[Multichapter] UNDIVIDED part 6

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast (di chapter ini): Koyama Keichiro (NEWS); Tanaka Koki (INKT); Akanishi Jin

Hari sudah sangat larut ketika Ryosuke bersama Akanishi Jin mendarat di landasan pacu pribadi, milik kantor lembaga WDA di Hokkaido. Akanishi Jin berjalan lebih dulu bersama dengan seorang pria yang Ryosuke tau ada penanggung jawab tempat ini, bernama Koyama Keichiro. Keduanya terlihat membicarakan sesuatu yang amat serius yang Ryosuke sendiri tidak terlalu mengerti. Pemuda itu hanya berjalan mengikuti kedua pria itu di belakang.

Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Sepanjang perjalanan, Ryosuke sama sekali tidak mendengar suara-suara lagi di dalam kepalanya. Kemungkinan bahwa si pemilik suara misterius, yang belakangan Ia ketahui adalah gadis itu, masih tidak sadarkan diri. Mungkin saja Ia diberikan bius dengan dosis yang tinggi.

Ck, pak tua ini‘ decaknya pelan.

Tak lama kemudian ketiganya tiba di ruang kesehatan. Ketiganya berdiri dibatasi sebuah dinding dari kaca yang membuat mereka mampu melihat jelas ke dalam ruangan di depannya.

Ryosuke melihat dengan jelas gadis itu terbaring di dalam sana. Beberapa petugas medis terlihat sibuk melakukan sesuatu dengan tubuh gadis itu. Detak jantungnya di monitoring dan terlihat berdetak dengan stabil.

“Bagaimana keadaannya, Keichiro?” tanya Jin.

“Keadaannya sangat stabil, sir. Fungsi kerja organ vitalnya juga teratur. Tidak ada masalah sama sekali.” jawab pria itu.

“Begitukah,” Ryosuke melihat pria itu bergumam tanpa melepaskan sedikitpun pandangan dari sosok di dalam sana. Namun sejurus kemudian, sepasang netra itu bertumbukan dengan miliknya.

Ruby, aku ingin kau bertemu dengan Tanaka terlebih dahulu. Setelah itu baru kau bisa datang ke ruang monitor!” serunya.

Ryosuke mengangkat sedikit sebelah alisnya saat mendengan nama Tanaka, “Apakah Tanaka-san berada disini, sir?” tanyanya.

“Asal kau tau, Tanaka tiba disini terlebih dahulu bersama gadis itu. Dia sedang ada di ruang pengawas saat ini, kau bisa menemuinya disana.” Kali ini pria bernama Keichiro itu yang berujar.

Ryosuke mengangguk paham. Pemuda itu meminta izin dan berjalan menjauh dari kedua pria dewasa yang masih terlihat mengamati sosok Chinen Arina di dalam sana. Ryosuke tidak mengerti akan perintah sang paman yang menyuruhnya untuk bertemu dengan ‘sipir botak’ itu, tetapi mungkin itu sesuatu yang penting, dan berhubungan dengan permintaannya tadi siang barangkali.

Sesaat kemudian, Ia telah berhadapan dengan pria bernama Tanaka Koki itu lagi. Entah harus berapa kali harus berurusan dengan pria ini. Sepertinya juga Tanaka adalah favorite dari Akanishi Jin sendiri. Karena jika sesuatu hal itu berhubungan tentangnya dan pria itu sedang berada di dalam situasi yang tidak memungkinkan, maka Tanaka adalah penggantinya.

“Agen Ruby? Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda disini? Berniat untuk mengulang masa-masa training yang menyenangkan kembali?” sapa pria botak itu sedikit sarkas.

Ryosuke harus menahan diri untuk tidak mendengus, membanting, menghajar, atau apapun hal menyenangkan yang sedang menari-nari dalam pikirannya mengenai pria di hadapannya saat ini.

“Terima kasih Tanaka-san, ku hargai tawaranmu itu. Tetapi saat ini aku sedang dalam tugas penting langsung dari sir Akanishi, dan beliau memintaku untuk kembali secepatnya setelah bertemu denganmu. Karena sepertinya apapun itu, akan segera dilakukan dalam waktu dekat.” Ryosuke berhasil mempertahankan nada tenang dalam suaranya kali ini.

