[Minichapter] Because Of You (#1)

Because Of You

poster hagiyasreo
By. Kiriechan dan Dinchan
Minichapter (Chapter 1)
Genre: Romance, Shounen-Ai, Yaoi, Friendship
Rating: NC-17
Starring: Hagiya Keigo, Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo (Love Tune)
Disclaimer: We don’t own all characters here. Love Tune members are under Johnnys & Associates
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for us! ^^

“Byeee see you…” Nagatsuma Reo melambaikan tangannya dipersimpangan dengan temannya. Dengan tas yang disampirkan ke pundak Reo menyusuri jalan yang mulai gelap dan sepi.

Taman depan apartemen tempat tinggalnya di malam hari memang selalu jadi tempat yang menyeramkan, terlebih 10 tahun lalu pernah terjadi kasus pembunuhan wanita paruh baya oleh sekelompok geng motor yang sedang mabuk. Tapi mau tak mau hanya jalan itu yg harus ia lewati setiap hari.

Lampu taman yang remang, ayunan yang tertiup angin, Reo tak pernah mau melirik sekalipun ada yang meminta tolong dari arah taman. Tapi malam ini beda. Ayunan yang bergoyang nampak cahaya yang juga ikut bergoyang justru menarik Reo untuk mencicipi taman kala malam.

“Anooo….”, Reo menyorotkan center handphonenya ke arah ayunan, sosok pria duduk sambil memainkam handphonennya dengan nafas yang kalah dengan suara angin.

“WAAAAAAAA”

Keduanya berteriak bersamaan membuat pria yang duduk di ayunan jatuh ke pasir di bawahnya, “Hagiya san, apa yang kau lakukan malam malam disini… kowaiii”, sapanya.

“Nggak papa kok, barangkali aku bisa nemenin mbaknya yang disini. Rasanya mau mati aja”, balas pria yang diketahui bernama Hagiya Keigo, tetangga apartemen Reo

“Oiiiii jangan serem gitu ah, nanti mbaknya dateng beneran hiiii”. Reo memegang bulu kuduk belakang lehernya yang mulai mrinding karna pekataan Hagiya. “Ayo pulang”, Reo sok kenal menarik tangan pria yang nampak lesu itu.

Keduanya berjalan bersama menuju apartemen yang sudah tak jauh, beberapa kali Reo menolehkan kepalanya, takut ada sosok tak nampak yang barangkali mengikuti mereka

“Barang import untuk produksi kantorku ditahan bea cukai sudah seminggu lebih, dan kalau aku tak berhasil mengeluarkannya akhir minggu ini aku bisa dipecat”, Hagiya membuka kaleng kopi instannya.

Reo mengajak Hagiya sedikit bernafas dengan mampir ke mesin penjual minum otomatis dibawah apartemen. Niatnya biar dia dapat minuman gratis dari tetangga sebelahnya yang sah kerja itu, eh justru sebaliknya.

“Terus? Kalo gak bisa keluar gimana?” tanyanya bingung

“BUNUH AJA AKUU BUNUUUH SEBELUM AKU DIGANTUNG SACHOU!” Hagiya menjatuhkan minumannya dan mengacak rambutnya.

Separah itukah? Reo yang memang belum paham masalah dunia kerja terutama di bidang eksport import hanya bisa beberapa kali menggerakkan kepalanya berharap ada keajaiban yang masuk ke otaknya.

“Kau tidak minta bantuan atasanmu Hagiya san?” Tanyanya lagi

“Atasan mana lagi, ini atasanku mentok di sachou, ku udah ga punya atasan lain. Masak aku ngorbanin bawahanku,” ucap Hagiya lemas

“Eeee soukaaa…. aku nggak paham begituan sih, palajaran sejarah jepang aja harus selalu ambil ujian susulan”, Reo dengan pedenya menepukkan tangannya kedepan wajah Hagiya.

