[Multichapter] MONSTER (#11)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 11)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Miyuki berhenti, dia menoleh kearah Taiga. “Nii-San,” ucap Miyuki, “apa menurutmu kita harus datang? Apa sebaiknya kita pulang saja?” Miyuki menunduk, dia meremas jemarinya gelisah. “Bagaimana kalau saat kita datang mereka malah menganggap kita penganggu? Kita pulang saja, yuk.” Miyuki akan berbalik, Taiga dengan cepat menahannya.

“Kita datang bukan sebagai Nogumi, tapi sebagai teman sekolahnya,” ucap Taiga, “lagipula, apa kau tidak ingin menemani Hagiya itu?”

Miyuki menatap Taiga yang kini menggandeng tangannya, mereka berjalan menuruni tangga. “Kalau mereka melukaimu, aku yang akan menghancurkan mereka semua,” ucap Taiga. Mereka berbelok, dari kejauhan sudah ada Jesse dan Reo. Aran duduk di dahan pohon besar dekat kuil, dibawahnya ada Juri dan Yasui bersaudara yang mengobrol pelan bersama Sora. Hokuto dan Myuto juga ada disana, mereka berdiri mendampingi Haru yang duduk diatas batu besar. Shori tidak ada disana, biarlah toh Taiga tidak akrab dengannya. Chiru juga ada disana, dia duduk di sebelah Kai yang masih terlihat lemah. Taiga menoleh, dia berjalan pelan mendekati Chika yang duduk dan menangis. Taiga melirik, jujur saja dia masih tidak menyangka semua kejadian ini akan dia alami.

Kishi Yuta.

Taiga tidak pernah menyangka, bahkan di mimpinya sekalipun bahwa Kishi akan mati dengan cara seperti ini. Taiga kembali menghela napas, dia mendekati Chika dan berkata, “Ibuku berkata kalau menangisi orang yang sudah mati itu akan menyiksa rohnya.” Taiga mendongak, memperhatikan awan mendung yang menaungi mereka semua. “Lihat awan mendung itu,” ucap Taiga, “kata ibuku, awan mendung adalah representasi penderitaan roh yang kalian tangisi.” Taiga kembali menatap Chika, hatinya seperti dihantam batu melihat wajah gadis itu. Tidak ada sorot mata ceria yang biasa dia tunjukkan. Chika terlihat rapuh, wajahnya basah airmata. Taiga menjadi tegang, entah kenapa dia merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Sebagian saraf tubuhnya memaksanya untuk memeluk Chika, menenangkan gadis itu.

Haruskah Taiga memeluknya?

“Dia masih bisa bertahan,” Chika terisak, “dia seharusnya bisa bertahan, kalau saja aku langsung mengobatinya.” Chika menunduk, tangisnya semakin keras. “Harusnya aku lebih cepat menolongnya,” Chika terisak keras, “harusnya aku bisa menolongnya, aku bisa menyelamatkan nyawanya.”

Taiga maju perlahan, baru saja dia akan menuruti hatinya ingin memeluk Chika saat Daiki tiba-tiba muncul dan memeluk gadis itu. “Tenanglah, Chika-chan,” ucap Daiki, “ini bukan salahmu. Ini semua sudah takdir dari Dewa, kau tidak akan bisa melangkahi takdir sekeras apapun kau mencoba.” Daiki menoleh, dia menatap Taiga yang menatapnya geram. “Terima kasih kau mau menyempatkan diri datang kemari, Kyomoto-kun,” ucapnya, “aku sangat menghargainya.”

“Aku kemari karena adikku yang ingin datang,” ucap Taiga, dia menghela napas dan berbalik lalu berjalan menjauh. Taiga merasa kesal sekali, kenapa Daiki harus muncul saat dia sudah bersedia berkompromi dengan perasaannya sendiri? Kenapa Daiki harus merusak suasana? ‘Kalau aku tidak ingat dia sepupu Konno-san, sudah kuhabisi dia,’ batin Taiga.

