[Multichapter] MONSTER (#9)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 9)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)


Jinguji membuka pintu, dia mendekat dan duduk di samping Kai yang masih belum sadar. Jinguji diam cukup lama, dia menatap Kai dan menghela napas panjang. Sudah seminggu, tapi Kai belum juga siuman. Entah apa yang dialaminya di dunia roh, sepertinya bukan sesuatu yang menyenangkan.

Atau…

Jinguji terbelalak, dia menatap Kai dan menyentuh kening gadis itu. Jinguji beranjak, dia membuka pintu dan menoleh kesana kemari. “Kishi-Kun!” Jinguji berteriak memanggil Kishi yang sedang menjemur bahan obat-obatan, dia melambaikan tangannya, “Kishi-Kun kemarilah!”

Kishi berlari mendekati Jinguji, dia baru akan bertanya saat Jinguji menyeretnya masuk kamar Kai. “Jinguji-Kun, aku bukan ahli obat-obatan,” ucap Kishi, “kenapa kau membawaku kemari? Biar kupanggilkan Hagiya, dia kan yang biasa mengobati Yanase-San.” Kishi berbalik, dia akan melangkah tapi Jinguji menarik kerah bajunya dan menggeplak kepalanya keras. “Aw!” Kishi memekik, “apa-apaan kau ini?! Kenapa kau malah memukulku?!”

“Kau yang apa-apaan, aku belum bicara kau sudah mengomel,” balas Jinguji kesal. Jinguji menatap Kai, dia bertanya, “Ne, Kishi-Kun, kau paling tahu soal dunia roh, kan?” Jinguji menatap Kishi yang juga menatapnya, dia meneruskan, “Saat manusia masuk kesana dan kembali dalam keadaan tidak sadar, apa ada kemungkinan rohnya tertahan disana?”

Kishi menatap Kai, dia terlihat serius berpikir. “Aku belum mempelajari sampai sejauh itu, Jinguji,” ucap Kishi pelan, “tapi sekilas memang aku pernah mendengar kalau ada manusia yang sebenarnya dia belum meninggal, tapi rohnya tertahan di dunia roh. Dan kalau roh itu tidak segera kembali ke tubuhnya…” Kishi menatap Jinguji yang menatapnya tegang, “…dia akan benar-benar mati.”

Jinguji tercekat, dia menatap Kai dengan mata terbelalak. “Dia tidak boleh mati,” Jinguji bersuara pelan, “dia tidak boleh mati.” Jinguji berlutut, dia menggenggam erat tangan Kai. “Aku tidak bisa membiarkannya berakhir seperti ini,” ucap Jinguji, “Yanase-San, kau mendengarku, kan? Aku tahu kau mendengar suaraku. Kumohon bangunlah. Buka matamu.” Jinguji mempererat genggaman tangannya, dia perlahan menitikkan airmata. “Jangan menyiksaku seperti ini, Yanase-San,” ucapnya terisak, “kumohon buka matamu.”

Kishi diam, dia menatap iba Jinguji. Pandangan Kishi beralih kepada Kai, dia menghela napas panjang. ‘Aku tahu kau bisa mendengar suara Jinguji, Yanase-San,’ batin Kishi. Kishi mengerutkan dahi, dia tiba-tiba teringat sesuatu. “Jinguji-Kun,” ucap Kishi, “aku tahu bagaimana cara mengembalikan Yanase-San.” Kishi menatap Jinguji yang menoleh kearahnya, dia terlihat bersemangat. “Kita bisa membawa Yanase-San… maksudku membebaskan rohnya,” ucap Kishi, “caranya, kita harus…”

“Caranya, kau harus menciumnya.”

Gubrak!

