[Multichapter] Le ciel e Youkoso (chap 4)

Tittle               : Le ciel e Youkoso : Take Your Chance
Author           : Fuchii & Aquina
Genre             : AU, Slice of Life
Cast               : Lewis Jesse, Tanaka Juri, Morimoto Shintaro, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo (SixTONES); OC
Disclaimer    : SixTONES members are under Johnnys & Associates

 potato_201701_14-copy

Project natal yg terinspirasi oleh photoshoot di majalah Potato edisi Januari 2017. Mohon maaf apabila ada typo dan alur yg terkesan cepat karena author sendiri ngerjainnya ngebut demi ngejar natal meskipun ujung-ujungnya ga dipost pas natal juga X’D

Selamat menikmati! Ditunggu komennya~ :3

*****

“Le ciel e youkoso.”

Ucap keenam pelayan tampan saat pelanggan membuka pintu kaca Café itu. Jangan lupakan senyum ramah mereka setiap kali melayani para pelanggan.

Le ciel Café yang hanya buka saat menjelang natal. Café itu selalu penuh setiap harinya. Café yang buka pada hari Senin hingga Kamis pukul 10 siang hingga jam 6 sore selama satu bulan tepat sebelum hari natal. Café yang sangat terkenal dikalangan remaja putri bukan hanya karena pelayannya merupakan pemuda yang tampan ataupun makanan dengan rasa yang enak, tapi berdasarkan rumor yang beredar, pelayan dari Café ini akan menemanimu dan membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi. Tentu saja servis itu tidak semata-mata dapat kalian minta saat datang ke sana seperti kalian memesan cheesecake ataupun milkshake, bisa dibilang itu adalah secret service Le ciel Café.

Berdasarkan rumor juga, jika kalian datang ke Café ini saat sedang memiliki masalah, entah bagaimana cara mereka mengetahuinya, salah satu dari pelayan itu akan memberi kalian secarik kertas berwarna yang bertuliskan “Kau bisa bicara denganku jika kau sedang memiliki masalah” beserta dengan nama si pelayan juga tempat dan waktu yang dia berikan untuk pertemuan.

Pelayan itu akan menunggu kalian seharian di tempat pertemuan itu. Karena saat itu ada seorang gadis yang pada mulanya tak mempercayai tulisan yang tertulis pada kertas kecil itu. Namun akhirnya ia memutuskan untuk datang untuk memastikan apakah hal itu benar atau tidak. Pelayan itu menuliskan untuk bertemu pada jam 11 siang, namun gadis itu baru sampai di sana pada pukul 7 malam, dan pelayan itu masih setia menunggu di sana. Tak ada ekspresi kekesalan pada wajah pemuda itu, sebaliknya, ia malah tersenyum dan berkata, “Akhirnya kau datang juga. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Jadi, maukah kau menceritakan hal yang mengganggu pikiranmu? Aku akan membantumu.”

*****

Helaan napas lega keluar dari mulut Hirose Nanami. Pasalnya, setelah menunggu hampir dua puluh menit, ia akhirnya mendapatkan tempat duduk di Le Ciel café. Awalnya Nanami sempat ingin menyerah dan pulang saja melihat betapa ramainya café itu saat ia datang. Tapi jika mengingat bagaimana perjuangannya-Nanami sempat beberapa kali salah jalan sehingga perjalanannya memakan waktu dua kali lebih lama dari yang seharusnya-untuk kemari, Nanami merasa sayang kalau ia kembali pulang begitu saja tanpa setidaknya masuk dan melihat bagian dalam café tersebut. Maka di sinilah Nanami sekarang, duduk menunggu pesanannya datang di meja yang terletak tidak jauh dari kasir sehingga ia bisa mengawasi kasir yang sedang bertugas sekarang. Name tag yang tersemat di kemeja putihnya bertuliskan ‘Yuu’. Nanami tidak tahu apakah itu nama asli atau sekedar inisial, tapi jika melihat Yuu yang selalu tersenyum ramah kepada setiap orang, ia sempat berasumsi kalau namanya diambil dari kanji yasashii yang mempunyai arti baik dan ramah. Mengingatkan Nanami pada seseorang…

