[Multichapter] I Have Gotten Ready To Bid Farewell (#2)

CYMERA_20170824_204121

I HAVE GOTTEN READY TO BID FAREWELL
#2
By aiibaka
Cast : Hirano Sho (Mr. KING, Johnnys Jr); Kogure Kie (OC)
Genre : romance
Disclaimer : Hirano belongs to himself and JE, author owns the plot and OC
Note : Judulnya diambil dari lagu Crude Play – I have gotten ready to bid farewell.
FF ini terinpirasi dari kegalauan author beberapa hari yang lalu XD
Hope you like it.
Comments are love ^^

Eri berjinjit-jinjit, berusaha sekuat tenaganya menghapus tulisan di papan tulis. Pelajaran jam kedua berakhir sejak tadi. Kami juga sudah makan siang. Untuk menghabiskan waktu, Eri memilih sibuk dengan menghapus papan tulis. Tapi, dia kesusahan untuk menjangkau bagian atas karena tubuhnya yang pendek.

Aku duduk di bangkuku, disertai cekikikan licik karena menertawakannya. Aku juga tidak punya niat untuk membantunya. Biarkan saja dia.

Sho masuk sejurus kemudian, entah darimana. Dia merebut pelan penghapus di tangan Eri dan melanjutkan pekerjaan Eri yang tidak selesai karena masalah ukuran tubuh. Hanya dalam waktu beberapa detik, papan tulis itu pun bersih.

Aku melihat dari tempatku, Eri berterimakasih pada Sho karena membantunya. Sho tersenyum lebar pada Eri yang kemudian dibalas senyuman manis oleh Eri. Lalu kuperhatikan mereka berdua terdiam, tapi mata mereka saling menatap satu sama lain. Cukup lama hingga aku bisa membayangkan ada lingkaran benang merah mengelilingi mereka. Aku jadi teringat ucapan Sho beberapa hari yang lalu, dia berkata padaku kalau Eri itu cantik. Kurasa dia menyukai Eri, dan itu salah satu caranya menarik perhatian temanku itu.

Tidak lama setelah itu, keadaan kembali seperti biasa. Bel masuk berdering. Murid-murid berangsur masuk ke dalam kelas. Eri dan Sho pun telah kembali ke tempat masing-masing. Sho sempat tersenyum padaku sebelum duduk. Aku membuang pandanganku ke tempat lain.

Guru jam pelajaran memasuki ruangan. Sekarang kami belajar bahasa dan sastra. Guru yang mengajar itu adalah Inoue-sensei, guru pria yang berwajah tenang dan selalu tersenyum. Aku suka diajar olehnya. Dia juga pernah mengajar di SMP-ku dulu.

Pelajaran hari ini tentang puisi. Sensei bertanya apakah ada diantara kami yang suka puisi? Aku tidak mau tahu siapa saja yang mengacungkan jari menanggapi pertanyaan sensei tadi. Namun, saat sensei menyebut nama depan Sho, aku terkejut dan menoleh padanya.

“Hirano, apa kau bisa berpuisi?”

“Bisa, Sensei.”

“Coba bacakan puisi apa yang kau punya.”

Sho berdiri dari bangkunya. Aku tidak melihat dia menyontek sebuah puisi dalam buku, tapi mulutnya terbuka untuk mengatakannya.

Kenapa melihat ke arah lain,

Jika aku tepat di sebelahmu?

Apa ada yang lebih tampan dari aku?

Jika benar, katakan padanya

Saingan cintanya lebih tampan

Aku terperangah. Puisi macam apa itu?!

Seisi kelas tertawa. Sepertinya mereka memikirkan apa yang aku pikirkan.

Dibanding sikap kami yang langsung menertawakannya, Sensei justru memberi tepuk tangan tanda apresiasi pada Sho. Sensei bilang itu puisi yang bagus. Yang benar saja!

Eri menoleh ke arahku dan mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang. “Itu puisi terindah yang pernah kudengar. Hirano benar-benar penuh pesona. Aku ingin tahu kepada siapa puisi itu ditujukan.”

Sayang sekali, aku tidak tertarik untuk mengetahuinya. Bisa saja anak itu hanya sembarang mengucap.

