[Oneshot] Crazy Love

Crazy Love

SixTONES Kyomoto Taiga

Konno Chika

SixTONES Jesse Lewis

By: Dinchan, YamAriena, NadiaMiki, Shield Via Yoichi

1487739681859

Hari semakin larut dan udara semakin dingin. Konno Chika merapatkan mantel yang melapisi tubuhnya. Gadis itu mempercepat langkahnya untuk pulang sambil merutuki dirinya sendiri, keasikan belanja sampai lupa jadwal kereta. Bukan apa-apa, hanya saja akhir-akhir ini sesuatu seakan mengusiknya saat berjalan di malam hari. Terutama daerah dekat apartemennya sendiri. Seakan-akan ada seseorang yang mengawasinya entah dari mana.

Udara malam semakin menusuk semakin dekat ke jarak apartemennya sendiri, Chika semakin mempercepat langkahnya.

Suasana sepi yang sama…

Dingin yang sama…

dan perasaan tidak enak yang sama. Seakan-akan dirinya sedang diawasi dengan sebuah tatapan yang sangat menusuk.

Penguntit kah? Atau….. makhluk halus? Tidak, tidak! Hantu itu tidak ada!

Akhirnya gadis itu tiba di depan gedung apartemennya. Sambil setengah berlari, Chika langsung masuk ke dalam, menaiki beberapa anak tangga, lalu berbelok ke sebuah pintu, apartemen miliknya.

Setelah masuk ke apartemennya, gadis itu langsung menghempaskan begitu saja tubuhnya di tempat tidur. Mengatur debar jantungnya yang mendadak berdebar sangat cepat. Tapi meski begitu entah kenapa dia tetap merasa tidak tenang, firasat diikuti masih saja terasa meski sudah di dalam apartemennya sendiri.

Benarkah dia diikuti? Apakah penguntit? Apa dikuntit hingga ke CCTV?

“Apa besok kupanggil pihak keamanan saja ya?” gumam gadis itu.

Lama berpikir sendiri akhirnya gadis itu terlelap.

Sebuah sosok tiba-tiba keluar dari kegelapan. Tembus pandang dan melayang mendekat ke tempat tidur gadis itu. Mendekat hingga terlihat sedang duduk di tepian tempat tidur, disisi Chika.

Sosok dengan rupa yang sangat manis, tersenyum namun terasa dingin, jemarinya mencoba membelai pipi Chika yang sudah lelap. Sia sia saja karena jiwa tak beraga tidak mungkin lagi menyentuh yang fana. Jiwa itu menggeram dengan kesal, namun tetap tak mengalihkan pandangannya pada sosok yang sedang terlelap itu.

Chika, kau milikku, dan akan ku pastikan hal itu.

Chika tersentak dari tidurnya, dadanya naik turun dengan cepat, matanya menatap nanar langit-langit kamarnya. Setelah menyapukan pandangannya dan mendapati dirinya ada di kamarnya, gadis itu mulai merasa tenang walau degupan jantungnya masih kencang.

Dia baru saja bermimpi seorang laki-laki yang sangat ia kenali wajahnya, memeluk Chika, bahkan berbisik di telinga gadis itu, kemudian mendorongnya jatuh dari atas gedung pencakar langit. Kyomoto Taiga, nama itu terlintas begitu saja saat Chika kembali mengingat mimpinya tadi. Pemuda itu adalah teman seangkatannya waktu sekolah, yang menyatakan cinta pada Chika dan ditolak olehnya. Kabar terbaru yang Chika dengar kalau Taiga sudah meninggal, tapi Chika tidak tahu apa penyebab pemuda manis itu meninggal.

Chika mulai berpikir, kenapa Taiga bisa masuk dalam mimpinya. Tertanda baik kah? Atau malah sebaliknya, buruk?

Gadis itu kembali tersentak, kali ini kaget karena bunyi ponselnya sendiri. Tanpa berpikir lama, ia langsung saja mengambil ponselnya yang diletakkannya di meja kecil di samping tempat tidurnya. Melihat layar terpanya yang memunculkan notifikasi adanya e-mail yang baru masuk, Chika langsung saja membacanya.

 

From: Jesse

 

Ohayou, Chika-chan! Masih merasa dikuntit?

 

Chika mengulum senyum tipis membaca e-mail dari temannya itu. Setidaknya dia merasa memiliki tempat untuk meminta tolong kalau terjadi sesuatu padanya.

Dari kejauhan, sosok tembus pandang menatap gadis itu tidak senang. Ia bergerak mendekati Chika dan melihat layar handphone gadis itu. Benar dugaannya, kalau Chika tersenyum karena pemuda lain. Dengan wajah datar, ia memudar dalam sekejap.

 

***

 

“Kau baik-baik saja?!” Jesse menarik tangan Chika yang masih gemetaran, menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Pulang dari kampus hari ini Chika berencana untuk ke perpustakaan dulu. Ia tak biasanya ke perpustakaan, jika tidak ada tugas yang mengharuskan dirinya ke sana. Sayangnya internet tidak memberikan informasi yang dia inginkan dan dosennya meminta Chika untuk ke perpustakaan jika ingin mendapatkan informasi yang akurat.

