[Multichapter] Seven Colors (#8)

Seven Colors

sevencolors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 8)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Kaede membuka matanya, sinar matahari sudah menerobos masuk ke sela-sela jendela kamarnya, ia meregangkan ototnya, sedikit lega karena hari ini masih minggu itu artinya dia masih punya sehari untuk liburan.

“ASTAGA!!” teriak Kaede, ia menjauh dari kasurnya sendiri ketika melihat wajah Sanada tepat berada di sebelahnya.

Ah iya.

Sanada Yuma ini semalam menginap di apartemennya karena bersikeras mengantarnya pulang padahal dirinya sudah berbaik hati mau mengantar Sanada sampai ke rumah, lalu mereka menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul satu pagi dan Sanada sudah tidak sanggup menyetir balik ke rumahnya, entah alasannya saja, Kaede tak tau lalu mereka berakhir di satu ranjang. Tidak mereka tidak melakukan apapun kecuali tidur, dan uhuk, Sanada memeluknya, itu saja.

Tampaknya keributan yang dibuat Kaede tidak mengganggu pria itu karena dilihatnya napas Sanada yang masih teratur, wajahnya pun masih sama sejak tadi, terlihat tenang dan tanpa beban.

“Aku menyukaimu Kaede, dan kali ini aku tidak main-main,” wajah Kaede terasa panas sekarang mengingat apa yang dikatakan oknum yang kini tertidur dengan pulas di ranjang miliknya, “Bukan karena kasian, aku hanya menyadari sepenuhnya bahwa memang dirimu yang kuinginkan!” nada tegas itu meluncur tanpa jeda dan tanpa terdengar ragu sama sekali.

Tentu saja saat itu Kaede hanya bisa mematung, menatap Sanada dan wajah seriusnya, bertanya pada hatinya sendiri, bisakah dia mempercayai cinta seperti Sanada mempercayainya? Sanada adalah pria pintar, menyenangkan, bahkan dapat dipercaya, apalagi sih yang Kaede pikirkan? Tentu saja tidak semudah itu karena Kaede punya trauma soal cinta, sulit sekali baginya menerima seseorang dalam hidupnya. Pernikahan sudah merenggut kebahagiaan orang-orang disekitarnya, apa yang bisa dijanjikan oleh sebuah kata suka atau cinta? Toh Kaede hidup sendirian selama ini dan dia baik-baik saja.

Ohayou, wajahku tampan ya? Kau menatapku sampai bengong gitu,” goda Sanada, sukses membuat Kaede mundur dan benar-benar jatuh dari ranjang.

BRAK!

Sanada segera menghampiri Kaede, terkekeh melihat wanita itu misuh-misuh karena tangannya terantuk meja samping ranjangnya, “Sanada bodoh!” hardik Kaede, tidak benar-benar mengumpat, dia hanya kesal melihat wajah pria itu penuh kemenangan, seakan menangkap basah dirinya sedang memerhatikan Sanada, padahal Kaede kan hanya sedang melamun. Tangan Sanada terulur untuk membantu Kaede bangun, yang akhirnya diterima oleh Kaede walaupun masih setengah dongkol karena Sanada masih saja tersenyum konyol dihadapannya.

Arigatou.”

“Kita pergi sarapan?” tanya Sanada, meregangkang tangannya ke atas lalu dengan gerakan lambat memeluk Kaede, “Hmm?”

Kaede mendorong tubuh Sanada menjauh darinya, hatinya dag dig dug tak karuan, “Uhmm.. aku bikin pancake saja, tunggu sebentar!” ucapnya dan berlalu dari hadapan Sanada.

“Ini ideal bukan?” Sanada duduk di meja makan sementara Kaede sedang sibuk dengan adonannya, “Aku, kamu…” Sanada berhenti lalu mengulangnya, “Kita, pagi hari, pancake,” katanya lalu tersenyum, “aku mau melakukan ini setiap hari seumur hidupku.”

“Apa?!” Kaede merasa beruntung dirinya kini memunggungi Sanada, wajahnya sudah merona merah ia bisa merasakan pipinya memanas.

“Bersamamu seumur hidupku,” Sanada mengatakannya dengan santai, seakan itu bukanlah pernyataan yang luar biasa.

Untuk beberapa menit setelahnya Kaede membereskan pancake nya lalu mengambilkan kopi untuk Sanada dan teh untuk dirinya, menyodorkan pancake dengan topping buah-buahan dihadapan Sanada.

