Tag Archives: Tegoshi Yuya

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 3)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Tiga
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC), Hashimoto Emi (OC) dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 3 =

Saifu berjalan perlahan di koridor. Sepertinya ia berada di koridor sekolahnya. Tapi suasana nya terasa asing dan menyesakkan. Semua orang yang ia lewati menatapnya aneh seolah ia adalah makhluk asing. Tapi hal itu tidak menjadikan Saifu minder. Ia tetap berjalan seperti biasa.

Ia akan memasuki kelasnya saat tiba-tiba ada 3 orang gadis menghadangnya sehingga ia tidak dapat masuk ke dalam kelas. Dua orang gadis itu menghadap padanya dengan tatapan menantang. Sedangkan yang satu lagi hanya terdiam sambil menunduk.

“Kau masih berani datang ke sekolah?” bentak si gadis dengan rambut yang diikat satu.

“Tentu saja dia berani, Saiko. Mana ada yang bisa menghalangi nona muda sepertinya,” tambah gadis yang satunya. Nada suaranya seperti mengejek Saifu.

Saifu diam. Ia tidak menatap dua orang yang sedang mengejeknya itu tapi menatap gadis satunya yang sedang tertunduk.

“Apa masalahmu?” tanya Saifu. Tentu saja pada gadis yang tertunduk itu.

“Kau melihat kemana, hah?” bentak gadis bernama Saiko. “Kita berdua sedang berbicara denganmu.”

Saifu tidak memperdulikannya. Matanya tetap menatap gadis yang sama.

“Kenapa?” Gadis itu mulai berkata walaupun terdengar pelan. “Kenapa kau jahat, Fu-chan?”

Saifu tidak bereaksi apapun.

“Aku percaya padamu. Tapi kenapa kau jahat padaku? Aku pikir kita teman,” gadis itu mulai terisak sambil menutupi wajahnya.

“Emi….”

“Aku benci kamu…” gadis yang bernama Emi itu melihatnya dengan tatapan benci.

“Aku benci kamu…Aku sangat membencimu..”

Suara itu terus bergema di telinganya. Semakin lama semakin banyak dan tiba-tiba Saifu membuka matanya dan sekarang yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya.

“Ternyata mimpi..” gumam Saifu lega. Tapi ia merasa itu sangat nyata.

Saifu terlihat melamun memikirkan mimpinya tadi sebentar lalu dirinya tersadar saat ia mencium wangi makanan yang sangat enak. Sama persis seperti saat ia di rumahnya dulu.

“Ohayou..”

Saifu terkesiap mendengar sapaan Opi sehingga ia baru saja menyadari jika ia sudah berjalan menuju ke dapur.

“O..ohayou..” balas Saifu gugup.

“Mau sarapan?” tawar Opi datar tanpa ekspresi.

Saifu mengangguk. Ia bingung apa yang harus ia katakan karena untuk pertama kalinya ia berdua saja dengan Opi sejak pertemuan pertama mereka.

“Douzo..” Opi meletakkan sepiring roti dan segelas susu untuk Saifu. “Kau habis berlari?” tanyanya.

Saifu mengangkat kepala lalu menggeleng. “Nande?”

“Kau terlihat berkeringat dan capek.”

Saifu segera menyentuh keningnya dan ternyata benar. Dirinya memang sedikit berkeringat.

“Atau mimpi buruk?” tebak Opi.

Saifu tidak menjawab.

Opi melirik sebentar ke arah Saifu. “Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin bercerita. Karena aku sendiri tidak tertarik sama sekali dengan apa yang terjadi denganmu.”

Saifu mendelik. Ia juga tidak berniat bercerita apapun.

“Tapi akan lebih baik jika kau bercerita pada orang yang memang kau percaya,” tambah Opi tanpa menghadap Saifu karena ia sedang memasak.

Saifu kembali tertunduk sembari memakan sarapannya. Dalam sekejap, suasana menjadi hening di dapur.

“Ohayou….are? Tidak biasanya kalian terlihat berdua seperti ini,” goda Din yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Urusai…” protes Opi. “Cepat mandi dan bereskan dapurnya. Aku harus cepat pergi.”

Din terbelalak bangun sepenuhnya. “Kenapa aku yang membereskan dapur?”

“Kau lupa aku yang sudah membuatkan sarapan dan bento untuk kalian? Jangan protes dan cepat bereskan..” perintah Opi lalu ia melesat pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.

“Bento?” kening Saifu mengkerut.

Din mencomot beberapa makanan yang baru saja dibuatkan oleh Opi lalu menjelaskan “Ah..aku lupa bilang. Biasanya Opi selalu membuatkan sarapan dan bento untuk penghuni di sini. Karena sebelum kau dan Riisa berada di sini hanya ada aku, tentu saja dia membuatkan bento setiap hari untukku.”

Saifu mengangguk. Ternyata sosok pemilik rumah yang ia tinggali sekarang itu tidak seperti yang dipikirannya.

————————

Opi menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Ia berjalan mondar mandir sambil menunggu panggilannya terjawab oleh orang di seberang. Tapi yang ia dapat hanya suara telpon tersambung saja.

“Kemana sih?” gerutunya.

Ketika dirinya masih menunggu jawaban dari panggilannya, Opi tersentak karena pundaknya ditepuk oleh seseorang.
Dengan kaget, ia memutar tubuhnya dan mendapati seorang pemuda yang ia kenal.

“Ohayou…”

Itu Sho Sakurai.

“Ohayou, sensei..” balas Opi.

“Kenapa datang sepagi ini? Bukankah kuliahmu..” Sho melirik jam tangannya. “Jam 11?”

“Ehm…itu…mau bertemu dengan Jun..” jawab Opi. Ia heran kenapa dirinya menjadi segugup ini?

“Oh…”

Tepat setelahnya, ponsel Opi berbunyi.

“Hai? Aku sudah di tempat biasa. Oke…”

“Itu Jun?” tanya Sho setelah Opi menutup ponselnya.

Opi mengangguk.

Tak berapa lama, Jun datang sambil berlari ke arah mereka.

“Loh? Aku tidak tahu kau bersama Sho..” kata Jun.

“Aku hanya menemaninya tadi. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri,” jawab Sho.

Jun diam. Ia hanya menatap Sho.

Sho yang menyadari Jun menatapnya lalu melanjutkan. “Kau tidak keberatan bukan aku menemaninya?”

Jun tersenyum lalu menggeleng. “Tentu saja tidak. Arigatou sudah menemaninya,” ucapnya. “Ayo!”

Opi hanya menatap tangannya yang sudah ada di genggaman Jun lalu beralih menatap Sho yang semakin menjauh.

————

Riisa berjalan keluar kamarnya sambil mengucek-ucek matanya. Karena mengobrol terlalu malam dengan Din tadi malam, membuatnya tidur terlambat.

Riisa merasa suasana rumah sangat sepi. Ia lalu melihat jam dinding yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Pukul 09.15.

“Ternyata masih jam segini..” gumam Riisa. Saifu yang masih sekolah tentu saja sudah berangkat sejak tadi. Opi dan Din yang kuliah mungkin sudah berangkat juga. Sedangkan dirinya kuliah siang.

“Aku lapar..” seru Riisa. Ia merasa perutnya sudah melakukan pemberontakan meminta untuk diisi. Dan dengan tanpa ragu, ia berjalan menuju dapur.

Gadis itu mencium sesuatu yang enak dari atas meja. Dan benar saja. Di meja itu sudah tersedia berbagai macam makanan dengan disertai tulisan.

To Riisa
Ini sarapan untukmu. Ada makanan juga di dalam
lemari es. Itu Opi yang membuatnya. Panaskan saja
kalau ingin dibuat bekal. Ambil sesukamu..
NP : jangan lupa ucapkan terima kasih pada Opi ^^

Din

Riisa tersenyum lebar. Ia memang beruntung sudah memilih rumah ini sebagai tempat tinggalnya.

“Aku cinta kalian..” Dan pemburuan makanan pun dimulai.

———————–

“Ada apa memanggilku?” tanya Jun setelah ia membawa Opi ke tempat yang agak jauh dari tempat gadis itu menunggu.

“Ini..” Opi menyerahkan kotak makanan yang ia bawa dari rumah.

“Bentou?”

