[Multichapter] Drowning (BL-Omegavers) – #1

BL Omegavers

~DROWNING~
Author
 : @yamariena (wattpad on “Chiamis”)
Genre : Romance, Drama, Fantasy, Shounen Ai, Sci-Fic
Ratinguntuk saat ini masih PG, mungkin nanti akan NC
Type : Multichapter
Main Cast : Takaki Yuya x Arioka Daiki (TakaDai)
Support cast: Inoo Kei, Yabu Kota, Yaotome Hikaru, Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP); Yamamoto Mizuki; OC

Tokyo, xxxx-xx-xx

Hari sudah sangat larut, namun di satu meja dalam laboratorium tersebut masih terlihat seorang Inoo Kei sedang sibuk di mejanya. Berhadapan dengan sebuah microscope dan beberapa sample di samping benda tersebut.

Otsukare, sensei!”

Inoo Kei sedikit terkejut saat sebuah kaleng minuman dingin menyentuh tepat di pipinya, membuat pemuda itu menoleh pada orang yang telah jahil pada dirinya.

“Mizuki-chan…” ujarnya.

Gadis yang dipanggil Mizuki itu, bernama lengkap Yamamoto Mizuki, rekannya dalam penyelesaian projek tugas akhir kuliahnya ini.

“Kau tau, aku masih belum pantas untuk dipanggil sensei seperti itu.” Inoo kembali fokus pada perkejaannya.

Mizuki tersenyum, mengambil tempat duduk di samping Inoo dan meraih sebuah buku jurnal lalu membukanya. “Meneliti sampai larut seperti ini, tinggal sedikit lagi kau akan pantas dipanggil dengan sebuah sensei,” ujar gadis itu.

“Semoga saja penelitian ini memang bisa berhasil dengan baik, dan tidak ada kesalahan saat pengujian nanti.” Inoo terlihat menulis sesuatu pada jurnal sambil sesekali memastikan catatannya pada objek penelitian di microscope-nya.

Mizuki tertawa kecil, “Yang benar saja, seorang Inoo Kei mendadak pesimis seperti ini? Kau benar-benar pintar melucu.” Sarkasnya.

Inoo tidak membalas gadis itu lagi dan sibuk mencatat semua hasil penelitiannya dalam jurnal.

Rekayasa genetik. Tema yang Ia pilih untuk tugas akhir kuliahnya bersama teman-teman satu tim di kampus. Sebagaimana yang kita temui di berita beberapa tahun terakhir ini, para ilmuan di dunia sana berhasil melakukan rekayasa genetika pada beberapa hewan dan tumbuhan. Sebut saja domba Dolly yang berhasil di kloning. Tanaman kapas Bt yang menggunakan Bacillus thureingiensis untuk memasukkan hama dan gen tahan penyakit tanaman.

Juga dalam bidang kesehatan, rekayasa genetik berhasil menyembuhkan beberapa penyakit seperti diabetes ataupun fibriosis kistik dengan menghapuskan gen dan sel-sel rusak, di modifikasi dengan menghilangkan sifat yang tidak diinginkan.

Tidak jauh beda seperti para peneliti pendahulu lakukan, Inoo Kei dan timnya melakukan rekayasa genetik pada hewan serigala. Lebih tepatnya adalah rekayasa pada feromon.

Dia tidak mengerti kenapa Ia merasa tertarik untuk mengangkat tema kontraversi seperti ini. Lebih tepatnya tindakan kontraversi yang Ia ambil. Banyak resiko-resiko yang bisa saja terjadi dalam proses seperti alergi, tranformasi gen, bahkan terjadi mutasi.

Tetapi bukan Inoo Kei namanya jika Ia tidak berani mengambil resiko-resiko yang berkemungkinan terjadi pada penelitiannya.

.

.

6 bulan kemudian,

Bulan purnama malam itu terlihat lebih besar dibanding biasanya. Seakan menerangi langkah seorang buruan dari para pemburu kelaparan yang menginginkan sebuah mangsa. Sang mangsa terus mengayunkan langkahnya menghindari para pemburu kelaparan dalam sebuah bangsal rumah sakit swasta di pusat kota, membaurkan dirinya sendiri.

Dia tidak peduli jika nanti dirinya tertangkap dan dihukum berat, namun setelah Ia melakukan apa yang harus Ia lakukan.

Inoo Kei masuk dalam suatu ruangan yang ternyata adalah ruang ganti petugas kebersihan rumah sakit tersebut. Menyamar. Satu cara umum yang terpikir olehnya untuk mengecoh para petugas itu sejenak hingga Ia mencapai tempat tujuannya.