Miyuki mendekat perlahan, dia duduk di sebelah Hagiya. Miyuki menoleh, dia terhenyak melihat Hagiya begitu pucat. Tatapan matanya kosong, dia seperti tidak bernyawa. Miyuki mendengar dari Daiki kalau Hagiya yang paling merasa bersalah disini. Miyuki menghela napas, dia menyentuh bahu Hagiya. “Senpai,” panggil Miyuki pelan, “Senpai, aku…”

“Seharusnya aku tidak menurutinya,” suara Hagiya terdengar. Miyuki benci ini, dia benci mendengar suara Hagiya yang terdengar lemah. Hagiya menoleh, dia menatap Miyuki dengan mata berkaca-kaca. “Seharusnya aku tidak menurutinya dan tetap menyembuhkannya,” Hagiya terisak, “dan seharusnya aku menjalankan tugasku dengan baik. Dia memintaku menjaga kuil, tapi aku malah membiarkan monster itu masuk dan membunuhnya.” Hagiya menangis keras, Miyuki langsung mendekat dan memeluk pemuda itu erat. Miyuki menghapus kasar airmatanya, dia harus kuat. Dia harus memberikan kekuatan untuk Hagiya. “Aku membunuhnya,” Hagiya terisak keras, “aku yang membunuh Kishi-Kun.”

“Senpai, bukan kau yang membunuhnya,” Miyuki menenangkan, “monster itu yang membunuhnya.”

“Tapi seharusnya aku menjaga kuil dengan baik!” Hagiya menyentak, “aku bahkan tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya.”

Haru menghela napas, dia beranjak dan berjalan mendekati makam Kishi. Haru menggenggam erat bunga di tangannya, dia memejamkan mata dan menghela napas. Haru memang tidak dekat dengan Kishi, tapi tetap saja kematian Kishi membuatnya sedih. Hanya sekali Haru berbicara dengan pemuda itu, di tahun pertamanya masuk SMA. Haru ingat sekali, Kishi orang yang hangat dan senang bercanda. Hanya saja, karena dia selalu bersama Jinguji jadi sedikit banyak sifat dingin Jinguji berpengaruh kepadanya. ‘Semoga kau tenang disana,’ batin Haru, ‘siapapun yang membunuhmu, aku pastikan dia akan menerima balasannya.’

Brak!

Haru terkejut saat bunga di tangannya terlepas dan menancap di sebuah batu bersama dengan sebuah anak panah. Haru menoleh, dia menatap Jinguji membidikkan panah kearahnya dengan tatapan marah. “Jauhkan tangan kotormu dari makam Kishi,” geramnya, “kau monster.”

Hokuto, Myuto, dan Taiga langsung berdiri di depan Haru. Yasui beranjak, dia menarik Haru menjauh dan membawanya ke dekat Kaede. “Apa maksudmu mengucapkan itu, hah?” ucap Myuto, “kau diajari tata krama atau tidak?”

“Dia adalah penyebab kematian Kishi!” Jinguji berteriak, dia akan mendekati Haru tapi Hokuto langsung mendorongnya. “Oi, apa-apaan ini?” Daiki langsung mendekat, “ini pemakaman. Tidak bisakah kalian menyelesaikan masalah dengan kepala dingin?”

“Kami akan melakukannya kalau saja Jinguji tidak mencari gara-gara,” ucap Taiga ketus, dia menatap dingin Jinguji dan berkata pelan, “berani kau menyentuh Haru-chan, kubunuh kau.”

“Kenapa kau menyalahkanku?” Haru bertanya lantang.

“Kalau saja kau tidak bertengkar dengan Yanase-san, semua ini tidak akan terjadi!” sentak Jinguji, “ini semua salahmu!”