Nanami yang kemudian tanpa sadar mengunci pandangannya pada Yuu, dibuat malu sendiri ketika pelayan dengan rambut dicat coklat itu balik tersenyum ke arahnya sambil menunduk singkat. Nanami segera balas menunduk singkat kemudian mengalihkan pandangannya pada meja kayunya yang masih kosong. Mencoba menyembunyikan ekspresi malu dan salah tingkahnya.

“Pesanan atas nama Nanami?”

Nanami mendongak. Mendapati seorang pelayan bertubuh tinggi sedang berdiri di depannya sambil membawa nampan dengan tangan kanannya. Pandangan Nanami kemudian teralihkan dari wajah manis sang pelayan menuju name tag-nya yang bertuliskan ‘Shichisei dengan hiasan beberapa bintang membentuk rasi yang Nanami lupa namanya.

“Iya,” ucap Nanami kemudian ketika menyadari kalau pelayan di depannya sedang menunggu jawabannya.

“Selamat menikmati,” ucap sang pelayan sambil tersenyum cukup lebar untuk membuat mata sipitnya terlihat hampir segaris.

Nanami kemudian menatap pesanannya di meja. Secangkir Earl Grey panas dan sepotong Strawberry Shortcake. Bibir mungil Nanami kemudian membentuk senyum. Teh panas untuk cuaca yang dingin dan sepotong kue untuk perutnya yang mulai lapar. Sempurna. Setidaknya satu detik sebelumnya dia berpikir begitu. Sampai tanpa sengaja pandangannya kembali tertuju pada Yuu yang sedang melayani pelanggan sambil tersenyum ramah.

Tak tahu kenapa, jantung Nanami serasa dicengkeram begitu melihat senyum Yuu barusan. Ia tahu betul bahwa pelayan yang menampakkan senyum ramah pada pelanggan adalah hal biasa. Sama sekali bukan sesuatu yang spesial. Tapi… entah kenapa terasa berbeda begitu Nanami menemukan satu lagi kemiripan Yuu dengan seseorang yang hampir setahun terakhir berhasil mengusik pikirannya. Jika dilihat dari samping, postur Yuu terlihat mirip dengan…

“Oh, ayolah… dia orang yang sama sekali berbeda,” gerutu Nanami pada dirinya sendiri. Ia kemudian menghela napas-cukup keras untuk didengar orang yang duduk di meja di sebelahnya-kemudian menusuk stroberi yang bertengger di atas kuenya dengan garpu. Sedikit kelewat bertenaga sehingga cake-nya hampir terbelah menjadi dua. Lalu, tanpa mempedulikan sekitarnya, Nanami memakannya dengan semangat menggebu-gebu seolah itu adalah Strawberry Shortcake terakhir dalam hidupnya. Walau sebenarnya ia hanya sedang berusaha memikirkan hal lain. Seperti betapa manisnya stroberi yang dipakai untuk kuenya dan sensasi krim yang lumer begitu masuk ke mulutnya…

Tapi sayangnya hal itu hanya berhasil untuk beberapa saat. Semakin ia mencoba untuk memikirkan hal lain, semakin jelas bayangan orang itu di pikiran Nanami. Gadis itu kemudian menghela napas lagi, kali ini dengan tingkat frustasi yang lebih tinggi. “Kenapa susah sekali sih? Padahal dia bukan siapa-siapa…”

Merasa dirinya akan semakn frustasi jika tidak melakukan hal yang lain, Nanami menyambar buku menu yang ada di sebelahnya. Membuka dan menyusuri halamannya dengan cepat kemudian mengangkat tangannya. “Sumimasen.”

