[Multichapter] MONSTER (#8)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 8)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)


Yuto berjalan pelan, dia menghela napas panjang dan menunduk lesu. Yuto sangat lapar, sejak pagi dia belum memakan apapun. Yuto juga sibuk mengedit artikel untuk buletin sekolah, dan mendesain sampul buletin. Dalam hati Yuto merutuki tingkah Inoo. Gara-gara dia, pekerjaan Yuto bertambah sekarang. Yuto berbelok, dia berhenti saat melihat seorang murid perempuan berjalan menuruni tangga. “Oi,” panggil Yuto, dia setengah berlari mendekati murid itu, “kau sedang apa malam-malam disini?”

Murid itu menoleh, dia membungkuk memberi salam kepada Yuto. “Aku kemari untuk mengambil buku teks yang tertinggal,” jawab murid itu, “Nakajima Senpai sendiri kenapa masih disini?”

“Aku menyelesaikan pekerjaanku,” jawab Yuto, “kau tahu, aku harus membuat desain sampul juga,” Yuto berdecak, dia menatap murid perempuan itu cukup lama. Yuto menarik napas, dia menghirup aroma manis yang membuatnya lapar. “Ne,” Yuto mendekat, dia menyentuh dagu murid perempuan itu, “anak perempuan sepertimu tidak seharusnya berada di luar rumah selarut ini.” Yuto tersenyum, dia mendekatkan wajahnya kearah murid itu dan berbisik, “Ada banyak orang jahat yang bisa melukaimu.”

“N…ne,” murid itu menjawab gugup. Yuto tersenyum, dia sekejap saja berubah ekspresi menjadi dingin, tangannya mencekik murid perempuan itu.

“Aku sedang lapar,” ucapnya, “dan kau ibarat air yang kuterima ditengah kekeringan,” Yuto terkekeh, dia langsung menggigit leher murid itu. Yuto menghisap darah murid itu, rasanya seperti strawberry. Yuto menikmati jeritan murid itu, bagi Yuto jeritan itu seperti musik pengiring jam makannya.

“Nakajima…”

Yuto menoleh, dia mengusap darah di bibirnya dan menatap kalem Ryosuke yang muncul didekatnya. Suasana sunyi beberapa saat. Murid perempuan itu sudah tergeletak di lantai, tubuhnya memucat kehabisan darah. “Kau…” Ryosuke tercekat, dia menghela napas dan menjitak kepala Yuto, “heh, kau itu ceroboh sekali, sih. Sudah kubilang kalau kau lapar, kau cari makan diluar.” Ryosuke menatap tubuh murid perempuan itu, dia berdecak dan menatap Yuto, “sekarang kita apakan dia? Besok, atau dua hari kemudian sekolah akan menerima laporan dari orangtua anak ini.”

“Biasanya kau membantuku menghabiskannya,” jawab Yuto santai.

“Aku sudah kenyang,” jawab Ryosuke, “dan aku tidak sebodoh dirimu membunuh teman sekolahmu.” Ryosuke menghela napas, dia berjongkok dan menyentuh tubuh si murid. Ryosuke menyentuh tangan murid itu, dia menggigitnya dan mengunyah dagingnya. “Lumayan juga,” ucapnya berkomentar, “sepertinya jantungnya juga enak.”

“Rakus.”

Ryosuke dan Yuto menoleh, Ryosuke langsung berdiri dan tersenyum lebar melihat tiga orang berjalan santai ke arah mereka. “Chii, kau datang,” Ryosuke menyambut senang, “astaga, aku sudah lama menunggumu.”

“Kau bicara seakan kita tidak bertemu ribuan tahun,” sahut pemuda yang dipanggil Chii itu, dia tersenyum dan menatap Yuto, “Kenapa kau menatapku begitu hah? Kau tidak suka aku kemari?”

“Bukan begitu, Chinen-kun,” ucap Yuto, “hanya saja, aku tidak tahu harus bicara apa soal Inoo Senpai.”

Chinen mendengus, dia menatap jasad itu dan merobek sebagian dagingnya. “Aku akan memberinya pelajaran nanti,” ucap Chinen, “Shigeoka-kun, dimana Inoo-kun?”

