[Oneshot] Love is Bittersweet

Love is Bittersweet

Hey! Say! JUMP Yamada Ryosuke

Miya

Genre: Romance, SongFic

Rated: PG-15

By: Shield Via Yoichi

Song: Bittersweet – Arashi

Thanks to yarukizero@LJ for the English translation of Bittersweet lyrics.

Untuk Mila~ ini terinspirasi dari lagunya tapi si Mila pengen happy ending, ya terpaksa deh(?) XD tolong dibaca sambil denger lagunya XD

Aku hanya seorang pria yang lugu. Awalnya memang begitu, sampai akhirnya…… aku bertemu denganmu.

Pertemuan pertama kita yang terlihat bodoh tapi begitu berkesan padaku. Aku mengingatnya, bahkan aku menghapal setiap detail percakapan singkat kita yang sangat umum jika orang lain mendengarnya.

***

Bel berbunyi, kebetulan saat itu aku sedang berada di dapur hendak mengambil beberapa makanan ringan dan minuman untuk dibawa ke kamarku. Karena hanya ada aku di sekitar sana, dengan terpaksa aku membuka pintu dengan gerutuan kecil yang keluar dari bibirku.

Aku membuka pintu dan melihat sesosok itu dengan mata sedikit melebar. Tiba-tiba sebuah perasaan hangat menjalar sekitar dadaku, kala itu aku juga bingung dengan perasaan itu.

“A-ano..”

Suaramu menyentrum telingaku dan terus berulang-ulang di pikiranku.

“Err… apa Miharu-chan ada?”

Seketika aku sadar saat kau menyebut nama Miharu.

“A-ada..”

Kenapa aku merasa gugup? Perasaan apa ini?

“A-apa kau teman Miharu? Dia ada di kamarnya.”

Kau mengangguk, “Iya, aku teman sekelasnya.” Lalu kau tersenyum. Dan sekali lagi kau berhasil membuatku terbang jauh hanya dengan sebuah senyuman.

“Kau sudah datang, ayo masuk!”

Aku bisa merasakan Miharu sudah ada di belakangku hanya dengan mendengar suaranya. Aku dengan cepat menyingkir dari depan pintu dan mempersilakan kau masuk. Kalau bisa, aku ingin mempersilakan kau masuk ke dalam hatiku juga saat itu.

Sejak hari itu, kau jadi sering berkunjung ke rumahku untuk bertemu Miharu dan aku pun menjadi sering melihatmu. Perasaan bahagia selalu menyelimutiku setiap kali kau datang.

Manis.

Ramah.

Senyum yang indah.

Apa lagi? Hanya itu yang kuketahui tentangmu. Hanya keindahan fisikmu saja yang aku tahu. Aku ingin lebih, lebih dan lebih lagi mengenalmu. Mengetahui sifatmu, makanan kesukaanmu, kebiasaanmu bahkan kejelekanmu.

Aku ingin tahu.

Tapi bagaimana caranya? Aku tidak mungkin bertanya pada Miharu si tukang ejek itu. Aku bisa lemah mental duluan sebelum mendengar jawaban darinya.

***

Hari dimana aku merasa sangat beruntung adalah saat Miharu menyuruhku untuk menemuimu di sebuah audisi menyanyi. Aku tahu aku sangat kurang ajar saat itu karena berterima kasih atas terjadinya kecelakaan pada pacar Miharu yang akhirnya mengharuskan ia merawatnya dan terpaksa tidak melihatmu ikut audisi.

Aku bahagia saat adikku berlinang airmata.

“Y-yamada-san?” kejutmu.

Wajahmu terlihat begitu bingung, sangat manis menurutku. Ingin rasanya mencubit pipimu. Sejenak, perasaan hangat kembali menyelimutiku. Melihat wajahmu membuat hidupku berwarna dengan sejuta rasa manis.

“M-miharu tidak bisa datang melihatmu makanya aku yang datang.” Jelasku yang masih saja gugup bila di depannya.

