[Multichapter] LOVE CHAINS (chapter 10)

Love Chains

Love Chains (10)
By. Dinchan
Type: Multichapter (Chapter 10)
Genre: Romance
Rating: PG-15
Fandom: JE, HSJ
Starring    : all HSJ members (you know all of them) :P, Kato Shigeaki (NEWS), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Nakashima Miyako (OC), Takaki Saifu (OC), Chinen Opi (OC), Hideyoshi Sora (OC), Yanagi Riisa (OC), Nishikawa Miu (OC), Nishikawa Miki (OC), Nishikawa Meru (OC),  Koizumi Asuka (OC)
Disclaimer    : I don’t own all character here except Hideyoshi Sora :P. All HSJ members are belong to JE, Miyako pinjem ama Mala, Opi punyaan Opichi, Saifu pinjem ama Fukuzawa Saya, Yanagi Riisa juga pinjem ama Lisa, Miu charanya Mamih Haru, Miki punyaan Nadia, Meru pinjem juga punya Mbak Mel, Asuka punyaan Gita. I just own the plot!!! Yeeeaahh~
COMMENTS are LOVE… it’s just a fiction.. please read it happily~ I love comment… please leave some comment~ ^^

^Tokyo Hospital, current time : 11.35 AM^

Kepala Sho berlumuran darah.

Opi hanya bisa menatap tubuh seorang Sakurai Sho yang kini dibaringkan, sementara Yabu dan Yuya menangani luka Sho, memeriksa kalau-kalau ada pendarahan otak.

“Harus CT Scan secepatnya,” ucap Yuya.

Yabu menatap Opi yang hanya mematung di pinggir kasur, “Kau hanya akan memenuhi ruangan saja. Keluar!”

Opi merasa tersedak tangisnya sendiri dan berjalan keluar, ketika melihat ibu nya Sho menerjang ke arahnya.

“Opi-chan.. Opi-chan… Sho tidak apa-apa kan? Dia baik-baik saja kan?”

“Padahal aku hanya meninggalkannya sebentar….” tangis Ibu nya Sho semakin keras, dan Opi hanya bisa memeluknya.

^Current time : 05.30 PM^

Dengan gerakan cepat Sora menutup file terakhir yang harus ia periksa hari itu dan segera mengembalikannya ke rak. Ia membereskan mejanya dan mengambil tas gendongnya, bersiap untuk pulang.

“Tunggu sebentar ya,” ucap Keito ketika melintas masih dengan pakaian rumah sakitnya, masuk ke dalam ruang ganti.

Sora mengangguk.

“Sora-chan,”

Suara itu sontak membuat Sora berbalik dan mendapati seorang Takaki Yuya yang memanggilnya.

“Ayo kita bicarakan semuanya, jangan melarikan diri terus,” kata Yuya lirih, seakan-akan ingin menangis.

Tak mampu menjawab, Sora hanya menatap Yuya yang kini mendekat dan meremas bahu Sora dengan lembut, matanya tepat menatap mata Sora. Terlihat kesedihan dan putus asa di mata itu, kecewa dan penyesalan juga tergambar jelas. Sora bisa melihatnya, Yuya benar-benar menyesal.

“Ap..apa lagi yang mau dibicarakan?” tanya Sora agak tergagap karena masih sedikit kaget.

“Semuanya. Tentang kakakmu, tentang….” Yuya menggantung kalimatnya, menatap Sora dengan penuh perasaan, “Kita…”

“Tidak ada…”

“Sora! Ayo pulang!”

Yuya dan Sora serentak melihat ke sumber suara. Sora segera melepaskan diri dari Yuya dan berlari ke arah Keito.

“Kami pulang dulu, Takaki-sensei,” ucap Keito cepat sambil menggandeng tangan Sora menjauhi Yuya yang hanya bisa menatap punggung keduanya dengan nelangsa.

“Dia bilang apa?” tanya Keito sambil berjalan cepat sambil menarik tangan Sora.

“Yuya ingin bicara soal kita, dan soal kakakku…”

“Jangan hiraukan dia! Mengerti?” jari Keito yang meremas tangannya terasa semakin erat dan protektif sehingga Sora hanya bisa mengangguk, “pokoknya jangan angkat teleponnya atau bicara padanya kecuali soal pasien!” kalau dulu ia tidak bisa merebut hati Sora, kini Keito serius ingin memiliki Sora. Walaupun dengan cara yang sedikit memaksa.