“Kenapa tidak menjawabku?” tanya Sanada, mulai makan sambil masih menatap Kaede, “Kaede?”

“Aku butuh lebih banyak waktu, Sanada-kun.”

Sesingkat itu jawaban Kaede, tanpa menyisakan ruang untuk Sanada berargumen.

***

Ketika Reo masuk ke kelas, dia melihat Aoi sedang tertunduk, entah apa yang dia lihat dan Reo pun menjadi penasaran lalu menghampiri gadis itu, “Hey! Jangan melamun!” alangkah kagetnya Reo ketika melihat mata sembab Aoi, “Ada apa lagi? Hagiya-san lagi?” karena Aoi terdiam, Reo menyimpulkannya sebagai jawaban iya, “Bagaimana… kalau kita bolos saja hari ini?”

“Hah?!”

Reo mengambil tas Aoi lalu menarik tangan gadis itu, “Ayo! Mumpung belum bel masuk!”

Tak sampai lima menit mereka sudah berada di area belakang sekolah yang belum pernah Aoi datangi. Padahal nyaris tiga tahun dia di sini, tapi baru kali ini dia melihat tempat ini.

“Ayo naik!” ada sebuah undakan yang dapat membantu mereka melewati pagar sekolah, menuju ke sebuah hutan kecil di belakang sana. Reo bergerak duluan, sambil membawa dua tas, miliknya dan milik Aoi, “Tidak apa-apa! Aku akan menangkapmu jika jatuh!” ucapnya, kali ini Reo sudah berada di balik pagar sekolah.

Aoi malas berpikir lagi, dia menaiki undakan itu, melangkahkan kakinya untuk memanjat pagar. Kakinya sudah di posisi atas pagar, Aoi mencoba berbalik, namun…

BRUK!!

Sukses terpeleset, kini Aoi menimpa tubuh Reo, dia tidak merasa sakit sih, hanya sedikit kaget, “Nagatsuma!! Hey!! Kau baik-baik saja?!” seru Aoi mengguncang tubuh Reo yang tak bergerak di bawahnya.

“Gimana bisa gerak kalau kau menimpaku begini,” protesnya, “putih,” Reo bergumam, senyumnya mengembang seperti orang bodoh.

PLAK!!

“Berani-beraninya kau mengintip!!” seru Aoi tidak terima.

Reo terbahak-bahak, “Bukan salahku! Salahkan angin yang menerbangkan rokmu tadi!” balas Reo, lalu melindungi dirinya dengan tas milik Aoi sebelum gadis itu berhasil menamparnya lagi, “Lagian cuma keliatan sedikit ko… gomen gomen!”

Karena tidak bisa protes lagi Aoi hanya merebut tasnya, lalu berjalan mendahului Reo.

“Ayo! Aku tunjukkan tempat yang keren!” Reo menyusul Aoi, membawanya ke jalan setapak ke dalam hutan, dan Aoi baru tau kalau ada hutan kecil seperti ini di belakang sekolah, tidak luas, tapi cukup asri, “Dulunya pemilik Sakura Gakuin membuat hutan ini untuk tempat bermain murid-murid, tapi nyatanya malah sering dipakai bolos, jadi mereka akhirnya membangun tembok itu,” jelas Reo.

“Tapi tetap suka dipakai bolos dong?” tanya Aoi, mengingat ada undakan dari beberapa kotak di sana.

“Itu sih akal-akalan kita aja, kalau ketahuan pasti dibuang, begitu terus selama tiga tahun ini! Ahahaha.”

“Jadi Nagatsuma sering bolos lewat sana ya?”

Reo menggeleng, “Tidak sering ko, aku hanya sesekali ke sini kalau sedang suntuk,” langkah mereka lalu berhenti, ada sebuah sungai kecil di belakang sana, Aoi sampai terpana dibuatnya, “Gimana? Keren kan? Cocok sekali buat yang galau sepertimu!” dan ketika Aoi menoleh, Reo sedang tersenyum ke arahnya.

Melihat Reo sudah duduk di pinggir sungai Aoi ikut duduk di sebelahnya, “Makasih ya Nagatsuma,” Aoi meninju pelan bahu pemuda itu, “Walaupun aku pasti kena marah nih kalau ketahuan bolos, huh!”

