Author Archives: novimega04

About novimega04

私のブログへようこそ

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 5)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Lima
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Matsumoto Jun (Arashi), Daiki Arioka, Morimoto Ryutaro (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC),  dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Matsumoto Jun, Morimoto Ryutaro, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

 A Day In Our Life
= Chapter 5 =

Saifu menghela nafas panjang. Pandangannya menatap ke luar jendela. Buku yang terbuka dihadapannya sama sekali tidak ia lirik ataupun dibaca. Terbuka begitu saja.

Hari ini hari Minggu. Saifu tidak ada kegiatan apapun di rumahnya. Selain itu ia belum siap bertatap muka dengan Opi sejak kejadian kemarin. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan umum. Tapi di tempat itu pun ia tidak melakukan apapun.

Saifu kembali menghela nafas. Ia merutuki dirinya sendiri setiap mengingat kejadian tadi malam. Ada apa dengannya? Kenapa ia bisa dengan mudahnya menangis dan menceritakan semuanya pada si pemilik rumah itu? Seharusnya ia sudah tidak bisa menangis lagi. Seharusnya ia sudah kebal tentang masalah itu. Sekumpulan orang membicarakannya pun ia tetap tidak memperdulikannya. Tapi kenapa bisa ia menangis di depan Opi?

Saifu menjatuhkan kepalanya tepat di atas buku dengan pelan. Ia yakin dirinya sudah kehilangan semua perasaannya. Bagaimana rasanya berteman dan bagaimana rasanya memiliki kekasih. Semua hilang sejak kejadian itu terjadi.

-Flash back-

Saifu melenggang senang menuju dojo tempat Ryutaro berlatih panahnya. Di tangan kanannya, ia memegang kotak yang merupakan bekal untuk kekasihnya itu. Ia merasa bersemangat karena untuk pertama kalinya ia membuatkan bento untuk Ryutaro sejak mereka resmi pacaran sebulan yang lalu. Bekalnya itu istimewa karena ia belajar langsung dari chef di rumahnya.

Saifu mengeluarkan kepalanya dari sela-sela pintu untuk mencari Ryutaro. Dan ternyata tidak sulit mencarinya karena Ryutaro sedang duduk sendirian sambil memeriksa peralatan panahnya.

“Ryu..” panggil Saifu.

Ryutaro menoleh lalu tersenyum. “Kau datang?”

Saifu menghampiri Ryutaro. “Aku membawakan ini.” Saifu menunjukkan bekal buatannya itu pada Ryutaro.

“Untukku?”

Saifu mengangguk.

“Kau yang membuatnya?”

Saifu mengangguk lagi.

Ryutaro tersenyum. “Kemajuan besar kau memasak sendiri. Padahal memasak air saja tidak bisa,” ledeknya.

Saifu cemberut. “Kalau kau tidak mau, kembalikan.”

“Kau sudah memberikannya, berarti tidak bisa dikembalikan. Ini milikku,” cibir Ryutaro lalu tersenyum pada Saifu.

“Arigatou..”

Mau tidak mau Saifu ikut tersenyum. Ia tahu Ryutaro hanya bercanda.

Ryutaro Morimoto. Pemuda yang sangat baik pada semua orang. Mungkin juga terlalu baik untuk Saifu. Tidak heran jika Ryutaro disukai oleh anak perempuan yang lain. Setiap hari ada saja yang mendekatinya. Tidak terhitung berapa gadis yang menyatakan perasaan mereka padanya. Tapi ia selalu menolaknya. Tentu saja karena ia sudah memiliki Saifu sebagai pacarnya sekarang.

“Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ryutaro yang sedang menikmati bento-nya. Saifu yang sudah makan hanya melihat pemuda itu saja.

“Ada yang ingin kuceritakan. Emi dan Daiki-senpai sudah jadian,” cerita Saifu senang.

“Hontou ni? Aku ikut senang. Dengan begini, Daiki-senpai tidak akan menghubungimu terus,” kata Ryutaro.

Saifu mendecak. “Kau masih saja cemburu? Kan sudah aku bilang…”

“..kalau kau dan Daiki-senpai tidak ada apa-apa?” Ryutaro melanjutkan. “Kau sudah mengatakannya berulang kali.”

“Kalau kau tahu, tidak usah berlebihan seperti itu,” ucap Saifu sedikit kesal.

Ryutaro diam. Ia juga tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Tapi perasaannya tidak dapat dibohongi kalau ia cemburu melihat Daiki berhubungan dengan Saifu hanya untuk mendekatkan senpainya itu dengan sahabat Saifu, Emi.

“Gomennasai..” kata Ryutaro pelan.

“Aku juga. Sudahlah. Kita tidak perlu bertengkar karena hal yang sama. Apalagi Daiki-senpai sudah bersama Emi. Jadi aku sudah tidak dibutuhkan lagi,” ucap Saifu menenangkan.

Ryutaro mengangguk.

Pemikiran Saifu ternyata salah. Walaupun Daiki sudah bersama Emi, laki-laki itu masih tetap menghubunginya. Hanya untuk menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Emi. Saifu tidak keberatan karena ia senang membantu untuk sahabatnya. Selain itu Daiki adalah pendengar yang baik jika ia ingin bercerita sesuatu tentang Ryutaro atau tentang yang lainnya.

Awalnya Ryutaro maupun Emi tidak mengetahui ‘hubungan’ mereka. Tapi makin lama, Ryutaro merasa curiga pada Saifu setelah melihat gadis itu dan Daiki mengobrol berdua dan terlihat sangat akrab.

“Dari mana?” tanya Ryutaro saat Saifu kembali ke kelasnya.

“Dari kantin,” jawab Saifu. “Ada apa, Ryu? Kenapa terlihat marah?”

“Sejak kapan koridor sekolah menjadi kantin?” sindir Ryutaro. “Tadi aku lihat kau asyik mengobrol dengan Daiki-senpai.”

“Tadi aku memang dari kantin. Lalu tidak sengaja bertemu dengannya. Dan akhirnya malah mengobrol,” jelas Saifu. “Kau ini kenapa sih?”

“Aku kenapa? Aku hanya tidak suka pacarku mengobrol mesra dengan laki-laki lain,” jawab Ryutaro dingin.

“Laki-laki lain? Dia itu pacar sahabatku, Ryu..”

Saifu bingung harus menjelaskan bagaimana lagi agar pemuda itu percaya padanya. Sepertinya semua penjelasannya sudah sangat jelas. Tapi kenapa ia tidak mau mengerti?

“Pacar sahabatmu itu, tetap laki-laki lain buatku.” Setelah mengatakan itu, Ryutaro pergi meninggalkan Saifu sendirian.

Setelah kejadian itu, Ryutaro sama sekali tidak menghampirinya selama 2 minggu. Saifu sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikannya. Ia merasa tidak salah karena perasaannya pada Daiki hanya sebatas teman saja.
Hingga akhirnya Saifu bercerita pada Daiki apa yang terjadi pada dirinya dan Ryutaro.

“Gomennasai. Gara-gara aku…”

Saifu menggeleng. “Daiki-senpai tidak salah. Ryu hanya salah paham. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku baikan dengan Ryu. Aku tidak suka kami begini terus.”

Daiki merangkul Saifu yang tertunduk. Tidak ada maksud lain. Ia hanya ingin menenangkannya.

“Dia pasti akan melupakannya. Aku tahu Ryu.”

Di saat Saifu meluapkan kesedihannya dan Daiki menenangkan Saifu, tiba-tiba Emi muncul di depan mereka dengan wajah yang mendung, kaget dan kecewa.

“Emi..”

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Emi yang lebih tepat menghakimi.

“Kami…”

“Jadi benar yang dikatakan Ryu,” Emi memotong perkataan Daiki. “Ini yang kalian lakukan di belakang kami?”

“Kita tidak melakukan apa-apa, Emi..” sergah Saifu.

“Aku bukan orang bodoh. Kalian pikir orang-orang tidak akan berpikir macam-macam saat melihat kalian berpelukan seperti itu,” tambah Emi dengan keras.

“Cukup, Emi,” bentak Daiki. “Aku dan Saifu tidak ada apa-apa.”

“Aku tidak percaya,” balas Emi.

“Terserah.”

“Kita putus,” ucap Emi.

Daiki diam sebentar lalu menjawab, “Kalau itu maumu. Kita putus.”

Emi tidak pernah mengharapkan ini. Tadi ia hanya ingin menguji Daiki. Tapi ia tidak menyangka Daiki berkata seperti itu.
Emi pergi sambil menangis. Saifu yang ingin mengejarnya, lalu ditarik tangannya oleh Daiki.

“Biarkan dia sendiri..” kata Daiki.

Beberapa hari setelah hari itu, tidak ada perubahan apapun. Emi dan Daiki tetap putus. Saifu dan Emi tetap bertengkar. Sedangkan Saifu dan Ryutaro keadaannya makin memburuk. Sampai pada akhirnya Ryutaro memutuskan hubungannya dengan Saifu.

Tentu saja Saifu sedih. Tapi ia lebih merasa kecewa. Ia kecewa Ryutaro dan Emi tidak mempercayainya dan Daiki. Ia kecewa semua orang menyalahkannya dan menjauhinya, kecuali Daiki. Tapi ia merasa semua sama saja. Hingga akhirnya, hatinya tidak bisa merasakan apapun dan ia tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

-End-

—————————

“Yup. Sudah rapi..” gumam Riisa setelah berdandan ala kadarnya di depan cermin.

Hari ini Riisa terpaksa pergi ke taman hiburan bersama Yuma. Sebenarnya ia malas pergi kemana-mana hari ini. Tapi ia tidak enak pada Nakayama-san yang dengan berbaik hati memberinya tiket. Sayang jika tidak digunakan.

“Ya Tuhan, semoga hari ini menjadi hari yang baik dan Yuma tidak membuatku jengkel,” ucap Riisa sambil memejamkan matanya. Ia sangat sangat berharap hari ini menjadi hari yang menyenangkan walaupun ia tidak yakin karena keberadaan Yuma.