“Makan malam dulu ya, kau kelihatan pucat sekali, Sora,” kata Keito ketika mereka akhirnya naik ke mobil Keito, dengan wajah Sora masih terlihat kehilangan warnanya.

Sora hanya sanggup mengangguk.

Perjalanan ke restoran itu terasa cukup panjang bagi Sora. Ia tidak punya tenaga untuk menyambut obrolan yang Keito lontarkan. Tidak. Kenapa rasanya Sora masih berdebar setiap melihat Yuya? Sora akui setiap pagi ketika mereka harus meeting pagi, ia merasa cukup salah tingkah ketika Yuya berbicara di hadapan dokter lainnya. Maka tadi, ketika Yuya tiba-tiba muncul di hadapannya, Sora harus menahan diri untuk tidak memeluk tubuh Yuya yang begitu dekat. Sial. Sora masih merindukan pria itu setelah apa yang sudah ia lakukan kepada kakak semata wayangnya. Tepatnya setelah Sora tahu yang sebenarnya.

“Sora.. kau baik-baik saja?” tangan Keito mampir di pipinya, dan Sora terlonjak hampir saja berteriak, Sora mengangguk dan membiarkan tangan Keito membelai pelan pipinya, berlanjut ke rambutnya, “Kau benar-benar tidak apa-apa?”

Sora mengangguk cepat. Sedikit kaget dengan perlakuan Keito, namun Sora membiarkannya, mungkin itu cara Keito menghiburnya saat ini.

“Kita sudah sampai, kau yakin mau makan disini? Atau lebih baik kita pulang saja?”

Sora menatap Keito, “Boleh kita pulang saja?”

Keito kembali menjalankan mobilnya, “Baiklah, kita makan di rumah saja ya,”

Ketika sampai di rumah, Keito tidak membiarkan Sora menyiapkan makanan, walaupun Keito memang tidak bisa memasak, ia telah terlebih dahulu berinisiatif untuk memesan makanan cepat saji agar mereka tidak usah menunggu lama untuk makan, jujur saja Keito sebenarnya sudah lapar sejak tadi, dengan dua operasi berturut-turut sebelum jam pulang tentu saja membuatnya kelaparan.

“err.. Terima kasih ya, Keito,” ucap Sora tulus, hanya dijawab dengan anggukan dan belaian pelan pada puncak kepala Sora.

Sora sadar, bahwa bersama Keito dirinya selalu merasa tenang, dengan Keito segalanya terasa mudah, Sora tidak perlu bersusah payah mengejarnya, mereka cocok satu sama lain, dan begitulah Sora tidak pernah berpikiran untuk mengencani Keito. Berbeda dengan Yuya, Sora masih ingat bagaimana pertama kalinya ia jatuh cinta pada Yuya.

Flashback

“Kau telat!” Sora sudah siap mengeluarkan amarahnya pada Keito, yang sore itu mengajaknya nonton konser sebuah band indie, yang kebetulan vokalisnya adalah teman Keito. Sora sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu, dan kini Keito datang dengan wajah tanpa dosa.

“Aku tidak telat, lihat,” Keito menunjukkan arlojinya, dan Sora pun melihat arloji miliknya, Perbedaan waktunya memang setengah jam, dan jelas-jelas apa yang dilihatnya di arloji Keito menunjukkan pukul lima sore, tepat seperti apa yang mereka janjikan, sementara milik Sora menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit.

“Kok bisa?!” Sora secara refleks mengeluarkan ponselnya, dan menyadari bahwa arlojinya lah yang bermasalah, bukan Keito yang telat.

“Huh!” Sora tak terima dirinya kalah berargumen dengan Keito, yang kini tertawa terbahak padanya.

“Sudahlah, nanti kita ganti baterainya, ya?” Keito menenangkan Sora, lalu menarik tangannya, mengajaknya pergi.

“Huh! Padahal aku tadi sudah buru-buru sampai kaos kakiku beda sebelah!” rutuk Sora, yang disambut tawa berderai dari Keito, beruntung hari itu ia memakai sneaker warna pink sehingga kaos kaki sialan itu tidak kelihatan.

