[Multichapter] Flavor Of Love (#6)

Flavor Of Love

FOL5
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 6)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^


Seika baru saja sampai di Rumah Sakit ketika ia melihat Kouchi mendatangi dirinya.

Ohayou, Sei-chan,” sapanya. Senyum Kouchi mengembang, “Aku butuh bicara denganmu.”

Setelah Seika mengantar Yukari ke tempat bermain anak-anak dia mengikuti langkah Kouchi ke sebuah ruangan, keduanya duduk berhadapan sementara Kouchi memperlihatkan beberapa dokumen di hadapan Seika.

“Ada apa ini?” tanya Seika.

Kouchi tampak khawatir, pria itu menghela napasnya, “Kanker Ayahmu menjalar dengan sangat cepat, tampaknya operasi akan menjadi sangat beresiko,” ucap Kouchi membuka percakapan, Seika masih terdiam kaget dengan apa yang didengarnya, “Kami pikir kalau tingkat keberhasilannya akan sangat rendah, kami menyarankan untuk meneruskan kemoterapi tanpa operasi.”

“Tapi, Kou-chan, kemarin…”

“Iya, kami melihat dalam beberapa minggu ini ternyata menjadi lebih parah, kami lebih menyarankan langkah tanpa operasi,” kalimat Kouchi menggantung, “setidaknya lebih baik begitu, memberikan waktu lebih lama untuk Ayahmu, gomen Sei-chan, aku juga ingin sekali membantu Ayahmu sembuh, tapi….”

Wakatta!” Seika tau dan ia mengerti bahwa ini akan menjadi keputusan besar, “Tapi… aku….uhmmm…” alis Seika nyaris beradu, wanita di hadapannya ini pasti sedang berpikir keras.

“Aku bisa bantu menjelaskannya pada Ayahmu, dan semua keputusan akan tetap kami lakukan. Jika pun Ayahmu tetap memilih jalan operasi, kami akan melakukannya, dengan sebaik mungkin.”

Seika menatap Kouchi, mendesah tak nyaman dengan semua keputusan ini, “Baiklah Kouchi-sensei, maaf sekali lagi loh merepotkan,” ucap Seika.

“Tentu saja tidak. Ayahmu adalah pasien kami, dan tentu saja ini juga jadi tanggung jawab kami untuk menjelaskannya kepada Ayahmu.”

Seika tersenyum, entah harus dengan kata apa lagi ia berterima kasih kepada Kouchi, terutama sekarang, “Arigatou ne Kou-chan.”

Untuk Kouchi, bagian yang paling ia sukai dari Seika adalah senyum gadis itu, mungkin salah satu yang membuat dirinya memutuskan untuk mendekati Seika saat hari pertama masuk kuliah. Seika berdiri sejajar dengannya lalu menanyakan soal ruangan yang dia lihat di papan pengumuman. Saat itu, Kouchi hanya sekedar menjawab walaupun terpana juga menatap senyuman Seika, selanjutnya mereka kembali bertemu ketika Juri mengadakan goukoun dan cewek-cewek yang kebetulan ikut malam itu dari jurusan Seika.

“Tidak suka karaoke ya?” tanya Kouchi saat melihat Seika menyelinap keluar ruangan, duduk di dekat mesin penjual otomatis sambil minum milk tea, favoritenya.

Seika hanya tersenyum, “Tidak juga, aku hanya ingin menyendiri sebentar,” jawabnya.

“Kalau begitu aku mengganggumu, ya?”

“Tidak ko, ternyata tetap lebih menyenangkan ada yang menemani, kan?”

Begitulah mereka salaing bertukar nomor telepon hingga menjalin hubungan tanpa harus berlama-lama saling mengenal. Hari-hari bersama Seika mungkin terbaik untuknya, ia selalu merasa bahagia jika di dekat Seika, walaupun hanya sekedar berdiam diri, Kouchi akan membaca jurnal kedokteran sementara Seika dengan novel romantisnya, keheningan yang mereka berdua ciptakan justru membuat Kouchi betah berlama-lama dengan Seika.

