[Multichapter] Love Shuffle (chap 01)

Title        : Love Shuffle
Type          : Multichapter
Chapter     : One
Author    : Dinchan Tegoshi & Yamashita Opi
Genre        : Romance
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE, HSJ
Starring    : Ikuta Toma (JE), Takaki Yuya (HSJ), Yamada Ryosuke (HSJ), Inoo Kei (HSJ), Arioka Daiki (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Hideyoshi Sora (OC), Yamashita Opi (OC), Suzuki Saifu (OC), Takahashi Nu (OC), Yanagi Riisa (OC).
Disclaimer    : We don’t own all character here except Hideyoshi Sora and Yamashita Opi. Ikuta Toma, Yuya, Yamada, Inoo, Daiki and Yuma are belongs to JE, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Nu dipaksa dipinjem dari Nu Niimura. We just own the plot!!! Terinspirasi dari dorama Love Shuffle. COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

LOVE SHUFFLE
~Chapter 01~

Senja itu seperti biasanya seorang Ikuta Toma duduk di kedai kopi langganannya, duduk menghadap ke arah jalanan Tokyo yang ramai oleh lalu lalang manusia kota yang semuanya bergerak cepat. Sambil menyesap kopi americano nya, ia memperhatikan setiap manusia yang bisa ia perhatikan.

Sepasang kekasih yang sedang bertengkar, sekumpulan anak muda berseragam sekolah yang tertawa cekikikan sambil berjalan, seorang pria pegawai kantoran yang hampir botak dan berjalan tergesa-gesa. Semuanya punya urusan masing-masing. Ia senang membaca ekspresi dan mengira-ngira bagaimana sifat seseorang, apa yang sedang mereka pikirkan ketika sedang berjalan. Pikiran yang sulit terjawab, tapi itulah yang biasa lakukan setiap sore hari di kedai kopi itu.

“Sensei… Ikuta Sensei, kan?” sapa seseorang, membuyarkan lamunan Toma.

Toma menoleh, dan mendapati seorang muridnya menyapa.

“Kau….” Toma mencoba mengingat siapa nama mahasiswa di hadapannya itu. Mengajar banyak kelas dan ratusan orang setiap harinya membuat ia tak bisa mengingat satu persatu mahasiswanya.

“Takaki Yuya desu. Saya ambil kelas sensei tahun ini, yoroshiku onegaishimasu…” ucap si mahasiswa itu dengan sopan.

“Ah! Kelas siang ya?” ucap Toma meyakinkan, karena Yuya cukup aktif di kelasnya, kini ia mulai ingat.

Yuya mengangguk dan tersenyum pada Toma, “Sendirian, sensei?” tanyanya dengan sopan.

Toma mengangguk – angguk, “Ya…begitulah… kau sendiri?”

“Bersama teman…” jawabnya.

“Yuyan~ ayo! Aku sudah beli kue…” ucapan gadis itu terhenti ketika melihat Toma, “Eh…” si gadis nampak kikuk dan segera membungkuk pada Toma, “Konnichiwa Ikuta sensei..” sapa si gadis.

“Ah! Hideyoshi-kun, ya? Sama-sama di kelas siang, kan?” sepanjang pelajaran memang keduanya selalu duduk bersama.

“Kami duluan, sensei…” ucap Yuya berlalu membawa si gadis menjauh dari Toma.

Toma hanya mengangguk dan memperhatikan keduanya menjauh.

“Ya ampun Yuyan~ kenapa gak ngasih tau ada Ikuta sensei…” ucap gadis itu sambil berjalan di sebelah Yuya.

Yuya hanya terkekeh pelan, “Mukamu itu udah kayak kepiting rebus, tau!” ucapnya sambil mencubit pelan hidung si gadis.

Gadis itu masih merajuk, kesal karena kekasihnya membuatnya malu di hadapan dosen favoritnya di kampus.

“Sora-chan…” panggil Yuya pada si gadis.

“Hmm?”

“Setelah ini mampir ke apartemenku?” tanya Yuya sambil meraih tangan Sora, menggenggamnya.

Sora tampak berfikir, lalu menggeleng pelan, “Gomen… aku harus bertemu Opichi sore ini,” jawabnya tampak menyesal.

Yuya hanya tersenyum, mengerti bahwa kekasihnya ini juga ingin bertemu sahabatnya, “Baiklah…” jawab Yuya sambil menarik si gadis lebih dekat dengannya, memeluk pinggang si gadis sambil berjalan.

