[Multichapter] Flavor Of Love (#7)

Flavor Of Love

UHWIW
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 7)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Jesse memerhatikan setiap lekuk wajah Chise yang masih tertidur pulas. Sudah jam sepuluh, dan Jesse sama sekali tidak berniat untuk masuk kantor. Bahkan ia sudah menelepon asistennya untuk menyerahkan semua urusan pada wakil direktur. Alasannya hanya karena dia tidak ingin kehilangan momen ini. Momen dimana dia pada akhirnya mungkin bisa berbaikan dengan Chise, dan momen ini pula yang tidak akan dia lewatkan hanya dengan datang ke kantor untuk meeting. Biarkan dia jadi egois untuk hari ini saja, memikirkan dirinya sendiri dan bukan perusahaan saja.

Belum ada tanda-tanda Chise terbangun, Jesse memutuskan untuk bangun terlebih dahulu, mungkin meminta delivery order untuk makan pagi, eh makan siang mereka. Dia pun mendial nomor sebuah restoran ramen, dia ingin ramen hari ini, dan Chise tidak mungkin menolak.

Ohayou,” sebuah sapaan malu-malu terdengar dari balik tembok kamar, beberapa detik kemudian sosok Chise mengintip dari balik tembok itu.

Ohayou, tidur nyenyak?” Jesse menghampiri Chise dan mencium pelan kening gadis itu, yang terlihat kikuk, “Kau baik-baik saja?”

Chise mengangguk.

“Aku pesankan ramen, ya?”

Chise kembali mengangguk.

“Mau kopi? Atau teh?” Jesse menanyakannya sambil berjalan ke dapur, namun saat ia mengecek lemari penyimpanan di dapur, sama sekali tidak menemukan makanan atau minuman apapun, “tidak ada apa-apa,” gumam Jesse.

“Ah iya! Aku mengosongkannya saat pindahan,” jawab Chise yang kini duduk di sofa, menunggu Jesse.

Jesse tertawa lalu menghampiri Chise di sofa, kemudian duduk di sebelah gadis itu, “Aku lupa menanyakannya semalam. Kenapa kau bekerja di restoran itu?”

Chise menelan ludahnya, pasti tidak mudah menjelaskannya pada Jesse, “Uhmmm.. ya aku butuh uang,”

“Uang? Karena putus denganku?”

Chise menggeleng, “Aku memulai sebuah bisnis baru, dan aku pikir sudah saatnya aku mulai bekerja untuk diriku sendiri,”

“Kau ingin berkarier? Kau bisa bekerja di hotel, jadi sekretarisku misalnya?”

Chise melepaskan napas berat, beginilah jika bicara dengan Jesse, dia ingin mengontrol semuanya, sesuai dengan keinginannya, “Tawaran yang menarik, Jesse, tapi…. aku memutuskan untuk sekarang aku ingin berdiri sendiri,”

“Kenapa?” lagi-lagi Jesse merasa bingung, apa ada yang salah dengan yang dia ucapkan?

“Aku ingin hidup sendirian, berjuang sendirian, Jesse,”

Jesse mengerjapkan matanya, lalu menguasai keadaan, “Baiklah, tapi kita tidak perlu putus kan? Kau masih bisa tinggal di sini, kita bisa bertemu walaupun tidak setiap hari,”

Chise merangkul lengan Jesse, “Kalau kau mau ini berhasil, kau harus ikut aturan mainku sekarang, bagaimana?”

Dengan sedikit berpikir akhirnya Jesse mengangguk, “Apapaun untukmu, Chise,” Jesse menoleh dan mencium kening Chise.

“Jadi, setelah makan, kau tidak keberatan mengantarku ke happytos kan?”

“Apapun untukmu,” ucap Jesse lagi, “Aku ke minimarket di lobby dulu ya, kurasa kita perlu beberapa peralatan mandi,” katanya, beranjak dari rangkulan Chise, dan mengambil dompetnya lalu mengenakan jaket sebelum akhirnya benar-benar keluar dari mansion.

Ponsel Jesse bergetar, ketika baru saja Jesse keluar, Chise hendak menyusul Jesse sambil mengambil ponsel itu ketika melihat isi chat yang tidak sengaja terlihat karena muncul sesaat setelah diterima.

I’ve told Hokkun everything, dia cukup menerimanya walaupun aku tidak tau lagi harus benar-benar mengusahakan masalah kandungan ini atau tidak. Thanks Jesse sudah menemaniku ke dokter kemarin, you are the best.

Mata Chise sedikit terbelalak ketika melihat nama pengirimnya. ‘Hikari-chan’ tertulis disitu.

***

Padahal sudah ada Shintaro disebelahnya tapi Reina tetap tidak bisa tidak gugup jika mengingat akan bertemu Sanada sebentar lagi. Shintaro masih mengecek rancangan yang sudah Reina buat di laptopnya, sementara Reina tidak bisa lagi berpikir, otaknya terlalu penuh dengan rangkaian adegan yang mungkin terjadi antara dirinya dengan Sanada, dan Shintaro, dan mungkin juga istri dari Sanada, siapapun namanya.