Jinguji dan Kishi mencelos, mereka menoleh dan menatap datar Chika yang muncul di dekat pintu dengan senyum cerah. Chika melangkah masuk, dia berkata, “Kau pernah mendengar tentang ciuman cinta sejati, kan?” ucap Chika, “Yanase-San baru akan bebas kalau kau menciumnya.” Chika tertawa penuh kemenangan, sementara Jinguji dan Kishi sudah gemas ingin menghajar gadis ini, kalau saja mereka tidak ingat Chika ini perempuan. Chika berhenti tertawa, dia tersenyum dan menepuk pelan bahu Jinguji. “Aku tahu kau ingin Yanase-San kembali, Jinguji-Kun,” ucapnya, “kau adalah pemimpin Haguro yang baru, kau pasti sudah diajari bagaimana cara masuk ke dunia roh, kan?” Chika tersenyum, dia melangkah keluar kamar.

Jinguji diam, dia kembali menatap Kai. “Aku akan masuk ke dunia roh,” ucap Jinguji, “aku akan membawa Yanase-San kembali.” Jinguji menatap Kishi, dia berkata, “Kau gantikan aku menjaga Haguro, ne, Kishi-Kun?”

“Tidak,” jawab Kishi, “aku akan menemanimu.”

Jinguji tertegun mendengar ucapan Kishi. “Aku sudah disumpah untuk tidak pernah meninggalkanmu,” ucap Kishi, “aku disumpah untuk membantumu dalam segala hal, dan aku dilarang terlalu jauh darimu.” Kishi tersenyum. “Aku dilahirkan menjadi pengawalmu, Tuan Muda,” ucapnya pelan.

Jinguji termangu mendengar ucapan Kishi. Dia tersenyum dan mengangguk, lalu mendekat dan menggenggam tangan Kai. “Aku akan menyelamatkanmu,” ucap Jinguji, dia melepaskan tangan Kai dan beranjak. “Aku akan meminta Hagiya menggantikanku sementara,” ucap Jinguji, “kau tunggu disini. Jaga Yanase-San.” Jinguji berlari keluar kamar, meninggalkan Kishi dan Kai.

Kishi menghela napas, dia menatap Kai dan membelai rambut gadis itu. “Manusia malang,” ucap Kishi pelan, “semoga Dewa menjagamu dengan baik.”

***

Shoki menguap, dia mengucek matanya dan menoleh lesu kearah Yugo yang masih belum siuman. Shoki lalu menatap kearah pintu, dia sebal sekali dengan Shintaro dan Myuto. Katanya mereka akan datang menggantikan Shoki, tapi sampai sekarang mereka tidak juga muncul. ‘Awas kalian nanti,’ batin Shoki geram, ‘akan kuhabisi kalian.’ Shoki berdiri, dia meregangkan tubuhnya dan menghela napas panjang. Shoki berjalan pelan, setidaknya bergerak akan sedikit mengurangi rasa kantuknya.

Shoki menoleh mendengar pintu terbuka, dia lega melihat Hokuto melangkah masuk bersama Sanada. Shoki menengok, dia tersedak melihat Kaede ikut masuk. “Oi, apa yang dilakukan anak itu disini?” tanya Shoki, “siapa yang membawanya kemari?”

“Tidak ada aturan yang melarangku menjenguk kakak kelasku,” sahut Kaede ketus.

Hokuto menoleh sekilas kearah Kaede, dia menatap Shoki dan berkata, “Sanada Senpai yang membawanya kemari. Bagaimana keadaan Kouchi Senpai?” Hokuto mendekat, dia mengepalkan tangannya geram melihat kondisi Yugo. “Aku bersumpah akan menghabisi siapapun yang melukainya,” ucap Hokuto geram.

Kaede diam, dia menatap Yugo. “Kau tahu, sejak awal kecurigaanku mengarah kepada satu orang,” ucap Kaede.

Semua beralih menatap Kaede. “Serangan aneh ini muncul sejak Sato-Kun datang,” ucap Kaede, “sejak awal aku merasa ada yang aneh dengan anak itu. Auranya berbeda dengan manusia kebanyakan, dia sangat gelap.” Kaede menatap Hokuto yang mengerutkan dahi, dia bertanya, “Kalian sudah saling mengenal sejak kecil, kan? Kau pasti tahu bagaimana dia.” Kaede menatap Yugo lagi, dia berkata, “Aku curiga, jangan-jangan Sato-Kun ada hubungannya dengan semua ini. Atau bisa saja dia yang menyerang Kouchi Senpai.”

