[Multichapter] UNDIVIDED part 5

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast (di chapter ini): Koyama Keichiro (NEWS)

Seorang pemuda berkacamata dan mengenakan jas lab baru saja masuk dari pintu depan gedung utama WDA. Sebuah headphone bertengger manis di lehernya. Pemuda itu langsung berjalan menuju sayap timur sambil mengulum sebuah lollipop di mulutnya.

Tiba di depan sebuah pintu baja dengan detektor sidik jari dan ID card di depannya. Pemuda itu melepaskan ID card yang tersampir di saku jas lab dan meletakkan di mesin pemindai. Setelah itu meletakkan jempolnya di detektor sidik jari. Sedetik kemudian, lampu kecil di mesin itu berganti warna dari merah menjadi hijau, bersamaan dengan terbukanya pintu di depannya secara otomatis.

Benar.

Seluruh devisi IT tempat itu berada dibawah kepemimpinannya.

Pemuda itu berjalan dengan santai. Berlalu begitu saja tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang memang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Pemuda itu berhenti pada sebuah pintu yang bertuliskan ‘Chief’ di depannya lalu masuk ke dalamnya.

Sedikit terkejut mendapati seseorang sudah duduk manis di sofa yang ada di tengah ruangannya.

“Bagaimana kau bisa masuk kesini?” tanya pemuda itu datar pada sosok itu.

“Kau yakin perlu menanyakan hal itu?” tanya orang itu yang tidak lain adalah Ryosuke.

“Lupakanlah, hanya basa-basi.” ujar pemuda itu padanya sambil lalu.

Tanpa mempedulikan lagi Ryosuke yang bangkit dari posisinya dan berjalan mengikutinya yang kini sedang menuju kursi kerjanya, berhadapan langsung dengan beberapa monitor besar di sekitar mereka dan menyala, menampilkan banyak angka-angka dan huruf yang terlihat tidak beraturan.

“Apa ruangan ini tidak terlalu gelap?” tanya Ryosuke lagi sambil melihat sekeliling.

“Jika terlalu terang justru aku tidak bisa bekerja.” jawab pemuda itu singkat, terlihat jemarinya dengan lihai sudah menari diatas keyboard di atas meja.

“Bodoh! bekerja di kegelapan justru akan membuat matamu semakin rusak!” Ryosuke menepuk pelan kepala pemuda itu dengan map yang sedang di pegangnya.

“Ck! Bukan urusanmu, sana minggir! ” pemuda itu menggerutu dan menepuk singkat lengan Ryosuke, “Berhenti menggangguku dan katakan apa urusanmu kemari. Kalau kau hanya mengganggu di tempat ini, sebaiknya pergi saja sana, aniki!” ujarnya sembari menekankan kata terakhirnya sebagai panggilan untuk Ryosuke.

Ryosuke lalu menyerahkan map yang sedari tadi di pegangnya pada pemuda itu, yang tidak lain adalah Ryutaro, adik kandungnya. Ryutaro mengambil map tersebut dan mulai membacanya.

Chinen Arina? Dare?” tanya Ryutaro.

“Sejauh yang ku ketahui sampai saat ini adalah, keponakan kandung paman Jin, memiliki saudara kembar yang di culik oleh Flame Rose kemarin, dan setelah rapat pagi tadi memutuskan untuk bergabung di WDA. Reia-san bilang ini harus ku berikan padamu untuk mengurus masalah recruitmen nya.” jelas Ryosuke.

Ryutaro mengangkat sebelah alisnya mendengar penjelasan Ryosuke. Pemuda itu kembali beralih pada dokumen di tangannya dan membaca hingga ke halaman selanjutnya, “Keponakan paman ya? Sehebat apa dia sampai paman langsung ingin langsung merecruitnya sebagai Diamond Agent?”

Mendengar kata Diamond Agent keluar dari mulut Ryutaro, Ryosuke melebarkan matanya. “Apa kau bilang?! Diamond Agent?! Paman….”