“Kalau begitu, aku pamit dulu ya Kouchi-sensei,” ucapan Seika seakan menarik dirinya kembali dari lamunannya tadi, “Jya, hari ini juga semangat ya sensei!”

***

Pulang kerja kali ini Shintaro tiba-tiba saja ingin pergi ke suatu tempat. Entah kenapa kakinya membawa dirinya ke sebuah tempat yang sebenarnya paling dia benci. Hanya untuk memastikan sesuatu.

Yamamoto.

Nama itu tertulis di gerbang sebuah rumah mewah. Shintaro menatap rumah itu, sejujurnya beberapa kali pula sudah pernah masuk ke rumah itu, sebelum akhirnya Ruiko membelikannya sebuah apartemen yang mudah dijangkau olehnya.

Pintu rumah tiba-tiba terbuka, Shintaro cepat-cepat menyembunyikan dirinya, bukan ide bagus mencari keributan.

“Hati-hati di jalan ya sayang!!” Shintaro melihat Ruiko mencium suaminya, yang bahkan mungkin seumur dengan Ayahnya, lalu melambaikan tangan hingga pria itu masuk ke mobilnya dan pergi.

Sampai kapan akan begini?

Tanya Shintaro pada dirinya sendiri.

Sampai kapan kau mau berlagak tidak tersakiti dan bahagia hanya dengan bersama Ruiko saat wanita itu butuh saja? Apa bedanya kau dengan pria panggilan?

Ponsel Shintaro berbunyi beberapa saat kemudian, benar saja Ruiko yang meneleponnya. Suaminya pasti pergi ke luar negeri.

Moshi-moshi?

“Shin-chan!! Suamiku ke Inggris untuk seminggu. Bagaimana kalau kita liburan ke suatu tempat?” suara Ruiko, yang selama ini ia cintai.

Shintaro mendesah, “Gomen Ruiko-chan, aku tidak bisa.”

“Eh? Kenapa?”

“Aku sekarang kerja,” jawab Shintaro sekenanya.

“Kalau begitu aku akan menginap di apartemen, bagaimana? Seminggu loh!! Kau tidak kangen denganku?”

Gomen. Aku sibuk sekali, lain kali saja ya,” klik. Shintaro menutup teleponnya.

Tidak lama, ponselnya kembali berbunyi, Shintaro kira itu dari Ruiko, tapi ia melihat nama lain di layar ponselnya, Nagatsuma Reina.

“Nagatsuma-san?”

“Hai! Shintaro-kun, ada dimana? Bisa temani aku minum malam ini? Hehehe,”

“Beri tahu tempatnya ya,”

Shintaro segera beranjak dari tempat itu. Dadanya sesak, dan pikirannya kacau. Mungkin dengan bertemu Reina, semuanya akan terasa lebih baik.

.

.

Ketika Shintaro sampai di bar yang Reina maksud, ia langsung menyadari bahwa Reina duduk di meja bar, Shintaro pun menghampirinya, “Nagatsuma-san,”

Reina tersenyum, “Hey,” balasnya menyapa, “mau minum apa?”

“Apapun, yang bisa buat mabuk,”

Dengan wajah bertanya, Reina menatap Shintaro, “Ruiko-san?”

Shintaro tidak perlu menjawab karena semuanya sudah tergambar jelas di wajahnya dan saat Shintaro memesan minuman yang bahkan Reina baru dengar namanya, pasti pemuda itu sedang benar-benar stress, “Hanya bir?” tanya Shintaro.

Reina hanya tersenyum, sejujurnya dia hanya ingin ada yang menemani malam ini karena itulah dia memanggil Shintaro, “Kau tau, Inagaki-san tadi siang memanggilku,”

Shintaro mengangguk.

