[Multichapter] MONSTER (#10)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 10)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)


Chiru keluar rumah, dia berjalan cepat menyusuri jalan. Chiru beberapa kali menengok jam tangannya, dia berdecak dan mempercepat jalannya. Hari ini ada jam ekstra untuk persiapan ujian sebelum pelajaran pertama dimulai, dan sialnya Chiru melupakan hal itu. Chiru berlari, dia berharap akan menemukan taksi. Bis tidak akan membantu, yang ada dia akan semakin terlambat.

“Chiru-Chan!”

Chiru berhenti, dia menoleh dan terkesiap melihat Shoki berlari kearahnya. Chiru bergegas pergi, dia memekik dan menyentakkan tangan Shoki yang memegang lengannya, “Chiru-Chan kumohon dengarkan aku,” ucap Shoki, “sebentar saja dengarkan aku.”

“Aku sibuk,” jawab Chiru ketus, dia kembali melangkah menjauhi Shoki.

Shoki kembali melangkah, dia menahan Chiru. “Pergilah!” sahut Chiru, “tidak bisakah kau membiarkanku sendiri?!” Chiru berbalik, dia berlari menjauhi Shoki. Chiru masih kecewa dengan Shoki, kecewa dengan Sora, kecewa dengan semua orang. Entah siapa yang akan membuatnya kecewa sebentar lagi. Chiru tidak mau berhubungan dengan mereka.

“Ini yang membuatku tidak mau mengatakannya!”

Chiru berhenti. Dia menoleh, menatap Shoki yang berdiri tak jauh darinya. Meskipun agak jauh, Chiru bisa menangkap ekspresi terluka di wajah Shoki. Dia jelas terlihat tidak senang, raut mukanya menjelaskan betapa dia sangat tersiksa. “Satu-satunya alasanku tidak memberitahumu adalah aku tidak ingin jauh darimu,” ucap Shoki, dia terisak, “aku tidak mau melihat wajah kecewamu seperti itu. Aku tidak mau mendengar kau mengatakan ingin jauh dariku! Itu kata-kata paling memuakkan yang pernah kudengar!”

Chiru terdiam, dia tertegun menatap Shoki. Ini pertama kalinya dia melihat Shoki berteriak sekeras itu. “Aku tidak bisa jauh dari Chiru-Chan,” ucap Shoki pelan, suaranya terdengar serak, “kumohon jangan menyiksaku lebih dari ini.”

“Kalau kau tersiksa, kau seharusnya memberitahuku sejak awal!” balas Chiru, “kau pikir apa enaknya mendengar semua ini hah?!”

“Haruskah aku mengulangi ucapanku tadi?!” Shoki balas berteriak.

“Heh, berisik!”

Chiru dan Shoki terperanjat kaget, mereka menoleh bersamaan kearah persimpangan jalan. Taiga, Hokuto, dan Haru berjalan mendekati mereka, terlihat Haru sedang mengorek telinganya. “Ini masih pagi, Senpai,” ucap Haru, “apa yang kalian lakukan, bertengkar di tengah jalan begini?”

“Kalian jadi tontonan, tahu tidak?” Hokuto ikut menimpali, “dasar. Seperti di film saja kalian ini.”

“Bukannya hidup ini memang film buatan Dewa?” sahut Chiru ketus, “hanya saja, kita sebagai pemeran tidak tahu skenario apa yang sedang kita mainkan.” Chiru menatap Haru, dia berkata, “Mungkin kau harus menjauhi teman-temanmu ini, Haru-Chan. Mereka tidak sebaik perkiraanmu. Kau bahkan tidak mengenal mereka sekalipun kalian bersama sejak kecil.” Chiru berdecih, dia berjalan meninggalkan yang lain. Sekarang hanya Haru yang bisa dia andalkan, kalau ternyata Haru lebih memilih mengabaikan peringatannya berarti Haru juga musuhnya.

“Kalau memang hidup ini skenario milik Dewa, kenapa kita tidak menikmatinya saja?”

Chiru berhenti, dia terdiam mendengar ucapan Haru. “Kita belum tentu akan menikmati skenario yang sama di masa depan,” ucap Haru, dia menatap punggung Chiru, “kenapa kita tidak menikmati saja skenario yang ada?”

“Kau tidak mengerti, Haru-chan!” sahut Chiru gusar.

“Bagaimana aku bisa mengerti kalau tidak ada yang menjelaskan kepadaku?!” Haru menyentak, “kalau memang aku tidak mengerti, beri aku penjelasan! Jangan diam saja seperti ini!”