Setibanya mereka di tempat konser, Sora memerhatikan bahwa venue kecil itu cukup penuh, sepertinya band ini cukup terkenal. Mereka datang tepat saat acara akan dimulai, sehingga Keito menyeret Sora agak cepat ke depan agar mereka mendapatkan spot yang bagus untuk menonton.

Selama pertunjukan berlangsung tak sedetik pun Keito melepaskan genggaman tangannya pada Sora, ia ingin gadis itu tenang dan tidak terpisah darinya, melihat penonton lumayan penuh dan berjubel.

Suasana di tempat itu cukup panas, mungkin karena venue nya kecil namun menampung cukup banyak penonton malam itu. Menurut cerita Keito, walaupun band indie tapi band ini sudah cukup terkenal dan hanya tinggal menunggu waktu untuk debut. Sebenarnya Keito sendiri adalah anggota band itu sebelum ia memutuskan untuk masuk sekolah kedokteran dan mengubur mimpinya menjadi musisi.

“Panas ya,” keluh Sora yang akhirnya membuka jaketnya, menyampirkannya di tangannya.

Belum juga konser dimulai, tiba-tiba seorang gadis jatuh dan terlihat kehabisan nafas. Semua orang panik, Keito secara refleks berlari ke arah gadis itu, Sora pun ikut menghampiri.

“Dia kehabisan napas?” Sora mulai panik.

Keito mengguncang tubuh gadis itu, yang kini terlihat tersedak dan mulai kehilangan kesadarannya.

“Minggir,” Sora melihat seorang pria, dengan rambut coklat tua dan muka tampan, ugh, bisa-bisanya Sora memikirkan hal itu.

“Dia kesulitan bernapas dan mulai tersedak,” kata Keito.

Pria itu tak menjawab dan memeriksa keadaan gadis itu, “Tidak ada tanda-tanda asma,” ucapnya, “saluran pernapasan atasnya terhambat,” katanya lagi.

“Ambulance masih lama?”

Sora segera tersadar dan menelepon ambulance, “Uhm… sepuluh menit,” kata Sora lagi.

“Dia tidak akan bertahan, kalian mahasiswa kedokteran?”

Keito mengangguk, “Iya, sensei,”

“Bawa indwelling needle?

Keito segera merogoh tasnya, dan menyerahkan yang diminta begitu pula Sora, “Kemari,” ucapnya, baik Sora maupun Keito menurut saja, “kita harus menyelamatkan pernapasannya terlebih dahulu,” dan dengan gerakan cepat sudah menusuk tenggorokan gadis itu dengan jarum indwelling, “harus tepat melalui membran krikotiroidnya,” jelas pria itu.

Dalam hitungan detik, pria itu mengecek apakah ada tanda-tanda napas dan ia pun terlihat lega, dan ketika ambulance datang, pria itu berdiri dan menjelaskan keadannya pada perawat.

Arigatou Takaki-sensei,” ucapnya sambil membungkuk dan segera membawa si gadis ke Rumah Sakit.

Anou…Takaki-sensei, praktek dimana?” tanya Sora ketika pria bernama Takaki itu akan beranjak pergi.

“Rumah Sakit Tokyo,” ucapnya sambil tersenyum dan ikut dengan perawat tadi.

Setelah kepanikan itu konser pun dimulai kembali, sementara pikiran Sora tidak bisa beranjak dari pria berambut coklat dengan dada bidang dan mata coklatnya itu, Takaki-sensei,ucap Sora dalam hati.

“Keito!” yang dipanggil menoleh, memperhatikan Sora, “Aku sudah tahu mau resident dimana?!”

“Di mana?” tanya Keito heran, ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu.

Tokyo Hospital!”

Sora harus bertemu lagi dengan sensei keren tadi! Sora harus bertemu lagi!

Flashback end.

 

Sora’s House, current time : 08.30 PM

Dan Sora benar-benar bertemu dengan Takaki, mengalahkan ketakutannya akan Tokyo Hospital mengingat disitulah kakaknya meninggal, ia tidak pernah menyangka bahwa pria tampan dan keren yang saat itu menolong seseorang dari kematiannya justru adalah orang yang seharusnya paling ia benci.