“Dia memintaku untuk merancang sebuah toko fashion di daerah Roppongi,” ucap Reina memulai pembicaraan.

Shintaro kembali mengangguk, “Wow! Pasti proyek besar,”

“Aku mengiyakan, ini adalah proyek yang lumayan besar. Sampai aku melihat siapa pemiliknya,” Reina menatap Shintaro, dan tanpa suara Shintaro menggumamkan sebuah nama, “yes! Sanada Yuma. Lalu aku protes, aku kembali ke ruangan Inagaki-san untuk menolaknya, kau tau dia bilang apa?”

“Apa?” minuman Shintaro datang dan pemuda itu langsung meneguk setengahnya.

“Nagatsuma-kun, maafkan aku tapi Sanada-san meminta dengan sangat spesifik, dia ingin Nagatsuma Reina yang jadi perancangnya, menurutnya dia sudah sering melihat hasil rancanganmu dan dia sangat menyukainya,” ucap Reina memeragakan ucapan Inagaki-san, “Kau bisa percaya ini?! This is bullshit!” ya, Reina terdengar benar-benar marah, “Maksudku, apa dia ingin menghancurkan lagi hidupku? Menghantuiku?!!” Reina menggebrak meja, “White russian,” kata Reina pada bartender yang berdiri di belakang meja bar yang langsung menjawab dengan senyuman.

“Sejak kapan Sanada-san jualan baju?” pertanyaan yang bagus sebenarnya.

“Tentu saja Shin-chan, ini punya istrinya, bukan miliknya,” jawab Reina dengan wajah setengah nelangsa setengah marah.

“Jadi kau harus mengambil proyek ini?”

“Ya, dan kau asisten proyekku kali ini,”

Sepertinya Reina melihat beberapa tetes keluar dari mulut Shintaro, mungkin dia tersedak minumannya sendiri, “Aku apa? Kenapa bisa?”

Reina tersenyum ke arah Shintaro, “Karena aku ingin kau yang menemaniku ke meeting besok,”

“Baiklah, bagaimana kalau kita minum saja sekarang? Sudah cukup semuanya hari ini aku lelah,” Shintaro kembali memesan minuman lain karena sudah jelas minumannya yang tadi tandas dalam dua kali tegukan.

***

Pukul sembilan malam. Sudah lewat jam makan malam, namun Jesse mulai merasa kelaparan. Jesse keluar dari ruangannya dan melihat semua kubikel sudah padam lampunya, dia memutuskan untuk keluar membeli makan. Apapun, dia tidak ingat lagi kapan waktu makannya sejak Chise tidak bersamanya.

“Jesse!! Ini jam sembilan, kamu tidak boleh makan malam!!” pasti itu yang dikatakan gadis itu, dengan wajah merengut, pasti lucu sekali.

Sudah berapa lama dia tidak menatap wajah Chise? Well,dua hari, dua setengah hari yang rasanya berbulan-bulan.

Delicieux.

Jesse berhenti di depan sebuah restoran dengan nama yang sulit dia eja. Dia pun turun, menepikan mobilnya. Restoran itu belum tutup, bahkan masih banyak orang-orang yang makan di sana.

Saat masuk dia langsung disambut oleh seorang resepsionis.

“Selamat mal…am,”

Chise.

Nagisawa Chise berdiri tepat di hadapannya dengan baju pelayan, menyambutnya sebagai tamu di sebuah restoran perancis. Nagisawa Chise, diperjelas lagi CHISE-nya, jadi pelayan. Apakah Jesse sudah terlalu lelah lalu berhalusinasi?

“Chise?”

“Tuan, sudah pesan tempat?” tanya Chise, dalam hal ini respsionis.

“Belum,”

“Berapa orang, tuan?” Chise terlihat salah tingkah, namun sepertinya ada seseorang yang mengamatinya.

“Satu,”

“Tunggu sebentar,” Chise mengecek ke dalam lalu kembali ke hadapan Jesse, “Silahkan tuan, anda akan diantar oleh teman saya,” Chise menghampiri Jesse dan melepaskan mantel milik Jesse.