Bagi Yuya, Sora adalah kekasihnya yang bertahan cukup lama. Selama ini ia tak pernah punya hubungan lebih dari dua bulan karena dirinya adalah tipe orang yang cepat bosan. Tapi Sora membuatnya nyaman dengan tidak banyak menuntut, lebih banyak mengiyakan apa yang Yuya mau selama ini.

“Kalau begitu aku antar ke apartemen Opichi ya?” tanya Yuya memandang Sora yang berjalan di sebelahnya.

Sora mengangguk, “Baiklah…ayo kesana!” ucap gadis itu mendahului Yuya.

Yuya mengekor dari belakang, tak sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Toma dari balik kaca jendela.

“Target satu…” ucapnya kembali memperhatikan pasangan itu menjauh dari pandangannya.

==============

“Bukan gitu!” Opi merebut sebuah pajangan berbentuk kucing yang sedang Inoo simpan.

Inoo menggeleng dan menyerah lalu duduk di sofa ruang tamu itu.

“Naaahh~ ini baru benar…” ucapnya dengan nada puas.

Mereka baru saja pindah ke sebuah apartemen yang akhirnya mampu dibeli Inoo setelah ia bekerja. Keduanya memutuskan untuk tinggal bersama setelah berpacaran selama tiga tahun lamanya.

“Iya kan?” tanya Opi meminta persetujuan Inoo.

Inoo hanya bergumam pelan menjawab pertanyaan itu.

“Jawab dong… iya, atau gak?” omel Opi kesal, melihat sang kekasih hanya duduk manis di sofa ketika ia membereskan perabotan mereka.

Sementara Inoo sendiri tidak tahu harus melakukan apa bila semua yang ia kerjakan selalu salah di mata Opi. Apalagi tetek bengek soal beres-beres, semua yang dilakukan Inoo selalu salah dan berakhir dengan Opi sendiri yang akan membereskannya.

Bel apartemen itu berbunyi, Opi mengisyaratkan pada Inoo untuk membukanya. Inoo berjalan ke arah pintu dengan malas, lalu mendapati Sora yang datang.

“Hei!” sapa Sora pada Inoo.

“Sora-chaaann!!” Opi berlari ke arah pintu dan memeluk sahabatnya itu.

“Gimana pindahannya?” tanya Sora sambil masuk ke apartemen yang masih terlihat lumayan berantakan

“Gimana mau beres kalau semuanya aku yang ngerjain?” ujar Opi sambil melirik Inoo.

“Gimana mau dibantuin kalau semua yang aku kerjakan selalu salah?” balas Inoo tak kalah sinis.

Opi hanya manyun mendengar komentar Inoo dan mulai membereskan barang-barang yang ada di sekitarnya. Sora tak berkomentar, hanya terkekeh pelan sambil ikut membantu membereskan barang.

“Aku beli makan siang dulu deh!” ucap Inoo lalu menyambar jaket dan kunci mobilnya.

“Lihat dia kadang sangat menyebalkan…” ucap Opi setelah Inoo melangkah keluar kamar itu.

“Tapi kau tetap bertahan dengannya kan?” goda Sora pada Opi.

Opi hanya menerawang, “Mungkin… hahaha”

Sora melemparkan sebuah buku pada Opi, “Bohong! Kau selalu membelanya bahkan memilih tetap tinggal di Tokyo walaupun kau dapat beasiswa ke Osaka!” serunya kembali menggoda Opi.

Tanpa Sora sadari, Opi menghela nafas dan hanya tersenyum simpul atas pernyataan sahabatnya itu.

=============

Inoo berjalan keluar dari apartemen, ia fikir malam ini makan kroket akan menyenangkan. Maka ia melangkahkan kakinya ke kedai penjual kroket langganannya.

“Kroket yang seperti biasa… enam ya…” ucap Inoo pada si penjual kroket yang sepertinya baru ia lihat.

“Inoo-kun?!” seru penjual itu menyadari yang di hadapannya adalah seseorang yang ia kenal.

“Ya ampun! Nakayama-kun! Kau kerja disini juga?” tanya Inoo heran.

Nakayama Yuma adalah mahasiswa magang di perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Inoo yang baru saja lulus dan langsung bekerja itu beberapa kali meminta bantuan Yuma untuk beberapa hal yang belum ia ketahui di kantor.

“Hanya di akhir pekan, senpai…” jawab Yuma sopan.

“Ohhh~ hahaha… kau pekerja keras ya!” ucap Inoo asal, karena tak tahu apa yang harus ia katakan.

