[Multichapter] Flavor Of Love (#5)

Flavor Of Love

UHWIW
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 5)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

“Terima kasih kau sudah mau menemuiku, Hokkun,” suara Seika sedikit bergetar karena cuaca dingin yang agaknya sudah mulai bertambah ekstrem, dan ia menunggu diluar hotel daripada masuk ke dalam.

“Ayo masuk dulu, Sei-chan,” kata Hokuto.

Arigatou,” Seika meneliti setiap jengkal lobby hotel itu dan terkesima dengan desain yang menggabungkan modern serta klasik, membuatnya tidak kuno namun tetap elegan.

“Kau harus tau Sei-chan, hotel itu area publik, kau boleh masuk ke lobby,” ucap Hokuto.

Seika hanya tersenyum, ia hanya tidak merasa tempat itu adalah tempat yang pas untuk dirinya.

“Ada apa? Sepertinya kau cukup terburu-buru tadi saat meneleponku.”

Sebenarnya dia tidak enak meminta tolong kepada Hokuto, apalagi sebenarnya mereka sudah lama tidak bertemu, “Bisakah kau memberiku pekerjaan? Aku mohon maaf karena tiba-tiba sekali, tapi aku sangat membutuhkannya,” kata Seika, biarlah suaranya terdengar hopeless, ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.

“Tapi aku tidak bisa memberimu pekerjaan yang… kau tau, lebih tinggi dari staff kamar,” suara Hokuto terdengar menyesal, “Hanya pekerjaan itu yang tidak tutup lowongan pekerjaannya sekarang.”

“Tidak apa-apa! Sungguh! Tapi, bisakah anakku dibawa jika sudah pulang sekolah?”

Hokuto tersenyum, “Tentu saja, disini banyak staff yang membawa anaknya kok. Kebetulan kami menyediakan children room,”

“Hokkun.. aku benar-benar berterima kasih,” Seika menundukkan kepalanya, tidak ada yang bisa ia berikan selain ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya.

“Bagaimana kalau kita bicarakan sambil makan siang?” Hokuto melihat ke arlojinya, memang sekarang sudah hampir makan siang.

“Eh? Tidak apa-apa memangnya?”

“Ayo ikut aku, mobilku di parkir di basement,” dan Seika hanya bisa mengikuti kemana Hokuto membawanya.

Seika ingat kenapa mereka dulu bisa berteman. Saat itu, ia dan Hokuto masih taman kanak-kanak, Hokuto termasuk anak laki-laki yang suka menjahili anak perempuan. Seika tidak suka dengan perbuatan Hokuto dan menantangnya duel adu lari. Lalu saat hampir finish, ia ingat Hokuto tersungkur jatuh.

“Kau baik-baik saja?” Seika kecil saat itu membantu Hokuto bangkit.

Sambil menahan tangisnya Hokuto mengangguk dan menerima uluran tangan Seika. Sejak saat itu Hokuto menjadi teman Seika dan anak laki-laki bandel itu tidak berani menjahili anak perempuan lagi, terlebih jika ada Seika, namun Hokuto pindah saat SMA ke Tokyo, sementara dirinya baru pindah ke Tokyo setelah lulus SMA, sejak saat itu mereka hanya berkomunikasi lewat e-mail, tapi lama kelamaan Seika tidak lagi membalas e-mail Hokuto, dia terlalu jengah untuk menceritakan hal yang sulit ia ceritakan, terutama soal Yukari.

Hokuto membawa Seika ke happytos, tidak ada alasan khusus, Hokuto kelaparan dan hanya porsi dari happytos yang dapat memuaskan perutnya sekarang. Karena Hikari tidak pulang semalam, ia harus puas minum kopi saja tadi pagi.

“Yui, mau makan apa?” Hokuto memberikan daftar menu dan Seika meminta spageti serta jus jeruk, sementara Hokuto memesan lasagna dan lemon tea.

“Bagaimana keadaan Ayah?”

“Minggu ini akan operasi, dan sampai sekarang sih, kondisinya stabil,” Seika menjawabnya dengan santai, pasti ini pertanyaan yang sudah biasa ia dengar.

Saat pesanan mereka datang, keduanya sibuk makan, “Maafkan aku datang begini padamu. Sejujurnya aku tidak enak kepadamu,” ucap Seika.

“Kau mau menceritakan ada apa sebenarnya?”

Seika pun menceritakan bahwa setelah Ayahnya sakit, dan Ayahnya berhenti bekerja di perkebunan. Jadi otomatis pemasukan hanya dari Seika yang juga ikut bekerja di tempat Ayahnya bekerja. Namun karena keadaannya mereka harus ke Tokyo, Seika mau tidak mau harus membiayai kehidupannya di Tokyo.