“Dia masih bersembunyi di suatu tempat, kau jangan khawatir,” ucap Daiki, “sebentar lagi dia juga akan datang. Ne, Sato-kun?” Daiki menoleh kearah Shori, Shori hanya mengangguk tanpa bicara apapun.

“Jadi sudah sampai mana kalian menjalankan rencana kalian?” ucap Chinen, “aku melihat berita, apa aku harus turun tangan untuk menebar terror?” Chinen kemudian menatap Shori, dia berujar, “Dan kau belum melakukan apapun, Sato-kun.”

“Yo.”

Yang lain menoleh. Inoo berjalan kearah mereka, dibelakangnya Nozomu mengikuti dengan senyum cerah. “Ini dia, dua iblis berwajah malaikat,” gumam Shori, “jangan tersenyum begitu, kau bersalah karena bertindak tanpa aba-aba.”

“Lho, memang apa salahku?” tanya Nozomu.

“Haruskah aku membahasnya disini?” sahut Shori.

“Jangan bertengkar disini,” ucap Chinen, “sekarang kita harus menyusun rencana serangan yang lebih baik.” Chinen bersandar di dinding, dia menatap Ryosuke dan berkata, “Kau bisa bergerak sekarang, Yama-chan. Keluarkan serangan terbaikmu.”

Ryosuke mengangguk, dia tersenyum senang, “kau tidak mungkin datang ke sekolah lagi, kan, Inoo Senpai?” tanya Yuto, “mereka sudah tahu soal dirimu. Datang kemari sama saja bunuh diri.”

“Aku tidak sebodoh itu sampai nekat datang kemari,” ucap Inoo, “dan aku tahu bagaimana menyerang mereka tanpa terlihat. Aku akan menyerang mereka, tapi mereka tidak akan bisa membalas seranganku.”

Chinen mengangguk. “Sato-kun, kau bantu Shigeoka-kun mengawasi mereka,” ucap Chinen, “dan jangan lupa, kau berjanji akan melakukannya untukku.”

“Kalian sedang apa di sini?”

Shori, Ryosuke, dan Yuto menoleh kaget. Shori menatap Haru yang entah sejak kapan ada disana dengan mata melebar. ‘Sial,’ umpatnya dalam hati, ‘bagaimana kalau dia mendengar semuanya?’

“Ah, Miyazaki-san,” Yuto berujar, dia bersikap sangat tenang seakan tidak terjadi apa-apa, “kau sedang apa disini? Ini sudah malam, lho.”

“Ada juga aku yang seharusnya bertanya, kalian sedang apa di sini?” Haru membalas, dia menatap Shori yang berusaha menormalkan dirinya, “kau juga, kau bilang tadi mau membeli telur. Kenapa kau malah kemari?”

“Aku…” Shori jadi gugup sendiri, “aku ingat kalau ada barangku yang tertinggal disini.” Shori terkekeh.

Haru mengangguk pelan, dia berkata, “Aku ingin mengambil sepatu olahragaku. Tadi aku lupa meninggalkannya di ruang ganti.” Haru melangkah menuju ruang ganti, Ryosuke menahannya dan berkata, “Biar kuambilkan. Kau tahu, ruang ganti sangat menyeramkan di malam hari. Ada satu murid yang pernah melihat hantu yang menyeramkan.”

“Aku tidak takut hantu,” jawab Haru.

Shori mendekat, dia menyentuh pundak Haru dan berkata. “Haru-chan, ayo kita pulang saja. Kau, kan, bisa mengambil sepatumu besok. Ayo.” Shori tersenyum, dia mengangguk samar kepada Ryosuke dan menggiring Haru menjauhi mereka.

Ryosuke menghela napas, dia menoleh kearah ruang ganti. Chinen muncul bersama Inoo, Daiki dan Nozomu, mereka diam menatap kearah koridor. “Untung saja kau bisa menahannya,” ucap Daiki, “kalau tidak dia akan mengetahui semuanya.”

“Kita harus berhati-hati,” ucap Inoo, “anak itu suka muncul tiba-tiba. Dia bisa saja memergoki kalian.”

Chinen diam saja, matanya lurus menatap koridor sekolah. “Menarik sekali,” ucap Chinen pelan, dia menoleh sekilas kearah ruang ganti dan berkata, “sekarang cepat bereskan jasad itu. Jangan menyisakan apapun yang membuat orang curiga.”