“Ini kroketnya…” ucap Yuma sambil menyerahkannya pada Inoo.

“Terima kasih Nakayama-kun…”

“Kau tinggal di sekitar sini?” tanya Yuma santai, berhubung belum ada pembeli lain yang datang.

Inoo mengangguk, “Ya… di apartemen sekitar sini… kau juga?” tanya Inoo yang malah betah berlama-lama agar saat ia pulang beres-beresnya sudah selesai dan ia tak perlu kena marah Opi lagi.

Yuma menggeleng, “Tidak senpai, rumahku cukup jauh dari sini. Aku hanya bekerja disini…”

Inoo mengangguk-angguk mengerti. Beberapa saat kemudian ponsel Yuma berbunyi. Yuma meminta izin untuk mengangkatnya, memberi isyarat pada Inoo. Sebagai balasan, Inoo hanya mengangguk lalu berkata pelan bahwa ia lebih baik pulang duluan.

“Ya?” angkat Yuma sepeninggal Inoo.

“Kau dimana? Masih bekerja?” tanya suara diseberang.

“Shiftku habis setengah jam lagi… kenapa?”

“Bisa bertemu malam ini? Di restauran biasa?” ajak suara itu lagi.

Yuma terdiam sesaat, “Baiklah… aku akan kesana satu jam lagi…” putus pemuda itu.

Wallpaper di ponselnya ketika sambungannya terputus adalah fotonya bersama si penelepon tadi. Yanagi Riisa. Satu-satunya gadis yang hingga saat ini masih ia cintai. Keduanya terjebak antara persahabatan dan cinta.

Yuma sudah mengenal Riisa sejak sekolah dasar. Keduanya selalu bersama hingga saat SMA Yuma memberanikan diri untuk meminta Riisa menjadi pacarnya, namun setelah menjalani masa pacaran, entah kenapa keduanya malah lebih sering bertengkar. Hingga kini mereka putus dan memutuskan untuk tetap menjadi sahabat.

==============

“Baik. Anda bisa tunggu sebentar. Sedang ada pasien di dalam,” sahut seorang  wanita pada seorang laki-laki di hadapannya.

Laki-laki itu lalu mengangguk dan berbalik kembali ke kursi dimana di samping nya ada seorang gadis yang menatap lesu ke depan.

“Nu-chan, kita tunggu sebentar ya,” ucap laki-laki itu pada gadis di samping nya.

Gadis yang dipanggil Nu-chan itu hanya mengangguk.

“Kau mau makan?”

Nu menggeleng kemudian menatap laki-laki itu. “Dai-chan, aku mau minum.”

“Ya sudah aku beli minuman dulu. Kau tunggu di sini jangan kemana-mana,” ucap laki-laki yang bernama Daiki itu.

Nu kembali mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

Daiki kemudian beranjak menuju kantin yang tidak jauh dari tempat ia dan Nu duduk lalu memesan jus jeruk kesukaan Nu dan air mineral untuknya.

Saat Daiki menunggu minumannya, ia memperhatikan Nu. Secara fisik, gadis itu terlihat sehat. Hanya saja, ia tidak memiliki ekspresi seperti kebanyakan orang normal. Datar dan dingin.

Tentu saja ada alasan di balik semua itu. Dan tentu saja karena alasan itu, membuat Nu harus mengunjungi psikiater hampir setiap minggu. Menurut pamannya, yang merupakan ayah dari Nu, orang yang menanganinya adalah orang yang terkenal. Tapi tetap saja, menurut Daiki ini adalah tempat terburuk untuk Nu. Itu hanya membuat orang-orang semakin berpikir Nu adalah orang yang tidak waras.

Tapi jika ini jalan keluar untuk mengembalikan senyum Nu, Daiki hanya dapat mendukung keputusan pamannya itu. Tidak ada yang lebih baik selain dapat kembali melihat Nu seperti dulu.

“Jus jeruk dan air mineral. Silahkan..” pelayan itu menyerahkan pesanan Daiki. “Arigatou gozaimashita.”

Daiki terlihat panik saat begitu ia berbalik, Nu sudah tidak ada.

Tanpa sadar Daiki menggerutu. “Anak itu, kemana perginya?”

===========

“Apa kabar, Nu? Sudah hampir 3 minggu kau tidak kesini,” tanya Ikuta Toma sambil mencari-cari sesuatu di meja nya.