“Aku ke perpustakaan dulu ya,” Chika menepuk bahu Jesse sebelum meninggalkan sahabatnya itu.

“Chika!!” panggil Jesse, Chika menoleh seakan bertanya ada apa, “Tidak perlu aku antar?”

“Apa sih? Cuma perpustakaan.. Lagipula Jesse-kun harus menyelesaikan tugas itu, kan?” ucapnya sambil menunjuk ke tugas yang sedang dikerjakan oleh Jesse.

Pemuda itu tampak berpikir sejenak, “Ya sudah Chika duluan deh, nanti aku nyusul ya..”

Chika mengangguk dan melambaikan tangan pada Jesse sebelum keluar dari kelasnya.

Lagi-lagi dirinya merasa diikuti, Chika menoleh ke belakang dan hasilnya selalu nihil, tidak ada siapa-siapa, Chika mempercepat langkahnya, angin dingin menyentuh tengkuknya, seakan ada sesuatu yang gaib menyentuh dirinya. Ada yang salah dengan semua ini, Chika belum pernah merasakan ini sebelumnya. Chika menyebrang ke fakultas seni, dimana perpustakaan terletak tepat di sebelahnya.

Okay, positive thinking, Chika!!” hardiknya pada diri sendiri.

Chika melangkah masuk ke perpustakaan, memperlihatkan kartu identitas mahasiswanya dan langsung masuk mencari daerah literatur. Di jam segini ternyata perpustakaan tidak terlalu penuh, hanya ada beberapa orang di tempat belajar, bahkan lorong literatur ini kosong sekali. Sebelumnya Chika sudah mencari di mana letak lorongnya di komputer yang disediakan oleh pihak kampus, memberitahunya dengan jelas dimanakah kumpulan buku mengenai sosio linguistik yang dia butuhkan, ia ada di ruangan di lantai atas yang berisikan buku buku lama.

Chika sedang menyusuri setiap jajaran buku yang tersusun rapi di hadapannya, merapalkan judul yang dia inginkan, tapi belum juga terlihat.

BRUK!

Chika menoleh, dua buku terjatuh, padahal lorong ini dan lorong sebelah kosong, ia menatap buku itu dengan pandangan horor, “Errr.. apaan sih?” gumamnya, berbicara sendiri agar dirinya tidak panik. Chika mundur, rasanya makin terasa dingin. Ia mundur, memutuskan untuk berbalik dan berjalan cepat, keluar dari ruangan. Chika berlari kecil saat di tangga untuk menuju ke bawah, tiba-tiba di tangga ke sepuluh Chika merasa punggungnya disentuh sesuatu dan detik berikutnya ia sudah terjun bebas ke bawah.

“Aaarrgghhh!!” Chika menutup matanya, tak sangka ia merasa sesuatu menangkapnya, tubuhnya jatuh tapi tak terasa terlalu sakit.

“Chika!!”

Jesse! Chika membuka matanya dan ternyata tubuhnya ada di atas tubuh Jesse, Chika menoleh, sebuah bayangan berkelebat di hadapannya. Apa itu tadi?!!

“Kau baik-baik saja?” tanya Jesse kepada Chika setelah mereka sampai di kantin dan sudah duduk tenang dengan dua gelas teh di atas meja makan.

Chika mengangguk, “Iya,” ucapnya, walau masih sedikit ada debaran di jantungnya mengingat kejadian barusan dan juga mimpi yang ia alami semalam.

Entah mengapa, Chika merasa seperti ada yang ingin membunuhnya, apa salahnya? Apa yang ia perbuat hingga seseorang tega ingin mencelakainya. Walau Chika tau ini hanya perasaannya saja.

“Chika?” panggil Jesse saat di sadarinya gadis itu hanya diam saja tanpa bergerak sedikitpun.

“Chika??” Masih tidak ada respon, walau sang pria sudah melambaikan tangannya di hadapan wajah Chika.

“Chika!” Sekali tepukan tangan tepat di wajah gadis itu, ia terkejut dan langsung tersadar.

“Ah! Iya?” Refleks menjawab, Jesse hanya menggeleng dibuatnya.

Ia tahu pasti apa yang sedang Chika pikirkan, pasti tentang penguntit yang selama ini menganggu perasaan sang gadis, dapat Jesse maklumi karena kalau ia menjadi Chika pun entah ia harus berbuat apa.

Tangan Jesse terangkat dan mengelus lembut kepala Chika, sambil tersenyum, “Sudah baikan? Jadwal kuliahmu sudah selesai kan? Aku antar pulang,” ucap Jesse lembut dan di jawab anggukan oleh Chika.

Tanpa mereka sadar, sebuah makhluk tembus pandang sedang memandang mereka dengan aura kemarahan.

 

***

 

“Jadi, tugasmu sudah selesai?” Hari Minggu, hari yang pas untuk jalan-jalan karena yang pastinya tidak ada jadwal kuliah sama sekali, Chika dan Jesse memutuskan untuk jalan-jalan karena tugas mereka kini sudah selesai.

