[Multichapter] Love Shuffle (chap 04)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : Four
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-15
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^
LOVE SHUFFLE
~Chapter 04~

Ting Tong~
Yuma keluar dari lift dan berjalan menuju apartemen yang di berikan alamatnya oleh Saifu melalui e-mail tadi siang.
“Ini ya?” gumam Yuma lalu memencet bel ketika dirinya sudah yakin benar dengan alamat yang dimaksud.
Beberapa menit kemudian pintunya terbuka, “Yuma-kun! Ayo masuk!” seru Saifu sambil menarik Yuma ke dalam apartemennya.
Yuma hanya mengangguk-angguk lalu duduk dengan canggung di kursi ruang tengah karena Saifu membawanya kesitu. Ia memperhatikan apartemen yang cukup mewah ini. Tidak terlalu berantakan, namun tidak juga sangat rapi. Beberapa pajangan bahkan entah sengaja atau tidak diletakkan tidak beraturan.
“Sugoi yo ne~” gumam Yuma. Ini pertama kalinya ia ke rumah gadis lain selain Riisa. Kalau di rumah Riisa, ia sudah biasa bahkan hingga menginap karena rumah mereka memang kebetulan juga berdekatan.
Saifu kembali dengan dua kaleng bir, “Gomen na.. aku sedang tidak enak badan.. jadi kita kencan disini tidak apa-apa kan?” tanya Saifu dengan nada manja.
“Uhm!” jawab Yuma sambil mengangguk cepat.
Saifu terkekeh, “Tidak usah gugup, Yuma-kun…”
“Maa ne… ini pertama kali aku ke rumah gadis lain…” jawab Yuma jujur.
“Hontou? Jadi… siapa itu… Riisa-chan itu pacarmu satu-satunya?” tanya Saifu kaget. Ia belum pernah bertemu pria selugu Yuma sebelumnya.
Yuma mengangguk-angguk, “Kami teman sejak kecil… tapi… kami tidak pacaran kok,” nada kecewa itu tidak bisa disembunyikan oleh Yuma.
Saifu meminum habis birnya lalu mengambil lagi beberapa botol dari lemari es, “Biar kutebak… kalian saling mencintai.. tapi saling takut menyakiti karena sudah terlalu lama saling kenal?”
BINGO!
Yuma tertawa dan meneguk habis juga birnya, “Saifu-san pintar juga ya!! Hahaha… aku sebenarnya punya keyakinan bahwa aku bisa menjaganya, tapi sepertinya berbeda dengan dirinya..” ucap Yuma terdengar sedih.
“Yuma-kun~” panggil Saifu pelan, “Cinta itu tidak pernah adil! Hahaha.. lihat saja diriku… punya tunangan tapi tidak pernah terasa seperti itu…”
Yuma mengangguk-angguk dan meneguk lagi birnya.
——————————-
Pagi itu Yuya malas sekali bangun pagi, namun ia memaksakan dirinya melangkah ke luar rumah untuk bersiap-siap ujian untuk salah satu mata kuliahnya.
Ia melihat satu bangku kosong di sebelah Sora belum terisi siapapun. Dengan pelan ia duduk di sebelah Sora, menatap kekasihnya yang masih sibuk dengan bukunya, namun Yuya tidak berani mengatakan apapun.
Sora tiba-tiba menoleh ke arah Yuya, lalu menyodorkan sebuah pensil berwarna hitam. Yuya ingat itu miliknya, hadiah dari Sora juga sebenarnya.
“Mau ujian kan? Ini pensil keberuntunganmu…” ucap Sora tampak canggung.
Yuya mengambil pensil itu, “Arigatou.. Sora-chan…” senyum Yuya seketika mengembang, ia tahu ini artinya si gadis sudah tidak marah lagi padanya.
Sora kemudian tersenyum kepada Yuya, “Douita…”
“Sehabis ujian kita makan siang, ya?” ajak Yuya sambil meraih tangan Sora dan menggenggamnya.
“Gomen… aku ada janji dengan Ryo-kun.. maksudku Yamada-kun…” jawab Sora tiba-tiba saja terlihat gugup.———————————
Yuma merasa dirinya cukup pusing sehingga ia berusaha mengingat dimana dirinya. Semalam ia mabuk-mabukan dengan Saifu Suzuki, gadis yang minggu ini menjadi pasangannya.
Kembali ia mengucek matanya, kepalanya terasa berat dan berputar-putar, ia masih di sofa sejak semalam?
“Sudah bangun? Ini kopinya…” ternyata Saifu membawakannya kopi panas untuknya.
