[Multichapter] Drowning (BL – Omegavers) – #2

BL Omegavers

~DROWNING~
Author
 : YamArina (wattpad on “Chiamis”)
Genre : Romance, Drama, Fantasy, Shounen Ai, Sci-Fic
RatingNC-17 (untuk bahasa frontal)
Type : Multichapter
Main Cast : Takaki Yuya x Arioka Daiki (TakaDai)
Support cast: Yabu Kota, Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP)

[Author POV]

Yabu berjalan masuk ke dalam apartemennya sambil menggendong Daiki dengan seperti bridal. Pria itu membawa Daiki masuk ke dalam kamar tamu dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

“Ya… bu… ngghhh…”

Yabu menyerit mendengar erangan hampir menyerupai desahan yang dikeluarkan oleh Daiki. Ia lalu beralih ke kamarnya sendiri dan dengan segera kembali ke kamar tamu dengan sebuah tas yang berisi alat-alat kerjanya.

Yabu Kota, adalah seorang dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau sering dikenal dengan obgyn atau dokter kandungan. Cukup aneh memang saat seorang pemuda harus menghubungi dokter spesialis kandungan. Tetapi sejak beberapa tahun yang lalu, Yabu Kota adalah satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong oleh Arioka Daiki.

Yabu memberikan sebuah suntikan melalui lengan Daiki, sementara pemuda chubby itu masih mengerang dengan peluh yang mengucur di seluruh badannya. Tetapi tidak lama kemudian, Ia sudah terlihat sedikit lebih tenang. Mata itu mulai terpejam dengan deru nafas yang mulai teratur.

Untuk saat itu, Yabu akhirnya bisa menarik nafas lega. Pria itu kemudian memutuskan untuk keluar dan membiarkan Daiki beristirahat. Yabu beranjak ke dapur dan melihat ke dalam kulkas. Beberapa jam lagi saatnya untuk makan malam, dan tinggal sendiri membuat pria itu terbiasa untuk mengurus dirinya sendiri. Termasuk urusan memasak. Yabu baru saja selesai mengambil bahan-bahan yang akan diolahnya menjadi makan malamnya, berikut dengan bubur untuk seseorang yang sedang tertidur di kamar tamu.

[Author POV’s end]

.

.

.

[Yabu POV]

Aku meletakkan semangkuk sup miso terakhir di atas meja makan, tepat saat mendengar engsel pintu yang terbuka. Saat ku tolehkan kepalaku, aku melihat sosok Daiki dengan raut wajah kelelahan dan tubuhnya yang lemah melangkah dari sana.

“Makan dulu,” ucapku.

Anak itu terlihat sedikit terkejut karena sapaanku, sepertinya tidak sadar akan keberadaanku sedari tadi. Namun aku melihatnya berjalan mendekat ke meja makan lalu menarik satu kursi dan duduk disana.

Aku menyodorkan segelas air mineral untuknya. Ia menerimanya dan mengucapkan terimakasih dengan sangat lirih. Aku lalu mengambil tempat di seberangnya dan duduk menghadap hidangan makan malamku sendiri.

“Ah, aku lupa memberitahu tenchou bahwa bahwa aku izin hari ini.” Lirih anak itu.

“Aku sudah menelpon tempat kerjamu saat kau pingsan tadi,” ucapku.

Daiki akhirnya mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Ia lalu membungkuk singkat sambil mengucapkan terima kasihnya dan maaf karena merepotkanku.

Aku mengibaskan tanganku, “Sudahlah, seperti dengan siapa saja. Sekarang habiskan makananmu, setelah itu aku akan memeriksa keadaanmu.” Daiki hanya mengangguk sebagai jawaban. Maklum karena sepertinya tenaganya belum pulih benar.

Sudah sangat lama aku mengenalnya dan dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Waktu itu aku tiba-tiba menemukannya pingsan di jalan dan langsung membawanya ke rumah sakit tempatku bekerja. Saat Ia sadar, mulai terjadi sedikit keanehan pada tubuhnya. Dia menggeliat kepanasan seperti orang yang menderita demam tinggi, tetapi tentu saja itu bukan demam. Hanya rasa panas yang mendera tubuhnya.

Hampir mirip saat seseorang di jejeli obat perangsang dalam dosis cukup besar. Tetapi saat melakukan uji laboratorium, sama sekali tidak ditemukan zat-zat seperti itu dalam darahnya. Aku menduga itu adalah jenis obat perangsang jenis terbaru yang mungkin sudah di buat agar tidak terdeteksi dalam darah, tetapi anak ini menegaskan dia tidak mengkonsumsi obat apapun sebelum itu. Dia juga bukan tipe anak yang sering keluar masuk tempat-tempat seperti itu.