“Sudahlah, besok aku akan coba lagi ke bea cukai, kalo masih gagal yaaaa mungkin aku akan mengejar mbaknya taman di dunia lain saja,” Hagiya berdiri mengambil kembali tas warna hitamnya. “Ayo masuk nanti kau kedinginan looh, besok masih sekolah kan,” dengan senyum yang dipaksa Hagiya mengacak rambut Reo. Pemuda ini memang lebih tinggi darinya, tapi tetap saja hanya anak ingusan yang selalu Hagiya anggap sebagai adiknya.

Keduanya berjalan menyusuri lorong dan tangga apartemen. Berhubung rumah mereka sebelahan jadi mereka tidak harus berpisah jauh.

“Mau mampir? Sepertinya aku masih ada sisa daging yang bisa dimasak bersama kalau kau mau. Yaaa anggap saja ucapan terimakasih kau lebih dulu membawaku sebelum mbaknya taman membawaku,” tawar Hagiya.

“Yattaaaa! Arigatouu Hagiya san.. kau tau aja kalo aku lagi dirumah sendiri dan kelaparan,” Reo mengekor Hagiya masuk ruangan, menunggu sambil bermain game yang sudah dipersilahkan pemiliknya.

“Hihi asik kali yaaa bisa punya pacar yang rajin masak kayak Hagiya san,” pikirnya saat mengintip Hagiya yang bercelemek biru muda di dapur.

“Hagiya-san,” Reo menghampiri Hagiya yang sedang memasak, memerhatikan setiap gerakan Hagiya yang memotong daging, mengambil bumbu, memotong sayuran, dan walaupun seorang pria memasak, entah kenapa di mata Reo, Hagiya justru sangat maskulin membuatnya sedikit terintimidasi.

“Hmm?” Hagiya menggumam sebagai jawaban.

“Kenapa Hagiya-san belum punya pacar?” tanya Reo dengan polosnya.

Mata Hagiya langsung menatap ke arah Reo dengan tajam, “Kata siapa aku belum punya pacar?”

“Eh? memangnya punya!?” seru Reo tak percaya.

Hagiya menggeleng, “Bukan urusan anak kecil!” katanya lagi.

“Uhmmm…” Reo bergumam, menyomot satu daging sapi yang sedang ditiriskan oleh Hagiya setelah dibakar.

“Ayahmu belum pulang?” tanya Hagiya, mengalihkan pembicaraan mengenai pacar-pacaran yang sama sekali belum terpikirkan olehnya. Kalau dipikir-pikir begitu banyak wanita di kantornya kenapa dirinya tidak tertarik ya?

Reo menggeleng, “Ayah biasanya pulang tengah malam atau bahkan pagi. Aku sudah biasa sendirian,” tetangganya ini memang hanya tinggal berdua dengan Ayahnya yang seorang pekerja di sebuah pabrik. Menurut cerita Reo dia sudah tinggal dengan Ayahnya berdua saja sejak ibunya meninggalkan mereka waktu Reo baru berumur lima tahun.

Hagiya sendiri baru pindah ke apartemen ini sekitar enam bulan lalu. Apartemennya yang dulu dekat dengan kampusnya sementara sekarang setelah bekerja ia harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat dari kantornya sehingga ia pun menemukan apartemen ini walaupun sudah cukup tua tapi biaya sewa nya murah dan lokasinya dekat dengan tempat kerja.

“Baiklah sudah siap!” seru Hagiya, mebgambilkan semangkok nasi dan menyimpan beberapa lauk di atas meja makan, “Makan yang banyak ya…” ucap Hagiya kepada Reo, mau tak mau dia merasa iba juga kepada Reo karena seringnya hanya makan mie instan atau beli di toko 24 jam, sehingga terkadang Hagiya sengaja memasak lebih banyak dan nyaris dua bulan ini Reo selalu makan malam bersamanya.

“Arigatou Hagiya-san!!” dan tanpa disuruh pun Reo makan dengan lahap, membuat Hagiya senang karena makanannya dihabiskan dengan bersemangat begitu.

Ting tong.

Hagiya heran, siapa yang bertamu malam-malam begini ya? dirinya pun segera beranjak, membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Ojama… Keigo!?”