“Aku tunggu di luar sampai kau selesai kerja,” ucap Jesse sebelum dia masuk ke dalam ruangan restoran.

Selama makan yang bisa Jesse lakukan hanyalah mengintip ke arah tempat resepsionis dan berharap Chise menengok ke sini, namun nihil, Chise tetap saja fokus pada pekerjaannya. Jesse selesai makan jam setengah sebelas malam, tentu saja dia sengaja membuat lama makan malamnya agar waktu menunggunya tidak lama.

Sementara menunggu Chise keluar dari restoran, Jesse memutuskan untuk berada di dalam mobil saja, mengingat cuaca bulan desember pastinya tidak bersahabat dengannya. Tidak lama, Jesse melihat Chise keluar dari dalam restoran, Jesse segera menghampiri Chise.

“Chise!!” Jesse menangkap aura khawatir pada Chise, yang langusng terlihat tidak nyaman.

“Kita harus bicara,” kata Jesse.

Chise menggeleng, “Tidak perlu,”

“Perlu! Kita harus bicara!” Jesse secara spontan menggenggam tangan Chise.

Akhirnya Chise menyerah dan mengikuti Jesse masuk ke dalam mobilnya, dengan gerakan cepat Jesse memasangkan seat belt milik Chise dan meluncur ke jalanan kota Tokyo. Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun kata yang keluar dari keduanya. Jesse merasa harus mencari tempat yang lebih tenang karena dalam keadaan menyetir, dia bisa saja mencelakakan mereka berdua jika tiba-tiba merasa emosi.

“Kalau mau bicara sekarang saja!” ucap Chise, mencoba tetap tenang dengan laju mobil yang sangat kencang sekarang. Jesse tidak menjawab, dia tetap harus berkonsentrasi dengan jalan, tidak mau ter-interupsi dengan ocehan Chise.

Jesse masuk ke dalam basement sebuah gedung mansion, yang tentu saja Chise tidak asing lagi karena ini adalah gedung dimana mansion miliknya berada. Ralat, dulu mansion miliknya dan saat Chise mengembalikan kuncinya pada Jesse, saat itu pula Chise merasa tidak memiliki hak untuk tinggal di sana.

Turun dari mobil, Jesse membukakan pintu untuk Chise dan menuntun Chise turun dan masuk ke mansion, jujur saja Jesse takut Chise kabur, dan tanpa protes Chise mengikuti langkah Jesse.

Sesampainya di mansion, tiba-tiba saja Jesse memeluk Chise, “I Love You,” bisik Jesse. Sepersekian detik Chise terlihat bingung dan kaget.

Jesse melepaskan pelukannya, menatap mata Chise tanpa ada keraguan sedikit pun, lalu bibir Jesse mendarat mulus di atas bibir Chise, membuat tubuh wanita itu terlonjak kaget. Untuk beberapa saat mereka berciuman dan tiba-tiba saja Jesse berhenti.

Do you love me?” pertanyaan yang dilontarkan Jesse terdengar menuntut dan penasaran.

Chise memilih untuk tidak menjawab, dan karena itulah sesaat kemudian Jesse sudah menyentuh bibir Chise lembut. Bibir Jesse menari sesaat di permukaan bibir Chise sebelum akhirnya memasukkan lidahnya dan mengulum bibir rasa strawberry itu, lipgloss kesukaan Jesse. Sementara Chise memejamkan matanya untuk merasakan sensasi yang sudah lama ia rindukan.

“Jesse, stop!” ada nada memohon di suara itu, dan ketika Jesse sedang mencoba menguasai keadaan, Chise berlari ke arah kamar tidur, mencoba lari dari Jesse, karena jika ini diteruskan,Chise tidak yakin dia bisa mengalahkan keinginannya untuk mendekap Jesse.