Nu diam. Tidak menjawab apapun. Raut wajahnya masih sama. Terlihat lemas dan tidak bersemangat dengan pandangan lurus ke depan.

“Hmm…” Toma bergumam sambil membaca sebuah berkas. Berkas kesehatan Nu. “Kau baru saja liburan?”

Nu mengangguk pelan.

Toma kemudian duduk di sofa yang berada di hadapan Nu. “Shizuoka…tempat yang bagus. Kau suka?”

Nu tidak menjawab. Tapi pandangannya mulai melihat ke arah lain.

Nu sudah hampir 1 tahun berkunjung ke tempat itu setiap minggunya. Tapi baru kali ini ia memperhatikan ruangan itu. Suasana warna putih dari warna dinding hingga warna rak buku, meja dan sofa. Lukisan seseorang yang tidak jelas gender nya, terpampang di dinding belakang Nu. Serta rasa dingin yang dikeluarkan dari AC membuat Nu tidak begitu membenci tempat itu. Tapi bukan berarti ia menyukainya juga.

“Kau minum obatmu?” tanya Toma seraya menulis sesuatu di kertas yang penuh tulisan.

Nu mengangguk.

“Tidurmu nyenyak?”

“Ya.”

Toma tersenyum. “Sepertinya sudah ada kemajuan sangat besar. Dan kau terlihat lebih tenang sekarang.”

Nu kembali diam.

Tak berapa lama, pintu terbuka dengan tiba-tiba dan muncul Daiki yang terlihat cemas.

“Nu-chan?”

“Konnichiwa…” sapa Toma tersenyum.

“Sensei, aku kaget Nu-chan tiba-tiba menghilang. Ternyata ada di sini, “Daiki menjelaskan kecemasannya. “Bagaimana?” tanya Daiki pada Toma.

“Bagus. Nu sudah terlihat lebih tenang. Dan dia sudah mau menjawab pertanyaanku,” jelas Toma.

“Dia hanya mau menjawab pertanyaan pada orang tertentu saja. Padaku dan sensei saja,” lanjut Daiki setelah ia duduk di samping Nu.

“Souka..”

“Takahashi-san?” Toma menanyakan ayah Nu.

Daiki menggeleng. “Oji-san masih tidak mampu bertemu Nu.”

Toma mengangguk mengerti.

“Tapi justru Nu orang yang paling menderita,” lanjut Daiki. “Karena dia adalah penyebab kematian ibunya.”

=========

“Malam ini tidak bisa..” ucap Yamada Ryosuke pada ponselnya sambil mengaduk-aduk minuman.

Yamada diam sebentar untuk mendengarkan orang di seberang berbicara.

“Bukankah lebih baik kau bersama pacarmu sekarang? Aku tidak mau bertanggung jawab jika pacarmu tahu kau bersamaku,” Yamada membalas.

Kemudian Yamada kembali diam.

“Hmm? Aku menyukaimu. Lebih tepatnya kemarin malam menyenangkan..ah Naomi-chan, aku ada urusan. Aku harus menutup teleponnya. Sa-yo-na-ra…” Lalu Yamada menutup dan melempar telepon genggamnya ke atas meja.

“Sibuk sekali..” sahut seorang perempuan yang berada di hadapan Yamada sambil tersenyum mengejek.

“Jangan mengejekku, Fu,” balas Yamada kesal. “Itu yang tidak kusuka dari mereka. Selalu menganggap serius. Tidak menyenangkan..”

Fu terkikik puas. “Kau tidak bisa menikah jika selalu seperti ini.”

“Menikah?” Yamada balas tertawa. “Menikah itu harus saling mencintai. Dan aku tidak percaya cinta.”

“Sou? Itu bagus..” ucap Fu lalu beranjak pergi menuju counter bar karena minumannya habis.

Yamada menatap perempuan bernama Saifu Suzuki itu dengan heran.

“Kau sendirian? Mana Daiki?” tanya Saifu setelah kembali ke meja.

Yamada mengangkat bahu. “Aku tidak tahu,” balasnya. “Lalu kau? Mana tunanganmu?”

Saifu tertawa. “Kau tahu kan dia pulang hanya beberapa hari saja. Sisanya dia entah dimana.”

“Hmm…lalu? Mau kutemani?” goda Yamada.

“Sepertinya tidak,” jawab Saifu.

“Kenapa?”

Saifu menunjuk ke belakang Yamada dengan dagunya. “Kau sudah dijemput.”

Yamada menengok ke belakang lalu menghela nafas. “Kenapa kau datang?”