Tubuh Hagiya mematung ketika pria di hadapannya dengan senyum sumringah memeluknya, menepuk punggungnya dengan bersahabat.

“Ya ampun!! jadi kau tinggal di sini?? Aku baru pindah ke sebelah. Kupikir tidak sopan kalau tidak menyapa tetangga sebelah. Hisashiburi desu ne?” dan bagi Hagiya menatap senyum itu lagi seperti menamparnya ke masa lalu, semuanya seperti film rusak yang menolak dihapus dari ingatannya, terus berputar berulang tanpa jeda kali ini, “Keigo? kau baik-baik saja?”

“Siapa?” Reo yang mendengar keributan pun menuju ke depan untuk mengetahui siapa yang datang.

“Aku baru pindah ke sebelah, namaku Yasui Kentaro, yoroshiku onegaishimasu…”

Reo terdiam, nafsu makannya mendadak hilang melihat bagaimana perubahan aura mendadak saat Hagiya kedatangan tamu bernama Yasui Kentaro itu. Merasa tak enak ia makan cepat semua jatah makannya dan nyaris tersedak, “Gochisousa..  uhuuuk….

“Reo, daijoubuu?”, Hagiya menyodorkan segelas air minum yang cepat diteguk Reo.

“Aku akan pulang dulu, selamat bersenang-senang. Hubungi akuseperti biasa yaa kalau kau kesepian Ha…gi…yaaa….san!” Reo mengambil tas dan jaketnya, menepuk pundak Hagiya dan berpamitan.

Reo tersenyum ke aeah tetangga barunya. Senyum dengan hawa persaingan.

“Jadi, kau biarkan tamumu di depan pintu gitu? Gak dipersilahkan masuk?” tanya Yasui.

“Ah, gomen.. kupikir kau tak ingin masuk.”

Tanpa pikir panjang lagi, Yasui sudah duduk manis di meja makan, mengambil apa yang bisa dimakan.

Yappariii… tak sia sia kan aku mengajarimu matematika dan tambahan memasak, lihat siapa yang sudah jago masak kali ini”, Yasui melahap lauk di meja.

Hagiya masih terdiam mematung melihat Yasui. Rasanya masih tidak nyata kembali melihat sosok yang hampir 5 tahun ini menghilang tiba-tiba

“Heem?” Yasui menatap Hagiya sambil memasukkan brokoli ke mulutnya, “Kau baik-baik saja?”

“Kemana saja kau! Beraninya kau muncul lagi dihadapanku setelah tiba-tiba menghilang!? ” Hagiya masih belum berani menatap Yasui.

Gomen…” Yasui tiba-tiba datang dan memeluk Hagiya. Masih dengan sisa sayuran di mulutnya, memberikan jeda untuknya bicara,”Kau kan sudah kuliah saat itu, siapa yang butuh tutor belajar di usia yang sudah dewasa heeeh?” tangannya menepuk pelan kepala Hagiya, “Bahkan tanpa aku pun kau bisa lulus kan, dan lihat dirimu sekarang,” Yasui melepas pelukannya sambil tersenyum.

“Kau pikir aku anak kecil yang saat kau beri coklat tidak akan menangis lagi? Kau tau betapa beratnya selama ini!?”

“Hei hei pria dewasa! Kenapa kau menangis. Kau kan sekarang sudah jadi senior, kau  nggak malu pria kecil tadi melihatmu menangis?” Yasui yang meluhat tetes air mata Hagiya coba dihapusya, dibuatnya bentuk bibir senyum dengan kedua jarinya.

“Yosh… ayo makan. Kebetulan sekali aku belum makan”

***

Sebenarnya Reo tidak mau terganggu dengan apa yang terjadi kemarin di apartemen milik Hagiya, tapi ekspresi wajah pria itu mengganggu pikirannya. Dia terluka, itu yang Reo tau, dan entah mengapa hal itu membuatnya sangat ingin memeluk pria itu, padahal mereka bukan siapa-siapa kan? lagipula bisa-bisa pria itu terganggu jika Reo memeluknya. Siapa Yasui ini? Apa yang sudah dilakukan pria itu kepada Hagiya hingga merenggut keceriaan Hagiya yang tampak hanya beberapa saat sebelum pria itu datang?