Kau mengangguk. Namun ekspresimu sama sekali tidak senang. Aku tidak mengerti.

“Dia sebenarnya mau datang, tapi–”

“Iya. Tidak apa-apa kok.” Kau tersenyum.

Aku menaikkan alisku. Apa secepat itu kau bisa mengubah warna perasaanmu?

“Aku hanya sedih karena tidak bisa latihan. Biasanya Miharu-chan akan selalu mengomentari kesalahanku jadi aku bisa lebih baik sebelum namaku dipanggil.”

“Aku bisa–” Aku menggaruk kepalaku, “Aku akan mendengarmu bernyanyi.”

Matamu sedikit membesar melihatku dan juga berbinar, entahlah. Kenapa kau imut sekali seperti itu?

“Benarkah?” tanyamu. Aku mengembangkan senyumku lalu mengangguk, “Baiklah.”

Kau menarik tanganku. Kau terlihat seperti anak kecil yang ingin menunjukkan sesuatu pada ayahnya dengan tingkah riang. Lucu sekali.

“Disini saja, lumayan sepi.” katamu menghentikan langkah dan juga melepaskan pegangan pada tanganku. Entah mengapa aku merasa sedikit dingin setelah kau lakukan itu.

Kau menjaga jarak agak jauh dariku, menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. Aku pun menyiapkan diri untuk mendengar suaramu. Kau mulai bernyanyi, indah sekali. Lau terlihat sangat bercahaya. Bahkan aku merasa di sekelilingku yang tadinya bising menjadi hening. Hanya suaramu yang kudengar. Lirik lagu You Raise Me Up dari Josh Groban kau bawakan dengan sangat baik mengalun indah ke telingaku.

Aku menyukai suaramu.

Setelah selesai bernyanyi, aku langsung memberi respon tepuk tangan yang meriah. Kau tersenyum, kali ini aku sulit bernapas karena senyummu itu.

“Bagus sekali! Suaramu indah sekali! Bahasa Inggrismu juga keren!”

Kau masih membiarkan senyum terlukis di wajahmu, “Ah, tidak kok, Yamada-san.”

“Ryo.” ucapku.

“Hm? Maaf?” Kau terlihat bingung.

Aku tersenyum, “Panggil aku Ryo, biar lebih akrab.” Baiklah, aku sudah mulai berani!

“O-oke, Ryo-san.”

Kau masih menyelipkan sapaan hormat itu? Tidak apa-apa, setidaknya kau memanggil nama kecilku.

“Kenapa kau menyanyi lagu barat?”

“Hm…” Kau berpikir sejenak, “Miharu-chan bilang suaraku cocok untuk menyanyi lagu barat. Memang sih, setiap aku menyanyi lagu Jepang malah terlihat sok imut dan nadanya lari. Aku tidak mengerti.”

“Boleh aku mendengarnya?”

“Ah, tidak, tidak. Itu memalukan!”

Kau menggerak-gerakkan tanganmu, menolak permintaanku. Wajahmu tampat sedikit memerah, sepertinya malu. Melihatmu seperti ini saja sudah sangat imut. Atau aku berlebihan?

“Bagaimana kau bernyanyi bersama? Lagu yang tadi juga, tapi versi Jepang.”

“Wah, boleh!”

Dan aku membayangkan kita berdua sedang ada di atas pentas dan berduet.

***

“Kyaaaa Ryo-saaaaaaan!! Aku lolos!!” teriakmu menghampiriku sambil memamerkan kertas bertuliskan ‘lolos’ di sana.

Sebuah senyuman tersungging di wajahku, “Yokatta!”

Tanpa aku sadari, aku memeluknya saking senangnya. Tapi aku enggan untuk melepaskannya. Untuk beberapa detik, kita masih dalam posisi berpelukan. Sampai akhirnya kau bersuara.

“Ryo-san?”

