Miharu menatap Saifu awas, “Sato Miharu” jawab Miharu ketus lalu mendengus pergi tanpa mengubris tangan Saifu. “Apaan sih, Ryou-chan.” cibirnya pelan tapi masih bisa Yamada dengar.

Gomen ne. Dia memang seperti itu kuharap kau tak ambil hati” Yamada tersenyum.

“Un, daijobu. Mungkin dia hanya cemburu karena Yamada-san datang denganku” Saifu tersenyum simpul, “Ne, aku tak sabar mencicipi rasa apel dari perkebunan ini” tambah Saifu semangat.

“Hahahahaha… baiklah, kau boleh ambil sebanyak yang kau mau” tawar Yamada.

“Eh? Hontou??” Saifu tersenyum senang, “Eh, tapi apa kau tak akan dimarahi bos mu?”

“Tenang saja. Sudah yuk..” Tanpa sadar Yamada menarik tangan Saifu untuk mengikutinya masuk ke area perkebunan yang dipenuhi warna hijau dan merah ke-pink-an dari apel.

“Apel dari perkebunan ini yang terbaik kualitasnya,” Yamada memetik satu lalu memberikannya pada Saifu, “cobalah”

Saifu tersenyum, lalu mengigit apel ditanganya “Oishiiiiiiiii~”

Deshou, ne ?” Yamada tersenyum menatap wajah Saifu yang merona.

“Aku juga ingin petik sendiri. Ii, no ka?” tanya Saifu

Mochiron desu

Saifu menatap sekeliling dan tampak tertarik dengan salah satu pohon apel yang lumayan tinggi.

“Eh, kuambilkan tangga dulu kalau begitu” kata Yamada dan kembali dengan sebuah tangga. “Hati-hati” Yamada memeganggi tangga agar Saifu tak jatuh.

“Sedikit lagi..” gumam Saifu yang mendongak berusaha menggapai sebuah apel yang entah mengapa terlihat sangat lezat dimatanya.

“Suzuki-san, hati hati”

Entah dari mana angin berhembus dan meniupkan debu kemata Saifu yang membuat gadis itu tak seimbang, “Uwaaaaa….” Saifu terjatuh dan mendarat diatas tubuh Yamada.

Mata Saifu dan mata Yamada saling tatap.Yamada dapat mencium harum gadis berambut coklat panjang ini dari jarak tak sampai satu mili, keduanya hanya bisa terdiam mematung sejenak dengan bibir yang saling bersentuhan.

 

To be continued~

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Aomori, Ringo to Kimi (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s