Pelayan yang tadi melayani Nanami, yang kebetulan baru saja mengantarkan pesanan ke meja di dekatnya dan sedang dalam perjalanan kembali ke counter, segera membelokkan langkahnya ke arah Nanami. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang pelayan dengan nada lembut.

Nanami menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membuka mulutnya. Ia kemudian menyodorkan buku menu yang dipegangnya dalam keadaan terbuka ke arah sang pelayan. “Aku ingin pesan ini, ini dan ini,” tunjuk Nanami yang merasa tak perlu repot-repot menyebutkan nama menunya.

“Baik, akan segera saya antarkan,” ucap sang pelayan setelah mencatat pesanan Nanami.

Sembari menunggu pesanannya datang, Nanami mencoba menyibukkan diri dengan mengutak-atik ponselnya. Entah sekedar men-scroll timeline media sosialnya, memberi makan hewan peliharaan virtualnya atau sekedar melihat-lihat foto di galerinya. Yang penting perhatiannya teralihkan, begitu pikir Nanami. Tapi sekali lagi semua usahanya terasa percuma begitu matanya tanpa sengaja menangkap sosok Yuu yang sedang tersenyum meski hanya sekilas. Untungnya, detik berikutnya pesanannya-Cheese Tart, Blueberry Cheese Cake dan Strawberry Mille-feuille-datang. Maka setelah tersenyum sebagai tanda terima kasih, Nanami mengambil garpunya dan mulai melahap cake-nya satu per satu. Sepertinya lebih cepat dia meninggalkan café ini, lebih baik untuk kesehatan hatinya.

Sekitar lima belas menit kemudian, setelah membayar bill-nya tentunya, Nanami keluar dengan perasaan sedikit lega meski sempat hampir terantuk pintu kaca karena terburu-buru saat keluar. Dia bahkan masih memegang dompet dan struknya di tangan. Begitu sudah berada di luar dan merasa dirinya tidak akan memutar badan untuk melihat Yuu lagi, Nanami membuka tasnya lalu memasukkan barang-barang tersebut ke dalamnya. Saat itu ia baru menyadari bahwa dirinya tidak hanya sekedar menerima struk. Ada amplop kecil berwarna hitam terselip di baliknya.

Kening Nanami berkerut. “Apa ini?” ucapnya sambil membolak-balik amplop tersebut. Ada seal berbentuk bintang berwarna perak di baliknya tapi tidak ada catatan apa-pun. Masih dengan tanda Tanya besar terukir di wajahnya, Nanami membuka amplop tersebut. Oh, bukan amplop ternyata. Melainkan kartu ucapan yang dilipat seperti amplop. Di dalamnya, ada serangkaian kalimat yang ditulis dengan tinta berwarna putih di atas kertas hitam tersebut.

“Pertama kalinya aku melihat perempuan yang makan dengan penuh semangat seperti itu. Kau suka cake? Kudengar ada toko cake enak di depan stasiun. Aku menunggu ceritamu di sana minggu depan di hari yang sama pukul 2 siang.

-Hokuto-“

Oh… Nanami baru ingat sekarang. Rasi bintang yang tergambar di name tag sang pelayan adalah Hokutoshichisei. Jadi… nama pelayan tadi adalah Hokuto, ucap Nanami dalam hati. Tapi tunggu! Apakah ini seperti rumor yang beredar? Tentang para pelayan Le Ciel Café yang entah bagaimana caranya bisa tahu kalau pengunjungnya sedang ada masalah dan memberi secarik kertas berisi ajakan untuk bertemu… Apakah rumor ini benar? Atau hanya sekedar kelakuan iseng saja?

Berbagai pertanyaan muncul di benak Nanami. Awalnya gadis itu sempat berniat untuk memutar langkah kembali memasuki café tersebut untuk memastikan kebenaran pesan yang ada di tangannya, tapi karena satu dan lain hal, ia mengurungkan niatnya dan memutuskan bahwa hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Minggu berikutnya dilewatkan Nanami dengan membayangkan pelayanan macam apa yang akan ia dapatkan dari Hokuto. Serta berbagai macam pertanyaan yang ingin ia limpahkan kepada pelayan tersebut. Tentang bagaimana dia bisa tahu, kenapa Nanami yang merasa tidak punya masalah serius bisa mendapatkan pesan tersebut dan masih banyak lagi untuk disebutkan.