Aku diam, tidak bergerak dari posisiku sebelumnya. Aku masih ingin memelukmu, berbagi kehangatan dengan tubuhmu yang kecil itu. Aku menutup mataku, merasakan perasaanku sendiri.

“Ryo-san, orang-orang melihat ke arah kita.”

Aku pun melonggarkan pelukanku dan perlahan melepaskanmu dari dekapanku seakan tak rela berpisah darimu, “Maaf.” Entah kenapa aku mengeluarkan kata itu.

Kau tersenyum dengan sangat manis lalu menggeleng pelan, “Aku senang sekali! Dan aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli coklat hehehe…”

“Kau suka coklat?” tanyaku lumayan penasaran.

“Tidak, tapi katanya coklat bisa meringankan rasa sedih maupun depresi.”

Aku tertawa kecil, “Ikan dan es krim juga kok, tidak hanya coklat.”

Kau melihatku dengan bibir sedikit dimajukan, ya ampun kau ini manis melebihi dari makanan manis, “Iya kah? Kalau begitu, nanti aku minta rekomendasi makanan dari Ryo-san saja!”

Lalu kita tertawa bersama.

***

Sejak itu, hubungan kita mulai meningkat dengan pesat. Memanggil nama kecil, bertukar email, sering bertemu bahkan sering jalan bersama. Ada beberapa kesamaan yang membuat kita bisa sedekat ini, berbagi cerita setiap harinya tanpa henti.

Sekarang bagiku langit pagi sudah berubah warna menjadi pink, dengan awan-awan berbentuk hati menghiasinya. Langit malam yang tampak lebih indah daripada biasanya dan akan selalu indah jika kita bersama. Dan selama mengenalmu, aku tidak tahu apa itu langit mendung. Aku mengenal hujan sebagai airmata langit yang cemburu pada kita—sejak aku bertemu denganmu. Kau mengubah semua warna yang ada dan menyisakan warna pink di dalam diriku.

Dan aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu.

Cinta itu manis. Itulah anggapanku selama ini, selama kita terus bersama walau tanpa status yang jelas. Bukan status yang menentukan rasa dari cinta itu, begitulah menurutku sampai aku menyadari bahwa pemikiranku salah.

Kau datang menemuiku di taman dengan mata sedikit bengkak, aku tahu kau baru saja menangis. Aku tahu karena aku selalu melihatmu. Wajahmu terlihat begitu berantakan, senyum tidak menghiasi wajahmu sama sekali.

“Ada apa?” tanyaku sambil mengelus punggungmu dengan lembut. Aku tahu kau masih ingin menangis, hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang.

“Ryo-san…” lirihmu, matamu yang indah kini tampak berkaca-kaca dan menyedihkan, aku tidak suka melihatmu seperti ini.

“Dia menolakku.”

Deg! Seketika langit yang tampak mendung bagiku menggelap. Sangat gelap, bahkan untuk melihat sekitarku saja tidak bisa. Hanya ada kita di dalam kegelapan tersebut.

Sebuah rasa sakit keluar dari dadaku dan menjalar sampai ke kepalaku. Nafasku sesak, kerongkonganku kering dan kepalaku panas. Apa ini? Perasaan apa ini? Cemburu? Marah?

Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.

Aku melihat ke arahmu, airmata mengalir dengan deras dari matamu, membasahi pipimu. Kau menunduk dan menangis dalam diam, membuatku semakin menderita melihatnya.

Tanganku bergerak memegang pipimu yang basah, mengarahkan kepalamu ke arahku. Sejenak mata kita saling beradu, namun mataku lalu fokus pada airmatamu yang kini juga membasahi telapak tanganku. Dengan pelan, aku mengusapnya dengan jempolku. Berharap bisa menghapus rasa sakitmu juga.

Mata kita kembali beradu, namun kau memberi sebuah reaksi. Kau memelukku, membenamkan wajahmu di dadaku. Aku hanya bisa membalas pelukanmu dan mengelus rambutmu pelan. Menikmati setiap detik keheningan yang kita buat. Keheningan karena rasa sakit yang kita rasakan masing-masing.