“Arigatou..” ucap Yuma lalu menyesap kopi itu, ia memperhatikan Saifu yang berjalan ke dapur.
Tunggu sebentar, itu kemejaku kan? Otak Yuma berfikir cepat. Kenapa Saifu mengenakan kemejanya? Ia menatap dirinya sendiri dan menyadari ia terbalutkan selimut dan tidak memakai apapun lagi. Intinya ia telanjang bulat.
Yuma menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan bergerak cepat mendekati Saifu.
“Anoo… Saifu-chan… kita…” Yuma bingung harus bertanya apa.
Saifu tidak menjawab hanya tersenyum misterius dan membawakan dua tangkup sandwich ke meja ruang tengah yang mereka pakai untuk berpesta bir semalam.
“Makan dulu Yuma-kun… kau bisa memikirkan kembali apa yang terjadi semalam..hahaha..” ucap Saifu sambil melahap sandwichnya tanpa menjawab Yuma.
——————————-
“Kita ngapain sih, Yuya-san?” tanya Riisa heran karena sejak tadi mereka hanya mengendap-endap di sekitar pertokoan di daerah Shibuya.
Yuya mengisyaratkan pada Riisa untuk tidak berisik, “ssshhhtt~ jangan berisik!!” Yuya mengintai dari jauh, melihat Yamada dan Sora yang sedang memilih baju.
“Ada apa dengan mereka berdua?” tanya Riisa heran.
“Sora tidak pernah memanggil pria lain dengan sebutan nama depan… maksudku… ini jarang terjadi… aku hanya penasaran sedekat apa mereka? Padahal kan baru sekali mereka kencan…” jawab Yuya panjang lebar.
“Jadi kau cemburu?” tebak Riisa.
Wajah Yuya langsung berubah. Riisa tahu itu jawaban yang benar. Yuya tak menjawab dan terus mengendap-endap melihat Sora dan Yamada.
“Awas saja kau Yamada!!” gumam Yuya kesal dan keki melihat Sora tersenyum pada Yamada.
Yamada tiba-tiba menarik tangan Sora dan berlari kecil ke tikungan membuat Yuya kehilangan jejak keduanya.
“Sial!!” umpat Yuya yang kemudian ia merasakan sebuah tepukan di bahunya.
“Yo! Mau ikut kencan dengan kita?” ternyata Yamada sudah ada di belakangnya, tersenyum penuh kemenangan.
Lalu keempatnya kini sudah berada di sebuah restoran. Yuya menunduk karena canggung, sementara Sora tak kalah canggungnya dengan Yuya.
“Aku tak menyangka kau juga ada di Shibuya!!” walaupun ucapannya biasa saja, tapi tentu saja itu bermaksud untuk menyidir Yuya.
Yuya tak menjawab, lalu menyesap kopinya cepat. Suasana menjadi semakin canggung karena setelahnya tidak ada yang mau berbicara.
“Masakan disini katanya enak loh! Aku belum pernah coba sih… tapi begitu kata temanku…” ucap Riisa memecah keheningan.
“Ah! Kudengar kau belajar kuliner, ya? Aku juga suka memasak…” ucap Yamada pada Riisa.
Sementara Yuya dan Sora hanya bisa saling memandang satu sama lain.
————————————
Ting…
Suara sendok dan piring yang saling beradu membuat kesadaran Kei kembali. Kei menatap perempuan di hadapannya lalu tersenyum.
“Gomen ne…aku melamun, Nu..” ucap Kei.
Nu yang sedang mengaduk-aduk minumannya tidak menanggapi.
“Sepertinya menjadi dirimu jauh lebih baik. Aku iri..” ucap Kei sambil tersenyum meringgis.
Nu berhenti mengaduk-aduk minumannya lalu menatap Kei dengan pandangan yang aneh.
“Iri?” gumam Nu. “Walaupun aku ingin mati, kau tetap iri?”
Kening Kei berkerut. “Kenapa kau ingin mati?”
“Bertemu okaa-san..” jawab Nu lalu kembali mengaduk-aduk minumannya.
Kei merasa hati Nu akan sulit disembuhkan. Ia tidak heran jika gadis itu sampai harus pergi ke psikiater untuk sembuh.
Kei lalu berkata, “Mungkin aku tidak akan melakukannya. Bunuh diri maksudku. Karena aku masih harus melakukan hal yang belum kulakukan. Tidakkah ada yang ingin kau lakukan selain membunuh dirimu sendiri?”
Nu masih diam tetapi tangannya berhenti ‘bermain’ dengan minumannya.
—————-
“Menunggu siapa?” tanya Sora saat melihat Opi duduk sendiri di kantin.