“Sora… demi Tuhan! Kenapa kau melamun terus?” seru Keito yang kini ternyata sudah ada di hadapannya, iris coklat Keito memandangnya dengan seksama, lengan Keito yang berotot hasil gym setiap seminggu dua kali itu pun kini berada di samping kanan kiri badan Sora.

“Ti.. tidak ada apa-apa Keito, aku mau tidur!” jawab Sora secara refleks.

Tangan Keito menarik tangan si gadis dan menuntunnya ke kamar, “Baiklah, aku akan menunggu sampai kau tertidur pulas,”

“Tapi, kau mau memelukku kan?”

Keito tak menjawab, ia hanya tersenyum, ‘Always’ jawabnya dalam hati.

Dan seperti malam-malam setelah mimpi buruk terus menghampirinya, Hideyoshi Sora kembali tertidur didekapan seorang Okamoto Keito, dan Sora merasa lebih tenang.

^Tokyo Highschool, current time : 09.30 AM^

“Miki-chan!!” sebuah suara yang ceria, siapa lagi kalo bukan Nakajima Yuto, tubuh tinggi, wajah tampan, tidak membuat seorang Yuto merasa harus bersikap ‘cool’ baginya menjadi ceria sudah menjadi bagian dirinya.

“Eh, Nakajima-san,” Miki masih mengingat jelas kejadian saat Yuto membawakannya bekal, saat Yuto mengantarnya naik bus dan berlarian ditengah hujan setelahnya. Miki meneguhkan diri bahwa hanya Chinen lah yang ia sukai, Chinen Yuri adalah cinta pertamanya dan tidak seharusnya Miki menyukai laki-laki lain saat Chinen sibuk dan tidak bisa mendampinginya.

“Miki-chan kan hari ini ada kegiatan klub, tapi aku tidak sempat membuat sandwich, jadi aku berikan ini saja ya,” Miki menatap Yuto, beruntung ini masih jam pelajaran olahraga, sehingga mereka bisa mengobrol, “Untuk Miki-chan yang paling cantik,” sebatang coklat sudah mampir dengan suksesnya di tangan Miki.

“Nakajima-kun! Giliranmu!” Yuto segera berlari meninggalkan Miki dengan sejuta pertanyaan.

“Miki-chan, selamat ya!” Miki menatap Rie yang tiba-tiba saja memberinya selamat. Miki tidak merasa hari ini adalah ulang tahunnya.

“Se-selamat untuk apa?”

“Chinen senpai diterima di Universitas Tokyo, kan?”

“Hah?!”

“Iya! Pre-medical, Chinen Yuri, aku mendengarnya dari kakak kelas tiga,”

Sejujurnya Miki sangat senang mendengar kabar ini, namun Miki masih bingung mengapa Chinen belum juga memberitahunya. Bukankah mereka masih punya hubungan khusus? Bukankah setelah mendengar penguman itu Chinen seharusnya memberitahunya terlebih dahulu?

“Makasih ya Rie,” entah mengapa tiba-tiba Miki merasa tidak enak badan.

“Maaf, Nakamaru-sensei! Saya mau izin ke klinik sekolah, anou… Saya tidak enak badan.”

Nakamaru-sensei hanya mengangguk. Sebelum Miki sempat beranjak, tiba-tiba sebuah tangan meraihnya, “Biar aku antar ya, Miki-chan?” ucap Yuto.

“Aku.. Aku bisa sendiri ko,” Miki terus meyakinkan dirinya kalau debaran ini hanya karena dirinya sedang tidak enak badan, bukan karena wangi keringat Yuto bercampur dengan Mint yang justru membuatnya tambah berdebar.

Yuto menggeleng, seakan meyakinkan Miki, “Aku yang tidak bisa membiarkanmu seorang diri.”

Sesampainya di klinik sekolah, Miki berbaring di salah satu bilik sementara diperiksa oleh perawat sekolah, dan dinyatakan bahwa Miki baik-baik saja, mungkin agak kecapekan.

“Terimakasih Nakajima-kun, tapi kau tidak perlu menunggui aku, aku akan baik-baik saja,” ucap Miki lalu memberikan senyum terbaik yang bisa ia berikan kepada Yuto.

