[Oneshot] Game Of Love : Phase

cover 4 copy

Game Of Love (Sequel: Phase)
Author :
YamAriena
Type : Oneshot
Genre : Romance, Friendship
Rating : PG-13

Backsound: Flower – Hitomi no Oku no Milky Way (klik buat donlot lagunya)

Main Cast: Yamada Ryosuke (HSJ); Ono Kensho (Seiyuu&Butai Actor); Koizumi Arina (OC)

Support Cast: Takaki Yuya, Chinen Yuri, Inoo Kei (HSJ); Kanagawa Miki, Hideyoshi Sora, Sato Miharu (OC)

————————————————

“Watashi wo mitsumete

Sono ginga wo oyogitai Stay In Your Eyes

Dare wo miteiru no?

Sono hitomi no oku ni aru Milky Way

Itsumo kagayaku you ni, Ah.. mamotte agetai

Nee…anata wo aishiteru”

From: toroKen@shoftbank.co.jp

To: amethyst.hime@shoftbank.co.jp

“Besok Butai nya mulai jam 3, pergi bersama?”

Arina tersenyum memandang ponselnya dan segera mengetik balasan pesan itu dengan cepat lalu menyimpannya kembali kedalam saku mantelnya. Udara musim dingin masih belum tanda-tanda akan menghangat, karena memang pada saat sekarang adalah puncak dari musim dingin di Jepang.

Gadis itu pun merapatkan mantelnya dan mempercepat jalannya. Namun baru beberapa langkah gadis itu tampak menghela nafasnya sesaat lalu menghela nafasnya dengan keras.

“Jadi, kenapa kau mengikutiku?” tanyanya.

Seseorang yang memang ternyata dari tadi berjalan tidak jauh di belakang Arina, terlihat sedang memandang lurus kearahnya dengan kedua tangan di dalam saku mantel panjangnya.

“Sudah selarut ini, kau baru pulang? dari mana saja? dimana mobilmu?” kata pria itu balik bertanya.

“Aku mau kemana juga sudah bukan urusanmu lagi, Yamada-kun.” kata Arina sambil mengalihkan pandangannya kearah yang lain.

Yamada terdiam namun masih memandang lurus ke Arina yang terlihat menolak untuk memandangnya. Rahang pria itu tampak mengeras menahan emosi yang hampir saja meluap dari dalam dirinya. Arina sudah tidak lagi memanggil namanya seperti biasa. Gadis itu memanggilnya seperti dia adalah orang asing.

“Berbahaya bagi seorang wanita berjalan di jam segini seorang diri, bukan? Dimana pacar barumu itu? apa dia sama sekali tidak peduli denganmu?” tanya Yamada dengan tajam.

Arina langsung menatap Yamada dengan tajam. “Jangan bicara sembarangan tentang dirinya. Kau tidak punya hak apa-apa lagi untuk mengurusi hidupku, urusi saja urusanmu sendiri. Dan lebih baik kau pulang saja sana. Aku tidak butuh perhatianmu lagi.”

“Tunggu, Ricchan..” tangan Yamada terulur menahan Arina yang sudah mengambil satu langkah untuk pergi dari sana.

“Lepaskan aku,” Arina menyentak lengan pria itu.

“Aku akan mengantarmu pulang,” kata Yamada kemudian.

Arina tampak hendak membuka mulutnya untuk protes, tapi Yamada seakan tidak mau peduli lagi dan menarik gadis itu begitu saja menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Seorang pria paruh baya dengan pakaian serba hitam tampak langsung membuka pintu dekat kursi penumpan saat melihat kedua orang itu sudah mendekat. Yamada langsung mendorong Arina masuk duluan kedalam mobil dan dia menyusul setelahnya.

“Take-san, kita antar Ricchan dulu,” kata Yamada memberikan instruksi kepada pria tadi yang tidak lain adalah supir pribadinya. Pria itu hanya mengangguk dan mulai menyalakan mobilnya.

“Apa sih? Aku bisa pulang sendiri” Arina masih protes di tempatnya namun langsung di hujani tatapan tajam oleh Yamada.

“Untuk sekali ini saja, tidak bisakah kau mendengarkan apa yang ku katakan?” tanya pria itu tajam.

Arina terlihat sangat kesal dengan sikap Yamada padanya, “Kita sudah putus, Yamada Ryosuke-san! Tidakkah kau mengerti itu? Aku sudah tidak ingin berurusan denganmu!”

Arina terlihat tidak mau kalah dan bersikeras melawan apa yang dilakukan pria itu padanya. Yamada terlihat sedikit menggeram karena menahan emosi. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Ayah dan ibumu menitipkanmu padaku, setidaknya biar aku memastikan kau memang tiba dirumah dengan selamat malam ini.” kata Yamada pelan.

Arina masih memandang tajam kearah punggung pria disampingnya itu. Dia masih ingin protes namun sikap yang ditunjukkan Yamada saat itu seperti ‘aku tidak ingin mendengar apapun lagi, jadi turuti saja aku’. Akhirnya Arina memutuskan untuk diam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela disisinya.

“Dasar keras kepala..” desisnya.

***

Arina menghempaskan tubuhnya begitu saja diatas tempat tidur. Tepat saat itu dia mendengar mobil baru saja keluar dari gerbang rumahnya. Sepertinya pria itu baru saja pulang. Tadi dia memang langsung naik ke kamarnya setelah Sora membukakan pintu untuknya tanpa berkata apa-apa dengan pria itu.

Arina merangkak meraih laci meja kecil disamping tempat tidurnya lalu mengambil sebuah foto disana. Foto Yamada yang sedang tertawa dan merangkulnya sementara dirinya berpaling kearah sebaliknya. Arina memandang foto itu dengan tatapan sedih.

“Kenapa kau harus melakukan semua ini? kenapa sulit sekali menjauhkan dirimu dariku?” keluh gadis itu dengan putus asa.

Nanar, gadis itu memandang ke langit-langit kamarnya. Kamar itu memang dibuat dengan suasana temaram yang disukainya. Di dinding kamarnya di tempeli berbagai poster dari anime maupun idola kesukaannya. Disana juga ada lemari besar penuh dengan buku, novel, dan manga, serta beberapa foto yang di frame dan khusus di beberapa rak. Di tengah ruangan tampak sebuah meja duduk dengan laptop diatasnya yang diletakkan diatas sebuah karpet beludru. Saat rumahnya dibangun, Arina meminta secara khusus desain kamarnya sendiri kepada orang tuanya.

Menjadi putri satu-satunya dari seorang diplomat, membuat Arina dimanja dengan kemewahan sejak kecil. Namun tidak membuat gadis itu bersikap tinggi hati terhadap orang lain. Kemewahan yang diterimanya tidak dapat mengusir perasaan kesepian di hatinya. Tidak ada yang berani mendekatinya saat dia masih di sekolah. Hingga dia bertemu Miharu saat SMA dan satu orang lagi.