“Tapi apa tujuannya menyerang Yugo?” tanya Shoki.

“Ya mana aku tahu, kau pikir aku bisa membaca pikiran,” balas Kaede.

Sanada dan Hokuto diam. “Kalau memang benar, itu artinya Miyazaki-San dalam bahaya,” ucap Sanada, “mereka tinggal bersama, bukan tidak mungkin Sato-Kun akan melukainya, kan?”

“Dia tidak akan senekat itu melakukannya,” gumam Hokuto.

Sanada menatap Hokuto, dia mengerutkan dahinya. Sanada tahu persis ada yang dipikirkan Hokuto. “Kau benar,” ucap Sanada, “mereka bersahabat, sudah jelas dia tidak akan setega itu melukai sahabatnya sendiri.” Mendengar itu, Hokuto menoleh dan berkata, “Tapi aku masih khawatir. Aku pergi dulu, aku akan mengecek kondisinya.” Hokuto berlari keluar kamar. Kaede menghela napas, dia duduk di sofa dan berujar, “Kalau seperti ini, aku suka berpikir lebih enak menjadi manusia biasa.” Kaede tersenyum kecil, dia meneruskan, “Setidaknya kita tidak perlu merahasiakan apa-apa, tidak perlu berhadapan dengan musuh dan terror berlebihan. Pokoknya enak.”

“Tapi kita diberi kekuatan yang bisa kita pakai untuk melindungi diri sendiri dan manusia biasa,” ucap Shoki, “bukankah itu lebih baik?”

“Masalahnya, kebanyakan manusia melihat kita sebagai monster,” ucap Kaede, “sebaik apapun kita, manusia akan menganggap kita ini adalah monster. Orang jahat. Bukan begitu, Sanada Senpai?” Kaede menoleh kearah Sanada. Sanada berdehem, dia membalas, “Aku lebih suka menjadi Yahagi. Yah, menjadi manusia memang menyenangkan seperti katamu, tapi aku lebih suka diriku yang sekarang.”

“Ck, sudah kuduga Yahagi dan Nogumi tidak akan pernah sejalan,” gerutu Kaede.

Mereka bertiga diam, detak jarum jam dan suara monoton dari alat-alat entah apa namanya menjadi musik pengiring kediaman mereka. “Bicara soal manusia dan monster,” ucap Kaede, “kalian sudah tahu belum kalau Hideyoshi Senpai ternyata seorang Nogumi?”

Shoki tersedak minumannya, dia menatap kaget Kaede sementara Sanada hanya diam. “Kau bercanda,” ucap Shoki, “Hideyoshi? Oi, ini sama sekali tidak lucu.” “Ya kalau ini lucu, aku sudah tertawa sejak awal aku mendengarnya dari kakakku,” balas Kaede, dia menghela napas panjang dan meregangkan tubuhnya. “Awalnya aku juga tidak percaya, tapi Nii-San mendengarnya langsung dari Paman Hideyohsi,” ucap Kaede, “dan Haru memberitahuku kemarin, Nishinoya Senpai marah besar saat dia tahu soal itu.” Kaede menatap Shoki, dia berujar, “Biar kutebak, kau belum memberitahu Nishinoya Senpai kalau kau adalah Yahagi, kan?”

Shoki menghela napas. “Chiru marah karena Hideyoshi-San seorang Nogumi, begitu?” tanya Shoki, “kalau begitu, bagaimana aku bisa memberitahunya? Aku tidak bisa jauh dari Chiru, aku bisa mati kalau dia menjauhiku.” Shoki menghela napasnya, dia menatap lampu meja didekat Kaede. “Kadang, ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi rahasia,” ucap Shoki, “dan bagiku, identitasku sebagai Yahagi juga sebaiknya menjadi rahasia.”