Opi mengangguk.

Jun tersenyum lalu menyentuk puncak kepala Opi lembut. “Arigatou.”

“Kau pasti tahu aku sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat makan siang. Jadi kau memberiku bentou,” tebak Jun.

“Tidak juga,” ucap Opi. “Tadi aku membuat makanan terlalu banyak. Dari pada dibuang, aku berikan saja padamu.”

Jun mendelik. Adik sepupunya ini memang tidak ada manis-manisnya.

“Hai..hai..” Jun menyerah.

“Tapi aku membuatnya dengan penuh cinta. Tidak usah kecewa seperti itu,” tambah Opi.

“Setidaknya kau memberikan ini padaku. Bukan untuk Sho,” gumam Jun pelan. Tapi walaupun pelan, Opi masih dapat mendengarnya walaupun tidak jelas.

“Hah?”

Jun menggeleng. “Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?”

Opi mengangkat tangannya. “Tidak bisa. Aku ada kuliah. Sekarang juga aku harus segera pergi. Masih ada yang harus kukerjakan. Ja ne…” Opi berlalu dengan terburu-buru.

Jun hanya dapat terdiam menatap kepergian Opi.

———————–

“Akhirnya keluar juga..” seru Din begitu kuliahnya berakhir. Badannya terasa pegal karena selama kurang lebih 2 jam ia harus duduk manis di mata kuliah yang sama sekali tidak menyenangkan.

“Din-chan, ayo kita makan siang..” Temannya menggajaknya.

“Duluan saja. Aku harus ke perpustakaan dulu,” balas Din.

Setelah teman-temannya pergi, Din beranjak untuk pergi ke perpustakaan.

Perekonomiannya yang sangat sulit membuatnya tidak sanggup membeli buku. Uang hasil kerja sambilannya hanya cukup untuk kehidupannya sehari-hari. Itu  karena ia membaginya agar ia dapat mengirimkan uang kepada ibunya. Din sedikit terbantu karena tempat kerjanya yang merupakan tempat peminjaman buku. Sehingga kadang ia dapat meminjam buku di sana. Gratis tentunya.

Begitu ia sampai di perpustakaan, hal yang pertama ia lakukan adalah mengedarkan pandangan ke segala sudut tempat itu. Din biasanya menemukan Matsumoto Jun sedang membaca atau sedang meminjam buku. Tapi kali ini sepertinya ia harus kecewa karena orang yang dimaksud tidak tampak.

“Mau mengembalikan buku?” Seorang penjaga perpustakaan bertanya padanya.

“Hai..” jawab Din sambil sibuk mengaduk-aduk tasnya mencari buku.

“Kemana bukunya?” gumam Din pelan.

“Itu yang di tangan kirimu,” kata si penjaga perpustakaan itu.

Din menatap tangan kirinya dan benar saja ia sedang memegang buku.

Din menepuk keningnya. “Baka..” rutuknya. “Ah..arigatou..Loh?”

Dia kaget ternyata yang dihadapannya adalah orang yang ia cari tadi. Matsumoto Jun.

“Sensei? Sedang apa di sini?” tanya Din. Setahunya Jun bukan penjaga perpustakaan.

“Menggantikan Hina-san yang sedang ke toilet. Hanya sebentar,” jawab Jun.

Din mengangguk sambil menyerahkan buku.

“Sensei..” panggil Din.

“Hmm?”

“Sensei sudah jarang ke tempatku bekerja sekarang. Sedang sibuk yah?” tanya Din. Sudah sifatnya berbicara santai seperti itu. Seolah dosennya itu adalah temannya.

“Begitulah,” jawab Jun sambil memasukkan data ke dalam komputer tanda buku telah dikembalikan. “Hai..sudah selesai.”

“Matsumoto-san, arigatou sudah membantu,” Tiba-tiba Hina-san yang merupakan penjaga perpustakaan yang asli datang.

Jun mengangguk sambil tersenyum. “Doitashimashite..”

“Kau masih ada kuliah?” tanya Jun pada Din saat mereka sudah keluar dari perpustakaan.

“Tidak ada.”

Jun memainkan bola matanya. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?”

Din hampir saja lompat kesenangan sampai ia ingat kalau ia membawa bento.

“Aku membawa bekal, sensei..” jawab Din lemas.

“Kebetulan sekali. Aku juga membawa bekal. Kita bisa memakannya di…..” Jun mengedarkan pandangan ke sekeliling. “…sana.”

“Hai…” ucap Din senang. Ia benar-benar ingin melompat sekarang karena saking senangnya. Makan siang bersama dengan Jun, tentu saja dengan sangat senang hati ia menerima ajakannya.

“Kau membuat bekal sendiri?” tanya Jun saat mereka duduk berdampingan di bangku kayu panjang di taman kampus mereka.

“Umm..ya,” jawab Din bohong.

“Souka..”

Din membuka bekalnya dan perutnya keroncongan begitu melihat isinya yang terlihat sangat enak.

“Sepertinya bekalmu enak,” kata Jun.

Din awalnya ingin memuji bekal Jun juga. Tapi ia sedikit terkejut saat melihat isi bekal Jun sama dengan isi bekalnya.

“Are? Ternyata menu kita sama. Kebetulan sekali,” kata Jun.

Din tersenyum kecil pada Jun. Ini benar-benar kebetulan yang aneh. Bekalnya sama persis dengan bekal milik Jun.

Tiba-tiba Din teringat. Yang memasak semua makanan ini adalah Opi. Dan sebelum Opi pergi tadi pagi, ia membawa 2 kotak bekalnya. Jangan-jangan satu kotaknya untuk diberikan pada Jun? Apa hubungan mereka berdua?

Setelah membayangkan macam-macam, tiba-tiba nafsu makan Din hilang dalam sekejap.

——————-

Saifu membereskan buku-bukunya setelah terdengar bunyi bel tanda pulang sekolah. Suara riuh langsung terdengar dari murid-murid lain yang ingin cepat-cepat pulang atau akan mengikuti klub terlebih dahulu. Tapi berbeda dengannya. Ia terlihat seperti malas untuk pulang.

“Tsukareta..”

Saifu memutar-mutar kepalanya yang terasa pegal sambil berjalan menuju gerbang. Saat ia tak jauh dari gerbang, terlihat kerumunan gadis-gadis. Suara mereka yang histeris membuat kepala Saifu menjadi sedikit pusing.

“Ribut sekali sih..” rutuk Saifu kesal sambil melewati kerumunan itu.

“Ah..Fu-chan..”

Saifu menoleh setelah mendengar ada yang memanggilnya. Tapi setelah ia melihat orang itu, ia kembali berjalan tidak memperdulikan orang itu.

“Eh? Chotto matte…”

Saifu mempercepat langkahnya agar orang itu tidak menyusulnya. Tapi perkiraannya salah. Orang yang ternyata Daiki sekarang sudah ada di sampingnya.

“Kenapa cuek seperti itu?” tanya Daiki.

“Betsu ni,” jawab Saifu singkat.

“Ne Fu-chan, sekarang temani aku yuk!” ajak Daiki.

“Tidak,” tolak Saifu langsung. “Hari ini aku ingin sendiri. Jadi jangan mengikutiku.”

“Sebentar saja..” bujuk Daiki.

“Sudah kubilang aku tidak mau..” tolak Saifu lagi.

“Sepuluh menit saja..” Daiki menarik-narik tangan Saifu.

“KUBILANG AKU INGIN SENDIRI..” teriak Saifu. Daiki terpaku. Ia kaget mendengar Saifu membentaknya.

“Jadi ini yang kau lakukan setelah merebutnya dariku..” kata seorang gadis yang berada di belakang Saifu dan Daiki.

Saifu menoleh pada orang yang baru saja berbicara padanya.

“Emi..” gumam Daiki.

“Dai-chan, aku tidak tahu kau lebih suka dibentak-bentak dibandingkan diberi perhatian olehku,” sindir gadis bernama Emi tersebut.

“Apa urusanmu?” Saifu bertanya.

“Betsu ni.. aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalian. Dan itu membuat mataku sakit. Lebih baik aku pulang saja.”

Emi lalu pergi meninggalkan Saifu dan Daiki.

Daiki menatap Saifu. “Kalian masih….”

