[Oneshot] My Happiness for You

My Happiness for You
By: kyomochii
Genre: Drama, Friendship, Romance (and let you think that this fanfic is sho-ai genre too /plak)
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto (SixTONES); Mitsumiya Seika, Konno Chika (OC)
COMMENT PLEASE!! I REALLY  NEED YOUR COMMENT!!! \(^o^)/

Akhirnya Taiga menyerah setelah meneguk gelasnya yang ke tujuh. Dia menyandarkan kepalanya di meja, memandangi orang lalu lalang yang tak dikenalnya berjalan di depannya sebelum akhirnya hilang kesadaran.

“Apa kau yakin mau meninggalkannya seperti ini?” tanya Mizuki kepada Moritsugu. Dia tak tega meninggalkan Taiga yang tergeletak tak berdaya. “Sudahlah, biarkan saja. Apa kau belum dengar tentang Teranishi?” Moritsugu balik menanyai Mizuki. Mizuki hanya menggelengkan kepala.

“Anak itu sial sekali. Minggu lalu Taiga mengajaknya pergi bersama Morohoshi dan Kishi. Setelah melihat Taiga mabuk berat, dia ngotot mengantarnya pulang meskipun Morohoshi sudah mencegahnya. Alhasil, dia pulang dengan muka babak belur dan keesokan harinya dia di skors karena ada yang melaporkannya ke sekolah,” jelas Moritsugu.

Mizuki ingat beberapa hari kemarin Teranishi di skors karena ada anak yang melaporkannya pergi ke bar bersama Taiga. Jadi tak mungkin Taiga yang melaporkannya, bukan? Tapi Morohoshi dan Takashi juga tak mungkin melakukannya. Entah siapapun yang melaporkan mereka, pasti seseorang yang tak sengaja melihat mereka keluar dari bar berdua.

Lalu kalau tentang Teranishi yang babak belur …

“Mana mungkin Taiga melakukannya, kan?” tanya Mizuki tak percaya. “Lihatlah, dia terlihat lemah sekali. Tidak mungkin pukulannya bisa membuat Teranishi babak belur.” Mizuki menggoyang-goyangkan lengan Taiga yang terkulai, ingin mengetes seberapa kuat pukulannya. Tapi bukannya memukul, Taiga malah cengengesan sambil ngelantur tak jelas dan mengabaikan Mizuki. “Lihatlah!”

“Siapa bilang kalau Taiga yang melakukannya? Apa kau tahu Matsumura?” tanya Moritsugu lagi. Mizuki mencoba mengingat-ingat, apa dia pernah mendengar nama Matsumura. Seingatnya, selama 3 tahun masa SMA, dia tak pernah sekelas dengan murid yang bernama Matsumura.

“Ah, cowok yang selalu bersama Mitsumiya!” Akhirnya Mizuki bisa mengingat sebuah nama. “Ya, cowok itu adalah pacar Taiga.”

“HAH????” Mizuki tak bisa untuk tidak teriak mendengar penjelasan Moritsugu. “Pacar Taiga? Bukannya dia dan Mitsumiya …”

“Dulu semua anak juga berpikir begitu. Tapi setelah banyak yang memergokinya keluar atau berangkat sekolah dari apartemen Taiga, anak-anak mulai berspekulasi kalau ada sesuatu di antara mereka. Kau tahu kan, Taiga tinggal sendiri? Pasti mereka ada hubungan yang “seperti itu” kalau sampai tinggal berdua. Secara Matsumura sebenarnya masih tinggal bersama orang tuanya.”

“Kasihan Mitsumiya. Padahal dulu aku sempat naksir dia dan terpaksa menyerah karena tahu ada cowok lain yang dia suka, si Matsumura itu,” gumam Mizuki. “Kalau begitu aku mau mencoba mendekatinya lagi!”

PLAK. Moritsugu menimpuk kepala Mizuki. “Kau ini ya! Malah memikirkan yang iya-iya.” Mizuki meringis karena sadar dia sudah kelepasan bicara.

Moritsugu merogoh kantong Taiga dan mengambil ponsel miliknya. “Apa yang kau lakukan?”

“Kita harus memberitahu Matsumura di mana Taiga. Setelah itu kita bisa meninggalkannya,” jelas Moritsugu sembari mengetik pesan di ponsel Taiga.

“Oh, ternyata kau baik juga, Ryota!” puji Mizuki menggoda temannya. Dia pikir, Moritsugu tega meninggalkan Taiga dalam keadaan mabuk sendiri. “Diam kau!” hardik Moritsugu risih. Sejak awal dia memang tak bermaksud meninggalkan Taiga begitu saja, tapi bukan berarti mereka yang harus mengantarkannya.

“Sudah. Ayo kita pulang sebelum ada yang melihat kita bersamanya!” ajak Moritsugu. Mizuki menoleh sebentar ke arah Taiga, lalu beranjak mengikuti Moritsugu pergi.

**

KLING. Sebuah pesan masuk ke ponsel Hokuto. Pemuda itu bergegas mengambil jaket dan tasnya setelah membaca pesan yang ditujukan padanya itu.

“Hokuto, kamu mau ke mana?” tanya Nyonya Matsumura yang kebingungan melihat anaknya tergesa-gesa. “Ke tempat Taiga, ma. Aku menginap di tempatnya. Ittekimasu!” pamit Hokuto buru-buru lalu pergi meninggalkan mamanya.