***

“Ryo-san, maaf atas kejadian waktu itu..”

Kau menangkupkan kedua tangamu di depan wajah, matamu tertutup sangat rapat.

Aku melihat wajahmu, wajah yang sangat kurindukan. Beberapa hari setelah kejadian itu, kau sama sekali tidak menghubungiku. Aku cemas, aku khawatir. Namun aku tidak bisa apa-apa karena aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanya seseorang yang mencoba dengan susah payah masuk ke kehidupanmu dan hatimu. Aku bodoh dan aku tahu itu. Tapi sekarang aku bahagia melihatmu. Untunglah kau tidak sedih lagi, itu cukup untukku.

“Soalnya…. Aku tidak tahu harus bercerita dengan siapa.. Ah, mengingatnya saja membuatku malu.”

Kemudian kau menutup wajahmu dengan kedua tangan sambil menggeleng. Dasar gadis yang aneh. Tingkahmu selalu terlihat manis dan membuatku tersenyum. Aku berharap kejadian kemarin tidak pernah terjadi padamu lagi, jangan lagi ada yang membuatmu sedih.

“Kenapa kau harus minta maaf begitu?” tanyaku.

Kau membuka jari-jarimu yang masih menutupi wajahmu dan melirikku dari sela-selanya. Lalu kau menurunkan tanganmu, bibirmu mengkerucut, “Aku malu! Masa aku menangis karena seorang pemuda? Dan menangis di depan Ryo-san pula! Huh!”

Eh? Kok dia malah marah begitu?

Aku menatapnya bingung, “Aku kan temanmu, ya tidak apa-apa dong? Kenapa harus malu denganku?”

Kau masih membuat pose manyun dan melirikku, “Ah, sudahlah, mau kunjungan ke rumahku? Ayo!”

Kau memeluk lenganku dan berjalan tanpa menunggu jawaban dariku. Kau harus bertanggungjawab kalau aku tiba-tiba mati di tengah jalan karena tidak bisa mengatur detak jantungku sendiri yang berdetak dengan sangat kencang.

“Maaf, hanya ini yang bisa aku masak untukmu sebagai tanda minta maaf.”

Kau memberikan piring berisi omurice padaku. Aku melihatmu dengan bingung, namun kau malah memberiku sebuah senyuman. Aku memegang sendok dan mulai memotongnya, menyuapkan ke mulutku dan memakannya. Kau hanya diam memandangku sambil menunggu sebuah pujian atau kritik dariku.

“Wah, enak!” ucapku. Ini benar-benar enak! Bahkan melebihi enaknya omurice buatan ibu dan adikku. Ah, apa ini berlebihan? Ini kan hanya omurice, semua orang bisa membuatnya kan?

“Ah, syukurlah! Sebenarnya aku baru belajar memasak baru-baru ini, makanya aku sangat khawatir kalau rasanya tidak enak. Mungkin saja kan aku memasukkan garam secara berlebihan.” Kau menjulurkan lidahmu dengan imut sambil menggaruk belakang kepalamu.

Kemudian kau berjalan menuju dapur mini-mu, tidak ada satu pun di antara kita yang berbicara.

“Hm…. Bagaimana dengan audisi menyanyimu?” kataku akhirnya. Sebenarnya aku sudah lama ingin menanyakan ini karena aku merindukan nyanyianmu.

Kau kembali dari dapur dengan membawa segelas air mineral dan memberikannya padaku, “Aku tidak lolos,” kau terdiam sejenak, “pemberitahuannya waktu hari itu, itu kenapa aku tidak memberitahumu.”

“Apa kau akan menyerah?” Sungguh, aku merasa heran. Kenapa dia tidak lolos dengan suara seindah ini?

Kau menggeleng, “Tidak, kan ada Ryo-san. Jadi aku harus terus berjuang!”