Sesaat kemudian Inoo Kei telah siap siap dengan sebuah trolley berisi alat-alat kebersihan dan mendrongnya sepanjang koridor bangsal. Diuntungkan karena Ia bisa masuk ke dalam lift khusus pegawai untuk membawanya ke lantai perawatan ibu dan anak.

Ilmuwan gila. Setelah sukses dengan persentasi penelitian tugas akhirnya, ternyata tidak membuat seorang Inoo Kei berpuas diri. Pemuda itu justru menginginkan sesuatu yang lebih pada hasil penelitiannya. Setelah hari itu, Ia bekerja seperti orang gila di apartemennya sendiri. Hingga para tetangga melaporkan perbuatannya karena sering membawa bangkai serigala ke dalam apartemennya sendiri.

Penelitian ilegal. Semua alat-alat penelitiannya disita oleh petugas berwenang. Tetapi mereka luput pada satu sample yang berhasil Inoo Kei selamatkan dari penyitaan. Akhirnya diam-diam pemuda itu menyelesaikan penelitiannya dan ingin langsung menguji coba. Maka, disinilah Ia akhirnya.

Ternyata selain petugas yang sedikit luput dalam mengumpulkan barang bukti, Inoo Kei juga luput perhatian dari para petugas yang mengawasi segala gerak-geriknya sejak hari itu.

Ting!

Inoo Kei tiba di lantai yang Ia tuju. Pemuda itu berjalan menyusuri bangsal tersebut, mencari sebuah ruangan. Namun mendengar langkah seseorang mendekat, pemuda itu langsung masuk ke dalam sebuah ruangan terdekat yang ternyata adalah ruang dokter.

Matanya mendapati satu buah jas dokter yang tergantung di dalam ruangan tesebut. Tak lama kemudian, pemuda itu telah keluar dari tempat itu sambil mengenakan jas dokter yang Ia dapati. Berjalan dengan santai menyusuri bangsal tersebut hingga Ia tiba di tempat yang ingin ditujunya.

Ruang Bayi.

Beruntung baginya, ruangan tersebut tidak ada yang sedang berjaga.

Pemuda itu masuk ke tempat itu dan melihat-lihat. Tidak banyak bayi yang berada di sana, entah karena dibawa ke kamar rawat ibunya atau memang tidak banyak yang melahirkan saat itu. Inoo menghampiri seorang bayi yang tidak begitu jauh dari pintu masuk. Dari balik jubah dokter yang dikenakannya, Ia mengeluarkan dua buah suntikan. Memilah salah satu dari keduanya, lalu menyuntikkannya pada bayi tersebut.

Bayi tersebut sedikit menyerit saat sengatan rasa sakit menghampiri kulitnya yang masih rentan, namun beruntung untuk Inoo bayi tersebut tidak menangis. Selesai menyuntikkan cairan itu, Inoo beralih pada tempat tidur bayi berikutnya.

Kali ini yang sedikit jauh dari pintu masuk. Mengeluarkan satu suntikan lagi yang Ia bawa lalu menyuntikkan pada bayi tersebut. Namun…

“Itu dia!! Itu orangnya!!” derap langkah kaki beriringan dengan teriakan seorang pria memecah kesunyian di bangsal anak rumah sakit itu.

Inoo tersenyum dan membuang begitu saja tabung suntikannya ke lantai, dan detik kemudian para petugas sudah masuk ke dalam ruangan dan meringkusnya. Bayi yang baru saja Ia tinggalkan, mulai menangis membuat para perawat menggendong bayi tersebut untuk menenangkannya.

“Apa yang kau lakukan pada bayi itu, sialan?!” ujar seorang petugas.

Inoo tidak bicara apa-apa dan hanya tertawa sambil memandang remeh pada petugas yang bertanya padanya. Merasa kesal, petugas tersebut memukul tepat di bagian tengkuk dan membuat Inoo tidak sadarkan diri. Inoo Kei langsung diamankan dan dibawa ke kepolisan pusat malam itu juga.

=*=

“Selamat datang, nyonya besar, tuan besar,”

Kakeru mendorong kursi roda istrinya yang sedang menggendong putra pertama mereka yang baru wanita itu lahirkan beberapa hari yang lalu, tersenyum pada para pelayan yang menyambut kepulangan mereka.

“Apakah kamar untuk nyonya beristirahat sudah disiapkan?” tanya Kakeru pada satu pelayan yang paling dekat dengannya.

“Sudah tuan besar, termasuk box bayi untuk tuan muda sudah di persiapkan” jawab pelayan itu.