“Ikuta-sensei..” jawab Opi lemas. Ternyata tidak hanya Kei yang merasa kacau karena perang dingin itu. Tapi Opi juga merasa begitu.
“Doushita no?” Sora lalu duduk di hadapan Opi, siap mendengar keluh kesah sahabatnya itu.
Opi menggeleng. Ia tidak ingin Sora terlalu khawatir karena ia tahu sahabatnya itu sedang ada masalah dengan Yuya.
Beruntung Toma cepat datang sehingga Sora tidak bertanya apapun lagi.
“Aku pinjam dulu temanmu ya..” ucap Toma pada Sora. Tentu saja dengan nada bercanda.
“Douzo…jangan sampai rusak, sensei,” balas Sora.
“Kalian pikir aku barang pecah belah,” dengus Opi kesal. Sora dan Toma hanya tertawa.
Setelah berpamitan dengan Sora, mereka tidak berjalan menuju mobil. Tapi menuju perpustakaan.
“Karena sudah sore, kita bisa mengerjakan tugas sambil minum kopi,” ucap Toma sambil menyerahkan sekaleng kopi yang dia beli sebelum bertemu dengan gadis itu.
“Arigatou..”
Hari ini Opi harus mengerjakan tugasnya dan kebetulan ada yang harus Toma kerjakan. Sehingga mereka sepakat untuk mengerjakannya bersama di perpustakaan.
“Sepertinya aku mengerti kenapa kau merasa kesepian walaupun tinggal dengan pacarmu..” ucap Toma tiba-tiba saat mereka sedang mencari buku untuk referensi. Toma membaca sebuah buku sambil bersender di rak sedangkan Opi masih mencari buku.
“Hmm?” Opi menanggapi tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku-buku.
“Walaupun tubuhnya ada di dekatmu, tapi perhatiannya hanya memikirkan pekerjaan. Bukankah itu keterlaluan?” lanjut Toma.
Kini gadis itu tidak menganggapi. Perhatiannya terpusat pada buku yang sedang ia baca. Melihatnya membuat Toma menjadi kesal.
Tiba-tiba Toma mencengkram tangan Opi sehingga buku yang gadis itu pegang terjatuh. Lalu mendorong tubuh gadis itu menempel di rak buku.
Opi terkejut karena tubuhnya sudah berada di antara tubuh Toma dan rak. Selain itu ia dapat merasakan wangi tubuh Toma yang entah kenapa gadis itu sangat menyukainya.
“Ano…sensei…sepertinya jarak kita terlalu dekat,” dengan gugup Opi berkata sambil membuang wajahnya ke arah lain. Jika ia melihat ke arah depan, secara otomatis Opi akan dapat melihat wajah Toma dengan jelas.
“Tidak seharusnya kamu berpacaran dengan laki-laki seperti itu..” kata Toma dengan sangat pelan. Bahkan Opi yakin hanya dia yang bisa mendengarnya.
Opi merasa jarak wajah mereka semakin dekat. Mungkin ini pesona Ikuta Toma yang dibilang oleh banyak orang. Ia tidak bisa beranjak kemanapun atau menolak. Dan saat jarak bibir mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba ada yang memanggil.
“Ikuta-sensei…”
Secara refleks, Opi mendorong tubuh Toma sehingga laki-laki itu membentur rak buku yang lain.
“Ittai~~~” keluh Toma karena kepalanya ikut terbentur oleh buku yang tidak sengaja terjatuh dari atas.
“Sensei..ada yang memanggilmu,” ucap Opi dengan kepala menunduk.Sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit, Toma pergi menghampiri orang yang memanggilnya.
Sementara itu, Opi hanya bisa tertunduk memikirkan apa yang baru saja terjadi dan akan terjadi jika saja tidak ada orang yang memanggil Toma tadi.
—————
“Maaf hari ini kita hanya bisa makan saja..” ucap Kei saat mereka sudah berada di depan rumah Nu.
Nu hanya mengangguk. Dan tiba-tiba gadis itu menarik lengan Kei pelan.
“Ada apa?” tanya Kei ramah.
“Kalau…pacarmu meninggal..dan kau penyebabnya..apa yang akan kaulakukan?” tanya Nu lalu menatap mata Kei.
“He?”
Baru saja Kei akan menjawab, tiba-tiba ada seorang pemuda datang dari arah rumah Nu.
“Nu-chan…kau bersama siapa?” tanya pemuda itu.
“Dai-chan..”
“Dai-chan?” Kei mengulang.
“Anda siapa?” tanya Daiki lalu mendekati Nu.