Tapi… bicara soal masalah, saat ini masalah itu sedang berada tepat di depan Nanami. Berwujud seorang laki-laki dengan perawakan tinggi ramping, berpotongan cepak, dan memakai kacamata oval berbingkai tipis. Sedang menerangkan program kerja pengurus OSIS untuk awal tahun depan di papan tulis.

Yazawa Naoki, siswa tahun kedua di SMA yang sama dengan Nanami. Tak hanya menjabat sebagai ketua OSIS, Naoki-senpai–begitulah kebanyakan siswa lain memanggilnya–juga sering mendapat nilai tertinggi di angkatannya. Selain itu, sifatnya yang ramah dan supel membuatnya akrab dengan hampir semua angkatan. Tak terkecuali para guru. Oh, Naoki-senpai juga sering menjadi perwakilan kelasnya setiap festival olahraga. Tapi ia tidak mengikuti klub apapun dengan alasan ingin fokus belajar. Tipikal pangeran serba bisa di manga shoujo yang sering Nanami baca.

Karena itu, adalah sesuatu yang biasa jika tidak sedikit siswi di sekolah Nanami yang mengidolakannya. Tak terkecuali Nanami.

Tapi, belakangan ini Nanami mulai merasa kalau perasaannya kepada Naoki-senpai sudah berkembang dari sekedar kagum menjadi suka. Dan karena ia telah menyadari perasaannya itu, Nanami merasa semakin sulit untuk bertatap muka–bahkan berpapasan–dengan Naoki-senpai.

Tenggelam dalam pikirannya akan Naoki-senpai, tanpa sadar Nanami menghela napas. Tidak terlalu keras memang. Tapi karena ruang rapat OSIS yang cukup sempit dengan banyaknya rak-rak berkas yang mengelilingi ruangan dan tidak ada orang lain yang berbicara selain Naoki-senpai, semua orang di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah Nanami. Tak terkecuali Naoki-senpai. Sepertinya merasa penjelasannya diinterupsi.

Bahkan tanpa melihat cermin sekalipun, Nanami tahu betul kalau wajahnya pasti memerah sekarang. Ia kemudian buru-buru menggeleng sekuat tenaga dan membuat alasan. “I-ini tidak ada hubungannya dengan rapat kok…. Aku… tiba-tiba ingat kalau belum mengerjakan tugas dari Kuroda-sensei,” ia mengakhiri kalimatnya dengan cengiran canggung menahan malu sambil mencengkeram rok seragamnya. Berharap sepenuh hati semua orang segera berhenti menatapnya.

Naoki-senpai terkekeh, “Selesai rapat segera kerjakan, ya?!”

Mendengar hal itu, sungguh… tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diri Nanami untuk masuk ke kolong meja. Tak sanggup menahan malu.

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa ada hal yang berarti. Keseharian Nanami yang mayoritas dihabiskan di sekolah, berlalu seperti biasa. Beruntungnya, tidak ada anggota OSIS yang iseng membahas insiden saat rapat terakhir kali sehingga Nanami tidak terlalu malu setiap kali berpapasan dengan Naoki-senpai yang masih ramah seperti biasa. Setidaknya…

Semua kegiatannya berjalan lancar hingga tiba saatnya ia menemui Hokuto. “Benar-benar datang tidak ya…?” gumamnya pelan mengutarakan kegelisahan hatinya sambil melangkahkan kaki masuk ke toko kue yang pemuda itu maksud.

Nanami yang sengaja datang setengah jam lebih awal karena takut terlambat, kini memandang menelusuri toko dengan kesan vintage tersebut–dimana sebagian besar ornamennya terbuat dari kayu sehingga mempunya kesan hangat–tapi tidak menemukan sosok tinggi Hokuto di antara beberapa pelanggan yang duduk di sana.

