[Oneshot] A Battle of Love

1aran_e589afe69cac_副本_副本

A Battle of Love

By: Matsuyama Retha

Romance, Fluff, (Little bit) Violence

NC-16

Abe Aran, Nagatsuma Reo (Love-tune); Meguro Ren (宇宙Six); Sakurada Dori, Kiyohara Kaya (Amuse Inc.); Sakurada Miki, Haruno Hana (OC)

Kedua insan yang telah bersatu, kini harus terpisah seolah takdir sedang mempermainkan cinta diantara mereka yang telah dibangun sejak lama dan bahkan telah memantapkan diri untuk maju selangkah lagi, yaitu pernikahan. Akankah kedua insan ini kembali bersatu?

Disclaimer + A/N:

1. All casts are belong to themselves. Author just owns the plot and Haruno Hana’s OC.

2. Ini FF udah pernah di publish sebelumnya, tepat pas ultah Aran ke 17 dulu XD tapi Author re-make lagi dengan beberapa cast -termasuk OC- yang ganti XDv

3. Happy reading and don’t forget to VotMent ^^~)

*+* DOUZO *+*

Flash Back 1 Year Ago~

Angin sepoi-sepoi kini melanda daerah Hokkaido. Pepohonan yang berada di sekitar Hokkaido pun mulai bergoyang-goyang sesuai irama angin tersebut sehingga menimbulkan udara sejuk. Hal ini pun sangatlah cocok untuk daerahnya yang selain dipenuhi dengan pepohonan, terdapat banyak gedung yang menjulang ke atas seolah mencakar langit. Dapat kita beri nama gedung itu ada gedung perusahaan ternama. Benar-benar kota tersibuk kedua di Jepang setelah Tokyo.

Salah satunya perusahaan ternama itu adalah Abe Corp, dimana perusahaan itu terkenal akan perusahaan desain baju berkelas dunia. Selain itu, perusahaan ini juga membuka cabang di Okinawa, yang mana jabatan pemilik perusahaan di sana saat ini bernama Abe Ryohei. Lalu, nama pemilik perusahaan yang berada di Hokkaido bernama Abe Aran. Adik kandung dari Abe Ryohei.

Suatu hari di Perusahaan Abe Corp., Hokkaido, Japan …

Pemuda tampan bernama Aran yang kini dengan balutan setelan jas hitam dengan kemeja berwarna biru muda yang tersemat sebuah dasi panjang berwarna hitam pun berjalan keluar dari ruangannya. Beberapa karyawannya selalu menatap dengan takjub setiap Aran keluar atau masuk ke dalam ruangannya itu. Namun, Aran tak mempedulikan itu semua karena ia tak mau dianggap tampan atau yang lainnya.

Setelah keluar dari ruangannya, Aran pun langsung menghampiri sebuah meja kerja yang letaknya disamping pintu ruangannya. Sebuah senyuman yang indah kini telah terukir di wajah tampan Aran ketika dirinya menghampiri meja kerja tersebut, dimana terdapat seorang gadis dengan balutan blazer dan rok span selutut berwarna hitam disana.

Ya, gadis itu yang telah membuat Aran jatuh cinta selama empat tahun lamanya, yang saat ini menjadi sekretaris pribadinya. Sakurada Miki.

“Miki-chan, besok Jum’at aku ingin pergi berbelanja. Kau mau ikut?” tanya Aran setelah sampai di meja kerja yang di tempati oleh Miki.

Miki yang sedang melakukan aktivitas merapikan berkas-berkas yang lumayan berserakan disana pun segera menoleh seiring panggilan Aran padanya. Beberapa saat kemudian Miki tersenyum dan mengangguk.

“Tentu saja, Aran-kun.”

“Yosh! Kalau begitu bersiaplah untuk pulang, Miki-chan.”

“Wakarimashita, Abe-sama.”

“Berhenti memanggilku seperti itu, Miki-chaaannnn!!!”

Baik Aran maupun Miki sama-sama tertawa setelah gurauan yang diciptakan oleh mereka yang benar-benar lucu. Beberapa karyawan disana pun juga ikut tertawa melihat tingkah laku bosnya dan juga sekretarisnya itu.

Hubungan Aran dan Miki kian hari semakin dekat dan akrab. Mereka pun juga saling mengerti, percaya, dan juga berkomitmen. Itulah yang membuat sepasang kekasih ini merasa dirinya sendiri paling beruntung di dunia.

Hubungan mereka pun sudah dijalani genap empat tahun lamanya dan tinggal selangkah lagi untuk mencapai kebahagiaan dari mimpi mereka.

Couples’ goal. Pernikahan.

Jum’at malam, daerah Hokkaido benar-benar ramai pengunjung. Mall, supermarket, kedai-kedai, dan berbagai macam arena permainan pun tiada satupun tanpa pengunjung.

Aran dan Miki, tangan mereka berdua pun saling bertautan. Berjalan menyusuri tiap jalanan Hokkaido yang penuh dengan gedung-gedung besar, selain gedung perusahaan, tak lain adalah Mall.

Kedua insan ini saling tertawa dan saling bercerita. Terkadang mereka saling memuji juga. Terlihat dalam diri mereka sebuah kebahagiaan.

Pasangan yang pada akhirnya naik di pelaminan …

“Aku ingin membeli sesuatu di toko perhiasan. Tidak apa-apa?” Aran pun menyampaikan keinginannya pada Miki jikalau ia ingin pergi ke toko perhiasan.

“Itu terserah padamu. Aku hanya menemanimu, Aran-kun.” jawab Miki dan tersenyum untuk kesekian kalinya terhadap Aran. “Wakatta. Arigatou na.” bisik Aran dan setelahnya meraih pergelangan tangan Miki dan segera membawanya masuk ke dalam toko perhiasan.

15 menit pun berlalu setelah sepasang kekasih ini keluar dari toko perhiasan tadi. Mereka melanjutkan perjalanannya lagi untuk melihat-lihat sepanjang jalanan Hokkaido yang pada malam itu juga tidak ada kendaraan berlalu lalang disana. Hanya terdapat orang-orang yang jalan kaki untuk menikmati suguhan yang tersaji di sekitar sana.

Aran dan Miki mulai mengunjungi satu per satu toko yang cukup terkenal di daerah Hokkaido. Mulai dari food court, butik, supermarket, dan lainnya.

Dan hal itu memakan waktu hampir 2 jam penuh. Pada pukul 9 malam, mereka berdua kembali pulang.

*+*+*+*

Keesokan harinya … hari kerja pun tidak libur. Sabtu pagi, lebih tepatnya pukul 9 pagi, Miki tengah mempersiapkan dirinya untuk bekerja.

Tentunya bekerja sebagai sekretaris pribadi kekasih yang sekaligus calon suaminya itu, Abe Aran.

“Ohayou, Miki-chan!” sapa seorang pria dengan postur tubuhnya yang tinggi dan juga usianya sudah menginjak 29 tahun.

“Ohayou, Dori-niichan!” sapa Miki pada pria yang dipanggilnya Dori-niichan itu. Sakurada Dori, kakak kandung Sakurada Miki.

“Hari ini, ulang tahun Aran-kun, loh.”

“Aku tahu, Dori-niichan. Bahkan aku sudah menyiapkan kado untuknya.” Dengan sigap Miki menjawab. Rasa semangatnya kini telah membara dalam dirinya. Membuat Dori hanya tertawa.

“Kalau begitu, semangat ya Miki-chan. Aku mendukungmu.” Ucap Dori dan mengangkat kepalan tangannya ke atas. Pertanda memberi semangat pada Miki.

“Un. Arigatou, Oniichan.”

TING TONG

Suara bel rumah itu membuat ricuh suasana kediaman Sakurada. Miki pun berinisiatif untuk berlari ke ambang pintu dan membukanya.

“Miki-chan!!” suara seseorang yang terkesan sedikit melengking, kini ada di balik pintu ketika Miki membukanya. Haruno Hana.

“Eh? Hana-chan. Hahaha!” sapa Miki dan kemudian tertawa. Hana hanya bisa menunjukkan barisan giginya yang setengah rapi dan setengahnya lagi terdapat gigi gingsul di sudut kanan atas. Menambahkan ciri khas-nya yang terlihat imut.

“Kita berangkat bersama-sama, ya.” Ajak Hana kemudian dan langsung disetujui oleh Miki berupa anggukan kepala.

Setelahnya Miki pun kembali masuk. Lalu mengambil tas yang sering dibawanya saat bekerja dan setelahnya ia pamit pada kakaknya itu, “Oniichan, aku berangkat dulu. Ittekimasu!” suara Miki cukup keras sehingga terdengar sampai kedalam rumahnya. Terlebih sampai dimana tempat Dori berada. Di dapur.

“Itterashai!!”

.

Sepanjang perjalanan, Hana dan Miki saling bertukar cerita. Tentang cinta, teman, dan juga keluarga mereka sampai mereka terbawa suasana. Tiada bahan pembicaraan yang membosankan. Melainkan selalu ada canda tawa yang menghiasi suasana hati Hana dan Miki.

“Miki-chan. Aku ingin kita bisa menikah dengan orang yang kita cintai bersama-sama.” Tiba-tiba saja Hana berkata cukup serius. Membuat langkah Miki terhenti dan memandang Hana dengan penuh pertanyaan dalam pikirannya. “Apa maksudmu?”

“Maksudku, di saat kita menikah nanti aku ingin kita bisa menikah dengan orang yang kita cintai dengan waktu, tanggal, dan juga tempat yang bersamaan.” Cukup mengerti akan penjelasan Hana, Miki pun mengangguk.