Tak menjawab, Reo hanya tersenyum menanggapinya.

“Kenapa aku tidak bisa suka sama Nagatsuma saja sih?” keluhnya, menatap jauh ke arah sungai dihadapan mereka.

Reo tersentak, menatap Aoi dengan bingung, “Kamu mabuk ya?”

Aoi tergelak, “Ahahaha, tentu saja tidak! Dasar bodoh!”

“Habis bicaramu melantur!” seru Reo, “Kirain kamu mabuk obat batuk!” tambahnya, membuat Aoi kembali tergelak, ada-ada saja guyonan tidak mutu dari seorang Rei ini, ya setidaknya bisa mengobati seidkit rasa sakit hatinya.

“Jadi, kemarin Hagiya-san pulang ke rumah dengan sumringah, aku tidak bertanya, tapi Akane-san yang tanya dan Hagiya-san cerita kalau akhirnya dia berani meminta…” Aoi berpikir sebentar dia juga agak lupa dengan namanya, “pokonya intinya Hagiya-san melamar seoarang wanita!” seru gadis itu, “rasanya sedih sekali, apalagi dia ternyata benar-benar hanya menganggap aku adik saja.”

Memang Reo tidak bertanya, tadi gadis itu cepat atau lambat pasti bercerita. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, baik Reo maupun Aoi hanya menatap ke depan, mata mereka terpatri pada aliran sungai yang ada di depan.

“Ya sudah… Saito, kamu pacaran denganku saja,”

Hening. Aoi mencoba mencerna perkataan Reo, lalu menghela napasnya.

“Memangnya Nagatsuma suka padaku?” tanya Aoi, menatap Reo yang kini terlihat berpikir, “Ah dasar bodoh! Jangan mengajakku pacaran kalau kau tidak suka padaku!” protes Aoi.

Reo tergelak, “Ahahaha kan tidak masalah, Saito juga kan tidak suka padaku! Jadi impas kan?”

“Terus kita pacaran ngapain?!” gemas sekali Aoi mendengar Reo berkata seperti itu.

“Ya apa gitu… kamu harusnya bangga loh Nagatsuma Reo ngajak pacaran, nanti Saito Aoi jadi terkenal… kan aku terkenal!” serunya, membuat Aoi makin terbahak-bahak. Yah setidaknya sepagian ini Aoi bisa tertawa lepas, melupakan sakit hatinya semalam.

***

Baik Ruika maupun Shoki tidak mengeluarkan kata-kata apapun, keduanya hanya saling bertatapan, sudah begitu sejak sepuluh menit yang lalu. Shoki mendatangi apartemen Ruika setelah gadis itu meneleponnya, mengatakan bahwa mereka harus secepatnya bicara, tanpa pikir panjang Shoki segera meluncur ke apartemen Ruika sepulang mengajar.

“Apa kabarmu?” setelah sepuluh menit yang canggung itu Shoki akhirnya bersuara, “Kau baik-baik saja?”

Ruika mengangguk, “Un! Aku baik-baik saja kok.”

“Soal malam itu, aku benar-benar minta maaf, Akane-chan sedang dalam masalah, aku tidak mungkin membiarkannya seorang diri, karena itulah aku menjemputnya,” ucap Shoki.

Souka.”

“Aku tau Ruika-chan pasti marah, tapi mengertilah kalau aku dan Akane sudah seperti saudara,” ucap Shoki, dan sebagai jawaban Ruika hanya mengangguk, “Jadi, mengertilah..”

“Sejak dulu aku sudah bilang, Akane-chan itu menyukaimu, kau tidak sadar akan hal itu?” akhirnya Ruika menjawab Shoki.

Sambil menggeleng Shoki tersenyum, “Akane itu adikku.”

“Entah Shoki-kun itu bodoh atau pura-pura bodoh, tapi Akane-chan jelas-jelas menyukaimu, dan maksud dia mendekatimu bukan hanya ingin menjadi adikmu, tapi lebih dari itu.”

Shoki mendesah tak nyaman, “Tapi dia kuanggap adikku dan aku hanya menyukai dirimu,” entah sudah berapa kali Shoki mengulang kalimat ini sejak mereka resmi berpacaran, tapi Ruika tetap merasa tidak nyaman dengan pertemanan dirinya dengan Akane, “Kau tidak akan menyerah sampai aku benar-benar menjauhi Akane?” tanya Shoki.