Lalu untuk penanganan sementara, sejujurnya saat itu aku hanya seorang resident dan masih tidak berani untuk melakukan penanganan lebih lanjut. Tetapi entah kenapa saat itu aku nekat memberikan obat pengendali hormon. Sinting memang, karena biasanya yang memerlukan hal seperti itu hanyalah seorang wanita. Tetapi efeknya ternyata lebih mengejutkan. Obat itu berfungsi.

Gochisosama deshita,” ucap kami berdua hampir bersamaan.

“Biarkan aku saja yang mencuci piringnya.” Baru saja aku ingin meletakkan piringku ke tempat cuci, anak itu sudah menghalangi kegiatanku selanjutnya.

“Baiklah, tetapi setelah aku memeriksamu baru kau boleh bekerja. Sekarang letakkan dulu dan kembali ke kamar!” titahku.

Ku lihat dia menghela nafas, tetapi tiak urung menurutinya. Dia berjalan lebih dulu masuk ke kamar yang tadi Ia tempati denganku yang menyusul di belakangnya. Aku meraih tas kerjaku dan mengeluarkan stetoskop untuk memeriksanya. Lalu mengukur tekanan darahnya.

“Tidak biasanya gejalanya kali ini lebih cepat,” ujarku sambil mencatat beberapa hal pada jurnalku.

Dari sudut mataku, ku lihat dia sudah bangkit dari posisi berbaring menjadi bersandar pada kepala tempat tidur. Ia masih terlihat sedikit lemah, tetapi sudah tidak seperti tadi.

“Setiap bulan seperti ini, entah kenapa aku merasa seperti perempuan yang sedang datang bulan saja.” Aku mengulum senyum mendengar keluhannya, namun dalam hati aku membenarkan. Kenapa gejalanya terus berulang setiap bulan pada kisaran tanggal yang hampir sama. Persis seperti jadwal datang bulan para wanita.

“Secara keseluruhan, seperti biasa. Selain gejala anehmu ini tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan pada tubuhmu.” Ucapku.

“Bagaimana dengan penelitianmu?” tanyanya kemudian.

Aku mendesah sedikit frustasi sambil memijat sedikit pangkal hidungku. “Maaf, aku masih belum menemukan sesuatu yang baru. Masih seperti terakhir yang ku berikan padamu. Aku berencana untuk mencoba mencari data-data hingga ke luar negeri, siapa tau kejadian ini juga terjadi di negara belahan yang lain. Tetapi untuk mendapatkan data seperti itu bukan hal yang mudah.”

“Maafkan aku karena merepotkanmu terlalu jauh,” aku mengangkat kepala kembali mentap kearahnya. Ia memberikan tatapan bersalah padaku. Aku tersenyum dan menyentuh kepalanya, “Tidak usah kau pikirkan.”

Meski sedikit ragu, tetapi Daiki memberikan anggukan padaku. Aku ingin menyuruhnya istirahat, namun anak itu sudah lebih dulu bangkit dari tempat tidur.

“Sebaiknya aku cuci piringnya sekarang.” Ucapnya.

Aku tidak begitu mempermasalahkan hal itu sebenarnya. Lagipula ada bibi pengurus yang selalu datang setiap pagi untuk membersihkan apartemenku. Tanpa sadar, aku berdecak sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.

Sepertinya sudah saatnya aku memikirkan untuk mencari calon istri. Pikirku.

“Ah, tidak apa yang ku pikirkan.” Buru-buru menggelengkan kepalaku.

Baru saja satu langkah ku ayunkan, ponselku di saku celana berbunyi. Aku melihat ke display nya dan mendapati satu nama sahabat lamaku yang menelpon.

Moshimoshi, Hikaru?” ucapku.

Saat ku keluar dari kamar itu, ku dapati Daiki sedang di dapur tengah mencuci piring. Aku melangkah menuju ruang tengah masih sambil mendengar kata-kata sahabatku di seberang sana.

“Baiklah, akan ku sampaikan padanya. Segera kau akan bertemu dengannya.” Ucapku kemudian. Setelah itu kami bertukar salam dan sambungan itu pun berakhir.

Sekali lagi, aku menoleh ke arah dapur. Kini ku lihat Daiki sudah selesai dengan kegiatan mencuci piringnya dan sedang menyusun ke rak piring.

“Daiki, baru saja temanku yang waktu itu menelpon.” Kataku, dan itu menarik perhatiannya sejenak.