Tinggal dikumpulkan saja ke dosen.

Chika mengangguk semangat, “Sudah! Makanya aku bisa bebas!” Ia mengangkat tangannya ke udara.

Melihat tingkah si gadis, Jesse tertawa pelan, “Bocah,” ucapnya.

Pilihan tempat mereka jalan-jalan ada Harajuku, karena mereka rasa pas untuk melihat-lihat dan berbelanja, apalagi di hari Minggu banyak orang-orang di Harajuku yang akan memakai baju cosplay.

“Jesse!” seru Chika saat melihat penjual es krim yang ada di seberang, “Ada es krim, aku ke sana ya,” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk tempat es krim tersebut kepada Jesse yang sedang sibuk memilih baju untuk dirinya.

Tanpa menjawab, Jesse hanya mengangguk menyetujui.

Gadis itu langsung mengucapkan terima kasih dan melangkahkan kakinya untuk menyebrang, namun saat di tengah jalan raya, Chika terjatuh padahal tidak penghalang sedikitpun yang membuatnya jatuh, ingin bangun lagi tapi rasanya kaki Chika tidak bisa digerakkan kembali. Seperti ada yang menahannya.

“Kyaaa tolooong!!!” teriak Chika, ditambah sebuah mobil truk sebentar lagi akan menghampirinya, masih sibuk ingin bangun dari posisinya, tiba-tiba Chika merasa ada yang menggendong dan membawanya ke pinggir jalan.

Daijoubu?” Suara berat itu membuat Chika sadar dari lamunannya, dan refleks memeluk orang yang menyelamatkannya.

“Jesse!” Chika menangis tersedu-sedu di pelukan Jesse, “Arigatou, kalau tidak ada kau tadi aku pasti sudah mati.” semakin jadi tangisan Chika. Jesse hanya diam dan memeluknya juga dengan erat, mengelus punggung sang gadis untuk menenangkannya.

Dan terakhir gadis itu kembali tenang saat Jesse membelikannya es krim.

Apa yang terjadi? Semua ini sama sekali tidak beres. pikir Jesse, memandang ke arah Chika yang terlihat sudah tenang di sampingnya.

Sudah berkali-kali pemuda itu curiga ada hal yang tidak benar sedang terjadi, dan semuanya menimpa gadis di sampingnya ini.

Semua dimulai sejak dia merasa dikuntit lalu berbagai kejadian yang selalu mengancam nyawanya. Dia harus mencari tahu tentang hal ini.

“Chika, sudah tenang?” tanya Jesse kemudian.

Chika mengangguk lemas, benar-benar tidak lagi punya tenaga untuk berbuat yang lain.

“Sekarang apa? Aku bingung, juga takut.” seru gadis itu pelan.

“Chika, mau ikut aku ke tempatku?” tanya pria itu.

Tidak ada maksud lain, murni karena khawatir akan keselamatan gadis itu.

Chika terlihat menurut saja, ketika lengan Jesse melingkar lembut di pundaknya dan membawanya pergi dari sana.

Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di apartemen milik Jesse. Pemuda itu mendudukkan Chika di sofa ruang tengah sedang dia sendiri ke dapur dan mengambil segelas minuman untuk gadis itu.

“Terima kasih.” gumam Chika pelan.

“Kau nanti tidur di kamar saja, aku akan berjaga disini,” kata Jesse, Chika hanya menurut sama sekali tidak punya tenaga lagi untuk menjawab. Kejadian terakhir benar-benar membuat dirinya terguncang.

Sambil Chika membersihkan diri di dalam kamar mandi, Jesse sibuk dengan ponselnya sendiri. Menghubungi seseorang yang dia tahu akrab dengan hal-hal mistis. Jujur Jesse tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, namun entah kenapa nama orang itu langsung terpikirkan di kepalanya dan entah kenapa firasatnya sangat kuat. Kearah sana.

Tiba-tiba…

“KYAAAAAAAA!!!” terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.

Buru-buru Jesse ke arah kamar mandi, mendobrak pintunya yang terkunci dari dalam. Dilihatnya Chika terduduk di lantai kamar mandi, mencengkram erat pinggiran bathtub handuk masih membalut tubuhnya, memandang takut kearah Jesse dan air mata yang membasahi deras wajahnya.

“Chika, ada apa?” tanya Jesse khawatir.

“A..ada y..yang me..jegal ka..ki ku hiks,” serunya disela isak tangisnya, “Jesse… a..aku t..ta..kut hiks.. a…ku ti..dak.. ma..u s..sen..diri,”

Jesse memeluk erat sosok Chika, baru kali ini gadis ini terlihat begitu rapuh. Kejadian ini benar-benar membuatnya terguncang. Jesse mengangkat sosok Chika dan membawanya ke kamar. Sebelumnya memakaikan bathrobe dulu ke tubuh gadis itu baru menyelimutinya. Sedikitpun Chika terlihat enggan melepaskan pegangannya pada lengan Jesse. Membuat pemuda itu menekadkan hatinya untuk membawa Chika bertemu orang itu.