Arina mengenalnya pertama kali di pesta relasi orang tuanya dan pria itu yang pertama kali menyapanya di yang saat itu hanya duduk menjauh dari keramaian. Selama ini memang hanya pria itu satu-satunya yang dia miliki. Sampai dia menolak untuk ikut dengan orang tuanya hanya demi bisa terus bersama dengan Yamada, meski dia menolak untuk mengakuinya. Namun itu sebelum dia mendengar hal itu…

“Arina, boleh aku masuk?” tanya Sora sambil mengetuk pintu kamar.

Arina segera bangkit dari posisinya dan menyimpan kembali foto itu di lacinya. “Masuk saja, Sora nee” kata Arina kemudian.

Sora pun masuk kedalam. Arina melihat satu kantong yang sedang dipegang Sora saat itu.

“Yamada-kun menitipkan ini padaku. Katanya ini oleh-oleh yang dititipkan orang tuanya padamu.” katanya.

Arina mentap dingin kantong itu, namun tetap menerimanya. “Arigatou Sora nee,” jawab gadis itu dingin.

Sora melihat kegelisahan di wajah Arina saat itu, namun dia urung untuk menanyakannya. Selain saat ini sudah malam tentu saja, gadis itu terlihat seperti tidak ingin bercerita saat itu. Sepertinya dia akan menahan dirinya untuk tidak bertanya saat ini.

“Baiklah, sudah sangat larut. Istirahatlah.. oyasumi,” kata Sora.

“Oyasumi, Sora nee” kata Arina sambil memaksakan seulas senyum.

Sora lalu keluar dan menutup kembali pintu kamar Arina. Kembali kesunyian menemani gadis itu. Arina memandang bungkusan itu dengan malas. Dari logo besar yang tertera di kantong itu, Arina bisa menduga isinya. Gadis itu lalu menyimpan kantong itu kedalam lemarinya dan kembali berbaring di tempat tidurnya, membiarkan alam mimpi mengambil alih kesadarannya.

***

“Ohayou~” sapa Miki sambil turun dari tangga. Di meja makan sudah terlihat Miharu sedang menyantap sarapannya dan Sora yang sedang menyusun makanan untuk dijadikan bekal.

“Ohayou, Miki. Sarapan dulu..” kata Sora sambil melihat Miki sekilas dan tersenyum.

“Jarang sekali Sora nee membuat bekal. Untuk Takaki-san?” tanya Miki saat tiba di meja makan dan mengambil tempat di salah satu kursi.

Sora terlihat tersenyum dan mengangguk, “Aku sedang ingin membawa bekal, jadi sekalian saja kusiapkan untuknya.”

“Ii na~ aku juga ingin sesekali membuatkan bekal untuk Chii,” celetuk Miki sambil menggigit rotinya.

“Sebaiknya jangan.. kasihan Chinen nanti keracunan karena harus makan bekal buatanmu,” kata Miharu dengan santai.

“Miharu nee kejaaamm… tidak akan sampai begitu kan?” kata Miki. Namun Miharu hanya diam sambil tersenyum jahil.

“Oh ya, Arina nee dimana?” tanya Miki lagi.

“Sepertinya belum bangun… apa perlu ku bangunkan?” kata Miharu namun segera ditahan oleh Sora.

“Sebaiknya jangan. Biarkan saja.. nanti juga bangun sendiri” kata Sora.

Miharu tampak menyerit, karena biasanya Sora akan menyetujuinya untuk membangunkan Arina yang memang punya kebiasaan tidur diluar batas dan sulit untuk dibangunkan. Ini aneh sekali, apa terjadi sesuatu?

Namun belum sempat gadis itu bertanya, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari lantai atas.

“Aku terlambaaaaatttt!” teriak orang itu yang tidak lain adalah Arina. “Kenapa tidak ada yang membangunkanku?”  gadis itu tampak buru-buru turun ke bawah sambil satu tangan sedang memasang mantelnya dan satu lagi memegang tasnya.

“Arina, tidak mau sarapan dulu?” tanya Sora.

“Tidak sempat, aku buru-buru. Pagi ini ada ujian. Kunci mobilku mana?” kata gadis itu sambil mengobrak-abrik lemari di ruang tengah tempat dia biasa meletakkan kunci dan menemukannya tidak lama kemudian di balik benda apapun yang ada disana.

“Sepertinya dia baik-baik saja,” pikir Sora sambil tersenyum.

“Ittekimasu~” kata gadis itu sambil sedikit berlari keluar dari rumah, “Ah, ohayou~ aku sedang buru-buru, masuk saja,” Sora, Miharu, dan Miki masih terdengar sayup suara dari luar sebelum terdengar suara pintu mobil di tutup dan melaju.

“Ohayou~ sepertinya Arina-san heboh sekali,” kata Inoo yang baru saja masuk kedalam rumah.

“Ohayou, Kei. Ayo sarapan dulu.” Miharu melambai dari arah meja makan, masih terlihat menikmati sarapannya. Inoo langsung menghampiri Miharu dan mengecup singkat ubun-ubun gadis itu.

“Arina nee memang selalu heboh di pagi hari akhir-akhir ini. Berbeda saat Yamada senpai masih sering kesini dulu.” celetuk Miki dari tempatnya.

“Yamada senpai?!” tanya Inoo tidak mengerti.

“Mantan pacar Arina nee, sudah hampir sebulan mereka putus,” jelas Miharu, “Jus atau teh?” tawar Miharu.

Inoo tampak mengangguk mengerti, “Teh saja,” kata Inoo.

***

Arina terlihat menyandarkan kepalanya diatas meja di dalam perpustakaan. Ujian yang baru saja di laluinya benar-benar menguras otaknya dan tenaganya. Jadi gadis itu memutuskan untuk menenangkan pikirannya di dalam perpustakaan yang agak tersembunyi dan lebih sepi.

“Otsukare~” kata seseorang sambil meletakkan satu kaleng minuman dingin ke pipi Arina dan langsung membuat gadis itu bangkit dari posisinya karena kaget.

“Ken…” desis gadis itu saat mengenali orang itu, pria yang akhir-akhir ini selalu berada didekatnya, Ono Kensho. Arina lalu segera mengalihkan pandangannya ke kaleng minuman yang diletakkan pria itu diatas meja. “Arigatou,” katanya sambil mengambil minuman itu.

“Kau terlihat lelah. Bagaimana ujianmu?” tanya pria itu setelah menegak minumannya.

Arina tampak mengerucutkan bibirnya, “Begitulah… aku rasa hanya keajaiban yang bisa menolongku sekarang,” kata gadis itu.

Kensho tertawa mendengar keluhan gadis itu, “Keajaiban apanya? Yang seperti ini bukan lagi hal baru, kau mengeluh setelah ujian dan saat nilaimu diumumkan kau selalu mendapat nilai yang bagus.” kata pria itu.