“Hanya memastikan temanku tidak berbuat aneh,” jawab Daiki seraya tersenyum pada Yamada. “Hai Fu..”

“Hai Daiki.”

Yamada merenggut. “Aku tidak berbuat aneh…”

“..hanya sudah menyakiti seorang perempuan tadi,” lanjut Fu.

“Aku sudah mengiranya..ayo pulang, Ryo..” Daiki menarik tangan Yamada. “Kami pulang dulu. Ja ne~”.

Saifu melambaikan tangan sampai Daiki dan Yamada menghilang di balik pintu.

“Kau ini tidak bisa diam semalam saja di rumah,” gerutu Daiki setelah mereka berada di dalam mobil.

“Lalu?” tanya Yamada cuek.

“Berhentilah menggoda Saifu seperti itu. Dia kan sudah bertunangan dengan teman kita. Kau tahu itu?” Daiki mengingatkan.

“Aku tahu. Tapi jika dia tergoda padaku, itu bukan salahku. Bukankah dia yang bermasalah?”

“Ryo….”

Yamada mengangkat bahu. “Baiklah. Tapi aku tidak janji..” Yamada lalu melihat keluar jendela dan terdiam.

Ingin melakukan yang dia inginkan dan tidak ingin melakukan apa yang dia tidak inginkan, meskipun itu baik atau buruk. Itulah sifat Yamada Ryosuke. Ia akan berbuat sesukanya dan tidak suka diatur oleh orang lain. Mungkin satu-satunya yang bisa mengaturnya hanya Daiki, teman setianya walaupun kadang-kadang Daiki menyerah untuk menghadapi Yamada. Tapi setidaknya ia tahu, Daiki tidak akan mengkhianatinya seperti orang lain yang lakukan padanya.

==========

Saifu meletakkan tas tangannya serta beberapa kantong belanjaannya di atas meja. Tak berapa lama ia merebahkan tubuhnya di atas sofa merah marun dengan nyaman.

“Tsukareta…”

Setelah beberapa menit badannya terasa lebih nyaman, Saifu mengambil telepon genggamnya di dalam tas.

“Tidak ada telepon ataupun pesan,” gumam Saifu lebih pada dirinya sendiri.

Walaupun tidak ada yang mengetahui, tapi ia akui, ia merindukan Ryutaro, tunangannya. Meskipun ia tahu bagaimana sibuknya pekerjaan Ryutaro, walaupun berstatus tunangan, Saifu merasa selalu kesepian. Itu sebabnya tanpa sepengetahuan Ryutaro, ia pergi kemanapun dengan siapapun.

Dan akhir-akhir ini Saifu memang sering terlihat bersama Yamada Ryosuke, teman Ryutaro. Selain karena laki-laki itu sangat memperhatikannya, Yamada adalah orang yang tidak memiliki aturan. Walaupun mereka sering bersama, mereka tidak menganggap itu adalah hubungan yang khusus. Pacaran mungkin. Karena bagaimanapun juga, dirinya sudah bertunangan.

Ting..Tong..

Bel rumah berbunyi saat Saifu akan menuangkan minumannya ke dalam gelas.

“Kau?” Saifu kaget saat ia membuka pintu, muncul Yamada di hadapannya. “Bukankah sudah pulang bersama Daiki?”

“Hmm…” Yamada berpikir. “Aku hanya merasa aku ingin di sini….boleh aku masuk?”

Saifu tersenyum. Disaat dia kesepian, justru Yamada muncul di hadapannya. “Tentu saja.”

“Ryu menghubungimu?” tanya Yamada setelah ia dan Saifu duduk di sofa yang tadi diduduki gadis itu.

Saifu menggeleng.

“Kalau begitu tepat sekali aku berada di sini..” ucap Yamada.

“Hmm?”

Alih-alih menjawab, Yamada mengecup pelan bibir Saifu tiba-tiba, membuat gadis itu sedikit kaget.

“Ryo..” gumam Saifu setelah Yamada melepaskan bibirnya.

“Aku bisa menemanimu..kebetulan aku punya banyak waktu,” Yamada lalu tersenyum.

Melihat Yamada tersenyum, Saifu tak tahan untuk ikut tersenyum. “Baiklah.”

===============

Kelas siang Ikuta Toma sensei memang selalu penuh sesak. Toma dikenal sebagai dosen yang mudah dimengerti dan baik hati. Kalau alasan para gadis tentu saja karena dosen yang satu ini punya penampilan yang jauh dari kata lumayan, tapi sangat tampan.