Kakeru tersenyum dan mengangguk. Kedua pasangan itu lalu kembali berjalan menuju ke kamar utama. Sesuai yang dikatakan pelayan tadi, semua yang dibutuhkan sudah di siapkan.

Kakeru mendorong kursi roda istrinya menuju box bayi yang berada di sisi ranjang. Membantu istrinya untuk meletakkan putra mereka yang masih tertidur disana.

“Lihatlah sayang, putra kita benar-benar seperti seorang malaikat.” Ujar sang istri padanya.

Kakeru tersenyum dan mengelus singkat wajah putranya, “Tentu saja, dia adalah malaikat kecil yang selama ini kita nantikan. Calon penerus keluarga ini.” Katanya. Namun mata Kakeru sedikit menerawang.

Sang istri seperti menyadari ada yang dipikirkan oleh suaminya saat itu.

“Sayang, ada apa? Apa yang sedang kau khawatirkan?” Kakeru menoleh saat tangannya di sentuh oleh istrinya.

Pria itu menggeleng dan memberikan senyuman yang menenangkan, “Bukan apa-apa, hanya teringat pekerjaan di kantor. Tetapi pasti sudah dibereskan oleh asistenku.”

Kakeru tidak ingin membebani istrinya dengan kekhawatirannya. Wanita itu baru saja melahirkan dan masih butuh banyak istirahat. Hanya saja kejadian beberapa hari yang lalu di rumah sakit tempat istrinya bersalin benar-benar membuatnya sangat khawatir.

Tentu saja penangkapan seorang Ilmuan gila di rumah sakit itu diberitakan besar-besaran. Tetapi sang istri tidak mengetahui secara detail mengenai kejadian bahwa orang itu di tangkap di ruang bayi, dimana putra mereka yang baru lahir saat itu juga sedang diletakkan disana.

Dua buah suntikan kosong di temukan di sana, dan bayi-bayi yang berada di dalam ruangan itu langsung menjalani pemeriksaan. Namun, tidak ditemukan apapun dari setiap bayi. Semuanya normal.

Tetapi, tetap saja Ia merasa cemas.

“… sa…. ng”

“….yang”

“Sayang!”

Kakeru tersentak dari lamunannya. Netranya mendapati sang istri masih menatapnya dengan cemas.

“Kenapa melamun lagi? Masih kepikiran dengan kantor? Padahal putramu baru saja tiba dirumahnya, ayahnya sudah memikirkan kantor saja.”

Kakeru mengelus puncak kepala istrinya lalu membantu wanita itu untuk naik ke tempat tidur mereka.

“Maafkan aku.” Kakeru memberikan sebuah kecupan pada pelipis sang istri, “Aku akan menelpon Yaotome sekarang, biar aku tidak kepikiran dengan kantor lagi. Setelah itu seharian ini waktuku akan ku berikan padamu dan putra kita. Sekarang kau istirahat dulu saja.” Katanya lagi.

Sang istri mengangguk pasrah lalu menyandarkan tubuhnya pada bantal, “Jangan lama-lama,” kata wanita itu.

Kakeru mengangguk lalu menarik selimut untuk sang istri. Setelahnya pria itu keluar dari kamar dan mulai membuat panggilan di ponselnya.

“Yaotome, ini aku… bagaimana kantor? …. begitu …. lanjutkan saja seperti biasa. …. aku mengerti!”

Takaki Kakeru lalu menyandar pada tiang penyangga di rumahnya, matanya menatap pada langit biru diatas sana sambil mendengarkan penjelasan asisten pribadinya tentang urusan kantor.

“Yaotome, bisakah kau mencari tahu informasi tentang seseorang? Aku ingin kau mencari informasi mengenai seorang yang bernama Inoo Kei!”

=*=

18 Tahun Kemudian

[Daiki POV]

Ohayou~” aku menghempaskan bokongku disamping teman dekatku, Yamada Ryosuke yang masih terlihat mengantuk.

“Daichan, ohaaaa~ehmm you” aku menyerit meliatnya menjawab sapaanku sambil menguap dengan lebar.

“Tidur jam berapa kau semalam?” tanyaku padanya.

“Hampir tidak tidur… sepertinya…” jawabnya dengan nada malas.

Pasti bermain game online lagi sampai pagi. Pikirku.

Anak ini selalu saja begitu. Entah sejak kapan Ia kecanduan game online dan jika sehari saja tidak memainkannya, entah apa yang akan terjadi padanya.

Tepat saat itu, dosen pun masuk. Aku menyenggol tubuhnya sedikit untuk agar Ia sadar. Tapi pemuda itu malah kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja setelah melirik singkat pada sang dosen yang sudah berdiri di depan kelas.