“Kali ini aku serius..” kata Arina tidak mau kalah.

“Aku tidak percaya…” kata Kensho lagi, Arina kembali menyandarkan kepalanya keatas meja sambil mengerang frustasi.

Kensho lalu mengacak-acak rambut gadis itu membuatnya terlihat semakin kesal dan kembali bangkit dari posisinya untuk merapikan kembali rambutnya yang diacak-acak oleh pria itu.

“Kenapa suka sekali mengacak rambutku? Ken no Baka!” gerutu gadis itu.

Pria itu lalu mengulurkan kedua tangannya dan mencubit kedua pipi Arina dengan gemas, “Berhenti cemberut seperti itu nanti kau tambah keriput,” kata Kensho, “Sekarang ayo ikut aku,”

“Mau kemana?” tanya Arina bingung karena tangannya ditarik tiba-tiba.

“Nonton butai,” jawab pria itu singkat.

“Bukannya jam 3? Sekarang masih jam 10.”

“Tapi kita harus makan siang dulu. Kau juga bawa mobil ke kampus, jadi kita akan kerumahmu dan mengantar mobilmu baru kau pergi bersamaku. Sekarang ayo…” dengan santai Kensho menggenggam tangan Arina dan segera menariknya pergi dari sana.

Tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi melihat semuanya dalam diam dari balik rak-rak buku. Perlahan dia muncul dari balik kegelapan, pandangannya tertuju pada dua orang yang kini sudah berjalan menjauh darinya, tangannya terkepal dengan keras. Menyesali nasib yang sedang bermain di hadapannya. Menyesali bahwa kini tempat yang seharusnya menjadi miliknya, sudah diisi oleh orang lain.

***

“Uwaaaaaaaahh~”

Kensho memandang gadis disampingnya ini dengan tersenyum. Mereka baru saja keluar dari AiiA 2.5 Theater Tokyo menuju dimana pria itu memarkirkan motornya, setelah melihat pertunjukan dari salah satu anime kesukaan gadis itu yang di buat menjadi pertunjukan panggung. Bisa dilihatnya binar bahagia dari tatapan gadis disampingnya ini.

“Kau senang?” tanya pria itu.

Arina mengangguk dengan antusias, “Tentu saja, apalagi aku dapat banyak souvenir untuk tambahan koleksi ku. Aku senaaaangg~” kata gadis itu.

“Hahaha… baguslah” kata Kensho kembali mengacak rambut Arina.

Arina memukul ringan tangan Kensho di kepalanya, namun tidak terlihat raut kesal dari wajah gadis itu. Sebagai gantinya, dia menggandeng lengan pria itu masih dengan senyum lebar di wajahnya.

“Ken…” panggil gadis itu.

“Uhm?”

“Arigatou… untuk semuanya,” Arina berkata dengan tulus sambil memandang wajah pria disampingnya ini.

Kensho tersenyum dan mengelus pelan tangan Arina yang melingkar di tangannya satu lagi dan mengangguk, “Apa saja untukmu,” kata pria itu.

Setelah itu Kensho langsung mengantarkan gadis itu pulang kerumahnya, meskipun saat itu belum terlaru larut malam.

“Baiklah, tuan putri sudah sampai di istana,” canda Kensho setelah menghentikan motornya tepat di depan pintu depan.

Arina tertawa kecil sambil turun dari motor pria itu dan mengembalikan helm yang dipakainya pada Kensho.

“Sampai besok di kampus?” kata Kensho lagi.

“Tunggu,” tahan Arina. Gadis itu tampak merogoh sesuatu dari dalam tas tangannya dan menyerahkannya pada Kensho. Sebuah undangan, “Acaranya besok malam. Aku disuruh datang sebagai perwakilan kedua orang tuaku, tapi itu pestanya formal sekali. Dan kau tau kalau aku tidak terlalu suka dengan acara se-kaku itu, jadi… kau mau menemaniku?” tawar gadis itu.

“Boleh saja..” jawab Kensho santai.

“Benarkah?”

Kensho mengangguk, “Lagipula kalau kau memang ditunjuk sebagai pengganti orang tuamu, kau harus datang, bukan? Setidaknya sekedar menunjukkan wajahmu sebentar. Lagipula, kalau memang sebosan itu kau memang membutuhkan aku,”

Arina tersenyum mendengar kata-kata pria didepannya itu. “Oh ya, kau harus pakai tuxedo.” ingat gadis itu.

“Aku tau itu, tenang saja.” kata pria itu sambil memasang kembali helm nya, “Kalau badanku mulai kaku dan pegal-pegal, aku akan memintamu memijatku keesokan harinya,” katanya lagi.

“Hahaha… baiklah. Sampai jumpa besok, Ken..” pria itu mengangguk sebelum kembali menjalankan motornya keluar dari gerbang rumah Arina.

Gadis itu berjalan masuk kedalam rumahnya. “Tadaimaaa~”

“Okaeri…”

Arina mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia memang tidak sedang berhalusinasi. Kini di rumahnya memiliki penghuni hampir dua kali lipat dari biasanya karena para kekasih dari teman-temannya terlihat berada disana. Miharu dan Inoo yang sedang duduk berangkulan di dekat sofa. Miki dan Chinen sedang bermain video game. Sedangkan di meja makan ada Sora dan Takaki.

“Wooaaahhh~ ada apa ini? sedang merayakan sesuatu?” tanya Arina takjub.

“Hanya kunjungan biasa…” celetuk Takaki.

Arina semakin menyerit kebingungan. Biasa apanya? Biasanya mereka berkumpul seperti ini setiap malam minggu dan sekarang masih hari kamis. Memangnya kunjungan pacaran sudah diganti jadi malam jumat?

“Baiklah…” kata Arina sambil berjalan naik ke lantai atas. “Aku akan tidur cepat malam ini, kamarku akan sangat sepi jadi anggap saja aku sedang tidak dirumah…” celetuk Arina sebelum masuk kedalam kamarnya.

Gadis itu sempat mengintip dan melihat kegaduhan yang tiba-tiba saja terjadi di lantai bawah, seperti Chinen yang tiba-tiba saja menjatuhkan stik game yang dipegangnya, atau Takaki yang tiba-tiba saja tersedak, bahkan Inoo yang kini malah terlihat serius membaca majalah wanita milik Sora yang memang diletakkan di dekat meja. Arina buru-buru masuk kedalam kamarnya dan langsung tertawa terbahak.

Mereka pasti ingin melakukan sesuatu, pikirnya.

***

Untuk terakhir kalinya, Arina melihat penampilannya di depan cermin. Sebuah baju terusan se-lutut dan sedikit mengembang di bagian bawah berwarna baby pink kini sudah membalut tubuhnya, rambutnya hanya di gerai begitu saja dan diberi jepitan di salah satu sisi. Dan sebagai ganti kacamatanya kali ini dia memakai kontak lensa. Sangat sederhana namun manis.