“Apa belum datang ya…?!” gumamnya lagi kemudian memutuskan untuk memesan secangkir teh sebelum memilih tempat duduk di meja yang menghadap ke pintu sehingga ia bisa tahu jika Hokuto datang.

Nanami menyeruput pelan tehnya yang mengepulkan uap panas sambil menatap orang-orang yang lalu lalang di jalanan lewat pintu toko yang kaca tembus pandang. Tapi hal itu tak bertahan lama karena Nanami segera mengalihkan pandangan ke layar ponselnya sekedar untuk mengecek notifikasi terbaru. Tapi karena tidak ada satu pun yang masuk, ia bermaksud meletakkan ponselnya di atas meja.

“Selamat siang, Nanami.”

Salam yang tiba-tiba itu sukses membuat Nanami kaget dan menjatuhkan ponselnya ke meja dalam usahanya untuk membekap mulutnya dengan kedua tangan sehingga ia tidak berteriak. Ia kemudian menoleh ke sumber datangnya suara tanpa menurunkan tangannya. Dilihatnya seorang laki-laki dengan coat berwarna gelap di atas kemeja putih yang dilapisi kardigan berwarna biru muda buru-buru menaruh nampan berisi dua potong kue di atas meja dan mendekati Nanami. “Kau tidak apa-apa? Maaf membuatmu kaget.”

Nanami mengangguk pelan sebagai jawaban, mencoba memberitahukan bahwa ia baik-baik saja. Kecuali fakta bahwa kini jantungnya tengah berdetak tak karuan. Awalnya karena kaget kemudian ditambah syok ketika dia melihat wajah Hokuto dengan jarak cukup dekat.

“Syukurlah kalau begitu,” ucap laki-laki tersebut yang kemudian menarik kursi di depan Nanami lalu duduk. Ia membenarkan kacamata tanpa lensa berframe bulat yang sebelumnya sedikit melorot kemudian melepas mantel yang dikenakannya. Membuat Nanami ber’ah’ pelan, baru sadar bahwa ia masih mengenakan mantel berwarna peach yang merupakan kesayangannya. Ia buru-buru melepasnya juga meski dengan pipi semburat merah menahan malu. Begitu selesai, ia kembali menatap Hokuto yang kini tersenyum lembut ke arahnya.

“Salam kenal, Nanami. Namaku Hokuto.”

Butuh hampir satu detik bagi Nanami untuk akhirnya bisa membalas perkenalan Hokuto, “Salam kenal,” ucapnya sambil menunduk singkat. Tidak tahu harus berkata apalagi karena–entah bagaimana caranya–sepertinya Hokuto sudah tahu namanya. Membuatnya merasa kagok karena terlihat lebih gugup daripada yang sebenarnya.

Hokuto terkekeh pelan, “Santai saja. Jangan gugup begitu. Anggap saja kita sudah kenal lama. Lagipula mana bisa kita bercerita kalau kau kaku begitu?” ia kembali terkekeh pelan di akhir kalimatnya.

“Ber…cerita…?” ulang Nanami pelan. Meski ia segera mengingat alasannya datang menemui pemuda tersebut setelah bertanya. Sepertinya syoknya belum hilang sepenuhnya.

“Oh, maaf. Sepertinya aku lupa menuliskannya di surat yang kuberikan padamu. Yang pasti tujuanku kemari bukan hanya untuk melihatmu makan cake dengan semangat, tapi juga mendengarkan keluh kesahmu,” Hokuto tersenyum cukup lebar di akhir kalimatnya hingga kedua gigi taring atasnya terlihat. “Dan karena kulihat kau tidak memesan cake sama sekali,” ia memberi jeda di antara kalimatnya kemudian memindahkan sepotong cake di atas nampan yang tadi dibawanya ke depan Nanami dan sepotong lagi untuk dirinya sendiri. “Makanlah, jangan sungkan-sungkan, hari ini aku yang traktir karena kau clientku. Makan-makanan manis bisa membantu menaikkan mood loh,” tambahnya kemudian.