“Ternyata itu maksudmu, Hana-chan. Tentu saja aku mau. Asalkan Nagatsuma-san dan juga Aran-kun ingin bersamaan pula. Hahaha!” Miki pun tertawa dan merasa geli akan ucapannya barusan. Hana pun juga ikut tertawa dan merasa geli akan apa yang diucapkan Miki barusan.

“Ngomong-ngomong, itu pasti kado buat Abe-san, ya?” tiba-tiba saja Hana menunjuk sebuah kotak berukuran sedang yang dibawa oleh Miki. Tas yang dibawa oleh Miki tidak cukup tempat untuk menyimpan kotak kado itu.

“Iya. Hari ini ulang tahunnya. Kemarin saat pergi jalan-jalan dengannya, aku sengaja meluangkan waktu untuk membeli ini sendiri tanpa sepengetahuan Naru-chan.” jelas Miki.

“Hah? Naru-chan?”

“Eh, maksudku Aran-kun. Hahaha!” Miki langsung memperbaiki akan kesalahan ucapannya tadi.

Setelah pembicaraan serius yang terkesan singkat ini, kedua manusia bersahabat ini mulai melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja mereka yang tinggal beberapa meter lagi sudah sampai.

Selama perjalanan, pembicaraan terhadap mereka kembali dilanjutkan …

.

“Miki-chan, bukankah itu Abe-san?” mendadak Hana menyiku lengan Miki sebelah kiri.

Miki yang kebingungan pun pada akhirnya mengarahkan pandangannya kearah yang dilihat Hana saat ini.

“Iya, itu Aran-kun. Ada apa ya?” pandangan mata Miki masih tertuju kearah depan. Lebih tepatnya mengarah sebuah taman yang bersebelahan dengan tempat kerjanya dengan Hana.

“Apa yang sedang ia lakukan dengan gadis itu pada Abe-san?” Hana pun sebenarnya tak berniat memanas-manasi Miki karena apa yang dilihatnya saat ini menimbulkan kecurigaan sekaligus penasaran. Begitu pula dengan Miki.

Di taman itu, sudah dipastikan bahwa pria yang bersama seorang gadis itu adalah Aran. Seorang gadis yang tidak dikenali oleh Miki maupun Hana.

Tampaklah Aran menggenggam tangan gadis yang berada di hadapannya itu, gadis yang memiliki darah half Jepang-Australia, dan pada akhirnya setelah menggenggam tangan gadis itu, Aran pun memeluknya. Jarak Miki dan Hana saat ini lumayan dekat dengan  Aran dan gadis itu. Sehingga dengan pasti mereka mengetahui bahwa pria itu benar-benar Aran.

“Eh? N-nande?” Suara terkejut kini telah sukses diucapkan oleh Miki.

Aran mencium bibir gadis yang ada dihadapannya itu. Melihatnya serasa menyayat hati Miki saat ini. Kekasihnya ~ah~ melainkan calon suaminya saat ini telah mencium gadis lain. Bahkan status Miki dan juga Aran sudah ‘bertunangan’. Mereka bertunangan tepat ketika mereka merayakan 3rd Anniversary mereka tahun lalu. 

Seakan dunia terhenti pada saat itu juga. Pergerakan tangan Miki pun juga terhenti sehingga kado yang dibawanya terjatuh dan membuat Hana terkejut, kemudian ia memutuskan untuk mengambilnya. Merasa tidak ada pilihan lain, Hana pada akhirnya memulai untuk memanggil pemuda disana yang bernama Aran itu.

“Abe-san!! Apa yang kau lakukan?!” Hana mengeraskan volume suaranya sehingga terdengar oleh Aran dan juga gadis yang bersamanya itu.

Mendengar namanya disebut, Aran pun menoleh ke sumber suara dan beberapa detik kemudian ia terkejut. Aran terkejut disaat kedua bola matanya melihat kearah Miki yang mengetahui semua perbuatan Aran barusan.

“Miki-chan!” Panggilnya dengan penuh kepanikan.

Merasa tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, Miki langsung berbalik dan pergi menjauh dari tempat itu dan secara otomatis Hana mengejarnya. Aran pun tergerak secara otomatis untuk mengikuti Miki dari belakang. Sesungguhnya hari itu adalah waktu kerja Miki dan juga Hana. Namun karena situasi yang mendadak seperti ini, membuat Miki menjadi tidak bersemangat dan lemas seketika. Seakan semangatnya di lahap habis oleh rasa keputus-asaan.

“Miki-chan, Matte!!” Aran berteriak memanggil Miki.

Hana hanya bisa diam dan tidak menyuruh Miki untuk berhenti, walau sesungguhnya ia berharap kalau Miki berhenti sekarang dan mendengar semua penjelasan dari Aran -bosnya itu-  atas perbuatannya.

Dengan penuh perjuangan, Aran pun berusaha bisa menyamai posisinya dengan Miki yang berada jauh di depan. Setelah posisinya menyamai dengan Miki, Aran pun menghentikannya dengan cara menarik lengan Miki yang secara otomatis terhenti.

“Lepaskan aku!” Miki pun meronta dan menyuruh Aran untuk melepaskan tangannya. Namun Aran tidak mempedulikannya.

Sekarang yang dipikirkannya itu adalah .. menjelaskan semuanya. Genggaman Aran pada pergelangan tangan Miki semakin kuat sehingga membuatnya merintih kesakitan.

Katakanlah kalau Aran egois saat ini.

“Aran-kun, lepaskan aku!! Tanganku sakit!!” kembali Miki meronta dan tidak di pedulikan oleh Aran.

“Dengarkan aku dulu, Miki-chan!!”

“Tidak mau!!”

“Miki-chan, aku mohon! Dengarkan aku dulu.” Ucap Aran dan kemudian membalikkan tubuh Miki sehingga ia bisa menatap empat mata dengan Miki.

Setetes demi setetes air mata, kini mulai keluar dari pelupuk mata indah milik Miki. Aran pun merasa tidak tega melihat tetesan air mata yang meluncur indah itu. Dengan cepat diraihnya kepala Miki guna untuk menghapuskan air matanya.

Namun …

“Jangan sentuh aku lagi! Mulai hari ini …” seketika itu juga Miki menepis tangan Aran yang berusaha untuk menghapus air matanya.

Tiba-tiba saja ia mengangkat tangan kirinya dengan punggung tangannya ditujukan kearah Aran.

Siapa sangka, Miki menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Cincin yang sama seperti Aran. Cincin pertunangan.

“Aku bukan calon istrimu lagi!!” bersamaan dengan ucapannya, Miki melepaskan cincin yang tadinya terpasang di jari manis tangan kirinya itu. Kemudian membuangnya jauh menuju jalanan yang cukup ramai itu.

Wajah Aran menegang seketika bersamaan dengan perlakuan Miki barusan. Rahangnya mengeras dan ia merasa tak tahu harus berbuat apa. Aran tak menyangka bahwa Miki bisa marah sekali seperti itu sehingga dengan perasaan tidak peduli, ia membuang cincin pertunangannya ke jalanan yang cukup ramai.

Pada akhirnya, Aran langsung menuju ke jalanan itu dimana MIki membuang cincin pertunangannya. Melewati jalanan ramai itu tanpa mempedulikan berbagai bunyi klakson setiap kendaraan yang melintas. Miki yang berada di pinggir jalan, tampak tidak mempedulikan. Walau sesungguhnya dia cukup gelisah.

DIN … DIN …

CIIITTTT … BBRRAAKK …

Flashback OFF~

“Miki-chan, jangan melamun terus. Ayo makan.” Ajak seorang pemuda pada seorang gadis yang dipanggilnya Miki-chan yang sejak tadi hanya melamun.

“Maaf, Dori-niichan. Aku tidak nafsu makan.” Dengan lesu Miki bangkit dari kursi dan berencana menuju ke kamar.

Pemuda itu, Sakurada Dori, hanya bisa bersedih ketika ia mengetahui kejadian setahun yang lalu.

*+*+*+*

Usia Miki saat ini menginjak 22 tahun. Usia yang hampir sama dengan calon suaminya itu, Abe Aran. Kejadian setahun yang lalu tidak bisa dilupakan Miki begitu saja. Kejadian yang menimpa Aran sudah merupakan kesalahan terbesar bagi MIki. Dengan teganya ia membuat Aran kecelakaan saat peristiwa itu.

Andai saat itu, Miki mencoba untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan Aran, pasti saat ini mereka sudah merubah status menjadi sepasang suami istri. Alias sudah menikah.

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!!! Itulah yang selalu diucapkan oleh Miki, setiap saat.

Andai aku bisa menggantikan posisimu, Naru-chan …

*+ Sakurada Miki POV +*

DRET DRET DRET

Getaran ponselku tiba-tiba mengusik kegiatanku yang saat ini sedang melamun. Aku pun bisa mendengarnya sekaligus merasakannya dari getaran itu sendiri yang terletak di atas meja.

Siapa yang mengirimku pesan malam-malam begini?

From : Meguro Ren

Subject : Happy Birthday, Miki ^o^)/

Miki-chan otanjoubi omedetou gozaimasu!! Wish you all the best!! May your dream come true. Bisakah kau keluar? Aku di depan rumahmu sekarang. Ada kejutan untukmu dan berhati-hatilah saat keluar jika tidak ingin membangunkan kakakmu, haha!

Ternyata pesan itu berasal dari Meguro Ren. Temanku semasa SMA dulu. Awalnya aku begitu takut padanya dimana ia terlalu memaksa diriku untuk menjadi kekasihnya.