Sebelum ke rumah Taiga, dia menuju alamat yang dikirim kepadanya melalui ponsel Taiga. Siapapun mereka yang mengirimkannya, pasti mengenal baik Taiga. “Aku harus tanya Sei-chan siapa saja yang biasa pergi bersama Taiga sebelumnya. Mereka benar-benar pengaruh buruk bagi Taiga! Apa mungkin Teranishi lagi yang melakukannya? Apa belum kapok, dia ku laporkan ke pihak sekolah?”

Hokuto mempercepat langkah. Setelah melihat Taiga yang tak sadarkan diri bersandar di meja, Hokuto mendekatinya. Pelan-pelan Hokuto menggoyang-goyangkan tubuh pemuda itu.

“Hei, ayo kita pulang!” bisik Hokuto di telinga Taiga, berhasil membuat pemuda itu menoleh kepadanya.

“Akhirnya kau datang juga! Ayo kita ke mana? Ke disneyland? Skytree? Kemana pun aku akan membawamu! Kita akan menikmati semuanya berdua. Hanya kita berdua!” ucap Taiga ngelantur dari efek mabuknya. Tanpa menjawab pertanyaan Taiga, Hokuto mulai menarik pemuda itu dan memapahnya berjalan keluar bar.

Dengan susah payah, dan setelah menunggu taksi cukup lama, akhirnya Hokuto berhasil membawa pulang Taiga ke apartemennya. Dia merogoh kunci apartemen Taiga miliknya. Karena itu lebih mudah dibandingkan mencari milik Taiga yang entah di mana dia harus mencarinya.

Hokuto meletakkan Taiga di sofa lalu melucuti sepatu, mantel dan pakaian yang dikenakannya. Setelah mengelap tubuh Taiga dan mengganti pakaiannya, Hokuto membawa Taiga ke kamarnya. Dia merebahkan Taiga di tempat tidur lalu menyelimutinya.

Hokuto hendak pergi saat tangan Taiga menarik ujung pakaiannya dan mencegahnya pergi. “Jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri,” ucap Taiga lalu diikuti isak tangis. Hokuto bisa melihat pemuda itu sangat menderita.

“Kenapa kau jadi seperti ini, Taiga?” Hokuto mengurungkan niat pergi ke kamar sebelah dan memilih duduk di tepian tempat tidur Taiga sampai pemuda itu terlelap dalam tidurnya.

Keesokan hari, saat membuka mata, Taiga tak ingat apa pun yang terjadi semalam. Seingatnya, dia pergi ke bar bersama Mizuki dan Moritsugu, dan tak tahu bagaimana ceritanya bisa sampai di rumah. Taiga beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu dia menuju ruang tengah saat melihat sebuah roti dan dadar telur sudah nangkring indah di meja makannya.

Taiga berjalan mendekatinya. Dia melihat sebuah pesan terselip di bawah piring, lalu membacanya.

Cuma ini yang tersisa di kulkasmu. Makanlah lalu pergi ke sekolah. Aku berangkat dulu. -Hokuto-

Taiga mengangkat piring yang berisi roti dan telur itu. Sedetik kemudian, dia sudah memindahkan seluruh isinya ke tempat sampah. “Beraninya dia datang lagi ke sini!” ucap Taiga geram, lalu berjalan ke sofa, menyalakan TV dan memutar channel yang beberapa minggu ini menjadi acara favoritnya.

**

Seika mempercepat langkah begitu melihat sosok Hokuto berjalan tak jauh di depannya. Setelah berhasil mensejajarinya, Seika pun menyapanya. “Ohayou, Hokkun!”

Hokuto menoleh dan ikut tersenyum melihat senyum Seika yang cerah, secerah mentari yang menyinari hari ini. “Ohayou, Sei-chan. Tumben berangkan sendiri? Mana Yua?” tanya Hokuto saat menyadari tak melihat Yua bersama Seika. Padahal biasanya, mereka ke mana-mana selalu berdua.

“Sejak jadian dengan Kouchi, kita selalu berpisah di stasiun, karena dia harus menunggu kekasihnya itu. Oh iya, ini kubawakan bekalmu.” Seika menyodorkan kotak bekal kepada Hokuto.

“Tadi pagi bibi ke rumahku untuk menitipkannya. Kau menginap lagi di tempat Taiga ya?” tanya Seika. Hokuto memasukkan bekalnya ke dalam tas, lalu mengangguk menjawab pertanyaan Seika.

“Bagaimana? Apa dia akan pergi ke sekolah lagi? Dia sudah terlalu lama absen, Hokkun. Apa perlu aku sendiri yang pergi membujukknya?”

Hokuto menggeleng kepala, “Sepertinya belum. Semalam dia mabuk lagi. Jadi kemungkinan sekarang bahkan dia belum bangun. Oh iya, ngomong-ngomong ada yang ingin kutanyakan.” Seika menghentikan langkah, mengikuti Hokuto yang kini menatapnya.

“Apa kau tahu siapa saja yang dekat dengan Taiga? Kalian sekelas terus selama 3 tahun, kan? Pasti kau cukup baik mengenalnya.”

“Aku rasa dia dekat dengan semua orang, Hokkun,” jawab Seika. “Kau tahu kan kalau Taiga itu cukup populer dan banyak yang suka. Makanya melihat keadaannya yang sekarang, semua orang ingin membantunya …” Seika tampak sengaja menggantung kata-katanya sebelum melanjutkan, “termasuk Teranishi.”

Hokuto menatap Seika, mencari tahu maksud dari ucapannya. “Maksudnya apa kau bicara seperti itu, Seika?” tanya Hokuto akhirnya, tak mampu memecahkan kenapa Seika tiba-tiba membahas Teranishi.