“Itu bukan urusanmu,” Saifu memotong perkataan Daiki. “Jangan mengikutiku. Aku ingin sendirian,” kata Saifu lebih halus dibandingkan yang tadi.

Daiki menatap kepergian Saifu. Ia tidak tahu saat ini Saifu sedang menahan tangis karena merasakan sakit di dadanya.

———————

“Riisa-chan..kenapa berwajah murung seperti itu?” tanya Yuuki, teman sekelas Riisa yang merupakan teman terdekatnya di kampus.

“Aku sedih, Yuu-chan..” jawab Riisa pelan. “Aku sampai sekarang belum mendapatkan kerja sambilan yang pas untukku. Kalau seperti ini, aku bisa mati kelaparan.”

“Heeee…kau membutuhkan kerja sambilan? Kenapa tidak bilang padaku?”

Riisa mengangkat kepalanya dan matanya berbinar.

“Kau bisa memberiku pekerjaan?”

“Tentu. Kebetulan sekali tempat dulu aku bekerja membutuhkan orang. Awalnya aku ingin menerimanya tapi orang tuaku lebih membutuhkanku di toko mereka,” jelas Yuuki.

“Hounto ni? Ii no?” Riisa tak yakin.

Yuuki mengangguk. “Kau datang saja sore ini ke tempat itu.” Yuuki lalu menulis sesuatu di atas kertas. “Ini alamat nya.”

Riisa menerima kertas pemberian Yuuki dan membacanya. “Chinnamon Cherry Cake & Bakery? Manis sekali nama tokonya.”

“Nama nya juga toko roti dan cake. Akhir-akhir ini pengunjung toko itu meningkat. Jadi mereka cukup kesulitan karena kekurangan orang.”

Riisa menatap Yuuki terharu. “Kau memang penolongku, Yuuki-sama,” ucapnya sambil memeluk erat Yuuki.

“Yamete yo..kau membuat orang mengira kita tidak normal.”

Riisa hanya menyengir.

Sesuai instruksi Yuuki, Riisa mengunjungi tempat itu sore harinya setelah pulang kuliah. Ia begitu senang akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sepertinya tempat itu juga akan sangat menyenangkan.

“Haaa~ rasanya aku lapar,” gumam Riisa saat ia sudah ada di depan toko itu. Wangi roti yang baru saja dipanggang langsung menusuk hidungnya.

Riisa lalu masuk ke dalam toko itu. “Sumimasen…”

“Irrashaimasen….”

Riisa menoleh pada seorang wanita paruh baya di balik kounter.

“Ah..sumimasen..” Riisa menunduk sopan. “Aku datang ke sini ingin melamar pekerjaan.”

“Haaa…wakatta. Ayo kemari,” Wanita itu mengajaknya masuk ke dalam. “Akhirnya ada yang datang untuk melamar,” ucapnya senang.

“Aku ke sini atas tawaran dari Yuuki. Ishida Yuuki.”

Wanita itu terlihat bingung sebentar. “Ah..Yuuki-chan? Kau temannya?”

“Teman sekampusnya.”

Wanita itu tersenyum. “Souka. Aku senang yang datang adalah gadis manis sepertimu.”

Riisa tersipu malu. “Arigatou..”

“Oia, namamu?”

“Yanagi Riisa.”

“Riisa-chan..sekarang..”

Belum sempat wanita itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada yang memanggil dari dalam.

“Okaa-san..ada telepon..”

“Haaaaiii….” teriaknya. “Gomenasai. Aku ke dalam dulu. Kau tunggu saja di sini,” katanya pada Riisa.

Riisa mengangguk mengerti lalu duduk di salah satu kursi untuk pengunjung.

Riisa merasa nyaman saat ia duduk di kursi. Suasananya sangat mendukung jika ada seseorang yang ingin sendiri sambil menikmati kudapan lezat. Tapi sepertinya tempat untuk mengobrol dengan teman-teman juga tidak buruk.

“Anou..”

Riisa merasa di sampingnya ada seseorang. Saat ia menoleh, ia sangat terkejut siapa yang memanggilnya.

“Kau?” seru Riisa.

“Kau kan, yang merebut ponsel dari tanganku waktu itu?” ucap pemuda itu mencoba mengingat.

Riisa sangat yakin pemuda yang dihadapannya itu adalah Nakayama Yuma. Orang yang menemukan ponselnya tempo hari.

“Sedang apa kau di tokoku?” tanya Yuma pada Riisa.

“Tokomu?”

Bertepatan dengan itu, wanita tadi menghampiri Riisa kembali.

“Gomenasai. Ah Yuma, gadis ini yang akan bekerja di sini. Namanya Yanagi Riisa,” jelas wanita itu.

“Cewek ini yang akan bekerja di sini, okaa-san? Aku tidak terima,” putus Yuma.

“HE? Nande?” tanya Riisa heran.

“Aku tidak mau satu kerja denganmu,” ucap Yuma merajuk.

“Gomenasai,” wanita yang sepertinya bernama Nakayama itu lalu berbalik sambil menarik telinga kanan Yuma.

“Ittai~……” teriak Yuma kesakitan.

“Apa yang kau katakan, hah? Kau sendiri yang bilang tidak sanggup menangani toko kalau hanya berdua,” bentak Nakayama-san.

“Tapi aku tidak mau cewek ini, okaa-san..” tolak Yuma.

Riisa cemberut. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu.

“Jangan protes. Okaa-san yang mengurus masalah ini.”

“Nakayama-san,” panggil Riisa. “kalau aku tidak diterima di sini tidak apa-apa. Aku mengerti..”

“Tidak..Jangan dengarkan dia. Tentu saja kau diterima. Iya kan, Yuma?” Nakayama-san melirik tegas pada Yuma.

Yuma tidak menjawab apapun. Wajahnya menunjukkan ia tidak suka dengan keputusan ibunya tersebut.

Lain dengan Riisa, ia tersenyum senang dan bertekad akan membuat Yuma bertekuk lutut dan menerimanya di sini.

————————-

Opi meregangkan otot-otot tubuhnya yang pegal. Ia lalu melirik jam tangannya dan ternyata sudah pukul 9 malam.

“Aku terlambat pulang..” ucap Opi panik. Dengan segera ia membereskan notebook dan buku-bukunya.

“Sudah selesai?” Gin, seorang bartender, bertanya padanya.

Opi mengangguk. Sekarang ia memang sedang ada di sebuah bar.

“Gin-san, aku pulang dulu,” pamit Opi.

“Hai..”

Opi baru saja akan melangkah ke pintu keluar saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan ia terkejut orang itu adalah Sho Sakurai.

“Sho-san..”

Panggilan Opi pada Sho akan berubah jika mereka ada diluar kampus. Itu peraturan yang dibuat oleh Jun saat ia baru saja masuk kuliah.

“Opi? Sedang apa di sini?”

Sho terkejut ia bisa bertemu dengan Opi di tempat seperti ini. Rasanya tidak sesuai dengan image gadis itu yang lebih cocok untuk minum di cafe dan sebangsanya.

“Aku?” Opi sedikit kebingungan. “Mencari ketenangan,” jawabnya asal.

“Hah?”

“Silahkan duduk, Sho-kun..” Gin mempersilahkan Sho untuk duduk.

“Kau mengenalnya, Gin-san?” tanya Opi.

“Dia pelanggan tetap di sini.”

Opi mengangguk. “Souka.”

“Sho-kun, kalau kau memang mengenal Opi, aku akan memberitahumu kalau dia adalah anak pemilik bar ini,” kata Gin.

Sho terbelalak. “Are?”

Opi mengangguk malas. “Bar ini milik ayahku..”

“Aku tidak tahu kau anak pemilik bar ini,” kata Sho sambil menyesap sedikit minumannya. Opi yang tadinya akan pulang, mengurungkan niatnya dan memutuskan menemani Sho.

“Walaupun aku anak pemilik bar, tapi aku di sini hanya untuk mengerjakan tugasku,” jelas Opi.

Sho tertawa pelan. “Suasana di sini memang sangat nyaman untuk menyendiri.”

“Begitulah..”

“Aku pikir kau memang sering datang ke sini,” tambah Sho.

Kali ini Gin yang tertawa. “Dia tidak akan mau datang ke bar lain selain di sini untuk minum.”