Sensei kembali pada pelajaran sampai waktunya habis. Kemudian jam pelajaran selanjutnya diisi pelajaran bahasa inggris. Aku sudah tidak bisa fokus lagi. Pandanganku sudah kabur karena ngantuk. Kemarin malam, aku pulang cukup larut karena banyak pekerjaan di toko. Kemudian, Eri menjalankan fungsinya seperti biasa, menjadi perisai agar aku tidak ketahuan tertidur oleh sensei.

***

Aku baru saja ingin menyeberang di zebra cross ketika sebuah sepeda motor besar berhenti tepat di depanku. Aku terkesiap sebelum menyadari Sho sedang menyeringai padaku di atas motor.

“Aku siap jalan-jalan.” Katanya.

Anak ini benar-benar keras kepala.

“Aku harus kerja.” Sahutku yang langsung mengambil langkah, tapi Sho berhasil mencegatku dengan motornya. Aku mendesah. Malas sekali rasanya berurusan dengan anak ini.

“Hari ini kau boleh izin. Aku sudah memberitahu Ami-san.”

“Hah?!” aku terkejut mendengarnya. Darimana dia bisa tahu tempatku bekerja? Selain itu, kenapa dia bisa mengenal Ami-san?

“Aku tidak percaya padamu.” Aku melangkah lagi, namun kembali dicegah.

“Telepon saja ke toko.”

Karena malas meladeninya terlalu lama, kuambil ponselku di dalam tas dan langsung menelpon ke toko untuk mengkonfirmasi ucapan Sho. Jawaban yang kuterima dari Ami-san sungguh mengejutkan.

“Kau boleh cuti hari ini. Kau ada janji jalan-jalan dengan temanmu, kan?”

Aku hanya bisa menjawab ‘iya’ dengan nada pelan. Kumatikan sambungan ponsel dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

Sho tersenyum puas saat aku melihatnya.

“Jadi kita mau kemana?” dia bertanya.

Aku mendesah lagi. “Dengar, ya! Aku tidak ada waktu untuk pergi denganmu. Kalau hari ini aku izin, aku lebih memilih untuk tidur di rumah saja.”

“Kau tahu, ada toko yang baru dibuka di ujung jalan sana. Kata orang-orang, mereka menjual puding coklat yang enaaaaaakk sekali.”

Aku yakin Sho dapat melihat ekspresi wajahku yang tergoda.

“Akan kutraktir.” Tambahnya.

Aku bergeming. Pikiranku telah terfokus sepenuhnya pada puding coklat yang Sho ceritakan. Aku juga baru tahu ada toko puding di sana. Apa ini caranya untuk mempengaruhiku?

“Aku bisa pergi dan membelinya sendiri.” Kataku setelah dapat menguasai diri.

“Lebih baik pergi denganku. Makan sendirian tidak asyik.”

“Aku bisa mengajak Eri.”

Sho mengedarkan pandangannya di sekitarku. “Kawaguchi mana?”

Jika tidak salah mengira, Sho bertanya dengan nada ingin tahu.

“Dia sudah pulang lebih dulu.”

Sho mengangguk pelan. Kulihat dia membuang pandangannya ke arah lain. Kali ini aku ingin tahu apa yang dia pikirkan.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu tentang Kawaguchi.” Kata Sho dengan wajah serius.

Aku langsung menduga dia akan mengatakan padaku mengenai perasaannya pada Eri. Dia akan meminta simpatiku agar bisa membantunya mendekati Eri. Hal itu sering terjadi ketika seorang laki-laki tidak berani mengatakan perasaannya secara langsung, maka dia akan meminta bantuan dari teman perempuan yang sedang disukainya.

Aku bisa saja membantu Sho. Tapi, mengingat dia punya teman-teman yang nakal, aku tidak mungkin membiarkan teman baikku berpacaran dengan orang seperti itu. Beberapa malam yang lalu, aku kembali melewati taman dan melihat Sho sedang tertawa bersama teman-temannya yang berpakaian tidak jelas. Aku harus bersusah payah mengendap-endap agar dia tidak melihatku malam itu. Bayangkan, jika Sho dan Eri pacaran, lalu Sho mengajak Eri berkumpul dengan orang-orang itu, apa yang akan terjadi? Aku mengkhawatirkan keadaan Eri.

“Kau tidak ingin tahu apa itu?” Sho bertanya lagi mengenai ucapannya sebelum itu. Tentang Eri.

Tentu saja aku ingin tahu!