Ruika tidak menjawab hanya menatap wajah Shoki yang terlihat bingung campur marah, dia tidak ingin egois sesungguhnya, tapi menjalani hubungan seperti ini dengan Shoki membuatnya tidak nyaman, terutama setelah Akane sekarang satu pekerjaan dengan Shoki, ia tidak nyaman dengan keadaan Shoki yang semakin sering bertemu dengan Akane, hatinya tidak tenang setiap kali memikirkan hal itu.

“Aku ingin tidak ada lagi kontak antara Akane dan Shoki-kun, jika memang Shoki-kun memilihku,” Ruika menghela napas, “terima saja tawaran Ayah untuk bekerja di perusahaannya, jadi Shoki-kun tidak perlu bertemu lagi dengan Akane.”

Shoki agak kaget karena dia tidka menyangka kalau Ruika tau mengenai hal ini, “Eh dari mana kau…?” kalimat Shoki menggantung, mencoba tidak tersulut emosinya kali ini, sepanjang hari-harinya bersama Ruika, baru kali ini gadisnya benar-benar marah padanya, bahkan berhari-hari tidak menghubunginya, padahal biasanya Shoki hanya perlu merayunya sedikit lalu Ruika akan luluh padanya.

“Aku sendiri yang meminta Ayah untuk menerimamu di perusahaan Ayah,” ucap Ruika, dan Shoki tiba-tiba merasa marah, tapi marah pada Ruika sekarang sama saja tidak akan menyelesaikan masalahnya.

“Kalau tawaran kerja itu, sesungguhnya aku belum bisa, Ruika, masih berat untuk meninggalkan anak-anak apalagi di tengah semester seperti ini,” ucap Shoki, “Tapi aku akan pindah ke sini, ke mansionmu, bagaimana?”

“Benarkah?” tampaknya Ruika sudah mulai mencair perasaannya karena walaupun berusaha menyembunyikan, tapi Ruika terlihat senang dengan pernyataan Shoki tadi.

Shoki mengangguk, menarik Ruika ke dalam pelukannya, “Maafkan aku membuatmu khawatir ya,” dan Ruika menyerah, memeluk balik kekasihnya itu, setidaknya ia bisa lebih tenang sekarang.

***

“Kirie-san!!” Hagiya berlari ke depan saat melihat Hazuki menggandeng tangan Kenichi menjauh dari sekolah, sore ini memang Hazuki sedikit terlambat, sehingga Kenichi menjadi satu-satunya anak yang belum pulang hingga hampir malam begini.

“Eh… Hagiya-san, kukira Hagiya-sensei sudah pulang,” kata Hazuki, tidak jelas hatinya sekarang kenapa berbunga-bunga menatap pria ber apron kuning bertuliskan ‘KEIGO’ itu dihadapannya.

“Tadi siang Keigo-sensei mengajari aku membuat origami, Ma!! Kodok!!” seru Kenichi yang kini menarik-narik tangan Hazuki.

“Oh ya? Nanti Mama ajari juga ya sama Ken-chan!” balas Hazuki.

Kenichi menggeleng, “Mama harusnya minta ajarin Keigo-sensei bukan sama akuuu,” jawabnya, membuat Hazuki ingin menjitak gemas anak semata wayangnya itu.

“Ken-chan, Sensei mau bicara sebentar dengan Mamanya Ken-chan, ke dalam sebentar ya? Sebentar saja…” ucap Hagiya pada Kenichi yang akhirnya mengangguk lalu berjalan menjauh dari Hazuki dan Hagiya.

Hagiya duduk di pelataran sekolah, Hazuki mengikutinya, “Anou Kirie-san, soal malam itu, aku…. hmmm,” Hagiya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, rasanya serba salah, dia bingung harus melakukan apa, Hazuki tidak menjawab pesannya sama sekali sejak malam ia melamar wanita itu.

Hazuki melirik Hagiya, sesungguhnya dia sangat ingin tau alasan pria itu melamarnya.

“Aku tidak main-main. Sesaat aku memang terlihat aneh ya, tapi aku tidak main-main, aku menyukai Kirie-san, dan…”

“Hagiya-san masih muda, dan pasti banyak wanita yang menyukaimu, aku ini sudah punya Ken-chan,” sahut Hazuki memotong perkataan Hagiya dengan cepat, “Lagipula kita baru kenal, aku… bingung sesungguhnya bagaimana bisa kau melamarku begitu saja!” lanjutnya, tak berani menatap ke arah Hagiya yang sedang menatapnya dengan seksama.