“Nande?” tanya Sho.

“Aku tidak kuat minum, walaupun itu hanya sedikit,” jawab Opi. “Tapi kalau aku ingin mabuk, aku tinggal ke sini dan Gin yang akan mengantarku pulang.”

Gin mendecak. “Kau pikir aku supirmu.”

“Bar ini adalah bar favoritku,” kata Sho. “..dan Aoi.”

Senyum Opi meredup saat mendengar nama itu. Entah kapan ia dapat menerima nama Aoi di otaknya.

“Souka..”

“Oia, mana Aoi? Tidak biasanya kau datang sendiri,” Gin bertanya.

“Ada pekerjaan.”

Gin mengangguk. “Opi, bukankah kau tadi mau pulang?” Gin mengingatkan.

“Ah..aku lupa. Sho-san, kalau begitu aku pergi duluan,” pamit Opi.

“Chotto…” Sho menahan kepergian Opi. “Aku antar pulang. Ini sudah malam.”

Opi mengangguk.

Ia tidak mengerti dengan sikapnya sendiri. Ia tahu Sho sudah memiliki kekasih. Ia juga tahu, laki-laki itu hanya menganggapnya murid dan adik. Tapi ia tidak dapat menahan untuk merasa senang saat dirinya mendapat perhatian lebih dari Sho. Walaupun dengan begitu akan membuatnya kecewa karena kembali berharap untuk memiliki Sho.

======

to be continued~…
agak ngebut nih.gara2 stress UAS ahahaha…
tetep yah minta komen nya ehehehe…
maaf klo rada aneh dan ada typo (antisipasi)

Continue reading

Advertisements

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 2)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Dua
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, sedikit Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Tegoshi Yuya, Shigeaki Kato (NEWS), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC), Aoi Miyazaki dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Tegoshi Yuya, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 2 =

“Kita mau kemana, sensei?”

Sejak tadi Din hanya duduk manis di dalam mobil Tegoshi-sensei tanpa tahu tujuannya kemana.

“Diam saja. Nanti juga kau tahu..”

Din seperti mempunyai firasat buruk.

“Sensei tidak berniat menculikku kan? TIDAAAAAAAAAAAKKKKK….aku hanya gadis yang miskin. Tidak cukup untuk minta uang tebusan pada orang tuaku,” teriak Din pura-pura panik.

Tegoshi-sensei menoleh pada Din dengan geram. “Bisakah kau tenang sedikit? Aku tidak pernah berpikiran untuk menculikmu. Seperti yang kau katakan. Tidak ada yang bisa aku dapatkan kalau aku menculikmu.”

Din kembali duduk tenang sambil mendelik pada Tegoshi-sensei dengan kesal.

Tak berapa lama, Tegoshi-sensei membelokkan mobilnya di sebuah pekarangan rumah.

Rumah yang bagus, batin Din.

“Din, bawakan kotak itu,” perintah Tegoshi-sensei. Din mencari-cari kotak yang dimaksud olehnya yang ternyata di simpan di kursi belakang.

“Ini rumah siapa, sensei?” tanya Din saat ia baru saja turun dari mobil.

Tegoshi-sensei tidak menjawab. Begitu turun, ia langsung menuju pintu masuk. Din sebal sekali pertanyaannya tidak didengar oleh dosennya itu.

“Menjawab saja memang kenapa sih?” rutuk Din sambil bergumam.

Din akhirnya mengikuti langkah Tegoshi-sensei menuju pintu.

Tegoshi-sensei mengetuk pintu beberapa kali, sedangkan Din hanya menatap sekelilingnya yang cukup indah karena di dekatnya ada sebuah taman yang asri.

“Hai…ah? Yuya? Kau datang?”

Saat pintu itu terbuka, Din melihat seorang laki-laki muncul.

“Yo, Katou.” Tegoshi-sensei menyapa sambil mengangkat tangannya.

“Masuklah.”

Din mengikuti Tegoshi-sensei dari belakang. Saat masuk ke dalam rumah, Din merasakan perasaan rindu pada keluarganya. Karena rumah bergaya Jepang itu sangat mirip dengan rumahnya. Tapi tentu saja dengan ukuran yang lebih kecil. Sangat kecil.

“Douzo..” laki-laki itu mempersilahkan mereka untuk duduk. “Ada apa kau datang ke sini, Yuya?”

“Tidak ada sesuatu yang penting. Hanya ingin memberi salam. Dan ini ada sedikit oleh-oleh dari okaa-san.” Tegoshi-sensei menyerahkan kotak yang Din pegang.

“Are?” Laki-laki yang bernama Katou itu tersadar. “Siapa gadis manis ini? Pacarmu Yuya?”

“Chigau…” Din meralat. Ia tidak sudi dikira pacar orang yang menyebalkan seperti Tegoshi-sensei.

“Dia hanya muridku,” jawab Tegoshi-sensei santai.

“Ikuta Din desu..” ucap Din memperkenalkan diri.

“Senangnya mempunyai murid manis seperti Din-chan,” seru Katou.

Din hanya tersipu malu karena sudah dua kali dipuji oleh Katou.

“Sebenarnya aku ke sini sengaja membawanya, “Tegoshi-sensei menunjuk Din. “Agar dia mempelajari sesuatu darimu.”

“Apa yang bisa kuberikan?” tanya Katou.

“Apapun.”

Katou terlihat berpikir dan suasana menjadi sunyi sesaat.

“Sensei, sebenarnya dia siapa?” bisik Din pada Tegoshi-sensei.

“Kenapa tidak tanyakan langsung saja pada orangnya?” jawab Tegoshi-sensei.

Din menatap tegas pada Tegoshi-sensei tanda ia tidak ingin berbelit-belit dan ingin segera tahu jawabannya.

“Namanya Shigeaki Katou. Dia sepupuku,” jawab Tegoshi-sensei lalu menyeruput minumannya.

“Shigeaki Katou?” Din sepertinya pernah mendengar nama itu. Tapi ia lupa dimana ia mengetahuinya.

“Baiklah,” ucap Katou tersadar dari pikiran panjangnya. “Kalau begitu kau ikut denganku saja.”

Katou sudah beranjak dari duduknya saat Din berseru dan membuat kaget Tegoshi-sensei dan Katou.

“Ah….Shigeaki Katou. Kau penulis buku kan? Aku ingat sekarang sensei,” ujar Din pada Tegoshi-sensei.

Katou terlihat menahan tawa. Ternyata sejak tadi gadis itu memikirkan dimana ia pernah mendengar namanya.

“Kau membuatku kaget saja, Din-chan.” Katou menghampiri Din. “Dan benar sekali. Aku adalah penulis buku seperti yang kau katakan.”

——————-

Opi menatap tempat di hadapannya. Sebuah salon terkenal yang sering ia dengar dari gadis-gadis di kampusnya.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Opi pada Jun.

“Ayo masuk.”

Opi tidak dapat menolak karena tangannya di tarik oleh Jun. Saat ia masuk ke tempat itu, ada beberapa orang pengunjung dan karyawan salon itu sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Satoru-san..” Jun memanggil seseorang.

“Jun? Kenapa kau tidak bilang akan ke sini?”

Opi melebarkan matanya saat melihat laki-laki yang tadi dipanggil oleh Jun. Tidak seperti bayangan Opi tentang laki-laki yang bekerja di salon, Satoru yang ada di hadapannya itu tidak bergaya seperti perempuan. Perawakannya sangat laki-laki. Tapi yang membuatnya kaget, kenapa laki-laki ini harus memakai tuxedo?

“Aku memang mendadak ingin ke sini. Karena dia,” Jun menunjuk Opi. “Aku ingin kau membuatnya berbeda.”

“Jun..” Opi ingin sekali menolak.

“Aku tidak menerima penolakan. Duduklah di sini. Kau akan ditangani oleh orang yang benar,” ucap Jun menenangkan.
Tapi tentu saja kata-kata Jun sama sekali tidak membuatnya tenang.

“Baiklah. Kau akan kaget setelah melihat mahakaryaku,” ucap Satoru bangga.

Ya. Aku pasti akan kaget jantungan karena melihat penampilanku yang diobrak-abrik, batin Opi.