Ryutaro hanya mengangguk. Lalu Ia menunjuk map yang tadi Ryosuke berikan padanya dengan dagunya. “Sepertinya kau memang belum melihat isi map tersebut sebelum memberikannya padaku,”

“Tentu saja. Kau pikir aku siapa yang seenaknya melanggar kode etik agensi?!” Ryosuke semakin kesal di tempatnya.

Ryutaro lalu membuka pada halaman yang sedang dibacanya pada Ryosuke, “Sepertinya mereka akan melakukan JS hari ini juga pada gadis bernama Arina ini. Dilihat dari data itu aku tidak melihat sesuatu yang lebih pada dirinya. Tetapi tidak pernah ada yang paham dengan jalan pikiran paman Jin sampai saat ini, bukan? Berdoa saja gadis itu bisa melalui ini semua dengan baik. Karena mulai detik dia membuka matanya nanti, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.”

Ruangan terdengar senyap, Ryutaro memperhatikan Ryosuke yang mendadak terpekur di tempatnya sendiri. “Kau baik-baik saja?” tegurnya.

“Aku harus bertanya langsung pada paman Jin.” ujar Ryosuke yang langsung melangkah dengan cepat keluar dari sana.

Ryutaro mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perubahan sikap tiba-tiba Ryosuke saat itu. Pemuda itu lalu kembali berkutat dengan tugas yang baru saja di terimanya tersebut dan jemarinya kembali menari dengan lincah di keybordnya.

Seperti yang tertera di laporan tersebut, Ia yang bertanggung jawab dalam mengatur medan ujian yang akan diberikan pada Chinen Arina secepatnya.

=*=

Ryosuke berlari menyusuri koridor kantor, kembali ke sayap utama untuk menemui Akanishi Jin. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat beberapa orang terlihat sibuk mendorong sebuah bankar keluar dari ruangan Akanishi Jin, melewatinya, hingga dia dapat melihat siapa sosok yang sedang mereka bawa, Chinen Arina.

“Ah, kau disini?” sapa Akanishi Jin sembari menepuk pundak pemuda itu.

Ryosuke mengangkat kepalanya memandang sosok sang paman yang terlihat biasa saja, “Paman…” desisnya.

Sir, Ruby!” koreksi Akanishi Jin dengan sedikit tajam, “Melihat kau disini, ku artikan bahwa data yang diperintahkan oleh Reia sudah di terima oleh Unit Teknologi, benar Ruby?” tanya pria itu.

Ryosuke mengangguk, sang paman memanggilnya dengan code name, yang berarti segala urusan yang berhubungan dengan hal-hal pribadi harus disingkirkan terlebih dahulu. “Saya sudah menyerahkan data pada Chief Unit Teknologi, yaitu agen Emerald, sir!” serunya.

Akanishi Jin mengangguk, “Kerja bagus agen Ruby. Kau bisa menemui Reia untuk meminta jadwalmu selanjutnya.” ujar pria itu lalu melanjutkan langkahnya kembali.

Sir, sebentar!” panggil Ryosuke langsung.

Akanishi Jin menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, “Ada apa?” katanya.

“Apa benar jika Chinen Arina akan direkrut menjadi agen Diamond, sir?” Serunya.

Akanishi Jin tidak langsung menjawab, pria itu memandang Ryosuke dengan tatapan datar. “Apa saya harus mengingatkan lagi padamu tentang kode etik agensi, tentang intervensi akan urusan orang lain, Ruby?”

Ryosuke hanya diam saja, Ia membalas tatapan Akanishi dengan tenang. Pria itu harus mengaku dibuat terkesan dengan sikap yang diberikan oleh pemuda dihadapannya ini. Akanishi tersenyum sambil meletakkan tangannya di saku celananya.

“Boleh ku tau apa alasan kau ingin tau?” tanya Akanishi Jin kemudian.