Jesse seakan tersadar dan menyusul Chise ke dalam kamar, mendorong tubuh Chise merapat ke tembok kamar. Tangannya mencengram kuat pundak Chise, seolah-olah tidak ingin memberi ruang gerak bagi wanita itu. Bibirnya kembali mendarat di bibir Chise namun kali ini lebih kasar dan menuntut, seolah tak peduli apakah Chise akan meresponnya atau tidak.

Chise menyerah, mulai merasakan kerinduan akan bibir Jesse yang kini mengulum bibirnya. Balik mencium Jesse dan tangannya perlahan merangkul leher pria itu. Tiba-tiba Jesse berhenti, namun kali ini bukan untuk menyudahi ciumannya namun beralih ke leher Chise yang kini menikmati setiap belaian Jesse yang menjelajahi setiap lekuk tubuh Chise yang masih terbungkus pakaian. Beberapa menit yang cukup lama hingga Jesse membopong tubuh Chise ke atas ranjang. Tidak menolak bahkan Chise memeluk leher Jesse sambil menciumi kulit di belakang telinga Jesse.

I love you,” bisikan itu didengar oleh Chise ribuan kali malam itu dan dia tidak peduli, dia pun menginginkannya.

***

Taiga menatap kamar Chise yang sepertinya tidak berpenghuni. Ia mencoba mengetuknya lagi dan sama sekali tidak ada respon dari dalam. Taiga membawakan Chise sekantung pretzel yang ia beli saat pulang dari kantor, namun semalam Chise tidak merespon, begitu pula sekarang padahal sudah pagi.

Seakan menyerah, Taiga meletakkan sekantung pretzel itu diambang pintu dan memberikan catatan agar Chise tau bahwa dia mencarinya sejak semalam. Dimana gadis itu? Kenapa semalam tidak pulang? Pikiran Taiga kacau dan menerka-nerka yang terjadi. Jujur saja, sejak pertama ia bertemu dengan Chise, ada sesuatu yang spesial dalam diri gadis itu, dan Taiga mendapati dirinya sering memikirkan Chise lebih sering sekarang.

Sebenarnya besok siang ini Taiga akan bertemu Chise dalam rangka mengecek progress pembangunan kafe milik Chise, namun tetap saja Taiga merasa ingin bertemu dengan Chise sekarang. Akhirnya Taiga menyadari langkahnya sudah sampai di halte dekat apartemennya. Dia memang lebih sering naik kendaraan umum kecuali bawaannya sedang tidak manusiawi. Maksudnya rancangan, laptop, dan kawan-kawannya harus ia bawa sendiri dari rumah, barulah Taiga akan membawa mobil, namun jika tidak begitu penting dia memilih untuk naik kendaraan umum.

Langit pagi ini cukup bersahabat, dibandingkan dengan dinginnya cuaca sebelum natal, yah, beberapa hari lagi liburan natal dan artinya mungkin saja Chise sudah pulang ke rumah orang tuanya, Taiga meyakinkan dirinya sendiri, pasti begitu.

Taiga mengetikkan sebuah pesan untuk Chise, “Merry Xmas, ada pretzel di depan rumah, aku tidak menemukanmu tadi pagi, nanti siang ketemu ya,”

Tidak berapa lama kemudian, seorang gadis berdiri tepat di sebelahnya, sepertinya bus sudah penuh dan Taiga akhirnya berdiri menawarkan bangkunya kepada si gadis yang langsung disambut anggukan sopan.

“Terima kasih,” katanya. Taiga tersenyum, namun di saat bersamaan bus mengerem mendadak, ponsel milik Taiga terjatuh ke bawah, si gadis yang belum sempat duduk pun ikut jatuh ke bawah. Taiga menarik lengan gadis itu untuk membantunya berdiri, lalu si gadis memberikan ponsel milik Taiga, “Maaf,” ucapnya.

“Aku juga sembrono, maaf ya,” balas Taiga.