Opi hanya menutup mata saat Satoru memulai perombakannya. Ia tidak tahu apa yang laki-laki itu lakukan padanya. Ya jelas, ia siap membantai Jun jika ia menjadi terlihat aneh.

“Yap. Sudah selesai.” Satoru mengakhiri setelah sekitar 30 menit mengurusi rambutnya.

Opi masih menutup mata. Ia tidak siap melihatnya.

“Kenapa kau masih menutup mata seperti itu? Ayo buka mata.” Satoru menggelitiki Opi.

“Yamate yo..” teriak Opi sambil tertawa geli. “Baik..baik. Aku membuka mataku.”

Opi nyaris tidak mengenali gadis yang ada di cermin itu. Apakah itu memang dirinya?

“Bagaimana Jun? Bagus kan?” tanya Satoru pada Jun yang ternyata masih ada di sana.

“Kau memang jenius, Satoru,” puji Jun.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTKU???” teriak Opi lagi.

Jun lalu membekap mulut Opi karena suaranya sudah membuat keributan. “Urusai. Ini bagus menurutku. Terlihat lebih manis.”

“Kembalikan rambutku…kembalikan rambutku..” Opi mengguncangkan tubuh Satoru dengan wajah memohon.

“Opi? Itu kau?”

Kedatangan Sho membuat Opi terkejut. Kenapa orang yang sekarang tidak ingin ia temui harus berada di sini?

“Jun…” Ia tahu pasti ini rencana sepupunya itu.

Si pembuat masalah hanya menyengir tanpa dosa.

“Kau apakan rambutmu?” Sho menatap wajah baru Opi. Sedangkan gadis itu menutup rambutnya dengan kedua
tangannya agar Sho tidak melihat rambut yang menurutnya aneh.

“Jangan lihat..”

Sho tersenyum. “Kenapa? Bagus kok. Kau manis.”

Opi menurunkan tangannya perlahan lalu menunduk.

“Ahahahhaa…artinya dia senang dengan pujianmu, Sho,” tambah Jun semakin membuat Opi malu.

“Kau sombong sekali Sho. Sudah lama kau tidak datang kemari. Kau tidak merindukanku?” ucap Satoru menghampiri Sho.

“Gomenasai. Akhir-akhir ini aku sibuk sekali,” balas Sho dengan senyuman yang sanggup membuat siapapun terpana.

“Usotsuki…”

Opi mengerutkan keningnya lalu berbisik pada Jun.

“Jun, Satoru-san itu jangan-jangan…”

“Satoru itu menyukai Sho,” Jun meneruskan tebakan Opi.

Opi mengangguk. Tebakannya sejak awal itu benar. Satoru memang seorang gay.

“Kau tidak usah cemas seperti itu ahahhaa..” tambah Jun.

Opi merenggut. Bukan itu yang ia cemaskan.

“Kau datang sendirian?” tanya Jun pada Sho.

Sho hendak menjawab tapi tiba-tiba ada seorang wanita memanggil Sho dari arah pintu masuk.

“Sho-kun..”

Sho menoleh sebentar pada Jun sambil berkata, “Aku datang bersamanya.” Lalu ia menghampiri wanita itu.

Opi terpaku. Siapa wanita itu?

“Hai Jun..” wanita itu menyapa Jun.

“Hai Aoi..”

Wanita bernama Aoi itu menatap Opi.

“Siapa dia, Jun? Pacar barumu?” tebak Aoi.

“Jangan asal menebak. Dia sepupuku,” ralat Jun.

Aoi tersenyum pada Opi. “Aoi Miyazaki desu..”

Opi terdiam sebentar sebelum ia membalas. “Opi Yamashita desu..”

“Kau manis sekali. Aku jadi ingin memiliki adik perempuan,” ucap Aoi.

Opi tersenyum kecil. Ternyata hari ini datang juga. Hari dimana ia bertemu dengan Aoi Miyazaki, kekasih Sho.

——————–

Riisa memulai hari pertamanya dengan sempurna. Selain kuliahnya yang sangat menyenangkan, ia juga bertemu orang-orang baru yang tidak pernah ia temukan di tempat tinggalnya dulu. Hebatnya sekarang ia sudah mempunyai teman.

Tapi tiba-tiba ia duduk lemas ketika ingat ponselnya tidak ada di tangannya.

Riisa bukan gadis yang tidak bisa apa-apa hanya karena ponselnya tidak ada. Tapi ponsel itu adalah hadiah dari kakaknya sebelum ia pergi ke Tokyo. Ia merasa bodoh karena tidak dapat menjaga dengan baik pemberian dari kakaknya.

“Gomenasai, nii-chan,” gumam Riisa sedih.

Riisa kemudian bangkit. Ia tidak boleh merasa putus asa. Ia yakin bisa menemukan ponselnya dengan petunjuk dari dompet yang ia temukan.

Ia mengeluarkan kartu mahasiswa yang ada di dalam dompet tersebut dan membaca dengan seksama.

“Nakayama Yuma..jurusan sastra?”

Riisa kebingungan karena ia tidak tahu dimana gedung tempat jurusan sastra itu berada.

“Riisa-chan, ayo kita pulang,” ajak salah seorang temannya.

“Anou, Yuuki-san, kau tahu dimana gedung jurusan sastra?” tanya Riisa.

“Kalau tidak salah di sebelah sana,” temannya itu menunjuk ke salah satu gedung. “Memangnya ada keperluan apa?”

Riisa menggeleng. “Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian duluan saja. Matta ne..”

Riisa berjalan menuju gedung yang ditunjuk oleh temannya itu. Tapi ia tetap kebingungan karena orang-orang di sana sangat banyak. Ia tidak dapat mengenalinya satu persatu.

Di saat dirinya kebingungan terdengar suara ribut dari arah belakangnya. Riisa menggerutu pelan karena itu sangat mengganggunya. Mereka seperti tidak ada kerjaan lain saja, omel Riisa dalam hati.

“Ahahaha..kau ini bodoh sekali. Kenapa bisa sampai seperti itu?” suara seorang laki-laki terdengar oleh Riisa dengan jelas.

“Itu semua karena Matsumoto-san yang menyuruhku membawa buku-bukunya. Sial sekali. Di dalamnya ada uang terakhirku di bulan ini,” kata seorang laki-laki yang lainnya.

“Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa menjual itu kan, Yuma?”

Kepala Riisa otomatis berputar saat mendengar ada yang menyebut nama Yuma. Ia menyipitkan matanya dan benar yang dilihatnya. Itu Nakayama Yuma. Wajahnya mirip sekali dengan yang ada di foto. Bergegas, Riisa menghampiri
kumpulan pemuda itu yang salah satunya merupakan orang yang ia cari.

“Menjualnya? Mungkin bisa untuk tambahan uang jajanku. Atau mungkin bisa untuk makan-makan ahahahhaa…”

“Jangan seenaknya,” bentak Riisa sambil menarik ponselnya yang ternyata berada di tangan Yuma. Yuma terlalu kaget sehingga ia tidak sadar ponsel itu sudah lenyap di tangannya.

“Kau tidak tahu bagaimana aku mendapatkan ini. Ini punyaku. Dan jangan seenaknya kau akan menjualnya,” ucap Riisa kesal. “Aku ambil kembali.” Dan Riisa pun berlalu.

“Enak saja mau menjualnya. Dia pikir dia siapa ingin menjual ponselku?” omel Riisa sambil berjalan keluar gedung.

Karena asyik menggerutu, saat Riisa keluar dari gedung jurusan sastra dan berjalan cukup jauh, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ah……aku lupa mengembalikan dompetnya,” serunya.

—————-

“Ini..” Tegoshi-sensei memberikan sekaleng minuman pada Din. “Bagaimana setelah bertemu dengan Katou?”

Din yang duduk beralaskan rumput menoleh pada Tegoshi-sensei. “Apanya yang bagaimana?”

“Apa yang kau dapat?”

Mata Din berputar. “Hmmm..ceritanya mengesankan. Aku cukup mengerti bagaimana seorang penulis dalam membuat bukunya sampai buku itu memang layak untuk dibaca,” jelasnya.

Tegoshi-sensei mengangguk.

“Anou…apa Tegoshi-sensei selalu melakukan ini pada mahasiswa yang lain?” tanya Din.

“Tidak..”