“Hei… Reina,” Shintaro menarik Reina kembali dari lamunannya.

“Hmmm?” Reina segera menoleh, merasakan tangan Shintaro sedang menggenggam tangannya, “Kenapa?” tanya Shintaro.

“Tidak ada apa-apa,” Reina menggeleng, mencoba meredakan kepanikan yang melandanya saat ini.

“Kau yakin?” wajah Shintaro terlihat benar-benar khawatir, dan Reina mengangguk.

“Aku hanya sedikit gugup,” aku Reina akhirnya.

Shintaro meremas tangan Reina, “Semuanya akan baik-baik saja,” dan pemuda itu pun memberikan bonus senyuman manis agar Reina tidak lebih panik. Reina cukup bersyukur ada Shintaro yang mendampinginya hari ini.

Tidak lama seorang wanita dengan pakaian yang terlihat mahal dan wangi parfumnya bahkan tercium dari radius beberapa meter tiba-tiba membuka pintu ruangan yang sejak tadi menjadi tempat Shintaro dan Reina menunggu.

“Maaf menunggu lama, nama saya Sanada Keira,” Reina berdiri, tersedot dengan kecantikan wanita dihadapannya yang sudah jelas dirawat dengan baik, tiba-tiba saja ia merasa seperti salah kostum, wanita bernama Keira itu menyerahkan sebuah kartu nama yang langsung disambut oleh Reina.

“Nagatsuma Reina desu,” ucap Reina sambil menyerahkan kartu namanya, “dan ini… asisten saya…” Reina menunjuk ke arah Shintaro.

Shintaro menunduk, “Morimoto Shintaro desu.”

Ketiganya kemudian duduk, dan Reina tidak menyangka bahwa Sanada Yuma tidak akan hadir kali ini, “Aku mendengar reputasi anda Nagatsuma-san, karena itulah aku memilih anda menjadi arsitek untuk tempat saya sebagai desainer,”

“Anda terlalu memuji,” ucap Reina, lalu memulai presentasinya, lebih cepat selesai maka lebih baik. Tidak ingin ia berlama-lama menatap Keira atau membayangkan bagaimana Keira dan Yuma bersama, tidak terima kasih.

Presentasinya selesai, Keira tampak puas dengan apa yang dibicarakan Reina, namun ada beberapa poin yang Keira minta untuk diganti atau diperbaiki. Shintaro mencatat semua keinginan Keira dengan detail.

“Morimoto-san,” kata Keira ketika mereka sudah hampir selesai dalam pertemuan ini, Shintaro dan Reina sudah membereskan perlatan presentasi mereka, “Aku mau bicara dengan Nagatsuma-san, bisa kau keluar sebentar?” Keira mengatakannya dengan sangat sopan, lalu Shintaro menatap Reina yang tak rela Shintaro meninggalkannya.

“Baiklah, aku permisi dulu,” ucap Shintaro.

Sepeninggal Shintaro, Reina mendadak panik, apa yang akan wanita ini katakan?!” otaknya merangkai beberapa kemungkinan, tapi dia berhenti berpikir ketika Keira tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas, ada fotonya dengan Yuma di sana.

“Kau pikir aku tidak tau?” ucapnya, sinis dan tajam membuat Reina bungkam seketika, wajah ramah Keira sudah menguap dengan angin, kini wajahnya terlihat marah dan riasan tebal itu pun tidak bisa menutupinya, “Aku tau, sejak pertama kali kalian selingkuh dibelakangku, aku tidak ambil pusing toh Yuma sudah memberitahuku kalau dia masih menyukai mantan pacarnya.”

Eh? Reina menatap Keira dengan kaget.

“Dari wajahmu ku pikir kamu tidak tau kalau Yuma menikahiku karena terlibat hutang yang cukup besar dengan Ayah, kan? Dia berusaha mengembalikannya tanpa melibatkan pernikahan tapi sampai batas waktunya Yuma tidak berhasil melakukannya lalu aku minta dia menikah denganku, Hmmm? Kaget?”

Reina masih ingat dengan jelas bagaimana tangis Yuma malam itu ketika mengabarkan bahwa dia akan menikah dengan Keira, dan kenyataan ini membuatnya benar-benar kaget. Jadi selama ini ada sesuatu yang Yuma sembunyikan dan bahwa keinginan Yuma untuk meninggalkan Keira itu sungguhan?

“Beberapa tahun ini Yuma disampingku tapi tidak pernah melihatku,” ucap Keira lagi, “Aku tau kalian sudah putus karena Yuma berhenti bohong padaku tapi dia frustasi, dan seberapapun kerasnya aku mencoba menghiburnya, tidak ada yang bisa menggantikanmu,” Keira berdehem, “galeri Ayahku, perusahaannya juga butuh Yuma dan aku ingin kamu bisa menghiburnya lagi.”