Setelah siap segalanya, Riisa keluar kamarnya.

“Mau pergi?” tanya Opi yang kebetulan berpapasan dengan Riisa. Pakaian Opi hari ini sangat biasa dan sepertinya ia akan menjadi penjaga rumah hari ini.

Riisa mengangguk. “Mungkin aku akan pulang sore.”

“Pulang pagi juga tidak apa-apa,” kata Opi datar.

Riisa lalu tertawa. “Hahahaha…Opi nee-chan ini bercanda saja. Mana betah aku dengannya sampai pagi.”

“Itterasshai..” potong Opi lalu pergi menuju dapur.

Riisa mengangkat bahu. Ia pikir si nona rumah itu sikapnya sudah sedikit melunak. Ternyata semakin hari semakin aneh saja.

“Yabai..” ucap Riisa panik saat melihat jam tangannya. Ia sudah terlambat. Yuma pasti akan mengomel.

Dan benar saja. Begitu Riisa sampai di pintu masuk taman hiburan, muka Yuma terlihat kesal dan bete.

“Gomen lama…” ucap Riisa menyesal.

Yuma mendelik pada Riisa. “Kau lihat sekarang jam berapa? Kau terlambat setengah jam..” omelnya.

“Kan aku sudah meminta maaf,” balas Riisa kesal.

“Kalau bukan karena Okaa-san, aku tidak akan ke sini bersamamu,” kata Yuma sambil berjalan menuju pintu masuk.

Riisa mendengus. “Itu harusnya kata-kataku.”

Walaupun bersama Yuma, Riisa berusaha untuk menyenangkan dirinya sendiri. Hampir semua wahana ia masuki. Jika Yuma tidak mau ikut dengannya, ia akan menarik tangan pemuda itu dan memaksanya untuk naik wahana yang ia inginkan. Meskipun diakhiri dengan omelan dari Yuma.

“Cukup…” teriak Yuma. “Kalau kau ingin naik itu, naik saja sendiri. Jangan mengajakku,” tolak Yuma kesal setelah mereka naik permainan roller coaster.

“Kalau sendirian, tidak seru. Kau tega melihatku berteriak-teriak sendiri?” bela Riisa.

“Itu bukan urusanku.”

Riisa cemberut. Tidak seharusnya Yuma bersikap seperti itu di saat ia sedang bersenang-senang.

“Baiklah. Kau pasti haus. Aku belikan minuman ya! Tunggu di sini.”

Riisa sudah berjanji dalam hatinya tidak akan bertengkar hari ini. Ia akan menikmati semuanya. Sejak ia datang ke Tokyo, Riisa belum merasakan bermain seperti ini.

“Aku mau kopi,” kata Yuma tiba-tiba muncul di belakang Riisa.

“Astaga Yuma. Jangan mengagetkanku,” rutuk Riisa. “Kenapa ke sini? Sudah kubilang tunggu saja.”

“Aku tidak mau duduk di tempat tadi. Kita pindah,” ucap Yuma.

Riisa mengerutkan keningnya. Ia melirik sedikit ke tempat mereka tadi. Tidak ada yang aneh.
Meskipun Riisa penasaran, tapi ia tidak mau bertanya. Biarlah Yuma sendiri yang menceritakannya jika ia mau.

Tak berapa lama, seorang gadis datang menghampiri Riisa dan Yuma. Riisa tidak mengenalnya. Tentu saja ia tidak mengenalnya karena gadis itu datang menghampiri Yuma.

“Yuma..” panggil gadis itu mendekati Yuma.

“Haruna? Kenapa datang ke sini?” tanya Yuma sedikit cemas.

“Aku mau bertemu denganmu,” kata gadis itu.

“Kau mencariku sampai ke sini?”

Riisa tidak mengerti apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya bisa berkerut bingung.

Yuma menatap Riisa yang berada di sampingnya. Ia yakin Riisa yang tidak tahu apa-apa merasa kebingungan.

“Haruna..” panggil Yuma. “Ini Riisa. Dia…pacarku.”

“Hah?” Riisa dan gadis yang bernama Haruna itu kaget bersamaan.

“Sekarang tidak ada alasan kita untuk bersama lagi. Kau mengerti kan?” Yuma berkata lembut pada Haruna. Riisa sedikit terkejut melihat sikap Yuma yang ternyata bisa lembut seperti itu.

“Kenapa?” Haruna mulai terisak. Ekspresinya terlihat kecewa.

Riisa melihat Yuma kebingungan. “Yuma, sepertinya kau selesaikan dulu urusanmu dengannya,” bisik Riisa pelan.

“Lalu jalan-jalan kita?” tanya Yuma.

“Sudah selesai. Tidak apa-apa. Kita pulang saja. Aku cukup senang walaupun tidak semua permainan aku naiki,” jelas Riisa.

Yuma diam sebentar.

“Walaupun diteruskan, pasti kau tidak akan tenang. Iya kan?”

Yuma tersenyum. Senyuman perdananya untuk Riisa. “Arigatou..”

Setelah itu, Yuma membawa Haruna pergi menjauh dan meninggalkan Riisa sendirian.

Riisa mendesah panjang sambil menatap minuman kaleng yang tadinya akan diberikan pada Yuma.

“Baik sekali aku..” gumamnya lalu pergi untuk pulang.

———————

“Membosankan sekali..” seru Din sambil menggeliat di sofa. Tak jauh dari tempatnya ada Opi yang sedang duduk di kursi goyang sambil membaca majalah.

“Kau tidak baito?” tanya Opi.

Din menggeleng lemas. “Hari ini aku libur. Sebenarnya aku ingin kerja saja. Tapi bos-ku yang menyuruhku untuk libur.”

Sudah beberapa hari Din bekerja hingga larut malam. Mungkin itu yang membuat bosnya berpikiran untuk membiarkan Din beristirahat.

“Kalau begitu, aku saja yang memperkerjakanmu,” kata Opi.

“Hah?”

Din tidak mengerti apa maksud Opi dengan ‘memperkerjakan’-nya. Tapi akhirnya ia mengerti saat mereka sudah ada di sebuah toko.

“Jadi maksudmu ini?” tanya Din pada Opi yang tengah memilih berbagai sayuran.

Dengan cekatan, Opi membeli berbagai bahan makanan. Seperti sudah sering ia melakukannya, sampai-sampai penjualnya mengenal Opi dengan baik.

“Hari ini membawa teman?” tanya Harada-san, penjual sayuran langganan Opi.

Opi tersenyum. “Hanya sukarelawan.”

Din menatap tajam ke arah Opi. Tapi orang ditatapnya cuek saja.

Din tidak menyangka menemani Opi belanja akan melelahkan sekali. Bagaimana tidak melelahkan jika semua belanjaannya Din yang membawanya? Tangan kanan dan tangan kirinya sudah dipenuhi dengan kantong berisi bermacam-macam bahan.

“Sekarang tinggal membeli alat-alat mandi..” kata Opi pada secarik kertas di hadapannya.

“Masih ada lagi? Kau tidak lihat tanganku sudah penuh?” protes Din sambil merubah posisi bawaannya yang tak nyaman. Sementara Opi tidak membawa apa-apa. Di tangannya hanya memegang kertas saja.

“Kau mau mandi hanya menggunakan air? Tanpa sabun ataupun shampo? Atau kau tidak membutuhkan tissu toilet?” tanya Opi.

Din mendecak. “Baiklah..” akhirnya ia mengalah. Kekuatan ucapan Opi memang tidak terkalahkan. Dan dengan terpaksa ia mengikuti kemana Opi berjalan.

“Ringannya!!!!!!” Din berseru bahagia karena tangannya kosong tidak membawa apapun. Ternyata Opi memasuki departement store sehingga semua belanjaannya dititipkan di tempat penitipan barang.

“Kenapa tidak dari tadi saja kau berbelanja di sini? Kan lebih enak kemana-mana membawa trolly,” ucap Din.

“Di sini aku tidak dapat menawar. Kalau di toko sayuran, aku bisa menawar sekaligus mendapat bonus,” jawab Opi.

Din mendelik. Ternyata selain tidak ramah, Opi adalah orang yang pelit dan perhitungan.

Setelah kurang lebih 2 jam mereka berbelanja, akhirnya Din dapat melihat rumah mereka lagi dengan lega. Itu artinya tangan-tangannya sudah terbebas dari bawaan berat ini.

“Loh?” Din berhenti melangkah.

“Ada apa?” Opi bertanya ke arah Din.

“Itu…” Din menunjuk ke arah depan. “Itu kan Matsumoto-sensei?”

Din benar. Orang yang berada di depan rumah mereka memang Jun.

“Sedang apa?” tanya Opi. Ia menghampiri Jun yang sedang memperhatikan ponsel nya.

“Kau baru pulang?”

Jun hari ini terlihat seperti biasanya. Tampan dan keren. Membuat Din tersenyum melihatnya.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Opi mengagetkan Din.

“He?” Jun mengerutkan dahi begitu melihat Din bersama Opi. “Kau mengenalnya?” tanya Jun pada Opi.

“Ikuta Din. Salah satu penghuni rumah ini,” jawab Opi memperkenalkan Din.

Din tersenyum lebar.

“Pantas saja..”

“Ada apa ke sini?” tanya Opi lagi.

“Hanya main. Aku kan sudah lama tidak ke sini. Apalagi beberapa hari ini kau tidak mengangkat teleponku,” jawab Jun.

“Itu karena kau cerewet sekali. Seminggu sekali menghubungiku kan itu sudah cukup,” gerutu Opi.

“Hei kalian,” Din menginterupsi. “Kalian boleh saja bertengkar, tapi bisakah di dalam? Tanganku sudah tidak kuat membawa ini,” Din menunjukkan barang bawaannya yang sudah sangat menyakiti tangannya.

“Ah..gomennasai. Sini aku bantu,” Jun mengambil beberapa bawaan Din, membuatnya sangat lega.

“Kudengar, kalian saudara sepupu yah?” tanya Din memastikan sambil meletakkan secangkir minuman untuk Jun yang berada di taman belakang.