Di satu sudut seorang pemuda terkantuk kantuk karena shift kerja malam yang harus ia lakoni semalam. Ditambah dengan tugas yang menumpuk membuatnya tidak tidur sama sekali.

“Yuma! Jangan tidur di kelas!” tegur seseorang sambil menepuk bahu si pemuda.

“Ternyata kau, Ryo… kau hampir membuatku jantungan…” keluh Yuma sambil mengucek matanya.

Yamada hanya terkekeh dan duduk di sebelah Yuma, “Kerja malam lagi?”

“Orang kaya sepertimu tidak akan tahu bagaimana rasanya kerja malam kan?” Yuma berkata lalu menelungkupkan wajahnya di atas buku.

Yamada menggeleng, “Tapi aku juga jarang tidur malam…”

“Karena petualanganmu dengan gadis-gadis itu kan?” potong Yuma tahu persis apa yang akan dikatakan Yamada.

“Punya satu cewek dan stuck pada satu cewek itu gak asik, tau!” cibir Yamada.

“Terserah kau!” ujar Yuma mengibaskan tangannya tak peduli.

Sementara itu di barisan depan seperti biasa Yuya duduk manis dengan Sora disebelahnya.

“Opichi mana ya? Belum datang…” ujar Sora sambil menatap jam tangannya dengan gelisah.

“Sebentar lagi mungkin, gak usah panik gitu…” ucap Yuya lalu meraih tangan Sora dan menggenggamnya.

“Yuya… ini di kelas,” muka Sora terlihat merona, berbisik pelan pada Yuya.

Yuya tersenyum, “Aku gak peduli..” katanya lagi.

Sora hanya bisa menggeleng pasrah dan membiarkan Yuya menggenggam tangannya erat.

“Aduh… Kei sialan… gak bangunin aku…” keluh Opi sesaat setelah ia datang dan duduk di sebelah Sora.

“Kei gak bangunin kamu?” konsentrasi Sora seketika beralih pada Opi.

Opi menggeleng putus asa, “Terus pas aku telepon tau gak dia jawab apa?”

Sora menggeleng.

“Maaf sayang.. aku fikir kamu kecapekan, jadi aku biarin aja kamu tidur…” ucap Opi menirukan omongan Inoo.

Belum sempat Sora menjawab, pintu kelas terbuka dan dosen tampan bernama Ikuta Toma itu pun masuk dan mulai mengajar. Selama dua jam penuh seluruh perhatian kelas tertuju padanya. Gaya bicara Toma memang menarik bahkan Yuma bisa perhatian penuh ditengah rasa kantuknya.

“Baiklah, kelas hari ini sampai disini…” ucap Toma mengakhiri kuliahnya hari itu, “Sebentar… nama yang saya panggil harap bertemu saya di kantor setelah ini…” Toma mengeluarkan ponselnya, tempat ia mencatat siapa saja yang akan ia panggil, “Takaki-kun, Yamashita-kun, Yamada-kun dan Nakayama-kun… harap ikut saya ke kantor.. terima kasih…”

Toma berjalan keluar kelas, bagi keempat orang itu menjadi tanda tanya besar soal apa yang akan mereka bicarakan.

“Aku tunggu di kantin, ya…” kata Sora meninggalkan Opi dan Yuya berjalan ke kantor dosen.

Sesampainya di kantor, Toma menyuruh mereka duduk terlebih dahulu hingga Yamada dan Yuma juga datang ke kantor itu.

“Terima kasih kalian sudah bersedia datang kesini…” kata Toma membuka pembicaraan, “Maksud saya memanggil kalian kesini adalah…” Toma berjalan mengitari keempat mahasiswanya yang terlihat bingung dan dengan wajah penuh tanda tanya, “Saya sedang melakukan penelitian… karena itu, saya butuh kalian untuk membantu penelitian ini…”

“Penelitian apa sensei?” tanya Yamada penasaran.

“Kalian akan tahu besok malam…”

“Besok malam?” tanya Opi bingung.

“Besok malam kalian harus berkumpul disini,” Toma membagikan sebuah kartu nama restauran yang cukup mewah dan agak jauh dari kampus, “Tapi syaratnya, kalian harus membawa pasangan masing-masing…”

“Pasangan?”

“Tak harus pacar, tapi tentu saja harus lawan jenis…” Toma terkekeh sendiri, membuat ke empat orang itu dengan canggung ikut tertawa, “Sampai jumpa besok!!” seru Toma ketika semua mahasiswanya sudah keluar dari ruangan itu.