Reina mendadak berdiri dan menghantam meja dengan telapak tangannya, “Jangan bercanda!! Apa maksudnya? Kamu ingin aku kembali bersama Yuma, lalu apa? Jadi wanita panggilannya lagi? Didatangi ketika ia butuh saja?! HAH?!” Reina mengambil berkas-berkasnya lalu berbalik meninggalkan Keira, “Nanti saya e-mail desainnya Sanada-san!” seru Reina sebelum benar-benar keluar dari ruangan.

***

“Halo? Ini… Kyomoto-san?”

“Ya! Ya ampun!! Konno-san!!” Taiga akhirnya berhasil menelepon ponselnya yang kini ada di Konno-san, siapapun dia.

“Iya, maafkan aku karena ponsel kita tertukar,” kata suara di sana.

“Bisa kita bertemu untuk bertukar ponsel?” tanya Taiga buru-buru. Akan banyak pesan dari bosnya atau kliennya, dan Konno-san ini baru mengangkat teleponnya saat hampir makan siang.

“Maafkan aku Kyomoto-san, sepertinya aku tidak bisa keluar rumah sakit hingga nanti malam,” keluhnya.

“Baiklah. Aku akan ke rumah sakit nanti malam, tapi bisakah kau mengirimkan semua pesan di ponselku ke sini? Hanya yang penting saja,” tambah Taiga.

“Oke.” Telepon pun ditutup dengan semena-menanya oleh pihak seberang, membuat Taiga mengerenyit, galak sekali pacarnya Kouchi ini.

Sekarang Taiga sedang berada di happytos, menunggu waktu meetingnya bersama Chise. Walaupun sebenarnya mereka bisa saja meeting di apartemen, mengingat mereka tinggal di gedung yang sama, namun ini prosedur standar untuk melakukan meeting. Tidak lama, ponsel milik Konno itu berbunyi beberapa kali, puluhan pesan masuk, yang merupakan forward dari ponsel miliknya.

Kebanyakan dari klien yang menanyakan progress pengerjaan proyek, dan ada satu dari Chise.

From: Kyomoto Taiga
Fwd: Nagisawa Chise
Subject : Meeting
Aku menemukan pretzel darimu!
Terima kasih ya Kyomoto-san,
Kebetulan aku paling suka pretzel dari
toko ini. ^^)/
Sampai ketemu di happytos.

Chise

Taiga otomatis tersenyum membaca pesan itu, walaupun itu hanya benar-benar basa-basi dari seorang Chise, tapi dia senang karena Chise menyukai apa yang ia berikan. Beberapa saat kemudian satu pesan lagi masuk, namun ternyata bukan sebuah forward dari ponselnya.

From: Kou-chan
Subject: Liburan
Chika-chan, liburanku selanjutnya
Tanggal 25 Desember, ya.. hari natal.
Malamnya aku masih tugas.
Jadi, kencan natal?

Chika. Rasanya dia baru dengar nama itu. Jadi namanya Konno Chika.

“Kyomoto-san!!” suara itu membuat Taiga langsung mengunci ponsel milik Chika dan memasukannya ke tas.

Tunggu.

Nagisawa Chise tidak sendirian, siapa itu di belakangnya? Setelan modis, kaca mata hitam, dan sepertinya ia kenal, ketika mereka mendekat Taiga menyadari siapa yang berjalan di belakang Chise.

“Kyomo-chan? Dia arsitekmu?” Jesse memeluk sekilas temannya itu yang masih terbengong-bengong.

“Kan kubilang tadi, Kyomoto-san,”

Jesse tersenyum, “Banyak sekali nama Kyomoto di Jepang,” balasnya.

“Oh iya,” Chise baru menyadari hal itu.

“Kalian?” Taiga berusaha membuat keduanya kembali fokus pada dirinya, seingat Taiga memang Jesse punya pacar, dan dia tidak ingat namanya.

“Ini Chise, pacarku, kau tidak ingat aku bilang namanya?”

Taiga menggeleng, clueless, sementara Chise terlihat salah tingkah.

“Baiklah, aku akan biarkan kalian meeting, karena aku harus mengurus sesuatu di hotel. Beri tahu aku jika sudah selesai ya, Chise,” Jesse mengecup kening Chise sebelum beranjak, “jaga pacarku baik-baik, Kyomo-chan!”

Jesse adalah pacar Nagisawa Chise? Kyomoto Taiga pasti salah cari rival. Selain sepertinya mereka sudah berpacaran lama, dari segala sisi Jesse Lewis adalah bukan tandingannya. Sejak SMA, Jesse adalah mahluk terpopuler diantara teman-temannya, pertama karena Lewis Jesse adalah pewaris Lewis Corp., dan dia tampan. Tapi bahkan selama SMA, dia tidak pernah berlagak playboy atau memanfaatkan status dan ketampanannya. Jesse selalu bilang dia belum mau pacaran saat SMA, entah kenapa.