“Yo!! Melamun terus, lagi jatuh cinta ya?” Reo menghela napas ketika dilihatnya Myuto duduk di sebelahnya, mereka memang terkutuk satu kelas sejak kelas satu.

“Sok tau!” seru Reo, malas menanggapi, otaknya masih 100% tertuju kepada Hagiya.

“Katanya hari ini ada guru baru, ya?”

“Guru baru? di tengah semester begini?” tanya Reo heran.

Myuto mengangguk, “Katanya sih begitu, kuharap wanita cantik dan sexy, ehehehe,” mukanya mesum membuat Reo memukul kepala Myuto.

“Dasar mesum!” seru Reo.

Ketika mereka masih asyik berdebat siapa guru baru mereka, bel masuk berbunyi. Reo dan Myuto pun segera kembali ke bangku masing-masing apalagi Hideyoshi-sensei sudah masuk ke kelas.

“Selamat pagi anak-anak, sebelum sensei mengabsen kalian seperti biasa, kalian akan bertemu dengan wakil wali kelas kalian yang baru menggantikan Nakajima-sensei,” mata Reo menangkap seorang pria yang tidak begitu tinggi masuk ke kelas dan sadarlah Reo siapa yang masuk itu.

“Yasui Kentaro desu. Aku mengajar matematika dan juga wakil wali kelas kalian, yoroshiku onegaishimasu.”

Errrr… kenapa bisa sekebetulan ini sih? Reo kehilangan kata-kata, hanya bisa menghela napasnya lagi yang kesekian kalinya hari ini. Sepanjang pelajaran Reo sama sekaki tak mau menatap guru baru itu. Pandangan kosongnya ke luar lapangan membuatnya banyak berimajinasi tentang Hagiya. Untungnya bel istirahat lekas bunyi dan membuyarkan lamunannya yang mulai menuju hal senonoh

“Emm.. Nagatsuma-kun,” Reo menoleh ke suara yang memanggilnya.

“Hagiya, bagaimana keadaan sekarang?”

“Bukan urusanmu…”Reo menjawab seadanya dan meninggalkan guru itu.

Jam berjalan lambat, rasanya Reo ingin segera pulang dan makan makan bersama Hagiya lagi. Yaaah makan nalam terakhir mereka tidak beralhir indah karena kedatangan Yasui ini. Bel pulang bunyi, rasanya ingin cepat pulang dan berduaan saja dengan Hagiya bagi Reo. Tapi sama saja toh jam dia pulang gini sudah bisa dipastikan Hagiya belum pulang.

Reo menyusuri jalan rumahnya pelan, saat ada suara memanggilnya.

“Eeeh, Hagiya san udah pulang?” Reo menengok dan mendapati Hagiya lari kecil menghampirinya.

“Tau gak, barangku udah sampe di pabrik lagi. Huuuf nyaris aja dipecat untung gak jadi,” jawab Hagiya sambil menepuk dua pundak Reo.

Yokatta! Terus terus gimana?”

“Makan yuuuk!”

“Eeeh, chotto,” Hgiya menarik tangan Reo dengan senang. Reo pasrah saja toh dia juga suka ditarik tarik manis oleh Hagiya.

“Dua kare burger, satu lemonade, satu es kopi, dan satu sundae ekstra toping strawberry buat anak kecil ini yaaa!”

“Oiii Hagiya san! Aku bukan anak kecil lagi yaaa!!” Reo mengembalikan buku menu.

“Hagiya-san, aku boleh tanya gak?” Reo menatap Hagiya yang sedang mengunyah burger kare nya.

“Hmm?”

“Yasui-san itu… ada hubungan apa denganmu?” tanya Reo sedikit berhati-hati saat menanyakannya, bisa saja kan Hagiya nanti malah tersinggung.