Chiru berbalik, dia menatap marah Haru dan menunjuk kearah gadis itu. “Kau sudah ditipu oleh mereka!” ucap Chiru, “mereka adalah monster! Mereka semua! Bahkan dua sahabatmu itu adalah monster! Kau pasti tidak tahu, kan?!”

Haru menoleh, dia menatap Hokuto dan Taiga. Pandangan Haru beralih kearah Shoki yang terperangah, dia lalu kembali menatap Chiru. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” ucap Haru.

Chiru berdecak, dia berjalan dan menampar Haru. Taiga akan mendekat, tapi Hokuto menahannya, “Mereka adalah monster legenda yang kita dengar sejak kecil,” ucap Chiru, “Yahagi, Nogumi, Haguro. Mereka monster! Kita hidup dengan monster selama ini, kenapa kau tidak mengerti juga?!” Chiru menunduk. “Bahkan Sora juga bagian dari mereka,” ucapnya.

Haru diam beberapa saat, dia menatap kearah jalanan. “Senpai,” sahut Haru, “seperti apa wujud monster-monster itu?”

“Manusia,” sahut Chiru, “mereka monster yang berwujud manusia untuk mengelabui kita.”

“Kalau begitu, bisakah kau berpura-pura tidak tahu dan hidup seperti biasa?”

Chiru tertegun menatap Haru. Kenapa dia terlihat tenang seakan tidak terjadi apa-apa? “Toh, mereka tidak melukai kita,” ucap Haru, “memangnya apa yang akan Senpai lakukan setelah menjauhi mereka? Senpai, kau hanya manusia. Tidak bisakah kau bersikap normal dan menganggap mereka manusia? Setidaknya lakukan itu sampai kau lulus.” Haru menepuk bahu Chiru, dia melangkah santai meninggalkan gadis itu. Hokuto menghela napas, dia dan Taiga berjalan mengikuti Haru.

Shoki diam, dia menatap Chiru yang mematung di tempatnya. Ingin sekali dia memeluk Chiru, tapi Chiru tidak akan mau menerima pelukannya sekarang. Shoki menghela napas, dia berjalan meninggalkan Chiru.

Taiga berjalan di belakang Haru, dia mengerutkan dahi menatap gadis itu. “Menurutmu kenapa reaksinya bisa setenang itu?” sahut Hokuto berbisik, “apa dia sudah tahu sebelum Nishinoya Senpai mengatakannya?” “Hanya Haru-Chan yang tahu jawabannya,” ucap Taiga, “saat ini, biarkan saja semua berjalan normal.” Taiga menghela napas. “Biarkan semua berjalan sesuai skenario Dewa.”

***

Jinguji melangkah masuk kamar tempat Kai dirawat, dia menghela napas dan menoleh ke arah Kishi. “Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya,” ucap Jinguji, “aku belum pernah melakukannya. Bagaimana kalau kau saja? Kau sudah pernah mempraktekkannya, kan?” Jinguji melangkah, Kishi yang melihatnya langsung mendorong Jinguji.

“Ayolah, kau yang harus melakukannya,” ucap Kishi, “kau ingin Yanase-san kembali, kan? Kalau kau menginginkannya, kau yang harus melakukannya.” Kishi menoleh kearah Kai, dia kembali menatap Jinguji dan berkata, “Yanase-san akan senang kalau kau yang menjemputnya.”

Jinguji terdiam, dia menatap Kai. Perlahan Jinguji menghela napas, dia menatap Kishi dan mengangguk. Jinguji duduk bersila di lantai, Kishi juga duduk di depannya. “Kau harus yakin kalau kau akan berhasil,” ucap Kishi, “kalau kau ragu, kau tidak akan berhasil.”

“Kau akan menemaniku, kan?” tanya Jinguji.

“Apa aku harus mengulangi kata-kataku?” sahut Kishi.

Jinguji mengangguk, dia menghela napas perlahan dan memejamkan matanya. Terdengar suara Kishi merapalkan mantra-mantra. Jinguji mengakui kalau Kishi memang sangat hebat. Jinguji hanya bisa bertarung dan berinteraksi biasa dengan para roh, tapi Kishi bisa melakukannya lebih baik. Jinguji bersyukur Kishi lahir di kelompok Haguro, sosok seperti dia sangat dibutuhkan untuk melindungi kelompok.

“Oi.”