Tapi, tetap saja aku tidak ingin pergi dengan dia. Dan jika aku tidak ikut dengannya, tentu saja aku tidak akan tahu apa yang akan dia katakan mengenai Eri. Duh! Aku seperti dilema!

“Puding coklat menunggu.” Sho berbicara padaku.

Aku rasa Sho sudah tahu kelemahanku. Dia menyerangku dengan dua hal yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Eri dan tentu saja, puding coklat kesukaanku.

“Kita pergi sekarang?”

Pertanyaan itu lebih terdengar seperti perintah. Bagaimana kalau aku mengalah saja kali ini? Tidak, aku sudah mengalah satu kali padanya. Jadi ini yang kedua. Tidak apa-apa, kan?!

“Hanya karena kau ingin mengatakan sesuatu tentang Eri!” seruku padanya agar dia tidak menangkap maksud lain dari kata ‘iya’-ku.

“Dan puding coklat!” sambungnya ketika aku sudah duduk di belakangnya.

Aku diam saja. Kemudian, dia melajukan motornya ke arah selatan. Ternyata jaraknya cukup jauh dari sekolah. Di ujung jalan besar, sebelum berbelok ke kanan, kami menepi di sebelah kiri. Sho membelokkan motornya memasuki jalanan yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk dua motor melaju bersamaan. Perasaanku jadi tidak enak. Tiba-tiba saja aku lupa perihal puding coklat dan mulai membayangkan Sho membawaku ke tempat yang asing dan melakukan hal buruk padaku. Aku menyesal sudah  percaya pada ucapannya.

“Kita akan kemana?!” kataku dengan suara yang cukup keras.

“Bersabarlah. Puding coklatmu menunggu di depan sana.”

Sho masih menyinggung tentang puding. Aku ingin segera tahu apakah itu benar atau dia hanya sedang membohongiku saat ini.

Sebelum aku kembali berpikir yang bukan-bukan, Sho menepikan motornya. Kami berhenti di depan sebuah bangunan berlantai dua yang tampak asing bagiku. Ada tangga besi menuju lantai dua di depan kami.

“Ayo turun.” Kata Sho.

Aku turun dengan penuh sikap waspada. Bisa saja dia tiba-tiba menyeretku secara paksa.

“Kenapa? Masih curiga padaku?”

Harus kuakui, Sho memang pintar dalam membaca gerak-gerik seseorang. Aku jadi salah tingkah.

“Aku tidak akan menyakitimu. Kau kan temannya Kawaguchi.” Kata Sho lagi sambil melangkah. Melihatku tidak mengikutinya, dia berbalik. “Apa kau mau berdiri saja di situ?”

Pikiranku terus menahanku agar tidak mengikuti Sho, namun hatiku mengatakan hal sebaliknya. Hatiku berkata aku harus percaya pada laki-laki itu. Tidak akan terjadi hal yang buruk. Setelah terjadi perdebatan cukup lama antara pikiran dan hatiku, akhirnya pikiranku harus rela mengalah pada hatiku yang memihak pada Sho. Kakiku pun melangkah sebagai bentuk dukungan pada hatiku. Sementara pikiranku, walau mengalah, dia harus tetap waspada.

Aku mengikuti langkah Sho menaiki tangga besi menuju lantai dua. Apa benar-benar ada puding di sana?

Kurasa untuk menjawab pertanyaanku, Sho membuka pintu kaca di depan tangga dengan pelan. Lonceng yang digantung di pintu berbunyi saat pintu dibuka.

“Ayo masuk.”

Sho menyuruhku masuk lebih dulu. Aku pun mengikutinya dengan langkah hati-hati. Saat pertama kali masuk ke dalam ruangan itu, hal pertama yang masuk ke indera penciumanku adalah aroma lelehan coklat yang manis. Aku suka sekali.

Sho berdiri di sebelahku dan menatapku sambil tersenyum. Dia memang benar. Tempat ini benar-benar toko puding. Ada etalase kaca besar berisi aneka jenis dan bentuk puding. Juga ada beberapa kue dan coklat. Rasanya aku tidak sabar ingin memakan mereka.

“Kita duduk di sana.” Sho menunjuk meja dekat jendela di pojok ruangan.

Aku mengikut saja. Di belakang kami seorang pelayan mengikuti. Dia ingin segera mencatat pesanan kami. Aku diam saja membiarkan Sho yang memesan. Dia pasti sudah tahu apa yang aku inginkan. Sho menambahkan dua choco smootie dalam menu yang dia pesan. Aku ikut dia saja.