Tapi, lagi-lagi, semua itu terhenti ketika Aran menjadikan dirinya tameng untuk melindungiku saat itu. Entah mengapa sejak saat itu aku mulai menyukai Aran dan aku senang ketika ia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Namun, sekarang tidak lagi.

Sesaat wajahku menegang dan kedua manik mataku membulat sempurna dikala membaca kalimat terakhir dari persan itu. APA?! Meguro Ren di depan rumahku? Untuk apa dia kemari?

Aku hanya bisa membuang nafas dan bingung. Hari ini ~ah, maksudku besok adalah hari ulang tahunku yang ke 23. Hari ini adalah malam hari ulang tahunku. Tanpa menunggu banyak waktu, aku segera keluar dari kamar dan ~ tentunya ~ berjalan perlahan menuju ke ambang pintu rumah jika tak ingin ketahuan oleh sang kakak karena ia terlalu protektif sekali padaku, sehingga kemanapun aku pergi selalu saja ditanya olehnya.

Dulu, saat masih bersama Aran, Oniichan selalu menyerahkan keselamatanku pada Aran karena ia tahu bahwa Aran juga sama sepertinya. Protektif. Tapi, itu sudah menjadi kenangan. Saat ini Aran tidak bersamaku. Ia mungkin meninggal sejak kecelakaan setahun yang lalu. Tepat disaat hari ulang tahunnya.

“Selamat pagi!!” ujar Ren ketika aku sudah membuka pintu rumahku.

Wajar saja ia mengucapkan selamat pagi karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Yah, kalau mau dikatakan masih malam juga bisa. Hari dan tanggal telah berganti dengan bulan yang sama. Januari~

“Untuk apa malam-malam kesini? Untung saja kau tidak menekan bel rumahku!” gerutu-ku pada Ren yang malah membuatnya tertawa. Huh! Dasar Ren!

“Seperti di kiriman pesan dariku. Aku akan memberimu kejutan.” Ujar Ren dan tersenyum padaku. Mendengarnya, membuatku hanya bisa memiringkan kepalaku sedikit kearah kanan.

Bingung~

“Sudahlah! Ayo ikut aku!” Ren kemudian meraih tanganku dan membawaku pergi ke tempat yang akan ditunjukkannya padaku.

.

Untuk apa Ren mengajakku kemari? Bukankah ini tempat …

“Nah, disinilah kau akan melihat kejutannya, Miki-chan!” Ren pun langsung bersemangat itu.

Ternyata aku dibawa ke sebuah taman di pinggir jalan sekitar daerah Hokkaido. Taman yang merupakan kenangan terindah bagiku sendiri. Tempat dimana Aran menyatakan rasa sukanya padaku dan tempat dimana kami saling bertukar cincin disaat hari pertunangan kami.

“Oh, Naru-chan.” gumamku kemudian. Kenangan itu kembali terngiang di benak-ku.

“Naru-chan? Siapa dia?” tiba-tiba saja aku terkejut ketika Ren menanyakan hal itu padaku. Jelas tidak mungkin jikalau aku mengatakan bahwa Naru-chan calon suami-ku.

“Jangan bilang kalau Naru-chan yang kau maksud …”

“Ah, bukan siapa-siapa, kok.” segera saja aku menyela ucapannya supaya ia tidak menjadi salah sangka.

Sesungguhnya, Ren sangat membenci Aran. Begitu pula dengan Aran. Mereka seperti beradu cepat untuk mendapatkan cintaku. Namun pada akhirnya aku memilih mencintai Aran daripada Ren.

Kejadian pada masa SMA-lah yang membuatku tidak mencintai Ren.

Dulu, ketika aku masih SMA, hampir saja Ren menodaiku. Tapi pada saat itu juga Aran datang menyelamatkanku sehingga Ren tidak berbuat macam-macam terhadapku. Setelah pertengkaran kecil yang dilakukan Aran maupun Ren, yang pada akhirnya Aran memenangkan pertengkarannya itu, ia langsung membawaku menjauh darinya.

Pada awalnya aku sempat trauma ketika Aran ingin sekali memelukku dan menenangkanku. Tapi, ia tetap berusaha dan pada akhirnya memberikanku ketenangan melalui sebuah pelukan hangat dan berkata “Aku akan selalu melindungimu”. Kata-katanya kini secara perlahan mulai bisa ku-percaya. Sampai di sinilah aku yang sebentar lagi menjadi istri Abe Aran.

Tapi musibah itu … membuatku putus asa dan merasa bersalah!

“Argh! Lagi-lagi kau memikirkan Aran! Dia itu sudah mati!!” tiba-tiba saja Ren mengguncangkan bahuku dan bersuara sedemikian kerasnya sehingga membuatku terkejut.

Merasa tidak nyaman dengan kalimat terakhirnya, aku menatap manik mata Ren dengan tajam.

“Naru-chan tidak mati!! Ingatlah itu!!”

“Dia itu sudah mati!! Kau tidak sadar apa? Kejadian maut setahun yang lalu telah merenggut nyawanya!!” Ren semakin mengeraskan volume suaranya dan dengan beberapa penekanan pada tiap lafal bicaranya.

Aku tak mengerti darimana Ren mengetahui itu semua. Namun aku tak peduli!

“Tidak! Kau pasti salah!! Aku yakin Naru-chan masih hidup!!” kini aku juga meninggikan suara. Walau sesungguhnya aku lelah.

Lelah membahas ini terlalu dalam.

BBRRAAKK

Ittai!!” aku pun merintih disaat Ren menyandarkanku dengan keras pada sebuah pohon sakura besar yang ada di taman ini.

Aku terkejut ketika Ren mengunci pergerakanku sehingga aku tidak bisa menghindarinya. Aku mohon kami-sama! Semoga tidak terjadi lagi …

“Pokoknya hari ini juga, kau harus menjadi milikku!” geramnya dan mencengkeram kuat bahu-ku.

“Tidak! Aku sudah menjadi milik Aran-kun! Jangan seenaknya kau! Lepaskan!!” ku pun meronta. Memaksakan diri agar bisa terlepas dari rengkuhan tangan Ren yang cukup kuat itu. “Ren!! Lepaskan!!” ucapku sekali lagi.

Sayang sekali di taman ini sepi. Tidak ada satupun pengunjung disini sehingga aku tidak bisa meminta bantuan orang lain. Lalu aku harus bagaimana?

Aku menyesal telah mengikutinya tadi. Andai aku tahu kalau berakhir seperti ini, aku tak akan keluar rumah saat ini!!

“Disini sepi. Jadi tenang saja, aku bisa memuaskanmu dan juga bisa lebih baik dari Aran! Inilah balas dendamku pada Aran. Menjadikanmu milikku sepenuhnya!” ucap Ren dengan licik dan kemudian ia mendekatkan wajahnya kearahku.

Ia pun memaksakan diriku untuk mendekatkan wajahku padanya, namun aku bersikeras tidak mau mendekatkan wajahku padanya.

“Lepaskan!! Aku tidak akan mau hidup bersamamu!! Pria bangsat!” ketusku seberani mungkin. Jika tidak begini, Ren semakin menguasaiku.

“Apa kau bilang?!!”

BBRRAAKK.

Ternyata aku kalah cepat dengan Ren. Kali ini ia berhasil menjedukkan kepalaku di batang pohon Sakura yang kuat itu dan telah sukses membuatku menjadi pusing berat.

Tak lama setelahnya, seluruh pandanganku berubah menjadi hitam dan aku tak tahu apa yang terjadi padaku selanjutnya.

*+ Sakurada Miki POV END +*

Miki pingsan tepat di pelukan Ren dengan posisinya yang membungkuk kearah punggung belakang Ren. Kali ini Ren berhasil membuat Miki jatuh pingsan.

“Miki … sayang sekali ya … kali ini kau akan jadi milikku sepenuhnya!! Tidak akan ada pria lain, terutama Aran, yang bisa mendapatkanmu. Hahaha!!”

Dengan cepat ia menopang tubuh lemas Miki dan membawanya masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh salah seorang suruhannya sejak pertama kali sebelum ia menjalankan rencana jahatnya.

Namun …

“Meguro-san berhenti!!  Sebuah suara seorang pria kini tiba-tiba mengusik Ren.

“Kau? Sakurada-san?” gumam Ren ketika ia mengetahui sang pemilik suara itu adalah Sakurada Dori.

“Ya ampun, kau apakan Miki-chan?!!” suara melengking khas seorang gadis kini juga tak kalah terusiknya dengan Dori, Haruno Hana.

“Lepaskan Miki-san sekarang juga!!” Nagatsuma Reo, kini juga ikut mengusik Ren. Merasa tidak terima kalau sahabat kekasihnya sendiri hampir mau diculik.

“Ck! Kalian tidak berhak menyuruhku memberikan Miki pada kalian. Saat ini juga aku akan menjadikannya milikku!!” ketus Ren setelah membawa masuk tubuh lemas Miki ke dalam mobil.

“Tidak bisa!! Adikku sudah bertunangan dengan Aran-kun. Jadi kau tidak berhak untuk menjadikannya milikkmu, Meguro-san!!” Dori pada akhirnya bergegas menghampiri tempat Ren berdiri. Berusaha mencegah Ren untuk menculik Miki.

“Cih!! Aran sudah mati!! Jadi sudah wajar kalau aku menjadikan Miki istriku!! Dan aku berani menjamin akan membuatnya bahagia!!” setelah berucap beberapa kata, Ren mulai memasuki mobil itu.