Setelah dirasa cukup, Arina langsung mengambil dompet dan mantelnya lalu segera keluar dari kamarnya. Namun saat turun dilihatnya Miharu, Miki dan Sora berkumpul di dapur.

“Sedang apa?” tanya Arina.

“Woaahh… Arina nee, cantik sekali. Mau kemana?” celetuk Miki.

“Aku memang selalu cantik, tapi terima kasih.” kata Arina.

Mendengar itu, Miki langsung cemberut. “Gak jadi deh mujinya.”

“Mau ke pesta?” tanya Sora pada Arina, gadis itu mengangguk,

“Aku akan pulang sedikit terlambat, tapi aku sudah bawa kunci sendiri, jadi tidak apa kalau mau tidur duluan.” kata gadis itu. “Coklat?” tanya Arina sambil mencicipi adonan yang sedang di aduk oleh Sora.

“Hari minggu kan valentine” kata Sora.

Arina langsung mengangguk mengerti, “Ah benar… itu hari minggu ya,” gumamnya.

“Nee tidak ikut membuat satu?” tanya Miharu.

Arina menggeleng, “Tidak… aku tidak berencana membuat coklat tahun ini,” celetuk gadis itu, tiba-tiba saja terdengar suara klakson dari luar. “Sepertinya aku sudah dijemput,” Arina segera memakai mantelnya.

“Ah, benar juga… aku buatkan saja untuknya…” gumam gadis itu sambil melangkah keluar dari dapur.

“Siapa?” tanya Miki kepada Sora dan Miharu dengan bingung.

“Sepertinya pria itu, kau tau, yang sering menjemputnya dengan motor.” jawab Sora yang terlihat mengintip dari jendela.

“Apa dia pacar baru Arina nee?” tanya Miki lagi.

Miharu mengangkat bahunya, “Entahlah… tapi akhir-akhir ini Arina nee sering pergi dengan dia,” katanya.

“Terkadang entah kenapa aku merasa kasihan dengan Yamada kun. Sepertinya mereka putus begitu saja. Apa Arina pernah bercerita dengan kalian alasan dia putus?” kata Sora lagi.

Miharu dan Miki menggeleng, “Jangankan cerita nee, ku sebut namanya saja Arina nee langsung meledak.” kata Miharu dan di setujui Miki dengan anggukan.

Sora menghela nafasnya. Memang diantara semuanya, hanya Arina yang sedikit tertutup dan suka memendam masalahnya sendiri.

“Sepertinya aku memang harus bertanya padanya,” celetuk Sora lagi sambil melanjutkan pekerjaannya.

***

Arina sudah tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali pria disampingnya ini terus mencuri-curi pandang kearahnya sejak dia menjemputnya dan sekarang mereka sudah berada di tengah-tengah pesta.

“Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?” tanya Arina. Terus terang dipandangi terus menerus pasti akan membuat risih siapapun.

“Tidak juga, kau terlihat sangat cantik hari ini. Dimana kacamatamu?” celetuk Kensho sambil nyengir.

Arina tersenyum dan menepuk pelan lengan pria itu, “Kau seperti tidak pernah melihatku tanpa kacamata saja.” katanya.

“Dulu dan sekarang itu beda, Arina…” kata Kensho.

“Benar juga, kau dulu tidak setampan ini…” kata Arina dengan nada bercanda.

“Wah, kau menyebutku tampan? Jarang sekali… apa malam ini aku benar-benar setampan itu? pantas saja dari tadi banyak yang melirikku.” tanya Kensho lagi.

“Itu karena kau jarang memakai pakaian rapi begini, Kensho. Lagipula siapa yang melirikmu, aku tidak lihat..” kata Arina sambil tertawa.

“Baiklah.. baiklah…” kata pria itu menyerah, “Jadi, karena aku telah berhasil membuat nona Koizumi Arina terpesona, apa itu artinya kau sudah bersedia menjadi pacarku?” tanya Kensho lagi.

Arina menyerit namun senyuman masih tersungging diwajahnya, “Kau serius bertanya sekarang? Ditempat seperti ini?” tanya gadis itu sambil melihat sekeliling dan dijawab dengan anggukan oleh Kensho, “Akan aku pikirkan…” kata gadis itu lagi dengan nada jahil.

“Aduh… aku digantung lagi,” Arina bisa melihat bahwa pria itu sedang pura-pura terlihat kecewa.

“Ricchan…” panggil seseorang.

Baik Arina maupun Kensho langsung berbalik memandang orang yang memanggil gadis itu yang tidak lain adalah Yamada. Seketika senyuman diwajah Arina langsung memudar dan tanpa dia sadari, dia memeluk lengan Kensho semakin erat, terlalu erat sehingga membuat Yamada mengeraskan rahangnya.

“Kau datang juga…” kata Arina pelan.

“Ibu dan ayahku ada disini, mereka ingin bertemu dengamu…” kata Yamada langsung.

Arina memandang Kensho dan pria itu hanya mengangguk dan mengizinkan gadis itu untuk pergi. Perlahan Arina melepaskan pegangannya di lengan Kensho lalu berjalan mendekat kearah Yamada.

“Aku bisa jalan sendiri…” kata gadis itu menghindar saat Yamada ingin menggandengnya.

Yamada kembali memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan berbalik, berjalan duluan di depan Arina yang mengikutinya dari belakang.

“Ricchaaaannn…” sapa ramah seorang wanita paruh baya yang langsung memeluk Arina saat gadis itu datang.

“Apa kabar, bibi, paman.” sapa Arina sambil tersenyum sopan sambil gantian memeluk wanita itu dan suaminya yang tidak lain adalah orang tua Yamada.

“Ryo tidak bilang kalau Ricchan juga ikut, kalau obasan tau kita bisa pergi bersama tadi. Apa kabar ayah dan ibumu, Ricchan?” kata ibunya Yamada.

Arina masih tersenyum sopan, “Ayah dan ibu baik-baik saja, mereka masih di luar negeri karena itu aku yang datang menggantikan mereka. Tapi hari ini aku pergi bersama temanku, maafkan aku tidak bisa mengabari kalian,” katanya.

“Tidak masalah,” kata ibunya Yamada lagi, “kalau begitu bagaimana jika nanti kau pulang bersama kami? Oh iya, menginap saja dirumah, kita sudah lama tidak ngobrol bersama…” ibu Yamada tampak antusias

Mata Arina melebar mendengar tawaran itu. Sepertinya Yamada masih belum mengatakan apa-apa pada orang tua mereka mengenai hubungan mereka yang sudah berakhir.