 

***

 

“Aku tidak mau!” hardik Chika.

“Oh ayolah, Chika. Bukannya semua ini aneh?” tanya Jesse, “Tidakkah kau merasa ini sudah di luar nalar kita?”

Chika melirik Jesse dengan wajah masamnya, “Tapi aku tidak percaya dengan hal-hal gaib, apalagi perkataan dukun, penyihir, paranormal, cenayang atau apalah sebutannya itu.”

Jesse memutar matanya dan kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah Chika duduk, “Please, Chika. Aku tidak bisa melihatmu merasa ketakutan seperti ini lagi. Kita pergi ya?” Pemuda itu meraih, kemudian menggenggam tangan gadis itu. Berusaha agar gadis itu mau mengikuti kata-katanya. Satu-satunya cara untuk mengetahui tentang sesuatu yang tidak masuk logika hanya bertanya pada paranormal, menurut Jesse. Dia tidak bisa membiarkan gadis yang dicintainya—walau hanya sebelah pihak— itu merasa takut sepanjang waktu.

Chika berpikir sejenak. Memang benar kata pemuda itu kalau kejadian yang dialaminya sudah berminggu-minggu ini mulai tidak masuk akal. Sekarang pun Chika tidak bisa jauh-jauh dari seorang Jesse Lewis agar tetap merasa aman.

Merasa diikuti, bahkan sekarang merasa akan ada hal-hal buruk yang akan terjadi jika dirinya tidak didekat pemuda itu. Kalau tidak ada Jesse, mungkin dia sudah mati tanpa ada yang tahu. Tidak, Chika tidak bisa membuat Jesse susah karena dirinya. Jesse sudah terlalu banyak melakukan kebaikan padanya, Chika tidak mungkin membuatnya repot karena harus terus bersamanya. Mau tidak mau mereka harus datang ke paranormal dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hidupnya.

Setelah cukup lama berpikir akhirnya Chika mengambil keputusan, “Baiklah,”

Jesse tersenyum tipis lalu mengangguk. Diambilnya telepon pintarnya untuk menghubungi temannya itu dan mengajak bertemu.

 

***

 

“Konno-san, bisa bicara sebentar?” Chika yang sedang menikmati makan siangnya menoleh, seorang pria berwajah manis yang dikenalnya sebagai Kyomoto Taiga, teman satu angkatannya yang berbeda kelas. Menurut desas-desus Taiga sering ditembak oleh kakak kelas atau teman seangkatan tapi dia selalu menolak. Bagi Chika sendiri keberadaan Taiga hanyalah seorang idola yang tidak berpengaruh pada hidupnya. Taiga tampan, Chika mengakui, apalagi mereka sering bertemu di klub jurnalis tapi Chika hanya beberapa kali berbicara dengan Taiga, tidak lebih dari itu.

“Boleh, tapi… sebentar ya ini makanannya sedikit lagi,” ucap Chika, menatap Taiga yang berdiri di hadapannya, “Duduk dulu deh,” katanya lagi, dan Taiga pun menurut.

Setelah sepuluh menit tanpa pembicaraan, akhirnya Chika selesai makan, Taiga mengajak Chika ke belakang sekolah.

“Ano, Konno-san,” baru kali ini Chika melihat seorang Taiga sangat gugup, biasanya pemuda itu percaya diri bahkan terkesan sombong, Chika menunggu, Taiga menggosok-gosokkan tangannya dengan gugup, “Aku… aku nenyukai Konno-san, kumohon berpacaranlah denganku!!”

Seketika Chika bengong. HAH?!! Taiga menembaknya? dia gak mimpi, kan? manusia terpopuler di angkatannya meminta dirinya untuk jadi pacarnya?!! Chika menatap Taiga dengan tidak percaya.

“Uhm? Nande?”

Kini giliran Taiga yang bengong, “Hah?”

“Kenapa… aku?” tanya Chika, kini dia ikut gugup.

“Aku,” Taiga menunduk, “Sudah lama memperhatikanmu, bahkan ketika Konno-san mengajakku berbicara aku sangat senang,”

“Tapi, aku tidak mengenalmu…” Chika mengatakannya dengan sangat polos, “Kita.. tidak pernah benar-benar ngobrol, kan?”

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul, Chika seakan dibawa berpergian dengan cepat dan ia melihat darah berceceran di hadapannya, Taiga menatapnya dengan pandangan marah.

“Aku mencintaimu!! Aku mencintaimuuuu!!” tangan Taiga mencengkram bahu Chika dengan keras, ia bisa melihat tubuh Taiga berdarah di hadapannya, “AKU MENCINTAIMU!!!”

 

“Chika!! Chikaaa!!”

Tubuhnya penuh dengan peluh, ia membuka matanya dan melihat Jesse mengguncang bahunya, “Kau baik-baik saja?!”

Napasnya naik turun, ia menatap Jesse dengan mata terbelalak.