“Perusahaan Ayah?” Hokuto ingat kalau dulu Ayah Seika memiliki pabrik kecil di Sendai.

“Semuanya sudah habis sejak Ayah sakit-sakitan,” jelas Seika dengan sedih.

Hokuto mengulurkan tangannya dan meremas pelan tangan Seika, untuk menunjukkan bahwa ia bersimpati, “Maafkan aku.”

Seika mengangguk, “Aku harus terus bertahan, karena aku tidak boleh kehilangan pekerjaan, aku takut Yukari akan diambil oleh pemerintah,” terdengar dengan jelas dari suaranya, bahwa wanita itu benar-benar sedang sedih.

“Pemerintah? Sebentar… ada yang tidak kau ceritakan? Bukankah kau seharusnya sudah menikah?” seru Hokuto ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang Seika sembunyikan. Jika Seika sudah menikah dan tidak sanggup membiayai anaknya maka anak Seika akan jatuh hak asuhnya kepada Ayah kandungnya bukan kepada pemerintah, kecuali ada kasus spesial misalnya Ayah kandung Yukari sudah tidak ada.

“Aku tidak pernah bilang aku sudah menikah, Hokkun. Yukari anakku, itu saja.”

“Tapi siapa Ayahnya!?” Hokuto mulai histeris. Sekian lama tidak bertemu dengan Seika, mengapa harus gadis ini yang mengalami seluruh keburukan yang bahkan tidak terbayangkan oleh Hokuto.

“Hanya teman kuliahku.”

“Dia menolak bertanggung jawab?!”

Seika menggeleng, “Tentu saja bukan begitu. Aku hanya tidak pernah memberitahunya soal itu!”

***

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika Chika melangkah masuk ke ruang dokter, tidak ada siapa-siapa, seharusnya malam ini dia jaga dengan Juri, tapi dimana pria itu? Ah mungkin sedang mendatangi pasien. Chika berjalan ke arah tempat kopi dan teh disimpan, ia pun berinisiatif untuk membuat teh dan saat itulah dia melihat Juri di halaman bawah Rumah Sakit sedang bersama dengan seorang wanita.

Mata Chika masih mengikuti kemana langkah Juri, dan ia melihat gadis itu mencium pipi Juri sebelum benar-benar melangkah menjauh dari pria itu.

“Hey!” tak berapa lama Juri sudah masuk ke ruangan, sementara Chika sedang selonjoran di atas sofa, setelah sore yang panjang di dalam ruang operasi, Chika tak sanggup berjalan rasanya, “Habis operasi?”

Chika mengangguk, “Tadi siapa? Juri-kun punya pacar yaaaa….” goda Chika, dan Juri terlihat kaget.

“Eh? Kau melihatku di bawah tadi?”

Chika kembali mengangguk.

“Dia teman SMAku.. Kou-chan juga kenal, dia baru kembali dari Inggris, dan tadi dia ke sini tapi aku kan harus jaga malam jadi dia kembali lagi, itu saja,” jelas Juri, yang kini masuk ke ruang ganti, entah mengambil apa.

Souka… padahal kelihatannya cantik loh, Juri-kun tidak suka dia?!” seru Chika, harus sedikit berteriak agar Juri bisa mendengarnya.

Juri menghela napas dan detik berikutnya pintu ruang ganti terbuka dengan kasar, lalu dengan sepat Juri mendekati Chika, “Bodoh!” serunya, sebagai respon Chika hanya bisa mematung, kaget karena kini jarak Juri sangat dekat dengannya, “Kau tau sendiri aku hanya suka pada dirimu!”

GLEK.

Chika menahan napas karena wajah Juri kini mendekat pada wajahnya, “STOP!” akhirnya Chika bisa menguasai keadaan, ia menahan bahu Juri menjauh, “STOP!!” alih-alih berhenti, Juri mendekap tubuh Chika, ini pertama kalinya Juri melakukan hal se-ekstrem ini padanya, “Juri-kun… anou…uhm…”

“Harus dengan cara apa lagi untuk membuatmu menatapku? Hmm?”

Jika saja Chika tau jawabannya, dengan hal-hal manis yang selalu dilakukan Juri padanya bukankah harusnya dia luluh? Padahal Kouchi sama sekali tidak pernah mneggubrisnya, tapi tidak bisa ia berpaling kepada Juri.

***

“Nagatsuma-san,” Shintaro meletakkan secangkir kopi di atas meja milik Reina.

Reina terlihat sedikit kaget namun akhirnya menjawab dengan suara yang pelan, “Hai,” masih teringat jelas oleh Reina mengenai apa yang ia katakan kepada kekasih Shintaro, dan sepanjang hari kemarin benar-benar jadi beban pikirannya.