Din terpaku. Ia cukup terkesan Tegoshi-sensei yang selama ini menyebalkan ternyata peduli padanya.

“Aku melakukan ini karena menurutku kau sama sekali tidak ada kemajuan. Kalau aku biarkan, kapan kau bisa lulus?”

Din terdiam. Ingin sekali ia mencakar wajah sensei-nya itu.

“Walaupun kata-kata sensei itu menyebalkan, tapi aku berterimakasih karena sudah mengajakku untuk bertemu dengan Katou-sensei. Sepertinya aku mempunyai ide untuk laporanku nanti.”

Tegoshi-sensei menoleh datar pada Din. “Oke. Kutunggu.”

Din hanya tersenyum meringgis mendengar tanggapan sensei-nya tersebut. Tapi hari ini ia sedikit terkejut setelah melihat sisi lain Tegoshi-sensei. Kejutan yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya laki-laki itu memperlakukannya dengan benar.

—————-

Saifu duduk di bangku panjang lusuh di atap sekolah sambil menikmati bekalnya. Bekal yang baru saja di belinya di kantin tepatnya. Ia sendirian di sana. Tidak ada teman yang menemaninya. Tapi tidak masalah untuknya. Karena ia sudah terbiasa.

“Ha..aku lupa membeli minum,” gumam Saifu sebal. Ia malas harus kembali ke kantin karena jarak kantin cukup jauh.

“Ini minuman untukmu.” Tiba-tiba di hadapan Saifu ada seseorang yang menyodorkan sebotol minuman. Saat ia menoleh, ternyata ada Daiki di sampingnya.

“Kau lagi…” desah Saifu.

“Kenapa mendesah seperti itu? Kau tidak senang melihatku?” gerutu Daiki.

“Tidak.”

“Terserah apapun jawabanmu. Kau mau tidak minuman ini? Kalau kau tidak mau biar aku….”

Belum selesai Daiki berbicara, Saifu langsung menyambar minuman itu dari tangan Daiki.

“Arigatou..”

Daiki tersenyum. Kadang-kadang gadis itu bisa bersikap manis walaupun lebih sering sinis padanya.

“Kenapa makan sendirian di sini? Mana teman-temanmu?” tanya Daiki.

Saifu tidak menjawab karena ia sedang meneguk minumannya.

“Kau ini seperti korban penindasan sampai-sampai makan sendirian di sini,” tambah Daiki.

“Betsu ni,” jawab Saifu singkat.

Saifu bukan orang yang merupakan korban penindasan seperti yang Daiki katakan. Justru sebaliknya, semua orang sangat menghormatinya karena dirinya yang merupakan dari keluarga orang kaya. Hanya sedikit orang yang mau berbicara padanya. Biasanya orang yang berbicara padanya adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tak jauh darinya. Seperti Daiki.

“Atau kau tidak punya teman?” tebak Daiki.

“Aku punya.” Saifu menampik.

Tepat setelah itu, pintu atap terbuka dan muncul pasangan laki-laki dan perempuan masuk.

“Ryu..kita di sini saja,” seru gadis itu sambil menarik teman laki-lakinya.

“Iya Sachi-chan..”

Saifu terpaku saat melihat siapa laki-laki itu. Laki-laki yang tidak pernah ingin dilihatnya.

“Saifu..” Laki-laki itu bergumam. Sepertinya dia sama-sama terkejut saat melihat Saifu.

“He? Temanmu?” tanya Daiki.

“Ah..Suzuki-san. Gomenasai. Aku tidak tahu kau ada di sini,” ucap gadis bernama Sachi itu sambil menunduk. Seolah ia sedang meminta maaf pada seorang penguasa sekolah.

“Daijoubu. Aku sudah selesai. Kalian bisa memakainya,” ucap Saifu sambil membereskan sampah-sampahnya. “Ayo Dai.”

“He? Kau mengajakku?” Daiki terkejut. Tidak biasanya Saifu mengajaknya.

“Terserah kau saja,” balas Saifu cuek lalu berjalan menuju pintu.

Saat ia sudah mencapai pintu, dengan otomatis Sachi dan laki-laki bernama Ryu itu lalu membuka jalan untuknya. Tanpa menoleh sedikitpun, ia terus berjalan melewati mereka. Daiki yang berada di belakang Saifu, hanya tersenyum pada Ryu.

“Kenapa kau tidak bergabung saja dengan mereka?” Daiki bertanya.

Saifu kembali tidak menjawab. Dan Daiki baru menyadari jika wajah Saifu berubah sedih dan seperti melamun memikirkan sesuatu.

“Doushite?”

Saifu tersadar lalu menggeleng.

“Aku kembali ke kelas.”

Daiki tidak mencegah Saifu pergi. Ia membiarkan gadis itu berlalu meninggalkannya. Apa yang dipikiran gadis itu? Daiki selalu terbayang saat ia melihat wajah sedih itu untuk yang kesekian kalinya sejak ia pertama kali bertemu dengan Saifu.

——————-

“Tadaima…” ucap Opi lemas begitu ia masuk ke dalam rumah.

“Okaeri..Are? kau apakan rambutmu?” Din sedikit terkejut melihat perubahan pada penampilan Opi. Terlihat lebih segar dan manis.

“Jangan tanya apa-apa dulu,” ucap Opi cuek. Ia berjalan ke arah dapur diikuti Din dibelakangnya.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Din penasaran.

“Apanya?”

“Tiba-tiba kau memotong rambutmu. Apa kau baru saja ditolak?” tebak Din sekenanya.

Opi yang baru saja meneguk minumannya, tiba-tiba menyemburkan isi air di dalam mulutnya.

“Ikh….Opi jorok…” Din lalu mengelap lantai yang basah.

“Itu gara-gara kau menebak yang bukan-bukan,” gerutu Opi sambil menghapus sisa-sisa air di bibirnya.

“Lalu apa?”

Opi menghela napas. “Ini gara-gara sepupuku yang tiba-tiba mengajakku ke salon. Aku sudah menolak tapi dia tetap
tidak mau tahu,” jelas Opi.

Din mengangguk. “Souka.”

“Tapi kau cocok dengan rambutmu yang sekarang ehehehe…” tambah Din.

Opi tidak merespon walaupun di dalam hatinya ia sedikit senang dengan pujian itu.

————————

Riisa berjalan lemas menuju rumah. Ia tidak menemukan pemuda pemilik dompet yang ia temukannya lagi setelah ia tiba-tiba pergi. Selain itu, hari ini ia tidak mendapatkan baito yang pas untuknya. Ternyata kehidupan di Tokyo tidak mudah, pikirnya.

Tak jauh dari posisinya, ia melihat seorang gadis yang sedang berjalan di arah yang sama dengannya. Itu Saifu.

“Saifu-chan…” panggil Riisa saat dia sudah berada tak jauh jaraknya dengan gadis itu.

Saifu hanya menoleh tanpa tersenyum.

“Baru pulang?” tanya Riisa.

“Kelihatannya?” tanya Saifu balik.

Riisa tersenyum meringgis. Ia merasa teman serumahnya itu tidak menyukainya.

“Kau sekolah di Midoriyama yah? Itu kan sekolah yang terkenal di sini. Pasti kau pintar,” kata Riisa.

“Begitulah.”

Untuk kedua kalinya Riisa tersenyum meringgis.

Riisa tidak melanjutkan basa-basinya lagi karena mereka sudah sampai di depan rumah.

“Tadaima…” seru Riisa yang lalu diikuti Saifu. Mereka kemudian berjalan menuju ruang tengah dan di sana sudah ada Opi dan Din yang sedang memasak.

“Tadaima..” ucap Riisa lagi. “Kalian sedang apa?”

“Tentu saja sedang masak. Apalagi?” jawab Opi tanpa menatap Riisa karena dirinya sedang memasak.

Riisa mengangkat alisnya. Ia bingung kenapa hari ini orang-orang menjawab sinis padanya?

“Nanti kita makan bersama, ne?” ucap Din bersemangat. Ia sangat senang makan ramai-ramai.

“Haaaiiii…” jawab Riisa riang.

“Aku tidak ikut,” balas Saifu.

“He?” Din terlihat kecewa. “Nande?”

“Aku sudah kenyang.”

“Tapi..”