“Mimpi buruk?” tanya Jesse, Chika mengangguk lemah, “Tidak apa-apa, hanya mimpi, jangan panik,” Jesse menarik Chika ke dalam pelukannya, menenangkan gadis itu, “Besok kita ketemu Hokuto-san, kita tanyakan apa yang mengganggumu, ya?” Chika masih belum bisa menjawab, hanya mampu mengangguk, mengeratkan pelukannya pada Jesse.

 

***

 

Gerah akan semua kejadian yang menimpa Chika, akhirnya Jesse menyeret paksa Chika untuk mengajaknya ke tempat temannya yang ternyata adalah seorang paranormal.

Saat sampai di sana, Jesse dan Chika langsung di suruh masuk dan menemui sang paranormal, entah percaya atau tidak tapi sepertinya mereka berdua saat ini akan memilih untuk mempercayai sang paranormal, mau tidak mau.

“Jadi begini,” teman Jesse akhirnya bersuara saat setelah mendengar cerita dari Jesse dan Chika tentang hal-hal aneh itu, wajahnya yang tampak tampan itu dikerutkannya, seperti sedang berpikir keras untuk bisa melihat dan menerawang apa yang sebenarnya terjadi.

“…apa kau merasa ada yang menyukaimu?” tanya pemuda itu kepada Chika, gantian Chika yang mengerutkan dahinya.

“Maksudmu?” tanya Chika memastikan.

“Ada orang yang menyukaimu, Chika, tapi dia tidak bisa mendapatkanmu karena ada penghalang, dan… dia sudah meninggal… Jadi yang selama ini mengikutimu adalah orang yang menyukaimu,” jelasnya, Jesse dan Chika tetap mendengarkan, “Dia sangat ingin kau menjadi miliknya, hingga sampai saat ini dia ingin membunuhmu agar kamu bisa bersama dia.” entah kenapa, mendengar kata-kata dari teman Jesse, Chika jadi ingat akan mimpinya malam itu.

Di dalam mimpinya Taiga memaksa Chika untuk menjadi pacarnya, hingga Chika ketakutan saat bangun. Apa… mungkin? Tapi, siapa menghalang yang dimaksud teman Jesse?

Begitu banyak pertanyaan yang ada di otak Chika saat ini.

“Taiga…” gumam Chika tiba-tiba, membuat Jesse menoleh kearahnya, “apa Taiga yang selama ini mengkutiku? Dia.. kan baru saja meninggal,” Chika menatap Jesse dengan rasa tak percaya, namun tebakannya tak mungkin salah.

Mereka hanya diam, berkutat dengan pikiran masing-masing.

Tak mau membuang waktu, Chika langsung menodong begitu pertanyaan kepada teman Jesse, “Katakan, siapa dia yang kau maksud? Siapa yang mengikutiku? Siapa yang menjadi penghalang buat dia? Katakaaan!” Pikiran Chika saat ini sangat kalut, tanpa sadar ia bertanya seperti itu sambil sedikit berteriak, “katakan pada ku!! Jelaskan!! Jangan setengah-setengah!” Tubuh gadis itu berontak saat ditahan oleh Jesse, bergetar, dan tampak lemas. Chika benar-benar di ambang batasnya.

Setelah dirasa Chika mulai tenang, teman Jesse mulai berbicara kembali, “Aku.. tak tahu pasti siapa yang mengikutimu, tapi.. yang aku tahu penghalang buat dia itu adalah, orang yang selama ini ada didekatmu, yang menyelamatkanmu dari segala bahaya,” refleks Chika menatap Jesse.

Dapat Chika pastikan bahwa selama ini Taiga lah orang—maksudnya arwah yang mengikutinya.

 

Jesse dan Chika berjalan dalam diam selama perjalanan pulang. Chika semakin takut dengan kenyataan bahwa orang yang mengikutinya ingin membunuhnya. Tadi setelah berbicara dengan Hokuto, pemuda itu setuju untuk membantu Chika dan Jesse. Untuk saat ini mereka hanya harus menunggu.

Menunggu apa?

Menunggu sosok itu mencelakakannya lagi? Sungguh dia sangat kalut sekarang.

Kenapa harus dia? Kenapa Taiga bersikeras ingin memilikinya? Siapa dia? Padahal mereka tidak begitu mengenal, mengobrol saja tidak sering, dan sekarang sosok itu berambisi ingin memilikinya. Bahkan meski dunia mereka sudah berbeda sekarang.

“Chika,” panggil Jesse, membuat Chika tersadar dari lamunannya. “Kau memikirkannya lagi?” tanya pemuda itu.

“Un… banyak pertanyaan terlintas sampai aku sendiri bingung,” ucapnya.

Jesse merangkul gadis disisinya itu untuk menenangkan, “Jangan terlalu kau pikirkan, kita sudah berjanji akan menghadapinya bersama bukan?” kata Jesse.

Chika mendesah keras sebelum akhirnya mengangguk.