Gemas sekali rasanya Hagiya ingin memeluk Hazuki namun sebagian dari dirinya juga bingung, ini lingkungan sekolah, mana bisa dia berlaku gegabah macam itu. Memeluk orang tua murid di pekarangan sekolah bukanlah hal yang baik untuk dilakukan seorang guru.

“Kalau begitu Hagiya-san, lebih baik aku pulang dulu,” Hazuki ingin segera melarikan diri sebelum ia berubah pikiran, jujur saja sikap Hagiya yang sangat baik dan perhatian membuatnya takut bisa sedikit demi sedikit bisa menyukai Hagiya, dan jujur saja Hazuki belum bisa memikirkan hal itu, sebagian dari dirinya masih berharap bahwa hubungannya dengan Yasui bisa membaik, bagaimanapun juga Yasui adalah cinta pertamanya, dan ayah dari Kenichi.

“Sebentar Kirie-san!” sesaat setelah Hazuki beranjak dan berniat memanggil Kenichi, Hagiya juga kini ikut berdiri, “Kumohon, biarkan aku mengenalmu dan Kirie-san juga mengenalku, setelah itu barulah Kirie-san boleh memilih untuk menolakku atau tidak,” di keheningan yang cukup membuat canggung itu keduanya hanya saling menatap, seakan tidak punya kata-kata untuk memecah kecanggungan mereka.

Wakatta,” ucap Hazuki akhirnya.

***

Ketika Aran pulang ke mansionnya malam itu dia menemukan Aika sedang bergelung di depan televisi, menonton serial tanpa menghiraukan kegaduhan saat Aran masuk ke dalam ruangan. Tadi Aran terpaksa lembur sementara Aika langsung pulang, ternyata Aika ada di tempatnya bukan pulang ke rumah Sanada.

“Hey, sudah makan malam?” tanya Aran, menghampiri Aika, “Aika-chan,” Aran membelai pelan rambut gadis yang tak bergeming itu.

“Gak laper,” jawab Aika, matanya masih menatap layar televisi.

“Kamu tetep harus makan,” kata Aran lagi.

“Aku gak laper,” ucapnya lagi, membantah Aran, membiarkan pemuda itu mengelus pelan rambutnya, “Aran-kun makan saja sana sendiri!” serunya.

Aran belum menyerah, dia menarik tangan Aika yang masih berbaring di sofa depan televisi lalu saat Aika berhasil duduk, ia pun melesakkan badannya di sebelah Aika membuat gadis itu kesal, “Ugh! Apa-apaan sih, ganggu aja!” tukas Aika sambil menyikut pelan lengan Aran, “Sana ganti baju dulu!!”

“Pizza? Uhm… sushi? Ramen?” tanya Aran, tidak menghiraukan protesnya Aika dan malah sibuk melihat beberapa selebaran yang memang disimpan di sebalah meja kecil dekat sofa, isinya beberapa alamat dan nomor telepon restoran yang sering Aran hubungi untuk membeli makanan.

“Sushi saja,” jawab Aika akhirnya, membiarkan Aran sibuk dengan ponselnya untuk memesan makanan, sebenarnya dia cukup lapar sih, hanya malas bergerak untuk makan atau mengunyah, “sana ganti baju!!” Aika belum menyerah, dan mendorong bahu Aran yang masih keras kepala tidak mau beranjak dari sofa. Pemuda itu tertawa, membiarkan Aika kesal dengan dirinya, “Ih!! Sana ganti baju!!” serunya belum mau kalah.

“Ahahaha, bodoh!” Aran menarik tubuh Aika ke dalam pelukannya, “gak bau kan?!” Aika hanya bisa mencoba mendorong pemuda itu menjauh tapi tidak berhasil tentu saja karena tenaga Aran lebih besar darinya, “Aika,” panggil Aran, gadis itu berhenti meronta dan menatap Aran yang kini jaraknya dekat sekali dengan dirinya, “sepertinya aku kalah.”

Aika terdiam, tidak mengerti apa yang Aran maksud, untuk beberapa saat ia hanya memandangi wajah Aran yang mendadak terlihat serius, “Kalah apaan? Main game?”

“Aku jatuh cinta padamu, aku kalah…”

DEG.