“Temanmu?” Daiki mencoba mengingat sedikit, menggali ingatannya. “Ah, yang kau bilang untuk mencarikanku pekerjaan?”

Aku mengangguk. Daiki terlihat sumringah dan langsung menghampiriku di ruang tengah. “Dia sudah menemukannya dan akan segera mengirimkan alamatnya nanti. Lalu dia bilang agar kau menyempatkan dirimu segera untuk bertemu dengan calon bosmu itu, beliau ingin menilai langsung apakah kau cocok untuk pekerjaan itu atau tidak.” Baru saja aku selesai bicara, tanda sebuah email masuk ke ponselku berbunyi. “Ah, sepertinya ini dia. Akan langsung ku kirimkan padamu.”

“Terima kasih banyak, Yabu-kun!” aku tersenyum melihat Daiki menunduk begitu dalam dan mengucapkan terimakasih dengan sangat tulus.

“Angkat kepalamu, Daiki. Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu padaku.” Ucapku.

Ia mengangkat kepalanya perlahan lalu memandang kearahku, “Aku berjanji akan bekerja dengan baik,” katanya membuatku terkekeh.

[Yabu POV end]

=*=

 

[Takaki POV]

Aku membuka pintu apartemenku. Namun baru saja menjejakkan kakiku di genkan, aku sudah mendengar suara-suara aneh dari dalam. Ku tarik nafas malas lalu berjalan masuk begitu saja ke dalam.

Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Suara-suara aneh itu terdengar sangat keras dari kamar yang berada tepat disebelah kamarku.

Yang benar saja? Apa dia tidak punya tempat lain untuk melakukan tindakan asusila? Memangnya apartemenku Love Hotel?!

Setelah mencuci gelas bekas minumku dan meletakkannya kembali ke rak piring, aku berjalan mendekati kamar berpenghuni itu dan menendangnya dengan keras. Peringatan tidak langsung. Jika mereka memang punya otak, mereka akan berhenti. Jika tidak, mungkin aku terpaksa menggunakan cara sedikit kasar.

Aku berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa. Menyalakan televisi sambil menunggu sejenak.

Ckrek!

Sepertinya otak mereka masih tergolong bisa digunakan.

Aku menoleh dan mendapati seorang pemuda dan seorang wanita keluar dari kamar yang tadi kutendang. Rupa mereka jelas sekali ‘habis melakukan sesuatu’.

“Kau sudah pulang, Yuya?” seru si pemuda, Miura Haruma, salah satu teman kuliahku.

Aku melirik malas pada perempuan muda yang berdiri di belakangnya. Mata wanita itu menoleh padaku lalu memberikan sinyal-sinyal menggodak.

Yang benar saja?! Padahal dia baru saja tidur dengan temanku dan sekarang menggodaku?!

“Apartemenku bukan Love Hotel, kau tau kan?” ucapku sambil lalu dan mengalihkan lagi pandanganku pada televisi.

Terdengar Miura menyuruh wanita itu untuk segera pergi. Pemuda itu mengantarkannya ke genkan hingga wanita itu keluar dari apartemen. Setelah itu Ia mengambil tempat duduk di sofa lain di dekatku.

“Pacar barumu?” tanyaku pada Miura.

Pemuda itu menggeleng, “Hanya one stand night. Bertemu tadi di bar, wanita menyenangkan untuk ngobrol.”

Aku mendengus mendengarnya. “Pantas saja, dia sudah terlihat ingin mencari mangsa baru untuk ditiduri!” ujarku.

“Apa? Dia menggodamu?” tanya Miura kemudian. “Pantas saja kau menyindir seperti itu.”

“Aku menyindirmu, bodoh! Kenapa kau selalu saja membawa wanita-wanita mu di apartemenku?!” ku lemparkan bantal sofa dan mengenai tepat di wajahnya.

Miura terlihat menyandar di sofa dengan santai dan menggunakan bantal yang tadi ku lempar padanya. “Jawaban yang sama. Aku tinggal di apartemen niichan, dan aku bisa dibunuh keluargaku jika ketahuan bermain-main seperti itu dan bukan kuliah dengan benar. Uang yang diberikan padaku tidak cukup untuk menyewa Love Hotel, dan sex adalah kebutuhan yang tidak bisa ku tolerir.”

Dalam waktu dekat, orang ini pasti akan naas! Pikirku.

“Kau sendiri? Aku tidak pernah melihatmu berhubungan dengan wanita? Kau tidak impoten kan?” kali ini tasku yang ku lemparkan tepat padanya.

Dia terlihat meringis kesakitan setelah menerima lemparanku. Makan itu buku besar mata kuliah akutansi ku yang memang hardcover! “Seenaknya kau bicara! Banyak yang lebih penting dibanding sekedar harus menyewa wanita-wanita bodoh itu!”