“Aku tahu kau yang melaporkannya kan, Hokkun? Tapi apa kau tahu kalau Teranishi hanya ingin membantu Taiga? Begitu juga teman-teman yang lainnya. Jangan kau cari-cari kesalahan orang lain hanya untuk melampiaskan kekesalanmu karena tidak berhasil membujuk Taiga!”

Hokuto terdiam mendengar kata-kata Seika. Semua yang dikatakannya benar. Dia kesal karena sampai sekarang belum juga berhasil membujuknya untuk kembali sekolah. Tapi orang-orang itu malah seenaknya menemani Taiga terus-terusan menyakiti diri. Hokuto benar-benar kesal kepada mereka, tapi lebih kesal lagi pada dirinya sendiri.

“Hokkun, hentikan!” Seika berusaha menahan tangan Hokuto yang mulai menjambaki rambutnya sendiri. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Seika berhasil menghentikan Hokuto lalu mendekap kuat tangan pemuda itu di depan dadanya.

“Hentikan, Hokku. Kau juga jangan mulai menyakiti dirimu sendiri. Kalau kau seperti ini, siapa lagi yang akan membantu Taiga? Bukannya kau sudah berjanji untuk terus menjaganya?”

Tangis Hokuto pecah. Dia menyembunyikan wajahnya yang basah air mata di pundak Seika. Seika hanya bisa menenangkan pemuda itu dengan memeluknya. Untuk beberapa saat mereka bertahan dalam situasi itu, sampai Hokuto berhasil mengendalikan diri dan mengajak Seika untuk melanjutkan pergi ke sekolah.

Arigatou, Sei-chan,” ucap Hokuto seraya menggenggam tangan gadis yang selalu bisa menenangkannya itu. Seika membalas genggaman Hokuto dan kembali menyunggingkan senyum tercerahnya. “Kau bisa mengandalkanku kapan saja!”

**

“Hei, kau mau nonton denganku?” Taiga terkejut karena tiba-tiba ada seorang gadis mengajaknya bicara. Taiga menoleh ke kanan-kiri, memastikan kalau memang benar dia yang sedang diajak bicara gadis itu. “Aku?” tanya Taiga.

“Iya. Kan di sini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua. Oh iya, kenalkan namaku Chika! Kamu siapa?” tanya gadis itu ceria.

Cewek aneh! Dia mengajakku padahal tidak mengenalku. Apa aku pergi saja ya? Taiga masih berpikir untuk pergi sebelum gadis itu kembali bicara, “Mungkin kau berpikir aku cewek aneh dan mau pergi, kan? Tidak apa-apa. Kau tetap di sini saja, aku yang akan pergi. Kalau kita jodoh, pasti nanti juga ketemu lagi,” katanya sambil tersenyum lebar, lalu pergi meninggalkan Taiga yang hanya bisa melongo melihat kepergian Chika.

Setelah kepergian Chika, orang-orang mulai berdatangan dan membuat suasana taman tak lagi tenang, sehingga Taiga memutuskan untuk pergi juga.

Keesokan hari, karena penasaran Taiga kembali ke taman. Entah mengapa, sejak dia pulang, Taiga selalu merasa janggal dengan senyuman Chika saat mereka berpisah kemarin. Kalau kata Mizuki, itu tanda-tanda Taiga mulai jatuh cinta dengan Chika.

“Ah, Mizuki mah suka ngasal ngomongnya! Masa’ aku jatuh cinta sama cewek aneh tidak jelas macam itu? Tidak mungkin!”

Keesokan hari, keesokan harinya lagi Taiga kembali ke taman. Tapi masih juga tak bisa bertemu Chika. Seolah gadis itu menghilang begitu saja. “Atau sebenarnya dia hanya khayalanku?” Taiga mulai khawatir kalau dia benar-benar hanya berkhayal saja dan Chika merupakan gadis imajinasinya. Taiga bergidik ngeri.

Di lapangan tak jauh dari taman, Taiga sengaja beristirahat dan sejenak melihat anak-anak yang sedang bermain catch ball di sana, ketika sebuah suara berhasil membuyarkan ketenangannya.

“Kurang jauh! Iya terus, teruuus sampai pohon di sana! Dan lihat seberapa hebat lemparanku ya!” teriak seorang gadis yang Taiga kenali sebagai Chika. “Dia nyata!” pekik Taiga.

Taiga berlari dan berniat menghampiri gadis itu tanpa memperhatikan kalau gadis itu sedang bersiap untuk melempar sekuat tenaga. Dan akhirnya terjadilah kecelakaan yang tak terhindarkan! Bola Chika mampir indah di pelipis Taiga, yang untung saja tak sekeras yang disombongkannya.

Taiga menggosok-gosok pelipisnya yang terasa sakit dan samar-samar melihat Chika berlari ke arahnya. Matanya masih sedikit berkunang-kunang, tapi Taiga yakin kalau gadis itu memang benar Chika.

“Kau tidak apa-apa?” tanya gadis itu tampak khawatir. Bukannya menjawab, Taiga malah tersenyum karena setelah mendengar suaranya dari sekat, Taiga benar-benar yakin kalau gadis itu adalah Chika.

“Astaga, sepertinya pukulanku terlalu keras sampai membuatmu gila. Apa aku perlu membawaku ke rumah sakit jiwa?” tanya Chika sarkas. Berhasil membuat Taiga tergelak tawa.

“Hei, Chika! Sepertinya kita memang jodoh ya?” ucap Taiga berhasil membuat Chika terbelalak mendengarnya. “Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kita jodoh, pasti kita bertemu lagi?”