“Kau tidak usah memaksanya kalau dia tidak mau,” potong Opi.

Din diam. Benar yang dikatakan oleh Opi. Tapi ia merasa penasaran, kenapa dengan Saifu? Saat pertama kali bertemu dengan gadis itu, Din merasa dia memiliki masalah. Terbukti dia tidak pernah ramah dengan siapapun.

“Menurut kalian kenapa dengan Saifu?” tanya Din pada Opi dan Riisa saat mereka sedang menyantap makan malam.

“Aku tidak tahu,” jawab Riisa. “Aku juga penasaran kenapa dengannya. Din-san merasakannya?”

Din mengangguk. “Rasanya dia seperti itu pada semua orang. Kau pasti tahu sesuatu kan, Opichi?”

Opi yang sedang melahap makanannya hanya mendesah. “Aku tidak tahu. Untukku dia hanya orang yang menyewa salah satu kamar di rumahku. Aku tidak peduli dengan masalah-masalahnya,” jawab Opi.

Din maupun Riisa lalu diam. Meskipun mereka penasaran dengan Saifu, tapi mereka lebih penasaran dengan apa yang terjadi dengan si pemilik rumah mereka karena sebenarnya sikapnya tak jauh berbeda dengan Saifu. Dan mereka melanjutkan makan malam mereka tanpa berbicara lagi hingga makanan mereka habis.

————-

Saifu masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa lelah karena ia harus mengikuti kegiatan klub terlebih dahulu.

“Mandi dulu, setelah itu tidur..” gumam Saifu kemudian menyambar handuknya dan mengambil beberapa baju yang akan ia pakai.

Di dalam kamarnya memang tidak ada kamar mandi seperti di kamarnya terdahulu. Di rumah barunya hanya tersedia 2 kamar mandi yang ada 1 kamar mandi di setiap lantainya. Cukup membuat dirinya kesal tapi Saifu menerima dengan
terpaksa.

Saat Saifu membalikkan tubuhnya menuju pintu, tiba-tiba tidak sengaja tangannya menyenggol tumpukan buku yang ada di mejanya.

Saifu mendesah. Di saat tubuhnya ingin istirahat, kenapa kebodohannya membuatnya menambah pekerjaan?

Dengan malas gadis itu membereskan barang-barangnya dan kegiatannya berhenti saat ia melihat selembar foto yang berada di tumpukan kertas yang berantakan.

“Foto ini..”

Ia menatap foto itu. Foto dirinya dan 2 orang lainnya yang salah satunya adalah Daiki Arioka.

Saifu tertunduk. Kenangan yang tidak pernah ia harapkan kembali terbuka. Tanpa peringatan apapun, air matanya mengalir. Hatinya terasa sakit dan sesak. Luka yang perlahan mulai sembuh, kini mulai menyakitinya lagi.

========

To Be Continued~
agak aneh? emang aneh…
otak nya lagi aneh jadi ide nya ga jelas..
tapi tetep komen yah..
jelek atopun bagus tetep komen yah…
🙂

Continue reading

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 1)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : satu
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, sedikit Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Tegoshi Yuya (NEWS), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC) dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Tegoshi Yuya, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 1 =

Continue reading

[Oneshot] Between You and Her

Title    : Between You and Her
Author    : Dinchan Tegoshi
Type      : Oneshot, SongFic
Song     : Precious One by. KAT-TUN
Genre    : Romance *yeah~ here we go again*
Ratting    : PG – 13
Fandom: JE
Starring    : Aioka Daiki (HSJ), Ikuta Din (OC), Suzuki Saifu (Fukuzawa Saya’s OC), Tegoshi Yuya (NEWS), dll…
Disclaimer : I don’t own all character here. Arioka Daiki and Tegoshi Yuya are belongs to Johnnys & Association. Ikuta Din is my OC, and Suzuki Saifu is Fukuzawa Saya’s OC. Entah kenapa jadi bikin cerita kayak gini…btw, saia agak – agak ngarang soal penyakitnya… tapi…  it’s just a fiction, read it happily, and I do LOVE COMMENTS… pelase comments… Thanks.. ^^

Between You and Her

Continue reading

[Oneshot] It Feels Like Love

Title        : It Feels Like Love (Saifu Gonna be Feminine side story)
Type          : Oneshot
Author    : Dinchan Tegoshi
Genre        : Romance and a little bit friendship
Ratting    : PG nyerempet – nyerempet lah.. #Plakk
Fandom    : JE
Starring    : Tegoshi Yuya (NEWS), Din Ikuta (OC), Yuya Takaki (HSJ), Kei Inoo (HSJ), Ikuta Toma (JE), Saifu Nakajima (OC), Yamada Ryousuke (HSJ), Ryutaro Morimoto (HSJ), and other OC that I made.. 😛
Disclaimer    : I don’t own all character here. All JE artist are belongs to Johnnys. Other OC is mine, but Saifu is belong to Saifu . It’s sequel of Saifu Gonna Be Feminine by Fukuzawa Saya. Oneshot dengan 6 rebu kata… COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

It Feels Like Love

Continue reading

1000 Character of Fanfic (25-36) ~end~

hahahaha~ setelah lama sekali berhibernasi gak saia update, dengan alasan bosan gak ngapa – ngapain, akhirnya aku update ini fanfic…
hasil kegejehan saia bareng Py Py di zaman friendster dulu…
entah dulu karena alasan apa, saia dan Py Py wall-to-wall bikin fanfic gejeh yang isinya cuma 1000 karakter… ya pokoknya ngikut c FS itu limitnya 1000 karakter…
hahaha…
Biru punya saya, merah punya Py.. 🙂
Continue reading

[Oneshot] [SA] Tell Me

Title : [One Shot] Tell Me

Author : deenz

Pairing : TegoMass

Rating : PG aja lah…ga begitu SA kok..hehehe

Genre : Shounen Ai (my first Sounen Ai fanfic ^^)

Cat : This is my first Shounen Ai fanfic…jadi..please kasih saran dan kritik kalo memang ceritanya aneh n geje.. maklum, tidak berpengalaman dalam dunia SA..hahaha,,^^

TELL ME

Continue reading

[Oneshot] Everything For You

Title: Everything for You
Chapter: Oneshoot
Author: Nu Niimura
Pairing: TegoxDinchan
Fandom: DH, Johnny’s Entertainment, J pop
Genre: Romance
Rating: PG 15
Disclaimer: I do own em. Dinchan as ma mommie and Tego as ma daddie XD
A/N: Ficcienya bujug, jangan salahkan author. Tego gombal, itu fakta aktual

Everything For You
by.Nu Niimura

Continue reading

[Minichapter] Key of Heart (chap 4) ~finale~

Title : Key of Heart -chapter 4-
Author : deenzchan
Starring : Tegoshi Yuya x din-chan x Masuda Takahisa
Rating : PG
Genre : ROMANCE (I want make this as romantic as I can)XDD

Cat :I just own the plot~ Comments are Love~ 🙂

Key Of Heart
—chapter 4—
~Finale~

“Yuu’kun? Dijoubu? Kau berkelahi dengan siapa?” tanyaku panik. Tegoshi Yuya yang dikenal sebagi cowok baik – baik itu muncul di depan kelasku dengan wajah penuh memar dan sedikit darah di ujung bibirnya.

“Iie..daijoubu..” katanya dingin.

Aku mengeluarkan sapu tangan dari tasku dan mengelap darah segar di ujung bibirnya itu.

“Dinchan…” panggilnya tiba – tiba lalu menggenggam tanganku yang sibuk mengelap darahnya, tanganku otomatis berhenti.

“Hmm..” jawabku bergumam lalu menatap wajahnya.

“Onegai…jangan tinggalkan aku..” dengan gerakan tiba – tiba Tegoshi memelukku dan membuatku terperanjat.

“Yuu’kun…” gumamku, “doushita no?”

“Hanya…jangan tinggalkan aku…” katanya dengan nada sedih.

Aku terdiam mambatu pada posisi yang sama seperti Tegoshi memelukku malam itu. Kata – kata yang sama pula. Aku tahu aku sudah jujur padanya, bahwa aku mencintai Massu, tapi kenapa malah kata – kata ini yang keluar dari mulutnya?

“Demo…Tegoshi…kau tahu..aku…” ucapku terbata – bata.