Tiba-tiba saja Aika merasa dadanya bergemuruh, campuran antara kebingungan dan tidak percaya menghantui dirinya. Bagaimana bisa? Aran tidak sedang mabuk kan?

Aran sendiri tidak tau bagaimana dia akhirnya bisa menyimpulkan bahwa dirinya jatuh cinta pada Aika. Sudah lama, sejak entah kapan Aran merasakan lagi kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari pacarnya yang manapun. Aran ingin berlama-lama menatap Aika, merasa tidak rela ketika Aika harus pergi dan merasa senang sekali jika bertemu, seperti saat ia pulang tadi dan menemukan Aika di dalam mansionnya, Aran jatuh cinta dan tidak tau kapan ia mulai jatuh cinta pada Aika.

“Kau mabuk?” tanya Aika akhirnya, dan pemuda itu terkekeh.

“Bodoh!” Aran menarik wajah Aika mendekat, mengecup pelan bibir gadis itu yang masih hanya menatap Aran seakan pemuda itu alien, “Kau boleh minta apapun, ingat kan peraturannya? Yang kalah harus memenuhi permintaan apapun dari pihak yang menang,” Aika bisa merasakan napas Aran karena jarak mereka masih sangat dekat dan bibir Aran nyaris menyentuh bibirnya lagi.

“Uhmm…” jujur saja Aika merasa limbung, ia tidak tau mana yang harus ia percaya sekarang.

“Aku jatuh cinta padamu, Kimura Aika, hey! Ini aku bicara bukan dengan bahasa alien, jangan menatapku seperti itu!” kata Aran yang membuat Aika akhirnya mendorong pelan bahu pemuda itu agar sedikit menjauh karena Aika mendadak lupa caranya bernapas dengan jarak sedekat itu dengan Aran, “Tidak perlu menjawabnya sekarang, lebih baik kita makan dulu,” Aran beranjak ketika mendengar suara bel dari luar, ia pun mengambil dompetnya dan berlalu dari hadapan Aika yang masih kaget dengan ucapan Aran.

***

Ketika sadar Yasui menatap jam dinding yang ada di sudut ruangan, sudah hampir jam sepuluh malam ketika ia selesai mengetik laporannya, sedikit meregangkan ototnya, ia pun merasa harus menyuplai dirinya dengan kopi sebelum pulang, sekalian istirahat sebentar.  Hampir semua kubikel sudah padam lampunya, tapi ia melihat meja milik Akina belum.

“Akina-chan, belum pulang?”

“Astaga Yasui-san!” Akina hampir melemparkan ponselnya, yang sedang ia lihat dengan seksama, “I… iya… ini laporannya sedikit lagi selesai!” seru Akina, bayangan Yasui menciumnya tempo hari mendadak membuatnya gugup setengah mati ketika harus menatap Yasui sedekat ini.

“Kalau begitu aku tunggu Akina-chan saja, nanti aku antar pulang ya,” kata Yasui dengan santainya, tidak melihat ekspresi Akina yang berubah drastis menjadi panik, “Aku ambil kopi dulu, Akina-chan mau kopi juga?”

Sejak hari itu, Yasui selalu memanggilnya dengan Akina-chan, terutama ketika tidak ada siapa-siapa, dan bentuk teks di aplikasi chat mereka pun tiba-tiba berubah menjadi ‘Akina-chan’ atau ‘Aki-chan’ dan walaupun senang, jujur saja Akina sedikit bingung apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mendadak Yasui sangat baik padanya?

“Tidak perlu Yasui-san, aku sudah minum kopi tadi,” kata Akina, berusaha mengalihkan pandangannya kembali pada layar laptop dihadapannya, lalu Yasui berdehem, menepuk kepalanya sekilas sebelum berlalu menuju pantry.

Tenang Akina… tenang… jangan panik. Akina mencoba menenangkan dirinya dan kembali berkonsentrasi dengan laporan yang sedang ia buat. Bagaimanapun juga seharusnya ia menyelesaikan ini sebelum jam kereta terakhir terlewat.

Hai douzou,” eh? Akina menoleh, Yasui menyimpan secangkir teh panas, “Tidak kopi kan? Kalau begitu aku ambilkan teh.”

“Aduh merepotkan Yasui-san,” ucap Akina, hampir tercekik dengan ucapannya sendiri karena kini dadanya bergemuruh, hampir menulikan dirinya sendiri karena terlalu canggung dan panik.