Setelah turun dari bis, Taiga mendengar sebuah ringtone berbunyi dari sakunya, namun ia tidak mengenal ringtone itu. Saat mengeluarkannya dari dalam saku, Taiga menyadari ini bukan ponselnya.

Moshi-moshi?

“Konno-sensei, bisa cepat ke sini? Aku butuh assist mu, halo?”

“Maaf tapi, ini bukan Konno-sensei,” jawab Taiga, ternyata gadis tadi seorang dokter, “Aku akan menghubunginya, sebentar,”

“Cepat!” seru suara di seberang.

Taiga menatap sekilas ke arah ponsel itu, dan ternyata ponsel itu untungnya tidak ber-password dan saat ia menggeser layarnya untuk membuka layar dan mengetikkan nomornya, seraut wajah yang dikenalnya muncul.

Kouchi Yugo.

***

Ruangan VIP itu didorong oleh Juri dan dirinya melangkah masuk ke dalam, terlihat pasiennya masih menutup mata, tertidur dengan lelapnya, padahal semalam kehebohan terjadi ketika ia pulang ke apartemen dan menemukan Rumi dalam keadaan mengenaskan, gadis itu terlalu banyak minum obat tidur dan over dosis karena hal itu.

Juri bersyukur karena belum lama sejak Rumi makan obat-obatan itu sheingga Juri sempat melarikan Rumi ke Rumah Sakit dan menyelamatkan nyawa gadis itu.

“Uhuk,” Rumi terbatuk dan membuka matanya perlahan, ia melihat Juri duduk disampingnya, “Uhm.. aku dimana?” tanyanya.

“Menurutmu?” muka Juri masam, dia benar-benar ingin memarahi Rumi kali ini, tindakannya gegabah sekali, membahayakan jiwanya sendiri.

Rumi tidak menjawab, menyadari bahwa ada yang tidak beres dengannya dan ruangan ini dan Juri yang memakai seragam dokternya, maka sudah pasti ini di Rumah Sakit, “Uhmmm… semalam… aku tidak bisa tidur, dan setelah makan satu obat sama sekali tidak ngaruh, jadi aku… aku…”

“Kau makan hampir setengah botol lebih, itu namanya bukan tidak disengaja dan bukan karena dirimu tidak bisa tidur!” hardik Juri, mukanya masih muram dan sama sekali tidak ingin mengasihani Rumi kali ini.

“Juri-kuunn~” Rumi menyentuh tangan Juri tapi pemuda itu tidak bergeming, tidak juga menunjukkan bahwa ia sudah kalah dengan sikap Rumi kali ini, “Aku hanya… entahlah malam kemarin aku tiba-tiba pikiranku kacau sekali,” Rumi ingin mengelak lagi tapi toh Juri sudah tau semuanya, dan memang malam kemarin dia merasa sangat kacau, terutama ketika ia menelepon Jesse dan pemuda itu tetap tidak mau mengangkatnya, sulit sekali meluluhkan hati Jesse, lalu pikirannya gelap dan dia mengambil jalan pintas.

Juri menyentuh kepala Rumi, “Kau tau aku khawatir sekali, jangan melakukan hal bodoh macam itu lagi!”

Air mata Rumi sudah tidak bisa dibendung lagi lalu gadis itu menangis, kenapa tidak bisa hatinya memilih Juri saja? Setidaknya Juri ada disampingnya walaupun hati Juri mungkin terpaut pada gadis lain, tidak seperti Jesse, bahkan raganya saja menolak dirinya, hatinya apalagi, dan seperti seorang pecandu bodoh ia masih menyakiti dirinya sendiri.

***

Ketika Shintaro membuka matanya, ia melihat Reina bergelung ke arahnya. Tanpa ragu Shintaro memeluk Reina dan membiarkan wanita itu menjulurkan tangannya untuk memeluk tubuh Shintaro. Shintaro mengelus rambut Reina dengan hati-hati, mencium aroma sampo milik Reina yang segar, seperti wangi raspberry.