Gadis itu lalu buru-buru menolaknya, “Maafkan aku bibi, tapi aku tidak enak dengan temanku, bagaimanapun aku juga yang mengajaknya menemaniku hari ini. Mungkin lain kali aku bisa datang untuk minum teh bersama bibi,”

Ibunya Yamada terlihat agak kecewa, namun suaminya langsung menyelanya, “Itu benar… lagipula mengajaknya menginap secara tiba-tiba, dia sama sekali tidak membawa persiapan, benar bukan Ricchan…” kata ayahnya Yamada.

Arina bersyukur bahwa paman sedikit mengerti dirinya dan gadis itu hanya tersenyum sopan menanggapinya.

“Baiklah kalau begitu, tapi sering-sering datang kerumah lagi ya,” kata ibunya Yamada.

Arina menjawabnya dengan anggukan, “Baiklah bibi. Kalau begitu aku permisi dulu, tidak enak rasanya meninggalkan temanku sendirian terlalu lama, sampai nanti paman, bibi..” kata gadis itu.

Setelah Arina pergi, pandangan kedua orang tua itu langsung beralih kepada anaknya yang sejak tadi hanya diam saja di samping mereka.

“Ryo, kau sedang bertengkar dengan Ricchan?” tanya ayahnya.

Mata Yamada langsung membulat mendengar pertanyaan itu. Bagaimana ayahnya bisa tau?

“Eh? Benarkah?” tanya ibunya yang sepertinya baru sadar kepada suaminya itu.

“Arina sedikit menjaga jarak tadi, dan dia juga tidak terlihat ingin dekat-dekat dengan anak ini.” jawab suaminya.

“Hanya salah paham, otousan…” pria itu mencoba menenangkan orang tuanya.

“Pantas saja anak itu sudah jarang mampir… padahal orang tuanya sudah menitipkannya pada kita.  Segera selesaikan masalah kalian, ibu tidak mau tau. Memang apa yang sudah kau lakukan sampai membuat Arina marah padamu, Ryo?” omel ibunya.

Percayalah ibu, itulah yang sedang kucari tahu saat ini. Kenapa dia memutuskanku secara sepihak begitu saja dan tidak mau menjelaskan apapun..’ Yamada tersenyum masam memikirkannya.

***

“Aku pergi mengambil mobil sebentar, kau tunggu disini saja…”

Arina mengangguk saat pria itu berjalan pergi ke parkiran dan meninggalkan Arina di depan pintu masuk ruang pesta. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke atas melihat, malam itu langit terlihat indah dengan bintang yang bertaburan. Tanpa sadar sebuah senyuman merekah diwajahnya. Gadis itu memang suka melihat langit malam seperti ini.

“Sudah mau pulang?” sapa seseorang yang tidak lain adalah Yamada. Membuat senyuman di wajah gadis itu seketika menghilang saat dia mengalihkan pandangannya.

“Yamada…kun” desis gadis itu.

“Terima kasih sudah menjaga perasaan kedua orangtuaku tadi…” kata pria itu.

“Ku lihat, kau belum bilang kalau kita sudah putus pada orang tuamu…” kata Arina.

“Aku masih belum bisa bilang apa-apa… sedangkan tau kita bertengkar saja, ibuku sudah menceramahiku panjang lebar…” Yamada kembali menyunggingkan senyuman masam, “Kau sendiri, sudah bilang pada ayah dan ibumu?”

“Aku akan mengatakannya saat mereka pulang nanti,” kata gadis itu.

“Ricchan… tidak bisakah kita kembali lagi?” tanya Yamada suram.

Arina terdiam sesaat sambil memandang pria itu sebentar lalu segera memalingkan wajahnya, “Mengertilah… hubungan kita sudah berakhir.”

“Tidak bisakah kau menjelaskan kenapa? Apakah aku membuat kesalahan fatal yang tidak kusadari padamu?” terdengar nada sedih dari suara pria itu.

Arina menggeleng, “Tidak. Kau tidak salah apa-apa… kesalahan ada di diriku. Sebaiknya kau segera melupakan aku,”

“Kenapa kau selalu menghindar seperti ini? aku juga butuh penjelasan.” Yamada meraih tangan gadis itu, namun Arina segera menyentakkannya dan mundur beberapa langkah dari pria itu.

“Sudahlah, jangan keras kepala seperti ini. Kalau kau terus sepeti ini aku semakin susah. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semua sudah berakhir.” Arina kembali memalingkan wajahnya dan menahan perasaannya yang hampir saja dia keluarkan.

Pria itu tampak mengeraskan rahangnya. Arina kini benar-benar menunjukkan penolakan. Gadis itu sendiri berusaha menjauh dari dirinya saat dia berusaha mendekat.

“Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Aku… akan menghormatinya,” kata Yamada pelan. Pria itu lalu berbalik dan menjauh dari Arina.

Tepat saat itu Kensho keluar dari mobilnya dan langsung berpapasan dengan Yamada. Pria itu memandang Kensho sejenak sebelum kembali berjalan cepat melewatinya dan pergi dari sana.

“Uwaaahh… Arina, mantan kekasihmu itu mengerikan sekali. Tatapannya seperti ingin menelanku hidup-hidup…” kata Kensho sambil menghampiri gadis itu.

Tepat saat itu, pertahanan gadis itu runtuh. Arina langsung menangis jatuh, namun langsung ditahan oleh Kensho.

“Hei, kenapa? Ada apa dengamu?” tanya pria itu panik.

“Ken… aku… aku jahat sekali…” kata Arina sambil terisak.

“Ayo, masuk dulu ke mobil, ceritakan saja di dalam…” Kensho lalu merangkul Arina dan membimbing gadis itu untuk masuk kedalam mobil.

***

“Ada apa ini? Arina, kau kenapa?” tanya Sora dengan khawatir.

Bagaimana tidak, saat gadis itu membuka pintu, yang dilihatnya adalah Arina sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan mata sembab sambil di rangkul.

“Aku sudah tidak apa-apa… kau pulang saja,” kata Arina dengan pelan.

“Benarkah?” tanya Kensho dan dijawab gadis itu dengan anggukan, pria itu lalu menghela nafas dan mengangguk, “Baiklah… telpon aku kalau kau butuh sesuatu,” kata pria itu lagi.

Setelahnya Kensho berpamitan kepada Sora baru pergi meninggalkan rumah itu. Sora mendudukkan Arina di sofa ruang tengah lalu segera mengambil segelas air ke dapur dan memberikannya pada gadis itu.

“Kau baik-baik saja? apa yang terjadi padamu?” tanya Sora khawatir.

Arina hendak membantah, namun dia melihat Sora sepertinya tidak akan membiarkannya ke kamar sebelum dia menjelaskan apa yang terjadi, gadis itu pun menyerah.

“Aku… bertemu dengan Ryo di pesta. Lalu menyakitinya lagi…” kata gadis itu pelan.

Sora kemudian menghela nafas, “Arina, aku tau ini bukan saat yang tepat, tapi… apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Kalian yang akur, tiba-tiba saja bertengkar hebat dan putus begitu saja, pasti ada sesuatu yang sudah terjadi.”