“Ya. Begitulah,” jawab Jun. “Ternyata Opi merawat taman ini. Aku pikir dia hancurkan hahaha..”

“Memangnya kenapa?”

“Dua hari setelah Obaa-chan meninggal, dia mengacak-acak taman ini. Dia sangat sedih saat Obaa-chan pergi. Itu wajar saja. Opi sangat dekat dengan Obaa-chan,”  jelas Jun.

Din hanya mengangguk. Ia pernah mendengarnya kalau rumah ini adalah rumah milik nenek Opi.

“Mana dia?”

Din mengerti ‘dia’ yang Jun maksud adalah Opi. “Sedang memasak.”

“Souka..”

Jun kembali memperhatikan tanaman. Itu membuat Din salah tingkah karena ia bingung apa yang harus dilakukannya.

“Oia, aku tenang kau tinggal di sini,” kata Jun lalu menatapnya.

“Kenapa?”

“Setidaknya ada orang yang kupercaya untuk menjaganya,” Jun lalu mendekati Din dan duduk di sampingnya. “Tolong
jaga dia.”

Din menahan napas saat Jun menatapnya dengan wajah serius. Tapi ia juga merasakan dadanya sesak karena tatapan itu membuat Din menyadari sesuatu. Jun ternyata menganggap Opi lebih dari saudara sepupunya. Laki-laki itu memang tidak mengatakannya, tapi ia tahu itu. Ia dapat merasakannya.

“Kenapa tidak lakukan sendiri?”

Jun tersenyum kecil. “Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Bukan itu maksudku…”

Jun melihat wajah Din yang serius. Ia sepertinya tahu.

“Belum saatnya kau tahu, Din,” ucap Jun lalu mengacak-acak rambut Din pelan sambil terkekeh.

“Sedang apa kalian? Makanan sudah siap..” suara Opi membuat Jun dan Din menoleh ke belakang.

“Akhirnya kau selesai memasak. Aku sudah lapar..” Jun beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah ruang makan.

“Kau itu sudah menumpang makan, protes pula,” gerutu Opi.

Jun hanya menyengir.

“Din, kau tidak mau makan?” tanya Opi.

“Haaaaaiiiiii~..”

Din menyesal sudah mendengar itu dari Jun langsung. Tapi ia sudah terlanjur mengetahui kenyataan itu. Hal pertama yang dipikirannya sekarang, Opi tidak boleh tahu apapun tentang pembicaraannya dengan Jun sampai ia mengetahuinya sendiri.

=================

Tsuzuku…^^

panjang dan aneh..tapi biarlah…
yang penting komen ahahahhaa…
dan lama sekali, desho…
maaf karena akhir-akhir ini kebanyakan galau jadinya seret ide…
yang penting komen #keukeuh…

Continue reading

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 4)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Empat
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Morimoto Ryutaro (HSJ), Tegoshi Yuya, Shigeaki Katou (NEWS), Nakayama Yuma (NYC), Aoi Miyazaki, Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC),  dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Morimoti Ryutaro, Tegoshi Yuya, Shigeaki Kayou, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 4 =

Din menopang dagunya sambil menatap kepulan asap dari secangkir kopinya. Matanya membuka menutup tapi lebih banyak menutup. Tadi malam ia tidak tidur karena mengerjakan tugasnya dan tanpa ia sadari matahari sudah naik dan pagi telah datang. Sebenarnya ia sangat mengantuk. Tapi hari ini ia harus ke kampus. Itu kenapa ia melawan kantuknya dengan secangkir kopi.

“Ohayou..” sapa Opi saat ia memasuki dapur yang sekaligus ruang makan.

Din membuka matanya. “Ohayou..Opi-chan…” balasnya lemas.

“Wajahmu mengerikan..” komentar Opi sambil memakai apron nya. Sepertinya ia akan memulai memasak.

“Aku tidak tidur. Baru mengerjakan tugas pukul 11 malam setelah pulang dari baito. Hidupku yang mengerikan..” jelas Din.

“Mau sarapan?”

Din mengangguk. Walaupun perutnya tidak karuan, tapi ia harus makan dan tetap sehat. Ia tidak dapat membayangkan dirinya sakit dan tidak dapat kerja. Ia harus membiayai hidupnya dari mana?

Opi memulai memasak. Din beruntung karena nona rumahnya itu selalu membuatkan makanan yang sehat dan tentu saja enak untuk para penghuninya. Jika Opi baru saja mendapat resep baru, dirinya dan penghuni lain lah yang bertugas mencicipinya. Din tidak keberatan karena semua yang Opi buat tidak pernah gagal.

“Douzo…” Opi meletakkan sepiring pancake dengan saus strawberry di depan Din.

“Waaaaww…baru pertama kali aku diberi sarapan semewah ini..” ucap Din lalu melahap sarapannya.

Enak..batin Din.

Selagi Din menikmati makanannya, datang Riisa dengan suaranya yang parau seperti baru saja operasi pita suara.

“O—ha—you ~,” sapa Riisa lalu duduk di kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja.

“Ohayou, Rii-chan..” balas Din ceria. “Mau sarapan?”

Riisa menggeleng. “Aku ingin minum saja…”

“Kenapa dengan suaramu?” tanya Din yang sedang mengambilkan minuman untuk Riisa.

“Kemarin hari pertamaku bekerja. Awalnya kupikir tempat itu sepi. Tapi ternyata saat sore dan malam hari, toko itu seperti lautan manusia. Sangat penuh. Aku benar-benar capek meladeninya,” jelas Riisa. “Dan sekarang suaraku serak.”

“Souka..” Din mengangguk. “Ini minumanmu.”

Riisa menerima gelas yang disodorkan Din. “Sankyu..”

“Kau bekerja dimana?” tanya Opi. Din sedikit terkejut Opi yang memulai bertanya.

“Toko kue dan roti..” jawab Riisa.

Opi mengangguk lalu kembali ke kegiatannya.

“Menyenangkan sekali bisa bekerja di toko kue. Bisa memakan kue-kue itu dengan gratis.” Din membayangkan dirinya dikelilingi oleh kue-kue enak dan tentu saja gratis.

“Memang sih. Tapi ada tidak enaknya juga.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus bekerja di toko milik orang yang tidak menyukaiku.”

“Perempuan?”

Riisa menggeleng. “Laki-laki.”

Din lalu terbahak. “Mudah saja, Rii-chan. Kau kan manis. Taklukan saja dia..”

Riisa diam. Ia memang berpikir seperti itu sejak kemarin. Tapi sepertinya sulit. Lagipula dia bukan tipe perempuan yang seperti itu.

“Jangan mengajarkan hal-hal yang aneh, Din..” tegur Opi lalu menyodorkan secangkir minuman pada Riisa.

Riisa menatap isi minuman itu. “Apa ini?”

“Ginger milk tea..”

“Gin…apa?” tanya Riisa.

“Sudah minum saja..”

Riisa menyeruput minuman itu sedikit lalu tiba-tiba matanya terbelalak.

“Aaahhhh…hangatnya..” seru Riisa kemudian meminumnya kembali. “Enak..”

Tanpa disadari oleh Din dan Riisa, Opi tersenyum senang.

“Saifu mana? Dia sudah bangun atau belum?” tiba-tiba Din bertanya keberadaan penghuni terakhir itu.

“Biar aku bangunkan..” ucap Riisa lalu berlari ke lantai dua dimana kamar Saifu berada.

“Rasanya seperti mempunyai 2 orang adik perempuan..” ucap Din terkekeh.

“Aku sudah selesai,” Opi melepaskan apronnya. “Ini bento untukmu, ini untuk Saifu dan ini untuk Riisa.” Opi meletakkan masing-masing kotak di atas meja.

Din menatap bento lain yang ada di dekat oven. Ada dua bento di sana.

“Hai…arigatou..” ucap Din menutupi pikirannya yang menebak bento itu akan diberikan lagi pada Jun seperti tempo hari.

Din masih penasaran dengan hubungan Opi dan Jun tapi ia tidak berani untuk menanyakannya.

“Kau kenapa?” tanya Opi merasa ditatap oleh Din.

“Anou..” Din mencoba menenangkan diri. “Kau tahu dosenku yang bernama Matsumoto Jun?”

Kening Opi berkerut lalu menjawab. “Aku tahu. Kenapa?”

“Eeeehhhh…itu…” Din kelabakan. Ia bingung harus menjawab apa.

“Aku tahu karena Jun adalah sepupuku.”

Din terkesiap. Ia meyakinkan pendengarannya. “Sepupu?”

Opi mengangguk. “Dia anak dari kakak ayahku. Itu berarti dia sepupuku kan?”

Din menurunkan bahunya yang sempat menegang. Terulas senyuman dari Din dengan perasaan lega. “Souka…”

——–

Teng..teng..

Saifu mendesah pelan saat mendengar bel menyebalkan itu. Ia sangat tidak suka waktu istirahat.

“Pelajaran hari ini sudah cukup. Jangan lupa kerjakan tugas kalian..” kata Hiro-sensei, guru matematika mereka.

Setelah Hiro-sensei keluar, murid-murid lain pun mengikuti untuk membeli makanan atau menghilangkan kepenatan karena pelajaran tadi. Berbeda dengan Saifu. Ia hanya diam di kelas sambil menatap ke arah jendela. Kebetulan tempat duduknya memang berada di dekat jendela.

“Aku lapar…” batin Saifu. Perut memang tidak dapat berbohong.

Ia melirik isi tas nya. Di dalamnya ada sekotak bento yang dibuat oleh Opi. Sebenarnya ia tidak mau memakannya. Tapi ia juga malas harus pergi ke kantin untuk membeli makanan.

“Baiklah..” ucap Saifu akhirnya menyerah.

Ia mengambil kotak bentonya lalu membuka. Tanpa permisi, perutnya lalu keroncongan melihat isi kotak itu. Membuatnya semakin kelaparan.

“Hmm? Tidak buruk,” komentar Saifu saat mencicipi makanan itu.