“Kenapa wajahmu kaku begitu?” tanya Shintaro sambil menarik sebuah kursi dari kubikel sebelah. Kebetulan memang sedang istirahat makan siang.

“Tidak kok, aku biasa-biasa saja,” urgh. Semoga suaranya tidak terdengar gugup, karena Shintaro duduk di dekatnya.

“Nagatsuma-san, mengenai proyek kafe,” Taiga mendatangi meja dimana Shintaro dan Reina sedang mengobrol, “Eh, Shin-chan,” matanya menatap Shintaro dan tersenyum sekilas, “Bisa kita meeting sehabis istirahat?” kini pandangannya beralih ke Reina.

Reina pun segera mengangguk, “Budget, design, sudah oke, kita sudah konfirmasi dan kini tinggal menghubungi vendor,” jawab Reina seraya memberikan setumpuk data pada Taiga.

Sedikit lega karena Taiga menyelamatkannya dari situasi canggung dengan Shintaro, ia segera beranjak dari mejanya, “Aku makan siang dulu, jya!” Reina pun melarikan diri dari Shintaro. Dia tidak tau kenapa ia harus melarikan diri.

Reina memutuskan untuk makan mie cup saja,mengingat ia sudah terlambat untuk makan di luar. Reina suka pemandangan di balkon kantornya ini. Pemilik perusahaan, Inagaki-san, memilih untuk membuat sebuah kantor yang berbentuk rumah sederhana, pantry pun diletakkan di lantai dua yang langsung mengarah ke balkon. Salah satu tempat di mana dia bisa merasa lebih rileks jika sudah berkutat dengan desain seharian.

Mie cup juga?” Taiga mengangkat bungkusan mie cup yang ia bawa dan menyeduhnya.

Reina mengangguk, “Biasanya Kyomoto-kun bawa bekal?”

Taiga tertawa, “Tidak lagi. Aku sudah keluar dari rumah, jadi kembali lagi pada mie cup atau makanan dari mini market,” ucapnya lalu membawa makannya ke tempat Reina duduk.

“Kau tau kan tidak baik makan makanan instan terus-menerus,” ucap Reina yang kini sudah mulai makan, sementara Taiga masih menunggu.

“Hahaha, ya ya ya, aku tau,” Taiga kembali ke pantry, “Mau teh?” tanyanya dari dalam pantry.

“Boleh, arigatou Kyomoto-kun,”

“Kau selalu baik hati ya, Kyomoto-kun,” Reina mengangguk ketika Taiga meletakkan teh nya di atas meja, sementara Taiga hanya tersenyum terhadap pernyataan itu, “nanti banyak cewek yang salah sangka, loh,”

“Salah sangka?” mie cup nya sudah siap, Taiga pun mulai makan.

“Un! Kau tau, cewek itu luluh kalau diberi kebaikan,”

“Kecuali kau,ya kan?” Taiga melirik sekilas ke arah Reina.

Malam itu, mereka minum-minum dan Taiga berakhir di sebuah hotel, dengan Reina. Ia tidak begitu ingat bagaimana mereka bisa tiba-tiba ada di sana, apalagi dalam keadaan hangover parah, padahal itu hari kerja. Reina bangun setelah Taiga mandi dan bersiap-siap. Saat itulah Reina meminta untuk melupakan apa yang terjadi, bahwa semuanya hanya kesalahan semata. Kenyataannya Taiga sebenarnya cukup menyukai Reina sejak ia mulai masuk ke kantornya sekarang, tapi selama dua tahun Taiga ke Paris, ia sudah mencoba melupakan Reina. Tapi saat pulang, minum-minum, dia malah berakhir tidur dengan Reina. Tapi karena Reina memintanya untuk melupakan kejadian itu, Taiga memutuskan untuk mencoba melupakannya lagi. Dan mungkin sedikit demi sedikit Taiga merasakan bahwa perasaannya pada Reina hanya sebatas kagum saja. Mungkin juga hati Taiga mulai dimasuki oleh orang lain.

“Benar!” seru Reina.

Baru kali ini Shintaro melihat Reina bersama Taiga berduaan. Mereka cocok juga, pikir Shintaro. Tapi kenapa dia harus merasa kesal?Bukankah Reina hanya atasannya saja? Shintaro segera mengambil kopi yang sudah ia buat, dan segera kembali ke dalam, ia tidak mau terus menerus menatap Taiga dan Reina berduaan.

***

Melihat Ayahnya memasak adalah salah satu hobi Chise. Melihatnya memotong-motong bahan makanan, menggerakan tangannya di atas wajan, dengan wajah serius, menurut Chise adalah saat-saat Ayahnya terlihat sangat cool.