Kali ini ganti Chika yang tertawa. “Kau masih mengingatnya? Kukira sudah lupa!” ucap Chika yang kini terduduk di samping Taiga. “Kupikir kau menganggapku aneh karena belum kenal saja sudah berani mengajakmu pergi nonton. Ternyata kau juga aneh!” kali ini Taiga ikut tertawa bersama Chika.

“Oh iya, siapa namamu? Dulu kau belum menjawabnya.”

“Kyomoto Taiga, panggil aku Taiga. Kalau nama belakangmu siapa?” tanya Taiga sambil menatap Chika. “Konno Chika, panggil saja Chika. Yoroshiku ne, Taiga-kun,” ucap Chika seraya membalas tatapan Taiga.

Dan sejak hari itu, mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan Chika sering menginap di tempat Taiga, sehingga Taiga memberi gadis itu kunci cadangan apartemennya. Mereka melakukan banyak hal layaknya seorang sepasang kekasih.

Bahkan setelah mengetahui kalau Taiga sebatamg kara, Chika mengenalkan Taiga dengan orang tua dan sepupu-sepupunya, yang kebetulan salah satu dari mereka adalah teman sekolah Taiga, meskipun mereka tak cukup dekat untuk dibilang teman.

Taiga sangat bahagia karena memiliki Chika. Dia merasa hidupnya sudah lengkap selama Chika terus di sisinya.

Sampai suatu hari, kejadian yang paling tak bisa dibayangkan Taiga terjadi dalam kehidupannya. Chika tak lagi datang ke apartemennya, bahkan Taiga tak lagi bisa menghubunginya. Setiap Taiga pergi ke rumah Chika, Taiga tak menemukan siapapun di sana. Tak ada Chika, tak ada juga orang tuanya.

Taiga seperti de javu, pikiran itu kembali menghantuinya, “Apa mungkin semua kebahagiaan ini hanya khayalanku saja?”

Selama beberapa hari bahkan beberapa minggu, Taiga mencoba kembali mengkhayalkan Chika, tapi sia-sia. Taiga pernah mendengar dari seorang teman, kalau meminum bir bisa membuat sseorang berkhayal setelahnya. Dan sejak itu Taiga mulai membeli bir secara ilegal hanya demi bisa mengkhayalkan Chika lagi.

Lalu di suatu pagi, saat terbangun dari tidurnya, Taiga mendapati sepaket sarapan sudah menghiasi meja makan dan sebuah pesan yang menyuruhnya makan lalu pergi ke sekolah. Taiga menatap masakan itu dengan wajah berseri-seri. Dia bersyukur kalau selama ini memang bukan hanya mimpi!

Taiga melahap sarapannya lalu pergi ke sekolah dan berencana pergi ke rumah Chika sepulang sekolah. Taiga sudah benar-benar merindukan gadisnya!

Sepulang sekolah, Taiga bergegas pergi ke rumah Chika. Bahkan dia mengabaikan Seika dan Yua yang meneriakinya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka dulu. Taiga tidak ada waktu untuk itu. Dia sudah terlalu merindukan kekasihnya dan harus segera bertemu dengannya!

Tapi saat tiba di rumah Chika, hanya kedua orang tua Chika yang menyambutnya. Taiga berpikir kalau Chika sedang mencoba menggodanya. “Paman, bibi, Chika mana? Apa dia tidak kangen sama saya? Padahal saya sudah kangen berat sama dia! Saya janji, saya tidak akan marah karena dia pergi tanpa memberi kabar apapun. Tapi tidak bisakah saya bertemu dengannya sekarang?” pinta Taiga kepada orang tua Chika.

Nyonya Konno berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Taiga berdua saja dengan Tuan Konno. Samar-samar Taiga bisa mendengar Nyonya Konno menangis, tapi entah apa sebabnya. “Bibi kenapa, paman? Apa dia sedang sakit?” tanya Taiga mulai khawatir.

“Oh. Iya. Dia sedang tidak enak badan akhir-akhir ini,” jawab Tuan Konno sedikit grogi. Sepertinya da sesuatu yang sedang berusaha disembunyikannya. Atau sebenarnya dia ingin mengatakan kebenarannya tapi tak tahu bagimana memulai?

“Apa itu sebabnya beberapa minggu ini kalian pergi? Untuk menyembuhkan penyakit bibi?” tanya Taiga lagi. Tuan Konno terlihat kebingungan untuk menjawabnya. Dan untungnya, bantuan segera datang.

TOK TOK. Bunyi pintu diketuk dan Taiga melihat salah satu sepupu Chika yang satu sekolah dengannya masuk. “Oh, Hokuto, kau ke sini juga?” tanya Taiga menyapa Hokuto.

“Tapi kalau kau mau bertemu Chika, kau sebaiknya datang lagi besok! Karena hari ini, aku tidak akan membiarkan siapapun bertemu dengannya karena dia hanya milikku hari ini,” ucap Taiga.

Hokuto menatap Taiga dan Tuan Konno bergantian sebelum berkata, “Taiga, kita perlu bicara berdua.”

Taiga tak mengerti mengapa Hokuto ingin bicara dengannya, dia menoleh pada Tuan Konno yang memberinya anggukan, tanda menyuruhnya pergi bersama Hokuto. Taiga menurut dan mengikuti Hokuto mengajaknya pergi.

Mereka berjalan cukup jauh, tanpa Taiga sadari mereka sudah sampai di taman tempat pertama kali dia bertemu dengan Chika. Rasanya nostalgia sekali. Karena setelah berkencan dengannya, Chika lebih senang menghabiskan waktu di dalam rumah. Bahkan beberapa kali mereka merencanakan liburan, tapi harus gagal karena keadaan Chika yang tidak memungkinkan.