Namun sebelum itu …

BBRRAAKK

Dori menahan pintu mobil yang akan ditutup oleh Ren dengan keras dan kemudian ia membawa Ren keluar dari mobilnya itu.

“Jangan harap kau bisa mengambil Miki dengan mudahnya!!”

BUAGH

Sekali pukulan, Dori berhasil membuat Ren mendadak tidak berdaya. Rasa amarahnya kini telah membara di dalam diri Dori.

Bagaimana tidak? Amarahnya bisa di kata wajar ketika kerabatmu benar-benar dalam bahaya saat itu.

“Ba .. bagaimana kau .. bi .. bisa tahu kalau .. a .. aku membawa Miki?” tanya Ren yang keadaannya masih tidak berdaya itu.

“Semenjak Miki keluar dari rumah, aku mengikuti kalian dari belakang dan secara sembunyi-sembunyi. Kau pikir jam segini aku sudah berada di alam mimpiku, hah?” ujar Dori dengan malas.

“Brengsek!” ketus Ren dan berusaha bangkit kembali.

Namun …

BUAGH

Secara otomatis, Dori langsung memukul lagi dengan pukulan yang cukup kuat. Disaat Ren masih belum bisa bangkit lagi, Dori segera memberi isyarat pada Hana dan juga Reo untuk mengambil-alih kembali Miki yang saat ini masih terbaring lemas di dalam mobil.

“Hey!! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan dia!!” sang sopir mobil langsung terkejut ketika Hana dan Reo secara serentak mengambil-alih Miki kembali yang terbaring di jok mobil bagian tengah.

“Reo-kun, hajar sopir itu. Biar aku yang membawa keluar Miki-chan!” Hana pun segera memberi instruksi pada Reo dan langsung mendapat jawaban dari Reo sendiri.

Setelahnya, Reo mulai mengurus sopir itu dan sebaliknya, Hana berusaha membawa keluar Miki.

“Miki-chan. Aku mohon sadarlah!”

Di sisi lain, lebih tepatnya diluar area taman itu, tampaklah seorang pria dengan postur tubuh tinggi terlihat khawatir akan kejadian yang menimpa di daerah taman itu.

Kami-sama, semoga saja Miki-chan baik-baik saja. Tolong lindungilah dia dari tangan orang-orang jahat.” Gumam pria itu dan segera pergi dari tempat itu seolah tak ingin mengganggu semua orang disana.

10 menit pun telah berlalu …

Oniisan, kami sudah mendapatkan Miki-chan kembali.” Ujar Hana bersamaan dengan Reo yang hanya mengikutinya dari belakang.

Setelah mengetahui bahwa Miki sudah bersama kedua kawannya itu, Dori menghentikan aktivitasnya yang memukul Ren itu.

“Mulai saat ini juga, aku akan pastikan kalau kau tidak bisa mendapatkan Miki!! Ia hanya milik Aran seorang!! Jikalau kau berani menyentuh Miki sedikitpun, bersiaplah mati ditanganku!!” Setelah memberikan peringatan pada Ren, Dori dan juga yang lainnya segera pergi meninggalkan Ren sendirian disana.

Kini keberhasilan diraih oleh Dori, Hana, dan juga Reo.

*+*+*+*

“Aran-kun!! Matte!!” seorang gadis kini tampak mengejar dan memanggil seorang pemuda yang berada jauh di depan. Panggilannya tidak terdengar oleh pemuda yang ada di depannya.

Sesaat langkah gadis itu terhenti ketika ia melihat pemuda itu bersama seorang gadis lain. Gadis yang memiliki darah campuran antara Jerman-Australia yang menjadi ciri khas tersendiri, telah tersenyum pada pemuda itu. Gadis ini, Sakurada Miki, hanya bisa mematung dengan raut wajah shock-nya itu ketika melihat pemuda itu dengan seorang gadis didepannya.

“Di depan bait suci ini, saya Abe Aran, akan menikahi Kiyohara Kaya dengan segenap cinta saya. Selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Menjadi kepala keluarga sekaligus ayah yang baik untuk istri dan juga anak-anak kami.”

“Silahkan pada mempelai wanita. Ucapkanlah janji sucimu disini.” Ujar seorang pendeta dan mengarahkan microphone pada gadis bergaun putih dengan kepalanya yang masih tertutup hiasan kepala berupa tudung putih bening, Kiyohara Kaya.

“Di depan bait suci ini, saya Kiyohara Kaya, akan menikahi Abe Aran dengan segenap cinta saya. Selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Menjadi pendamping suami saya sekaligus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami.” Kaya pun menyudahi ucapan janji sucinya itu. Dilihatnya Aran, yang saat ini ada dihadapannya itu sedang tersenyum.

Miki yang melihatnya dari kejauhan, merasa tertekan dan tidak berdaya. Melihat calon suaminya yang sebentar lagi akan menjadi status suami, kini menikah dengan gadis lain. Tak lain adalah teman Miki sendiri.

“Silahkan Abe-san, kau buka tudung pada istrimu ini.” ucap sang pendeta memberikan instruksi.

Aran pun menurutinya dan segera membuka tudung itu.

“Dan … sekarang kau boleh mencium istri-mu sebagai tanda sayangmu pada istri-mu.” Pendeta itu kembali memberikan instruksi dan Aran langsung menyetujuinya. Kemudian, Aran mendekatkan wajahnya kearah Kaya yang saat ini menutup matanya dan ….

“Aaaaaa YAMETE!!!!!!!!”

.

.

.

“Naru-chandame!!!!” tanpa sadar Miki langsung bangkit dari tidurnya dan berteriak memanggil Naru-chan. ~Abe Aran. Yang saat ini keberadaannya tidak diketahui.

“Miki-chandaijoubu?” tanya Hana yang berada di sebelahnya. Sudah pasti ia terbangun karena teriakan Miki barusan.

“Aku … aku bermimpi buruk.” Gumam Miki seakan tak bisa menghirup nafas dengan bebas.

“Mimpi buruk? Ceritakan padaku, Miki-chan!” Hana pun pada akhirnya mendesak Miki untuk bercerita.

“Tadi, aku  bermimpi kalau … Naru-chan .. ah, maksudku Aran-kun telah resmi menikahi gadis lain dan bukan diriku.” Miki pun menceritakan tentang sebagian mimpi ‘buruknya’ itu.

Wajahnya menunduk dan ia menangis. Tidak bisa ia bayangkan bahwa Aran akan benar-benar menikahi gadis itu, gadis yang ada di mimpinya.

“Dan sekilas ketika aku melihat wajah gadis itu, dia .. dia .. seperti gadis yang dulu pernah kita temui setahun yang lalu.” Jelas Miki lagi dengan keadaan masih menunduk.

“Apa? Gadis yang itu? Benarkah?” pertanyaan dari Hana pun hanya dijawab dengan sekali anggukan oleh Miki sendiri.

“Kalau tidak salah, namanya Kiyohara Kaya.” lanjutnya.

“APA? Kiyohara Kaya? Ah, pantas saja! Aku hampir tidak mengenalinya 1 tahun yang lalu saat kita menemuinya yang sedang bersama Abe-san. Wajahnya benar-benar berubah sejak setahun yang lalu.” Tiba-tiba saja Hana merasa kesal sendiri. Entah karena apa …

“Mungkin … dia operasi plastik.”

“Sudah jelas, Miki-chan! Dia melakukan operasi plastik wajahnya supaya bisa menarik simpati Abe-san. Kamu ingat, bukan? Setahun yang lalu itu?” ketus Hana dan mengguncangkan bahu Miki karena terlalu kesal.

“Hana-chan. Aku mohon jangan bahas masalah itu lagi. Saat ini aku bingung. Antara marah, sedih, kecewa, dan juga … rindu.” Merasa tidak tahan, Miki pun akhirnya menyudahi ucapan Hana yang berkenaan dengan masa lalunya itu.

Gomen ne, Miki-chan.” Hana pada akhirnya menyesal dan membawa Miki kedalam pelukannya. Berusaha untuk menenangkannya.

Arigatou, Hana-chan.”

*+*+*+*

Keesokan harinya adalah waktu bagi Miki dan Hana untuk bekerja. Tentunya tempat kerja mereka masih sama seperti dulu. Hanya saja, semenjak peristiwa 1 tahun yang lalu, Miki meminta cuti dan selama ia cuti hanya berdiam diri di kamar. Merutuki semua kesalahannya atas apa yang menimpa atasannya, lebih tepatnya calon suaminya itu, Abe Aran, di karenakan perbuatan egoisnya.

Ittekimasu!!” ucap Miki dan Hana secara bersamaan.

Itterashai!!” balas Dori dan melambaikan tangan ke arah mereka yang sudah berangkat bekerja.

Kemarin, Hana memang menginap di kediaman Sakurada yang pada awalnya kediaman itu hanya di tempati oleh Dori dan juga Miki. Sejak kejadian tadi malam, itu membuat Dori menjadi khawatir sehingga meminta Hana untuk menemani Miki di rumah.

.

Selama perjalanan, Hana tidak berani berkata apapun pada Miki. Sebenarnya, ia sendiri merasa gelisah pada sahabatnya itu. Ingin menghiburnya, takut membuat Miki semakin sedih. Mungkin dari luarnya Miki dalam keadaan baik, tapi tidak dalam keadaan baik dari dalam.

“Ne, Hana-chan.” tiba-tiba saja Miki mulai bersuara setelah sampai di tempat kerjanya.

“Iya, ada apa?” tanya Hana pada akhirnya.