Arina awalnya terlihat ragu, namun saat dia memandang Sora, gadis itu akhirnya menyerah. “Ryo akan ke Amerika melanjutkan sekolahnya,” kata gadis itu tersenyum masam.

“Lalu? Kau tidak menyetujuinya?” tanya Sora lagi namun Arina menggeleng.

“Aku mendukungnya. Lagipula dia akan mewarisi perusahaan keluarganya, tentu saja dia harus belajar lebih banyak lagi. Hanya saja, dia terlalu keras kepala dan justru menolaknya karena terlalu mencemaskan janjinya pada orangtuaku untuk menjagaku. Pada awalnya dia mengajakku untuk ikut, tapi aku menolaknya tentu saja, aku sudah semester akhir.” jelas Arina.

“Begitu… karena itu kau memutuskannya?” tanya Sora lagi.

Arina mengangguk pelan, “Karyawan di kantor menjadi ragu dengan integritasnya sebagai calon pemimpin karena tingkahnya yang seperti itu dan lebih cemas dengan masalah pribadi. Karena itu… ku pikir kalau kami putus, dia bisa lebih memikirkan masa depannya,”

“Seharusnya kau jelaskan saja baik-baik padanya, tidak perlu sampai seperti ini bukan?” kata Sora lagi.

Arina menggeleng kepalanya, “Tidak nee. Dia lebih keras kepala dari yang nee duga. Lagipula, seseorang membutuhkan suasana baru untuk bisa melupakan masa lalu, bukan?” kata gadis itu sambil tersenyum pahit.

“Nee masih tidak setuju dengan keputusanmu, tapi karena kau sudah memutuskannya…” Sora tampak mengakat bahunya sambil tersenyum, “Ohya, pria yang bernama Ono Kensho itu siapa?”

“Ah dia itu…” kata-kata Arina di potong dengan suara ribut dari pintu depan yang kembali terbuka.

“Dasar kau ini, mendadak minta dijemput seperti itu. Kami terpaksa harus memutar jauh, kau tau…” gerutu Miharu sambil membawa barang belanjaannya ke dapur.

“Ya maaf, bukan salahku juga…” kata Miki manyun sambil menghempaskan dirinya ke sofa di dekat Arina.

“Kenapa ribut-ribut malam-malam begini?” tanya Sora sambil menghampiri Miharu di dapur.

“Miki tiba-tiba minta di jemput dari rumah Chinen dengan panik, ku pikir terjadi sesuatu padanya ternyata tidak ada apa-apa. Dan nee tau sendiri rumah Chinen itu jauh sekali…” gerutu Miharu lagi.

“Orang tua Yuri tiba-tiba saja pulang. Padahal aku berencana akan menginap tapi tidak jadi…” kata gadis itu tanpa rasa bersalah.

“Kenapa tidak minta dia saja yang mengantarmu?” tanya Miharu lagi.

“Karena tau nee sedang jalan dengan Inoo senpai, jadi sekalian saja…” kata Miki lagi.

“Hahahahahahahaha…” Arina tertawa dengan terbahak di tempatnya mendengar debat kusir itu.

“Arina nee, aku sedang kesal seperti ini malah diketawain..” gerutu Miharu lagi.

“Habisnya melihat kalian bertengkar seperti itu, seru sekali. Hahahahaha…”

Sora tersenyum hanya tersenyum di tempatnya. Sepertinya perasaan gadis itu sudah tidak sesuram tadi lagi.

***

Kensho menepikan motornya di parkiran fakultas ekonomi. Ini memang bukan kampusnya tapi dia punya satu kepentingan di kampus ini. Pria itu berjalan menuju gedung jurusan bisnis sambil melihat satu per satu kelas yang ada disana, seperti mencari sesuatu, atau seseorang. Hingga matanya tertuju pada seseorang yang baru saja ingin masuk kedalam kelas. Kensho mempercepat langkahnya dan menghentikan orang itu.

“Yamada Ryosuke-san?” kata pria itu.

Yamada menghentikan langkahnya sambil memandang orang yang memanggilnya. Raut wajah pria itu mendadak berubah tidak senang karena mengenali sosok Kensho.

“Ada perlu apa?” tanya pria itu dingin.

“Bisa kita bicara sebentar? Tidak lama… aku janji. Ini tentang Koizumi Arina,” kata Kensho lagi.

Mendengar nama Arina disebut, Yamada memutuskan untuk mengikuti Kensho yang sudah berjalan duluan di depannya. Mereka berhenti di salah satu spot yang agak terpencil di lantai itu.

“Jadi… kau mantan pacarnya Arina?” tanya Kensho memulai.

Yamada masih memasang ekspresi tidak sukanya pada pria itu, namun dia mengangguk sebagai jawaban.

“Benar… dan kau kekasih barunya?”

Kensho tersenyum saat mendengar nada bicara pria itu yang sama sekali tidak bersahabat dengannya.

“Aku hanya ingin kau mendengarkan ini,” kata Kensho sambil menyerahkan sebuah i-pod yang sudah tersambung dengan headset. “Aku meminta tolong salah satu teman yang tinggal dirumah Arina untuk merekamnya… yah, ku rasa Arina memang terlalu keras kepala untuk mengatakannya langsung padamu,” kata pria itu.

Mendengar hal itu, Yamada langsung bingung sambil mengerjapkan matanya, “Maksudmu…?” tanyanya.

“Yah… dia memang punya sifat pendiam, introvert, kuudere… terkadang juga yandere… yah, kau kenal dia bukan?” kata Kensho lagi, kemudian senyuman pria itu lenyap dan memandang Yamada lurus, “Tadi malam setelah kalian bertengkar, dia menangis… itu pertama kalinya aku melihat dia sampai seperti itu… dan saat itu aku menyadari bahwa dia memang masih punya perasaan padamu…”

Yamada masih diam ditempatnya mencerna satu persatu kata-kata yang diucapkan oleh pria di depannya ini.

“Sepertinya segitu saja yang perlu ku katakan padamu. Dengarkan saja itu dank au akan mengerti. Aku pergi dulu. Senang bicara dengamu, Yamada Ryosuke-san..” kata Kensho kembali tersenyum lalu berbalik.

“Tunggu!” Yamada seperti baru tersadar akan sesuatu dan langsung menghentikan pria itu, “Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Arina?” tanyanya lagi.

Kensho terlihat nyengir, “Kau tau Ono Group? Presdir Ono Grup, Ono Daisuke, dia adalah ayahku… namaku Ono Kensho…” jawab pria itu sebelum kembali berbalik dan pergi dari sana.

***

Hari sudah beranjak sore, Arina berada diruang tengah sambil menonton televisi dan ngemil setoples kacang kulit saat didengarnya suara ribut dari lantai dua rumahnya. Gadis itu menoleh melihat ke atas dan disana terlihat Miharu sedang menarik koper mininya.