Sanada menoleh, dia terkejut dan menegakkan duduknya. “Nishinoya…”

Shoki dan Kaede menoleh kaget, Shoki terbelalak melihat Chiru berdiri di dekat pintu. Terlihat jelas Chiru memberinya tatapan marah dan kecewa, air mata menggenang di pelupuk matanya. “Bahkan kau juga merahasiakan hal sebesar ini dariku,” ucap Chiru terisak.

Shoki segera beranjak dan mendekati Chiru. “Kumohon dengarkan aku,” ucap Shoki,“aku…”

“Aku tidak ingin mendengar apapun!” sentak Chiru, “aku benci kalian semua!” Chiru membanting seikat bunga yang dibawanya, dia berlari keluar kamar.

“Chiru!” Shoki berdecak, dia lantas berlari mengejar Chiru.

Tinggal Sanada dan Kaede disana. “Aku merasa ucapan Morohoshi Senpai ada benarnya,” ucap Kaede tertegun, “kadang ada beberapa hal yang memang sebaiknya tidak diungkapkan. Ne, Senpai?” Kaede menoleh, dia diam melihat Sanada menatap lurus kearah pintu kamar rawat. Kaede tahu, ada yang dipikirkan Sanada. “Senpai, kau memikirkan sesuatu?” tanya Kaede.

Sanada menoleh, dia tersenyum dan menggeleng. “Aku hanya sedikit mengerti bagaimana perasaan Nishinoya-San,” ucap Sanada, “setelah ini, hubungannya dengan Hideyoshi tidak akan sama lagi, kan?” Sanada menghela napas. “Aku juga tidak akan bisa lagi terlalu dekat dengannya,” gumam Sanada pelan.

Kaede diam mendengar ucapan Sanada, dia merasa tidak nyaman. Ucapan Sanada seakan menunjukkan kalau dia tidak ingin berjauhan dengan Sora, tapi dia harus melakukannya karena mereka berbeda kelompok. Entah kenapa Kaede tidak menyukai keadaan ini. Dia tidak senang melihat ekspresi kecewa yang tergambar di wajah Sanada.

***

Myuto menoleh, dia menghela napas panjang. Sejak tadi, Haru sama sekali tidak bicara apa-apa. Myuto menghela napas, dia berujar, “Miyazaki-San, kau baik-baik saja?”

“Hm? Ah, aku baik-baik saja,” jawab Haru tersenyum, dia menghela napas dan kembali menatap ke depan. Myuto berjalan pelan di dekat Haru, dia menjadi salah tingkah. Harusnya ini jadi kencan pertama, tapi kenapa jadi begini? Haru tidak bicara apa-apa, jangan-jangan dia tidak menyukai acara ini. “Ne, Morita-Kun,” Haru bersuara, dia berhenti dan menatap Myuto. Myuto menoleh, dia ikut berhenti dan menatap Haru. Haru diam cukup lama, dia menghela napas dan kembali berjalan. Myuto jadi heran sendiri, ada apa dengannya?

Haru menghela napas panjang, dia mendongak menatap langit. “Morita-Kun,” ucap Haru, “boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tanyakan saja,” jawab Myuto.

Haru berhenti, dia berbalik menatap Myuto yang serius mendengarkan. “Apa yang akan kau lakukan jika duniamu berubah drastis dalam sekejap?” tanyanya.

Myuto diam, dia menatap Haru dan menjawab, “Mungkin awalnya aku akan terkejut dan tidak akan bisa menerima hal ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain selain menjalaninya seperti biasa, kan?” Myuto mendekati Haru yang tampak berpikir. “Memangnya ada apa?” tanyanya.

“Apa kau tidak takut semua hal akan jadi berbeda?” Haru masih bertanya, “seperti rutinitas yang berbeda, atau… kehilangan apa yang sudah kita miliki sejak lama.”

“Semua orang akan mengalami kehilangan,” balas Myuto, “tapi kalau memang hal itu ditakdirkan menjadi milik kita, pasti akan kembali dengan sendirinya.”