“Aku punya urusan yang belum selesai dengannya.” jawab Ryosuke dengan tenang.

Akanishi Jin masih mengangkat alisnya, “dan urusan seperti apa itu?” tanyanya lagi.

“Jika saya mengatakan ini berhubungan dengan Flame Rose juga Silver Flame, apakah anda akan mengizinkannya sir?” tanya Ryosuke lagi.

Akanishi Jin mengangguk singkat, “Baiklah. Tapi sepertinya urusanmu itu harus menunggu. Gadis itu sudah dibawa ke lokasi oleh tim penguji saat ini. Ujiannya akan dimulai begitu Ia sadar” serunya.

Ryosuke menyipitkan matanya tidak percaya, “Anda membius keponakan anda sendiri lalu melemparkannya ke jurang kematian?!”

“Ini pilihannya, dan setiap pilihan ada konsekuensi masing-masing. Ku kira kau yang paling paham akan hal ini, Ryosuke.” Ujar Akanishi Jin sedikit tajam.

Kali ini pemuda itu bungkam. Ia tidak bisa apa-apa kali ini jika kenyataannya bahwa gadis itu yang ingin bergabung dalam dunia seperti ini. Dia juga begitu dulu. Ia yang memilih pilihan yang sama, tidak mungkin mengatakan yang sebaliknya.

“Bagaimana jika Ia tidak berhasil melalui ujian ini?” tanya Ryosuke lagi.

“Ku kira ini kau bertanya sudah terlalu jauh, Ruby! Saya akan memberikan toleransi kali ini karena saya sedang baik, tetapi kau tau tidak ada kata lain kali bukan?” katanya.

Ryosuke mengangguk pelan. Mau tidak mau dia memang harus menerimanya. Memangnya siapa dia?

Tapi sebelum itu…

“Sir, saya punya satu permintaan…”

=*=

“I…ni dimana?”

Arina cukup takjub melihat ke sekelilingnya. Hari masih sangat pagi dengan embun yang membasahi sekelilingnya. Tetapi yang lebih hebat daripada itu adalah Ia berada di tengah hutan belantara dan sendirian?! Arina menoleh pada dirinya sendiri dan menyerit bingung. Ia saat ini mengenakan baju yang terbuat dari bahan sangat ringan juga elastis dan mempermudah dirinya untuk bergerak, juga sepasang sepatu sol tebal namun ringan.

Tidak ada apapun disekelilingnya kecuali pepohonan yang tertutup dengan kabut putih. Tidak ada sampai matanya mendapati sebuah tas ransel berada tak jauh di tempatnya. Gadis itu buru-buru menghampiri tas tersebut. Disekitar tas itu terdapat bermacam-macam benda dan sebuah amplop. Arina meraih amplop tersebut dan membukanya.

Terdapat dua carik kertas di dalamnya. Kertas pertama berisi sebuah peta dengan sebuah tanda silang berwarna merah di tengah-tengah. Kertas kedua tertulis dengan jelas instruksi ‘Survival Game‘. Pupilnya melebar saat membaca setiap poin yang tertulis disana.

Poin pertama adalah seperti namanya, Ia harus bertahan hidup di tempat itu. Namun waktunya hanya sampai tengah malam dan Ia harus tiba di tujuan yang ditandai dengan tanda silang di peta. Poin selanjutnya adalah bahwa jalan menuju tempat itu sudah dipasang dengan perangkap seperti peledak, ditembaki dengan pistol, ranjau pisau dan senjata tajam lainnya. Lalu poin terakhir adalah bahwa Ia di bekali dengan beberapa benda yang bisa Ia bawa untuk membantunya. Tetapi gadis itu harus bijaksana menggunakannya karena hanya perbekalan tersebut satu-satunya penyambung hidupnya sekitar 15 jam kedepan.