***

“Aku menyukaimu!”

Kaede dan Miyuki tersedak, sementara Chiru, Sora, dan Haru menatap cengo Reo yang kini menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kantin. Reo menatap gugup seorang murid perempuan yang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, menunggu jawaban murid itu.

“Dia benar-benar tidak tahu malu,” ucap Kaede, dia kembali menyeruput minumannya, “kenapa dia harus menyatakannya disini?”

“Senpai, Nagatsuma-Kun itu baru mengalami yang namanya jatuh cinta,” ucap Miyuki terkekeh, “makanya dia jadi bodoh begitu.”

“Dasarnya dia sudah sangat lugu, makanya dia melakukan semua tanpa berpikir,” sambung Haru, mereka semua lalu tertawa.

Chiru ikut tertawa, dia menoleh dan terdiam saat melihat Sora terlihat melamun sambil mengaduk pelan minumannya. Chiru menyenggol pelan lengan Sora, dia memberi tatapan apa-kau-sedang-ada-masalah kepada gadis itu. Sora tersenyum, dia menggeleng pelan dan kembali mengaduk-aduk minumannya. Chiru diam, dia tahu persis ada yang dipikirkan Sora. Chiru menghela napas, dia menatap yang lain dan berkata, “Ne, minna, aku harus ke perpustakaan bersama Sora-chan. Kau tahu, kami harus menyiapkan materi untuk diskusi di kelas sejarah nanti. Jaa ne.” Chiru beranjak, dia lantas menyeret Sora yang tampak kebingungan.

“Ada apa dengan mereka?” gumam Kaede, “tumben sekali Nishinoya Senpai rajin mencari bahan diskusi.”

Chiru berhenti, dia berbalik dan menatap Sora. “Apa yang kau pikirkan sekarang, Sora-chan?” tanya Chiru, “sejak tadi kau selalu melamun. Kau ada masalah?”

“Aku baik-baik saja, Chiru-chan,” ucap Sora tersenyum.

Chiru menghela napas, dia memutar bolamatanya dan menatap Sora yang menunduk. “Aku tidak mengenalmu sehari dua hari, Sora-chan,” ucap Chiru, “kita sudah sekelas sejak SD. Aku tahu persis kau sedang ada masalah.” Chiru menghela napas panjang. “Yah, mungkin aku tidak cukup terpercaya untuk mendengarkan masalahmu kali ini,” ucap Chiru, dia tersenyum dan melangkah menjauhi Sora.

“Chiru-chan.”

Chiru berhenti, dia menoleh kearah Sora yang mendekat kearahnya. Sora diam, dia menatap gelisah Chiru. Sora bingung bagaimana menjelaskannya kepada sahabatnya ini. Bagaimana kalau Chiru tidak bisa menerima semuanya dengan baik? “Chiru-chan, aku…” Sora terdiam, dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Chiru diam, dia sabar menunggu Sora berbicara. Sora menghela napas, dia berujar, “Chiru-Chan, aku bukan manusia biasa. Ayahku adalah seorang Nogumi, itu artinya aku setengah Nogumi setengah manusia.”

Tidak ada suara keluar dari mulut Chiru, dia diam menatap Sora dengan ekspresi yang sulit ditebak artinya. Sora juga diam, dia sangat gelisah menunggu jawaban Chiru. Dia sudah siap andaikan Chiru menjauhinya. Sebenarnya tidak siap, tapi memang lebih baik Chiru menjauh saja daripada terjadi hal buruk kepadanya. “Ini adalah lelucon terburuk yang kudengar darimu, Nona,” ucap Chiru.

Eh?

Sora melongo mendengar ucapan Chiru yang kini tertawa, dia menoyor kepala Sora yang masih melongo. “Apa-apaan, sih kau ini,” ucap Chiru, “kenapa kau malah membuat lelucon aneh seperti itu, hah?” Chiru menghela napas, dia baru akan berjalan saat Yasui muncul didepannya.

“Apa kau berpikir Hideyoshi-san akan bercanda dengan ekspresi wajah seperti itu?” ucapnya, “seseorang tidak akan bercanda dengan wajah serius, Nishinoya.”