Tanaka Koki terlihat menyeringai. Tetapi seperti yang diharapkan dari kepercayaan Akanishi Jin, pria itu tidak berlama-lama menahannya. Karena sebuah amplop coklat kini kembali disodorkan ke hadapannya diatas meja.

“Perubahan jadwalmu sudah diatur dan akan dikirimkan ke ponselmu dalam waktu dekat. Amplop itu hanya berisi beberapa hal yang sepertinya kau perlukan dalam peranmu selanjutnya. Sesuai yang kau minta sambil mengemis pada sir Akanishi tentu saja.” Ryosuke melayangkan tatapan tajam pada Tanaka Koki sambil menarik amplop tersebut mendekat padanya.

Sepertinya seorang Tanaka Koki masih belum menyerah untuk memancing emosinya keluar. Ryosuke memeriksa singkat isi amplop tersebut sebelum kembali memasukkannya.

“Baiklah jika begitu, saya permisi dulu Tanaka-san.” Ryosuke memberikan bungkukan singkat sebelum mengayun langkah keluar dari ruang tersebut.

Ryosuke berjalan menuju ruang monitor seperti perintah dari Akanishi Jin padanya. Tetapi di tengah jalan, Ryosuke melihat satu sosok yang sangat Ia kenal berjalan menuju arah yang sama. Pemuda itu mempercepat langkahnya untuk mengimbangi orang itu dan berjalan di sisinya.

“Cepat sekali kau tiba disini?” tegur Ryosuke membuat sosok itu sedikit terkejut karena di sapa dengan tiba-tiba.

Aniki…” desisnya kesal. Ryutaro. “Aku menyusul dengan helikopter segera setelah selesai.” Ujarnya pelan.

Ryosuke tidak perlu bertanya lagi apa yang dimaksud dengan adiknya itu. Sebagai perancang medan ujian, tentu saja Ia diperlukan dalam operasi ini untuk mengawasi setiap detail yang terjadi di arena. Mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan teknis yang tidak diinginkan misalnya. Tetapi dia ingin memastikan sesuatu…

“Jadi… bagaimana medannya kali ini? Seperti biasa atau kau mulai menambahkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu hanya sekedar untuk kesenanganmu?” Ryosuke menyipitkan mata pada Ryutaro dengan curiga.

“Kenapa mau tau?” Ryutaro balik bertanya.

“Tidak boleh?”

Ryutaro mengangkat sedikit bahunya, “Seharian ini kau terlihat aneh. Tidak biasanya kau menaruh perhatian berlebih pada seseorang, kecuali… yah, kau tau siapa,”

Ryosuke balik membalas dengan nada acuh, “Tidak ada alasan khusus,”

“Benarkah? Lalu untuk apa kau peduli?” tanya pemuda berkacamata itu curiga.

Ryosuke menatap sejenak adiknya itu sebelum berkata, “Dia rekanku untuk misi berikutnya.”

Pupil Ryutaro melebar mendengar jawaban kakak laki-lakinya tersebut, “Dia belum menjalankan ujiannya tapi sudah dimasukkan dalam jadwal misi? Paman sepertinya cukup percaya diri Ia akan lulus,”

Ryosuke hanya mengangkat bahunya sedikit.

“Aku jadi semakin penasaran,” ujar Ryutaro kembali, namun percakapan mereka harus selesai karena kini mereka tiba tepat di depan ruang monitor.

Ryosuke membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk, disusul oleh Ryutaro. Sesampainya di dalam, Ryutaro langsung berpisah dan langsung berjalan menuju sosok Koyama Keichiro untuk tugasnya. Sedangkan Ryosuke berjalan mendekati Akanishi Jin yang berdiri sambil menatap sebuah layar besar yang menampilkan sebuah hutan dengan beberapa petugas turun dari helikopter sambil menurunkan sebuah tandu yang berisi sesosok manusia di atasnya.