“Ini salah satu tempat favoritku di kota ini.” kata Sho yang lagi-lagi mengatakan sesuatu yang tidak ingin kuketahui.

Namun, aku sebenarnya ingin bertanya bagaimana dia bisa mengenal tempat ini sementara dia baru saja pindah dari Tokyo? Lalu untuk apa dia memintaku menemaninya?

“Aku ingin kau mengenalku dengan baik di tempat ini.” lanjutnya.

Apa maksudnya? Bukannya dia mengajakku karena ingin membahas Eri?

“Tentang Eri, apa yang kau ingin bicarakan tentang dia?” tanyaku mengembalikan alasan kenapa aku ingin ikut dengannya di tempat ini.

Sho tersenyum penuh arti. “Aku ingin kau mengenalku lebih dulu sebelum Kawaguchi. Kau temannya, kan?”

Tepat seperti yang sudah kupikirkan tadi. Sho mengajakku untuk mendapatkan dukungan. Kupikir dia adalah laki-laki yang berani mengakui perasaannya secara langsung. Ternyata tidak. Aku pernah mendengar ungkapan bahwa cinta bisa melemahkan orang terkuat sekalipun. Mungkin Sho salah satunya.

Kemudian tanpa kusangka sebelumnya, Sho berdiri lalu mundur dua langkah. Kursinya pun terdorong ke belakang. Setelah itu dia membungkukkan badannya. Aku tidak mengerti.

Hajimemashite! Hirano Sho desu. Usia 16 tahun. Makanan favorit, Nure okaki. Minuman favorit, air putih. Aku punya dua kucing peliharaan,” Sho tampak berpikir. “Hm, apa lagi ya?”

“Hahaha…,” aku hanya bisa tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” Sho bingung.

Aku segera menghentikan tawaku. “Jadi itu yang kau maksud ‘mengenalmu dengan baik’? Hahaha.” Aku kembali tertawa.

Kurasa Sho ikut tertawa karena melihatku tertawa. Kemudian dia kembali duduk. “Sekarang giliranmu.”

“Eh?” aku bingung. “Apa aku juga harus melakukannya?”

Sebenarnya jika dipikir-pikir, meskipun sudah bersama dalam satu kelas selama beberapa minggu, kurasa Sho belum terlalu mengenalku. Yah, selain dia tahu dimana rumah dan tempatku bekerja. Kalau yang terakhir itu aku tidak tahu dia mendapatkan informasi dari siapa.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu.” Ujar Sho.

Aku lagi-lagi ingin mengungkit tentang dimana dia mendapatkan info tempat kerjaku, namun kutahan. Setidaknya harus kuhargai usahanya mengajakku ke tempat ini. jadi, kuperbaiki posisi dudukku agar kelihatan lebih formal.

“Namaku Kogure Kie. Usia 16 tahun. Makanan favorit, puding coklat. Minuman favorit, air putih juga, sama sepertimu,” kataku, lalu kemudian aku tidak tahan untuk bertanya. “Ngomong-ngomong, kau tahu darimana kalau aku suka puding coklat?”

Sebelum dia sempat menjawab pertanyaanku, puding yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ukurannya ternyata lebih besar dari yang selama ini aku makan. Fla-nya juga lebih banyak. Dan kelihatannya sangat enak.

Itadakimasu!” ucapku. Kemudian aku melupakan pertanyaanku untuk Sho barusan. Puding ini benar-benar telah mengalihkan perhatianku. Sho sepertinya memperhatikan tingkahku yang seperti anak-anak. Aku tidak peduli lagi selama itu demi puding. Itadakimasu!

“Kogure…,” Sho mengucap namaku.

“Hm?” aku menyendok puding lembut itu ke dalam mulutnya. “Uhm, umaii!!!”

“Kalau aku berpacaran dengan Kawaguchi, apa pendapatmu?”

Aku berhenti makan. Kali ini aku harus serius.

“Pertama-tama aku ingin memastikan kau anak baik atau bukan.”

“Eh?”

“Malam itu, saat ada pria yang ingin menjahatiku, kau ada di sana. Kau bilang dia adalah temanmu,” akhirnya pertanyaan yang selama ini bersarang di kepalaku kukeluarkan juga. “Apa kau juga seperti mereka?”

“’Seperti mereka’ bagaimana?”