Jinguji membuka mata, dia menoleh menatap sekeliling dengan heran. Jinguji tidak berada di kamar lagi. Kabut tebal menyelimuti sekitarnya, semuanya terlihat sangat kelam dan suram. Jinguji mendengar suara-suara seperti erangan, gumaman, dan suara orang bercakap-cakap. ‘Jadi seperti ini dunia roh,’ batin Jinguji, ‘pantas saja manusia selalu melihat roh sebagai sesuatu yang menyeramkan.’ Jinguji beranjak, dia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu. Tidak ada matahari, udara di sekitarnya terasa lembap. Tidak ada siapapun di sekitarnya, tapi suara-suara terdengar bersahutan di telinganya.

Jinguji terus berjalan, dia berhenti di persimpangan jalan. “Aku harus kemana?” gumam Jinguji, dia menoleh ke segala arah. “Dimana Yanase-san?”

“Kau siapa?”

Jinguji menoleh kaget, dia berhadapan dengan seorang perempuan. Perempuan itu bertubuh kurus, pakaiannya lusuh dan wajahnya kotor. “Kau bukan orang mati, ya?” tanya gadis itu, suaranya terdengar seperti berbisik. Jinguji mendekati gadis itu, dia berkata, “Aku mencari temanku. Dia juga bukan orang mati, dan rohnya terjebak disini. Bisakah kau membantuku mencarinya?”

“Oh, dia,” ucap gadis itu, dia kemudian diam dan menerawang menatap ke atas. Jinguji serius mendengarkan, dia senang gadis itu tahu soal Kai. “Aku dengar dia ada di sana,” gadis itu menunjuk sebuah jalan, “tapi waktunya sudah hampir habis. Dia tidak akan bisa kembali ke dunia manusia.”

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap Jinguji, dia berlari menjauhi roh itu. “Terima kasih!” teriak Jinguji. Jinguji tidak akan membiarkan waktu membunuh Kai. Kai tidak mati, dia akan kembali ke dunia manusia. “Kishi, kau mendengarku?” sahut Jinguji, “aku menemukan Yanase-san! Kita berhasil!”

Brak!

“Akh!” Jinguji terhempas kuat menabrak sebuah dinding, dia meringis merasakan nyeri di punggungnya. Jinguji membuka mata, dia terbelalak melihat suasana di sekitarnya berubah. Langit berubah gelap, warnanya sangat pekat melebihi langit malam yang biasa dia lihat. Suasana mendadak sunyi, Jinguji bahkan tidak mendengar napasnya sendiri. “Apa yang terjadi?’ gumamnya, Jinguji seketika merinding. Kulitnya terasa sangat dingin, rasanya seperti ada balok es menempel di kulitnya. “Kenapa dingin sekali?” Jinguji mendekap tubuhnya sendiri, “ada apa ini?”

“Jinguji-san!”

Jinguji menoleh, dia berlari menyusul Kai yang berlari ke arahnya. Tangan Jinguji langsung meraih tangan Kai yang terulur kearahnya, dia menarik dan mendekap erat gadis itu. “Yanase-san, kau baik-baik saja?” tanya Jinguji, dia memeriksa Kai kalau-kalau ada luka di tubuh gadis itu.

Kai menggeleng, dia tersenyum. “Aku baik-baik saja,” ucap Kai, “aku senang kau mau menjemputku.”

Jinguji tersenyum, hatinya seperti disiram air segar mendengar suara Kai. “Aku senang kau baik-baik saja,” ucap Jinguji, “ayo kita kembali.” Jinguji menggandeng tangan Kai, dia baru akan melangkah saat melihat kabut tebal muncul di hadapannya. Tidak ada lagi jalan yang tadi dilaluinya, semua hilang ditelan kabut tebal itu. Jinguji mengerutkan dahi, dia mempererat genggaman tangannya kepada Kai. “Sepertinya kita ada masalah,” ucap Jinguji, “apa yang terjadi?”

Chika dan Hagiya berlari, mereka menjeblak keras pintu kamar Kai. Chika dan Hagiya terbelalak kaget melihat Kishi dan Nozomu bersimbah darah, sedangkan tubuh Jinguji terbaring tak jauh dari Kishi. “Kishi-Kun!” Hagiya masuk dan memapah Kishi yang terluka di perutnya. Sebuah belati menancap di perut Kishi, darah mengalir di ujung bibirnya. Chika menembakkan anak panahnya kearah seseorang yang hendak mencekik Kai. “Siapa kau?!” sentak Chika, “jangan lukai manusia itu!”

“Chika awas!” Daiki muncul dan menangkis kabut hitam yang akan menerjang Chika. Sosok itu berdecak kesal, dia langsung menghilang sekejap mata. Chika langsung memapah Nozomu, dia panik luar biasa melihat sahabatnya terluka.

“Aku akan mengobatimu,” ucap Chika, dia akan beranjak namun Nozomu menahannya.