Haru mengangguk pelan, dia tersenyum kepada Myuto. “Terima kasih,” ucap Haru, dia kembali berjalan. Myuto diam, dia menatap Haru yang berjalan pelan menjauhinya. Dia merasa ada yang ingin dikatakan oleh Haru, tapi dia bingung bagaimana mengungkapkannya. Myuto berjalan menyusul Haru, dia menggenggam tangan gadis itu. Haru menoleh kaget, dia menatap Myuto heran.

“Kalau kau hilang, Matsumura-Kun akan mematahkan leherku,” ucap Myuto, dia tersenyum dan mengajak Haru berjalan mendekati wahana bianglala.

Haru menoleh, dia berhenti mendadak dan kebingungan saat orang-orang disekitarnya berlari panik. “Ada monster!” sebuah suara terdengar diantara teriakan dan jeritan orang-orang. Haru menoleh, dia terbelalak melihat beberapa monster muncul dan menyerang pengunjung.

Myuto langsung menarik Haru, mereka berlari menghindari monster-monster itu. “Morita-Kun!” teriak Haru, dia berlari mengikuti pemuda itu, “demi apapun, kenapa mereka merusak momen bahagiaku?!”

Myuto berhenti mendadak, dia menatap Haru dengan tatapan heran. Haru menatap Myuto, napasnya terengah-engah dan ekspresinya terlihat kesal. “Aku tidak suka dengan mereka yang merusak momen bahagiaku,” ucap Haru, “aku baru saja bersenang-senang dan tiba-tiba ada monster!” Haru menyentakkan tangan Myuto, dia berlari kembali ke taman hiburan.

Myuto mengerjapkan mata, dia terbelalak dan bergegas mengejar Haru. “Oi, chotto!” teriak Myuto, “Miyazaki-San!”

Haru berlari kembali, dia menerjang kerumunan yang berusaha menghindari serangan. Taman hiburan ini berubah mengerikan, darah dan mayat bergelimpangan dimana-mana. Jujur saja Haru mual melihat pemandangan di depannya, dia ingin sekali muntah. Tapi kalau dia harus muntah, dia harus muntah di wajah monster itu. Haru berhenti, dia mengerutkan dahi dan memicingkan matanya. Haru terkesiap, dia menatap tidak percaya Ryosuke yang berjalan santai dihadapannya. Ryosuke berhenti, dia menatap Haru dan tersenyum. “Oh, Miyazaki,” ucap Ryosuke, “apa kabarmu?”

“Yamada,” Haru tertegun, “apa yang kau lakukan disini?”

Ryosuke tergelak, entah apa yang lucu. Sepertinya Haru tidak mengucapkan sesuatu yang bersifat humor, kenapa Ryosuke malah tertawa? “Tentu saja menghancurkan kalian,” sahut Ryosuke, senyumnya lenyap seketika, “aku hanya memberi peliharaanku makanan, apa yang aneh, hah?” Ryosuke menyeringai mengerikan, wajah tampannya lebih mirip psikopat kelas atas. “Bukannya manusia adalah makanan Yahagi?” ucapnya.

Haru terkejut, dia menatap Ryosuke yang menatapnya dengan kilat menyeramkan. “Kau… Yahagi,” ucap Haru termangu. Dia benar-benar tidak memahami situasi di hadapannya. Haru meringis, denyut kencang kembali menyiksa kepalanya. ‘Sial,’ batinnya, ‘kenapa harus muncul disaat seperti ini?’ Haru membuka mata, dia memekik tertahan menyadari Ryosuke sudah persis dihadapannya. “Sepertinya kau akan jadi menu makan siangku hari ini,” ucap Ryosuke, “sayonara, Haru-chan.”

“Menyingkir kau, jelek.”

Ryosuke terhempas jauh, dia terjatuh dan terbatuk kecil. Haru terkejut, dia menatap Myuto yang berdiri menamenginya. “Larilah,” ucap Myuto, “aku akan menanganinya.”