“Chise, itu ada kiriman bunga ke sini, kenapa Jesse mengirimnya ke rumah?”

“Eh? Uhmmm… bunga?”

Ayah mengangguk sambil masih sibuk membumbui masakannya, “Ada masalah dengan Jesse-kun?”

Chise menimbang-nimbang, apakah sebaiknya memberi tahu Ayahnya. Bagaimanapun, Ayah sebenarnya sudah dekat dengan Jesse. Bahkan mereka sering bertemu dan ke bar bersama, walaupun sekarang sudah jarang karena kesibukan Jesse.

“Aku putus dengannya,” akhirnya memang harus dikatakan. Chise yang tumbuh bersama Ayah sejak umur delapan tahun, tidak akan bisa menyembunyikan apapun kepada Ayahnya.

Souka,” as calm as always, Ayahnya itu, pikir Chise, “Ayah akan mendukung apapun yang kau pilih,” Ayah mengangkat makanannya, hari ini dia masak kare, salah satu masakan kesukaan Chise, memang hanya kare, tapi buatan Ayah selalu istimewa bagi Chise.

Arigatou,Yah,”

“Pastikan kau tidak menyesal atas keputusanmu,”

Chise mengambilkan nasi dan piring untuk mereka berdua, “Maksud Ayah?”

“Hingga sekarang Ayah masih sering berandai-andai, seandainya saat itu, baik Ayah atau Ibu tidak sama-sama egois dan mementingkan diri sendiri, kalau saja Ayah bisa mengalah sedikit,” ucapnya lalu menuangkan kare ke piring milik Chise.

Mendengar hal itu Chise hanya bisa menunduk, bukankah manusia pada akhirnya memang egois? Lebih memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan sulit mengalah pada kebutuhan orang lain terutama jika itu tidak memberikan apa-apa untuk dirinya?

.

.

Setelah makan, Chise menuju kamarnya, melihat seikat bunga aster di sebuah vas, dan sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, kesukaan Chise.

Aster : Love, beautiful, patient

Happy 7th Anniversary, Chise-chan.

I’ll always love you

-Jesse

Patient.

Kalau dipikir-pikir, memang Jesse selalu sabar menghadapinya. Selalu. Ketika dia marah karena Jesse tidak bisa menjemputnya, Jesse dengan sabar menghadapi sifat kekanakannya, ketika Chise sedang datang bulan dan Jesse dengan sabar mengelus-ngelus pinggangnya, memeluknya ketika terpaan hormon membuatnya tiba-tiba secengeng anak kecil kehilangan mainannya.

Tapi, pertanyaan lainnya, sampai kapan Jesse bisa sabar kepadanya? Sampai kapan? Kata orang, ketika menikah kita akan sedikit demi sedikit kehilangan rasa cinta kepada pasangan. Kalau itu terjadi, lalu bagaimana dengan dirinya dan Jesse?

***

Tadaima,

Okaeri,” Hikari berlari dari dalam dan menyambut Hokuto seperti biasa.

Hokuto mematung di pintu masuk mansion mereka, tidak yakin apakah ia harus tersenyum atau bersikap seperti apa. Hikari menghampiri suaminya, memberikan pelukan selamat datang, melepaskan jas kerja Hokuto dan membawakan tasnya, “Mandi dulu atau makan dulu?”

Alih-alih menjawab Hokuto menghampiri Hikari dan memeluk istrinya dari belakang, “Gomennasai, Hikari,” bisiknya tepat di telinga Hikari.

Hikari mengangguk pelan, “Aku juga minta maaf karena merahasiakan semuanya. Padahal kita sudah berjanji selalu jujur satu sama lain,”

Tanpa mengatakan apapun Hokuto mempererat pelukannya, menyembunyikan wajahnya di riak rambut Hikari, menghirup wangi tubuh Hikari yang menurutnya memabukkan, “Kita akan cari cara, kita akan usaha semampu kita, ya? Tapi aku mohon, jangan sampai membahayakan dirimu sendiri.”

Hikari mengangguk hingga berlinang air matanya, “Bagaimana dengan Ibu?”

“Aku akan menjelaskan semuanya. Jangan takut, dia lebih menyayangimu bahkan daripada diriku,”

“Hokkun, lebih baik kita sekarang makan sebelum nikujaganya jadi dingin,” Hikari melepaskan pelukan Hokuto dan sebelum menyimpan semua barang-barang suaminya, dia menyempatkan untuk mencium bibir Hokuto.

Tak apa-apa, Hokuto meyakinkan dirinya sendiri. Mulai sekarang tidak apa-apa asal mereka bersama.