Tegoshi melepaskan pelukannya dan menatapku dalam, “Aku mengerti…aku….aku hanya…” Ia menggantung kalimatnya.

“Tegoshi..”

“Dinchan…Aishiteru yo~” aku bisa merasakan ia tidak berdusta dengan kata – katanya, Ia serius, dapat kulihat di matanya.

“Tegoshi…aku…”

“Baiklah..pergilah dinchan…”

Aku terkaget dengan apa yang ia ucapkan.

“Pergilah…berbaliklah dan kejar cintamu… tapi kau harus tahu.. aku akan selalu ada…” Tegoshi membalikkan badanku dan mendorongku, seakan – akan dia menyuruhku berlari mengejar cintaku.

Tak terasa air mata ini turun tiba – tiba, aku tak menegerti kenapa rasanya sakit sekali, hatiku terasa sangat sakit.

“Dinchan…” panggilnya, tepat saat aku akan membalikkan badan, ia berkata, “Jangan berbalik…aku tak sanggup memperlihatkan air mataku padamu…kau tahu..kau bisa kembali padaku kapan saja.” Katanya lalu kurasakan sosok Tegoshi menjauh dariku.

Aku bermaksud memanggilnya, dan ketika berbalik kudapati sosok Tegoshi sudah menghilang, tampaknya ia berbelok ke lorong. Saat itu pula aku merasakan kakiku tak lagi sanggup menopang tubuhku sehingga aku terjatuh dan merasakan hatiku sakit sekali.

——————————–
Sudah sebulan ini aku menghindari dinchan dan Tegoshi. Suasana di ruang OSIS benar – benar tidak menyenangkan. Tegoshi dan aku masih berkerjasama untuk banyak urusan, tapi bedanya, jarak antara kami semakin jauh saja. Tegoshi hanya bicara padaku jika diperlukan saja. Kami pun berusaha tidak berada dalam satu ruangan untuk waktu yang lama.

Dinchan juga terasa menjauhiku. Beberapa kali kami bertemu di jalan, tapi dia sama sekali tidak menyapaku. Sepertinya ada masalah juga antara dinchan dan Tegoshi. Entahlah itu apa.

Sore ini aku dapat tugas membuat laporan oleh YamaPi. Rasanya malas sekali, tapi aku datang juga ke ruang OSIS. Tegoshi disana. Masih asyik di depan laptop OSIS, tampak mengetik sesuatu.

“Hi..” kataku menyapanya.

Tegoshi mendongak sebentar, memastikan siapa yang bicara, “Hi..mau pakai laptopnya?” tanyanya.

Aku mengangguk dan lagi – lagi atmosfir canggung sangat terasa diantara kami.

Tegoshi beranjak dari depan laptop dan membereskan buku – buku serta barang – barangnya, tampaknya ia akan pergi.

“Ano…Massu..” panggilnya tiba – tiba saat aku sudah berada di depan laptop.

“Apa?” tanyaku.

“Kau tahu…aku tak akan memaafkanmu kalau kau menyakiti dinchan.” Ujarnya tiba – tiba.

Aku kaget dengan apa yang ia ungkapakan.

“Massu…tampaknya aku tak mau kita bertengkar seperti ini lagi…tampak sangat childish.” Tegoshi berbalik dan memberiku seulas senyuman.

Aku makin kaget. Tegoshi yang ku tahu ia adalah orang yang paling anti dikalahkan, meminta maaf padaku.

“Un!” jawabku bersemangat lalu membalas senyumnya, “Mau menolongku membuat laporan?” tawarku.

Tegoshi mengangguk dan mendekatiku untuk duduk disebelahku, memabantuku membuat laporan.

———————-
Aku hanya memandangi jendela kamarku, merasakan angin sore itu membelaiku pelan. Sudah sebulan, aku sama sekali tidak bicara dengan Tegoshi atau Massu. Aku perlu menata hatiku, aku bertanya setiap hari siapakah yang benar – benar aku cintai. Sampai sekarang aku sendiri masih merasakan ada kejanggalan di hati. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu sampai detik ini.

“DINCAHAAANNN!!” teriakan itu membuatku kaget setengah mati, seraut wajah muncul dihadapanku.

“MASSUUU!!!bisakah kau memanggilku dengan nada biasa saja?” teriakku dongkol.

Senyum lebarnya nampak di wajahnya. Senyum yang sudah sebulan tidak kulihat. Massu kembali memanjat pohon depan kamarku.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.

“Hmm..” dia pura – pura berfikir, “Kita bicara yuk!” katanya lalu menunjuk bawah pohon.

Aku mengangguk dan segera ke bawah.

“Ada apa Massu?” tanyaku saat kami sudah berada di bawah pohon.

Massu hanya diam, wajahnya terlihat sedikit serius, wajah yang jarang sekali kulihat dari wajahnya.

“Arigatou ne, dinchan…” katanya.

“He? Maksud kau?”

“Arigatou..dinchan…sudah menyukai aku..” katanya lagi. Kalimatnya kini sukses membuatku kaget.

“Massu…kau….” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Massu berlutut memandangku yang sedang duduk lalu tiba – tiba memelukku.

“Massu…” aku kaget setengah mati.

“Tapi…bagiku dinchan adalah adikku..dinchan adalah sahabatku…” Massu mengendurkan pelukannya, lalu benar – benar melepaskannya.

Aku kaget pada reaksiku sendiri. Aku merasa itulah yang dikatakan hatiku juga, aku juga merasakan hal yang sama, aku hanya merasa…aku memang hanya bersahabat dengan Massu.

Tiba – tiba aku merasa sangat rindu pada Tegoshi, kini aku tahu, aku mencintai Tegoshi.

“Massu…aku harus pergi…” kataku sambil memandangi Massu.

Massu tersenyum, “Kejarlah dia…”

Aku berlari semampu kakiku kuat berlari. Kakiku tidak terasa capek sama sekali, aku tahu tujuanku ini belum jelas, tapi yang jelas aku tahu siapa yang harus aku temui. Aku berhenti didepan sebuah rumah, mencoba mengatur nafasku yang terengah – engah karena kecepatan berlariku tadi.

Perlahan kusentuh bel rumah itu, seraut wajah muncul.

Wajah yang sangat kurindukan.

Tanpa fikir panjang, aku menghambur ke pelukannya.

“Dinchan…doushita no?”

Kurasakan pipiku memanas, air mataku pun meleleh tanpa ampun, air mata bahagia.

“Dinchan…” suaranya..aku merindukan suaranya.

“Aku sudah menemukan jawabannya.”

“Eh?” ia tampak terkejut dan melepaskan pelukanku, memandangku lalu mengusap air mataku,

“Apa maksudmu?”

“Aishiteru yo~ Yuu’kun…” kataku sambil menunduk.

Tegoshi tampak sangat terkejut, “Maji de? Dinchan?”

Aku kembali memeluknya, “Tanpa sadar, aku ternyata sudah mencintaimu Yuu’kun… saat tadi aku berbicara pada Massu, aku sadar… rasaku pada Massu memang cinta, tapi cinta terhadap sahabat, sangat berbeda rasanya dengan yang kurasakan padamu.” Jawabku panjang lebar, masih berada di dalam pelukannya.

Tegoshi terus memelukku erat, “Yokatta…hounto yokatta..” kurasakan Tegoshi mencium puncak kepalaku, “Aishiteru mo….dinchan…”

“Ne Yuu’kun…” panggilku.

“Hmm..” jawabnya.

“Arigatou…sepertinya kunci yang kau berikan waktu itu…sudah berhasil membuka hatiku.”

Kurasakan pelukan Tegoshi bertambah erat, “Aku tahu dinchan…kurasa sekarang kuncinya sudah bisa membuka hatimu.”

Aku mencintainya, aku benar – benar mencintainya… kurasa… Tegoshi memang kunci hatiku, ia yang membuka hatiku, untuk pertama kali kurasakan cinta yang begitu membuatku tenang.

OWARI~yaaaaayyyy!!!!tamaaaatttt!!!hehhehe…yonde kudasai….COMMENTS ARE LOVE…
^^
ayo kawaaaan….kita bikin yang laen lagih…hehehehe…
^^
makasih yang udah baca….luph u lah!!^^

^dinchan^

Continue reading