“Eh?” Alisku menaik.

“Ryo-san selalu menyemangatiku jadi aku tidak bisa menyerah begitu saja.”

Jangtungku kembali berdegup dengan sangat kencang mendengar ucapannya. Aku memberikan sebuah senyum yang pasti terlihat sangat canggung. Aku pun mencoba untuk minum, berpikir bahwa tindakanku bisa membuatku tenang kembali.

“Ryo-san, minummu tumpah.” katamu.

Mataku membesar saat melihat wajahmu yang begitu dekat saat kau mencoba mengelap air yang tumpah di baju dan juga wajahku. Mata kita beradu ketika aku tidak memberikan respon apa-apa. Ada apa ini? Ada apa dengan tubuhku?

“Ryo-san?”

Suaramu masih kudengar, tapi aku tidak menghiraukannya. Tanganku bergerak dengan sendirinya memegang kepalamu, menariknya mendekat. Kau juga tidak memberikan sebuah perlawanan yang membuat naluriku semakin kuat menguasai diriku.

Dan kemudian waktu bergulir sangat lambat bagiku.

***

Tadaima.” ucapku pelan. Tak lama, sepasang kaki menghampiriku.

Okaeri, kau kenapa?” tanyanya. Mungkin wajah murungku membuatnya khawatir.

Aku melihat adikku itu dan menggeleng, “Tidak apa-apa.”

“Yang benar saja. Kau pikir aku ini siapa sampai kau berbohong begitu.”

“Percayalah, Miharu. Aku tidak apa-apa.”

Miharu mendengus, “Hah, aku tahu kalau kau itu lulusan Seni, tapi acting-mu itu tidak ada nilainya untukku. Ada apa? Beberapa hari ini kau selalu murung. Pasti karena Miya ya?”

Deg! Entahlah Miharu ini adikku atau seorang peramal, kenapa dia bisa tahu? Tapi aku mencoba untuk bersikap normal.

“Bukan kok. Aku hanya sedang mencoba membuat lirik dan idenya terhenti sebelum lirik itu selesai.”

Miharu menatapku, menyelidikiku.

“Membuat lirik? Kau kan NEET, membuat lirik untuk siapa?” ucapnya masih tidak percaya.

Kata-katanya membuatku kesal. Kedua tanganku mencubit pipinya, “Begitu kau melihat kakakmu ini, huh?”

Lalu hari itu berlalu dengan penuh pertengkaran kecilnya bersama adikku. Namun, aku tetap tidak bisa lupa apa yang telah aku lakukan padamu hari itu.

Setelah itu, kau tidak menghubungiku lagi. Bahkan ucapan natal dan tahun baru tidak ada kau berikan padaku. Saat ulang tahun Miharu pun kau tidak mengunjungi rumahku. Salahku juga sih melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan.

AAAARRRRGH!! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Apa kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku? Akankah cintaku terus saja menjadi cinta yang tidak terbalas? Ini menyakitkan tapi juga menyenangkan.

Ahaha, ini membuatku gila.

Hari Minggu, hari dimana aku lebih banyak menghabiskan hari di kamar saja. Sebenarnya sudah sejak aku mengatakan pada Miharu kalau aku sedang membuat lirik, aku jadi memikirkan untuk membuat sebuah lirik lagu. Tapi hari ini berbeda, aku lebih suka berada di tempat tidur daripada di meja bersama kertas-kertas berisi lirik yang belum jadi.

Menikmati hari di tempat tidur lumayan membuatku rileks, sayangnya… setiap aku menutup mataku, aku terbayang senyummu. Tidak melihatmu benar-benar menyiksaku. Apa kau baik-baik saja? Apa aku perlu menelponmu? Ah, aku rasa tidak, kau pasti sudah membenciku. Mungkin tidur adalah jalan yang tepat untuk melupakan kejadian itu walau hanya sejenak.

“Ryo-san… Ryo-san…”

Dalam tidurku aku mendengar suaramu.