Reo bisa melihat perubahan sikap Hagiya yang mendadak terlihat sedikit gugup, “Yasui-san pernah jadi guru privatku waktu aku masih SMA dan dia sudah kuliah, itu saja kok, kemarin itu aku hanya kaget karena sudah lama sekali tidak bertemu dengannya,” jawab Hagiya, kembali menggigit burgernya.

Memang sih Hagiya tidak berbohong, tapi Reo yakin kalau ada yang disembunyikan oleh Hagiya. Kalau hanya sudah lama tidak bertemu bukankah harusnya Hagiya terlihat senang? bukan tertekan dan sedih seperti kemarin?

“Yasui-san mengajar di sekolahku loh!”

Hagiya mengangguk, “Iya Ken… maksudku Yasui-san cerita padaku kemarin, bagaimana sekolahmu? Hmmm?”

Reo tau Hagiya mengalihkan pembicaraan mereka karena tiba-tiba saja pria itu menanyakan sekolahnya, “baik-baik saja tidak ada yang istimewa,” jawab Reo.

Entah mengapa suasana makan malam bersama mereka menjadi sedikit canggung setelah bahasan tentang seorang Yasui Kentaro tadi.

Sesekali nampak Hagiya membolak-balik dan memainkan layar handphonenya dengan wajah kawatir. Reo makin bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Keduanya beranjak pulang. Masih meninggalkan sedikit kecemasan, akhirnya Reo mencoba membuka forum.

“Hagiya san…”

Sebagai jawaban Hagiya hanya menatap ke arah Reo dengan pandangan bertanya.

“Besok…ajari aku masak makan malam yaa… em dan besoknya…dan besoknya…dan besoknya lagi..”

“Hahahahaha kamu kenapa siihh??” Hagiya tersenyum ke arah Reo.

“Yokaatttaaaaa ternyata dia baik saja, batin Reo

“Aku mau jadi suami yang pintar masak seperti Hagiya-san hahaha,” Reo menjulurkan lidahnya sambil berlari kecil meninggalkan Hagiya.

“Oiiiiii jangan lari!!” Hagiya mencoba mengejar Reo.

“Keiii…” Hagiya terhenti, begitu pula dengan Reo.

“Ah Ken… baru pulang?” Hagiya berhenti melihat kedatangan Yasui.

“Um. Ada pesta penyambutan dari guru-guru di sekolah. Eh halo Nagatsuma-kun,” ucap Yasui yang disusul menyapa Reo yang dilihatnya.

“Mau mampir minum teh ?” tawar Hagiya.

Tak ada yg tahu disaat bersamaan hati Reo terasa berdenyut sakit melihat Hagiya yang bisa tersenyum dengan sangat normal itu.

“Boleh. Ah Nagatsuma-kun mau ikut juga? Kebetulan aku bawa cake,” Yasui menunjukkan bungkusan plastiknya.

“Ah, tidak terima kasih. Aku harus mengerjakan tugas,” tolak Reo, “Hagiya san, terima kasih makan malamnya. Jangan lupakan janjimu tadi yaaa!” Reo melambaikan tangannya dan pergi secepat mungkin.

Yasui yang bingung melihat ke arah Hagiya yang hanya dijawab gelengan krpala

“Aku tidak masak, Ken-kun sudah makan malam?” tanya Hagiya sepeninggal Reo dari hadapan mereka.

Yasui tersenyum, “Aku baru makan tadi dengan guru-guru di sekolah. Penyambutan diriku katanya, bagaimana kalau kita minum bir saja? Keigo sekarang sudah bisa minum bir, kan?” terakhir kali mereka bertemu Hagiya belum genap delapan belas, belum bisa diajak minum bir.

Hagiya mengangguk, “Tempatku? atau tempatmu?”

“Sebagai tetangga baru kamu sebaiknya mendatangi aku dong, ahahaha.”

Hagiya mengangguk dan mengikuti langkah Yasui masuk ke flatnya yang tepat berada di sebelah flat miliknya. Kamar Yasui persis sama dengan miliknya, tapi bedanya lebih banyak buku berserakan dimana-mana dan terlihat lebih rapi dari kamarnya.