“Perhatikan Ryosuke, setelah matahari terbit semua akan dimulai.” Ryosuke mendengar pria itu memanggilnya tanpa nama sandinya, mungkin kali ini menyangkut urusan pribadi.

“Ujiannya? Paman akan benar-benar melakukan JS pada keponakan kandungmu sendiri? Tidakkah itu terlalu berlebihan, mengingat kita belum tahu benar kemampuannya?” tanya Ryosuke.

Akanishi Jin menaikkan sebelah sudut bibirnya keatas mendengar penuturan Ryosuke, “Kemampuan ya? Karena itu aku bilang, setelah matahari terbit semua akan dimulai.” Akanishi Jin memandang lurus pada layar dimana kini terlihat para petugas itu sedang memindahkan sosok itu dari tandu ke atas tanah, lalu beberapa petugas lainnya meletakkan benda-benda di sekitar gadis itu.

“Bukan sekedar ujian, tetapi pertaruhan yang kubuat dengan diriku sendiri!” Seru Akanishi Jin lagi.

=*=

Baiklah. Harus dia akui, bahwa dia sangat terkesan dengan gadis itu.

Meski Ia dari tadi terlihat tidak peduli dan lebih banyak duduk diam di sofa dengan santai, tetapi Ia mengamati dengan cermat –sambil memberikan instruksi diam-diam tentu saja. Instruksi singkat yang Ia berikan dijalankan dengan cermat oleh gadis itu. Meski sedikit kewalahan, tetapi untuk ukuran gadis yang baru saja keluar dari zona aman dan sedang bertaruh antara hidup dan mati, gadis itu termasuk pada tipe cukup lincah bergerak, menghindar, dan tergolong mahir dalam menggunakan senjata.

Ya, sangat mahir.

Seperti senjata itu sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri. Menyatu dengan dirinya. Atau seperti memiliki pikiran untuk mematuhi gadis yang sedang menggunakannya. Semua sasaran di bidik dan dengan tepat, mengenai pada bagian-bagian vital pada boneka-boneka sasaran, meski sebagai gantinya gadis itu mendapat beberapa bekas luka di tubuhnya.

Perlahan senyum terkembang pada bibirnya.

Sepertinya Ia menemukan rekan yang sangat menarik kali ini. Apalagi Ia dan gadis itu bisa melakukan komunikasi secara telepati, yang Ia masih tidak tau apa penyebabnya. Mungkin saja Ia akan mengetahui itu setelah nanti mereka bertemu.

‘Hei, Ryo-san! Kau masih mendengarku?’

Kembali suara gadis itu terdengar dalam pikiran Ryosuke. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa tanpa melepas tatapannya dari layar monitor besar di ruangan itu. Terlalu lelah untuk berpura-pura tidur sejak tadi.

‘Ada apa?’ batin pemuda itu

‘Sebentar lagi aku akan tiba di garis akhir. Jika aku berhasil, kau memang akan ada disana bukan?’ tanyanya.

Aku menyunggingkan senyum tanpa sadar, ‘Kau sangat ingin bertemu denganku? Jangan jatuh cinta padaku, ya!’ batin Ryosuke lagi.

‘Dalam mimpimu! Salah aku bertanya padamu. Lupakan saja!’ ujarnya.

Hampir saja Ryosuke kelepasan tertawa. Bisa-bisa ada yang curiga padanya, tertawa sendiri tanpa sebab ditengah ketegangan yang melanda seluruh penghuni ruangan itu. Atau bisa saja dia disangka gila.

‘Kau akan melihatku disana. Mulailah percaya padaku, kau akan membutuhkannya nanti.’ Bantin Ryosuke lagi.

‘Terserahlah!’ kata gadis itu lagi.

Ryosuke maklum saja saat gadis itu kini menjawabnya dengan singkat. Dia sudah hampir dekat dengan jebakan terakhir. Hanya beberapa saat lagi dia akan ditugaskan ke titik penjemputan, atau mungkin paman Jin yang akan pergi menjemputnya langsung.