Pemuda itu masih duduk disampingnya, menatap Miki, “Tidak! Aku akan tetap di sini hingga kau kembali ke kelas,”

Gadis itu tahu tak ada gunanya melarang Yuto yang sedang keras kepala sehingga dirinya hanya berbaring di salah satu bilik klinik sekolah, matanya menatap ke langit-langit klini yang di cat biru dengan gambar awan, bertanya-tanya mengapa Chinen-senpai kesayangannya tidak memberitahu hal sepenting ini padanya.

“Bisa ada dua kemungkinan sih, Miki-chan,” lamunan Miki buyar karena suara Yuto yang tepat di telinganya, membuat dirinya kaget, “Mungkin Chinen-kun lupa, atau Chinen-kun memang ingin memberi tahumu tapi tidak sempat, karena persiapan masuk pre-medical kan memang sulit,” ucap Yuto meyakinkan Miki.

“Sudahlah,” kini punggung Miki yang ditatap oleh Yuto, sementara gadis itu menangis, meratapi nasibnya.

Tokyo Hospital’s Canteen, Current Time : 11.30 AM

“Taipi, ambilkan aku wortel di gudang!” Taisuke yang merasa dipanggil memenuhi permintaan Meru dan beranjak ke gudang setelah sebelumnya mengacungkan jempol, tanda ia mengerti.

Sebelum kembali ke dapur, Taisuke kembali menyentuh cincin yang berada di lehernya, cincin yang seharusnya ia berikan untuk melamar Meru, tapi belum juga bisa ia berikan kepada si gadis.

“Taipi!!!” suara Meru kembali terdengar dari dapur, membuyarkan lamunannya.

“Cereweettt!” Taisuke segera mengambil sekotak wortel segar yang ada di gudang dan kembali ke dapur, menyimpan kotak wortel itu di atas meja dapur tepat di sebelah Meru berdiri.

“Ne, Meru-chan,” Taisuke mengambil beberapa potong wortel untuk melihat kondisinya, apakah masih layak masak atau tidak.

Meru masih berkutat dengan bawang, menoleh sekilas ke arah Taisuke, “Hmm?”

“Aku tahu kau menyukai, siapa namanya, pasien itu, Kato-san?”

Meru melirik sebal, “Aku tidak menyukainya!” bantahnya langsung.

“Kau terus melirik ke arah bangku itu sejak tadi, kau menunggunya, kan?” Meru tidak menjawab dan terus memotong bawang yang diperlukan.

“Lebih baik kau segera mempersiapkan makan siang, kita hanya punya waktu setengah jam lagi!” hardik Meru dan bermaksud untuk beranjak mengambil bumbu ketika tangan Taisuke meraih lengannya, menariknya sekilas, bukan jenis tarikan memaksa hanya jenis tarikan untuk membuat Meru tetap di tempatnya dan mendengarkannya.

“Menikahlah denganku, Meru-chan,” nada suara Taisuke seperti mengajak Meru untuk pergi kencan. Begitu tenang dan santai, apalagi Taisuke masih sempat-sempatnya memtotong wortel yang sudah ia pilih.

“Jangan bercanda!”

Taisuke menoleh dan menatap Meru dengan pandangan yang tidak bisa Meru baca ekspresinya, membuatnya salah tingkah dan debar jantungnya tiba-tiba tidak beraturan, “Apa aku kedengaran bercanda?” serius dan suara Taisuke yang memohon, sama sekali bukan jenis bercandaan yang biasanya pria itu lontarkan.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang,” tangan Taisuke bergerak membuka kalung yang ia kenakan, Meru menyadari ada dua cincin yang menggantung pada kalung itu, Taisuke memberikan satu cincin yang lebih kecil dari cincin yang lainnya, “Ayo kita kerja lagi!” ucap pria itu lalu mengacak pelan rambut Meru yang hanya bisa mematung saat membaca bagian dalam cincin yang diberikan Taisuke, Meru X Taipi.

Tokyo Hospital’s Conferences Room, Current Time : 03.00 PM

“Kau yakin mau melakukannya?” Yabu menatap Yuya yang kini duduk di hadapannya.

“Aku harus,”

“Kau tau ini melanggar aturan Rumah Sakit dan seharusnya kau tidak boleh melakukannya, ini akan berbuah sangsi untukmu, Ohno-sensei bahkan memintamu untuk membatalkannya di jam-jam terakhir ini,” ucap Yabu lagi.