Hokuto berhenti, tepat di tempat dulu Taiga duduk sendiri saat Chika menyapanya untuk pertama kali. “Kenapa berhenti?” tanya Taiga.

“Apa kau ingat tempat ini?” Bukannya menjawab, Hokuta malah balik menanyai Taiga. “Tentu saja aku ingat! Apa Chika menceritakan hal-hal seperti ini denganmu juga?” tanya Taiga sensi. Dia tahu betul kalau Chika sangat dekat dengan Hokuto. Selain karena umur mereka yang hampir sepantaran, Chika selalu menganggap sosok Hokuto sebagai kakak karena anak tunggal, begitupun Hokuto yang selalu memperlakukan Chika sebagai adik karena dia anak bungsu. Kalau mereka bukan sepupu, Taiga pasti sudah berusaha menjauhkan Chika dari Hokuto.

“Lebih dari menceritakan, bahkan aku menyaksikannya sendiri,” jelas Hokuto. Taiga masih menunggu apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Hokuto. “Dulu aku selalu menemaninya duduk di sebelah sana dan memperhatikanmu di sini. Dia selalu melakukannya selama hampir setahun sejak kau pindah ke daerah ini. Bisa dibilang, dia itu jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Sampai akhirnya dia memberanikan diri dan pergi menyapamu,”

Taiga bisa melihat gambaran kejadian itu kembali terjadi. Meskipun Taiga selalu menebak kalau Chika sudah menyukainya sejak pertama kali dia menyapa, tapi baru kali ini dia tahu kebenarannya. Karena Chika selalu menghindar setiap kali ditanya sejak kapan jatuh cinta dengannya.

“Lalu saat kau terus kembali ke sini untuk bertemu lagi dengannya, dia sengaja menghindarinya. Karena dia tidak mau berharap terlalu jauh tentang indahnya cinta kalau pada akhirnya dia hanya bisa menyakiti orang-orang yang mencintainya.”

“Hah apa maksudnya? Aku tak pernah tersakiti karena mencintainya yang ada aku sangat bahagia!” segah Taiga memotong cerita Hokuto. Hokuto menoleh pada Taiga dan tersenyum padanya, lalu melanjutkan bicara.

“Tapi takdir berkata lain. Pada akhirnya kalian bertemu juga. Saat Chika mengetahui kalau kau juga mencintainya, akhirnya dia menyerah dan membiarkan keindahan cinta menghanyutkannya. Mungkin dia sangat bahagia setiap kali menghabiskan waktu bersamamu. Tapi dia selalu menangis setiap kali pulang ke rumah. Karena itu, aku meminta paman dan bibi untuk membiarkannya sering menginap di tempatmu.”

Taiga tercengang, karena belum pernah sekalipun melihat Chika menangsi di hadapannya. Bagi Taiga, Chika adalah gadis yang ceria dan selalu tertawa. Hanya kebahagiaan yang dia rasakan setiap kali bersama Chika. “Chika menangis? Kenapa?”

“Karena saat tak bersamamu, dia akan teringat kalau pada akhirnya kalian akan berpisah,” ucap Hokuto. Suaranya sedikit tercekat saat mengatakannya. Tanpa sadar, sebutir air mata bergulir di pipi Hokuto. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian terasa sangat berat.

“Dia memilih mengawali perpisahannya denganmu. Dia memohon kepada paman dan bibi untuk membawanya pulang ke Sizuoka, ke tempat nenek kami. Sehingga di hari-hari terakhirnya, dia tidak akan merasa berat untuk meninggalkanmu, Taiga. Dia tidak ingin melihatmu terluka. Dia hanya ingin mengingat wajah-wajah bahagiamu saat bersamanya di hari kematiannya.” Tangis Hokuto pun pecah. Dia sudah tak bisa menahan lagi emosinya. “Chika sudah meninggal Taiga!” seru Hokuto dalam isak tangisnya.

Taiga membatu menyaksikan Hokuto yang sedang menangis sejadi-jadinya. Kalau di keadaan normal, mungkin Taiga akan menertawakannya karena lucu saja melihat cowok menangis sampai seperti itu. Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan Hokuto tadi …

Taiga masih tak mau percaya dengan semua yang baru di dengarnya. Untuk pertama kalinya, Taiga berharap pertemuannya dengan Hokuto hari ini merupakan khayalannya saja. Tapi rasa nyeri yang dia rasakan di dada, tak bisa membohogi kalau semua adalah nyata adanya.

Taiga memilih meninggalkan Hokuto sendiri. Dia berjalan kembali ke apartemen lalu membuka kulkasnya. Masih ada sisa beberapa botol bir yang belum diminumnya. Tanpa pikir panjang, Taiga langsung mengeluarkan semua dan berharap Chika akan kembali muncul di hadapannya setelah menenggaknya.

**

“Hei, Hokkun, lihat ini!” seru Seika seraya mengacungkan sebuah buku harian di tangannya. “Ku rasa ini buku harian Chika. Apa kita bisa membacanya?”

Hokuto berjalan mendekati Seika. “Sepertinya kita harus mengeceknya.” Lalu keduanya pun larut dalam kisah-kisah Taiga-Chika yang ditorehkan Chika dalam buku hariannya.

Singkat cerita, sebenarnya ini adalah ide Seika. Gadis itu bersikeras untuk mencari benda yang bisa mengingatkan Taiga tentang bahagianya dia saat bersama Chika. Dan bahkan setelah kematiannya pun, Chika hanya ingin mengingat wajah Taiga yang bahagia. Seika ingin menunjukkan pada Taiga kalau Chika benar-benar menginginkannya. Karena mungkin hanya dengan cara itu, Taiga akan kembali menjalani hari-harinya.