Mereka tiba kembali di apartmen Jesse sesaat kemudian. Setelah berganti pakaian, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Beberapa saat setelah mematikan lampu kamar, Chika hanya berbaring diam dalam kamarnya. Berkali-kali dia mengubah posisinya, hingga akhirnya jam sudah menunjuk pukul sebelas malam.

Chika bangkit dari posisinya lalu duduk di sisi tempat tidur dan memandang sekeliling.

“Kau ada disini bukan?” ujar Chika setengah berbisik, namun cukup keras untuk didengar di sekeliling kamar. “Aku tau kau masih ada disekitar sini. Kau Taiga bukan? Kyomoto Taiga?” katanya lagi.

Tiba-tiba Chika merasakan ruangan itu menjadi lebih dingin dibanding biasanya, bukan dingin dari AC yang menyala, namun lebih membuat kuduk berdiri. Sejujurnya Chika takut, tapi keinginannya untuk menghentikan ini lebih besar dibanding apapun.

Tiba-tiba Chika merasakan hembusan angin dingin membelai wajahnya, tepat ketika dia melihat sesosok tangan seperti merangkulnya dari belakang.

Kau tau ini aku rupanya, Chikachan.

Chika menegang seketika ketika mendengar suara yang di kenalnya, namun kini terdengar dingin dan menggema di telinganya.

sesaat kemudian sosok itu seperti melayang dan kini tegak tepat di hadapannya. Baru kali ini Chika bisa melihat rupa sosok itu secara langsung. Masih transparan namun lebih padat dibanding sekedar tembus pandang. Lebih kelabu dan terkesan dingin saat sosok itu memandangnya.

“Ta…iga..” desis Chika tercekat.

Karena kau sudah tau, sepertinya aku langsung saja, ujar sosok itu.

“Kenapa?” tanya Chika, terkesan seperti mencicit karena gadis itu harus menekan ketakutannya sendiri, “Kenapa harus aku? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri dengan memaksakan perasaan untukku?” tanyanya lagi.

Sosok itu hanya tersenyum tipis dan dingin sesaat sebelum menjawab, Kau ingin tau? Tidak disini Chika, ikut aku dan kau akan mendapat jawabannya.

Chika menelan ludahnya dengan susah payah, berpikir sejenak, namun keyakinannya untuk mengakhiri ini lebih kuat. Dia sudah lelah.

“Apa kau berjanji, setelah aku ikut kau berjanji akan mengakhiri semua ini?” tanya Chika.

Sosok itu mengangguk.

“Baiklah, kemana aku harus pergi?” tanya Chika kemudian.

Puncak gedung apartemen ini. Kau harus datang sendiri, akan kutunggu disana. ujar sosok itu.

Chika mengambil nafas panjang, lalu mengangguk tegas. Dari awal semua kejadian ini berawal darinya, jadi harus dia sendiri yang mengakhiri, sudah cukup dia membuat Jesse susah. Perlahan gadis itu berjalan keluar dari kamarnya, sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara apapun yang dapat membangunkan Jesse yang sudah terlelap di sofa. Hingga akhirnya dia mencapai pintu depan dan berhasil keluar dari sana.

Perjalanan Chika menuju puncak gedung terasa lama, entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah sejak keluar dari apartemen Jesse. Tidak jauh, tapi seakan-akan lorong gedung terus memanjang setiap dia melangkah. Mungkin karena Chika sibuk dengan pikirannya sendiri.

Mengakhiri semuanya…. apa? Mengakhiri keusilan Taiga pada hidupnya? Atau mungkin mengakhiri hidup Chika? Yang mana? Apa yang benar? Chika sendiri bingung kenapa dia melontarkan pertanyaan yang terkesan ambigu itu pada sosok yang selalu mencelakakannya.

Gadis itu memikirkan apa yang akan diminta oleh Kyomoto Taiga kalau ia akan berhenti menganggu hidup Chika. Taiga tidak mungkin hilang begitu saja, mengingat pemuda itu begitu ambisius untuk menjadi satu bersama Chika. Bahkan mungkin pilihan ini tidak akan dipilih oleh sosok itu.

Akhirnya kaki Chika berhenti saat ia berada di depan sebuah pintu. Gadis itu menatap pintu itu sebentar, menarik napasnya dan membuangnya dengan berat. Ia membuka pintu tersebut dengan tangan sedikit bergetar—takut dan langsung disambut oleh angin malam yang dingin. Tidak, ini bahkan lebih dingin dari biasa seperti suasana di kamar tadi saat Taiga menampakkan diri. Membuat Chika merinding. Ingin berteriak dan kembali ke apartemen Jesse, namun ia mengurungkan niat itu. Gadis itu sekuat tenaga menata dirinya agar rasa penasarannya menang melawan rasa takutnya. Ia melanjutkan langkahnya, mengedarkan pandangan dan mendapati Taiga yang sedang melayang di tepi tembok gedung tersenyum padanya.