Saifu terbiasa makan makanan yang dibuat oleh chef di rumahnya. Tentu saja makanan itu tidak sembarangan dan harga bahan-bahannya pun mahal. Ini pengalaman pertamanya memakan makanan yang dibuat oleh orang yang tidak profesional.

Selagi ia makan dengan tenang, tiba-tiba ada yang menghampirinya.

“Anou…Suzuki-san. Ada yang memanggilmu,” ucap salah satu teman sekelasnya.

Saifu melirik orang yang memanggilnya lalu mengeluh pelan.

“Bilang saja aku sibuk..” kata Saifu malas.

Gadis itu mengangguk lalu menghampiri orang yang memanggilnya dan menyampaikan pesan Saifu.

Setelah mendengar pesan Saifu, orang itu kemudian menghampirinya sendiri.

“Kau sibuk?” tanya pemuda yang memanggil Saifu tadi.

“Kau tidak lihat aku sedang makan?” tanya Saifu balik.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar,” pemuda itu bersikeras.

Saifu mendesah. “Berbicara apa? Aku rasa kita sudah tidak ada urusan lagi. Sejak kita putus, Ryu.”

Pemuda bernama Ryu itu diam. Tapi ia tidak ingin menyerah.

“Ikut aku,” Ryu menarik tangan Saifu dengan paksa lalu membawanya ke atap sekolah yang memang tidak ada orang.

“Lepas..” Saifu menarik tangannya dari genggaman Ryu. “Kau sendiri yang bilang putus. Lalu apa urusanmu? Ingin menggangguku?” hardik Saifu.

“Aku tidak akan meminta putus kalau kau tidak dekat-dekat dengan Daiki-senpai. Selama ini aku yakin kalau kau hanya menyayangiku. Tapi yang kulihat…”

“Apa yang kaulihat?” potong Saifu berusaha tenang. “Aku yang kecewa padamu. Aku sudah menjelaskan semuanya. Aku dan Daiki tidak ada apa-apa. Dan kaulihat kan? Sampai sekarang pun aku tidak pernah berpacaran dengannya. Malah sebaliknya. Kau dengan cepat mempunyai penggantiku..”

Ryu menunduk.

“Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku kembali ke kelas..” Saifu berjalan melewati Ryu. Dan saat akan menuju pintu, tiba-tiba Ryu berteriak.

“Aku hanya ingin bilang, kalau perasaanku belum berubah..”

Saifu terdiam sebentar lalu pergi meninggalkan Ryu yang hanya bisa menyesali semuanya.

———

“Din-chan…ayo kita pergi,” ajak temannya.

“Hai…”

Din dan teman-temannya akan pergi karaoke hari ini. Din biasanya tidak pergi ke tempat seperti itu. Karena ia tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting. Tapi kali ini berbeda karena teman dekatnya baru saja berulang tahun dan dirinya terkena bagian untuk ditraktir. Tentu saja Din bersedia. Apalagi hari ini ia libur baito.

“Kalau saja kau ulang tahun setiap hari, Karin..” canda Din.

Gadis yang bernama Karin tertawa. “Kalau setiap hari aku ulang tahun, bisa-bisa aku bangkrut karena mentraktirmu terus.”

Din menyengir.

Tiba-tiba dirinya berhenti melangkah karena ponselnya berbunyi. Ia sedikit kesulitan karena hari ini ia memakan tas ransel dan ponsel itu ada di dalam tasnya. Setelah dilihat, ternyata ada satu pesan.

From : Tegoshi Yuya
Subject : Urgent
Datang ke mejaku. Sekarang.

“Hah?”

“Kenapa Din?” tanya Karin.

Din diam sebentar lalu berkata pada Karin. “Karin, gomennasai. Aku dipanggil oleh Tegoshi-sensei. Lihat ini..” Din menunjukkan pesan dari Yuya pada Karin.

“Yah…kenapa Tegoshi-sensei selalu mengganggu acara kita?” Karin terdengar kecewa.

“Kalian pergi saja tanpaku. Aku tidak enak kalau harus merusak kesenangan kalian. Aku ikut lain kali saja.”

“Hounto?”

Din mengangguk. “Sudah kalian pergi saja,” katanya sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan membuat perhitungan dengan Tegoshi-sensei,” ancam Karin.

“Hahahahhaa…memangnya kau berani? Ya sudah. Kalian pergi. Matta ne…”

Din melambaikan tangan pada temannya itu sampai sosok mereka menghilang.

“Benar-benar deh..” rutuk Din kesal.

Selama perjalanannya menuju ruangan Yuya, Din terus menerus mengomel. Ini saat yang tepat untuknya menghibur diri. Tapi kenapa harus digagalkan karena dosen menyebalkan itu?

“Ada apa?” tanya Din kesal pada Yuya yang duduk di kursinya begitu dirinya sudah ada di hadapan Yuya. Kedua tanganya dilipat dan wajahnya ditekuk karena sebal.

“Kenapa kesal seperti itu?” tanya Yuya tenang.

“Betsu ni,” jawab Din. “Sebenarnya ada apa memanggilku? Dan kenapa nomor sensei ada di ponselku? Seingatku aku tidak pernah menyimpannya.”

“Memang aku yang menyimpannya,” jawab Yuya.

“Hah?” Din tidak percaya Yuya yang dengan seenaknya menyimpan nomor ponselnya sendiri tanpa seizinnya.

“Itu agar aku mudah menghubungimu,” jawab Yuya beralasan.

Din terlihat geram. Rasanya ia akan tenang jika sudah mencakar wajah mulus dosennya itu.

“Hari ini kau ikut denganku..” ucap Yuya sambil beranjak dari kursinya.

“Lagi?”

“Jangan protes dan ikut saja.”

“Kemana?”

“Rahasia.”

Din berdecak. “Kata-kata sensei itu seperti laki-laki yang mau membawa kabur anak gadis orang.”

Yuya mendekatkan wajahnya ke wajah Din. “Jangan bermimpi. Orang yang membawa kabur dirimu pasti akan sial.”

Untuk kesekian kalinya Din ingin mengutuk laki-laki di hadapannya ini menjadi manusia terburuk di muka bumi.

————-

“Kau dimana?”

Opi berkerut karena baru saja mengangkat ponselnya langsung diberi pertanyaan.

“Aku sedang di jalan. Mau ke toko buku. Doushita no, Jun?”

Tidak ada jawaban apapun dari Jun.

“Jun?” panggil Opi.

“Nande mo nai. Aku tadi ingin mengajakmu pergi. Ke rumahku. Okaa-san sepertinya khawatir denganmu,” jelas Jun.

Opi tersenyum. “Daijoubu. Bilang saja pada obaa-san aku baik-baik saja. Kalau waktuku senggang, aku akan ke rumah sendiri.”

“Souka. Kalau begitu kau hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam,” kata Jun.

“Hai…”

“Dan jangan mampir dulu ke bar. Kau tahu kan aku tidak suka kau terlalu sering ke sana,” ucap Jun lagi.

“Baiklah..kau ini bawel sekali.”

“Matta ne..”

Opi menutup ponselnya sambil tersenyum. Ia beruntung mempunyai kakak yang sangat perhatian seperti Jun. Walaupun dia bukan kakak kandungnya.

Opi melanjutkan perjalanannya menuju toko buku. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat orang yang dikenalnya.

“Saifu? Sedang apa dia?” gumamnya.

“Opi?”

Opi menoleh saat ada yang tiba-tiba memanggilnya.

“Sho-san?”

“Hai Opi..” tiba-tiba dari belakang Sho, muncul seorang perempuan.

“Aoi-san..”

Opi merasa kecewa saat melihat ternyata Sho bersama Aoi.

“Sedang apa?” tanya Sho.

“Aku…mau ke toko buku,” jawab Opi.

“Souka..”

Opi mengenal Sho sudah cukup lama yaitu dari sejak Jun dan Sho masih berkuliah. Kebetulan Jun adalah kouhai Sho. Tapi mereka sangat dekat karena mengikuti klub yang sama. Opi sering menginap di rumah Jun dan pada saat itu juga ia sering bertemu dengan Sho. Sejak itu, Sho dekat dengannya. Tapi sayang sekali perasaan yang Opi rasakan berbeda dengan yang Sho rasakan padanya.

“Oia, kami mau pergi ke toko kue di sana. Kau mau ikut?” ajak Aoi ramah.

“Arigatou. Tapi aku harus ke toko buku sekarang. Kalau tidak cepat, aku bisa dimarahi oleh Jun,” kata Opi.

“Souka..” Aoi terlihat kecewa. “Jun itu sudah seperti ayahmu saja.”

“Pengawal tepatnya,” ralat Sho.

Opi tersenyum miris.

Aoi memang sempurna. Selain cantik, dia juga baik sekali. Sangat cocok mendampingi Sho. Tapi mengetahui kenyataan itu justru membuat Opi semakin sedih. Kata-kata bijak yang mengatakan kita akan bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia itu sepertinya tidak berlaku untuknya.

“Sebentar saja tidak bisa?” bujuk Sho.

Opi memiringkan kepalanya. Sebenarnya antara bisa dan tidak. Ia sangat ingin pergi ke toko kue itu karena ia memang sangat suka makanan manis. Semangatnya berapi-api jika menemukan makanan yang enak. Tapi ia juga tidak mau menyakiti hatinya sendiri dengan melihat kemesraan Sho dan Aoi langsung di depan matanya. Ia bisa menangis di tempat.

“Sudah…aku tidak butuh penolakan. Ayo!” Tanpa menunggu persetujuan Opi, Aoi sudah menarik tangannya. Sho tidak berbuat apa-apa untuk membantunya.

“Sumimasen..” ucap Aoi begitu dia, Opi dan Sho masuk ke sebuah toko.

“Irrasshaimasen…Loh? Opi nee-chan?”

“Riisa?”

Opi tidak menyangka ia memasuki toko tempat Riisa bekerja.

“Douzo..” Riisa yang tadi duduk di kursi pengunjung lalu berlari menuju belakang konter.

Opi menatap seorang gadis yang duduk di meja yang sama dengan Riisa tadi.

“Riisa..” panggil Opi.

“Hmm?”