Setelah Nanami mengucapkan terima kasih, beberapa menit berikutnya dilewatkan dengan makan cake–meski begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di otak Nanami mengenai Hokuto sampai ia tak tahu harus mulai darimana–hingga Hokuto kembali membuka topik pembicaraan baru.

“Jadi… kau punya orang yang kau suka?”

Pertanyaan yang begitu tiba-tiba dan tepat sasaran itu berhasil membuat gerakan Nanami terhenti dan menatap laki-laki tersebut dengan mata melebar.

“Wah, tepat sasaran ya?! Padahal aku cuma menebak saja.”

Ingin rasanya Nanami mengumpat saat itu. Asal menebak atau apalah, Hokuto hampir saja membuat jantungnya copot untuk yang kesekian kali. “B-bagaimana kau tahu?”

“Seperti yang kubilang, aku hanya menebak. Tidak tahunya langsung benar hanya dengan sekali mencoba,” jelasnya kemudian.

Nanami yang sedari tadi menyimpan rasa penasarannya untuk dirinya sendiri, kini memutuskan untuk membuka mulut dengan kening berkerut menatap pemuda yang tempo hari ia temui sebagai pelayan cafe yang sedang digemari oleh kalangan remaja seumuran Nanami tapi kini berbicara dengan santainya seolah mereka benar-benar sudah kenal sejak lama. “Ne…”

“Ya?”

“Sebenarnya kau siapa?”

Awalnya Hokuto hanya membalas pertanyaan Nanami dengan senyum lebar yang membuat matanya semakin terlihat sipit. Ia menggeser piring tempat cake yang sudah habis dimakan ke samping kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan menambahkan kesan intens kemudian menaikkan kedua lengannya ke atas meja untuk menumpu badannya. “Aku memang cuma seorang pelayan cafe yang mungkin kau anggap tidak sopan karena tidak menambahkan embel-embel ‘san’ di belakang namamu padahal kita baru dua kali bertemu. Dua kali juga aku membuatmu menjatuhkan ponselmu, aku minta maaf soal itu.” tambahnya. “Tapi aku juga seorang pelayan cafe yang akan mendengarkan ceritamu dan membantumu semampuku. Aku yakin kau pasti sudah mendengar rumor tentang ini dari seseorang. Apa itu sudah cukup menghilangkan rasa penasaranmu?”

Nanami hanya mengangguk mengiyakan. Toh setidaknya rasa penasaran yang mengganjal hatinya sudah sedikit lebih ringan.

Hokuto kembali tersenyum. “Aku tidak memaksamu, tapi aku di sini untuk mendengarkan ceritamu. Apapun itu.”

“Tapi… aku tidak…” kalimat Nanami terhenti.

“Tidak punya hal untuk diceritakan? Lalu kenapa kau mendesah keras waktu datang ke cafe minggu lalu? Beberapa pelanggan lain ada yang melihatmu dengan bingung loh!”

Nanami mendadak merasa semburat merah kembali muncul di pipinya lalu tanpa sadar menyuarakan isi hatinya sembari menghindari tatapan Hokuto. “Jangan diungkit bagian itu. Aku malu…”

Hokuto kembali terkekeh pelan. “Oh, maaf,” katanya kemudian begitu sadar hal itu membuat clientnya semakin menciut malu. “Habisnya Nanami lucu sih!”

“Jangan menggodaku!” tanpa sadar Nanami menaikkan nada bicaranya. “M-maaf, aku tidak bermaksud…”

“Tak apa. Jadi… mau menceritakan masalahmu padaku?”

Nanami terdiam selama beberapa saat. Meski rasa ragu untuk menceritakan hal pribadi pada orang yang baru ia temui lebih besar, ada keinginan kuat juga yang mendorong dirinya untuk bercerita pada Hokuto. Setelah merasa mantap, Nanami menegakkan badannya lalu menatap netra Hokuto dengan seksama dan mulai bercerita.