“Morita-Kun…”

Hayaku!” teriak Myuto. Haru terkejut mendengar sentakan Myuto, dia langsung berlari menjauh. Myuto menoleh, dia mendekat dan mengepalkan tangannya sambil menatap tajam Ryosuke. “Sebelum kau memakannya, aku akan memakanmu lebih dulu,” ucap Myuto, dia berlari dan meninju perut Ryosuke.

Pukulan itu cukup kuat menjatuhkan Ryosuke, tapi dengan cepat pemuda itu bangkit dan menerjang Myuto. “Kau dan kaummu akan mati,” ucap Ryosuke, “tidak ada tempat untuk orang lemah di dunia.”

“Dan tidak ada tempat untuk makhluk licik sepertimu,” Myuto melayangkan tinjunya ke muka Ryosuke, pemuda itu menangkisnya dan membanting Myuto. Myuto meringis kesakitan, darah keluar dari ujung bibirnya.

Melihat itu, Ryosuke tergelak penuh kemenangan. “Kau benar-benar lemah,” ucap Ryosuke, “pantas saja kau tidak diangkat menjadi pemimpin Yahagi sekalipun ayahmu adalah pemimpin generasi sebelumnya.” Ryosuke terkekeh, dia melayangkan tinjunya.

“Yamada!”

Ryosuke berhenti, dia menoleh dan menatap sinis Haru yang muncul dengan napas terengah-engah. “Tck, nyalimu besar juga ternyata,” ucap Ryosuke, dia melangkah mendekati Haru yang menatapnya waspada, “tidak apa-apa, aku suka dengan perempuan bernyali besar.” Ryosuke mengulurkan tangannya, detik berikutnya dia sudah terhempas dan terbanting keras di tanah. Myuto tersedak kaget, dia menatap Haru yang sudah mengepalkan tangannya dan teracung kedepan.

“Aku tidak suka diremehkan,” geram Haru, “kau pikir hanya kau yang bisa menjatuhkan orang sekali pukul, hah?!”

Myuto tersadar, dia bangkit dan langsung menahan Haru yang akan menerjang Ryosuke. “Jangan nekat, Miyazaki-San!” sahut Myuto, “aku sudah menyuruhmu untuk lari! Kenapa kau malah kembali?!”

“Lalu kau pikir aku akan diam saja dan membiarkanmu dihabisi oleh monster itu?!” balas Haru kesal, “kau berhutang satu wahana permainan kepadaku! Aku tidak akan memaafkanmu dan akan kukejar kau ke alam baka kalau kau mati sebelum melunasi hutangmu!” Haru menoleh, dia menatap waspada Ryosuke yang berdiri dan menatapnya beringas. “

Tenagamu besar juga ternyata,” ucap Ryosuke remeh, “tapi lucu juga, seorang Yahagi dilindungi oleh manusia biasa.”

“Dan kau berhutang satu penjelasan kepadaku,” sambung Haru.

Myuto menghela napas. Sepertinya dia harus melanggar janjinya kepada Hokuto untuk merahasiakan soal ini dari Haru. Haru memasang kuda-kuda, dia bersiap menghadapi Ryosuke. Persetan dengan Yahagi atau apalah itu, Haru tidak peduli. Yang berdiri di hadapannya ini adalah Yamada Ryosuke, anggota klub buletin sekolah yang sok tampan. Sangat mudah menghadapi playboy cap teri seperti ini.

Show time,” bisik Ryosuke, dia meraung dan berlari menerjang Haru. Myuto dengan cepat mendorong Haru, dia menendang Ryosuke tepat di ulu hatinya. Haru berdiri, dia meninju muka Ryosuke kuat-kuat.

“Haru awas!” Myuto menghempaskan satu monster dibelakang Haru. “Cepat pergi darisini!” teriak Myuto, “aku akan menjelaskannya kepadamu, tapi kumohon selamatkan dirimu!”

Senpai!