“Itu…Saifu?” Opi menunjuk ke arah gadis yang duduk itu.

Riisa mengangguk. “Sepertinya dia ada masalah. Tapi dari tadi dia diam saja. Aku sendiri kaget kenapa tiba-tiba dia muncul di sini. Seperti bukan Saifu saja.”

Opi mengangguk lalu kembali menatap Saifu yang tertunduk. Ternyata yang ia lihat tadi memang Saifu. Tapi ada apa dengannya?

“Aoi-san, Sho-san, gomennasai. Aku harus pulang sekarang..” ucap Opi.

“He? Kita kan belum makan,” kata Aoi heran.

“Lain kali saja..” Opi menunduk sebentar lalu berjalan ke arah Saifu.

“Saifu..” panggil Opi pada Saifu.

Gadis itu menengok ke arahnya dan terlihat kaget.

“Kaerimasho..” ajak Opi.

Tanpa di duga, Saifu mengangguk dan ikut pulang bersamanya.

—————

“Kenapa kita ke toko pakaian, sensei?” tanya Din saat dirinya memasuki toko pakaian. Ia terpana saat melihat banyak gaun disekelilingnya.

Yuya menghiraukan pertanyaan Din dan berbicara pada salah satu pegawai toko tersebut.

“Tolong carikan gaun yang pas untuknya.”

Gadis pegawai toko itu mengangguk. “Douzo..” ucapnya pada Din untuk masuk ke sebuah ruangan kecil.

“He? Chotto…sensei..”

Din bingung apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba Yuya mengajaknya pergi, lalu memaksanya masuk ke toko pakaian yang sepertinya mahal ini dan sekarang ia harus mencoba beberapa gaun yang sebelumnya tidak pernah ia pakai.

“Bagaimana?” tanya pegawai toko tadi pada Yuya.

Din sekarang memakai gaun berwarna biru muda dengan rok mengembang selutut. Din terlihat manis setelah memakainya.

“Anou…Tegoshi-sensei. Katakan sesuatu,” ucap Din yang merasa risih karena tidak terbiasa memakai gaun dengan bahu terbuka.

“Hmm…ya..tidak buruk…” jawab Yuya gelagapan.

Selanjutnya, selain ia dipakaikan gaun, Din juga didandani. Hanya dandanan sederhana yang tidak membutuhkan banyak bedak atau benda-benda lainnya yang juga tidak pernah Din pakai sebelumnya.
Dan hasil akhir, Din benar-benar berbeda dari biasanya. Terlihat manis dan anggun.

“Sensei, sebenarnya kita mau kemana?” tanya Din semakin penasaran. Ini bukan acara pertunangan yang diam-diam digelar untuk dirinya dan Yuya kan?

“Ke acara pernikahan..”

Din hampir saja pingsan. Ternyata itu lebih buruk daripada yang dipikirkannya.

“Jangan bercanda,” bentak Din. “Cepat keluarkan aku…turunkan aku..” Din mengguncang-guncangkan tubuh Yuya yang sedang menyetir.

Yuya panik karena membuatnya kehilangan keseimbangan. “Baka…apa yang kau lakukan? Aku sedang menyetir..Din..kau mencekikku..lepas…”

Din melepaskan tangannya dari leher Yuya.

“Kau mau membunuhku?” gerutu Yuya kesal. “Sebelum benar-benar membunuhku, sebaiknya kau melihatnya sendiri dulu.”

“He?”

Pertanyaannya terjawab saat Din dan Yuya sampai di sebuat hotel. Ternyata itu acara pernikahan Shigeaki Katou, sepupu Yuya yang sempat dikenalkan padanya.

“Kalian sudah datang?” Katou dan istrinya menghampiri mereka. Katou terlihat sangat tampan dengan jasnya.

“Omedetou, Katou-san, atas pernikahannya,” ucap Din.

“Arigatou. Kau pasti kaget karena tiba-tiba datang ke sini,” Katou lalu tertawa. “Yuya tidak melakukan hal yang macam-macam padamu kan?”

Din menggeleng.

“Justru aku yang hampir saja mati dicekik,” gumam Yuya yang hanya didengar oleh mereka berempat.

Katou menanggapinya dengan tertawa. “Kau bisa saja Yuya. Kalian nikmati saja pestanya. Kami masih harus menyapa orang-orang.”

Din mengangguk.

“Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi kalau ingin membawaku ke sini?” tanya Din pada Yuya setelah Katou pergi.

“Kalau aku bilang, kau pasti akan menolak. Sedangkan Katou ingin aku membawamu ke sini,” jelas Yuya.

Din diam. Apa yang dipikirkan Yuya memang benar. Ia pasti akan menolaknya.

“Tapi jujur saja aku terkejut melihatmu hari ini,” kata Yuya.

Din menoleh. “Nande?”

“Malam ini, kau berbeda. Terlihat lebih manis.”

Din merasakan pipinya memanas. Perasaannya menjadi aneh. Dan jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya ada apa dengannya?

——————

Riisa sedang mengelap meja saat Nakayama-san menghampirinya.

“Rii-chan..” panggilnya.

“Hai?”

“Anou..boleh aku meminta tolong?”

“Nani?”

“Tolong antarkan payung ini pada Yuma. Dia ada di halte dan tidak bisa pulang karena hujan lebat. Bisakah kau mengantarnya?”

Riisa mendengus di dalam hati. Gadis itu tidak keberatan dengan permintaan Nakayama-san, tapi ia hanya kesal karena Yuma selalu merepotkannya.

“Hai. Aku antar sekarang.”

Riisa lalu berjalan cepat sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Ia menyesal tadi ia pergi begitu saja tanpa mengambil jaketnya terlebih dahulu.

“Ini semua gara-gara anak itu,” rutuk Riisa.

Dari kejauhan, ia melihat Yuma sedang duduk di kursi halte. Tidak banyak yang ia lakukan. Hanya memandang air hujan yang jatuh di depannya.

“Aku datang..”

Yuma menoleh dan terlihat wajahnya kaget.

“Kenapa kau yang datang?”

“Kalau aku yang datang kenapa? Bisakah kau berhenti merepotkan ibumu?” ucap Riisa sambil menyerahkan payung lipat yang dibawanya untuk Yuma.

Yuma tidak memperdulikan sindiran Riisa karena ia sedang membuka payungnya.

“Ayo cepat. Aku sudah kedinginan..” perintah Riisa.

Yuma hanya mendecak lalu berjalan di samping Riisa.

Selama perjalanan pulang, Riisa maupun Yuma tidak saling bicara. Riisa bingung apa yang harus ia katakan pada orang yang tidak menyukainya. Kalau ia mengajaknya berbicara, pasti akan diakhiri dengan bertengkar.

Tak berapa lama, mereka sampai di toko. Ternyata Nakayama-san menunggu mereka sambil membereskan toko.

“Tadaima..” ucap Riisa dan Yuma bersamaan.

“Okaeri..” Nakayama-san menghampiri Riisa dan Yuma. “Rii-chan, arigatou sudah menolongku mengantarkan payung untuk Yuma.”

“Kochira koso..”

“Sebagai tanda terima kasih, ini..” Nakayama-san menyerahkan 2 lembar kertas pada Riisa.

“Apa ini?”

“Tiket untuk masuk ke taman bermain.”

“Okaa-san mendapatkannya dari mana?” tanya Yuma sambil meletakkan tas dan jaketnya yang sedikit kebasahan.

“Dari Iwaya-san. Mereka mendapatkan tiket gratis. Tapi mereka kan sudah tua jadi memberikannya pada okaa-san,” jelas Nakayama-san.

“Tapi…” Riisa merasa tidak enak.

“Bagaimana kalau kalian berdua saja yang pergi?” usul Nakayama-san.

“Hai?”

“Tiket ini untuk kalian berdua saja.”

Dan Riisa juga Yuma hanya dapat saling berpandangan.

————————

“Hai….” Opi menyerahkan semangkuk sup pada Saifu yang masih tertunduk di ruang makan. Mereka sekarang sudah ada di rumah.

“Nani kore?” tanya Saifu.

“Kau masih bertanya? Tentu saja itu sup..” jawab Opi.

“Maksudku..”

Opi memotong. “Kata obaa-chan, makanan enak dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang.”

Saifu menatap sup itu sebentar lalu perlahan mengambil sendok yang ada di samping mangkuknya.

“Oishii~,” ucap Saifu saat mencicipinya.

“Yokatta. Habiskan selagi masih panas.”

Saifu mengangguk. Tapi baru saja beberapa sendok, ia kemudian berhenti.

“Nande?” tanya Opi.

“Kenapa membuatkanku sup? Padahal aku begitu menyebalkan kepada kalian. Kenapa kalian masih saja memperdulikan aku? Harusnya kalian membenciku,” Saifu bergumam.

Opi mendesah. “Sebelum aku, obaa-chan yang mengelola tempat ini. Dan sebelum kalian ada di sini, rumah ini pernah dihuni oleh beberapa orang yang menyenangkan. Obaa-chan menganggapnya semua penghuni adalah keluarganya. Dan setelah pergi pun, obaa-chan tetap menginginkan rumah ini dihuni oleh orang-orang yang menyenangkan.

“Aku hanya ingin membuat obaa-chan bahagia di sana. Dengan membentuk keluarga baru walaupun kita sama sekali tidak ada hubungan darah.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, kita tinggal di satu atap. Bagaimanapun sifat dan karakter masing-masing penghuni, jangan menjadikan alasan untuk tidak saling peduli. Karena siapapun yang tinggal di sini, itu artinya kita satu keluarga,” tambah Opi.

Saifu terdiam.

“Jadi, tidak ada alasan untukku, Riisa maupun Din untuk membencimu.”

“Usotsuki..” ucap Saifu.

“Itu juga yang kupikirkan saat obaa-chan mengatakan hal sama. Kau tidak usah terlalu mempercayai kata-kataku kalau kau tidak mau.”

Saifu menatap Opi heran. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.