“Yah,” aku kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan Sho. “Maksudku, kenapa kau ada di taman malam itu, bersama mereka?”

Aku menatap Sho tanpa berkedip, menunggu bagaimana dia akan menjawab pertanyaanku yang secara tidak langsung menilainya buruk.

“Hahaha…” dia malah tertawa.

Aku sedikit jengkel. Padahal sudah kucoba untuk menjaga perasaannya. “Kenapa tertawa?”

Sho segera menghentikan tawanya. “Aku memang sama seperti mereka,” ucapnya. Dan setelah dia melihat ekspresi kagetku, dia melanjutkan. “Kami sama-sama laki-laki.”

“Bukan itu maksudku!” aku semakin jengkel.

“Aku dan mereka sama-sama suka motor.” Sho melanjutkan tanpa mempedulikan reaksiku. “Aku dan mereka sama-sama suka kehidupan malam. Aku dan mereka sama-sama suka kebebasan. Aku dan mereka sama-sama ingin menjadi diri kami sendiri tanpa peduli pendapat orang lain.”

Aku, yang awalnya tidak ingin mendengar jawaban Sho lagi, tiba-tiba saja menangkap ada makna lain dari kata-katanya itu. Entah apa, hanya dia yang tahu.

“Apa sekarang kau bisa menemukan jawaban untuk pertanyaanmu?” dia bertanya kepadaku.

Entah kenapa, aku merasa terpojok. Sho seakan-akan ingin mengatakan bahwa aku telah salah menilainya selama ini. Apa yang selama ini aku lihat sebenarnya tidak sama dengan kenyataan yang sesungguhnya. Aku yakin Sho ingin mengatakan itu, tapi dia punya cara lebih bijaksana untuk melakukannya. Rasanya aku malu dengan perlakuanku selama ini padanya.

Aku terdiam ketika Sho terus saja menatapku seolah meminta tanggapan. Entah apa yang dia pikirkan, aku merasa Sho hari ini sangat berbeda dengan yang selama ini kukenal. Atau mungkin, aku tidak benar-benar mengenalnya dan baru mengetahui siapa dirinya hari ini.

Sho berdiri.

“Mau kemana?” tanyaku. Suaraku bergetar tanpa kusadari.

“Aku ke kamar kecil dulu.” Jawabnya disertai senyuman.

Setelah tinggal sendiri, sambil menunggu Sho kembali, aku menyendok pelan pudingku yang tersisa sedikit. Kulirik puding milik Sho bahkan tidak disentuhnya. Karena sibuk dengan diriku sendiri, aku bahkan tidak memperhatikan dia makan atau tidak.

“Kau siapanya Sho?” aku terkesiap mendengar suara itu. Suara seorang wanita. Pemilik suara itu baru saja duduk di kursi Sho. Kalau tidak salah ingat, aku melihat wanita itu saat pertama kali masuk ke toko ini. Siapa dia?

“Aku Anna,” jawabnya seolah-olah mengetahui isi pikiranku. “Aku sepupunya Sho. Apa kau pacarnya?”

Berulang kali kugerakkan tangannku di udara. “Bukan, dia hanya teman kelasku.”

“Ck, anak itu bilang akan membawa pacarnya kemari. Kukira kau orangnya.” Anna tampak kecewa, lalu kemudian bertanya. “Apa dia melakukan hal buruk padamu?”

Hal buruk apa? Jika maksudnya dia menjengkelkan, tentu saja iya.

“Maafkan Sho. Dia memang terkadang menjengkelkan,” aku curiga Anna benar-benar bisa membaca pikiran orang. “Tapi dibalik sikapnya itu, dia sebenarnya anak yang baik. Kau boleh pegang kata-kataku.”

Aku tidak tahu harus merespon apa. Aku tidak benar-benar tahu siapa Sho.

“Dia pindah ke Matsumoto karena dipaksa Ayahnya,” Anna melanjutkan tanpa kuminta. “Di Tokyo dia sangat nakal dan membangkang. Yah, bisa dibilang dia dibuang oleh Ayahnya sendiri ke kota ini. Sebagai hukuman. Selama itu, dia tinggal di tempatku. Di lantai tiga toko ini,”

Aku baru tahu tentang itu.