Haru menoleh panik, dia mengerutkan dahi heran melihat Shintaro muncul dan membabat habis beberapa monster. Percikan darah menghiasi pakaiannya, dia seperti pemain di film-film action. “Senpai, cari tempat yang aman. Aku yang akan menangani mereka,” ucap Shintaro, dia tersenyum kepada Haru dan mendorong gadis itu menjauh. “Sudah lama aku tidak bermain,” ucap Shintaro, dia tertawa dan berlari sambil merobek tubuh monster-monster yang berusaha menerjangnya.

Haru berlari menjauh, dia kemudian berhenti dan menoleh. Haru khawatir, dua orang melawan monster yang entah berapa jumlah pastinya. Myuto berusaha mengalahkan Ryosuke, sementara Shintaro berjuang sendiri mengalahkan banyak monster yang muncul bersama Ryosuke. “Aku benci semua ini,” ucap Haru, dia berdecak dan berlari menjauhi lokasi.

*

13 April 1994….

Akhirnya aku menjadi seorang ayah. Setelah tiga tahun menunggu, akhirnya aku akan dipanggil Ayah. Menyenangkan sekali, aku tidak perlu lagi iri kepada yang lain, kan? Tadinya aku ingin memberinya nama Minami, tapi istriku melarangnya. Katanya nama itu seperti nama musuhnya, jadi aku batal memberikannya. Dia malah memberi nama Haru, bukannya itu nama laki-laki? Ah, biarlah. Nama Haru juga bisa untuk perempuan. Mungkin nanti dia akan sekuat laki-laki, jadi dia bisa melindungi dirinya sendiri.

Tapi bagaimana dengan kehidupannya setelah ini?

Aku tidak mau anakku dipandang sebagai monster. Dia pasti akan sangat tersiksa, apalagi jika tidak ada yang mau berteman dengannya. Haru harus hidup normal, dia tidak boleh hidup sebagai monster.

Aku tidak boleh memberitahunya soal ini. Dia tidak boleh tahu soal dirinya sendiri.

Mungkin dia akan hidup dalam kebohongan dan rahasia. Tapi ada saatnya dimana rahasia sebaiknya menjadi rahasia. Ada hal-hal yang akan lebih baik jika tidak diungkapkan. Tapi selama itu untuk kebaikan, kenapa tidak?

Hokuto menghela napas, dia menutup sebuah buku tua ditangannya dan menatap kamar Haru yang gelap. Pandangan Hokuto berhenti pada sosok Taiga yang bersandar di dinding, dia menatap Hokuto dengan ekspresi yang entah apa artinya. Tidak ada suara keluar dari mulut mereka, keduanya seperti berkomunikasi lewat pikiran.

“Kita harus memberitahunya,” ucap Taiga, “itu akan lebih baik.”

“Aku hanya tidak siap menghadapi reaksinya,” balas Hokuto, “dia akan sangat kecewa.”

“Dia akan lebih kecewa kalau kita terus menutupinya,” ucap Taiga, “biarkan dia tahu, dan biarkan dia memutuskan apa yang akan dilakukannya setelah ini.”

“Tapi…”

“Memang benar, ada rahasia yang sebaiknya tidak diungkapkan,” ucap Taiga, “tapi ada yang meskipun sebaiknya tidak diungkapkan, kita harus mengatakannya.” Taiga menarik napas panjang. “Kebenaran,” ucap Taiga, “itu adalah rahasia yang harus kita ungkapkan meskipun sebaiknya tidak diucapkan.”

Hokuto diam, dia menoleh dan menatap sebuah pigura yang terpajang di meja belajar Haru. Pigura itu menghiasi foto Haru, Hokuto, dan Taiga yang berangkulan akrab dengan mengenakan seragam SMP. Pandangan Hokuto teralih kepada foto lain, yang menampilkan potret Haru bersama orangtuanya. “Maafkan aku, Paman, Bibi,” gumam Hokuto, “sepertinya ini malam terakhir aku menjaga sumpahku.”

***

To be continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s