“Ah iya, Ayah bilang kita harus ke sana saat liburan nanti, dia sudah protes karena aku jarang pulang,” ucap Hikari sambil mengambilkan handuk basah, lalu menyediakan makanan untuk Hokuto. Gerakan Hikari luwes sekali, membuat Hokuto tersenyum, Hikari memang istri paling hebat untuknya.

“Tadi Ayah telepon?” Hokuto menanggapinya sambil mencuci tangannya dengan lap basah, “Apa kabar mereka?”

Hikari mengangguk, “Baik, Taku katanya eksprimen dengan makanan lagi, duh rasanya seperti apa ya? Ahahaha,” membayangkannya saja Hikari langsung lapar, karena makanan buatan Taku memang paling enak sedunia terutama menurutnya sendiri.

“Wah! Aku tak sabar mencicipinya!” Hokuto mulai makan nikujaga buatan Hikari, “Tapi masakanmu juga enak ko!”

“Gombal!” seru Hikari dari seberang meja.

Saat melihat senyum Hikari ia tau bahwa dia akan mengusahakan apa saja yang bisa membuat wanita ini bahagia, karena hanya dengan melihat senyuman Hikari dia tau hatinya juga ikut bahagia.

***

Satu ketukan, dua ketukan, nampaknya belum memberikan efek pada pemilik apartemen, Chise belum menyerah dan walaupun ini masih pukul enam lebih tiga puluh menit, dia harus menemui si pemilik apartemen. Sebelum dirinya pergi bekerja, mulai hari ini Chise sudah bekerja di restoran prancis milik teman Taiga.

Pintu apartemen terbuka, seraut wajah dengan mata mengantuk, rambut acak-acakan menyambut Chise.

Ohayou gozaimasu, Kyomoto-san,”

Mata Taiga terlihat terbuka lebih lebar, “Ohayou!

“Maafkan aku mengganggumu, ini,” Chise menyerahkan beberapa kotak bento kepada Taiga.

Dengan ragu-ragu Taiga menerimanya, “Apa ini?”

“Balasan dari makan pagimu kemarin!” seru Chise, “dan rasa terima kasihku karena sudah mencarikan pekerjaan,”

Taiga tersenyum, “Sama sekali tidak. Temanku memang mencari pekerja kan, aku hanya mengenalkan dirimu padanya, dan dia bilang kau memang yang dia cari,”

Chise mengangguk senang, “Aku mulai kerja hari ini, kumohon terima ya, lagipula sebagian masakan Ayah kok, bukan masakanku, hehe,”

“Waahh, aku tersanjung bisa makan makanan chef terkenal seperti Ayahmu,”

“Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Kyomoto-san. Ittekimasu!!

Itterasshai. Ganbatte ne, Nagisawa-san!”

Chise berlalu dari hadapan Taiga dengan senyum mengembang dan tak lupa lambaian tangan yang sangat bersemangat. Lagi-lagi pagi yang sempurna bagi Taiga. Walaupun semalam ia begadang dan kurang tidur, mungkin ini hadiah Tuhan untuk memperbaiki mood nya hari ini.

.

.

Pekerjaan Chise di restoran sebenarnya mulai siang nanti. Tapi kali ini Chise juga bekerja di sebuah majalah, sebagai penulis lepas kolom jalan-jalan. Karena pengalaman Chise di luar negeri, dia mendapatkan pekerjaan ini setelah mengirimkan beberapa tulisan ke majalah ini. Dan setelah beberapa kali dimuat, Chise dihubungi untuk menjadi penulis lepas, dia harus mengirimkan setidaknya dua sampai tiga tulisan seminggu. Karena hari ini deadline, Chise memutuskan untuk mencari suasana baru agar ia bisa menulis dengan baik.

Secangkir kopi dan sepiring pancake strawberry di hadapannya sebagai pemancing ide menulisnya. Sejak tadi laptopnya pun sudah menyala, Chise duduk di dekat jendela, agar dia bisa menatap orang berlalu lalang, apalagi ini masih pagi, pasti banyak yang bisa dia lihat dan amati.

Seorang gadis berpakaian seragam di luar, sepertinya menunggu sesuatu atau seseorang, Chise tidak yakin. Ketika beberapa saat kemudian seorang anak laki-laki menghampirinya dan mereka pun pergi bersama-sama. Chise otomatis tersenyum melihatnya, mengingatkan akan dirinya dan Jesse, dulu.

Dulu.

Kata itu begitu menghantuinya beberapa hari ini. Dengan semua hal yang terjadi padanya dan Jesse, semua kenangan bersama Jesse menjadi ‘dulu’ dan sebahagia apapun kenangan itu, menjadi sedikit menyakitkan untuk diingat.