“Begitu rupanya,” ucap Hokuto sambil manggut-manggut perlahan setelah mendengar cerita Nanami sampai tuntas. “Jadi hubungan kalian selama ini tidak pernah jauh dari anggota organisasi dan ketuanya?”

Nanami mengangguk mengiyakan, “Iya, aku sama sekali tidak punya keberanian untuk memulai pembicaraan dengan Naoki-senpai di luar organisasi.”

“Kenapa?”

DEG!

Pertanyaan dari Hokuto yang terdiri dari satu kata singkat itu kembali membuat jantungnya mencelos. “Kenapa…?” ia mengulang kembali pertanyaan tersebut untuk dirinya sendiri kemudian menjawabnya dengan jawaban yang menurutnya paling tepat selama ini. “Aku… takut kalau ketahuan suka Naoki-senpai. Aku hanya murid biasa sedangkan  Naoki-senpai adalah idola di sekolah…”

“Lalu?”

“Eh?” kening Nanami berkerut. Tak memahami maksud pertanyaan Hokuto barusan.

“Bukankah tidak ada hubungannya?”

“Mungkin…” jawab Nanami pelan.

“Kalian memiliki banyak kesempatan bertemu dan berinteraksi tapi sama sekali tidak kau gunakan? Sayang loh!”

“Memang sih… tapi…”

“Tapi?” ulang Hokuto.

“Aku takut… lagipula… sepertinya ini hanya sekedar rasa kagum.”

“Tidakkah kau pikir kalau kau takut karena tidak pernah mencoba?”

Kali ini, beban berat seolah menekan dada Nanami hingga terasa sesak. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sadar betul bahwa yang dikatakan Hokuto itu benar. Nanami yang selama ini terus menahan diri dan menyembunyikan perasaannya dari orang yang ia sukai karena takut ditolak seketika merasa bahwa ia sudah kalah duluan sebelum mencoba.

“Kau tahu, mungkin di luar sana ada orang yang ingin berdiri di posisimu tapi tidak bisa. Kalau dipikir seperti itu, bukankah kau beruntung bisa punya kesempatan bersamanya? Kesempatan memang datang berkali-kali, tapi kesempatan yang sama tidak datang dua kali loh!”

Tatapan Nanami melebar begitu Hokuto mengakhiri kalimatnya. Perasaan yang bercampur aduk mendadak bergejolak di hati Nanami. Ingin rasanya ia berlari saat itu juga dan menemui Naoki-senpai dan menyatakan perasaannya selagi dia masih punya keberanian.

“Terlepas dari bagaimana sebenarnya perasaanmu padanya, coba ambil satu langkah maju. Semuanya tergantung pada dirimu.”

***

Nanami menarik napas dalam-dalam. “Yosh!” katanya memantapkan hati sebelum melangkahkan kakinya memasuki ruang rapat OSIS. Beberapa hari sejak pertemuan terakhirnya dengan Hokuto, Nanami terus memupuk tekadnya untuk mengambil satu langkah maju seperti yang Hokuto katakan. Meski butuh waktu cukup lama dan rasa takutnya masih cukup besar, ia merasa akan terus berada di titik yang sama jika dia tidak bergerak. “Sekaranglah waktunya,” ucapnya dalam hati untuk memberi semangat kepada diri sendiri.

Nanami menggeser pintu ruang rapat OSIS terbuka lalu mengucapkan salam, “Konnichiwa.”

Hanya ada Naoki-senpai saja di dalam ruang tersebut. Lalu mendadak Nanami merasa semangat yang ia kumpulkan selama beberapa hari ini menguap begitu saja. Dia memang berencana ‘melangkah maju’ tapi tidak menyangka saat dimana ia memutuskan hal tersebut, detik berikutnya ia mendapati dirinya akan berdua saja dengan orang yang merupakan tujuannya. Apalagi ketika Naoki-senpai membalas salamnya dan menatap ke arah Nanami.