Yuya tersenyum simpul, “Harusnya ini sudah kulakukan jauh-jauh hari dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut. Aku terlalu takut dulu, kini aku tidak takut lagi. Lagipula, mereka berhak mendengarkan yang sebenarnya, bukan versi Rumah Sakit yang terlalu banyak muatan politisnya. Aku sudah muak,”

“Apa karena Sora-chan?”

Yuya menatap Yabu, “Mungkin iya, sudahlah. Aku siap-siap dulu,”

“Oke! Ketemu di ruang konferensi!”

Meja berbentuk setengah lingkaran itu dipenuhi oleh dokter-dokter senior, sementara seorang Takaki Yuya duduk sebagai seorang pesakitan, dipandangi oleh banyak pasang mata yang ingin tahu. Kali ini Yuya didaulat untuk tidak menggunakan jas dokternya, ia hanya menggunakan setelan jas biasa.

“Silahkan duduk, Takaki-sensei,” kata Yabu, dan Yuya maju ke depan, duduk di salah satu bangku yang disediakan.

“Kita berkumpul di sini, untuk mendengarkan keterangan lengkap mengenai apa yang terjadi pada Hideyoshi Ryuta, permintaan dari Takaki-sensei agar didengarkan oleh keluarga pasien,” Yuya menangkap tiga orang kemudian masuk ke ruangan. Keluarga Hideyoshi. Termasuk Sora yang kini tidak menggunakan baju dokternya.

“Baiklah, Takaki-sensei, kau sudah siap?” tanya Yabu.

Yuya menoleh, mendapati Miu mengangguk sekilas untuk memberikan kekuatan padanya lalu Yuya mengangguk, “Siap,” ucapnya.

“Pada malam Hideyoshi Ryuta masuk ke rumah sakit Tokyo, kau sedang bertugas, benar?”

Yuya mengangguk, “Iya,”

“Tidak ada dokter senior saat itu?” tanya Yabu.

Sebelum menjawab, Yuya menarik napas panjang. Ia sudah berniat untuk menjawabnya sejujur mungkin, bukan untuk mencari-cari alasan, “Saya bertugas dengan dua resident lain, Yabu-sensei dan Chinen-sensei. Malam itu, Sakurai-sensei sedang operasi, dibantu oleh Chinen-sensei sehingga hanya ada saya dan Yabu-sensei,”

Yuya menatap Sora, dan gadis itu kini menunduk, “Kepala Hideyoshi Ryuta terbentur parah saat kecelakaan. Level kesadarannya menurun dengan tekanan darahnya rendah,” masih sangat jelas di ingatan Yuya, “Kami melakukan prosedur standar, termasuk X-Ray dan CT Scan namun keadaannya menurun, kondisinya menjadi shock dan perutnya membengkak, saat itulah aku sadar ia mengalami hematoma retroperitonial,”

“Saat itu dimana Yabu-sensei?” tanya seorang dokter senior.

“Yabu-sensei juga menangani pasien. Malam itu, Hideyoshi Ryuta tidak masuk sendirian, ia bersama seorang wanita,” terjadi bisik-bisik di seluruh ruangan, “Wanita itu, sedang hamil,”

“Lanjutkan,” kata Yabu.

“Saya harus menemukan dimana letak pendarahannya, maka saya memutuskan untuk membedah perutnya,” Yuya menarik napas lagi, “Saya tau ada kemungkinan pembuluh darahnya rusak dan malam itu, saya mengambil keputusan itu sendiri tanpa meminta izin dari Sakurai-sensei,”

“Sakurai-sensei tidak tau kau membedah Hideyoshi Ryuta?”

“Kami memberi tahunya, begitu pula dengan Ohno-sensei, namun… Sakurai-sensei sedang operasi yang cukup sulit, ia memintaku menunggu sekitar lima puluh menit, sementara Ohno-sensei sudah pulang jadi ia bisa kembali ke Rumah Sakit paling cepat satu hingga dua jam. Jika saya menunggu mereka, sudah pasti Hideyoshi-san tidak akan bertahan!”