“Kau mau kemana?” tanya Arina.

“Ini kan akhir pekan, Kei mengajakku liburan ke luar kota, kami akan ke onsen…” kata Miharu sambil tersenyum.

“Asiknyaaa…” celetuk Arina lagi sambil menolehkan pandangannya kembali ke televisi. “Merayakan valentine sambil berendam di onsen… mesum sekali…” celetuk gadis itu lagi.

“ARINA NEE!!!” pekik Miharu. Arina melirik gadis itu dan terlihat wajahnya sudah memerah dan tertawa geli.

“Benar juga… besok valentine ya…” gumam Arina kemudian, “Yang lainnya sepertinya juga akan pergi malam ini ya…”

Miharu menggeleng, “Tidak juga, ku dengar Miki akan pulang cepat malam ini…” kata gadis itu. “Nee tidak ada rencana pergi dengan siapa pun gitu?” tanyanya.

Arina menggeleng, “Tidak ada rencana apapun…” kata gadis itu dan melanjutkan menontonnya.

“Nee, makan kacang sebanyak itu memangnya tidak jerawat?” tanya Miharu lagi sambil melihat butir-butir kacang yang dilahap Arina.

“Kenapa? Kacang kan enak… kalau masalah jerawat, nanti aku akan rajin cuci muka…” jawab gadis itu santai.

Tepat saat itu terdengar suara klakson dari luar. Namun sepertinya bukan dari jeep milik Inoo. Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dan terlihat sosok masuk ke dalam sambil menghampiri Arina yang tidak lain adalah Yamada.

“Ternyata kau disini, ayo ikut aku!” kata pria itu sambil menarik Arina begitu saja.

“Apa ini? lepaskan aku! Hei!!” Arina terlihat panik saat ditarik begitu saja oleh pria itu.

Yamada seperti tidak mempedulikan Arina lalu berbalik memandang ke Miharu, “Miharu chan, aku pinjam Ricchan sampai besok ya…” kata pria itu sambil tersenyum, “Oh iya… jangan lupa liat berita jam 7 nanti malam…” kata pria itu lagi.

“Ha?? Kau mau apa Yamada kun?” tanya Arina lagi dengan bingung.

Yamada hanya diam saja dan mengambil mantel Arina yang tersampir di gantungan dekat pintu dan menyerahkannya pada gadis itu, masih menariknya keluar dari rumah, dan mendorongnya masuk kedalam mobil. Begitu Yamada juga sudah masuk dan menutup pintunya, mobil itu langsung berjalan pergi tanpa memberikan Arina kesempatan untuk keluar dari pintu sebaliknya.

“Lah? Aku mau pergi bagaimana?” Miharu seperti baru sadar akan sesuatu lalu buru-buru menelpon Sora. “Hallo? Sora nee? Nee bisa pulang sekarang? Aku mau pergi tapi dirumah sedang tidak ada siapa-siapa…. Arina nee baru saja pergi, diculik sama Yamada… ohya, katanya nanti lihat berita jam 7 malam…”

***

Ternyata Arina di ajak ke kantor pusat perusahaan milik Yamada. Namun tidak sampai disitu saja, gadis itu ditarik hingga ke dalam ruang aula gedung itu. Saat pintu itu terbuka, kilatan cahaya lampu blitz mulai memadati langkah mereka. Arina terpaksa harus melindungi wajahnya dari cahaya itu dengan satu tangannya yang masih bebas.

Yamada terus menariknya hingga mereka tiba di meja khusus di depan yang sudah dilengkapi dengan mikropon. Terlambat menyadari, Arina melihat disana juga ada kedua orang tua Yamada.

“Baiklah, kami akan memulai konfrensi pers kali ini…” kata seseorang dengan jas hitam yang tampak berdiri di podium.

Arina duduk dimeja disamping Yamada dan ibunya, sedangkan ayahnya kali ini berdiri di podium menggantikan posisi pria berjas hitam tadi.

“Konfrensi ini di gelar untuk memperkenalkan secara resmi, tunangan penerus dari Yamada Group di masa depan. Dengan ini kami dengan resmi memperkenalkan di depan publik, bahwa Koizumi Arina, putri dari diplomat Koizumi Takahiro adalah tunangan dari putra saya, Yamada Ryosuke.”

Bagaikan tersambar petir, Arina terdiam mendengar pengumuman yang sama sekali belum pernah di dengarnya. Satu tangannya kini sedang di genggam oleh seorang pria yang sudah diputusnya sejak sebulan yang lalu. Kejadian berikutnya berlangsung seperti film, dia sama sekali tidak bisa konsentrasi. Semua pertanyaan dari wartawan dijawab oleh pria itu dan dia hanya bisa diam saja ditempatnya, tanpa tau harus bersikap seperti apa.

***

Miharu yang saat itu sedang ada di mobil jeep Inoo hanya bisa membelakkan matanya saat melihat tayangan berita yang disiarkan secara langsung di ponselnya. Gadis itu memandang Inoo yang sedang menyetir yang juga memandangnya tanpa tau harus berkata apa.

Sedangkan suasana di rumah lebih gaduh lagi, Miki menjatuhkan cemilannya di depan televisi. Sora nee buru-buru keluar dari dapur masih mengenakan apron dan memegang spatula. Sedangkan Takaki yang saat itu sedang makan hanya bisa mengerjapkan matanya dengan kaget.

“Ternyata Arina nee di culik kesana… wah, hebat sekali Yamada senpai…” celetuk Miki masih takjub.

***

 “Ini minum dulu…” kata Yamada sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Arina. Arina menerimanya namun tidak meminumnya dan hanya memegangnya begitu saja.

Saat ini mereka sedang berada di dalam ruang kantor Yamada. Arina dari tadi hanya duduk diam sambil menghadap keluar jendela kaca besar diruangan itu, memandang jauh ke luar dan larut dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba Yamada merengkuh gadis itu dari belakang, mendekapnya erat, mengecup singkat kepala gadis itu dan menyandarkan kepalanya sendiri di pundak Arina.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya pria itu.

Arina kemudian menghela nafasnya dengan berat, “Apa yang sedang terjadi? Bukankah kita sudah putus? Apa kau tidak mengatakan apa-apa pada mereka? Kenapa orang tuamu malah meresmikan pertunangan kita?” tanya Arina, terdengar nada lelah di suara gadis itu.

Yamada tersenyum masih di posisinya, “Bukan mereka, aku yang meminta mereka meresmikan hubungan kita. Aku juga sudah menemui langsung orang tuamu, mereka saat ini ada di Korea, mereka juga titip salam untukmu…”

Arina kaget langsung melepaskan pelukan pria itu dan memandang pria itu, “Apa maksudmu??” tanyanya.