“Ryo-san?”

Bahkan bayangan wajahmu terlihat dengan sangat jelas.

“Ryo-san! Bangun!”

Aku meringis saat pipiku terasa sakit seperti dicubit, perlahan aku membuka mataku dan kemudian mataku membulat.

Kau ada di depanku.

Dan jarak kita tidak terlalu jauh. Aku kembali mengingatnya, saat aku menciummu.

Aku ingat saat aku memegang kepalamu, mendekatkan wajah kita berdua dan menempelkan bibirku dengan bibirmu. Aku bisa merasakan betapa lembut dan manisnya bibirmu, aroma tubuhmu yang menggelitik hidungku dan juga tatapan kagetmu setelah aku menciummu.

Aku ingat semuanya.

“Kau… kenapa ada di kamarku?”

Kau tersenyum, lalu menjauh dariku dan duduk di pinggir tempat tidur, “Ryo-san, jahat! Kau pergi begitu saja dan tidak melihatku lagi.”

“Tapi… aku kan…”

Aku tidak mengerti, aku tidak tahu harus bagaimana, apa yang harus aku jawab pun aku tidak tahu.

Happy valentine!” Kau memberikanku sebuah kotak kecil dengan pita di atasnya. Aku melihatmu, senyummu merekah. Indah sekali.

Aku mencoba untuk mengambil kotak itu, tapi tanganku bergerak meraih punggungmu. Memelukmu dengan erat. Aku benar-benar merindukanmu. Rasa sakit di dadaku selama ini seakan sirna saat merasakanmu dalam pelukanku.

“Ryo-san?”

“Biarkan… kita seperti ini, untuk sementara.”

Kau pun diam dan bisa kurasakan tanganmu di punggungku yang membalas pelukanku.

“Kau pasti kangen sekali denganku kan, Ryo-san?” candamu. Tapi itu memang benar. Aku hanya mempererat dekapanku sebagai jawaban.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa masuk ke kamarku?” tanyaku setelah puas memelukmu.

Senyummu kembali mengembang, senyum yang terlihat sedikit jahil, “Miharu yang menyuruhku masuk ke kamarmu.”

“Eh?” mataku membesar, “Miharu pasti berpikir kalau kita pacaran. Kita kan—”

“Memangnya kenapa kalau dia berpikir seperti itu?” tanyamu sambil memiringkan kepala, “Berarti aku harus memanggilmu Ryo saja ya!”

“Eh?” Tak ada ekspresi lain yang bisa kuberikan, ini sungguh mengejutkanku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?

“Ryo! Ryo! Ryo~~”

Kau memanggil namaku, tanganmu mengelus pipiku lembut lalu mencubitnya. Kau tampak gemas dengan pipiku yang tebal ini. Tanganku juga mengelus rambutmu dengan sayang. Jarak kita semakin kecil dan semakin kecil lalu kita pun berciuman. Berbeda dengan saat itu, kau membals ciuman itu. Apa cintaku telah berbalas?

“Ryo, aku pergi dulu!” teriakan Miharu dari balik pintuku membuat ciuman kita terlepas karena kaget. Aku segera memalingkan wajahmu. Pasti sudah memerah, “Ryo, kau dengar tidak?”

“Ah, hai! Itterasshai..” jawabku.

Keheningan terjadi. Aku melirikmu, kau sedikit menunduk, sepertinya ingin menutupi semburat merah yang ada di pipimu.

“Aku… diterima di sebuah perusahaan rekaman.” ucapmu tiba-tiba. Dengan segera aku melihat ke arahmu, “Sebentar lagi aku akan jadi penyanyi.”

Sebuah perasaan hangat membuncah di dadaku, “Benarkah? Jadi aku bisa mendengarmu menyanyi lagi?”

Kau mengangguk, “Dan karena Ryo lulusan seni, aku ingin kau membuatkanku sebuah lirik. Boleh?”