Chiru diam, dia lantas menoleh menatap Sora. Benar juga, tidak ada sorot mata jenaka dari Sora. Dia justru terlihat gelisah, seakan dia takut saat mengucapkan semua itu. “Chotto,” Chiru menatap Yasui dan Sora bergantian, “dengar, aku tidak suka dengan lelucon seperti ini. Nogumi, Yahagi, dan Haguro, mereka semua hanya legenda, kan?” Chiru menatap Yasui dan Sora yang diam, detik berikutnya dia terkesiap. “Jangan katakan kalau…”

“Mereka nyata,” sela Yasui, “aku, Kaede, Abe-Kun, Nagatsuma-Kun, Kyomoto bersaudara, Jesse-Kun, dan Tanaka-Kun adalah Nogumi. Dan Hideyoshi-san juga.”

Chiru terdiam, dia terlihat sangat terkejut dengan ucapan Yasui. “Kenapa?” ucap Chiru, dia menatap Sora, “kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”

“Aku bahkan baru mengetahuinya dua hari lalu, Chiru-chan,” ucap Sora.

Uso!” teriak Chiru, “konyol sekali kalau kau tidak tahu soal ini! Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui identitas dirimu sendiri?!” Chiru melangkah mundur, dia benar-benar kecewa dengan Sora. “Kau benar-benar menyebalkan, Sora,” ucap Chiru, dia berbalik dan berlari meninggalkan gadis itu.

Sora akan mengejar, tapi Yasui menahannya. “Jangan mengejarnya,” ucap Yasui, “dia akan kembali kepadamu saat suasana hatinya sudah membaik.”

“Tapi…”

“Kalau kau nekat mengejarnya sekarang, hubungan kalian akan semakin buruk,” sahut Yasui, dia menyentuh kedua pipi Sora yang menangis, jarinya mengusap airmata di pipi gadis itu. “Dia akan kembali saat suasana hatinya sudah tenang,” ucap Yasui pelan, “percayalah kepadaku.” Yasui tersenyum, dia mengecup lembut kening Sora. Sora diam saja, dia terisak pelan dan memeluk Yasui. Sekarang dia hanya bisa mempercayai ucapan pemuda itu, yakin bahwa Chiru akan kembali kepadanya setelah suasana hatinya membaik.

Sanada diam, dia bersandar di dinding. Dia sendiri tidak mempercayai pendengarannya. Dia tidak menyangka gadis yang bijaksana seperti Sora masih bagian dari Nogumi. Sanada menghela napas, dia menoleh sekilas kearah Yasui dan Sora lalu berjalan menjauh.

***

“NON-CHAAAANNNN!”

Chika memekik senang, dia memeluk erat Nozomu dan keduanya melompat-lompat sambil memekik kegirangan seperti anak kecil. Daiki, Hagiya, dan Kishi hanya cengo menatap keduanya. “Aku seperti melihat dua anak TK,” gumam Kishi, Hagiya dan Daiki mengangguk mengiyakan ucapan Kishi.

“Ini benar-benar kejutan!” sahut Chika, “kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau datang?” Chika memicingkan mata kearah Daiki, dia meneruskan, “Jangan-jangan kalian berkosnpirasi untuk mengejutkanku, ya?”

“Oh, kalau kami berkonspirasi, kami akan menjadi kombinasi yang mengerikan,” ucap Nozomu, “kami bisa menghancurkan dunia sekali sentil.” Nozomu dan Chika tergelak. Nozomu menatap sekeliling, dia menatap Kishi dan bertanya, “Dimana Jinguji-kun?”

“Dia ada di pondok pengobatan,” jawab Kishi, “menjaga teman kami yang sakit.”

Nozomu menatap Chika dengan dahi berkerut. “Memang siapa yang sakit?” tanyanya.

“Satu teman sekolahku,” jawab Chika, “dia baru saja diculik oleh…” Chika menghela napas panjang, “oleh Inoo Senpai. Aku masih tidak percaya dia melakukan hal seperti itu, dan aku lebih tidak menyangka karena dia adalah bagian dari Haguro.” Chika menatap Nozomu, dia berkata, “Ada banyak sekali kejadian aneh belakangan ini, Non-chan.”