==============

“Emang ada acara apa sih?” tanya Riisa mengikuti langkah Yuma ke halte bis malam itu.

“Maaa… Ikuta sensei bilang sih penelitian…”

“Terus kenapa harus bawa pasangan?” tanya Riisa lagi.

“Hmmm…” Yuma berfikir, “Entahlah…”

Bis pun datang, secara refleks Yuma menarik tangan Riisa agar masuk ke dalam bis tersebut, membuat keduanya canggung setelah itu.

“Kita teman kan?” tanya Riisa seperti memastikan tembok yang ia bangun demi mempertahankan persahabatannya dengan Yuma.

Yuma mengangguk, “Gomen…”

Sisa perjalanan tersebut menjadi canggung bagi keduanya, beruntung tak sampai lima belas menit mereka sampai di halte yang mereka tuju.

“Ayo!” ajak Yuma berjalan di depan Riisa.

Sesampainya mereka disana, ternyata hampir semua sudah datang, tinggal Yamada dan pasangannya, serta Opi masih sendirian di tempat itu.

“Nakayama-kun! Silahkan duduk!!” seru Toma mempersilahkan Yuma dan Riisa.

“Ini Yanagi Riisa…” kata Yuma memperkenalkan partnernya malam itu.

Yuma memperhatikan seorang gadis lain yang duduk di sebelah Toma, pandangannya kosong dan melihat ke depan dengan tatapan aneh dan dingin. Tapi Yuma tak berani bertanya siapa dia.

“Gomen aku terlambat!!” seru seseorang yang langsung menyedot perhatian.

Opi tak menoleh karena tahu siapa yang datang, “Lembur?” tanya Opi kesal.

Inoo mengangguk, dan langsung duduk di sebelah Opi.

“Ah! Inoo-san!” seru Yuma pada Inoo.

“Ya ampun! Kau satu kampus dengan Opi?” seru Inoo kaget.

Yuma mengangguk.

“Tinggal Yamada-kun, ya?” kata Toma melihat jam dinding di ruangan itu yang menunjukkan bahwa lima menit lagi pertemuan akan dimulai.

Yamada memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara si gadis yang disebelahnya menutup wajahnya karena ngeri.

“Ryo!! Hentikaaann!!” ucap si gadis memukul-mukul lengan Yamada sambil masih menutup matanya.

“Aduh Fu! Kau bisa membuat kita kecelakaan!!” kata Yamada sambil menangkap tangan Saifu yang hampir menangis karena ketakutan.

“Hentikan…” rengek Saifu.

“Kita hampir terlambat, dan kita sudah sampai…” kata Yamada memarkir mobilnya lalu menarik tangan Saifu yang menutupi mukanya, “Kalau nangis nanti ku cium loh..” goda Yamada.

Saifu membuka matanya dan mencubit pipi Yamada, “Baka!!” serunya lalu turun dari mobil.

Yamada terkekeh dan ikut turun dan mengejar si gadis, “Hap! Tertangkap!” seru Yamada memeluk pinggang Saifu sambil berjalan.

“Aku marah padamu, tuan Yamada! Jangan pegang-pegang!” bentak Saifu menjauh dari Yamada.

“Sayangnya aku gak peduli…” ujar Yamada lalu menarik tangan Saifu masuk ke dalam restauran.

“Sumimasen sensei, aku terlambat…” ucap Yamada sopan.

Toma berdiri dan mengangguk pelan, “Masih ada satu menit lagi sebelum kau terlambat, Yamada-kun… dan….” mata Toma beralih pada Saifu.

“Suzuki Saifu desu!”

“Suzuki-kun… silahkan duduk…”

Toma memandangi semua orang yang tampak penasaran dengan apa yang akan dikatakannya. Tidak berlaku bagi Nu yang masih saja memandang kosong ke depan.

“Terima kasih kalian sudah bersedia hadir disini…” Toma berdehem sejenak, “Sebelum aku menjelaskan maksud kita kesini, kupikir lebih baik kita saling mengenal terlebih dahulu… Namaku Ikuta Toma, aku dosen sekaligus seorang psikiater… ini pasanganku,” Toma menunjuk ke arah Nu, “Takahashi Nu…” tapi Toma tak menjelaskan kelanjutannya.

“Takaki Yuya desu… mahasiswa tingkat akhir, ini pacarku…” kata Yuya menoleh pada Sora.