Namun sesaat Miki terdiam. Ia bingung antara memilih untuk mengatakan sesuatu pada Hana atau tidak.

Betsuni. Sekarang kita langsung masuk saja.” Ujar Miki dan kemudian mengajak Hana yang seketika kebingungan itu untuk masuk ke tempat kerja mereka secara bersamaan.

“Kau yang bernama Sakurada Miki?” tiba-tiba saja, seorang gadis menghalangi jalan Miki dan Hana. Kehadiran gadis itu langsung membuat mereka berdua terkejut. Gadis ini bukannya yang bersama Aran dulu?

“Iya. Ada masalah apa?” ucap Miki dan berusaha untuk santai. Seakan-akan tidak terjadi masalah apa-apa.

“Kau ikut denganku!” kini gadis itu memaksa Miki untuk mengikutinya. Di cengkeramkannya pergelangan tangan Miki dan seketika itu juga, Miki memberontak.

“Apa mau-mu, hah?!” ketus Miki dan berusaha melepaskan genggaman gadis itu di tangannya.

“Aku ada urusan sebentar denganmu. Ini berkenaan dengan Naru-chan!” gadis itu tetap berkutat untuk membawa Miki keluar dari tempat kerjanya.

Saat ini tujuan gadis itu adalah taman belakang di sekitar daerah tempat kerjanya itu. Hana yang sejak tadi kebingungan hanya bisa mengikuti mereka secara diam-diam.

Tugasnya kali ini adalah mencuri dengar pembicaraan antara gadis itu dan juga Miki.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?” tanya Miki dengan nada ketusnya.

“Sebelumnya perkenalkan, aku Kiyohara Kaya. Gadis yang kau ketahui setahun yang lalu di sini bersama dengan Naru-chan.” jelas gadis yang bernama Kaya itu pada Miki.

“Aku tidak menanyakan namamu!! Kau tuli, hah?!” ketus Miki yang mendadak amarahnya mulai meledak.

“Hohoho. Tenang dulu, Nonya Abe, ah .. aku lupa kalau kau belum menjadi istri Naru-chan!” dengan santainya Kaya berkata hal seperti itu pada Miki dan hal itu membuatnya mengepalkan tangannya.

“Ck. Kau tidak salah memanggilku Nonya Abe karena sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Abe Aran!!” Miki juga tidak kalah santainya dengan Kaya.

Kali ini Miki menunjukkan senyuman mautnya ke arah Kaya. Senyuman yang belum pernah ia tunjukkan selama ini. Senyuman yang begitu menakutkan.

Terbukti, saat ini Hana -yang sedang bersembunyi di belokan yang menghubungkan antara taman dan juga pintu masuk kantor- itu merinding ngeri. Bahkan sisi Miki yang seperti ini tidak diketahui oleh Hana, sahabatnya sendiri.

“Ck. Seharusnya kau sadar diri, Sakurada-san! Satu tahun yang lalu, lebih tepatnya di saat hari ulang tahun Naru-chan, ia menyatakan cintanya padaku.” Secara bergantian, Kaya menunjukkan senyuman mautnya kearah Miki yang saat ini sedang terkejut akan apa yang diucapkan Anna barusan.

“Tidak mungkin! Naru-chan hanya mencintaiku seorang!” Miki merasa tidak terima pada perkataan Kaya jika calon suaminya itu, Abe Aran, telah menyatakan cintanya pada gadis lain.

“Cih. Kau ini memang gadis pembawa sial!”

“Ah~ Ittai!!” Miki merintih kesakitan ketika rambutnya di cengkeram dengan keras oleh Kaya. Rambut ikal yang sudah ditata rapi sedemikian rupa, kini harus berantakan.

Di sisi lain, Hana langsung terkejut ketika mengetahui sahabatnya itu telah di sakiti oleh gadis bernama Kaya itu.

“Dasar wanita jalang!!” setelah Hana menyiapkan tenaganya itu, segera saja ia bangkit dari tempat persembunyiannya.

Akan tetapi …

GREP

“Hana-chan, jangan di ganggu.” Seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi kini langsung mencegahnya pergi.

“Reo-kun? kenapa kau malah menyuruhku untuk tidak mengganggu mereka?” protes Hana pada pria yang di panggilnya Reo-kun, Nagatsuma Reo.

“Sesungguhnya aku juga tidak tega kalau Miki-san di perlakukan seperti itu oleh Kiyohara-san. Tapi, kondisi saat ini tidak memungkinkan.” Jelas Reo secara perlahan dan berusaha untuk membuat Hana mengerti.

Namun fakta berkata sebaliknya. “Tidak memungkinkan bagaimana? Miki sekarang dalam masalah. Jika aku tidak menghajar wanita jalang itu, maka akan semakin membuat hubungan Miki dan Abe-san menjadi berantakan.” Ketus Hana yang mulai emosi.

Merasa daerah itu terlalu umum, pada akhirnya Reo meraih pergelangan tangan Hana dan mengajaknya ke suatu tempat yang lumayan privasi.

“Hey!! Kita mau ke mana, Reo-kun?”

“Sudahlah ikut saja!”

Reo membawa Hana menjauh dari jangkauan yang terjadi perdebatan diantara Miki dan Kaya, sekaligus dari jangkauan banyak orang. Lebih tepatnya Reo mengajak Hana ke tempat yang cukup privasi. Meskipun masih di sekitar taman.

“Ada apa, Reo-kun?” tanya Hana dengan rasa penasarannya itu.

“Fiuh~ Sampai kapan kau terus seperti ini, Hana-chan? Aku tidak tahan lagi.” Mulailah Reo berbicara.

“Apa maksudmu?” tanya Hana sekali lagi.

“Kita ini sudah berencana untuk menikah dan persiapannya sudah beres semua. Tapi, kau selalu menunda-nunda waktu demi menunggu Miki-san. Aku tahu kau sangat menyayanginya seperti saudaramu sendiri. Tapi, bukan seperti ini caranya!” Pada akhirnya Reo meluapkan semua isi hatinya pada Yuri yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

“Aku tahu. Tapi, Miki-chan sedang dalam masalah saat ini. Kita tidak bisa berbagi kebahagiaan jikalau Miki-chan sendiri tidak bahagia. Pernikahan itu adalah suatu hal yang akan membuat semua orang bahagia. Terlebih kedua manusia yang saat itu sedang merayakannya. Percuma saja kalau kita merayakannya, tapi hati kita sedang tidak bahagia saat itu. Lagipula bahagia itu bukan karena terpaksa. Melainkan kebahagiaan tersendiri dan tulus.” Reo pun terdiam ketika ia mendengar ceramah dari Hana. Seakan ceramahnya itu membuat Reo tutup mulut.

“Jika kita tetap melaksanakan pernikahan kita, yang ada aku hanya akan terpaksa bahagia. Bukan bahagia secara tulus ataupun jujur jikalau Miki-chan saat ini sedang ada masalah yang rumit. Aku mohon mengertilah, Reo-kun.”

Merasa tidak ada hal yang harus di bicarakan lagi, Hana langsung memeluk Reo dengan erat dan menangis dalam pelukannya.

“Sesungguhnya aku ingin bisa cepat menikah denganmu, Reo-kun. Tapi, aku tidak bisa biarkan kalau sahabatku tidak bahagia ketika melihat kita sedang bahagia di atas pelaminan.” Ucap Hana dan terisak. Reo hanya bisa membelai lembut punggung Hana dan membenamkan kepalanya di bahu Hana.

“Maaf .. maaf karena telah memaksamu, Hana-chan. Aku sangat bahagia bisa memilikimu. Seseorang yang sangat pengertian pada sahabatnya sendiri dan rela untuk tidak bahagia terlebih dahulu ketika sahabatnya sedang jatuh dalam berbagai masalah.” Ucap Reo di sela pelukannya itu.

“Reo-kunHontou ni arigatou.” Bisik Hana yang masih terisak itu.

Setelahnya, Reo melepaskan pelukannya pada Hana dan kemudian ia meraih wajah Hana untuk menghapus sisa air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

“Aku harap semua masalah Miki-san cepat berakhir dan ia bisa bertemu dengan Abe-san.” Hana mengangguk setuju akan apa yang diucapkan oleh Reo.

Un. Aku yakin kalau Abe-san masih hidup. Cinta Miki-chan dan juga Abe-san terlalu kuat untuk bisa di pisahkan. Aku yakin sekali bahwa Abe-san akan kembali untuk Miki-chan!” ucap Hana dengan penuh keyakinan. “Dan aku tidak akan biarkan siapapun mengganggu hubungan mereka. Terlebih Meguro Ren-san dan juga Kiyohara Kaya-san!!”

“Hahaha!! Ternyata istri-ku benar-benar lucu. Tidak salah aku memilihmu, Hana-chan!” Ucap Reo yang gemas dengan tingkah laku calon istrinya itu.

“Ha? Istri? Kita belum resmi menikah, Reo-kun.” Hana memanyunkan bibirnya sehingga membuat Reo semakin gemas padanya.

“Tidak masalah. Aku menyatakan bahwa kau sudah resmi menjadi istriku. Dalam tanda kutip ‘belum pemberkatan’. Hahaha!!” Reo tertawa. Merasa bahwa ucapannya benar-benar lucu dan pada akhirnya Hana juga ikut tertawa.

“Hahah!! Dasar Reo- .. ummhh ..” belum juga Hana menyelesaikan kata-katanya, Reo sudah langsung mencium bibir tipis nan ranum milik Hana secara sekilas.