“Ya, aku sudah mendengarnya,” ucap Nozomu, “itu sebabnya aku kembali kemari.”

“Baiklah,” Kishi mendekat dan menepuk pundak Nozomu, “ayo, kuantar kau ke kamarmu. Eh tapi bersihkan sendiri, ya. Aku capek, tidak ada waktu membersihkan kamarmu.” Kishi membawakan barang-barang Nozomu, mereka berlalu meninggalkan yang lain.

“Aku harus menyiapkan obat-obatan untuk Yanase-san,” ucap Hagiya, dia juga berlalu dari sana.

Chika menghela napas, dia menatap Daiki dan duduk disebelah sepupunya itu. “Shigeoka-kun,” ucap Chika, “kau mau tidak membantuku?”

“Menceritakan soal Kyomoto-kun?” sahut Daiki. Chika menatap Daiki kaget, dia baru akan bicara saat Daiki berujar, “Aku tahu kau menyukainya, Chika-Chan. Tapi… apa kau sadar dia adalah seorang Nogumi? Ada banyak resiko yang harus kau tanggung kalau kau nekat mencintainya.”

Chika menunduk. Tentu saja dia tahu resiko yang harus dia hadapi. Saat salah satu dari Haguro mencintai seseorang dari Yahagi atau Nogumi, mereka akan otomatis tercoret dari Haguro. Mungkin akan bagus kalau Nogumi atau Yahagi mau menerima kehadiran ‘mantan Haguro’ itu, tapi kalau tidak itu sama saja bunuh diri. Tidak akan ada tempat untuk pengkhianat, itu kalimat yang selalu didengarnya. “Mungkin sekarang ada banyak yang mulai berpandangan terbuka,” ucap Daiki, “tapi tradisi bukan sesuatu yang bisa dilanggar dengan mudah.”

“Cinta bukan sesuatu yang muncul dengan disengaja,” ucap Chika.

“Tapi kita bisa memilih siapa yang akan kita cintai,” balas Daiki.

“Hati tidak akan pernah bisa berbohong,” Chika membalas lagi.

“Kita yang memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan, bukan hati kita.”

“Kalau begitu aku memutuskan Taiga yang menjadi pasanganku.”

Daiki menatap Chika, dia bisa melihat sorot keyakinan dari gadis itu. “Aku sudah mendengar banyak pernikahan campuran dari tiga kelompok,” ucap Chika, “ada Yahagi yang menikah dengan Nogumi, dan mereka bahagia. Ada juga Nogumi yang menikah dengan Haguro, ada juga Yahagi dengan Haguro, dan mereka bahagia. Kenapa aku tidak bisa melakukannya?”

“Chika,” Daiki menggenggam erat kedua tangan gadis itu, “kumohon jangan melakukan hal-hal yang akan menyulitkan kehidupanmu. Ini bukan negeri dongeng, dimana kau bisa melakukan semua hal yang kau suka tanpa ada halangan.” Daiki menghela napas panjang, dia tersenyum dan menepuk pelan kepala Chika. “Aku begini untuk kebaikanmu, adik kecil,” ucapnya, dia beranjak meninggalkan Chika. Chika menghela napas, dia menatap kepergian Daiki dengan lesu. Chika baru akan beranjak saat dia menatap aura gelap di tubuh Daiki.

Chika berhenti, dia menatap tajam Daiki. ‘Kenapa auranya berubah gelap?’ batin Chika, ‘ada apa dengannya?’

***

Chiru menghela napas, dia mendongak menatap langit senja yang berwarna jingga. Sampai saat ini Chiru tidak menyangka bahwa legenda soal tiga monster itu benar-benar nyata. Dia bahkan tidak menyangka bahwa sahabatnya, Sora, juga bagian dari tiga monster itu. Chiru merasa dia bermimpi, dan dia berharap cepat-cepat terbangun dan saat bangun semua seperti sediakala. Chiru kecewa dengan Sora, yang merahasiakan hal sebesar itu darinya. Selama ini Chiru tidak pernah menyembunyikan apapun dari Sora, tapi kenapa Sora masih menyembunyikan banyak hal darinya?

“Yo, Senpai.”