“Ki…shi…” Nozomu tercekat, “selamatkan dia.”

Chika menoleh, dia langsung mendekati Kishi bersama Hagiya. “Cepat kembalikan Jinguji!” sahut Hagiya, “dia ada di dunia roh, dia harus membawa Yanase-san! Kembalikan dia!” Hagiya menangis, dia tidak tega mencabut belati di perut Kishi. Dia tahu, kalau belati itu dicabut keadaan Kishi akan bertambah parah. Daiki bersila, dia menggenggam tangan Jinguji dan merapalkan mantra-mantra yang tidak dimengerti Chika. Chika membantu Nozomu berdiri, dia menoleh gelisah kearah Kai sambil mengobati luka di tubuh Nozomu.

“Jin…” Kishi tersedak, darah membasahi pakaiannya, “Kai… Jin…”

“Aku akan menyembuhkanmu,” ucap Hagiya, dia baru akan beranjak saat Kishi menahannya. “Hagiya,” panggil Kishi, “sampaikan…maafku kepadanya.”

“Apa yang kau katakan hah?” ucap Hagiya, “jangan mengucapkan hal-hal bodoh!”

Kishi tersenyum kecil, dia kembali terbatuk dan berusaha beranjak. “Jangan… tinggalkan Jinguji,” bisik Kishi, napasnya memburu, “dia membutuhkan kalian.” Kishi menghela napas panjang. “Gomen ne,” ucapnya pelan, dia perlahan memejamkan matanya.

Hagiya termangu, dia merasakan genggaman tangan Kishi melemah. “Kishi-kun? Kishi-kun bangun!” teriakan Hagiya mengejutkan Chika, Daiki, dan Nozomu, dia mengguncang tubuh Kishi, “kau tidak boleh meninggalkan kami seperti ini! Jinguji tidak akan memaafkanmu!” Hagiya terisak keras. “Aku tidak akan memaafkanmu,” isaknya, Hagiya berlari keluar kamar. Dia harus bisa menyelamatkan Kishi.

Chika mendekati Kishi, dia tidak percaya melihat semua kejadian ini. Daiki termangu, dia menoleh dan menatap tajam Nozomu yang terdiam. Nozomu menatap sekilas Daiki, seringaian tergambar samar di wajahnya. Daiki menghela napas, dia kembali merapalkan mantra untuk mengembalikan Jinguji dan Kai.

“Kishi Yuta, out.

***

Sora duduk termenung di beranda rumahnya, dia memeluk lututnya dan menatap sendu rumput di depannya. Chiru masih tidak mau menyapanya, Sanada juga menjaga jarak dengannya walaupun dia masih berbicara satu dua kata. Hanya Kaede, Miyuki, dan Haru yang masih mengajaknya bicara, itupun karena Kaede dan Miyuki sama-sama Nogumi. Haru juga sudah tahu soal dirinya, dan sepertinya dia tidak terlalu mempedulikan hal itu. Entah apa dia tahu soal yang lain, tapi Sora masih berharap Chiru akan memaafkannya.

“Hideyoshi-san.”

Sora menoleh, dia melihat Yasui mendekat dan duduk di sampingnya. “Sepertinya Nishinoya-san masih marah kepada kita,” ucap Yasui, “dia juga tidak mau menyapaku. Dia bahkan menolak bertatapan mata denganku.”

“Aku tahu,” jawab Sora pelan.

Yasui menatap Sora, perlahan dia menggenggam tangan gadis itu. “Kau tidak sendiri,” ucap Yasui, “kau masih memiliki banyak teman.” Yasui tersenyum. “Kau masih memiliki aku.”

Sora menoleh, dia tertegun mendengar ucapan Yasui. Yasui diam, dia mengerjapkan mata dan terkekeh sambil melepaskan tangan Sora. “Ah, lupakan saja soal tadi,” ucap Yasui salah tingkah, “anggap saja kau tidak mendengarnya.”

Sora tersenyum, dia kembali menatap rumput di halaman rumahnya. Perasaannya lebih tenang sekarang, Yasui sudah menghiburnya. Yasui tersenyum menatap Sora, dia menghela napas dan ikut menatap rumput. “Apa kalian tidak tersiksa hidup dengan membawa rahasia sebesar ini?” tanya Sora.

Yasui berdehem, dia menjawab, “Sebenarnya kami juga tersiksa. Bayangkan saja, aku harus menahan emosiku setiap kali ada yang menghina Nogumi. Tapi kalau aku terlalu mengumbar emosi, manusia akan tahu soal diriku dan hidupku jelas akan mengalami kesulitan.”