Arina tergugu ditempat sambil melihat pada benda-benda yang berserakan di hadapannya kini. Ada roti dan sebotol air, pistol jenis revolver dan sepaket peluru cadangan – dan digaris bawahi bahwa benda tersebut ASLI, sebuah belati, tali tambang, sekantung alat P3K, dan kompas.

“Ini gila!! Bagaimana mungkin aku melakukan game begini dengan senjata asli?!” Arina ingin rasanya menjerit keras dan memaki seseorang saat itu juga.

Tetapi siapa?! Tidak ada siapapun disana kecuali dirinya.

Setiap keputusan ada akibatnya masing-masing, dan inilah akibat dari keputusan yang telah kau pilih, Arina.

Dasar pria sinting!! Paman apa yang membuang keponakannya sendiri di tengah hutan belantara dan menyuruhnya mempertahankan diri?! Ini lebih seperti menyuruh keponakannya mati secara perlahan.

Sambil menggerutu Arina menyusun semua benda-benda itu ke dalam ransel, mengaturnya sedemikian rupa sehingga Ia bisa meraihnya dengan mudah kapanpun dibutuhkan. Revolver di gantungkan di dekat ikat pinggangnya. Belati di selipkan di bagian pahanya.

Bagaimana Ia bisa dengan santai mengatur itu semua?

Salahkan film actions yang biasa Ia tonton. Juga aktifitas permainan survival game dengan peluru tinta yang selalu Ia ikuti saat bersama saudaranya.

“Baiklah, sekarang kemana aku harus pergi,” gumamnya pada diri sendiri sambil memandang peta di tangannya dan kompas di tangan satu lagi.

Akhirnya Arina menemukan arah yang akan Ia tuju berikutnya. Gadis itu melipat map dan menyimpan kompas di saku celananya. Tempat yang mudah untuk Ia raih tentu saja.

Hei, apa kau bisa mendengarku?

Baru saja ingin melangkah, hampir saja Ia memaki saat kembali mendengar suara misterius yang sudah lama tak Ia dengar.

Tenangkan dirimu, dan cobalah untuk fokus pikiranmu pada suaraku untuk menjawab‘ seru suara itu lagi.

Arina mengerjap sesaat. Menoleh ke sekitarnya. Tapi saat tidak menemukan siapapun disana, gadis itu memutuskan untuk mengikuti instruksi suara di pikirannya.

Perlahan Ia menarik napasnya dan mencoba fokus pada suara itu.

Siapa kau…?‘ batinnya.

Ah, kau bisa melakukannya. Aku mendengarmu dengan jelas!‘ ujar suara itu lagi.

Arina kembali mengerjapkan matanya berkali-kali.

Mulai sekarang kita akan berkomunikasi seperti ini. Aku akan memberikan instruksi padamu diam-diam.‘ kata suara itu.

Arina mendengus kesal. Si pemilik suara ini seakan enggan memberitahukan jati dirinya.

Mulailah berjalan, sambil aku menjelaskannya. Orang-orang ini akan curiga jika kau terdiam cukup lama seperti itu. Tetap hati-hati karena jebakan ada dimana-mana!‘ perintah suara itu.

Arina mendengus keras. Namun gadis itu akhirnya mulai melangkah pada jalan yang tadi Ia pilih.

Tidak bisakah kau katakan dulu siapa kau ini?‘ batinnya lagi.

Untuk sementara itu tidak begitu penting, tapi kau cukup memanggilku Ryo saja,‘ jawab suara itu.

Baikkah, Ryo-san kalau begitu, bisa kau katakan apa yang terjadi padaku sebenarnya? Kenapa pak tua itu membuatku terdampar seperti ini?!

Aku tidak bisa menjelaskan alasannya dengan pasti, karena aku sendiri juga tidak tau. Yang bisa ku katakan adalah, kau sekarang sedang di tes untuk menentukan apakah kau memang layak untuk berada di organisasi apa tidak.