Saifu tertunduk. “Sebenarnya apa yang salah denganku?” Ia mulai berbicara. “Aku mempunyai teman laki-laki, apa itu salah? Akrab dengan pacar temanku, apa itu salah? Aku mempunyai kehidupan yang baik, apa itu juga salah?”

Opi menatap Saifu dengan diam.

“Emi menyalahkanku saat dia putus dengan Daiki. Lalu Ryu menuduhku sudah berselingkuh. Lalu teman-temanku, mereka semua menjauhiku karena menganggap aku yang terburuk.”

Saifu meluapkan semua perasaannya yang terpendam selama ini. Ia sudah lama menahannya sehingga tanpa sadar air matanya turun melewati pipinya.

“Aku sama seperti mereka. Aku hanya ingin teman. Aku tidak ingin ditinggalkan,” Saifu mulai terisak.

Opi yang dari tadi hanya menatap Saifu, lalu meraih tubuhnya dan memeluknya. Ia berharap dapat menenangkan Saifu walaupun ia tidak tahu harus berbuat apa agar tangisannya berhenti.

==========

Tsuzuku…^^

panjang dan aneh..tapi biarlah…
yang penting komen ahahahhaa…

Continue reading

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 3)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : Tiga
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC), Hashimoto Emi (OC) dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 3 =

Saifu berjalan perlahan di koridor. Sepertinya ia berada di koridor sekolahnya. Tapi suasana nya terasa asing dan menyesakkan. Semua orang yang ia lewati menatapnya aneh seolah ia adalah makhluk asing. Tapi hal itu tidak menjadikan Saifu minder. Ia tetap berjalan seperti biasa.

Ia akan memasuki kelasnya saat tiba-tiba ada 3 orang gadis menghadangnya sehingga ia tidak dapat masuk ke dalam kelas. Dua orang gadis itu menghadap padanya dengan tatapan menantang. Sedangkan yang satu lagi hanya terdiam sambil menunduk.

“Kau masih berani datang ke sekolah?” bentak si gadis dengan rambut yang diikat satu.

“Tentu saja dia berani, Saiko. Mana ada yang bisa menghalangi nona muda sepertinya,” tambah gadis yang satunya. Nada suaranya seperti mengejek Saifu.

Saifu diam. Ia tidak menatap dua orang yang sedang mengejeknya itu tapi menatap gadis satunya yang sedang tertunduk.

“Apa masalahmu?” tanya Saifu. Tentu saja pada gadis yang tertunduk itu.

“Kau melihat kemana, hah?” bentak gadis bernama Saiko. “Kita berdua sedang berbicara denganmu.”

Saifu tidak memperdulikannya. Matanya tetap menatap gadis yang sama.

“Kenapa?” Gadis itu mulai berkata walaupun terdengar pelan. “Kenapa kau jahat, Fu-chan?”

Saifu tidak bereaksi apapun.

“Aku percaya padamu. Tapi kenapa kau jahat padaku? Aku pikir kita teman,” gadis itu mulai terisak sambil menutupi wajahnya.

“Emi….”

“Aku benci kamu…” gadis yang bernama Emi itu melihatnya dengan tatapan benci.

“Aku benci kamu…Aku sangat membencimu..”

Suara itu terus bergema di telinganya. Semakin lama semakin banyak dan tiba-tiba Saifu membuka matanya dan sekarang yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya.

“Ternyata mimpi..” gumam Saifu lega. Tapi ia merasa itu sangat nyata.

Saifu terlihat melamun memikirkan mimpinya tadi sebentar lalu dirinya tersadar saat ia mencium wangi makanan yang sangat enak. Sama persis seperti saat ia di rumahnya dulu.

“Ohayou..”

Saifu terkesiap mendengar sapaan Opi sehingga ia baru saja menyadari jika ia sudah berjalan menuju ke dapur.

“O..ohayou..” balas Saifu gugup.

“Mau sarapan?” tawar Opi datar tanpa ekspresi.

Saifu mengangguk. Ia bingung apa yang harus ia katakan karena untuk pertama kalinya ia berdua saja dengan Opi sejak pertemuan pertama mereka.

“Douzo..” Opi meletakkan sepiring roti dan segelas susu untuk Saifu. “Kau habis berlari?” tanyanya.

Saifu mengangkat kepala lalu menggeleng. “Nande?”

“Kau terlihat berkeringat dan capek.”

Saifu segera menyentuh keningnya dan ternyata benar. Dirinya memang sedikit berkeringat.

“Atau mimpi buruk?” tebak Opi.

Saifu tidak menjawab.

Opi melirik sebentar ke arah Saifu. “Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin bercerita. Karena aku sendiri tidak tertarik sama sekali dengan apa yang terjadi denganmu.”

Saifu mendelik. Ia juga tidak berniat bercerita apapun.

“Tapi akan lebih baik jika kau bercerita pada orang yang memang kau percaya,” tambah Opi tanpa menghadap Saifu karena ia sedang memasak.

Saifu kembali tertunduk sembari memakan sarapannya. Dalam sekejap, suasana menjadi hening di dapur.

“Ohayou….are? Tidak biasanya kalian terlihat berdua seperti ini,” goda Din yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Urusai…” protes Opi. “Cepat mandi dan bereskan dapurnya. Aku harus cepat pergi.”

Din terbelalak bangun sepenuhnya. “Kenapa aku yang membereskan dapur?”

“Kau lupa aku yang sudah membuatkan sarapan dan bento untuk kalian? Jangan protes dan cepat bereskan..” perintah Opi lalu ia melesat pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.

“Bento?” kening Saifu mengkerut.

Din mencomot beberapa makanan yang baru saja dibuatkan oleh Opi lalu menjelaskan “Ah..aku lupa bilang. Biasanya Opi selalu membuatkan sarapan dan bento untuk penghuni di sini. Karena sebelum kau dan Riisa berada di sini hanya ada aku, tentu saja dia membuatkan bento setiap hari untukku.”

Saifu mengangguk. Ternyata sosok pemilik rumah yang ia tinggali sekarang itu tidak seperti yang dipikirannya.

————————

Opi menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Ia berjalan mondar mandir sambil menunggu panggilannya terjawab oleh orang di seberang. Tapi yang ia dapat hanya suara telpon tersambung saja.

“Kemana sih?” gerutunya.

Ketika dirinya masih menunggu jawaban dari panggilannya, Opi tersentak karena pundaknya ditepuk oleh seseorang.
Dengan kaget, ia memutar tubuhnya dan mendapati seorang pemuda yang ia kenal.

“Ohayou…”

Itu Sho Sakurai.

“Ohayou, sensei..” balas Opi.

“Kenapa datang sepagi ini? Bukankah kuliahmu..” Sho melirik jam tangannya. “Jam 11?”

“Ehm…itu…mau bertemu dengan Jun..” jawab Opi. Ia heran kenapa dirinya menjadi segugup ini?

“Oh…”

Tepat setelahnya, ponsel Opi berbunyi.

“Hai? Aku sudah di tempat biasa. Oke…”

“Itu Jun?” tanya Sho setelah Opi menutup ponselnya.

Opi mengangguk.

Tak berapa lama, Jun datang sambil berlari ke arah mereka.

“Loh? Aku tidak tahu kau bersama Sho..” kata Jun.

“Aku hanya menemaninya tadi. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri,” jawab Sho.

Jun diam. Ia hanya menatap Sho.

Sho yang menyadari Jun menatapnya lalu melanjutkan. “Kau tidak keberatan bukan aku menemaninya?”

Jun tersenyum lalu menggeleng. “Tentu saja tidak. Arigatou sudah menemaninya,” ucapnya. “Ayo!”

Opi hanya menatap tangannya yang sudah ada di genggaman Jun lalu beralih menatap Sho yang semakin menjauh.

————

Riisa berjalan keluar kamarnya sambil mengucek-ucek matanya. Karena mengobrol terlalu malam dengan Din tadi malam, membuatnya tidur terlambat.

Riisa merasa suasana rumah sangat sepi. Ia lalu melihat jam dinding yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Pukul 09.15.

“Ternyata masih jam segini..” gumam Riisa. Saifu yang masih sekolah tentu saja sudah berangkat sejak tadi. Opi dan Din yang kuliah mungkin sudah berangkat juga. Sedangkan dirinya kuliah siang.

“Aku lapar..” seru Riisa. Ia merasa perutnya sudah melakukan pemberontakan meminta untuk diisi. Dan dengan tanpa ragu, ia berjalan menuju dapur.

Gadis itu mencium sesuatu yang enak dari atas meja. Dan benar saja. Di meja itu sudah tersedia berbagai macam makanan dengan disertai tulisan.

To Riisa
Ini sarapan untukmu. Ada makanan juga di dalam
lemari es. Itu Opi yang membuatnya. Panaskan saja
kalau ingin dibuat bekal. Ambil sesukamu..
NP : jangan lupa ucapkan terima kasih pada Opi ^^

Din

Riisa tersenyum lebar. Ia memang beruntung sudah memilih rumah ini sebagai tempat tinggalnya.

“Aku cinta kalian..” Dan pemburuan makanan pun dimulai.

———————–

“Ada apa memanggilku?” tanya Jun setelah ia membawa Opi ke tempat yang agak jauh dari tempat gadis itu menunggu.

“Ini..” Opi menyerahkan kotak makanan yang ia bawa dari rumah.

“Bentou?”

Opi mengangguk.

Jun tersenyum lalu menyentuk puncak kepala Opi lembut. “Arigatou.”

“Kau pasti tahu aku sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat makan siang. Jadi kau memberiku bentou,” tebak Jun.

“Tidak juga,” ucap Opi. “Tadi aku membuat makanan terlalu banyak. Dari pada dibuang, aku berikan saja padamu.”

Jun mendelik. Adik sepupunya ini memang tidak ada manis-manisnya.

“Hai..hai..” Jun menyerah.

“Tapi aku membuatnya dengan penuh cinta. Tidak usah kecewa seperti itu,” tambah Opi.

“Setidaknya kau memberikan ini padaku. Bukan untuk Sho,” gumam Jun pelan. Tapi walaupun pelan, Opi masih dapat mendengarnya walaupun tidak jelas.

“Hah?”