“Hadiah dariku. Sekarang kita kembali ke tempat tadi. Memastikan Miki-san baik-baik saja.” Ajakan dari Reo tersebut telah mendapat jawaban langsung berupa anggukan kepala dari Hana.

.Back to Miki and Kaya part.

“Aku katakan padamu kalau akulah yang akan menjadi istri Naru-chan!!” untuk ke-sekian kalinya, Kaya mengeluarkan kata-kata ketusnya pada Miki. Begitu pula dengan Miki yang juga tak kalah ketusnya pada Kaya.

“Apa buktinya, hah?!!” Miki meninggikan suaranya. Sampai suaranya hampir serak karena beradu mulut dengan Kaya.

“Cincin ini. Naru-chan sendiri yang memberikannya padaku.” Seketika itu juga, Kaya langsung mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis itu.

Melihatnya telah membuat Miki shock.

“Tidak mungkin. B-bagaimana bisa …” Miki tak mampu melanjutkan kata-katanya. Suaranya semakin habis.

Bahkan tenaganya juga sudah terkuras habis akibat pertengkaran yang di lakukan oleh Miki dan juga Kaya

“Suatu hari kau akan mengetahuinya. Yang jelas Naru-chan memberikan cincin ini padaku! MENGERTI!!”

BBRRUUKK …

Dengan sengaja, Kaya mendorong Miki hingga ia terjatuh dan mengenai rumput-rumput yang ada di taman itu. Setelahnya, Kaya pergi meninggalkan Miki sendirian di sana.

“Miki-chan!! Daijoubu ka?” Hana yang sejak tadi bersembunyi -setelah tadi sempat mengobrol dengan Reo di tempat privasi-, segera datang menghampiri Miki yang masih terduduk di atas rerumputan taman itu. Reo hanya bisa mengikuti Hana dari belakang.

Daijoubu. Sepertinya aku harus pulang.” Ujar Miki dengan lemas dan membuat Hana semakin khawatir padanya.

“Aku akan mengantarmu pulang, Miki-chan.” bersamaan dengan ucapan Hana, ia langsung membantu Miki untuk bangkit.

“Tidak perlu, Hana-chan. Aku tidak ingin merepotkanmu dan Nagatsuma-san juga.” Miki pun merasa sungkan ketika ia terus-menerus menerima bantuan dari orang lain. Terlebih sahabatnya sendiri.

Daijoubu. Reo-kun mengerti akan kondisimu saat ini, Miki-chan. Lagipula kami merasa tidak di repotkan olehmu.” Ucap Hana yang di ikuti dengan senyuman di wajahnya.

Hontou ni arigatouminna.”

*+*+*+*

Satu tahun kemudian …

Selama satu tahun, Sakurada Miki menjalankan hari-harinya seperti biasa. Tanpa ada seorang Abe Aran di sisinya. Semenjak dua tahun yang lalu mengenai peristiwa maut itu, kabarnya tidak di ketahui. Tiap bulan hingga berganti tahun telah di lalui oleh Miki. Tentunya dengan bantuan dari Haruno Hana, Nagatsuma Reo, dan juga kakaknya, Sakurada Dori.

Pada bulan April tahun lalu, Miki memutuskan untuk pindah pekerjaan di tempat lain. Jika tidak, maka kenangannya pada Aran tidak akan menghilang dan juga akan selalu menghantui pikiran Miki. Selain itu, ia akan mendapatkan masalah dari Meguro Ren dan juga Kiyohara Kaya yang tiada hentinya menyiksa Miki.

“Sudah berganti tahun, tapi masih saja sama.” Ucap Miki pelan sembari memandangi langit malam yang pada hari itu terdapat banyak sekali bintang yang bersinar. “Kirei na!!” tanpa sadar Miki memuji bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

30 Agustus tahun lalu, adalah hari ulang tahun Aran yang ke-24. Miki memperingatinya dengan menyendiri di kamar saat itu.

Begitu juga saat ini. Tanggal 30 Agustus besok adalah ulang tahun Aran yang ke-25, sedangkan Miki sendiri sekarang berumur 24 tahun. Usia yang berbeda setahun.

“Aku berharap kita bisa bertemu, Naru-chan. Sudah dua tahun aku merindukanmu dan menantikanmu kembali padaku.” Mulailah sepucuk harapan di ucapkan oleh Miki. Berharap tahun ini ia bisa bertemu dengan Aran kembali dan memperbaiki hubungan mereka.

.

Keesokan harinya, Miki kembali bekerja di tempat kerjanya yang baru dengan harapan ia bisa bekerja lebih baik lagi dari pada di perusahaan milik Aran, Abe Corp.

Hari itu cukup sibuk. Semua karyawan di sibukkan dengan berbagai macam hal yang berkenaan dengan produksi desain baju fashion untuk pada model-model ternama di Jepang.

Seorang pria dengan usia yang seumuran dengan Miki, kini menghampiri ruang kerjanya yang saat ini menjadi status sekretaris.

“Sakurada-san. Bisakah nanti malam kita merundingkan masalah desain baju?” tanya pria itu yang merupakan pemilik dari perusahaan tempat Miki bekerja.

“Hanya kita saja, Kageyama-san?” tanya Miki sebelum ia menyetujui ajakan pria itu yang bernama Kageyama itu. ~Kageyama Takuya.

“Tidak. Melainkan nanti kita akan kedatangan desainer terkenal dari Amerika.” Jelas Kageyama yang terkesan meyakinkan Miki. Tanpa meminta penjelasan apapun lagi, Miki menyetujuinya.

Pada malam hari ini, lebih tepatnya tanggal 29 Agustus, Miki telah menyiapkan dirinya se-rapi mungkin karena nantinya ia akan bertemu dengan seorang desainer dari Amerika.

Oniichan, aku pergi dulu. Ittekimasu!!” dengan cepat Miki berpamitan pada Dori yang saat ini masih duduk di meja makan. “Itterashai!!” balas Dori dengan mulut yang masih penuh dengan makanan yang sedang di lahapnya.

Seiring waktu Miki keluar dari rumahnya, tampaklah di sisi lain seorang pria dengan postur tubuh tinggi sedang mengawasi gerak-geriknya. Raut wajahnya terkesan tidak tenang. Takut sesuatu hal yang tidak di inginkan akan terjadi.

Tuhan, tolong lindungilah Miki-chan!” batin pria itu dalam hati. Kemudian, dengan cepat pria itu menyusul Miki yang sudah menjauh.

Tentunya dengan sembunyi-sembunyi.

Kini langkah pria itu sampai pada sebuah cafe ternama di Jepang. Di lihatnya Miki sedang berjabat tangan dengan seorang pria juga yang usianya se-umuran dengan dirinya. Pria itu tampak ingin berbuat hal tidak sepantasnya pada Miki dan hal itu membuat dirinya merasa curiga pada pria itu.

“Kami-sama. Semoga pria itu tidak melakukan tindakan yang macam-macam pada Miki-chan!” gumamnya dan segera mendekat ke arah cafe itu.

Setelah Miki beserta rombongannya masuk terlebih dahulu, pria itu segera mencari tempat yang cukup dekat dengan posisi Miki. Saat ini pria itu menutupi wajahnya agar tidak ketahuan oleh Miki. Sebuah kacamata hitam yang di gunakan untuk menutup identitas pria itu dan juga di lengkapi topi berwarna coklat yang justru membuatnya semakin tidak bisa di kenali.

Sekarang ia berada di kafe, daripada tidak ada pekerjaan selain mengawasi pergerakan Miki, gadis yang sangat di rindukannya, pria itu memilih untuk memesan secangkir kopi hangat pada salah satu pelayan di kafe itu.

Setelah 10 menit berlalu, kopi yang di pesan oleh pria itu telah datang. Kemudian pria itu segera mengeluarkan selembar uang dan langsung diberikan pada pelayan itu.

“Ini uangnya. Jika ada kembalian, ambil saja.”

“Terima kasih, Tuan.” Pria itu mengangguk dan pada akhirnya pelayan itu pergi.

“Saat ini kita akan membuat desain yang cocok untuk model kita.” Ucap Kageyama pada Miki dan dua orang pria lainnya di sana.

“Direktur ingin seperti apa desainnya?” tanya Miki yang kemudian menundukkan wajahnya menatap beberapa lembar desain yang dibawanya.

Sebelum Kageyama menjawab, tiba-tiba saja salah satu dari ke-2 pria yang duduk di sebelah Miki menyela. “Maaf, saya harus ke toilet dulu. Permisi.” Ucap pria itu dan segera undur diri mengarah ke belakang.

Mengetahui rencana itu, Kageyama berusaha menarik simpati Miki agar tidak langsung terkejut bahwa pria itu hanya melakukan aktingnya.

Dan …

“Uuummmhhh!!” perlahan namun pasti, Miki langsung pingsan ketika pria itu membiusnya dari belakang.

“Cepat bawa dia pada Meguro-san.”

Di sisi lain, seorang pria yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik orang-orang itu langsung terkejut begitu mengetahui bahwa Miki telah di bius oleh salah satu dari ketiga pria tersebut.

“Brengsek! Mereka apakan Miki-chan?! Aku harus mengejarnya!!”

Dengan cepat pria itu meletakkan cangkir kopi di meja dan langsung mengejar Miki yang di bawa pergi oleh ke-3 pria tadi.

*+*+*+*

Selama perjalanan, pria itu mengikuti ke-3 pria yang bersama Miki tadi. Sempat terpikir oleh pria yang satu ini, untuk apa mereka membawa Miki? Apa tujuan mereka? Tanpa banyak berpikir lagi, pria itu segera mengikuti ke-3 pria yang membawa Miki pergi tadi. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.