Kei menunduk sedikit. “Kei Inoo desu. Hajimemashite..”
“Daiki Arioka desu..” ucap Daiki membalas. “Kau kenal dengan laki-laki ini, Nu-chan?”
Nu mengangguk.
“Kenal dimana?”
“Maaf..” Kei memotong. “Lebih baik bertanya pada Ikuta Toma jika ingin tahu.”
“Ikuta-sensei?”
Kei mengangguk.
“Dai-chan..ayo masuk..” ajak Nu yang sudah mendahului Daiki untuk masuk ke dalam rumah.
Kei yang memang ingin segera pulang, lalu berpamitan pada Daiki.
Daiki penasaran dengan apa yang Nu lakukan jika di luar rumah. Tidak hanya sekali, Daiki pernah melihat Nu bersama dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Hanya saja bukan laki-laki yang baru saja mengantar Nu. Mungkin penasarannya hilang jika dia bertanya pada Ikuta Toma besok seperti yang dikatakan oleh Kei.
————————————-
Pagi itu Yuma melangkahkan kakinya ke tempat yang biasanya ia datangi, sebuah restoran yang tidak begitu mewah tapi pengunjungnya cukup banyak. Terutama pada saat makan siang atau makan malam. Tapi ini masih pagi, ia memang bukan ingin makan.
“Ohayou!” sapa Yuma begitu masuk ke restoran.
“Ohayou!” balas Riisa yang sedang membereskan salah satu meja.
Yuma duduk dan memandangi Riisa yang masih sibuk dihadapannya, “Kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menopang dagunya menatap si gadis.
Riisa mengangguk, lalu tersenyum, “Sebentar aku buatkan sarapan ya…”
Entah kenapa sejak kejadian bersama Saifu, Yuma sejujurnya merasa bersalah pada Riisa. Walaupun mereka bukan sepasang kekasih, baginya Riisa adalah orang yang penting dan ia ingin mengatakannya pada Riisa.
Beberapa menit kemudian Riisa membawakan sepiring omurice untuk Yuma, “Ini… selamat menikmati..” ucapnya sambil tersenyum.
Yuma mengangguk dan segera melahap omurice itu, “Ii na~ masakan Riisa memang paling enak!!” puji Yuma.
“Kau sakit? Tidak biasanya kau memujiku seperti itu!” seru Riisa sambil menyentuh dahi Yuma.
Yuma berdehem sesaat, “Itu… soal kencanku dengan Saifu-san…”
Riisa tiba-tiba berbalik tak ingin melihat Yuma, “Apapun yang kau lakukan… aku tidak perduli… ia pasanganmu minggu ini kan?” Riisa berlalu masuk ke dapur, membuat Yuma hanya bisa terdiam memandangi punggung itu semakin menjauh.
—————————-
“Uwaaaa!! Enak banget!!” Sora mengaggumi masakan yang baru saja ia lahap di apartemen Yamada.
Sore itu Yamada memang mengajaknya untuk makan siang, dan makanannya ia masak sendiri.
“Ryo-kun pandai memasak ya… aku bahkan sering menghanguskan makanan yang kubuat…” ucap Sora sambil terkekeh.
“Benarkah? Kalau begitu biarkan aku yang memasak untuk Sora-chan… bagaimana?” Yamada mendekatkan wajahnya dengan wajah Sora dari belakang, sehingga Sora bisa merasakan nafas Yamada di tengkuknya.
“Anou… Ryo-kun… terlalu dekat…” ucap Sora merasakan pipinya memerah.
Yamada terkekeh lalu duduk di sebelah Sora, “Habis Sora-chan manis sekali sih…”
Sora hanya memandangi Yamada dengan perasaan campur aduk. Kenapa juga pria satu ini menggodanya sampai seperti ini.
Yamada menarik Sora hingga berdiri, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Sora, menciumnya. Lama kelamaan Yamada mendorong Sora ke sofa, namun tiba-tiba Sora mendorong keras bahu Yamada.
“Tidak Yamada-san… ini sudah keterlaluan… Sayonara!” Sora bergegas mengambil barang-barangnya dan keluar dari mansion itu.
“Sial!” ucap Yamada tak percaya ia ditolak oleh gadis seperti Sora.
——————————-
Saifu duduk di meja bar sambil meneguk birnya, memandang ke depan dengan mata sembab. Ia kembali bertengkar dengan Ryutaro. Setelah akhirnya pulang, tunangannya itu malah terlihat tidak peduli dengannya, dan hasilnya mereka malah bertengkar hebat.
“Sendirian?” sebuah suara membuat Saifu menoleh.