“Reina, bangun,” ucap Shintaro, yang melirik ke arah jam dinding dengan latar bendera Inggris yang tepat berada di depan tempat tidur.

Reina masih bergelung menolak sapaan itu, “Aku masih ngantuk,” protesnya.

“Sudah jam tujuh lebih loh, kita harus ke kantor,” ucap Shintaro lagi.

Perlahan, Reina membuka matanya dan tersenyum menatap Shintaro, “Shin-chan,” panggilnya.

“Ya?” Shintaro menghadiahi sebuah senyuman hangat kepada Reina.

Entah bagaimana menjelaskan hubungan Shintaro dengan Reina sejak semalam. Ketika akan pulang dari bar, Reina meminta Shintaro mengantarnya ke apartemen, tentu saja Shintaro tidak bisa menolak. Mengingat itu sudah malam sekali dan tidak tega Shintaro membiarkan Reina pulang sendirian, saat sampai di apartemen, Shintaro izin pulang namun Reina memintanya untuk tinggal.

“Aku ingin tidur dipeluk olehmu,”

“Eh?” Shintaro bingung, ada apa dengan Reina? “Kenapa?” tanya Shintaro.

Reina terlihat bingung dan sedih lalu duduk di sofa ruang tengahnya, “Entahlah, aku merasa tenang ketika kau memelukku,” ujarnya lirih.

Shintaro berdebat dengan dirinya sendiri saat itu. Bagaimanapun dia lelaki normal dan tidur seranjang dengan lawan jenis bisa saja membuatnya tidak tahan dan mungkin menyerang Reina.

“Kau tau kan aku laki-laki?” ya, tentu saja pertanyaan bodoh, “Dan aku bisa saja, kau tau…”

Terlihat Reina gelisah dengan menggerakan matanya ke kanan dan ke kiri, tampak tidak fokus, “Tentu saja, apa harus melakukannya agar kau mau memelukku saat tidur?”

Apakah Shintaro terdengar seperti orang brengsek? Mungkin saja.

Shintaro menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Tidak tentu saja, tidak!” katanya pada akhirnya.

Lalu begitulah, Reina memeluk Shintaro semalaman, dan walaupun pada awalnya Shintaro sulit memejamkan matanya dengan wangi tubuh Reina menempel padanya, menimbulkan reaksi aneh pada dirinya, namun akhirnya mereka terlelap.

Reina beranjak dari tempat tidur, “Mandi saja dulu, aku akan buat sarapan,” katanya.

“Tidak ke starbuck saja?” tanya Shintaro.

Wanita itu menggeleng, “Aku akan buatkan sandwich ala Reina saja, bagaimana?”

“Kedengarannya lebih enak dari versi starbuck,” Shintaro membiarkan Reina membuka tirai di kamarnya dan beranjak ke dapur, ia pun memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor, mungkin bajunya yang sama akan menimbulkan spekulasi di kantor. Sudahlah, ia tak peduli, yang penting pagi ini Shintaro merasa bahagia, dengan melihat wajah Reina di pagi hari, bahkan nyaris dirinya tidak ingin berangkat kerja.

Saat Shintaro selesai mandi, ia melihat Reina di dapur, masih dengan setelah tidurnya, kaos pink dengan gambar spongebob, serius ini bikin Shintaro ingin menjawil pipi Reina, dan celana pendek warna hitam. Tiba-tiba saja Shintaro merasakan keinginan kuat untuk memeluk Reina, dan dengan gerakan cepat Shintaro menghampiri Reina, memeluk wanita mungil itu dari belakang, membuat tubuh Reina yang sedang memasak telur itu terlonjak kaget.

“Shin-chan!!”

“Gimana dong, rasanya aku jatuh cinta padamu,” Shintaro mengatakannya sangat jelas tepat di telinga Reina.

“Eh? Aku? Bagaimana bisa?!!”