“Wah, hari ini datang cepat ya, Hirose-san?!”

“Begitulah…” jawab Nanami malu-malu. “Aku tidak ada kegiatan klub jadi…”

“Begitu ya…”

Nanami yang merasa gugup setengah mati dengan keadaan tersebut mencoba menarik napas dalam-dalan dengan tenang untuk menenangkan diri. Berusaha sebisa mungkin agar tidak dicurigai.

“A-anou…” ucapnya secara reflek. Kata tersebut spontan keluar begitu saja dari mulut Nanami.

Naoki-senpai kemudian menutup berkas yang sedari tadi diuliknya dan menatap Nanami yang membatu.

Bodoh! Kenapa sekarang? Kalau anggota yang lain datang tiba-tiba bagaimana? Sekarang aku harus berkata apa?

Entah Nanami harus bersyukur atau tidak, sebelum atmosfir di antara keduanya berubah jadi canggung, anggota OSIS yang lain datang memasuki ruangan. Nanami merasa terselamatkan tapi juga merasa kehilangan kesempatan.

“Tadi kau mau bilang apa, Hirose-san?” tanya begitu selesai menjawab salam.

Nanami menggeleng kuat-kuat, “Tidak apa-apa. Saya lupa kalau ternyata sudah menyerahkan laporan kemarin,” bohongnya.

“Yah, aku akan mencoba lagi besok,” tekadnya dalam hati.

***

“Bagaimana?” tanya Hokuto tanpa mengucapkan salam apapun atau bahkan meminta maaf karena telah membuat Nanami menunggu begitu ia menyelesaikan shift kerjanya dan menemui Nanami–yang datang beberapa hari kemudian tepat setengah jam sebelum shift Hokuto berakhir. Karena merasa tak enak kepada pelanggan lain, Hokuto memberikan Nanami secarik kertas yang berisi ajakan untuk bertemu di luar cafe.

Nanami menggeleng pelan, “Ternyata Naoki-senpai sudah punya pacar dengan anak dari sekolah lain.”

“Sayang sekali ya…” ucap Hokuto sebagai balasan.

Nanami kemudian tersenyum lebar. “Tapi aku ingin berterima kasih padamu karena sudah memberiku dorongan. Aku memang… ngg… kecewa waktu tahu kalau Naoki-senpai sudah punya pacar. Tapi… sejak awal tujuanku memang bukan untuk menjadi pacarnya,” Nanami terkekeh di sela-sela kalimatnya. “Entah bagaimana caranya aku malah bisa lebih leluasa berinteraksi dengan Naoki-senpai setelah tahu hal itu. Kurasa… Hokuto-san benar soal mengambil langkah maju terlepas dari bagaimana perasaanku terhadap Naoki-senpai . Aku bisa merasa lega sekarang meskipun belum berhasil memberitahukan perasaanku padanya.”

Hokuto hanya tersenyum lebar sebagai balasan. “Syukurlah. Bagaimana kalau kutraktir kue lagi untuk merayakannya?”

“Merayakan apa?” kening Nanami berkerut penuh tanda tanya.

“Tentu saja keberhasilanmu. Setidaknya kau sudah mencoba, kan?”

Tak tahu harus bereaksi bagaimana, Nanami hanya tertawa dan mengangguk menyetujui ajakan Hokuto.

“Kalau begitu ayo ke toko kue itu lagi. Di luar dingin,” tambahnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel.

“Un,” gadis itu mengangguk singkat. “Oh, iya. Kudengar dua hari lagi hari terakhir cafe dibuka ya?! Otsukare sama deshita.”

“Wah, terima kasih banyak. Datanglah kalau sempat. Tapi kau harus cepat, cafe kami akan menjadi sangat ramai sebelum penutupan.”

“Tentu,” Nanami tersenyum lebar. “Kuharap kita bisa bertemu lagi.”

To be continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s