“Nagisawa Chise?”

Chise menengok, “Reina-nee!!” otomatis dia berdiri dan memeluk Reina, “Hisashiburiiii!!” dia mengenal Reina sejak awal kuliah karena Chise ingat, salah satu sepupunya, Sanada Yuma, dari pihak ibunya, adalah pacar dari Reina, namun ia dengar Yuma-nii sudah menikah tapi tidak dengan Reina.

Hisashiburi!! Belakangan aku hanya melihatmu di berita saja,” ucap Reina ketika dia ikut duduk di meja Chise.

“Berita?”

“Yah, aku sering membuka berita online dan menemukan namamu belakangan sering muncul.”

Jujur saja, Chise tidak sering membuka berita online terutama mengenai gosip atau apalah.

“Aku dengar kau putus dengan Lewis-san?”

“Eh?”

“Itu cukup menggemparkan loh, terutama karena kalian sudah pacaran lama sekali, beberapa media bahkan sudah sering menanyakan kapan kalian akan menikah,” Reina mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa berita di situ media online mengenai dirinya, dan Jesse.

Jesse Lewis, walaupun bukan seorang artis atau aktor adalah most wanted bachelor sejak dia masih muda. Jesse dikenal sebagai salah satu pengusaha muda yang digemari banyak wanita, dan sejak muda pula Jesse sering masuk majalah bisnis, bahkan hingga majalah entertainment walaupun dia tidak bekerja di dunia entertainment. Maka wajar saja jika beritanya dengan Jesse sering dimuat di media online atau cetak. Chise masih ingat setiap kali mereka ke luar negri atau liburan kemanapun, akan muncul di berita, dan walaupun Chise tidak suka membaca berita online, Hikari akan berbaik hati mengirimkan beritanya pada Chise.

Souka, Reina-nee apa kabar? Terakhir kali kita bertemu kapan, ya? Sudah lama sekali!” Chise mengalihkan pembicaraan mereka. Apa saja selain topik mengenai Jesse.

“Yah begitu saja,” Reina tersenyum lalu menyesap kopinya, “Aku dengar kau membangun kafe? Aku bekerja di Inagaki Design juga loh,”

“Eeehh? Benarkah? Kalau tau aku pasti meminta Neechan yang mendesain kafeku!” seru Chise.

“Tapi kau tidak salah pilih desainer kok, Kyomoto Taiga-san dua tahun di Prancis, jadi kalau kau ingin bangunan gaya Eropa, dia memang paling tepat,” ucap Reina.

Chise mengangguk-angguk mengerti, “Jadi Neechan mampir kesini untuk sarapan?”

Reina menggigit sandwichnya sebelum menjawab, “Kadang-kadang saja sih, kalau aku senang menghabiskan waktu pagiku di tempat seperti ini, memberikan sedikit tenaga untuk bekerja hari ini,” lalu ia melihat ke arlojinya, “Gomen na, lain kali kita ngobrol-ngobrol lebih banyak ya, Chise-chan,” Reina mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Chise, “Telepon aku ya, Chise-chan,”

Chise mengangguk sebelum akhirnya Reina beranjak dan bergegas pergi,karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Kembali dengan kesendirian, Chise mulai mencari ide dan akhirnya menuliskan beberapa baris mengenai Hokkaido. Chise ingat Hokkaido adalah salah satu tujuan wisatanya saat liburan musim dingin seperti ini, selain karena waktu salju yang lebih lama, menurut Chise Hokkaido dan saljunya adalah tempat yang indah.

Satu kata, dua kata, tangan Chise terus menari di atas keyboard laptopnya, menceritakan semua yang dia ketahui dan dia rekomendasikan mengenai Hokkaido. Saat menulis, Chise tenggelam dalam kata-kata dan membuatnya merasa lebih hidup ketika menceritakan pengalamannya.

***

Kouchi mengangkat tangannya ke udara, meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah beberapa jam di dalam ruang operasi. Berdiri, menjadi asisten bedah memang selalu menyenangkan, tapi juga melelahkan.

“Kopi?” Chika yang sedang berada di depan mesin penjual otomastis menawarkan kepadanya.

“Teh saja, aku sudah minum kopi tiga gelas hari ini,” ucap Kouchi lalu duduk di ruang tunggu, melihat beberapa orang sudah lalu lalang sepagi ini.

Chika meyodorkan sekaleng teh hangat, Kouchi mengambilnya dan membukanya, “Sankyu,

“Kou-chan,” panggil Chika.

“Hmmm?” Kouchi sedang memejamkan matanya, kebiasaan Kouchi ketika sudah lelah.