“Kalau aku tau jawaban dari pertanyaanmu itu, sudah pasti aku jawab, masalahnya, aku sama sekali tidak bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba aku ingin memelukmu,”

Reina hanya bisa tersipu terlebih ketika Shintaro menarik wajahnya ke samping dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibirnya. Ciuman pertamanya dengan Shintaro, dan satu hal yang Reina tau, ini adalah debaran pertamanya sejak ditinggal oleh Yuma, debaran yang sepertinya Reina tau apa artinya.

***

Saat Hikari membuka matanya pagi ini dia menatap wajah Hokuto yang masih terlelap di sebelahnya, pria itu masih mendekapnya, menolak untuk beranjak meskipun Hikari tau kalau Hokuto sudah bangun, hanya belum mau melepaskan Hikari.

“Hokkun,” panggil Hikari pelan, tangannya membelai pelan pipi Hokuto.

“Hmmm?” matanya masih terpejam, menolak terbuka.

Hikari menghela napasnya sesaat, “Kemarin aku ke dokter lagi.”

Ada jeda beberapa detik sampai mata Hokuto benar-benar terbuka, menatap istrinya yang kini terlihat khawatir, “terus?”

“Kimura-sensei khawatir dengan sel kanker yang mungkin terbangun jika aku mulai minum obat penyubur kandungan, ada beberapa prosedur juga seperti harus berhenti minum beberapa obat, tapi itulah, berhenti memakan obat berarti meningkatkan resiko relapse,” Hikari harus mengatakannya dengan cepat sebelum dia berubah pikiran dan mulai merasa tidak siap mengatakannya kepada Hokuto.

Ada keheningan yang sedikit menyakitkan diantara keduanya, Hokuto menarik Hikari ke dalam pelukannya, “Kau benar-benar ingin punya anak?” ucapnya lirih, “Tidak kita pikirkan untuk… misalnya… mengadopsi?”

“Aku ingin hamil, ingin memiliki anak dari rahimku sendiri,” suara Hikari tercekat, air mata hampir saja mengalir jika tidak ia tahan.

Wakatta. Kalau begitu, kita lakukan seperti keinginanmu, apapun yang kau inginkan aku akan membantumu, okay?”

“Apapun?”

“Apapun, Hikari,” Kalau boleh jujur Hokuto ingin memutuskan bahwa seharusnya mereka tidak perlu berusaha sejauh ini, bagi Hokuto memiliki Hikari saja sudah cukup, dia tentu saja ingin punya anak, tapi kondisi kesehatan Hikari sepertinya terlalu beresiko dan ia takut, sejujurnya sangat takut terjadi hal buruk kepada Hikari, “Kita akan mendengarkan semua opsi, tentu saja aku lebih suka dengan resiko paling rendah, okay?”

Hikari mengangguk, membenamkan wajahnya di dada Hokuto, ini impiannya dan sejujurnya sedikit merasa bersalah karena merasa egois, ia bersyukur Hokuto-nya tidak marah, tapi mendukungnya sepenuhnya.

“Hokkun,” bisik Hikari lagi, Hokuto kembali bergumam untuk menjawab Hikari, “Terima kasih sudah menjadi suamiku,” ucapnya sambil terkekeh, geli juga mengatakannya dengan langsung. Hokuto tidak menjawab tapi Hikari bisa melihat senyum mengembang dari bibir suaminya dan pelukan Hokuto yang semakin erat.

***

To Be Continue

Advertisements

1 thought on “[Multichapter] Flavor Of Love (#6)

  1. hanazuki00

    Hokuto hirarinya dikit bangeeeeet mamiii hahaha

    Shintaro reina! Aku suka mereka berdua. Entah suka aja. Shintaro yg polos yang pelan pelan mau naksir gadis normal yg awalnya iseng ke shintaro. Terserah pokoknya sukaaaa

    Lalu chise. Errr makin ngga suka ah titik

    Lagi mih lagiii ayo kapaaan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s