“Hideyoshi Sora desu… satu jurusan juga dengan Yuya,” kata Sora lalu menoleh ke sebelahnya.

“Inoo Kei desu… aku bekerja di perusahaan home and design,”

“Aku Yamashita Opi, satu kelas dengan Yuya dan Sora…” ucapnya tak yakin hars berkata apa lagi.

“Nakayama Yuma, aku juga satu kelas dengan mereka,” katanya canggung, “Dan ini…. sahabatku,” Yuma menoleh pada Riisa.

“Yanagi Riisa desu. Masih sekolah kejuruan memasak sambil bekerja di restauran milik keluargaku…” ucap Riisa pelan.

“Yamada Ryosuke desu! Hmmm~ aku di kelas Ikuta sensei juga, dan ini partnerku…” Yamada menoleh.

“Suzuki Saifu. Sekarang… Mahasiswa tingkat tiga, jurusan Hubungan Internasional,” jelas Saifu ia tidak menyebutkan soal tunangannya.

“Bagus sekali… sekarang kita sudah saling mengenal, kini saatnya aku menjelaskan alasan kita kemari,” Toma berdehem sesaat, “Penelitian yang aku maksud kemarin adalah penelitian mengenai hubungan manusia dan manusia…. terutama dalam hal cinta…”

Semuanya hanya mengangguk-angguk mendengarkan.

“Nama penelitian ini…. Love Shuffle…”

“Love Shuffle? Maksudnya Sensei?” tanya Sora mulai mengerti arah pembicaraan ini setelah mendengar judulnya.

“Kalian punya pasangan masing-masing, kan? Setiap pasangan akan berganti pasangan selama seminggu saja. Jadi setiap orang akan berkencan dengan yang bukan pasangannya hanya selama seminggu saja…”

Opi terlihat kaget dan memandang Inoo yang juga terlihat bingung.

Toma lalu mengeluarkan sepuluh kartu, “Seperti yang kalian lihat aku punya As, Queen, King, J, dan Joker…” semuanya bergambar hati dan .

“Kita akan mengundi pasangan kita selama seminggu dengan kartu ini setiap minggunya… bagaimana?”

“Kartu yang bergambar sama?” tanya Yuma memastikan.

Toma mengangguk-angguk.

Tak ada jawaban, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Yuya memandangi Sora dan tampak tak rela gadisnya akan berkencan dengan empat pria lainnya, bahkan kalau itu dengan Inoo.

“Aku tidak memaksa kalian untuk setuju, jika kalian tidak mau, kalian boleh meninggalkan ruangan ini sekarang juga…” Toma menunjuk pintu keluar.

“Aku ikut!” seru Saifu tiba-tiba.

Toma mengangguk senang.

Yamada hanya mengangguk-angguk setuju.

Setelahnya sahut-sahutan setuju pun keluar dari semua orang.

“Baiklah!! Love Shuffle, dimulai!!” Toma meminta para gadis duduk bersebelahan, dan begitu juga dengan pria. Ia membagikan kartu hati pada semua gadis, dan kartu pada semua pria.

“Jika satu pasangan mendapatkan kartu yang sama, kita akan mengulanginya…” ucap Toma, “Sekarang lihat kartu kalian!”

Semuanya membuka kartu yang yang mereka pegang. Toma membuka kartu miliknya yang bergambar As , beberapa saat kemudian Sora menunjukkan kartu As Hati.

“Giliranmu Yamashita-kun…” ucap Toma.

Opi mengeluarkan kartu Queen hati, Yamada menunjukkan kartu Queen juga. Lalu Yuya menunjukkan kartu J disambut Saifu yang juga memiliki kartu J. Riisa membuka kartu Joker merahnya, Inoo ternyata memegang Joker warna hitam. Berarti Nu berpasangan dengan Yuma yang sama-sama memegang kartu King.

Setelahnya Toma meminta semua pasangan baru duduk bersebelahan, “Love Shuffle, benar-benar dimulai!!” serunya sambil terkekeh.

===============

To Be Continued~

Vakum lama muncul-muncul dengan serial baru. Hahaha~ Biarin lah yaaaa… hasil menggila dengan Opi dan terinspirasi penuh dari drama Love Shuffle. Comments Are Love… ❤
Please don’t be a silent reader, any comments will make us happy. COMMENTS ARE LOVE 🙂

Advertisements

1 thought on “[Multichapter] Love Shuffle (chap 01)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s