“Jadi kalian teman SMA?” tanya Chise kepada Taiga.

Taiga mengangguk, “Iya, kami satu klub basket,”

“Oh! Kyomo-chan yang itu!” seru Chise baru sadar, “Aku tau semua teman Jesse walaupun belum ketemu semua sih,”

Souka,” Taiga mengangguk-angguk mengerti.

“Jadi, bagaimana kalau kita mulai saja?”

***

Sudah hari ketiga Seika bekerja di Acolhedor Hotel, dan dia belum juga merasa kerasan. Selain pekerjaannya harus dilakukan dengan cepat, atasannya, Nakamura-san, pun cerewet sekali padanya. Padahal Seika sudah berusaha sebaik mungkin, tapi selalu saja salah di matanya.

“Mitsumiya-kun, kau tau, saat melipat sprei, kau tidak boleh naik ke kasur, itu akan mengotori spreinya! Iya, iya, dasar wanita tua,keluh Seika dalam hati, dan menjawab “HAAIIII!!” dengan senyuman.

Seika mengambil peralatan bersih-bersihnya yang berupa troli berisikan alat pel, sapu, air pel, lalu melangkah masuk ke lift, dan menyadari bahwa ia tidak sendirian.

“Ah! Cuma Hokkun,” Seika bisa bernapas lega.

“Kau cocok dengan seragammu.”

Baju pelayan berwarna biru langit, ya, dia merasa sangat cantik, Seika secara spontan menjawil kuping Hokuto yang lalu beraduh-aduh, “Aww!! Kau itu ya,” Hokuto bermaksud menarik kunciran milik Seika namun ia berhasil menghindar.

Tak terasa mereka sudah sampai di lantai satu. Hokuto membantu mendorong troli milik Seika dan saat itulah mereka berpapasan dengan Lewis Jesse.

“Jesse! Ku pikir kau tidak akan masuk kantor,” seru Hokuto dengan spontan.

“Memang tidak, aku hanya akan memberikan sedikit arahan, lalu kembali pergi,” ucapnya dengan cuek, “Alih profesi?” melihat Hokuto mendorong troli milik staf kamar.

“Hanya membantu, oh ya, ini temanku, Mitsumiya Seika,” ucap Hokuto memperkenalkan Seika pada Jesse.

Jesse mengangguk, Seika terlihat berlindung di belakang alat pelnya, lalu Jesse menarik troli itu, “Yappari! Kau mantannya Kou-chan kan?”

“Kou-chan? Kouchi Yugo?!” seru Hokuto.

“Iya, aku masih ingat! Kouchi mengenalkan dirinya saat aku dan Chise jalan berdua, kami bertemu, saat masih kuliah!”

Sebelum Hokuto sempat bertanya lebih lanjut, Seika segera menghindar, “Aku pergi dulu, Lewis-san, Matsumura-san,” katanya sambil melesat pergi.

Hokuto berhasil mengejar Seika ketika Jesse sudah berlalu masuk ke lift. Seika terlihat salah tingkah, ia kini membersihkan kaca depan lobi dengan gerakan asal dan mencoba mengalihkan pandangannya dari Hokuto yang kini berdiri di sebelahnya, sudah pasti Hokuto akan meminta penjelasan dari Seika.

“Seika…. aku butuh penjelasan,”

“Sudahlah aku sedang kerja,” ucap Seika kembali membilas lapnya di ember bersih, “Kouchi Yugo kan bukan satu-satunya mantanku di tempat kuliah,” sambung Seika.

“Jadi bukan Kouchi?” pandangan Hokuto begitu tajam hingga Seika merasa dirinya ditelanjangi.

Seika menggeleng, “Bukan. Sudahlah bos, aku sedang kerja,” keluh Seika, dirinya tidak mau ditegur atasannya lagi gara-gara mengobrol dengan Hokuto selagi kerja.

Hokuto tampak belum puas bertanya, namun akhirnya menyerah, “Ya sudah, aku pergi dulu,” sebelum benar-benar pergi Hokuto menepuk pelan kepala Seika dan berlalu.

Tidak boleh ada yang tau. Begitu keputusan Seika saat mengetahui dirinya hamil anak dari Kouchi Yugo, cinta pertamanya, pria yang dapat membuatnya lupa diri dan mabuk kepayang, yang mampu membuat Seika betah berlama-lama mengobrol, atau sekedar menunggui pemuda itu membaca buku. Jika bersama Kouchi, Seika menjadi orang yang menyenangkan, ceria, dan bersemangat. Seika tau dirinya hamil setelah dia merasa tidak enak badan berhari-hari, dan ketika ia sadar, ia sudah telat hampir tiga minggu.

Tentu saja pada awalnya Seika ingin memberi tau Kouchi, mengabarkan berita bahagia bersama Kouchi, mungkin mereka akan menikah dan hidup berdua dengan bahagia. Namun saat itu, Seika memutuskan untuk mengetahui reaksi Kouchi.