Tiba-tiba Hokuto membalik dengan cepat buku harian Chika yang sedang dibacanya bersama Seika, “Skip bagian ini!” katanya. Seika memandangi Hokuto dan tersenyum jahil kepadanya.

“Kau malu ya karena kalah dari Chika?” goda Seika. Hokuto membuang muka, “Apa sih?”

“Tidak ada kalah atau menang dalam cinta. Kalau cinta itu datang terlambat, bukan berarti kita kalah, kan? Hanya tentang waktu saja. Lagipula aku hanya kan melakukannya dengan orang yang benar-benar kucinta, sama seperti Chika,” terang Hokuto menanggapi Seika.

“Aku juga sama. Tapi masalahnya, bagaimana kalau sebenarnya cinta itu sudah datang, tapi kita takut semuanya akan berubah saat kita mengungkapkannya? Maksudku, misal kita awalnya dekat tapi gara-gara pernyataan cinta, kita jadi saling menjauh?” tanya Seika menatap lurus ke mata Hokuto. Seolah pertanyaan itu memang ditujukan padanya.

“Ah, kenapa obrolan kita jadi berat begini sih? Lagian kenapa jadi ngomongin kita? Kita kan harus mencari cara agar Taiga dan …”

“Kalau aku tetap akan mengungkapkannya,” ucap Hokuto memotong kata-kata Seika. “Saat cinta itu benar-benar datang, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Belum tentu kan kita akan saling menjauh hanya karena pernyataan cinta kita ditolak? Bisa jadi kita malah akan menyesal karena tidak pernah mengungkapkannya dan orang yang kita cintai menjadi milik orang lain. Maka di saat keadaan seperti itulah arti kalah yang sesungguhnya dalam sebuah hubungan cinta.”

Hokuto membalas tatapan Seika. Sebenarnya selama ini dia takut mengartikan perasaannya sendiri sebagai cinta. Tapi setelah mendengar kata-kata Seika dan apa yang dia pikirkan tentang cinta, sepertinya dia tak lagi salah mengartikan cinta.

“Sei-chan, aku mencintaimu,” ungkap Hokuto. “Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku selalu nyaman setiap kali berada di dekatmu. Aku ingin selalu di sisimu. Bahkan meskipun kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku tidak akan membiarkanmu menjauh. Karena aku tetap ingin kau berada di dekatku meskipun tidak harus menjadi milikku.”

Hokuto bisa melihat mata Seika mulai berkaca-kaca, tak tahu mengapa. Eh? Kok malah nangis? Tanya Hokuto dalam hati mulai panik. Seika mengusap air matanya.

Gomen, aku cengeng ya? Tapi aku tidak bisa membendung air mata saking bahagianya,” aku Seika. “Aku juga mencintaimu, Hokkun. Sejak kita kecil dulu. Karena kau orang yang mencuri ciuman pertamaku. Jadi dalam hati aku selalu mengutukmu untuk menjadi jodohku.” Hokuto terbelalak mendengarnya, dan Seika hanya tertawa melihat reaksi Hokuto.

“Ciuman pertama? Kapan?” tanya Hokuto kebingungan.

“Tuh kan, kamu tidak mengingatnya! Makanya, kadang aku merasa bodoh sendiri karena hanya aku yang selalu mengingat ciuman itu dan hanya aku yang selalu memikirkannya. Sedangkan kamu …”

Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Seika, menguncinya untuk lak lagi bicara. Seika memejamkan mata, karena ingin menikmati momen pertama kali Hokuto menciumnya secara sadar.

Cukup lama sebelum akhirnya Hokuto melepas ciumannya dan berkata, “Maaf karena aku tidak bisa mengingat ciuman pertama kita. Bagiku, ini tadi adalah ciuman pertamaku. Tapi setidaknya, kamu adalah orang yang menjadi ciuman pertamaku sama sepertiku yang menjadi ciuman pertamamu.”

Seika tersenyum bahagia lalu menghambur ke dalam pelukan kekasihnya itu. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

**

Taiga melihat puluhan nama Seika dan Yua memenuhi kotak pesannya. Masih hal yang sama, mereka meminta Taiga untuk kembali ke sekolah dan mengerjakan tugas kelompok mereka bersama.

“Kenapa mereka tidak mencari orang lain saja sih? Honi banget masukin namaku ke kelompok mereka.” Taiga berdecak.

Tapi pesan terakhir Seika sedikit berbeda. Gadis itu tak lagi membahas tentang tugas atau menyuruhnya masuk sekolah, melainkan memintanya untuk menemani pergi menonton. Tiba-tiba Taiga teringat Chika. Kegiatan paling romantis yang sering mereka lakukan berdua adalah pergi menonton. Karena menonton dilakukan di dalam ruangan dan tak membuat Chika terlalu kelelahan.

TaigaKC: Maaf Seika, aku tidak bisa.

Dada Taiga rasanya sakit sekali. Dia teringat akan kebodohannya sendiri. Kenapa dulu dia tak pernah sadar kalau Chika itu tak sesehat anak normal? Chika terlalu gampang terserang kelelahan dan tak terlalu bisa melakukan aktivitas di luar ruangan. Tapi Taiga yang lugu, selalu merasa bahagia hanya karena bisa bersama Chika.