Arina menyerit mendengar penjelasan itu. Meski begitu Ia mengawasi sekeliling karena teringat akan peringatan jebakan tadi.

Baru saja Ia meningkatkan kewaspadaan, sebuah pisau melayang dan tertancap ke pohon, hanya berjarak beberapa milimeter dari hidungnya.

“A… apa yang..?” Arina tak mampu berkata-kata karena terkejut.

Hei, ada apa?‘ tanya suara di seberang sana lagi.

Pisau!‘ batin gadis itu singkat.

Secepat ini?! Baiklah… kurang lebih aku sepertinya tau apa yang terjadi, ikuti arahanku!

Arina kembali menoleh ke sekeliling sambil mendengarkan instruksi di dalam kepalanya. Namun sesaat berikutnya Ia sudah mulai bergerak sesuai instruksi.

Sepertinya si pemilik suara misterius itu pernah melakukan ini? Atau justru Ia yang merancang jebakan ini. Ia memberikan instruksi langkah yang harus Arina ambil, namun untuk berjaga-jaga orang itu juga menginstruksikan agar Ia bergerak secara natural seolah berlari dengan langkah acak.

Tetapi, satu pisau sepertinya sedikit luput dari pengawasannya sendiri dan Ia tersabet tepat di dekat pipinya.

“Ssshhh~ pak tua itu mikir apa sampai memakai pisau setajam ini?!” gerutu Arina lagi.

Tapi biarlah, dengan begini Ia tidak dicurigai berbuat curang karena seseorang membantunya.

Setelah beberapa meter berlari, Arina bebas dari ranjau pisau. Gadis itu berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.

Sambil beristirahat Arina kembali meraih peta dan kompasnya untuk melihar arah. Baiklah, tidak jauh dari tempatnya akan ada sebuah sungai dan sepertinya dia diharapkan untuk menyebrangi.

Hei, apa yang sedang kau lakukan?‘ tegur suara itu.

Namaku bukan hei. Panggil saja Arina, dan jangan tambahkan embel-embel seperti ~san dan sebagainya. Risih!‘ batin gadis itu sambil menyimpan lagi peta dan kompasnya. ‘Aku baru melihat peta untuk ke tempat selanjutnya.

Arina mulai kembali berjalan menuju lokasi selanjutnya. Sambil berjalan gadis itu meraih botol air di dalam tas dan meneguknya.

Ryo, boleh aku bertanya sesuatu?‘ batin Arina.

Hem? Ada apa?‘ tanya suara itu.

Kenapa kau membantuku?‘ Untuk sesaat Arina tidak mendapati jawaban sama sekali. Gadis itu menghela nafas panjang lalu kembali membatin, ‘Maaf, maksudku kita bahkan belum saling kenal dan sepertinya kau bekerja untuk Pak Tua itu. Aku juga tidak tau kenapa kita bisa berkomunikasi dengan cara aneh seperti ini, jadi aku tidak melihat ada alasan kau bisa membantuku.

Jadi, kau membutuhkan alasan untuk menolong orang? Seharusnya memang tidak ada alasan yang logis untuk saling menolong, bukan?

DEG!

Untuk sesaat Arina sedikit menyesali ucapaannya. Apakah Ia terlalu picik?

Tapi kalau kau memang ingin alasan… yang terpikir olehku saat ini adalah karena kita punya tujuan yang sama.’

Arina kembali terdiam. Mencerna setiap kata-kata yang diberikan si pemilik suara yang bernama Ryo itu padanya.

Tujuan yang sama? Apakah…

Apakah Flame Rose?!‘ batin gadis itu lagi.

Untuk sekarang fokus saja pada ujianmu saat ini. Jika kau berhasil, kita akan bertemu di garis finish. Semoga berhasil, Arina!

Gadis itu kembali menghela nafasnya berat. Kenapa orang ini penuh teka-teki?!