Sora diam, dia menatap Haru yang terlihat kaget. Benar juga, Sora ingat Haru dan Kai bertengkar waktu itu, dan karena pertengkaran itu Haru tidak lagi berangkat ke sekolah bersama Kai. “Ini semua salahmu,” Jinguji menggeram marah, “Kishi tidak akan mati kalau kau bisa mengendalikan egomu! Kau sama saja dengan bangsamu, Miyazaki!”

Kai menatap heran Jinguji, dia langsung menoleh kearah Haru.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Aran.

Jinguji berdecih, dia menatap Haru. “Aku tidak yakin kalau kalian tidak tahu dia keturunan Yahagi dan Nogumi,” ucapnya sinis, “aku benar, kan, Miyazaki? Ah, aku lupa kalau kalian juga Yahagi dan Nogumi, jadi wajar kalau kalian melindungi sesama kalian, kan?”

Hokuto dan Taiga terbelalak, mereka seketika menahan napas. Dari belakang saja mereka sudah bisa merasakan perubahan emosi Haru. Mereka tidak berani menoleh, bahkan melirik saja mereka takut. Chiru terbelalak lebar, Kai menatap tidak percaya Haru. Jesse berdehem, dia mendekat dan berucap, “Memangnya kenapa kalau dia keturunan Yahagi dan Nogumi? Kau menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Kishi?”

“Apa yang dialami Kishi bukan atas keinginan Miyazaki,” ucap Juri, “tidak ada satupun yang tahu kalau hari ini akan datang.”

Jinguji diam, dia mendengus kesal dan melangkah pergi. “Aku bersumpah akan menghabisi siapapun yang membunuh Kishi dengan tanganku sendiri,” ucapnya, dia berhenti kala bertatapan dengan Haru, “dan akan kupastikan kau juga mendapat bagianmu,” ucap Jinguji lagi, dia menggendong Kai dan melangkah pergi. Daiki menghela napas, dia memberi salam dan melangkah pergi sambil menggandeng Chika. Chiru menatap sinis Haru yang bahkan tidak melirik kearahnya, dia mendengus dan melangkah meninggalkan yang lain.

Taiga berbalik, dia mendekati Haru dan berkata, “Haru-chan, kumohon tenang sebentar. Kami akan menjelaskan semuanya sedetail mungkin, jadi tolong jangan emosi.” Taiga menoleh kearah Hokuto, dia menyahut, “Oi! Kau yang tahu cerita lengkapnya!”

“Tidak perlu bercerita apa-apa,” ucap Haru, “aku sudah tahu.”

Kaede menatap Haru. Haru tersenyum kecil, dia berucap, “Buku harian ayahku yang menceritakan semuanya. Kalian tidak perlu repot-repot menceritakannya kepadaku.” Haru menatap Taiga dan Hokuto yang tercengang, dia melangkah pelan meninggalkan yang lain.

Sora akan berlari, tapi Yasui menahannya. “Biarkan saja,” ucap Yasui, “semua ini pasti akan membuatnya shock.”

***

Shori berjalan pelan menaiki tangga, dia berhenti dan menatap pintu kamar Haru yang tertutup. Shori menghela napas, dia mendekat dan duduk bersila lalu bersandar di pintu. “Haru-chan,” panggil Shori, “kau tidak keluar kamar sejak tadi. Kau harus makan, kalau tidak kau akan sakit.” Shori menoleh, dia diam sejenak. Shori tahu Haru mendengarnya. “Aku bawakan makanannya kemari, ya,” ucap Shori, “ramen pedas. Kau suka, kan?”

“Pergilah,” suara Haru menyahut pelan.

Shori diam. “Kau tidak boleh tinggal disini lagi,” ucap Haru, “kau akan mati nanti.”

“Karena kau monster, begitu?” tanya Shori.

“Kau… tahu?” Haru terdengar kaget.