“Andai aku mengetahuinya lebih awal, aku akan berada di sisimu di saat-saat terakhirmu, Chika! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau lebih memilih bersama Hokuto di saat-saat terakhirmu, bukannya bersamaku?” tangis Taiga pecah. Penyesalan itu, kekesalan itu, terus-terusan berputar menghantuinya.

KLING. Pesan masuk lagi dari Seika.

Seika07: Bukan denganku (Seika). Tapi menontonlah dengan Chika. Dia menunggumu.

Eh? Chika? Apa maksudnya?

TaigaKC: BERCANDAMU TIDAK LUCU, SEIKA!!!!!!!!!!

Seika07: Datanglah ke MontBlank Movie hari selasa jam 5. Kau akan tahu kalau aku tidak bercanda.

Hari selasa, jam 5. Akhirnya Taiga pergi ke tempat yang yang dikatakan Seika. Sebenarnya dia tak percaya kalau Chika akan benar-benar datang, karena Chika sudah …. Tapi Taiga juga penasaran. Apa maksud Seika mengatakan kalau dia tak bercanda.

Tiba-tiba ada seorang gadis kecil, usianya sekitar 7 tahun, datang menghampiri Taiga sambil memegangi dadanya. Saat melihat Taiga menoleh ke arahnya, gadis cilik itu tersenyum sangat bahagia.

“Mama, aku menemukannya!” teriak gadis cilik itu memanggil mamanya. Lalu sesosok ibu muda berlarian kecil ke arah mereka. Taiga memandangi keduanya dengan ekspresi bertanya-tanya.

“Apa kau, Kyomoto Taiga?” tanya ibu itu begitu sampai di dekat Taiga dan anaknya. Ragu-ragu Taiga mengangguk, mengiyakannya.

“Tuh kan, Rumi benar! Soalnya dada Rumi terasa hangat saat berada di dekat kakak ini!” jelas Rumi dengan semangat. Mamanya hanya tersenyum membalasnya, lalu kembali menatap Taiga.

“Sebelumnya, perkenalkan nama saya Aizawa Maika dan ini anak saya Aizawa Rumi. Mungkin Kyomoto-kun tidak mengenal kami, tapi kami cukup mengenal Kyomoto-kun dari Chika,” jelas Nyonya Aizawa.

Mendengar nama Chika disebut, Taiga semakin penasaran tentang siapa mereka. “Kalian?”

“Anak saya Rumi sudah lama dirawat di tempat yang sama dengan Chika. Dia memiliki kelainan pada jantungnya sejak lahir. Hanya donor lah yang bisa menyelamatkan nyawanya.”

Taiga terkesiap, “Jangan jangan …”

“Benar. Rumi adalah anak yang menerima donor jantung dari Chika. Mungkin sebenarnya masih ada beberapa anak di luar sana yang berhasil bertahan hidup berkat Chika, tapi Rumi adalah yang paling beruntung karena mengenal baik sang pendonornya,” jelas Nyonya Aizawa lagi dengan mata berkaca-kaca.

“Sebelum meninggal, Chika sempat menitipkan wasiat pada saya. Bacalah!” Nyonya Aizawa menyerahkan sepucuk surat yag berisi tulisan Chika. Taiga mulai membacanya.

Bibi Maika, saat Rumi sehat nanti, tolong pertemukan dia dengan Taiga ya. Mungkin saat ini masih terlalu cepat, tapi saat sudah dewasa, aku yakin Rumi akan bisa menggantikanku membahagiakan Taiga. Karena dia mempunyai jantungku yang selalu berdetak untuk Taiga. Aku ingin memastikan kalau Taiga selalu bahagia. Karena itu aku mendonorkan semua organku yang masih berguna. Agar meskipun penerima donorku tidak menyadarinya, tapi aku bisa melihat Taiga yang bahagia melalui mereka. Tolong ya, bibi. Maafkan atas keegoisanku. – Chika –

Taiga tertegun membaca surat singkat Chika. Satu kata yang berhasil membuat Taiga menitikkan air mata adalah, meskipun di ambang kematiannya, Chika hanya memikirkan Taiga untuk bahagia.

Dari kejauhan, Taiga melihat Seika dan Hokuto berjalan ke arahnya. Lalu mereka memberikan sebuah buku harian milik Chika.

“Maaf kami sudah membacanya. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, Taiga, bahwa Chika selalu ingin melihatmu bahagia. Kalau sampai Chika melihat keadaanmu yang sekarang, apa kau pikir Chika akan senang? Berbahagialah, Taiga! Jalani kehidupanmu! Kalau kau tidak bisa melakukannya demi dirimu sendiri, setidaknya lakukanlan demi Chika!” ucap Seika, menasehati Taiga.

“Tentang hari-hari terakhir Chika, dia yang memilihnya, Taiga. Karena dia tidak ingin melihatmu terluka. Dia hanya ingin mengingat semua tentang kebahagiaan kalian. Coba bayangkan bagaimana perasaan Chika saat melihatmu terus menyiksa diri sendiri seperti ini?”

Air mata semakin deras mengalir di pipi Taiga, tapi dia masih menahannya agar sebisa mungkin tak sampai menangis sesenggukan di depan umum.

“Dan ingat, sekarang kau punya Rumi sebagai mata-mata Chika!” seru Nyonya Aizawa, yang niatnya sih ikut menasehati Taiga, tapi malah berakhir membuat Taiga dan yang lainnya tertawa.

Ne, Rumi-chan, kore kara yoroshiku ne!” ucap Taiga kepada Rumi yang sedari tadi masih menggenggam tangannya. Gadis cilik itu mengangguk semangat lalu tersenyum lebar, mengingatkan Taiga pada senyuman Chika.