Sekali lagi hari biasa terlewati. Setelah mendengar pidato tiada berujung selama tiga jam, akhirnya kuliah ku hari ini pun selesai. Hari ini hanya satu mata kuliah, dan setelah ini aku harus pergi bekerja sambilan.

Namaku Daiki, 18 tahun, mahasiswa tahun kedua Fakultas Ekonomi salah satu universitas di Tokyo. Aku bukan berasal dari keluarga yang berada. Bahkan aku sama sekali tidak punya keluarga. Aku tinggal di sebuah panti asuhan sejak kecil tanpa tau siapa kedua orangtuaku. Menurut ibu pengurus panti tempat ku tinggal, aku ditemukan di depan pintu panti asuhan itu. Sepertinya beberapa hari setelah kelahiranku. Sejak saat itu hingga SMP aku tinggal disana.

Benar, hanya sampai aku masuk SMP. Karena saat itu ada sesuatu terjadi dan aku diusir dari panti asuhan. Setelah itu aku mulai tinggal sendiri sambil bekerja sambilan. Beruntung aku sekolah dengan beasiswa, hingga ke bangku kuliah semuanya karena beasiswa.

“Daichan, aku duluan ya. Sudah ada janji dengan teman guild ku sore ini.” Yamada menepuk pundakku lalu segera berlari dari sana sebelum aku menjawab apapun.

“Benar-benar… kapan game online bisa lepas dari pikirannya?” gumamku tanpa melepaskan pandangan pada sosok Yamada yang sudah jauh berlari.

Tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan teras gedung kampus tempat ku berdiri. Bersamaan dengan itu terdengar riuh suara berbisik dan gumam dari sekelilingku.

Netraku menangkap satu sosok yang menjadi perhatian dari hampir seluruh pasang mata yang berada disekitarku saat ini. Sosok pemuda tinggi berjalan lurus tanpa mempedulikan riuh sekelilingnya. Namun untuk sesaat aku mendapati pemuda itu berpaling dan menatapku.

Benar. Padaku! Karena mataku bertemu dengan matanya!

Namun detik berikutnya, Ia memalingkan kembali wajahnya dan sudah menghampiri seorang pria yang membukakan pintu mobil mewah itu untuknya.

Tanpa sadar aku menahan napasku sesaat, dan menghembuskannya. Entah mungkin hanya perasaanku saja, tetapi pemuda itu memang memiliki aura yang sangat aneh. Seakan-akan aku bisa terhisap kapan saja jika berada terlalu dekat dengan pemuda itu.

Aku bergidik pelan, buru-buru melangkahkan kakiku dari tempat ini. Masih ada pekerjaan yang lebih penting yang harus aku lakukan. Aku merapatkan jaketku dan mengenakan tudungnya sambil berjalan menuju halte bus terdekat dari kampusku. Melihat pada papan jadwal yang mengatakan busku akan tiba dua menit lagi.

Aku menunggu sambil memperhatikan ke sekelilingku. Melihat sekilas orang-orang dengan kegiatannya masing-masing. Tanpa sadar, busku pun tiba. Aku langsung naik dan memilih untuk berdiri karena tempat duduk sepertinya sudah penuh. Aku memilih bersandar pada sebuah tiang. Jangan tertawa, tubuhku memang pendek hingga untuk menjangkau pegangan didalam bus saja aku kewalahan.

Setengah jam kemudian, aku sudah turun dari bus. Hanya berjalan beberapa blok dari sini aku akan tiba di tempat kerja sambilanku.

Namun…

Aku merasakan nafasku mendadak berat. Dadaku terasa sangat sesak dan keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Tenaga pada kakiku untuk melangkah pun seakan menguap.

‘Tidak!! Kenapa harus disaat seperti ini?!’

Aku menyeret tubuhku dan mendekat pada tiang listrik terdekat. Mataku mulai berkunang-kunang dengan nafas yang semakin memberat. Rasa panas mulai menjalari tubuhku. Tenggorokanku juga mulai terasa kering.

Mengabaikan tatapan aneh yang diberikan oleh orang-orang disekitarku, aku meraih ponselku dan mulai membuat panggilan.

“Y… Yabu-kun… t-tolong a-ku….”

 

=*=

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Drowning (BL-Omegavers) – #1

  1. hanazuki00

    Inoo jahaaaat .. aduh cocok banget bayanginnyaaa~
    Kupikir yg jadi tuan muda itu bakal dai eh ternyata yuyan.
    Aduuuh ayo lanjutannyaaaa kaaak~~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s