Shori tersenyum, dia menghela napas. “Aku minta maaf tidak menceritakan soal ini,” ucap Shori, “tapi sejujurnya, aku sudah tahu kau adalah keturunan Yahagi dan Nogumi.” Shori menoleh kecil. “Ayahku juga seorang Yahagi,” ucap Shori, “dan ibuku… dia Haguro,” tidak ada jawaban dari Haru, “alasan kenapa sejak kecil aku tidak memiliki banyak teman, karena aku adalah darah campuran,” Shori bercerita, “makanya aku heran kenapa kau bisa berteman dengan yang lain. Ayahku memberitahuku kalau kau tidak tahu soal dirimu sendiri,” Shori menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Darah campuran seperti kita tidak akan diterima dimanapun,” ucap Shori, “mereka menganggap darah campuran adalah darah pengkhianat. Aku tidak diterima di kelompok Yahagi, karena aku masih memiliki darah Haguro. Begitupun sebaliknya. Aku tidak diijinkan sekalipun masuk ke kuil Haguro,” Shori menatap kearah pintu kamar Haru, “aku tidak mau kau berakhir sama seperti mereka,” ucap Shori.

“Tapi mereka semua baik kepadaku,” ucap Haru.

“Itu karena mereka segan kepada Matsumura-kun dan Kyomoto-kun,” ucap Shori, “dan lagi, mereka terikat janji dengan ayahmu. Apa kau tidak merasa kalau sebagian dari mereka menjauhimu?”

Tidak ada jawaban dari Haru. “Aku mengenal beberapa darah campuran disini,” ucap Shori, “kau mau bertemu mereka? Kau pasti menyukainya, mereka akan menerimamu dengan baik.” Shori beranjak, dia menatap pintu kamar Haru dengan senyum cerah, “Kau akan mendapat tempat disana, percayalah kepadaku,” ucap Shori lagi.

“Jam delapan,” jawab Haru.

Shori tersenyum senang, dia mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Shori menutup pintu, dia diam menatap Chinen yang asyik membaca manga bersama Ryosuke dan Nozomu. “Sugoii,” ucap Chinen tanpa mengalihkan pandangan dari manga, “kau berhasil mempengaruhinya dengan cerita sedihmu. Mengesankan sekali.”

“Kalau Sato-Kun, aku yakin dia akan berhasil membujuk sahabatnya,” ucap Ryosuke.

“Kau hanya perlu mempengaruhinya sedikit lagi, dan dia akan sepenuhnya memihak kita,” ucap Nozomu.

“Tugasku hanya membawanya kepada kalian,” ucap Shori, “urusan dia mau memihak atau tidak, aku tidak mau tahu.”

Chinen menghela napas, dia berdiri dan menatap Shori. “Memangnya kau mau Miyazaki-san berseberangan denganmu?” ucapnya, “memangnya kau tega menghabisi sahabatmu sendiri, Sato-kun?”

Shori diam, dia menoleh kearah pintu. “Baiklah, ini sudah malam,” ucap Chinen, “ayo kita pergi.” Chinen menatap Shori, dia tersenyum sangat manis. “Jaa ne, Sato-Kun,” ucap Chinen, dia melesat keluar jendela bersama Ryosuke. Shori menatap Nozomu, dia berucap, “Bagaimana caramu membawa masuk Chinen ke kuil Haguro?”

Nozomu terkekeh, dia menjawab, “Itu rahasia. Kalau kau tahu, kau akan menirunya nanti.” Nozomu tersenyum jahil, dia melesat juga meninggalkan Shori. Shori menghela napas, dia kembali menatap kearah pintu kamarnya. Benar kata Chinen, dia tidak bisa berseberangan dengan Haru.

Haru harus berdiri di pihak yang sama dengannya.