“Kou-chan,” saat itu mereka seperti biasa sedang menonton DVD di apartemen milik Seika.

“Hmm?” tubuh Kouchi membungkus tubuh mungil Seika, tangannya membelai pelan rambut panjang Seika, pandangan mata Kouchi fokus pada layar TV.

“Kou-chan mau punya anak?”

Kouchi tertawa kecil, “Tentu saja, nanti kalau aku menikah,” jawabnya.

“Ohh…”

“Punya anak itu keputusan yang berat, Seika, kita tidak boleh jadi orang tua yang egois,” Kouchi mengambil gelas sodanya dan meminumnya, “Aku tidak ada rencana punya anak sampai aku jadi dokter dan mapan. Mungkin saat aku sudah berhasil jadi pimpinan Rumah Sakit,” jawabnya lagi.

Seika sempat bingung, apakah dia harus menggugurkan kandungannya atau melahirkan anaknya. Saat itulah dia memutuskan untuk pulang dulu ke Sendai, menemui Ayahnya, menceritakan semuanya. Memang sejak Ibunya meninggal saat Seika masih sangat kecil, Seika terbiasa menceritakan apapun kepada Ayahnya.

“Anakmu tidak salah, Seika, kau tidak boleh menyingkirkannya hanya karena pacarmu tidak menginginkannya,” begitu kata Ayah, “Kalau kau mau, kau bisa kembali ke sini, kita tinggal bersama-sama lagi,”

Seika hanya bisa menangis dan memeluk Ayah, lalu akhirnya memutuskan untuk melahirkan di Sendai, namun setelah itu, Seika merasa punya tanggung jawab pada Yukari dan dia pun berhenti sekolah dan memutuskan untuk tetap tinggal di Sendai. Tidak pernah terpikir di benaknya dia akan bertemu kembali dengan Kouchi, dia sudah bahagia dengan Yukari dan Ayah, begitu pikirnya.

“Mitsumiya-kun! Kalau kau sudah selesai dengan jendela lobi, tolong bersihkan kamar nomor 5129,” ucap atasannya, membuyarkan lamunan Seika.

Hadapi saja! Kata Seika pada dirinya sendiri. Selama Kouchi tidak tau kebenarannya, hidupnya masih akan tenang seperti biasanya.

***

“Kau yakin bisa hidup di sini?” Jesse meneliti setiap jengkal dari kamar kecil ini. Satu dapur kecil, satu ruangan lain yang berfungsi sebagai ruang tengah, ruang makan, dan bahkan ruang tidur dan satu kamar mandi di sudut dekat dapur. Chise tidak pernah mau tidur memakai futon kecuali mereka sedang ke onsen, dan kali ini Chise tidur di atas futon setiap hari. Apakah gadis itu terbiasa? Dia baik-baik saja? Pertanyaan itu tentu saja hanya ada di dalam pikiran Jesse.

Jesse melirik sebuah pemanas ruangan kecil di sudut ruangan, pasti Chise sering kedinginan di malam hari.

“Tentu saja, Jesse,” Chise kembali dari dapurnya dan menyimpan secangkir kopi di atas sebuah meja kecil yang berada di tengah-tengah ruangan kecil itu.

Jesse mendesah, “Baiklah, jika ini maumu… tapi kau tentu bisa kembali ke mansion kapanpun kamu mau,” tambahnya.

Sambil menggeleng Chise menyimpan sekantung pretzel yang tadi pagi diberikan oleh Taiga di atas meja, “Dan kau tau jawabanku tetap tidak,”

“Aku membeli mansion itu untuk kita, Chise. Jadi setelah menikah, kita akan tinggal di sana,” Jesse bersandar di tembok dan menarik Chise untuk berbaring bersandar di dadanya sementara dia memeluk gadis itu dari belakang. Jesse senang menghirup wangi sampo Chise yang merupakan campuran buah-buahan dan mint.

“Aku tau, tapi aku tidak punya rencana untuk menikah untuk sekarang, Jesse, kau tau itu,” ujar Chise.

“Kenapa kau takut sekali? Ada apa sebenarnya?” ucapan itu terdengar lirih di telinga Chise.

Chise menggeleng, “Aku hanya perlu waktu,”

Ketika mengatakannya Jesse dapat merasakan kegelisahan dari Chise, namun untuk saat ini sepertinya lebih bijak jika Jesse tidak terlalu banyak bertanya. Dia tidak ingin merusak semua ini, terutama rasa tenang saat memeluk Chise.

“Jadi, kita akan liburan musim dingin?” tanya Chise sambil tertawa lalu berbalik dan kini duduk di pangkuan Jesse.

Jesse berpikir, “Aku punya ide lebih bagus, mau liburan ke luar negri? Amerika?”

Chise mencubit pipi Jesse, “NO!! NO!!” berhasil membuat Jesse ber-aduh aduh.