“Hei, tapi ingat Taiga. Rumi-chan masih 7 tahun, masa remajanya masih panjang dan dia bisa jatuh cinta dengan siapa saja! Jangan sampai hanya karena dia memiliki jantung Chika, lalu kau posesif dengannya!” bisik Seika di telinga Taiga, tapi cukup keras sampai Nyonya Aizawa dan Hokuto mendengarnya, lalu mereka tertawa.

“Iya iya, nyonya muda Matsumura,” goda Taiga membalas ledekan Seika.

“Heh, kau ya!!!” Seika mendelik ke arah Taiga, “Tapi memang iya sih,” lanjutnya sambil bergelayut manja di lengan Hokuto. Lagi-lagi Taiga tertawa.

Apa kau di sini, Chika? Apa kau lihat aku sekarang mulai tertawa lagi? Aku janji padamu, aku hanya akan bahagia untukmu dan juga untukku sendiri, untuk kita, selamanya.

**

HAPPY END? Sepertinya tak untuk semua orang. Apa kalian masih ingat dengan teman Taiga yang bernama Mizuki? Mari kita lihat bagaimana nasibnya!

“Ah, sial! Seneng sih Taiga balik, tapi masa’ aku harus jadi babunya lagi? Awas saja ya kau Taiga! Aku akan membalasmu kalau sudah sukses nanti!”

PUK. Sebuah tangan cukup besar kini bertengger di kepala Mizuki, dia menoleh dan melihat kalau itu adalah tangan Teranishi. “Apa?” tanya Mizuki menyolot.

“Apa kau pernah melihat orang berciuman secara langsung?” tanyanya, random sekali. Mizuki mendengus dan hendak meninggalkan Teranishi saat pemuda itu kembali menariknya.

Ssssst, aku yakin kalau sebentar lagi mereka akan berciuman. Kalau tidak, buat apa mereka memilih tempat sepi seperti ini? Aku tidak menyangka kalau cewek seperti Mitsumiya bisa agresif juga,” gumam Teranishi.

“He? Mitsumiya?” Mizuki melongokkan kepala untuk melihat apa yang dilihat Teranishi. Di saat seperti ini lah, Mizuki selalu benci kenapa dia tak setinggi teman-temannya.

“Lihatlah dari bawah!” usul Teranishi menunjukkan sebuah lubang di antara semak-semak di depannya. Demi mengobati rasa penasaran, rela bergelosoran untuk melihat apa yang dilakukan Seika, terlebih dengan siapa.

Saat Mizuki berhasil melihat Seika, tepat saat bibir Seika dan Hokuto bertemu. Dia melihat orang yang ditaksirnya berciuman dengan orang yang ditaksir oleh taksirannya. (pusing, kan? hahaha)

“HAH? BUKANNYA MATSUMURA PACARAN DENGAN TAIGA?” teriak Mizuki keras sekali, sampai membuat Seika dan Hokuto kaget sehingga cepat-cepat melepaskan ciuman mereka.

DUAGH. Sebuah bogem mendarat indah di kepala Mizuki. Teranishi lah pelakunya. Mizuki hanya meringis menunjukkan gigi-iklan-pasta-gigi miliknya. “Kau bodoh ya? Mereka kan jadi berhenti!” ucap Teranishi kecewa, sekali lagi menoyor kepala Mizuki.

“Dan lagi, dari mana kau dapat berita hoax tentang Matsumura dengan Taiga?” tanya Teranishi sambil membantu Mizuki berdiri, lalu keduanya berjalan kembali ke kelas mereka. “Pantas saja Taiga hanya meyuruh-nyuruhmu karena kau tidak pernah tulus ingin menjadi temannya. Sampai-sampai kau tidak tahu tentang Taiga dan Chika,” lanjut Teranishi menusuk tepat di hati Mizuki. Tapi tak terlalu sakit karena hatinya masih lebih sakit melihat adegan tadi.

“Tapi Ryota bilang Matsumura membuatmu babak belur, karena dia cemburu melihat Taiga pulang dalam keadaan mabuk bersamamu.”

“Hah? Ryota? Kau pasti dikerjai sama dia! Aku memang sedikit bertengkar dengan Matsumura malam itu, tapi tidak sampai babak belur juga kali! Makanya dia melaporkanku pergi ke bar bersama Taiga. Tapi tentang hubungan mereka, semua juga tahu kalau Hokuto sudah berjanji pada Chika untuk menjaga Taiga. Karena itu kadang dia terlihat over-protective. Padahal bukan hanya dia, kami semua juga ingin melindungi Taiga meskipun tanpa ada janji pada Chika,” jelas Teranishi.

“DASAR RYOTA TUKANG PEMBERI HARAPAN PALSU!!” teriak Mizuki lagi saat sudah berada di depan kelasnya.

“Hah? Dia kenapa?” tanya Morohoshi.

“Kau ada hubungan yang iya-iya ya sama Mizuki?” Kishi menerjang Moritsugu dengan pertanyaan jitu.

“Woi, Mizuki, mana minuman sama roti kari-ku?” panggil Taiga meminta pesanannya.

“Orang gila kalau ngomong seenaknya!” Begitulah komentar Moritsugu, si pembuat Hoax dan nge-PHPin Mizuki sekaligus reader yang berharap ada adegan iya-iya antara Hokuto dan Taiga.

Jangan bunuh Moritsugu yaaaa! Karena dia adalah Junior kesayangan saya!!! (TAPI TAIGA TETEP YANG NOMOR SATU DI HATI SAYA KOK!!!!!!!) WKWKWKWK

 

fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s