***

Miyuki berjalan ke kantin, dia menatap sedih meja yang biasa ditempati olehnya dan yang lain. Miyuki meletakkan nampannya di meja, dia duduk dan menatap sedih lima kursi lain yang kosong. Biasanya, Kai, Haru, Chiru, Sora, dan Kaede akan duduk bersamanya dan bercanda bersama. Miyuki merindukan Chiru yang senang bergosip, dia merindukan Haru, Kai, dan Kaede yang kompak mengata-ngatai beberapa staf pengajar, dan merindukan Sora yang dengan sabar mengendalikan yang lain. Sekarang Sora dan Kaede lebih banyak menghabiskan waktu mengurusi kekacauan di kota bersama Yasui. Kai berada di zona Haguro, dia sama sekali tidak menoleh kearah Miyuki. Chiru juga menjauhinya, dan Haru tidak datang ke sekolah beberapa hari ini. Miyuki menunduk, dia merasa sangat kesepian. Dia mengutuk semua kejadian ini, menganggap semua kejadian ini memisahkannya dari sahabat-sahabatnya.

“Miyuki-chan.”

Miyuki mendongak, dia terkejut melihat Hagiya duduk di hadapannya. Hagiya tersenyum kecil, dia mengusap pipi Miyuki pelan, “Ada saat dimana kau harus siap berdiri tanpa sahabatmu,” ucap Hagiya, “mereka tidak meninggalkanmu. Mereka hanya sedang membiasakan diri dengan kehidupan baru mereka. Saat semua sudah menjadi biasa, mereka akan kembali bersamamu.”

Miyuki termangu, dia menitikkan airmata. Hagiya diam, dia menunduk menatap nasi karenya. “Jujur saja, sampai saat ini aku masih merasa bersalah atas kematian Kishi-kun,” ucap Hagiya, ”tapi semalam, Kishi-kun datang ke mimpiku dan dia memukul kepalaku dengan rotan.” Hagiya terkekeh pelan, dia menatap Miyuki dan meneruskan, “Dia mengatakan semua akan baik-baik saja, dan aku percaya itu.” Hagiya tersenyum, dia menggenggam erat tangan Miyuki dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.”

“Semua akan baik-baik saja kalau ternyata semua ini hanya mimpi buruk,” ucap Miyuki.

“Dan saat aku bangun, Kishi-kun masih hidup, ya, aku berpikir seperti itu bahkan sampai tadi pagi,” balas Hagiya, “tapi kalau kau berpikir seperti itu, bukankah itu berarti kau lari dari kenyataan?”

Miyuki terdiam, dia merasa ucapan Hagiya ada benarnya. “Apapun yang terjadi, kau tidak akan pernah sendirian,” ucap Hagiya, “kau punya kakakmu, kau punya teman-temanmu di Nogumi. Bahkan Yanase-san dan Miyazaki-san juga tidak benar-benar meninggalkanmu. Yanase-san selalu menanyakan keadaanmu kepadaku.”

Hontou?” tanya Miyuki.

Hagiya mengangguk. “Miyazaki-San… yah, setelah kejadian di pemakaman kemarin aku yakin dia masih butuh waktu untuk menata semua emosinya,” ucap Hagiya, dia menghela napas dan menatap Miyuki, “intinya, apapun yang terjadi sekarang, mereka tidak akan membiarkanmu sendirian. Kau masih punya banyak teman.”

“Dan aku punya Hagiya Senpai,” jawab Miyuki.

Hagiya tertawa pelan, dia mengangguk. Miyuki tersenyum, dia memakan rotinya dan tersenyum senang. Hatinya sangat terhibur dengan semangat dari Hagiya. Hagiya juga tersenyum, dia memakan karenya. “Miyuki-Chan, aaaa,” Hagiya mengarahkan sesendok nasi kepada Miyuki yang langsung memakannya, dia sangat gembira. Kapan lagi bisa disuapi Hagiya?