Angin musim dingin menerpa tubuh Chika, sesaat setelah mereka sampai di atap gedung,  terasa menusuk hingga ke tulang. Chika mengeratkan tangannya di depan dada, mencoba menghangatkan dirinya sendiri, sementara sosok Taiga kini berdiri di ujung tepian gedung, walaupun tahu Taiga bisa terbang, tapi rasanya linu membayangkan Taiga bisa jatuh kapan saja.

“Taiga-kun, kapan kau akan bicara?” Chika menunggu, sementara Taiga kini menatapnya dengan pandangan yang intens, membuatnya semakin merasa kedinginan.

“Mau dengar sebuah cerita? Pilih.. cerita sedih atau bahagia?” katanya, melayang mendekat ke arahnya, mengitari tubuh Chika.

Chika mengerjapkan matanya, mencoba tenang, “Ba.. bahagia saja,” ucapnya.

“Bravo! Pilihan yang tepat, nona manis..” ucapnya, lalu berdehem sebelum akhirnya berbicara, “Pada suatu hari, ada seorang pria yang jatuh cinta pada gadis biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari gadis itu, setidaknya tidak banyak yang mengetahui keistimewaan gadis ini,”

“Pria itu pertama kali melihat gadisnya saat masuk sekolah, di semester awal itu gadisnya terlihat manis dengan seragam sailor berwarna biru, pria itu pun selalu diam-diam memperhatikan setiap gerakan gadis itu, bahkan!!” Taiga mendekat ke arah Chika, wajahnya yang mulus tepat berada di hadapannya, “Bahkan pria itu ikut masuk ke klub jurnalistik, demi bisa bersama dengan gadisnya,”

Taiga merapatkan tubuhnya di sebelah Chika, “Lalu hari demi hari berlalu, gadis itu masih terlihat bersinar untuknya. Setiap hari dia selalu mencoba berbicara dengan gadis itu, tapi tidak pernah sekalipun gadis itu mencoba bicara dengannya, pria itu merasa sedih, ia tahu gadisnya tidak menyukainya. Tapi satu hari di bulan Februari itu, gadis itu tersenyum padanya lalu berkata ‘Hari ini juga turun salju ya,’ pemuda itu pun bersorak dalam hati, ah gadisnya akhirnya mengajaknya berbicara, tapi seminggu setelahnya pria itu mencoba peruntungan, meminta gadisnya jadi pacarnya, tapi kau tau.. gadis itu menolaknya!!”

Chika mulai merasa dirinya salah mengikuti Taiga ke sini.

“Ah ya, pria itu sangat sedih.. sangat sedih.. dia sangat mencintai gadisnya, tapi gadisnya tidak mau melihatnya padahal, gadis itu bisa tertawa tawa dihadapan pria lain!! Tapi dia tidak mau denganku??!!”

Chika mendadak sakit kepala, napasnya naik turun dan detik berikutnya ia melihat kilasan-kilasan di kepalanya. Taiga yang mendekatinya, Taiga yang menciumnya paksa di UKS sekolah, Taiga yang hampir melukainya di ruang jurnalistik, dan juga Chika ingat bagaimana sebuah album penuh dengan fotonya dari berbagai angle, milik Kyomoto Taiga dan saat itulah Chika jatuh dari tangga karena melarikan diri dari amukan Taiga, lalu keesokan harinya ia tahu memory-nya hilang sebagian.

Taiga kembali berbicara, “Saat pernyataan cintanya ditolak, sang pria mencoba untuk mengambil hati gadis pujaannya, beruntung saat itu keadaan mereka sedang ada di UKS jadi kesempatan pria itu untuk mencumbu sang gadis,” senyum jahat terlihat dari sudut bibir Taiga saat melihat reaksi Chika yang mulai memegang kepalanya.

Chika merasa sangat pening, sekilas kejadian yang diceritakan Taiga ada diotaknya. Sambil mendengar celotehan Taiga, Chika terus merasakan pusing dan semakin jelas kejadian itu di kepalanya.

Chika sangat ingat waktu itu Taiga mencoba memperkosanya, bibir ranum gadis itu telah habis dicium paksa oleh Taiga, walau Chika menolak namun tetap saja kekuatan Taiga lebih besar darinya.

Hingga saat Taiga ingin membuka bajunya, tangan Chika dengan cepat mengambil vas bunga yang ada di meja samping kasur UKS, dan melemparnya ke kepala Taiga, hingga vas itu pecah dan kepala pria itu juga berdarah. Namun tak peduli akan hal itu Chika cepat-cepat melarikan diri dari keluar dari UKS.

Semakin lama larinya semakin kencang karena Taiga mengejarnya dengan sekuat tenaga walau kepala pria itu sudah berdarah.

Dan, Chika ingat saat ia terbangun dirinya sudah ada dirumah sakit.

“Bagaimana? Kau terharu mendengar ceritaku?” Arwah Taiga melayang-layang mengelilingi tubuh Chika yang sedang terjongkok karena menahan sakit kepalanya.

“Itu cerita yang sangat…” Taiga mendekatkan tubuhnya ke arah Chika dan berbisik, “tragis…” seketika bulu kuduk Chika meremang.