Chiru menoleh, dia tersenyum kepada Haru yang melenggang santai mendekatinya. “Aku mencarimu ke rumahmu,” ujar Haru, “aku ingin minta bantuan Senpai mengajariku matematika.” Haru menoleh, dia menatap Chiru yang hanya tersenyum kecil dan menatap kearah sungai. “Apa kalian bertengkar?” tanya Haru.

Chiru menoleh kearah Haru. Haru menghela napas, dia berkata, “Aku bersama kalian setiap hari, jadi aku aneh saat melihat kalian tidak pulang bersama. Padahal biasanya kalian lengket seperti amplop dan perangko.” Haru menatap Chiru yang termenung. “Apa ada masalah yang besar sampai kalian tidak bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin?”

“Kau tidak mengerti rasanya dikhianati, Haru-chan,” desah Chiru, “kau tidak tahu bagaimana rasanya saat mengetahui sahabatmu menyembunyikan satu rahasia besar dari dirimu.” Chiru memeluk kakinya, dia menopangkan dagu di lutut dan menatap aliran sungai.

Haru menatap ke arah sungai, dia tersenyum kecil. “Aku juga sangat marah saat Hokuto dan Taiga menyembunyikan satu hal dariku saat aku masih anak-anak,” ucap Haru, “mereka pernah membelikanku satu boneka kelinci yang lucu, mengatakan kalau itu adalah hadiah karena mereka menyayangiku. Dua minggu kemudian aku tahu kalau mereka melakukannya agar aku tidak sadar kalau mereka merusak boneka kesayanganku.” Haru terkekeh. “Aku marah besar saat itu, dan aku tidak mau menemui mereka selama dua bulan,” ucapnya, “itu adalah kenangan yang paling kuingat sampai sekarang.”

“Tidak sesederhana itu,” ucap Chiru.

“Aku tahu,” ucap Haru, “jelas situasinya berbeda. Aku hanya ingin memberi contoh, bahwa ada saat dimana seseorang merahasiakan sesuatu dari kita.” Haru menatap Chiru yang menatapnya, dia meneruskan, “Kadang seseorang menutupi sesuatu bukan karena kita tidak bisa dipercaya, tapi karena tidak ingin membebani kita. Hideyoshi Senpai mungkin tidak ingin Nishinoya Senpai khawatir, makanya dia tidak mau memberitahu soal rahasia itu.”

Chiru diam, dia merasa ucapan Haru ada benarnya.

“Terkadang, kita juga merahasiakan sesuatu dari orang lain karena takut rahasia itu akan menyakiti orang itu,” ucap Haru, dia tersenyum kecil, “cobalah untuk memahami dari sisi Hideyoshi Senpai. Menceritakan sesuatu yang menyakitkan itu lebih sulit daripada menutupinya.”

“Kau benar,” ucap Chiru, dia menoleh dan menatap buku di tangan Haru. “Buku apa itu?” tanyanya. Haru menoleh, dia menatap buku itu.

“Oh, ini buku milik mendiang ayahku,” ucap Haru, “aku menemukannya di lemari tadi. Sepertinya ini buku harian, karena aku membaca prosesi saat ayahku melamar ibuku.” Haru tertawa,

Chiru tersenyum melihatnya. “Jangan-jangan disitu dituliskan bagaimana proses menciptakanmu,” goda Chiru.

“Wah, aku harus membacanya,” ucap Haru, “aku mau tahu apa yang mereka pikirkan saat menciptakanku.”

Mereka berdua tergelak, Chiru menghela napas dan tersenyum kepada Haru. “Baiklah,” Haru beranjak, “aku pulang dulu. Aku harus menyiapkan makan malam, kau tahu sendiri aku tinggal bersama Shori. Dia akan mengomel kalau tidak ada makanan.”

“Dan matematikamu?” tanya Chiru.

“Aku akan meminta Shori mengerjakannya untukku,” ucap Haru, dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Chiru sebelum melangkah pergi. Chiru menghela napas, dia menatap langit yang semakin gelap. Chiru beranjak, dia berlari pulang.

Haru berhenti, dia membuka buku harian ayahnya dan membacanya. Haru menghela napas, dia menutup buku itu dan mendongak menatap langit. “Ini yang membuatku tidak suka menyimpan rahasia,” ucap Haru, dia menghela napas panjang dan berlari menuju rumahnya.

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s