Kini Ryosuke beranjak dari tempatnya, lalu mensejajarkan posisinya kembali disamping Akanishi Jin, fokus pada layar besar di depannya yang menampilkan setiap pergerakan gadis itu. Dalam pikirannya, Ia mencoba menyesuaikan gerakan, waktu, dan ketepatan gadis itu. Mengakumulasi semuanya dalam otaknya sehingga terbentuk sebuah visual dengan perhitungan yang tepat.

“Sedang menilai, Ryosuke?” tanya Akanishi Jin padanya.

Ryosuke menoleh sejenak pada pria itu lalu kembali pada layar, “Paman mengenalku dengan baik.” Ucapnya singkat, sekaligus menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.

Inilah penentuannya!

=*=

DHUAAARRR!!

“Yang benar saja?! Ada berapa banyak bom yang mereka pasang di tempat ini?! Mereka benar-benar organisasi di pihak kebaikan apa teroris?”

Arina memutuskan untuk istirahat sejenak sambil memastikan medan di depannya. Hanya berupa tanah lapang, benar-benar lapang dan kosong. Kosong dalam artian, ranjau berada di bawah tanah. Salah pijakan maka nyawa melayang.

Dari posisi hutan yang Ia tinggalkan ke belakang, menuju sebuah bangunan berbentuk pagoda di depannya dipasang banyak ranjau bom, dan Arina berhasil melalui setengahnya. Sialnya dengan sedikit bantuan suara misterius dari dalam kepalanya.

Tetapi, setelah setengah perjalanan, Ia mengerti satu hal. Ada sebuah pola yang terbentuk dari tempat ranjau yang terpasang. Seperti biasa, dia diarahkan pada tempat-tempat yang tidak begitu berbahaya dan melakukan beberapa gerakan acak yang nyaris sebagai pengecoh. Setidaknya mereka akan mengatakan bahwa dia berhasil lolos karena keberuntungan masih berpihak padanya. Karena yang sekarang Ia berada diantara hidup dan mati.

Sambil berhenti untuk minum, Arina melihat ke depannya. Setidaknya jika Ia mengikuti pola di awal, dia tau harus melangkah ke bagian mana saja. Arina melihat ke sekelilingnya sejenak, memungut beberapa batu kerikil yang ada disekitar kakinya.

Namun sebelum itu Ia berjongkok sambil meraba tanah di bawahnya. Melihat dengan jeli permukaan tanah di sekelilingnya. Melihat beberapa perbedaan yang belum sempat Ia lakukan sejak pertama tadi. Ngomong-ngomong dengan suara misterius itu, Ia mendadak menghilang beberapa saat yang lalu. Mungkin dia harus ke kamar mandi untuk buang air? Entahlah.

“Baiklah, waktu tinggal sedikit!” lagipula tidak ada gunananya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas, pikirnya.

Gadis itu mulai berlari melewati beberapa tempat, sambil tersenyum lebar. Jika keberuntungan memang masih berpihak padanya, maka dugaannya saat melihat perbedaan tanah jebakan tadi adalah benar. Untuk beberapa langkah pertama dia masih selamat. Menguji beberapa tempat dengan melemparkan batu kerikil yang tadi dipungutnya, dan naas tempat itu benar-benar meledak.

Arina semakin teliti memandang sekelilingnya, menemukan perbedaan struktur tanah yang harus Ia pijak. Terus menerus mendapat bantuan, bukan ide yang bagus. Setidaknya dia harus bisa menyelematkan nyawanya sendiri bukan? Bagaimana jika nanti sesuatu tidak berjalan dengan rencana dan hanya dirinya satu-satunya yang bisa dia andalkan? Masa depan selalu penuh dengan ketidakpastian.

HUP!!

Sekarang hanya tinggal beberapa langkah lagi maka dia akan tiba di depan pintu bangunan tersebut. Tenaganya benar-benar telah terkuras habis.

Arina melihat pada bidang akhir jalan yang harus Ia ambil. Setidaknya untuk saat ini, dia akan membuat sedikit ledakan. Mungkin sebagai sambutkan karena keberhasilannya tiba di garis akhir? Lagipula yang sejak tadi menyoraki keberhasilannya hanya sesosok semu yang Ia tidak tau wujudnya.