“Jadi apa menurutmu akan lebih baik kalau kita tidak mengetahui soal diri kita sendiri?”

Yasui menatap Sora, dia tahu arah pembicaraan gadis itu. “Ayolah, Sora-chan, mau sampai kapan kau menyesali sikap Chiru?” Yasui mulai tidak sabar, “ini bukan salahmu. Kita tidak bisa memilih akan dilahirkan sebagai apa dan dari golongan apa.” Yasui menolehkan wajah Sora menghadapnya, dia meneruskan, “Kau tidak perlu khawatir. Nishinoya-san akan kembali berbicara kepadamu, percayalah kepadaku.”

Sora menunduk, dia menitikkan airmata. “Aku benci saat sahabatku memusuhiku,” Sora terisak, “aku benci saat sahabatku tidak mau bicara kepadaku.”

Yasui terdiam, dia memahami perasaan Sora. Yasui mendekat, dia memeluk erat gadis itu, membiarkannya menangis. “Aku akan mencoba bicara kepadanya nanti,” ucap Yasui, “kau jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.” Yasui menoleh, dia mengangguk singkat kepada Jesse dan Reo yang berdiri tak jauh dari mereka. Jesse mengangguk, dia menepuk bahu Reo dan mengajaknya berlalu darisana. Yasui menghela napas, dia tetap diam membiarkan Sora menangis. Saat ini Sora hanya perlu menumpahkan semua kekecewaannya lewat airmata.

***

Sanada menghela napas, dia menoleh kearah Yugo. Masih belum ada tanda-tanda Yugo akan siuman. Sanada menguap, dia mengucek matanya dan beranjak lalu meregangkan tubuhnya. Hokuto masih harus menemani Haru, entah kenapa dia kembali overprotektif kepada gadis itu. Myuto juga tidak terlihat, sepertinya dia masih belum sembuh. Sanada kembali menghela napas, dia tidak menyangka musuh-musuhnya justru orang-orang yang dia kenal. Inoo dan Ryosuke, mereka bahkan tidak menunjukkan aura monster mereka.

“Senpai.”

Sanada menoleh, dia tersenyum kepada Kaede yang melangkah masuk. Kaede menoleh, dia menghela napas dan berkata, “Sepertinya Kouchi Senpai belum siuman juga,” ucap Kaede, dia menatap Sanada dan menyerahkan bungkusan yang dibawanya. “Makanlah, kau bisa sakit kalau kurang makan.”

“Terima kasih,” Sanada menerima bungkusan itu, dia meletakkannya di meja dan kembali duduk. Kaede duduk di sebelah Sanada, dia diam menatap pemuda itu.

“Senpai, kenapa kau menjaga jarak dengan Hideyoshi Senpai?” tanyanya, “dia sangat sedih, kau tahu tidak?”

“Aku tahu,” ucap Sanada, “hanya saja aku masih harus beradaptasi dengan kehidupannya yang sekarang.”

Sanada dan Kaede diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. “Jadi Yamada juga bagian dari serangan,” Kaede mengalihkan topik, “aku benar-benar tidak menyangka. Bagaimana bisa tidak ada seorangpun yang menyadari kalau mereka juga bagian dari Haguro dan Yahagi?”

Sanada menoleh, dia mengerutkan dahi menatap Kaede. “Darimana kau tahu kalau dia seorang Yahagi?” tanyanya.

“Hanya Yahagi yang bisa mengendalikan monster rakus,” jawab Kaede cuek.

Sanada menghela napas, dia bersandar di sofa. “Sebenarnya siapa otak dibalik semua serangan ini?” ucap Sanada, “lalu apa tujuannya?”

“Yang jelas dia bukan bagian dari kita,” ucap Kaede, dia menoleh dan seketika beranjak mendekati Yugo. “Senpai, jari Kouchi Senpai bergerak!” Kaede memekik heboh.

Sanada langsung beranjak, dia terkejut melihat jari Yugo bergerak perlahan. “Kouchi,” Sanada memanggil, “Kouchi, kau mendengarku?”

Yugo membuka mata perlahan, dia menatap sekeliling dengan wajah lemas dan pucat. Sanada tersenyum senang, hatinya terasa ringan seakan beban berat sudah hilang terbawa angin. Yugo menoleh, dia menatap lemah kearah Sanada. Mulutnya sedikit terbuka, dia terlihat ingin mengucapkan sesuatu. Kaede dengan sigap melepas masker, dia dan Sanada menanti apa yang ingin diucapkan Yugo.

“Miyazaki…” Yugo berucap lemah, “…dia…dia…dalam bahaya…”

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s