Taiga menatap Miyuki dari kejauhan, dia mendengus dan berbalik. “Astaga!” Taiga terperanjat kaget melihat Chika entah sejak kapan berdiri di dekatnya. Taiga mendengus, dia berucap, “Beritahu temanmu yang arogan itu, dia sudah menghancurkan hidup Haru-chan.”

Taiga melangkah, dia berhenti dan menatap kaget Chika yang menahannya. “Apa kau tidak sadar kalau kau yang justru menghancurkannya?” tanya Chika.

“Ha?” Taiga menatap Chika bingung.

Chika menghela napas, dia menoyor kepala Taiga. “Sederhana, kau sahabatnya dan kau merahasiakan hal ini darinya,” ucap Chika, “kalau dia merasa hancur, itu bukan karena Jinguji. Dia hancur karena dia tahu kau menyimpan rahasia ini darinya.”

Taiga diam, dia membenarkan ucapan Chika. “Aku hanya menepati janjiku,” ucap Taiga pelan.

“Janji?” tanya Chika.

Taiga mengangguk. “Ayah Haru-chan memintaku berjanji kalau aku dan yang lain tidak akan memberitahu Haru-chan soal ini,” ucap Taiga, dia menghela napas dan bersandar di dinding, “awalnya aku membenci keadaan ini. Tapi aku menyayangi Haru-chan, aku takut kehilangan dirinya kalau dia tahu soal ini.”

“Sepertinya kau sangat menyayanginya,” komentar Chika.

“Dan sepertinya kau cemburu,” ucap Taiga.

Chika terkesiap, dia berdehem dan mengalihkan topik. “Jadi kenapa ayah Miyazaki-san merahasiakan semua ini?”

“Darah campuran tidak diterima dimanapun,” ucap Taiga, “mereka sering dianggap darah pengkhianat. Itu sebabnya kalau tidak ada yang tahu dia darah campuran, Haru-chan akan diterima dimanapun dia berada.”

“Itu pemikiran yang kejam,” ucap Chika.

“Sadarlah kalau kalian juga menerapkan hal yang sama,” balas Taiga.

“Hah?”

Taiga menatap Chika, dia baru akan membuka mulut tapi dia mengurungkan niatnya. Taiga ingat Chika tidak tahu Daiki adalah darah campuran, dia merasa tidak bijaksana kalau memberitahunya soal ini. “Sudahlah, aku harus pergi,” ucap Taiga, dia melesat meninggalkan Chika yang melongo. Chika menghela napas, dia tahu ada yang ingin diucapkan Taiga tadi. Chika menghela napas, dia berlalu dari tempatnya.

***

Kai berjalan, dia berhenti saat melihat Jinguji duduk diam di ruang tengah. Kai menoleh, dia menyadari Jinguji menatap foto Kishi. Kai menghela napas, dia perlahan mendekat dan duduk di dekat Jinguji. “Maafkan aku,” ucap Kai, “gara-gara aku, semua ini harus terjadi.”

“Miyazaki-san yang bersalah atas semua ini,” ucap Jinguji.

Kai menghela napas, dia menunduk. “Sebenarnya aku yang salah,” ucap Kai, “aku yang memancing emosinya waktu itu.” Kai menghela napas, dia menatap foto Kishi. “Aku mengatakan kepadanya kalau kau membenciku karena aku berdekatan dengannya dan yang lain,” ucapnya, “saat itu aku masih tidak tahu kalau kalian adalah Haguro dan Nogumi,” Kai menatap Jinguji yang terlihat kaget, dia berkata, “Kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah aku.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Jinguji, “aku malah mengira kau yang membenciku karena teman-temanmu membenciku.”

“Bagaimana mungkin aku membenci orang yang kusukai?” balas Kai.

Jinguji menatap Kai. “Aku menyukaimu sejak lama,” ucap Kai, dia menunduk malu. “Aku sangat menyukaimu, tapi aku tidak bisa mendekatimu karena kukira kau membenciku.”