‘Kau ingin melakukan apa?’ kembali suara misterius itu terdengar setelah menghilang untuk beberapa saat.

Perayaan!’ batin Arina singkat.

Segera setelah mengatakannya, Ia melemparkan seluruh kerikil yang tersisa ditangannya. Ledakan besar pun terjadi dan sedikit mengganggu penglihatan Arina. Terutama saat ledakan yang terjadi tepat mengelilinginya. Namun gadis itu masih ingat kemana dia harus melangkah sebelum tadi melemparkan kerikil tersebut. Dan…. gotcha! Dia berhasil. Dia berhasil tiba di depan pintu masuk pagoda tersebut.

Kali ini Arina benar-benar merasakan tenaganya terkuras habis. Gadis itu menyentuh pegangan pintu pagoda tersebut. Menarik nafas panjang sejenak, baru membukanya. Sebuah ruangan gelap menyambutnya kini.

Dengan sedikit kebingungan, Arina melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan menemukan dirinya berada dalam sebuah ruangan kosong yang gelap. Menoleh pada sekeliling dan hanya mendapati kehampaan.

Tiba-tiba terdengar suara sol karet beradu ubin dari arah tangga yang menuju menara pagoda tersebut. Arina menoleh menuju arah tangga, dan menanti satu sosok yang melangkah dari kegelapan itu untuk menemuinya. Semakin lama semakin mendekat, dan sosok itu semakin jelas. Sosok si pemilik langkah kaki itu berjalan semakin mendekat ke hadapannya, hingga wajahnya diterangi dari sinar rembulan yang merambat dari pintu masuk.

“Kau….?” desis Arina sambil menjaga agar kesadarannya masih menguasai dirinya.

‘Yo, partner! Akhirnya kita bertemu!’ pupil gadis itu sedikit melebar karena sama sekali tidak melihat orang itu menggerakkan bibirnya untuk berbicara, namun sebagai gantinya suara asing itu kembali terdengar di kepalanya.

Detik kemudian, akhirnya Arina menyerah pada tenaga di kakinya yang sudah mulai menghilang. Namun tubuhnya langsung disambut oleh orang itu sebelum benar-benar jatuh.

“Ya ampun, yang benar saja kau memilih untuk pingsan karena terpesona padaku?” ujar orang itu.

Arina mendengus dan membiarkan tubuhnya di papah olehnya. Dia benar-benar kehabisan tenaga, “Tunggu saja sampai aku pulih dan aku akan menghajarmu, Ryo-san!” serunya.

Pemuda itu tersenyum geli sambil memapah Arina dan membawanya keluar dari tempat itu. Ia mendengar pemuda itu memberi instruksi dari sebuah earphone di telinganya. Kemudian disusul dengan suara ribut dari atas bersamaan dengan angin yang sangat kencang. Arina melihat sebuah helikopter kini berada diatas. Sebuah tangga tali diturunkan dari atas sana.

“Pegangan yang erat padaku!” titah pemuda itu.

Arina merasakan pinggangnya dipeluk dengan erat menggunakan sebelah tangan, mau tidak mau Ia melingkarkan kedua lengannya di leher pemuda itu. Detik kemudian Arina merasakan tubuhnya terangkat ke udara, semakin lama semakin tinggi. Sejenak Ia menoleh bahwa pemuda itu sedang menggenggam dengan erat menggunakan satu tangannya yang lain pada tangga tali yang perlahan dinaikkan ke dalam helikopter.

Hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu dan seorang petugas dari dalam membantu mereka berdua untuk masuk ke dalam helikopter tersebut.

Akhirnya Arina merasakan kelegaan setelah merasakan dirinya duduk dengan nyaman di bantalan empuk kursi penumpang. Rasanya otot-ototnya benar-benar kaku.

“Aku ingin istirahat, lelah sekali.” gumamnya pelan.

Sebelum matanya benar-benar terpejam, Ia bisa melihat pemuda di depannya itu tersenyum sambil melihatnya. Setelah itu kegelapan kembali mengambil alih segalanya.

=*=

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s