“Kapan hari liburmu lagi?”

Kouchi segera membuka matanya dan menatap Chika, “Tidak ada sampai minggu depan sepertinya, kenapa?”

“Bisakah kita pergi kencan saat liburan? Aku pun akan cari libur yang sama denganmu!” ucap Chika.

“Kencan?”

Chika mengangguk, “Aku akan mengutarakan cintaku dengan benar kali ini, dan… tolong jawab aku dengan tegas, bagaimana?”

Beruntung Kouchi tidak sedang minum karena ia pasti akan tersedak mendengarnya, “Chika, sudah kubilang.. aku…”

“Kumohon? Aku ingin move on, tapi semuanya tergantung dari jawabanmu nanti,” Chika mengatakannya dengan ekspresi serius, sama sekali tidak terlihat bercanda.

“Kau yakin?”

Chika kembali mengangguk, “Pikirkan ya, sampai hari kita kencan! Jya, Kouchi-sensei, aku kunjungan pasien dulu, Otsukaresamadeshita.

Kouchi menarik napas panjang. Chika sudah seperti adiknya sendiri, walaupun kenyataan mereka seumuran. Kouchi tidak pernah memikirkan akan ada hubungan romantis antara dirinya dan Chika. Walaupun memang, Kouchi tidak buta dan melihat gelagat Chika yang selama ini menyukainya, tapi saat kuliah, Kouchi berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lulusan terbaik, dan memutuskan tidak memikirkan apapun menganai cinta dan tetek bengeknya setelah putus dengan Seika, karena dia mulai kehilangan konsentrasi saat jatuh cinta. Kouchi adalah tipe pria yang jika jatuh cinta, dia akan seratus persen mencintai, begitulah yang ia rasakan pada Seika sebelum akhirnya Seika meninggalkannya begitu saja. Dan karena itulah, saat ditinggalkan, Kouchi pun patah hati seratus persen, bahkan mungkin seratus sepuluh persen.

“Kouchi-jichan?” Kouchi menatap seorang gadis yang rambutnya di kepang dua, dengan baju terusan berwarna biru, menatapnya yang kemungkinan besar tadi melamun.

“Yukari-chan, mana Mama?”

“Masih di kamar kakek!” jawabnya, lalu mendekati Kouchi, “Kouchi-jichan dokter?”

Kouchi mengangguk sambil tersenyum, “Un!”

“Yukari juga ingin jadi dokter kalau sudah besar!” serunya dengan bersemangat.

“Oh ya?”

Yukari mengangguk dengan bersemangat, “Yukari akan menyembuhkan penyakit kakek!” ucapnya lagi lalu duduk di sebelah Kouchi.

“Kalau begitu, Yukari harus belajar yang rajin, ya?” Kouchi menatap Yukari yang kini mengangguk-angguk, “Yukari mau minum teh? Paman belikan ya?”

Arigatou,” ucapnya manis.

Kouchi membelikan satu kaleng teh hangat dan membukakannya untuk Yukari, “Douzou,

“Yukari!!” suara Seika dari kejauhan dan ketika ia melihat Yukari bersama Kouchi, kelihatan sekali ia lega, “Arigatou Kou-chan, kau membuat mama ketakutan!” seru Seika saat mendatangi Yukari.

Gomen,” ucap Yukari terlihat merasa bersalah.

“Sudahlah tidak apa-apa, ayo kau kan harus sekolah dan Mama harus kerja,” Seika menarik tangan Yukari dan mengangguk sekilas pada Kouchi, “Yoroshiku ne, Kouchi-sensei, kudengar kau akan jadi salah satu dokter saat operasi Ayah,” ucap Seika.

Kouchi mengangguk, “Yoroshiku onegaishimasu,”

“Jya, aku pergi dulu,”

Masih adakah rasa cinta kepada Kouchi dalam hati Seika? Sejak ia bertemu lagi dengan Seika, pertanyaan itu terus terngiang di benaknya.

***

Juri berjalan keluar dari Rumah Sakit akhirnya shift nya selesai dan tidak perlu jaga malam kali ini, langkahnya terhenti ketika melihat Rumi melambaikan tangan ke arahnya, “Juri-kuunnn!!” di tengah udara dingin begini sebenarnya ada apa tiba-tiba Rumi mendatanginya?

“Sudah lama?”

Rumi menggeleng, “Tidak juga, aku baru saja sampai,” ucapnya, menggandeng tangan Juri, “Ke bar? Atau mau langsung ke apartemenmu?”

“Hey! Kan sudah kubilang…”

“Juri dan aku kini hanya teman, wakatta,” Rumi terkekeh, “Aku mengerti kok!”