“Tapi kau tahu sebagai junior resident, membedah tanpa persetujuan dokter senior sangat dilarang!”

“Saya tau! Tapi, saya tidak ingin menunggu tanpa berbuat apa-apa. Walaupun saya tidak bisa menolongnya, tapi setidaknya, saya tidak hanya menontonnya hingga ajalnya tiba!” Yuya kini tertunduk, dan seisi ruangan itu pun terdiam.

“Ada lagi yang mau ditanyakan?” kata Yabu.

“Kau membedah Hideyoshi Ryuta sendirian?” terlihat wajah tak percaya.

“Tidak! Saya membantunya,” Yabu menjawabnya sebelum Yuya, “Kondisi wanita hamil itu sudah stabil dan saya memutuskan untuk membantu Takaki-sensei,”

“Tapi saya yang mengambil keputusan ini, Yabu-sensei membantu saya karena saya yang minta,” tambah Yuya.

“Ada lagi?” Yabu kembali bertanya kepada semua peserta pertemuan itu.

Anou, Takaki-sensei!!” Sora mengangkat tangannya, “Bagaimana wajah niichan saat meninggal?”

Ruangan terasa sunyi senyap, “Malam itu, saat masuk ke ruangan HCU, Hideyoshi-san masih sadar dan ia tersenyum padaku, ia bilang hari itu adalah hari ulang tahun adik perempuannya, sementara pacarnya menyuruhnya pulang untuk memberikan surprise tengah malam untukmu, Sora-chan,”

Tiba-tiba terdengar isakan tangis dari Sora, “Arigatou, Takaki-sensei,” detik berikutnya Sora sudah berlari keluar dari ruangan.

.

.

Otsukaresamadeshita,” ucap Asuka saat melihat Yamada masuk ke ruangan dokter. Asuka sendiri masih berkutat dengan laporannya.

“Asuka-chan, masih di sini?”

“Maksudmu?” tanya Asuka tanpa menoleh kepada Yamada, pandangannya masih fokus kepada laptop di hadapannya.

“Bukannya ada pertemuan mengenai Hideyoshi-san, di ruangan konferensi?”

“Oh,”

“Tidak kesana?”

Asuka menggeleng, “Berapa kalipun aku mendengarnya, Ryuta tidak akan kembali padaku,” Yamada tersentak mendengar pernyataan Asuka, “Aku sudah memutuskan. Untuk hidup lebih baik lagi, meneruskan cita-cita Ryuta adalah hal yang lebih penting,” setelah mengatakannya, Asuka menoleh kepada Yamada dan tersenyum.

Current time: 08.00 PM

Waktu memang tidak bisa diputar kembali. Walaupun Opi selalu berharap ia bisa menyelamatkan Sho saat kecelakaan itu, namun tentu saja semua hal yang telah terjadi sudah tidak bisa kembali lagi. Kini hanya bisa ia melanjutkan hidupnya.

“Sensei, Sakurai-san dipindahkan ke ruangan 3A, kondisinya sudah stabil,” Miu mengatakannya sambil memberikan catatan kepada Opi.

Arigatou, suster Miu,”

Miu mengangguk dan membiarkan Opi kembali sendirian.

Dengan langkah berat Opi berjalan ke ruangan dimana Sho di rawat. Menurut Yabu, Sho hanya mengalami pendarahan yang tidak membahayakan nyawanya, namun tetap harus di rawat untuk observasi. Sho tidak sendirian, ada ibunya yang menemani saat ini, Opi mengintip sedikit dari luar ruangan.

Opi tidak suka terlibat dengan hal sentimentil, terutama melibatkan air mata dan semacamnya. Tidak sejak ia harus melihat Sakurai Sho kehilangan dirinya sendiri. Akhirnya pun Opi mengurungkan niatnya, mungkin lain kali dia akan berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk bertemu dengan Sho, tapi bukan sekarang.

“Tidak masuk?” Opi menoleh, ada Yabu berdiri tidak jauh dari dirinya, dan Opi tidak menjawab dan menjauh dari pintu itu, melewati Yabu, “Kau yakin?”

“Aku belum siap, Yabu, sudahlah, lebih baik aku pulang, selamat bertugas Yabu-sensei,” kata Opi.