Yamada memutar kursi tempat gadis itu duduk, lalu berlutut di depan gadis itu dan menggenggam kedua tangannya, “Kau memang tidak berkata apa-apa padaku, tapi Sora nee sudah merekam semua penjelasanmu. Pria yang bernama Ono Kensho itu datang langsung menemuiku tadi pagi dan menyerahkan rekamannya,” Yamada mengulurkan i-pod yang sama ketangan Arina yang masih kebingungan saat menerimanya.

“Setelah mendengar itu, aku langsung menemui orang tuaku dan berbicara pada mereka. Setelah itu aku mendapat kabar kalau kedua orang tuamu sedang ada di Korea, jadi aku langsung pergi menemui mereka. Setelah itu langsung pulang dan langsung menemuimu dan membawamu ke konfrensi pers itu. Ku putuskan untuk segera menghentikan masa pemberontakanmu ini…” kata Yamada lagi.

“Siapa yang sedang memberontak? Kau pikir aku anak kecil?” kata Arina dengan kesal, “Kenapa harus sampai seperti ini sih? Aku juga belum mau menikah secepat ini…”

Teriakan protes gadis itu terbungkam oleh ciuman kilat yang diberikan pria itu di bibir Arina. Yamada kemudian menyentuh ringan pipi gadis itu dengan satu tangannya.

“Siapa yang bilang kita akan menikah cepat-cepat? Kita akan menikah saat kau sudah siap untuk menikah, Ricchaaaann…” kata pria itu dengan gemas. “Lagipula, kalau aku sudah bertunangan, aku akan lebih tenang meninggalkanmu dan pergi ke Amerika,” kata pria itu lagi.

“Ha? Maksudmu?” tanya Arina pelan.

Yamada mengangguk, “Aku akan pergi ke Amerika dan melanjutkan studiku disana. Aku juga akan jadi jarang pulang, tapi kalau kita sudah bertunangan, rasanya akan lebih tenang bukan?” kata pria itu lagi.

“Aku sudah melakukan semua hal yang membuatmu tidak lagi mencemaskanku… nah, sekarang kau mau kembali padaku?” tanya pria itu sambil menyodorkan kotak berisi sebuah cincin.

Arina masih bungkam, tidak tau lagi harus berkata apa dengan pria di depannya ini. Pria ini sudah melakukan banyak hal dan semua untuknya, untuk menenangkan hatinya.

“Sepertinya kau memang tidak memberiku alasan lagi untuk menolakmu…” kata Arina sambil tersenyum. Senyuman tulus pertamanya untuk pria ini setelah sekian lama.

Yamada ikut tersenyum dan memasangkan cincin itu di jari manis gadis itu. Keduanya kini sama-sama tersenyum. Dinding tinggi yang menghalangi kini sudah berhasil mereka runtuhkan.

Perlahan Yamada menarik Arina ke dekatnya, lalu menempelkan bibirnya di bibir gadis itu itu. Pria itu melumatnya pelan dan kali ini dibalas oleh Arina. Beberapa saat kemudian lumatan itu terlepas namun Yamada terlihat masih enggan untuk melepaskan diri dan menempelkan kedua pelipis mereka. Namun Arina mendorong pelan pria itu.

“Ayo pulang…” kata gadis itu.

Yamada menghela nafas menyerah, lalu menangguk. “Tapi hari ini kau akan menginap di rumahku!” kata pria itu sambil menggandeng Arina keluar dari ruang kantornya.

“Ha? Kenapa?” tanya gadis itu.

“Ibu yang memintanya, katanya dia ingin mengajakmu berbelanja besok pagi setelah melihatmu datang dengan dandanan seperti ini tadi,” Yamada lalu ganti merangkul Arina, namun gadis itu tidak terlihat akan menolaknya lagi.

“Salahmu sendiri main tarik saja. Aku kan tadi sedang santai dirumah…”

“Mana ku tau, katakan saja itu pada ibuku. Dia menganggap kalau kau tidak punya baju yang layak… sepertinya besok kau akan di permak habis-habisan oleh ibu…”

***

~OMAKE~

Setelah hari itu Yamada sudah kembali rajin main kerumah dan menghabiskan waktu disana. Meski sebelumnya Arina di goda habis-habisan oleh Miki dan Miharu. Seperti hari libur seperti ini, pacar-pacar mereka datang dan menghabiskan waktu bersama mereka, termasuk Yamada yang kini sedang duduk di salah satu sofa diruang tengah sambil berangkulan dengan Arina dan menonton DVD yang dibawa oleh Takaki di laptop Arina. Sedangkan Takaki dan Sora sedang duduk di ruang makan, karena Sora sedang memperlihatkan kemampuan memasaknya pada pria itu. Miharu dan Inoo serta Chinen dan Miki sedang sibuk main video games di depan televisi.

“Ohayou~” kata seseorang yang tiba-tiba datang, tidak lain adalah Ono Kensho.

“Ohayou~” sapa yang yang lain hampir bersamaan.

Pria itu lalu berjalan mendekati Arina dan Yamada, memberikan pelukan singkat kepada gadis itu dan mengulurkan kepalan tangan kepada Yamada yang disambut pria itu.

“Ini, DVD Seiyuu event, seri baru manga kesukaanmu, dan lain-lain yang kau pesan sudah ku belikan semua…” kata Kensho sambil mengulurkan satu kantong besar ke Arina yang menerimanya dengan mata berbinar.

“Wuuaaahhh… sankyuuu” kata gadis itu.

“Sedang menonton apa?” tanyanya lagi sambil duduk di lengan sofa disamping Arina.

“Takaki san meminjamkan salah satu koleksi DVD nya,” kata Yamada.

“Ah, Ken… aku punya sesuatu untukmu..” kata Arina sambil beranjak sebentar dan berlari ke dapur lalu kembali dengan membawa sekantung biskuit coklat buatannya.

“Meski telat beberapa hari sih… itu ucapan terima kasih…” kata gadis itu sambil kembali duduk di tempatnya.

“Wah… buatan sendiri?” kata pria itu, “Kau dapat apa?” tanyanya kali ini ke Yamada.

“Kenapa mau tau?” jawab Yamada sedikit ketus.

“Arina nee… kau pacaran dengan dua pria sekaligus?” tanya Miharu yang dari tadi menyaksikan adegan kecil itu.

“Haaa??”

“Yamada senpai tegar sekali di duakan seperti itu…”celetuk Miki sambil geleng-geleng kepala.

“Kapan aku bilang kalau aku dan Kensho pacaran?” protes Arina.

Yamada langsung tertawa terbahak mendengarnya begitu juga dengan Kensho. Sedangkan Miki dan Miharu hanya saling berpandangan dengan heran.

“Maaf belum memperkenalkan diriku dengan benar…” kata Kensho kemudian, “Aku Ono Kensho, sepupunya Arina”

***

“Look at me

I want to swim in that milky way, Stay In Your Eyes

Who are you looking at?

The milky way at the back of those eyes

I wish it’ll always shine, Ah, I want to protect it

Hey… I love you”

***

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s