“Baiklah, aku harus pulang. Aku pikirkan nanti kita liburan kemana, oke?”

“Tidak tinggal?” Chise menunjukkan wajah sedihnya, yang biasanya selalu berhasil membuat Jesse tinggal.

Jesse mencium bibir Chise sekilas, “Inginnya. Tapi jarak dari sini ke bandara cukup jauh. Aku harus terbang ke Sendai besok pagi, dengan Hokuto,” lalu Jesse mencium kening Chise, “Love you,”

Love you. Call me when you arrived,

***

Jesse tidak langsung pulang ke rumahnya, dia menelepon seseorang sebelum menyepakati tempat pertemuan mereka, mobilnya pun melaju setelahnya ke tempat dimana mereka akan bertemu.

“Hey!” Jesse duduk di hadapan wanita itu, “Semuanya sudah baik-baik saja?”

Wanita itu mengangguk, “Hokkun harusnya sih mengerti,” Jesse menemui Hikari malam ini.

“Aku kenal Hokuto sudah lama, dia pasti akan melakukan apapun untukmu, ya kan?”

Hikari mengangguk, “Hanya saja aku perlu berbicara denganmu,” ia menatap Jesse, “Karena sedikit merasa tidak tenang sejak kemarin bertemu dengan dokter Kimura,” terkadang memang hanya Jesse yang bisa membuatnya tenang, setidaknya menurut Hikari.

Ada satu hal yang mereka sembunyikan, baik dari Chise ataupun Hokuto. Ada sebuah rahasia tentang Jesse dan Hikari sebelum Chise kembali ke Jepang setelah menyelesaikan sekolah menengah atasnya di Amerika. Bagi Hikari, Jesse adalah cinta pertamanya, ketika Chise liburan ke Jepang dan mengenalkan Jesse pada Hikari, tanpa bisa dibendung Hikari jatuh cinta pada Jesse. Saat itu Jesse dan Chise belum resmi pacaran sehingga Hikari tidak pernah merasa bersalah karena sudah mencoba mengejar Jesse.

“Kamu suka pada Jesse?” tanya Hikari, saat itu liburan musim panas dan Chise menghabiskan waktunya di kamar Hikari.

“Tidak! Kami cuma teman, yah…hmmm,” Chise berhenti tapi melanjutkan, “Jesse pernah menciumku sih. Tapi ya sudah begitu saja, aku tidak pernah menerimanya jadi pacarku,” kata Chise yang masih kelas 2 SMA saat itu, begitupun juga dengan dirinya.

Hikari berhenti bertanya, baginya sudah cukup berarti Chise seharusnya tidak akan protes jika dia mengejar Jesse dengan sungguh-sungguh. Hari-hari liburan semakin tersisa sedikit saja, Chise masih sering main dengan Jesse dengan mengajak Hikari, seakan gadis itu tidak mau dibiarkan sendirian dengan Jesse. Hikari tidak keberatan, berarti memberinya waktu lebih lama dengan Jesse. Bohong memang jika Hikari tidak menyadari seberapa besar rasa sayang Jesse pada Chise, bagaimana cara Jesse menatap Chise dengan penuh cinta setiap saat, sekeras apapun Chise menolak, Jesse terlihat tidak pernah kesal, ia selalu membiarkan gadis itu semaunya.

Hikari memang gadis yang cukup berani, baginya tidak masalah menyatakan cinta duluan, hidupnya sudah terlalu sulit untuk sekedar takut menyatakan cinta kepada seorang pemuda, maka ketika ia berkesempatan berdua dengan Jesse, Hikari menyatakan cintanya. Hikari tau kalau sebelum pulang ke Amerika, Chise sempat kembali diminta menjadi pacar Jesse dan gadis itu kembali menolaknya, karena itulah Hikari mencoba peruntungannya.

“Jesse-kun, aku menyukaimu, aku tau Jesse-kun mungkin tidak melihatku seperti itu, tapi, jadilah pacarku!” Hikari masih ingat, Jesse terlihat kaget sekali.

“Hikari-chan, kau tau kan aku…”

“Iya aku tau!” potong Hikari, “Dan aku tidak peduli asal Jesse-kun mau mencobanya denganku, untuk melupakan Chise,” ucapnya dengan suara seyakin mungkin. Hikari mendekat, menarik belakang kepala Jesse untuk mencium pemuda itu, Hikari kaget juga karena Jesse membalas ciumannya, menariknya lebih dekat ke pelukan pemuda itu.

Begitulah Hikari dan Jesse akhirnya berpacaran, Jesse tau dia jahat pada gadis itu, memanfaatkan rasa sayang Hikari untuk melindungi hatinya sendiri yang sedang terluka untuk kesekian kalinya apalagi yang terakhir itu Chise benar-benar menolaknya bahkan mereka bertengkar sebelum Chise pulang. Itulah kenapa Jesse mengetahui penyakit Hikari karena mereka memang pernah punya hubungan spesial, tapi Jesse tidak pernah mengakuinya, karena itulah tidak ada satupun teman dekat Jesse yang tau, apalagi hubungan mereka memang tidak sampai seumur jagung.