“Hahahahahahaha….. jahat sekali wanita itu. Kalau aku menjadi dirinya, aku akan bunuh diri dari atap gedung ini, bagaimana kalau menurutmu Chika?” ujar Taiga mencoba menghasut wanita tercintanya itu. “Karena kalau aku menjadi dia, aku akan menyesal seumur hidupku telah menolak pria itu!!”

“Hentikan!!!”

“Kenapa? Bukannya cerita ini bagus?” Senyum jahat Taiga semakin lebar, menampakkan giginya yang rapi dan matanya melotot melihat Chika. Gadis itu menutup telinga dengan tangannya yang bergetar hebat.

“Dan karena dia, pria itu jadi bunuh diri! Hanya untuk wanita itu!! Wanita yang sangat ia cintai!!” lanjutnya tanpa sadar Taiga berteriak hingga membuat Chika menangis ketakutan, Chika jatuh terduduk karena lemas dan memeluk lututnya erat.

Melihat itu, Taiga menjadi tidak tega dan mensejajarkan posisi mereka, tatapan matanya menjadi lembut ke arah Chika.

“Chika…” panggil Taiga pelan, refleks gadis itu menatapnya, air mata sudah membasahi pipi gadis itu.

Chika menatap Taiga yang tersenyum padanya. Bagaimana bisa arwah itu tersenyum begitu lembut padanya yang adalah penyebab Taiga bunuh diri? Rasa bersalah menyelimuti Chika, bagaimana dia harus menebus rasa bersalah itu?

Tanpa berkata apa-apa, hanya saling menatap seakan terhipnotis, Taiga berhasil membuat gadis di hadapannya berhenti menangis, perlahan Chika berdiri dari posisinya.

Chika berjalan mendekati bibir atap gedung itu dan kemudian tubuhnya melayang hingga menumbur aspal yang ada dibawah sana.

Gomen na, Chika.”

 

***

 

Pagi itu terdengar sangat berisik dari kamar Jesse, ia mendengar bunyi mobil—entah itu ambulance atau polisi karena suara sirinenya hampir sama.

Sambil menggaruk kepalanya, Jesse berjalan menuju arah kamar Chika dan membuka kamar tersebut, namun alangkah terkejutnya ia saat melihat kamar itu kosong.

“Chika?” Jesse mulai panik dan mencoba untuk mencari Chika.

“Chika, kau dimana?” Ia pikir gadis itu sudah bangun dan mungkin mandi, namun saat ia ke kamar mandi, kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Dapur?

Sama saja.

Jesse melihat ke luar jendela, apa Chika di sana untuk melihat apa yang terjadi ya?

Hingga akhirnya Jesse keluar dari ruang kamar apartement dan turun ke lobby, terlihat dari dalam kalau diluar sana sangat tamai orang-orang mengerubuni sesuatu, mobil ambulance dan polisi juga ada disana.

Kening Jesse mengkerut, heran dengan keadaan dan seketika lupa untuk mencari sosok Chika.

Karena sangat penasaran pemuda itu pun menerobos kerumunan yang sedang heboh melihat sesuatu, entah itu siapa, polisi juga ada disana, yang mungkin sedang memeriksa keadaannya.

Namun saat Jesse berhasil menerobos keramaian tersebut, matanya membulat.

Orang yang ia cari sedari tadi kini ada dihadapannya, terkulai lemas dengan darah yang mulai menghitam menghiasi tubuh gadis itu, Jesse mendekat ke arahnya, memeluknya erat.

Lemas tak berdaya gadis itu di pelukan Jesse. Chika kini tak lagi bernyawa.

“CHIKAAAAAAAAA!!!!!!!!” dan baru pria itu sadari, bahwa dirinya juga tak sanggup kehilangan Chika.

Konno Chika kini hanya tinggal sebuah nama, yang tertulis di sebuah nisan dan juga di ingatan Jesse. Di tempat lain, Taiga tersenyum bahagia sambil memeluk seorang gadis yang dicintainya, Konno Chika. Akhirnya mereka bisa bersama walau tidak lagi ada di dunia fana.

END

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Crazy Love

  1. kyomochii39

    aaa, sukaaaaa!!!!!
    keren plotnya!!!
    makasii semua!! mmmuah :*

    komen dikit ya ~
    awalnya aku ngerasa sebel sama chika!!! (padahal OC sendiri disebelin wkwkwk)
    habisnya, masa’ iya cowok seganteng taiga ditolak??! bahkan sampe bunuh diri gara2 dia!! jahat sumpah!!
    terus, udah gitu, nge-friendzone jesse pula!! sok kecantikan amat sih lu chik? /plak/

    lanjuut, semakin dibaca semakin ga rela kalo chika akhirnya harus sama jesse!! lah itu konno chika kan OCku khusus buat taiga! asdfghjklqwertyuiop
    tapi….alurnya ga ketebak sumpah!! aku sukaaaaaa!!
    ciyeeee, yang akhirnya chika-taiga bahagia berdua di alam baka (kalo udah gini ga bakal ada lagi yang bisa pisahin kita!! lolololol)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s