Ojamashimasu,” ucap Hagiya sambil melangkah masuk ke dalam.

“Duduk saja dulu, aku simpan belanjaan dulu,” kata Yasui.

Memperhatikan punggung Yasui selalu menjadi sesuatu yang membuat Hagiya senang. Entah kenapa. Hagiya tidak pernah mau mengakuinya, tapi dia pernah merasakan perasaan yang lebih dari sekedar suka pada Yasui. Iya, Hagiya tapi masih sangsi dengan perasaannya sendiri sampai Yasui menghilang dari hadapannya.

Hagiya kaget ketika merasakan dingin di pipinya, “Jangan melamun,” Yasui menempelkan kaleng bir di pipinya, “Bagaimana pekerjaanmu?”

Hagiya menerima bir itu, “Baik-baik saja, aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanku,” jawab Hagiya, membuka kaleng birnya dan meneguknya sedikit.

“Keigo sudah besar ya,” ucap Yasui yang kini juga meneguk birnya, menatap Hagiya dengan seksama, “Terakhir kali kita ketemu, kamu masih ingusan!”

Peristiwa terakhir kali itu memang sebenarnya tidak akan bisa Hagiya lupakan. Terlebih karena dia secara sengaja memeluk Yasui, bahkan entah terbawa suasana Hagiya menempelkan bibirnya pada bibir Yasui walaupun sebenarnya dia tidak bermaksud, dia ingin tau perasaannya dan getaran hatinya saat mencium Yasui ternyata memang nyata.

“Kamu hanya kagum padaku, Keigo, tidak benar-benar suka,” itu kata-kata yang keluar dari mulut Yasui dan mulai saat itu Yasui menghilang dari hidupnya.

Keduanya saling tertawa mengenang kebersamaan mereka dimasa lampau. Sesekali pandangan Hagiya kabur membayangkan kembali perasaannya pada Yasui dulu. Bila memang dulu itu hanya perasaan kagum kenapa saat bertemu lagi dengannya sekarang masih terasa sama?

“Ah, kau tidak boleh minum lagi, sudah terlalu banyak kau minum malam ini”, Yasui mengambil kaleng bir yang nyaris ditegak Hagiya lagi.

“Kau pikir aku masih kecil Ken,” Hagiya menghela napasnya, merasa kecewa karena Yasui masih tetap menganggapnya anak kecil, dengan kesal Hagiya kembali merebut dan menegak kaleng kelimanya.

“Kei….” tangan Yasui kembali meraih kaleng bir yang dipegang Hagiya, saat itu juga Hagiya menarik tangan dan menjatuhkan Yasui ke pelukannya.

“Jangan pergi lagi Ken… kumohon,” Kepala Hagiya mendarat halus dipundak Yasui.

Yasui mengelus pelan kepala pria dipundaknya itu. Ia tak mau memberi harapan palsu, ia masih sangat yakin kalau Hagiya tidak benar benar merasakan hal itu padanya.

“Kuantar kau pulang yaaa…” ucap Yasui

Hagiya mengangkat kepalanya, menggeleng sambil menatap ke arah Yasui dalam.

“Apa kalau aku menciummu lagi kau akan pergi lagi Ken?”

Yasui tak bisa menjawab, ia coba memalingkan pandangannya tapi tangan Hagiya begitu lembut mengangkat dagu Yasui. Ciuman keduanya pun tak bisa dielakkan. Jantung Hagiya berdebar kencang. Ia masih merasaan ciuman sama seperti pertama ia mencium Yasui, dan Yasui pun tak menghindar, Hagiya di depannya bukan lagi bocah ingusan serti beberapa tahun lalu. Ia sudah dewasa.

“Ken… katakan apa aku terlihat main-main?” Hagiya menatap lesu Yasui yang masih diam didepannya.

“Hentikan Kei, percayalah kau hanya masih mengagumiku. Aku pria Kei sama sepertimu.”

Hagiya menolak, memang hatinya juga bimbang, tapi ciumannya memanas ke bibir Yasui sehingga pria itu tak bisa menolak lagi, Hagiya marah. Hagiya memainkan tubuhnya lebih jauh kali ini.