Jinguji diam, dia perlahan terkekeh dan menatap kearah foto Kishi, “Sepertinya ada salah paham yang konyol disini,” ucap Jinguji, “aku mengira kau membenciku, dan kau juga berpikiran sama. Bukankah itu konyol?” Jinguji terkekeh, dia menoleh kearah Kai yang tertawa pelan, “Aku tidak pernah membencimu, Yanase-san,” ucap Jinguji pelan.

Kai menatap Jinguji, dia seperti mendapat berlian mendengar ucapan itu. “Nah,” Jinguji mengulurkan tangannya, “perkenalkan, namaku Jinguji Yuta. Aku adalah pemimpin Haguro, senang berkenalan denganmu.”

Kai terkekeh, dia menjabat tangan Jinguji dan membalas, “Namaku Yanase Kai. Aku adalah manusia biasa, senang berkenalan denganmu.”

Mereka berdua tertawa bersama. Jinguji terdiam, dia menatap kearah foto Kishi, “Kishi-Kun pernah berjanji akan mendekatkanku kepadamu,” ucap Jinguji, “apa menurutmu dia menepati janjinya?”

“Kurasa iya,” jawab Kai, “hanya saja dia harus mengorbankan nyawanya untuk mendekatkan kita.” Kai menatap Jinguji yang termenung, dia berujar, “Kumohon jangan menyalahkan Haru-chan. Dia sendiri bahkan tidak tahu kalau dia adalah keturunan Yahagi dan Nogumi. Dia pasti sangat shock sekarang.”

“Apa aku yang membuatnya terluka?” tanya Jinguji.

Kai menggeleng. “Bukan kau,” jawabnya, “dia hanya sedang shock. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja.”

Jinguji mengangguk, dia kembali menatap foto Kishi dan tersenyum. ‘Kau benar-benar bodoh,’ batin Jinguji, ‘kau sangat bodoh, Kishi.’

***

Haru melangkah mengikuti Shori, dia sedikit heran Shori mengajaknya melewati gang sempit. Beberapa kali Haru harus melompat menghindari kubangan di jalan, dia juga menutup hidung karena bau menyengat menusuk hidungnya. “Kau ini mau mengajakku bertemu sekte sesat, ya?” ucap Haru, “oi, Shori! Kau mau mengajakku kemana?!”

“Sebentar lagi sampai,” jawab Shori, dia tersenyum. Haru berdecak, dia melangkah mengikuti Shori. Mereka berbelok, Shori melangkah masuk ke sebuah rumah yang sudah terlihat tua. Rumah ini sepertinya sudah lama kosong, terlihat dari keadaannya yang mungkin akan roboh sekali sentil. Shori menggandeng Haru, mereka menemui seorang laki-laki yang asyik memainkan boneka kayu. Haru mengerutkan dahi, dia tidak mengenal orang itu. Aura Yahagi dan Nogumi, Haru langsung tahu orang ini pasti darah campuran.

“Ah,” laki-laki itu melompat, dia tersenyum senang menyambut Haru, “selamat datang. Senang bertemu denganmu. Namaku Chinen Yuri, kau boleh memanggilku Chinen atau Chii.” Chinen tersenyum,

Haru jujur saja agak canggung menghadapi orang seperti ini. “Miyazaki Haru,” ucap Haru pelan.

Chinen tersenyum, dia menggiring Haru dan mendudukkannya di sofa. “Sebentar lagi yang lain akan datang,” ucapnya, “kau mau minum apa? Teh? Susu?”

“Air putih saja,” ucap Haru. Tak lama, pintu terbuka. Haru menoleh, dia terkejut melihat dua orang melangkah masuk dengan santai. Haru ingat dia melihat dua orang itu di pemakaman, apa yang mereka lakukan disini?

                “Tadaimaaaaaaa.”

Haru menoleh, dia tersedak dan menatap kaget tiga orang yang melangkah masuk menyusul dua orang tadi.

Omaera!

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s