“Dai-chan… tumben kesini…” ucap Saifu kaget karena Daiki memang jarang ada di bar itu kalau tidak terpaksa dibawa oleh Yamada.
Daiki mengangguk, “Hanya sedang ingin… kau sendiri? Bagaimana persiapan pernikahanmu?”
“Mungkin akan batal…” jawab Saifu sinis, “Sudahlah jangan membicarakan itu…”
Daiki mengangguk, ia tahu Ryutaro memang termasuk orang yang sibuk dan banyak pekerjaan, selain itu Ryutaro juga masih kuliah sehingga membuatnya tambah repot. Namun Daiki tahu saat ini Saifu pasti tidak ingin membicarakannya.
“Kau tampak bingung…kenapa sih?” tanya Saifu, “Cerita saja padaku, mungkin aku bisa membantumu,”
Awalnya Daiki sedikit ragu namun akhirnya menceritakan soal Nu yang sering diantar pria lain, yang ia tak tahu siapa dan itu membuatnya penasaran terutama apa yang diucapkan Inoo soal Dokter Ikuta kemarin.
“Ah! Soal itu? Kau tidak dnegar?”
“Dengar soal apa?” dahi Daiki berkerut.
Saifu menceritakan soal permainan Love Shuffle yang dibuat oleh Toma, bahkan menceritakan bahwa Nu diajak Toma mengikuti permainan itu.
“Hah?!” Daiki kaget, “Apa sih yang dipikirkan doketer gila itu?! Nu-chan kan masih sakit, harusnya ia tidak melibatkan Nu-chan dalam permainan gila kekanakan macam ini!!” Daiki terlihat snagat gusar.
“Tenanglah… sampai sekarang ia masih baik-baik saja kan?”
Daiki menoleh marah pada Saifu, “Kau tidak tahu bagaimana yang Nu-chan rasakan?!!”
Saifu mengangkat tangannya, “Maaf Dai-chan… tenanglah… lebih baik kau bicara dengan Ikuta-sensei… naa?”
Daiki bersumpah akan membunuh Dokter Gila itu jika ia tak punya alasan bagus mengapa ia melibatkan Nu.———————————————-
“Terima kasih sudah datang tepat waktu…” ucap Toma sumringah ketika melihat semua peserta Love Shuffle sudah berkumpul.
“Yo!!” sapa Yuya.
Yuma yang berada di belakang meja bar berteriak, “Mau minum apa? Biar aku sediakan…”
Malam ini mereka kembali berkumpul di cafe untuk menentukan pasangan di minggu ke tiga. Artinya permainan ini sudah hampir setengah jalan.
Yuma membawakan pesanan mereka, lalu ikut duduk di meja itu.
“Baiklah… siaaapppp?! Jika ada yang mendapat pasangan yang sama, kita akan mengulang nae?” ucap Toma.
Yang lain hanya mengangguk-angguk setuju.
“Punyaku Queen…” ucap Sora ketika kartunya sudah dibagikan.
Inoo membuka kartunya, “Aku juga…”
“Ah! Inoo-kun!!” seru Sora sedikit lega karena Inoo lah pasangannya minggu ini.
“Aku As hati…” ungkap Saifu.
“Sama denganku…” kata Toma, “Selanjutnya?” Yuma membuka kartunya dan menunjukkan King hati, yang ternyata sama dengan Opi.
“J…” gumam Nu, Yuya membuka kartunya menunjukkannya pada Nu.
Otomatis Riisa berpasangan dengan Yamada.
“Minggu ketiga dimulai!!” seru Toma bersemangat.
“Anou… Kei…” Yuya menarik Inoo, sementara yang lainnya sedang makan malam.
“Ada apa?” tanya Kei bingung.
“Kumohon… jangan melakukan macam-macam dengan Sora…kumohon!!” seru Yuya menunduk pada Inoo.
Inoo tiba-tiba tertawa keras, “Baka! Dia itu sudah seperti adikku sendiri!! Lagipula aku tidak tertarik pada gadis lain selain Opi-chan, kok…”
Yuya setidaknya merasa lega mendengar apa yang dikatakan Inoo, “Ngomong-ngomong… Nu-san itu orangnya seperti apa?”
Inoo rasanya sulit menjelaskannya dan hanya tersenyum, “Ganbatte!”
————————————-
TBC~Maaf agak aneh ya chapter ini?
Aduh~Harus berusaha lebi keras lagi…
Hahaha..
Doakan saya…
COMMENTS ARE LOVE!! ❤
Advertisements

One thought on “[Multichapter] Love Shuffle (chap 04)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s