Tepat saat itu Arina sudah tiba di pinggir sungai. Benar-benar dangkal dengan air yang sangat jernih dan sejuk. Arina tersenyum lalu merunduk sejenak, membasuh wajahnya dengan air itu. Seketika Ia merasakan segar yang melepas penat di wajahnya. Juga bekas sabetan pisau tadi Ia bersihkan sambil mengambil bungkus P3K dari dalam ranselnya untuk menutup luka tersebut.

Setelahnya Arina duduk sejenak di tempat sambil kembali mengeluarkan peta dan kompas. Melihat jalan selanjutnya.

Sepertinya Ia memang harus menyebrangi sungai ini.

=*=

“Wow~ Aku terkesan!”

Akanishi Jin menoleh pada pria di sampingnya yang terlihat fokus pada layar besar di hadapannya, menampilkan satu sosok gadis yang sedang membasuh wajahnya di pinggir sungai.

Hutan tempat Ia mengadakan ujian kali ini berlokasi pada Kantor Pusat Pengembangan Ativitas agen lajutan WDA yang terletak di Hokkaido. Setelah memberikan bius dosis tinggi pada keponakannya, Ia langsung dibawa ke tempat ini untuk segera di monitoring keadaan fisiknya.

Semuanya stabil dan ujian bisa dilaksanakan secepatnya. Akanishi Jin memutuskan untuk melakukannya pagi ini juga. Lebih cepat lebih baik. Dia ingin segera melihat hasilnya. Jika gadis remaja itu memang tidak memenuhi syarat, maka Ia bisa segera memberikan program perlindungan padanya.

Lalu jika berhasil? Dalam hati kecilnya, Ia memang ingin membuktikan bahwa Darah memang lebih kental daripada Air.

“Akanishi sensei, kau mendengarku?”

Akanishi Jin tersentak dari lamunannya dan kembali menoleh pada orang itu, penanggung jawab tempat itu, Koyama Keichiro.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Akanishi kemudian.

“Baiklah, ku akui intuisimu. Dia memang berbakat dari dugaanku semula.” ucap Koyama.

Akanishi Jin tersenyum, matanya kembali menoleh pada layar.

“Belum sampai tengah hari dia sudah melewati jebakan pisau, bahkan sudah mulai menyebrangi sungai. Keponakanmu memang hebat, sensei!” ucap Koyama lagi.

“Masih satu jebakan, Keichiro. Masih terlalu dini untuk menilai kemampuannya.” seru Akanishi.

Koyama tertawa kecil. Pria itu lalu menoleh pada sofa di ruangan itu. Seorang pemuda terlihat sedang tertidur dengan satu lengan menutup pada matanya.

“Hei, Ryosuke! Kalau kau hanya ingin numpang tidur, keluar dari sini!” gerutu Koyama kemudian pada sosok itu.

“Berisik!” gerutu Ryosuke pelan.

Akanishi Jin ikut menoleh pada sosok yang sedang tertidur di sofa.

“Paman, aku punya satu permintaan… izinkan aku menjadi rekan gadis itu!” seru Ryosuke saat itu.

“Bisa aku meminta alasan padamu kenapa kau mengajukan diri?” Akanishi Jin memandang lurus sosok Ryosuke di depannya.

Ryosuke dengan santai hanya mengangkat bahu, “karena ini berhubungan dengan Flame Rose? Dibanding yang lainnya, hanya aku yang paling sering berhubungan dengan mereka selain kau, paman.”

Untuk saat itu, Akanishi Jin tidak percaya bahwa alasan Ryosuke hanya karena itu. Ia bahkan sampai ingin ikut melihat jalan ujian Chinen Arina langsung seperti ini. Sepertinya masih ada satu hal yang disembunyikan pemuda itu.

“Chinen Arina-san sudah mendekati lokasi jebakan kedua!” Lapor Koyama kembali mengalihkan perhatian Akanishi Jin.

“Baiklah, kita lihat!”

=*=

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s