Hikari tau bahwa usahanya untuk membuat Jesse melupakan Chise tidaklah berhasil, ia mulai jadi penuntut dan menginginkan Jesse seutuhnya, tidak lagi dibayang-bayangi oleh kehadiran Chise. Tentu saja itu tidak mungkin karena Jesse mencintai Chise bahkan tidak sekalipun keluar dari mulut Jesse bahwa dia dan Hikari sudah menjalin hubungan. Hingga Jesse memutuskan hubungan mereka, Jesse ingin mengejar cinta Chise lagi, dan berhasil, Chise akhirnya luluh dan sejak saat itu seakan ada kontrak mengikat diantara Jesse dan Hikari bahwa mereka tidak perlu membicarakannya, bahwa semua mengenai hubungan yang pernah terjalin diantara keduanya hanyalah rahasia mereka berdua. Jesse pun berganti peran menjadi sahabat Hikari, rasa bersalahnya telah membuat Jesse menyayangi Hikari seperti adiknya sendiri, menjaga Hikari apapun yang terjadi pada gadis itu.

“Kau akan baik-baik saja, Hikari,” kata Jesse, menepuk pelan kepala Hikari, “Kau gadis yang kuat dan aku tau benar itu.”

***

Taiga tidak pernah suka Rumah Sakit. Menurutnya Rumah Sakit adalah tempat dimana kesedihan berkumpul. Entah itu kesakitan, bahkan hingga kematian. Namun kini Taiga duduk di salah satu bangku ruang tunggu, yang jelas sudah sepi karena sekarang sudah malam dan ini makin membuat Taiga merinding.

“Kyomoto-san,” sebuah suara yang otomatis membuat Taiga hampir saja membayangkan yang macam-macam,hantu dan sebagainya.

“Konno-san,” Taiga lega ternyata itu Konno Chika, dan dia pun berpakaian seperti pagi ini mereka bertemu di atas bus.

Chika terlihat tertawa kecil, “Tidak usah takut begitu,”

Taiga berdehem, “Biasa saja ko, oh iya ini ponselmu,” ia mengeluarkan sebuah ponsel dan memberikannya pada Chika.

“Ini milikmu,” Chika menyerahkan milik Taiga, “Terima kasih, Kyomoto-san, sebagai permintaan maaf, bisa aku traktir kau bir?”

Akhirnya Taiga mengangguk, “Oke,”

.

Dengan ujung matanya Chika menilai penampilan Taiga bisa dibilang biasa saja, hanya wajahnya cantik sekali. Tampan tapi cantik, bahkan Chika tidak bisa mengklasifikasikannya. Taiga bercerita bahwa dirinya adalah seorang arsitek. Entah kenapa sepertinya cocok sekali dengan penampilan Taiga.

“Jadi ini kerjaan dokter ketika pulang mengobati pasien? Kalian membuat diri kalian sendiri sakit? Hahaha,” Taiga meneguk birnya, dia suka ketika masih dingin.

Pernyataan yang menarik bagi Chika dan dia pun tertawa, “Bisa dibilang begitu, hanya untuk melepas stress. Aku mencoba tidak mabuk,” Chika pun ikut menenggak birnya, “Kau tau, melayani pasien saat hangover benar-benar tidak disarankan!”

“Oh ya?”

“Aku muntah sekali saat melayani pasien dan itu tidak enak dilihat,” Chika memutar bola matanya.

“Ahahaha, kau benar-benar muntah? Gilaa!!” seru Taiga.

Chika mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Malam sebelumnya sepertinya aku minum tequila, whiskey, bahkan hingga minuman yang bahkan aku lupa namanya.”

“Aku belum pernah muntah pada klienku sih, tapi muntah pada rancanganku, pernah!” ujar Taiga, dan Chika mengerenyit jijik, “Tapi bukan karena alkohol. Aku makan sereal yang sudah kadaluarsa, hahaha,”

Chika tertawa hingga air matanya keluar, “Serius deh Kyomoto-san, kasus sepertimu itu selalu membuat ER penuh,”

Chika merasakan ponselnya bergetar tanda e-mail masuk.

From: Kou-chan
Subject: Holiday
Kau mendapatkan e-mailku?
Hello?

Chika segera mengecek kotak masuknya dan menemukan sebuah pesan dari Kouchi. Chika pun segera membalasnya, sekaligus memberitahukan bahwa ponselnya ketinggalan tadi pagi.

“Kau membuka kotak masukku?” tanya Chika pada Taiga.

“Tentu saja, aku kan mengecek e-mail milikku,” jawab Taiga, “Lalu e-mail dari Kou-chan muncul. Maafkan aku,”

“Kau kenal Kouchi Yugo?!” kebetulan macam apa ini?!! Seru Chika dalam hati. Lagipula Kyomoto Taiga ini memanggil Kouchi seperti mereka sudah sangat dekat.