Jun menggeleng. “Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?”

Opi mengangkat tangannya. “Tidak bisa. Aku ada kuliah. Sekarang juga aku harus segera pergi. Masih ada yang harus kukerjakan. Ja ne…” Opi berlalu dengan terburu-buru.

Jun hanya dapat terdiam menatap kepergian Opi.

———————–

“Akhirnya keluar juga..” seru Din begitu kuliahnya berakhir. Badannya terasa pegal karena selama kurang lebih 2 jam ia harus duduk manis di mata kuliah yang sama sekali tidak menyenangkan.

“Din-chan, ayo kita makan siang..” Temannya menggajaknya.

“Duluan saja. Aku harus ke perpustakaan dulu,” balas Din.

Setelah teman-temannya pergi, Din beranjak untuk pergi ke perpustakaan.

Perekonomiannya yang sangat sulit membuatnya tidak sanggup membeli buku. Uang hasil kerja sambilannya hanya cukup untuk kehidupannya sehari-hari. Itu  karena ia membaginya agar ia dapat mengirimkan uang kepada ibunya. Din sedikit terbantu karena tempat kerjanya yang merupakan tempat peminjaman buku. Sehingga kadang ia dapat meminjam buku di sana. Gratis tentunya.

Begitu ia sampai di perpustakaan, hal yang pertama ia lakukan adalah mengedarkan pandangan ke segala sudut tempat itu. Din biasanya menemukan Matsumoto Jun sedang membaca atau sedang meminjam buku. Tapi kali ini sepertinya ia harus kecewa karena orang yang dimaksud tidak tampak.

“Mau mengembalikan buku?” Seorang penjaga perpustakaan bertanya padanya.

“Hai..” jawab Din sambil sibuk mengaduk-aduk tasnya mencari buku.

“Kemana bukunya?” gumam Din pelan.

“Itu yang di tangan kirimu,” kata si penjaga perpustakaan itu.

Din menatap tangan kirinya dan benar saja ia sedang memegang buku.

Din menepuk keningnya. “Baka..” rutuknya. “Ah..arigatou..Loh?”

Dia kaget ternyata yang dihadapannya adalah orang yang ia cari tadi. Matsumoto Jun.

“Sensei? Sedang apa di sini?” tanya Din. Setahunya Jun bukan penjaga perpustakaan.

“Menggantikan Hina-san yang sedang ke toilet. Hanya sebentar,” jawab Jun.

Din mengangguk sambil menyerahkan buku.

“Sensei..” panggil Din.

“Hmm?”

“Sensei sudah jarang ke tempatku bekerja sekarang. Sedang sibuk yah?” tanya Din. Sudah sifatnya berbicara santai seperti itu. Seolah dosennya itu adalah temannya.

“Begitulah,” jawab Jun sambil memasukkan data ke dalam komputer tanda buku telah dikembalikan. “Hai..sudah selesai.”

“Matsumoto-san, arigatou sudah membantu,” Tiba-tiba Hina-san yang merupakan penjaga perpustakaan yang asli datang.

Jun mengangguk sambil tersenyum. “Doitashimashite..”

“Kau masih ada kuliah?” tanya Jun pada Din saat mereka sudah keluar dari perpustakaan.

“Tidak ada.”

Jun memainkan bola matanya. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?”

Din hampir saja lompat kesenangan sampai ia ingat kalau ia membawa bento.

“Aku membawa bekal, sensei..” jawab Din lemas.

“Kebetulan sekali. Aku juga membawa bekal. Kita bisa memakannya di…..” Jun mengedarkan pandangan ke sekeliling. “…sana.”

“Hai…” ucap Din senang. Ia benar-benar ingin melompat sekarang karena saking senangnya. Makan siang bersama dengan Jun, tentu saja dengan sangat senang hati ia menerima ajakannya.

“Kau membuat bekal sendiri?” tanya Jun saat mereka duduk berdampingan di bangku kayu panjang di taman kampus mereka.

“Umm..ya,” jawab Din bohong.

“Souka..”

Din membuka bekalnya dan perutnya keroncongan begitu melihat isinya yang terlihat sangat enak.

“Sepertinya bekalmu enak,” kata Jun.

Din awalnya ingin memuji bekal Jun juga. Tapi ia sedikit terkejut saat melihat isi bekal Jun sama dengan isi bekalnya.

“Are? Ternyata menu kita sama. Kebetulan sekali,” kata Jun.

Din tersenyum kecil pada Jun. Ini benar-benar kebetulan yang aneh. Bekalnya sama persis dengan bekal milik Jun.

Tiba-tiba Din teringat. Yang memasak semua makanan ini adalah Opi. Dan sebelum Opi pergi tadi pagi, ia membawa 2 kotak bekalnya. Jangan-jangan satu kotaknya untuk diberikan pada Jun? Apa hubungan mereka berdua?

Setelah membayangkan macam-macam, tiba-tiba nafsu makan Din hilang dalam sekejap.

——————-

Saifu membereskan buku-bukunya setelah terdengar bunyi bel tanda pulang sekolah. Suara riuh langsung terdengar dari murid-murid lain yang ingin cepat-cepat pulang atau akan mengikuti klub terlebih dahulu. Tapi berbeda dengannya. Ia terlihat seperti malas untuk pulang.

“Tsukareta..”

Saifu memutar-mutar kepalanya yang terasa pegal sambil berjalan menuju gerbang. Saat ia tak jauh dari gerbang, terlihat kerumunan gadis-gadis. Suara mereka yang histeris membuat kepala Saifu menjadi sedikit pusing.

“Ribut sekali sih..” rutuk Saifu kesal sambil melewati kerumunan itu.

“Ah..Fu-chan..”

Saifu menoleh setelah mendengar ada yang memanggilnya. Tapi setelah ia melihat orang itu, ia kembali berjalan tidak memperdulikan orang itu.

“Eh? Chotto matte…”

Saifu mempercepat langkahnya agar orang itu tidak menyusulnya. Tapi perkiraannya salah. Orang yang ternyata Daiki sekarang sudah ada di sampingnya.

“Kenapa cuek seperti itu?” tanya Daiki.

“Betsu ni,” jawab Saifu singkat.

“Ne Fu-chan, sekarang temani aku yuk!” ajak Daiki.

“Tidak,” tolak Saifu langsung. “Hari ini aku ingin sendiri. Jadi jangan mengikutiku.”

“Sebentar saja..” bujuk Daiki.

“Sudah kubilang aku tidak mau..” tolak Saifu lagi.

“Sepuluh menit saja..” Daiki menarik-narik tangan Saifu.

“KUBILANG AKU INGIN SENDIRI..” teriak Saifu. Daiki terpaku. Ia kaget mendengar Saifu membentaknya.

“Jadi ini yang kau lakukan setelah merebutnya dariku..” kata seorang gadis yang berada di belakang Saifu dan Daiki.

Saifu menoleh pada orang yang baru saja berbicara padanya.

“Emi..” gumam Daiki.

“Dai-chan, aku tidak tahu kau lebih suka dibentak-bentak dibandingkan diberi perhatian olehku,” sindir gadis bernama Emi tersebut.

“Apa urusanmu?” Saifu bertanya.

“Betsu ni.. aku hanya kebetulan lewat dan melihat kalian. Dan itu membuat mataku sakit. Lebih baik aku pulang saja.”

Emi lalu pergi meninggalkan Saifu dan Daiki.

Daiki menatap Saifu. “Kalian masih….”

“Itu bukan urusanmu,” Saifu memotong perkataan Daiki. “Jangan mengikutiku. Aku ingin sendirian,” kata Saifu lebih halus dibandingkan yang tadi.

Daiki menatap kepergian Saifu. Ia tidak tahu saat ini Saifu sedang menahan tangis karena merasakan sakit di dadanya.

———————

“Riisa-chan..kenapa berwajah murung seperti itu?” tanya Yuuki, teman sekelas Riisa yang merupakan teman terdekatnya di kampus.

“Aku sedih, Yuu-chan..” jawab Riisa pelan. “Aku sampai sekarang belum mendapatkan kerja sambilan yang pas untukku. Kalau seperti ini, aku bisa mati kelaparan.”

“Heeee…kau membutuhkan kerja sambilan? Kenapa tidak bilang padaku?”

Riisa mengangkat kepalanya dan matanya berbinar.

“Kau bisa memberiku pekerjaan?”

“Tentu. Kebetulan sekali tempat dulu aku bekerja membutuhkan orang. Awalnya aku ingin menerimanya tapi orang tuaku lebih membutuhkanku di toko mereka,” jelas Yuuki.

“Hounto ni? Ii no?” Riisa tak yakin.

Yuuki mengangguk. “Kau datang saja sore ini ke tempat itu.” Yuuki lalu menulis sesuatu di atas kertas. “Ini alamat nya.”

Riisa menerima kertas pemberian Yuuki dan membacanya. “Chinnamon Cherry Cake & Bakery? Manis sekali nama tokonya.”

“Nama nya juga toko roti dan cake. Akhir-akhir ini pengunjung toko itu meningkat. Jadi mereka cukup kesulitan karena kekurangan orang.”

Riisa menatap Yuuki terharu. “Kau memang penolongku, Yuuki-sama,” ucapnya sambil memeluk erat Yuuki.

“Yamete yo..kau membuat orang mengira kita tidak normal.”

Riisa hanya menyengir.

Sesuai instruksi Yuuki, Riisa mengunjungi tempat itu sore harinya setelah pulang kuliah. Ia begitu senang akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sepertinya tempat itu juga akan sangat menyenangkan.

“Haaa~ rasanya aku lapar,” gumam Riisa saat ia sudah ada di depan toko itu. Wangi roti yang baru saja dipanggang langsung menusuk hidungnya.

Riisa lalu masuk ke dalam toko itu. “Sumimasen…”

“Irrashaimasen….”

Riisa menoleh pada seorang wanita paruh baya di balik kounter.

“Ah..sumimasen..” Riisa menunduk sopan. “Aku datang ke sini ingin melamar pekerjaan.”