Aku diam menatapmu sambil berpikir, lirik seperti apa yang akan kuberi?

“Sebenarnya… aku ingin sekali menyanyi bersama Ryo. Suaramu merdu sekali.” tambahmu.

“Baiklah.” Aku tersenyum, “Aku akan membuatkan lirik untukmu dan mencoba mengirim aplikasiku juga.”

“Un!” Kau mengangguk cepat dengan imutnya seperti anak kecil. Aku mengacak pelan rambutmu sambil tersenyum.

***

Sejak hari valentine itu, Miharu menggodaku habis-habisan. Tapi aku tak peduli. Karena kau sekarang adalah milikku. Tapi, apa yang aku pikirkan itu benar? Kita tidak saling menyatakan cinta, apa kita memang sudah berpacaran? Dan saat itu juga kau pasti masih mengingat orang yang menolakmu itu kan? Tapi, kita sudah berciuman, cintaku sudah berbalas kan?

Aku menatap majalah yang bersampulkan wajahmu, aku kembali merindukanmu. Semenjak valentine, kau tidak ke rumahku lagi karena sibuk dengan jadwalmu. Walau aku bisa melihatmu di majalah maupun di TV, aku tetap saja rindu untuk memelukmu.

Disini, aku juga sedang berjuang. Membuat lirik, mengirim aplikasi ke berbagai perusahaan rekaman dan juga ikut audisi. Itu semua karenamu. Kalau kau tidak mengatakan ini bernyanyi bersama, aku tidak akan melakukan ini. Tak pernah terpikir olehku untuk jadi seorang penyanyi. Andai kau tidak pernah hadir di hidupku, mungkin jalanku tidak seperti ini. Tapi kau datang dan memberiku sebuah harapan yang besar, sebuah mimpi yang harus kunyatakan.

Cintaku bisa saja tidak terbalaskan. Kita tidak pernah mengatakan kata cinta, walau kita sudah berciuman. Mungkin itu terjadi karena suasana yang mendukung, itu bisa saja terjadi. Tapi aku tetap menyayangimu, melebihi aku mencintai diriku sendiri. Kau membuatku nyaman walau dalam ketidakpastian. Namun, aku suka perasaan ini.

Aku pun melihat kertas yang penuh dengan coretanku, coretan-coretan lirik yang akan kuhadiahkan untukmu. Tentang cintaku padamu, perasaanku yang meluap-luap untukmu. Mengenai cinta yang rasanya manis dan juga pahit, indah tapi juga menyakitkan.

***

“Benarkah? Ryo juga akan jadi penyanyi?” tanyamu. Ini pertama kalinya kau mengunjungi rumahku setelah menjadi seorang penyanyi pendatang baru yang sedang populer saat ini.

Aku mengangguk, “Iya, ini semua berkatmu!”

“Wah, aku senang!” Kau memelukku. Tidak ada yang berubah, kau masih seperti yang dulu. Bahkan wangi tubuh dan rambutmu juga masih sama. Aku membalas pelukanmu, menyembunyikan wajahku dibalik rambutmu yang indah. Membiarkan baumu menempel padaku.

Kau mengurai pelukanmu lalu memegang pundakku, “Aku senang sekali. Aku akan meminta produserku untuk bisa berduet denganmu!”

Aku menggelengkan kepala kemudian memencet hidungmu pelan, “Hei, aku belum melakukan apa-apa. Bahkan rekaman saja belum. Masa sudah mau minta duet saja?”

Kau tersenyum dengan memamerkan gigimu, “Aku sudah tidak sabar lagi…”

“Tenanglah, aku selalu disini. Kau bisa memintaku bernyanyi kapan saja kan?”

Kita tertawa bersama. Kau menyandarkan kepalamu di dadaku dan memeluk pinggangku, aku mengelus rambutmu pelan. Sesaat, kita terdiam menikmati momen ini.

“Aku akan selalu ada untukmu, jadi kau tenanglah. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu.” ucapku entah mengapa.