“Yang benar saja, Yuyan. Dimana asiknya main ‘solo’?” sepertinya anak ini tidak ada jeranya.

“Haruma, kembalikan kunci apartemenku dan silahkan angkat kaki. Sebelum mulutmu itu ku jahit sekarang?!”

“Ampun tuan muda! Maafkan mulut hamba yang kurang sopan ini!” Miura bangkit dari posisinya dan berlutut dihadapanku dengan kedua tangan disatukan di depan dadanya.

“Terserah kau sajalah!”

Aku menarik kembali tas yang tadi ku lempar dan berjalan masuk ke kamarku sendiri. Lama-lama berdebat dengan maniak seperti Miura akan bikin serangan jantung. Miura dan kehidupan malam itu seperti satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan.

Tanpa sadar aku memang terpikir akan apa yang pemuda itu katakan. Sampai sekarang aku memang jarang menjalin hubungan. Bukan tidak pernah. Aku pernah punya pacar, tetapi tidak bertahan lama. Kebanyakan gadis-gadis itu yang mendekatiku, dan pada akhirnya aku yang memutuskan mereka. Pada awalnya mereka terlihat manis, tetapi lama kelamaan mereka terlihat seperti lalat betina yang mengerubungi tempat sampah. Gadis-gadis seperti itu sangat menjijikkan.

Tidak hanya di sekolah, bahkan gadis-gadis rekan bisnis ayahku juga kebanyakan memiliki tingkah yang tidak jauh berbeda. Aku sering diajak oleh ayah ke pesta-pesta yang diadakan perusahaan yang memiliki kerjasama dengan perusahaan keluarga kami.

“Menyebalkan…” gumamku.

Ku angkat sebelah lenganku untuk menutup mataku. Lelah sekali.

.

.

.

Aku terbangun pada pagi harinya. Tidak sadar sejak kapan tepatnya aku tertidur dengan masih mengenakan pakaian semalam. Aku mendengar suara berisik dari arah dapur. Aku merogoh ke dalam tas yang sudah tergeletak di bawah, mencari ponselku. Aku menyalakannya dan memasukkan sandi kunciku. Ada beberapa pesan yang kebanyakan tidak begitu penting dan ada satu panggilan tidak terjawab. Aku melihat pada angka yang menunjukkan jam saat ini, masih jam tujuh lewat.

Aku merenggangkan tubuhku lalu segera bangkit pada posisi duduk. Melihat kesana kemari untuk menyesuaikan mataku yang berlum terbuka dengan sempurna. Menguap beberapa kali sebelum akhirnya aku menyeret tubuhku untuk bangun.

Aku berjalan gontai menuju pintu dan membukanya. Aku melihat ada seseorang yang sedang bekerja di dapur, namun ku abaikan saja. Aku butuh untuk ke kamar mandi sekarang.

Tepat aku baru mencapainya, pintu kamar mandi itu sudah terbuka.

Ohayou gozaimasu, tuan muda Yuya.”

Aku memaksa membuka mataku dan mendapati Yaotome Hikaru, salah satu asisten kepercayaan ayah kini berada tepat di depanku.

“Kau disini?” tanyaku.

Aneh, jelas sekali aku melihat ada seseorang di dapur, dan lagi suara dari dapur masih terdengar begitu jelas. Apa itu Miura?! Yang benar saja! Miura memakai dapur sama saja dengan mengundang musibah!

Tanpa pikir panjang aku menyeret kakiku dengan paksa menuju arah dapur. Kini terlihat dengan jelas ada seseorang dengan ukuran tubuh yang lebih pendek dariku, mengenakan apron, dan terlihat sibuk di dekat kompor.

“Hei, kau!” tegurku.

Orang itu berbalik dan tatapan kami bertemu. Seorang pemuda pendek dan chubby sedang memasak di dapurku. Parahnya, aku tidak mengenal dia siapa!!

“Ah, tuan muda. Dia adalah Arioka Daiki. Tentang asisten rumah tangga yang kita bicarakan sejak minggu lalu, aku sudah menemukannya.” Seru Yaotome Hikaru yang langsung menyusul ke dapur.

[Takaki’s POV end]

 

=*=

TBC

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Drowning (BL – Omegavers) – #2

  1. hanazuki00

    waaaah update
    Jadi lebih oenasaran ttg masa lalu daich sebelum ketemu yabu errr
    Daaan akhirnya daichan jadi prt?
    Uh sama seorang tuan muda ganteng? Haduuuh 😆😆😆

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s