“Haaa…wakatta. Ayo kemari,” Wanita itu mengajaknya masuk ke dalam. “Akhirnya ada yang datang untuk melamar,” ucapnya senang.

“Aku ke sini atas tawaran dari Yuuki. Ishida Yuuki.”

Wanita itu terlihat bingung sebentar. “Ah..Yuuki-chan? Kau temannya?”

“Teman sekampusnya.”

Wanita itu tersenyum. “Souka. Aku senang yang datang adalah gadis manis sepertimu.”

Riisa tersipu malu. “Arigatou..”

“Oia, namamu?”

“Yanagi Riisa.”

“Riisa-chan..sekarang..”

Belum sempat wanita itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada yang memanggil dari dalam.

“Okaa-san..ada telepon..”

“Haaaaiii….” teriaknya. “Gomenasai. Aku ke dalam dulu. Kau tunggu saja di sini,” katanya pada Riisa.

Riisa mengangguk mengerti lalu duduk di salah satu kursi untuk pengunjung.

Riisa merasa nyaman saat ia duduk di kursi. Suasananya sangat mendukung jika ada seseorang yang ingin sendiri sambil menikmati kudapan lezat. Tapi sepertinya tempat untuk mengobrol dengan teman-teman juga tidak buruk.

“Anou..”

Riisa merasa di sampingnya ada seseorang. Saat ia menoleh, ia sangat terkejut siapa yang memanggilnya.

“Kau?” seru Riisa.

“Kau kan, yang merebut ponsel dari tanganku waktu itu?” ucap pemuda itu mencoba mengingat.

Riisa sangat yakin pemuda yang dihadapannya itu adalah Nakayama Yuma. Orang yang menemukan ponselnya tempo hari.

“Sedang apa kau di tokoku?” tanya Yuma pada Riisa.

“Tokomu?”

Bertepatan dengan itu, wanita tadi menghampiri Riisa kembali.

“Gomenasai. Ah Yuma, gadis ini yang akan bekerja di sini. Namanya Yanagi Riisa,” jelas wanita itu.

“Cewek ini yang akan bekerja di sini, okaa-san? Aku tidak terima,” putus Yuma.

“HE? Nande?” tanya Riisa heran.

“Aku tidak mau satu kerja denganmu,” ucap Yuma merajuk.

“Gomenasai,” wanita yang sepertinya bernama Nakayama itu lalu berbalik sambil menarik telinga kanan Yuma.

“Ittai~……” teriak Yuma kesakitan.

“Apa yang kau katakan, hah? Kau sendiri yang bilang tidak sanggup menangani toko kalau hanya berdua,” bentak Nakayama-san.

“Tapi aku tidak mau cewek ini, okaa-san..” tolak Yuma.

Riisa cemberut. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu.

“Jangan protes. Okaa-san yang mengurus masalah ini.”

“Nakayama-san,” panggil Riisa. “kalau aku tidak diterima di sini tidak apa-apa. Aku mengerti..”

“Tidak..Jangan dengarkan dia. Tentu saja kau diterima. Iya kan, Yuma?” Nakayama-san melirik tegas pada Yuma.

Yuma tidak menjawab apapun. Wajahnya menunjukkan ia tidak suka dengan keputusan ibunya tersebut.

Lain dengan Riisa, ia tersenyum senang dan bertekad akan membuat Yuma bertekuk lutut dan menerimanya di sini.

————————-

Opi meregangkan otot-otot tubuhnya yang pegal. Ia lalu melirik jam tangannya dan ternyata sudah pukul 9 malam.

“Aku terlambat pulang..” ucap Opi panik. Dengan segera ia membereskan notebook dan buku-bukunya.

“Sudah selesai?” Gin, seorang bartender, bertanya padanya.

Opi mengangguk. Sekarang ia memang sedang ada di sebuah bar.

“Gin-san, aku pulang dulu,” pamit Opi.

“Hai..”

Opi baru saja akan melangkah ke pintu keluar saat tiba-tiba pintu itu terbuka dan ia terkejut orang itu adalah Sho Sakurai.

“Sho-san..”

Panggilan Opi pada Sho akan berubah jika mereka ada diluar kampus. Itu peraturan yang dibuat oleh Jun saat ia baru saja masuk kuliah.

“Opi? Sedang apa di sini?”

Sho terkejut ia bisa bertemu dengan Opi di tempat seperti ini. Rasanya tidak sesuai dengan image gadis itu yang lebih cocok untuk minum di cafe dan sebangsanya.

“Aku?” Opi sedikit kebingungan. “Mencari ketenangan,” jawabnya asal.

“Hah?”

“Silahkan duduk, Sho-kun..” Gin mempersilahkan Sho untuk duduk.

“Kau mengenalnya, Gin-san?” tanya Opi.

“Dia pelanggan tetap di sini.”

Opi mengangguk. “Souka.”

“Sho-kun, kalau kau memang mengenal Opi, aku akan memberitahumu kalau dia adalah anak pemilik bar ini,” kata Gin.

Sho terbelalak. “Are?”

Opi mengangguk malas. “Bar ini milik ayahku..”

“Aku tidak tahu kau anak pemilik bar ini,” kata Sho sambil menyesap sedikit minumannya. Opi yang tadinya akan pulang, mengurungkan niatnya dan memutuskan menemani Sho.

“Walaupun aku anak pemilik bar, tapi aku di sini hanya untuk mengerjakan tugasku,” jelas Opi.

Sho tertawa pelan. “Suasana di sini memang sangat nyaman untuk menyendiri.”

“Begitulah..”

“Aku pikir kau memang sering datang ke sini,” tambah Sho.

Kali ini Gin yang tertawa. “Dia tidak akan mau datang ke bar lain selain di sini untuk minum.”

“Nande?” tanya Sho.

“Aku tidak kuat minum, walaupun itu hanya sedikit,” jawab Opi. “Tapi kalau aku ingin mabuk, aku tinggal ke sini dan Gin yang akan mengantarku pulang.”

Gin mendecak. “Kau pikir aku supirmu.”

“Bar ini adalah bar favoritku,” kata Sho. “..dan Aoi.”

Senyum Opi meredup saat mendengar nama itu. Entah kapan ia dapat menerima nama Aoi di otaknya.

“Souka..”

“Oia, mana Aoi? Tidak biasanya kau datang sendiri,” Gin bertanya.

“Ada pekerjaan.”

Gin mengangguk. “Opi, bukankah kau tadi mau pulang?” Gin mengingatkan.

“Ah..aku lupa. Sho-san, kalau begitu aku pergi duluan,” pamit Opi.

“Chotto…” Sho menahan kepergian Opi. “Aku antar pulang. Ini sudah malam.”

Opi mengangguk.

Ia tidak mengerti dengan sikapnya sendiri. Ia tahu Sho sudah memiliki kekasih. Ia juga tahu, laki-laki itu hanya menganggapnya murid dan adik. Tapi ia tidak dapat menahan untuk merasa senang saat dirinya mendapat perhatian lebih dari Sho. Walaupun dengan begitu akan membuatnya kecewa karena kembali berharap untuk memiliki Sho.

======

to be continued~…
agak ngebut nih.gara2 stress UAS ahahaha…
tetep yah minta komen nya ehehehe…
maaf klo rada aneh dan ada typo (antisipasi)

Continue reading

[Multichapter] A Day In Our Life (chap 1)

Title        : a Day in Our Life
Type          : Multichapter
Chapter     : satu
Author    : Opi Yamashita
Genre        : Family, Friendship, sedikit Romance
Ratting    : PG
Fandom    : JE
Starring    : Sho Sakurai, Matsumoto Jun (Arashi), Tegoshi Yuya (NEWS), Daiki Arioka (HSJ), Nakayama Yuma (NYC), Opi Yamashita (OC), Ikuta Din (OC), Yanagi Riisa (OC), Saifu Suzuki (OC) dan orang numpang lewat…
Disclaimer : Semua tokoh bukan kepunyaan saia. Sho Sakurai, Matsumoto Jun, Tegoshi Yuya, Daiki Arioka, Nakayama Yuma kepunyaannya JE dan ibu bapaknya. Opi Yamashita, Ikuta Din, Yanagi Riisa, Saifu Suzuki hanya OC. Sangat terinspirasi dari dorama Watashi ga Renai wa dekinai Ryuu dan manga Ai no Moto ni Tsudoe karya Miku Sakamoto. Ini hanya fanfic..jadi nikmati saja ahahaha… Jangan lupa komen yah..Aku seneng ada yang baca, tapi lebih seneng ada yang komen ehehehe…
Douzo…

A Day In Our Life
= Chapter 1 =

Continue reading

[Multichapter] Happiness (Chapter 14) ~End~

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Fourteen (End)
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here. All ARASHI members are belong to Johnnys & Associates, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 14 ~

Continue reading

[Multichapter] Happiness (Chapter 13)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Thirteen
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ), Masami Nagasawa (Actress), Inoue Mao (Actress), Akanishi Jin (Johnny’s)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 13 ~

Continue reading

[Multichapter] Happiness (Chapter 12)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Twelve
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 12 ~

Continue reading

[Multichapter] Happiness (chapter 11)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Eleven
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 11 ~

Continue reading

[Multichapter] Happiness (Chapter 10)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Ten
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 10 ~

Continue reading

[Multichapter] Happiness (chapter 9)

Title        : Happiness
Type          : Multichapter
Chapter     : Nine
Author    : Dinchan Tegoshi & Opi Yamashita
Genre        : Romance, Friendship, Family
Ratting    : PG-13
Fandom    : JE
Starring    : all ARASHI members, Ikuta Din (OC), Ninomiya Opi (OC), Sakurai Reina (OC), Ohno Rei (OC), Ohno Hiroki (OC), Saifu Suzuki (Fukuzawa Saya’s OC), Arioka Daiki (HSJ)
Disclaimer    : I don’t own all character here.all ARASHI members are belong to JE, others are our OC. Except Saifu Suzuki is belong to Fukuzawa Saya… collaboration neh~.. We just own the plot!!! Yeeeaahh~ COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

HAPPINESS
~ Chapter 9 ~

Continue reading