Yasui menarik kursi di sebelah kubikel Akina lalu duduk di sebelah gadis itu, “Masih banyak?” seakan itu adalah hal yang normal untuk duduk sedekat ini dengan Akina dan dengan semena-mena membuatnya gugup.

“Un!” hanya gumamam itu yang mampu dikeluarkan oleh Akina sebagai jawaban, “Maksudku.. tidak… tinggal sedikit lagi.”

Yasui tersenyum, “Ganbatte ne,” ucapnya.

Beberapa saat keduanya larut dalam pekerjaan masing-masing. Akina menulis laporan sedangkan Yasui sibuk dengan ponselnya, sesekali melirik ke arah Akina.

Anou…Yasui-san,” panggil Akina pelan, Yasui berhenti menatap ponselnya dan pandangannya beralih ke Akina, “soal malam itu… anou…uhm…” Yasui masih diam, menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Akina, “aku tidak mengerti kenapa Yasui-san menciumku,” Akina menggigit bibirnya, rasanya lega walaupun kini dia malah takut untuk mendengar jawabannya.

“Tentu saja karena aku menyukaimu, Akina-chan,” Yasui mengatakanannya seakan itu adalah hal yang biasa, sementara kini Akina merasa wajahnya panas, “Aku tidak akan mencium gadis yang tidak aku sukai, iya kan?”

“Eh?” Akina menunduk, tidak berani menoleh ke arah Yasui.

“Akina-chan tidak menyukaiku?”

Akina menggeleng, “Bukan itu, Yasui-san! Tapi… aku…”

“Kalau begitu tidak ada masalah kan?” detik selanjutnya Yasui menarik wajah Akina menghadap kepadanya dan mengecup pelan bibir Akina, mata gadis itu terbelalak karena gerakan Yasui yang tiba-tiba, masih belum sadar apa yang terjadi Yasui mengecup dahi Akina, “Akina-chan mau jadi pacarku?”

HAAHHH?!

Akina menatap Yasui dengan kaget, “Hah?”

“Tidak mau?” Yasui masih tersenyum dan tangan pria itu masih di pipinya, tidak sehat untuk jantungnya. Akina masih terdiam, tidak menjawab, tidak tau harus mengatakan apa pada Yasui.

***

Ruika mengirimkan teks padanya sore tadi mengabarkan bahwa dirinya dan Shoki sudah berbaikan, ditambah pesan terima kasih kepadanya karena sudah ‘memaksa’ Ruika untuk berbaikan dengan Shoki. Yah, kadang-kadang cinta bikin bodoh kan? Myuto merasa begitu, dia menyukai Ruika, tapi mendorong gadis itu berbaikan dengan pacarnya, bodoh memang, tapi beginilah Myuto hanya ingin Ruika berbahagia, tidak ada yang lain.

Myuto mengendarai mobilnya di tengah keheningan malam kota Tokyo, sepertinya butuh sedikit alkohol untuk menenangkan pikirannya sekarang. Lepas lagi lah kesempatannya memiliki Ruika, tapi sudahlah, yang penting gadis itu bahagia. Mobilnya meluncur menuju sebuah klub host tempatnya biasa menghabiskan waktu ketika sedang suntuk. Berbicara dengan gadis-gadis itu memang hanya sekedar peleas stress, toh mereka hanya menemani ngobrol tidak lebih. Ketika Myuto masuk dia langsung disambut oleh seorang butler yang sudah mengenali dirinya.

“Morita-sama, seperti biasa?” tanyanya, dan Myuto mengangguk, mengikuti langkah butler tersebut ke sebuah meja bulat dengan penerangan remang-remang tapi berkesan mewah, “Tunggu sebentar, Morita-sama.”

“Malam ini aku mau full time ya, jangan oper Akane-chan dengan guest lain,” kata Myuto, dan butler itu mengangguk mengerti. Tak sampai lima menit seorang gadis dengan pakaian gaun malam yang agak sedikit terbuka menghampiri Myuto, berbanding terbalik dengan wajah imutnya, pakaian gadis itu terlalu terbuka menurut Myuto.

Akane memang terlihat seperti anak kecil, mungkin terkadang gadis itu disangka belum cukup umur untuk bekerja di tempat seperti ini, tapi mungkin karena wajahnya yang kelewat muda lah Akane menjadi salah satu top 5 host disana.