Ya Tuhan! Untuk apa mereka membawa Miki-chan ke tempat ini?” pria itu membatin. Tidak ia sangka ke-3 pria tadi telah membawa Miki ke tempat yang lumayan gelap dan kotor.

Pria itu kini mempunyai firasat buruk tentang hal yang akan dialami oleh Miki. Dengan cepat ia masuk ke dalam tempat itu dan segera menyelamatkan Miki.

Semoga saja mereka tidak bertindak macam-macam terhadap Miki-chan.

Hahaha!!! Bagus sekali Kageyama-san. Ternyata kau benar-benar direktur yang bisa aku andalkan. Aku berani jamin kalau perusahaanmu akan sukses besar.” Terdengarlah sebuah suara yang asalnya dari dalam tempat itu. Tak lain suara seorang pria.

Sebenarnya siapa dia?” pikir pria yang satu ini tampak mengenali suara seseorang yang berada di dalam.

Untungnya, di tempat itu terdapat jendela. Kini pria itu berusaha untuk melihat keadaan di dalam tempat itu melalui jendela.

“Benarkah itu suara Meguro Ren?” kata pria itu secara pelan dan kembali berkutat pada pikirannya.

Sebenarnya siapakah pria ini? Semenjak Miki keluar dari rumahnya hingga ia di sini, pria ini selalu mengikutinya. Apakah pria ini adalah pria yang sangat berarti dalam hidup seorang Sakurada Miki?

“Apa? Meguro? Untuk apa dia meminta orang-orang itu untuk membawa Miki? Lalu, siapa itu Kageyama?” 3 buah pertanyaan kini telah di ucapkan oleh pria ini sambil arah pandangan matanya menelurusi setiap sudut ruangan itu melalui sudut kiri bawah jendela tempat itu.

Terima kasih atas dukungannya, Meguro-san. Aku harap hasil kerja-ku bisa menyenangkan anda. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ujar pria yang bernama Kageyama itu dan segera undur diri. Pada awalnya pria yang mengintip di balik sudut jendela itu tampak terkejut dan segera saja ia membungkuk dan menunggu Kageyama keluar dari tempat itu.

“Dia Kageyama? Bukankah dia Direktur dari sebuah perusahaan desain ternama di Jepang ketiga setelah kedua perusahaan milik Abe Corp.? Apa motifnya membawa Miki-chan kemari?” tidak menunggu banyak waktu lagi, pria itu segera menghajar Kageyama sehingga ia jatuh tersungkur di tanah.

“Aku peringatkan kau. Dengan bukti seperti ini kau bisa di penjara.” Ujar pria itu yang mengancam Kageyama. Hal yang mendadak itu sontak membuat Kageyama membulatkan kedua matanya.

“Kau? Bagaimana kau bisa hidup?” tanya Kageyama pada pria itu.

“Ck. Pada awalnya aku memang hidup dan aku tidak bisa biarkan Miki bersama Meguro! Ah, mungkin sebentar lagi polisi akan datang kemari. Jadi, kau ikut aku masuk ke dalam!!” ucap pria itu dengan kasar dan kemudian mengangkat Kageyama secara paksa.

“Tidak!! Aku tidak akan mau!!” pria itu menatap Kageyama dengan tatapan mematikan.

“Kau juga harus di hukum karena mengikuti kehendak Meguro. Ayo!!” tanpa menunggu waktu lagi, pria itu langsung membawa paksa Kageyama kembali masuk kedalam tempat itu. ~ Tentunya untuk menemui Meguro Ren.

Di dalam, tampaklah Meguro membuat sekujur tubuh Miki berantakan. Lengan baju yang di pakainya telah di sobek oleh Meguro sendiri. Saat ini Miki masih dalam keadaan pingsan akibat obat bius yang membuatnya pingsan cukup lama.

“Ah, Miki-chan! Malang sekali nasibmu. Mulai sekarang, kau akan menjadi milik-ku sepenuhnya!!” ucap Meguro dengan santainya sembari menatap ke arah tubuh lemas Miki yang tak sadarkan diri itu.

Akan tetapi …

BBRRAAKK

Suara pintu yang terbuka dengan pukulan keras kembali terdengar. Hal itu mengejutkan Meguro yang hampir saja ingin melakukan sesuatu yang tidak berkenan pada Miki.

“Kau tidak akan pernah bisa mengambil Miki-chan dariku, Meguro!!” seorang pria yang selama ini menjadi saingan Meguro telah tampak di depan pintu itu. Lalu ia membawa Kageyama masuk juga. Pria itu mendorong Kageyama itu sehingga ia jatuh ke lantai yang cukup kotor itu.

“Kau!! Bagaimana kau bisa hidup?!” Wajah Meguro tegang seketika ketika ia mengetahui siapa pria dihadapannya itu.

“Demi menjaga keselamatan Miki-chan, aku rela hidup meskipun ia saat ini sedang membenciku.” Ujar pria itu dan segera menghampiri Meguro dan membiarkan Kageyama disana.

“Rasakan ini, brengsek!!” kini pria itu bersiap-siap melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Meguro.

BUAGH

Dengan sekali pukulan yang diberikan pria itu, Meguro langsung jatuh ke lantai.

“AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN MIKI HIDUP BERSAMAMU. MENGERTI!!” merasa tidak terima, pria itu langsung memukul lagi wajah Meguro dan menghajarnya habis-habisan.

Tak lama kemudian, Kageyama mulai berusaha untuk melarikan diri dari pria itu dan juga Meguro.

Akan tetapi …

TUING .. TUING .. (?)

Suara sirine mobil polisi telah terdengar dan hal itu membuat Kageyama terkejutnya bukan main. Dengan sigap semua petugas polisi langsung menghampiri Kageyama dan mencengkeramnya.

“Benarkah anda yang bernama Kageyama Takuya?” tanya petugas polisi itu pada Kageyama. Namun tak ada jawaban. Kemudian ia berusaha untuk bisa melarikan diri.

Tapi, “Maaf Kageyama-san. Anda akan kami tangkap karena telah membius seorang wanita dan juga gugatan korupsi.” Ucap petugas itu dan segera mengeluarkan rantai berbentuk dua buah lingkaran yang tujuannya akan di pasangkan di kedua tangan Kageyama.

“Tidak bisa, Pak!! Saya tidak korupsi!!”

“Maaf, tuan. Tapi semua pembuktiannya sudah terbukti. Jadi tuan akan kami tangkap.” Petugas polisi itu memberikan isyarat pada petugas lainnya untuk membawa masuk Kageyama ke dalam mobil polisi dan menyuruhnya untuk membawa Kageyama ke kantor polisi.

Di dalam ruangan itu ….

“Ck. Sebentar lagi kau juga akan di tangkap, Meguro! Bukankah kau dulunya pernah di penjara dan berusaha kabur?” ucap pria yang sejak tadi menghajar Meguro habis-habisan di dalam ruangan itu.

Meguro mendesis kesal. Kali ini usahanya untuk memuaskan diri atas gadis bernama Miki telah sia-sia untuk ke-sekian kalinya.

“Maaf, Abe-san. Kami sedikit terlambat.” Tak menunggu banyak waktu, petugas polisi itu langsung masuk ke dalam

Pada akhirnya, terungkaplah siapa pria ini sebenarnya.

“Terima kasih, Miyachika-san.” ucap pria bernama Abe itu dan segera menyerahkan Meguro yang dalam keadaan lemas. “Selamat bersenang-senang di penjara, Meguro Ren!” bisik Abe di telinga Meguro dan tersenyum licik setelahnya.

“Awas kau, Abe Aran!! Aku tidak akan tinggal diam!!” ketus Meguro yang geram akan perbuatan Abe dan kemudian ia segera di pasangkan rantai berbentuk dua buah lingkaran di bagian pergelangan tangannya.

Setelahnya, Petugas polisi bernama Miyachika itu segera menyerahkan Meguro pada petugas polisi yang lainnya.

“Miyachika-san, terima kasih atas bantuannya.” Ucap Abe yang berterima kasih pada petugas polisi  itu.

“Tidak masalah. Sekarang aku akan mengantarmu dan Sakurada-san pulang. Kasihan dia.” Suara Miyachika merendah.

Kini pandangan kedua pria itu mengarah pada Miki yang masih dalam keadaan pingsan itu dengan tatapan sedihnya. Begitu pula dengan Abe. Kemudian ia menghampiri Miki dan menopang tubuh lemasnya itu untuk diantarkan kembali ke rumahnya.

“Ikut denganku saja. Aku pasti akan mengantar kalian pulang.” Ucap Miyachika menawarkan.

“Terima kasih.” Ucap Abe dan segera membawa Miki masuk ke dalam mobil polisi.

Kali ini Miyachika mengantar mereka sampai di kediaman Sakurada.

*+*+*+*

Keesokan harinya …

“Ummhh..” Seorang gadis kini menggeliat.

Gadis itu ialah Sakurada Miki. Ternyata, obat bius yang diberikan padanya itu telah membuat dirinya terlelap sampai pagi.

“Ah~ Miki-chan daijoubu ka?” suara khas sahabat Miki, Haruno Hana, kembali terdengar. Ia terkejut ketika mengetahui Miki telah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar.

“Di mana aku?” tanya Miki dengan lemas.

“Di rumah. Tadi malam, Abe-san yang membawamu kemari.” Ketika Hana mengakatan nama ‘Abe-san‘, Miki langsung terbangun dan membulatkan matanya.