Kemarin malam Juri memang mengatakannya pada Rumi, kalau dirinya dan Rumi hanya akan menjadi teman, tidak lebih, Juri benar-benar serius mengejar cinta Chika kali ini.

“Terus? Apa-apaan ini kau menjemputku segala?”

Rumi menggeleng, masih berjalan di sebelah Juri, melingkarkan tangannya di tangan Juri dengan posesif. Juri tau ada yang tidak beres dengan Rumi.

“Ada apa sih?” Juri melepaskan tangan Rumi dari tangannya, menatap gadis itu, “Kau pasti tidak baik-baik saja,” tambah Juri.

Tadi Rumi bertemu Jesse, lagi, setelah malam sebelumnya Jesse menolak ajakan Rumi untuk ‘bersenang-senang’ tadi Rumi kembali mendatangi Jesse, mereka makan siang, tidak tau kenapa mereka menjadi lebih canggung dari biasanya, terutama setelah kejadian malam itu.

Suite Room, keren kan? Padahal penuh loh aku bisa dapat suite room,” ucap Rumi, keduanya ada di dalam lift, dan jelas Jesse sudah setengah sadar karena entah berapa gelas whiskey yang ia teguk sebelumnya. Jesse tidak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Rumi ke dalam kamar di lantai dua puluh itu.

Ketika mereka masuk ke kamar, tanpa banyak bicara Rumi mendekat ke Jesse, berinisiatif mencium pria itu namun detik berikutnya ketika ia berhasil meraih bibir Jesse, pria itu mendorongnya, “RUMI!” serunya.

You heard it! I’m still in to you!” kala itu Rumi marah, hatinya sakit karena penolakan Jesse.

Jesse tidak menjawab, menatap Rumi dengan kebingungan, “Aku tidak punya perasaan seperti itu terhadapmu!”

Just…” Rumi menarik kerah kemeja Jesse, menyetarakan bibir Jesse dengan bibirnya, “use me for fun purpose… I don’t mind…” murahan memang, Rumi sudah tidak peduli lagi, ia menginginkan Jesse, sekarang juga.

Jesse kembali mendorong bahu Rumi, sepersekian detik kemudian Jesse meninggalkan Rumi di dalam kamar, begitulah kejadiannya hingga tadi siang Rumi kembali menemui Jesse.

“Apa yang Jesse bilang?” tanya Juri, menatap Rumi yang selesai menceritakan kejadiannya dengan Jesse.

Rumi terkekeh pelan, “Dia minta maaf, dan seperti biasa, menolakku… lagi.”

Juri terdiam.

Entah bagaimana dia bisa mengerti perasaan Rumi karena Chika pun sama, selalu menolaknya, dan seperti seorang pecandu dia masih saja terus menunggu padahal tau rasanya selalu sakit.

“Bahkan saat mabuk, seorang Jesse tidak mau bersamaku, bodoh kan? Aku bodoh ya?” ucap Rumi, keduanya sudah menunggu taksi datang.

“Mau ke apartemenku?” tawar Juri.

Ia rasa meninggalkan Rumi dalam keadaan seperti sekarang tidak baik, lebih baik Juri menemaninya, setidaknya sekedar untuk berkeluh kesah.

***

To Be Continue~

COMMENTS ARE LOVE!!!

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Flavor Of Love (#5)

  1. hanazuki00

    Comment~~~

    Aku curiga yukari itu anaknya Seika dan Kouchi. Lalu pas baca punya kouchi rasanya seseeeek banget knapa ya mih knapaaa?
    “Kumohon? Aku ingin move on, tapi semuanya tergantung dari jawabanmu nanti,” –> boleh nangis? kok aku tertusuk dengan kalimat ini yaah :”

    tapi pas bagian Hikari ketemu Hokuto lagi setelah kabur dan bersikap biasa aja itu.. tetep aja nyes gimana T^T

    Perasaanku aja apa aku baca ini masih berasa sedih yaaa hahaaha

    Dari Shin Reina yang kayaknya sok malu malu kepikiran tapi ah entahlah bisa jadi Shin yg kegeeran (makannya shin rasain dong suka sama gadis, jgn sama tante tante) hahahahaha Reina ati ati kemakan omongan sendiri terus jadi suka SHin. awas aja dedekku jgn dimainin, jgn disakitin gara-gara duitnya banyak kamu nantinya errr

    emmm kecuali part Chise sama Jess sih… asli kesel sama Chise sama tipe orang kayak gitu. nggak bersyukur. sadar diri sih boleh tapi ntar kalo Jess bener bener kepincut dan pilih rumi lu bakal nyesel gitu? ngikut aja pas di deketin taiga gitu? cih

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s