“Selamat malam Myuto-kun,” Akane duduk disebelah Myuto, “Apa kabar? Sudah lama Myuto-kun tidak ke sini,” katanya, lalu menyiapkan minum untuk Myuto dengan gerakan yang luwes.

“Iya ya? Hmm… aku sedang sibuk di kantor,” jawab Myuto, “Katanya Akane-chan mau berhenti jadi host?” Myuto ingat beberapa bulan lalu dia sempat mendengar dari Akane kalau gadis itu akan berhenti jadi host, dan ingin bekerja di tempat lain.

Akane tersenyum, menyerahkan gelas minuman kepada Myuto, “Iya Myuto-kun, tapi aku masih ada beberapa hal yang harus dibereskan, jadi tidak bisa keluar begitu saja,” katanya, Myuto mengangguk-angguk.

Mengobrol dengan Akane walaupun berjam-jam memang tidak terasa, Myuto tidak mau mabuk, tapi toh dia sedang suntuk, jadi sejak tadi sambil mengobrol dia tidak berhenti mengisi perutnya dengan minuman beralkohol. Akane juga tidak memprotes dan terus memberikan minuman pada Myuto.

“Uhmm.. pusing,” ucap Myuto, memegang kepalanya, mungkin sudah terlalu banyak alkohol yang dia minum, “Akane-chan tidak minum? Uhmm?” Myuto menyerahkan gelas yang baru saja dia pegang.

“Myuto-kun, lebih baik anda segera pulang,” Akane mau tidak mau khawatir juga walaupun lebih lama berarti uang lebih banyak masuk ke kantongnya, tapi melihat keadaan Myuto, pemuda ini memang lebih baik segera pulang.

Keadaan host club memang sudah sedikit sepi, sudah mendekati jam tutup. Myuto menyandarkan kepalanya ke belakang, mencoba menetralkan perasaan pusingnya.

“Akane, Morita-sama mabuk berat, lebih baik kau mengantarnya,” manajernya menghampiri Akane, “Akan bahaya jika dia pulang sendiri,” tambahnya. Akane mengangguk, beranjak ke belakang untuk mengganti pakaiannya dan menghapus sedikit make upnya sebelum kembali ke depan dan dengan dibantu manajernya memapah Myuto untuk mencari taksi.

“Kau tau alamatnya kan?” tanya manajernya ketika Myuto sudah masuk ke dalam taksi. Akane mengangguk, sebagai host yang baik dia memang selalu ingat setiap detail pelanggannya, dari kebiasaan minumnya, sampai ke alamat dan topik yang disukai oleh pelanggannya ketika mengobrol.

“Akane-chaaannn..” Myuto merebahkan kepalanya di bahu Akane, “Aku patah hati lagi… hiks…” sepanjang malam ini Myuto memang bercerita soal seorang gadis yang disukainya, topik ini belum pernah ia dengar sebelumnya, biasanya Myuto bercerita tentang keluarganya atau pekerjaannya.

Sesampainya di depan gedung mansion Akane bersusah payah menahan tubuh Myuto yang tidak stabil karena mabuk, ditambah lagi pemuda itu cukup jangkung sehingga membuatnya kepayahan. Akane menjelaskan pada keamanan mansion, kalau Myuto mabuk berat dan ia meminta mansion milik Myuto untuk dibuka dengan kunci cadangan. Dengan dibantu oleh petugas keamanan akhirnya Akane berhasil merebahkan Myuto di sofa mansionnya. Akane meregangkan bahunya, merasa pegal setelah memapah tubuh jangkung Myuto, petugas keamanan sudah kembali keluar dan meninggalkan Akane dengan Myuto yang sudah tertidur lelap di sofa.

Akane sedang mencoba membuka jaket yang dipakai oleh Myuto karena pemuda itu akan kegerahan jika tidur memakai jaket di ruangan yang cukup hangat ini, dia menarik tubuh Myuto sedikit terangkat untuk melepaskan jaket pemuda itu tapi tangan Myuto terulur dan menarik tubuh Akane ke dalam pelukannya.

“Ruika…” gumamnya, begitu jelas di telinga Akane.

EH?

“Jangan tinggalkan aku…” tambah Myuto, Akane merasakan pelukan Myuto semakin kencang, “Kumohon….”

***

To Be Continue~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s