.

.

Cahaya mentari masuk ke jendela kamar Yasui yang sedikiterbuka sisa semalam. Angin pagi yang begitu dingin menyeruak masuk lewat celah pintu dan ventilasi. Hagiya menatap Yasui yang masihhtertidur pulas di sebelahnya. Perlahan Hagiya mengelus rambut panjang Yasui seraya mengecupnya pelan. Hagiya pelan beranjak dari tempat tidur Yasui, memakai pakaiannya lagi dan keluar dari kamar Yasui.

Aku pulang dulu. Maaf semalam memaksamu melakukannya.

  • Keigo

Baru saja Hagiya keluar dari kamar Yasui saat dilihatnya orang yang tak asing ada di depan pintu kamarnya, “Nagatsuma-kun, apa yang kau lakukan?” Hagiya berjongkok menggoyang pelan tubuh Reo yang tampak dingin.

“Hagiyaaaa san!” Reo menarik badan Hagiya dan memeluknya, membuat Hagiya kaget.

“Eeeh? Badanmu dingin sekali. Apa yang terjadi? Kau disini semalaman?”

“Aku bertengkar hebat dengan ayahku jadi aku kabur. Kupikir kau ada di rumah tapi ternyata kau ditempat Yasui-san dan aku tak mungkin mengganggu kalian,” ucap Reo yang masih duduk, “Kau tidak mau mengajakku masuk? Aku kedinginan tau!” lanjutnya.

“Ah iyaa ayo masuk kubuatkan minuman panas dan bubur untukmu,” Hagiya menarik tangan Reo membantunya bangun dan masuk rumahnya.

Yasui melihat dari balik pintunya. Tubuhnya belum benar benar pulih dari sentuhan Hagiya semalam. Benar saja yang dia rasakam, Hagiya tak mungkin menyukainya terlebih saat ini ia bersama Nagatsuma Reo yang juga muridnya itu timbang menghabiskan hari minggu bersamanya.

Hagiya memasakkan bubur dan memberikan secangkir teh di hadapan Reo, “kau itu ada masalah apa sampai kabur segala?” tanya Hagiya, saat melihat Reo mulai bersin-bersin, “Lagipula ngapain kabur ke flat sebelah?! Ayahmu bisa langsung menemukanmu!” omel Hagiya lagi.

“Ih Hagiya-san!!” protes Reo, dia sedang pusing karena kedinginan semalaman dan Hagiya malah mengomelinya, “Ayah tau ko aku di luar, tapi karena dia sedang marah jadi aku juga tidak mau masuk, Ayah juga tidak menyuruhku masuk,” kata Reo, mukanya ditekuk, “Aku bilang pada Ayah kalau aku mau langsung kerja saja seusai sekolah. Tapi… Ayah memarahiku, bilang kalau dia masih bisa menyekolahkan aku sampai kuliah…” mata Reo terlihat menerawang, “Padahal… Ayah sampai harus kerja sampai malam dan kadang mengambil pekerjaan di akhir pekan, aku tidak tega, lebih baik aku segera kerja kan, Hagiya-san?”

Hagiya menepuk pelan bahu Reo, “Tapi aku mengerti kekhawatiran Ayahmu, Nagatsuma, dia ingin menyekolahkanmu jadi kau akan punya kesempatan lebih besar dari dirinya.”

Reo menatap Hagiya, “Begitu ya?”

“Bagaimana kalau kau berusaha masuk sekolah negri, kan biayanya lebih murah, selain itu nanti kau bisa mulai bekerja paruh waktu jadi bisa membantu Ayahmu, iya kan?”

Reo terlihat bingung, “Tapi aku tidak pintar Hagiya-san, bagaimana aku bisa masuk kampus negri?”

“Aku bisa membantumu belajar, tapi tidak setiap hari loh, dan kamu harus belajar sendiri juga kalau mau lulus, okay?” Hagiya menyodorkan cangkir teh yang sejak tadi belum tersentuh oleh Reo.