“Aku yakin, Sakurai-sensei tidak marah padamu, dia hanya….” ucapan Yabu menggantung sesaat, “Tidak mau melihatmu terus merasa bersalah dengan apa yang terjadi padanya!”

Hotel Ballroom, current time: 08.00 PM

Sudah lama dirinya tidak mendatangi pesta semacam ini, biarlah untuk refreshing kali ini dia memutuskan untuk datang setelah diundang oleh teman sejawatnya, toh dia memang tidak ada tugas untuk beberapa hari ke depan, sambil menunggu keputusan skorsing dari pihak Rumah Sakit, karena memutuskan untuk menjelaskan kejadian malam itu yang seharusnya tidak diperbolehkan menurut peraturan Rumah Sakit.

“Yuya…” sebuah sapaan terdengar dari belakang, ia menoleh mendapati Miu yang menghampirinya, “Enaknya Takaki-sensei punya banyak waktu libur!” ucap Miu sambil menyerahkan segelas cocktail ke tangan Yuya.

Yuya hanya tersenyum, “Jadi kau off juga malam ini?” dan Miu pun mengangguk, “Kurasa lebih baik aku resign dari Tokyo Hospital, mungkin aku butuh rehat di tempat yang agak jauh dari Tokyo,” ucapan Yuya membuat Miu seketika menoleh menatap Yuya dengan horror.

“Melarikan diri dari Sora-chan? Hmmm?”

“Kau tau, aku sudah lama tidak jatuh cinta dan sekarang cintaku berakhir dengan sangat cepat, dan aku tidak tega menatap Sora-chan sementara dia pasti masih belum bisa memaafkan kejadian yang menimpa kakaknya,” ucap Yuya, matanya tertuju kepada penyanyi yang kini menyumbangkan suaranya di atas panggung.

“Kau ingat apa kata Ohno-sensei dulu?” mata Yuya beralih ke Miu, “Kalau dokter merasa bersalah dengan pasien yang tidak bisa dia selamatkan, maka kita tidak akan bisa berjalan maju sementara banyak pasien lain mengantri dibelakangmu, membutuhkan bantuanmu, dan kau tau sendiri itu terjadi kepada Kato-sensei, kuharap kau tetap akan menyelamatkan banyak pasien di depanmu. Terlepas dari kesalahan yang pernah kau buat.”

Arigatou na… Miu-chan,” Yuya tersenyum ke arah Miu, dan tiba-tiba saja terjadi kegaduhan di area depan panggung.

“Ada dokter di sini? Ada dokter kah?!!” seseorang terlihat berteriak di tengah kerumunan.

Yuya segera menyimpan gelas cocktailnya dan berlari ke depan, Miu ikut menyusulnya, “Ada apa?!” tanya Yuya, seorang paruh baya tergelat memegangi dadanya, napasnya satu-satu dan seorang wanita berjongkok di sebelahnya.

“Saya dokter…” kata Yuya lalu berjongkok untuk memeriksa keadaan si pria ketika ia sadar siapa orang itu, “Eh… Hideyoshi-san….”

***

To Be Continue~

Setelah berabad-abad yaaa… hahaha next chap pasti cepet ko… ^^ makasih yang masih baca… hahaha

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] LOVE CHAINS (chapter 10)

  1. yamariena

    Akhirnya setelah lama menanti =”) para dokter dan resident ini pun kembaliiiii (//∇//)
    Sora-Yuya makin kompleks masalahnya… itu yg terakhir bapaknya Sora ya????? Nah loh nah…
    Aiiihh, ditunggu kelanjutannya 👍👍👍

    Reply
  2. Melsa

    Ahh .. kesel baca to be continue nya .. 😝😝
    Akhirnya yahh setelah bertahuntahun ..
    Sampai murid murod aku aja udah pada lulus playgroup .. ahahahahaha

    Makasiih sudah update author sama .. 👌💓👌💓👌💓
    Uhuhuhuhuhhh ..

    Sakurai sensei kenapa yah ?
    Aku lupa cerita akhir chap 9 .. ahahhahaa
    Ciieee yuya galaww,, miu ama yabu juga galaawww,, meru ama taipii galaww jugaa ..

    Janji yahh yg sekarang di end in .. ahahhhahaha ..
    👌💪🔥🔥🔥😘😘😘

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s