“Apa? Aran-kun yang membawaku kemari? Benarkah itu? Tapi, kenapa kau tidak membangunkanku tadi malam? Lalu bagaimana bisa?” mendadak suara Miki memelas seiring beruntun pertanyaan yang ia lontarkan.

Namun, Hana tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Maaf. Tapi tadi malam Abe-san membawamu dalam keadaan pingsan, jadinya ya, aku tidak berani membangunkanmu.” Ucap Hana dan pada akhirnya ia menunduk.

TOK TOK TOK

Suara pintu kamar Miki terdengar. Membuat Miki maupun Hana terkejut. Tak lama kemudian Miki bangkit dari ranjangnya dan menghampiri pintu kamarnya.

Oniichan?” sapa Miki ketika mengetahui sang pengetuk pintu kamarnya adalah kakaknya, Sakurada Dori.

“Mulai sekarang, kalian berdua lekas mandi. Hari ini juga kalian berdua akan menikah bersama-sama.” Baik Miki maupun Hana langsung kebingungan ketika mendengar ucapan Dori barusan.

Namun, beberapa detik kemudian Hana mendadak ingat sesuatu. “Ah, iya. Hari ini kita berdua mulai menikah.” Ucap Hana yang sama seperti apa yang di ucapkan oleh Dori.

“HAH?! Ta-tapi, aku tidak tahu pengantin prianya. Jadi bagaimana bisa kalau aku menikah tanpa mengetahui pengantin prianya. Lalu bagaimana dengan pemberkataannya?” Miki pun langsung panik jika berkenaan dengan masalah ini.

“Semuanya sudah beres, kau tetap akan melakukan pemberkatannya dan tanpa mengetahui terlebih dulu pengantin prianya. Sudahlah, kamu turuti apa kataku. Aku berani jamin kau pasti bahagia.” Ucap Dori dan segera mendorong pelan tubuh Miki untuk masuk ke dalam kamar mandi.

Bagaimana pun juga Miki tetap menurut pada kakaknya itu. Meskipun dari dalam hatinya ia masih bertanya-tanya dan berharap bahwa pengantin prianya adalah pria yang sangat dinantikan kehadirannya sekaligus dicintainya.

Abe Aran~

*+*+*+*

Persiapan pun telah selesai, kini Miki dan juga Hana sudah bersiap menuju ke salon untuk melakukan make up. Wajah Miki tidak bahagia saat ini. Bagaimana bisa dia menikah tanpa tahu pengantin prianya?

“Sudahlah Miki-chan. Aku yakin kau pasti bahagia nantinya. Jangan cemberut begitu. Nanti kau jadi jelek loh!” Hana berusaha membuat sahabatnya yang satu ini tersenyum dan tertawa.

Tapi, sepertinya hal itu tidak membuahkan hasil.

“Apakah ini kejutan?” tanya Miki yang penasaran.

“Hmm .. mungkin .. hahaha!! Nanti juga kau akan mengetahuinya sendiri.”

Selama perjalanan mereka menuju salon, bahan pembicaraan kini selalu di perbincangkan oleh kedua insan yang bersahabat ini.

.

.

Skip 3 hour …

Pada jam 10 pagi waktu setempat, Miki maupun Hana sudah berdandan dengan rapi. Tudung yang di kenakan oleh Miki lumayan tebal sehingga saat tirai itu menutup wajahnya, ia tidak akan mengetahui siapa pengantin prianya. Lebih parahnya lagi, disaat pengantin pria nya mengucapkan janji suci di depan altar nanti, Miki di berikan sepasang earphone kecil supaya suara dari pengantin pria nya tidak di ketahui. Hal ini sempat membuat Miki sebal bukan main. Tapi mau bagaimana lagi?

Pada jam 12 siang, acara pemberkatan pun telah selesai. Tudung milik Miki masih tertutup hingga ia sampai pada sebuah hotel. Begitu pula dengan Hana. Tetapi, Hana masih bisa mengetahui suara pengantin prianya. Tapi, tidak bagi Miki.

“Sudah sampai. Untuk sementara ini aku buka tudungnya ya.” Ucap Hana ketika mereka sudah sampai di hotel dan segera membuka tudung milik Miki dan mengangkatnya sampai ke belakang kepalanya dan kemudian menjuntai ke bawah.

“Huh, menyebalkan. Bagaimana bisa seperti ini?” Miki pun memasang raut wajah cemberutnya itu sehingga membuat Hana tertawa tertahan. “Kamu juga kenapa tertawa?” tanya Miki dengan sebal.

“Hahaha! Kamu lucu sekali, Miki-chan. Sudahlah, percaya saja sama aku dan juga Dori-niisan. Aku yakin kamu nanti bahagia.”

Mulai saat itu juga, Miki maupun Hana beristirahat sejenak sebelum nanti malam melakukan resepsi pernikahan dengan Miki yang tidak mengetahui pengantin pria nya dan Hana yang tentu saja dengan Nagatsuma Reo.

.

.

Pada jam 6.30 PM, Miki dan Hana sudah berada di kursi pengantin yang terletak di atas panggung. Semua tamu undangan sudah pada berdatangan. Dori beserta lainnya sedang menerima tamu undangan yang masuk kedalam.

Para tamu undangan sempat kebingungan dengan tidak adanya pengantin pria. Dan beberapa di antaranya juga berpikir bahwa para pengantin prianya datang belakangan. Hal itu membuat Miki semakin panik dan Hana malah berlaku sebaliknya.

“Sebentar lagi, Miki-chan. Aku yakin kau pasti langsung senang.” Bisik Hana pada Miki yang masih panik. Tapi, ia mencoba untuk percaya pada sahabatnya itu.

“Selamat malam para tamu undangan sekalian. Pada malam hari ini, saya Tsukada Ryoichi akan menjadi pembawa acara. Baiklah!! Kita sambut kedatangan dua pengantin pria.” Ujar sang MC sambil mengarahkan tangan kanannya menuju ke sudut depan ruangan itu. Tepat di jalan yang digunakan sebagai jalan keluar masuk.

Tiba-tiba saja tim pemusik langsung menyiapkan diri … dan hal itu mengejutkan Miki.

kimi e no omoi wa icchokusen sora kakeru

Bukankah ini suara Aran-kun?

nē konya wa kimi mo (get close to me) onaji yumemi teru ka na
yozora ni hashigo o kakete mukae ni ikou ka

Lalu ia bernyanyi dengan siapa?

furueru kimi no te ni atsui kisu kisu kisu on aisu
sora tobu neko ga iru to iu nara boku wa shinjiru yo
itoshii kimi no te ni atsuku kisu kisu kisu on aisu
(kisu on aisu)
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara
daisuki desu daisuki desu daisukidesu (kisu on aisu)
daisukidesu daisukidesu daisuki desu (kisu on aisu)

Aku berharap Aran-kun cepat muncul sehingga kau tak perlu khawatir lagi

kimi to issho ni iru to itsu datte senobi shi te
hontōwa mahō datte tsukaeru to omot teru

Ah~ kenapa Nagatsuma-san yang baru keluar?

kimi wa arisu ja nai ( get close to me) hoshizora no michishirube
mayowa zu tadori tsuke tara kono mune no naka e

Suara Aran-kun … aku yakin ini suaranya … tapi dimana dia?

dakishime te ageru yo hanare ran nai unmei da yo
mise te ageru sa kono iryūjon kitto shinjiru yo
donnani hanare te ite mo itsumo all my love to you (love to you)
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara

Setelah pemuda yang bernama lengkap Nagatsuma Reo itu menampakkan dirinya dengan setelan jas berwarna abu-abu terang, kini tampaklah seorang pemuda lagi setelahnya.

Aran-kun? Benarkah ini suara Aran-kun? Pria yang selama ini ku nanti kehadirannya?

daisuki desu daisuki desu daisukidesu (love to you)
daisukidesu daisukidesu daisuki desu (love to you)

daisukidesu kisu on aisu

daisuki desu Yes kisu on aisu

(Pada lirik ini, Aran maupun Reo mulai berjalan bersamaan menuju ke panggung …)

I’ll sing for you kono hoshi ni negai wo
Dreamin’ with you kimi o hitorijime shitai yo

1000 nen saki mo issho da yo yubikiri shiyo u endoresurabu

sora tobu neko ga iru to iu nara boku wa shinjiru yo
itoshii kimi no te ni atsuku kisu kisu kisu on aisu
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara

Sesampainya mereka di atas panggung, segera saja Aran dan Reo menghampiri istrinya masing-masing. Aran pun pada akhirnya menyentuh tangan Miki. Begitu pula dengan Reo yang  menyentuh tangan Hana.

Kedua pasangan tersebut saling memandang satu dengan yang lain. Saat ini, Aran dapat memandang wajah cantik istrinya yang dulu pernah disakitinya. Namun, ia bertekad untuk terus mencintai Miki sampai akhir hidupnya ~ah~ sampai maut memisahkan mereka berdua.

I’ll feel better when the season’s gone
kimi wa boku no mono dayo
You’ll feel better when the season’s gone
boku wa kimi no mono dayo

daisuki desu daisuki desu daisukidesu

daisukidesu daisukidesu daisuki desu

Setelah lagu ini berakhir … Aran langsung mencium bibir tipis Miki dengan lembut. Kemudian Reo pun juga langsung mencium bibir tipis Hana.

Sorak-sorai tamu undangan kembali terdengar …. membuat pesta pernikahan ini semakin meriah.

Okaerinasai …. Abe Aran …. Suami-ku …

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s