Reo mendadak terlihat sumringah, “Hontou?? aaaaa arigatou Hagiya-san!!” Reo hampir saja melompat untuk memeluk Hagiya saat pria itu mendorong jidat Reo menjauh.

“Jangan dekat-dekat kau sedang flu!” dan tepat saat Hagiya mengatakannya Reo langsung bersin beberapa kali, “minum ini.. aku ambilkan dulu buburnya…” Reo baru mau menyahut saat Hagiya berkata, “jangan banyak protes!!”

Hagiya menuang bubur yang sudah dibuatnya ke mangkok besar untuk Reo. Sambil mengambil sendok, Hagiya berjalan ke arah Reo yang begitu memperhatikan setiap detil gerakan Hagiya sambil sedekali tersenyum. Badannya memang mulai panas, sertinya otaknya pun ikut panas.

BRRRUUUUUUUUUK

Nyaris Hagiya mencium lantai ruangannya. Untung Reo tak lepas sedetikpun dari menatap Hagiya, alhasil Hagiya justru lebih apes dengan mencium pas di bibir Reo. Bubur yang dibawanya berserakan, untung mangkoknya dari plastik hingga tak ada pecahan kaca tersebar.

“Ah Reo sorry,” buru-buru Hagiya bangun. Merapikan bubur dan mangkok yang berserakan.

“Ah, maaf Hagiya-san,” Reo cepat bangun, membereskan pakaiannya, “Aku akan pulang, terimakasih tumpangann….”

Belum selesai, Reo justru gantian pingsan di depan Hagiya. Badannya sangat panas. Hagiya melupakan buburnya, dengan sekuat tenaga ia angkat Reo dan bawa ke kasurnya. Apa yang harus ku lakukan? Batinnya. Beberapa kali ia mondar mandir sambil mencoba berfikir. Kotak obatnya kosong, hanya ada bedak gatal di dalamnya.

Tok tok tok…

Tok tok tok..

“Ken….. keeeen… ”

Hagiya mengetuk keras pintu Yasui sambil berteriak.

“Ken…” pintu dibuka, makin panik tapi juga senang Hagiya menghambur ke pelukan Yasui.

“Oi oi… knapa?” Yasui bingung

“Reo… eee Nagatsuma… pingsan… yasui… ”

“Kei… tarik nafas pelan-pelan…” Yasui menepuk pelan kepala Hagiya sembari mengelus rambutnya.

“Reo pingsan Ken… dia demam  tinggi sekali dan aku bingung…”

“Eeeh? Kenapa dia ada di tempatmu?”

“Panjang! Sekarang bantu aku!” Hagiya menarik Yasui yang begitu pasrah menuju kamarnya.

“Sepertinya kita harus bawa dia ke rumah sakit, aku ambil kunci mobil dan dompet, kau bisa turun bawa dia Kei?”

Hagiya menangguk, bergerak cepat menghampiri Reo.

“Reo… Reo…” Hagiya menepuk-nepuk pipi Reo agar pemuda itu bangun, Reo membuka matanya sedikit, memicing menatap Hagiya, “Bantu aku ya… kamu harus bangun,” bisik Hagiya, memapah Reo yang jelas badannya lebih besar darinya.

Hagiya hanya berharap Reo baik-baik saja.

***

To Be Continue

HagiYasReo agaiiinnn~ suka banget sih nistain mereka hahahaha… COMMENTS ARE LOVE YAAA ^^

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Because Of You (#1)

  1. vitong

    nyaaaa, sukaaaaa.. plis lanjutin pliiiss. reo gimanaaa.. hagiii, sama reo ajaaaa.. kakak yassu tega2nya menghilang begitu saja dr hagi selama lima tahun?!! mmhhhh #dor dil, banyakan adegan anunya detil donk #diinjek banyakin angst nya yg tersakiti2 gitu bikin hati cemlekit(?) aku sukaakk #dikeplak di sini juga ud banyak sih hahaha. chapter2 selanjutnya banyakin lagi yak. sama adegan anuannya jangan lupak wkwk #kabur thanks for writiiiing😚😚😚😚😚

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s