“Awalnya dia sangat tidak setuju dengan cara Ayahnya menghukumnya. Dia bahkan mengumpat Ayahnya sendiri karena memperlakukannya seperti ini. Maksudku, kenapa ada Ayah yang tega membuang anaknya sendiri? Meskipun menurutku apa yang dilakukan Ayahnya juga tidak salah. Aku yakin dia menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Salah satunya seperti ini,”

Aku diam menyimak cerita Anna.

“Tapi akhir-akhir ini aku lihat dia berubah.”

“Berubah?”

“Dia terlihat senang tinggal di kota ini. Dia bahkan tidak lagi menyimpan kebencian terhadap Ayahnya. Malah dia bilang akan berterimakasih pada Ayahnya yang sudah membuangnya kemari,”

Kenapa dia bisa berubah?

“Aku menanyakan padanya kenapa dia bisa tiba-tiba menerima semua ini. Kau tahu apa jawabannya?”

“Apa?”

“Dia bilang sedang jatuh cinta.”

Aku tahu. Pasti Eri.

“Ketika kutanya siapa gadis yang membuatnya jatuh cinta, dia hanya bilang ‘suatu hari akan kubawa kemari’” Anna menirukan ucapan Sho. “Karena kau gadis pertama yang dibawanya kemari, aku pikir kaulah orangnya.”

Aku hanya bisa terkesiap mendengarnya. Mungkin Sho lupa pada ucapannya sendiri karena tidak sengaja mengajakku. Lagipula, kami kesini karena ingin membahas Eri juga.

Tidak lama setelah itu Sho kembali.

“Jangan bicara sembarangan padanya, Anna.”

Anna hanya tersenyum saat Sho menegurnya. Anna kemudian berdiri setelah mengedipkan matanya terlebih dulu padaku.

Sho kembali duduk tanpa menanyakan apa yang sudah aku bicarakan dengan Anna.

“Kenapa tidak dihabiskan?” tanyanya saat melihat pudingku yang tersisa.

Kau bahkan belum menyentuh makananmu sedikitpun.

“Setelah ini aku antar pulang.” Katanya.

“…aku bisa pulang sendiri.”

Sejujurnya, aku sedikit merasa terganggu dengan obrolanku dengan Anna barusan. Sadar atau tidak, sedikit demi sedikit aku sudah mengetahui siapa Sho. Dan ternyata dia memang berbeda dari yang selama ini kulihat. Entah setelah ini apa lagi yang akan kuketahui tentangnya. Apapun itu, aku merasa takut. Aku merasa takut karena jangan-jangan aku telah salah menilainya selama ini. Jika memang benar, aku tahu kapan harus minta maaf padanya.

“Aku tidak tega membiarkanmu pulang sendiri.”

Memang, kalau dipikir-pikir, Sho itu selalu baik padaku. Buktinya dia selalu memberi tumpangan tanpa kuminta. Hari inipun dia mentraktirku padahal sudah kutolak. Kalau saja Sho itu jahat seperti yang kupikirkan, tidak mungkin malam itu dia melindungiku dari niat buruk temannya. Apalagi meminjam motor temannya hanya demi mengantarku pulang.

Aku juga tidak pernah mendengar dia bermasalah dengan teman-teman di sekolah. Malah sebaliknya, dia selalu ramah pada mereka. Termasuk kejadian tadi siang saat dia membantu Eri. Meskipun bisa kusimpulkan kalau itu hanya salah satu bentuk mencari perhatian karena menyukai Eri, Sho nyatanya memang sering melakukan itu. Bahkan sejak hari pertama masuk sekolah.

Setelah memikirkan itu semua, rasanya aku menjadi orang paling jahat di dunia. Aku sudah memberi penilaian buruk terhadapnya. Padahal dia selama ini tidak pernah menunjukkan sikap buruk padaku. Yah kecuali satu, dia memang menjengkelkan. Tapi kurasa itu wajar. Aku pun terkadang bisa jadi menjengkelkan tanpa kusadari.

Aku ingin minta maaf pada Sho, tapi kurasa bukan sekarang. Nanti saja. Kali ini, sebagai bentuk permintaan maafku yang lain, aku mengizinkannya mengantarku lagi.

“Baiklah.”

Kemudian, setelah keluar dari toko, aku kembali naik ke motor Sho dengan berpegangan pada bahunya. Lalu ketika kami mulai melaju, aku merasa Sho seperti menjadi orang lain, bukan yang selama ini kukenal.

Apa aku sudah benar-benar mengenalmu?

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s