“Ryo…” Pelukan pada pinggangku pun mengerat, “Ah, iya! Apa kau sudah membuat liriknya?”

“Sudah, aku bahkan membuat instrumen lagunya.”

“Wah, Ryo hebat!”

“Jangan berlebihan begitu!” Aku mengacak-acak rambutmu gemas.

Kau memperbaiki dudukmu dan menyisir rambutmu yang berantakan dengan tangan, “Jangan seenaknya mengacak rambutku!” Kau memberikan tinjumu pada tanganku pelan, “Nah, mana lagunya?”

“Sebentar.” Aku mengambil ipod-ku dan handsfree, memasukan satu pada telingaku lalu di telingamu, “Aku mulai ya.” Kemudian memencet tombol play.

Kau menutup matamu, menghayati setiap lantunan lagu yang kau dengar.

 

Within a dream, if I could laugh together with you

Then I wanted to tell you the truth

But I didn’t know what to say

I gazed only at you

Even from a faraway place, it’ll reach me

Now, somewhere

Your painful but sweet song, it carries happiness with it

This miracle of being able to meet, look, it struck at my heart

Without any hesitation, the world that’s unfolding, it simply becomes dyed with you

Love is bittersweet

It only gives off an unforgettable fragrance that seems to melt away

Unrequited but so precious

It’ll make me stronger

I want to remember

So these memories won’t fade, I’ll wrap up those very days carefully

Holding you tight in my arms, yet so gently as if you’d melt away

It’s strange how you don’t leave me

I want to tell you how I long for you

It’s frustrating being stuck with this gentle pain

Losing my way in the scattered seasons, I’ll go looking for you again

Though my song will never reach you

A sky the color of tears blurs when I think of the memories

I don’t want to forget

My mind’s flooded with thoughts of you to the point of bursting

So I want to meet you

Hoping only for that one single unexpected miracle

There’s no replacement for you, my brilliant light

Painful emotions that I can’t say are still soaking into the cracks of my heart

When I feel you, it’s as if everything about myself floats away

If I had never met you, I would have been seeing a completely different world

If there’s something I’m certain of, it’s that because you are here, I’m here too

More than anyone

I love you

Love is bittersweet

It only gives off an unforgettable fragrance that seems to melt away

Unrequited but so precious

It’ll make me stronger

I want to remember

So these memories won’t fade, I’ll wrap up those very days carefully

Holding you tight in my arms, yet so gently as if you’d melt away

 

“Ryo…”

“Hm?”

“Ini… lagu ini…” katamu mengantung.

“Kenapa?”

Kau menatapku, “Ini tentang perasaanmu ya?”

Apa sebegitu terlihatnya? Sampai-sampai kau bilang begitu padaku. Aku menunduk, tidak memberi jawaban.

Kau menyentuh pipi dan kemudian tersenyum, “Tapi kan cintamu sudah kubalas.”

“Eh?”

“Kau lupa?” Kau mengangkat alismu, “Waktu itu, saat valentine.”

Jadi yang aku pikirkan saat itu benar? Tapi aku sudah mematahkannya dengan sugesti-sugesti buruk yang ada di otakku. Karena… karena kita tidak mengucapkan kata suka satu sama lain.

“Ryo, suki da yo…” bisikmu di telingaku. Aku melihatmu, kau tersenyum kemudian mengalungkan tanganmu di leherku. Jantungku berdebar sangat kencang saat kau mengatakan itu. Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan lagi.

“Miya.. I love you, too.”

The end

PS: NEET adalah singkatan dari Not in Education, Employment or Training. singkatnya pengangguran

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Love is Bittersweet

  1. magentaclover

    Tulisannya rapih banget diksinya tertata dan ceritanya panjang! Suka cerita ini, manis tapi nyelekit gitu (?) salut sama penulisannya…

    Mungkin aku belajar banyak buat ff ku dari ff mu ini 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s