Taiga mengangguk, “Kami teman satu klub basket di SMA,” jelasnya, “Kau pacar Kou-chan?” tembak Taiga langsung.

Chika otomatis menggeleng, “Tidak-tidak… aku… teman satu kampus, dan… ugh,” sebenarnya percuma mengelak karena bahkan wallpaper ponselnya saja muka Kouchi yang sedang serius membaca di perpustakaan. Ya, Chika se-stalker itu sebenarnya.

“Berarti kau suka pada Kou-chan,”

BINGO!

Chika tidak punya kata-kata untuk mengelak maka dia hanya tertawa miris mendengar tuduhan Taiga. Yah, tidak bisa dibilang tuduhan sih, apalagi e-mail yang kebetulan Taiga buka malah mengajaknya kencan saat malam natal.

“Ya. Aku suka padanya, hanya aku yang suka padanya, Kou-chan tidak menyukai aku,” ucap Chika, hatinya sedikit sedih dengan kenyataan ini.

“Maafkan aku sudah lancang,” kata Taiga.

Chika menggeleng, “Kou-chan tau kok, hanya saja dia tidak pernah memberiku jawaban tegas mengenai perasaanku,”

“Oops,” Taiga kembali minum birnya, “cinta bertepuk sebelah tangan memang tidak pernah enak, kan? Hahaha,”

“Ya! Kau benar!!” seru Chika, “Kau berharap, kau ingin menyatakannya walaupun sebenarnya…” Chika minum dulu sebelum melanjutkan, “kita tau bisa saja tidak ada harapan dari perasaan kita!”

Taiga mengangguk-angguk, “bien sûr!I”

“Ow.. kau bisa bahasa Perancis!”

“Sedikit saja, aku pernah tinggal di sana,”

Chika mengangguk, “Kau tau, aku bahkan melepaskan kesempatan magang di Jerman demi bersama Kou-chan di Rumah Sakit Universitas. Apa aku bodoh?” Chika menoleh dan menatap wajah Taiga yang terlihat kaget.

“Itulah cinta, kau bisa bilang itu bodoh tapi menurutku yang paling dasar dari cinta adalah saat kau ingin bersama-sama terus dengannya. Jadi, kupikir kau tidak bodoh,”

“Terima kasih, Kyomoto-san,”

Taiga mengangguk, “Sama-sama. Terima kasih kau mempercayakan curhatanmu kepadaku,”

Malam itu mereka bahkan minum bergelas-gelas sambil menceritakan hal-hal remeh seperti Rumah Sakit, berteori mengenai cinta yang bahkan tidak begitu mereka mengerti. Tapi senang rasanya menemukan teman seperjuangan dalam cinta.

“Terima kasih untuk malam ini, Konno-san, senang berkenalan denganmu,” ucap Taiga ketika gelas birnya sudah kosong, gelas birnya yang entah keberapa. Taiga berhenti menghitung setelah gelas keempat.

Chika mengangguk, “Terima kasih juga, sudah mengantarkan ponselku, jangan muntah di desainmu besok pagi,” ucap Chika, disambut tawa keras oleh Taiga.

“Ayo aku antar naik taksi,”

Chika mengangguk dan mengikuti langkah Taiga keluar dari bar.

***

To be Continue

Advertisements

1 thought on “[Multichapter] Flavor Of Love (#7)

  1. hanazuki00

    Anjir dibuka juga 2 kenyataan pahit sejaligus di chapter ini. Tega emang author mempermainkan pembacanya 😭😭😭

    Dedek shin…. jaga reina yaaa sepertinya habis ini akan ada pertumpahan darah. Jadilah drdek yg baik yg memjaga reinaaa kok aku takut shin knapa knapa yaaa heddeh 😭

    Hikari chan hikari chan mantan selingkuhannya jesse. Ouemjiiii aku syog mamihku sayang! Terus kok bs berpaling ke hokku sampe begitu sih? Itu yakin skrg dah ga ada apa apa sama jess? Yakin cerita begitu ke jess biasa aja? Nggak kerasa sakit apa gmana? Itu 1st kissnya diambil jess kan? Iklaaas? Terus hoku apa? Kalian dah nikah loooh jgn nakal dong ya hikari chaaan.

    Chisse, aku nasih ga suka chara ini titik

    Kouchi papa 😭😭😭 ku mau liat kouchi gmana kl tau yukari anaknya beneran. Kasian bgtttt seika kouchi padahal bs bareng lagi.
    Terus terus seika hokku dulunya gmana mih? Errr kenyataan pahit apa lagi yg mau dibuka chapter depan 😭😭😭

    Chika itu… kl tau kouchi udh punya anak gmana? Yakin masih mau?

    Juree ma mih? Kok ga muncul? 😂😂😂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s